Post 6d4fcfd502dade3c

(1)

KH. ABDUL WAHID HASYIM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :

NURHUDA

NIM : 11107078

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

SALATIGA

2011


(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelah dikoreksi dan di perbaiki, maka skripsi Saudara:

Nama : Nurhuda

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul Skripsi : PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM

Telah kami setujui untuk di munaqosahkan.

Salatiga, 10 Agustus 2011 Pembimbing


(3)

(4)

DEKLARASI

ϢѧѧѧѧѧѧѧδΑ

ﷲا

ϦϤΣήѧѧѧϟ΍ ϢϴΣήѧѧѧѧѧѧϟ΍

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau jiplak. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kote etik ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang munaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 10 Agustus 2011 Penulis,

NURHUDA NIM : 11107078


(5)

MOTTO

1. ﺎــ ﶈﺍﺔﻈ ﻓﻲﻠﻋﱘ ﺪــ ﻘﻟﺍﱀ ﺎــ ﺼ ﻟﺍﺪﺧﻻﺍﻭﺪــ ﻴﳉﺎﺑﺢﻠـ ﺻﻻﺍ

“mempertahankan tradisi yang lama yang masih relavan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik”

2. Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada berniat kebaikan

PERSEMBAHAN

Karya tulis ilmiah yang berbentuk skripisi ini penulis persembahkan kepada: 1. Ayah dan ibu tercinta, yang telah memberikan motivasi, mendoakan, dan

mengorbankan jiwa, raga maupun material dalam jenjang pendidikan yang telah saya lalui.

2. Keluarga besar bani Nawawi yang selalu mendukung untuk menjelajahi pendidikan.

3. M. Gufron sekeluarga selaku orang tuaku yang kedua

4. Sahabat-sahabatiku PMII Kota Salatiga yang tak pernah bosan untuk di ajak berdiskusi.

5. Dan tak lupa kepada calon istriku tercinta yang selalu memberi motivasi dan mendampingi dalam segala hal.


(6)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah semesta alam, atas limpahan rahmat, taufiq dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelersaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan kita nabi Muhammad Saw, sanak kerabat dan para sahabat yang telah menunjukkan jalan yang benar dengan perantara Islam. Penulisan skripsi ini dimaksudkan guna memenuhi kewajiban sebagi syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam ilmu tarbiyah.

Penulis perlu sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini, serta perhargaan setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Salatiga

2. Bapak Drs. Miftahuddin, M.Ag selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

3. Bapak Suwardi, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga. 4. Ibu Siti Asdiqoh, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama

Islam (PAI) STAIN Salatiga

5. Ayah dan ibu tercinta, yang telah memberikan motivasi, mendoakan, dan mengorbankan jiwa, raga maupun material dalam jenjang pendidikan yang telah saya lalui.

6. Keluarga besar bani Nawawi yang selalu mendukung untuk menjelajahi pendidikan.


(7)

7. M. Gufron sekeluarga selaku orang tuaku yang kedua

8. Sahabat-sahabatiku PMII Kota Salatiga yang tak pernah bosan untuk di ajak berdiskusi.

9. Ana Rahmatul Lailia yang selalu memberi motivasi dan mendampingi dalam segala hal

10. Sahabat-sahabati PAI C, kenangan-kenangan bersamamu tidak mungkin saya lupakan.

11. Siapapun yang pernah memberikan sedikit ilmunya kepadaku, semoga Allah membalasnya dengan menempatkan kalian ditempat yang layak dan dibalas dengan segala kebaikannya.

Dalam penulisan skripsi ini apabila banyak kekeliruan, kekurangan dan kesalahan, itu semua keterbatasan kemampuan penulis, untuk itu pula kritik dan saran yang konstruktif akan penulis terima dengan baik hati.

Akhirnya penulis berharap dan berdoa semoga skripsi ini memberikan manfaat umumnya bagi pengembangan pendidikan, khususnya bagi pendidikan pesantren

Salatiga, 10 Agustus 2011 Peniliti

Nurhuda


(8)

ABSTRAK

Nurhuda, 2011. Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH.Abdul Wahid Hasyim. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Islam Negeri Salatiga. Pembimbing Drs. Miftahuddin, M.Ag

Kata Kunci : Pembaharuan, Pendidikan, dan Pesantren

Skripsi ini merupakan upaya untuk mengetahui: Pertama, Bagaimana biografi K.H. Abdul. Wahid Hasyim? Kedua, Bagaimana pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim?Ketiga, Bagaimana relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang?

Untuk menjawab rumusan tersebut maka penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan kualitatif. Data penelitian ini keseluruhannya diperoleh dan dihimpun melelui pembacaan dan kajian kepustakaan teks dan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kemudian kesimpulannya diambil melalui teknik analisis, dengan pola pikir deduktif, hermeneutik, dan fenomenologi.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan pemikir progresif dan dinamis. Sebagai agamawan, ia konsisten dalam pemikiran keislaman. Sebagai negarawan, ia mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam khazanah keilmuan pendidikan, ia tergolong pemikir pembaharuan dalam dunia pesantren. Tetapi dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia belum banyak peneliti yang menyatakan bahwa KH Wahid Hasyim pembaharu pendidikan Islam Indonesia. Hingga kini, pemikiran beliau selama puluhan tahun lalu tetap relevan diimplementasikan dalam konteks pendidikan masa sekarang. Dalam penelitian ini pembacaan pembaharuan pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim diletakkan dalam konteks zamannya. KH. Abdul Wahid Hasyim melakukan pembaharuan pendidikan khususnya dilingkungan pesantren. Ada tiga hal pokok yang beliau lakukan yaitu : Pertama, pembaharuan metode pembelajaran, Kedua mendirikan institusi Madrasah, Ketiga, menerapkan sistem klasikal di pondok pesantren.


(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... ...i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ... ...iii

DEKLARASI...iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...v

KATA PENGANTAR ... ...vi

ABSTRAK ... ...vii

DAFTAR ISI ... ....viii

BAB I : PENDAHULUAN ... ...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Rumusan Masalah ... ...6

C. Tujuan Penelitan... ...7

D. Manfaat Hasil Penilitian... ...7

E. Kajian Pustaka...7

F. Metode Penelitian...10

G. Penegasan Istilah...14

H. Sistematika Penulisan...18

BAB II : RIWAYAT HIDUP KH. ABDUL WAHID HASYIM...20

A. Keluarga KH.Abdul Wahid Hasyim...20

1. Kelahiran KH. Abdul Wahid Hasyim...20

2. Silsilah Keluarga... ...22

3. Kiprah Masuk Organisasi Sosial Kemasyarakatan...25


(10)

5. Pengabdian Kepada Negara...27

6. Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional... 35

B. Latar belakang Pendidikan KH.A.Wahid Hasyim... 35

C. Karya-karya KH.Abdul Wahid Hasyim...38

BAB III : MENGENAL PONDOK PESANTREN DAN PEMIKIRAN PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN MENURUT KH. WAHID HASYIM... ...44

A. Sejarah Pondok Pesantren ...44

B. Pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim di Bidang Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren...57

BAB IV : ANALISIS RELAVANSI PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM TERHADAP PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA MASA SEKARANG...71

A. Tinjauan Tentang Pendidikan Pesantren...71

B. Relavansi Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim Terhadap Pendidikan Pesantren Di Indonesia Masa Sekarang...80

1) Relevansi Tujuan Pendidikan Pesantren...80

2) Relavansi Pembaharuan Metode Pembelajaran...84

3) Relavansi Pembaharuan...86

BAB V : PENUTUP...93

A. Kesimpulan...93

B. Saran...94 DAFTAR RIWAYAT HIDUP


(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam memiliki peran yang penting dalam membentuk generasi, karena dengan pendidikan dapat menghasilkan manusia yang berkualitas, kreatif, dan bertanggung jawab serta memiliki kemampuan mengantisipasi permasalahan masa depan. Pendidikan Islam senantiasa menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah bermutu dibandingkan dengan pendidikan modern. Dalam khasanah pemikiran pendidikan Islam, ditemukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan memberi kontribusi yang besar bagi dinamika pendidikan Islam di Indonesia.

Salah satu peran ulama sebagai tokoh Islam yang patut dicatat adalah posisi mereka sebagai kelompok terpelajar yang membawa pencerahan kepada masyarakat sekitarnya. Berbagai lembaga pendidikan telah dilahirkan oleh mereka baik dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Semua itu adalah lembaga yang ikut mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berpendidikan. Mereka telah berperan dalam memajukan ilmu pengetahuan, khususnya Islam lewat karya-karya yang telah ditulis atau melalui jalur dakwah mereka.

Adapun tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di masa awal masuknya Islam ke Indonesia barangkali adalah kurangnya pemahaman pemeluk Islam baru akan pengetahuan agama Islam.


(12)

Tersebarnya agama Islam ke Nusantara menimbulkan kebutuhan akan guru-guru, juru dakwah untuk menganjurkan prinsip-prinsip agama baru tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam itu muncullah pusat-pusat pembelajaran agama Islam, dalam bentuk pengajaran individual maupun secara kelompok semisal pondok pesantren.

Pendidikan Islam dalam bentuk pondok pesantren berlangsung cukup lama sampai akhirnya timbul tantangan baru yaitu berdirinya sekolah Belanda. Sekolah Belanda ini dikembangkan oleh pemerintah kolonial untuk menghasilkan tenaga kantor tingkat rendah, dengan gaji jauh lebih murah. Akhirnya muncul pendidikan model sekuler yaitu Sekolah Rakyat, sekolah Belanda, sedangkan umat Islam mendirikan Madrasah sebagai respon pembaharuan pendidikan dengan model sekuler Belanda. Modernisasi pendidikan ini terus berlanjut hingga akhirnya ada sekelompok Muslim yang mendirikan sekolah Islam, suatu bentuk pendidikan Islam yang sepenuhnya mengadopsi bentuk dan kurikulum sekolah kolonial Belanda.

Munculnya model ini bukan berarti bentuk pendidikan Islam yang lama menjadi hilang. Yang lama masih tetap ada dan berdampingan dengan bentuk pendidikan Islam yang baru. Sehingga di kalangan masyarakat Muslim ada tiga bentuk lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren, Madrasah (kurikulum lebih berat ke pendidikan agama) dan sekolah Islam, yang ketiganya bertahan sampai sekarang.

Dewasa ini semakin diyakini, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat di masa kini dan mendatang. Fenomena demikian mengharuskan


(13)

para pengelola pesantren untuk menjawab tantangan zaman dengan tetap berpedoman pada prinsip:

ﺎــ ﶈﺍﺔﻈ ﻓﻲﻠﻋﱘ ﺪــ ﻘﻟﺍﱀ ﺎــ ﺼ ﻟﺍﺪﺧﻻﺍﻭﺪــ ﳉﺎﺑﺪ ﻳﺢﻠـ ﺻﻻﺍ

Artinya “mempertahankan tradisi yang lama yang masih relavan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” (Ma’shum,2008:8)

Kaidah di atas benar-benar penting untuk dikaji ulang. Mengapa penting? Pertama, dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahankan tradisi yang lama belaka, sebab tradisi yang lama tak mesti relavan untuk zaman sekarang ini. Kedua, hal yang tidak kalah penting untuk direnungkan dalam rangka “mengambil hal yang terbaru yang lebih baik” adalah mengungkap secara cerdas permasalahan kekinian dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Tak bisa disangkal bahwa modernitas telah “menawarkan” banyak hal untuk difikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan pesantren. Dalam konteks ini, pilihan terbaik bagi insan-insan pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigma dan pandangan dunia yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Dari dialog sehat ini diharapkan akan muncul sintesis-sintesis baru yang lebih segar dan menggairahkan (Abd A’la, 2006:vi)

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah seorang pembaharu gerakan Nahdlatul Ulama. Tokoh NU ini melakukan sebuah terobosan “pembaharuan sistem pendidikan” dikalangan kaum Nahdliyyin dengan memperbaharui sistem pendidikan di pesantren milik ayahnya, Tebu Ireng pimpinan KH. Hasyim Asyari. Hal ini menarik untuk ditelaah lebih jauh, sebenarnya hal apa yang mendorong beliau sehingga muncul ide besar untuk ‘menggerakkan’


(14)

pesantren? Beliau bermaksud untuk mempersiapkan kader-kader santri (NU) untuk menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

Mencoba mencari dan menemukan kembali khasanah pemikiran beliau khususnya terkait strategi pendidikan adalah sangat penting. Analisis ini harus disesuaikan dengan apa yang telah dilakukannya sebagai seorang tokoh nasional yang dibesarkan oleh pesantren dan bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Substansi pemikirannya sangat jauh melampai zamannya, khususnya dalam pergerakan dunia santri.

Pada tahun 1935, KH. Abdul Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, 30% untuk pendidikan agama. Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid Tebuireng dengan siswa pertamanya berjumlah 29 orang, termasuk adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Dalam bidang bahasa, selain materi pelajaran Bahasa Arab, di Madrasah Nidzamiyah juga diberi pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda. (Rifai, 2009:30-31). Menurut Mujamil Qomar pendirian Madrasah ini mendapat pengaruh Madrasah Nizhamiyyah yang dibangun oleh Nizham al-Mulk yang mana Imam al-Ghazali sempat menjadi guru besar pada lembaga tersebut (Mujazamil Qomar, 2010:93), apa yang di lakukan KH. Abdul Wahid Hasyim, meminjam istilahnya Karel Steenbrink “menolak dan mencotoh”. Tetapi penting di catat, adopsi ini dilakukan tanpa mengubah secara signifikan isi pendidikan pesantren itu sendiri. Karena itulah pesantren melakukan sejumlah akomodasi dan penyesuaian yang mereka anggap tidak hanya mendukung kontinuitas pesantren itu sendiri, tetapi juga bermanfaat


(15)

bagi para santri, seperti sistem penjenjangan, kurikulum yang lebih jelas, dan sistem klasikal (Azyumardi Azra, dalam Nurcholish Madjid, 1997: xv).

Usaha yang dilakukan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim adalah sebuah upaya untuk mempersiapkan ‘tempat’ khusus bagi para kader muda NU untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. Konsepsi inilah yang menurut penulis penting untuk kemudian dimunculkan kembali dalam konteks melanjutkan cita-cita perjuangan beliau. Menemukan kembali ruh pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim terkait pendidikan menjadi sebuah keharusan agar gerakan yang dibangun NU dan badan otonomnya tidak tercerabut dari akar sejarah promotornya. Proses ‘penyiapan’ tempat bagi kader NU ini lalu kemudian penulis rumuskan sebagai pembaharuan sistem pendidikan pesantren khususnya di lingkungan pesantren, sebab pada tahun 1950-an KH. Abdul Wahid Hasyim pernah berseloroh bahwa mencari “orang pandai” di lingkungan NU ibarat mencari tukang es pada pukul 01.00 dini hari (Surahno,dalam Binhad Nurrahmat, 2010:202). Saat itu KH. Abdul Wahid Hasyim merasakan sulitnya menemukan “orang pandai” di lingkungan NU.

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah seorang tokoh NU yang brilian dan berjasa besar tidak hanya bagi kepentingan pendidikan Islam, pesantren, NU dan pergerakan Islam tetapi juga bagi bangsa dan Negara Indonesia. Membaca pola pembaharuan yang dilakukan beliau adalah penting untuk menemukan sebuah alur pemikiran yang sebenarnya telah disiapkan olehnya. Sebagai seorang kader pergerakan tentunya beliau mempunyai kerangka pikir yang jelas sebelum bertindak.


(16)

Berangkat dari latar belakang di atas, maka secara garis besar yang menjadi tujuan utama penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah: Pertama, mengeksplorasi gagasan-gagasan tokoh-tokoh Islam. Kedua, menganalisa ide-ide dan pemikiran tokoh lokal KH. Abdul Wahid Hasyim. Ketiga, mempresentasikan ide-ide dan pemikiran-pemikiran penulis dalam sebuah metodologi tertentu, yang mampu membangkitkan pendidikan pesantren untuk senantiasa siap menghadapi tantangan zaman, dan melakukan kompetisi yang sehat di tengah-tengah masyarakat. Harapannya, hasil dari penelitian ini bisa dijadikan sebuah rujukan arah oleh insan-insan pesantren. Berangkat dari permasalahan di atas, maka peneliti, bermaksud mengadakan penelitian ilmiah dengan judul Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka selanjutnya penulis mengemukakan pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, supaya dapat mempermudah dalam proses penelitian ini. Adapun rumusan masalah akan penulis paparkan sebagai berikut :

1. Bagaimana biografi KH. Abdul Wahid Hasyim?

2. Bagaimana pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim?

3. Bagaimana relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang?


(17)

C. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui biografi KH. Abdul Wahid Hasyim.

2. Mengetahui pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim.

3. Mengatahui relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat umumnya bagi dunia pendidikan khususnya bagi pesantren, serta dapat memberikan motivasi bagi praktisi pendidikan pesantren agar lebih meningkatkan institusinya, dan memperkaya khazanah pemikiran Islam tentang KH. AbdulWahid Hasyim.

E. Kajian Pustaka

Saat ini buku yang secara khusus membahas tentang pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim masih sedikit apabila dibandingkan dengan pemikir-pemikir lainnya. Penulis menemukan penelitian yang secara khusus membahas tentang biografi KH. Abdul Wahid Hasyim dan pemiikirannya tentang pendidikan pesantren karya Muhammad Rifa’i dengan judul “ Wahid Hasyim Biografi Singkat 1914-1953” telah diterbitkan oleh AR-RUZZ Yogyakarta


(18)

pada tahun 2010. Di antara isi karya tersebut ada yang mengandung tentang seorang nasionalis-tradisionalis, sosok pejuang yang brilian, muda, progresif dan pemikiran-pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim tentang pemikiran agama, politik, pergerakan, pengajaran dan pendidikan.

Sedangkan buku Sedjarah Hidup KH.A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, karya Aboe Bakar Atjeh yang diterbitkan panitia buku peringatan alm KH.Abdul Wasyim Hasyim, menjadi satu-satunya buku yang terbaik yang mengupas biografi KH. Abdul Wahid Hasyim. Buku ini menjadi buku paling utama untuk dijadikan referensi, akan tetapi buku ini sudah lama dan menggunakan ejaan kuno.

KH. Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang Pesantren, ia mencatat pergulatan KH. Abdul Wahid Hasyim dan dunia pesantren dalam mengiringi revolusi, tapi fakta ini sering diabaikan, KH. Saifuddin Zuhri ingin merubah image dunia pesantren yang sering dipandang sebagai sarang kejumudan dan keterbelakangan, ia dianggap tidak memiliki peran dalam membangun nasionalisme, dan mengisi kemerdekaan dengan nation building. Itulah bagian-bagian dari “salah pengertian” yang hendak dicairkan oleh KH. Saifuddin Zuhri.

Sementara studi Zamakhsari Dhofier dalam Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, memfokuskan diri pada peranan kyai dalam memelihara dan mengembangkan faham Islam ahlu sunnah wal jama’ah di Jawa. Dhofier membandingkan Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan Tegalsari dekat Kota Madya Salatiga. Dalam penelitian ini, ia menjelaskan tradisi pesantren, seperti metode pembelajaran di pesantren, kitab-kitab yang


(19)

di anggap mu’tabar di pesantren, hubungan pesantren dan tarekat serta geneologi kyai dan jaringan intelektualnya. Peneliti juga berkesimpulan bahwa para kyai mengambil sikap yang lapang dalam menyelenggarakan pembaharuan lembaga-lembaga pesantren di tengah-tengah perubahan masyarakat, dan tanpa menggalkan aspek-aspek positif dari sistem pendidikan tradisional Islam.

Sedangkan studi Steenbrink dengan judul penelitian Recente Ontwikkelingen in Indonesich Islamonderricht yang kemudian diterjemahkan menjadi Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Isinya tentang sikap orang Islam Indonesia dalam menyikapi pembaharuan ada yang menerima, ada yang menolak tetapi mencontohnya, dan yang kesimpulanya diperbandingkan dengan perkembangan dalam agama Kristen.

Penelitian Ali Anwar, Pembaharuan pendidikan di pesantren Lirboyo berusaha mengungkap pembaharuan yang di lakukan pesantren Lirboyo dimana pesantren Lirboyo mengadakan pembaharuan dan akhirnya dapat survive. Kesimpulan penelitian ini ternyata berbeda dengan temuan Karel A. Steenbrink bahwa ketika diperkenalkan lembaga pendidikan yang lebih teratur dan modern, lembaga pendidikan tradisional ternyata tidak begitu laku dan banyak ditinggalkan siswannya.

Keseluruhan penelitian tersebut menurut hemat penulis, belum ada yang secara spesifik dan fokus membahas tentang pembaharuan sistem pendidikan pesantren yang di lakukan KH. Abdul Wahid Hasyim. Dengan demikian, posisi kajian ini di antara karya-karya yang telah mengkaji tersebut jelas


(20)

berbeda. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi terjadi pembaharuan, bagaimana proses terjadinya pembaharuan, dan implikasi pembaharuan sistem pendidikan itu bagi pesantren sekarang.

F. Metode Penelitian

Proses dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode dan pendekatan sebagai acuan dalam penulisan karya tulis ini. Secara jelas penulis paparkan sebagai berikut:

1. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah a. Pendekatan Historis (historical approach)

Pendekatan yang menguraikan fakta-fakta pemikiran yang dilakukan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Pengembangan aspek historis dalam tulisan ini adalah sebuah analisis diskriptif yang akan membawa pada kesimpulan bahwa ada pola pemikiran yang dilakukan oleh KH. Abdul Wahid hasyim. Melalu pendekatan sejarah, peneliti dapat melakukan periodisasi atau derivasi sebuah fakta, dan melakukan proses genesis: perubahan dan perkembangan. Melalui sejarah dapat diketahui asal-usul pemikiran dari seseorang tokoh. (Suprayogo dan Tobroni, 2003:65-66).

b. Pendekatan Hermeneutika

Menurut Imam Suprayogo (2003:73) Hermeneutika merupakan metode bahkan aliran dalam penelitian kualitatif, khususnya dalam memahami makna teks (kitab suci, buku, undang-undang, dan lain-lain)


(21)

sebagai sebuah fenomena sosial budaya. Fungsi metode hermeneutika adalah agar tidak terjadi distorsi pesan atau informasi antara teks, penulis teks, dan pembaca teks. Dan tujuan spesifiknya adalah mengembangkan pengetahuan yang memberikan pemahaman dan penjelasan yang menyuluruh dan mendalam. Arti hermeneutik disini adalah analisis yang mengarah pada pembacaan teks-teks atas fakta yang terjadi dan relasi dengan konteks kesejarahannya. Pendekatan ini hanya mampu sedikit memotret dari pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim. Namun kemudian penulis akan berusaha menyajikan dengan data dan analisa yang mendetail agar mudah difahami.

c. Pendekatan Fenomenologi

Fenomenologi bisa diartikan sebagai pengalaman subyektif atau studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Fenomenologi kadang-kadang digunakan sebagai perspektif filosofi dan juga digunakan sebagai pendekatan penelitian kualitatif (Lexy J.Meleong, 2008:15). Metode ini digunakan untuk menghindari pembahasan yang terjebak pada aspek historis-faktual saja namun mampu menghadiran sebuah konsep pemikiran yang integral dengan konteks yang terjadi waktu itu.

2. Sumber Data

Data yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini diperoleh dari research kepustakaan (library research) yaitu hasil dari penelitian berbagai buku dan karya ilmiah yang ada relevansinya dengan pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim. Dalam penelitan kualitatif menempatkan sumber


(22)

data sebagai subjek yang memiliki kedudukan penting. Jenis sumber data dalam penelitian kualitatif dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Narasumber

Dalam penelitian kualitatif sumber data sangat penting, bukan hanya sebagai respons, melainkan juga sebagai pemilik informasi. Karena itu, ia disebut sebagai subyek yang diteliti, karena ia bukan saja sebagai sumber data, melainkan juga aktor atau pelaku yang ikut menentukan berhasil tidaknya sebuah penelitian.

b. Peristiwa atau Aktivitas

Data atau informasi juga diperoleh melalui pengamatan terhadap periswa atau aktivitas yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian.

c. Dokumen atau Arsip

Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berkaitan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Banyak peristiwa yang telah lama terjadi bisa di teliti dan dipahami atas dasar dokumen atau arsip (Imam Suprayogo, Tobroni, 2003:162-164).

3. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian, karena tujuan penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penyusunan skripsi ini, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data:


(23)

a. Teknik Pengumpulan Data dengan Dokumen

Dukumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dukumen bisa berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

b. Triangulasi

Dalam hal ini Triangulasi diartikan sebagai teknik pengecekan kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data (Sugiono, 2008:329-330).

4. Analisa Data

Data yang terkumpul selanjutnya akan penulis analisa dengan menggunakan teknik analisa data dengan cara:

a. Reduksi Data

Menurut Miles dan Huberman, reduksi data diartikan sebagai proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar, yang muncul dari catatan-catanan lapangan.

b. Penyajian Data

Alur penting selanjutnya penyajian data, yang dimaksud penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

c. Menarik Kesimpulan

Kegiatan analisa yang terakhir adalah menarik kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, seorang mengalisis kualitatif mulai


(24)

mencari arti benda-benda mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi (Miles and Huberman, 1992:16-19).

Dari komponen analisa di atas, prosesnya saling berhubungan dan berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung.

G. Penegasan Istilah

Penegasan istilah adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang judul skripsi di atas, supaya tidak terjadi salah kesalahpahaman maka penulis perlu memberikan batasan-batasan dan penegasan beberapa istilah yang ada di dalamnya, yaitu:

1. Pembaharuan

Pembaharuan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia secara etimologis artinya proses, perbuatan, cara membaharui (Poerwadarminta, 2006:103). Pembaharuan juga disebut tajdîd, secara harfiah tajdîd berarti pembaharuan dan pelakunya disebutmujaddid.

2. Sistem Pendidikan

Sistem merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan (Ridlwan Nasir, 2005:28). Sedangkan pendidikan menurut Nasrudin (2008-11). Pendidikan adalah upaya mencerdaskan pikiran, menghaluskan budi pekerti, memperluas cakrawala pengetahuan serta memimpin dan membiasakan anak-anak menuju arah kesehatan badan dan kesehatan ruhani bangsanya. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan


(25)

juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Melihat paparan di atas, maka yang di maksud dengan sistem pendidikan dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan dari unsur-unsur pendidikan yang berkaitan dan hubungan satu sama lain serta saling mempengaruhi, dalam satu kesatuan (Ridlwan Nasir, 2005:28).

3. Pesantren

Pondok secara etimologis bisa diartikan asrama tempat santri. Sedangkan kata Pondok secara terminologis berarti tempat tinggal santri di pesantren (Abdul Mughits, 2008:153). Untuk menyebutkan asrama tempat belajar agama Islam. Sebenarnya bukan istilah asli Indonesia, tetapi merupakan hasil penyerapan dari bahasa Arab funduk yang berarti pesanggrahan atau penginapan orang berpergian (Karel A.Steen Brink, 1986:22).

Sedangkan Pesantren secara etimologis berasal dari santri yang mempunyai awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri, Tempat pendidikan Islam ini juga berfungsi sebagai lembaga sosial keaagamaan. Menurut KH. Zamakhsari Dhofier terdapat lima elemen dasar suatu lembaga pengajian dapat dikatakan sebagai pesantren yaitu,


(26)

kiai, santri, pondok, masjid, dan pengajaran kitab-kitab klasik (Dhofier, 1983:44).

Secara umum pesantren atau pondok didefinisikan sebagai “lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik; baik spiritual intelektual, maupun moral-emosional.

4. KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang dilahirkan pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Tahun 1929 saat umurnya 15 tahun beliau baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Dia juga berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab. Wahid Hasyim mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya mengambil dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda.

Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Wahid Hasyim pergi ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Sepulang dari tanah suci, KH. Wahid Hasyim membantu ayahnya mengajar di pesantren dan terjun ke tengah-tengah masyarakat. Pada tahun 1936, Kiai Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam yang kemudian diikuti dengan pendirian taman bacaan (perpustakaan) yang menyediakan lebih dari


(27)

seribu judul buku. Perpustakaan Tebuireng juga berlangganan majalah seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang-saat itu-belum pernah dilakukan pesantren manapun di Indonesia. Pada tahun 1947, ketika sang ayah meningal dunia, Kiai Wahid terpilih secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang.

Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres itu diputuskan pendirian Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari. Namun Kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada Wahid Hasyim. Dia dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam nasional, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Zainul Arifin, M. Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain-lain.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama selalu dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Sukiman. Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan tiga keputusan yang sangat


(28)

mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa kini. Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid Istiqlal sebagai masjid Negara (http://majelis-alumni-ipnu.:masjid-istiqlal-jakarta&catid=7:wisata-religi&Itemid=14)

H. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, akan penulis bahas masalah-masalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka, metode dan pendekatan penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan skripsi.

Bab II Biografi KH Wahid Hasyim. Pembahasannya meliputi biografi Wahid Hasyim yang membahas tentang riwayat hidup Wahid Hasyim, mulai dari keluaraga, kelahiran, silsilah keluarga, pengabdian dalam masyarakat dan Negara, serta latarbelakang pendidikan dan karyanya.

Bab III Mengenal Pondok Pesantren Dan Pemikiran Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim . Berisi Tentang sejarah pondok pesantren, keadaan pesantren sebelum kemerdekaan, keadaan pesantren paska kemerdekaan, pemikiran-pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim.

Bab IV Analisis Relavansi Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim Terhadap Pendidikan Pesantren Di Indonesia Masa Sekarang: Tinjaun sistem pendidikan pesantren, Analisis


(29)

sistem pendidikan pesantren menurut pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim dengan relevansi pendidikan pesantren Indonesia masa sekarang.

Bab V Penutup. Dalam bab ini meliputi: Kesimpulan, Saran-saran, Penutup


(30)

BAB II

RIWAYAT HIDUP KH. ABDUL WAHID HASYIM

A. Keluarga KH. Abdul Wahid Hasyim 1. Kelahiran KH. Abdul Wahid Hasyim

Nama KH. Abdul Wahid Hasyim barangkali identik dengan tokoh-tokoh muda yang mempunyai prestasi yang luar biasa, dimana pada masa peralihan penjajahan Jepang menuju kemerdekaan Indonesia mempunyai posisi yang sangat vital, ketika itu gonjang-ganjing perselisihan antara kekuatan muda dan kekuatan kaum tua yang di wakili Soekarno, sementara semangat untuk mendirikan ideologi Negara masih menjadi perselisihan antara golongan nasionalis dan agama, yang pada akhirnya di menangkan golongan nasionalis, dalam hal ini KH. Abdul wahid Hasyim termasuk kelompok yang menghendaki agar negara yang dibentuk berdasarkan Islam mengingat Islam agama mayoritas penduduk Indonesia, tetapi Islam bukan harga mati bagi Wahid Hasyim, ia terbukti menerima setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia KH. Abdul Wahid Hasyim salah satu perwakilan dari golongan Islam menerima.

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu dari sedikit tokoh NU yang menonjol dan ketokohannya tidak hanya diakui kalangan NU, tetapi juga kalangan diluar NU. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ia menjadi seperti itu, selain karena putra KH Hasyim Asyari, ia juga lebih dikenal-sangat cerdas dan gemar sekali membaca. Berkat kecerdasan dan kegemarannya tersebut ia mempunyai pemikiran yang maju terlebih jika


(31)

dibandingkan dengan tokoh-tokoh NU pada masa itu. Ia mampu mengikuti perkembangan yang terjadi sehingga dapat “duduk sejajar” dengan tokoh-tokoh nasional yang mendapat kesempatan belajar di bangku sekolah modern (Yanto dan Retno, 2009:409).

KH. Abdul Wahid Hasyim di lahirkan pada hari jum’at pada tanggal 1 Juni 1914 M (5 Rabi’al Awwal 1333 H) di desa Diwek Kecamatan Cukir Kab Jombang Jawa Timur. Ketika ada pengajian rutin yang di gelar setiap jum’at sesudah sholat isya. KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara:

a. Hannah b. Khairiyah c. Aisyah d. Izzah

e. Abdul Wahid f. A. Khaliq g. Abdul Karim h. Ubaidillah i. Masrurah

j. Muhammad Yusuf

Menurut Gusdur dalam Greg Barton (2010:31), Nyai Hasyim Asyari, yang tidak lain adalah nenek Gusdur sendiri, menderita sakit keras ketika sedang mengandung KH. Abdul Wahid Hasyim. Nyai Hasyim bernazar apabila anaknya yang dikandungnya ini dapat lahir dengan selamat maka


(32)

ia akan membawanya ke Kiai Cholil di Madura. Nyai Hasyim Asy’ari pun akhirnya berangsur-angsur sembuh dan kemudian dapat melahirkan Wahid Hasyim tanpa kesulitan. Sesuai dengan sumpahnya, ia pun membawa anaknya ke Madura agar bisa di berkati oleh guru suaminya. Oleh banyak orang, kejadian ini di anggap sebagai bertanda bahwa si anak (Wahid Hasyim) akan menjadi orang besar.

KH. Abdul Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid Oleh ayahnya Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari beliau diberi nama Muhammad Asy’ari, di ambil dari nama kakeknya. Tetapi nama ini tidak terlalu lama, Asy’ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin kurus, maka nama ini diganti. Karena dianggap nama tersebut tidak cocok dan berat maka namanya diganti Abdul Wahid Hasyim, pengambilan dari nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan nama “Mudin” (KPG Tempo, 2011:11). Sedangkan para santri dan masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di Jawa.

2. Silsilah Keluarga

KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Ulama yang termasyhur dan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan yang terbesar di Indonesia. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Hadiwijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu


(33)

pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan Majapahit. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng (Amin, 2010:65).

Ketika menginjak usia 25 tahun, KH. Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, Putra-putri KH.Abdul Wahid Hasyim kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tokoh dan miniatur dari Indonesia dengan lingkungan yang berbeda-beda, putra Pertama, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu mantan presiden RI yang ke-4, sosoknya yang penuh kontroversi. Kedua, Aisyah Hamid Baidlowi menjadi politisi Partai Golkar. Ketiga, KH Salahuddin Wahid penjelajah lintas ilmu disiplin ilmu dan aktivis HAM dan kini menjadi pengasuh pondok pesantren Tebuireng. Keempat dr. umar Wahid seorang dokter professional murni. Kelima, Lily Chotijah Wahid kini menjadi anggota legeislatif dari PKB (Risalah, 1430 H:77).


(34)

Silsilah KH.Wahid Hasyim (KPG Tempo, 2011:35, Bakar,2011, Zuhri,2010:181)

Jaka Tingkir (1578) Jaka Tarub I

Pengeran Benawa Jaka Tarub II

Pangeran Sambo

Kiai Ageng Ketis

Ahmad

Kiai Ageng Saba

Abdul Jabar

Kiai Ageng Solo

Sichah

Kiai Ageng Pemanahan

Fatimah Abdurrahman (1939-2009) Lajjinah Penembahan Senopati Pangeran Kajuran Markinah Kh.Hasbullah Kiai Ilyas Nafiqoh1939 Salahuddin M.Qolyubi

M. Ilyas (1911-1970) Zahro

Wiwiek Zakiah Maftuh Basyumi

Nyai Halimah (1851)

Kh.Hasyim Asya’ri (1871-1947)

Aisyah

Kh A.Wahid Hasyim(1914-1953)

Umar Hasyim Lily Wahid

M. Hasyim Sholihah (1924-1994)

Kh. Abdul Wahab (1888-1971)

Siti Khotijah Kh.Bisri Samsuri (1887-1980) BRAWIJAYA VI (1478-1498)

K. Usman


(35)

3. Kiprah Masuk Organisasi Sosial Kemasyarakatan a. Membentuk Ikatan Pelajar-Pelajar Islam

Pada tahun 1936, KH. Abdul Wahid Hasyim mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar-Pelajar Islam) dengan dia sendiri sebagai pimpinannya. Dalam organisasi ini dia menyediakan taman bacaan dengan lebih dari 500 kitab bacaan untuk anak-anak dan pemuda, yang berbahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Madura, Belanda dan Inggris. Organisasi ini juga berlangganan majalah dan surat kabar. Perlu dicatat, organisasi ini tidak hanya berisi santri tetapi juga pelajarnya pernah belajar di HIS dan MULO (Bakar, 2011:172-173).

KH. Abdul Wahid Hasyim juga melakukan gerakan ’terpelajar’ yakni melakukan perjuangan yang sesuai dengan zaman yaitu dengan melakukan mogok, agitasi, menerbitkan surat kabar, berorganisasi dan propaganda. KH. Abdul Wahid Hasyim melihat, kelompok mahasiswa, pelajar, santri dan pemuda sangat penting dalam memerankan perjuangan. Kharakter ’terpelajar’ sangat penting untuk dijadikan alat perjuangan. Apalagi dalam era global sekarang ini, perjuangan yang dilakukan tidak lagi menggunakan senjata, namun menggunakan ideologi, pengetahuan dan strategi.

b. Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi sosial keagamaan yang didirikan pada bulan januari, tanggal 31 tahun 1826 oleh beberapa Kiai tradisional dan usahawan Jawa timur. Pembentukannya sering kali dijelaskan sebagai reaksi defensif terhadap berbagai aktivitas kelompok


(36)

reformis (Bruinessen, 2004:13) salah satu pendirinya adalah KH. Hasyim Asya’ri bapaknya KH. Abdul Wahid Hasyim, secara tidak langsung KH. Abdul Wahid Hasyim punya tiket istimewa kalau ingin masuk Nahdlatul Ulama, sebab secara langsung KH. Abdul Wahid Hasyim punya hubungan emosional dan kekerabatan. Akan tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim tidak serta merta langsung masuk organisasi. Ia tinggalkan perasaan dan pertimbangan keturunan, sebab ia punya pandangan lain, yaitu :

1) Keberhasilan NU mengembangkan organisasi dalam singkat dan meliputi daerah secara luas.

2) Anggotanya punya mentalitas tinggi, meski tidak punya kaum pelajar yang banyak.

3) NU memperhatikan pelaksaan ajaran-ajaran Islam. 4) Adanya ulama yang terus menjaga ajaran Islam.

Faktor kiai yang dulunya dianggap sebagai penghambat keberhasilan NU, justru menjadi kunci keberhasilanya. Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Jabatan pertama Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Cukir Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya (Bakar, 2011:173). Hingga kemudian pada tahun 1940 dipilih menjadi anggota PBNU bagian Ma’arif (pendidikan). Dari sinilah, perjuangan di NU mulai banyak peningkatan sampai akhirnya pada tahun 1946 KH.


(37)

Abdul Wahid Hasyim diberikan amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU menggantikan Kiai Ahmad Shiddiq. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

4. Mendirikan Partai Masyumi

Pada bulan november 1947, KH Abdul Wahid hasyim bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan kongres umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres ini diputuskan pendirian Majelis Syura Muslimin Indonesia, sebagai satu-satunya partai politik Islam Indonesia. Ketua umumnya adalah KH Hasyim Asy’ari, namun kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada KH Wahid Hasyim. Tetapi sejak tahun 1950-an, NU keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik. Secara pribadi, KH. Abdul Wahid Tidak setuju NU keluar dari Masyumi, akan tetapi sudah menjadi keputusan bersama, maka KH. Abdul Wahid Hasyim menghormatinya. Hubungan KH. Abdul Wahid Hasyim dengan tokoh-tokoh Masyumi masih tetap terjalin dengan baik.

5. Pengabdian Kepada Negara

Kerasnya politik pada zaman kolonial Belanda dan semakin suramnya kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya menyebabkan kebangkitan Islam di Indonesia. Ini mendorong penduduk pribumi untuk mengubah perjuangan melawan Belanda dari strategi perjuangan fisik ke perlawanan yang damai dan terorganisir. Maka terbentuklah beberapa organisasi yang bertujuan meningkatkan kondisi ekonomi, pendidikan, dan tentunya kemerdekaan Indonesia. Salah satunya organisasi MIAI (Majlis Islam


(38)

A’ala Indonesia) organisasi ini didirikan pada tanggal 18-21 September 1937 (Lathiful Khuluq, 2009:116). Federasi ini terdiri dari Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, dan Sarekat Islam. Yang mana KH. Hasyim Asyari sebagai ketuanya. Akan tetapi kedudukan sebagai ketua hanya simbolik sebab beliau mendelegasikan semua tugas ketua diserahkan kepada putra beliau, KH. Abdul Wahid Hasyim. Tetapi perkembangan selanjutnya Wahid Hasyim jadi ketua seutuhnya bukan sebagai badal ayahnya. Melalui wadah MIAI inilah tokoh-tokoh Islam membangun hubungan baik dengan kelompok-kelompok nasionalis yang tergabung dalam Gabungan Aksi Politik Indonesia (GAPI). Ini terjadi pada tahun 1939, dan gerakan GAPI mencapai puncaknya pada tahun 1940, dimana MIAI dan GAPI mendirikan proyek politik yang bernama Kongres Rakyat Indonesia (Korindo), dengan dua tuntutan utama terhadap pemerintah kolonial, yaitu mempercepat Indonesia berparlamen dan menuntut perubahan ketatanegaraan di Indonesia, menuju Indonesia mandiri (Surahno dalam Laode Ida, 1996:15).

Setelah kedudukan Belanda berakhir MIAI dibubarkan oleh Jepang dan diganti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) pada 24 oktober 1943. Yang menyatakan siap membantu kepentingan Jepang. Hanya Nahdaltul Ulama dan Muhammadiyah yang diakui secara sah oleh penjajah dan yang diperbolehkan menjadi anggota Masyumi. Pada bulan agustus 1944, KH Hasyim Asya’ari diangkat sebagai ketua Shumubu, kantor urusan agama Islam buatan Jepang, dan NU pun mulai masuk ke dalam urusan pemerintah pertama kalinya. Akan tetapi, begitu dikukuhkan


(39)

KH. Hasyim Asya’ri kembali ke pesantren beliau di Jombang, sedangkan tugas sehari-hari dilaksanakan KH. Abdul Wahid Hasyim. Tahun ini juga KH. Abdul Wahid Hasyim, berhasil membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer khusus bagi para santri dan mengizinkan mereka membentuk barisan pertahanan rakyat sendiri yaitu Hizbullah dan Sabilillah (Andree Feillard,2008:26). Dan setelah Indonesia Merdeka Masyumi ini berubah menjadi partai politik. Langkah ini dilakukan mengikuti anjuran pemerintah republik Indonesia (Greg Fealy,2007:53).

Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia atau dikenal dengan BPUPKI, KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota yang termuda, ketika itu baru berumur 31 tahun (Delier Noer, 1987:31). Badan ini dideklarasikan pada tanggal 1 maret 1945 yang menghasilkan terbentuknya suatu panitia untuk menyelidiki dan apa yang harus dikerjakan untuk mempersiapan kemerdekaan. Panitia ini diresmikan di Jakarta tanggal 29 April 1945, anggotanya berjumlah 62 orang, sehingga panitia ini dapat disebut panitia 62. Orang-orang Jepang mengangkat Dr. Radjiman Wedjodiningrat untuk memimpin rapat-rapat (B.J Boland,1985-19).

Pada sidang pertama badan ini membicarakan dasar-dasar Negara Indonesia. Dalam rapat ini, KH. Abdul Wahid Hasyim menghendaki agar Negara yang dibentuk berdasarkan Islam mengingat Islam adalah agama


(40)

mayoritas di Nusantara. Sementara itu, sebagaian peserta yang lain menghendaki agar Negara dibentuk tidak berdasarkan agama tertentu karena selain umat Islam masih terdapat penganut agama lain. Rapat ini berakhir dengan dibentuknya Panitia Sembilan, KH. Abdul Wahid Hasyim menjadi salah satu anggotanya. Panitia kecil ini akhirnya berhasil merumuskan pembukaan UUD yang kemudian dikenal dengan Piagam Jakarta. Dalam Piagam Jakarta ini tercantum satu kalimat yang kemudian menimbulkan kontroversi, yaitu sila pertama“ Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Bagi panitia Sembilan, rumusan ini sebagai jalan tengah yang paling maksimal dari kedua aspirasi tersebut (Saiful Umam, 1998)

Pada tanggal 10 Juli, Piagam Jakarta dipertanyakan oleh tokoh nasionalis sekuler dan Kristen, Latuharhary, yang secara tegas mengutarakan kekawatirannya nantinya syariat Islam akan menimbulkan masalah bagi agama lain dan adat istiadat. Agus Salim menjawab bahwa persoalan hukum adat dan hukum Islam sudah merupakan masalah lama, dan pada umumnya sudah terselesaikan. Wongsonegoro dan Hoesein Djajadiningrat juga merasa keberatan dengan kata-kata tersebut sebab akan menimbulkan fanatisme, kelihatannya kaum Muslimin akan dipaksa mematuhi syari’at Islam. KH. Abdul Wahid Hasyim membantah dengan merujuk adanya asas sila permusyawaratan akan menghalangi segala bentuk paksaan (B.J Boland, 1985:19).

Pada sidang selanjutnya, debat masih berlanjut, KH. Abdul Wahid Hasyim mengusulkan rumusan berikut: “Agama Negara adalah Islam,


(41)

dengan jaminan bagi pemeluk agama lain untuk dapat beribadah menurut agama masing-masing”. KH. Abdul Wahid Hasyim juga mengusulkan presiden dan wakilnya juga harus Islam, tetapi usul ini ditentang Agus Salim dan mengajukan keberatan, karena hal ini akan merusak jalan tengah yang telah tercapai antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis, dan jika presiden harus Islam, bagaimana nantinya dengan wakil presiden dengan para duta besar dan sebagainya.

Dua hari setelah Jepang menyerah, yakni pada tanggal 14 agustus 1945, dan pada tanggal 17 Agustus hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesaia dikumandangkan oleh Soekarno dan Moh Hatta, Hatta menerima kunjungan seorang perwira angkatan laut kekaisaran Jepang yang menyampaikan keberatan-keberatan penduduk Indonesia bagian timur, yang sebagaian besar tidak beragama Islam, mengenai dimuatnya Piagam Jakarta pada mukaddimah undang-undang dasar. Bila tidak dirubah, mereka lebih suka berdiri diluar Republik Indonesia. Keesokan harinya pada tanggal 18 agustus, Moh. Hatta memanggil empat anggota panitia persiapan kemerdekaan yang mewakili Islam: Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Teuku Muhammad Hasan dan KH. Abdul Wahid Hasyim.

Demi menjaga keutuhan bangsa pada saat genting ini, mereka setuju untuk menghapus rujukan pada agama Islam dalam teks Mukaddimah Undang-Undang Dasar, sebagai gantinya KH. Abdul Wahid Hasyim mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti dengan rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa, penambahan kata Esa menggarisbawahi keesaan Tuhan


(42)

(tauhid) yang tidak terdapat pada agama lain. Dengan demikian, Indonesia tidak menjadi Negara Islam, namun menjadi Negara monoteis. Presiden harus diangkat dari orang Indonesia asli, tanpa ketentuan jelas mengenai agamanya (Andree Feillard, 2008,34:35).

Kasus di atas memperlihatkan bahwa KH. Abdul Wahid Hasyim dalam kasus tertentu merupakan sosok yang sangat kental dengan nilai-nilai ajaran Islam sehingga ia selalu mengusulkan agar Negara Indonesia berideologi Islam. Akan tetapi bagi KH. Abdul Wahid Hasyim Islam bukan harga mati, ia terbukti menerima setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peran KH. Abdul Wahid Hasyim dalam hal ini cukup penting untuk menyelamatkan bangsa Indonesia. Tidak dapat dibayangkan seandainya KH. Abdul Wahid Hasyim menolak usul tersebut. Karena menurut KH. Abdul Wahid Hasyim persatuan bangsa yang baru lebih penting daripada pengakuan formal terhadap Islam.

Bukti pemahaman keIslaman KH. Abdul Wahid Hasyim yang toleran, inklusif dan tidak radikal tercermin dalam penerapan kaidah fikih yaitu “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan harus didahulukan daripada berniat kebaikan). Dan pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim ini bisa menjawab gerakan radikal yang ada di Indonesia sekarang ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfudz MD (09/06/2011 07:11) menyakatan, ”Gagasan tentang bertemunya ke-Indonesiaan dan ke-Islamanan dengan konsep Pancasila yang sekarang ini kita anut sebagai dasar negara sekarang sudah final. Dan pemikiran KH Wahid Hasyim ini menurut saya


(43)

perlu direvitalisasi, dengan jalan mempertemukan secara kuat bahwa konsep Indonesia dengan Islam dalam Pancasila sebagai dasar negara sebagai konsep yang final bagi seluruh rakyat indonesia. ”Sehingga tidak perlu lagi ada pertengkaran yang mempertentangkan perlunya negara Islam, radikalisasi dan lain-lain, itu semua bisa dijawab dengan pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim, (http://www.nu.or.id/.html)

Setelah Indonesia merdeka yang dilakukan Soekarno adalah membentuk kabinet. Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, KH. Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman. Dalam pembentukan kabinet baru Sukiman (1 April 1952) ia tidak dipilih lagi menjadi menteri agama. Kedudukannya digantikan oleh KH Fakih Usman dari Muhammadiyah. Setelah meninggalkan jabatan menteri agama ia aktif dalam NU (Mahmud Yunus, 1995:369).

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari penuh duka-cita. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim ditemani tiga orang, yakni sopirnya dari harian pemandangan, rekannya Argo Sucipta, dan putra sulungnya. Musibah ini berawal dari rencana pergi ke Sumedang


(44)

untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, yang dihela seorang sopir dari harian pemandangan, Abdurrahman putra pertamanya duduk di depan. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim.

Ketika sampai di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin, lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula (Aboe Bakar 2011:330).

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam


(45)

kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khaliq. Kemudian jenazah KH. Abdul Wahid Hasyim dibawa ke Jakarta, kemudian dengan pesawat terbang jenazah tersebut di angkut ke Surabaya, untuk dimakamkan di Tebuireng.

6. Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

Atas jasa beliau terhadap Negara republik Indonesia, KH. Abdul Wahid Hasyim mendapatkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa (Azis Masyhuri, 2008:48) demikianlah pemerintah menghargai kiprah KH Wahid Hasyim dalam mengabdi kepada negara.

B. Latar Belakang Pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim

Karir pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim dimulai sejak umur lima tahun, ia belajar membaca al-Qur’an dan dalam waktu dua tahun ia sudah pandai membaca kitab suci tersebut. Ketika usianya menginjak tujuh tahun, ia mulai belajar kitab kuning, di antaranya kitab Fathul Qorib,Minhajul Qawin, dan kitab mutammimah pada ayahnya, dan pada usia ini pulalah beliau sudah khatam membaca al-Qur’an dan mulai belajar di Madrasah Salafiyah di pesantren Tebuireng (Rifa’i, 2010:23). Walaupun beliau anak seorang tokoh agama terkemuka ia tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah


(46)

pemerintahan kolonial Belanda. Dia lebih banyak belajar sendiri secara autodidak. Kalau di dalam ilmu pendidikan terdapat konsep pendidikan otodidak, maka hal itu telah dialami oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Putra Kyai besar, pendiri organisasi NU ini, hanya belajar di pesantren. Sebagai anak seorang kiai belumafdholkalau belum berkelana ke pondok lainnya. 1. Pergi ke Pondok

Pondok yang yang pertama disinggahi KH. Abdul Wahid Hasyim adalah Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo yang di asuh oleh Kiai Khazin, yang tak lain juga guru KH. Hasyim Asya’ri (Rizal, 2009:45). Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia kemudian pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang di asuh KH Abdul Karim. Akan tetapi di pesantren ini Wahid Hasyim hanya mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan KH. Abdul Wahid Hasyim hanyalah keberkahan dari sang guru. Soal ilmu, mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari KH. Abdul Wahid Hasyim ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, KH. Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, apapun keadaannya KH. Abdul Wahid Hasyim bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar, Selama berada di


(47)

rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri yang di pesan oleh ayahnya.

2. Pergi Naik Haji dan Belajar

Dalam rangka mendidik KH. Abdul Wahid Hasyim, KH Hasyim Asy’ari tentu tidaklah ia lakukan secara sendiri, selain dikirim ke pesantren Siwalan Panji untuk belajar tasawuf, fiqih, dan tafsir al-Qur’an. KH. Hasyim Asyar’i juga mengirim Wahid Hasyim untuk melanjutkan belajarnya ke Makah pada tahun 1932 selama tiga tahun untuk belajar dan beribadah haji (Lathiful Khuluq, 2009:43). Meminjam istilahnya Bruinessen (1995:43) orang Indonesia pergi ke Makkah selain menunaikan syari’at kewajiban bagi yang mampu, ternyata ada fungsi sosiologis haji, banyak orang-orang Indonesia mencari ilmu di Makah dan Madinah dan setelah pulang ke tanah air mereka mengajar kepada masyarakat di sekitarnya. Di tanah Arab, para haji Indonesia juga bertemu dengan saudara seiman dari seluruh dunia Islam, yang belajar kepada guru-guru yang sama, dan dengan demikian mereka mengetahui perkembangan dan gerakan di Negara-negara Muslim lainnya.

Sepulang dari tanah suci, ia membantu ayahnya mengajar di pesantren. Ia juga giat terjun ke tengah-tengah masyarakat. Pada usianya baru menginjak 20-an tahun, KH. Abdul Wahid Hasyim sudah membantu


(48)

ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh.

C. Karya-Karya KH.Abdul Wahid Hasyim

1. Karya dan Jasa-Jasa Wahid Hasyim selama Menjadi Menteri Agama a. Mengeluarkan peraturan tentang: susunan dan tugas kewajiban kantor

pusat Kementerian Agama dan lapangan pekerjaan, susunan serta tugas kewajiban: jawatan urusan agama, jawatan pendidikan agama dan jawatan penerangan agama (Peraturan Menteri Agama no.2 tahun 1951 tanggal 12 januari 1951).

b. Mengeluarkan peraturan bersama menteri PPK dan Menteri Agama tentang: pendidikan agama disekolah-serkolah negeri dan partikelir (20 Januari 1951).

c. Menyusun top formasi pegawai kantor pendidiakan agama di propinsi-propinsi dan kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia (26 januari 1951). d. Mendirikan kantor-kantor pendidikan agama di propinsi-propinsi dan

kabupatan-kabupaten seluruh Indonesia (30 Januari 1951). e. Mendirikan SGHA Negeri di Kotaraja (Aceh) (13 Januari 1951). f. Mendirikan SGHA Negeri di Bukittinggi (13 februari 1952). g. Mendirikan PGA Negeri di Tanjung Pinang (13 mei 1951).

h. Mengusahakan keluarnya putusan menteri PPK dengan persetujuan Menteri Agama tentang: penghargaan ijazah-ijazah Madrasah (17 juli 1951).


(49)

j. Mendirikan PGA Negeri di Padang (16 Agustus 1951). k. Mendirikan PGA Negeri di Banjarmasin (16 Agustus 1951). l. Mendirikan PGA Negeri di Jakarta (16 Agustus 1951).

m. Mendirikan PGA Negeri di Tanjung Karang (16 Agustus 1951). n. Mendirikan PGA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951).

o. Mendirikan PGA Negeri di Pamekasan (2 Agustus 1951). p. Mendirikan SGHA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951).

q. Menetapkan rencana pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah rakyat dari kelas IV-VI (6 Mei 1951).

r. Menetapkan rencana pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah Lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951).

s. Mengeluarkan peraturan bersama menteri PPK dan Menteri Agama tentang peraturan PTAIN di Yogyakarta (21 Oktober 1951) (Mahmud Yunus, 1995:369).

2. Karya Tulis KH. Abdul Wahid Hasyim

KH.A.Wahid Hasyim adalah seorang tokoh produktif dalam menyampaikan pemikirannya lewat tulisan-tulisan (karya ilmiah) yang banyak diterbitkan oleh media, akan tetapi ide-idenya tersebut belum sempat di buat dalam buku. Di antara karya-karyanya yaitu:

a. “Nabi Muhammad dan Persaudaran Manusia”. Karya ini merupakan pidatonya saat acara pembukaan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. yang di adakan di Istana Negara, Jakarta, pada 2 Januari 1950, dan merupakan perayaan pertama sesudah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia.


(50)

b. “Kebangkitan Dunia Islam”. Karya ini merupakan tulisan di media Mimbar Agama edisi No. 3-4, maret-april 1951.

c. “Beragamalah Dengan Sungguh Dan Ingatlah Kebesaran Tuhan”. Karya ini merupakan semacam pidato untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pada saat itu, Indonesia masih berbentuk serikat.

d. “Hari Raya sebagai Ukuran Maju-Mundurnya Umat” dalam berita Nahdlatul Ulama, No. 3, Th,ke 7, Desember, 1937, hal 2-5.

e. “Arti dan Isi Al-Fatihah” Berita Nahdlatul Ulama, No. 14, Th,ke VII, 15 Mei 1938, hal 1-3.

f. “Islam Agama Fitrah (dasar manusia)” Suara Muslimin Indonesia, No. 7, Th,ke II, April, 1944, hal 2-4.

g. “Latihan Lapar adalah Kebahagiaan Hidup Perdamaian Dunia” penyiaran Kementerian Agama, No. 4, 1309, hlm. 3-4.

h. “Perkembangan Politik Masa Pendudukan Jepang” dari Nota Politik (November 1945).

i. “Apakah Meninggalnya Stalin Membawa Pengaruh Pada Umat Islam”juga pada umat Islam Indonesia?” dari Gema Muslimin Tahun 1 No. 2, 1 April 1953.

j. “ Di Belakang Perebutan Kekuasan Jendral Najib di Mesir”, Ceramah (1952).

k. “Umat Islam Indonesia dalam Menghadapi Perimbangan Kekuatan Politik Daripada Partai-partai dan Golongan-Golongan”. Catatan (disiarkan dalam kalangan terbatas pada 1952).


(51)

l. “Menyosong Tahun Proklamasi Kemerdekaan yang ke Delapan”, Jakarta 14 Agustus 1952.

m. “Suluh”, dalam Th,I, Berita Nahdlatul Ulama, No, Th,1, April, hlm,1-12.

n. “Masyumi Lima Tahun”, Kutipan dari Suara Partai Masyumi, No, 11 tahun ke-5, Desember 1950.

o. “Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama” dalam Gema Muslimin ke-1 November 1953.

p. “Analisa Kelemahan Penerangan Islam”, salah satu uraian untuk konferensi, (1951).

q. “Fanitisme dan Fanatisme”, dalam Gempita No.1 tahun ke-1 (15 Maret 1955).

r. “Siapakah Yang Akan Menang Dalam Pemilihan Umum Yang Akan Datang” dalam Gema Muslimin, tahun ke-1 Maret 1953.

s. “Akan Menangkah Umat Islam Dalam Pemilihan Umum Yang Akan Datang?”

t. “Kedudukan Umat Islam Dalam Masyarakat Islam Indonesia”.

u. “Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalanya, Tetapi Pemimpin-Pemimpinya Tidak Tahu”. Tulisan ini ditulis dengan nama samaran “makmum bingung” pada awal 22 Desember 1951.

v. “Abdullah Ubaid sebagai Pendidik” dalam suluh NU, Agustus 1941, tahun ke-1 No, 5.

w. “Kemajuan Bahasa, Berarti Kemajuan Bangsa” dalam Suara Ansor, Rajab 1360 Th,IV No.3, ditulis dengan nama Banu Asya’ri.


(52)

x. “Pendidiakn Ketuhanan” dalam Mimbar Agama Tahun 1 No,5-6, 17 Desember 1950.

y. “Perguruan Tinggi Islam”, pidato menyambut berdirinya Universitas Islam Sumatra Utara di Medan 21 Juni 1952.

z. “Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri”, Pidato pada pembukaan dan penyerahan PTAIN di Ypgyakarta 26 September 1951.

aa. “Pentingnya Terjemahan Hadis pada Masa Pembangunan”, termuat sebagai kata sambutan dalam kitab Terjemahan Hadis Bukhari (1953) diterbitkan Fa, Widjaja: Jakarta.

bb. “Tuntutan Berfikir”, kata pendahuluan agenda Kementerian Agama 1951-1952.

cc. “Islam: anatara Materialisme dan Mistik”, ceramah pada malam purnama sidi kamis malam, 4 Desember 1952, di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Diambil dengan tulisan cepat oleh Abd. Halim.

dd. “Sekitar Pembentukan Kementerian Agama RIS” dalam Mimbar Agama Tahun 1 No.3-4, Maret-April 1951.

ee. “Kedudukan Islam di Indonesia”, nota tentang Peneranmgan Agama (1959).

ff. “Tugas Pemerintah Terhadap Agama”, pidato yang diucapakan dalam konferensi Kementerian Agama dalam pengurus-pengurus besar organisasi Islam non-politik, Jakarta 4-6 November 1951.

gg. “Membangkitkan Kesadaran Beragama”, Pidato diucapkan dalam sidang resepsi konferensi Kementerian agama di Bandung 21-22 Januari 1951.


(53)

hh. “Perbaikan Perjalanan Haji” dalam Mimbar Agama Tahun 1 No.2, 17 Agustus 1951.

ii. “Laporan Perjalanan ke Jepang”, dikemukakan kepada P.h.I. Kementerian Agama dan Pemerintah 1952.

jj. “menyelapkan yang Kolot” dalam Majalah Suara Muslimin Indonesia, 1 Juni 1944.

kk. “ Kebangkitan Dunia Islam” dalam Suara Muslimin Indonesia, 15 Agustus 1944, Th.Ke-2,No. 16 (Abu Bakar, 2011:378-772 dan Rifa’I, 2010, 42-46).


(54)

BAB III

MENGENAL PONDOK PESANTREN

DAN PEMIKIRAN PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM

A. Sejarah Pondok Pesantren

Secara historis, pesantren sebagai lembaga pendidikan tempat pengajaran tekstual baru muncul pada akhir abad ke-18. Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang dinilai paling tua, pesantren juga memiliki akar sejarah yang jelas. Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal dengan Syaikh Magribi (Saifuddin Zuhri, 2010:134). Akan tetapi data-data historis tentang bentuk institusi, materi, metode maupun secara umum sistem pendidikan pesantren yang dibangun Syaikh Maghribi tersebut sulit ditemukan hingga sampai sekarang. Tidaklah layak untuk segera menerima kebenaran informasi tersebut tanpa virifikasi yang cermat. Namun secara esensial dapat diyakinkan bahwa wali yang berasal dari Gujarat ini memang telah mendirikan pesantren di Jawa sebelum wali lainnya. Pesantren dalam pengertian hakiki, sebagai tempat pengajaran para santri meskipun bentuknya sangat sederhana telah dirintasnya, lebih dari itu kegiatan mengajar santri menjadi bagian terpadu dari misi dakwahnya.

Kalau berbicara tentang perkembangan ajaran Islam dalam masyarakat Indonesia, maka perlibatan pesantren menjadi suatu keniscayaan yang sama sekali tidak dapat diabaikan, pesantren sejak awal kemunculannya memang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Lembaga ini tumbuh dan berkembang


(55)

dari dan untuk masyarakat. Ia hadir untuk mengabdikan dirinya mengembangkan dakwah Islam dalam pengertian luas. Pesantren telah diakui sebagai lembaga yang telah ikut serta mencerdaskankan bangsa.

Pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri, dimana kiai, ustad, santri dan pengurus pesantren hidup bersama dalam satu lingkungan pendidikan berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-norma dan kebiasaannya (Malik, 2005:3) Pondok Pesantren walaupun dikategorikan sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sistem pengajaran, kurikulum tersendiri, dan itu menjadi ciri khas pondok pesantren

1. Metode Pengajaran di Pesantren

Ada beberapa metode pengajaran yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren salafiyah.

a. Bandongan

Metode bandhongan dilakukan dengan cara kiai/guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut. Sedangkan santri menyimak dan menulis arti kitab yang dibacakan oleh kiai. Dalam metode bandongan ini, hampir tidak pernah terjadi diskusi antara kiai dan santri (Pradjarta, 1999:149-150).

Metode Bandongan dilakukan oleh seorang kyai atau ustadz terhadap sekelompok peserta didik atau santri, untuk mendengarkan dan menyimak apa yang dibacanya dari sebuah kitab. Seorang kyai atau ustadz dalam hal ini membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat


(56)

(gundul). Sementara itu santri dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhabithan harakat, pencatatan simbol-simbol kedudukan kata, arti-arti kata langsung dibawah kata yang dimaksud, dan keterangan-keterangan lain yang dianggap penting dan dapat membantu memahami teks. Posisi para santri pada pembelajaran dengan menggunakan metode ini adalah melingkari dan mengelilingi kyai atau ustadz sehingga membentuk halaqah (lingkaran). Dalam penterjemahannya kyai atau ustadz dapat menggunakan berbagai bahasa yang menjadi bahasa utama para santrinya, misalnya: bahasa Jawa, Sunda, atau bahasa Indonesia.

b. Sorogan

Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, yang dimaksudnya disini menyodorkan kitab di hadapan kiai. Sorogan adalah semacam metode CBSA (cara belajar siswa aktif) yang santri aktif memilih kitab, biasanya kitab kuning, yang akan dibaca, kemudian membaca dan menerjemahkannya dihadapan kiai, sementara itu kiai mendengarkan bacaan santrinya dan mengoreksi bacaan atau terjemahannya jika diperlukan (Pradjarta, 1999:149-150). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri maju satu per satu untuk membaca dan menguraikan isi kitab di hadapan guru atau Kiai. Metode pengajaran ini termasuk metode pengajaran yang sangat bermakna karena santri akan merasakan hubungan langsung dengan kiai. Santri tidak saja dibimbing dan


(57)

diarahkan cara membacanya tetapi dapat di evaluasi perkembangan kemampuan membaca kitab.

Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa Arab. Dalam metode sorogan, santri membaca kitab kuning dan memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi, dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum tentu atau tidak terjadi.

Metode sorogan, diduga sangat kuat merupakan tradisi pesantren, mengingat sistem pengajaran di pesantren memang secara keseluruhan. Hal ini lagi-lagi menunjukkan ciri khas pondok pesantren dengan mempertahankan tradisi warisan masa lalu yang cukup jauh.

c. Metode Bahtsul Masa`il

Metode Bahtsul Masa`il merupakan pertemuan ilmiyah, yang membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah dan masalah agama pada umumnya. Metode ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan metode musyawarah. Hanya bedanya, pada metode Bahtsul Masa`il pesertanya adalah para kyai atau para santri tingkat tinggi. Dalam forum ini, para santri biasanya membahas dan mendiskusikan suatu kasus di dalam masyarakat sehari-hari untuk kemudian dicari pemecahanannya secara fiqih (yurisprudensi Islam). Pada dasarnya santri tidak hanya belajar memetakan dan memecahkan suatu permasalahan hukum yang


(58)

perkembang dimasyarakat, namun dalam forum ini para santri juga belajar berdemokrasi dengan menghargai pluralitas pendapat yang muncul dalam forum (Dian Nafi’ dkk, 2007:69).

d. Metode Musyawaroh

Metode musyawaroh ini pertama kali di lakukan oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Dan metode musyawarah banyak dijumpai di pondok pesantren salafiyah. Metode ini dilaksanakan dalam rangka pendalaman atau pengayaan materi-materi yang sudah dipelajari santri (kitab-kitab kuning). Yang menjadi ciri metode ini, santri dan guru biasanya terlibat debat dalam sebuah forum perdebatan untuk memecahkan masalah yang ada. Dalam musyawarah ini santri diperkenankan berdebat secara babas asal tetap memiliki kerangka acuan yakni kitab-kitab utama (Ali Yahya, 2007:16).

Kegiatan musyawarah adalah merupakan aspek dari proses belajar dan mengajar di pesantren salafiyah yang telah menjadi tradisi khususnya bagi santri-santri yang mengikuti sistem klasikal. Kegiatan ini suatu keharusan bagi para santri, sama halnya seperti keharusan mengikuti kegiatan belajar kitab-kitab dalam proses belajar mengajar. Bagi santri yang tidak mengikuti atau mengindahkan peraturan kegiatan musyawarah, akan dikenai sangsi, karena musyawarah sudah menjadi ketetapan pesantren yang harus ditaati untuk dilaksanakan.

Beberapa metode diatas banyak diterapkan di pondok-pondok pesantren, dan antara metode yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat dan mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing,


(59)

sehingga pondok-pondok pesantren sampai sekarang masih mempertahankan metode tersebut, dan itu menjadi lambang supremasi serta ciri khas metode pengajaran di Pondok Pesantren. Metode-metode pembelajaran tersebut tentunya belum mewakili keseluruhan dari metode-metode pembelajaran yang ada di pondok pesantren, tetapi setidaknya paling banyak diterapkan di lembaga pendidikan pesantren.

2. Kondisi Pesantren di Indonesia

a. Keadaan Pesantren sebelum kemerdekaan

Perkembangan Islam di Indonesia tidak akan luput dari peran pesantren, dalam perkembangannya, sejarah pendidikan di Indonesia mencatat bahwa pondok pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan pribumi yang tertua di Indonesia. Pondok Pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari sistem pondok pesantren yang di adakan orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Nusantara, lembaga pendidikan pondok pesantren pada masa ini, di gunakan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa pondok pesantren bukan berasal dari tradisi Islam, buktinya tidak di temukan lembaga pondok pesantren di Negara-negara Islam lainya.(Depag, 2003-8)

Menurut Nur Cholish Madjid (1997:3) Kalau kita mencari lembaga pendidikan yang indigenous, asli Indonesia dan berakar kuat dalam masyarakat tentu kita akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Sebab, dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna


(60)

keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). lembaga yang serupa pesantren ini sebenarnya sudah ada sejak pada masa kekuasaan Hindu-Buddha. Sehingga Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga pendidikan yang sudah ada. Tentunya ini tidak berarti mengecilkan peranan Islam dalam memelopori pendidikan di Indonesia.

Pada tahun 1882 pemerintah Belanda mendirikan Priesterreden (Pengadilan Agama) yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan pesantren. Tidak begitu lama setelah itu, dikeluarkan Ordonansi tahun 1905 yang berisi peraturan bahwa guru-guru agama yang akan mengajar harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Peraturan yang lebih ketat lagi dibuat pada tahun 1925 yang membatasi siapa yang boleh memberikan pelajaran mengaji. Akhirnya, pada tahun 1932 peraturan dikeluarkan yang dapat memberantas dan menutup Madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau yang memberikan pelajaran yang tak disukai oleh pemerintah. (Dhofier 1984:41,dan Zuhairini 2010:149)

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik tidak saja karena keberadaannya sudah mapan yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode dan jaringan yang di terapkan oleh lembaga agama tersebut. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya. Yang jelas pesantren selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dengan kehidupan di sekelilingnya.Pesantren hadir meminjam istilah Abdurrahman Wahid (2007:88) sebagai subkultur,


(61)

budaya sandingan, yang selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at.

Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi. Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial Belanda yang berbasis pada dunia pesantren. Pesantren sebagai sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki basis sosial yang jelas, karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Ketika lembaga-lembaga sosial yang lain belum berjalan secara fungsional, maka pesantren menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat, mulai orang belajar ilmu agama sampai pada menyusun perlawanan terhadap kaum penjajah. Dunia pesantren tidak lagi hanya mementingkan denyut aspirasi orang-orang dalam lingkungan dindingnya, tetapi turut melangkah ke luar melangkah keluar menyertai saudara-saudara yang senasib sepenanggungan. Pesantren bukan hanya berfungsi semacam benteng yang diam ditempat, akan tetapi juga berfungsi semacam “benteng stelselnya” de Kock ketika menghadapi perang Diponegoro. Ia ikut mengambil peranan sebagai benteng yang bergerak.(Saifuddin Zuhri,2007:124-125), semua dilakukan di pesantren yang pimpin seorang kiai. Figur kiai tidak hanya menjadi pemimpin agama tetapi sekaligus juga pemimpin gerakan sosial politik masyarakat. Karena pesantren memiliki akar yang kuat untuk menjadi basis perjuangan rakyat. Di samping mempunyai jaringan sosial yang kuat dengan masyarakat, pesantren juga memiliki jaringan yang kuat sesama pesantren, karena sebagian besar pengasuh pesantren tidak saja terikat


(62)

kesamaan pola pikir, paham keagamaan, tetapi juga memilik hubungan intelektual dan kekerabatan yang cukup erat.(Zamakhsari Dhofir,1982:62).

Hal ini yang menyebabkan kohesifitas dunia pesantren menjadi sangat kuat adalah adanya kesamaan ideologi. Hampir semua pesantren di Indonesia mempunyai kesamaan referensi dengan metode pengajaran dan pemahaman keagamaan yang sama pula. Kekuatan jaringan pesantren ini banyak ditentukan oleh para kiai. Sejak abad ke-17 jaringan antara kiai di Jawa dengan ulama di dua kota suci, Makkah dan Madinnah sangat kuat. Mata rantai keilmuan para kiai di Jawa dan Nusantara dapat dilacak sampai kepada para ulama di Haramain. Jaringan keilmuan yang kuat ini menempatan pesantren di Nusantara sebagai lembaga yang diperhitungkan didunia Islam. Mata rantai keilmuan ini menepis anggapan bahwa jaringan ulama di Nusantara dan timur tengah bercorak politis ketimbang keagamaan. Menurut Azra setidaknya sejak abad ke-17 hubungan di antara kedua wilayah Muslim ini umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan, mesti juga terdapat hubungan politik antara beberpa kerajaan Muslim nusantara.(Azyumardi Azra, 1995:16-17). Azra juga menjelaskan bahwa ajaran Islam yang berkembang di Nusantara, termasuk pesantren-pesantren, memiliki kekhasan lokal dalam pembelajaran dan pemasyarakatan, sekaligus keilmuan dan keagamaan, yang diakui di dunia Muslim lainnya. Jaringan ini juga memberikan manfaat tersedianya guru di


(63)

pesantren-pesantren nusantara. Pesantren kemudian memiliki jumlah guru yang sebagian besar dari lulusan timur tengah.

Meski pesantren menjadi basis perjuangan terhadap kaum penjajah, namun dia tidak menanamkan ideologi fundamentalis yang mengesahkan tindakan kekerasan. Hal ini dibuktikan dengan kitab-kitab yang dipelajari, dan sistem nilai yang diterapkan oleh dunia pesantren. Dunia pesantren pada umumnya hanya menerapkan kajian pada ilmu-ilmu terapan seperti fiqih, tassawuf dan ilmu-ilmu alat: terutama gramernya Bahasa Arab (nahwu-sharaf) karena tata bahasa Arab diuraikan dengan cara yang tidak begitu mudah, lamanya belajar untuk ilmu nahwu sharaf ini bisa berbeda yaitu dari enam bulan sampai dengan enam tahun lebih, kadang tergantung kiai dan bakat santri (Karel A.Streenbrink, 1991:23). Pesantren tidak mengajarkan pemahaman keislaman yang radikal tetapi Islam yang kultural, hal inilah yang menyebabkan pesantren bisa diterima oleh masyarakat karena dianggap menampilkan Islam yang lebih toleran dan fleksibel, mengerti perasaan dan jiwa masyarakat.

Bukti pemahaman keislaman dunia pesantren yang toleran, inklusif dan tidak radikal tercermin dalam penerapan kaidah fiqih produk ulama abad pertengahan, seperti almukhafadzatu ‘ala qadiimisshalih wal akhdzu bi jadiidil ashlah (menjaga nilai yang lama yang baik dan mengambil nilai yang baru yang lebih baik). Kaidah ini mencerminkan adanya toleransi kalangan pesantren terhadap nilai-nilai dan tradisi yang ada. Di lain sisi pesantren tidak mudah terjebak dalam sikap puritan dan


(1)

2. Pembaharuan pendidikan yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim meliputi:

a. Pembaharuan metode pembelajaran, dariBandonganketutorial

b. Mendirikan instistusi Madrasah Nidzomiyah yang menggunakan sistem pendidikan modern dengan menerapkan sistem klasikal dilingkungan pesantren.

c. Mencetak santri yang tidak hanya religius tetapi juga berwawasan kebangsaan.

d. Mendirikan perpustakaan di lingkungan pesantren.

3. Relevansi pemikiran pembaharuan pendidikan pesantren KH. Abdul Wahid Hasyim dengan pendidikan pesantren KH. Abdul Wahid Hasyim dengan pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang adalah sangat relevan. Hal ini disebabkan karena KH. Abdul Wahid Hasyim meletakkan dasar penting bagi pendidikan sistem klasikal di lingkungan pesantren, mendirikan perpustakaan yang tidak hanya berisikan buku-buku agama namun juga pengetahuan umum serta pencetus awal pendirian madrasah formal di lingkungan pesantren yakni Madrasah Nidhomiyah.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran untuk pengelola pesantren dan yang terkait dalam penelitian ini, saran yang dimaksud adalah:

1. Bagi pengelola dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahankan tradisi yang lama belaka, sebab, tradisi yang lama tak mesti relavan untuk zaman


(2)

sekarang ini. Hal yang tidak kalah penting untuk direnungkan dalam rangka “mengambil hal yang terbaru yang lebih baik” adalah mengungkap secara cerdas permasalahan kekinian dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Tak bisa disangkal bahwa modernitas telah “menawarkan” banyak hal untuk difikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan pesantren. Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren mengabaikan arus modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik, meskipun ada sebagian yang buruk, kalau pesantren ingin maju untuk mengimbangi perubahan zaman

2. Pembaharuan disarankan tidak hanya dilakukan dalam ranah proses pembelajaran yang memungkinkan out put pesantren siap kerkompetensi dalam persaingan lokal maupun global, tetapi pembaharuan dalam menejemen lembaga pesantren perlu dilakukan agar lebih efektif dan efesien.


(3)

DAFTAR PUSTAKA

Abd A’la.Pembaharuan Pesantren. Yogyakarta. Pustaka Pesantren.2006 Aboe, Bakar.Sejarah Hidup KH.A Wahid Hasyim .Jakarta: Mizan, 2011 Amin. Persepsi Santri Tentang Kharisma Kiai ( Studi Kasus di Pondok

Pesantren al-Huda Doglo, Candigatak, Cepogo, Boyolali Tahun 2010). Salatiga, Skripsi tidak di terbitkan. Salatiga, 2010

Anshoriy, Nasruddin, Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme.Yogyakarta.Lkis. 2008

A.Steenbrink, Karel,Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES.1991 Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan

Nusantara Abab XVII dan XVIII. Bandung : Mizan, 1994

Barton, Greg, Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Yogyakarta: Lkis, 2010

B.J. Boland,Pergumulan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Grafiti Pers,1985 Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003

Dian Nafi’, Abd A’la, Hindun Anisah, Abdul Aziz, Abdul Muhaimin. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yokyakarta: Lkis, 2007

Dhofier, Zamakhsari,Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai).Jakarta: LP3ES.1983

. Tradisi Pesantren Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa Jilid 1.Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009

Dirdjosanjoto,Pradjarta. Memelihara Umat: Kiai Pesantren-Kiai Langgar Di Jawa, Yogyakarta: Lkis, 1999

Feillard, Andree. NU Vis-à-vis Negara Pencarian Isi, Bentuk dan Makna. Yogyakarta: Lkis, 2008

Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama Sejarah NU 1952-1967. Yogyakarta: Lkis, 2007

Hambal, Ahmad.Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal, t.tp. Dar al-Fikr,t.t Ida, Laode. Anatomi Konflik NU, Elit Islam dan Negara. Jakarta: Pustaka


(4)

Imam Suprayogo, Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama, Bandung. PT Remaja Rosda Karya.2003

J.Moleong Lexy,Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008

Khuluq, Khuluq. Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H Hasyim Asya’i. Yogyakarta: Lkis,2009

Ma’shum Zaein Muhammad, Landasan Amaliyah NU, Jombang: PC.LTNU Jombang.2008

Madjid, Norcholish, Bilik-bilik Pesantren sebuah Potret Perjalanan.Jakarta, Paramadina.1997

Mahfudz Md. Pemikiran KH Wahid Hasyim Jawab Radikalisasi Islam,Online.(http://www.nu.or.id/.html 09/06/2011 07:11)

Malik, Jamaluddin (ed),Pemberdayaan Pesantren Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. Yogyakarta: Lkis 2005

Mattew B, Miles dan Huberman, A. Michael.Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UI Press, 1992

Maunah, Binti.Tradisi Intelektual Santri dalam Tantangan dan Hambatan Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Teras, 2009

Misrawi, Zuhairi. Deradikalisasi Pesantren. Jakarta. Kompas, hal. 7 Tggl 18, Bulan 7. 2011

Mughits, Abdul. Kritik Nalar Fikih Pesantren. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008

Mumazziq, Rizal.Cermin Bening dari Pesantren Potret Keteladanan Para Kiai, Surabaya: Khalista,2009

Noer, Delier. Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. Jakarta: Grafiti Press, 1987

Nurrahmat, Binhad, Dari Kampung ke NU Miring, Yogyakarta:Arruz Media.2010

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2006

Putra, Haidar, Daulany, Sejarah Pertumbuhan dan pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009

Qomar, Mujamil, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, Jakarta, Erlangga.2010


(5)

Retno, Yanto.Sejarah Tokoh Bangsa. Yogyakarta. Pustaka Tokoh Bangsa. 2009

Rifa’i, Muhammad. Biografi Singkat Wahid Hasyim.Yogyakarta:Arruz Media.2009

Roqib. Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat,Yogyakarta: Lkis, 2009 Seri Buku Tempo, Wahid Hasyim untuk Republik dari Tebuireng. Jakarta,

KPG.2011

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan D&D,Bandung. Alfabeta2008

Syatibi Dkk, Pergeseran Literatur Pondok Pesantren Salafiyah di Indonesia. Jakarta. Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI

Umar, Mashudi. KH Wahid Hasyim Merengkuh Dunia.Jakarta: Risalah , hal.77.1430 H

Undang-undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. 2004

Van Bruinessen, Martin.NU, Tradisi, Relasi-Relasai Kuasa, Pencarian Wacana Baru. Yokyakarta.Lkis.2004

. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan,1996

Wahid, Abdurrahaman.Menggerakan Tradisi, Yogyakarta: Lkis, 2010 , Islam Kosmopolitan Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan. Jakarta. The Wahid Institute.2007

Yahya, Ali.Sama Tapi Beda Potret Keluarga Besar KH.A Wahid Hasyim. Jombang: Yayasan KH. A.Wahid Hasyim, 2007

Yunus, Mahmud.Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995

Zuhri, Saifuddin. Guruku Orang-Orang Pesantren,Yogyakarta. Pustaka Sastra. 2007

. Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalisme Pendiri NU. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010

Zuhairini Dkk,Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Bumi Aksara, 2010 (http://majelis-alumni,ipnu.article&id=78:masjid-istiqlal.


(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nurhuda

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat/Tanggal Lahir: Tuban, 05 Maret 1987

Agama : Islam

Bangsa : Indonesia

Alamat : Desa Maindu Kec Montong Kab Tuban Jawa Timur

No Hp : 085 641 670 715

Pendidikan : MI Maindu lulus tahun 2001

Mts Manbail Futuh Beji Jenu Tuban lulus tahun 2004 MA Salafiyah Kajen-Pati 2007

STAIN SALATIGA 2011