Peran Bimbingan belajar guru PAI Terhadap Prestasi belajar Siswa Pada mata Pelajarn Pendidikan agama Islam Kelas 11 di SMPN 2 Ciputat

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DALAM
IMPLEMENTASI KTSP TERHADAP HASIL BELAJAR PAI
SISWA SMP YADIKA 10 KOSAMBI TANGERANG
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :
SITI KHOIRIYAH
NIM: 105011000161

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010 M/1431 H

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DALAM
IMPLEMENTASI KTSP TERHADAP HASIL BELAJAR PAI
SISWA SMP YADIKA 10 KOSAMBI TANGERANG

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh
SITI KHOIRIYAH
NIM: 105011000161

Di bawah Bimbingan
Dosen Pembimbing

Dra. Manerah
NIP. 19680323 199403 2002

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

Skripsi dengan judul ”Pengaruh Profesionalisme Guru Dalam Implementasi
KTSP Terhadap Hasil Belajar PAI Siswa SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang”
yang telah disusun oleh:
Nama

: SITI KHOIRIYAH

NIM

: 105011000161

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam

Telah selesai melewati bimbingan skripsi dan dinyatakan sah sebagai karya
ilmiyah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang
telah ditetapkan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 11 Maret 2010

Yang mengesahkan:
Dosen Pembimbing Skripsi

Dra. Manerah
NIP. 19680323 199403 2 002

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIYAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: SITI KHOIRIYAH

Tempat/ Tgl. Lahir

: Tangerang, 24 September 1987

NIM

: 105011000161

Jurusan/Prodi

: Pendidikan Agama Islam

Angkatan

: 2005

Judul skripsi

:

”Pengaruh

Profesionalisme

Guru

Dalam

Implementasi KTSP Terhadap Hasil Belajar PAI
Siswa SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang”
Dosen Pembimbing

: Dra. Manerah

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat adalah benar-benar
hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang
saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk menempuh Ujian
Munaqasah.

Jakarta, 11 Maret 2010

Mahasiswa Ybs.

SITI KHOIRIYAH
NIM. 105011000161

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN MUNAQASAH

Skripsi

dengan

judul

”Pengaruh

Profesionalisme

Guru

Dalam

Implementasi KTSP Terhadap Hasil Belajar PAI Siswa SMP Yadika 10 Kosambi
Tangerang” yang diajukan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah dinyatakan LULUS dalam Ujian
Munaqasah pada tanggal 29 Maret 2010 di hadapan Dewan Penguji. Karena itu
penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 Juni 2010
Panitia Ujian Munaqasah

Tanggal

Tanda Tangan

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Prodi)
H. Bahrissalim, M.A
NIP. 19680307 199803 1 002

__________

__________

Sekretaris Jurusan
Drs. Sapiudin Shidiq, M.A
NIP. 196670328 1200003 1 001

__________

__________

Penguji I
Drs. E. Kusnadi
NIP. 19460201 196510 1 001

__________

__________

Penguji II
Dra. Dzikri Neni Iska, M. Psi
NIP. 19690206 199503 2 001

__________

__________

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A
NIP. 19571005 198703 1 003

ABSTRAK
SITI KHOIRIYAH
“PENGARUH PROFESIONALISME GURU DALAM IMPLEMENTASI KTSP
TERHADAP HASIL BELAJAR PAI SISWA SMP YADIKA 10 KOSAMBI
TANGERANG”
Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam
proses belajar mengajar karena guru bertugas merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi proses belajar mengajar. Tugas-tugas tersebut jika dijalankan
dengan baik oleh seorang guru, maka akan dapat mencapai hasil belajar yang
optimal.
Tinggi rendahnya profesionalisme guru dalam implementasi KTSP akan
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam tingkat penguasaan materi,
metodologi pembelajaran dan pendekatannya. Semakin tinggi profesionalisme
guru dalam implementasi KTSP, maka semakin tinggi pula pengaruhnya dalam
meningkatkan hasil belajar siswa, begitu pula sebaliknnya.
Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya Bid.
Studi Agama Islam sebaiknya seorang guru harus mempersiapkan diri terlebih
dahulu sebelum mengajar. Persiapan-persiapan itu di antaranya materi pelajaran,
tujuan pengajaran, metode, media/alat pengajaran dan lain-lain yang semuanya itu
akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian, siswa akan tertarik
dengan cara pengajaran dan bahan pelajaran yang disampaikan gurunya.
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
profesionalisme guru terhadap hasil belajar PAI siswa SMP Yadika 10 Kosambi
Tangerang.
Melalui kuesioner/angket, diketahui bahwa profesionalisme guru dapat
mempengaruhi hasil belajar PAI Siswa sebesar 0,58 berdasarkan hitungan secara
sederhana melalui indeks korelasi “r” product moment yang berada antara 0,40 0,70. Dengan demikian, pengaruh profesionalisme guru dalam impelementasi
KTSP terhadap hasil belajar PAI siswa SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang
tergolong sedang. Artinya profesionalisme guru dalam implementasi KTSP dapat
mempengaruhi hasil belajar PAI siswa.
Selanjutnya kontribusi yang diberikan variabel X kepada variabel Y
berdasarkan hasil hitungan secara sederhana melalui indeks korelasi “r” product
moment di atas, koefisien determinannya sebesar 34 %, dan sebagian besar lagi
(66 %) kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor lain, seperti lingkungan
keluarga, sekolah, masyarakat dan lain-lain.

i

KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang menebarkan
hikmah benih-benih kehidupan, yang memiliki nama-nama yang indah, Yang
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga
karya ilmiyah sederhana ini dapat terselesaikan. Salawat dan salam terlimpahkan
kepada baginda Rasulullah SAW yang menjadi teladan bagi seluruh ummat.
Dengan keterbatasan pengetahuan, pemahaman, pengalaman dan kemampuan
penulis dalam penyusun skripsi ini, penulis menyadari pentingnya bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil, sehingga penyusunan
skripsi ini dapat berjalan lancar.
Dengan selesainya skripsi ini, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
2. Ketua Jurusan PAI, dan Sekretaris Jurusan PAI beserta staf-stafnya.
3. Bapak Yudhi Munadi (dosen pembimbing akademik) yang dengan sabar
membimbing penulis dari awal hingga selesainya studi ini.
4. Ibu Dra. Manerah (dosen pembimbing skripsi) yang telah bersedia
meluangkan waktunya dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan asisten dosen yang telah memberikan pengetahuannya
dengan keikhlasan dan kesabaran kepada penulis.
6. Bapak Drs. Helper Simanjuntak (Kepala Sekolah SMP Yadika 10), dan bapak
Anwar, S.E (Kepala Tata Usaha) atas diberikannya izin kepada penulis untuk
mengadakan penelitian, bapak Zumkhoir (Guru Bid. Studi PAI), beserta para
guru dan karyawan SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang yang telah banyak
membantu penulis dalam penelitian skripsi ini.
7. Kedua orang tua tercinta, bapak H. Satria Mandala dan ummi Hj. Neneng Nur
Aini yang tak henti-henti mendoakan. Semoga kelulusan ini dapat membayar
setetes air mata dan keringat yang keluar demi kebahagiaan anak-anakmu.

ii

8. Dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat
penulis sebutkan namanya satu persatu.
Penulis menyadari sebagai hamba yang dhaif, tentu penyusunan skripsi ini
masih banyak kekurangan dalam segala hal. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya hanya kepada Allah penulis berlindung, semoga karya ilmiyah
sederhana ini menjadi setitik sumbangan bagi banyak orang, khususnya penulis.
Amin.
Alhamdulillaahirabbil ‘alamiin

Jakarta, 11 Maret 2010

Penulis

iii

DAFTAR ISI
ABSTRAK................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iv
DAFTAR TABEL....................................................................................... vii
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A.

Latar belakang Masalah............................................... 1

B.

Identifikasi Masalah..................................................... 4

C.

Pembatasan Masalah.................................................... 4

D.

Perumusan Masalah...................................................... 5

E.

Tujuan Penelitian.......................................................... 5

F.

Manfaat Penelitian........................................................ 6

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
A.

Profesionalisme Guru………………………………... 7
1. Pengertian Profesionalisme Guru………………... 7
2. Kriteria dan Indikator Guru Profesional………… 8
3. Tugas dan Peran Guru Profesional………………. 13

B.

Implementasi KTSP...................................................... 17
1. Pengertian dan Hakikat KTSP................................ 17
2. Tujuan KTSP.......................................................... 18
3. Karakterisitik KTSP............................................... 19
4. Implementasi KTSP................................................ 19
5. Tugas Guru Dalam Implementasi KTSP................ 20

C.

Hasil Belajar PAI.......................................................... 22
1. Pengertian Hasil Belajar PAI................................. 22
2. Ruang Lingkup PAI............................................... 24
3. Tujuan PAI............................................................. 25
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar ...........26

BAB III

BAB IV

D.

Kerangka Berpikir......................................................... 27

E.

Hipotesa........................................................................ 28

METODOLOGI PENELITIAN
A.

Tempat dan Waktu Penelitian...................................... 29

B.

Variabel Penelitian....................................................... 30

C.

Metode Penelitian........................................................ 30

D.

Populasi dan Sampel Penelitian................................... 30

E.

Teknik Pengumpulan Data.......................................... 32

F.

Instrumen Penelitian.................................................... 33

G.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data......................... 35

HASIL PENELITIAN
A.

Profil SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang………… 39
1. Sejarah Singkat SMP Yadika 10………………… 39
2. Visi, Misi dan Motto SMP Yadika 10………….. 40
3. Struktur Organisasi ……………………………… 41
4. Keadaan Guru, Siswa, dan Karyawan…………… 42
5. Keadaan Sarana dan Prasarana………………….. 44
6. Prestasi Siswa........................................................ 45

BAB V

B.

Deskrifsi Data……………………………………….. 46

C.

Analisis Data………………………………………… 47

D.

Pengujian Hipótesis………………………………….. 58

E.

Interpretasi Data……………………………………... 61

PENUTUP
A.

Kesimpulan………………………………………….. 63

B.

Saran………………………………………………… 64

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1

Keadaan Siswa/I SMP Yadika 10......................................... 31

Tabel 2

Keadaan Siswa/i Kelas VII dan VII yang beragama Islam... 31

Tabel 3

Kisi-kisi Instrumen Profesionalisme Guru Dalam
Implementasi KTSP.............................................................. 34

Tabel 4

Bobot Nilai Alternatif Jawaban............................................ 35

Tabel 5

Interpretasi Angka Indeks Korelasi ”r” Product Moment.... 37

Tabel 6

Keadaan Siswa/i SMP Yadika 10 Berdasarkan Jenis Kelamin
dan Agama............................................................................. 42

Tabel 7

Keadaan Guru SMP Yadika 10............................................. 43

Tabel 8

Keadaan Karyawan SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang.... 44

Tabel 9

Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Yadika 10.................... 45

Tabel 10

Prestasi Siswa SMP Yadika 10.............................................. 45

Tabel 11

Skor Profesionalisme Guru Dalam Implementasi KTSP...... 47

Tabel 12

Klasifikasi Nilai Profesionalisme Guru Dalam
Implementasi KTSP............................................................. 48

Tabel 13

Skor Hasil Balajar PAI Siswa .............................................. 48

Tabel 14

Klasifikasi Skor Hasil Belajar PAI Siswa..........................

Tabel 15

Persentase Jawaban Tiap Butir Soal Angket...................... 49

Tabel 16

Perhitungan Korelasi Antara Profesionalisme Guru Dalam

49

Implementasi KTSP dengan Hasil belajar PAI Siswa........ 59

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA); baik
di darat, laut, maupun udara. Seharusnya dengan kekayaan alam yang meruah
limpah tersebut negara Indonesia menjadi negara yang makmur dan sejahtera.
Bukan malah sebaliknya, menjadi negara yang terpuruk. Keterpurukan ini
disebabkan karena masyarakat dan generasi muda Indonesia belum mempunyai
kemampuan berpikir yang memadai untuk memanfaatkan dan mengelola SDA
yang ada.
Salah satu akar dari permasalahan ini adalah faktor ketidakteraturannya
menajemen sistem pendidikan nasional sebagai lembaga yang melahirkan sumber
daya manusia (SDM). Karena pendidikan merupakan hal yang penting dari suatu
negara, maka pendidikanlah yang menentukan seberapa besar kualitas dari negara
tersebut. Apabila sistem pendidikan di negara tersebut baik, maka akan baik
kualitas negara tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila sistem pendidikannya
buruk, maka akan buruk pula kualitas negara tersebut.
Untuk meningkatkan kualitas suatu negara, maka hendaknya pemerintahnya
memperhatikan mutu pendidikan negaranya. Dan salah satu komponen penting

2

yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas sistem pendidikan adalah
kurikulum, karena kurikulum merupakan acuan yang dugunakan oleh setiap
satuan pendidikan.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut
semua bidang untuk menyesuaikan perkembangan tersebut, termasuk bidang
pendidikan. Dalam penyesuaian dengan perkembangan zaman tersebut maka
upaya

pemerintah

desentralisasi

yang

adalah

dengan

disusun

melahirlah

berdasarkan

kurikulum

kebutuhan

dan

yang

bersifat

perkembangan

masyarakat negara Indonesia, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).
KTSP merupakan kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan satuan
pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya
masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. 1 Hal ini jelas menunjukkan
KTSP disusun sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Dengan kurikulum yang bersifat desentralisasi ini, diupayakan agar dapat
mempermudah para pelaksana kurikulum dalam melaksanakan kurikulum yang
ada, sehingga tujuan pendidikan nasional dapat tercapai dengan baik.
Akan tetapi, kurikulum hanyalah sebagai alat dalam dunia pendidikan.
Bagaimanapun

sempurnanya

suatu

kurikulum

seperti

KTSP,

tanpa

diimplementasikan oleh guru di lapangan, maka kurikulum tersebut hanya sebatas
dokumen saja. Oleh karena itu dalam proses keberhasilan pelaksanaan kurikulum
sangat ditentukan oleh kemampuan profesional guru. Karena guru merupakan
ujung tombak sebuah pendidikan yang berhubungan langsung dengan peserta
didik sebagai subjek dan objek belajar.
Pentingnya seorang guru yang profesional ini tercantum dalam hadits
Rasullah SAW:

1

E. Mulyasa, KTSP: Suatu Panduan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet,
ke-2, hal. 8

3

‫اذا و ﺪ‬

‫و‬

‫ ﻗﺎل ر ﻮل اﷲ ﺻ ﻰ اﷲ ﻋ‬:‫ﻋ ا هﺮ ﺮة رﺿ اﷲ ﻋ ﻗﺎل‬
2
(‫اﻻ ﺮ ا ﻰ ﻏ ﺮ اه ﻓﺎ ﺘﻈﺮ ا ﺎﻋﺔ )روا ا ﺨﺎري‬

“Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah
kehancurannya”. 3
Dari hadits di atas jelaslah bahwa guru yang profesional itu sangat diperlukan
untuk mendapatkan hasil pendidikan yang optimal. Dengan keberhasilan
pendidikan tersebut akan berdampak pada kemajuan kualitas sumber daya
manusia negara kita. Karena apabila pendidikan di negara ini diserahkan kepada
para pengajar yang tidak profesional, maka seperti dalam sabda rasul di atas, kita
hanya tinggal menunggu kehancuran yang akan diakibatkan dari hasil didikan
pengajar-pengajar yang tidak profesional tersebut.
SMP Yadika 10 merupakan salah satu sekolah di kecamatan Kosambi
Tangerang yang sudah menerapkan KTSP dengan baik. KTSP merupakan
kurikulum yang menuntut para guru untuk lebih kreatif dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar, karena dalam KTSP ini murid tidak lagi sebagai orang
yang hanya menerima apa yang disampaikan guru. Akan tetapi dalam KTSP ini
guru dan murid sama-sama dituntut untuk berperan aktif dalam pembelajaran.
Itulah sebabnya, guru profesionallah yang dibutuhkan untuk menumbuhkan
minat para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan aktif, khususnya
dalam mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang sebagian
siswa kurang meminatinya. Dengan guru profesional siswa akan mengikuti mata
pelajaran PAI dengan kesenangan hati, tanpa adanya paksaan. Sehingga sangat
diperlukan kreatifitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran PAI dan
mampu menghadirkan inovasi-inovasi pengajaran yang membuat kegiatan belajar
mengajar menyenangkan dan tidak menjenuhkan bagi para siswa untuk mengikuti
pelajaran PAI tersebut.
2

Muhammad Bin Ismail Al Bukhari, Matan Al Bukhary, (Mesir: An Naashiriyyah, tth), Juz.

1, h. 21
3

Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, (Jakarta: UIN Jakarta Press,
2005), h. 215

4

Dengan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, bertujuan agar siswa
mudah mengerti dan memahami materi yang disampaikan oleh guru dengan baik,
prestasi belajar siswa meningkat, dan pengajaran yang diberikan dapat melekat
dalam diri siswa serta dapat diamalkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh
karena itu dengan profesionalisme guru dalam mengimplementasikan KTSP dapat
membawa siswa untuk meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik.
Dengan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang
profesionalisme guru di SMP Yadika 10 ini, terutama guru bidang studi PAI.
Oleh karena itu penulis membuat penelitian ini dengan judul “Pengaruh
Profionalisme Guru dalam Implementasi KTSP Terhadap Hasil Belajar PAI
Siswa SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar balakang yang diuraikan di atas, maka akan terdapat
beberapa masalah yag terkait, di antaranya yaitu:
1. Upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru.
2. Hasil belajar siswa yang dipengaruhi oleh profesionalisme guru dalam
mengimplementasikan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.

C. Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah dalam penelitian ini diperlukan pembatasan masalah,
sehingga diharapkan pembahasan dalam penelitian ini tidak melebar luas.
Adapun masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Profesionalisme yang dimaksud di sini terfokus pada profesinalisme guru
dalam implementasi KTSP. Dan profesionalisme dalam penelitian ini
berdasarkan persepsi siswa.

5

2. Profesionalisme guru yang dituju adalah kemampuan guru bidang studi PAI
dalam mengelola program belajar mengajar.
3. Siswa yang dimaksud adalah siswa/i SMP Yadika 10 kelas VII dan Kelas VIII
yang beragama Islam.
4. Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar PAI yang dapat dilihat dari
raport siswa semester I.

D. Perumusan Masalah
Berdasakan latar belakang masalah dan pembatasan masalah yang telah
dikemukakan, masalah ini dirumuskan bahwa “Profesionalisme guru dalam
implementasi KTSP mempengaruhi hasil belajar PAI siswa”.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dimaksudkan untuk:
1. Mengetahui profesionalisme guru SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang
dalam Implementasi KTSP.
2. Mengetahui hasil belajar PAI siswa SMP Yadika 10 Kosambi Tangerang.
3. Mengetahui pengaruh profesionalisme guru dalam implementasi KTSP
terhadap hasil belajar PAI siswa.

F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini di antaranya:

6

1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme para pengajar.
2. Dapat dijadikan acuan para pengajar dalam meningkatkan kualitas dalam
melaksanakan pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran yang dianggap
masih kurang efektif.

BAB II
LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Profesionalisme Guru
1. Pengertian Profesionalisme Guru
Sebelum dibahas tentang pengertian profesionalisme guru, ada baiknya
dibahas mengenai pengertian guru terlebih dahulu. Berikut beberapa
pengertian guru yang penulis dapat:
Guru atau pendidik menurut Dra. Hj. Nur Uhbiyati adalah orang
dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan
kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai
makhluk Allah, khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial
dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. 1
Menurut Undang-undang Sisdiknas, “pendidik (guru) merupakan
tenaga profesioanl yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pemebelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. 2

1

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam I, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), cet. Ke-2,

h. 65
2

Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,
(Jakarta: CV. Tamita Utama, 2004), h. 22

7

8

Dan menurut Hadari Nawawi, “Guru adalah orang yang bekerja di
bidang pendidikan yang ikut bertanggung jawab membantu peserta didik
mencapai kedewasaannya”. 3
Dari beberapa pengertian di atas dapat dilihat bahwa guru atau pendidik
adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam perkembangan jasmani
dan rohani peserta didik dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.
Sedangkan pengertian profesionalisme berasal dari kata profesi yang
artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh
seseorang. Profesi juga diartikan sebagai jabatan atau pekerjaan tertentu
yang mensyaratkan pengetahuan dan ketrampilan khusus yang diperoleh
dari pendidikan akademis yang intensif (Webster, 1989).4 Sedangkan arti
dari profesionalisme sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau
orang yang profesional. 5
Jadi, profesionalisme guru adalah mutu atau kualitas yang dimiliki
seseorang yang pekerjaannya (profesinya) mengajar sebagai ciri suatu
profesi atau orang yang profesional. Dan untuk mendapat keprofesionalan
tersebut memerlukan kepandaian khusus dan dilandasi dengan keahlian,
ketrampilan, dan kemampuan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan
dan latihan di bidang keguruan, sehingga mampu melaksanakn tugas-tugas
dengan baik.

2. Kriteria dan Indikator Guru Profesional
Sebenarnya tidak semua orang dapat menjadi guru yang baik. Setiap
pekerjaan profesional mempunyai tuntutan kualitas personal yang berbeda
dengan pekerjaan profesional lainnya. Kualitas ini diwujudkan dalam

3

Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, (Ciputat: UIN Jakarta
Press, 2005), cet. Ke-1, h. 207
4
Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 45
5
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), cet.
Ke-3, h. 584

9

berbagai bentuk, antaranya dalam bentuk kompetensi atau kemampuan
yang didukung oleh pemilikan pengetahuan, keterampilan, kepribadian,
dan kesenangan kepada pekerjaannya dalam profesi itu. 6
Untuk menjadi guru profesional ada sepuluh kompetensi dasar yang
harus dimiliki guru, yaitu meliputi: 7
a. Menguasai Bahan, yakni menguasai bahan bidang studi yang
dipegangnya dan menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi.
b. Mengelola Program belajar mengajar. Dalam hal ini ada beberapa yang
harus

ditempuh

oleh

guru,

yaitu:

merumuskan

tujuan

instruksional/pembelajaran, mengenal dan dapat menggunakan proses
instruksional yang tepat, melaksanakan program belajar mengajar,
mengenal

kemampuan

anak

didik

serta

merencanakan

dan

melaksanakan program remedial.
c. Mengelola Kelas, yaitu yang menyangkut: mengatur tata ruang kelas
yang memadai untuk pengajaran, dan menciptakan iklim belajar
mengajar yang serasi (menangani dan mengarahkan tingkah laku anak
didiknya agar tidak merusak suasana kelas).
d. Menggunakan

media/sumber

belajar,

kemampuan

guru

dalam

membuat, memilih, memilih, mengorganisasikan, merawat dan
menyimpan alat atau media pengajaran dalam upaya meningkatkan
mutu pengajarannya.
e. Menguasai landasan-landasan kependidikan, yang meliputi: disiplin
ilmu yang wajib didalami calon guru yang mendasari asas-asas dan
kebijakan pendidikan (baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah,
dan menguasai dasar keilmuan dengan mantap.
f. Mengelola interaksi belajar mengajar. Kegiatan interaksi antara guru
dan siswa dalam rangka transfer of knowledge dan bahkan juga

6

Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996),
Cet. ke- 1, h. 92
7
Sardiman A. M, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2004), Cet. Ke- 11, h. 164-179

10

transfer of values, akan senantiasa menuntut komponen-komponen
pembelajaran yang serasi antara satu dengan lainnya.
g. Menilai prestasi belajar siswa untuk kepentingan pengajaran.
h. Mengenal fungsi-fungsi program bimbingan dan penyuluhan di
sekolah.
i. Mengenal dan mampu ikut menyelenggarakan administrasi sekolah.
j. Memahami prinsisp-prinsip penelitian pendidikan untuk kepentingan
pengajaran.
Sebagai jabatan profesional, guru harus memiliki kriteria profesional.
Sebagaimana

berdasarkan

hasil

lokakarya

pembinaan

kurikulum

pendidikan guru UPI Bandung sebagai berikut: 8
a. Fisik
Sehat jasmani dan rohani, serta tidak mempunyai cacat tubuh yang bisa
menimbulkan ejekan atau cemoohan atau rasa kasihan dari anak-anak.
b. Mental/kepribadian
Berkepribadian/berjiwa

pencasila,

mampu

menghayati

GBHN,

mencintai bangsa dan sesama manusia dan rasa kasih sayang kepada
anak didik, berbudi pekerti yang luhur, berjiwa kreatif (dapat
memanfaatkan

rasa

pendidikan

secara

maksimal),

mampu

menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, mampu
mengembangkan kecerdasan yang tinggi, mampu mengembangkan
kreatifitas dan rasa tanggung jawab yang besar akan tugasnya,
menunjukkan rasa cinta terhadap profesinya, ketaatannya akan disiplin,
dan memiliki sense of humor.
c. Keilmuan/pengetahuan
Memahami ilmu yang dapat melandasi pembentukan pribadi; ilmu
pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya
sebagai pendidik; memahamai, menguasai, serta mencintai ilmu
pengetahuan yang akan diajarkan; memiliki pegetahuan yang cukup
8

Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2006), Cet. ke-4, h. 36-38

11

tentang bidang-bidang yang lain; senang membaca buku-buku ilmiah;
mampu memecahkan persoalan secara sistematis, terutama yang
berhubungan dengan bidang studi; dan memahami prinsip-prinsip
kegiatan belajar mengajar.
d. Ketrampilan
Mampu berperan sebagai organisator proses belajar mengajar; mampu
menyusun bahan pengajaran atas dasar pendekatan struktural,
interdisipliner, fungsional, behavior, dan teknologi; mempu menyusun
garis besar program pengajaran (GBPP); mampu memecahkan dan
melaksanakan teknik-teknik mengajar

yang baik dalam mencapai

tujuan pendidikan; mampu merencanakan dan melaksanakan evaluasi
pendidikan; dan memahami serta mampu melaksanakan kegiatan dan
pendidikan luar sekolah.
Sedangkan dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Pasal 10 dikemukakan bahwa kompetensi guru itu mencakup: 9
a. Kompetensi paedagogik yang merupakan kemampuan guru dalam
pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya
meliputi:

pemahaman

wawasan

atau

landasan

kependidikan,

pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus,
perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik
dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya.
b. Kompetensi kepribadian yang mencakup kepribadian yang: mantap,
stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia,
menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif
mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri
dan berkelanjutan.

9

Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2008), h. 279-280

12

c. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian
masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, menggunakan teknologi
komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kepandidikan, orang
tua/wali peserta didik, serta bergaul secara santun dengan masyarakat
sekitar.
d. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi
pelajaran secara luas dan mendalam.
Selain kriteria di atas, untuk menjadi guru harus memenuhi persyaratan
yang berat sebagai berikut: harus memiliki bakat sebagai guru, memiliki
keahlian, memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi, memiliki
jasmani dan rohani yang sehat, memiliki pengalaman dan pengetahuan
yang luas, menjadi manusia yang berjiwa pancasila, dan menjadi warga
negara yang baik.
Menurut Zakiah Daradjat, menjadi guru tidak sembarangan, tetapi
harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti: takwa kepada Allah,
berilmu, sehat jasmani, dan berkelakuan baik. 10
Menurut Abudin Nata, syarat guru profesional pada garis besarnya ada
tiga, yaitu: harus menguasai ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya,
harus memilki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang
akan diajarkannya (transfer of knowledge) kepada murid-muridnya secara
efektif dan efisien, dan harus berpeang teguh kepada kode etik
profesional. 11
Adapun citra guru yang diharapkan sebagai pendidik yang profesional
antara lain: memiliki semangat juang yang tinggi disertai kualitas
keimanan dan ketakwaan yang mantap, mampu mewujudkan dirinya
dalam keterkaitan dan padanan dengan tuntutat lingkungan dan
perkembangan IPTEK, mampu belajar dan bekerjasama dengan profesi
10

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. ke-3, h.

11

Abudin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2003), Cet.Ke-1, h. 9-11

40-42

13

lain, memiliki etos kerja kuat, memiliki kejelasan dan kepastian
pengembangan karir, serta berjiwa profesional tinggi. 12
Berdasarkan syarat-syarat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
jabatan profesi guru tidaklah ringan dan sembarangan, tetapi untuk
menjadi guru harus memenuhi dan mempunyai kualifikasi serta
persyaratan khusus agar kelak tidak menyimpang dari persyaratan dan
ketentuan yang berlaku bagi guru profesional.

3. Tugas dan Peran Guru Profesional
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di
luar dinas, dalam bentuk pengabdian. Adapun tugas guru itu dapat
dikelompokkan kepada tiga jenis tugas, sebagai berikut: 13
a. Tugas Dalam Bidang Profesi, yang meliputi:
1) Mendidik, yaitu meneruskan dan mengembangkan nilai-nili hidup.
2) Mengajar,

yaitu

meneruskan

dan

mengembangkan

ilmu

pengetahuan dan teknologi.
3) Melatih, yaitu mengembangkan keterampilan-keterampilan pada
siswa.
b. Tugas dalam bidang kemanusiaan, yakni menjadi orang tua kedua.
c. Tugas dalam bidang kemasyarakatan, yang meliputi:
1) Mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara
Indonesia yang bermoral pancasila.
2) Mencerdaskan bangsa Indonesia.
Menurut Zakiah Daradjat, fungsi atau tugas guru itu meliputi: Tugas
pengajaran, tugas bimbingan dan penyuluhan dan tugas administrasi atau
sebagai pemimpin (manager kelas). 14

12

M. Ali Hasan, dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 2003), h. 84-85
13
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 16
14
Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengjaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1995), Cet. Ke-2, h. 265

14

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa tugas
guru tidak hanya sebatas mengajar di kelas saja sebagai pengajar, tetapi
lebih dari itu. Guru dalam dunia pendidikan memiliki berbagai macam
tugas, baik di sekolah, masyarakat maupun negara.
Dalam sebuah sistem pendidikan, guru berperan sebagai agen
perubahan utama. Meski demikian, hal itu tidak diartikan guru adalah
subjek sementara murid adalah objek. Konsep pendidikan modern
menempatkan guru dan murid sama-sama sebagai subjek pembelajaran.
Bukan hanya guru saja yang harus aktif di kelas dan membiarkan murid
pasif mendengarkan. Saat ini, guru dituntut lebih kreatif dalam
melaksanakan

pembelajaran,

sehingga

murid

terguguh

untuk

mengkonstruksi pemikirannya. 15
Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengajar, pendidik dan
pembimbing, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru.
Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang
diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang
terutama), sesama guru, maupun dengan staf lainnya. 16
Beberapa peranan yang perlu dimiliki para guru adalah sebagai berikut:
1. Korektor
Guru harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan yang buruk.
kedua nilai ang berbeda ini harus berul-betul dipahami dalam
kehidupan di masyarakat.
2. Inspirator
Guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar
anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik, guru
harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yag
baik.

15

Palupi Panca Astuti, “Beban Baru Di Tahun Ajaran Baru”, Dalam Kompas, (Jakarta,
19 juni 2007), h. 14
16
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar... h. 143

15

3. Informator
Guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk
setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.
4. Organisator
Sebagai organisator guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan
akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik,
dan sebagai. Semuanya harus diorganisasikan, sehingga dapat
mencapai efektifitas dan efisiensi belajar anak didik.
5. Motivator
Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bersemangat dan
aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat
menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas
belajar dan menurun prestasinya di sekolah.
6. Inisiator
Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi
pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses
interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai dengan
perkembangan IPTEK.
7. Fasilitator
Dalam hal ini guru berperan memfasilitasi para siswa untuk belajar
secara maksimal dengan mempergunakan berbagai strategi, metode,
media, dan sumber belajar. Dalam proses pembelajaran siswa sebagai
titik sentral belajar, siswa yang lebih aktif mencari dan memecahkan
permasalahan belajar, dan guru membantu kesulitan para siswa yang
mendapat kendala dan kesulitan dalam memahami dan memecahkan
permasalahan. 17

17

Martimis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi, (Ciputat: Gaung Persada
Press, 2006), h. 10

16

8. Demonstrator
Ada dua konteks pengertian guru sebagai demonstrator. Pertama, guru
sebagai model atau teladan dalam menunjukkan sikap-sikap terpuji
bagi semua siswa. Kedua, guru berperan sebagai model dalam
menyampaikan pelajaran kepada siswa, agar siswa lebih mudah
memahami apa yang disampaikan guru. 18
9. Pengelola Kelas
Guru berperan menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa
dapat belajar secara nyaman. Memalui pengelolaan kelas yang baik,
guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif dalam proses belajar. 19
10. Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbaai
bentuk dan jenisnya. baik media non material maupun materil. Media
berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses
pengajaran.
11. Supervisor
Sebagai supervisor, guru hedaknya dapat membantu, memperbaiki,
dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. teknik-teknik
supervisi harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan
perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.
12. Evaluator
Guru berperan mengumpulkan data dan informasi tentang hasil
pembelajaran yang telah dilakukan. Fungsi dari evaluasi ini untuk
mengetahui pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran,
serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar. 20

18

Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran ... h. 285
Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran ...h. 283
20
Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan Dalam Perspektif Hadits...h. 225

19

17

Berdasarkan gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagai figur
profesional yang memegang teguh peranan penting dalam dunia
pendidikan, guru dituntut untuk mampu melaksanakan berbagai peranan.
Peranan-peranan tersebut berguna untuk menciptakan suasana belajar yang
efektif dan efesien serta dapat tercapai hasil tujuan yang baik dalam proses
belajar mengajar.

B. Implementasi KTSP
1. Pengertian dan Hakikat KTSP
KTSP

merupakan

singkatan

dari

Kurikulum

Tingkat

Satuan

Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi
sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat
setempat, dan karakteristik peserta didik. 21
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan undang-undang No.
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 36 ayat: (1)
Pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional
pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (2)
Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan
dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan,
potensi daerah, dan peserta didik. 22
Di dalam panduan BSNP dinyatakan bahwa KTSP dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, kondisi sosial budaya masyarakat
setempat, dan peserta didik. Model yang dikembangkan dalam KTSP
setidak-tidaknya mengandung komponen tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, struktur dan muatan KTSP dan kalender pendidikan. 23
KTSP ini adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan
oleh masing-masing satuan pendidikan, dan dikembangkan melalui upaya
pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya pendidikan lainnya

21

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

2007), h.8
22

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan… h. 20
Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan Model Kurikulum
Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2008), h. 43
23

18

untuk meningkatkan mutu hasil belajar di lingkungan masing-masing
tingkat

satuan

pendidikan.

Kesiapan

sekolah/madrasah

dalam

mengembangkan dan mengimplementasikan KTSP sangat dipengaruhi
oleh kondisi tenaga kependidikan dan sumber daya lainnya yang dimiliki
oleh satuan pendidikan. 24
Dengan melibatkan para guru secara langsung diharapkan agar
kurikulum ini lebih mempermudah guru, sehingga guru dapat memiliki
tanggung jawab yang besar.

2. Tujuan KTSP
Pengembangan

KTSP

bertujuan

untuk

memandirikan

atau

memberdayakan sekolah/madrasah melalui pemberian kewenangan,
keluwesan, dan sumber daya untuk merancang kurikulumnya sendiri
dengan mengacu pada rambu-rambu yang telah ditetapkan, serta
memonitor

dan

mengevaluasi

kurikulum

yang

dilaksanakan

di

sekolah/madrasah masing-masing.
Dengan kemandirian tersebut diharapkan terjadi hal-hal sebagai
berikut: sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan sumber daya yang
tersedia untuk mengembangkan dan mengimplementasikan KTSP;
mengetahui kebutuhan lembaganya; dapat bertanggung jawab tentang
mutu pendidikan masing-masing; dapat meningkatkan daya saing
lembaganya masing-masingsesuai dengan perubahan dan perkembangan
IPTEK; dan dapat melakukan persaingan sehat dengan satuan pendidikan
lainnya. 25

24

Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan Model Kurikulum
Satuan Tingkat Pendidikan… h. 32
25
Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan model Kurikulum
Satuan Tingkat Pendidikan…h. 33-34

19

3. Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah
dan

satuan

pendidikan

dapat

mengoptimalkan

kinerja,

proses

pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga
kependidikan, serta sistem penilaian. 26
Jadi dalam rangka pemberdayaan sumber daya sekolah/madrasah maka
pengembangan KTSP mempunyai karakteristik bahwa partisipasi warga
sekolah/madrasah dan masyarakat memiliki bagian yang sangat penting
dalam mengimplementasikan KTSP. 27

4. Implementasi KTSP
Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep,
kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga
memberikan dampak, berupa perubahan pengetahuan, ketrampilan,
maupun nilai dan sikap.
Dalam Oxpord Advance Learner’s Dictionary dikemukakan bahwa
implementasi adalah “Put something into effect” atau penerapan sesuatu
yang memberikan efek. Implementasi kurikulum juga dapat diartikan
sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran. 28
Jadi implementasi KTSP adalah penerapan atau pelaksanaan ide,
konsep, kebijakan atau inovasi mengenai kurikulum operasional yang
dikembangkan berdasarkan karakteristik satuan pendidikan dan daerah
masing-masing serta sesuai dengan karakteristik peserta didik dalam
bentuk tindakan praktis, sehingga berdampak adanya perubahan berupa
pengetahuan, ketrampilan, maupun nilai dan sikap bagi peserta didik
tersebut.

26
27

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan…h. 29
Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listyo Prabowo, Pengembangan model Kurikulum...h.

33
28

Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), h. 237

20

5. Tugas Guru dalam Implementasi KTSP
Sebagaimana pengertian KTSP yang telah dibahas sebelumnya, bahwa
dalam mengimplementasikan kurikulum ini melibatkan semua anggota
masyarakat

pendidikan.

Oleh

karena

itu

dalam

menyukseskan

implementasi ini, guru harus dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan
baik.
Dalam mengimplementasikan KTSP, guru dan kepala sekolah dituntut
untuk memperhatikan tiga komponen utama sebagai berikut: 29
a. Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang tertuang dalam PP 19
tahun 2005, beserta penjabarannya yang telah ditetapkan dalam
peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas)
b. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
dikembangkan harus merumuskan secara jelas program, proses, dan
hasil pembelajaran, serta mekanisme dan kriteria penilaian.
c. RPP perlu dikembangkan secara matang, untuk menentukan bahwa
kegiatan pembelajaran sudah siap dilaksanakan .
Dan hal-hal yang perlu dilakukan guru dan kepala sekolah dalam
implementasi KTSP ini adalah sebagai berikut:
a. Melakukan analisis SWOT terhadap satuan pendidikan atau sekolah
ketika KTSP tersebut akan dikembangkan dan diimplementasikan.
Analisis SWOT ini penting dilakukan untuk mengetahui kekuatan
(strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan
tantangan (tarith), serta yang paling penting adalah bagaimana
menjadikan kelemahan menjadi kekuatan dan menjadikan tantangan
menjadi peluang. 30
b. Memahami karakteristik peserta didik. Dalam hal ini sedikitnya
terdapat tiga hal harus berkaitan dengan kemampuan dan karakteristik
peserta didik dalam implementasi KTSP, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan kognitif, tingkat kecerdasan, kreativitas, serta kondisi
fisik. 31
29

E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,: Kemandirian Guru
dan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. Ke-2, H. 8
30
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 47
31
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 49

21

c. Membina hasrat belajar dapat dilakuakn melalui cara antara lain
dengan mendayagunakan fasilitas dan sumber belajar secara optimal,
agar

kurikulum yang sudah dirancang dapat dilaksanakan secara

optimal. 32
d. Memantau kemajuan peserta didik. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan

mengembangkan

strategi

pembelajaran,

memilih

dan

menentukan metode, serta media pembelajaran yang efektif dan
efisien. 33
e. Membangun lingkungan yang kondusif. Membuat lingkungan belajar
yang nyaman, menyenangkan, bersih rapih dan tertib. Lingkungan
tersebut akan dapat membuat siswa bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran.
f. Merevitalisasi forum musyawarah guru. Hal ini bertujuan agar guru
dapat memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dalam
pelaksanaan tugas dan fungsinya secara efektif. 34
g. Memberdayakan tenaga kependidikan. Dalam hal ini, peningkatan
produktivitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan
perilaku tenaga kependidikan di sekolah melalui aplikasi berbagai
konsep dan teknik menejemen personalia modern. 35
Untuk menyukseskan implementasi KTSP dalam pembelajaran, guru
dituntut seperti seorang pandito atau begawan dalam dunia pewayangan,
yaitu pendidik yang mulia, berhati suci, dan rela mengorbankan
kehidupannya hanya untuk kebaikan dan pendidikan semata-mata. 36
Itulah tugas yang harus dilakukan guru dalam implementasi KTSP yang
dianggap sebagian guru merepotkan. Padahal tugas-tugas tersebut
membantu para guru dalam meningkatkan mutu pengajarannya.

32

E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 71
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 74
34
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 79
35
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 81
36
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan…H. 8

33

22

C. Hasil Belajar PAI
1. Pengertian Hasil Belajar PAI
Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) menurut beberapa ahli
adalah sebagai berikut:
Menurut Salihun A Nasir, “Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah
suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar memahami
ajaran Islam secara keseluruhan, menghayati

makna dan maksud

tujuannya dan dapat mengamalkannya serta menjadikan agama Islam
sebagai pandangan hidupnya”. 37 Pengertian yang sama ini juga
dikemukakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam
(Ditbinpaisun).
Prof. Dr. H. Muhaimin, MA. Mengungkapkan, “Pendidikan Keislaman
atau Pendidikan Agama Islam ialah upaya mendidik agama Islam atau
pengajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi way of life (pandangan
dan sikap hidup) seseorang”. 38
Sedangkan menurut Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,
Departemen Agama RI, sebagaimana dikutip oleh Prof. M. Alisuf
Sabri, “Pendidikan Agama Islam yaitu usaha sadar untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan
mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran
dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati
agama lain dalam hubungan kerukunan antar ummat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”. 39
Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat disimpulkan bahwa
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk membimbing atau
memimpin pertumbuhan dan perkembangan anak didik agar dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam atau ajaran Islam
dan menjadikannya ebagai way of life (pandangan dan sikap hidup).

37

Salihun A Nasir, Peranan Pendidikan Agama Terhadap Pemecahan Problem Remaja,
(Jakarta: Kalam Mulia, 2002), H. 12
38
Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan,
(Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2006), H. 5
39
M Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999), H. 74

23

Setelah mengetahui pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI), berikut
akan dibahas mengenai hasil belajar PAI.
Proses belajar mengajar merupakan tujuan yang bersifat transaksional,
artinya secara jelas dan operasional untuk guru dan siswanya. Semua
usaha dikerahkan semaksimal mungkin agar tujuan tersebut tercapai.
Tujuan itu tercapai jika siswa memperoleh hasil belajar seperti yang
diharapkan di dalam PBM itu. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa
pengertian hasil belajar, sebagai berikut:
Hasil belajar menurut S Nasution, “Perubahan berupa pengetahuan,
kebiasaan, kecakapan sikap, pengertian, penguasaan dan penghargaan
pada diri sendiri”. 40
Pengertian serupa juga diungkapkan Nana Sudjana, bahwa “Pada
hakikatnya hasil belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai

hasil

belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan
psikomotorik”.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah perubahan tingkah laku
siswa ditandai dengan kemampuan peserta didik menerapkan dan
mendemonstrasikan pengetahuan serta ketrampilannya.
Jadi, dari pemahaman-pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar PAI adalah perubahan tingkah laku peserta didik setelah
mendapatkan pengajaran da

Dokumen yang terkait

Peranan guru Agama dalam Mengoptimalkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Pamulang

1 6 111

Pengaruh kedisplinan guru terhadap prestasi belajar siswa pada pendidikan agama islam di SMP PGRI I Ciputat

4 16 103

Hubungan Profesionalisme Guru Pai Dengan Prestasi Belajar Siswa Smp Dua Mei

3 11 137

Pengaruh pelaksanaan bimbingan dan konseling terhadap prestasi belajar Siswa Kelas IX di SMPN 4 Ciputat

6 55 102

Hubungan komunikasi guru-siswa dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di MAN 15 Jakarta

2 46 130

Pengaruh bimbingan dan konseling terhadap peningkatan prestasi belajar pendidikan Agama Islam Siswa di SMPN 13 Depok

0 11 87

Upaya Guru Pendidikan Agama Islam (Pai) Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Di Sdn Kaliabang Tengah Vii Bekasi Utara

0 5 88

Upaya Guru PAI Dalam Mengembangkan Kreativitas Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII SMP Nusantara Plus Ciputat

0 3 91

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Di MTs Muhammadiyah Surakarta Dan Smp Ta’mirul Islam S

1 6 22

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Di MTs Muhammadiyah Surakarta Dan Smp Ta’mirul Islam S

0 2 20

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23