EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA SISWA

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA SISWA

(Skripsi)

Oleh
CAHYA SEPTIANA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2012

1

2

ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA SISWA

Oleh
CAHYA SEPTIANA

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik model pembelajaran
problem solving yang efektif dalam meningkatkan keterampilan memprediksi
siswa pada materi asam-basa. Model pembelajaran problem solving terdiri dari
lima tahap yaitu tahap satu yaitu mengorientasikan siswa pada masalah, tahap dua
mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah,
tahap tiga menetapkan jawaban sementara dari masalah, tahap empat menguji
kebenaran jawaban sementara, dan tahap lima menarik kesimpulan.

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMA N 1 Terbanggi Besar kelas XI
IPA1 dan XI IPA2 semester Genap Tahun Ajaran 2011-2012 yang memiliki
karakteristik hampir sama. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen
dengan Non Equivalent (Pretest and Posttest) Control Group Design. Efektivitas
model pembelajaran problem solving diukur berdasarkan peningkatan gain yang
signifikan. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata n-Gain keterampilan
memprediksi untuk kelas kontrol dan eksperimen masing-masing 0,65 dan 0,42.

1

Berdasarkan uji hipotesis, diperoleh bahwa pembelajaran problem solving pada
materi asam-basa tidak efektif dalam meningkatkan keterampilan memprediksi
pada siswa SMA N 1 Terbanggi Besar.

Kata kunci: pembelajaran problem solving, keterampilan memprediksi.

iii

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA SISWA

Oleh
CAHYA SEPTIANA

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Penidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2012

iv

v

Judul Skripsi

: EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN
PROBLEM SOLVING PADA MATERI
ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA
SISWA

Mahasiswa

: Cahya Septiana

Nomor Pokok Mahasiswa

: 0853023005

Program Studi

: Pendidikan Kimia

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Dr. Noor Fadiawati, M.Si.

Dra. Ila Rosilawati, M. Si.

NIP. 196608241991112001

NIP 19650717 199003 2 001

2.

Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita, M. Si.
NIP 19671004 1993031 004

iii

MENGESAHKAN

1.

Tim Penguji

Ketua

: Dr. Noor Fadiawati, M. Si

______________

Sekretaris

: Dra. Ila Rosilawati, M. Si.

______________

Penguji
Bukan Pembimbing

2.

: Emmawati Sofya, S.Si, M.Si ______________

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Bujang Rahman, M.Si.
NIP 19600315 198503 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi :

2012

iv

PERNYATAAN

Dengan ini Saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan Saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila ternyata kelak dikemudian hari terbukti ada ketidakbenaran dalam
pernyataan Saya diatas, maka Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya.

Bandar Lampung,

Mei 2012

Cahya Septiana
NPM 0853023005

iii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Nambah Dadi pada tanggal 29 September 1990 sebagai
anak ketiga dari pasangan Bapak Sardi Purwo Sarjono dan Ibu Tri Purwanti.

Penulis mengawali pendidikan pada tahun 1995 di TK PKK Nambah Dadi,
Lampung Tengah diselesaikan pada tahun 1996. Penulis melanjutkan sekolah di
Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD N 1 Nambah Dadi pada tahun 2002,
Sekolah Lanjutan Menengah Pertama (SMP) di SMP N 1 Terbanggi Besar pada
tahun 2005, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA N 1 Terbanggi Besar
pada tahun 2008.

Tahun 2008, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Kimia FKIP
Unila. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah aktif menjadi anggota Divisi
Penelitian dan Pengembangan (Litbang) HIMASAKTA tahun 2009-2010. Pada
Juli 2011 penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Margo Mulyo
Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Program Pengalaman
Lapangan (PPL) di SMA N 2 Tumijajar.

iv

P ER SEM BA H A N

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji hanya milik Allah S.W.T.,
Shalawat beserta salam semoga tercurah pada suri tauladan kita
Rasulullah Muhammad S.A.W., dengan penuh rasa syukur ku
persembahkan tulisan ini kepada :
۩ Ibu dan Bapakku
Sepenuh hati dan tanpa letih membesarkan dan mendidikku,
terima kasih atas doa yang tiada pernah putus untukku.
Mengajariku arti sebuah kehidupan, memberikanku semangat,
cinta, kasih sayang, dan materi untuk keberhasilanku di masa
datang. Jerih payah dan kerja keras Ibu dan Bapak yang tidak
akan terlupakan dan tidak mungkin dapat terbalaskan. Semoga
Allah SWT membalas semua jasa dan pengorbanan Ibu dan
Bapak. Maaf bila sering mengecewakan,
aku sangat mencintai kalian.
۩ KeluargaTercinta
Mb Ani Yulianti, Mb Berlina Sutari, dan adikku M. Dawam
Priyo N. yang memberi dukungan dan doa tiada henti untukku.
۩ Saudaraku, sahabatku, dan Almamater tercintaku
Universitas Lampung.

iii

MOTTO

“Bismillahirrahmaanirrahiim”
”Y a Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah.
Sedangkan yang susah bisa Engkau jadikan mudah, Apabila Engkau
M enghendakinya”
( H R I bnu H ibban dan I bnu Suni)

“ Tidak semua kesalahan adalah suatu kebodohan”.

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhny a y ang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang y ang khusy u”
(Al-Baqarah : 4 5)

iii

SANWACANA

Puji syukur ke hadirat Allah S.W.T, karena atas rahmat dan karunia-Nya lah dapat
diselesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem
Solving pada Materi Asam-Basa Dalam Meningkatkan Keterampilan Memprediksi pada Siswa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan di Universitas Lampung. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah
pada Rasullulah Muhammad SAW.

Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih kepada:
1.

Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Unila.

2.

Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

3.

Ibu Dra. Nina Kadaritna, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Kimia dan Pembimbing Akademik atas kesediaannya untuk memberikan
bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian kuliah dan
penyusunan skripsi ini.

4.

Ibu Dr. Noor Fadiawati, M.Si., selaku Pembimbing I atas kesediaan,
keikhlasan, dan kesabarannya memberikan bimbingan, saran, dan kritik
dalam proses penyusunan skripsi ini.

5.

Ibu Dra. Ila Rosilawati, M.Si., selaku Pembimbing II atas kesediaannya untuk
memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam penyusunan skripsi ini.

iii

6.

Ibu Emmawati Sofya, S.Si, M.Si., selaku Penguji yang telah memberikan
saran dan kritikan dalam penyusunan skripsi ini agar menjadi lebih baik lagi.

7.

Seluruh staff dan dosen di Jurusan PMIPA khususnya di Program Studi

Pendidikan Kimia Unila.
8.

Bapak Drs. Hi. Dasiyo P., M.Pd., selaku kepala Sekolah SMA N 1 Terbanggi
Besar, Ibu Krisniwati, S.Pd.Kim., selaku guru mitra atas kerja sama dan
bimbingannya.

9.

Bapak dan Ibuku yang selalu memperjuangkan segalanya baik material
maupun spiritual untuk keberhasilan anaknya.

10. Mbak Ani, Mbak Berlina, Adikku Dawam, Mas Eko , Shinta, dan Adzkia
yang selalu memberiku semangat, keceriaan, semoga kita selalu kompak.
11. “7 Wonders”, Yusnia “Kyuhyun” teman yang menunjukkan aku kebahagiaan
baru, Fenti “Cinta” partnerku senasib dan seperjuang, Nun “mbul”, Yuri
Eonnie, Olein_Endzu, dan Ndesta. Terimakasih atas persahabatan yang begitu
indah. Serta seluruh teman-teman kimia R. Mandiri ’08 dan R ‘08.
12. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khusus-nya dan pembaca pada umumnya.

Bandar Lampung,
Penulis,

Mei 2012

Cahya Septiana

iv

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL............................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................
I.

II.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................

1

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

5

C. Tujuan Penelitian ...........................................................................

5

D. Manfaat Penelitian ........................................................................

6

E. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................

6

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Konstruktivisme .....................................................

8

Model Pembelajaran Problem Solving...........................................

9

C. Keterampilan Proses Sains .............................................................

12

D. Kerangka Pemikiran ......................................................................

14

E. Anggapan Dasar .............................................................................

16

F. Hipotesis ........................................................................................

17

B.

III.

x

METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian .....................................................

18

B. Jenis dan Sumber Data ..................................................................

18

C. Metode Penelitian dan Desain Penelitian........................................

19

vi

IV.

V.

D. Variabel Penelitian ........................................................................

20

E. Instrumen Penelitian dan Validitasnya............................................

21

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ....................................................

22

G. Analisis Data Penelitian ................................................................

23

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian dan Analisis Data .................................................

29

B. Pembahasan ..................................................................................

33

SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................

42

B. Saran ............................................................................................

42

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1.

Silabus dan Sistem Penilaian Kelas Eksperimen ....................................

45

2.

Silabus dan Sistem Penilaian Kelas Kontrol ..........................................

70

3.

RPP Kelas Eksperimen ..........................................................................

74

4.

RPP Kelas Kontrol ................................................................................ 100

5.

Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen ................................................. 111

6.

Lembar Kerja Siswa Kelas Kontrol ....................................................... 125

7.

Kisi-kisi Soal Pretest ............................................................................. 127

8.

Kisi-kisi Soal Posttest ............................................................................ 133

9.

Soal Pretest ............................................................................................ 139

10. Soal Posttest .......................................................................................... 142
11. Rubrik Penskoran Pretest ....................................................................... 145
12. Rubrik Penskoran Posttest ...................................................................... 151

vii

13. Tabel data Skor Pretest, Skor Posttest dan n-Gain ................................. 157
14. Lembar Penilaian Afektif Siswa ............................................................ 159
15. Lembar Penilaian Psikomotor Siswa.......................................................

169

16. Perhitungan dan Analisis Data Penelitian ............................................... 172
17. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ............................................ 183

viii

DAFTAR TABEL

Tabel
1.

Halaman

Indikator Keterampilan Proses Sains Dasar ............................................

2. Desain penelitian .....................................................................................

14
17

3. Rata – Rata skor pretest, skor posttest dan n-Gain keterampilan memprediksi
di kelas kontrol dan kelas eksperimen ..................................................... 30
4. Uji normalitas keterampilan memprediksi . .............................................

32

5. Uji homogenitas keterampilan memprediksi . ..........................................

32

6. Uji hipotesis statistik keterampilan memprediksi . ...................................

33

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
1. Alur penelitian ........................................................................................ 20
2. Diagram rerata perolehan skor pretest dan posttest keterampilan memprediksi
di kelas kontrol dan kelas eksperimen. ...................................................... 30
3. Rerata n-Gain pada penilaian keterampilan memprediksi di kelas kontrol dan
kelas eksperimen ..................................................................................... 31

x

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kurikulum 2006, pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diharapkan
dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam
sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan
memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri
dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Sudibyo, 2006).

Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang berkembang berdasarkan pada fenomena alam. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia
yaitu kimia sebagai produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori;
kimia sebagai proses atau kerja ilmiah; dan kimia sebagai sikap. Oleh sebab itu
pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik kimia sebagai proses,
produk, dan sikap.

Faktanya, pembelajaran kimia di sekolah cenderung hanya menghadirkan konsepkonsep, hukum-hukum, dan teori-teori saja; tanpa menyuguhkan bagaimana
proses ditemukannya konsep, hukum, dan teori tersebut; sehingga tidak tumbuh

1

sikap ilmiah dalam diri siswa. Sebagian besar materi kimia dapat dikaitkan
dengan kondisi atau masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada
topik asam-basa; misalnya rasa asam pada buah-buahan, pemanfaatan senyawa
basa dalam mengobati sakit maag, pemanfaatan kapur untuk menetralkan tanah
pertanian yang asam, dan lain sebagainya. Namun yang terjadi selama ini adalah
topik asam-basa dalam pembelajaran kimia di SMA lebih dikondisikan untuk
dihafal oleh siswa, akibatnya siswa mengalami kesulitan menghubungkannya
dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar, dan tidak merasakan manfaat dari
pembelajaran asam-basa sehingga keterampilan proses sains siswa rendah
(Setiawan, 2011).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan di SMAN 1 Terbanggi Besar,
dapat dilihat bahwa pembelajaran kimia seolah-olah hanya sebatas terjadi di
dalam sekolah tanpa adanya keterkaitan dengan lingkungan di sekitar mereka.
Pembelajaran kimia yang seolah tak berguna untuk kehidupan mereka ini jelaslah
membuat siswa tidak tertarik pada pelajaran kimia. Kenyataan di lapangan, siswa
hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika
menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang
dimiliki. Lebih jauh lagi bahkan siswa kurang mampu menentukan masalah dan
merumuskannya. Pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru
(teacher centered learning). Pada pembelajaran ini siswa cenderung hanya
bertindak sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh guru, tanpa berusaha sendiri
untuk memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai tujuan
belajarnya. Mereka tidak dapat menjadi seorang pembelajar mandiri yang dapat
membangun konsep dan pemahamannya sendiri. Guru hendaknya memposisikan

2

siswa sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan
untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran
perlu adanya suasana yang terbuka, akrab dan saling menghargai. Sebaliknya
perlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan dan sarat
dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak
bergairah, cepat bosan dan mengalami kebosanan (Budimansyah, 2002).

Dalam melakukan proses pembelajaran guru dapat memilih beberapa model
mengajar. Model mengajar banyak sekali jenisnya. Masing-masing Model
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan suatu model perlu memperhatikan beberapa hal seperti materi yang disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu
yang tersedia, jumlah siswa, mata pelajaran, fasilitas dan kondisi siswa dalam
pembelajaran serta hal-hal yang berkaitan dengan keberhasilan siswa dalam
proses pembelajaran (Suryabrata, 1993). Salah satu model pembelajaran yang
dapat digunakan adalah model pembelajaran problem solving. Model pembelajaran problem solving adalah suatu penyajian materi pelajaran dengan menghadapkan siswa kepada persoalan yang harus dipecahkan atau diselesaikan untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ini, siswa diharuskan
melakukan penyelidikan otentik untuk mencari penyelesaian terhadap masalah
yang diberikan. Mereka menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, membuat
referensi dan merumuskan kesimpulan.

Model pembelajaran problem solving terdiri dari lima tahap yaitu tahap satu yaitu
mengorientasikan siswa pada masalah, tahap dua yaitu mencari data atau

3

keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, tahap tiga yaitu
menetapkan jawaban sementara dari masalah, tahap empat yaitu menguji
kebenaran jawaban sementara, dan tahap lima yaitu menarik kesimpulan
(Depdiknas, 2008). Pada tahap empat model pembelajaran problem solving ini
siswa diminta untuk menguji kebenaran jawaban sementara dari masalah. Siswa
diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi
sebanyak-banyaknya sehingga siswa lebih aktif dalam proses belajar. Kemudian
siswa diminta memprediksikan gejala yang akan terjadi berdasarkan gejala yang
ada atau gejala yang telah diamati sebelumnya, sehingga diharapkan siswa dapat
meningkatkan keterampilan proses sains siswa yaitu keterampilan memprediksi.
Salah satu keterampilan proses sains adalah keterampilan meramalkan (memprediksi). Memprediksi merupakan keterampilan meramal yang akan terjadi, berdasarkan gejala yang ada. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan kita
untuk mengenal pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) memprediksi dapat
diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang
akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau
kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam
pengetahuan.
Terampil memprediksi sekilas bukanlah keterampilan yang begitu penting untuk
dikuasai siswa, namun sebaliknya keterampilan inilah yang harus menjadi dasar
dalam pengamatan-pengamatan langsung yang mereka lakukan terhadap suatu
permasalahan serta prospek kerja yang mungkin akan dijalani mereka di esok hari
yang sangat memerlukan keterampilan ini. Hal ini menunjukkan bahwa secara

4

tidak langsung model pembelajaran problem solving ini mampu meningkatkan
keterampilan memprediksi siswa.
Hasil penelitian Purwani (2009), yang dilakukan pada siswa SMA kelas X di
SMAN 1 Jombang, menunjukkan bahwa pembelajaran dengan melalui strategi
problem solving memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan
kemampuan berpikir siswa serta hasil penelitian Hotang (2010) yang dilakukan
pada siswa di salah satu SMP di Bandung, menunjukkan bahwa pembelajaran
berdasarkan fenomena pada materi panas dapat meningkatkan keterampilan
problem solving pada siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian guna
melihat efektivitas model pembelajaran ini dalam upaya meningkatkan kemampuan memprediksi siswa khususnya pada materi asam-basa. Berdasarkan uraian di
atas, maka dilakukanlah penelitian dengan judul “Efektivitas Model
Pembelajaran Problem Solving pada Materi Asam-Basa Dalam Meningkatkan Keterampilan Memprediksi pada Siswa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut: Bagaimana efektivitas model pembelajaran problem solving dalam
meningkatkan keterampilan memprediksi pada materi asam-basa pada siswa
SMA N 1 Terbanggi Besar?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan karakteristik model pembelajaran problem solving yang efektif

5

dalam meningkatkan keterampilan memprediksi pada materi asam-basa pada
siswa SMA N 1 Terbanggi Besar.
D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa:
Dengan diterapkannya model pembelajaran problem solving mempermudah
siswa untuk memahami dan menghasilkan pengetahuan yang bermakna
khususnya pada materi asam-basa.
2. Bagi guru dan calon guru:
Guru dan calon guru memperoleh model pembelajaran yang efektif pada
materi asam-basa.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1. Lokasi penelitian di SMA N 1 Terbanggi Besar.
2. Materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah asam-basa Arrhenius.
Meliputi pengertian teori asam-basa Arrhenius; konsep pH, pOH, dan pKw;
Kekuatan asam-basa; serta indikator asam-basa.
3. Menurut Nuraeni dkk (2010), model pembelajaran dikatakan efektif
meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa
menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan
pemahaman setelah pembelajaran (ditunjukkan dengan gain yang signifikan).

6

4. menurut Burrowes (Juliantara, 2009), model pembelajaran konvensional
menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup
kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan,
menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Pembelajaran konvensional ini
merupakan pembelajaran yang selama ini digunakan di SMA N 1 Terbanggi
Besar. Model pembelajaran konvensional yang diterapkan diawali dengan
guru memberi apersepsi, guru menyampaikan indikator dari materi yang
disampaikan, guru mengajarkan konsep secara langsung tanpa membimbing
siswa untuk menemukan konsep (metode ceramah), guru melakukan tanya
jawab dengan siswa, lalu guru memberi latihan. Praktikum dilakukan pada
submateri-submateri tertentu dan praktikum hanya untuk membuktikan
konsep.
5. Model pembelajaran problem solving terdiri dari lima tahap. Tahap satu yaitu
mengorientasikan siswa pada masalah, tahap dua yaitu mencari data atau
keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, tahap tiga
yaitu menetapkan jawaban sementara dari masalah, tahap empat yaitu menguji
kebenaran jawaban sementara, dan tahap lima yaitu menarik kesimpulan
(Depdiknas, 2008).
6. Menurut Hartono(2007), keterampilan memprediksi adalah indikator dalam
keterampilan proses sains tingkat dasar yang berarti menggunakan pola/pola
hasil pengamatan, mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan
yang belum diamati.

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Konstruktivisme

Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan di kelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Teori konstruktivis ini
menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Teori ini berkembang dari kerja
Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif
yang lain, seperti teori Bruner (Nur dalam Trianto, 2010).

Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak
dengan kegiatan asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. Asimilasi ialah pemaduan
data baru dengan stuktur kognitif yang ada. Akomodasi ialah penye-suaian
stuktur kognitif terhadap situasi baru, dan equilibrasi ialah penyesuaian kembali
yang terus dilakukan antara asimilasi dan akomodasi (Bell, 1994).

Prespektif kognitif-konstruktivis, yang menjadi landasan pembelajaran problem
solving, banyak meminjam pendapat Piaget (1954). Prespektif ini mengata-kan,
seperti yang dikatakan Piaget, bahwa pelajar dengan umur berapapun terlibat
secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengonstruksikan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan tidak statis, tetapi berevolusi dan berubah secara

8

konstan selama pelajar mengkonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang
memaksa mereka untuk mendasarkan diri pada dan memodifikasi pengetahuan
sebelumnya. Keyakinan Piaget ini berbeda dengan keyakinan Vygotsky dalam
beberapa hal penting. Bila Piaget memfokuskan pada tahap-tahap perkembangan
intelektual yang dilalui anak terlepas dari konteks sosial atau kulturalnya, Vygotsky menekankan pentingnya aspek sosial belajar. Vygotsky percaya bahwa
interaksi sosial dengan orang lain memacu pengonstruksian ide-ide baru dan
meningkatkan perkembangan intelektual pelajar. Salah satu ide kunci yang
berasal dari minat Vygotsky pada aspek sosial pembelajaran adalah konsepnya
tentang zone of proximal development. Menurut Vygotsky, pelajar memiliki dua
tingkat perkembangan yang berbeda yakni tingkat perkembangan aktual dan
tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual, menentukan
fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri
hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial, yang
oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai
oleh individu dengan bantuan orang lain, misalnya guru, orang tua, atau teman
sebayanya yang lebih maju. Zona yang terletak diantara kedua tingkat perkembangan inilah yang disebutnya sebagai zone of proximal development (Arends,
2007).

B. Model Pembelajaran Problem Solving

Masalah pada hakikatnya merupakan bagian dalam kehidupan manusia. Masalah
yang sederhana dapat dijawab melalui proses berpikir yang sederhana, sedangkan
masalah yang rumit memerlukan tahap-tahap pemecahan yang rumit pula.

9

Masalah pada hakikatnya adalah suatu pertanyaan yang mengandung jawaban.
Suatu pertanyaan mempunyai peluang tertentu untuk dijawab dengan tepat, bila
pertanyaan itu dirumuskan dengan baik dan sistematis. Ini berarti, pemecahan
suatu masalah menuntut kemampuan tertentu pada diri individu yang hendak
memecahkan masalah tersebut (Rofiana, 2005).

Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan
suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat,
sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Proses problem solving memberikan kesempatan siswa berperan aktif dalam mempelajari, mencari,
dan menemukan sendiri informasi untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori,
atau kesimpulan. Dengan kata lain, problem solving menuntut kemampuan
memproses informasi untuk membuat keputusan tertentu (Hidayati, 2006).

Tahap-tahap model problem solving dalam proses pembelajaran dikemukakan
oleh John Dewey dalam Nasution (1999), yakni :
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.

siswa menghadapi masalah, artinya dia menyadari adanya suatu masalah
tertentu
siswa merumuskan masalah, artinya menjabarkan masalah dengan jelas
dan spesifik
siswa merumuskan hipotesis, artinya merumuskan kemungkinankemungkinan jawaban atas masalah tersebut yang masih perlu diuji
kebenarannya
siswa mengumpulkan dan mengolah data/informasi
siswa menguji hipotesis berdasarkan data/informasi yang telah
dikumpulkan dan diolah
menarik kesimpulan berdasarkan pengujian hipotesis dan jika ujinya
salah maka kembali ke tahap 3 dan 4 dan seterusnya
siswa menerapkan hasil problem solving pada situasi baru.

Problem solving bukan perbuatan yang sederhana, akan tetapi lebih kompleks
daripada yang diduga. Problem solving memerlukan keterampilan berpikir yang

10

banyak ragamnya termasuk mengamati, melaporkan, mendeskripsi, menganalisis,
mengklasifikasi, menafsirkan, mengkritik, meramalkan, menarik kesimpulan, dan
membuat generalisasi berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan diolah.
Untuk memecahkan masalah kita harus melokasi informasi, menampilkannya dari
ingatan lalu memprosesnya dengan maksud untuk mencari hubungan, pola, atau
pilihan baru. Ada pula proses problem solving yang dikemukakan oleh Karl
Albrecht yang terdiri dari enam tahap yang dapat digolongkan dalam dua tahap
utama yaitu (1) tahap perluasan atau ekspansi yang pada pokoknya bersifat
divergen dan (2) tahap penyelesaian yang bersifat konvergen.

Tahap-tahap model pembelajaran problem solving (Depdiknas, 2008) yaitu
meliputi :
1.
2.

3.

4.

5.

Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh
dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti,
bertanya dan lain-lain.
Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban
ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada tahap
kedua di atas.
Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam tahap ini siswa
harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa
jawaban tersebut itu betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran
jawaban ini tentu saja diperlukan model-model lainnya seperti
demonstrasi, tugas, diskusi, dan lain-lain.
Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan
terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.

Kelebihan dan kekurangan pembelajran problem solving menurut Djamarah dan
Zain (2002) adalah sebagai berikut.
1. Kelebihan pembelajaran problem solving
a. Membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan.
b. Membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara
terampil.

11

c. Model pembelajaran ini merangsang pengembangan kemampuan berfikir
siswa secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya
siswa banyak menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka
mencari pemecahannya.
2.

Kekurangan pembelajaran problem solving
a. Memerlukan keterampilan dan kemampuan guru. Hal ini sangat penting
karena tanpa keterampilan dan kemampuan guru dalam mengelola kelas
pada saat strategi ini digunakan maka tujuan pengajaran tidak akan
tercapai karena siswa menjadi tidak teratur dan melakukan hal-hal yang
tidak diinginkan dalam pembelajaran
b. Memerlukan banyak waktu. Penggunaan model pembelajaran problem
solving untuk suatu topik permasalahan tidak akan maksimal jika
waktunya sedikit, karena bagaimanapun juga akan banyak langkahlangkah yang harus diterapkan terlebih dahulu dimana masing-masing
langkah membutuhkan kecekatan siswa dalam berpikir untuk
menyelesaikan topik permasalahan yang diberikan dan semua itu
berhubungan dengan kemampuan kognitif dan daya nalar masing-masing
siswa
c. Mengubah kebiasaan siswa belajar dari mendengarkan dan menerima
informasi yang disampaikan guru menjadi belajar dengan banyak berpikir
memecahkan masalah sendiri dan kelompok memerlukan banyak sumber
belajar sehingga menjadi kesulitan tersendiri bagi siswa. Sumber-sumber
belajar ini bisa di dapat dari berbagai media dan buku-buku lain. Jika
sumber-sumber ini tidak ada dan siswa hanya mempunyai satu buku /
bahan saja maka topik permasalahan yang diberikan tidak akan bisa
diselesaikan dengan baik.

C. Keterampilan Proses Sains

1. Pengertian Keterampilan Proses Sains

Prosedur yang dilakukan para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam
usaha mendapatkan pengetahuan tentang alam biasa dikenal dengan istilah metode
ilmiah. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para ilmuwan untuk mendapatkan
atau menemukan suatu ilmu pengetahuan membutuhkan kecakapan dan
keterampilan dasar untuk melakukan kegiatan ilmiah tersebut. Kemampuan dasar
tersebut dikenal dengan istilah keterampilan proses IPA/sains. Untuk

12

mengenalkan alam pada siswa, perlu diajarkan bagaimana pengetahuan alam
tersebut didapat, dengan melatihkan keterampilan proses sains pada siswa.
Keterampilan proses dapat berkembang pada diri siswa bila diberi kesempatan
untuk berlatih menggunakan keterampilan berpikirnya. Dengan keterampilan
proses siswa dapat mempelajari sains sesuai dengan keinginannya.
Menurut Gagne dalam Dahar (1996) keterampilan proses sains adalah kemampuan-kemampuan dasar tertentu yang dibutuhkan untuk menggunakan dan
memahami sains. Setiap keterampilan proses merupakan keterampilan yang khas
yang digunakan oleh semua ilmuwan, serta dapat digunakan untuk memahami
fenomena apapun juga. Keterampilan proses sains mempunyai cakupan yang
sangat luas, sehingga aspek-aspek keterampilan proses sains dapat digunakan
dalam beberapa pendekatan dan model pembelajaran. Demikian halnya dalam
model pembelajaran yang dikembangkan yaitu problem solving, keterampilan
proses sains menjadi bagian yang tidak terpisah dalam kegiatan belajar mengajar
yang dilaksanakan.
2. Indikator Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses merupakan konsep yang luas. Para ahli banyak yang mencoba menjabarkan keterampilan proses menjadi aspek-aspek yang lebih rinci, seperti
yang dikemukakan oleh Funk dalam Nur (1996) keterampilan proses terdiri dari:
Keterampilan proses tingkat dasar yang terdiri dari mengobservasi, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi, menyimpulkan, dan keterampilan proses terpadu yang terdiri dari menentukan variabel, menyusun tabel data,
membuat grafik, menghubungkan antar variabel, memproses data, menganalisis
13

penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel, merencanakan penyelidikan, dan bereksperimen.
Hartono (2007) menyusun indikator keterampilan proses sains dasar seperti pada
Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Indikator Keterampilan Proses Sains Dasar
Keterampilan
Indikator
Dasar
Mengamati
Mampu menggunakan semua indera (penglihatan,
(observing)
pembau, pendengaran, pengecap, peraba) untuk
mengamati, mengidentifikasi, dan menamai sifat benda
dan kejadian secara teliti dari hasil pengamatan.
Inferensi
Mampu membuat suatu kesimpulan tentang suatu benda
(inferring)
atau fenomena setelah mengumpulkan, menginterpretasi
data dan informasi.
Klasifikasi
Mampu menentukan perbedaan, mengontraskan
(classifying)
ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan
menentukan dasar penggolongan terhadap suatu obyek.
Menafsirkan
Mampu mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang
(predicting)
belum terjadi berdasarkan fakta dan yang menunjukkan
suatu, misalkan memprediksi kecenderungan atau pola
yang sudah ada menggunakan grafik untuk
menginterpolasi dan mengekstrapolasi dugaan.
Meramalkan
Menggunakan pola/pola hasil pengamatan,
(prediksi)
mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan
yang belum diamati.
Berkomunikasi
memberikan/menggambarkan data empiris hasil
(Communicating)
percobaan atau pengamatan dengan grafik/ tabel/
diagram, menyusun dan menyampaikan laporan secara
sistematis, menjelaskan hasil percobaan atau penelitian,
membaca grafik/ tabel/ diagram, mendiskusikan hasil
kegiatan suatu masalah atau suatu peristiwa.

D. Kerangka Pemikiran

Model pembelajaran problem solving membiasakan siswa untuk tidak terjebak
pada solusi atas pikiran yang sempit melainkan membiasakan siswa untuk melihat
opsi-opsi yang terbuka luas. Dengan memiliki lebih banyak opsi solusi kemung-

14

kinan untuk berhasil mengatasi masalah juga akan semakin besar. Model
pembelajaran problem solving ini memiliki sintak pembelajaran yang sesuai
dengan komponen perkembangan kognitif Piaget yaitu asimilasi, akomodasi, dan
ekuilibrasi. Pada tahap satu, mereka diorientasikan pada masalah. Pada tahap ini
terjadi proses asimilasi yaitu terjadi perpaduan data baru dengan struktur kognitif
yang ada. Siswa akan mengalami kebingungan dan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi terhadap fakta baru yang mengarah pada berkembangnya daya
nalar tingkat tinggi yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana. Lalu pada tahap dua diminta mencari data atau keterangan yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini terjadi proses akomodasi
Piaget yaitu terjadi penyesuaian stuktur kognitif siswa terhadap situasi baru.
Siswa ingin memahami konsep baru atau permasalahan yang timbul melalui
kegiatan akomodasi ini. Pada tahap tiga siswa diminta menetapkan jawaban
sementara dari masalah. Pada tahap ini, setelah melalui kegiatan asimilasi dan
akomodasi siswa akan mengalami ketidakseimbangan struktur kognitif (coqnitive
disequilibrium) yaitu ada fakta-fakta yang telah dimiliki siswa sebelumnya
(pengetahuan lama siswa) yang tidak sesuai dengan pengetahuan baru siswa.
Pada tahap empat siswa diminta menguji kebenaran jawaban sementara. Pada
tahap ini siswa akan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mengapa dan
bagaimana dengan cara membuktikannya melalui praktikum dan menjawab
pertanyaan yang ada pada LKS. Sehingga terjadi proses menuju kesetimbangan
antara konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru
dipelajari, begitu seterusnya sehingga terjadi kesetimbangan antara struktur
kognitif dengan pengetahuan yang baru (ekuilibrasi). Pada tahap lima siswa

15

diminta untuk menarik kesimpulan dari pemecahan masalah. Pada tahap ini
terlihat apakah siswa sudah mencapai proses ekuilibrasi atau belum.

Pada tahap empat model pembelajaran problem solving ini, siswa diminta untuk
menguji kebenaran hipotesis atau jawaban sementara dari masalah yang telah
dirumuskan. Pada tahap ini siswa melakukan percobaan yang bertujuan memberi
kesempatan siswa untuk memanfaatkan panca indera semaksimal mungkin untuk
mengamati fenomena-fenomena yang terjadi. Kegiatan ini mampu meningkatkan
kemampuan psikomotor siswa. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya sehingga
dapat meningkatkan keterampilan afektif siswa. Kemudian siswa diminta
memprediksi gejala yang akan terjadi berdasarkan gejala yang ada atau gejala
yang telah diamati sebelumnya. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan
keterampilan proses sains siswa yaitu keterampilan memprediksi.

E. Anggapan Dasar

Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1.

Perbedaan gain keterampilan mengkomunikasikan dan pencapaian kompetensi siswa semata-mata terjadi karena perubahan perlakuan dalam proses
belajar siswa memperoleh materi yang sama oleh guru yang sama.

2.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan keterampilan
memprediksi siswa kelas XI IPA semester genap SMA N 1 Terbanggi Besar
tahun pelajaran 2011/2012 diabaikan.

16

F. Hipotesis

Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah:
Model pembelajaran problem solving pada materi asam-basa lebih efektif dalam
meningkatkan keterampilan memprediksi daripada pembelajaran konvensional.

17

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA N 1
Terbanggi Besar tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 118 siswa dan tersebar
dalam empat kelas.

Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai sampel adalah siswa kelas XI IPA1
dan XI IPA2 SMA N 1 Terbanggi Besar. Pengambilan sampel dilakukan dengan
teknik sampel purposif, yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada
suatu per-timbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Maka ditentukan kelas
XI IPA1 dan XI IPA2 sebagai sampel. Kelas XI IPA1 sebagai kelompok
eksperimen yang mengalami pembelajaran problem solving, sedangkan kelompok
berikutnya adalah kelompok kontrol yang mengalami pembelajaran konvensional.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data hasil
tes sebelum pembelajaran diterapkan (pretest) dan hasil tes setelah pembelajaran
dite-rapkan (posttest) siswa. Sedangkan sumber data adalah siswa kelas
eksperimen dan siswa kelas kontrol.

18

C. Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah non equivalent control group design yaitu desain kuasi
eksperimen dengan melihat perbedaan pretest maupun posttest antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel 2. desain penelitian
Pretest

Perlakuan

Posttest

Kelas kontrol

O1

-

O2

Kelas eksperimen

O1

X

O2

Keterangan:
X : Pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran problem
solving.
- : Pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran
Konvensional
O1 :

Kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pretest

O2 :

Kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi posttest

Di dalam penelitian ini tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan
sesudah diberikan perlakuan. Tes yang dilakukan sebelum perlakuan disebut
pretest dan sesudah perlakuan disebut posttest.

Pada penelitian ini dikembangkan alur penelitian dengan langkah-langkah
penelitian seperti pada gambar 1.

19

Penyusunan
perangkat
pembelajaran
konvensional

1. Penyusunan kisi-kisi butir
soal (pretest dan posttest)
2. Butir soal tes (pretest dan
posttest)

Penyusunan
perangkat
pembelajaran
problem solving

Validasi pretest dan
posttest

Kelas kontrol

Kelas eksperimen

Pretest

Pretest

Pembelajaran
konvensional

Pembelajaran
problem solving

Posttest

Posttest

Tabulasi dan analisis data

Kesimpulan
Gambar 1. Alur penelitian

D. Variabel Penelitian

Sebagai variabel bebas adalah model pembelajaran yang digunakan, yaitu model
pembelajaran problem solving dan pembelajaran konvensional. Sebagai variabel

20

terikat adalah keterampilan memprediksi pada materi asam-basa siswa SMA N 1
Terbanggi Besar.

E. Instrumen Penelitian dan Validitasnya
Instrumen adalah alat yang berfungsi untuk mempermudah pelaksanaan sesuatu.
Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan oleh pengumpul
data untuk melaksanakan tugasnya mengumpulkan data (Arikunto, 1997). Pada
peneliti-an ini, instrumen yang digunakan berupa soal-soal pretest dan posttest
yang masing-masing terdiri dari soal-soal keterampilan memprediksi dalam
bentuk soal uraian.

Dalam pelaksanaannya kelas kontrol dan kelas eksperimen diberikan soal yang
sama. Soal pretest adalah materi asam-basa (pengetahuan awal siswa pada materi
asam-basa) yang terdiri lima soal uraian yang mewakili soal keterampilan
memprediksi. Sedangkan soal posttest adalah materi asam-basa yang terdiri dari
terdiri lima soal uraian yang juga mewakili soal keterampilan memprediksi.

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kesahihan suatu instrumen.
Sebu-ah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan
dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Dalam
konteks pengujian kevalidan instrumen dapat dilakukan dengan dua macam cara,
yaitu cara judgment atau penilaian, dan pengujian empirik.
Instrumen ini menggunakan validitas isi. Validitas isi adalah kesesuaian antara
instrumen dengan ranah atau domain yang diukur (Ali, 1992). Adapun pengujian
kevalidan isi ini dilakukan dengan cara judgment. Dalam hal ini pengujian

21

dilakukan dengan menelaah kisi-kisi, terutama kesesuaian antara tujuan
penelitian, tujuan pengukuran, indikator, dan butir-butir pertanyaannya. Bila
antara unsur-unsur itu terdapat kesesuaian, maka dapat dinilai bahwa instrumen
dianggap valid untuk digunakan dalam mengumpulkan data sesuai kepentingan
penelitian yang bersang-kutan. Oleh karena dalam melakukan judgment
diperlukan ketelitian dan keahlian penilai, maka peneliti meminta ahli untuk
melakukannya. Dalam hal ini dilakukan oleh Ibu Dr. Noor Fadiawati, M.Si. dan
Dra. Ila Rosilawati, M.Si. sebagai dosen pembimbing penelitian untuk
melakukannya.

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1. Observasi pendahuluan
a. Peneliti meminta izin kepada Kepala SMA Negeri 1 Terbanggi Besar untuk
melaksanakan penelitian.
b. Peneliti menentukan populasi kemudian menentukan sampel penelitian
sebanyak 2 kelas.
2. Pelaksanaan penelitian
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
a.

Tahap persiapan
Peneliti menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan
instrumen tes.

b.

Tahap pelaksanaan proses pembelajaran.

22

1.

Memberikan pretest dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol.

2.

Melaksanakan pembelajaran pada materi asam-basa sesuai model
pembelajaran pada masing-masing kelas.

3.

Memberikan posttest dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol.

4.

Tabulasi dan analisis data

5.

Penulisan pembahasan dan simpulan.

G. Analisis Data Penelitian

1.

Hipotesis kerja

Rata-rata n-Gain keterampilan memprediksi siswa pada materi asam-basa di kelas
yang diterapkan pembelajaran problem solving lebih tinggi dari keterampilan
memprediksi siswa dikelas yang diterapkan pembelajaran konvensional.

2.

Hipotesis statistik

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik, hipotesis
dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif
(H1).
Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah:
H0

: Rata-rata n-Gain keterampilan memprediksi pada materi asam-basa
dengan model pembelajaran problem solving lebih rendah atau sama
dengan rata- rata n-Gain keterampilan memprediksi dengan pembelajaran
konvensional.

23

H0 : µ1x ≤ µ2x
H1

: Rata-rata n-Gain keterampilan memprediksi pada materi asam-basa
dengan model pembelajaran problem solving lebih tinggi daripada ratarata n-Gain keterampilan memprediksi dengan pembelajaran
konvensional.
H1 : µ1x > µ 2x

Keterangan:
µ1 : Rata-rata n-Gain (x) keterampilan memprediksi pada materi asam-basa pada
kelas yang diterapkan pembelajaran problem solving.
µ2 : Rata-rata n-Gain (x) keterampilan memprediksi pada materi asam-basa pada
kelas dengan pembelajaran konvensional
x : keterampilan memprediksi.

3.

Teknik analisis data

Tujuan analisis data yang dikumpulkan adalah untuk memberikan makna atau arti
yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan yang berkaitan dengan masalah,
tujuan, dan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya.

Nilai akhir pretest atau posttest dirumuskan sebagai berikut:

Nilai Akhir =



× 100

...................(1)

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menghitung Gain yang
selanjutnya digunakan untuk menguji kenormalan dan homogenitas dua varians.

24

a) Perhitungan gain ternormalisasi

N-Gain merupakan perbandingan antara selisih skor pretest dan skor posttest
dengan selisih skor maksimum dan skor pretest. N-Gain digunakan untuk
mengukur efekti-vitas suatu pembelajaran. Melalui perhitungan ini didapatkan
data n-Gain sejumlah siswa yang mengikuti test tersebut. Dalam hal ini 29 data
pada kelas XI IPA1 (kelas eksperimen) dan 29 data pada kelas XI IPA2 (kelas
kontrol). N-Gain dirumuskan sebagai berikut:
Rumus



=

(

)

(

)

...................(2)

b) Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok
terdistribusi normal atau tidak dan untuk menentukan uji selanjutnya apakah
memakai statistik parametrik atau non parametrik. Hipotesis untuk uji normalitas
:
Ho = data penelitian berdistribusi normal
H1 = data penelitian berdistribusi tidak normal
Untuk uji normalitas data digunakan rumus sebagai berikut :

= ∑

Keterangan :

(

)

= uji Chi-kuadrat

fo = frekuensi observasi
fe = frekuensi harapan
Kriteria : Terima Ho jika

hitung £

tabel.

25

c)

Uji homogenitas dua varians

Uji homogenitas dua varians digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok
sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak.
H0 = data penelitian mempunyai variansi yang homogen
H1 = data penelitian mempunyai variansi yang tidak homogen
a.

Rumusan hipotesis

H0 ∶
H1 ∶

=

(Sampel mempunyai varian yang homogen)



(Sampel mempunyai varian yang tidak homogen)

Keterangan:
= varians skor kelompok I
= varians skor kelompok II

dimana dk1 = (n1-1) dan dk2 = (n2-1)

b.

Rumus statistik yang digunakan adalah uji-F:

=

...................(3)

Keterangan :
= varians terbesar
= varians terkecil

c.

Kriteria uji

Pada taraf 0.05, tolak Ho hanya jika F hitung ³

F ½a (u

1

, u 2) dan tolak

sebaliknya (Sudjana, 2005).

26

d) Teknik pengujian hipotesis

Untuk data sampel yang berasal dari populasi berdistribusi normal, maka uji hipotesis yang digunakan adalah uji parametrik (Sudjana, 1996). Teknik pengujian
hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik yaitu uji perbedaan
dua rata - rata, hipotesis dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0)
dan hipotesis alternatif (H1). Sehingga rumusan hipotesis menjadi:
H0 : µ1x≤ µ2x : Rata-rata n-Gain keterampilan memprediksi siswa pada materi

asam basa yang diterapkan model pembelajaran problem solving

lebih rendah atau sama dengan keterampilan memprediksi yang
diterapkan model pembelajaran konvensional siswa SMA Negeri
1 Terbanggi Besar.
H1 : µ1x> µ2x : Rata-rata n-Gain keterampilan memprediksi siswa pada materi
asam-basa yang diterapkan model pembelajaran problem solving
lebih tinggi dibandingkan keterampi

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI POKOK ASAM-BASA ARRHENIUS DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA SIMBOLIK DAN PEMODELAN MATEMATIK SISWA SMA

0 24 56

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN MEMPREDIKSI PADA MATERI KOLOID

0 8 43

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI HIDROLISIS GARAM DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKLASIFIKASI DAN PENGUASAAN KONSEP

0 8 46

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMPREDIKSI PADA SISWA

0 33 253

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN MENGKOMUNIKASIKAN

0 23 261

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI KOLOID

0 10 74

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI REAKSI REDOKS DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN MENYIMPULKAN

0 21 50

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN MEMPREDIKSI

0 6 45

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI LAJU REAKSI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERTANYA DAN MENJAWAB PERTANYAAN

1 5 42

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN MENYIMPULKAN PADA MATERI ASAM BASA

0 6 46

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2203 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 317 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 699 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 612 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 572 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 698 23