Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti Sekolah Bilingual

GAMBARAN KOMPETENSI SOSIAL PADA ANAK YANG
MENGIKUTI SEKOLAH BILINGUAL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

LENNY VERONIKA PURBA
071301060

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GANJIL, 2010/2011

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul :

Gambaran kompetensi sosial pada anak
yang mengikuti sekolah bilingual

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Agustus 2011

LENNY VERONIKA PURBA
NIM 071301060

Universitas Sumatera Utara

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti Sekolah Bilingual

Lenny Veronika Purba dan Rahma Yurliani

ABSTRAK

Masa anak-anak tengah merupakan masa sekolah, memasuki dunia sosial
yang lebih luas dan masa emas untuk belajar. Kompetensi sosial merupakan salah
satu bentuk kompetensi yang harus dilimiliki oleh anak agar dapat diterima oleh
orang lain. Anak harus memiliki seperangkap kecakapan verbal dan non verbal
untuk dapat berkompetensi sosial dengan baik, yang tentunya berbeda pada anak
bilingual yang menguasai dua bahasa. Kompetensi sosial adalah kemampuan yang
dimiliki seseorang untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat
gambaran kompetensi sosial pada anak yang mengikuti sekolah bilingual. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 93 anak berusia 8-11 tahun di salah
satu sekolah bilingual di kota Medan. Subjek diperoleh dengan teknik purposive
sampling. Alat ukur yang digunakan berupa skala kompetensi sosial yang disusun
berdasarkan elemen dari kompetensi sosial yang dikemukakan oleh Clikeman
(2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan
koefisien korelasi Pearson Product Moment dan reliabilitas terhadap daya uji
coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha dari Cronbach, maka diperoleh
koefisien alpha keseluruhan aitem 0,891.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial pada anak yang
mengikuti sekolah bilingual yang tergolong rendah sebanyak 15 anak (16,2%),
kompetensi sosial yang tergolong sedang 59 anak (63,4%) dan kompetensi sosial
yang tergolong tinggi sebanyak 19 anak (20,4%). Maka berdasarkan hasil tersebut
dapat diketahui bahwa mayoritas kompetensi sosial pada anak yang mengikuti
sekolah bilingual berada pada kategori sedang. Hasil penelitian tambahan
menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki kompetensi sosial yang lebih
tinggi daripada anak laki-laki. Anak yang berusia 9 tahun memiliki kompetensi
sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 8,10 dan 11 tahun. Anak
yang mengikuti sekolah bilingual selama 3 tahun memiliki kompet ensi sosial
yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengikuti sekolah bilingual
selama 4, 2 dan 1 tahun. Anak tunggal memiliki kompetensi sosial yang lebih
tinggi dibandingkan dengan anak sulung, anak tengah dan anak bungsu.

Kata kunci : kompetensi sosial, bilingual, anak-anak tengah

Universitas Sumatera Utara

Social Competence in Children who Attend Bilingual School

Lenny Veronika Purba and Rahma Yurliani

ABSTRACT

Middle childhood is the stage of development in which children attend
school, involve in society and golden age of learning. Social competence is one of
the competence children needed to integrate with people. Children must have
verbal and non verbal skills to compete socially, by all means different from a
bilingual children. Social competence is a skill needed to interact and
communicate with people. This descriptive research aims to know social
competence in children who attend bilingual school. The subjects in this research
is 93 children aged 8-11 who attend bilingual school in Medan. The subjects is
chosen using purposive sampling. Measurement tool used in this research is social
competence scale according to theory proposed by Clikeman (2007). Based on
estimates of the items by using Pearson Product Moment coefficient correlation
and the reliability of the power test by using the technique of Alpha Cronbach
coefficient, the overall alpha coefficient is 0,891.
The result indicates that social competence in children who attend
bilingual school is 15 people (16.2%) counted as low category, 59 people (63.4%)
counted as moderate category, and 19 people (20.4%) counted as high category. In
general, social competence in children who attend bilingual school is in moderate
category. Additional result indicates that girls have higher social competence than
boys. 9 year old children have highest social competence among 8 to 11 year old
children. Children who attend bilingual school for 3 years have highest social
competence among those who attend bilingual school for 1, 2 and 4 years. The
only child in family has higher social competence than the eldest, middle and
youngest child in a family.
Keywords : social competence, bilingual, middle childhood

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat
yang dilimpahkan kepada peneliti sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan judul “Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti
Sekolah Bilingual” dengan baik. Segala syukur dan pujian tertinggi bagi-Nya
karena berkat penyertaan Roh Kudus dan doa Bunda Maria, peneliti dapat
menjalani tahap demi tahap penyelesaian skripsi ini dengan penuh pembelajaran.
Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan pihak lain maka peneliti tidak
mampu menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini, peneliti
ingin menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orangtua
peneliti, papa dan mama yang tidak henti-hentinya mendoakan, membesarkan hati
dan memberi semangat kepada peneliti hingga skripsi ini rampung. Dalam
menyelesaikan skripsi ini, peneliti juga mendapat banyak bantuan, bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, peneliti ingin
menyampaikan terimakasih yang tulus kepada semua pihak yang telah turut
membantu penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih peneliti tujukan kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi
USU, beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Rahma Yurliani, M.Psi selaku Dosen Pembimbing yang telah sabar
dalam membimbing peneliti dan menyempatkan waktu dari awal hingga
akhir penyusunan skripsi ini. Terimakasih sebesar-besarnya atas semua
bimbingan, arahan, dan bantuan Ibu untuk Peneliti. Semua kebaikan dan

Universitas Sumatera Utara

kesabaran ibu dalam membimbing peneliti tidak akan mampu peneliti
balas dengan apapun dan akan peneliti kenang selalu. Semoga Tuhan
membalas semua kebaikan ibu.
3. Dosen Penguji II dan III yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk
menguji skripsi ini.
4. Ibu Meidriani Ayu Siregar, M.Kes, psikolog dan juga ibu Debby
Anggraini, M.Psi selaku dosen penguji proposal penelitian. Terimakasih
atas segala kritik, bimbingan dan masukan yang telah diberikan kepada
peneliti guna membuat penelitian ini menjadi lebih baik.
5. Bapak Ari Widiyanta, M.Psi., psikolog selaku dosen pembimbing
akademik yang telah

bersedia untuk membimbing peneliti dan

memberikan masukan dalam bidang akademik pada setiap semester
perjalanan kuliah peneliti sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik.
6. Kepada kepala sekolah SD Panca Budi, SD Al-Azhar dan SD Tunas
Harapan Mandiri yang bersedia mengijinkan dan membantu peneliti dalam
pengambilan data.
7. Kakak kandung peneliti Sr. Laura Purba, KYM atas setiap doanya yang
menguatkan peneliti untuk terus berjuang dan tidak putus asa. Abang dan
kakak ipar peneliti, Lian Erikson Purba dan Doris Caroline Egers
Situmorang atas pengertian dan dukungan yang diberikan kepada peneliti
dari awal sampai selesainya skripsi ini.
8. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi USU yang telah memberikan ilmu
wawasan dan pengetahuan yang sangat berharga kepada peneliti, dan

Universitas Sumatera Utara

seluruh pegawai di Fakultas Psikologi USU yang setia membantu peneliti
menyediakan segala keperluan selama perkuliahan.
9. Kakak senior peneliti yakni Jayanti Theodora, S.Psi dan Retnata Ofelia
Sembiring, S.Psi yang juga memberikan motivasi, saran dan masukan
yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
10. Teman-teman yang telah membantu peneliti dalam perjalanan skripsi ini.
Tetty Sinambela atas kesediaannya membantu peneliti dalam mencetak
skala dan seluruh skripsi ini, Trisa Novia dan M. Ikbal S M Nst atas
kesediaannya menerjemahkan aitem-aitem ke Bahasa Inggris, Nana Z
Siregar atas kesediaannya menemani peneliti meminta ijin ke sekolah.
Fitry Susanti, kak Shasa Dwi Arumi dan Irene F Saragih yang telah
bersedia membantu peneliti dalam mengambil data Try Out. Rossy A
Tarigan, Rani Putri Sari Purba dan Arini Pandiangan yang juga bersedia
dan meluangkan waktu membantu peneliti mengambil data penelitian di
tengah-tengah kesibukannya.
11. Sahabat-sahabat terbaik peneliti di dalam kesibukan skripsi ini Irene
Febrina Saragih dan Ita Novita Purba yang selalu memberikan masukan,
semangat, dukungan dan motivasi kepada peneliti di saat-saat peneliti
merasa gundah. Juga kepada sahabat-sahabat peneliti lainnya Arini
Pandiangan, Helen Lamtiur, Sustriana Saragih, Erni Simanjuntak, Intan H
Manik, Desmi Elnita Saragih, Ratna Jesika Malau dan Dermika R Sirait
yang turut memberikan motivasi kepada peneliti.

Universitas Sumatera Utara

12. Seluruh teman-teman angkatan 2007 atas kebersamaan kita selama 4 tahun
di dunia perkuliahan. Teman-teman seperjuangan di departemen Psikologi
Perkembangan.
13. Teman-teman di Paduan Suara Gloria USU mulai dari Sopran, Alto, Tenor
dan Bass yang tercinta dan tak akan terlupakan. Terimakasih atas
kebersamaan kita dalam memuji Tuhan dan segala perjalanan, canda tawa
dalam menghilangkan penat kuliah akan penulis kenang selalu. Serta
teman-teman di KMK Santo Lukas untuk pengalaman-pengalamannya
bersama Kristus, khususnya kepada sahabat peneliti Eva Christine Saragih,
S.Ked dan Novrita Silalahi S.Ked yang selalu memberikan dorongan
kepada peneliti.
14. Semua orang yang telah membantu peneliti dalam penyelesaian skripsi ini,
yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
karena itu peneliti terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi
tercapainya penulisan yang lebih baik lagi. Akhir kata, peneliti berharap kiranya
skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Medan, Agustus 2011
Peneliti

Lenny Veronika Purba

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ...............................................................................................................i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiiv
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................................xv

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1
B. Perumusan Masalah ............................................................... 13
C. Tujuan Penelitian ................................................................... 14
D. Manfaat Penelitian ................................................................. 14
E. Sistematika Penulisan ............................................................ 15

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Kompetensi Sosial
1. Pengertian Kompetensi Sosial ......................................... 17
2. Elemen Kompetensi Sosial .............................................. 18
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial .. 22

Universitas Sumatera Utara

B. Bilingual
1. Pengertian Bilingual ........................................................ 25
2. Pengaruh Bilingual .......................................................... 27
3. Hal-hal yang Mempengaruhi Bilingual ........................... 31
4. Pengertian Sekolah Bilingual .......................................... 32
5. Jenis Sekolah Bilingual .................................................... 33
C. Anak-anak Tengah (Middle Childhood)
1. Pengertian Anak-anak Tengah ........................................ 35
2. Tugas Perkembangan Anak-anak Tengah ........................ 36
3. Perkembangan Kognitif dan Bahasa Anak-anak Tengah.. 37
4. Perkembangan Psikososial Anak-anak Tengah ............... 39
D. Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang
Mengikuti Sekolah Bilingual ................................................. 40

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel ............................................................... 46
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ............................... 47
C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel
1. Populasi dan Sampel ........................................................ 47
2. Metode Pengambilan Sampel ........................................... 49
3. Jumlah Sampel Penelitian ................................................ 49
D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ..................................... 50

Universitas Sumatera Utara

E. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
1. Uji Validitas ..................................................................... 53
2. Uji Reliabilitas ................................................................. 55
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ....................................................... 56
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
1. Tahap Persiapan Penelitian .............................................. 61
a. Rancangan Alat dan Instrumen Penelitian ................. 62
b. Permohonan Izin ........................................................ 62
c. Uji Coba Alat Ukur .................................................... 63
d. Penyusunan Alat Ukur Penelitian .............................. 64
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian .......................................... 65
3. Tahap Pengolahan Data .................................................... 66
H. Metode Analisis Data ............................................................. 67

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Data
1. Gambaran Umum Subjek Penelitian ................................ 69
a. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin .......... 69
b. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia .......................... 70
c. Gambaran Subjek Berdasarkan Lama
Mengikuti Sekolah Bilingual ..................................... 71
d. Gambaran Subjek Berdasarkan Posisi Urutan
Dalam Keluarga ......................................................... 72

Universitas Sumatera Utara

2. Hasil Penelitian ................................................................ 73
a. Hasil Utama Penelitian ............................................... 74
1. Uji Normalitas ...................................................... 74
2. Gambaran Umum Kompetensi Sosial pada
Anak yang Mengikuti Sekolah Bilingual ............. 75
3. Gambaran Dimensi Kompetensi Sosial pada
Anak yang Mengikuti Sekolah Bilingual ............. 77
b. Hasil Tambahan Penelitian ........................................ 80
1. Gambaran Kompetensi Sosial pada Anak
yang Mengikuti Sekolah Bilingual
Berdasarkan Jenis Kelamin .................................. 81
2. Gambaran Kompetensi Sosial pada Anak
yang Mengikuti Sekolah Bilingual
Berdasarkan Usia ................................................. 82
3. Gambaran Kompetensi Sosial pada Anak yang
Mengikuti Sekolah Bilingual Berdasarkan
Lamanya Mengikuti Sekolah Bilingual ............... 83
4. Gambaran Kompetensi Sosial pada Anak yang
Mengikuti Sekolah Bilingual Berdasarkan
Posisi Urutan dalam Keluarga .............................. 84
B. Pembahasan ............................................................................ 85

Universitas Sumatera Utara

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ............................................................................ 94
B. Saran
1. Saran Metodologis ........................................................... 95
2. Saran Praktis ..................................................................... 96

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 98

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1

Blue Print Skala Kompetensi Sosial Sebelum Diuji Coba ........... 51

Tabel 2

Distribusi Aitem Skala Kompetensi Sosial I
Sebelum Diuji Coba ..................................................................... 58

Tabel 3

Distribusi Aitem Skala Kompetensi Sosial II
Sebelum Diuji Coba ..................................................................... 58

Tabel 4

Distribusi Aitem Skala Kompetensi Sosial I
Setelah Diuji Coba ....................................................................... 60

Tabel 5

Distribusi Aitem Skala Kompetensi Sosial II
Setelah Diuji Coba ....................................................................... 60

Tabel 6

Distribusi Aitem Skala Kompetensi Sosial dengan
Penomoran Baru yang Digunakan Pada Skala Penelitian ............ 61

Tabel 7

Persentase Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ............................ 69

Tabel 8

Persentase Subjek Berdasarkan Usia ........................................... 70

Tabel 9

Persentase Subjek Berdasarkan Lama Mengikuti
Sekolah Bilingual ......................................................................... 71

Tabel 10

Persentase Subjek Berdasarkan Posisi Urutan dalam Keluarga ... 72

Tabel 11

Hasil Uji Normalitas Data Penelitian dari Skala
Kompetensi Sosial ........................................................................ 74

Tabel 12

Deskripsi Umum Skor Maksimum, Minimum, Mean, dan
Standar Deviasi Skor Kompetensi Sosial ..................................... 75

Universitas Sumatera Utara

Tabel 13

Pengkategorian Kompetensi Sosial .............................................. 76

Tabel 14

Pengkategorian Kompetensi Sosial Berdasarkan Skor
Skala Kompetensi Sosial .............................................................. 76

Tabel 15

Kategorisasi Kompetensi Sosial Berdasarkan Dimensi
Kompetensi Sosial ........................................................................ 78

Tabel 16

Pengkategorian Anak yang Memiliki Kompetensi Sosial
Sedang Berdasarkan Dimensi Kompetensi Sosial ....................... 79

Tabel 17

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti
Sekolah Bilingual Berdasarkan Jenis Kelamin ............................ 81

Tabel 18

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti
Sekolah Bilingual Berdasarkan Usia ............................................ 82

Tabel 19

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti
Sekolah Bilingual Berdasarkan Lama Mengikuti
Sekolah Bilingual ......................................................................... 83

Tabel 20

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti
Sekolah Bilingual Berdasarkan Posisi Urutan dalam Keluarga ... 84

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1

Kerangka berfikir ......................................................................... 45

Gambar 2

Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin .......................... 70

Gambar 3

Penyebaran Subjek Berdasarkan Usia .......................................... 71

Gambar 4

Penyebaran Subjek Berdasarkan Lama Mengikuti
Sekolah Bilingual ......................................................................... 72

Gambar 5

Penyebaran Subjek Berdasarkan Posisi Urutan
dalam Keluarga ............................................................................ 73

Gambar 6

Pengkategorian Kompetensi Sosial pada Anak yang
Mengikuti Sekolah Bilingual Berdasarkan Skor
Skala Kompetensi Sosial .............................................................. 77

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Data Mentah Hasil Uji Coba Skala Kompetensi Sosial ............. 102
Lampiran 2 Hasil Analisis Aitem Uji Coba Skala Kompetensi Sosial .......... 109
Lampiran 3 Data Mentah Subjek Penelitian dalam Skala
Kompetensi Sosial ...................................................................... 117
Lampiran 4 Hasil Uji Normalitas Pada Skala Kompetensi Sosial ................. 122
Lampiran 5 Skala Kompetensi Sosial Sebelum Uji Coba ............................. 146
Lampiran 6 Skala Penelitian Kompetensi Sosial ........................................... 174
Lampiran 7 Surat Izin Pengambilan Data Penelitian ..................................... 187

Universitas Sumatera Utara

Gambaran Kompetensi Sosial Pada Anak yang Mengikuti Sekolah Bilingual

Lenny Veronika Purba dan Rahma Yurliani

ABSTRAK

Masa anak-anak tengah merupakan masa sekolah, memasuki dunia sosial
yang lebih luas dan masa emas untuk belajar. Kompetensi sosial merupakan salah
satu bentuk kompetensi yang harus dilimiliki oleh anak agar dapat diterima oleh
orang lain. Anak harus memiliki seperangkap kecakapan verbal dan non verbal
untuk dapat berkompetensi sosial dengan baik, yang tentunya berbeda pada anak
bilingual yang menguasai dua bahasa. Kompetensi sosial adalah kemampuan yang
dimiliki seseorang untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat
gambaran kompetensi sosial pada anak yang mengikuti sekolah bilingual. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 93 anak berusia 8-11 tahun di salah
satu sekolah bilingual di kota Medan. Subjek diperoleh dengan teknik purposive
sampling. Alat ukur yang digunakan berupa skala kompetensi sosial yang disusun
berdasarkan elemen dari kompetensi sosial yang dikemukakan oleh Clikeman
(2007). Berdasarkan hasil estimasi daya beda aitem dengan menggunakan
koefisien korelasi Pearson Product Moment dan reliabilitas terhadap daya uji
coba dengan menggunakan teknik koefisien Alpha dari Cronbach, maka diperoleh
koefisien alpha keseluruhan aitem 0,891.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial pada anak yang
mengikuti sekolah bilingual yang tergolong rendah sebanyak 15 anak (16,2%),
kompetensi sosial yang tergolong sedang 59 anak (63,4%) dan kompetensi sosial
yang tergolong tinggi sebanyak 19 anak (20,4%). Maka berdasarkan hasil tersebut
dapat diketahui bahwa mayoritas kompetensi sosial pada anak yang mengikuti
sekolah bilingual berada pada kategori sedang. Hasil penelitian tambahan
menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki kompetensi sosial yang lebih
tinggi daripada anak laki-laki. Anak yang berusia 9 tahun memiliki kompetensi
sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak usia 8,10 dan 11 tahun. Anak
yang mengikuti sekolah bilingual selama 3 tahun memiliki kompet ensi sosial
yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengikuti sekolah bilingual
selama 4, 2 dan 1 tahun. Anak tunggal memiliki kompetensi sosial yang lebih
tinggi dibandingkan dengan anak sulung, anak tengah dan anak bungsu.

Kata kunci : kompetensi sosial, bilingual, anak-anak tengah

Universitas Sumatera Utara

Social Competence in Children who Attend Bilingual School

Lenny Veronika Purba and Rahma Yurliani

ABSTRACT

Middle childhood is the stage of development in which children attend
school, involve in society and golden age of learning. Social competence is one of
the competence children needed to integrate with people. Children must have
verbal and non verbal skills to compete socially, by all means different from a
bilingual children. Social competence is a skill needed to interact and
communicate with people. This descriptive research aims to know social
competence in children who attend bilingual school. The subjects in this research
is 93 children aged 8-11 who attend bilingual school in Medan. The subjects is
chosen using purposive sampling. Measurement tool used in this research is social
competence scale according to theory proposed by Clikeman (2007). Based on
estimates of the items by using Pearson Product Moment coefficient correlation
and the reliability of the power test by using the technique of Alpha Cronbach
coefficient, the overall alpha coefficient is 0,891.
The result indicates that social competence in children who attend
bilingual school is 15 people (16.2%) counted as low category, 59 people (63.4%)
counted as moderate category, and 19 people (20.4%) counted as high category. In
general, social competence in children who attend bilingual school is in moderate
category. Additional result indicates that girls have higher social competence than
boys. 9 year old children have highest social competence among 8 to 11 year old
children. Children who attend bilingual school for 3 years have highest social
competence among those who attend bilingual school for 1, 2 and 4 years. The
only child in family has higher social competence than the eldest, middle and
youngest child in a family.
Keywords : social competence, bilingual, middle childhood

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap manusia mengalami proses perkembangan selama masa hidupnya.
Proses perkembangan manusia meliputi beberapa aspek yakni perkembangan
fisik, perkembangan psikososial dan perkembangan kognitif. Salah satu
perubahan yang terjadi pada perkembangan kognitif adalah perubahan dalam
bahasa di samping perubahan pada pemikiran dan intelegensi individu (Santrock,
2002). Perkembangan bahasa dimulai sejak masa bayi dan terus berkembang
dalam setiap tahap perkembangan individu.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk
berinteraksi sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dimengerti. Bahasa tidak
akan pernah lepas dari kehidupan manusia dan selalu ada dalam setiap
aktivitasnya. Hurlock (1993) menyatakan bahwa bahasa mencakup setiap sarana
komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan
makna kepada orang lain dalam bentuk yang luas seperti : tulisan, berbicara,
bahasa simbol, ekspresi wajah, isyarat, pantomin dan seni. Bahasa ini terus
berkembang diawali dengan bahasa pertama individu.
Setiap manusia mengetahui bahasa pertamanya melalui proses sosialisasi
dengan lingkungan. Pakar bahasa Noam Chomsky (dalam Santrock, 2002) yakin
bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu
waktu tertentu dan dengan cara tertentu sesuai dengan bahasa yang didengar anak

Universitas Sumatera Utara

sejak kecil. Bahasa inilah yang nantinya akan dikuasai oleh anak untuk
berinteraksi dengan lingkungannya, yang disebut sebagai bahasa ibu. Bahasa
Indonesia umumnya merupakan bahasa ibu bagi anak Indonesia.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional wajib diketahui oleh masyarakat
Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Bahasa Indonesia
berfungsi sebagai bahasa persatuan atau pemersatu bahasa-bahasa yang ada di
dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia dan juga sebagai identitas
pengenal oleh bangsa lain di dunia (Susanti, 2010). Anak tetap harus mengetahui
bahasa Indonesia sebagai dasar untuk bersosialisasi, walaupun anak terlebih
dahulu mengenal bahasa daerah atau bahasa yang dipakai di dalam
lingkungannya.
Kemampuan berbahasa asing juga menjadi salah satu kebutuhan bagi
masyarakat selain bahasa Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan globalisasi yang
identik dengan tidak ada batasan bagi negara-negara di dunia yang membutuhkan
suatu bahasa komunikasi universal (Sutiyoso, 2006). Dewasa ini tuntutan akan
ketrampilan berbahasa asing di dalam dunia kerja semakin meningkat. Tanpa
adanya ketrampilan yang baik, sulit bagi seseorang untuk mendapatkan dan
mempertahankan pekerjaannya. Tingginya tuntutan yang harus dipenuhi pada saat
memasuki dunia kerja ini membuat orang tua juga semakin banyak menuntut
anak-anak mereka yang masih dalam dunia sekolah (Gunarsa, 2004). Hal ini
sesuai dengan penuturan seorang ibu berinisial S yang memasukkan anaknya ke
sekolah bilingual.

Universitas Sumatera Utara

“Waktu aku masukkan anakku ke sekolah bilingual, pemikiranku
sederhana saja yaitu di masa anakku nanti cari kerja, pastilah English
sangat dibutuhkan. Kalau tidak sejak kecil dibiasakan berbahasa English
yang baik dan benar, akan kalah bersaing..”(Komunikasi Personal, 2
Agustus 2010)
Di Indonesia, bahasa asing paling banyak diminati untuk dikuasai adalah
bahasa Inggris yang juga dijadikan bahasa universal di dunia. Kemampuan
berbahasa asing, terutama berbahasa Inggris, dijadikan prasyarat kesuksesan bagi
seseorang di masa depan. Asumsi ini membuat berbagai institusi pendidikan
menyediakan pendidikan bahasa asing bagi perkembangan bahasa anak, termasuk
menyediakan program bilingual (Sutiyoso, 2006). Bilingual adalah kemampuan
menggunakan dua bahasa. Anak yang memiliki kemampuan bilingual memahami
bahasa asing dengan baik seperti halnya pemahaman anak terhadap bahasa ibunya
dalam empat ketrampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca
dan menulis (Hurlock, 1993).
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi bilingual, bukan
hanya untuk alasan sosial maupun ekonomis, namun dengan alasan perkembangan
kognitifnya. Orangtua beranggapan bahwa dengan menjadi bilingual, anak mereka
akan menjadi lebih cerdas karena dengan mempelajari dua bahasa sekaligus maka
anak akan terlatih secara kognitif. Salah satu cara yang dilakukan orang tua adalah
dengan memasukkan anaknya ke sekolah yang menyelenggarakan pendidikan
secara bilingual (Gunarsa, 2004).
Sekolah yang menyediakan program bilingual berarti menggunakan dua
bahasa di dalam kegiatan pendidikannya. Bahasa yang sering digunakan pada
sekolah bilingual di Indonesia adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam

Universitas Sumatera Utara

kegiatan belajar mengajar setiap hari. Ada pelajaran yang diajarkan dengan bahasa
Inggris, ada pula yang dengan bahasa Indonesia (Gunarsa, 2004). Anak juga
mempunyai pilihan dalam mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa
Mandarin, Arab, Prancis, atau lainnya sebagai mata pelajaran, namun bukan
sebagai bahasa pengantar. Penerapan konsep bilingual ini membuat pihak sekolah
dan orang tua mengharapkan anak dapat lebih mahir dan menguasai bahasa asing
terutama bahasa Inggris (Sutiyoso, 2006).
Area

pada

otak

yang

mengatur

kemampuan

berbahasa

terlihat

menunjukkan perkembangan paling pesat pada periode antara usia 6 (enam)
sampai 13 (tiga belas) tahun (critical periods), dan bukan pada usia 3 tahun
pertama seperti banyak dipublikasikan. Hal ini merupakan hasil riset dari
teknologi brain imaging di UCLA (University of California Los Angeles). Jadi
menurut hasil penelitian, secara biologis waktu yang tepat untuk mempelajari
bahasa asing adalah pada usia sekolah, yakni SD (Sekolah Dasar) dan SMP
(Sekolah Menengah Pertama) (Adepanji, 2010).
Banyak penelitian tertarik untuk meneliti bagaimana dampak dari bilingual
ini. Sampai sekarang bilingual masih diperdebatkan. Ada penelitian yang
mengemukakan hasil negatif dan ada pula yang positif (Gunarsa, 2004). Salah
satu hasil yang positif dikemukakan oleh para ahli syaraf yang meneliti hubungan
antara belajar bahasa asing dengan perkembangan otak. Kesimpulan dari berbagai
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan pengaruh mempelajari bahasa asing
dan keuntungannya bagi perkembangan otak, yakni perkembangan yang lebih

Universitas Sumatera Utara

pesat dalam proses kognitif, kreativitas dan divergent thinking dibandingkan
dengan anak-anak monolingual (Adepanji, 2010).
Sebuah penelitian lain dilakukan oleh Kormi-Nouri (2008). Penelitian ini
bertujuan untuk menguji anak bilingual Swedish-Persian yang menggunakan
bahasa yang berbeda dalam kehidupan sehari-harinya tetapi memiliki latar
belakang budaya yang sama dan tinggal di dalam komunitas yang sama dengan
anak monolingual. Metode penelitian menggunakan desain eksperimen, dimana
peneliti membandingkan kemampuan memori anak. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari bilingual yang ditemukan
dalam kemampuan memori episodic dan semantic dimana pengaruh ini lebih
terlihat pada anak yang lebih tua daripada yang muda. Penelitian ini menghasilkan
kesimpulan bahwa anak bilingual memiliki kemampuan dalam tugas memori
episodic, yaitu dalam mempelajari kalimat dan kata, dan semantic, yaitu dalam
kelancaran menyampaikan pesan dan mengkategorikannya, yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak monolingual.
Penelitian di Indonesia salah satunya dilakukan oleh Itta (2007) yang ingin
mengetahui pendapat para ibu tentang kemampuan anak dan hasil pembelajaran
bilingual di Kelompok Bermain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para ibu
berpendapat kemampuan anak mereka dalam bahasa Inggris ditinjau dari
kelancaran berkomunikasi dan perkembangan kognitif anak dalam hal
kemampuan anak mengerti dan berbicara secara langsung dalam bahasa Inggris
serta hasil belajar anak pada rentang baik sampai sangat baik.

Universitas Sumatera Utara

Evaluasi penelitian bilingualisme menghasilkan kesimpulan bahwa
bilingualisme tidak mengganggu performa linguistik anak dalam bahasa apa pun
(Hakuta & Garcia dalam Santrock, 2002). Tidak ada bukti bahwa bahasa pertama
harus dihapuskan sedini mungkin karena dapat mengganggu pembelajaran bahasa
kedua, sebaliknya tingginya derajat bilingualisme berkaitan dengan fleksibilitas
kognitif dan meningkatnya pembentukan konsep (Diaz dalam Santrock, 2002).
Menurut Andersson (1999) anak yang telah mempelajari dua bahasa akan mudah
untuk beradaptasi ketika mengunjungi negara lain yang berbahasa sama dengan
bahasa kedua anak. Andersson (1999) juga menyatakan bahwa anak yang
bilingual akan merasa bangga dengan dirinya karena anak dapat menguasai lebih
dari satu bahasa.
Bilingual juga memiliki sisi negatif. Pada awalnya, mulai abad ke-19
sampai tahun 1960-an, hasil penelitian mengenai bilingualisme ini menghasilkan
kesimpulan yang negatif. Para psikolog yang melakukan penelitian dari tahun
1920 sampai tahun 1960-an bahkan menemukan bahwa bilingualisme membawa
dampak buruk bagi inteligensi. Anak-anak bilingual yang berada dalam rentang
masa sekolah ini umumnya memperoleh skor yang lebih rendah daripada anakanak monolingual pada tes IQ. Menurut para psikolog pada saat itu, hal ini
disebabkan karena anak mengalami kebingungan di antara kedua bahasa tersebut
(Gunarsa, 2004).
Dampak bilingualisme juga dikemukakan oleh Gene (2007) yang
menyatakan bahwa pasti ada kesenjangan sosialisasi antara anak bilingual dengan
keluarga besarnya. Kemungkinannya adalah anak akan menganggap rendah

Universitas Sumatera Utara

bahasa dan budaya orangtuanya karena dari kecil telah diperkenalkan bahasa
asing (Gene, 2007). Pendapat ini diperkuat oleh Tarigan (1988) yang menyatakan
kontak anak bilingual dengan keluarga besarnya akan berbeda. Gene (2007) juga
menyatakan bahwa tak sedikit anak yang stres dan tertekan karena dipaksa
mengerti bahasa asing. Akibatnya anak akan selalu lambat dalam mengerjakan
tugasnya karena ia kurang paham dengan apa yang dijelaskan guru dalam bahasa
asing. Bahasa kedua atau bahasa asing baik jika diperkenalkan sejak dini, namun
hanya dalam konteks diperkenalkan bukan dipaksakan.
Salah satu akibat lainnya adalah pembelajaran dua bahasa yang akan
menimbulkan konsep pemahaman yang tidak jelas. Misalnya adalah kerancuan
dan kebingungan dalam konsep saat seorang anak mulai belajar bahasa dan
menulis huruf “A” yang dilafalkan “e” dalam bahasa Inggris. Masalah ini terjadi
karena bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris berbeda secara struktural dan tata
cara aturan kalimat. Anak akan kesulitan memahami konsep dan struktur bahasa
secara akademik (Sutiyoso, 2006).
Berdasarkan fenomena yang terjadi, anak bilingual tidak bisa menguasai
satu bahasa secara keseluruhan yang menyebabkan anak berbicara dengan bahasa
yang bercampur antara bahasa ibu dengan bahasa asing (Genesse, dalam Gunarsa,
2004). Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh seorang konselor
di sekolah bilingual berinisial J (25 tahun) :
“Di sekolah ini bahasa sehari-harinya adalah bahasa Inggris tapi untuk
pelajaran tertentu yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Anak-anak sih
kadang kalau kurang mengerti, jadi campur-campur bahasanya, mereka
juga jadi tidak bisa menguasai satu bahasa secara keseluruhan”
(Komunikasi personal, 11 Agustus 2010).

Universitas Sumatera Utara

Santrock (2002) menyatakan bahwa anak harus menguasai bahasa
pertamanya untuk dapat berkomunikasi secara efektif di lingkungannya, namun di
sisi lain mereka juga harus menguasai bahasa asing untuk memudahkan mereka di
lingkungan sekolahnya. Akan lebih baik jika anak menguasai bahasa pertamanya
terlebih dahulu kemudian mempelajari bahasa asing karena jika anak dihadapkan
pada bahasa yang tidak familiar di lingkungan sosialnya, maka anak akan
mengalami kebingungan sosial sehingga penggunaan bahasanya menjadi tidak
sesuai. Kondisi ini menyebabkan komunikasi kurang lancar dan pada akhirnya
dapat mengganggu perkembangan sosialnya dan berujung pada rendahnya
kompetensi sosial anak. Hal ini sejalan dengan penuturan seorang staf pengajar di
salah satu sekolah bilingual berinisial R (32 tahun) :
“Jadi di sekolah ini anak diwajibkan untuk berbahasa Inggris pada jam
pelajaran kecuali pada beberapa pelajaran tertentu seperti pelajaran bahasa
Indonesia dan Olahraga. Anak yang kurang menguasai bahasa Inggris
biasanya menjadi pendiam dan tidak mau berbicara di dalam kelas”
(Komunikasi Personal, 18 April 2011)
Anak juga akan mengalami rasa takut untuk berkomunikasi karena
tuntutan yang diberikan oleh sekolah. Hal ini dirasakan oleh seorang anak yang
bersekolah di sekolah bilingual berinisial C (9 tahun) yang duduk di kelas 4
Sekolah Dasar :
“Kalau guru ngajar pake bahasa Inggris terus-terusan kadang jadi gak
ngerti kak, apalagi pelajaran berhitung, kayak matematika. Tapi kadang
kami takut nanya sama gurunya, nanti dimarahi karena gak pake bahasa
Inggris..” (Komunikasi Personal, 18 April 2011).
Pengaruh negatif dari bilingual ini tentunya akan berpengaruh kepada
proses interaksi anak kepada orang-orang yang berada di lingkungannya.
Kompetensi anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya sangat diperlukan.

Universitas Sumatera Utara

Individu memerlukan kompetensi sosial agar dapat diterima oleh orang lain dan
kompetensi sosial tersebut diperoleh melalui proses interaksi sosial (Hurlock,
1993). Anak harus memiliki seperangkat kecakapan verbal dan non verbal untuk
dapat berkompetensi sosial dengan baik (Rinn dan Markle, dalam Tarsidi 2009),
yang tentunya berbeda pada anak bilingual yang mengetahui dua bahasa.
Pellegrini dan Glickman (dalam Tarsidi, 2009) mendefinisikan kompetensi
sosial pada anak sebagai suatu derajat dimana anak dapat beradaptasi pada
lingkungan sekolah dan rumahnya. Definisi ini menyiratkan bahwa kemampuan
anak untuk beradaptasi dengan lingkungan rumah dan sekolahnya merupakan
indikator utama kompetensi sosial (Tarsidi, 2009). Sekolah merupakan
lingkungan di mana anak tidak hanya memperoleh pelajaran akademik, tetapi
merupakan tempat anak memperoleh interaksi sosial dan emosional dengan orang
dewasa dan teman sebayanya, yang memungkinkan memupuk harga diri dan
mengembangkan kompetensi sosialnya (Paavola dalam Tarsidi, 2009).
Seorang individu yang berkompeten adalah seseorang yang dapat
menggunakan

lingkungan

dan

sumber

personal

untuk

mencapai

hasil

perkembangan yang baik (Waters & Sroufe dalam Clikeman, 2007). Kompetensi
sosial merupakan dasar dimana harapan akan interaksi dengan orang lain
terbangun dan anak mengembangkan persepsinya kepada perilakunya sendiri.
Selain itu, kemampuan dalam melakukan percakapan mengambil peran yang
penting dalam interaksi. Anak yang sukses secara sosial ditemukan memiliki
kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan responsif kepada lawan
bicaranya (Burleson dalam Clikeman, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Kompetensi sosial menurut Clikeman (2007) adalah sebuah kemampuan
untuk mengambil perspektif orang lain dalam suatu situasi dan belajar dari
pengalaman masa lalu, kemudian mengaplikasikannya. Kemampuan untuk
merespon ini tergantung pada kemampuan komunikasi yang dimiliki anak dan
interaksi dengan orang lain yang menggunakan bahasa dan komunikasi non
verbal. Clikeman (2007) juga menuturkan elemen-elemen dari kompetensi sosial
tersebut, yakni :
(1) bahasa dan kemampuan berkomunikasi
(2) kemampuan secara akurat mengirim dan menerima pesan emosional
(3) kemampuan untuk belajar
(4) kemampuan untuk memahami perspektif orang lain
(5) kemampuan untuk mengatur perilakunya sendiri
(6) kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain
Ahli lain juga mengemukakan aspek dari kompetensi sosial. La Fontana
dan Cillesen (dalam Papalia, 2009) menuliskan bahwa kompetensi sosial dapat
dilihat sebagai perilaku prososial, altruistik dan dapat bekerja sama. Anak-anak
yang sangat disukai dan yang dinilai berkompetensi sosial oleh orang tua dan
guru-guru pada umumnya mampu mengatasi kemarahan dengan baik, mampu
merespon secara langsung, melakukan cara-cara yang dapat meminimalisasi
konflik yang lebih jauh dan mampu mempertahankan hubungannya dengan orang
lain di sekitarnya (Fabes dan Eisenberg dalam Papalia, 2009).
Kompetensi sosial merupakan salah satu jenis kompetensi yang penting
dan harus dimiliki oleh anak-anak. Masa anak-anak tengah (middle childhood),

Universitas Sumatera Utara

yaitu masa dengan usia 6-11 tahun (Papalia, 2004), merupakan masa bermain dan
masa sekolah dimana mereka berinteraksi dengan teman sebayanya untuk
melakukan suatu kegiatan. Hurlock (1999) menyatakan bahwa masa anak-anak
sering disebut sebagai “usia berkelompok” karena ditandai dengan adanya minat
terhadap aktivitas berteman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk
diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak
bersama teman-temannya.
Bermain dengan teman sebaya pada usia ini merupakan pengembangan
kompetensi sosial anak (Gunarsa, 2004). Anak yang memiliki kompetensi sosial
tampak lebih mudah untuk menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Selain itu,
Piaget (dalam Tarsidi, 2009) juga mengemukakan bahwa interaksi dengan teman
sebaya merupakan satu sumber utama perkembangan sosial maupun kognitif,
khususnya perkembangan “role taking” dan empati yang merupakan salah satu
aspek dari kompetensi sosial.
Tokoh psikososial Erikson (dalam Schultz, 1994) menyatakan bahwa masa
anak-anak tengah (middle childhood) merupakan masa emas untuk belajar.
Perkembangan bahasa anak juga lebih berkembang dan berfikir dengan konsep
operasional konkrit. Hubungan sosial anak juga lebih ditekankan pada peer atau
teman sebaya melalui proses bermain. Konsep persahabatan juga berkembang
dalam tahap ini (Monks,1998). Kemampuan untuk mendengar pembicara lain dan
bahasa non verbal menunjukkan pemahaman yang berhubungan dengan
popularitas dan penerimaan teman sebaya (Black & Hazen dalam Clikeman,
2007). Namun, tidak semua anak dapat bersosialisasi dengan baik. Anak-anak

Universitas Sumatera Utara

yang tidak mampu berunding atau bekerja sama akan susah untuk diterima di
lingkungan teman sebaya dan anak juga akan menunjukkan kompetensi sosial
yang buruk (Putallaz & Sheppart, 1990 dalam Clikeman, 2007). Oleh karena itu,
kemampuan anak dalam menganalisa perilakunya sangat diperlukan sehingga
dapat diterima oleh lingkungan sosialnya.
Kemampuan berbahasa yang merupakan salah satu aspek dari kompetensi
sosial menurut Clikeman (2007) ini tentunya berbeda pada anak bilingual
dibandingkan dengan anak lainnya secara umum. Menurut Clikeman (2007), anak
yang dinilai memiliki kompetensi sosial yang tinggi adalah anak yang memiliki
nilai yang tinggi atau memiliki kemampuan pada keenam elemen dari kompetensi
sosial tersebut, sebaliknya anak yang dinilai memiliki kompetensi sosial yang
rendah adalah anak yang memiliki nilai yang rendah atau kurang memiliki
kemampuan pada keenam elemen tersebut.
Salah satu aspek lain dari kompetensi sosial menurut Clikeman (2007)
adalah kemampuan anak untuk mengatur perilakunya sendiri yang mencakup
bagaimana anak dapat menyesuaikan diri dengan suatu situasi dan mengubah
perilakunya sehingga sesuai dengan lingkungan. Hurlock (1993) menyatakan
bahwa penyesuaian diri anak bilingual dengan lingkungannya akan menimbulkan
permasalahan karena bahasa anak yang berbeda dengan orang di lingkungannya.
Berdasarkan berbagai penjelasan diatas mengenai pengaruh dari bilingual
dan hubungannya dengan proses interaksi dan komunikasi anak dengan
lingkungannya, maka peneliti ingin melihat bagaimana gambaran kompetensi
sosial pada anak yang mengikuti sekolah bilingual, khususnya masa anak-anak

Universitas Sumatera Utara

tengah (middle childhood) yang merupakan masa sekolah dan memasuki dunia
sosial lebih luas serta masa emas untuk belajar dan berinteraksi dengan teman
sebaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Melalui
penelitian ini akan diperoleh data mengenai gambaran kompetensi sosial pada
anak yang mengikuti sekolah bilingual. Selain itu, peneliti juga tertarik untuk
mengetahui apakah ada perbedaan kompetensi sosial antara anak laki-laki dan
perempuan sehubungan dengan perbedaan psikologis yang dimiliki oleh laki-laki
dan perempuan menurut Hurlock (1999). Perbedaan dari tingkat usia, juga
perbedaan menurut lama anak mengikuti sekolah bilingual karena kompetensi
sosial berkaitan erat dengan pengalaman sosial yang diperoleh seseorang (Adams
dalam Martani dan Adiyanti, 1991). Perbedaan berdasarkan posisi urutan dalam
keluarga karena menurut Hurlock (1978) kompetensi sosial juga dipengaruhi oleh
urutan kelahiran. Keempat hal ini akan menjadi hasil tambahan dalam penelitian
ini.

B. PERUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana gambaran kompetensi sosial pada anak yang mengikuti sekolah
bilingual?

Universitas Sumatera Utara

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Tujuan utama, yaitu untuk mengetahui bagaimana gambaran kompetensi
sosial pada anak yang mengikuti sekolah bilingual.
2. Tujuan tambahan, yaitu untuk mengetahui gambaran kompetensi sosial
pada anak yang mengikuti sekolah bilingual berdasarkan jenis kelamin,
usia, lama mengikuti sekolah bilingual dan posisi urutan dalam keluarga.

D. MANFAAT PENELITIAN
Dari penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat baik secara teoritis
maupun manfaat secara praktis.
1. Manfaat teoritis
a. Penelitian

ini

diharapkan

mempunyai

manfaat

yang

bersifat

pengembangan ilmu psikologi, khususnya Psikologi Perkembangan
mengenai kompetensi sosial pada anak bilingual.
b. Memperkaya pengetahuan dan wacana tentang psikologi mengenai
gambaran kompetensi sosial yang dapat dijadikan referensi bagi
penelitian selanjutnya.

2. Manfaat praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
kompetensi sosial pada anak yang mengikuti sekolah bilingual
sehingga dapat menambah bekal yang cukup bagi orangtua dalam

Universitas Sumatera Utara

menghadapi anak-anaknya khususnya yang bersekolah di sekolah
bilingual.
b. Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada anak bilingual
sehingga anak dapat mengetahui gambaran kompetensi sosial pada
anak bilingual secara umum.
c. Gambaran mengenai kompetensi sosial pada anak bilingual yang
diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi
tim pendidik di sekolah bilingual dalam menghadapi anak bilingual.
d. Gambaran mengenai kompetensi sosial pada anak yang mengikuti
sekolah bilingual yang diperoleh melalui penelitian ini juga diharapkan
menjadi salah satu masukan bagi konselor perkembangan anak
khususnya dalam menghadapi anak bilingual.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini adalah :
Bab I : Pendahuluan
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah penelitian,
pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika
penulisan.
Bab II : Landasan Teori
Bab ini memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan
masalah. Teori-teori yang dinyatakan adalah teori-teori mengenai
kompetensi sosial, bilingual, dan anak-anak tengah (middle childhood).

Universitas Sumatera Utara

Bab III : Metode Penelitian
Pada bab ini dijelaskan mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi
operasional

variabel

penelitian,

populasi,

sampel

dan

metode

pengambilan sampel, metode dan alat pengumpulan data, uji validitas
dan reliabilitas alat ukur, hasil uji coba alat ukur, prosedur pelaksanaan
penelitian, dan metode analisa data.
Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan
Bab ini terdiri dari gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian,
dan pembahasan.
Bab V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah
dilakukan.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
LANDASAN TEORI

A. KOMPETENSI SOSIAL
1. Pengertian Kompetensi Sosial
Hurlock (1999)

mendefinisikan

kompetensi sosial sebagai suatu

kemampuan atau kecakapan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain dan
untuk terlibat dalam situasi-situasi sosial yang memuaskan. Kompetensi sosial
merupakan suatu sarana untuk dapat diterima dalam masyarakat dan dengan
kompetensi sosial seseorang menjadi peka terhadap berbagai situasi sosial yang
dihadapinya. Dodge (dalam Clikeman, 2007) mengkonseptualisasikan kompetensi
sosial sebagai sebuah interaksi antara lingkungan dan kemampuan yang didapat
secara biologis. Seorang individu yang berkompeten ad