Pendahuluan Pengukuran Berat Jenis BJ Kayu

Alat utama yang digunakan adalah disk flaker, blender dan spray gun, mesin kempa panas, gergaji dan Universal Testing Machine UTM. Gambar 3.1 Perekat PU, partikel kayu dan anyaman bambu apus. Gambar 3.2 Bentuk partikel dan pelapis anyaman bambu yang digunakan

3.2.2 Metodologi

Perlakuan pada tahap ini terdiri atas dua faktor yaitu : - Faktor A : jenis kayu sengon, akasia dan gmelina - Faktor B : kadar perekat 2, 4, dan 6 berdasarkan berat kering tanur partikel Pada tahap ini terdiri dari 9 perlakuan dengan 5 ulangan, jumlah papan 45. Sketsa papan komposit kerapatan 0,7 gcm 3 dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 1 cm yang akan dibuat seperti pada Gambar 3.3. partikel kayu Lapisan Back anyaman bambu Lapisan face anyaman bambu Gambar 3.3 Sketsa papan komposit Metode pembuatan papan seperti skema di bawah ini : Pengempaan Suhu 160 o C,15 mnt Partikel kayu Perekat polyurethane Pelapis : - Anyaman bambu, lapik Pengkondisian 14 hari Keterangan : Pemotongan dan Pengujian JIS A 5908 : 2003 SEM FTIR FTIR : fourier transform infrared SEM : scanning electron microscope Gambar 3.4 Skema pembuatan papan komposit Secara umum alur pembuatan papan komposit pada tahap ini sebagai berikut : 1. Pembuatan partikel yang berasal dari kayu gubal dan teras menggunakan alat disk flaker, lalu dikeringkan sampai kadar air kering udara. Tipe partikel yang dihasilkan berbentuk flake dengan slenderness ratio rata-rata 27,09. 2. Pencampuran partikel kayu dengan perekat sesuai perlakuan berdasarkan berat kering tanur partikel menggunakan blender dan penyemprotan perekat dengan menggunakan spray gun agar lebih merata. Pada lembaran anyaman bambu disemprotkan perekat pada salah satu sisi yang menempel pada partikel kayu dengan jumlah perekat setara dengan berat labur 220 gcm 2 . 3. Pembentukan lembaran dan pengempaan dengan suhu pengempaan disesuaikan dengan jenis perekat yang digunakan yaitu 160oC selama 15 menit. 4. Pengkondisian dilakukan sekitar 14 hari agar kadar air papan sesuai kondisi lingkungan. 5. Pengujian sifat fisik dan mekanik papan sesuai standar JIS A 5908 : 2003. 6. Untuk mengetahui ikatan yang terjadi digunakan scanning electrone microscope SEM. 7. Untuk mengetahui terjadinya ikatan kimia antara komponen perekat dan kayu dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR fourier transform infra red. Sebagai data pendukung sifat dasar kayu yang sangat berpengaruh terhadap kualitas papan yang dihasilkan maka dilakukan pengukuran terhadap berat jenis kayu dan keterbasahan kayu dengan perekat PU dengan metode sudut kontak.

a. Pengukuran Berat Jenis BJ Kayu

Pengukuran BJ kayu mengikuti standar ASTM D 2395-02 Test Methods for Specific Gravity Wood and Wood-Based Materials, sebagai berikut : 1. Ukuran contoh uji 2 cm x 2 cm x 2 cm. Contoh uji dimasukkan ke dalam oven pada suhu 103 ± 2 o C selama 48 jam, kemudian ditimbang beratnya A. 2. Rumus yang digunakan untuk menghitung kadar air moisture content dan berat jenis specific gravity : Specific gravity = KW[1 + M100]Lwt dimana : Specific gravity = berat jenis W = berat contoh uji g M = kadar air contoh uji W [1 + M100] = hasil perhitungan berat kering tanur contoh uji L = panjang contoh uji cm w = lebar contoh uji cm t = tebal contoh uji cm K, konstanta = 1 bila digunakan W dalam g dan V dalam cm 3 . 3. Bila persamaan [1 + M100] dipindahkan dari rumus, nilai specific gravity akan didasarkan pada berat dan volume saat pengujian, atau pada kadar air saat pengukuran. Bila nilai pengukuran kadar air di atas titik jenuh serat, specific gravity didasarkan pada volume kayu segar basah.

b. Pengukuran Keterbasahan Kayu dengan Metode Sudut Kontak

Menurut Petrie 2004, keterbasahan kayu tergantung pada tipe kayu tersebut. Salah satu cara yang paling mudah untuk menentukan keterbasahan kayu adalah dengan metode sudut kontak, sudut yang terbentuk antara permukaan kayu dengan perekat yang lebih kecil, menunjukkan bahwa kayu tersebut lebih mudah dibasahi oleh perekat. Metode sudut kontak dilakukan dengan cara penetesan cairan perekat di atas permukaan kayu yang telah diketam halus, dengan menggunakan pipet kecil. Tinggi penetesan ±2 cm di atas permukaan kayu dengan volume tetesan sekitar 0,01 ml. Pemotretan dilakukan 5 detik setelah penetesan. Kamera dilengkapi dengan lensa mikro untuk memperjelas obyek yang kecil. Besarnya sudut kontak diukur berdasarkan besar sudut yang dibentuk antara garis lengkung cairan perekat dengan permukaan horizontal kayu Satuhu, 1987; Sutrisno, 1999 dalam Priyono, 2002.

c. Karakteristik Bambu Tali

Untuk mengetahui kekuatan bambu tali yang digunakan, dilakukan pengujian karakteristik bambu mengacu pada ASTM D 143-94 yang dimodifikasi. Pengukuran Kadar Air 1. Ukuran contoh uji 2 cm x 3 cm x 1 cm ditimbang beratnya setelah kering udara berat awal dan kemudian dimasukkan dalam oven dengan suhu 103±2 o C lalu ditimbang setelah beratnya konstan berat akhir. 2. Perhitungan kadar air dengan rumus : KA = A- BB x 100 dimana : KA = Kadar Air A = massa awal g B = massa kering tanur g Pengukuran Kerapatan Ukuran sampel 2 cm x 3 cm x 1 cm. Penentuan berat jenis bambu atas dasar volume basah dengan tahapan sebagai berikut : 1. Contoh uji dalam keadaan basah ditentukan beratnya BB. 2. Contoh uji dimasukkan kedalam parafin untuk ditentukan volume basahnya VB berdasarkan prinsip Archimedes dengan menghitung perbedaan berat suatu bejana yang berisi air sebelum dan sesudah pencelupan contoh uji. 3. Setelah dibersihkan parafinnya, contoh uji dimasukkan ke dalam oven dengan temperatur 103±2 o C sampai beratnya konstan BKT. 4. Kerapatan diperoleh dengan rumus = BJ = BKT VB