Pengaruh model cooperative learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep sistem peredaran darah : kuasi eksperimen di smp pgri 2 ciputat

PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK
THINK-PAIR-SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI
SISWA PADA KONSEP
SISTEM PEREDARAN DARAH
(Kuasi Eksperimen di SMP PGRI 2 CIPUTAT)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

OLEH
LINA MARLINA
NIM : 105016100508

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

LEMBAR PENGESAHAN

PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK
THINK-PAIR-SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI
SISWA PADA KONSEP
SISTEM PEREDARAN DARAH
(Kuasi Eksperimen di SMP PGRI 2 CIPUTAT)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai
Gelar Sarjana Pendidkan (S.Pd)

Oleh
LINA MARLINA
NIM. 105016100508

Di bawah Bimbingan

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd

Meiry Fadilah Noor, S.Si

NIP. 19681228 200003 1 004

NIP.150 411 174

Lembar Pengesahan Penguji
Skripsi berjudul : “Pengaruh Model Cooperative Learning Teknik Think-PairShare Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa”, diajukan kepada Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, Oleh Lina Marlina, NIM 105016100508 dan telah dinyatakan lulus dalam
ujian munaqasah pada 27 Mei 2011 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis
berhak memperoleh gelar Sarjana Strata I (S.Pd) dalam bidang Pendidikan
Biologi.
Jakarta, 27 Mei 2011
Panitia Ujian Munaqasah
Tanggal

Tanda Tangan

....................

........................

....................

........................

....................

........................

...................

........................

Ketua Panitia
(Ketua Jurusan IPA)
Baiq Hana Susanti, M.Sc
19700209 200003 001
(Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA)
Nengsih Juanengsih, M.Pd
NIP. 19790510 200640 2 001
Penguji I
Nengsih Juanengsih, M.Pd
NIP. 19790510 200640 2 001
Penguji II
Eny S Rosyidatun, S.Si, MA
NIP. 19750924 200604 2 001

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA
NIP. 19571005 198703 1 003

ABSTRAK
Lina Marlina, “Pengaruh Model Cooperative Learning Teknik ThinkPair-Share Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Konsep Sistem Peredaran
Darah.” Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Model Cooperative
Learning teknik Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Konsep
Sistem Peredaran Darah. Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 2 Ciputat,
Tangerang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan
Nonrandomized Control Group Pretest-Postest Design. Pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 38
orang untuk kelas eksperimen dan 38 orang untuk kelas kontrol. Pengambilan data
menggunakan instrumen tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda yang telah diuji
validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
terdapat Pengaruh Model Cooperative Learning teknik Think-Pair-Share
Terhadap Hasil Belajar Biologi pada konsep Sistem Peredaran Darah Manusia.
Analisis data menggunakan uji t, data hasil perhitungan perbedaan rata-rata
postest kedua kelompok diperoleh nilai t hitung sebesar 3,326, sedangkan t tabel
dengan taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan (dk 70) = 2,00, maka dapat
dikatakan bahwa t hitung > t tabel berarti hipotesis alternatif (Ha) diterima dan
hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat Pengaruh Model
Cooperative Learning Teknik Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Biologi
pada konsep Sistem Peredaran Darah Manusia .
Kata kunci: Model Cooperative Learning, teknik think-pair-share.

i

ABSTRACT
Lina Marlina, “The Influence of Cooperative Learning Technique ThinkPair Share Model through the Result of Biology Learning at Blood Circulation
System”. Undergraduate Thesis, Biology Education Program, Science Education
Department, Faculty of Tarbiya and Teachers Training of Syarif Hidayatullah
State Islamic University, Jakarta.
The research purpose was to know the influence of cooperative learning
technique think-pair share model through the result of biology learning at blood
circulation system. The research was done at SMP PGRI 2 Ciputat Tangerang
Selatan. It used Nonrandomized Control Group Pretest-Postest Design of quasi
experiment method. The purposive sampling technique was held at sample
withdrawal which consisted of thirty eight for experiment class and thirty eight for
control class. The data collecting used instrument of learning result test in
multiple choice forms which were tested its validity and reliability. The
hypothesis that was purposed in the research was found the influence of
cooperative learning technique think-pair share model through the result of
biology learning at human blood circulation system. The data analysis used t-test.
The result of calculating differentiation mean data between the two group,
obtained the value of t-count was equal to 3,326, while t-table at the level of
significant 5% with degree of freedom (df) = 70 that is equal to 2,00. So, it can be
said that t-count > t-table that meant the alternative hypothesis (Ha) was accepted
and zero hypothesis (Ho) was refused. It pointed that was found the influence of
cooperative learning technique think-pair share model through the result of
biology learning at human blood circulation system.
Key word: cooperative learning model, think pair-share technique.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Pengaruh Model Cooperative Learning teknik Think-Pair-Share
terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep Sistem Peredaran Darah
(Kuasi Eksperimen di SMP PGRI 2 CIPUTAT)”. Skripsi ini disusun guna
memenuhi persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan
kelemahan, sehingga masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan dengan
keterbatasan penulis, baik itu dalam kemampuan maupun pengetahuan serta
pengalaman yang penulis miliki. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
3. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Biologi dan staf jajarannya.
4. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd, selaku dosen pembimbing I dan Ibu Meiry
Fadilah Noor, S.Si., selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dan
memberikan pengarahan, serta waktunya kepada penulis dalam penulisan
skripsi ini.
5. Bapak Syamsuddin,S.Pd, selaku Kepala Sekolah SMP PGRI 2 CIPUTAT dan
Bapak Edi kurniawan S.Pd., selaku guru IPA SMP PGRI 2 CIPUTAT yang
telah memberikan izin, bantuan, dan kemudahan kepada penulis dalam
melakukan penelitian di sekolah.
6. Ayahanda Suwirta dan Ibunda Warsih yang telah memberikan bantuan moril,
materil, yang dengan sabar mendidik, membina, dan mendo’akan penulis.
Kakak, adik, dan ponakanku, Iif Hanifah, Dede Firman, Nida Sri Widiyanti,

iii

Defriza Al-Wildani Multajam, dan Abizar Ibnu Salam Firman. Yang selalu
memberikan do’a dan motivasi kepada penulis dalam meyelesaikan skripsi ini.
7. Kamal Mutamam, yang selalu memberikan semangat, bantuan, motivasi, dan
waktunya kepada penulis.
8. Icha, Ade, Wilda, Eka, Wido, Maya, Eka Faukiyah, Vitri, Amsih, dan seluruh
teman Biologi angkatan 2005. Semoga tali silaturrahmi kita tetap terjalin.
9. Seluruh siswa SMP PGRI 2 Ciputat khususnya kelas VIII dan IX.
10. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Ciputat, November 2010

Penulis

iv

DAFTAR ISI
ABSTRAK ........................................................................................................... i
ABSTRACT ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................

v

DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ...................................................................... 5
C. Pembatasan Masalah ..................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ...................................................................... 6
E. Manfaat Penelitian ........................................................................ 6
F. Tujuan Penelitian .......................................................................... 6

BAB II

DESKRIPSI

TEORETIS,

KERANGKA

PIKIR

DAN

PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis ......................................................................... 7
1. Hakikat Model Cooperative Learning ................................... 7
a. Pengertian Model Cooperative Learning .......................... 7
b. Unsur-Unsur Model Cooperative Learning ..................... 7
c. Peranan Guru dalam Model Cooperative Learning ......... 9
d. Tujuan Model Cooperative Learning............................... 9
e. Ciri-Ciri Model Cooperative Learning ............................. 10
f. Kelebihan dan Kelemahan Model
Cooperative Learning ....................................................... 10
2. Hakikat Model Cooperative Learning teknik
Think-Pair-Share ................................................................... 11
a. Pengertian teknik Think-Pair-Share ................................. 11
v

b.

Ciri-Ciri Teknik Think-Pair-Share .................................. 12

c. Tujuan teknik Think-Pair-Share ...................................... 12
d.

Langkah-langkah teknik Think-Pair-Share .................... 13

e. Kelebihan teknik Think-Pair-Share .................................. 13
f. Manfaat teknik Think-Pair-Share .................................... 14
3. Hakikat Hasil Belajar .............................................................. 14
a. Pengertian Hasil Belajar ................................................... 14
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar .............. 19
1) Faktor Internal ............................................................ 20
2) Faktor Eksternal ......................................................... 21
3) Faktor pendekatan belajar ........................................... 22
4. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam ............................................ 22
5. Konsep Sistem Peredaran Darah Manusia .............................. 25
B. Hasil Penelitian yang Relevan ...................................................... 30
C. Kerangka Pikir .............................................................................. 32
D. Pengajuan Hipotesis Penelitian ..................................................... 33

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 34
B. Metode dan Desain Penelitian....................................................... 34
C. Populasi dan Sampel ..................................................................... 35
D. Variabel Penelitian ........................................................................ 35
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 35
F. Instrumen Penelitian...................................................................... 36
G. Uji Validitas Instrumen ................................................................ 37
1. Validitas ................................................................................. 37
2. Reliabilitas .............................................................................. 38
3. Tingkat Kesukaran .................................................................. 39
4. Daya Pembeda......................................................................... 40
H. Teknik Analisis Data ..................................................................... 41
1. Uji N-gain ............................................................................... 41

vi

2. Uji Normalitas ........................................................................ 41
3. Uji Homogenitas ..................................................................... 42
4. Uji Hipotesis ........................................................................... 42
5. Hipotesis Statistik ................................................................... 43
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ............................................................................. 44
1. Data Hasil Belajar ................................................................... 44
a. Deskripsi Data Pretest kelas Eksperimen dan Kontrol ..... 44
b. Deskripsi Data Postest kelas Eksperimen dan Kontrol ..... 45
c. Deskripsi Data N-gain kelas Eksperimen dan kontrol ..... 45
d. Deskripsi Data Hasil Observasi ........................................ 47
e. Deskripsi Data LKS model cooperative learning teknik
think-pair-share ................................................................. 48
B. Analisis Data ................................................................................. 49
1.

Uji Normalitas ........................................................................ 49
a. Hasil Uji Normalitas Pretest ............................................. 49
b. Hasil Uji Normalitas postest ............................................. 50

2. Uji Homogenitas ..................................................................... 51
a. Hasil Uji Homogenitas Pretest.......................................... 51
b. Hasil Uji Homogenitas postest .......................................... 52
3. Pengujian Hipotesis ................................................................. 53
a. Hasil Pengujian Hipotesis Pretest ..................................... 53
b. Hasil Pengujian Hipotesis Postest..................................... 54
C. Pembahasan ................................................................................... 55
D. Keterbatasan Penelitian ................................................................. 61
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................... 62
B. Saran .............................................................................................. 62

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 63
LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 2.1

Golongan Darah ............................................................................... 27

Tabel 2.2

Perbedaan Arteri dan Vena .............................................................. 28

Tabel 3.1

Desain Penelitian .............................................................................. 34

Tabel 3.2

Teknik pengumpulan data ................................................................ 36

Tabel 3.3

Kisi-kisi Instrumen penelitian .......................................................... 37

Tabel 4.1

Distribusi pretest ........................................................................... 44

Tabel 4.2

Distribusi posttest ............................................................................ 45

Tabel 4.3

Kategorisasi N-Gain ......................................................................... 46

Tabel 4.4

Data LKS individu ........................................................................... 48

Tabel 4.5

Data LKS berpasangan ..................................................................... 49

Tabel 4.6

Hasil uji normalitas skor pretest kelas eksperimen dan kontrol ..... 51

Tabel 4.7

Hasil uji normalitas posttest kelas eksperimen dan kontrol ............ 51

Tabel 4.8

Hasil uji homogenitas pretest kelas eksperimen dan kontrol ........... 52

Tabel 4.9

Hasil uji homogenitas posttest kelas eksperimen dan kontrol ......... 53

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Hal
RPP Kelas Kontrol ...................................................................
66

Lampiran 2.

RPP Kelas Eksperimen ............................................................

75

Lampiran 3.

LKS Teknik Teknik-Pair-Share ...............................................

89

Lampiran 4.

Nilai LKS..................................................................................... 104

Lampiran 5.

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ................................................

106

Lampiran 6.

Instrumen uji Coba Soal ...........................................................

114

Lampiran 7.

Kunci Jawaban Instrumen Tes Hasil Uji Soal..........................

121

Lampiran 8.

Rekapitulasi Analisis Butir Instrumen ..................................... 122

Lampiran 9.

Soal Pretest-Postest ................................................................. 134

Lampiran 10. Kunci Jawaban Pretest dan Postest..........................................

138

Lampiran 11. Nilai Pretest-Postest Kelas Kontrol dan Eksperimen .............

139

Lampiran 12. Lembar Observasi .................................................................... 141
Lampiran 13. N-Gain Kontrol ........................................................................ 143
Lampiran 14. N-Gain Eksperimen.................................................................. 145
Lampiran 15. Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Eksperimen dan Kontrol .. 147
Lampiran 16. Distribusi Frekuensi Postest Kelas Ekperimen dan Kontrol .... 155
Lampiran 17. Uji Normalitas Pretest ............................................................. 163
Lampiran 18. Uji Normalitas Postest ............................................................ 167
Lampiran 19. Uji Homogenitas Pretest .......................................................... 171
Lampiran 20. Uji Homogenitas Postest .......................................................... 174
Lampiran 21. Uji Hipotesis Pretest ................................................................ 177
Lampiran 22. Uji Hipotesis postest ................................................................ 179

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal penting dalam proses pembentukan sumber
daya manusia. Melalui pendidikan, manusia memperoleh ilmu pengetahuan dan
pengalaman empirik yang sangat berguna bagi kehidupannya, serta dapat
mengembangkan diri manusia sesuai dengan potensinya masing-masing. Hal ini
sebagaimana tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang
tercantum dalam UU RI tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 No.20 tahun
2003.
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.1
Berdasarkan uraian di atas bahwa dunia pendidikan bertanggung jawab
terhadap kemajuan peradaban dan kecerdasan bangsa. Menurut Muhibin Syah
pendidikan sebagai usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi atau
kemampuan sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan belajar mengajar tersebut diselenggarakan pada semua satuan dan
jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun (SD dan
SMP), pendidikan menengah (SMA), dan pendidikan tinggi (perguruan tinggi).2
Kegiatan pengajaran tersebut sangat dibutuhkan oleh guru yang berpengetahuan
luas dan mempunyai keterampilan dalam mengajar. Keterampilan ini dapat berupa
keterampilan dasar bertanya, keterampilan dasar memberikan penguatan
(reinforcement), keterampilan variasi stimulus, keterampilan mengelola kelas,
1

Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
(Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006), h.6
2
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung:PT Remaja
Rosdakarya, 2002), h.1

1

2

keterampilan membuka dan menutup pelajaran.3 Keterampilan dasar tersebut
diperlukan agar guru dapat melaksanakan peranannya dalam proses belajar
mengajar.
Peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting. Guru harus
mampu melaksanakan prosedur pembelajaran dengan baik agar tujuan belajar
dapat tercapai. Oleh karena itu, peranan guru sangat dibutuhkan sebagai
fasilitator, motivator dan evaluator agar hasil belajar dapat dicapai dengan
maksimal.
Peranan guru sebagai fasilitator, dalam hal ini akan memberikan fasilitas
atau kemudahan dalam proses belajar mengajar. Selain sebagai fasilitator, guru
juga berperan sebagai motivator dan evaluator dalam rangka meningkatkan
kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus merangsang
dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi
siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga
akan terjadi dinamika dalam proses belajar mengajar. Peranan guru sebagai
evaluator mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang
akademis maupun tingkah laku sosialnya. Tetapi kalau diamati secara mendalam
evaluasi-evaluasi yang dilakukan guru itu hanya evaluasi ekstrinsik dan sama
sekali belum menyentuh evaluasi yang intrinsik. Hal ini guru harus hati-hati
dalam menjatuhkan nilai atau kriteria keberhasilan.4
Guru dalam melaksanakan peranannya menggunakan berbagai macam
metode mengajar. Saat ini strategi mengajar yang telah digunakan oleh guru
adalah pembelajaran aktif (active learning) seperti contextual teaching and
learning (CTL) dan cooperative learning (CL). Di mana guru hanya berperan
sebagai pengarah dalam membangun potensi siswa sedangkan siswa sebagai pusat
pembelajaran. Namun tidak bisa dipungkiri masih banyak juga guru yang belum
menerapkan metode ini, mereka masih mengunakan metode belajar klasik, yaitu
metode pembelajaran di mana hanya guru yang menjadi sumber pembelajaran.

3

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana Prenada Media, 2006), h.32-43
4
Sardiman, A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003)
h.144-146

3

Berdasarkan wawancara siswa dan pengamatan di sekolah swasta
pembelajaran biologi banyak dilakukan dengan hanya memberi konsep-konsep
materi biologi semata dengan mengacu pada buku paket saja, tanpa pada
pengelolaan materi pelajaran yang melibatkan potensi siswa dan lingkungan yang
ada disekitarnya atau dengan kata lain siswa belajar menghafal konsep, bukan
memahami konsep sehingga belajar biologi menjadi kurang bermakna. Hal ini
sesuai dengan pernyataan beberapa siswa mengenai pembelajaran biologi yang
umumnya mengaku bahwa, karena banyak materi yang harus dihafalkan, terlalu
banyak menggunakan bahasa latin dan belajarnya membosankankan.
Oleh karena itu perlu adanya pembaharuan paradigma menelaah proses
belajar siswa, interaksi antara siswa dan guru. Sistem pembelajaran selayaknya
memberikan kesempatan bagi anak didik untuk bekerja sama dengan sesama
siswa dalam tugas terstruktur di mana siswa belajar, bekerja dan berinteraksi di
dalam kelompok-kelompok kecil.5 Sehingga siswa dapat bekerja sama, saling
membantu dan berdiskusi dalam memahami suatu pelajaran atau dalam
mengerjakan tugas kelompok.
Model

cooperative

learning

dikembangkan

dalam

usaha

untuk

meningkatkan aktivitas bersama sejumlah siswa dalam satu kelompok selama
proses belajar mengajar. Aktifitas dalam model cooperative learning menekankan
pada kesadaran bahwa siswa perlu belajar berpikir, memecahkan masalah dan
belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan serta keterampilan tersebut kepada
siswa yang membutuhkan. Setiap siswa merasa senang menyumbangkan
pengetahuannya kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Menurut Eggen dalam Yusuf dan Natalina, bahwa model cooperative
learning bertujuan meningkatkan prestasi belajar siswa, mempersiapkan siswa
agar memiliki

5

sifat kepemimpinan dan pengalamannya dalam membuat

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif dan Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009), h.189

4

keputusan, juga memberikan kesempatan bekerja dan belajar bersama dengan
siswa yang berbeda adat istiadat dan kemampuan.6
Ada beberapa model cooperative learning yang dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran di kelas. Salah satu model cooperative learning yang dapat
diterapkan di kelas adalah teknik think-pair-share (berpikir-berpasangan-berbagi).
Penerapan model cooperative learning ini erat kaitannya dengan usaha untuk
memotivasi siswa untuk berpikir, meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Teknik think-pair-share merupakan pembelajaran yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dimasukan sebagai alternatif
pengganti terhadap struktur kelas tradisional. Struktur ini menghendaki siswa
bekerja saling membantu di dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih
dicirikan oleh penghargaan cooperative (kooperatif) dari pada penghargaan
individual. Menurut Ibrahim dalam Fitria Harini, teknik think-pair-share memiliki
prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih
banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.7
Pada prinsipnya model cooperative learning teknik think-pair-share ini
menitikberatkan pada pelibatan siswa dalam mengemukakan pendapat terhadap
masalah yang diajukan guru. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir
menyelesaikan lembar kerja siswa yang diberikan guru dengan tujuan untuk
melatih kemampuan individu sebelum berbagi dengan pasangannya. Pada proses
berpasangan dan berbagi dengan pasangannya inilah siswa diberikan kesempatan
untuk mengemukakan pendapatnya dan memberikan kebebasan untuk berdiskusi
terhadap permasalahan yang belum dimengerti.
Pelajaran biologi terdapat konsep Sistem Peredaran Darah memuat materi
tentang jantung, pembuluh darah, darah, peredaran darah dan penyakit pada
sistem

peredaran

6

darah.

Dalam

bab

ini

siswa

mengalami

kesulitan

Yustini Yusuf dan Mariani Natalina, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui
Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktur di kelas 1.7 SLTP Negeri 20 Pekan Baru ,
Jurnal Biogenesis Vol.2 (1):8-12(April 2005), h.10
7
Ibid, h. 9

5

mengidentifikasi penggolongan darah dan mekanisme transfusi darah selain itu
pada umumnya bahasa latin yang masih asing terdengar oleh siswa. Kompetensi
dasar dari konsep ini adalah mendeskripsikan sistem peredaran darah pada
manusia dan hubungannya dengan kesehatan. Agar kompetensi tersebut dapat
tercapai siswa dengan baik, siswa diharapkan memahami dan mengingat materi
pelajaran dengan baik serta dengan cara yang menyenangkan. Sehingga
diharapkan hasil belajar siswa pada konsep sistem peredaran darah meningkat.
Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk membahas
skripsi yang berjudul ”Pengaruh Model Cooperative Learning Teknik Think-PairShare Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Sistem Peredaran Darah”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, beberapa
masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran IPA bukanlah sekedar menyampaikan informasi pada
siswa tetapi membutuhkan keterlibatan siswa mental maupun fisik.
2. Kemunculan rasa bosan akibat metode belajar yang monoton.
3. Siswa hanya menggunakan buku paket saja sebagai acuan belajar.
4. Konsep Sistem Peredaran Darah merupakan konsep yang cukup sulit menurut
siswa.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan, maka penelitian
dibatasi pada:
1. Hasil belajar siswa dilihat dari aspek kognitif pada jenjang hafalan C1,
pemahaman C2, penerapan C3 dan analisis C4.
2. Materi yang diujicobakan adalah konsep Sistem Peredaran Darah meliputi sub
konsep yaitu jantung, pembuluh darah, darah, peredaran darah dan penyakit
pada sistem peredaran darah.

6

D. Perumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah yang akan diteliti dari masalah yang
diidentifikasi dan pembatasan yaitu sebagai berikut: Bagaimanakah pengaruh
model cooperative learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar biologi
siswa?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model cooperative
learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem
peredaran darah pada manusia.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain:
1. Sebagai khasanah pengetahuan dalam mengembangkan pemanfaatan model
cooperative learning teknik think-pair-share terhadap hasil belajar siswa.
2. Menjadi bahan rujukan guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat
dengan menggunakan strategi belajar mengajar yang baik agar proses belajar
mengajar menjadi efektif dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR,
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretik
1. Hakikat Model Cooperative Learning
a. Pengertian Model Cooperative Learning
Cooperative learning adalah suatu strategi belajar mengajar dengan
kelompok-kelompok kecil sehingga siswa dapat memaksimalkan proses belajar
pada dirinya sendiri dan siswa lainnya.1 Model cooperative learning adalah salah
satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis.2 Model
cooperative learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai
anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.

Dalam

menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling
bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam
pembelajaran cooperative, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Pada belajar cooperative ini siswa berada dalam kelompok kecil dengan
anggota sebanyak ± 2-4 orang. Pembelajaran secara cooperative ini terjadi
interaksi antar anggota kelompok. Semua anggota harus terlibat karena
keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota
kelompok saling membantu.

b. Unsur-Unsur Model Cooperative Learning
Pembelajaran Cooperatif (Cooperative Learning) adalah suatu sistem yang
di dalamnya terdapat elemen-elemen yang terkait. Menurut Nurhadi, Senduk dan

1

Roger T. Jhonson dan David W. Jonson, Cooperative Learning, http//.www.cooperation.org/pages/cl.html
2
http://www.damandiri.or.id/file/yusufunsbab2.pdf.

7

8

Lie dalam Made Wena, ada berbagai elemen yang merupakan ketentuan pokok
dalam pembelajaran cooperative yaitu:3
1) Saling ketergantungan positif
Sistem pembelajaran cooperative menuntut guru untuk mampu
menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa agar merasa saling
membutuhkan. Siswa yang satu mebutuhkan siswa yang lain, demikian pula
sebaliknya dalam hal ini kebutuhan siswa tentu terkait dengan pembelajaran
(bukan kebutuhan yang berada diluar pembelajaran). Hubungan yang saling
membutuhkan antara siswa satu dengan siswa yang lain inilah yang disebut
dengan saling ketergantungan positif.
2) Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok untuk
saling bertatap muka, sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya
dengan guru tetapi juga dengan sesama siswa. Jadi dalam hal ini, semua
kelompok interaksi saling berhadapan dengan menerapkan keterampilan,
bekerja sama untuk menjalin hubungan sesama anggota kelompok. Hal ini
menuntut antar anggota kelompok untuk melaksanakan aktivitas dasar seperti
bertanya, menjawab pertanyaan, menunggu dengan sabar teman yang sedang
memberi penjelasan, berkata sopan, meminta bantuan dan sebagainya. Pada
proses pembelajaran yang demikian para siswa dapat saling menjadi sumber
belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi.
3) Akuntabilitas individual
Untuk mencapai tujuan kelompok (hasil belajar kelompok), setiap
siswa (individu) harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi
pembelajaran secara maksimal, karena hasil belajar kelompok didasari atas
rata-rata nilai anggota kelompok. Kondisi belajar yang demikian akan mampu
menumbuhkan tanggung jawab (akuntabilitas) pada masing-masing individu
siswa tanpa adanya tanggung jawab individu keberhasilan kelompok akan
sulit tercapai.
3

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif dan Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009), h.190-192.

9

4) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Dalam pembelajaran cooperaive dituntut untuk membimbing siswa
agar dapat berkolaborasi, bekerja sama dan bersosialisasi antar anggota
kelompok. Dengan demikian, dalam pembelajaran cooperative keterampilan
sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan
bukan mengkritik temen, berani mempertahankan pikiran logis, tidak
mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat
dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan, tetapi secara
sengaja diajarkan oleh guru. Dalam hal ini siswa yang tidak dapat menjalin
hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga
teguran dari sesama siswa. Dalam adanya teguran tersebut siswa secara
perlahan dan pasti akan berusaha menjaga hubungan antar pribadi.

c. Peranan Guru dalam Model Cooperative Learning
Peranan guru dalam pembelajaran cooperative learning menjadi sangat
kompleks. Di samping sebagai fasilitator, guru juga berperan sebagai menejer dan
konsultan dalam memberdayakan kerja kelompok siswa.4 Peranan utama guru
dalam pembelajaran cooperative, meliputi:
1) Menyampaikan tujuan pembelajaran dengan sejelas-jelasnya.
2) Menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa dengan sejelasjelasnya.
3) Membantu efektifitas kerja kelompok dan menyediakan bantuan kepada siswa
untuk memaksimalkan kerja kelompok.
4) Mengevaluasi hasil kerja siswa.
5) Membantu siswa berdiskusi tentang manfaat kerja kelompok.
d. Tujuan Model Cooperative Learning
Pembelajaran

Cooperative

merupakan

sebuah

kelompok

strategi

pengajaran yang melibatkan siswa dalam bekerja dan berkolaborasi untuk
mencapai tujuan bersama. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima
4

Khoirul Anam, Implementasi Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Geogerafi
Adaptasi Model Jigsaw dan Field Study, (Buletin Pelangi Pendidikan Vol.1 No.1,1999), h. 3

10

perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda dengan latar
belakangnya. Dengan demikian model cooperative learning dapat membuat siswa
memverbalisasi gagasan dan pendapat mendorong munculnya refleksi yang
mengarah pada konsep-konsep secara aktif. Tujuan dari pembelajaran cooperative
adalah: 5
1) Untuk meningkatkan partisipasi siswa.
2) Memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepeminpinan dan membuat
keputusan dalam kelompok.
3) Memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersamasama siswa lain yang berbeda latar belakang.
e. Ciri-Ciri Model Cooperative Learning
Arends dalam Trianto, menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan
model cooperative learning memiliki ciri-ciri sebagai berikut:6
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara bersama untuk menuntaskan materi
belajar.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang,
dan rendah.
3) Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan
jenis kelamin yang beragam.
4) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
f. Kelebihan dan Kelemahan Model Cooperative Learning
Menurut Parker dalam Rusli Zainal Sang Visioner, keuntungan dari
penggunaan model cooperative learning diantaranya:7
1) Saling ketergantungan yang positif.
2) Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu.
3) Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas.
4) Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan.
5) Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru.
5

Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka,2007),h.42
6
Ibid, h. 47
7
Rusli Zainal Sang Visioner http://nayyaobangeblogah.blogspot.com/2010_07_01_archive.html.

11

6) Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang
menyenangkan.
Selain memiliki kelebihan, model cooperative learning juga mempunyai
beberapa kelemahan diantaranya:8
1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu
memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu.
2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan
fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
3) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik
permasalahan yang sedang dibahas. Sehingga banyak yang tidak sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
4) Pada saat diskusi berlangsung, seringkali diskusi didominasi oleh seorang atau
dua orang saja, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
2. Hakikat Teknik Think-Pair-Share
a. Pengertian Teknik Think-Pair-Share
Teknik think-pair-share (berpikir-berpasangan-berbagi) adalah jenis
pembelajaran cooperative yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa. Strategi ini dikembangkan oleh Frank Lyman di Universitas Maryland
seperti yang dikutip Arends dalam Trianto. Menyatakan bahwa think-pair-share
merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi
kelas. Dengan asumsi bahwa semua diskusi membutuhkan pengaturan untuk
mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam
think-pair-share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk
merespon dan saling membantu.9
Teknik think-pair-share memiliki prosedur yang ditetapkan secara ekplisit
untuk memberi siswa waktu lebih banyak berpikir yaitu menjawab soal sendiri
atau permasalahan yang telah diberikan oleh guru sebelum bekerja sama dan
berbagi ide dengan teman kelompoknya. Jika seorang telah memikirkan
penyelesaian dari masalah tersebut, maka siswa itu harus berbagi idenya kepada
8
9

Ibid
Trianto, op.cit h. 61

12

teman

atau

pasangannya

dan

mendiskusikannya

hingga

mendapatkan

kesepakatan. Jika kesepakatan itu telah diperoleh, mereka dapat membagi idenya
dengan pasangan lain ataupun dengan teman sekelas.

b. Ciri-Ciri Teknik Think-Pair-Share
Menurut Frank Lyman, Teknik think-pair-share memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:10
1) Keadaan saling tergantung positif.
2) Siswa dapat belajar dari temannya.
3) Siswa bertanggung jawab secara individu.
4) Siswa dapat bertanggung jawab terhadap temannya dan berbagi ide. Siswa
juga wajib membagi idenya kepada pasangan atau kelompok lain.
5) Adanya partisipasi yang lama.
6) Tiap siswa dalam kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi.
Guru harus mengontrol agar tidak terjadi dominasi dari salah satu siswa saja.
7) Intraksi bersama.
8) Derajat intraksi yang tinggi.
c. Tujuan Teknik Think-Pair-Share
Hal ini terlihat pada saat seluruh siswa aktif dalam berbicara dan
mendengarkan. Ada beberapa tujuan dari teknik think-pair-share, yaitu:11
1) Memberikan waktu untuk berpikir lebih banyak kepada siswa untuk
meningkatkan kualitas respon siswa.
2) Menjadikan siswa lebih aktif berpikir memecahkan kesulitan dalam
memahami konsep yang sulit dalam pelajaran.
3) Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kita membutuhkan waktu dan mental
yang lebih dalam mengeluarkan ide atau gagasan baru yang tersimpan dalam
memori.

10

Frank Lyman, Instructional Strategies Online: What is Think-Pair-Share.
http://olc.spsd.sk.ca/DE/PD/instr/strats/think/ ,15 Desember 2009.
11
Ibid

13

4) Ketika siswa mengeluarkan pendapat, mereka dituntut untuk mengerti dengan
topik yang mereka perbincangkan.
5) Siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi karena merasa tidak ada tekanan
dari teman pasangannya dalam mengungkapkan responnya terhadap pelajaran
di depan kelas.
d. Langkah-Langkah Teknik Think-Pair-Share.
Langkah-langkah

dalam

teknik

think-pair-share

menurut

Lyman

meliputi:12
Langkah. I
1. Pembagian kelompok secara heterogen.
2. Siswa duduk secara bersama dengan kelompoknya.
3. Guru menyajikan materi dan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang
disampaikan.
Langkah. II
1. Setiap siswa diminta untuk berpikir dan mengerjakan soal-soal tersebut secara
mandiri untuk beberapa saat.
2. Guru meminta siswa untuk berpasangan dengan kelompoknya untuk
mendiskusikan dan berbagi ide-ide yang dipikirkan berkaitan dengan jawaban
soal.
Langkah. III
1. Pembahasan soal dilakukan secara berkelompok.
2. Beberapa kelompok dipilih secara acak untuk berbagi dengan seluruh kelas
tentang penyelesaian soal yang telah mereka sepakati, sedangkan kelompok
lain diberi kesempatan untuk menanggapi dan mengeluarkan idenya.
e. Kelebihan Teknik Think-Pair-Share
Menurut Jones dalam Masluhatun Ni’mah, kegiatan pembelajaran teknik
think-pair-share memberikan keuntungan diantaranya.13

12

Lyman Reading Quest.org:Think-Pair-Share
http://www.readingquest.org/strat/tps.html.21 desember 2009.
13
Evi Masluhatun Ni’mah, Efektivitas Model Pembelajaran Think-Pair-Share Dalam
Mata Pelajaran Sejarah Pada Siswa Kelas x SMA Negeri 3 Semarang, Laporan Penelitian
Universitas Negeri Semarang, (Semarang: Skripsi UNS,2007).h.37

14

1) Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing
karena adanya waktu berpikir, sehingga kualitas jawaban juga dapat
meningkat.
2) Akuntabilitas berkembang, karena siswa harus saling melaporkan hasil
pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya,
kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas.
3) Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat
secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di
depan kelas paling memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.

f. Manfaat Teknik Think-Pair-Share.
Menurut Spencer Kagan manfaat dari model cooperative learning teknik
think-pair-share adalah: 14
1) Siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya
dan siswa mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan
teknik think-pair-share.
2) Banyak siswa yang mengangkat tangan untuk menjawab setelah berlatih
dalam pasangannya.
3) Siswa mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas
jawaban menjadi lebih baik.
4) Guru mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika
menggunakan

teknik

Think-Pair-Share

dan

dapat

berkonsentrasi

mendengarkan jawaban siswa serta mengamati reaksi siswa.

3. Hakikat Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukan
dalam berbagai bentuk, seperti berubah ilmu pengetahuan, pemahaman, sikap dan

14

Ibid.h.38

15

tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek
lain yang ada pada individu saat belajar.15
Belajar (learning), adalah perubahan yang secara relatif berlangsung lama
pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman. Belajar merupakan
salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia.16
Belajar juga merupakan proses perubahan dari yang belum mampu menjadi
mampu, sehingga terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi
harus secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada
perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior), tetapi perilaku yang
mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Oleh karena itu,
perubahan-perubahan terjadi karena pengalaman.17
Menurut Skiner dalam Ibrahim hasil belajar merupakan respon (tingkah
laku) yang baru. Pada dasarnya respon yang baru itu pengertiannya sama dengan
tingkah laku (pengetahuan, sikap, keterampilan) yang baru. Gagne dalam Ibrahim
berpendapat belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat
stimulasi dari lingkungan menjadi beberapa tahapan pengolahan informasi yang
diperlukan untuk memperoleh kapabilitas yang baru. Kapabilitas inilah yang di
sebut hasil belajar. Berarti belajar itu menghasilkan berbagai macam tingkah laku
yang berlain-lainan seperti, pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan,
informasi, dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlain-lainan inilah yang
di sebut kapabilitas sebagai hasil belajar.18
Keseluruhan tujuan pendidikan dibagi atas hirarki atau taksonomi menurut
Benjamin bloom menjadi 3 ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah
psikomotor.
1. Ranah Kognitif
a) Hafalan (C1), mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan
disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan
15

Kasnun, Jurnal Pendidikan dan Kemasyarakatan. Jurnal Tarbiah STAIN Ponogoro
(Purwokerto: Cendekia, 2007 )vol.5, h.254
16
Zikri Neni Iska, Psikologi (Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan), (Jakarta:
Kizi Brother’s, 2006), h.76.
17
Ibid
18
Nurdin Ibrahim, Pemanfaatan Tutorial Audio Interaktif Untuk Perataan Kualitas Hasil
Belajar Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan no. 44, Th.
2003, h. 735

16

prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam
ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat
(recall) atau mengenal kembali (recognition).
b) Pemahaman (C2), mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan
arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam
menguraikan isi pokok suatu bacaan; mengubah data yang disajikan dalam
bentuk tertentu ke bentuk lain, seperti rumus fisika ke dalam bentuk katakata; membuat perkiraan tentang kecenderungan yang nampak dalam data
tertentu, seperti dalam grafik.
c) Penerapan (C3), mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah
atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru.
Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada
persoalan yang belum dihadapi atau aplikasi suatu metode kerja pada
pemecahan problem baru.
d) Analisis (C4), mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke
dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya
dapat difahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam
penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar,
bersama dengan hubungan atau relasi antara bagian-bagian itu.
e) Sintesis (C5), mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan
atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga
terciptakan suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam
membuat sebuah rencana, seperti penyusunan satuan pelajaran atau
proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema dasar
sebagai pedoman dalam memberikan ceramah dan lain sebagainya.
f) Evaluasi (C6), mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat
mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban
pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu.
2. Ranah Afektif
Mencakup kemampuan-kemampuan emosional dalam mengalami dan
menghayati sesuatu hal, yang berkenaan dengan sikap dan nilai. Ada beberapa

17

jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar. Kategorinya dimulai dari
tingkat yang dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks.
a) Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan
kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran
atau penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan itu dinyatakan dalam
memperhatikan sesuatu, seperti memandangi gambar yang dibuat di papan
tulis atau mendengarkan jawaban teman atas pertanyaan guru.
b) Partisipasi, mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan itu dinyatakan dalam
memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang disajikan, seperti
membacakan dengan

suara nyaring bacaan

yang ditunjuk

atau

menunjukkan minat dengan membawa pulang buku bacaan yang
ditawarkan.
c) Penilaian/penentuan sikap, mencakup kemampuan untuk memberikan
penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.
Mulai dibentuk suatu sikap; menerima, menolak atau mengabaikan; sikap
itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dan konsisten dengan sikap
batin. Kemampuan itu dinyatakan dalam suatu perkataan atau tindakan,
seperti mengungkapkan pendapat positif tentang pameran lukisan modern
(apresiasi seni) atau mendatangi ceramah di sekolah, yang diberikan oleh
astronot indonesia yang pertama. Perkataan atau tindakan itu tidak hanya
sekali saja, tetapi diulang kembali bila kesempatannya timbul; dengan
demikian, nampaklah adanya suatu sikap tertentu.
d) Organisasi, Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai
sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui
dan diterima ditempatkan pada suatu sekala nilai, mana yang pokok dan
suatu harus diperjuangkan dan mana yang tidak begitu penting.
Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai,
seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar antara kebebasan
dan tanggung jawab dalam suatu negara demokrasi atau menyusun

18

rencana masa depan atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita
hidup.
e) Pembentukan pola hidup, mencakup kemampuan untuk menghayati nilainilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi dan
menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri.
Orang telah memiliki suatu perangkat nilai yang jelas hubungannya satu
sama lain, yang menjadi pedoman dala

Dokumen yang terkait

Perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang diajarkan melalui pembelajaran kooperatif teknik stad dan teknik jigsaw: kuasi eksperimen di SMP attaqwa 06 Bekasi

0 4 76

Perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif teknik think pair share dan teknik think pair squre

0 4 174

Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui pendekatan pembelajaran kooperatif model think, pair and share siswa kelas IV MI Jam’iyatul Muta’allimin Teluknaga- Tangerang

1 8 113

Perbandingan hasil belajar biologi dengan menggunakan metode pembelajaran cooperative learning tipe group investigation (GI) dan think pair share (TPS)

1 5 152

Pengaruh penerapan model cooperative learning tipe stad terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep sistem koloid (quasi eksperimen di MAN 2 Kota Bogor)

4 38 126

Peningkatan hasil belajar PKn melalui pendekatan Think-Pair-Share

0 9 153

Penerapan model pembelajaran cooperative teknik think pair square (Tps) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VIII H di Mts pembangunan uin Jakarta

0 15 161

Peningkatan Hasil Belajar Ips Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Thinks Pair Share Pada Siswa Kelas V Mi Manba’ul Falah Kabupaten Bogor

0 8 129

PENGARUHPENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK THINK PAIR SHARE (TPS)TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN EKONOMI.

0 1 39

PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TEKNIK GROUP INVESTIGATION (GI) DAN THINK-PAIR-SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA.

0 5 46