Diagnosis kesulitan belajar metematika siswa dan solusinya dengan pembelajaran remedial: penelitian deskriptif analisis di MAN 7 Jakarta

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
MATEMATIKA SISWA DAN SOLUSINYA DENGAN
PEMBELAJARAN REMEDIAL
(Penelitian Deskriptif Analisis di MAN 7 Jakarta)

Skripsi
Diajukan dalam rangka penyelasaian studi Strata-1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

SURYANIH
103017027257

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M /1432 H

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul “Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Siswa dan
Solusinya

dengan

Pembelajaran

Remedial”

disusun

oleh

Suryanih,

NIM. 103017027257, Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah
melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk
diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 26 Februari 2011
Yang Mengesahkan,

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Kadir, M.Pd

Lia Kurniawati, M.Pd

NIP. 19670812 199402 1 001

NIP. 19760521 200801 2 008

i

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: SURYANIH

NIM

: 103017027257

Jurusan

: Pendidikan Matematika

Angkatan Tahun

: 2003

Alamat

: Jl. Nusantara Raya Gg. Madrasah RT 04/13 No.5A
Beji, Depok 16421

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudul Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika
Siswa dan Solusinya dengan Pembelajaran Remedial adalah benar hasil karya
sendiri di bawah bimbingan dosen:
1. Nama

: Dr. Kadir, M.Pd

NIP

: 19670812 199402 1 001

Dosen Jurusan

: Pendidikan Matematika

2. Nama

: Lia Kurniawati, M.Pd.

NIP

: 19760521 200801 2 008

Dosen Jurusan

: Pendidikan Matematika

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta,

Februari 2011

Yang Menyatakan

SURYANIH

ABSTRAK
Suryanih (103017027257). “Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Siswa dan
Solusinya dengan Pembelajaran Remedial”. Skripsi Jurusan Pendidikan
Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, Februari 2011.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa pada
materi eksponen dan logaritma dari segi faktor intelektual, kemudian menentukan
langkah remedial yang tepat bagi siswa. Kegiatan remedial dilakukan guna
membantu siswa mengatasi kesulitan belajar. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen tes
diagnostik eksponen dan logaritma dan melalui teknik wawancara. Sedangkan
metode pembelajaran remedial yang dilakukan adalah dengan mengajarkan
kembali penyederhanaan materi eksponen dan logaritma, pemanfaatan tutor
sebaya, dan drill soal. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat 3 jenis
kesalahan umum yang menyebabkan siswa kesulitan mengerjakan soal eksponen
dan logaritma, yakni 1) Kesalahan konsep eksponen dan logaritma: 2) Kesalahan
prinsip operasi hitung; dan 3) Kesalahan karena kecerobohan siswa. Hasil
penelitian juga menunjukkan setelah pembelajaran remedial jumlah siswa yang
mencapai KKM meningkat dari 5 siswa (16,13%) menjadi 19 siswa (61,29%) dan
rata-rata nilai siswa naik dari 47,71 menjadi 68,08. Dengan demikian program
remedial dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar matematika.

Kata kunci: kesulitan belajar matematika, pembelajaran remedial

i

ABSTRACT

Suryanih (103017027257). "The Diagnosis of Student’s Learning-Difficulties in
Mathematics and its Solution with Remedial Teaching". Script Department of
Mathematics Education, Faculty of Tarbiya and Teaching Sciences, Syarif
Hidayatullah State Islamic University Jakarta, February 2011.

This research purposes is to diagnose the intellectual causes of low student’s
achievement in Exponent and Logarithm, and follow up decide what kind of
remedial activities for each student. The remedial activities aim is to help student
make up their difficulties in mathematics. This research using descriptive method.
This research was held at MAN 7 Jakarta for 10th grade students in school year
2010-2011. Data was collected by using instruments diagnostic test and
interviews. The remedial method is by re-teaching, peer-tutorial, and drill
problems. The result of research was showed that there are 3 common errors that
students often do in mathematics test (Exponent and Logarithm test):
1) misconceptions; 2) rules of arithmetic errors; and 3) unintentional error/
careless mistake. The research was also showed that after remedial teaching the
sum of students who get mastery in Exponent and Logarithm increase from 5
students (16,13%) to 19 students (61,29%), the average increase from 47,71 to
68,08. Therefore, the conclusion of these research was showed that remedial
teaching help students to make up their difficulties in mathematics.

Keywords: learning difficulties, remedial teaching

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan
Hidayah dan Pertolongan-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, suriteladan
bagi umat Islam, beserta keluarganya dan para sahabatnya yang berjuang
menegakkan kalimat tauhid.
Proses penulisan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis haturkan kepada:
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Maifalinda Fatra M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika, dan
Bapak Otong Suhyanto, M.Si., Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika
yang telah sangat peduli kepada mahasiswanya, beserta semua dosen jurusan
Pendidikan Matematika yang telah memberikan ilmu pengetahuannya
kepada penulis.
3. Bapak Dr. Kadir, M.Pd. dan Ibu Lia Kurniawati, M.Pd, dosen pembimbing
yang dengan tulus ikhlas meluangkan waktu dan mencurahkan fikirannya
untuk memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat, dan arahan pada penulisan
skripsi ini.
4. Bapak Drs. Teguh Arminto, M. Pd, Kepala MAN 7 Jakarta, Bapak Padilah,
S. Pd, guru mata pelajaran matematika kelas X, serta seluruh karyawan dan
guru MAN 7 Jakarta yang telah membantu melaksanakan penelitian.
5. Keluarga tercinta Ayahanda Sanilam, Ibunda (almh) Misnati. Kakak
Herman dan Nurhayati, Adinda Ropiah dan Syarifah, yang mendorong
penulis untuk tetap semangat dalam mengejar dan meraih cita-cita.
6. Ibu Sri Andayani, S. Pd., Bunda kedua bagi penulis, yang telah menyayangi
dan mencurahkan perhatiannya, mencurahkan ilmunya, hingga penulis
mengikuti langkahnya untuk mengajarkan matematika.
7. Agus Budiman, yang telah membantu penulis, menemani selama penulis
memperjuangkan skripsi ini.

iii

8. Rekan-rekan angkatan 2003 terutama Hikmah, Indah, Tuti, Dian, Novi,
teman sehati selama penulis menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Teman-temanku Mudhof, Dini, Ninis, Thya, Apri, Eva, Hanafi,
Sukron, Rafli, Malkan, Qbot, Emon, Hadi, yang sama-sama berjuang demi
kelulusan ini, serta rekan-rekan lain yang pernah hadir dalam kehidupan
penulis, semoga kebersamaan kita menjadi kenangan indah seumur hidup.
9. Murid-muridku di MAN 7 Jakarta, terutama kelas XII IPA angkatan
2010/2011 yang telah banyak membantu dan mendoakan selesainya skripsi
ini, Kelas X angkatan 2010/2011 yang telah Ibu telantarkan karena
kesibukan Ibu menyelesaikan skripsi ini.
10. Pimpinan dan segenap staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan,

Perpustakaan

Utama

UIN

Syarif

Hidayatullah

Jakarta,

Perpustakaan Umum Universitas Terbuka, Perpustakaan UNINDRA Jakarta,
Perpustakaan LIPI, dan Perpustakaan Nasional yang telah memberikan
fasilitas kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua pihak yang namanya
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah SWT. memberi balasan
yang baik sebagai amal shalih mereka. Jazakumullah khairan katsiran.
Skripsi ini masih dirasakan dan ditemui berbagai kekurangan. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang konstruktif akan penulis terima. Penulis berharap
semoga skripsi ini akan membawa manfaat bagi siapa yang membacanya.
Jakarta, Februari 2011
Penulis

Suryanih

iv

DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK .................................................................................................... i
ABSTRACT ................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iii
DAFTAR ISI................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ..................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................ 4
C. Pembatasan Masalah ....................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ....................................................................... 5
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................... 5

BAB II ACUAN TEORITIK
A. Belajar dan Pembelajaran................................................................ 7
B. Pengertian Matematika ................................................................. 10
C. Kesulitan Belajar Matematika ....................................................... 15
D. Diagnosis Kesulitan Belajar Peserta Didik ................................... 20
E. Pembelajaran Remedial................................................................. 22
1. Pengertian Pembelajaran Remedial ............................................. 22
2. Pendekatan, Metode dan Model Pelaksanaan
Pembelajaran Remedial ............................................................... 25
3. Prinsip Pembelajaran remedial..................................................... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 33
B. Metode Penelitian ......................................................................... 33
C. Unit Analisis ................................................................................. 34
D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 34
E. Teknik Analisis Data ..................................................................... 36

v

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Temuan Penelitian ........................................................................ 38
1. Uji Validitas Instrumen ........................................................ 38
2. Uji Reliabilitas ..................................................................... 39
3. Hasil Tes Diagnostik Eksponen dan Logaritma
pada Kelas yang menjadi Subjek Penelitian ........................ 39
4. Kesalahan Umum Siswa dalam Menyelesaikan
Soal Eksponen dan Logaritma ............................................. 41
a. Kesalahan Konsep Eksponen dan Logaritma .................. 41
b. Kesalahan Prinsip Operasi Hitung................................... 48
c. Kesalahan karena Kecerobohan Siswa ............................ 52
5. Langkah-langkah Pembelajaran Remedial........................... 54
a. Langkah Remedial untuk Mengatasi Kesalahan
Konsep Siswa .................................................................. 54
b. Langkah Remedial untuk Mengatasi Kesalahan
Prinsip Operasi Hitung ................................................... 56
c. Langkah Remedial untuk Mengatasi Kecerobohan
Siswa............................................................................... 58
B. Pembahasan terhadap Temuan Penelitian ..................................... 60
a. Kesalahan Konsep Eksponen dan Logaritma .................. 61
b. Kesalahan Prinsip Operasi Hitung................................... 64
c. Kesalahan karena Kecerobohan Siswa ............................ 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................... 67
B. Saran ............................................................................................. 67
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 69
LAMPIRAN................................................................................................ 71

vi

DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Uji Coba Soal ....................................................... 38
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Hasil Tes Diagnostik Eksponen
dan Logaritma ....................................................................................... 40
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Hasil Tes Remedial Eksponen
dan Logaritma ....................................................................................... 59

vii

DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 4.1

Histogram dan Poligon Hasil Tes Diagnostik .............................. 40

Gambar 4.2

Contoh Kesalahan Konsep Perkalian Bentuk Pangkat ................ 41

Gambar 4.3

Contoh Kesalahan Konsep Bentuk Pangkat ................................. 42

Gambar 4.4

Contoh Kesalahan dalam Merasionalkan Penyebut ..................... 43

Gambar 4.5

Contoh Kesalahan Penggunaan Sifat Logaritma .......................... 45

Gambar 4.6

Contoh Kesalahan Penggunaan Sifat Logaritma .......................... 46

Gambar 4.7

Contoh Kesalahan Penggunaan Sifat Logaritma .......................... 47

Gambar 4.8

Contoh Kesalahan Kaidah Hitung Bentuk Pecahan ..................... 49

Gambar 4.9

Contoh Kesalahan Prinsip Hitung karena Pemahaman
yang Salah Terhadap “Kaidah Pencoretan” ................................. 50

Gambar 4.10 Contoh Kesalahan Prinsip Hitung karena Pemahaman
yang Salah Terhadap “Konsep Pindah Ruas” ............................... 51
Gambar 4.11 Kecerobohan Siswa dalam Menyelesaikan Soal
Bentuk Pangkat ............................................................................. 52
Gambar 4.12 Kecerobohan Siswa dalam Menghitung Bilangan Bulat .............. 53
Gambar 4.13 Histogram Hasil Tes Remedial Eksponen dan Logaritma ............ 59

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Hal
Lampiran 1

RPP Pembelajaran Remedial ...................................................... 70

Lampiran 2

RPP Pembelajaran Remedial ...................................................... 73

Lampiran 3

RPP Pembelajaran Remedial ...................................................... 76

Lampiran 4

RPP Pembelajaran Remedial ...................................................... 79

Lampiran 5

Daftar Nilai Ulangan Harian Eksponen dan Logaritma .............. 81

Lampiran 6

Kisi-kisi Tes Uji Coba ................................................................ 82

Lampiran 7

Tes Uji Coba .............................................................................. 84

Lampiran 8

Kisi-kisi Tes Diagnostik ............................................................. 85

Lampiran 9

Tes Diagnostik ............................................................................ 87

Lampiran 10 Pembahasan dan Bobot Soal Tes Diagnostik .............................. 88
Lampiran 11 Perhitungan Validitas ................................................................. 91
Lampiran 12 Hasil Uji Validitas ...................................................................... 92
Lampiran 13 Perhitungan Reliabilitas ............................................................. 93
Lampiran 14 Hasil Uji Reliabilitas .................................................................. 94
Lampiran 15 Nilai Koefisien Korelasi “r” Product Moment dari Pearson ...... 95
Lampiran 16 Lembar Hasil Wawancara ........................................................... 96
Lampiran 17 Perhitungan Rentang, Panjang Kelas Sebelum Remedial .......... 101
Lampiran 18 Perhitungan Rentang, Panjang Kelas Setelah Remedial ............. 102
Lampiran 19 Perhitungan Mean, Modus dan Median Sebelum Remedial ....... 103
Lampiran 20 Perhitungan Mean, Modus dan Median Setelah Remedial ......... 104
Lampiran 21 Perhitungan Letak KKM Sebelum Remedial ............................. 105
Lampiran 22 Perhitungan Letak KKM Setelah Remedial ................................ 106
Lampiran 23 Tabel Nilai Siswa Sebelum dan Sesudah Remedial ................... 107
Lampiran 24 Foto-foto Lembar Jawaban Siswa ............................................... 108
Lampiran 25 Lembar Uji Referensi .................................................................. 111
Lampiran 26 Surat Bimbingan Skripsi ............................................................. 116
Lampiran 27 Surat Keterangan Penelitian ........................................................ 117

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional setiap siswa yang berada pada jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah wajib mengikuti pelajaran matematika (BAB X
Pasal 37 ayat 1).1 Bahkan, sejak diberlakukan Ujian Nasional (UN) tahun 2003,
matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan serta menentukan
kelulusan siswa, sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang disusun
oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pernyataan tersebut
mengindikasikan

betapa

pentingnya

siswa

untuk

memiliki

kemampuan

matematika.
Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang banyak sekali
mengandung ide-ide dan konsep-konsep abstrak dan mendasarkan diri pada
kesepakatan-kesepakatan dan menggunakan pola pikir deduktif secara konsisten.
Matematika adalah suatu ilmu yang memiliki objek dasar abstrak yang berupa
fakta, konsep, operasi, dan prinsip. Objek matematika yang abstrak tersusun
secara hierarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari yang sederhana
sampai yang paling kompleks. Karena keabstrakan konsepnya, maka mempelajari
matematika memerlukan kegiatan berfikir yang sangat tinggi sehingga banyak
siswa yang menganggap matematika sulit, memusingkan dan membosankan untuk
dipelajari.
Selain itu alasan siswa merasa pelajaran matematika itu sulit adalah karena
harus bergelut dengan perhitungan-perhitungan yang sulit dan rumus yang
memerlukan daya ingat serta daya analisis dalam penggunaannya. Hal tersebut
sejalan dengan pendapat Sriyanto yang menyatakan bahwa penyebab siswa tidak
menyukai pelajaran matematika antara lain dikarenakan matematika merupakan

1

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2003), h.19.

1

2

pelajaran yang teoritis dan abstrak, banyak rumus, dan hanya berisi hitunghitungan saja. 2
Sementara di lain pihak, telah disadari benar bahwa matematika
merupakan salah satu ilmu yang sangat berperan dalam kehidupan manusia.
Ruseffendi mengemukakan bahwa kegunaan matematika besar, baik sebagai ilmu
pengetahuan, sebagai alat, sebagai pembimbing pola pikir, maupun sebagai
pembentuk sikap yang diharapkan. Matematika juga memegang peranan penting
dalam pendidikan di masyarakat baik sebagai objek langsung (fakta, kemampuan,
konsep, prinsipel) maupun tak langsung (bersifat kritis, logis, tekun, maupun
memecahkan masalah dan lain-lain).3
Dengan demikian, idealnya para siswa harus mampu menguasai konsepkonsep dasar matematika yang dalam kurikulum disebutkan sebagai standar
kompetensi dan kompetensi dasar matematika. Akan tetapi pada kenyataannya,
dalam kegiatan pembelajaran matematika selalu dijumpai jauh lebih banyak siswa
yang mengalami kesulitan untuk menguasai materi pembelajaran yang diberikan.
Banyak siswa yang kesulitan dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi
dasar matematika yang ditentukan. Hal ini misalnya dapat terlihat dari hasil
ulangan harian siswa pada pokok bahasan Eksponen dan Logaritma di MAN 7
Jakarta, dari 31 siswa tidak ada satupun siswa yang nilainya mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). Kegagalan siswa dalam mempelajari eksponen dan
logaritma yang merupakan materi awal di tingkat SMU mengindikasikan betapa
sulitnya matematika bagi siswa.
Jika kesulitan belajar siswa tersebut dibiarkan, maka tujuan pembelajaran
tidak akan tercapai dengan baik. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, siswa
memerlukan bantuan, baik dalam mencerna bahan pengajaran maupun dalam
mengatasi hambatan-hambatan lainnya. Kesulitan belajar siswa harus dapat
diketahui dan dapat diatasi sedini mungkin, sehingga tujuan instruksional dapat
tercapai dengan baik. Di sinilah peran guru sebagai pendidik dan fasilitator
2

H.J. Sriyanto, Strategi Sukses Menguasai Matematika, (Yogyakarta: Indonesia Cerdas,
2007), cet. I, h.18-24
3
E.T. Ruseffendi, Dasar-dasar Matematika Modern dan Komputer untuk Guru,
(Bandung:Tarsito, 1989), Edisi ke-4, h.39

3

pendidikan

sangat

diperlukan.

Seorang

guru

dituntut

untuk

selalu

mengembangkan diri dalam pengetahuan matematika maupun pengelolaan proses
belajar mengajar. Selain itu, guru juga harus mempunyai kemampuan untuk
mendiagnosis kesulitan siswa. Artinya, ia bukan saja harus dapat menganalisis
bahan pelajaran yang disampaikannya, tetapi juga berbagai kesulitan yang
mungkin dialami siswa dalam menerima pelajaran yang disampaikan. Melalui
diagnosis ini guru membimbing serta membantu siswa untuk memperoleh hasil
belajar yang optimal.
Terlebih pada KTSP ditekankan tentang prinsip belajar tuntas (mastery
learning). Guru harus mengupayakan agar para siswanya tuntas dalam belajar.
Ketuntasan belajar yang dimaksud adalah siswa dapat mencapai standar
kompetensi dan kompetensi dasar dari materi yang disampaikan oleh guru pada
setiap tatap muka atau setiap kegiatan pembelajaran. Siswa diupayakan benarbenar telah menguasai materi yang disampaikan sebelum mereka menerima materi
selanjutnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengatasi
kesulitan siswa serta membantu siswa untuk mencapai ketuntasan belajar yakni
dengan menyelenggarakan pembelajaran remedial.
Kegiatan remedial (perbaikan) dalam proses pembelajaran merupakan
salah satu kegiatan pemberian bantuan yang telah diprogram dan disusun secara
sistematis. Pembelajaran remedial (remedial teaching) ini berfungsi sebagai
terapis untuk penyembuhan. Dalam hal ini, yang disembuhkan adalah hambatan
atau gangguan yang menyebabkan siswa kesulitan mempelajari matematika.
Prinsip utama pembelajaran remedial ini adalah pemberian umpan balik sesegera
mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan
sesegera mungkin memperoleh umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar
yang berlarut-larut yang dialami siswa, dan guru dapat menilai siswa mana yang
perlu mengikuti pembelajaran remedial sehingga siswa tersebut dapat mencapai
ketuntasan belajar.
Program pembelajaran remedial diperuntukkan bagi siswa agar dapat
mempelajari

kembali

materi

pelajaran

yang

belum

dikuasai.

Program

pembelajaran remedial disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar siswa

4

dan tingkat kemampuan siswa. Pembelajaran remedial dalam pelaksanaannya
lebih bersifat individual, sehingga diharapkan siswa dapat mencapai hasil belajar
yang optimal sesuai dengan kemampuannya.
Berdasarkan paparan tersebut, maka penulis hendak mengadakan
penelitian dan menerapkan pembelajaran remedial bagi siswa-siswi yang belum
mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dalam belajar matematika. Peneliti
mencoba untuk mencari tahu letak kesulitan siswa dalam mempelajari matematika
kemudian memberikan pembelajaran remedial kepada siswa-siswi yang dianggap
memerlukannya. Oleh karena itu penulis mengangkat judul, “Diagnosis
Ketuntasan Belajar Matematika Siswa dan Solusinya dengan Pembelajaran
Remedial”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penulis
mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Faktor apakah yang menyebabkan banyak siswa yang hasil belajar
matematikanya tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ?
2. Langkah apa yang dilakukan guru dalam menyikapi banyaknya siswa yang
hasil belajarnya belum mencapai KKM?
3. Bagaimanakah variasi strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dalam mengajar matematika?
4. Apa sajakah kesulitan yang dialami oleh siswa dalam belajar matematika?
5. Bagaimanakah motivasi belajar matematika siswa?
6. Upaya apakah yang dilakukan guru dalam mengatasi kesulitan siswa
belajar matematika?
7. Apakah guru dan pihak sekolah mengadakan program remedial?
8. Apakah program remedial dapat mengatasi kesulitan belajar matematika
siswa?
9. Apakah pembelajaran remedial dapat membantu siswa mencapai
ketuntasan belajar matematika?

5

C. Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini, peneliti membatasi masalah pada upaya mendiagnosis
kesulitan belajar matematika siswa pada pokok bahasan Eksponen dan Logaritma.
Akan tetapi tidak semua faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa dibahas
pada penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah menemukan kesulitan
belajar siswa dari segi/faktor intelektual. Setelah kesulitan belajar siswa
diidentifikasi, peneliti menyusun upaya mengatasi kesulitan tersebut dengan
melaksanakan pembelajaran remedial. Objek pada penelitian ini adalah siswa
kelas X-4 di Madrasah Aliyah Negeri 7 Jakarta tahun ajaran 2010/2011.

D. Perumusan Masalah
1. Faktor-faktor intelektual apakah yang menyebabkan kesulitan belajar
matematika siswa?
2. Bagaimana pembelajaran remedial dapat membantu siswa mengatasi
kesulitan belajar matematika?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor
penyebab siswa tidak mencapai KKM matematika, yakni mengidentifikasi
kesulitan belajar siswa dalam memahami dan menggunakan konsep/prinsip
matematika dengan cara melihat kesalahan umum yang dilakukan siswa
dalam menyelesaikan masalah matematika, kemudian menyusun upaya
mengatasi kesulitan tersebut melalui pelaksanaan pembelajaran remedial
sehingga siswa mencapai ketuntasan belajar matematika.

2. Manfaat Penelitian
a. Bagi siswa : membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar
matematika sehingga siswa mampu mencapai KKM yang
ditetapkan.

6

b. Bagi sekolah/guru

: dapat digunakan sebagai masukan untuk mengatasi

masalah pembelajaran matematika, sehingga mendapatkan
salah satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar dan
mencapai ketuntasan belajar matematika siswa.
c. Bagi peneliti : menambah wawasan dan keterampilan mengidentifikasi
kesulitan siswa dalam upaya mempersiapkan diri menjadi
seorang pendidik (guru).

BAB II
ACUAN TEORITIK
A. Belajar dan Pembelajaran
Manusia tidak terlepas dari sebuah proses yang disebut belajar. Belajar
merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Dengan
belajar manusia mampu memahami segala sesuatu baik itu mengenai diri maupun
lingkungan sekitarnya. Upaya memahami sesuatu itu dilakukan dengan berbagai
cara baik itu melihat, mendengar, ataupun membaca, yang setelah itu akan
terciptalah sebuah kondisi yang berbeda pada diri manusia itu sendiri, seperti dari
tidak tahu sesuatu menjadi tahu banyak hal.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata belajar mengandung
pengertian “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. 1 Yang dimaksud
kepandaian di atas dapat bermakna luas, baik pandai dalam hal memiliki
pengetahuan yang banyak maupun pandai dalam bertingkah laku atau berinteraksi
dengan lingkungan.
Sardiman dalam bukunya mengemukakan beberapa definisi tentang
belajar, sebagaimana dikutip oleh Angkowo dan Kosasih sebagai berikut: 2
1. Cronbach memberi definisi: Learning is shown by a change is
behavior as a result of experience.
2. Harold Spears memberi batasan: Learning is to be observe, to read, to
imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.
3. Geoch mengatakan: Learning is a change in performance as a result of
practice.
Menurut Ahmadi dan Widodo belajar dapat diartikan: “Belajar ialah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
1

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), ed.3,

cet.2, h.17
2

R. Angkowo dan A. Kosasih, Optimalisasi Media Pembelajaran, (Jakarta: PT.Grasindo,
2007), h.48.

7

8

dalam interaksi dengan lingkungan.”3 Pendapat tersebut sejalan dengan Winkel
yang menyatakan: “Belajar yang terjadi pada manusia merupakan suatu proses
psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya dan
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengamatan dan
keterampilan serta nilai sikap dan perubahan konstan/membekas.”

4

Burton

menyatakan sebagaimana dikutip oleh Usman, “Learning is a change in the
individual due to instruction of that individual and his environment, wich fells a
need and makes him more capable of dealing adequately with his environment”.5
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, agaknya beberapa ahli
pendidikan modern sepakat bahwa belajar berhubungan dengan perubahan
tingkah laku, yang terjadi sebagai hasil pengalaman akibat interaksi dengan
lingkungan. Perubahan sebagai akibat dari belajar tersebut bersifat aktif, terarah
dan mencakup seluruh aspek tingkah laku baik fisik maupun psikis, seperti
perubahan

pada

kecakapan,

keterampilan,

kebiasaan,

sikap,

pengertian,

pemecahan masalah atau berfikir. Jadi, belajar adalah proses usaha manusia untuk
melakukan perubahan secara pengetahuan, keterampilan dan sikap, yang berguna
bagi manusia untuk menjalani hidupnya, sebagai akibat interaksi dengan
lingkungan. Pengetahuan dan keterampilan ini diperlukan manusia baik karena
kebutuhan atau tuntutan hidup maupun keinginan manusia untuk menjadi lebih
baik.
Pengalaman menjadi sesuatu yang amat penting dalam proses belajar.
Sebuah pengalaman yang terjadi akan merespon manusia untuk berpikir mengenai
peristiwa yang dialaminya dan melakukan upaya untuk merespon peristiwa
tersebut. Maka proses itulah yang dikatakan sebagai proses belajar. Dalam belajar
diartikan dengan proses perubahan yang terjadi dalam kepribadian siswa yang

3

Abu Ahmadi dan Widodo S, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h.128.
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: PT. Grasindo, 1996), Edisi yang
disempurnakan, Cet. IV, h.53.
5
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008), h.5
4

9

membentuk pola baru sebagai reaksi dari pengajaran yang dilakukan guru yang
berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian.6
Sedangkan pembelajaran menurut Sadiman, adalah usaha-usaha yang
terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar
dalam diri siswa.

7

Selain itu, menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia

pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk
hidup belajar. 8 Menurut konsep sosiologi, pembelajaran adalah rekayasa sosiopsikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang
belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat
hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.9
Belajar dan pembelajaran menjadi kegiatan utama di sekolah. Dalam arti
sempit, belajar dan pembelajaran adalah aktivitas dimana guru dan siswa dapat
saling berinteraksi. Pada proses pembelajaran terjadi komunikasi dua arah antara
guru dan siswa. Pembelajaran sering disejajarkan dengan kegiatan mengajar.
Dalam mengajar guru melibatkan siswa untuk aktif, misalkan dengan memberi
pertanyaan ketika mengajar atau dengan berdiskusi. Sehingga suasana
pembelajaran yang kondusif dapat tercipta. Pengertian mengajar menurut
Nasution :
Mengajar itu suatu usaha dari pihak guru, yaitu mengatur lingkungannya
sehingga terbentuk suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar.
Belajar anak itu berkat kegiatannya sendiri. Guru hanya dapat
membimbing dan memanfaatkan segala faktor lingkungan termasuk
dirinya, buku-buku, alat peraga dan sebagainya.10
Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri
individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja
direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku. Belajar merupakan proses yang
6

Darwyan Syah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Diadit Media, 2009), h.65
M. Sobry Sutikno, Menggagas Pembelajaran Efektif dan Bermakna, (Mataram: NTP
Press, 2007), h.49
8
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), ed.3,
7

cet.2, h.17
9

Erman Suherman, dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung:
UPI, 2003), Edisi Revisi, h.8
10
S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1992), Edisi pertama, Cet. kelima, h.99.

10

menjadikan siswa lebih tahu, lebih terampil, lebih cakap, dan juga menjadi lebih
dewasa, sedangkan pembelajaran merupakan perencanaan agar kegiatan belajar
dapat terjadi secara optimal.
Di antara hal terpenting dalam proses pembelajaran adalah cara
penyampaian informasi suatu bahan pelajaran, karena pembelajaran itu
merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian informasi melalui
saluran tertentu kepada si penerima.
Informasi berupa bahan pelajaran dijabarkan oleh guru menjadi simbolsimbol komunikasi, baik simbol non verbal atau visual maupun simbol verbal
(kata lisan atau tertulis). Selanjutnya siswa menafsirkan simbol-simbol
komunikasi tersebut sehingga diperoleh pengertian. Di dalam proses pembelajaran
tersebut komunikasi diperlukan untuk membangkitkan dan memelihara perhatian
siswa, memberitahu dan mengharapkan hasil belajar yang dicapai siswa,
merangsang siswa untuk mengingat kembali hal-hal yang berhubungan dengan
topik tertentu serta menyajikan stimulus untuk mempelajari suatu konsep.
Pada proses komunikasi adakalanya siswa tidak dapat memahami simbolsimbol komunikasi yang disampaikan oleh gurunya. Hal ini disebabkan adanya
beberapa faktor penghambat antar lain : psikologis dan lingkungan belajar. Untuk
itulah guru sebagai pengajar harus memperhatikan psikologis anak. Guru harus
dapat mengetahui tahapan berfikir siswa sehingga dapat menciptakan proses
komunikasi yang baik dan efektif dan dapat dimengerti oleh siswa. Lingkungan
belajar yang terlalu riuh dapat menghambat proses komunikasi dan guru akan
mengalami kesulitan dalam mentransfer materi. Karenanya guru harus dapat
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar proses komunikasi berjalan
dengan baik sehingga dapat tercipta pembelajaran yang efektif.

B. Pengertian Matematika
Kata “matematika” berasal dari kata μά μα (máthēma) dalam bahasa
Yunani yang diartikan sebagai “sains, ilmu pengetahuan, atau belajar” . Juga
μα ματ ός (mathēmatikós) yang diartikan sebagai “suka belajar”. Matematika

11

(dari bahasa Yunani: μα ματ ά - mathēmatiká) juga diartikan studi besaran,
struktur, ruang, dan perubahan.11
Istilah mathematics (Inggris), Mathematik (Jerman), Mathematique
(perancis),

Mathematico

(Italia),

Matematiceski

(Rusia),

atau

matematick/Wiskunde (Belanda) berasal dari perkataan latin mathematica yang
mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti relating to
learning. Perkataan ini mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan
atau ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan erat dengan
sebuah kata lainnya yang serupa yaitu yang berasal dari kata Yunani yaitu
”Mathein” atau ”Mathenein” yang artinya belajar (berpikir). Jadi berdasarkan
etimologis perkataan matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh
dengan bernalar”12
Menurut Nasution, mungkin juga kata matematika berasal dari bahasa
sanksakerta yaitu ”Medha” atau ”Widya” yang artinya kepandaian, ketahuan, atau
intelegensia. 13 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia matematika diartikan
sebagai ” ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur
operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”.14
Definisi di atas memberikan gambaran bahwa matematika berhubungan
erat dengan belajar, terutama berkaitan dengan bilangan serta operasi-operasi
yang membantu penyelesaian bilangan-bilangan tersebut. Namun matematika
ternyata tidak terbatas pada bilangan saja, karena dengan matematika seorang
siswa akan melatih diri dalam upaya membentuk pola pikir yang bersifat
sistematis, rasional, mampu menyelesaikan masalah, serta membiasakan siswa
bersikap teliti dan tekun.
Menurut Johnson dan Myklebust (1967: 244), matematika adalah bahasa
simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan

11

http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika
Erman Suherman dan Udin S. W., Strategi Belajar Mengajar Matematika, (Jakarta:
Universitas Terbuka, 1999), h.119.
13
M. Ali Hamzah dan Muhlisrarini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran
Matematika (PSPM), (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2009), h.40
14
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), ed.3,
cet.2, h.723
12

12

kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan
berpikir. Lerner (1988: 430) mengemukakan bahwa matematika di samping
sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan
manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen
dan kuantitas. Kline (1981: 172) juga mengemukakan bahwa matematika
merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar
deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.15
Sejalan dengan Johnson dan Lerner, Herman Weyl mengatakan seperti
dikutip oleh Kadir, bahwa matematika adalah permainan dengan symbol-simbol
yang dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan. Simbol-simbol
ini sangat diperlukan dalam matematika karena dengan symbol ini kaitan antara
konsep dengan konsep lain dapat lebih mudah dijelaskan. Belajar matematika
dengan sendirinya membutuhkan kemampuan memanipulir simbol-simbol yang
ada untuk pemecahan soal matematika.16
Matematika adalah suatu ilmu yang memiliki objek dasar abstrak yang
berupa fakta, konsep, operasi, dan prinsip. Yang dimaksud dengan fakta adalah
ketentuan-ketentuan dalam matematika yang telah disepakati bersama seperti
lambang bilangan, sudut, dan notasi matematika lainnya. Sedangkan konsep
adalah ide abstrak yang memungkinkan seseorang dapat mengelompokkan objek
ke dalam contoh dan bukan contoh. Misalnya konsep persegi, dengan memahami
konsep persegi seseorang mampu mengklasifikasikan himpunan persegi dan
bukan persegi. Operasi dalam matematika adalah suatu fungsi yaitu relasi khusus,
karena operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau
lebih elemen yang diketahui. Prinsip adalah objek matematika yang kompleks.
Prinsip terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu
relasi ataupun operasi. Prinsip dapat berupa aksioma, teorema, sifat, dan
sebagainya.

15

Mulyono Abdurahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar , (Jakarta:
Depdikbud dan Rimeka Cipta, 1999), h.252.
16
Kadir, Pengaruh Pendekatan Problem Posing terhadap Prestasi Belajar Matematika
Jenjang Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi dan Evaluasi ditinjau dari Metakognisi Siswa SMU
di DKI Jakarta, dari http://www.depdiknas.go.id/jurnal/53/j53 02.pdf

13

Dari

definisi-definisi

matematika

yang

dijabarkan

diatas

dapat

disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mengkaji tentang besaran,
struktur, ruang, dan perubahan. Matematika mendasarkan diri pada ide-ide dan
konsep-konsep yang abstrak , direpresentasikan melalui bahasa simbol-simbol
yang disepakati bersama. Matematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis,
dan sistematis serta mempunyai prosedur operasional dalam memecahkan
masalah.
Penggunaan matematika pada awalnya adalah di dalam perdagangan,
pengukuran tanah, pelukisan, dan pola-pola penenunan dan pencatatan waktu dan
tidak pernah berkembang luas hingga tahun 3000 SM. Matematika mulai muncul
ke permukaan ketika orang Babilonia dan Mesir Kuno mulai menggunakan
aritmetika, aljabar, dan geometri untuk penghitungan pajak dan urusan keuangan
lainnya, bangunan dan konstruksi, dan astronomi. Pengkajian matematika yang
sistematis di dalam kebenarannya sendiri dimulai pada zaman Yunani Kuno
antara tahun 600 dan 300 SM. 17 Matematika sejak saat itu segera berkembang
luas, dan terdapat interaksi bermanfaat antara matematika dan

sains,

menguntungkan kedua belah pihak. Penemuan-penemuan matematika dibuat
sepanjang sejarah dan berlanjut hingga kini.
Matematika

sebagai

ilmu

berbeda

dengan

matematika

sekolah.

Matematika sekolah merupakan bagian dari matematika yang diberikan untuk
dipelajari oleh siswa sekolah formal. Bahan ajar matematika sekolah terdiri atas
bagian-bagian

matematika

yang

dipilih

guna

menumbuhkembangkan

kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta berpandu kepada
perkembangan IPTEK. 18 Matematika sekolah dipilih berdasarkan kepentingan
kependidikan dan dasar perkembangan IPTEK. Butir-butir yang akan disampaikan
disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Dengan memperhatikan
perkembangan siswa, maka dilakukan penyederhanaan dari konsep matematika
yang kompleks yang kemudian secara bertahap semakin diperluas. Agar siswa

17
18

h.1.11

http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika
Soemoenar, dkk., Penerapan Matematika Sekolah, (Jakarta: Universitas Terbuka),

14

lebih mudah memahami matematika, maka guru sebisa mungkin mengurangi sifat
abstrak matematika.
Cockroft mengemukakan sebagaimana dikutip oleh Mulyono, bahwa
matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam segi
kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang
sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat
digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) meningkatkan
kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6)
memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.19
Peranan matematika sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa agar
sanggup menghadapi perubahan-perubahan keadaan dalam kehidupannya, dengan
menggunakan pola pikir matematika. Pendidikan matematika di sekolah lebih
menekankan pada penataan nalar, pembentukan sikap, serta keterampilan dalam
penerapan matematika.20 Oleh sebab itu, NCSM (National Council of Supervisor
of Mathematics) membuat keputusan bahwa dalam pembelajaran matematika
hendaknya mengandung hal-hal antara lain: pemecahan masalah, penerapan
matematika dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan hitung yang memadai,
pengukuran, geometri, membuat diagram dan grafik, dan penggunaan matematika
dalam taksiran/perkiraan.21
Jadi matematika adalah suatu ilmu yang memiliki objek dasar abstrak yang
berupa fakta, konsep, operasi, prinsip, dan menggunakan simbol-simbol yang
dimaksudkan agar objek matematika dapat ditulis dengan singkat, tepat, dan
mudah dimengerti. Sedangkan matematika sekolah adalah bagian dari matematika
yang dipilih, diproyeksikan atau ditujukan untuk menumbuh dan mengembangkan
kepribadian dan penalaran siswa di dalam kehidupan sehari-hari.

19

Mulyono Abdurahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta:
Depdikbud dan Rimeka Cipta, 1999), h.253.
20
HJ Sriyanto, Strategi Sukses Menguasai Matematika, (Yogyakarta: Indonesia Cerdas,
2007), h.15
21
Erna Suwangsih dan Tiurlina, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung: UPI Press,
2006), h.54

15

C. Kesulitan Belajar Matematika
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris
learning disability. Terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan
belajar (learning artinya belajar, disability berarti ketidakmampuan), akan tetapi
istilah kesulitan belajar digunakan karena dirasakan lebih optimistik.22
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa di antara hal terpenting
dalam proses pembelajaran adalah cara penyampaian informasi suatu bahan
pelajaran, karena pembelajaran itu merupakan proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian informasi melalui saluran tertentu kepada si penerima. Pada proses
komunikasi adakalanya siswa tidak dapat memahami simbol-simbol komunikasi
yang disampaikan oleh gurunya. Hal inilah yang antara lain menjadi penyebab
siswa mengalami kesulitan memahami bahan ajar.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah, baik Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah,

maupun

Perguruan

Tinggi

sering

kali

dijumpai

beberapa

siswa/mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dengan demikian
masalah kesulitan dalam belajar itu sudah merupakan problema umum yang khas
dalam proses pembelajaran. Terutama dalam pembelajaran matematika.
Aktifitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung
secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak. Kadang-kadang dapat
dengan cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit.
Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit
mengadakan konsentrasi. Menurut Abu Ahmadi dan Widodo S., “Dalam keadaan
dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang
disebut kesulitan belajar.”23
Warkitri mengemukakan kesulitan belajar adalah suatu gejala yang
nampak pada siswa dengan ditandai adanya hasil belajar rendah serta di bawah
norma yang telah ditetapkan. Jadi, kesulitan belajar itu merupakan suatu kondisi

22

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta:
Depdikbud dan PT. Rineka Cipta, 1999), h.6.
23
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2004), h.77

16

dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan - hambatan tertentu
dalam mencapai hasil belajar.24
Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor inteligensi yang
rendah (kelainan mental), akan tetapi juga disebabkan oleh faktor- faktor
noninteligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin
keberhasilan belajar. Seperti diungkapkan oleh Muhibbin Syah bahwa “Kesulitan
belajar tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga
dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu, kesulitan belajar juga
dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata atau normal, hal tersebut
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja
akademik yang sesuai harapan”. 25 Jadi belum tentu anak yang mengalami
kesulitan belajar menandakan bahwa anak tersebut mempunyai IQ rendah.
Terkadang kesulitan belajar hanya disebabkan oleh tidak cukupnya pengetahuan
siswa tentang cara-cara belajar.
Sabri mengemukakan bahwa kesulitan belajar adalah kesukaran siswa
dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolah, kesulitan belajar yang
dihadapi oleh siswa ini terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan
atau ditugaskan oleh seorang Guru. 26 Kesulitan belajar ini tidak terlepas dari
beragamnya individu dan cara belajar siswa yang berbeda, dimana individu yang
satu akan mempunyai kesulitan tertentu dibandingkan dengan individu yang lain.
Disetiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki anak
didik yang berkesulitan belajar. Setiap kali kesulitan belajar anak didik yang satu
dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kesulitan belajar anak didik
yang lain. Hal tersebut dikarenakan adanya keberagaman individu tiap peserta
didik

dan kondisi lingkungan yang berbeda pula, sehingga timbullah

permasalahan yang berbeda.

24

Warkitri, dkk., Penilaian Pencapaian Hasil Belajar, (Jakarta : Universitas Terbuka,
1998), h.8.3
25
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 1999), Edisi Revisi, h.172.
26
M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya,1995), h. 88.

17

Mukhtar dan Rusmini mengungkapkan bahwa secara garis besar faktorfaktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal tersebut antara lain kelemahan fisik, mental, dan
emosional; kebiasaan dan sikap-sikap yang salah (seperti malas belajar), atau
tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan. Sedangkan
Faktor eksternal antara lain: kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang tidak
tepat, beban belajar yang terlalu berat, terlalu banyak kegiatan di luar jam sekolah,
terlalu sering pindah sekolah, dan sebagainya.27
Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi siswa dalam menyerap bahan
ajar yang disajikan. Masing-masing faktor memiliki intensitas pengaruh yang
berbeda pada tiap siswa tergantung dari masalah yang dialami masing-masing
siswa. Misalkan pada siswa tertentu mungkin metode pembelajaranlah yang
menjadi faktor utama penyebab kesulitannya dalam belajar, akan tetapi pada siswa
lain yang brokenhome misalnya, faktor emosional lah yang paling mempengaruhi
kesulitan dalam belajar.
Dalam pembelajaran matematika, Rachmadi mengutip Brueckner dan
Bond, mengelompokkan penyebab kesulitan belajar menjadi 5 faktor, yakni faktor
fisiologis, faktor sosial, faktor emosional, faktor intelektual, dan faktor pedagogis.
Faktor intelektual yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa umumnya
adalah:28
1. Siswa kurang berhasil dalam menguasai konsep, prinsip, dan algoritma
2. Kesulitan

mengabstraksi,

menggeneralisasi,

berpikir

deduktif,

dan

mengingat konsep-konsep maupun prinsip-prinsip
3. Kesulitan dalam memecahkan masalah terapan atau soal cerita
4. Kesulitan pada pokok bahasan tertentu saja.

27

Mukhtar dan Rusmini, Pengajaran Remedial: Teori dan Penerapannya dalam
Pembelajaran, (Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera, 2003), h.42-45
28
Rachmadi Widdiharto, Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP dan Alternatif
Proses Remidinya, Paket Fasilitasi Pemberdayaan KKG/MGMP Matematika, {Yogyakarta:
Depdiknas), h. 6-9

18

Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Sholeh yang menyatakan
bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar antara

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23