Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control

1

KOMBINASI ZOOPROFILAKSIS DAN PEMBALURAN
INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA TERNAK SAPI
SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA

BUDI SANTOSO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

2

3

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kombinasi
Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida Deltametrin pada Ternak Sapi
Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria adalah benar karya saya dengan
arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2012
Budi Santoso
NIM B252100011

4

5

RINGKASAN
BUDI SANTOSO. Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida
Deltametrin pada Ternak Sapi Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria.
Dibimbing oleh SUSI SOVIANA dan UPIK KESUMAWATI HADI.
Pemanfaatan hewan ternak untuk mengalihkan gigitan nyamuk
Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi
zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi
mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi
lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk.
Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan
reproduksinya
Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang
dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi
terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles. Lokasi penelitian ini Desa Hanura
Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung yang
merupakan daerah endemis malaria tinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan
Februari sampai dengan April 2012 menggunakan umpan hewan sapi yang telah
dibalurkan dengan insektisida deltametrin. Selanjutnya hewan sapi di pasang
antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk (lagoon), dengan maksud
sebagai penghalang supaya nyamuk Anopheles tidak mendatangi pemukiman.
Pengukuran lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi
dilakukan dengan metode cone test. Pengukuran kepadatan nyamuk Anopheles
pada manusia diperoleh dari hasil landing collection malam hari selama 12 jam
(pukul 18.00 – 06.00), sedangkan pengukuran kepadatan pada sapi dilakukan
dengan menangkap nyamuk yang hinggap di dalam kelambu perangkap
(magoon).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang
dibalurkan pada sapi dapat bertahan 8 hari dengan tingkat kematian nyamuk
sebesar 95%. Pembaluran deltametrin pada sapi berpengaruh terhadap kepadatan
Anopheles yang menggigit manusia. Hal ini tercermin pada penurunan angka
gigitan pasca perlakuan, yaitu An. sundaicus sebesar 63.52%, An. vagus 80%, An.
barbirostris 85.71%, An. subpictus 82.45%, An. aconitus 92.30%, An. kochi 80% .
Selain itu, dampak pembaluran deltametrin juga menurunkan kepadatan nyamuk
pada sapi, yaitu, An. sundaicus sebesar 95.12%, An. vagus 90.64%, An.
barbirostris 80%, An. subpictus 85.5%, An. aconitus 94.34%, An. kochi 100%
dan An. hyrcanus group 100% .
Keberhasilan kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida terbukti
menurunkan angka gigitan baik pada manusia maupun pada sapi. Hal ini menjadi
gagasan yang dapat diterapkan dalam pengendalian malaria.
Kata kunci : Anopheles, deltametrin, malaria, sapi, zooprofilaksis.

6

7

SUMMARY
BUDI SANTOSO. Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual
Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control. Under
Supervision of SUSI SOVIANA and UPIK KESUMAWATI HADI.
Utilization of cattle to divert Anopheles mosquito bites from humans to animals is
known as zooprophylactic. However, using animals as a protection from
mosquito bites has double impacts. The presence of cattle on the one hand can be
used to divert mosquitoes from humans to animals, but on the other hand can
sustain the survival of the mosquitoes, because it can serve as mosquitoes blood
meal source to maintain the viability of mosquitoes. The mosquitoes take blood
mammals as a protein source for the reproductive development. This study aimed
to measure the effect combination of zooprophylactic application with the
smearing of residual deltamethrin insecticide on cattle against the rate of
Anopheles mosquito biting. Location of this study was in Hanura Village of
Padang Cermin Subdistrict, Pesawaran Regency, Lampung Province, which
belong to a high malaria endemic area. The study was conducted on February to
April 2012 using three cattle which were smeared by deltamethrin insecticide.
Then, the cattle were placed between the resident houses and mosquito breeding
places (lagoon). The observation of the insecticide residue on the cattle were
measured by cone test method. The measurement of the density of Anopheles
mosquitoes in human was obtained by bare leg collection method during whole
night, where as the measurement of Anopheles mosquito density on cattle were
done by magoon trap method. The result showed that the residue of deltamethrin
insecticide on the cattle caused 95% mortality of mosquitoes were found till
eight days. Placement of cattle smeared with insecticide caused the decreasing in
density of Anopheles mosquito bites in human and in cattle. The decreasing of
Anopheles mosquito biting rate in human were 63.52% in An. sundaicus, 80% in
An. vagus, 85.71% in An. barbirostris, 82.45% in An. subpictus, 92.30% in An.
aconitus and 80% in An. kochi. In addition, the decreasing of biting rate in cattle
were 95.12% in An. sundaicus, 90.64% in An. vagus, 80% in An. barbirostris,
85.5% in An. subpictus, 94.34% in An. aconitus, 100% in An. kochi and 100%
in An. hyrcanus group. The successful result on combination of zooprophylactic
with deltrametrin on reducing the mosquitoes biting rate both in human and in
cattle were being a good idea for malaria vector control.
Key words: Anopheles, deltamethrin, malaria, cattle, zooprophylactic.

8

9

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

10

11

KOMBINASI ZOOPROFILAKSIS DAN PEMBALURAN
INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA TERNAK SAPI
SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA

BUDI SANTOSO

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

12

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. drh. Dwi Jayanti Gunandini, M.Si

13

Judul Tesis

:

Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran
Insektisida
Deltametrin pada Ternak Sapi
Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria.

Nama

:

Budi Santoso

NIM

:

B252100011

Disetujui Oleh
Komisi Pembimbing

Dr. drh. Susi Soviana, M.Si

Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS

Ketua

Anggota

Diketahui Oleh

Ketua Program Studi/Mayor
Parasitologi dan Entomologi Kesehatan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS
Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian : 26 September 2012

Tanggal Lulus :

14

15

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2012 sampai
dengan April 2012 ini ialah pemanfaatan hewan ternak dalam pemberantasan
malaria, dengan judul kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida
deltametrin pada ternak sapi sebagai upaya pengendalian vektor malaria.
Dalam penyelesaian tulisan ini, berbagai pihak telah banyak membantu
mulai dari tahap persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga proses
penyelesaiannya. Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga kepada ibu Dr. drh. Susi Soviana, M.Si sebagai Ketua Komisi
Pembimbing dan ibu Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS sebagai Anggota
Komisi Pembimbing, yang telah banyak mengarahkan dan membimbing selama
penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. dr. Inge
Sutanto, M.Phil sebagai Kepala Proyek Malaria Transmission Consortium
(MTC) Site Lampung yang telah memberikan beasiswa Pascasarjana Parasitologi
dan Entomologi Kesehatan IPB Bogor. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada
kepada Bapak Prof. Dr. drh. Singgih H. Sigit, M.Sc, Bapak FX. Koesharto, M.Sc,
Ibu Dr. drh. Dwi Jayanti Gunandini, M.Si, Bapak Dr. drh. M. Amin, M.Sc yang
selama ini telah memberikan ilmunya, tidak lupa juga penulis mengucapkan
terima kasih kepada para staf di Jurusan Parasitologi dan Entomologi Kesehatan
(PEK) Ibu Juju, Pak Heri, Pak Yunus (Alm), Pak Priyono, Bu Een dan teman
seperjuangan Mas Didik yang selama ini telah membantu penulis menyelesaikan
tugas-tugas perkuliahan. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang telah memberikan kesempatan
tugas belajar dan juga telah memfasilitasi alat-alat yang dipergunakan dalam
menyelesaikan penelitian ini. Di samping itu, penulis tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Politeknik Negeri Jurusan Malaria
Banjar Negara Jawa Tengah yang telah membantu penelitian di lapangan.
Akhirnya, penulis sampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang selalu
memberikan dorongan moril maupun materiil sehingga penulis berhasil
menyelesaikan penelitian ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Oktober 2012
Budi Santoso

16

17

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

xiv

1 PENDAHULUAN ......................................................................................
1.1 Latar Belakang .....................................................................................
1.2 Tujuan Penelitian..................................................................................
1.3 Manfaat Penelitian ...............................................................................

1
1
3
3

2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................
2.1 Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria ........................................
2.2 Habitat Perkembangbiakan Anopheles ................................................
2.3 Perilaku Nyamuk Anopheles ...............................................................
2.4 Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang ...................
2.4.1 Suhu ............................................................................................
2.4.2 Kelembaban Udara .....................................................................
2.4.3 Karbondioksida ...........................................................................
2.4.4 Aroma .........................................................................................
2.4.5 Visual ..........................................................................................
2.5 Pemanfaatan Ternak Dalam Pengendalian Nyamuk Anopheles .........
2.6 Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles...........
2.7 Deltametrin dan Cara Kerjanya ............................................................
2.8 Resistensi dan Mekanismenya .............................................................
2.8.1 Mekanisme Biokimia .................................................................
2.8.2 Mekanisme Faali ........................................................................

5
5
6
6
8
8
8
9
9
9
10
12
12
13
14
14

3 METODE PENELITIAN ............................................................................
3.1 Tempat Penelitian ................................................................................
3.2 Waktu Penelitian ..................................................................................
3.3 Hewan Ternak yang digunakan ............................................................
3.4 Insektisida yang dipakai .......................................................................
3.5 Pembaluran Insektisida pada Sapi ........................................................
3.6 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi ................................
3.7 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia ................
3.8 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi .....................
3.9 Identifikasi Nyamuk .............................................................................
3.10 Analisis Data Nyamuk Anopheles .....................................................
3.10.1 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi ...................
3.10.2 Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles ...................................
3.10.3 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia
3.10.4 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi .....

17
17
17
17
18
18
19
20
20
21
22
22
22
23
23

18

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................
4.1 Lama Residu Insektisida di Badan Sapi ............................................
4.2 Keragaman dan Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles yang
Tertangkap Pra Perlakuan ..................................................................
4.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra
Perlakuan ............................................................................................
4.3.1 Anopheles sundaicus .................................................................
4.3.2 Anopheles vagus ........................................................................
4.3.3 Anopheles barbirostris ..............................................................
4.3.4 Anopheles subpictus ..................................................................
4.3.5 Anopheles aconitus ....................................................................
4.3.6 Anopheles kochi .........................................................................
4.4 Aktivitas Nyamuk Anopheles Menghisap Darah ...............................
4.5 Pengamatan Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pasca
Perlakuan ............................................................................................
4.5.1 Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.5.2 Kepadatan Nyamuk Anopheles vagus Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.5.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles barbirostris Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.5.4 Kepadatan Nyamuk Anopheles subpictus Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.5.5 Kepadatan Nyamuk Anopheles aconitus Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.5.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles kochi Pra dan Pasca
Perlakuan...................................................................................
4.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pra dan Pasca
Pembaluran Insektisida.......................................................................

25
25

43

5 SIMPULAN DAN SARAN .........................................................................
5.1 Simpulan.............................................................................................
5.2 Saran ...................................................................................................

47
47
47

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

49

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................

61

26
29
29
31
32
32
32
34
35
37
38
39
40
41
42
43

19

DAFTAR TABEL
Halaman
1
2

Keragaman dan kelimpahan nisbi Anopheles yang tertangkap
pra perlakuan ..........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles tertangkap umpan orang per
orang per jam (MHD) pasca perlakuan .................................................

27
37

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Sapi yang digunakan dalam penelitian .....................................................
Insektisida deltametrin .............................................................................
Pembaluran insektisida pada sapi .............................................................
Pelaksanaan cone test................................................................................
Penangkapan nyamuk metode BLC ..........................................................
Penangkapan nyamuk pada perangkap sapi..............................................
Identifikasi nyamuk ..................................................................................
Rata-rata kematian (%) nyamuk Anopheles setelah dikontakkan
Dengan sapi yang dibalurkan insektisida..................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap darah per orang
per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan ..........
Fluktuasi MHD setiap jam penangkapan dari pukul 18.00 – 06.00 .........
Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap orang pra dan
pasca perlakuan .........................................................................................
Rata-rata kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap pada
magoon sapi pra dan pasca perlakuan ......................................................

17
18
18
19
20
21
22
25
29
31
32
33
34
35
36
38
39
40
41
42
43
44

20

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
2

Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhapad Kepadatan Gigitan
Anopheles pada Manusia ...........................................................................
Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhapad Kepadatan Gigitan
Anopheles pada Sapi ..................................................................................

63
67

1

1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Nyamuk merupakan kelompok serangga yang paling banyak menimbulkan

masalah di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keragaman
spesies, distribusi yang luas, populasinya yang besar dan banyaknya spesies yang
berperan sebagai pengganggu dan vektor (Becker et al. 2003). Beberapa penyakit
tular nyamuk (mosquito-borne diseases) di Indonesia adalah malaria, demam
berdarah dengue, filariasis limfatik, japanese encephalitis dan chikungunya (Hadi
dan Soviana 2010).
Nyamuk Anopheles dikenal sebagai vektor Plasmodium penyebab malaria
yang sampai sekarang

masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia. Pengendalian nyamuk Anopheles merupakan komponen utama
untuk memutuskan rantai penularan malaria, yang menjadi elemen dasar
keberhasilan program pemberantasan malaria (WHO 2011).
Pengendalian

nyamuk

Anopheles

dilakukan dengan metode umum

secara konvensional selama ini

Indoor Residual Spraying (IRS) yaitu

menyemprotkan insektisida residual pada dinding rumah. Metode IRS
memerlukan insektisida dalam jumlah yang sangat besar, yang berdampak pada
biaya yang mahal dan memberatkan bagi negara-negara berkembang. Mengingat
vektor malaria berbasis lingkungan dan bersifat spesifik lokal, jenis teknologi
pengendaliannya tidak hanya mengandalkan satu program intervensi tetapi perlu
dicari metode yang lebih murah dan efektif.
Hadi dan Koesharto (2006) menyatakan keberhasilan pengendalian vektor
malaria

sangat tergantung

pada pilihan metode yang tepat dengan

memperhatikan bioekologi nyamuk dan perilakunya di alam. Perilaku nyamuk
Anopheles yang dapat digunakan sebagai dasar pengendalian adalah perilaku
nyamuk Anopheles yang bersifat zoofilik, yaitu lebih menyukai darah hewan.
Soedir (1985) melaporkan bahwa di pantai Glagah Daerah Istimewa Yogyakarta
ternak menjadi daya tarik yang besar bagi nyamuk. Dari 3081 nyamuk yang
tertangkap 54.3% di antaranya menyukai darah sapi, 33.4% darah domba dan
sisanya 5.3% darah manusia. Sementara itu, Naswir (2012) melaporkan bahwa
beberapa metode penangkapan nyamuk yang dilakukan di Ujung Bulu Kabupaten

2

Bulukumba Sulawesi Selatan, hasilnya menunjukkan umpan hewan lebih berhasil
mendapatkan Anopheles dalam jumlah banyak (980 nyamuk), dibandingkan
dengan cara umpan orang (783 nyamuk). Sigit dan Kesumawati (1988)
Anopheles

menyatakan bahwa beberapa nyamuk
sundaicus dan

An. barbirostris yang

seperti An. aconitus, An.

merupakan vektor utama malaria di

Indonesia juga bersifat zoofilik.
Pemanfaatan

hewan ternak

untuk mengalihkan

gigitan

nyamuk

Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi
zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi
mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi
lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk.
Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan
reproduksinya (Saul 2003).
Kelemahan metode zooprofilaksis ini dapat ditanggulangi dengan
membalurkan insektisida pada tubuh hewan umpan. Pemanfaatan metode
kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida pernah dilakukan di Afganistan,
terbukti murah dan sama efektifnya dengan penyemprotan rumah (IRS). Biaya
yang dibutuhkan 80% lebih murah, mudah dan aman serta berdampak pada
peningkatan produksi ternak akibat kematian ektoparasit ternak (Rowland et al.
2001).
Metode kombinasi tersebut di Indonesia juga pernah diteliti oleh Hasan
(2006) di Bogor. Aplikasi metode tersebut terbukti dapat menurunkan 42.19%
kepadatan gigitan Anopheles vagus dan 74.07% Anopheles indefinitus.
Di Indonesia intervensi penggunaan kombinasi zooprofilaksis dengan
insektisida yang secara khusus digunakan

sebagai

metode

pemberantasan

malaria di daerah endemis belum pernah dikerjakan. Sampai saat ini belum ada
data secara ilmiah yang dapat mengukur keberhasilan program tersebut, terutama
pengaruh kepadatan gigitan Anopheles pada manusia maupun pengaruh populasi
nyamuknya sendiri.

3

1.2

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang

dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi
terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles.
1.3

Manfaat Penelitian
Metode kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida menjadi dasar

pengembangan program pengendalian malaria di Indonesia, sedangkan bagi
masyarakat yang memelihara ternak dapat meningkatkan sumber ekonomi
keluarga sekaligus sebagai tameng terhadap penularan malaria.

4

5

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria
Jenis nyamuk di seluruh dunia telah diketahui terdapat kurang lebih ada

4500 spesies nyamuk dalam 34 genus dari famili Culicidae. Hanya spesies dari
genus Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria pada manusia. Jumlah
Anopheles yang telah diidentifikasi berdasarkan morfologi kurang lebih 424
spesies, dan 70 spesies di antaranya diketahui sebagai vektor malaria. Jumlah
spesies Anopheles yang tercatat di Indonesia sebanyak 80 dan 22 di antaranya
telah dikonfirmasi sebagai vektor malaria (Sukowati 2009).
Di Indonesia telah dilaporkan spesies Anopheles utama sebagai vektor
malaria adalah An. aconitus, An. sundaicus, An. ludlowi, An. sinensis , An.
balabacensis,

An. koliensis, An. maculatus, An.subpictus, An. bancrofti, An.

letifer, An. minimus, An. flavirostris, An. barbirostris, An. leucosphyrus, An.
nigerrimus , An. vagus, An. farauti, An. karwari, An. punctulatus, An. umbrosus,
An. tesellatus, An. parangensis, An. kochi, An. ludlowi, An. annullaris yang
tersebar di berbagai pulau (Winarno dan Rogayah 2009).
Di Provinsi Lampung, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor
adalah An. sundaicus, An. aconitus, An. maculatus, An. nigerrimus, An. sinensis
(Depkes 2005). Di pulau Sumatera, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria
adalah An. kochi, An. sundaicus, An. tesselatus, dan berpotensi sebagai vektor
yaitu An. nigerrimus, An. letifer, An. umbrosus. Di Pulau Jawa, nyamuk yang
berperan sebagai vektor malaria adalah An. aconitus, An. balabacencis, An.
maculatus dan An. sundaicus. Di Pulau Kalimantan nyamuk yang berperan
sebagai vektor malaria adalah An. balabacensis, An. leucosphyrus dan An.
sundaicus, sedangkan yang berpotensi sebagai vektor adalah An. letifer dan An.
tesselatus. Di Pulau Bali, nyamuk yang berperan sebagai vektor adalah An.
subpictus. Di Pulau Nusa Tenggara Timur yang berperan sebagai vektor adalah
An. barbirostris, An. subpictus dan An. sundaicus.
Di Indonesia bagian Timur, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor
malaria adalah An. bancrofti, An. koliensis, An. punctulatus, An. farauti, An.
subpictus, An. barbirostris, An. sundaicus, dan yang berpotensi sebagai vektor
yaitu An. vagus. Di Pulau Sulawesi, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria

6

adalah An. barbirostris, An. sundaicus, An. kochi, An. nigerrimus, dan yang
berpotensi sebagai vektor adalah An. flavirostris, An. umbrosus, An. minimus dan
An. sinensis (Munif et al. 2008).
Penyebaran vektor malaria sangat dipengaruhi oleh struktur lansekap,
penggunaan lahan yang berbeda pada struktur lansekap berpengaruh terhadap
kepadatan dan keragaman nyamuk Anopheles (Han et al. 2002). Distribusi
spasial Anopheles meliputi penyebaran berdasarkan wilayah geografis yang
dipengaruhi oleh kondisi topografi, ketinggian tempat, kemiringan lereng dan
pemanfaatan lahan (Sukowati 2009).
Hasil analis prevalensi malaria menurut letak geografis di Bukit Menoreh
Jawa Tengah menunjukan bahwa risiko terjadinya penularan malaria dipengaruhi
suhu udara, kelembaban, vegetasi tanaman dan penggunaan lahan. Nilai konstanta
dan nilai fungsi masing-masing variabel prediktor intensitas penularan malaria
adalah

1.938 suhu, 1.871 kelembaban, 1.339 vegetasi tanaman dan 1.893

penggunaan lahan (Ahmad et al. 2003).
2.2

Habitat Perkembangbiakan Anopheles
Habitat

perkembangbiakan

merupakan

tempat

perkembangbiakan

pradewasa, mulai dari telur, larva dan pupa. Bates (1970) membagi habitat larva
menjadi empat kelompok, (1) habitat yang permanen dan semi permanen
seperti rawa, danau, (2) daerah aliran air yang berasosiasi dengan tumbuhan, (3)
kontainer termasuk genangan air pada ketiak daun tumbuhan, (4) genangan air
pada tanah yang bersifat sementara.
Arianti et al. (2007) melaporkan di Kepulauan Seribu bahwa larva An.
subpictus merupakan larva yang dapat hidup pada berbagai tipe habitat. Larva
jenis Anopheles ini dapat hidup pada air mengalir, maupun tidak mengalir seperti
di kolam, pinggir danau, saluran irigasi, persawahan, air tawar dan air payau.
Dari kolam perendaman rumput laut ditemukan 27.3 % positif mengandung larva
An. subpictus, 13.6% sumur dangkal.
2.3

Perilaku Nyamuk Anopheles
Eksofilik adalah sifat atau kebiasaan nyamuk yang menyukai istirahat di

luar rumah sampai saat telurnya matang dan siap untuk diletakkan ditempat

7

perindukannya. Nyamuk dengan sifat seperti ini menghabiskan sebagian besar
siklus gonotrofiknya di luar rumah manusia.
Pengendalian nyamuk yang bersifat eksofilik, metode penyemprotan rumah
dan penggunaan kelambu yang berinsektisida tidak efektif,

karena

nyamuk

Anopheles yang menjadi sasaran tidak berkontak dengan insektisida yang
disemprotkan. Pengendalian di luar rumah seperti manajemen lingkungan
merupakan cara yang tepat untuk menurunkan populasi vektor yang bersifat
eksofilik. Berbeda dengan eksofilik, endofilik adalah sifat

atau

kebiasaan

nyamuk yang sebagian besar waktu istirahat di dalam rumah.
Perilaku nyamuk dalam memilih sumber darah dapat dibedakan menjadi
zoofilik dan antropofilik, zoofilik merupakan sifat nyamuk Anopheles yang lebih
menyukai darah hewan dan antropofilik adalah sifat nyamuk Anopheles yang
menyukai darah manusia. Terkait dengan sifat antropofilik, nyamuk Anopheles
dapat menggigit manusia di dalam rumah (endofagik) atau di luar rumah
(eksofagik).
Nyamuk Anopheles vagus bersifat zoofilik di desa Hargotirto, Kecamatan
Kokap Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta (Aprianto 2002). Nyamuk An.
maculatus dan An. balabasensis di lokasi yang sama bersifat antropofilik.
Berkaitan dengan lokasi mengigit, Aprianto (2002) tidak dapat memastikan sifat
eksofagik atau endofagik dari

An. maculatus dan An. vagus. Boesri (1991)

melaporkan bahwa An. sundaicus di desa Tarahan Lampung Selatan banyak
ditemukan di sekitar kandang dan lebih menyukai

mengigit di luar rumah.

Suwito (2010) melaporkan juga bahwa An. sundaicus di Kecamatan Padang
Cermin

Pesawaran

bersifat

antropofilik

lebih

menyukai

darah

orang

dibandingkan darah hewan.
Jastal (2005) melaporkan dari delapan spesies nyamuk Anopheles yang
didapatkan di desa Tongua, Donggala Sulawesi Tengah, yaitu An. barbirostris,
An. nigerimus, An. barbumbrosus, An. tesselatus, An. vagus, An. punctulatus, An.
kochi dan An. maculatus semuanya bersifat eksofagik. Spesies Anopheles yang
bersifat antropofilik yaitu An. barbirostris, An. nigerrimus. Tiga spesies lainnya
bersifat zoofilik yaitu An. tesselatus, An. vagus dan An. kochi.

8

Penyebaran nyamuk Anopheles mencari sumber darah dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik yang dimaksud dapat
berupa suhu, kelembaban dan curah hujan, sedangkan lingkungan biotik dapat
berupa fauna dan flora di suatu daerah.
2.4

Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang
Setiap spesies nyamuk mempunyai perilaku berbeda dalam mencari

inangnya. Hal ini disebabkan oleh daya tarik masing-masing inang tersebut
terhadap nyamuk tidak sama. Beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi
nyamuk dalam mencari inang adalah suhu, kelembaban, karbondioksida, aroma
tubuh dan macam-macam faktor visual (Olanga et al. 2010).
2.4.1 Suhu
Suhu merupakan faktor penting sebagai perangsang dalam penemuan
inang dan merupakan daya tarik utama bagi nyamuk untuk bereaksi menggigit,
peningkatan suhu akibat viremia akan lebih menarik nyamuk untuk mendekati
inang (Carver et al. 2009).
Wang et al. (2009) melaporkan bahwa panas tubuh 250C sampai dengan
370C mampu meningkatkan sistem sensor pada nyamuk Anopheles gambiae untuk
menuntun mendekati inang . Sistem sensor nyamuk mulai berkurang pada suhu
di bawah 180C dan di atas 400C.
2.4.2 Kelembaban Udara
Kelembaban

udara

dapat mempengaruhi aktivitas terbang serangga di

alam. Takken et al. (1997) melaporkan bahwa kelembaban relatif di bawah
40% menurunkan aktifitas nyamuk untuk mendekati inang. Sebaliknya
kelembaban udara

antara 45% sampai dengan 90% meningkatkan aktifitas

nyamuk untuk mendekati inang.
Olayemi et al. (2011) melaporkan bahwa kelembaban yang tinggi
meningkatkan

aktifitas

nyamuk

untuk

mencari

darah

serta

mampu

memperpanjang hidup Anopheles gambiae di Negeria. Kepadatan nyamuk
Anopheles gambiae mengisap darah orang pada kelembaban 79% sebesar 123 per
orang, sedangkan kepadatan gigitan Anopheles gambiae pada kelembaban 40%
menurun hanya 40 per orang. Umur Anopheles gambiae juga bertambah panjang

9

sampai dengan 21 hari pada kelembaban 79%, sedangkan pada kelembaban 40%
umur nyamuk Anopheles gambiae hanya sampai 4 hari.
2.4.3 Karbondioksida
Karbondioksida

yang

dikeluarkan

ketika

hewan maupun manusia

bernapas memainkan peran yang sangat penting bagi nyamuk untuk mendapatkan
inang. Smallegange et al. (2010) melakukan uji coba pada perangkap nyamuk
yang diberikan aliran CO2, menemukan bahwa pada aliran CO2 25 ml/menit
berhasil menangkap 86 nyamuk, CO2 60 ml/menit 100 nyamuk dan ketika aliran
CO2 dinaikan menjadi 100 ml/menit jumlah nyamuk yang tertangkap bertambah
menjadi 177.
Roiz

et al. (2012) menemukan

bahwa

perangkap

nyamuk yang

ditambahkan CO2 dapat meningkatkan jumlah nyamuk yang tertangkap
dibandingkan dengan perangkap

nyamuk

yang

tidak ditambahkan CO2.

Perangkap nyamuk yang ditambahkan CO2 mampu menangkap nyamuk lebih
dari 1000 nyamuk/perangkap/malam, sedangkan perangkap yang tidak diberikan
CO2 jumlah nyamuk yang tertangkap dibawah 100 nyamuk/ perangkap/malam.
2.4.4 Aroma
Jawara et al. (2011) menemukan bahwa campuran asam laktat, amonia,
lebih menarik bagi nyamuk An. gambiae

dan asam tetradecanoic

untuk

mendekat. Nyamuk melakukan respon terhadap aroma keju dan susu tradisional
Afrika, aroma tersebut memiliki potensi sebagai umpan bau yang efektif untuk
perangkap

nyamuk

maupun sebagai atraktan oviposisi untuk vektor malaria

Anopheles funestus (Owino 2010).
Cooperband et al. (2008) juga menyimpulkan bahwa aroma kotoran ayam
mampu menarik Culex quinquefasciatus untuk datang mendekat. Aroma darah
sapi dilaporkan mempunyai daya tarik terhadap nyamuk Ae. aegypti empat kali
lebih besar dari pada air dan plasma darah lima kali lebih besar dari pada air
(Burgess dan Brown 1957).
2.4.5 Visual
Respon visual mempengaruhi nyamuk dalam memilih inang. Bentuk dan
pemantulan cahaya serta gerakan inang ternyata merupakan faktor penting,
sebab mampu menuntun nyamuk yang aktif mencari darah pada siang hari.

10

Brown dan Bennet (1981)

melaporkan bahwa Ae. aegypti

lebih banyak

menggigit tangan yang memakai kaos warna gelap dibandingkan dengan tangan
yang memakai warna terang.
Visual rangsangan

seperti gerakan,

panjang

gelombang cahaya

dan

intensitas, warna, bentuk, pola, memainkan peran penting dalam pencarian
inang oleh nyamuk dewasa betina (Bidlingmayer 1994). Dalam beberapa
spesies Aedes, deteksi gerakan penting bagi penentuan lokasi inang (Brown dan
Bennet 1981). Spesies lain mungkin mengandalkan intensitas cahaya atau
warna seperti biru, hitam dan merah sebagai rangsangan yang menuntun kearah
inang. Ali et al. (1989) mampu menunjukkan bahwa Culex lebih menyukai
warna cahaya dari pada intensitas. Demikian pula Burkett dan Butler (1998)
menyatakan bahwa

tidak hanya cahaya, tetapi panjang gelombang cahaya

tertentu memainkan peranan penting dalam daya tarik inang.
Walaupun faktor visual telah dibuktikan mempengaruhi nyamuk tetapi
tidak semua nyamuk tergantung kepada faktor tersebut. Faktor visual berperan
penting terutama pada nyamuk yang menggigit di siang hari. Nyamuk Anopheles
mulai menggigit pada sore hingga malam hari, berbeda dengan nyamuk Aedes
yang menggigit di siang hari (Mattingly 1969).
2.5

Pemanfaatan Ternak Dalam Pengendalian Nyamuk Anopheles
Pemanfaatan ternak merupakan salah satu cara hayati yang bertujuan

untuk mencegah dan menghindarkan kejadian kontak antara nyamuk dengan
manusia. Upaya pengendalian nyamuk vektor penyakit, dengan menyediakan
hewan sebagai tameng dikenal istilah zooprofilaksis. Tindakan tersebut
merupakan perubahan orientasi nyamuk dari menggigit manusia kepada
menggigit hewan.
Zooprofilaksis didefinisikan sebagai penggunaan hewan domestik ataupun
liar yang bukan inang reservoir dari suatu penyakit tertentu untuk mengalihkan
gigitan nyamuk vektor dari manusia sebagai inang penyakit tersebut (Saul 2003).
Tindakan zooprofilaksis lebih khusus dilakukan terhadap nyamuk dengan cara
menempatkan kelompok ternak di dekat sumber tempat perindukan nyamuk.
Tindakan yang direncanakan dan dilakukan seperti itu disebut zooprofilaksis
aktif.

Sebaliknya

zooprofilaksis

pasif,

yaitu

zooprofilaksis

yang

tidak

11

direncanakan, mempunyai daya merubah nyamuk vektor yang antrofilik menjadi
zoofilik dalam batas tertentu. Pengendalian vektor melalui zooprofilaksis juga
sangat tergantung pada peran serta masyarakat. Karena diharapkan mereka yang
akan memelihara ternak di sekeliling rumah sebagai perlindungan terhadap
gigitan nyamuk. Pada tahap awal peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam
ujicoba ternak yang mempunyai daya profilaksis yang paling tinggi.
Soedir (1985) melaporkan bahwa sapi mampu menarik 20 spesies nyamuk,
domba 19 spesies, dan manusia 9 spesies. Adapun tiga hewan lainnya yaitu
monyet, kelinci, serta ayam mempunyai daya tarik yang relatif kecil. Masingmasing hanya menyumbang 1.2% (delapan spesies), 2.1% (sepuluh spesies) dan
3.7% (enam spesies) dari seluruh nyamuk yang tertangkap.
Hasil uji presipitin yang dilakukan Boewono (1986) di desa Kali Gading,
Jawa Tengah menunjukkan 56.04% dari populasi An. aconitus mengisap darah
sapi, 13.19%

darah domba dan 4.40%

darah kambing serta 3.30% darah

manusia. Faktor yang membedakan daya tarik ternak bagi nyamuk An. aconitus
adalah jarak penempatan kandang ternak terhadap rumah penduduk, semakin
dekat penempatan sapi atau kerbau dari rumah penduduk, semakin banyak
infestasi nyamuk An. aconitus.
Bruce-Chwatt (1985) menemukan

An. gambiae lebih menyukai darah

ternak dan kuda. Di negara pecahan Unisoviet, ternak digunakan sebagai salah
satu metode pengendaliaan malaria. Di bagian Utara Eropa dan sejumlah negara
di Amerika Utara, metode zooprofilaksis juga dapat menurunkan kasus malaria
di masing-masing daerah tersebut.
Melihat kenyataan tersebut, pemberdayaan ternak sebagai tameng terhadap
penyakit malaria mempunyai potensi dan prospek yang baik dimasa depan.
Penelitian tentang zooprofilaksis dilaporkan Hewitt et al. (1994) pada tempat
pengungsi Afganistan di Pakistan dengan mengunakan seekor sapi dan dua ekor
kerbau sebagai zooprofilaksis, diperoleh hasil adanya peningkatan angka gigitan
nyamuk oleh An. staphensi masing-masing 38% dan 50% untuk penggunaaan
sapi dan kerbau sebagai zoobarier.
Mathys (2010) menyatakan ada dua syarat untuk keberhasilan program
zooprofilaksis yaitu pertama,

jenis spesies Anopheles harus bersifat zoofilik.

12

Kedua, ternak tersebut harus disebar dalam bentuk tameng antara nyamuk vektor
dan manusia. Lokasi penempatan ternak harus sejauh mungkin dari permukiman
manusia. Berdasarkan hasil tersebut Hewitt et al. (1999)

mengusulkan agar

pengertian zooprofilaksis didefinisikan sebagai penyebaran ternak yang bukan
inang reservoar dari suatu penyakit untuk mengalihkan gigitan nyamuk vektor
dari manusia yang menjadi inang dari penyakit tersebut.
2.6

Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles
Pengendalian nyamuk vektor dengan memanfaatkan ternak bertujuan

mengalihkan preferensi nyamuk vektor dari manusia ke hewan. Penggunaan
hewan diharapkan dapat mengurangi transmisi penyakit malaria. Selain itu
mengkombinasikan dengan aplikasi insektisida pada hewan tersebut akan dapat
menambah efektifitas pengendalian. Kombinasi ternak dan insektisida menurut
Rowland et al. (2001) dapat menurunkan insiden penyakit malaria yang
disebabkan Plasmodium

falciparum

sebesar 31%, dengan biaya

sebesar 56%

dan Plasmodium

vivax

yang lebih rendah sekitar 80% dibandingkan

dengan metode penyemprotan dalam

ruang (indoor spraying). Kombinasi

aplikasi insektisida pada ternak tidak hanya menguntungkan bidang kesehatan
masyarakat saja, tapi juga memberi keuntungan bagi kedokteran hewan.
Pegram et al. (1989) meneliti di Zambia dari tahun 1982 sampai dengan
1986 menyatakan bahwa, penggunaan insektisida untuk pengendalian ekstoparasit
pada sapi berdampak pada peningkatan berat badan sapi. Penggunaan deltametrin
untuk pengendalian ekstoparasit pada ternak juga telah digunakan untuk
pengendalian lalat tsetse di Uganda oleh Okello et al. (1994), yang hasilnya
berdampak pada penurunan populasi lalat tsetse sampai dengan 100%.
Penggunaan deltametrin sebagai insektisida pengendali ektoparasit tidak
berbahaya bagi konsumen dan produk hewan (NPIC 2010).
Kombinasi ternak dan insektisida tersebut dapat mengurangi transmisi
malaria sama baiknya dengan penyemprotan dalam rumah. Secara teknis dan
dapat diarahkan untuk mengurangi resiko resistensi yang berkelanjutan. Sehingga
dengan keuntungan yang diperoleh tersebut. Metode ini dapat menjadi salah satu
strategi pengandalian malaria disamping penyemprotan dalam rumah (Hewitt dan
Rowland 1999).

13

2.7 Deltametrin dan Cara Kerjanya
Deltametrin telah digunakan secara luas pada sektor pertanian dan kesehatan
masyarakat. Penggunaan deltametrin dalam pengendalian penyakit malaria
terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk Anopheles dewasa. Deltametrin
digunakan secara intensif di Afrika sebagai bahan aktif untuk kelambu celup
berinsektisida (impregenated

badnet), untuk mencegah gigitan nyamuk

Anopheles (Robert et al. 1991).
Deltametrin

merupakan insektisida sintesis yang termasuk ke dalam

golongan piretroid generasi ke empat dengan nama kimia (S)-α-cyano-3phenoxybenzyl

(1R,3R)-3-(2,2-dibromovinyl)-2,2

dimethyl

cyclopro

pane

carboxylate.
Sifat fisika deltametrin antara lain (1) berbentuk kristal, tidak korosif dan
berwarna putih, (2) mempunyai tekanan uap 1.5 x 10-8 mmHg pada suhu 25°C,
(3) berat molekul 505.2 g/mol, (4) larut dalam air, antara 0.002 sampai dengan
0.0002 mg/L, (5) terserap dalam tanah, antara 7.05 x 105 sampai dengan 3.14 x
106 (NPIC 2010).
Menurut cara kerja piretroid berdasarkan pola resistensi silang dan sifat
knockdown, deltametrin termasuk piretroid tipe II. Piretroid tipe II mempunyai
koefisien suhu positif, menyebabkan penghambatan fungsi sistem saraf pusat,
efek klinis yang terlihat pada serangga adalah konvulsi, hiperaktif dan kontraksi
pada tungkai metatoraks (Irawan 2006).
2.8 Resistensi dan Mekanismenya
Resistensi merupakan kemampuan kelompok serangga untuk bertahan hidup
terhadap suatu dosis insektisida yang dalam keadaan normal dapat membunuh
spesies serangga tersebut (WHO 1998). Kasus resistensi pertama kali dilaporkan
pada lalat rumah Musca domestica terhadap DDT di Swedia pada tahun 1947.
Perkembangan resistensi semakin cepat setelah ditemukannya bahan sintetik
organik sebagai insektisida dan acarisida. Pada era tahun 1940-an hanya tujuh
spesies serangga yang dilaporkan resistensi terhadap DDT, tetapi pada era

1980

jumlahnya meningkat mencapai 447 spesies. Dari jumlah tersebut 59% terdiri
dari serangga hama, 38% serangga penggangu kesehatan hewan dan manusia, 3%

14

sisanya adalah serangga yang berguna seperti predator dan parasitoid (Georghiou
1986).
Menurut WHO (1998)

sampai saat ini lebih dari 100 spesies nyamuk

mengalami resisten terhadap satu atau lebih insektisida. Dari jumlah tersebut, di
antaranya adalah 56 spesies nyamuk Anopheles dan 39 spesies Culex. Anopheles
yang

mengalami

proses resistensi tersebut antara lain,

An. sacharovi di

Lebanon, Iran dan Turki, An. sundaicus di Indonesia dan Myanmar, An.
quadrimaculatus di Mexiko resisten terhadap dieldrin. An. aconitus di Indonesia
juga mulai resisten terhadap organofosfat (Widiarti et al. 2009). Nyamuk An.
minimus di Thailand sejak tahun 2000 dinyatakan resisten terhadap permetrin
(Chareoviriyaphap et al. 2002) dan An. gambiae di Kamerun sejak tahun 2006
telah mengalami resistensi terhadap DDT dan piretroid (Etang et al. 2006).
Mekanisme resistensi dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu (1)
biokimia dan (2) faali (Sigit 2004).
2.8.1 Mekanisme Biokimia
Mekanisme ini menyangkut daya kerja enzim tertentu didalam tubuh hama
yang merombak molekul pestisida menjadi molekul-molekul lain yang tidak
toksik (detoksifikasi) molekul pestisida harus berinteraksi dengan target dalam
proses toksikologinya terhadap sistem kehidupan di dalam tubuh hama, untuk
dapat menimbulkan dampak letal (mematikan). Dengan dirombaknya molekul
pestisida itu, maka di dalam individu hama pada populasi resisten, interaksi
tersebut tidak terjadi. Tipe resistensi dengan mekanisme biokimia ini sering
disebut sebagai resistensi enzimatik
2.8.2 Mekanisme Faali
Ada tiga macam mekanisme faali, yaitu (1) berkenaan dengan target di
dalam tubuh hama, (2) berkenaan dengan eksoskolet (kerangka luar) hama, (3)
berkenaan dengan kepekaan mendeteksi adanya pestisida.
Mengenai target pestisida ada individu-individu hama yang mempunyai
situs lain yang merupakan target pestisida tadi, tetapi yang interaksinya dengan
molekul pestisida tidak menimbulkan dampak letal. Populasi resisten disini
bukannya terdiri dari individu yang memiliki enzim perombak.

15

Mengenai eksoskelet (kerangka luar), ada individu-individu hama yang
memiliki

struktur

eksoskelet

sedemikian

rupa

sehingga

pestisida

sulit

menembusnya, dengan demikian pestisida tidak sampai kepada targetnya.
Mengenai kepekaan mendeteksi pestisida, diantara individu-individu hama
terdapat keragaman. Ada yang sangat peka, sehingga sebelum berkontak (cukup
lama) dengan mereka sudah menghindarinya, dengan lain perkataan, pada tipe
resistensi semacam ini sebenarnya pestisida tidak atau tidak cukup mengenai
hama, tipe resistensi ini sering disebut behavioural resistance.

16

17

3 METODE PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Hanura Kecamatan Padang Cermin
Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Desa Hanura merupakan daerah
endemis malaria dengan angka Annual Parasite Incidence (API) sebesar 14.060/00
(Dinkes Kab. Pesawaran 2011).
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Februari 2012 sampai
dengan April 2012. Pengukuran kepadatan gigitan nyamuk Anopheles pada
manusia dan pada sapi dilakukan pada malam hari, frekwensi pengukuran setiap
tujuh hari sekali.
3.3 Hewan Ternak yang digunakan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan ternak sapi
(Gambar 1). Jumlah sapi yang digunakan tiga ekor, dengan luas permukaan
badan sapi antara 1.5 sampai dengan 3 m². Jenis sapi yang digunakan adalah
peranakan onggole (PO) milik penduduk yang disewa selama penelitian. Umur
sapi berkisar 1 sampai dengan 2 tahun, tidak terlalu besar, supaya dapat
dimasukkan ke dalam perangkap magoon yang akan dipasang selama penelitian.

Gambar 1 Sapi yang digunakan dalam penelitian.

18

3.4 Insektisida yang dipakai
Insektisida yang dipakai adalah deltametrin 5% (K-Othrine® 5WP) dalam
bentuk tepung yang dikemas dalam kantong plastik @ 85 gram (Gambar 2) yang
bersifat residual dengan toksisitas rendah pada mamalia. Dosis yang digunakan
adalah 25 mg/m2 sesuai dengan dosis aplikasi yang dianjurkan.

Gambar 2 Insektisida deltametrin.
3.5 Pembaluran Insektisida pada Sapi
Pembaluran dilakukan dengan

melumuri

insektisida pada badan sapi

sampai bulu-bulunya basah, dengan bantuan spon dan sarung tangan (Gambar
3). Rowland et al. (2001) melaporkan bahwa 99% nyamuk Anopheles mengisap
darah di daerah bawah garis tengah (midline) badan hewan, maka pemaparan
terutama dilakukan di bagian tersebut sampai dengan bagian kaki.

Gambar 3 Pembaluran insektisida pada sapi.

19

3.6 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi
Penentuan lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi
menggunakan metode cone test (WHO 1998).

Cone test dilakukan untuk

mengetahui daya tahan residu insektisida yang diaplikasikan pada tubuh sapi yang
menyebabkan tingkat kematian untuk nyamuk Anopheles hingga 95% .
Pelaksanaan cone test dilakukan dengan cara menempelkan 5 buah cone
(kerucut) yang masing-masing berisi 25 nyamuk Anopheles betina yang diperoleh
dari hasil penangkapan di sekitar kandang. Waktu penempelan nyamuk Anopheles
pada badan sapi yang telah dibaluri dengan insektisida deltametrin berlangsung
selama satu jam (Gambar 4 A).
Pelaksanaan cone test ini dilakukan setiap hari dengan cara yang sama
sampai hasil pengamatan mencapai 95%. Pengamatan dihentikan ketika angka
kematian menunjukkan di bawah 95%. Kriteria ini digunakan berdasarkan
penelitian Hasan (2006).
Pada sapi

kontrol

(tidak dibalurkan insektisida) digunakan dua buah

kerucut yang masing-masing

juga berisi dua puluh lima nyamuk Anopheles

betina dikontakkan kepada tubuh sapi dengan cara yang sama seperti pada sapi
perlakuan.
Setelah itu nyamuk dipindahkan ke gelas kertas yang diberi makan larutan
gula 10%, gelas-gelas tersebut ditempatkan pada kotak yang dilapisi dengan
pelepah pisang untuk menjaga agar kelembaban berkisar 85% (Gambar 4 B).
Kematian nyamuk diamati 24 jam pasca kontak dengan insektisida.

A

B
Gambar 4 Pelaksanaan cone test. A. Penempelan nyamuk B. Penyimpanan.

20

3.7 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia

Gambar 5 Penangkapan nyamuk metode BLC.
Pengukuran kepadatan nyamuk dilakukan 2 kali sebelum (pra) dan sesudah
(pasca perlakuan). Kepadatan nyamuk yang menggigit orang mengu

Dokumen yang terkait

Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control