Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru, Kepala Sekolah dan Orang Tua terhadap Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tumbuhan merupakan salah satu sumber kebutuhan makhluk hidup.

Pemanfaatan tumbuhan tidak sekedar untuk kebutuhan sandang, pangan dan
papan lagi, tetapi sudah lama menjadi bahan obat alami. Seiring perkembangan
zaman, bergeraknya pola pikir masyarakat dunia “back to nature” maka
penggunaan tumbuhan obat tidak hanya diminati masyarakat pedesaan tetapi juga
diminati kalangan menengah ke atas. Meningkatnya jumlah pengguna tumbuhan
obat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan tumbuhan obat sebagai bahan obat
alami.
Upaya mengatasi kelangkaan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan
mengacu kepada empat point penting tentang konservasi yaitu, mengidentifikasi
tumbuhan obat yang terancam punah, melestarikan pengetahuan untuk
mempertahankan keanekaragaman tumbuhan obat, menyebarkan bibit tumbuhan
obat di tingkat lokal dan mempromosikan akan pentingnya tumbuhan obat sebagai
dasar yang kuat untuk pengembangan sumberdaya lokal (Cordell 2009 diacu
dalam Indriati 2011).
Dalam rangka menumbuh kembangkan pengetahuan dan pemahaman
mengenai wawasan lingkungan hidup kepada masyarakat serta meningkatkan
mutu sumber daya manusia sebagai pelaksana pembangunan dan pelestari
lingkungan hidup, Pemerintah mengeluarkan surat keputusan bersama yang di
tanda tangani tanggal 01 Februari 2010 antara Menteri Pendidikan Nasional dan
Meteri Lingkungan Hidup dengan surat keputusan No. 03/MenLH/02/2010-No.
01/II/KB/2010 tentang pendidikan lingkungan hidup.
Pendidikan lingkungan hidup diajarkan bertahap sejak pendidikan dasar,
menengah dan tinggi. Kurikulum yang diajarkan pada sekolah dasar di dalamnya
mencakup tentang tumbuhan obat. Tumbuhan obat, pada dasarnya sebagai bahan
obat alami untuk perawatan kesehatan dasar sangat diperlukan untuk menambah
wawasan

pengetahuan.

Apalagi

pengetahuan

tentang

pemanfaatan

dan

2

pengalaman tumbuhan obat tersebut merupakan warisan budaya bangsa turun
temurun.
Keanekaragaman tumbuhan obat di Indonseia merupakan asset yang perlu
dikembangkan. Melalui mata ajaran pendidikan lingkungan hidup khususnya
tumbuhan obat membuka jalan untuk mengupayakan konservasi tumbuhan obat
sejak usia dini. Sejauh ini upaya implementasi konservasi tumbuhan obat di
beberapa sekolah dasar sudah berhasil pada tahap tersedianya kebun TOGA tapi
tidak ada tindak lanjut ke arah pengembangan. Oleh karena itu, perlu adanya
kajian persepsi dan sikap konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar.
Sekolah dasar yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SDN
Pengadilan 5 Bogor. Hal ini dikarenakan sekolah dasar tersebut merupakan salah
satu sekolah dasar yang pernah memiliki kebun TOGA. Kepemilikan kebun
TOGA pada sekolah-sekolah dasar merupakan salah satu implementasi praktik
terhadap pendidikan lingkungan hidup. Tetapi bukti fisik tersebut kadang tidak
ada tindak lanjutnya sehingga tidak menjadi prioritas. Bahkan kebun TOGA
tersebut sudah tidak ada lagi karena dirubah menjadi lapangan olah raga yang
terdesak akan kebutuhan.
Penelitian dilakukan untuk mengetahui persepsi dan sikap murid, orang
tua, guru, dan kepala sekolah di sekolah melalui wawancara. Selanjutnya
dilakukan identifikasi permasalahan, hambatan dan solusi dalam upaya
pengembangannya dari hasil wawancara. Selanjutnya dilakukan pendekatan
SWOT untuk membuat rencana strategis program pengembangan konservasi
tumbuhan obat di sekolah dasar. Dengan dilakukannya penelitian ini akan dapat
diketahui apakah proses pengembangan konservasi tumbuhan obat di sekolah
dasar dapat dilakukan secara riil dan aplikatif.

1.2

Tujuan
Tujuan penelitian ini antara lain untuk memperoleh informasi tentang:

1.

Pengetahuan dan sikap kepala sekolah, guru, murid dan orang tua/komite
sekolah terhadap konservasi tumbuhan obat.

2.

Permasalahan pengembangan konservasi tumbuhan obat di sekolah dasar.

3

1.3

Manfaat
Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam

mengambil kebijakan dan/atau membuat program kegiatan terkait upaya
pengembangan konservasi tumbuhan obat di lingkungan sekolah dasar bagi pihakpihak yang berkepentingan.

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tumbuhan Obat
Menurut Zuhud dan Hariyanto (1994) pengelompokkan tumbuhan

berkhasiat menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Tumbuhan obat tradisional, merupakan jenis tumbuhan yang diketahui
atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan
sebagai bahan baku obat tradisional.
b. Tumbuhan obat modern, adalah sejenis tumbuhan yang secara ilmiah telah
dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat, dan
penggunaanya dapat dipertanggung jawabkan secara medis.
c. Tumbuhan obat potensial, merupakan jenis tumbuhan yang diduga
mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif obat, tetapi belum
dibuktikan penggunaannya secara ilmiah medis sebagai bahan obat dan
penggunaannya secara tradisional belum diketahui.
TOGA adalah singkatan dari tumbuhan obat keluarga. Taman obat keluarga
pada hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang
yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat
dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan.
Menurut Zuhud (2007), terdapat 10 kelompok manfaat TOGA dari berbagai
sudut pandang diantaranya adalah sebagai manfaat medis (kesehatan), estetis
(keindahan), bisnis (usaha), finansial (keuangan), hobi (kesenangan), pendidikan
(pembelajaran),

konservasi

(pelestarian),

budaya,

ekologis

dan

sosial

(kemasyarakatan). Salah satu manfaat TOGA sebagai sarana pendidikan
(pembelajaran) yang merupakan suatu sistem pendidikan yang terfokus pada
kesehatan, baik untuk pemeliharaan kesehatan maupun pengobatan penyakit.
TOGA diibaratkan sebagai perpustakaan, yang diisi tumbuhan obat sebagai bukubukunya atau obyek pembelajaran.

5

2.2

Peran Anak dan Guru dalam Pendidikan
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, aklak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut WF Connell (1972) diacu dalam Yulianto (2010), peran seorang
guru terdiri dari tujuh garis besar yang dibedakan menjadi (1) pendidik (nurturer),
(2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator
terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan
terhadap lembaga. Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang
berkaitan dengan tugas-tugas membei bantuan dan dorongan (supporter), tugastugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan
dengan mendisiplinkn anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan
sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Peran guru sebagai
model atau contoh bagi anak maka tingkah laku pendidik harus sesuai dengan
norma-norma yang di anut. Peran guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam
pengalaman belajar, maka guru harus memberikan pengetahuan, ketermpilan dan
pengalaman lain di luar fungsi sekolah. Peran guru sebagai pelajar, maka guru
dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan ketermpilan agar tidak
ketinggalan zaman. Peran guru sebagai komunikator pembangun masyarakat,
seorang guru diharapkan dapat aktif berperan dalam pembangunan di segala
bidang yang sedang dilakukan. Peran guru sebagai administrator, guru tidak hanya
sebagai pendidik dan pengajar tetapi juga sebagai administrator dalam bidang
pendidikan dan pengajaran.
Menurut Daoed Yoesoef (1980) diacu dalam Marjohan (2010), menyatakan
bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas
manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (civic mission). Jika dikaitkan pembahasan
tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika,
tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas-tugas profesional dari
seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan

6

dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya
diketahui oleh anak. Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik
agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaikbaiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri
sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. Tugas kemasyarakatan merupakan
konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan
melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara.
Menurut Setiono (2007), seorang guru selain mendidik siswa secara tidak
langsung juga mengajarkan pendidikan konservasi yang dapat mendorong
meningkatkan kesadaran dan kepedulian akan arti penting konservasi alam. Sadar
lingkungan dapat diartikan sebagai bagian dari kesadaran diri yang bertumpu pada
terbentuknya hubungan positif antara individu dengan lingkungan alam, social
dan lingkungan yang telah terbentuk dengan memperhatikan keteraturan ekologi
(Rachmawati 2007). Secara tidak dipaksakan siswa mulai tahu, mengerti, sadar,
menghargai, melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan upaya
konservasi (Setiono 2007).
2.3

Peran Orang Tua atau Komite Sekolah dalam Pendidikan
Menurut Hurlock (1978), lingkungan tempat anak hidup bertahun-tahun

pembentukan awal hidupnya mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan bawaan
mereka. Karena dasar untuk pola sikap dan perilaku diletakkan secara dini, yaitu
ketika lingkungan itu terbatas pada rumah dan kontak sosial umumnya terdapat di
antara anggota keluarga, dasar ini “tumbuh dari rumah”. Bahkan dengan
bertambah besarnya anak dan meningkatnya waktu yag dihabiskan dengan
anggota kelompok teman sebayanya, di lingkungan tempat tinggal dan sekolah,
pengaruh rumah pada dasar awal akan tetap tampak nyata.
Menurut Hurlock (1978), alasan kenapa dasar awal sangat penting yang
cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dari perilaku anak sepanjang
hidupnya :
a. Karena hasil belajar dan pengalaman semakin memainkan peran dominan
dalam perkembangan dengan berambahnya usia anak, mereka dapat
diarahkan ke saluran yang akan membawa kea rah penyesuaian yang baik.
Pada dasarnya, tugas ini ditangani oleh keluarga

7

b. Karena dasar awal cepat berkembang menjadi pola kebiasaan, hal itu akan
mempunyai pengaruh sepanjang hidup dalam penyesuaian pribadi dan
sosial anak itu.
c. Pola sikap dan perilaku yang dibentuk pada awal kehidupan, cenderung
bertahan, tidak jadi soal apakah hal itu baik atau buruk, menguntungkan
atau merugikan penyesuaian anak.
d. Karena adakalanya diinginkan perubahan dalam apa yang diajarkan,
semakin cepat perubahan ini dibuat, semakin mudah bagi anak-anak dan
akibatnya mereka semakin lebih mau bekerja sama dalam mengadakan
perubahan itu.
Dari hasil penelitian Rollins dan Thomas yang dilaporkan oleh Lewin dan
Havighurst (1982) diacu dalam Marjohan (2010) menyatakan bahwa (1) makin
besar dukungan orang tua makin tinggi tingkat perkembangan kognitif anak, (2)
makin kuat pemaksaan yang diberikan oleh orang tua maka makin rendah
perkembangan kognitif anak, (3) makin besar dukungan orang tua, makin tinggi
kemampuan sosial dan kemampuan instrumental anak, (4) makin kuat tingkat
pemaksaan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya maka makin rendah
kemampuan sosialnya, (5) bagi anak perempuan besarnya dukungan dan frekuensi
usaha pengawasan orang tua berkorelasi negatif terhadaap pencapaian prestasi
akademik, (6) bagi anak laki-laki besarnya dukungan orang tua dan kuatnya
pengawasan orang tua berkorelasi positif terhadap pencapaian prestasi belajar.
Keluarga dan sekolah memiliki hubungan yang erat terhadap pendidikan
sebab secara hukum orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan
anak, tetapi secara hukum pemerintah/negara bertanggung jawab untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu wujud aktualisasi dalam dunia
pendidikan dibentuklah

suatu badan yang mengganti keberadaan Badan

Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No: 044/U/2002 tanggal 2 April 2002.
Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas perlunya
keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Selain itu, Komite Sekolah diharapkan dapat mengoptimalkan peran serta orang
tua dan masyarakat dalam memajukan program pendidikan.

8

Menurut Kepmendiknas No: 044/U/2002 peran Komite Sekolah adalah
sebagai berikut:
1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan
kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran,
maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Pengontrol

(controlling

agency)

dalam

rangka

transparansi

dan

akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan
pendidikan.
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan
pendidikan.
Menurut Depdiknas adanya hubungan harmonis antara sekolah dan
masyarakat

yang

diwadahi

dalam

organisasi

Komite

Sekolah

dapat

mengoptimalkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam memajukan program
pendidikan dalam bentuk :
1. Orang tua dan masyarakat membantu menyediakan fasilitas pendidikan,
memberikan bantuan dana serta pemikiran atau saran yang diperlukan
sekolah,
2. Orang tua memberikan informasi kepada sekolah tentang potensi yang
dimiliki anaknya,
3. Orang tua menciptakan rumah tangga yang edukatif bagi anak.
2.4

Pengetahuan dan Sikap
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan adalah segala sesuatu

yang diketahui. Menurut Arafah (2002) diacu dalam Asiah (2009), pengetahuan
adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan
inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal
budidaya untuk menggali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat
atua dirasakan sebelumnya.
Pengetahuan dapat pula diartikan sebagai kapasitas manusia untuk
memahami dan menginterpretasikan baik hasil pengamatan maupun pengalaman,
sehingga bisa digunakan untuk meramalkan ataupun sebagai dasar pertimbangan
dalam keputusan. Pengetahuan merupakan keluaran dari proses pemahaman dan

9

interpretasi yang masuk akal. Namun pengetahuan bukanlah merupakan
kebenaran yang bersifat mutlak. Pengetahuan sendiri tidak mengarah ke suatu
tindakan nyata (Sunaryo dan Joshi 2003 diacu dalam Asiah 2009).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek (Notoatmojo 1996). Menurut Rosenberg dan Hovland
(1960) diacu dalam Zuhud (2007), sikap merupakan kecenderungan bertindak
(tend to act), kesediaan bereaksi atau berbuat sesuatu hal dalam masyarakat,
menunjukkan bentuk, arah dan sifat yang merupakan dorongan, respon dan
refleksi dari stimulus. Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu cognitive
(pengalaman, pengetahuan, pandangan dan lain-lain), affective (emosi, senang,
benci, cinta, dendam, marah, masa bodoh, dan lain-lain), behavioral / over actions
(perilaku, kecenderungan bertindak).
Menurut Notoatmojo (1996), sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek),
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu
usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang
lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.
Menurut Purwanto (1998) diacu dalam Suparyanto (2010), sikap memiliki
dua macam sifat, yaitu :
1) Sikap positif (favorable), kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
2) Sikap negatif (unfavorable) terdapat kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.

10

Azwar (1988) diacu dalam Aline (2003) berpendapat bahwa pembentukan
sikap dipengaruhi oleh tiga proses social, yaitu kesediaan, identifikasi dan
internalisasi.
2.5

Analisis SWOT
Strategi adalah alat-alat mencapai tujuan usaha dalam kaitannya dengan

tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya
(Chandler 1962 diacu dalam Rangkuti 2000 diacu dalam Aline 2003). Dalam
perkembangannya konsep mengenai strategi terus berkembang.
Menurut Start dan Hovland (2002), analisis SWOT adalah instrument
perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja
kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini
memberikan

cara

sederhana

untuk

memperkirakan

cara

terbaik

untuk

melaksanakan sebuah strategi.
SWOT adalah sebuah singkatan dari, S adalah “strength” atau kekuatan, W
adalah ”weakness” atau kelemahan, O adalah “opportunity” atau kesempatan, dan
T adalah ”threat” atau ancaman. SWOT ini biasa digunakan untuk menganalisis
suatu kondisi dimana akan dibuat sebuah rencana untuk melakukan sesuatu,
sebagai contoh, program kerja (Hadi 2008).

Gambar 1 Analisis SWOT (Start dan Hovland 2002).

11

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 5 Bogor,

pada bulan September sampai bulan Oktober 2011.
3.2

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat tulis, panduan

wawancara dan kamera. Bahan atau obyek pada penelitian ini adalah hasil
wawancara responden atau sampel berupa warga SDN Pengadilan 5 Bogor.
3.3

Sampel Penelitian
Sampel penelitian merupakan bagian SDN Pengadilan 5 Bogor yang terdiri

dari siswa, orang tua murid, kepala sekolah, guru, dan staff pegawai. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1 Sampel penelitian
No.

Elemen
Responden

1

Siswa

2

Orang tua

3

Guru

Metode
pemilihan
responden
Purposive
sampling

Metode
wawancara

Jumlah
responden

Keterangan

Wawancara
dengan panduan
wawancara

120 orang

Responden terdiri
dari siswa kelas IIIVI, masing-masing
kelas terdiri dari 15
orang perempuan
dan 15 orang lakilaki

Purposive
sampling

Wawancara
dengan panduan
wawancara

80 orang

Responden
merupakan orang tua
yang mengantar,
menunggu atau
menjemput anaknya
di sekitar SD.

Snowball
sampling

Indeepth
interview dengan
panduan
wawancara

10 orang

Responden terdiri
dari kepala sekolah,
wakil kepala sekolah
bagian kurikulum,
guru mata pelajaran,
wali kelas, pegawai
tata usaha dan
penjaga sekolah.

12

3.3.1 Siswa
Kelompok responden pertama adalah siswa. Metode pemilihan responden
dengan purposive sampling atau pemilihan dengan unsur kesengajaan dan tujuan
tertentu. Tingkatan kelas siswa yang dipilih berasal dari kelas III, IV, V, dan VI atau
kelas atas. Kelas III dan IV merupakan kelompok kelas yang belum mendapatkan
materi pelajaran tumbuhan obat di kelas berdasarkan kurikulum. Sedangkan, kelas V
dan VI merupakan kelompok kelas yang sudah mendapatkan materi pelajaran
tumbuhan obat di kelas berdasarkan kurikulum.
Pemilihan responden berdasarkan sudah atau belum menerima pelajaran
tumbuhan obat berdasar kurikulum agar memudahkan mendapatkan informasi
pengetahuan dan pengalaman. Selain itu, responden berada pada satu kelas usia
perkembangan, yaitu rentang usia 7-11 tahun. Responden berjumlah 120 orang yang
terdiri dari 30 orang masing-masing kelas dan perbandingan jenis kelamin 1:1 (15
orang laki-laki dan 15 orang perempuan).

3.3.2 Orang Tua
Responden kedua adalah orang tua siswa. Metode pemilihan responden
dengan purposive sampling. Orang tua dapat dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu yang terlibat dan tidak terlibat dalam Komite Sekolah. Keduanya menjadi
responden pada penelitian ini, tetapi jumlahnya tidak berimbang. Dari jumlah
responden orang tua sebanyak 80 orang hanya empat orang Komite Sekolah yang
dapat ditemukan untuk wawancara. Hal ini dikarenakan responden yang
diwawancara merupakan orang tua yang mengantar, menunggui atau menjemput
anaknya di sekitar sekolah. Biasanya yang memiliki waktu luang melakukan hal
tersebut adalah ibu rumah tangga. Karena orang tua yang memiliki pekerjaan tetap
di kantor akan bersinggungan dengan jam kerja untuk mengantar, menunggui atau
menjemput anaknya. Sebagai gantinya, di sekolah terdapat fasilitas mobil
jemputan untuk memudahkan orang tua siswa mengatasi hal tersebut.
3.3.3 Guru
Kelompok responden ketiga adalah guru. Metode pemilihan responden
dengan Snowball sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan yang ditunjuk
oleh kepala sekolah. Pertimbangannya adalah pengetahuan, pengalaman, jabatan,

13

ketersediaan waktu dan kesediaan untuk diwawancara. Responden terdiri dari
kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru mata pelajaran, wali
kelas, pegawai tata usaha dan penjaga sekolah. Dengan perwakilan elemen
tersebut diharapkan sudah mewakili staff/pegawai di sekolah. Sehingga 10 orang
dari 24 orang sudah terwakili dengan adanya klasifikasi tersebut.
3.4

Metode Penelitian
Penelitian “ Pengetahuan dan Sikap Murid, Guru dan Orang Tua terhadap

Konservasi Tumbuhan Obat di SDN Pengadilan 5 Bogor” terdiri dari beberapa
tahapan yaitu: kajian kondisi umum sekolah, mengetahui pengetahuan dan sikap
responden, identifikasi permasalahan, pengolahan dan analisis data, dan
pembuatan program yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2 Tahapan penelitian
Jenis Kegiatan

Aspek yang di kaji

1

Kajian Kondisi
Umum SD Negeri
Pengadilan 5
Bogor

Letak dan luas, kondisi
demografi guru dan siswa,
keadaan sarana dan prasarana
sekolah.

Dokumen
sekolah

Studi literatur
dan survei
lokasi

2

Mengukur
pengetahuan dan
sikap responden

Pengetahuan responden
terhadap tumbuhan obat,
jenis yang sudah diketahui,
manfaatnya, pengalaman dan
sikapnya terhadap tumbuhan
obat.

Siswa, orang
tua siswa dan
guru.

Wawancara

3

Identifikasi
permasalahan

Permasalahan dan solusi yang
di usulkan responden.

Orang tua
siswa dan guru

Wawancara

4

Pengolahan dan
Analisis Data

a. pengolahan data
b. analisis data

5

Membuat program

Program disusun dari data
yang ada berdasarkan
permasalahan dan solusi yang
teridentifikasi.

Wawancara,
Pengamatan
lapang
Hasil
wawancara

Tabulasi,
Deskriptif
kualitatif
Pendekatan
SWOT

No

Sumber Data

Metode

3.4.1 Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan data yang mendukung
penelitian ini melalui laporan bulanan sekolah, buku, jurnal, dan internet. Data-

14

data tersebut kemudian dijadikan acuan dan panduan untuk melengkapi data hasil
pengamatan di lapangan.
3.4.2 Wawancara
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan
panduan wawancara. Panduan wawancara ditanyakan kepada siswa, guru dan
orang tua/komite dengan pernyataan berbeda. Hasil wawancara digunakan untuk
mengetahui pengetahuan tentang tumbuhan obat, persepsi penggunaan tumbuhan
obat dan sikap terhadap konservasi tumbuhan obat. Selain itu, wawancara juga
dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan solusi yang ada terkait dengan
konservasi tumbuhan obat di SDN Pengadilan 5 Bogor.
3.4.3 Pengolahan dan Analisis Data
Data-data yang diperoleh dari studi literatur dan data yang diperoleh dari
wawancara siswa, guru dan orang tua, diolah secara tabulasi dan di analisis secara
kualitatif serta dijelaskan secara deskriptif. Data dari hasil mewawancarai
responden kemudian diklasifikan dalam bentuk tabel, mengidentifikasi persepsi
dan sikap responden, mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul
dan solusinya. Selain itu, pada hasil wawancara juga dilakukan pendekatan
SWOT.

Selanjutnya

dilakukan

penyusunan

rencana

stretegis

program

pengembangan. Data yang diperoleh dari studi literature digunakan sebagai data
penunjang dalam mendeskripsikan data hasil wawancara.
3.4.4 Penyusunan Program
Pembuatan program dilakukan berdasarkan analisis hasil wawancara dengan
menggunakan pendekatan metode analisis SWOT. Pembuatan program dilakukan
sebagai rekomendasi kepada pihak sekolah dalam rangka strategi pengembangan
konservasi tumbuhan obat secara manajemen kolaborasi di SDN Pengadilan 5
Bogor.

15

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI

4.1

Letak dan Luas Sekolah
Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 5 Bogor merupakan salah satu sekolah

dasar yang berada di komplek Jalan Pengadilan, Pasar Anyar dengan alamat Jl.
Pengadilan No. 10 Desa Pabaton, Kelurahan Bogor Tengah, Kota Bogor, Propinsi
Jawa Barat. Sekolah ini didirikan pada tahun 1920 di atas tanah milik pemerintah
seluas 1015 m².
4.2

Kondisi Demografi Guru dan Siswa
Berdasarkan data laporan keadaan per September 2011 tahun ajaran 2011-

2012, total siswa SDN Pengadilan 5 Bogor adalah 651 siswa dengan persentase
perempuan sebesar 51 % dan laki-laki 49 % (Gambar 2).

Gambar 2 Persentase seluruh siswa berdasarkan jenis kelamin.
Siswa terbanyak berada di kelas dua dengan jumlah 123 orang (lihat Tabel
3). Tetapi kelas satu dan dua tidak dijadikan responden dalam penelitian ini.
Selain itu, waktu belajar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas I, II, V dan VI
sekolah pada pagi hingga siang hari dan kelas III sampai IV sekolah pada siang
hingga sore hari.
Tabel 3 Jumlah seluruh siswa di SDN Pengadilan 5 Bogor
Jenis
kelamin
Laki-laki
Perempuan

Kelas
I
52
60

II
63
60

III
60
59

IV
54
52

V
48
50

VI
41
52

SDN Pengadilan 5 memiliki 21 orang guru dengan perbandingan laki-laki
dan perempuan adalah 7 orang dan 14 orang (Gambar 3).

16

Gambar 3 Persentase jenis kelamin guru.
Tingkat pendidikan terakhir seluruh guru diantaranya adalah : SMA, SPG,
D2, D3, S1 dan S2 (Tabel 4). Dengan pendidikan terakhir terbanyak adalah S1
sejumlah 29% dan yang paling sedikit adalah S2 (4%) dan D3 (4%). Hal ini dapat
berpengaruh terhadap kualitas guru dalam mendidik anak didik.
Tabel 4 Pendidikan terakhir guru
No
1
2
3
4
5
6

4.3

Pendidikan terakhir
SMA
SPG
D2
D3
S1
S2

Jumlah (orang)
4
2
9
1
7
1

Persentase (%)
17
8
38
4
29
4

Keadaan Sarana dan Prasarana Sekolah
Keadaan sarana dan prasarana SDN Pengadilan 5 tergolong sangat baik. Hal

ini dapat dilihat dari kondisi ruangan dan meubeler dalam kondisi baik. Sekolah
memiliki tujuh ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang UKS, ruang
computer, ruang tata usaha, ruang komite, ruang kantin sehat, ruang perpustakaan,
musholla, dapur dan toilet dalam keadaan baik. Jenis meubeler diantaranya adalah
meja, kursi, lemari, meja guru, kursi guru, papan tulis, kursi tamu dan rak buku
dengan rincian yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5 Keadaan meubeler SDN Pengadilan 5 Bogor
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Meubeler
Meja siswa
Kursi siswa
Lemari
Meja Guru
Kursi Guru
Papan tulis
Kursi tamu
Rak buku

Keadaan
Baik
203
406
17
18
7
1
5

Sedang
15
5
20
2
-

17

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kondisi Demografi Responden
5.1.1 Siswa
Responden siswa yang diambil menggunakan metode purposive sampling”
dengan jumlah 120 orang yang terdiri dari siswa kelas III sampai kelas VI.
Masing-masing kelas terdiri dari 30 orang dengan komposisi 15 orang laki-laki
dan 15 orang perempuan, seperti terlihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6 Komposisi responden siswa
No
1
2
3
4

Kelas
III
IV
V
VI

Responden Laki-laki
(orang)
15
15
15
15

Responden Perempuan
(orang)
15
15
15
15

Responden siswa terbagi ke dalam dua waktu belajar, yaitu pagi dan siang.
Siswa yang sekolah siang merupakan kelas III dan IV, selain itu waktu belajarnya
pagi. Hal ini dikarenakan kapasitas ruang kelas yang tidak memadai. Oleh karena
itu, proses wawancara waktu belajar siang dilaksanakan sekitar jam 12 hingga
masuk sekolah yaitu pukul 13.00. Sedangkan waktu belajar pagi, diwawancara
ketika istirahat dan setelah pulang sekolah. Selain perbedaan waktu belajar,
responden juga terbagi ke dalam dua kelompok yaitu yang belum mempelajari
tumbuhan obat secara kurikulum seperti kelas III-IV dan yang sudah mempelajari
tumbuhan obat secara kurikulum seperti kelas V-VI. Berdasarkan kurikulum
KTSP, tumbuhan obat dipelajari di kelas V pada semester I awal pembelajaran.
Responden siswa memiliki variasi umur antara usia tujuh sampai 11 tahun
dengan perbandingan persentase yang dapat dilihat pada Tabel 7. Pada tabel ini
menunjukkan adanya ketidakseragaman usia responden walau mereka berada
dalam satu kelas yang sama.
Menurut Piaget (1952) diacu dalam Esti (2002), kemampuan atau
perkembangan kognitif adalah hasil dari hubungan perkembangan otak dan sistem
nervous dan pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk beradaptasi
dengan lingkungannya. Piaget (1964) diacu dalam Esti (2002) membagi
perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir

18

sampai dewasa, yaitu sensori motorik (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun),
operasional konkret (7-11 tahun) dan operasonal formal (11 tahun-dewasa). Usia
responden termasuk dalam tahap operasional konkret, pada tahap ini manusia
mampu berpikir logis, mampu konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi
sekaligus dan juga dapat menghubungkan dimensi satu sama lain, kurang
egosentris dan belum bisa berpikir abstrak.
Tabel 7 Usia responden siswa
No
1
2
3
4
5

Usia (tahun)
7
8
9
10
11

Upaya

Jumlah (orang)
1
29
23
37
30

pengembangan

kognitif

siswa

Persentase (%)
1
24
19
31
25

dapat

dilakukan

dengan

memfasilitasinya dalam berbagai bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan
ekstrakurikuler di SDN Pengadilan 5 Bogor dilaksanakan pada hari sabtu yang
terdiri dari basket, bulu tangkis, futsal, catur, tari lukis, karawitan, bahasa Inggris,
BTQ dan Pramuka. Selain itu, tahun lalu sekolah ini pernah bekerja sama dengan
Himpunan

Mahasiswa

(HIMAKOVA)

Fakultas

Konservasi
Kehutanan

Sumberdaya
IPB

dalam

Hutan

dan

Ekowisata

ekstrakurikuler

Pecinta

Lingkungan Hidup (PLH) dan ada pula “dokter kecil” tetapi tahun ini keduanya
sedang tidak aktif.
5.1.2 Guru
Responden Guru terdiri dari 10 orang dengan rincian Kepala Sekolah, Wakil
Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran, Pegawai
TU dan Penjaga Sekolah. Dengan perbandingan responden laki-laki dan
perempuan sebesar 30% : 70% (lihat Gambar 4). Perbandingan responden tidak
seimbang dikarenakan metode pemilihan responden dengan metode snowball.
Pewawancara pertama kali menemui kepala sekolah yang kemudian menunjuk
responden selanjutnya yang akan diwawancara.

19

Gambar 4 Perbandingan jumlah responden guru.
Guru yang mengajar di SDN Pengadilan 5 berada pada rentang usia 21
tahun hingga 60 tahun. Sedangkan, yang menjadi responden mayoritas berada
pada rentang usia 41-50 tahun (Tabel 8). Menurut Hurlock (1980), responden
berada pada selang usia dewasa dini (18-40 tahun) dan dewasa madya (40-60
tahun). Pada selang usia tersebut, telah terjadi perubahan fisik dan psikologis yang
disertai penurunan kemampuan reproduksi di akhir masa dewasa dini, serta mulai
berkurangnya kemampuan fisik di masa dewasa madya.
Tabel 8 Rentang usia guru SDN Pengadilan 5 Bogor
No
1
2
3
4

Rentang Usia (tahun)
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51
– 60

Jumlah (orang)
1
1
6
2

Dari kesepuluh responden terdapat perbedaan pengalaman dan lama
mengajar di SDN Pengadilan 5. Lama bekerja berada pada rentang 1-40 tahun dan
jumlah guru yang telah memiliki pengalaman mengajar selama 21-30 tahun
memiliki jumlah yang paling besar yaitu 6 orang (Tabel 9). Hal ini
mengindikasikan bahwa guru yang mengajar di sekolah tersebut telah memiliki
pengalaman yang cukup lama. Walau demikian, lama bekerja merupakan
akumulasi dari pengabdian pada beberapa sekolah, bukan lama bekerja murni di
sekolah ini.
Tabel 9 Lama bekerja guru SDN Pengadilan 5 Bogor
No
1
2
3
4
5

Lama Bekerja (tahun)
<1
1 – 10
11 – 20
21 – 30
31 – 40

Jumlah (orang)
1
1
1
6
1

20

Sehingga pengalaman memiliki peluang tersampaikan dalam proses
kegiatan belajar mengajar. Menurut Skinner (1953) diacu dalam Esti (2002), suatu
perbuatan seseorang yang diikuti oleh konsekuen-konsekuen yang menyenangkan
(reinforced), akan di ulang pada situasi yang hampir sama pada waktu yang akan
datang. Hasil penelitian Madsen (1998) diacu dalam Esti (2002) menyatakan
bahwa pentingnya guru sebagai reinforcer. Oleh karena itu, pengalaman yang
menyenangkan dari guru akan berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar di
kelas secara khusus dan sekolah secara umum.
5.1.3 Orang Tua
Responden orang tua terdiri dari 80 orang dengan perbandingan laki-laki
dan perempuan sebesar 6% dan 94%. Adanya perbedaan perbandingan yang nyata
dikarenakan responden merupakan orang tua siswa yang mengantar, menunggu
atau menjemput anaknya di sekitar sekolah (depan pagar sekolah dan halaman
dalam sekolah). Tidak semua orang tua melakukan hal ini karena tersedianya
fasilitas antar-jemput siswa bagi orang tua yang sibuk. Sehingga responden yang
memiliki waktu luang saat itu adalah perempuan (lihat Tabel 10).
Penentuan responden dilakukan dengan cara metode purposive sampling
dengan waktu wawancara pada jam kerja, yaitu pukul 08.00 – 12.00
Tabel 10 Data pekerjaan responden orang tua
No
1
2
3
4
5

Pekerjaan Orang Tua
Wiraswasta
Swasta
PNS
IRT
Pensiunan

Jumlah (orang)
6
7
3
63
1

Persentase (%)
7
9
4
79
1

Orang tua siswa yang menjadi responden kebanyakan berpendidikan
terakhir SMA dengan persentase sebesar 47% dan yang paling sedikit adalah SPG
(Sekolah Pendidikan Keguruan) 1%. Hal ini menunjukkan responden memiliki
tingkat pendidikan terakhir yang terbilang sedang (lihat Tabel 11) dan baik karena
semuanya melalui sekolah menengah, SMP maupun SMA. Pendidikan terakhir
orang tua ternyata memberikan pengaruh ketika proses wawancara berlangsung.
Orang tua yang berpendidikan terakhir perguruan tinggi memberikan respon
positif dan mudah ketika ditanya lebih jauh. Orang tua yang berpendidikan
terakhir menengah hingga ke bawah memiliki respon biasa bahkan ada yang
negatif sehingga hanya memberikan jawaban sekedarnya saja.

21

Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti jalur pendidikan
formal, non-formal dan informal. Menurut Nurmayanti (2007) sumber
pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati berasal dari buku, koran/majalah,
media elektronik, internet, lokakarya/seminar/pelatihaan, teman kerabat, aparat
pemerintah dan sumber lainnya/peraturan.
Beranekaragamnya sumber informasi tersebut maka dapat mempengaruhi
pengetahuan

seseorang.

Tinggi-rendahnya

pengetahuan

orang

tua

akan

disampaikan orang tua kepada anaknya dalam sehari-hari, misal untuk membantu
mengerjakan pekerjaan rumah, tugas dan lainnya.
Tabel 11 Data pendidikan terakhir responden orang tua
No
1
2
3
4
5
6

Pendidikan terakhir
SMP
SMA sederajat
D3
S1
S2
SPG

Jumlah (orang)
7
38
14
17
3
1

Persentase (%)
9
47
18
21
4
1

Berdasarkan hasil wawancara usia responden orang tua mayoritas berada
pada rentang 36–40 tahun (lihat Tabel 12). Hal ini menunjukkan bahwa responden
orang tua masih berada pada usia produktif. Oleh karena itu, banyak orang tua
yang mengantar, menunggu dan menjemput anaknya di sekolah meskipun tersedia
fasilitas antar-jemput dari sekolah, hal tersebut sekaligus untuk mengontrol
anaknya.
Tabel 12 Kelas umur responden orang tua
No
1
2
3
4

Kelas Umur (tahun)
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51 – 60

Jumlah (orang)
15
40
18
7

Menurut Hurlock (1980), responden berada pada selang usia dewasa dini
(18-40 tahun) dan dewasa madya (40-60 tahun). Pada selang usia tersebut, telah
terjadi perubahan fisik dan psikologis yang disertai penurunan kemampuan
reproduksi di akhir masa dewasa dini, serta mulai berkurangnya kemampuan fisik
di masa dewasa madya.
5.2

Pengetahuan Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat
Pengetahuan responden terhadap konservasi tumbuhan obat diperoleh

dengan memberikan pilihan pernyataan tahu arti tumbuhan obat. Pernyataan

22

tersebut dapat diperdalam lagi dengan menanyakan jenis-jenis tumbuhan obat
yang diketahui oleh responden sehingga dapat diketahui jumlah tumbuhan obat
yang teridentifikasi.
5.2.1 Siswa
Responden yang mengetahui arti tumbuhan obat sebanyak 73%, responden
yang dapat menyebutkan contohnya hanya 17% dan jenis tumbuhan obat yang
teridentifikasi adalah 13 jenis tumbuhan obat dengan rincian yang dapat dilihat
pada Tabel 13. Responden tidak seluruhnya mengetahui atau mengingat nama
tumbuhan obat yang digunakan sehingga hanya 49% responden saja yang dapat
menyebutkan tumbuhan obat tersebut.
Tabel 13 Tumbuhan obat yang diketahui responden siswa
No
1
2
3
4
5
6

Tumbuhan Obat
Jahe (Zingiber officinale Roxb.)
Sirih (Sirih betle L.)
Lidah buaya (Aloe vera (L.) Webb.)
Babadotan (Ageratum conyzoides L)
Kunyit (Curcuma domestica Vahl)
Lainnya

Jumlah (orang)
20
14
10
2
5
8

Persentase (%)
34
24
17
3
8
14

Pada tabel di atas teridentifikasi tumbuhan obat “lainnya”, hal ini
dikarenakan jumlah yang teridentifikasi tiap jenis tanaman hanya satu responden
yang menyebutkan atau mengetahuinya. Tumbuhan obat tersebut antara lain
adalah kayu putih (Melaleuca leucadendra (L.) L.), tomat (Lycopersicon
lycopersicum (L.) Karsten), benalu teh (Dendrophthoe pentandra Miq), kumis
kucing (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia
(Christm.& Pantz.) Swingle), daun jarak (Jatropha curcas L), tali putri (Cassytha
filiformis L.) dan kencur (Kaempferia galanga L).
Pada Gambar 5 terlihat perbedaan antara yang sudah dan belum
mempelajari tumbuhan obat secara kurikulum. Siswa kelas III yang belum
mempelajari tumbuhan obat hanya 11 orang yang mengetahui arti tumbuhan obat,
sedangkan kelas IV sampai VI yang sudah mempelajari tumbuhan obat sebanyak
24 orang dan 26 orang mengetahui arti tumbuhan obat. Tetapi hal ini tidak
berlaku pada kelas IV yang belum mempelajari tumbuhan obat. Bahkan
responden kelas IV paling banyak mengetahui arti tumbuhan obat yaitu sejumlah
27 orang. Hal ini dikarenakan responden memiliki pengalaman menggunakan

23

tumbuhan obat dalam kehidupan sehari-hari seperti minum jamu dan ketika sakit
diberikan tumbuhan obat oleh orang tua.

Gambar 5 Perbandingan responden yang mengetahui arti tumbuhan obat.
Pilihan pernyataan selanjutnya yang diberikan kepada responden adalah
sudah pernah mengkonsumsi tumbuhan obat. Berdasarkan hasil wawancara
sebanyak 77% responden pernah mengkonsumsi tumbuhan obat dengan rincian
yang dapat dilihat pada Tabel 14.
Responden terbanyak yang pernah menggunakan tumbuhan obat adalah
kelas IV sebanyak 28 orang dan yang paling sedikit pernah menggunakan
tumbuhan obat adalah kelas III sebanyak 17 orang. Pengalaman menggunakan
tumbuhan obat mengakibatkan kelas IV yang belum pernah mendapat materi
pelajaran tumbuhan obat secara kurikulum tetapi sudah memiliki pengetahuan
tentang tumbuhan obat secara otodidak. Pengalaman ini melibatkan peran serta
guru sebagai pendidik di sekolah dan orang tua sebagai pendidik di rumah.
Menurut Zuhud (2007), pengalaman merupakan salah satu komponen sikap, yaitu
cognitive.
Tabel 14 Responden yang pernah pakai tumbuhan obat
Pernah pakai
tumbuhan obat
Ya
Tidak

Kelas
III (orang)
17
13

IV (orang)
28
2

V (orang)
26
4

VI (orang)
21
9

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengalaman lebih memiliki
pengaruh terhadap responden dibandingkan pembelajaran di sekolah. Siswa kelas
IV lebih banyak yang pernah mencoba tumbuhan obat dibandingkan kelas
lainnya. Sedangkan kelas VI (21 orang) yang sudah mempelajari tumbuhan obat

24

memiliki jumlah yang hampir sama dengan responden yang belum mempelajari
tumbuhan obat, yaitu kelas III (17 orang).
5.2.2 Kepala Sekolah
Pengetahuan Kepala Sekolah (responden) sangat baik terhadap konservasi
tumbuhan obat karena responden mengetahui arti tumbuhan obat dan dapat
menyebutkan beberapa jenis tumbuhan obat. Hal ini dikarenakan responden sudah
terbiasa memakai tumbuhan obat untuk kebutuhan sehari-hari.
Pengalaman yang pernah di alami oleh responden dalam pengobatan
konvensional, diantaranya adalah merawat tubuh pakai air teh, mengobati sakit
perut dan menambah nafsu makan pakai kunyit dan mengobati sakit mata dengan
kencur. Hal ini membuktikan bahwa pengalaman akan menambah pengetahuan
terhadap konservasi tumbuhan obat, walaupun responden belum pernah mengikuti
pelatihan khusus tentang tumbuhan obat.
Menurut Kepala Sekolah (responden), sangat penting mempelajari
tumbuhan obat karena secara fungsional sebagai pengobatan pokok non alternatif
apalagi pada zaman dahulu, memperindah lingkungan dan untuk memanfaatkan
lahan kosong. Selain itu, sangat penting juga mengajarkan tumbuhan obat kepada
siswa agar siswa mengetahui di Indonesia banyak terdapat tumbuhan untuk obat.
Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup
dalam memenuhi resolusi Belgrade Internasional Conference on Environmental
Education (1975) dalam Sutaryono (1999) dalam Putro (2003), yaitu kesadaran
(awareness), pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), keterampilan (skill),
kemampuan evaluasi (evaluation ability), dan peran serta (participation).
5.2.3 Guru
Pengetahuan responden guru terhadap konservasi tumbuhan obat sangat
baik hal ini dapat terlihat dari seluruh guru mengetahui arti tumbuhan obat.
Bahkan 90% responden dapat menyebutkan contoh tumbuhan obat. Tumbuhan
obat yang diketahui sejumlah 13 jenis, diantaranya adalah babadotan (Ageratum
conyzoides L), bunga ros (Rosa chinensis Jacq), daun dewa (Gynura procumbens
(Lour) Merr), daun sirih (Piper betle L), daun sirsak (Annona muricata L), bunga
sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L), daun singkong (Manihot utilissima Pohl), jawer
kotok (Scutellaria discolor Colebr), handeuleum (Gratophyllum pictum), daun

25

salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp), ginseng (Talinum triangulare),
mengkudu (Morinda citrifolia L) dan bawang (Allium cepa Linn).
Tumbuhan obat yang teridentifikasi merupakan contoh yang sudah biasa
digunakan oleh responden, pengalaman orang terdekat dan kepemilikan di rumah.
Seluruh responden pernah memakai tumbuhan obat. Bahkan ada responden yang
rutin menggunakan tumbuhan obat, misal untuk mengantisipasi darah tinggi
dengan menggunakan daun salam dan memakai daun sirih setelah haid.
Pengetahuan dan pengalaman responden yang bervariatif diperoleh dengan
berbagai cara. Walau demikian responden tidak ada yang pernah mengikuti
pelatihan khusus tumbuhan obat, mereka memperoleh pengetahuan dari koran,
majalah, televisi, internet, buku pelajaran, pengalaman dari orang yang lebih tua
dan buku-buku pelajaran. Oleh karena itu, responden berharap ada program
kegiatan yang dapat menambah kapasitas seluruh guru terkait tumbuhan obat,
misal praktik membuat produk. Diharapkan seluruh guru agar tidak hanya
mengandalkan beberapa guru, karena rawan akan keberlanjutan ilmu pengetahuan
dan pengalaman.
5.2.4 Orang Tua
Responden yang mengetahui arti tumbuhan obat sebanyak 81%. Tetapi
responden tidak semuanya bersedia untuk menyebutkan artinya, sebanyak 55
orang (56%) bersedia menyebutkan arti tumbuhan obat dan 44% tidak bersedia
menyebutkan arti tumbuhan obat walaupun responden menjawab mengetahui arti
tumbuhan obat. Hal ini dikarenakan keengganan responden dalam menjawab,
khawatir salah dan hanya tahu atau dapat menyebutkan contoh tumbuhan obatnya
saja. Adanya hal tersebut dikarenakan tidak semua orang tua tahu arti tumbuhan
obat tetapi sudah terbiasa memakai tumbuhan obat dalam kehidupan sehari-hari.
Ada pun responden yang bersedia menjawab arti tumbuhan obat tidak
semuanya sesuai dengan arti tumbuhan obat sesungguhnya. Responden
mengartikan tumbuhan obat sebagai tumbuhan yang menggandung zat obat,
ramuan untuk bahan tradisional, tumbuhan yang untuk apotek hidup, tumbuhan
herbal alami, tumbuhan yang memiliki khasiat obat dan ada pula yang hanya
menyebutkan contohnya saja. Persentase jawaban tersebut dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.

26

Tabel 15 Persentase variasi arti tumbuhan obat
No
1
2
3
4
5
6

Arti tumbuhan obat
Mengandung zat obat
Ramuan untuk obat tradisional
Tumbuhan apotek hidup
Tumbuhan herbal alami
Tumbuhan berkhasiat obat
Menyebutkan contoh saja

Jumlah (orang)
6
1
6
7
15
10

Persentase (%)
13
2
13
16
34
22

Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh responden sebanyak 14 orang
responden dari 80 orang menyebutkan contoh tumbuhan obat. Hal ini dikarenakan
memang tidak ada pertanyaan khusus yang menanyakan contoh, responden secara
tidak sengaja dan sengaja menyebutkan contoh-contoh tersebut.
Responden menyebutkan contoh tersebut dikarenakan sudah terbiasa
mengonsumsinya, memiliki tanamannya dan dari pengalaman orang yang
dikenalnya sehingga spontan menyebutkan contoh. Berdasarkan hal tersebut,
maka

merangsang

ingatan

responden

tentang

tumbuhan

obat

dan

menginformasikannya kepada pewawancara. Jenis-jenis tumbuhan obat yang
teridentifikasi diantaranya adalah kencur, kumis kucing, daun sirsak, sirih,
binahong, sambiloto, ki urat, remek daging, jahe, dan kunyit dengan persentase
seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 16 Jenis-jenis tumbuhan obat yang diketahui responden orang tua
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tumbuhan obat
Kencur (Kaempferia galanga L)
Kumis kucing (Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq.)
Sirih (Piper betle L)
Binahong (Anredea cordifolia)
Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f) Ness)
Ki urat (Plantago major)
Remek daging (Excoelaria cochinchinensis Lour.)
Jahe (Zingiber officinale Roxb.)
Kunyit (Curcuma domestica Vahl)
Daun sirsak (Annona muricata L)

Jumlah
(orang)
5
3
3
1
1
1
1
2
1
1

Persentase
(%)
27
16
16
5
5
5
5
11
5
5

Responden yang mengetahui arti tumbuhan obat dan dapat menyebutkan
contoh salah satunya karena pernah memiliki pengalaman hingga terbiasa
menggunakan tumbuhan obat. Responden pun memiliki beberapa alasan
menggunakan tumbuhan obat, diantaranya adalah tumbuhan obat bersifat alami
sehingga aman dan tanpa efek samping, ada tanamannya di sekitar rumah, suka
memakai tumbuhan obat karena mudah/praktis, aman dan lainnya (lihat Tabel 17).
Selain itu, ada responden yang tidak setuju dalam penggunaan tumbuhan obat

27

dikarenakan rasanya yang pahit, tidak tahu bagaimana mengolahnya dan khawatir
beracun atau ada efek samping.
Tabel 17 Alasan bersedia pakai tumbuhan obat
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Alasan
Alami
Ada tanamnnya di sekitar rumah
Mudah/praktis penggunaannya
Suka pakainya
Tanpa efek samping
Aman
Lainnya
Tidak memberikan alasan

Jumlah (orang)
10
6
4
16
3
3
6
30

Persentase (%)
12
7
5
20
4
4
8
38

Berdasarkan hasil wawancara kepada responden maka pengetahuan,
pengalaman dan ingatan sangat berpengaruh dalam menjawab pilihan pernyataan.
Sedangkan pendidikan terakhir responden orang tua pun memiliki pengaruh
dalam merespon jawaban ketika proses wawancara berlangsung. Selain itu usia
responden pun memiliki pengaruh dalam memberikan jawaban, semakin muda
usia responden semakin tidak tahu arti tumbuhan obat dan semakin tua usia
responden semakin banyak yang mengetahui arti tumbuhan obat. Hal ini dapat
diketahui dari jumlah seluruhnya responden tiap kategori yang mengetahui arti
tumbuhan obat yaitu siswa (73%), orang tua (81%) dan guru (100%).
5.3

Sikap Responden terhadap Konservasi Tumbuhan Obat
Sikap responden terhadap konservasi tumbuhan obat diperoleh dengan

memberikan pilihan pernyataan mau (untuk yang belum pernah menggunakan
tumbuhan obat) atau suka (untuk yang sudah pernah menggunakan tumbuhan
obat) dan setuju ada tumbuhan obat di sekolah sebagai upaya konservasi.
Pernyataan tersebut dapat diperdalam lagi dengan menanyakan alasan dan
pengalaman yang berhubungan dengan upaya konservasi tumbuhan obat.
5.3.1 Siswa
Responden yang suka menggunakan tumbuhan obat sebanyak 82% dan
bersedia untuk mencoba tumbuhan obat jika ada kesempatan dengan rincian yang
dapat dilihat pada Tabel 18. Rasa suka atau tidak pada satu jenis tumbuhan obat
dapat berbeda antar responden, misal ada responden yang mengatakan suka
dengan jahe karena hangat tetapi ada juga yang tidak suka karena pedas. Menurut
Robbins (2003) diacu dalam Hidayati (2011) bahwa meskipun individu-individu

28

memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya
berbeda-beda.
Tabel 18 Responden yang mau-suka pakai tumbuhan obat
Mau-suka pakai
tumbuhan obat
Ya
Tidak

III (orang)
23
7

Kelas
IV (orang)
V (orang)
29
22
1
8

VI (orang)
24
6

Responden kelas IV yang sudah terbiasa mengkonsumsi tumbuhan obat
memiliki sikap yang sangat positif karena hampir seluruhnya mau-suka tumbuhan
obat. Responden kelas III yang belum pernah mempelajari tumbuhan obat dan
banyak yang tidak mengetahui arti tumbuhan obat ternyata memiliki sikap yang
positif juga. Mereka berminat dan menyukai penggunaan tumbuhan obat.
Responden hampir menyamai jumlah peminat kelas V dan melebihi peminat
responden kelas VI walaupun hanya selisih satu orang responden.
Pada responden siswa, tinggi rendahnya minat dan kesukaan responden
terhadap tumbuhan obat ternyata tidak dipengaruhi oleh usia atau tingkatan kelas.
Bagi siswa kelas III menjadi memiliki rasa penasaran ketika ditanyakan tentang
tumbuhan obat. Sehingga memacu minat bagi yang belum pernah menggunakan
tumbuhan obat dan bersedia mencoba jika ada kesempatan. Sedangkan bagi
responden yang sudah menggunakan tumbuhan obat, mereka sangat menyukainya
terutama responden kelas IV.
Pilihan pernyataan selanjutnya yang ditawarkan adalah tentang persetujuan
adanya tumbuhan obat di sekolah sebagai upaya konservasi tumbuhan obat.
Berdasarkan hasil wawancara sebanyak 119 orang (99%) setuju dan 1 orang (1%)
tidak setuju terhadap upaya konservasi tumbuhan obat di sekolah (lihat Gambar
6). Hal ini menunjukkan sikap responden yang sangat positif.
Responden yang tidak setuju akan adanya tumbuhan obat sebagai upaya
konservasi di sekolah karena responden tersebut sejak awal wawancara
menunjukkan ketidaktahuannya, seperti tidak mengetahui arti tumbuhan obat,
tidak tahu jenisnya, belum pernah mencobanya dan tidak mau mencoba
menggunakan tumbuhan. Oleh karena itu, responden memiliki sikap yang negatif
akibat tidak memiliki pengetahuan terkait tumbuhan obat karena responden
tersebut merupakan siswa kelas III yang secara kurikulum belum mempelajari
tentang tumbuhan obat.

29

Gambar 6 Persentase persetujuan adanya tumbuhan obat di sekolah.
Berdasarkan hasil w

Dokumen yang terkait

Dokumen baru