Pengaruh pendidikan agama Islam terhadap peningkatan akhlak siswa di SMP assalam Cipondoh tangerang

UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE RESITASI PADA MATA
PELAJARAN SOSIOLOGI DI MA MANARATUL ISLAM
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Disusun Oleh:
Nurul Fathiyah
105015000644

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmannirrohiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Segala dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. Alhamdulillah berkat
dan kasih sayang-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Profesi
Keguruan Terpadu (PPKT) ini. Shalawat serta salam tak lupa penulis ucapkan
kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, dan para
pengikutnya hingga sepanjang masa. Amien
Selama kurang lebih empat bulan penyusun melaksanakan praktik kerja
lapangan di SMA Muhammadiyah 8 Ciputat pada bulan Februari sampai dengan
Mei 2009, dimana dalam pelaksanaan PPKT dan penyusunan laporan ini, tak lepas
dari dukungan berbagai pihak atas kontribusinya berupa tenaga, pikiran, serta hal
yang bersifat moril dan materil lainnya yang membuat penyusun tetap semangat
dalam menjalani kehidupan tanpa hambatan yang berarti. Oleh karena itu, melalui
kata pengantar ini penulis mengucapkan terima kasih, penghargaan serta rasa hormat
kepada:
1. Bapak Drs. H. Endang Surahman, MA selaku Kepala Sekolah SMA
Muhammadiyah

8

Ciputat

atas

ketersediannya

menerima

penulis

melaksanakan kegiatan PPKT.
2. Bapak Drs. H. Nurochim, MM

selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu dan memberikan masukan sehingga penulisan ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
3. Ayahanda dan Ibunda atas cinta kasihnya sepanjang masa yang tak dapat
tergantikan, kasih sayangnya dan belaian lembutnya hingga dapat
mensupport penulis dalam menyelesaikan laporan PPKT ini.
4. Bpk. Drs. Teguh Puja Rahayu selaku guru pamong yang telah membantu
penulis dalam menjalankan tugas PPKT
5. Dewan guru SMA Muhammadiyah 8 Ciputat yang telah membantu kami
dalam melaksanakan kegiatan PPKT


 

6. Teman-teman satu tim PPKT atas kerjasamanya selama menjalankan
kegiatan PPKT
7. Sahabat-sahabat tercinta yang penulis tidak sebutkan namanya (karena
terlalu banyak), yang selalu mensupport penulis dari awal kuliah sampai
terlaksananya laporan ini. You All My Best Friends.

Penulis menyadari bahwa isi laporan ini belum sempurna, oleh karena itu
kritik serta saran-saran yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi perbaikan sehingga pada penulisan yang akan dating dapat lebih baik
lagi. Dan akhirnya dengan rasa rendah hati laporan ini penulis sajikan, khususnya
mahasiswa dan pembaca pada umumnya. Mudah-mudahan bermanfaat. Amien.

Alhamdulillahirobbil’alamiin
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Jakarta, 03 Juni 2009

Penulis

ii 
 

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

iv

I.

PENDAHULUAN

II.

A. Latar Belakang

1

B. Identifikasi Masalah

3

C. Pembatasan Masalah

3

D. Perumusan Masalah

3

E. Manfaat Penelitian

3

LANDASAN TEORI

III.

A. Persepsi

4

B. Perilaku Menyimpang

6

C. Masyarakat

10

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian

13

B. Tempat dan Waktu Penelitian

13

C. Populasi dan Sampel Penelitian

13

D. Instrumen Penelitian Data

13

E. Kisi-kisi Kuisioner

13

F. Teknik Pengumpulan Data

14

G. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis

14

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

IV.

V.

A. Hasil Pengumpulan Data

15

B. Pembahasan

16

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

18

B. Saran

18

DAFTAR PUSTAKA

19

LAMPIRAN

20

iii 
 

DAFTAR TABEL

1. TABEL 4.1: Presentase hasil kuisioner

iv 
 

15

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE RESITASI PADA MATA PELAJARAN
SOSIOLOGI DI MA MANARATUL ISLAM
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta

Disusun Oleh:
Nurul Fathiyah
NIM: 105015000644

Mengetahui
Dosen Pembimbing

Drs. H. Banadjid
NIP:19541224 198103 1 004

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M

LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul: “Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Dengan Menggunakan
Metode Resitasi Pada Mata Pelajaran Sosiologi Di MA Manaratul Islam” Oleh Nurul
Fathiyah, NIM 105015000644, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasyah
pada tanggal 25 Juni 2010 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh
gelar sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Jakarta, 29 Juni 2010
Panitia Ujian Munaqosyah

Ketua Panitia(Ketua Jurusan/Program Studi)

Drs.H.Nurochim,MM
NIP.19590715 198403 1 003

Tanggal

Tanda Tangan

………..

………………..

………..

………………..

……….

……………….

……….

……………….

Sekretaris (Sekretaris Jurusan/Program Studi)
Iwan Purwanto, M.Pd
NIP. 197304242008011012
Penguji I
Dr.Faridal Arkam, M.Pd
NIP.
Penguji II
Drs.H.Nurochim,MM
NIP. 19590715 198403 1 003

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof.Dr.Dede Rosyada, M.A
NIP.

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Nurul Fathiyah

Tempat/Tgl.Lahir

: Jakarta, 24 September 1987

Nim

: 105015000644

Jurusan /Prodi

: Pendidikan IPS

Judul Skripsi

: Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Dengan
Menggunakan Metode Resitasi Pada Mata Pelajaran Sosiologi
Di MA Manaratul Islam

Dosen Pembimbing

: Drs. H. Banadjid

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan
saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta, 22 September 2010

Nurul Fathiyah
Nim 105015000644


 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup
sendiri tanpa kehadiran orang lain, maka dalam menghadiri berbagai persoalan
hidup yang semakin berkembang dan akibat dari perkembangan dan kemajuan
zaman, manusia sangat memerlukan bantuan dan bantuan dari orang lain
disekitarnya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari situasi
masyarakat sehingga harus membuat siswa-siswanya sebagai calon anggota
masyarakat, agar mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya.
Permasalahan yang muncul dalam proses belajarnya tidak pernah lepas,
bahkan menjadi bagian integral dari peristiwa pribadi dan sosial yang terjadi pada
diri siswa akan berakibat pada proses belajar siswa dan akhirnya akan
mendatangkan masalah dalam belajarnya.
Dalam proses belajar, tidak sedikit hambatan yang dihadapi oleh seseorang
anak, hambatan dapat datang dari dalam diri anak, sebagai akibat pertumbuhan
dan perkembangannya dan dapat pula datang dari luar dirinya. Banyak faktor
yang mempengaruhi anak kemudian mengantarkannya kepada keberhasilan atau
kegagalan. Faktor-faktor yang positif memungkinkan anak berhasil dalam belajar,
sebaliknya

faktor-faktor

yang

bersifat

negatif

dapat

merugikan

dan

mengakibatkan anak kurang atau tidak sukses dalam belajar.
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung
secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat
cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal
semangat terkadang tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan
konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik
dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.

 
 


 

Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah berkembang demikian
pesatnya, bahkan tiada kunjung habis sejalan dengan perkembangan zaman.
Situasi yang demikian dapat menimbulkan bermacam-macam perubahan di dalam
berbagai aspek kehidupan manusia.
Perubahan tersebut berdampak pada setiap individu di mana setiap individu
dituntut untuk mampu menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian diri tersebut
individu-individu khususnya remaja mungkin saja akan menghadapi berbagai
masalah. Adapun masalah yang sering dihadapi remaja antara lain masalah
penyesuain diri, masalah keluarga, masalah pendidikan, masalah sosial, masalah
pekerjaan, dan lain-lain.
Dengan timbulnya masalah tersebut, maka remaja perlu mendapatkan bantuan
agar dapat memecahkan masalahnya. Bantuan itu dapat diberikan sebelum atau
sesudah remaja bersangkutan bermasalah.
Dalam kegiatan belajar yang dialami siswa tidak selamanya berjalan dengan
lancar dan tidak semua siswa berhasil dalam belajar, karena diantara siswa ada
yang mengalami kesulitan dalam belajar, seperti kesulitan belajar sendiri, dalam
belajar kelompok, dalam mempelajari buku, dalam mengerjakan tugas-tugas,
dalam menghadapi ujian, dan dalam menerima pelajaran di sekolah.
Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah
yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam
keadaan di mana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya itulah yang
disebut dengan kesulitan belajar.
Masalah kesulitan belajar yang sering dialami oleh siswa sekolah, merupakan
masalah penting yang perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa di sekolah akan membawa dampak negatif, baik
terhadap siswa itu sendiri maupun terhadap lingkungannya. Hal ini biasanya
termanifestasi dalam bentuk timbulnya kecemasan, frustasi, mogok sekolah, drop
out, hasil belajar yang rendah dan sebagainya.
Kegagalan dalam studi itulah yang harus dihindari bahkan diantisipasi segera
oleh berbagai pihak baik guru (sekolah) maupun orang tua (keluarga) karena kita

 
 


 

tidak menginginkan para siswa sebagai tunas-tunas bangsa menjadi “kerdil”
pengetahuannya.
Oleh karena itu, segala kesulitan dalam belajar yang dialami siswa jangan
dibiarkan berlarut-larut oleh para guru, tetapi harus segera diketahui dan diatasi
secepat mungkin, maka dari itu siswa perlu mendapatkan bantuan dalam belajar.
Karena dalam bidang pendidikan, siswa sebagai sumber daya manusia harus
ditingkatkan kualitasnya, sehingga diharapkan akan mencapai hasil belajar yang
optimal. Suatu hasil pendidikan dikatakan unggul atau mutu jika kemampuan
pengetahuan ketrampilan dan sikap yang dimiliki oleh para lulusan dapat
dipergunakan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah
yang lebih tinggi atau bermanfaat di masyarakat.
Siswa juga dapat mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran yang
dianggap mudah oleh para siswa, yaitu mata pelajaran sosiologi. Mata pelajaran
sosiologi dipandang mudah oleh para siswa karena mereka berpikir bahwa mata
pelajaran sosiologi hanya dengan modal membaca dan mendengarkan guru
menerangkan siswa akan merasa sudah dapat memahami pelajaran sosiologi
tersebut.
Namun, pada kenyataannya siswa mengalami kesulitan belajar pada mata
pelajaran sosiologi. Karena siswa meremehkan mata pelajaran sosiologi sehingga
siswa masih banyak yang tidak lulus pada mata pelajaran sosiologi tersebut.
Kesulitan belajar yang dialami siswa, berpengaruh juga terhadap metode
pembelajaran. Jika pembelajaran menggunakan metode yang bersifat siswa pasif,
maka hal ini akan membuat siswa kurang semangat dan membosankan sehingga
membuat siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Karena metode berperan
sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Dengan
menggunakan metode diharapkan terjadi interaksi belajar mengajar antara siswa
dengan guru dalam proses pembelajaran.
Interaksi belajar mengajar sering disebut dengan interaksi edukatif. Dalam
interaksi edukatif baik guru maupun siswa menjalankan tugas dan peran masingmasing. Guru sebagai salah satu sumber belajar dan yang mengorganisir,
memfasilitasi, serta memotivasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa.

 
 


 

Sedangkan siswa melakukan aktivitas belajar dan memperoleh pengalaman
belajar yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku baik dari segi
kognitif, afektif, maupun psikomotorik, dengan bantuan dan bimbingan dari guru.
Kesulitan belajar dapat diatasi dengan cara siswa melakukan latihan, karena
memberikan latihan merupakan salah satu cara yang dianggap efektif. Guru yang
sering memberikan latihan- latihan dalam rangka pemahaman materi akan
menghasilkan siswa yang lebih baik bila dibandingkan dengan guru yang hanya
sekedar menjelaskan dan tidak memberi tindak lanjut secara kontinu. Dengan kata
lain, kesulitan belajar siswa sangat ditentukan oleh cara mengajar guru yang akan
menciptakan kebiasaan belajar pada siswa, disamping juga metode yang
diterapkan untuk melakukan pembelajaran tersebut.
Salah satu metode pembelajaran ada yang dikenal dengan nama metode resitasi
(pemberian tugas). Pada metode resitasi, siswa mempertanggung jawabkan tugas
untuk menemukan kembali dan lebih memahami konsep-konsep sosiologi,
sehingga siswa mempunyai pengertian yang kuat mengenai konsep sosiologi.
Resitasi yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat dikerjakan di rumah /
dikerjakan diluar jam pelajaran sekolah. Sehingga metode resitasi ini lebih luas
bila dibandingkan dengan pekerjaan rumah (PR). Metode ini akan dilengkapi
dengan soal-soal sosiologi. Dengan demikian, metode ini diharapkan dapat
mengatasi kesulitan belajar siswa.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti melakukan penelitian yang berjudul :
“UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE RESITASI PADA MATA PELAJARAN
SOSIOLOGI DI MA MANARATUL ISLAM”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dikemukakan identifikasi
masalah sebagai berikut:
1. Kurangnya persiapan siswa dalam menerima pelajaran sosiologi
2. Kurangnya persiapan guru dalam memilih metode pembelajaran yang
sesuai dengan materi dan kondisi kelas
 
 


 

3. Keluarga yang kurang harmonis dan keluarga yang kurang mendukung
karena kesibukan kerja
4. Kurangnya motivasi dalam diri sendiri
5. Kurangnya dukungan atau motivasi dari luar siswa (ekstern)

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, maka dibuat batasan masalah yaitu :
1. Model pembelajaran yang digunakan adalah metode resitasi
2. Kesulitan belajar dapat diatasi oleh metode resitasi

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan
pembatasan masalah, maka peneliti dapat merumuskan masalah yaitu :
1. Bagaimana upaya mengatasi kesulitan belajar dengan menggunakan
metode resitasi?
2. Sejauhmana metode resitasi dapat mengatasi kesulitan belajar?

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian
Untuk mengetahui keberhasilan penerapan metode resitasi (penugasan) dalam
mengatasi kesulitan belajar

Kegunaan penelitian
Berdasarkan hasil penelitian
1. Manfaat teoritis untuk khazanah intelektual, diharapkan penelitian ini
menjadi sumbangsih gagasan dan tawaran solusi terhadap persoalan
penerapan metode resitasi yang jarang digunakan pada sekolah-sekolah
umumnya.
2. Manfaat praktis kepada pihak-pihak terkait, meliputi:

 
 


 

a) Guru sosiologi sebagai bahan masukan dan pedoman dalam penerapan
metode resitasi
b) Siswa sebagai penerima ilmu dapat menjadikan metode resitasi ini untuk
mengembangkan cara berpikir, sikap ilmiah, dan aktif
c) Sekolah sebagai umpan balik (feed back) agar terus berupaya
meningkatkan dan mengembangkan metode resitasi
d) Bagi penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan
metode resitasi pada mata pelajaran sosiologi

 
 


 

BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN

A. Acuan Teori
1. Hakikat Belajar
1.1. Pengertian Belajar
Sebagian orang beranggapan dan berpendapat bahwa belajar adalah sematamata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk
informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan
segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali
secara lisan ( verbal ) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks
atau yang diajarkan oleh guru.
Dengan demikian siswa yang hanya menghafal sejumlah kata-kata dan
mengulanginya kembali, pada hakikatnya bukanlah belajar. Begitu pula seseorang
yang terampil dalam menyanyikan sebuah lagu, hal itu pun pada hakekatnya
bukanlah belajar. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar bukan
hanya sekedar menghafal kata-kata, kaidah-kaidah, dan rumus-rumus.
“Menurut Hintzman, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri
organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat
mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi dalam pandangan Hintzman,
perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan
belajar apabila mempengaruhi organism”. 1
Menurut Zikri Neni Iska belajar atau yang disebut juga dengan learning,
adalah perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang
diperoleh dari pengalaman-pengalaman. Belajar merupakan salah satu bentuk
perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar
membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan. Dengan
adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). 2
                                                            
     1 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003), Cet.VIII, h.90.
     2 Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta : Kizi
Brother’s, 2006), Cet.I, h. 76.

 
 


 

“Sedangkan menurut morgan belajar adalah setiap perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman”. 3
Maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah aktivitas atau kegiatan yang
merubah individu dalam bertingkah laku yang disebabkan oleh pengalaman atau
latihan serta membantu individu tersebut dalam menyesuaikan diri dan bersifat
menetap.
1.2. Tujuan Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang mempunyai tujuan. Tujuan belajar ini ada
yang benar-benar disadari dan ada pula yang kurang disadari oleh orang yang
belajar. Tujuan belajar tersebut sangat erat kaitannya dengan perubahan atau
pembentukan tingkah laku tertentu. “Menurut Alisuf Sabri tujuan belajar yang
positif serta dapat dicapai secara efektif hanyalah mungkin terjadi dalam proses
belajar”. 4
Menurut Winarno Surachmad, tujuan belajar di sekolah itu ditujukan untuk
mencapai:
a. Pengumpulan pengetahuan
b. Penanaman konsep dan kecekatan atau keterampilan
c. Pembentukan sikap dan perbuatan
Tujuan belajar tersebut dalam dunia pendidikan kita sekarang lebih dikenal
dengan tujuan pendidikan “menurut Taksonomi Bloom yaitu tujuan belajar siswa
diarahkan untuk mencapai ketiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotorik:
a. Tujuan belajar kognitif yaitu untuk memperoleh pengetahuan fakta atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, dan kemampuan berpikir analisis, sintesis,
dan evaluasi.
b. Tujuan belajar afektif yaitu untuk memperoleh sikap, apresiasi,
karakteristik.
c. Tujuan belajar psikomotorik yaitu untuk memperoleh keterampilan fisik
yang berkaitan dengan keterampilan gerak maupun keterampilan ekspresi
verbal, dan non verbal”. 5
                                                            
     3 M.Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), Cet.XIX,
h.84.
     4 Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007),Cet.III, h.58
     5 Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan …., h. 59

 
 


 

2. Kesulitan Belajar
2.1. Pengertian Kesulitan Belajar
Kita mengetahui bahwa manusia bukan hanya makhluk biologis, namun juga
makhluk spiritual yang memerlukan kebutuhan pemuas, kebutuhan rohani untuk
berkembang dengan baik. Manusia perlu belajar dan diajar. Belajar merupakan
aktivitas belajar bagi setiap individu, dan tidak selamanya dapat berjalan dengan
lancar. Begitu juga dalam semangat belajar anak, terkadang menurun dan terasa
sulit untuk berkonsentrasi dalam belajar.
Kenyataan diatas menimbulkan pertanyaan dalam masalah belajar apakah yang
dimasud dengan kesulitan belajar ? untuk menjawab hal tersebut perlu diketahui
terlebih dahulu mengenai arti kesulitan dan arti belajar. “Dalam kamus bahasa
Indonesia kesulitan adalah sulit atau suatu yang sulit”. 6 “Sedangkan dalam kamus
bahasa Indonesia belajar adalah berubah tingkah laku atau tanggapan yang
disebabkan oleh pengalaman”. 7
Setelah mengetahui pengertian kedua istilah tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses
belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar,
jadi kondisi dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi, akan tetapi
dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-intelegensi, dengan demikian IQ
yang tinggi belum tentu terjamin keberhasilan belajar yang sesuai dengan yang
diharapkan.
Kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa dalam proses belajarnya tidak
dapat dibiarkan begitu saja, melainkan harus segera ditangani dan dipecahkan. Hal
demikian merupakan tugas para guru, orang tua dan pembimbing sehingga dengan
adanya suatu penanganan yang diberikan sehingga tujuan pembelajaran dapat
tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan memuaskan.
                                                            
     6 Tim Penyusun Kamus Besar Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 1988).Cet.I, h. 866.
     7 Tim Penyusun Kamus Besar Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar
Bahasa Indonesia …., h. 13.

 
 

10 
 

Untuk mendapatkan pengertian yang jelas mengenai kesulitan belajar, akan
“dikemukakan oleh Alisuf Sabri, menurutnya kesulitan belajar yang dialami siswa
adalah kesukaran siswa dalam menerima dan menyerap pelajaran di sekolah”. 8
Kesulitan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam, sehingga
dapat dikelompokkan menjadi empat macam:
1)
a.
b.
2)
a.
b.
3)
a.
b.
4)
a.
b.

Dilihat dari jenis kesulitan belajar
ada yang berat
ada yang sedang
Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
ada yang sebagian bidang studi
ada yang keseluruhan bidang studi
Dilihat dari sifat kesulitannya
ada yang sifatnya permanen atau menetap
ada yang sifatnya hanya sementara
Dilihat dari segi faktor penyebabnya
ada yang faktor intelegensi
ada yang faktor non intelegensi” 9

Dalam proses belajar mengajar guru atau pendidik sering menghadapi masalah
adanya peserta didik yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan siswa yang
memperoleh prestasi belajar meskipun telah diusahakan untuk belajar dengan
sebaik-baiknya. Dengan kata lain guru atau pendidik sering menghadapi dan
menemukan peserta didiknya atau siswanya mengalami kesulitan belajar.
Sebagai implementasinya siswa jadi terkesan lambat melakukan tugas yang
berhubungan dengan kegiatan belajar. Mereka tampak pemalas dan mudah putus
asa, terkadang disertai sikap menentang orang tua, guru, atau siapa saja yang
mengarahkan mereka pada kegiatan belajar. Mereka tersinggung. Senada dengan
itu “menurut Surya dalam Hallen, ada beberapa ciri tingkah laku yang merupakan
manifestasi dari gejala kesulitan belajar, antara lain:
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah (di bawah rata-rata nilai yang
dicapai oleh kelompok kelas).
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Mungkin
murid yang selalu berusaha dengan giat tapi nilai yang dicapai selalu
rendah.
                                                            
      8 Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan ...., h. 88
9
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan,( Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Cet. V, h.230

 
 

11 
 

c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu
yang tersedia.
d. Menujukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh,
menentang, berpura-pura, dan dusta.
e. Menujukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang
terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam dan
di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengasingkan diri, tersisih,
dan tidak mau bekerja sama.
f. Menujukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung,
mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam
menghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah
tidak menunjukkan sedih atau menyesal”. 10
Selain gejala-gejala seperti yang disebutkan diatas, Burton dalam Makmun
mengidentifikasi kasus seorang siswa dapat diduga mengalami kesulitan belajar
kalau yang bersangkutan mengalami kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan
tujuan-tujuan belajarnya. “Kegagalan belajar diidentifikasi oleh Burton sebagai
berikut:
a) Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang
bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat
penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertentu, seperti
yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru (criterion referenced).
b) Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan
atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat
kemampuannya: intelegensi dan bakat).
c) Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan
tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan
pola organismiknya (his organismic pattern) pada fase perkembangan
tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang
bersangkutan (norm-referenced).
d) Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai
tingkat penguasaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat
(prerequisite) bagi kelanjutan (continuity) pada tingkat pelajaran
berikutnya”. 11
Bagi kesulitan yang ditingkatnya ringan, masalah tidak rumit dan
pemecahannya pun sederhana. Begitu pula yang tingkatannya sedang, tetapi bagi
kesulitan belajar yang berat, pemecahannya pun lebih berat, bahkan tidak jarang
                                                            
10

Hallen, Bimbingan Konseling, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Cet.I, h.129
Abin Syamsuddin Makmum, Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran ModulI,
(Bnadung: Remaja Rosdakarya, 2005),Cet. VIII, h. 308
11

 
 

12 
 

terjadi bahwa perbaikan yang diusahakan mengalami kegagalan. Oleh karena itu
kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa dalam proses belajarnya tidak dapat
dibiarkan begitu saja, melainkan harus segera ditangani dan dipecahkan.
Pemahaman dari guru dan para orang tua tentang kesulitan belajar yang dialami
oleh peserta didiknya atau siswanya merupakan dasar dalam usaha memberikan
bantuan yang tepat sehingga dengan adanya suatu penanganan yang diberikan
tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan memuaskan.

2.2. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar pada siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang
datang dari siswa itu sendiri (intern) maupun faktor yang datangnya dari luar
siswa (ekstern). Faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa dapat
dikelompokkan menjadi beberapa hal diantaranya.

a. Faktor siswa
Faktor yang bersumber dari diri siswa adalah hal atau timbul dari siswa itu
sendiri. Faktor ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kemajuan
belajar siswa dan biasanya kurang disadari oleh siswa itu sendiri. Walaupun
disadari sering kali dianggap biasa saja dan terkadang siswa tidak mampu
berusaha untuk memperbaikinya.
Faktor-faktor yang dialami siswa diantaranya : intelegensi (IQ) yang kurang
baik, bakat kurang sesuai, emosional yang kurang stabil, aktivitas belajar yang
kurang, kebiasaan belajar yang kurang baik, penyesuaian sosial yang sulit, latar
belakang pengalaman yang pahit, cita-cita yang kurang relevan, latar belakang
pendidikan yang dimasuki kurang baik, kegiatan belajar mengajar kurang baik,
ketahanan belajar yang tidak sesuai, keadaan fisik yang kurang menunjang,
kesehatan yang kurang baik, pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang
memadai, tidak ada motivasi dalam belajar.
Apabila guru kurang memperhatikan dan tidak memahami kebaradaan siswa
tersebu, tentu akan membawa pengaruh yang kurang menguntungkan dalam

 
 

13 
 

mencapai keberhasilan siswa sehingga prestasi yang ingin dicapai oleh siswa
tersebut tidak akan memuaskan.

b. Faktor sekolah
Faktor yang bersumber dari sekolah adalah termasuk faktor yang bersumber
dari luar diri siswa, faktor ini juga mempunyai pengaruh sangat besar terhadap
kesulitan siswa dalam mencapai keberhasilan.
Faktor yang datang dari sekolah dikarenakan : pribadi guru yang kurang
menyenangkan, cara guru mengajar kurang baik, alat atau media kurang memadai
serta kurang merangsang penggunaanya oleh siswa, fasilitas fisik sekolah tidak
terpelihara dengan baik, sarana sekolah kurang memadai, suasana sekolah kurang
menyenangkan, bimbingan dan penyuluhan tidak berfungsi, kepemimpinan dan
administrasi kurang menunjang proses belajar, kedisiplinan yang kurang
diperhatikan dan kurang tegas.
Sekolah juga mempunyai peranan khusus dalam menangani kesulitan belajar
yang dialami siswa. Sehingga yang mana telah disebutkan di atas, pihak-pihak
yang terkait harus segera menanganinya agar proses belajar siswa tidak
mempunyai hambatan yang dapat merugikan siswa tersebut.

c. Faktor keluarga
Faktor keluarga juga mempunyai peran yang dapat mempengaruhi proses
belajar pada siswa, karena sebagian besar waktu belajar siswa berada di rumah
bahkan mungkin menjadi faktor yang pokok untuk mensukseskan belajar siswa di
sekolah.
Orang tua yang kurang memperhatikan perannya dapat mengakibatkan
kesulitan belajar bagi siswa, faktor lain yang perlu menjadi perhatian orang tua
yaitu:

ekonomi terlalu lemah dan besar sehingga membuat anak berlebihan,

perhatian orang tua yang kurang memadai, kesehatan yang kurang baik, kebiasaan
keluarga yang tidak menunjang, kedudukan anak dalam keluarga yang
menyedihkan, waktu belajar yang kurang memadai.

 
 

14 
 

d. Faktor masyarakat
Faktor masyarakat juga dapat mengakibatkan timbulnya kesulitan belajar
siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran, sebab faktor ini merupakan faktor
yang

sangat

erat

kaitannya

dengan

hubungan

sosial

sehingga

dapat

mengakibatkan siswa kurang memperhatikan belajar.

2.3. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Peran guru dalam menangani kesulitan belajar yang dihadapi siswa harus
dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang
terjadi. Pelaksanaan pemeriksaan kesulitan belajar tersebut harus berlangsung
secara sistematis dan terarah.
“Adapun langkah-langkah dalam pemeriksaan kesulitan belajar menurut
H.M.Alisuf Sabri:
a) Mengidentifikasi adanya kesulitan belajar
Pada langkah pertama ini guru harus mengidentifikasi atau menetapkan adanya
kesulitan belajar bukan berdasarkan naluri tetapi berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman yang luas agar terampil dalam mendiagnosis kesulitan belajar.
b) Menelaah atau menetapkan status siswa
Pada langkah kedua ini guru selanjutnya akan menelaah atau memeriksa setiap
siswa yang mengalami kesulitan tersebut, cara memastikan dengan menggunakan
dua cara yaitu:
i.

ii.

Membandingkan hasil pencapaian atau penguasaan tujuan instruksional
khusus hasil belajar siswa dengan tujuan instruksional khusus yang
ditargetkan untuk dicapai oleh siswa. Sehingga dengan cara seperti ini,
akan diketahui bagian yang sulit dikuasai oleh siswa.
Menetapkan bentuk kesulitan dalam pros belajarnya, apakah sumber
kesulitan terjadi pada waktu menerima atau menyerap pelajaran. Sehingga
dengan cara ini, akan diketahui jenis dan bentuk kesulitan siswa dalam
proses belajar.

c) Memperkirakan sebab terjadinya kesulitan
Setelah jelas jenis atau bentuk kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses
belajarnya, maka pada tahap ketiga adalah guru berupaya untuk memperkirakan
sebab timbulnya kesulitan tersebut. Cara atau usaha guru untuk menetapkan hal
tersebut dapat dilakukan dengan melakukan alat diagnostik kesulitan belajar

 
 

15 
 

seperti test diagnostik, test-test untuk mengukur kemampuan intelegensi,
kemampuan mengingat, kemampuan alat indera yang erat kaitannya dengan
proses belajar. Sehingga dengan demikian ditetapkan penyebab kesulitan tersebut
apakah karena alat inderanya kurang baik, ingatannya lemah, kecerdasannya
kurang, atau kurang motivasi.
d) Mengadakan perbaikan
Dengan mengetahui sebab kesulitan belajar yang dihadapi siswa maka
selanjutnya guru dapat bertindak untuk mengadakan perbaikan guna mengatasi
kesulitan belajar yang dihadapi mereka. Cara ini dengan menggunakan
pendekatan psikologis didaktis yang terdiri dari dua langkah yaitu :
i.

Siswa yang akan diperbaiki sudah menyadari faktor kesulitan atau
kekurangan mereka

ii.

Mereka yakin kesulitan atau kekurangan mereka dapat diatasinya

Kedua kondisi psikologis tersebut harus ditimbulkan pada diri siswa tersebut
dengan melalui bimbingan dan kebijakan guru dan berdasarkan petunjuk dan
kebijakan guru itu pulalah prosedur yang terakhir ini dilaksanakan yaitu siswa
dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan kondisi
kesulitan belajar yang mereka alami”. 12

3. Metode Resitasi
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi
adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Guru
dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar anak didik bergairah
dalam belajar. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki, guru
gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan
sistematis.
Salah satu yang tidak akan dilupakan oleh guru adalah menentukan metode
dalam pengajaran, karena metode merupakan alat untuk menyampaikan materi
kepada siswa. Agar siswa mudah dalam menerima materi yang disampaikan oleh
guru.
                                                            
12

Alisuf Sabri,Psikologi Pendidikan…., h.91

 
 

16 
 

Resitasi merupakan suatu metode mengajar di mana seorang guru memberikan
tugas kepada siswa, dan kemudian siswa mempertanggung jawabkan hasil tugas
tersebut.
“Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, metode resitasi
(penugasan) adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas
tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar”. 13
“Menurut Darwayan Syah, dkk metode resitasi adalah penyajian bahan
pelajaran dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa yang dapat dilakukan
di dalam atau di luar kelas, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel atau di
rumah”. 14
“Sedangkan menurut Sudirman dkk metode resitasi adalah cara penyajian
bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan
kegiatan belajar”. 15
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar
siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan
latihan-latihan selama tugas; sehingga berpengalaman dalam menghadapi
masalah-masalah baru.
Metode resitasi ini mensyaratkan adanya pemberian tugas dan adanya
pertanggungjawaban dari yang diberi tugas. Adanya tugas dapat bersumber dari
guru atau berupa perintah guru, dapar juga berupa hasil kompromi atau keinginan
sesama siswa dan hasil pekerjaan yang harus dipertanggung jawabkan dapat
berbentuk lisan atau tertulis. Namun agar variatif dan menghindari kejenuhan
siswa, maka dapat juga tugas berupa membuat atau merancang model-model, alatalat atau permainan yang berhubungan dengan materi pelajaran sosiologi.
Agar metode ini dapat memberikan hasil belajar yang maksimal, maka
hendaknya tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan unsur penguatan sehingga
dapat merangsang siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan adanya
                                                            
     13 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
2006), Cet. III, h. 85.
     14 Darwyan Syah, dkk, Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:
Faza Media, 2006), Cet. III, h.48.
     15 Sudirman, dkk, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), Cet. V, h. 141.

 
 

17 
 

penguatan akan dapat menimbulkan sikap positif terhadap sosiologi, di dalam
memberikan tugas hendaknya perlu diperhatikan derajat kesukaran dan banyaknya
soal latihan. Sebab bila tugas yang diberikan terlalu sukar dan jumlahnya cukup
banyak akan membuat siswa menjadi frustasi dengan keadaan seperti ini akan
menimbulkan sikap negatif terhadap sosiologi. Sedangkan bila soalnya terlalu
mudah akan menimbulkan rasa bosan atau dengan kata lain menjemukan.
Bila metode pemberian tugas direncanakan dengan baik akan dapat
mengaktifkan siswa untuk belajar sendiri mengenal suatu masalah dengan cara
membaca, mencoba atau mengerjakan soal latihan. Selain daripada itu, pemberian
tugas dapat membiasakan siswa berpikir dengan membandingkan dan mencari
hukum-hukum yang berhubungan. Serta melatih siswa berhadapan dengan
persoalan yang tidak hanya sekedar hafalan. Melaksanakan tugas akan
mengembangkan dan memupukl inisiatif serta tanggung jawab dari siswa yang
bersangkutan.
Manfaat lain dari metode pemberian tugas yang direncanakan dengan baik
untuk siswa akan memiliki hasil belajar yang lebih baik, karena siswa
melaksanakan latihan (menyelesaikan soal-soal latihan) dengan kondisi seperti
mengakibatkan pengalaman siswa dalam mempelajari masalah sosiologi dapat
lebih terintegrasi. Selain daripada itu pengetahuan yang diperoleh melalui
pengalaman belajar akan lebih mendalam dan lama tersimpan di dalam ingatan.
Oleh sebab itu dalam pelaksanaan metode resitasi perlu memperhatikan
langkah-langkah berikut:
1. Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama
mengenai tujuan pemberian tugas, dan cara mengerjakannya.
2. Tugas yang diberikan harus dapat dipahami oleh siswa, kapan
mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara
individu atau kelompok. Hal tersebut akan sangat menentukan
keefektifan penggunaan metode resitasi dalam pengajaran.
3. Apabila tugas tersebut berupa kelompok, maka perlu diupayakan agar
seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses
penyelesaian tugas tersebut, terutama kalau tugas tersebut diselesaikan
di luar kelas.
4. Guru harus mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh
peserta didik.

 
 

18 
 

5. Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang
dikerjakan siswa.
Pada dasarnya proses belajar berlangsung dalam suatu latihan atau
pengalaman, sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada individu
yang dimaksudkan pengalaman disini adalah segala kejadian yang secara sengaja
atau tidak sengaja dialami seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan latihan
adalah kejadian yang dengan sengaja dilakukan seseorang secara kontinu yang
gunanya untuk mendapatkan keterampilan dan penguatan.
Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa metode resitasi adalah
cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan peserta didik mempelajari
sesuatu yang kemudian harus dipertanggung-jawabkan. Tugas yang diberikan
guru dapat memperdalam materi, dapat pula mengembangkan bahan yang telah
dipelajari, dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari.
Adapun dasar pertimbangan penggunaan “menurut Darwyan Syah, dan
Kawan-kawan metode resitasi antara lain:
1. Adanya kesenjangan antara waktu yang tersedia dengan materi pelajaran
yang terlalu banyak.
2. Mengaktifkan siswa baik secara individu maupun secara kelompok
3. Pemantapan pengetahuan siswa dengan melakukan suatu tugas
4. Mendorong siswa belajar mandiri baik membaca, menulis, mengerjakan
soal dan sebagainya”. 16
Sedangkan

langkah-langkah

dalam penggunaan

metode

resitasi

atau

penugasaan menurut Syaiful Bahri Djamrah dan Aswan Zain yaitu:
1. Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
a. Tujuan yang akan dicapai
b. Jenis tugas yang jelas dan tepat agar siswa dapat memahami tugas yang
diberikan
c. Sesuai dengan kemampuan siswa
d. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu siswa
e. Menyediakan waktu yang cukup
2. Langkah Pelaksanaan Tugas
a. Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru
                                                            
     16 Darwyan Syah, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Diadit Media, 2009), Cet.I, h.151.

 
 

19 
 

b. Diberikan dorongan
c. Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri
d. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil yang diperoleh dengan baik dan
sistematik
3. Fase Mempertanggungjawabkan Tugas
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini :
a. Laporan siswa secara lisan ataupun tulisan
b. Ada tanya jawab atau diskusi kelas
c. Penilaian hasil tugas siswa dilakukan secara tes maupun nontes 17
Metode mengajar merupakan suatu alat untuk mengantarkan materi kepada
siswa, tetapi metode juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Maka,
“kelebihan metode resitasi menurut Syaiful Bahri Djamarah kelebihan metode
resitasi adalah pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar akan dapat
diingat lebih lama dan anak didik mempunyai kesempatan memupuk
perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan
berdiri sendiri”. 18
“Sedangkan menurut Darwayan Syah, dkk kelebihannya adalah
1) Merangsang aktivitas dan kreativitas siswa dalam rangka mengisi waktu
luang dengan kegiatan konstruktif dan produktif
2) Menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab
3) Membiasakan anak belajar tanpa bimbingan dan pengawasan
4) Memberikan pengalaman kepada siswa mencari dan mengolah informasi
dan sumber belajar”. 19
Jadi, kelebihan metode resitasi dapat menimbulkan siswa menjadi lebih kreatif,
bertanggung jawab, dan mandiri. Serta membawa siswa kepada arah yang positif
dan konstruktif dan menjadikan siswa aktif .
Adapun kelemahan metode resitasi menurut Basyirudin Usman adalah
1) Dapat menimbulkan keraguan, karena adanya kemungkinan pekerjaan
siswa dikerjakan oleh orang lain
                                                            
17

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar …., h.86
      18 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2005), Cet. III, h.236.
      19 Darwayan Syah, dkk, Perencanaan Sistem …., h. 149. 

 
 

20 
 

2) Guru mengalami kesukaran dalam pemberian tugas, dikarenakan
kemampuan siswa yang berbeda-beda, baik kemampuan individual,
intelegensi, dan kematangan mental
3) Dapat menimbulkan kestabilan mental dan pikiran siswa apabila tugas
yang diberikan bersifat memaksa. 20
Sedangkan menurut Darwayan, ddk kelemahannya adalah
Sulit mengontrol dan mengawasi tugas yang dikerjakan oleh siswa
Beberapa orang siswa cenderung mengerjakan secara serampangan
Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa
Tugas yang diberikan kelompok, tidak semua siswa berpartisipasi dalam
menyelesaikannya
5) Menimbulkan kebosanan apabila tugas yang diberikan bersifat monoton. 21
1)
2)
3)
4)

Maka, dapat disimpulkan bahwa kelemahan metode resitasi adalah kurangnya
pengawasan guru, tidak semua berpartisipasi dalam tugas apabila dikerjakan
secara kelompok, tidak mudah memberikan tugas tanpa mempertimbangkan
masing-masing perkembangan siswa, dan tugas yang diberikan dapt menimbulkan
kebosanan apabila bersifat monoton.

4. Hakikat Sosiologi
4.1. Pengertian Sosiologi
Secara harfiah atau etimologis, sosiologi berasal dari bahasa latin socius yaitu
teman, kawan, sahabat sedangkan logos yaitu ilmu. Jadi, sosiologi adalah ilmu
tentang cara berteman atau berkawan atau bersahabat yang baik, atau cara bergaul
yang baik dalam masyarakat.
Sedangkan sosiologi secara terminology banyak pakar yang memberikan
pengertian-pengertian sosiologi
“Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok-kelompok”. 22 Kemudian
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu

                                                            
      20 M.Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers,
2002), Cet.I, h. 48.
      21 Darwayan Syah, dkk, Perencanaan Sistem …., h. 149. 
22
Soerjono Soekanto,Sosiologi Suatu Pengantar, ( Jakarta: Raja Grafindo, 2007), h. 18

 
 

21 
 

masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial,
termasuk perubahan-perubahan sosial. 23
“Menurut Mayor Polak menyatakan sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan
yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara
manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan
kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis”. 24
Masyarakat terdiri dari individu-individu, keluarga, golongan-golongan serta
organisasi-organisasi yang saling berhubungan. Organ-organ yang ada di
masyarakat memiliki bentuk-bentuk yang berbeda, yang masing-masing saling
berinteraksi, berkomunikasi, dan saling mempengaruhi dengan cara-cara yang
berbeda sesuai dengan kebiasaannya masing-masing, di dalam bukunya yang
berjudul ilmu Masyarakat umum, P.J.Bouman mengatakan:
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan
sosial antara oknum yang satu dengan oknum yang lain, antara oknum dan
golongan serta sifat dan perubahan dari lembaga-lembaga dan buah pikiran
sosial ia berusaha mencapai sintesis antara ilmu jiwa sosial dan bentuk sosial
sehingga dapat memahami kenyataan masyarakat dalam kenyataan hubungan
kebudayaan umumnya. 25
“Menurut G. Kartasaputra dalam kamus sosiologi dan kependudukan, sosiologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan dan prinsip-prinsip
organisasi sosial dan umumnya tingkah laku kelompok sebagai perbedaan dari
tingkah laku individu-individu dalam kelompok”. 26
Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni
(pure science) bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science). Sosiologi
dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam
memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur
sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sosial sampai pada
terciptanya integrasi sosial. Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar yaitu
sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan
                                                            
     23 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar …., h. 18
     24 Ary.H.Gunawan, Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem
Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta, 2000), Cet. I, h. 3.
     25 P.J.Bouman, Ilmu Masyarakat Umum, ( Jakarta: Pustaka Sarjana, 1968), cet 14, h.13.
     26 G.Kartasaputra, Kamus Sosiologi dan Kependudukan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2007), cet. II, h.
396.

 
 

22 
 

pengetahuan tentang masyarakatdan kebudayaan yang disusun secara sistematis
berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir
untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur
dan teori yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah.

4.2. Karakteristik Sosiologi
Objek kajian sosiologi adalah masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan
meneliti kelompok-kelompoknya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, etnis,
atau suku bangsa, komunitas pemerintahan dan berbagai organisasi sosial, agama,
politik, budaya, bisnis, dan organisasi lainnya. Sosiologi pun mempelajari
perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal ususl pertumbuhannya, serta
menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya. Dengan
demikian, sebagai objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia yang dilihat
dari sudut hubungan antarmanusia dan proses-proses yang timbul dari hubungan
manusia dalam masyarakat.
Jika ditelaah lebih lanjut, tentang karakteristik sosiologi mencakup hal-hal
berikut:
1. Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian
ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian
2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu
disiplin yang bersifat kategoris. Artinya sosiologi membatasi diri pada apa
yang terjadi saat ini dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau
seharusnya terjadi. 27
3. Sosiologi bersifat empiris, artinya bahwa ilmu pengetahuan tersebut
didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta
hasilnya tidak bersifat spekulatif.
4. Sosiologi bersifat teoritis, artinya ilmu pengetahuan tersebut selalu
berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi
tersebut merupakan kerangka daripada unsur-unsur yang tersusun secara
logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab
akibat, sehingga menjadi teori.
5. Sosiologi bersifat kumulatif, artinya bahwa teori-teori sosiologi dibentuk
atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki,
memperluas, serta memperhalus teori-teori yang lama.
                                                            
     27 Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2933 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 748 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 648 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 419 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 575 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 967 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 880 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 533 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 790 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 954 23