Analisis Pengaruh Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan Pembiayaan, dan Ukuran Bank terhadap Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM pada Perbankan Syariah di Indonesia (Periode Tahun 2009-2012)

(1)

ANALISIS PENGARUH INFLASI, BI RATE, PERTUMBUHAN

PEMBIAYAAN, DAN UKURAN BANK TERHADAP

PEMBIAYAAN BERMASALAH SEKTOR UKM PADA

PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA

(PERIODE TAHUN 2009-2012)

SKRIPSI

Disusun Oleh: M Singgih Adi Pratomo

109081000074

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


(2)

(3)

ii


(4)

(5)

(6)

v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(Curriculum Vitae)

Data Pribadi

Nama Lengkap : M Singgih Adi Pratomo

Panggilan : Singgih, Adi

Tempat & Tanggal Lahir : Klaten 2 Juni 1991

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Kp Duren Sawit No. 35 RT 004/03

Kelurahan Tajur. Kecamatan Ciledug. Tangerang. 15152

Telepon : 083870147636

Email : muhammad13adi@gmail.com

Pendidikan Formal

2009-2013 : Program Sarjana (S-1) Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2006-2009 : SMA Negeri 25 Jakarta

2003-2006 : SMP Negeri 3 Tangerang

1997-2003 : SD Negeri Sudimara 8

Pendidikan Informal

• Seminar-seminar

• Pelatihan Pasar Modal “Basic Training of Fundamental & Technical

Analysis” 2012

• Kursus Bahasa Inggris Spectraton College 2005

Pengalaman Organisasi

1. Wakil Ketua Karang Taruna Orbitas Wilayah Duren Sawit

2. Anggota Koperasi Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Anggota OSIS SMA N 25 Jakarta

4. Anggota OSIS SMP N 3 Tangerang

5. Anggota PRAMUKA SD N Sudimara 8

Pengalaman Bekerja

• Pengajar Privat/Bimbingan Belajar Pribadi tahun 2013 sampai saat ini

• Magang/KKSBT Selama satu Bulan di unit Usaha Kecil dan Menengah

“Wahyu Motor” Keahlian

Komputer : Microsoft Office, Internet

Olahraga : Badminton


(7)

vi

ABSTRACT

This research is examine the effect of the variables inflation, BI rate, financing growth, and bank size against the non performing financing on small and medium enterprises sector. The data for assessing this research are acquired from the monthly data from January 2009 to Desember 2012. This research used Ordinary Least Square (OLS)

The result of the research shows that independent variables (Inflation, BI rate, financing growth, and bank size) simultaneously have significant impact to non performing financing on small and medium enterprises. The inflation and BI rate partially do not have impact on NPF. While, financing growth and bank size have negative impact to NPF on small and medium enterprises sector.

Keywords: NPF of Small and medium enterprises, Inflation, BI rate, financing growth, Bank Size, Ordinary Least Square


(8)

vii

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel inflasi, BI Rate, pertumbuhan pembiayaan dan ukuran bank terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM pada perbankan Syariah di Indonesia. Data yang dipergunakan pada

penelitian ini adalah data time series bulanan yaitu dari tahun 2009 sampai 2012

dengan menggunakan metode analisis linier regresi berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen (inflasi, BI rate, pertumbuhan pembiayaan dan ukuran bank) signifikan berpengaruh terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM. Secara parsial inflasi dan BI Rate tidak berpengaruh signifikan. Sedangkan pertumbuhan pembiayaan dan ukuran bank berpengaruh negatif signifikan terhadap pembiayaan bermasalah sektor UKM.

Kata Kunci: NPF Sektor UKM, Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan Pembiayaan, Ukuran Bank dan Analisis Regresi Linier Berganda


(9)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya tiada terkira kepada hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada pembimbing umat manusia baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan pada sahabatnya. Atas rahmat Allah SWT yang sangat besar, sehingga penulis dapat menunaikan amanah dan kewajiban untuk menyelesaikan skripsi ini

yang berjudul “Analisis Pengaruh Inflasi, BI rate, Pertumbuhan

Pembiayaan, dan Ukuran Bank terhadap Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM pada Perbankan Syariah di Indonesia”. Skripsi ini tersusun sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan program Strata Satu (SI) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarih Hidayatullah Jakarta.

Penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu dan Bapakku tercinta, terima kasih atas doa berbalut kesabaran dan

dukungan berbingkai kasih sayang yang selalu diberikan kepadaku untuk mencapai keberhasilan dalam berbagai hal. Terima kasih telah memberikan semangat dan bimbingan, berperan sebagai ‘universitas’ utama kehidupanku.

2. Seluruh keluargaku tercinta, adik-adikku tercinta dan tersayang yaitu,

Dwi, Vindi, dan Rama, semoga kalian tumbuh menjadi anak yang sholeh-sholihah berbakti kepada orang tua dan berguna bagi agama dan negara.

3. Bapak Dr. Ahmad Dumyathi B, MA selaku dosen pembimbing I dan


(10)

ix

meluangkan waktunya memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran dan cinta dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku dekan FEB dan Bapak

Suhendra S.Ag., MM selaku ketua Jurusan Manajemen yang telah

memberikan saran dan wejangan dalam proses penyusunan skripsi ini.

5. Bapak DRS. Miftahul Munir MM selaku penasihat akademik, yang telah

membimbing dan mengarahkan kegiatan akademik dari awal perkuliahan hingga selesai.

6. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terima kasih atas curahanan

ilmu yang disampaikan dengan penuh cinta kepada kami.

7. Seluruh jajaran staf dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, atas

kerja kerasnya melayani mahasiswa dengan baik dan meningkatkan citra pelayanan Fakultas Ekonomi dan Bisnis khususnya Pak Heri, Bu Siska, pak Azis dan Pak Sofyan.

8. Sahabat-sahabat seperjuanganku, yaitu Budi, Andikha, Yoga, Andrian,

Egi, Fajar, Adan, Reza, Shidiq, Fitrah, Afifi dan teman-teman lainnya yang telah menyelesaikan skripsi ataupun yang belum. Lanjutkan perjuanganan kalian teman, umat butuh pengabdian kalian.

9. Teman-temanku Manajemen B angkatan 2009, terima kasih atas

dukungan, maaf tidak disebutkan satu persatu, tetapi tidak mengurangi rasa bangga dan cinta akan persahabatan yang terjalin diantara kita semua. Semoga pertemanan yang dilandasi taqwa ini akan terus terjalin sampai kapanpun.

10. Teman-teman Manajemen Perbankan 2009, semoga kita bisa menjadi

ahli perbankan yang handal dan tangguh, terlebih penting lagi semoga ilmu kita bisa bermanfaat untuk diri dan orang lain.

11. Teman-teman angkatan 2009

12. Dan berbagai pihak yang telah membantu selama masa kuliah dan

penyelesaian skripsi ini.

Semoga segala amalan yang baik tersebut akan memperoleh ganjaran rahmat dan karunia Allah SWT, Amin. Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang ada pada penulis, sehingga tidak menutup kemungkinan bila skripsi ini memiliki banyak kekurangan.


(11)

x

Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi ‘jariyah’ bagi ilmu pengetahuan dan membuka jalanku untuk meraih cita-cita. Amin

Wassalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Jakarta, Mei 2013 Penulis


(12)

xi DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRACT ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 13

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 14

1. Tujuan Penelitian ... 14

2. Manfaat Penelitian ... 15

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Manajemen Risiko ... 16

1. Konsep Manajemen Risiko ... 16

2. Jenis-Jenis Risiko Bank Syariah ... 17

B. Manajemen Risiko Pembiayaan ... 22

1. Konsep dan Definisi ... 22

2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko Pembiayaan ... 23

3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan ... 24

4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan ... 26

5. Fungsi Manajemen Risiko ... 27

C. Pembiayaan Bermasalah ... 28

1. Konsep Pembiayaan Bermasalah ... 28

2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah ... 30

3. Dampak Pembiayaan Bermasalah ... 31

D. Inflasi ... 32

1. Pengertian Inflasi ... 32

2. Jenis-Jenis Inflasi ... 33

3. Efek Buruk Inflasi ... 34

4. Hubungan antara Inflasi dengan Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM ... 35

E. Tingkat Suku Bunga ... 36

1. Konsep Tingkat Suku Bunga ... 36

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Tingkat Suku Bunga ... ... 38

3. Hubungan BI Rate terhadap Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM ... 41


(13)

xii

F. Pertumbuhan Pembiayaan ... 42

1. Konsep Pembiayaan ... 42

2. Jenis-jenis Pembiayaan ... 44

3. Hubungan Pertumbuhan Pembiayaan terhadap Pembiayaan Bermasalah sektor UKM ... 46

G. Ukuran Bank ... 46

1. Konsep Ukuran Bank ... 46

2. Hubungan Ukuran Bank dengan Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM ... 47

H. Usaha Kecil Menengah (UKM) ... 48

1. Konsep UKM ... 48

2. Kriteria UKM ... 49

3. Karakteristik UKM ... 51

I. Penelitian Terdahulu ... 54

J. Kerangka Pemikiran ... 56

K. Hipotesis ... 60

BAB III. METODELOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian ... 62

B. Metode Penentuan Sampel ... 62

C. Metode Pengumpulan Data ... 63

1. Data Sekunder ... 63

2. Metode Studi Pustaka ... 63

3. Internet ... 63

D. Metode Analisis Data ... 64

E. Pengujian Hipotesis ... 70

1. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F) ... 70

2. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 71

3. Koefisien Determinasi ... 73

F. Definisi Operasional Variabel ... 73

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 76

1. Sejarah dan Perkembangan Perbankan Syariah ... 76

2. Perkembangan Kelembagaan dan Indikator Keuangan ... 78

B. Analisis dan Pembahasan ... 80

1. Analisis Deskriptif ... 80

2. Analisis Pengujian Statistik ... 98

3. Pengujian Hipotesis ... 106

C. Intepretasi ... 112

BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 117

B. Implikasi ... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 120


(14)

xiii

DAFTAR TABEL

No Keterangan Halaman

1.1 Posisi Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia ... 2

1.2 Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2006-2012 (dalam miliar rupiah) ... 3

1.3 Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan golongan ... 8

1.4 Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan ... 10

1.5 Perkembangan variabel-variabel penelitian ... 12

2.1 Penelitian Terdahulu ... 57

4.1 Perkembangan Inflasi Indonesia tahun 2009-2012 ... 85

4.2 Perkembangan BI Rate tahun 2009-2012 ... 89

4.3 Perkembangan Pembiayaan Perbankan Syariah tahun 2009-2012 ... 93

4.4 Perkembangan Aset Perbankan Syariah periode tahun 2009-2012 ... 97

4.5 NPF sektor UKM periode tahun 2009-2012 ... 101

4.6 Uji Kolmogorov Smirnov ... 105

4.7 Uji Multikolinieritas ... 106

4.8 Uji DW ... 107

4.9 Uji Park ... 110

4.10 Uji F ... 112

4.11 Uji t ... 113


(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

No Keterangan Halaman

1.1 Tren Perkembangan FDR Perbankan Syariah ... 5

2.1 Kerangka Pemikiran ... 62

4.1 Perkembangan Inflasi di Indonesia periode 2009-2012 ... 86

4.2 Perkembangan BI Rate di Indonesia periode 2009-2012 ... 90

4.3 Perkembangan Pembiayaan yang disalurkan Tahun 2009-2012 ... 95

4.4 Perkembangan Total Aset Perbankan Syariah Tahun 2009-2012... 98

4.5 Perkembangan Pembiayaan Bermasalah UKM Tahun 2009-2012 ... 102

4.6 Histogram ... 103

4.7 Grafik p plot ... 107


(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data-data variabel penelitian dari tahun 2009-2012 ... 124

Lampiran 2 Tabel Model Regresi, Anova, dan Koefisien ... 126

Lampiran 3 Uji Normalitas ... 127

Lampiran 4 Uji Multikolinieritas dan Autokorelasi ... 129


(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kredit atau pembiayaan bermasalah adalah masalah krusial yang paling ditakuti oleh sebuah bank. Namun, bank tidak bisa menghindar dari kredit macet. Risiko kredit berupa pembiayaan bermasalah berbahaya bagi eksistensi suatu bank dalam menepati kewajibannya, mengurangi profitabilitas dan membahayakan kelangsungan hidupnya (Rose, 2002:326). Kredit macet merupakan risiko bisnis yang mau tidak mau harus ditanggung oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang perkreditan atau pembiayaan. Hal inilah yang juga melanda sektor perbankan syariah di Indonesia sejak pertama kali kemunculannya.

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia terus mengalami

peningkatan sejak amandemen Undang-undang tentang perbankan dan dual

banking system mulai diberlakukan. Pasalnya dalam undang-undang tersebut diatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah.

Respon positif diberikan oleh berbagai pihak, baik dari masyarakat maupun pihak penyelenggara kegiatan Bank. Berbagai bank baik BUMN maupun swasta seolah berlomba-lomba mengadakan kegiatan jasa perbankan dengan sistem syariah. Masyarakat pun menunjukan minat yang besar terhadap bank syariah sebagai implikasi dari bukti nyata ketahanan perbankan syariah


(18)

2 terhadap dampak langsung krisis keuangan global. Hal ini disebabkan selain karena unsur spekulatif tidak ada pada produk-produknya, bank syariah juga belum terlalu masuk dalam pasar keuangan global sehingga tidak menerima dampak langsung dari krisis global. Indikasi peningkatan perkembangan bank syariah di Indonesia juga ditunjukan oleh bertambahnya jumlah bank syariah, baik unit usaha syariahnya maupun dengan membuat bank umum syariah. Berikut ini merupakan tabel perkembangan perbankan syariah di Indonesia.

Tabel 1.1.

Posisi Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia

Jenis Bank 2009 2010 2011 2012

Bank Umum Syariah 6 11 11 11

Unit Usaha Syariah 25 23 24 24

BPRS 138 150 155 156

Sumber: Bank Indonesia

Dari tabel di atas, hingga Desember 2012 jumlah bank umum syariah adalah 11 bank. Sementara itu, meskipun sempat mengalami penurunan jumlah pada tahun 2012 hingga Desember 2012 bank konvensional yang memiliki unit usaha syariah terus mengalami peningkatan yakni sebanyak 24 bank. Sedangkan jumlah BPRS terus mengalami peningkatan yang signifikan, hingga akhir triwulan II tahun 2012 jumlahnya sebanyak 156 bank.

Sejak awal 2000 hingga tahun 2012 aset perbankan syariah terus mengalami peningkatan. Data dari Bank Indonesia menunjukan hingga Desember 2012 nilai aset perbankan syariah adalah sebesar Rp 195.015.000.000.000 atau 4,0 % dari keseluruhan perbankan di Indonesia.


(19)

3 dengan pertumbuhan per tahun sebesar 40,2% selama lima tahun terakhir (2007-2011).

Minat dan respon positif masyarakat Indonesia terhadap perbankan syariah dipersonifikasikan dengan semakin besarnya dana pihak ketiga yang terhimpun. Hingga Desember 2012, dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan syariah di Indonesia adalah sebesar Rp 147.512.000.000. Menurut Antonio (2012:7) pesatnya pertumbuhan perbankan syariah yang sistem manajemennya adalah bagi hasil berdasarkan ekonomi Islam ini disebabkan karena kesesuaian dengan ajaran mayoritas penduduk Indonesia. Sedangkan menurut Ghozali (2012:48) penyebab utama masyarakat memilih bank syariah untuk menabung adalah pelayanan yang diberikan dan kepercayaan terhadap bank syariah.

Tabel 1.2.

Posisi Aset dan Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2006-2012 (dalam miliar rupiah)

Indikator 2009 2010 2011 2012

Aset 66,090 97,519 145,467 179,871

DPK 52,271 76,036 115,415 119,279

Sumber: Staitistik Perbankan Syariah Bank Indonesia (diolah dengan ms.Excel)

Dari tabel di atas digambarkan, dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 45,06% dari tahun sebelumnya. Dan pada kuartal ketiga tahun 2011 dana pihak ketiga perbankan syariah yang berhasil dihimpun meningkat sebesar 51,35%. Sedangkan memasuki pertengahan kuartal kedua tahun 2012, dana pihak ketiga perbankan syariah yang berhasil


(20)

4 dikumpulkan telah mencapai Rp 116.871.000.000. Peningkatan pengumpulan dana pihak ketiga pada rentang tahun tersebut disebabkan karena terdapat penambahan jumlah unit Bank Umum Syariah dan Unit usaha Syariah. Hal tersebut berkontribusi dalam pengumpulan dana pihak ketiga oleh perbankan syariah di Indonesia.

Di lain pihak, tingginya dana pihak ketiga yang terkumpul menyebabkan pihak perbankan syariah harus segera menyalurkan dananya sebagai sebuah keniscayaan untuk memperoleh kesempatan mendapat keuntungan melalui prinsip bagi hasil maupun jual beli. Atau bank akan menanggung biaya dana yang cukup besar apabila dana yang terhimpun tidak disalurkan dan dibiarkan mengendap. Konsekuensi logis tersebut menyebabkan bank-bank syariah di Indonesia berupaya untuk menyalurkan dana pihak ketiga yang terkumpul melalui skim-skim pembiayaan yang mereka tawarkan.

Fungsi intermediasi perbankan syariah selama tujuh tahun terakhir berjalan dengan sangat baik. Indikasi membaiknya fungsi intermediasi tersebut

dicerminkan oleh tingginya presentase Loan to Deposite Ratio (LDR) atau

dalam terminologi perbankan syariah disebut Financing to Deposite Ratio

(FDR). Pada tahun 2006, rasio FDR perbankan syariah di Indonesia mencapai

98.90%. Bahkan pada tahun 2008 berhasil mencapai 103,64%, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun berikutnya. Dan memasuki bulan Juni 2012 FDR perbankan syariah di Indonesia telah mencapai 98,58%.

Berikut ini merupakan grafik tren perkembangan Financing to Deposite ratio


(21)

Tren Perke

Sumber: Statistik

Salah satu perbankan syariah penggerakan ekon kecil dan meneng membangun pere Indonesia.

Kredit atau usaha mikro, kecil mikro, kecil dan m Tentang UKM. Be 80,00% 85,00% 90,00% 95,00% 100,00% 105,00% 110,00% Gambar 1.1.

kembangan FDR Perbankan Syariah di Indo

ik Perbankan Syariah Bank Indonesia (diolah de

u sektor bisnis yang menerima kucuran pe ah adalah sektor UKM. UKM merupakan sal onomi riil yang berbasis pada ekonomi kera ngah (UKM) merupakan salah satu bagian rekonomian suatu negara ataupun daerah

u pembiayaan UMKM adalah pembiayaan cil dan menengah yang memenuhi definisi da menengah sebagaimana diatur dalam UU No. Berdasarkan UU tersebut, UKM adalah usaha 0% 0% 0% 0% 0% 2006 2007 2008 2009 2010 2011 20 98,90%99,75% 103,64% 89,69% 89,66% 105,01% 98, 5 ndonesia dengan ms.excel)

pembiayaan dari salah satu pioneer erakyataan. Usaha an penting dalam ah, termasuk di

n kepada debitur dan kriteria usaha o. 20 Tahun 2008 ha produktif yang

2012 98,58%


(22)

6 memenuhi kriteria usaha dengan batasan tertentu kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan.

Perkembangan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UKM) di Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit atau pembiayaan kepada UKM. Setiap tahun pembiayaan kepada UKM mengalami pertumbuhan dan secara umum pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total pembiayaan perbankan.

Usaha mikro kecil menengah menjadi salah satu prioritas dalam agenda pembangunan di Indonesia hal ini terbukti dari bertahannya sektor UKM saat terjadi krisis hebat tahun 1998 dan tahun 2008 silam, bila dibandingkan dengan sektor lain yang lebih besar justru tidak mampu bertahan dengan adanya krisis. Kuncoro (2008:75) mengemukakan bahwa UKM terbukti tahan terhadap krisis

dan mampu survive karena, pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua,

tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga,

menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor.

Di sinilah peran besar perbankan syariah dalam menjalankan fungsi intermediasi sesungguhnya yang menyentuh sektor ekonomi akar rumput. Dilihat dari berbagai skema pembiayaan yang dikembangkan, bank syariah hanya menyalurkan pembiayaan pada sektor riil. Pembiayaan melalui akad murabah, salam, dan ijarah hanya dapat disalurkan apabila ada barang atau jasa (sektor riil) yang bisa dibiayai. Bahkan terbentuk korelasi sempurna antara


(23)

7 biaya modal dengan pengembalian atas modal pada pembiyaan dengan akad musyarakah dan mudharabah.

Jika dibandingkan dengan perbankan konvesional akan tampak perbedaan yang jelas. Penyaluran pembiayaan atau kredit dari dana pihak ketiga banyak yang masuk pada sektor keuangan dengan transaksi yang penuh dengan ketidakpastian dan aksi spekulasi. Sebagian besar dana yang disalurkan oleh perbankan konvensional tidak memiliki dampak pada ekonomi riil, hal tersebut merupakan dampak dari penyaluran dana pada sektor bebas resiko seperti Sertifikat Bank Indonesia. Dan yang lebih memperparah kinerja perbankan konvensional adalah besarnya dana yang disalurkan ke pasar uang dengan dasar spekulasi. Mubyarto (2004:6), seorang tokoh ekonomi

kerakyatan, meragukan peranan perbankan sebagai agent of development

dalam pengentasan kemiskinan melalui senjata kredit. Beliau mengkritik beberapa bank daerah yang lebih suka mengirim dana ke pusat untuk diinvestasikan di surat hutang yang lebih aman seperti SBI. Padahal harapan UKM terhadap terhadap peranan bank sangat tinggi, namun sayang mereka

tidak dianggap “bankable”. Fenomena itu terjadi pada level bank daerah, yang

memang fungsi utamanya memajukan ekonomi daerah.

Perbankan syariah bukanlah financial sector based banking sebagaimana

perbankan konvensional. Sebaliknya perbankan syariah merupakan real sector

based banking yang menjalankan pembiayaan pada sektor riil dan salah satunya adalah sektor UKM. Perbankan syariah memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan ekonomi riil di Indonesia berpadu dengan


(24)

8 potensi ekonomi kerakyatan dan UKM. Produk-produk pembiyaan dengan skim profit and lost sharing dengan paradigma kemitraan dinilai sangat tepat untuk mengembangkan usaha mikro masyarakat. Dengan pendekatan pembiayaan lembaga keuangan mikro sebagai kepanjangan tangan dari bank-bank syariah diharapkan upaya untuk menjangkau UKM bisa dioptimalkan.

Perbankan syariah bisa lebih aktif menjalin kerjasama dengan UKM yang berada ditengah-tengah masyarakat. UKM-UKM tersebut dapat dirangkul sebagai mitra kerja potensial untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat. Stigma bahwa sektor UKM sangat beresiko merupakan argumentasi yang tidak beralasan. Bertahannya Bank BRI yang bergerak di sektor tersebut pada krisis tahun 1998 membuktikan bahwa risiko pada sektor UKM lebih terdiversifikasi (Anthonio 2009:7).

Penyaluran pembiayaan perbankan syariah ke sektor UKM dari tahun 2009 hingga pertengahan tahun 2012 tergolong tinggi. Dan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berikut ini tabel lengkap komposisi pembiayaan perbankan syariah di Indonesia berdasarkan golongan pembiayaan.

Tabel 1.3.

Pembiayaan Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan (Dalam Miliar Rupiah)

Golongan 2009 2010 2011 2012

UKM 35799 52570 71810 90860

Non UKM 11087 15611 30845 56645 Total 46886 68181 102655 147505


(25)

9 Pada tahun 2009 pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah pada sektor UKM adalah sebesar Rp 25.799.000.000.000 Dan meningkat sebesar 46,84% atau sebesar Rp 52.570.000.000.000 pada tahun berikutnya. Pada akhir tahun 2012 dana yang disalurkan melalui pembiayaan ke sektor UMKM oleh perbankan syariah di Indonesia telah mencapai Rp 90.860.000.000.000. Keputusan menyalurkan besarnya pembiayaan ke berbagai sektor bisnis tidak selalu terjadi sesuai seperti yang diharapkan, karena ada berbagai resiko yang harus ditanggung oleh perbankan. Salah satunya adalah resiko kredit yang tercermin oleh rasio kredit bermasalah.

Besarnya pertumbuhan aset dan penyaluran pembiyaan perbankan syariah di Indonesia dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2012 ternyata tidak diikuti dengan kualitas pembiayaan yang baik. Terjaganya fungsi intermediasi perbankan syariah ternyata juga dibarengi dengan memburuknya kualitas pembiayaan. Hal tersebut ditunjukan dengan meningkatnya angka pembiayaan

bermasalah atau Non performing Loan yang dalam terminologi perbankan

syariah disebut Non Performing Finance (NPF ).

Menurut Nasution (dalam Ihsan, 2007:1) NPL setidaknya menimbulkan permasalahan bagi pemilik bank dan pemilik deposito. Pertama bagi pemilik

bank, dengan semakin tinggi NPL mereka tidak menerima return pasar dari

modal mereka. Kedua untuk pemilik deposito tidak menerima return pasar dari

deposito atau tabungan mereka. Bank membagi kegagalan kredit atau pembiayaan mereka kepada pemilik deposito dengan cara menekan tingkat suku bunga atau tingkat bagi hasil. Dalam kasus yang lebih buruk, jika bank


(26)

10 mengalami kebangkrutan deposan akan kehilangan aset atau dihadapkan dengan jaminan yang tidak seimbang. Bank juga membagi risiko kerugian mereka kepada debitur lain dengan cara menetapkan suku bunga pinjaman,

margin, tingkat bagi hasil yang tinggi. Non performing loan akan

mengakibatkan jatuhnya sistem perbankan, mengkerutnya pasar saham dan bahkan mengakibatkan kontraksi dalam perekonomian.

Tabel 1.4.

Pembiayaan Bermasalah Perbankan Syariah berdasarkan Golongan Pembiayaan (Dalam Miliar Rupiah)

Golongan 2009 2010 2011 2012

UKM 1611 1824 2140 2060

Non UKM 271 237 448 1209

Total 1882 2061 2588 3269

Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia

Pada tahun 2009 NPF perbankan syariah adalah sebesar Rp 1.611.000.000.000. Dan meningkat sebesar 13% atau sebesar Rp 1.824.000.000.000 pada tahun berikutnya. Pada tahun 2012 yang merupakan akhir periode pengamatan, jumlah NPF perbankan syariah di Indonesia meningkat menjadi Rp 2.060.000.000.000.

UKM di Indonesia memberikan kontribusi yang besar terhadap

pertumbuhan Produk Domestik Bruto. Namun demikian hal tersebut tidak

mampu mencerminkan kelancaran debitur-debitur dalam melakukan

pembayaran atas pembiayaan yang diberikan.

Selain Produk Domestik Bruto, salah satu variabel yang memengaruhi

tingkat non performing financing adalah ekuivalen tingkat suku bunga. Tingkat


(27)

11 suatu pembiayaan. Meskipun perbankan syariah tidak mengenal sistem bunga, kinerja pembiayaan sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Semakin tinggi tingkat suku bunga yang diberikan bank sentral, maka dapat

mempengaruhi tingkat bagi hasil yang diminta oleh bank sehingga tingkat non

performing financing akan semakin meningkat.

Beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi NPL dan NPF telah dilakukan antara lain.

Faktor penyebab non performing loan atau non performing financing

adalah inflasi. Jakubik (2007:63) melakukan penelitian di Ceko menemukan

jika inflasi berpengaruh terhadap resiko kredit. Hogart et al (2005:3), yang

melakukan penelitian di Inggris raya menemukan pengaruh yang signifikan antara inflasi dengan pembiayaan bermasalah yang diproksikan dengan peningkatan jumlah penghapusan pinjaman.

Faktor lain yang turut memengaruhi tingkat NPF adalah tingkat suku bunga atau dalam perbankan syariah ditunjukan dengan tingkat bagi hasil dan

margin. Saba et al (2012:131) menemukan terdapat pengaruh negatif yang

signifikan tingkat suku bunga terhadap tingkat NPL.

Beberapa literatur menunjukan adanya pengaruh yang ditimbulkan dari

tingkat suku bunga terhadap perbankan syariah. Hakan et al (2011:13)

melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat suku bunga terhadap perbankan syariah Turki. Hasil penilitian menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan yang dihasilkan dari tingkat suku bunga terhadap kinerja perbankan syariah.


(28)

12

Di negara dengan dual banking system seperti Indonesia, tidak dapat

dipungkiri bahwa kinerja bank syariah selain dipengaruhi oleh faktor internal manajemen bank syariah juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti Ekonomi Makro. Faktor eksternal dari makro ekonomi adalah tingkat suku

bunga, nilai tukar, jumlah uang beredar, dan inflasi (Hakan et al, 2011:3).

Menurut Karim (2004:254) pada teori bejana berhubungan,

mengungkapkan bahwa kebijakan moneter keonvensional akan mempunyai pengaruh terhadap perbankan syariah seperti misalnya tingkat suku bunga. Kebijkan monenter mempengaruhi variabel-variabel neraca bank konvensional (suku bunga kredit, suku bunga deposito, dan sekuritas yang dimiliki). Pada umumnya mekanisme tersebut ditransmisikan melalui suku bunga kredit. Di pihak lain, perbankan syariah yang notabene tidak mengenal bunga dalam praktek operasionalnya juga terpengaruh oleh kebijakan moneter tersebut. Pengaruh tersebut terlihat pada kondisi neraca bank syariah. Yakni pada tingkat nisbah bagi hasil deposito investasi mudharabah. Sementara pengaruh suku bunga SBI terhadap nisbah pembiayaan bank syariah ditransmisikan melalui suku bunga kredit.

Tabel 1.5.

Perkembangan variabel-variabel yang mempengaruhi Non Performing Financing

Tahun Inflasi (%)

BI Rate

(%)

Total Pembiayaan (Miliar Rupiah)

Total Asset (Miliar Rupiah)

2009 2.78 6.50 1882 66090

2010 6.96 6.50 2061 97519

2011 3.79 6.00 2588 145467

2012 4.30 5.75 3384 195015


(29)

13

Berdasarkan data fluktuasi non performing financing di lapangan dan gap

hasil-hasil penelitian, peneliti mencoba meneliti lebih lanjut penelitian di atas,

dengan judul “Analsis Pengaruh Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan Pembiayaan,

dan Ukuran Bank terhadap Pembiayaan Bermasalah sektor UKM Perbankan Syariah Indonesia”.

B. Rumusan Masalah

Perbankan syariah juga memiliki fungsi utama sebagai lembaga perantara keuangan. Dan tugas utamanya adalah menyalurkan pembiayaan kepada pihak yang membutuhkannya. Pembiayaan yang diberikan bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan nasional. Tentunya kegiatan ini selalu diikuti oleh risiko tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Kegagalan dalam pembayaran pembiayaan berpengaruh terhadap terhentinya perputaran uang.

Jumlah pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah ke sektor UKM sangatlah besar jika dibandingkan dengan sektor lainnya berdasarkan ukuran usaha. Dan hal tersebut menyebabkan risiko kegagalan bayar yang mengikuti penyaluran pembiayaan sektor UKM sangatlah tinggi dari tahun 2009 sampai 2012. Berdasarkan tabel 1.4 Dapat dilihat bahwa pembiayaan bermasalah di sektor UKM tergolong tinggi. Pada tahun 2009 yang merupakan

awal periode penelitian, pembiayaan bermasalah mencapai Rp

1.611.000.000.000.000. Pada latar belakang masalah telah dijelaskan bahwa kondisi ekonomi negara dan spesifikasi bank berpengaruh terhadap


(30)

14 Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang dikemukakan di atas, maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan pembiayaan, dan Ukuran Bank

berpengaruh terhadap NPF sektor UKM secara simultan?

2. Apakah Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan pembiayaan, dan Ukuran Bank

berpengaruh terhadap NPF sektor UKM secara parsial?

3. Manakah diantara variabel bebas yang memiliki pengaruh yang dominan

terhadap variabel NPF? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh variabel-variabel secara bersamaan terhadap

pembiayaan bermasalah atau NPF pada sektor UKM perbankan syariah di Indonesia.

2. Menganalisis ada tidaknya pengaruh secara parsial dari variabel-variabel

bebas seperti Inflasi, BI Rate, Pertumbuhan Pembiayaan, dan Ukuran Bank

terhadap pembiayaan bermasalah pada sektor UKM Perbankan Syariah di Indonesia.

3. Serta menganalisis variabel apa yang paling memiliki pengaruh terhadap


(31)

15 2. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, yaitu:

1. Menjadi masukan bagi praktisi perbankan syariah dalam mengambil

keputusan berkaitan risiko pembiayaan agar bisa meminimalisir potensi kredit bermasalah.

2. Dapat memperkaya pemahaman mengenai konsep-konsep yang telah

dipelajari dengan membandingkannya dalam praktik perbankan khususnya

berkenaan dengan tema perbankan syariah dan non performing financing

3. Penelitian ini diharapkan bisa berguna bagi penelitian lebih lanjut

berkenaan dengan topik penelitian ini.

4. Menambah referensi dalam menilai kondisi sebuah bank yang baik yang


(32)

16 BAB II Tinjauan Pustaka

A.Manejemen Risiko

1. Konsep Manajemen Risiko

Sebagai suatu entitas bisnis menghadapi sebuah risiko merupakan suatu keniscayaan yang harus diterima, termasuk bank syariah. Seperti yang diungkapkan oleh Tampubolon (2004:33) bahwa, “Kompleksitas yang mengancam sebuah bank tergantung pada kompleksitas dan intensitas kegiatan usaha bank tersebut.”

Tujuan dari manajemen lembaga keuangan adalah untuk memaksimalkan nilai, sebagai penggambaran dari profitabilitas dan tingkat risiko. Aspek kunci pada manajemen keuangan adalah

manajemen risiko yang meng-cover strategi dan perencanaan modal,

manajemen aset-liabilitas, manajemen bisnis bank dan risiko keuangan (Greuning, 2008:64). Komponen pusat dari manajemen risiko adalah identifikasi, quantifikasi, dan memonitor risiko.

Dalam menajalankan fungsinya dan seiring dengan situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan yang mengalami perkembangan pesat, bank syariah akan selalu berhadapan dengan berbagai jenis risiko dengan tingkat kompleksitas yang beragam dan melekat pada kegiatan usahanya. Risiko dalam suatu kegiatan perbankan merupakan suatu kejadian potensial yang bisa diperkirakan maupun


(33)

17 tidak, memiliki dampak yang negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dihindari melainkan dapat dikelola dan dikendalikan. Oleh sebab itu, sebagaimana perbankan pada umumnya, perbankan syariah juga memerlukan serangkaian prosedur untuk mengelola risiko yang ditimbulkan akibat kegiatan usahanya.

Risiko dapat dibedakan menjadi dua jenis kelompok besar, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis (Arifin, 2009:262). Risiko sistematis adalah risiko yang diakibatkan oleh adanya suatu kondisi tertentu yang bersifat makro, seperti perubahan situasi politik, perubahan kebijakan ekonomi pemerintah, perubahan situasi pasar, situasi krisis, dan lain sebagainya yang berdampak pada kondisi ekonomi secara umum. Sedangkan risiko tidak sistematis adalah risiko yang bersifat unik, yang melekat pada suatu perusahaan atau bisnis tertentu saja. Dalam hal ini perbankan syariah turut berpotensi menghadapi risiko-risiko tersebut.

2. Jenis-jenis Risiko Bank Syariah a. Risiko Pembiayaan

Risiko pembiayaan muncul akibat adanya kegagalan counterpary

dalam memenuhi kewajibannya. Karim (2007: 260) membagi jenis-jenis resiko pada bank syariah menjadi risiko terkait produk dan risiko terkait korporasi. Risiko yang terkait dengan produk ditimbulkan oleh jenis produk pada perbankan syariah yang mempunyai karakteristik


(34)

18

yang khas yakni pembiayaan Natural Certainty Contracts (seperti

akad murabahah, ijarah, salam, istishna) dan Natural Uncertainty

Contracts (mudharabah dan musyarakah).

Sementara itu pada risiko terkait pembiayaan korporasi muncul sebagai akibat dari perubahan kondisi bisnis setelah pembiayaan, komitmen modal yang terlalu berlebihan, dan lemahnya analisis bank.

b. Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko kerugian yang terjadi pada portofolio yang dimiliki oleh bank, penyebabnya adalah karena terjadi pergerakan variabel pasar berupa suku bunga dan nilai tukar. Menurut Karim (2007:272) risiko pasar terdiri dari empat hal, yaitu risiko tingkat suku bunga, risiko pertukaran mata uang risiko harga dan risiko likuiditas.

1) Risiko Tingkat Suku Bunga (Interest Rate Risk)

Risiko tingkat suku bunga merupakan risiko yang harus dihadapi bank dikarenakan terjadinya fluktuasi tingkat suku bunga. Dalam hal ini, meskipun bank syariah tidak menetapkan suku bunga pada sisi pendanaan dan pembiayaan, namun bank syariah tidak akan dapat terlepas dari risiko tingkat suku bunga. Hal ini disebabkan pangsa pasar yang disasar oleh bank syariah tidak hanya nasabah-nasabah yang loyal penuh terhadap sistem syariah.


(35)

19 Risiko ini merupakan suatu konsekuensi yang berkaitan dengan adanya pergerakan nilai tukar terhadap rugi laba bank. Meskipun aktivitas-aktivitas pendanaan bank syariah tidak terpengaruhi fluktuasi kurs secara langsung karena tidak dibolehkan melakukan transaksi yang bersifat spekulasi, namun bank syariah tidak dapat terlepas dari adanya posisi dalam valuta asing.

Mengingat bank syariah tidak berkenan berspekulasi, maka

transaksi seperti forward, margin trading, option, dan swap

tidak boleh dijalankan. Yang diperkenankan adalah untuk kebutuhan transaksi atau berjaga-jaga dan transaksi tersebut

harus dilakukan secara tunai atau spot. Seperti pembayaran

dengan cek, pemindahbukuan, transfer, dan sarana pembayaran tunai lainnya.

c. Risiko Likuiditas

Menurut Arifin (2009:245) risiko likuiditas adalah risiko yang

muncul manakala bank tidak mampu memenuhi kebetuhan dana (cash

flow) dengan segera, dan dengan biaya yang sesuai, baik untuk

memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari maupun guna memenuhi kebutuhan dana yang mendesak. Menurutnya, besar-kecilnya risiko ini ditentukan oleh:


(36)

20

1) Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus

dana (fund flow) berdasarkan prediksi pembiayaan dan

prediksi pertumbuhan dana, termasuk mencermati tingkat

fluktuasi dana (volatility of funds).

2) Ketepatan dalam mengatur struktur dana, termasuk

kecukupan dana-dana nonprofit and loss sharing.

3) Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas.

4) Kemampuan menciptakan aset ke pasar antarbank atau

sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last

resort. d. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh

ketidakcukupan proses internal, humen error, kegagalan sistem atau

adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasi bank (Greuning, 2008:174).

Menurut Greuning, terdapat beberapa hal yang dapat memicu peningkatan risiko operasional pada bank Islam, diantaranya adalah:

1) Risiko pembatalan perjanjian pada pembiayaan yang tidak

mengikat seperti murabahah (partenership) dan istishna

(manufacturing).

2) Kegagalan sistem pengendali internal dalam mendeteksi


(37)

21

3) Potensi menghadapi kesulitan dalam penguatan akad atau

kontrak pada lingkungan legal yang lebih lebih luas.

4) Kebutuhan untuk memelihara dan mengelola komoditas

yang diinventorisasikan pada pasar yang tidak likuid.

5) Kegagalan mematuhi persyaratan syariah.

Menurut Arifin (2008:271) terdapat empat risiko yang berkaitan dengan risiko operasional diantaranya adalah:

1) Risiko Reputasi: adalah risiko yang disebabkan oleh adanya

publikasi negatif terkait dengan kegiatan bank.

2) Risiko Kepatuhan: adalah risiko yang muncul akibat dari

ketidakpatuhan ketentuan-ketentuan internal dan eksternal seperti GWM, batas pemberian pembiayaan, ketentuan dalam akad, fatwa Dewan Syariah Nasional dan lain sebagainya.

3) Risiko Strategi: risiko yang antara lain disebabkan oleh

adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan yang salah, atau bank tidak mematuhi perubahan perundang-undangan dan ketentulan lain.

4) Risiko Hukum: risiko ini muncul sebagai akibat dari adanya

kelemahan aspek yuridis seperti adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan undang-undang yang mendukung suatu kebijakan dan kegiatan pembiayaan.


(38)

22 B. Manajemen Risiko Pembiayaan

1. Konsep dan Definisi

Dalam menjalankan fungsinya yakni memberikan pembiayaan kepada masyarakat oleh bank syariah selalu berdampingan dengan risiko. Dijelaskan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan bahwa:

“Kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang diberikan oleh bank mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat. Untuk mengurangi risiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank”.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran terhadap risiko perbankan. Hal-hal seperti jumlah pembiayaan yang diberikan, kuantitas dan kualitas risiko. Secara keseluruhan risiko pembiayaan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dibandingkan dengan risiko-risiko lainnya, karena ketidakmampuan nasabah memenuhi kewajiban pembiayaannya dapat mengakibatkan bank merugi dan mengikis permodalan bank yang berujung pada kebangkrutan.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan sebuah upaya manajerial terhadap risiko yang muncul akibat dari penyaluran pembiayaan. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pembiayaan senantiasa dalam keadaan lancar.


(39)

23 Senada dengan hal yang dinyatakan oleh Tampubolon (2004:35) dalam bukunya dijelaskan bahwa:

“Manajemen risiko merupakan sejumlah kegiatan yang bersifat proaktif dan terarah yang ditujukan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu atau sebagian dari sebuah transaksi atau instrumen. Karena itu manajemen risiko haruslah dinamis tidak statis, dan berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan dan risiko usaha”.

Resiko kredit atau pembiayaan berbahaya bagi kelangsungan hidup bank karena dapat menyebabkan bank gagal memenuhi kewajibannya dan menggerus profitabilitas bank (Rose, 2002:326). Risiko kredit adalah risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan pihak lawan memenuhi kewajibannya. Risiko ini dapat timbul karena kinerja satu atau lebih debitur yang buruk. Kinerja debitur yang buruk ini dapat berupa ketidakmampuan debitur untuk memenuhi sebagian atau seluruh isi perjanjian kredit yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Bank Indonesia mendefinisikan manajemen risiko sebagai

serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk

mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.

2. Ruang Lingkup Manajemen Risiko Pembiayaan

Secara umum manajemen risiko merupakan serangkaian proses

yang diawali dengan proses identifikasi, pengukuran, monitoring dan

pengelolaan terhadap risiko-risiko portofolio. Dengan demikian pengelola bank dapat selalu memantau agar risiko tidak mempengaruhi tingkat likuiditas bank itu sendiri.


(40)

24 Dalam menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi, bank selalu dihadapkan pada risiko – risiko bisnis. Risiko bisnis yang dihadapi mencakup diantaranya risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko legal. Untuk menjaga dan mengurangi risiko kerugian, bank wajib melaksanakan transaksi yang berpedoman pada kebijakan dan penerapan manajemen risiko yang telah ditetapkan pemerintah yang berlandaskan pada prinsip kehati – hatian. Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003 mengidentifikasikan empat aspek pokok yang sekurangnya tercakup dalam manajemen risiko, yaitu diantaranya, pertama adalah pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi. Kedua adalah kebijakan, prosedur dan penetapan limit. Ketiga adalah proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, sistem informasi manajemen risiko kredit. Keempat adalah Pengendalian Risiko Kredit. 3. Tujuan Manajemen Risiko Pembiayaan

Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 pada tanggal 19 Mei 2003 tentang “Penerapan Manajemen Risiko Untuk Bank Umum”, merupakan wujud keseriusan Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan. Keseriusan tersebut dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia No. 7/25/PBI/2005 pada Agustus tahun 2005 tentang “Sertifikasi Manajemen Risiko Bagi Pengurus Dan Pajabat Bank Umum”, yang mengharuskan seluruh pejabat bank dari tingkat terendah hingga tertinggi untuk memiliki sertifikasi manajemen risiko yang sesuai dengan tingkat jabatannya.


(41)

25 Tujuan dari manajemen risiko menurut Tampubolon (2004 :34) adalah pengelolaan risiko yang mencakup atas prosedur dan metodologi yang digunakan sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali pada

batas / limit yang dapat diterima serta menguntungkan bank. Penerapan

manajemen risiko tersebut akan memberikan manfaat, baik kepada perbankan maupun otoritas pengawasan bank. Bagi perbankan,

penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder value,

memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan yang sistematis yang didasarkan atas ketersedian informasi, digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank dan untuk menilai risiko yang melekat pada instrumen atau kegiatan usaha bank yang relatif kompleks, serta menciptakan infrastruktur- infrastruktur yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing bank.

Dalam proses penerapan manajemen risiko, bank dapat menggunakan berbagai pendekatan pengukuran risiko, baik dengan

metode standar yang direkomendasikan oleh Basel Committee on

Banking Supervison. Kesepakatan Basel mencetuskan 2 kesepakatan (Basel I dan Basel II). Dalam kesepakatan Basel I hanya mencakup risiko kredit, modal yang disediakan hanya dikaitkan dengan risiko kredit, dan dalam mengukur kecukupan modal menurut risiko kredit didasari oleh beberapa kalkulasi yang terdiri dari bobot risiko aktiva dan bobot risiko, penyetaraan dengan risiko kredit, target rasio modal dan kalkulasi


(42)

26 konsumsi modal yang memenuhi syarat, kecukupan hasil pada modal yang memenuhi syarat struktur modal (El Tiby, 2011:102).

Dalam kesepakatan Basel II digunakan pendekatan baru dalam hal pengawasan bank. Kerangka baru Basel II dirancang mencakup tiga konsep yang dikenal sebagai tiga pilar. Ketiga pilar tersebut diantaranya adalah pilar 1 yaitu Kewajiban penyediaan modal minimum. Pilar 2 yaitu tinjauan berdasar regulasi dari kecukupan modal dari masing – masing bank dan proses penilaian internal. Dan pilar 3 yaitu disiplin pasar yang efektif sebagai pengungkit untuk memperkuat keterbukaan dan mendorong agar bank lebih aman dalam prakteknya (El Tiby, 2011:107). 4. Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pembiayaan

Agar efektif, dalam proses manajemen risiko perlu adanya kerangka kerja, diantaranya. Memahami rantai risiko, dengan pehaman ini satuan kerja manajemen risiko wajib terlebih dahulu melakukan analisis lingkungan untuk menetapkan masalah atau peluang, cakupan dan konteks serta isu yang berhubungan dengan risiko, seperti masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Menurut Tampubolon (2004:41) kerangka kerja manajemen risiko pembiayaan atau kredit adalah sebagai berikut:

a. Melakukan analisis terhadap stakeholder (deposan, debitur, pemilik

saham) untuk menetapkan atau mengkaji toleransi risiko, posisi dan


(43)

27

b. Memahami situasi atau peristiwa yang pernah diambil perusahaan

yang dapat mendatangkan kerugian.

c. Melakukan penilaian atas risiko dan pengendalian yang ada.

Menyusun tanggapan atas risiko yang ada.

d. Menetapkan aktivitas pengendalian berupa program mitigasi risiko.

e. Mengkomunikasikan risiko dan manajemen risiko. Melakukan

pemantauan terhadap risiko dan pengelolaanya. 5. Fungsi Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah sebuah pola pikir, oleh karena itu semua pejabat bank bisa atau mampu mewaspadai risiko dan menerapkan manajemen risiko dengan baik. Fungsi manajemen risiko tidak hanya sekedar memelihara tingkat profitabilitas dan kesehatan bank, namun juga untuk memelihara integritas dan stabilitas sistem keuangan yang kritis terhadap kesehatan perekonomian nasional. Secara garis besar, menurut Tampubolon (2004:45) manajemen risiko berfungsi untuk:

a. Menunjang ketepatan proses perencanaan dan pengambilan keputusan

b. Menunjang efektifitas perumusan kebijakan sistem manajemen dan

bisnis.

c. Menciptakan Early Warning System untuk meminimumkan risiko.

d. Menunjang kualitas pengelolaan dan pengendalian pemenuhan tingkat

kesehatan bank.

e. Menunjang penciptaan/pengembangan keunggulan kompetitif.


(44)

28 C. Pembiayaan Bermasalah (NPF)

1. Konsep Pembiayaan Bermasalah

Suatu kredit dinyatakan bermasalah jika bank benar-benar tidak mampu mengahadapi risiko yang ditimbulkan oleh kredit tersebut. Risiko kredit atau pembiayaan didefinisikan sebagai risiko yang muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok dan bunga dari pinjaman yang diberikan atau investasi yang sedang dilakukannya (Arifin, 2008:263).

Sebagai indikator yang menunjukkan kerugian akibat risiko kredit

adalah tercermin dari besarnya non performing loan (NPL), dalam

terminologi bank syariah disebut non perfoming financing (NPF).

Non Performing Financing (NPF) adalah rasio antara pembiayaan

yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah. berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia kategori yang termasuk dalam NPF adalah pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet. Dalam peraturan bank indonesia Nomor 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Penilaian Kualitas Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah pasal 9 ayat (2), bahwa kualitas aktiva produktif dalam bentuk pembiayaan dibagi dalam 5 golongan yaitu lancar (L), dalam perhatian khusus (DPK), kurang lancar (KL), diragukan (D), macet (M).

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.31 tentang akuntansi perbankan butir 24 menyebutkan bahwa:


(45)

29

“Kredit non performing pada umumnya merupakan kredit yang

pembayaran angsuran pokok dan/atau bunganya telah terlewat sembilan puluh hari atau lebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. Kredit non performing terdiri atas kredit yang digolongkan sebagai kredit kurang lancar, diragukan, dan macet.”

Sedangkan Sutojo (2008:13) menyatakan jika “pengertian kredit bermasalah adalah suatu keadaan di mana debitur mengingkari janji mereka membayar bunga dan atau kredit induk yang telah jatuh tempo, sehingga terjadi keterlambatan pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran.

Dari kelima kualitas pembiayaan yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet, yang tergolong dalam

pembiayaan bermasalah atau non performing financing adalah

pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

Berdasarkan surat Edaran Bank Indonesia Nomor7/56/DPbS

tanggal 9 Desember 2005, pedoman untuk perhitungan rasio non

performing finance (NPF) dihitung dengan cara sebagai berikut:

NPF= X 100%

Rasio ini menunjukan kualitas pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan. Semakin tinggi rasio NPF maka kualitas pembiayaan yang diberikan oleh perbankan syariah semakin memburuk. Kelancaran kegiatan usaha bank syariah dapat terganggu apabila rasio semakin meningkat dan dapat berakibat pada tingkat kesehatan bank itu sendiri.

Pembiayaan yang bermasalah Total Pembiayaan Disalurkan


(46)

30

Bank Indonesia sebagai regulator yang turut mengatur perbankan

syariah di Indonesia menetapkan bahwa batas maksimum tingkat pembiayaan yang bermasalah sebesar 5% dari total pembiayaan yang diberikan.

2. Penyebab Pembiayaan Bermasalah

Pembiayaan bermasalah merupakan sumber permasalahan bank. Adanya pembiayaan bermasalah ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Sutojo (2008:18) menuturkan terjadinya kredit bermasalah disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya:

a. Faktor Internal:

1) Rendahnya kemampuan atau ketajaman bank melakukan

analisis kelayakan permintaan kredit yang diajukan oleh calon debitur.

2) Lemahnya sistem administrasi kredit atau pembiayaan serta

sistem administrasi bank.

3) Campur tangan yang berlebihan dari para pemegang saham

4) Pengikatan jaminan kredit yang kurang sempurna

b. Faktor debitur

1) Salah urus atau missmanagement

2) Kurangnya pengalaman dan pengetahuan pemilik dalam

bidang usaha yang dijalani.


(47)

31

c. Faktor Eksternal

1) Perkembangan kondisi ekonomi atau bidang usaha yang

merugikan.

2) Bencana alam

3) Regulasi pemerintah

3. Dampak Pembiayaan Bermasalah

Adanya pembiayaan bermasalah ini akan memberikan dampak negatif kepada beberapa pihak, Sutojo (2008:25) menjelaskan bahwa terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan dari pembiayaan bermasalah diantaranya adalah:

a. Bank yang bersangkutan akan mengalami gangguan profitablitias

untuk menutupi cadangan pembiayaan bermasalah.

b. Jumlah modal bank akan terkikis dan menurunkan rasio kecukupan

modal bank.

c. Nasabah sendiri akan kehilangan kepercayaan pihak luar dan relasi

bisnis, serta citra dan nama baik yang rusak. Sementara nasabah lainnya akan kesulitan mendapatkan pembiayaan dari bank yang bersangkutan.

d. Perputaran dana bank di masyarakat akan terhenti.

e. Pengusaha di dalam negeri akan kehilangan kesempatan untuk


(48)

32 D. Inflasi

1. Pengertian Inflasi

Inflasi dapat diartikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus atau inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu (Manurung, 2008:359). Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi.

Manurung lebih lanjut menggambarkan inflasi sebagai salah satu dari persoalan politik yang sering diangkat menjadi komoditas politik. Sebuah pemerintahan dianggap gagal bila tidak bisa mengatasi masalah inflasi. Setidaknya terdapat dua efek utama yang disebabkan oleh inflasi, yaitu redistribusi dan distorsi. Inflasi mengakibatkan efek distribusi pendapatan dan kemakmuran karena terjadinya perbedaan pada aset dan utang yang dipegang masyarakat. Inflasi mengakibatkan efek distorsi karena perekonomian mengalami masalah efisiensi dan masalah

penilaian total output. Masalah efisiensi ekonomi terjadi karena adanya

distorsi pada harga dan penggunaan uang, sedangkan masalah penilaian total output terjadi karena adanya inflasi mendorong pelaku ekonomi menyesuaikan penilaian terhadap harga-harga dan adanya penyesuaian itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


(49)

33 2. Jenis-jenis Inflasi

Dalam teori ekonomi, inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:

a. Penggolongan inflasi didasarkan sifatnya, inflasi dibagi menjadi tiga

kategori utama yaitu (Putong, 2002:260)

1) Inflasi Merayap (creeping Inflation)

Biasanya ditandai dengan laju inflasi yang rendah, yaitu kurang dari 10% per tahun.

2) Inflasi Menengah (galloping inflation)

Ditandai dengan meningkatnya harga yang cukup besar dan kondisi tersebut berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi, yang artinya harga pada bulan/minggu berikutnya selalu lebih tinggi dari waktu sebelumnya.

3) Inflasi Tinggi (hyper inflation)

Inflasi jenis ini sangat mengkhawatirkan, karena harga-harga barang meningkat sampai dengan lima atau enam kali, sehingga nilai uang turun secara tajam. Inflasi yang tinggi

biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang panas (over

heated), artinya permintaan atas produk melebihi kapasitas penawaran produknya.

b. Penggolongan inflasi berdasarkan penyebabnya, dibedakan menjadi


(50)

34 1) Demand pull inflation, yaitu inflasi yang disebabkan terlalu

kuatnya peningkatan agregat permintaan terhadap komoditi-komoditi di pasar barang.

2) Cost low inflation, yaitu inflasi yang dissebabkan bergesernya kurva agregat penawaran ke arah kiri atas. Penyebabnya adalah meningkatnya harga-harga faktor produksi sehingga menaikan harga komoditi di pasar.

3. Efek Buruk Inflasi

Ledakan inflasi telah membuat rumit perekonomian dan meningkatkan angka kemiskinan. Inflasi dua digit yang dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia telah terbukti menjadi peristiwa yang banyak mengacaukan perekonomian dunia selama beberapa dekade terakhir sehingga banyak menimbulkan persoalan. Bahkan dampak inflasi yang dirasakan oleh masyarakat miskin jauh lebih besar dibandingkan dengan angka inflasi itu sendiri. Inflasi telah mendepresiasi nilai kekayaan dan pendapatan riil masyarakat sehingga terjadi penurunan daya beli. Dalam kondisi demikian perusahaan dililit oleh biaya – biaya produksi dan pemasaran yang makin naik. Sehingga pendapatan perusahaan makin menurun.

Manurung (2008:371) mengungkapkan setidaknya ada tiga biaya sosial yang harus ditanggung dari tingginya angka inflasi. Dampak sosial tersebut ialah menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat, memburuknya distribusi pendapatan, dan terganggunnya stabilitas ekonomi.


(51)

35 Inflasi dapat menimbulkan beberapa efek buruk terhadap kegiatan ekonomi dan kemakmuran individu dan masyarakat (Sukirno 2006:338).

a. Efek Buruk Inflasi terhadap Perkembangan Ekonomi

Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Kegiatan ekonomi semacam ini dapat meningkatkan produktivitas dan berakibat pada peningkatan pengangguran. Naiknya harga barang lokal menyebabkan produk dalam negeri tidak bisa bersaing di luar negeri sehingga ekspor akan menurun.

b. Efek Buruk Inflasi terhadap Kemakmuran Masyarakat

Inflasi dapat menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap. Selain itu inflasi dapat mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebaliknya harta-harta tetap seperti rumah dan tanah akan terus mengalami kenaikan harga. Hal demikian dapat menyebabkan tidak meratanya kekayaan di masyarakat.

4. Hubungan antara Inflasi dengan Pembiayaan Bermasalah Sektor UKM

Dalam perekonomian, inflasi merupakan hal yang wajar.

Kehadirannya bisa menggairahkan perekonomian atau justru

menghancurkannya. Kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh inflasi juga akan dirasakan oleh para pengusaha, terutama dalam memperoleh bahan baku untuk usaha. Inflasi mendorong pelaku ekonomi


(52)

36 menyesuaikan penilaian terhadap harga-harga dan adanya penyesuaian itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit (Manurung, 2008:260). Selain itu inflasi juga mengharuskan pengusaha untuk menaikan gaji para pegawainya. Kedua hal tersebut dapat berdampak pada kegiatan usaha yang dilakukan. Selain dapat menurunkan keuntungan perusahaan, inflasi juga dapat mengurangi kemampuan pengusaha untuk melunasi pembiayaan yang telah diberikan. Keadaan tersebut dapat menyebabkan kenaikan tingkat pembiayaan bermasalah yang dihadapi oleh perbankan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hoggart et al. (2005:26)

peningkatan penghapusan pinjaman meningkat setelah terjadi kenaikan

inflasi harga eceran. Sementara Babouček dan Jančar (2005:9) mengukur

efek dari guncangan makroekonomi pada kualitas kredit dari sektor perbankan Ceko untuk periode 1993-2006 menemukan bukti laporan korelasi positif dari non-performing loan dengan Tingkat pengangguran dan inflasi harga konsumen.

E. Tingkat Suku Bunga

1. Konsep Tingkat Suku Bunga

Sebagai lembaga perantara keuangan akan memperoleh keuntungan dari selisih bunga yang diberikan kepada penyimpan dengan bunga yang

diterima dari peminjam. Keuntungan tersebut disebut dengan spread

based. Selain itu bank memperoleh dari jasa-jasa bank lainnya yang

disebut fee based. Kegiatan utama bank sebagai lembaga intermediasi


(53)

37 Kasmir (2003: 134) bunga merupakan komponen biaya dan pendapatan bagi bank.

Kasmir (2003: 133) menyatakan bunga bank merupakan balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Atau bisa diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memiliki pinjaman).

Adapun beberapa macam teori mengenai tingkat bunga yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain (Amalia, 2010:75)

a. Teori Keynes

Menurut keynes tingkat bunga merupakan hasil interaksi antara tabungan dan investasi. Tingkat bunga menurut Keynes merupakan suatu fenomena moneter artinya tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang. Menurut Keynes uang merupakan salah satu bentuk kekayaan yang dipunya seseorang (portofolio) seperti halnya kekayaan dalam bentuk tabungan di bank, saham atau surat berharga lainnya dengan memperoleh keuntungan. Apabila suku bunga naik maka harga surat berharga akan turun, sehingga menyebabkan orang tertarik untuk membeli surat berharga.

b. Teori Klasik

Pendapat kaum klasik mengenai harga, bahwa fluktuasi bunga dapat mempengaruhi perilaku penabung maupun investor. Bunga


(54)

38

adalah ”harga” dari penggunaan (loanable funds) atau ”dana yang

tersedia untuk dipinjamkan”, sebab menurut teori klasik bunga adalah ”harga” yang terjadi di ”pasar” dana investasi.

Harapan tingkat suku bunga di masa yang akan datang mempengaruhi seseorang untuk memanfaatkan uangnya. Namun dalam jangka panjang pendapatanlah yang mempengaruhi kegiatan seseorang dalam perekonomian.

Untuk menentukan besar kecilnya tingkat bunga simpanan dan pinjaman sangat dipengaruhi oleh keduanya. Artinya baik bunga simpanan maupun pinjaman saling mempengaruhi disamping pengaruh faktor-faktor lainnya.

2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Tingkat Suku Bunga

Menurut Kasmir dalam bukunya Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, edisi keenam (2002 : 122) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tingkat suku bunga, antara lain :

a. Kebutuhan dana

Apabila bank kekurangan dana, sementara permohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat tepenuhi dengan meningkatkan suku bunga simpanan. Peningkatan suku bunga simpanan secara otomatis akan meningkatkan bunga pinjaman.


(55)

39 b. Persaingan

Dalam memperebutkan dan simpanan, maka disamping faktor promosi, yang paling utama pihak perbankan harus memperhatikan pesaing. Dalam arti jika untuk bunga simpanan rata-rata 16%, maka jika hendak membutuhkan dana dengan cepat sebaiknya bunga simpanan dinaikkan diatas bunga pesaing misalnya 16%. Namun sebaliknya untuk bunga pinjaman harus dibawah bunga pesaing.

c. Kebijakan Pemerintah

Dalam arti baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman tidak boleh melebihi bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. d. Target Laba yang diinginkan

Sesuai dengan target laba yang diinginkan, jika laba yang diinginkan besar maka bunga pinjaman ikut besar dan sebaliknya.

e. Jangka waktu

Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin tinggi bungannya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko dimasa mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek, maka bunganya relatif rendah.

f. Kualitas jaminan

Semakin likuid jaminan yang diberikan, maka semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya.


(56)

40 g. Reputasi perusahaan

Bonfiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya perusahaan yang bonafit kemungkinan risiko kredit macet relatif kecil dan sebaliknya.

h. Produk yang kompetitif

Maksudnya adalah produk yang dibiayai tersebut laku dipasaran. Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif.

i. Hubungan baik

Biasanya bank menggolongkan nasabahnya antara nasabah utama (primer) dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan terhadap bank.

j. Jaminan pihak ketiga

Dalam hal ini pihak yang membarikan jaminan kepada penerima kredit. Biasanya pihak yang memberikan jaminan bonafit, baik dari segi kemampuan membayar, nama baik maupun loyalitasnya tehadap bank, maka bunga yang dibeban pun juga berbeda.

Sementara itu dalam situs resminya Bank Indonesia mendefinisikan Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia sebagai suku bunga kebijakan yang


(57)

41

mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh

bank Indonesia dan diumumkan kepada publik.

BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas

(liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran

operasional kebijakan moneter.

Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada

perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB

O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan.

Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam

perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate

apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah

ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila

inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.

3. Hubungan BI Rate terhadap Pembiayaan Bermasalah

Dalam penelitiannya yang dilakukan oleh Haron dan Shanmugam (1997:5) menemukan bahwa suku bunga berpengaruh bagi perbankan syariah baik pada sisi pengumpulan dana maupun pembiayaan. Meskipun Perbankan syariah tidak menetapkan tingkat bunga baik pada sisi


(58)

42

pembiayaan maupun pendanaan, tetapi dalam dual banking system, bank

syariah tidak bisa lepas dari risiko tingkat bunga. Pasar yang dijangkau oleh perbankan syariah bukan hanya yang loyal terhadap syariah, melainkan menjangkau pula pihak yang mengharap keuntungan dari bank syariah. Karim (2007: 272) menjelaskan apabila terjadi bagi hasil pendanaan syariah lebih kecil dari tingkat bunga maka nasabah akan berpindah ke bank konvensional, sebaliknya pada sisi pembiayaan, apabila margin yang dikenakan lebih besar dari tingkat bunga maka nasabah akan beralih ke bank konvensional. Oleh sebab itu agar bank

syariah lebih kompetitif, maka suku bunga acuan atau BI Rate biasa

digunakan sebagai benchmark dalam penentuan tingkat pengembalian

dan yang utama adalah margin keuntungan murabahah. Apabila tingkat

pengembalian tinggi maka kemungkinan terjadi default juga akan

meningkat.

F. Pertumbuhan Pembiayaan 1. Konsep Pembiayaan

Sebagaimana bank pada umumnya, bank syariah juga mempunyai fungsi utama menyalurkan dana yang dihimpunnya dalam bentuk pemberian kredit atau dalam terminologi perbankan syariah disebut pembiayaan, sebagaimana yang disebutkan dalam undang-undang perbankan syariah no. 21 tahun 2008 pasal 19 ayat 1. Pembiayaan yang


(59)

43 yang ditetapkan undang-undang atau akad-akad yang tidak bertentangan dengan ajaran islam.

Pengertian pembiayaan menurut Kasmir (2001 : 92) adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan hasil bagi.

Akad menurut Antonio (2002:150) dibagi dalam 5 kelompok. Yaitu

(1) prinsip simpanan murni (al wadi’ah) (2) prinsip bagi hasil / profit loss

sharing (syirkah) (3)Prinsip Jual Beli (at-tijarah) (4) prinsip sewa ( al-ijarah) dan (5) prinsip fee/jasa (al ajr walumullah). Dalam melakukan pembiayaan jenis yang paling banyak dipakai adalah bagi hasil, jual beli,

sewa, dan qardh.

Berdasarkan pengertian di atas, maka pembiayaan dengan prinsip syariah merupakan bentuk penyaluran dana ke masyarakat berupa transaksi bagi hasil, transaksi sewa, transaksi jual beli, transaksi pinjam meminjam, dan transaksi multijasa dengan berlandaskan prinsip syariah kepada pihak yang memerlukan dana dalam jangka waktu tertentu. Dengan imbalan, tanpa imbalan, atau bagi hasil sebagai tugas utama bank. Hal yang sama diungkapkan oleh Antonio (2002:160) bahwa “pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang


(60)

44 Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah pembiayaan merupakan istilah yang biasa dipergunakan dalam perbankan konvensional dengan sebutan kredit. Hal yang menjadi pembeda adalah pada bentuk imbalan, pada pembiayaan adalah bagi hasil dan selisih margin sedangkan dalam kredit bentuk imbalannya adalah bunga.

2. Jenis-jenis Pembiayaan

Siamat (2004:165) membagi pembiayaan atau kredit berdasarkan jangka waktunya, yaitu:

a. Pembiayaan jangka pendek (short term-loan) dimana jangka waktu

pengembaliannya kurang dari satu tahun.

b. Pembiayaan jangka menengah (medium-term loan), pembiayaan yang

diberikan dengan jangka waktu pengembalian 1 s/d 3 tahun.

c. Pembiayaan jangka panjang (long-term loan) jenis pembiayaan yang

jangka waktu pengembaliannya melebihi 3 tahun.

Dalam konsep perbankan islam, pembiayaan yang diberikan oleh perbankan syariah berdasarkan kebutuhan penggunanaan dana dan menurut Karim (2004:230) dibagi menjadi beberapa jenis pembiayaan, antara lain:

a. Pembiayaan Modal Kerja

Pembiayaan modal kerja adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan kepada perusahaan untuk membiayai kebutuhan modal kerja usahanya dengan jangka waktu maksimum satu tahun dan dapat


(61)

45 diperpanjang sesuai kebutuhan. Seperti untuk pembiayaan likuiditas, piutang, persediaan, dan untuk pembiayaan modal kerja perdagangan.

b. Pembiayaan Investasi

Merupakan pembiayaan jangka menengah atau jangka panjang untuk pembelian barang-barang modal yang diperlukan untuk pendirian proyek baru, rehabilitasi, modernisasi, ekspansi, dan relokasi proyek yang sudah ada.

c. Pembiayaan Konsumtif

Yang dimaksud dengan pembiayaan konsumtif adalah jenis pembiayaan yang diberikan untuk tujuan di luar usaha dan umumnya bersifat perorangan. Pembiayaan jenis ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan akan habis pakai.

d. Pembiayaan Sindikasi

Pembiayaan sindikasi adalah pembiayaan yan diberikan oleh lebih dari satu lembaga keuangan untuk satu proyek pembiayaan tertentu.

e. Pembiayaan Berdasarkan Take Over

Pembiayaan berdasarkan take over adalah pembiayaan yang

timbul sebagai akibat dari take over terhadap transaksi non syariah

yang telah berjalan dan dilakukan oleh bank syariah atas permintaan nasabah.


(62)

46 3. Hubungan Pertumbuhan Pembiayaan terhadap Pembiayaan

Bermasalah

Bank merupakan suatu unit usaha yang berlandaskan kepercayaan dan dalam kegiatannya selalu diikuti oleh banyak risiko. Untuk mengejar keuntungan yang besar maka bank selalu dihadapkan oleh risiko yang besar pula. Dalam hal kaitannya dengan pembiayaan, semakin tinggi tingkat pembiayaan yang disalurkan maka semakin tinggi pula tingkat profitabilitas suatu bank. Namun konsekuensi logis dari hal tersebut adalah risiko kegagalan pembayaran pembiayaan dari nasabah juga semakin tinggi disamping juga bank akan menanggung pertambahan risiko likuiditas yang akan meningkat pula. Hal ini lah yang

diindikasikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Saba et al. (2012:13),

di Amerika Serikat. Di mana peningkatan penyaluran pinjaman menyebabkan peningkatan NPL.

G. Ukuran Bank

1. Konsep Ukuran Bank

Ukuran perusahaan adalah suatu skala, dimana dapat

diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara

lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Pada dasarnya

ukuran bank dapat terbagi menjadi 3 kategori yang didasarkan kepada total assets bank yaitu bank besar (the largest bank) dengan aset sebesar

10 milyar dolar Amerika, bank menengah (the middle size bank) dengan


(63)

47

(smaller bank) dengan aset di bawah 100 juta dolar Amerika (Rose, 2002:172).

Ukuran bank (bank size) dalam penelitian ini dilihat dari besarnya

total assets yang dimiliki perusahaan. Pada neraca bank, aktiva

menunjukkan posisi penggunaan dana. Aktiva (asset) merupakan sumber

daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba.

Aset merupakan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. Semakin besar aset yang dimiliki maka diharapkan akan semakin besar hasil operasional perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti dengan peningkatan hasil operasi akan semakin meningkatkan kepercayaan dari pihak eksternal terhadap perusahaan. Berdasarkan teori skala efisiensi dapat disimpulkan bahwa perusahaan dengan aset yang besar mampu menghasilkan keuntungan lebih besar apabila diikuti dengan hasil dari aktivitas operasionalnya.

2. Hubungan Ukuran Bank dengan Pembiayaan Bermasalah

Dalam buku Commercial Bank Management, Rose menjelaskan

bahwa ukuran bank bisa memengaruhi performa suatu bank (2002:172). Pada sisi penyaluran dananya khususnya bank dengan aset yang besar bank sangat mungkin untuk mendiversivikasikan risiko pembiayaan dibandingkan dengan bank dengan aset menengah dan bank kecil. Semakin besar bank diasumsikan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mendiversifikasikan risiko sehingga seharusnya memiliki


(64)

48 pendapatan yang lebih stabil untuk mengurangi risiko. Semakin baiknya kemampuan mendiversifikasikan risiko maka disinyalir dapat menekan tingkat pembiayaan bermasalah. Peluang diversifikasi bank juga terkait dengan kualitas kredit yang menimbulkan hubungan negatif antara diversifikasi dan NPL, karena diversifikasi menurunkan risiko kredit. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salas dan Saurina (2002:14) yang menemukan bahwa hubungan negatif antara ukuran bank dan NPL.

H. UKM

1. Konsep UKM

Pengertian usaha kecil di Indonesia masih sangat beragam, sebelum dikeluarkannya UU No 9/1995 setidaknya terdapat lima instansi yang merumuskan usaha kecil dengan caranya masing-masing, kelima Instansi tersebut adalah Biro pusat statistik (BPS), Departemen Perindustrian, Bank Indonesia, Departemen Perdagangan dan Kamar dagang dan Industri.

Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia misalnya, mendefinisikan usaha kecil berdasarkan nilai asetnya. Menurut kedua instansi ini yang dimaksud dengan usaha kecil adalah usaha yang assetnya (tidak termasuk tanah dan bangunan) bernilai kurang dari Rp 600 juta. Departemen perdagangan membatasi usaha kecil berdasarkan modal kerjanya, yakni usaha (dagang) yang modal kerjanya bernilai kurang dari Rp 25 juta.


(65)

49 Sedangkan KADIN terlebih dahulu membedakan usaha kecil menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang bergerak dalam bidang perdagangan, pertanian dan industri. Kelompok kedua adalah yang bergerak dalam bidang konstruksi. Menurut Kadin yang dimaskud dengan usaha kecil untuk kelompok pertama adalah yang memiliki modal kerja kurang dari Rp 150 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari Rp 600 juta.

Adapun untuk kelompok kedua yang dimaksud dengan usaha kecil adalah yang memiliki modal kerja kurang dari Rp 250 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari Rp 1 milyar. Berbeda dari keempat instansi tersebut BPS mengemukakannya untuk usaha kecil sektor industri. Menurut BPS yang dimaksud dengan industri kecil adalah usaha industri yang melibatkan tenaga kerja antara lima sampai 19 orang. Sedangkan yang dimaksud dengan industri rumah tangga adalah usaha industri yang memperkerjakan kurang dari lima orang.

2. Kriteria UKM

Berdasarkan kelima batasan tersebut dapat kita katakan betapa sangat beragamnya pengertian usaha kecil yang berlaku di Indonesia. Tetapi diluar kelima pengertian tersebut pemerintah telah menetapkannya dalam rumusan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 . Menurut UU ini yang dimaksud dengan usaha Mikro, Kecil dan Menengah dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, diantaranya:


(1)

No

Waktu NPF

UKM

Inflasi

BI Rate G Fin

Asset

Y (%)

X1 (%)

X2 (%)

X3 (%)

X4 (Rp)

42

Jun-12

2.228

0.62

5.75

0.042 155.412.000.000.000

43

Jul-12

2.189

0.70

5.75

0.028 155.666.000.000.000

44

Agt-12

2.119

0.95

5.75

0.033 161.534.000.000.000

45

Sept-12

1.894

0.01

5.75

0.043 168.660.000.000.000

46

Okt-12

1.774

0.16

5.75

0.040 174.094.000.000.000

47

Nov-12

1.703

0.07

5.75

0.035 179.871.000.000.000


(2)

Lampiran 2:

Tabel Model Regresi, Anova, dan Koefisien

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .863a .745 .721 .338435

a. Predictors: (Constant), LNX4, INFLASI, G FIN, BI RATE

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 14.354 4 3.589 31.330 .000a

Residual 4.925 43 .115

Total 19.279 47

a. Predictors: (Constant), LNX4, INFLASI, G FIN, BI RATE b. Dependent Variable: NPF UKM


(3)

(4)

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N

48

Normal Parameters

a

Mean

.0000000

Std. Deviation

.00299264

Most Extreme

Differences

Absolute

.073

Positive

.073

Negative

-.055

Kolmogorov-Smirnov Z

.503

Asymp. Sig. (2-tailed)

.962


(5)

Lampiran 4:

Uji Multikolinieritas dan Autokorelasi

Uji Tolerance & VIF

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig.

Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 6.029 1.744 3.456 .001

INFLASI .065 .124 .041 .526 .601 .964 1.037

BI RATE .269 .158 .231 1.703 .096 .322 3.108

G FIN -3.174 1.015 -.284 -3.128 .003 .721 1.387

Ukuran

Bank -1.041 .185 -.689 -5.616 .000 .395 2.535

a. Dependent Variable: NPF UKM

Uji DW

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1

.826a .682 .635 .08876 1.864

a. Predictors: (Constant), LNX4B, LNX1B, LNX3B, LNX2B


(6)

Lampiran

5:

Uji Heterokedatisitas

Uji Park

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -32.294 20.221 -1.597 .119

LNX1 .122 .295 .068 .413 .682

LNX2 8.696 7.105 .360 1.224 .229

LNX3 -.455 .583 -.146 -.782 .440

LNX4 .425 1.470 .087 .289 .774


Dokumen yang terkait

Analisis pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), nilai tukar (kurs) dan inflasi terhadap pembiayaan bermasalah perbankan syariah di Indonesia periode Juli 2010-Desember 2013

9 73 133

Dampak surat edaran Bank Indonesia Nomor 15/40/DKMP Tahun 2013 terhadap pembiayaan kendaraan bermotor pada PT. Bank Syariah Mandiri

1 6 110

Pengaruh Tingkat Inflasi Dan Sbi Terhadap Kinerja Pembiayaan Bank Syariah Mandiri Periode Tahun 2009-2011

0 6 98

Pengaruh variabel makro ekonomi terhadap pembiayaan bermasalah sektor industri manufaktur pada perbankan syariah periode

11 101 114

Analisis Pengaruh Inflasi, BI RATE, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Non Perfoming Financing (NPF) dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) pada Perbankan Syariah di Indonesia (Periode Februari 2011–Maret 201

0 14 180

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Bermasalah Sektor Konstruksi pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia Periode 2012-2015

0 3 99

Analisis pengaruh profitabilitas perbankan syariah, suku bunga bank indonesia dan deposito mudharabah terhadap pembiayaan murabahah pada perbankan syariah di Indonesia periode 2009-2013

0 6 151

ANALISIS PENGARUH DPK, ROA, NPF, BOPO, SUKU BUNGA BANK INDONESIA (BI RATIO) , DAN INFLASI TERHADAP PEMBIAYAAN UMKM PADA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH (PERIODE 2009-2012)

0 3 129

ANALISIS PENGARUH FDR, NPF, DPK, SUKU BUNGA BANK INDONESIA (BI RATE), DAN INFLASI TERHADAP PROFITABILITAS (ROA) PADA BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH (PERIODE 2009-2012)

0 3 117

PENGARUH PEMBIAYAAN BERMASALAH, EFISIENSI OPERASIONAL, DAN UKURAN BANK TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA TAHUN 2011-2013.

0 2 45