3.4.2. Pembentukan Part Family dan Machine Cell Teknologi Kelompok
Seperti yang telah diuraikan di atas, teknologi kelompok adalah suatu filosofi dari indu stri manufaktur dimana komponen-komponen diidentifikasi dan
dikelompokkan dengan memanfaatkan kesamaan dalam desain atau proses manufaktur. Komponen-komponen yang dikategorikan sama dikelompokkan
dalam satu famili. Setiap famili mempunyai karakteristik desain atau proses manufaktur yang sama sehingga proses manufaktur menjadi lebih efisien.
Efisiensi ini dicapai dengan menyusun peralatan produksi ke dalam sel-sel, untuk membentuk aliran kerja.
Part family didefinisikan sebagai sekelompok komponen yang mempunyai kemiripan dalam keistimewaan desain atau proses produksinya. Suatu part family
mungkin dikelompokkan karena kemiripan desain seperti bentuk geometris, ukuran, material dan lain-lain. Sekelompok komponen dapat juga dikelompokkan
menjadi satu famili karena adanya kesamaan dalam proses produksinya. Sekelompok komponen dikatakan mempunyai proses produksi yang sama apabila
proses produksi, mesin yang digunakan, jenis dan urutan prosesnya serta kebutuhan alatnya sama.
Universitas Sumatera Utara
3.4.3. Metode Dasar Group Technology
6
Visual Method Coding Method
Matriks Formulation
Mathematical Programming
Formulation
Graph Formulation
Similarity Coefficient Method Sorted Based Algorithm
Rank Order Clustering Cost Based Method
Cluster Identification Algorithm
Extended Cluster Identification Algorithm
P-Median Geveralize P-Median Model
Quadratic Programing Model Biparte Graph
Transition Graph Boundary Graph
B. Clustering Analysis
A. Clasification
Metode Group Technology
Metode dasar dalam group technology dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Gambar 3.5. Metode Dasar Goup Technology
1. Metode klasifikasi
Metode ini digunakan untuk mengelompokkan part menjadi part family berdasarkan ciri-ciri desainnya. Metode ini terbagi atas:
a. Metode visual visual method
Metode visual adalah suatu prosedur semi sistematis, dimana komponen dikelompokkan berdasarkan kemiripan dari bentuk geometrisnya. Pengelompokan
dengan metode ini tergantung kepada preferensi personal. Oleh karena itu, metode ini bisa dipakai pada kasus dimana jumlah komponen lebih sedikit.
6
Ibid., p. 206-233
Universitas Sumatera Utara
b. Metode kode coding method
Metode ini merupakan suatu proses yang sistematis dalam menentukan suatu nilai alphanumerik untuk setiap komponen berdasarkan ciri-ciri tertentu dari
suatu komponen. Tiap digitnya menandakan ciri part tersebut, yang dapat mengelompokkan part, yaitu:
i. Bentuk dan kompleksitas geometris
ii. Dimensi
iii. Jenis material
iv. Bentuk bahan baku
v. Keakuratan
Jadi apabila digunakan sistem sandi atau kode, masing-masing komponen diberi kode yang terdiri dari angka atau huruf, masing-masing kode menunjukkan
kelompok komponen. Sistem pengkodean yang dipakai tergantung pada sejauh mana tingkat informasi yang akan ditonjolkan pada kelima pengelompokan tadi.
Misalnya, sistem pengkodean bisa hanya bentuk dan ukuran yang dicantumkan, apabila penekanan pada kedua poin tersebut yang diperlukan. Ada tiga tipe dasar
yang dapat digunakan, yaitu
7
a. Monocode
:
Pengkodean monocode merupakan sebuah struktur pohon yang memberikan informasi tentang digit yang terikat, dimana setiap urutan symbol bergantung
pada simbol yang mendahuluinya. Pengkodean seperti ini dapat dilihat pada Gambar 3.6.
7
Groover, Mikell P. Automatioan, Production System and Computer Integrated Manufacturing. 1986. New York. p. 426-427
Universitas Sumatera Utara
b. Polycode, artinya bahwa nilai digit tertentu selalu mengindikasikan fitur yang
sama dan sangat mudah membacanya. Pengkodean ini tidak tergantung pada nilai simbol yang mendahuluinya, seperti pada Gambar 3.7.
c. Hybrid, merupakan perpaduan di antara kedua pengkodean monocode dan
polycode, seperti pada Gambar 3.8. Untuk membedakan antara monocode dan polycode, dipertimbangkan dari
2 digit angka kode dari suatu part. Misalnya angka 15 dan 25. Di dalam monocode, angka 1 berarti angka yang menunjukkan part berbentuk silinder
sedangkan angka 2 menunjukkan part berbentuk persegi. Digit kedua, yaitu angka 5 tergantung pada nilai dari digit yang pertama. Jika digit sebelumnya 1, maka
angka 5 menunjukkan rasio diameter part. Jika digit sebelumnya 2, maka angka 5 menunjukkan panjang part. Dalam polycode, angka 5 memiliki arti yang sama
tanpa bergantung pada angka 1 dan angka 2. Misalnya, angka 5 menunjukkan panjang part. Hybrid merupakan perpaduan antara monocode dan polycode.
1. Steel 2. Copper
3. Bronze
1. 5 m Diameter ≤
10 m 2. 10 m Diameter
≤ 15 m
3. 15 m Diameter ≤ 20
m
1. Center tidak punya lubang
2. Center memiliki satu lubang
1. Center memiliki satu lubang
2. Center memiliki dua lubang
1. Center tidak memiliki lubang
2. Center memiliki tiga lubang
Gambar 3.6. Sistem Monocode
Dari Gambar 3.6, misalkan kode part yang diberikan adalah 312. Maka arti dari kode tersebut adalah part tersebut terbuat dari bahan bronze, dengan 5m
Universitas Sumatera Utara
Diameter ≤ 10 m dengan memiliki satu lubang pada centernya. Artinya bahwa
digit kedua mempengaruhi digit ketiga.
1. Steel 2. Copper
3. Bronze
1. 5 m Diameter ≤
10 m 2. 10 m Diameter
≤ 15 m
3. 15 m Diameter ≤ 20
m
1. Center tidak punya lubang 2. Center memiliki satu lubang
3. Center memiliki dua lubang
Gambar 3.7. Sistem Polycode
Jika diberikan kode sebuah part 312, dari Gambar 3.7 dapat diartikan bahwa part tersebut terbuat dari bahan bronze, 5m Diameter
≤ 10 m, dan memiliki satu lubang pada pusatnya. Dari sini bisa dilihat, bahwa setiap digit tidak
mempengaruhi digit selanjutnya karena untuk semua part. Misalnya, digit kedua tidak akan berpengaruh ke digit ketiga. Karena untuk setiap part arti simbol dalam
digit tersebut memiliki arti yang sama. Dalam sistem hybrid, kode part menunjukkan penggabungan pengkodean
dengan monocode dan polycode, seperti pada Gambar 3.8. Misalkan kode part 3123, maka part terbuat dari bahan bronze, 5m Diameter
≤ 10 m, memiliki satu lubang pada centernya serta 15 m Tinggi
≤20 m.
Universitas Sumatera Utara
1. Steel 2. Copper
3. Bronze
1. 5 m Diameter ≤
10 m 2. 10 m Diameter
≤ 15 m
3. 15 m Diameter ≤ 20
m
1. Center tidak punya lubang
2. Center memiliki satu lubang
1. Center memiliki satu lubang
2. Center memiliki dua lubang
1. Center tidak memiliki lubang
2. Center memiliki tiga lubang
1. 5 m Tinggi ≤
10 m 2. 10 m Tinggi
≤ 15 m
3. 15 m Tinggi ≤2
0 m 4. 20 m Tinggi
≤ 25 m
Gambar 3.8. Sistem Hybrid
2. Metode analisis cluster cluster analysis method
Dasar pengelompokan pekerjaan pada metode analisis cluster adalah bobot dari objek, yakni pengelompokan objek menjadi kelompok yang homogen
berdasarkan pada ciri-ciri objek Penerapan analisis cluster pada group technology adalah pengelompokan
part menjadi part family dan mesin-mesin ke dalam sel-sel mesin. Untuk memodelkan masalah teknologi kelompok dapat digunakan salah satu dari tiga
formulasi berikut ini: 1.
Formulasi matriks 2.
Formulasi matematis 3.
Formulasi grafik
Universitas Sumatera Utara
Dalam formulasi matriks dihasilkan matriks mesin-part matriks insiden, a
ij
yang berisi elemen bernilai 1 dan 0, yang diartikan sebagai berikut: 1
: bila mesin i digunakan untuk mengerjakan part j. 0 : bila mesin i tidak digunakan untuk menghasilkan part j.
Hasil analisis cluster memberi dua kemungkinan, di antaranya: 1.
Cluster yang terpisah sempurna atau mutually separable cluster MSC MSC merupakan hasil pengelompokan yang ideal. Analisis cluster yang
dilakukan menghasilkan blok MC machine cell dan PF part family yang benar- benar terpisah. Artinya, sebuah sel mesin benar-benar hanya dipakai untuk
mengerjakan satu part family, seperti pada Gambar 3.9. Demikian juga sebuah part family hanya dikerjakan di dalam satu sel mesin. Part family merupakan
kelompok part-part yang sejenis, dikarenakan kemiripan ukurannya, bentuk geometrisnya atau juga karena langkah-langkah produksinya. Sedangkan machine
cell merupakan kelompok mesin-mesin yang dilalui part-part yang sama. Namun hal ini sangat jarang bisa didapat, karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
1 2
3 4
5 1
1 1
1 1
1 1
1 1
1 1
1 1
2 3
4 5
MC-1 MC-2
PF-1 PF-2
Gambar 3.9. Mutually Separable Cluster MSC
Universitas Sumatera Utara
2. Cluster yang terpisah sebagian atau partially separable cluster PSC
PSC menandakan bahwa sistem produksi yang akan diterapkan group technology tidak dapat didekomposisikan secara murni, seperti pada Gambar 3.10.
1 2
3 4
5 1
1 1
1 1
1 1
1 1
1 1
1 1
1 2
3
4 5
MC-1 MC-2
PF-1 PF-2
Gambar 3.10. Partially Separable Cluster PSC
Dari gambar di atas terlihat bahwa part 5 membutuhkan pengerjaan di mesin 1 dan mesin 3 yang terletak di mesin yang berbeda, yaitu MC-1 dan MC-2.
Part 4 disebut dengan exceptional part, yaitu part yang dikerjakan lebih dari satu sel. Mesin 1 disebut sebagai bottleneck machine, yaitu mesin yang dibutuhkan
untuk pengerjaan part yang terletak di sel yang lain atau mesin yang dibutuhkan untuk pengerjaan lebih dari satu part family.
3.4.4. Sorting Based Algorithm atau Rank Order Clustering ROC