Penerapan model pembelajaran terbalik reciprocal teaching untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa : penelitian tindakan kelas di mts daarul hikmah pamulang

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TERBALIK
(RECIPROCAL TEACHING) UNTUK MENINGKATKAN
AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA

(Penelitian Tindakan Kelas di MTs Daarul Hikmah Pamulang)

Oleh:
RIA SARDIYANTI
NIM: 105017000475

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2010

ABSTRAK

RIA SARDIYANTI (105017000475), ”Penerapan Model Pembelajaran Terbalik
(Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa”.
Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juni 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Apakah model pembelajaran
terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika
siswa, 2) Bagaimanakah respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran
terbalik (reciprocal teaching) pada pelajaran matematika? 3) Apakah model
pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa. Penelitian ini dilakukan di MTs Daarul Hikmah Pamulang
Kota Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2009/2010.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar
observasi aktivitas, jurnal harian siswa, wawancara, dan tes.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran terbalik
(reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa,
memberikan respon positif terhadap pembelajaran matematika dan meningkatkan
hasil belajar matematika siswa.
Kata Kunci

: Pembelajaran Terbalik dan Aktivitas Belajar

i

ABSTRACT
RIA SARDIYANTI (105017000475), "Application of Reciprocal Teaching
Model to Improve Student Mathematics Learning Activities." Thesis Department
of Mathematics Education, Faculty of Science and Teacher Training Tarbiyah,
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, June 2010.
The purpose of this study is to study 1) Does reciprocal teaching model can
enhance mathematics learning activities, 2) how the students' responses to the
application of reciprocal teaching model in a math lesson 3) Does reciprocal
teaching model can improve students' mathematics learning outcomes. This
research was conducted in MTs Daarul Hikmah Pamulang South Tangerang city
in academic Year 2009/2010.
The method used in this study is the Classroom Action Research, which consists
of four stages of planning, execution, observation, and reflection. The research
instrument used is the observation sheet activities, the daily student journals,
interview, and test questions.
Research results revealed that the application of reciprocal teaching model can
enhance mathematics learning activities, giving a positive response towards
learning mathematics and mathematics to improve student learning outcomes.
Keyword

: Reciprocal Teaching and Active

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini
merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika
pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Disadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan penulis sangat
terbatas, maka adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak
sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan.
2. Ibu Dra. Maifalinda Fatra, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan
Matematika.
3. Bapak Otong Suhyanto, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan
Matematika.
4. Bapak Dr. Kadir, M.Pd, selaku pembimbing I yang selalu memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Bapak Abdul Muin, S.Si, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Pendidikan Matematika.
7. Ibu Dra. Hj. Sri Uswati, selaku kepala MTs Daarul Hikmah Pamulang Kota
Tangerang Selatan yang telah banyak membantu penulis selama penelitian
berlangsung.
8. Bapak Rusli, A.Md, selaku guru pamong tempat penulis mengadakan
penelitian.
9. Ayahanda (H. Sardi S.Pd) dan ibunda (Rokih) tercinta yang senantiasa
memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.

iii

10. Adik-adikku (Saifudin Zhuhri dan M. Arif Febrian) tercinta yang senantiasa
memberikan motivasi, dukungan dan semangat kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
11. Siswa dan siswi kelas VII-D MTs Daarul Hikmah Pamulang Kota Tangerang
Selatan, yang telah bersikap kooperatif selama penulis mengadakan penelitian.
12. Sahabat-sahabat terbaikku Nita, Novi, Dewi, Cory, Eny, Ubay, Irna, serta
seluruh teman-teman ku tercinta, mahasiswa dan mahasiswi jurusan
pendidikan matematika angkatan 2005, khususnya kelas B, semoga
kebersamaan kita menjadi kenangan terindah untuk menggapai kesuksesan
dimasa mendatang.
13. Untuk masku yang selalu memberi support dan motivasi selama penulis
menyelesaikan skripsi dan keluarga yang telah banyak mendoakan.
14. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan dan informasi
serta pendapat yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
Semoga Allah SWT dapat menerima sebagai amal kebaikan atas jasa baik
yang diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangankekurangan karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi khasanah ilmu
pengetahuan. Amin.

Jakarta, Juni 2010
Penulis

Ria Sardiyanti

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ......................................................................................................

i

ABSTRACT .....................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR....................................................................................

iii

DAFTAR ISI...................................................................................................

v

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

ix

DAFTAR DIAGRAM ....................................................................................

x

DAFTAR BAGAN..........................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xii

BAB I

PENDAHULUAN............................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah..............................................................

1

B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian .......................................

6

C. Pembatasan Fokus Masalah ........................................................

6

D. Perumusan Masalah Penelitian ...................................................

7

E. Tujuan Penelitian ........................................................................

7

F. Manfaat Penelitian ......................................................................

8

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN ..........................................................

9

A. Kajian Teori ................................................................................

9

1. Pembelajaran Matematika.....................................................

9

a. Pengertian Matematika....................................................

9

b. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika .........

11

2. Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)..........

14

a. Pengertian Model Pembelajaran Terbalik
(Reciprocal Teaching).....................................................

v

15

b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Terbalik
(Reciprocal Teaching).....................................................

18

c. Teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran
Terbalik (Reciprocal Teaching) .....................................

21

d. Keunggulan Model Pembelajaran Terbalik
(Reciprocal Teaching).....................................................

24

e. Prinsip Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) ...

24

3. Aktivitas Belajar....................................................................

26

a. Pengertian Aktivitas Belajar ...........................................

26

b. Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar ................................

27

c. Nilai Aktivitas dalam Pembelajaran................................

32

B. Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan...........................................

33

C. Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan............................

33

D. Hipotesis Tindakan .....................................................................

34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................

35

A. Waktu dan Tempat Penelitian .....................................................

35

B. Metode Penelitian dan Desain Intervensi Tindakan ...................

35

C. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan...............................

38

D. Subjek/Partisipasi yang Terlibat dalam Penelitian......................

38

E. Peran dan posisi Peneliti dalam Penelitian..................................

39

F. Tahapan Intervensi Tindakan......................................................

39

G. Data dan Sumber Data ................................................................

45

H. Teknik Pengumpulan Data..........................................................

45

I. Instrumen-Instrumen Penelitian ..................................................

46

J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthinees)
Study ...........................................................................................

47

K. Analisis Data ...............................................................................

49

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan .......................................

50

vi

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
TEMUAN PENELITIAN ...............................................................

51

A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan...............................................

51

1. Siklus I ..................................................................................

56

2. Siklus II .................................................................................

83

B. Pemeriksaan Keabsahan Data ..................................................... 100
C. Analisis Data ............................................................................... 101
D. Pembahasan Temuan Penelitian.................................................. 108

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 110
A. Kesimpulan ................................................................................. 110
B. Saran............................................................................................ 111

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 112
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 115

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jadwal Penelitian............................................................................
Tabel 2

35

Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada
Pembelajaran Siklus I.....................................................................

72

Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus I.....................

75

Tabel 4 Rekapitulasi Respon Siswa Selama Siklus I ..................................

77

Tabel 5

Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus I ..............................

80

Tabel 6

Refleksi Kegiatan Tindakan Siklus I .............................................

82

Tabel 7

Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada

Tabel 3

Pembelajaran Siklus II ...................................................................

95

Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus II ...................

97

Tabel 9 Rekapitulasi Respon Siswa Selama Siklus II.................................

98

Tabel 10 Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus II .............................

99

Tabel 8

Tabel 11 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa
Siklus I dan II ................................................................................

102

Tabel 12 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa
Siklus I dan II .................................................................................

104

Tabel 13 Statistik Deskriptif Peningkatan Hasil Belajar Siswa ....................

105

Tabel 14 Rekapitulasi Persentase Respon Siswa Siklus I dan II ..................

107

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1 Aktivitas Mengerjakan Tugas pada Penelitian Pendahuluan ...

55

Gambar

2

Guru Sedang Memberi Pengarahan .........................................

78

Gambar

3

Siswa yang Lebih Pintar (a) sedang memberi penjelasan
Kepada siswa lain pada saat berdiskusi ...................................

79

Gambar

4

Aktivitas Siswa pada saat menjadi Guru Siswa .......................

80

Gambar

5

Aktivitas Siswa Mengerjakan Tes Akhir Siklus I ....................

81

ix

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1

Diagram Lingkaran Jurnal Harian Siswa pada Pembelajaran
Siklus I .....................................................................................

Diagram 2

77

Diagram Lingkaran Jurnal Harian Siswa pada Pembelajaran
Siklus II ....................................................................................

99

Diagram 3

Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar..... 103

Diagram 4

Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar
Kelompok ................................................................................ 105

Diagram 5

Diagram Batang Peningkatan Hasil Belajar Matematika
Siswa ........................................................................................ 106

Diagram 6

Diagram Garis Persentase Respon Siswa................................. 107

x

DAFTAR BAGAN

Bagan 1

Alur Prosedur Pelaksanaan PTK..............................................

37

Bagan 2

Desain Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ............................

39

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I.................... 115

Lampiran 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II .................. 119

Lampiran 3

Lembar Kerja Siswa (LKS) ........................................................ 123

Lampiran 4

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I
sebelum Uji Validitas …………………………………………. 184

Lampiran 5

Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I sebelum
Uji Validitas…………………………………………….............185

Lampiran 6

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II
sebelum Uji Validitas …………………………………………..189

Lampiran 7

Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II sebelum Uji
Validitas ………………………………………………………..190

Lampiran 8

Lembar Jurnal Harian Siswa …………………………………...195

Lampiran 9

Lembar Wawancara Pra Penelitian dengan Guru …………….. 196

Lampiran 10 Lembar Wawancara Pra Penelitian dengan Siswa ……………. 198
Lampiran 11 Lembar Wawancara setelah Penelitian dengan Guru …………..199
Lampiran 12 Lembar Wawancara setelah Peneltian dengan Siswa ………….200
Lampiran 13 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Tes Hasil Belajar
Matematika Siswa Siklus I ……………………………………..201
Lampiran 14 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I
setelah Uji Validitas ……………………………………………203
Lampiran 15 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I setelah
Uji Validitas .......……………………………………………….204
Lampiran 16 Jawaban Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I ……………….207
Lampiran 17 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Tes Hasil Belajar
Matematika Siswa Siklus II …………………………………... 208
Lampiran 18 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II
setelah Uji Validitas …………………………………………... 210

xii

Lampiran 19 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II setelah
Uji Validitas....………………………………………………….201
Lampiran 20 Jawaban Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II ………………215
Lampiran 21 Daftar Nilai Tes Siklus I dan Siklus II …………………………216
Lampiran 22 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Matematika Siswa Pra
Peneltian ……………………………………………………......217
Lampiran 23 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Matematika
Siswa …………………………………………... ...... ... ... ... ... 220
Lampiran 24 Rekapitulasi Komentar Observer Siklus I dan Siklus II... ... ... ..223
Lampiran 25 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar
Kelompok ………………………………………………………227
Lampiran 26 Rekapitulasi Observasi Kelompok Siklus I dan Siklus II... ... ... 228
Lampiran 27 Respon Siswa terhadap Pembelajaran Selama Siklus I
dan Siklus II …………………………...……………………….229
Lampiran 28 Rekapitulase Persentase Aktivitas Belajar Siklus I dan
Siklus II... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 231
Lampiran 29 Hasil Wawancara Pra Peneltian dengan Guru ………………….233
Lampiran 30 Hasil Wawancara Pra Penelitian dengan Siswa ………………..235
Lampiran 31 Hasil Wawancara setelah penelitian dengan Guru ……………..239
Lampiran 32 Hasil Wawancara setelah Penelitian dengan Siswa ……………240
Lampiran 33 Hasil Dokumentasi Penelitian ………………………………….243

xiii

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mempelajari apa yang perlu diketahui agar dapat berpikir
cerdas dan bertindak cepat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No.20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa ”Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1
UNESCO-APNIEVE SOURCE BOOK menetapkan empat pilar utama
pendidikan untuk menghadapi abad ke-21, yaitu:(1) Learning to know, (2)
Learning to do, (3) Learning to be, (4) Learning to live together. 2 Learning to
know artinya belajar tidak hanya berorientasi kepada hasil belajar, tetapi harus
berorientasi kepada proses belajar. Learning to do artinya belajar bukan hanya
mendengar dan melihat tetapi untuk berbuat dengan tujuan penguasaan
kompetensi. Learning to be artinya membentuk manusia yang menjadi dirinya
sendiri dan Learning to live together artinya belajar untuk bekerja sama.
Pendidikan matematika di Indonesia memang belum menampakkan hasil
yang diharapkan. Dari hasil studi TIMSS tahun 2007 untuk siswa kelas VIII,
menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke-36 dari 49 negara dengan nilai ratarata untuk kemampuan matematika secara umum adalah 397. Nilai tersebut masih
jauh dari standard minimal nilai rata-rata kemampuan matematika yang ditetapkan
TIMSS yaitu 500. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia
dan Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata-rata 474 dan Singapura

1

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana Prenanda Media Group, 2008), h.2
2
Ibid., 110

1

2

memperoleh

nilai

rata-rata

593. 3

Skala

matematika

TIMSS-Benchmark

Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat bawah,
Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada pada peringkat atas.
Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam untuk kelas VIII, lebih
banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan Singapura 124 jam. 4
Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk mengantarkan peserta
didik menuju perubahan-perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap,
moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai makhluk individu dan
hidup bermasyarakat dengan baik sebagai makhluk sosial. Untuk mencapai tujuan
tersebut peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar, dimana pada
lingkungan belajar di sekolah interaksi ini diatur oleh guru.
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru.
Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya
manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui
proses belajar mengajar. Seorang guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan
belajar yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara langsung dan
bertanggung jawab terhadap proses belajar itu sendiri. Selain faktor guru, siswa
sebagai subyek dalam pembelajaran merupakan faktor yang harus mendapat
perhatian cukup besar, hal ini dimaksudkan agar siswa lebih termotivasi untuk
belajar.
Pengajaran matematika menuntut siswa menunjukkan sikap yang aktif,
kreatif, inovatif dan bertanggung jawab. Tetapi kenyataan di lapangan
menunjukkan

bahwa

tujuan

pembelajaran

matematika,

belum

tercapai

sebagaimana yang diharapkan. Seringkali guru menemukan siswa tidak berani
mengemukakan pendapat maupun bertanya. Dalam bekerja kelompok banyak dari
anggota kelompok yang hanya mencantumkan nama saja tanpa ikut berpartisipasi
dalam kelompok. Tanggung jawab siswa rendah baik terhadap dirinya sendiri,
maupun terhadap kelompok.

3

Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari
http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 38.
4
Ibid., h. 195.

3

Berdasarkan pengamatan dalam penelitian PPKT bulan Maret Tahun 2009,
peneliti menemukan bahwa siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang Kelas VII
seringkali kurang merespon terhadap pelajaran matematika, dan tidak disiplinnya
siswa terhadap pelajaran matematika. Siswa tidak fokus mengikuti pembelajaran,
beberapa siswa berbincang dengan siswa lainnya ketika guru menyampaikan
materi, kurangnya rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari sehingga
kemampuan bertanya mereka rendah, tugas-tugas atau PR yang tidak dikerjakan,
rendahnya perhatian siswa terhadap pelajaran matematika dan hanya sebagian
kecil siswa yang mampu menyelesaikan soal matematika. Siswa kurang diberikan
kesempatan melakukan aktivitas belajar atau dengan kata lain peran guru dalam
pembelajaran terlihat lebih dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses
pembelajaran yang dilaksanakan belum optimal.
Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Sebab, hakekat
mengajar bukanlah melakukan sesuatu bagi siswa tetapi lebih berupa
menggerakkan siswa melakukan hal-hal yang dimaksudkan menjadi tujuan
pendidikan. Tugas utama seorang guru bukanlah menerangkan hal-hal yang
terdapat dalam buku-buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan
motif-motif dan membimbing siswa dalam usaha mereka mencapai tujuan-tujuan
yang diinginkan.
Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah telah
disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua
peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta
kemampuan bekerjasama yang dapat mengaktifkan siswa. Mengembangkan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah
lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu
berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika.
Teori pembelajaran kognitif memandang bahwa “Learning is much more
than memory. For student to really understand and be able to apply knowledge,
they must to solve problems, to discover things for themselves, to wrestle with

4

ideas” (Slavin 1994 : 224). 5 Intinya adalah agar pengetahuan menjadi bermakna
bagi dirinya, siswa harus membangun pengetahuannya sendiri. Ini berarti,
menurut teori pembelajaran kognitif pengetahuan adalah dibangun, bukan
diperoleh secara pasif. Dengan demikian, dalam kegiatan belajar mengajar guru
tidak hanya memberikan pengetahuan kedalam pikiran siswa, namun harus
merencanakan pengajaran dengan berbagai kegiatan-kegiatan belajar yang
melibatkan siswa aktif dalam membangun pengetahuannya tersebut. Dalam proses
ini guru berperan memberikan dukungan dan memberi kesempatan kepada siswa
untuk menerapkan ide-ide mereka sendiri dan strategi mereka dalam belajar.
Dalam belajar, aktivitas sangat diperlukan. Sebab pada prinsipnya belajar
adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan.
Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan
prinsip atau asas yang penting dalam interaksi belajar-mengajar. Dalam
pembelajaran, yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri
adalah anak itu sendiri, sedang pendidik memberikan bimbingan dan
merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik.
Mengajarkan matematika memerlukan model dan pendekatan agar siswa
lebih mudah memahami materi dan meyelesaikan masalah mengenai materi yang
diajarkan. Model pembelajaran matematika harus mengubah situasi guru mengajar
kepada situasi siswa belajar. Guru memberikan pengalamannya kepada siswa
sebagai pengayom, sebagai sumber tempat bertanya, sebagai pengarah, sebagai
pembimbing, sebagai fasilitator, dan sebagai organisator dalam belajar.
Perkembangan model pembelajaran dari waktu ke waktu terus mengalami
perubahan. Model-model pembelajaran tradisional kini mulai ditinggalkan
berganti dengan model yang lebih modern. Sejalan dengan pendekatan
konstruktivisme dalam pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang kini
banyak mendapat respon adalah Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan konsep baru dalam

5

Sri Hartati, Penerapan Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
(Pengajaran Berbalik) Sebagai Upaya peningkatan Kadar Keaktifan dan Kemampuan Kognitif
Siswa Pada Pembelajaran IPA SLTP, (Jakarta: Laporan Penelitian LIPI,UNS, 2002) h.3

5

pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih
aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran juga dapat membantu memecahkan

kebutuhan yang sering dihadapi dalam penggunaan model pembelajaran yang
sudah usang.
Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini merupakan model yang
dirasa dapat membantu meningkatkan aktivitas, karena dengan menerapkan
pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) siswa diutamakan dapat menerapkan
empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan bahan ajar, menyusun
pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah
diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari
persoalan

yang

disodorkan

kepada

siswa. 6

Manfaatnya

adalah

dapat

meningkatkan antusias siswa dalam pembelajaran karena siswa dituntut untuk
aktif berdiskusi dan menjelaskan hasil pekerjaannya dengan baik.
Pada pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) siswa diberi kesempatan
untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai
tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator
aktivitas siswa. Artinya dalam pembelajaran ini kegiatan aktif dengan
pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan mereka bertanggung jawab atas
pembelajarannya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran terbalik

(reciprocal

teaching) adalah untuk menilai aktivitas-aktivitas siswa, dan aktivitas yang
dimasudkan adalah kegiatan siswa selama siswa bekerja dalam kelompoknya,
yaitu (1) memperhatikan, (2) memberi penjelasan, (3) menanggapi penjelasan, (4)
mengajukan pertanyaan, (5) membuat rangkuman, (6) memecahkan masalah, (7)
memprediksi, (8) antusias dan senang dll. Oleh karena itu, dengan menerapkan
pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dirasa dapat meningkatkan aktivitas
belajar matematika siswa.
Guna membuktikan hal tersebut, maka diperlukan studi penelitian lebih
lanjut, untuk itulah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
6

Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal
Teaching) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat Siswa Kelas
IX-A SMP Negeri 2 Moramo, h. 2 dalam
http://pendidikanmatematika.files.wordpress.com/2009/03/proposal_reciprocal_teaching_.doc.

6

penerapan pembelajaran terbalik

(reciprocal teaching) untuk meningkatkan

aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan mengangkatnya menjadi
bahan kajian dalam skripsi yang berjudul: “Penerapan Model Pembelajaran
Terbalik

(Reciprocal Teaching) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar

Matematika Siswa”

B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian
Dari latar belakang masalah di atas, dapat didefinisikan masalah-masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana cara menumbuhkan motivasi siswa terhadap pelajaran
matematika?
2. Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat
diterapkan pada pelajaran matematika?
3. Bagaimana

respon

siswa

terhadap pelajaran

matematika

dengan

menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)?
4. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa?
5. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa?
6. Jenis-jenis aktivitas apakah yang dapat ditingkatkan melalui penerapan
model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)?
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di MTs Daarul Hikmah
Pamulang. Adapun fokus penelitian adalah meningkatkan aktivitas belajar
matematika siswa melalui pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).

C. Pembatasan Fokus Penelitian
Setelah penulis mengemukakan latar belakang masalah di atas, dapatlah
terlihat luasnya permasalahan yang di dapat. Karena adanya keterbatasan waktu
dan pengetahuan yang penulis miliki serta untuk memperjelas dan memberikan
arah yang tepat dalam pembahasan skripsi, maka penulis berusaha memberikan
batasan sesuai dengan judul, yaitu sebagai berikut:

7

1. Model pembelajaran terbalik

(reciprocal teaching):

Pembelajaran

terbalik (reciprocal teaching) ini merupakan model yang menerapkan
empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan materi yang
dipelajari, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan
kembali pengetahuan/informasi yang telah diperolehnya, kemudian
memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari persoalan yang
disodorkan kepada siswa.
2. Aktivitas belajar yang di observasi adalah jenis-jenis aktivitas belajar
berdasarkan teori Paul D. Dierich. Penulis membatasi pada 5 jenis
aktivitas belajar yaitu:
a. Visual activities; memperhatikan penjelasan guru atau teman.
b. Oral Activities; menjelaskan, bertanya, dan mengajukan pendapat.
c. Writing Activities; merangkum bahan diskusi atau bahan ajar lain.
d. Mental Activities; memecahkan soal, dan memprediksi.
e. Emotional Activities; minat/antusias dan perasaan senang.
3. Siswa: Siswa yang dimaksud adalah siswa MTs, yaitu kelas VII.

D. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pembatasan masalah dan fokus penelitian di atas, maka
peneliti merumuskan masalah penelitian, yaitu:
1. Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa?
2. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran terbalik
(reciprocal teaching) pada pelajaran matematika?
3. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mendapatkan

alternatif

metode

pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa
Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk:

8

1. Mengetahui peningkatan aktivitas belajar matematika siswa melalui
penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
2. Mengetahui

respon

siswa

terhadap

model

pembelajaran

terbalik

(reciprocal teaching).
3. Mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui penerapan
model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching).
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi sekolah, dengan penelitian ini, diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah
2. Bagi Guru, hasil penelitian memberikan manfaat untuk mengetahui
strategi pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan aktivitas belajar
siswa dan hasil belajar matematika siswa serta dapat meningkatkan
prefesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas.
3. Bagi siswa, dengan diterapkannya pembelajaran terbalik

(reciprocal

teaching) memberikan manfaat dalam membangun motivasi belajar siswa
dalam pelajaran matematika serta meningkatkan aktivitas belajar siswa.
4. Bagi peneliti, sebagai umpan balik bagi peneliti dalam proses belajar
mengajar bidang studi matematika, dan untuk menambah pengetahuan
serta pengalaman.
5. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan
bahan referensi untuk diadakan penelitian lebih lanjut.
6. Bagi perkembangna ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini dapat
menambah informasi mengenai penerapan model pembelajaran terbalik
(reciprocal teaching) untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika
siswa.

9

9

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN

A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
Dalam kajian teori pembelajaran matematika, peneliti akan menguraikan 2
sub bab antara lain: pengertian matematika dan pengertian belajar dan
pembelajaran matematika. Pengertian matematika, belajar dan pembelajaran
matematika sangatlah penting untuk ditulis karena dapat digunakan sebagai bahan
acuan teori dalam mengajar matematika. Dengan adanya teori tersebut peneliti
dapat menghubungan bagaimana caranya menerapkan pembelajaran matematika
di sekolah.

a. Pengertian Matematika
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani, Mathematike, yang berarti
“relating to learning“. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti
pengetahuan atau ilmu. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan
sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar
(berpikir). 1
Matematika adalah cara atau metode berpikir dan bernalar. Matematika
dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah suatu ide itu benar atau salah
atau paling tidak ada kemungkinan benar. Matematika adalah suatu eksplorasi dan
penemuan, di situlah setiap hari ide-ide baru ditemukan. “Matematika adalah
metode berpikir yang digunakan untuk memecahkan semua jenis permasalahan
yang terdapat di dalam sains, pemerintahan, dan industri”. 2
James dan James (dalam Erman Suherman, 2001) dalam kamus
matematikanya mengatakan “matematika adalah ilmu tentang logika mengenai
1

Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung :
JICA-UPI.2001), h. 18
2
Sukardjono, dkk, Hakikat dan Sejarah Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2008), h. 1.3

9

10

bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan dengan yang
lainnya dengan jumlah yang banyak terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar,
analisis, dan geometri”. 3 Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa
dalam pembelajaran matematika antara satu topik matematika dengan topik
matematika yang lain saling berkaitan.
Matematika merupakan suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, karena
itu, matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun
dalam menghadapai perkembangan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan
kepada setiap peserta didik sejak SD, bahkan sejak TK. “Matematika yang
diberikan di sekolah baik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun
pada jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK), disebut dengan matematika
sekolah”. 4
Menurut Ismail ”matematika sekolah berfungsi sebagai tempat untuk
meningkatkan ketajaman penalaran siswa yang dapat membantu memperjelas dan
menyelesaikan permasalahan dalam kehidupann sehari-hari, serta untuk
meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan
simbol-simbol”. 5 Sehingga dapat dikatakan bahwa matematika sekolah berfungsi
untuk meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan komunikasi terhadap
bilangan atau simbol yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai pengertian yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan
bahwa matematika merupakan suatu ilmu mengenai bilangan-bilangan yang
diperoleh dengan bernalar, terorganisasikan dengan baik, yang dapat diterapkan di
sekolah untuk mengembangkan cara berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan
kreatif, serta kemampuan bekerjasama baik pada jenjang pendidikan dasar (SD
dan SMP) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK) dan
dapat digunakan sebagai pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
3

Erman Suherman,dkk, Loc.Cit
Erman Suherman,dkk, Op.Cit., h. 55
5
Ismail.,dkk, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2002), h.1.15
4

11

b. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika
”Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan,
sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.” 6 Perubahan dan
kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam
belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah, maka manusia
dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia
terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.
Beberapa pendapat yang mengemukakan tentang pengertian belajar. Ada
yang berpendapat bahwa “Belajar adalah penambahan pengetahuan.” 7 “Belajar
adalah usaha aktif seseorang artinya tanpa adanya usaha aktif tidak akan terjadi
proses belajar pada diri seseorang”. 8 James O. Whittaker berpendapat bahwa
“Belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan.” 9 Sedangkan menurut
pandangan konstruktivisme “Belajar merupakan hasil konstruksi kognitif melalui
kegiatan seseorang. Pandangan ini memberi penekanan bahwa pengetahuan kita
adalah bentukan kita sendiri”. 10
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini
berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di
sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Gagne’, seperti yang dikutip oleh Meriana (1999: 25) menyatakan untuk
terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi
internal maupun kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan
peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa
yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan
ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau
benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil
belajar (learning outcomes), Gagne’, seperti yang dikutip oleh Mariana
6

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 59
Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2007), h. 1.2
8
Soedijanto Padmowihardjo, Psikologi belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2008), h. 1.18
9
Wasty soemarto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 104
10
Triyanto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi
pustaka, 2007), h. 28
7

12

(1999: 25) menyatakan dalam lima kelompok, yaitu intelektual skill,
cognitive strategy, verbal information, motor skill, dan attitude. 11
Berdasarkan perbedaan-perbedaan pendapat mengenai belajar, penulis
dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah
laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Segala aktivitas dan prestasi hidup
manusia tidak lain adalah hasil dari belajar hanya berbeda cara dan usaha
pencapaiannya.
Proses yang terjadi yang membuat seseorang melakukan proses belajar
disebut pembelajaran. Undang-undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pembelajaran adalah
“proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar”. 12
Istilah pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk
menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya kita menggunakan istilah
“proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Menurut Gagne, Bringgs, dan Wager
(1992), pembelajaran adalah “serangkaian kegiatan yang dirancang untuk
memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”. 13
Pembelajaran lebih mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh
langsung terhadap proses belajar siswa. Kalau kita menggunakan kata
“pengajaran”, kita membatasi diri hanya pada konteks tatap muka guru dan siswa
di dalam kelas. Sedangkan dalam istilah pembelajaran, interaksi siswa tidak
dibatasi oleh kehadiran guru secara fisik. Siswa dapat belajar melalui bahan ajar
cetak, program radio, program televisi, atau media lainnya. Guru tetap memainkan
peranan penting dalam merancang setiap kegiatan pembelajara. Dengan demikian
pengajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran.

11

Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2007), h. 12
12
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan
Pemuda, 2003 ), hal. 74
13
Udin S. Wiranataputra, dkk, Op.Cit., h. 1.6

13

Pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi tersebut antara siswa yang
belajar dengan lingkungan belajarnya, baik dengan guru, siswa lainnya, tutor,
media, atau sumber lainnya. Ciri lain dari pembelajaran adalah “adanya
komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain dan komponenkomponen tersebut adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran”. 14
Prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya
bahwa “observasi, aktivitas, dan diskusi matematika siswa merupakan acuan dan
petunjuk di dalam mengajar (Steffe dan Kieren dalam Suherman dan dikutip oleh
Ismail,dkk: 2007)”. 15 Dalam konstruktivisme aktivitas matematika diwujudkan
melalui pengajuan suatu masalah yang menantang, kerja dalam kelompok kecil,
dan diskusi kelas. Jadi, proses pembelajaran menurut konstruktivis menggunakan
pendekatan yang berpusat pada masalah.
Pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk
berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika. Dari pengertian tersebut
pembelajaran matematika meliputi guru, siswa, proses pembelajaran, dan materi
matematika sekolah. Dan dapat dikatakan pembelajaran matematika sekolah
merupakan suatu proses yang sangat kompleks.
Pada pembelajaran matematika prinsip belajar adalah berbuat, berbuat
untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. 16 Berbuat salah satunya
menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukannya. Penemuan
kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian secara informal dalam
pembelajaran matematika di kelas. Walaupun penemuan tersebut sederhana dan
bukan hal baru bagi orang yang telah mengetahui sebelumnya. Oleh karena itu,
materi yang diberikan kepada siswa bukan dalam bentuk akhir dan tidak
diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran ini, guru lebih banyak
berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberi tahu.

14

Ibid
Ismail, dkk, Pembaharuan dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas
Terbuka, 2007), h. 7.13
16
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:PT. Raja Grafindo
Persada,2008), h. 95
15

14

Dalam pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara
pengalaman siswa sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Pengaitan
antara pelajaran yang sebelumnya dan yang akan dipelajari anak. Dalam
matematika setiap konsep berkaitan dengan konsep yang lain. Oleh karena itu,
siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan
tersebut.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang
sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang
memungkinkan seseorang atau pelajar melaksanakan kegiatan belajar, dan proses
tersebut dipandu oleh guru. Pembelajaran matematika harus memberikan peluang
kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman dalam belajar matematika.
Setelah membahas tentang belajar dan pembelajaran, penulis dapat
mengambil kesimpulan bahwa proses belajar bersifat internal dalam diri siswa,
maksudnya proses belajar merupakan peningkatan memori siswa itu sendiri
sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan, pembelajaran bersifat eksternal yaitu
aspek atau benda yang sengaja direncanakan dan dirancang oleh guru dalam suatu
pembelajaran.

2. Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan konsep
baru dalam pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk belajar mandiri,
kreatif, dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran juga dapat
membantu memecahkan kebutuhan yang sering dihadapi dalam penggunaan
model pembelajaran yang sudah usang. ”Model pembelajaran terbalik (reciprocal
teaching) menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan
bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali
pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa
selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa”. 17

17

http://pendidikanmatematika.files.wordpress.com/2009/03/proposal_reciprocal_teachin
g_.doc. Loc.Cit

15

a. Pengertian Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dikembangkan oleh Anne
Marie Palinscar dari Universitas Michigan dan Ane Crown dari Universitas
Illinois USA. Karekteristik dari

pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)

adalah:
A dialoge student and teacher, each taking a term in the role of dialogue
leader :”reciprocal” interactions where me person acts in response to the
other structured dialogue using four strategis: questioning, summarizing
,clarifying, predicting. Palinscar dan Brown. 18
Bila diterjemahkan berarti bahwa karakteristik dari pembelajaran terbalik
(reciprocal teaching) adalah:
1

Dialog antara siswa dan guru, dimana masing-masing mendapat
kesempatan dalam memimpin diskusi.

2

“Reciprocal” artinya suatu interaksi dimana seseorang bertindak untuk
merespon dalam memimpin diskusi.

3

Dialog yang terstruktur dengan menggunakan empat strategi yaitu
merangkum, membuat pertanyaan, mengklarifikasi (menjelaskan) dan
memprediksi.
Masing-masing strategi tersebut dapat membantu siswa membangun

aktivitas dan pemikiran kreatif terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Menurut
Resnick (dalam Hendriana,2002:25) “Pembelajaran terbalik adalah suatu kegiatan
belajar yang telah dilakukan oleh siswa meliputi membaca bahan ajar yang
disediakan, menyimpulkan, membuat pertanyaan, menjelaskan kembali dan
menyusun prediksi”. 19 Khadijah (dalam Hendriana,2002:4) berpendapat bahwa
salah satu alternatif yang biasa digunakan “strategi yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk melakukan analisis terhadap konsep yang dibacanya
melakukan langkah-langkah berupa pemecahan masalah, menyusun pertanyaan

18

http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/model-pembelajaran-reciprocalteaching/ Diterbitkan di: www.Pendidikanmatematika.com on Juni 5, 2009 at 8:08 h.1
19
Ibid

16

atau

menjelaskan

konsep

pembelajaran terbalik”.

yang

dipelajarinya

dan

memprediksi

adalah

20

Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) lebih menghendaki guru
menjadi model dan pembantu daripada penyaji proses pembelajaran. Maksudnya
adalah guru hanya sebagai fasilitator dan siswa yang lebih aktif dalam proses
pembelajaran di kelas. Menurut Ann Brown (1982) dan Annemarie palincsar
(1984) “guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting
dengan menciptakan pengalaman-pengalaman belajar, pada kesempatan itu
mereka memodelkan perilaku tertentu dan kemudian membantu siswa
mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut berkat upaya mereka sendiri
dengan pemberian semangat, dukungan, dan suatu sistem scaffolding”. 21
Scaffolding adalah pemberian sejumlah besar bantuan seorang anak selama tahaptahap awal pembelajaran dan kemudian peserta didik tersebut mengambil alih
tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya.
Pembelajaran terbalik adalah pendekatan konstrukivis yang berdasar pada
prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan. 22 Dengan Pembelajaran terbalik
guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting dalam
menciptakan pengalaman belajar, melalui pemodelan prilaku tertentu dan
kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha
mereka sendiri dengan pember

Dokumen yang terkait

Penerapan strategi pembelajaran aktif the power of two untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa

1 5 212

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor terstruktur untuk meningkatkan aktivitas belajar matemetika siswa (penelitian tindakan kelas di SMP Islam al-Ikhlas Cipete)

1 7 47

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa

2 8 120

Penerapan metode pembelajaran SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa

0 7 241

Penerapan penilaian autentik untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa (sebuah studi penelitian tindakan kelas di SD Negeri III Jati Asih Bekasi)

0 6 212

peranan model pembelajaran arias (Assurance, relavance, interest, assessment dan satisfaction untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa; penelitian tindakan kelas di MTs. Sa'aadatul mahabbah Pondok Cabe

0 6 202

Penerapan pembelajaran aktif metode permainan bingo untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas III SDN Tunas Mekar

2 16 171

Penerapan model pembelajaran terbalik reciprocal teaching untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa : penelitian tindakan kelas di mts daarul hikmah pamulang

0 14 265

Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipi Inside-outside circle untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa (penelitian tindakan kelas di MTSN Tangerang 11 Pamulang)

4 19 61

Penerapan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SD Negeri Ciherang 01: penelitian tindakan kelas

1 8 0

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2934 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 749 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 648 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 419 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 575 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 968 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 880 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 533 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 790 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 954 23