Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Role Playing Pada Pembelajaran IPS Kelas V MI Al-Falah Jakarta Timur

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
MELALUI METODE ROLE PLAYING
PADA PEMBELAJARAN IPS
KELAS V MI AL-FALAH
JAKARTA TIMUR
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh
ANI NURHANIPAH
NIM. 809018300745

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan bumi
beserta isinya. Dialah yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang
sempurna dan memposisikan sebagai kholifah di muka bumi ini.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan kepada ummat
manusia tentang kebaikan dan pemaknaan tentang hakikat hidup dan semoga apa
yang telah diajarkan kepada ummat manusia akan tetap abadi sampai akhir zaman.
Penulis bersyukur karena berkat rahmat dan hidayah-Nya skripsi dengan judul
"Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Role Playing Pada
Pembelajaran IPS Kelas V MI Al-Falah Jakarta Timur” dapat diselesaikan dan
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tidak lupa semua pihak yang sangat membantu dalam proses penyelesaian
skripsi ini, dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Dra. Nurlena Rifai, MA, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Bapak Rusydy Zakaria, M.Ed, M.Phil selaku Ketua Jurusan Kependidikan
Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta;
3. Fauzan, MA, selaku Ketua Program Studi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Kependidikan, beserta stafnya yang telah memberikan rekomendasi kepada
penulis untuk melaksanakan penelitian;
4. Dr. Iwan Purwanto, M. Pd sebagai pembimbing skripsi yang senantiasa
memberikan nasehat, saran dan kritik yang membangun dalam penyelesaian
skripsi ini;

i

5. Ayah dan Ibuku Tersayang, Adik dan kakakku tercinta, yang tiada hentinya
memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, terima
kasih atas doa dan dukungannya;
6. Sahabat-sahabat PGMI Program Kualifikasi S1 angkatan 2013, tanpa kalian
sulit bagi penulis untuk melangkah sampai sejauh ini, tiada kata yang pantas
penulis ucapkan selain terima kasih buat kalian semua.
Penulis menyadari, dalam skripsi ini masih banyak kekurangan.
Penulis memohon kepada semua pihak untuk memberikan saran dan nasehat
demi perbaikan skripsi ini, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT jualah penulis serahkan, semoga
jasa baik yang telah mereka sumbangkan menjadi amal sholeh dan mendapat
balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Amin.
Jakarta, Juli 2013

Ani Nurhanipah

ii

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .........................................................................................i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..........iii
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………...v
DAFTAR BAGAN....…………………………………………………….........vi
DAFTAR GRAFIK.…………………………………………………………...vii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………viii
ABSTRAK …………………………………………………………………......ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................... 6
C. Pembatasan Masalah .......................................................................... 6
D. Perumusan Masalah ........................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian ............................................................................... 6
F. Manfaat Penelitian ............................................................................. 6
BAB II KAJIAN TEORETIK
A. Hakikat Hasil Belajar………..............................................................8
B. Hakikat Metode Role Playing ...........................................................11
C. Hakikat Pendidikan IPS…………………………………………….18
D. Penelitian yang Relevan…………………………………………….22
E. Kerangka Berpikir…………………………………………………..23
F. Hipotesis Tindakan ………………………………………………...24
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat, Waktu, dan Subjek Penelitian …………………………….25
B. Metode dan Desain Intervensi Tindakan/Rancangan Siklus
Penelitian.…………………………………………………………...25
C. Peran Peneliti dalam Penelitian…..…………………………………27
D. Tahapan Intervensi Tindakan.………………………………………28

iii

E. Hasil Intervensi yang Diharapkan.………………………………...29
F. Data dan Sumber Data.....................................................................30
G. Instrumen-instrumen Pengumpulan data yang digunakan...............30
H. Teknik Pengumpulan Data...............................................................32
I. Teknik Pemeriksaan Kepercayaan Studi..........................................32
J. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis....................................32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Madrasah .………………………………………34
B. Deskripsi Hasil Penelitian….……..………………………………...38
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………….……………………………………...56
B. Saran ………………………….……………………………………56
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................58
LAMPIRAN

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

TABEL 1

Kisi-kisi Observasi

31

TABEL 2

Kisi-kisiWawancara

31

TABEL 3

Data SaranadanPrasarana

38

TABEL 4

KeadaanMurid

39

TABEL 5

Keadaan guru/tatausaha/pesuruh

40

TABEL 6

HasilObservasiSiklus I

45

TABEL 7

HasilAnalisis N-Gain SiklusI

46

TABEL 8

HasilObservasiSiklus II

50

TABEL 9

Hasil Analisis N-Gain Siklus II

52

TABEL 10

PerbandinganN-GainSklus I terhadap Siklus II

54

v

DAFTAR BAGAN

Halaman

Kerangka Pikir

………………………………………………24

Bagan Siklus PTK

………………………………………………27

vi

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 1. Hasil Persentase N-Gain Siklus I

47

Grafik 2. Hasil Persentase N-Gain Siklus II

53

Grafik 3. Perbandingan N-Gain Siklus I dan II

56

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

PedomanWawancara

Lampiran 2

PedomanObservasi

Lampiran 3

Pedoman Analisis N-Gain Siklus I/II

Lampiran 4

HasilWawancara

Lampiran 5

HasilObservasiSiklus I

Lampiran 6

HasilObservasiSiklus II

Lampiran 7

HasilAnalisis N-Gain Siklus I

Lampiran 8

HasilAnalisis N-Gain Siklus II

viii

ABSTRAK

ANI NURHANIPAH, 2013."Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode
Role Playing Pada Pembelajaran IPS Kelas V MI Al-Falah Jakarta
Timur.”
Penelitian ini berdasarkan permasalahan: Apakah Metode Role Playing
dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS Kelas V MI AlFalah? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode Role
Playing (bermain peran) dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS kelas V MI Al-Falah.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan, penelitian
dilakukan dalam dua siklus dengan dua kali pertemuan. Pertemuan dari setiap
siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Al-Falah.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes dan lembar observasi kegiatan
belajar mengajar.
Simpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan
metode Role Playing (bermain peran) pada matapelajaran IPS di MI Al-Falah
dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan
ketuntasan belajar siswa mencapai 46% pada siklus ke II yang melebihi
ketuntasan minimal 75% dan untuk hasil belajar siklus II diperoleh rata-rata NGain 0,77 (kategori tinggi) lebih besar dari hasil rata-rata N-Gain Siklus I yaitu
0,29. Peningkatan hasil tersebut didukung oleh penggunaan metode Role
Playing dengan proses pembelajaran yang efektif.
Saran dalam penelitian ini adalah bagi sekolah untuk mendorong guru
dalam proses belajar mengajar pembelajaran IPS di sekolah dengan
menggunakan metode Role Playing, bagi guru sebagai alternatif untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan
metode Role Playing, dan bagi siswa sebagai upaya peningkatan hasil belajar
dalam pembelajaran IPS dengan metode Role Playing.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Metode Role Playing

ix

ABSTRACT

ANI NURHANIPAH, 2013. "Improving Student Learning Outcomes Methods
Through Role Playing At Learning Social Class V MI Al-Falah East
Jakarta
.
"
This study is based on the problem: Is Role Playing method can
improve student learning outcomes in social studies class V MI Al-Falah?
Purpose of this study is to investigate the application of the method Role
Playing in an effort to improve student learning outcomes in social studies
class V MI Al-Falah .
This study uses action research method, the study was conducted in two
cycles with two meetings. Meeting of each cycle consisting of planning, action,
observation, and reflection. Objectives of this study were fifth grade students of
Al-Falah Islamic elementary schools. Data was collected through testing and
observation sheet teaching and learning activities.
Conclusions from this research is learning by using Role Playing in the
IPS lesson in MI Al-Falah can improve student learning outcomes are
characterized by increasing student mastery of 46% in the second cycle to the
minimum completeness exceeds 75 % and for the second cycle of learning
outcomes gained an average of 0.77 N-Gain (high category) greater of the
average yield of N-Gain Cycle I is 0.29. Improved results are supported by the
use of role playing with an effective learning process.
Suggestions in this study is for schools to support teachers in the
process of learning social studies teaching and learning in schools by using role
playing, for teachers as an alternative to determine the improvement of student
learning outcomes in social studies learning with Role Playing methode, and
for students as an effort to improve learning outcomes in learning Role Playing
IPS method .

Keywords : Learning Outcomes , Methods Role Playing

x

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
peserta didik

potensi

agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan YME,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
yang demokratis serta bertanggung jawab”.1
Dengan memperhatikan isi dari Undang-Undang No. 20 tahun 2003
tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang guru memang berat, sebab
kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dari bangsa
itu sendiri.

Jika seorang seorang guru

mengembangkan

potensi perta didik

atau

pendidik tidak berhasil

maka negara itu tidak akan maju,

sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta
didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang yang sangat penting
bagi perkembangan peradaban manusia dalam suatu bangsa. Bangsa yang
mempunyai peradaban maju adalah bangsa yang mempunyai sumber daya
manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia saat ini
memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, tentunya harus dilakukan
suatu usaha untuk meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan.
Peningkatan mutu atau kualitas pendidikan, tentunya berkaitan erat
dengan siswa, guru, sistem pendidikan, metode yang dilakukan, orang tua,
dan lingkungan. Lembaga pendidikan merupakan wadah para siswa untuk
menggali ilmu pengetahuan, salah satu faktor penting yang dapat
1

Abd. Rozak, Fauzan, Ali Nurdin, Kompilasi Undang-Undang dan Peraturan Bidang
Pendidikan (Jakarta: UIN FITK Press, 2010), cet.ke-1, hlm. 6

1

2

mempengaruhi tingkat hasil belajar siswa adalah motivasi belajar yang ada
pada diri siswa. Adanya motivasi belajar yang kuat membuat siswa belajar
dengan tekun yang pada akhirnya terwujud dalam hasil belajar siswa tersebut.
Bagi seorang siswa, pendidikan sangatlah penting untuk masa depannya.
Namun demikian, pada kenyataannya banyak siswa yang mengalami kesulitan
dalam memahami dan mengerti tentang pelajaran yang mereka hadapi, atau
ada pula yang memang acuh tak acuh selama proses belajar berlangsung. Hal
ini merupakan ujian terpenting bagi seorang guru.
Oleh

karena itulah hasil belajar hendaknya ditanamkan pada diri

siswa agar dengan demikian ia dengan senang hati akan mengikuti materi
pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Perlu ditanamkan pada diri
siswa bahwa dengan belajarlah akan mendapatkan pengetahuan yang baik,
siswa akan mempunyai bekal menjalani kehidupannya dikemudian hari. Halhal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar pada diri siswa dapat timbul
dari dirinya sendiri, lingkungan sekolah maupun dari lingkungan keluarga.
Dari lingkungan sekolah misalnya indikator dalam belajar, guru disamping
mengajar juga hendaknya menanamkan motivasi belajar kepada siswa yang
diajarkannya. Banyak siswa dalam pembelajaran yang kurang tertarik, tidak
termotivasi belajar, minat belajar rendah, malas dan sebagainya, hal ini
mengakibatkan hasil belajar siswa menurun. Oleh karena itulah sekolah
hendaknya mengkondisikan lingkungannya sedemikian rupa dengan demikian
siswa akan termotivasi untuk belajar dan hasil belajar memuaskan.
Dalam pendidikan terjadi proses belajar mengajar antara guru sebagai
pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Berhasil tidaknya belajar mengajar
tentu melibatkan banyak faktor pendukung, akan tetapi yang terpenting adalah
bagaimana seorang pendidik (guru) dapat menjalankan tugas dan fungsinya
sebagai pengajar di kelas serta penguasaan materi pelajaran.
Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri.
Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang
maksimal, yang bisa membuahkan hasil belajar yang maksimal hanyalah
kegiatan belajar aktif.

3

Selama ini kegiatan pembelajaran di sekolah cenderung masih
menggunakan metode ceramah, begitu juga dalam pembelajaran IPS. Hal ini
dapat mengakibatkan pembelajaran IPS menjadi pembelajaran yang
membosankan dan menjenuhkan. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya
media pendidikan yang di gunakan guru agar pembelajaran IPS menjadi
menarik bagi siswa dan dapat menumbuhkan motivasi dan perhatian siswa
untuk belajar.
Metode mengajar yang tepat sangat berperan dalam membantu siswa
untuk memahami materi yang disampaikan. Bahkan siswa akan semakin
bersemangat dan merasa senang untuk belajar bila metode mengajar guru
sangat menarik dan mudah dipahami. Sebaliknya bila metode yang digunakan
tidak menarik, sukar dimengerti justru membosankan bagi siswa.
Tiap

usaha

mengajar

sebenamya

ingin

menumbuhkan,

mengembangkan dan menyempurnakan pola tingkah laku tertentu dalam diri
peserta didik, yang dimaksud pola tingkah laku adalah kerangka dasar dari
sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan
untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa
berupa rohani, misalnya mengamati, menganalisa, menilai keadaan dengan
daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani yang dilakukan dengan tenaga
dan keterampilan fisik.
Disamping menumbuhkan dan menyempurnakan pola tingkah laku,
pengajaran juga menambahkan kebiasaan kesiapsiagaan dalam diri untuk
menyiapkan atau melakukan yang sama atau serupa atas dasar yang lebih
mudah, tanpa mengatur/memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul justru
apabila kegiatan manusia baik di bidang rohani maupun jasmani dilakukan
berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah Al-Falah, guru sering
menggunakan model pembelajaran ceramah, dimana siswa mendengarkan
guru yang memberi penjelasan tentang materi pembelajaran. Akan tetapi,
model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam
belajar karena siswa pasif mendengarkan dan bertanya sekali-sekali. Hal ini
tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat

4

pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi
mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Aktivitas dalam pembelajaran di kelas sangat penting.

Apalagi

dikaitkan dengan motivasi siswa sehingga belajar seharusnya menyenangkan
bagi siswa, ini adalah dasar untuk menjadikan belajar sebagai kebutuhan.
Guru mengemban kewajiban agar siswa beraktivitas dalam proses
pembelajaran, bila aktivitasnya baik maka kemungkinan siswa bosan dan
jenuh menjadi berkurang.
Melihat kenyataan-kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di
dalam proses pembelajaran tersebut di atas,
aktivitas

peneliti berpendapat

bahwa

siswa di MI Al-Falah dalam pembelajaran IPS sangat kurang.

Dalam hal ini peneliti mengungkapkan

bahwa

aktivitas

belajar siswa

masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli,
seperti Paul D. Dierech dalam Oemar Hamalik, mengemukakan bahwa jenis
aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau
prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi
saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat diamati dari dua sisi,
yaitu tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang diberikan oleh guru.
Pemahaman seorang siswa berhubungan dengan daya serap seorang siswa
dalam pembelajaran. Daya serap siswa adalah kemampuan atau kekuatan
untuk melakukan sesuatu, untuk bertindak dalam menyerap pelajaran oleh
setiap siswa. Salah satu kendala dalam proses pembelajaran di sekolah adalah
adanya perbedaan daya serap individual diantara anak yang satu dengan anak
yang lainnya walaupun dalam lingkungan dengan umur yang sama dan kelas
yang sama, yang pada akhirnya mengakibatkan hasil belajar kurang
memuaskan.
Saat ini masih banyak dijumpai seorang guru dengan gaya mengajar
yang konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi seorang siswa itu
sendiri. Artinya seorang guru masih mendominasi dan tidak memberikan
akses bagi siswa untuk berkembang mandiri melalui penemuan dan proses
berpikirnya. Hal ini menjadikan banyak siswa yang pasif dalam mengikuti

5

proses pembelajaran. Metode yang digunakan guru dalam pembelajaran
kurang bervariasi dan terkadang mengharuskan guru untuk mengulang materi
pembelajaran sebelumnya.
Metode mengajar yang tepat sangat berperan dalam membantu siswa
untuk memahami materi yang disampaikan. Bahkan siswa akan semakin
bersemangat dan merasa senang untuk belajar bila metode mengajar guru
sangat menarik dan mudah dipahami. Sebaliknya bila metode yang digunakan
tidak menarik, sukar dimengerti justru membosankan bagi siswa.
Dalam pelaksanaan pembelajaran khususnya pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial seringkali guru kurang memahami segi-segi perencanaan
pembelajaran maupun metode yang dipakai, sehingga terjadi kurang
maksimal

dalam

proses

pembelajaran.

Dalam

penyampaian

materi

pembelajaran harus memperhatikan metode atau model pembelajaran apa
yang akan digunakan.
Bermain peran (Role Playing) merupakan “salah satu model
pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang
berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship),
terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.”2 Pengalaman belajar
yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif.
dan menginterprestasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta
didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan
cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama
para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilainilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.
Dengan demikian perlu dipilihkan model pembelajaran sesuai dengan
materi ajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penguasaan
konsep belajar dapat membantu siswa untuk mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut penulis akan mengadakan
2

E.Mulyasa. Majemen Berbasis Sekolah. Konsep Strategis dan Implementasi. Bandung,
2002. Remaja Rosdakarya. hlm.145

6

penelitian tentang "Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Role
Playing Pada Pembelajaran IPS Kelas V MI Al-Falah”.

B. Identifikasi Masalah
Setelah latar belakang masalah diuraikan maka penulis mengambil
beberapa hal yang harus diperhatikan yang menjadi sumber masalah
diantaranya adalah:
1. Kurang maksimalnya guru dalam memahami segi-segi perencanaan
pembelajaran dan metode;
2. Guru kurang menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan;
3. Penggunaan

metode

ceramah

dalam

pembelajaran

IPS

kurang

mendapatkan hasil yang maksimal;
4. Hasil belajar belum memuaskan
5. Kurangnya aktivitas dan motivasi siswa dalam pembelajaran

C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas penulis membatasi yaitu: Peningkatan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode role
playing di MI Al-Falah.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian yang ada maka rumusan masalah yang
diajukan dalam penelitian ini adalah: Apakah Metode Role Playing dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS Kelas V MI AlFalah?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan
metode Bermain Peran (Role Playing)dalam upaya meningkatkan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran IPS kelas V MI. Al-Falah.

7

2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berfungsi sebagai salah satu bentuk
pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang
pendidikan IPS sehingga metode Role Playing dapat dijadikan sebagai
landasan/pedoman

berpikir

bagi

pengembangan

ilmu

pengetahuan

selanjutnya.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi Siswa
Diharapkan dari hasil penelitian ini siswa lebih termotivasi dalam
proses pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar yang
maksimal.
2. Bagi Guru
Dapat memberikan informasi pada guru tentang penerapan model
pembelajaran bermain peran (role playing) pada mata pelajaran IPS
dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Serta hasil penelitian ini
dapat dijadikan sebagai motivasi bagi guru-guru yang lain untuk mau
melaksanakan model-model pembelajaran.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan
sumbangan

pemikiran

terutama

meningkatkan hasil belajar siswa.

berkaitan

dengan

upaya

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil Belajar adalah “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi
tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b)
pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita masing-masing jenis
hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam
kurikulum”.1
Gagne membagi lima kategori hasil belajar, “yakni (a) informasi
verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e)
keterampilan motoris”.2
Menurut Djamarah dan Zain, “hasil belajar tercermin dalam
perubahan perilaku, baik secara material-subtansial, struktural-fungsional,
maupun secara behavior.”3
Perubahan perilaku tersebut tampak dalam penguasaan pada polapola tanggapan (respon) baru terhadap lingkungannya yang berupa
keterampilan (skill), kebiasaan (habit), sikap atau pendirian
(attitude), kemampuan (ability), pengetahuan (knowledge),
pemahaman
(understanding),
emosi
(emotion),
apresiasi
(appreciation), jasmani dan etika atau budi pekerti, serta hubungan
sosial.4
Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah
laku dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan

1

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosdakarya,
2001, hlm. 22
2
Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta, 2006, hlm. 11
3
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswin Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta,
2006, hlm.11
4
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta, Bumi Aksara, 2008, hlm.15

8

9

psikomotorik. Memahami pengertian hasil belajar secara garis besar harus
bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli
mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan
yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan
satu titik persamaan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa hasil
belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima,
menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar
mengajar. Hasil belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu
dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau
raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Hasil
belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi
dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya hasil belajar siswa.

2. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa,
adapun faktor-faktor itu digolongkan sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri,
seperti kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat dan sebagainya.
Faktor internal disebut juga faktor pada organism (siswa). Muhibbin
Syah menyebutkan bahwa “yang termasuk faktor internal adalah aspek
fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis mencakup kondisi tubuh
siswa termasuk organ tubuh dan kondisi alat indera. Sedangkan aspek
psiologis banyak sekali macamnya tetapi yang esensial antara lain
kecerdasan (intelegensi), sikap, bakat, minat dan motivasi siswa”.5
b. Faktor Eksternal
Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas
dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non
sosial.
5

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung, Remaja
Rosdakarya, 2009, cet.ke-7, hlm.133-136

10

1. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar
ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua,
praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi
keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik ataupun
buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
Contoh: kebiasaan yang diterapkan orangtua siswa dalam mengelola
keluarga (family management practices) yang keliru, seperti kelalaian
orangtua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak
lebih buruk lagi.
2. Lingkungan non sosial, faktor-faktor yang termasuk lingkungan non
sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal
keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu
belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.6

c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning)
“Faktor pendekatan merupakan jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran”.7
Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran dan sifat materi yang menjadi objek pembelajaran. Untuk
memilih model pembelajaran tidak boleh sembarangan, banyak faktor
yang mempengaruhinya dan perlu pertimbangan.
Hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lainnya sangat
erat kaitannya dan bersifat saling mendukung. Dalam faktor internal
terdapat faktor psikologis dan fisiologis siswa yang didukung faktor
eksternal dan pendekatan belajar. Oleh karena itu lingkungan yang
merupakan bagian dari faktor eksternal dan metode belajar yang

6

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Edisi Revisi, Bandung,
Remaja Rosdakarya, 2008, cet.ke-14, hlm.137-138
7
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,….,hlm.132

11

merupakan bagian dari pendekatan belajar perlu diperhatikan dengan
seksama dalam penerapannya. Hal ini dimaksudkan agar hasil belajar
yang akan dicapai dapat diperoleh dengan maksimal.
3. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa
dalam pembelajaran IPS menggunakan metode Role Playing adalah: Tes.
Menurut Arikunto, Tes merupakan “suatu alat pengumpul informasi
tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini bersifat lebih
resmi karena penuh dengan batasan-batasan”. 8 Dalam penelitian ini
penilaian yang digunakan adalah test Formatif (pre test dan post test).
“Test Formatif dari kata form yang merupakan dasar dari istilah
formatif, maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu.
Dalam kedudukannya seperti ini tes formatif dapat juga dipandang sebagai
tes diagnostik pada akhir pelajaran. Evaluasi formatif atau tes formatif
diberikan pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau tes
akhir”.9
a. Pre test dengan menggunakanTes Lisan (tanya jawab) sebelum
pembelajaran.
b. Post test dengan menggunakan Tes Lisan (tanya jawab) sesudah
diterapkannya metode Role Playing.

B. Hakikat Metode Role Playing (Bermain Peran)
1. Pengertian Metode
Dari segi bahasa, metode berasal dari dua kata yaitu meta dan hodos.
Meta berarti “melalui” dan “hodos” berarti “jalan” atau “cara”. Metode
adalah cara mendapatkan sesuatu.10

8

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi), Jakarta: Bumi
Aksara, 2009, hlm.33
9
Ibid, hlm.36
10
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hlm. 143

12

Metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk
mencapai tujuan. 11 Selain itu adapula yang mengatakan bahwa metode
adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang
diperlukan bagi pengembangan disiplin ilmu tersebut.
Menurut Suryosubroto metode adalah cara, yang dalam fungsinya
merupakan alat untuk mencapai tujuan. Makin tepat metodenya,
diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuan tersebut.12
Adalagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya
berarti jalan untuk mencapai tujuan itu bermakna ditempatkan pada
posisinya sebagai cara untuk menemukan, menguji, dan menyusun data
yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau tersistemasisasikannya
suatu pemikiran dengan pengertian yang terakhir ini, metode lebih
memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengembangkan suatu
gagasan sehingga menghasilkan suatu teori atau temuan. Dengan metode
serupa itu, ilmu pengetahuan apapun dapat berkembang.
Fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi
jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari
ilmu pendidikan tersebut sedangkan dalam konteks lain metode dapat
merupakan sarana untuk menemukan, atau menguji, dan menyusun data
yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari dua
pendekatan ini segera dapat dilihat bahwa pada intinya metode berfungsi
mengantarkan pada suatu tujuan kepada objek sasaran tersebut.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
metode mengajar, prinsip tersebut terutama berkaitan dengan faktor
perkembangan kemampuan siswa, diantaranya:
a. Memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh
terhadap materi pelajaran.
b. Memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi yang
kreatif.
11

Hanafi, Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam Departemen Agama RI, 2009), cet. pertama, hlm. 195
12
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta, 2002, cet.
pertama, hlm. 149

13

c. Memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah.
d. Memungkinkan siswa untuk selalu menguji kebenaran sesuatu.
e. Memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan (berinkuiri)
terhadap suatu topik permasalahan.
f. Memungkinkan siswa mampu menyimak.
g. Memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri.
h. Memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajar.

2. Pengertian Metode Role Playing
Metode bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran
yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan
dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama
yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar yang
diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif,
dan menginterpretasikan suatu kejadian.
Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi
hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan
mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat
mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai
strategi pemecahan masalah.
Dengan mengutip pendapat dari Shaftel dalam E. Mulyasa
mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi: (1)
menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2)
memilihperan; (3) menyusun tahap-tahap peran: (4) menyiapkan
pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7)
diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap 1 ; (8)
pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10)
membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.13
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan
pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan
memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada
13

E. Mulyasa. Majemen Berbasis Sekolah. Konsep Strategis dan Implementasi, Bandung.
Remaja Rosda Karya, 2002, hlm.143

14

umumnya dilakukan

lebih

dari

satu

bergantung kepada apa yang diperankan.

orang,

permainan tersebut

14

Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada
keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi
masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai
subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa
(bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi
tertentu.Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri
murid (Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Lebih lanjut prinsip
pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai
keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi
kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan
pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan
sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif
berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka
pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif,
karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak
mungkin terjadi.15
Metode bermain peran yaitu suatu cara yang diterapkan dalam proses
belajar mengajar dimana siswa diberikan kesempatan untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk menjelaskan sikap dan nilainilai serta memainkan tingkah laku(peran) tertentu sebagaimana yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan melalui metode bermain
peran ini diharapkan nantinya siswa dapat: 1) membina nilai-nilai moral
tertentu; 2) meningkatkan kesadaran dan penghayatan terhadap nilainilai; 3) untuk membina penghayatan siswa terhadap suatu kejadian
atau hal yang sebenarnya dalam realitas hidup.16
Permainan meningkatkan perkembangan fisik, koordinasi tubuh dan
mengembangkan dan memperhalus keterampilan motor kasar dan halus.
Permainan juga membantu anak-anak memahami tubuhnya: fungsinya dan
bagaimana menggunakannnya dalam belajar. Anak-anak bisa mengetahui
bahwa bermain itu menyegarkan, menyenangkan dan memberikan
kepuasan.
Permainan dapat membantu perkembangan kepribadian dan emosi,
karena anak-anak mencoba melakukan berbagai peran, mengungkapkan
14

http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-role-playing-dan.html
Ibid
16
Faturrohman dan Wuri Wuryandani, Pembelajaran PKn Di Sekolah Dasar, Yogyakarta:
Nuha Literia, 2011, cet. I, hlm. 41
15

15

perasaan, menyatakan diri dalam suasana yang tidak mengancam, dan juga
memperhatikan peran orang lain. Melalui permainan anak-anak bisa
belajar mematuhi aturan, menghargai hak orang lain.

3. Bermain dan Kemampuan Intelektual
Menurut Sudrajad fungsi bermain terhadap kemampuan intelektual
dapat dilihat pada beberapa hal berikut ini:
1. Merangsang perkembangan kognitif
Dengan bermain, sensori-motor (indera-pergerakan) anak-anak dapat
mengenal permukaan lembut, kasar, atau kaku. Permainan fisik akan
mengajarkan anak akan batas kemampuannya sendiri.
2. Membangun struktur kognitif.
Melalui permainan, anak-anak akan memperoleh informasi yang lebih
banyak sehingga pengetahuan dan pemahamannya akan lebih kaya
dan lebih dalam.
3. Membangun kemampuan kognitif
Kemampuan kognitif mencakup kemampuan mengidentifikasi,
mengelompokkan,
mengurutkan.
mengamati,
membedakan,
meramalkan, menentukan hubungan sebab-akibat, membandingkan,
dan menarik kesimpulan.
4. Belajar memecahkan masalah.
Di dalam permainan anak-anak akan menemui berbagai masalah
sehingga bermain akan memberikan kesempatan kepada anak untuk
mengetahui bahwa ada beberapa kemungkinan untuk memecahkan
masalah.
5. Mengembangkan rentang konsentrasi.
Apabila tidak ada konsentrasi atau rentang perhatian yang memadai,
seorang anak tidak mungkin dapat bertahan lama bermain peran
(pura-pura menjadi dokter, ayah-anak-ibu, guru, dll.).
4. Bermain dan Perkembangan Bahasa
Dapat dikatakan bahwa “kegiatan bermain merupakan "laboratorium
bahasa" buat anak-anak. Di dalam bermain, anak-anak bercakap-cakap satu
dengan yang lain, berargumentasi, menjelaskan, dan meyakinkan. Jumlah
kosakata yang dikuasai anak-anak dapat meningkat karena mereka dapat
menemukan kata-kata baru”.
5. Bermain dan Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial yang terjadi melalui proses bermain adalah
sebagai berikut:

16

a. Meningkatkan sikap sosial
Ketika bermain, anak-anak harus memerhatikan cara pandang teman
bermainnya, dan dengan demikian akan mengurangi sikap egosentrisnya.
Dalam permainan itu pula anak-anak dapat belajar bagaimana bersaing
dengan jujur, sportif, tahu akan haknya, dan peduli akan hak orang lain.
Anak-anak juga dapat belajar apa artinya sebuah tim dan semangat tim.
b. Belajar berkomunikasi.
Agar dapat melakukan permainan, seorang anak harus dapat mengerti dan
dimengerti oleh teman-temannya. Karena itu melalui permainan, anakanak dapat belajar bagaimana mengungkapkan pendapatnya, juga
mendengarkan pendapat orang lain. Di sini pula anak belajar untuk
menghargai pendapat orang lain dan perbedaan pendapat.
c. Belajar mengorganisasi.
Permainan seringkali menghendaki adanya peran yang berbeda dan karena
itu dalam permainan ini anak-anak dapat belajar berorganisasi sehubungan
dengan penentuan siapa yang akan menjadi apa. Melalui permainan ini
anak-anak juga dapat belajar bagaimana menghargai harmoni dan mau
melakukan kompromi.

6. Bermain dan Perkembangan Emosi
Emosi akan selalu terkait di dalam bermain, entah itu senang,
sedih, marah, takut, dan cemas. Oleh karena itu, bermain merupakan suatu
tempat pelampiasan emosi dan juga relaksasi.
Menurut Zuhaerini dkk, bermain dan perkembangan emosi dapat
digolongkan menjadi beberapa hal yaitu;
1. Kestabilan emosi
Adanya tawa, senyum, dan ekspresi kegembiraan lain
mempunyai pengaruh jauh di luar wilayah bermain itu sendiri.
Adanya kegembiraan/perasaan senang yang dirasakan bersama
ini dapat mengarah pada kestabilan emosi anak-anak.
2. Rasa kompetensi dan percaya diri.
Bermain menyediakan kesempatan kepada anak-anak untuk
mengatasi situasi. Kemampuan mengatasi situasi ini membuat
anak merasa kompeten dan berhasil. Perasaan mampu ini pula
yang akan mengembangkan percaya diri anak-anak. Selain itu,
anak-anak dapat membandingkan kemampuan pribadinya

17

3.

4.

5.

6.

dengan teman-temannya sehingga dia dapat memandang dirinya
lebih wajar (mengembangkan konsep diri yang realistis).
Menyalurkan keinginan.
Di dalam bermain, anak-anak dapat menentukan pilihan ingin
menjadi apa dia. Bisa saja ia ingin menjadi ikan. bukan cacing;
bisa juga ia menjadi komandan pasukan perangnya, bukan
prajurit biasa.
Menetralisir emosi negatif.
Bermain dapat menjadi katup pelepasan emosi negatif
anak, misalnya rasa takut, marah, cemas, dan memberi
anak-anak kesempatan untuk menguasai pengalaman traumatik.
Mengatasi konflik.
Di dalam bermain sangat mungkin akan timbul konflik antara
satu anak dengan lainnya dan karena itu anak-anak bisa belajar
memilih alternatif untuk menyikapi atau menangani konflik yang
ada.
Menyalurkan agresivitas secara aman.
Bermain memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk
menyalurkan agresivitasnya secara aman. Dengan menjadi
raksasa, misalnya, anak-anak dapat merasa mempunyai kekuatan
dan dengan demikian anak-anak dapat mengekspresikan
emosinya yang intens yang mungkin ada tanpa merugikan siapa
pun.

7. Kelebihan dan Kekurangan Role Playing
a. Kelebihan Metode Role Playing
1) Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2) Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan
dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3) Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada
waktu melakukan permainan.
4) Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa.
Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling
untuk dilupakan.
5) Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi
dinamis dan penuh antusias.
6) Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa
serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial
yang tinggi.

18

7) Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan
dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya
dengan penghayatan siswa sendiri
8) Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa,
dan dapat menumbuhkan/membuka kesempatan bagi lapangan kerja.

b. Kelemahan Metode Role Playing
1.

Metode

bermain

peranan

memerlukan

waktu

yang

relatif

panjang/banyak.
2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru
maupun

murid.

Dan

ini

tidak

semua

guru

memilikinya.

3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk
memerlukan

suatu

adegan

tertentu.

4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami
kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus
berarti

tujuan

pengajaran

tidak

tercapai.

5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.17

C. Hakikat Pendidikan IPS
1. PengertianPendidikan IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata pelajaran yang
diajarkan di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan
kependidikan menengah. Bahkan pada sebagian Perguruan Tinggi ada juga
dikembangkan IPS ini sebagai salah satu mata kuliah, yang sasaran
utamanya adalah pengembangan aspek teoritis, seperti yang menjadi
penekanan pada social sciences.
Pendidikan IPS adalah “penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin
ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang

17

http://ras-eko.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-role-playing.html

19

diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk
tujuan pendidikan.”18
Pendidikan IPS adalah “seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.”19
Ilmu pengetahuan sosial merupakan sarana yang sangat bermanfaat
dalam membentuk diri supaya memiliki keterampilan-keterampilan sosial
(social skill) yang memadai. Tanpa keterampilan sosial, manusia akan gagal
dalam kehidupan sosialnya.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian IPS di atas dapat
dikemukakan bahwa IPS adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang
kehidupan sosial didukung dan berdasarkan pada bahan kajian geografis,
ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah, namun IPS bukan
merupakan penjumlahan, himpunan atau penumpukan, bahan-bahan ilmu
sosial.
Ilmu pengetahuan sosial yang merupakan terjemahan social studies
adalah disiplin ilmu yang mengkaji berbagai perilaku sosial dalam
masyarakat. Social studies adalah studies integrative dari disiplin ilmu-ilmu
sosial dan kemanusiaan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi
kewargaan khususnya

lagi

untuk

membantu

masyarakat

(dewasa)

membangun kemampuan membuat keputusan yang sehat bagi masyarakat
luar dalam masyarakat yang plural dan demokratis.
Pengertian tersebut di atas nampak bahwa ilmu pengetahuan sosial
bertujuan mengembangkan tiga kemampuan dasar siswa dalam merespon
masalah-masalah sosial yang timbul di dalam masyarakat, yaitu pertama
berorientasi pada pengembangan kemampuan intelektual yang berhubungan
apada pengembangan diri dan kepentingan masyarakat, dan yang ketiga
adalah berorientasi pada perkembangan pribadi siswa baik untuk
kepentingan diri, masyarakat maupun ilmu pengetahuan.

18
19

Sapriya, Pendidikan IPS, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2008, hlm. 9
Ibid, hlm. 9

20

Dari beberapa pendapat tentang pengertian IPS di atas dapat
dikemukakan bahwa IPS adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang
kehidupan sosial didukung dan berdasarkan pada bahan kajian geografis,
ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara, dan sejarah, namun IPS bukan
merupakan penjumlahan, himpunan atau penumpukan, dan bahan-bahan
ilmu sosial.

2. Tujuan Pendidikan IPS
Mengenai tujuan ilmu pengetahuan sosial, para ahli sering
mengaitkannya dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari
program pendidikan tersebut.
Tujuan pendidikan IPS adalah untuk mempersiapkan peserta didik
menjadi warga Negara yang baik dalam kehidupannya di masyarakat. To
prepare students to be well functioning citizens in a democratic society.
Sedangkan tujuan lain dari pendidikan IPS adalah untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik menggunakan penalaran dalam mengambil
keputusan setiap persoalan yang dihadapinya.
Di sisi lain, Ilmu Pengetahuan Sosial juga membahas hubungan
antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana
anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat,
diharapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan
sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha mmebnatu peserta didik dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya
semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya.
Mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk
mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan
lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi, juga merupakan salah satu tujuan dari
pembelajaran IPS.

21

Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya
dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya
tujuan tersebut. Dalam hal ini, kemampuan dan keterampilan guru dalam
memilih dan menggunakan berbagai model, metode dan strategi
pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan, agar pembelajaran IPS benarbenar mampu mengkondisikan upaya pembekalan kemampuan dan
keterampilan dasar bagi peserta didik untuk menjadi manusia dan warga
negara yang baik.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan utama Ilmu Pengetahuan
Sosial adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka
terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil
mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari yang menimpa dirinya
maupun yang menimpa masyarakat.
Sedangkan tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar (SD) adalah
untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar siswa yang
berguna untuk kehidupan sehari-harinya. IPS sangat erat kaitannya dengan
persiapan anak didik untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam
pembangunan Indonesia dan terlibat dalam pergaulan masyarakat dunia
(global society). IPS harus dilihat sebagai suatu komponen penting dari
keseluruhan pendidikan kepada anak. IPS memerankan peranan yang
signifikan dalam mengarahkan dan membimbing anak didik pada nilai-nilai
dan perilaku yang demokratis, memahami dirinya dalam konteks kehidupan
masa kini, memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat
global yang interdependen.
Sedangkan tujuan IPS dalam pendidikan nasional adalah berfungsi
untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri dan menjadi warga yang
demokratis serta bertanggung jawab.

22

Arah mata pelajaran IPS ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa
di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan
berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami
perubahan setiap saat. Oleh karena itu, mata pelajaran IPS dirancang
untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan
analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam

Dokumen yang terkait

Peningkatan Hasil Belajar IPS Siswa Pada Pokok Bahasan Menerima Keragaman Suku Bangsa dan Budaya Melalui Metode Role Playing di SD NU Wanasari Kabupaten Indramayu

0 10 173

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DRAMA MELALUI METODE BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) PADA SISWA KELAS V MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) GAPURA WATUKUMPUL KABUPATEN PEMALANG

0 5 218

Peningkatan Hasil Belajar Ips Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Thinks Pair Share Pada Siswa Kelas V Mi Manba’ul Falah Kabupaten Bogor

0 8 129

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR IPS MELALUI METODE Peningkatan Motivasi Belajar Ips Melalui Metode Role Playing (Bermain Peran) Pada Siswa Kelas V Sdn Pabelan 01 Kartasura Sukoharjo Tahun 2012/ 2013.

0 4 14

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPS MELALUI STRATEGI ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS IV Peningkatan Motivasi Belajar Dalam Pembelajaran IPS Melalui Strategi Role Playing Pada Siswa Kelas IV Semester II SDN Sumberan Tahun 2014/2015.

0 2 16

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKn MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN ROLE PLAYING Peningkatan Motivasi Belajar Pkn Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Pada Siswa Kelas V SDN 03 Karangsari Kec. Jatiyoso Kab. Karanganyar Tahun Pelaj

0 1 12

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKn MELALUI PENERAPAN METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS V SDN 03 KARANGSARI Peningkatan Motivasi Belajar Pkn Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Pada Siswa Kelas V SDN 03 Karangsari Kec. Jatiyoso Kab. Ka

0 1 11

Peningkatan Kualitas pembelajaran IPS Melalui Model Pembelajaran Role Playing Pada Siswa Kelas V SDN Gunungpati 02 Kota Semarang.

0 1 1

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS V SD 4 JATI WETAN KUDUS

0 0 19

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS V MELALUI METODE ROLE PLAYING DI SD NEGERI 1 RANCAMAYA

0 0 14