Budaya Mengajar Dalam Pembentukan Karakter Anak Autis Di Yayasan Tali Kasih Medan (Studi Etnografi)

(1)

No Isu Utama Variabel Aspek/Parameter Informan 1 Gambaran Umum

Yayasan Tali Kasih Medan

Sejarah berdirinya Yayasan Tali Kasih Medan

Kapan berdirinya Yayasan Tali Kasi Medan? Kepala sekolah dan staf adminstrasi sekolah

Siapa pendiri Yayasan Tali Kasih?

Faktor apa yang mendorong berdirinya Yayasan Tali Kasih ini?

Siapa kepala sekolahnya?

Alasan mengapa sekolah di jalan K.H wahid Hasim ditutup?

Profil Sekolah Identitas sekolah ? Kepala sekolah dan

Guru-guru Yayasan Tali Kasih

Apa visi misi sekolah? Jumlah Guru yang mengajar? Nama-nama Guru ?

Peraturan Yang dijalankan Oleh Guru?

Seragam yang digunakan guru dalam mengajar? Berapa kali pergantian kepala sekolah?

Bagaimana sarana dan prasarana di sekolah? Struktur di Yayasan Tali Kasih?

Bagaimana guru dan murid di sekolah? Bagaimana sumber dana sekolah?

Letak Geografis Dena lokasi Penelitian sekolah? Staf Administrasi sekolah

Keadaan sekolah dan ruangan sekolah? 2 Pola mengajar guru di

Yayasan Tali kasih

Penyampaian materi terhadap anak autis

Bagaimana bahasa yang digunakan terhadap anak autis?


(2)

Medan Bagaimana mengatasi anak autis yang tidak mau belajar?

Guru Dan Kepala Sekolah

Bagaimana mengatasi anak autis yang susah dalam menulis,berhitung, menggambar dan mengenal huruf?

Bagaimana guru membentuk karakter anak autis? Bagaimana guru melatih kemandirian anak autis? Bagaimana melatih fokus mata anak?

Bagaimana mengatasi anak yang hiperaktif Bagaiman melihat peroses perkembangan anak Bagaimana ciri-ciri anak autis?

Bagaimana penyembuhan anak autis dengan alat terapi sekolah?

Bagaimana membuat peroses belajar lebih menarik terhadap anak autis?

Kendala yang di hadapai guru dalam menggajar anak autis

Apa yang saja yang menjadi kendala guru dalam mengajar?

Guru dan Kepala Sekolah

Apa yang dilakukan guru dalam mengatasi masalah mengajar?

Apa yang dilakukan kepala sekolah dalam menanggap semua permasalahaan guru dan juga permasalahan yang dihadapi sekolah?

3 Interaksi di Yayasan Tali Kasih Medan

Interaksi antara Guru dengan murid, guru dengan guru, anak autis dengan anak autis, guru dengan kepala sekolah, guru

Bagaimana kenyataan dan peroses interaksi yang terjadi?

Pengamatan Lapangan Langsung, Kepala Sekolah dan Guru Bagaimana interaksi guru dengan guru?


(3)

dengan orang tua dan sekolah dengan pemerintah dinas pendidikan

Bagaimana interaksi guru dengan kepala sekolah? Bagaimana interaksi guru dengan orang tua murid?

Bagaimana interaksi sekolah dengan pemerintah? Bagaimana interaksi yang dilakukan dalam memusyawarahkan dari permasalahan sekolah yang ada?


(4)

BAB III

POLA MENGAJAR DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN

3.1. Pola Mengajar Guru di Yayasan Tali Kasih Medan

Pendidikan merupakan hal terpenting yang harus dimiliki manusia dalam kehidupannya. Karena didalam pendidikan terdapat banyak pengetahuan yang bisa menjadi pedoman hidup seseorang dalam menentukan arah yang baik. Menurut Suparlan Suhartono bahwa pendidikan adalah segala kegitaan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiataan kehidupan. Dimana pendidikan berlangsung disegala jenis, bentuk dan tingkat lingkungan hidup yang mampu mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada didalam diri individu seseorang.

Setiap manusia memiliki keberanekaragaman agama, ras, suku, cara berpikir, fisik (jasmani), rohani dan mental. Dalam memperoleh pendidikan orang-orang yang memiliki keberbedaan inipun harus mendapatkan sistem pendidikan yang berbeda juga. Menurut F. Boaz bahwa pentingnya penelitian mengenai pendidikan sekolah dalam masa transmisi dan perubahaan kebudayaan. Didalam transmisi ini terdapat perbedaan sikap maupun perilaku yang harus diberikan terhadap murid yang diajarkan.

Guru-guru di Yayasan Tali Kasih Medan harus menguras energi lebih dan meluangkan waktu yang cukup dalam mengajar anak autis yang ada di sekolah tersebut. Perbedaaan perilaku anak normal dengan anak autis yang dijarkan harus


(5)

memiliki metode yang berbeda dalam menyampaikan materi. Guru-guru diyayasan tersebut harus memiliki kesabaran yang tinggi dalam mengajarkan anak-anak murid. Keterbatasan anak autis dalam berbicara membuat seorang guru harus memahami apa yang diucapkan murid. Terkadang seorang guru harus melatihnya secara berulang agar setiap kata yang diucapkan anak bisa lebih jelas dan terbiasa. Seperti seorang guru menerangkan sebuah gambar kepada anak muridnya (Wilson, 8 Tahun):

“Gambar apa ini Wilson sambil menunjukan gambarnya, Wilson menjawab gambar aimo bu dengan bermaksud mengucapkan harimau. Dengan bernada tegas dan kuat guru mengucapakannya harimau”

Guru tersebut mengulanginya sampai lebih dari sepuluh kali, hingga pengucapan kata harimau jelas terdengar. Seorang guru disekolah ini dituntut mengunakan bahasa yang baku dengan nada yang keras dan tegas dalam hal ini guru tidak menunjukkan emosi yang tidak terkontrol atau marah. Tapi bertujuan agar seorang murid dapat lebih memahami dan mau mengulangi setiap perintah yang diucapkan guru. Menurut Burhannudin, pendidikan tidak mengenal suatu resep yang pasti atau aturan untuk tetap dijalankan. Pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi dari murid dan kreatifitas dalam mengajar menjadi suatu metode dalam mengajar anak murid. Hal ini yang diterapkan para guru di Yayasan Talikasih.

Keberhasilan setiap anak murid dalam mengucapkan dan menjalan perintah guru akan diberikan pujian terhadap anak murid. Hal ini bertujuan untuk anak autis tersebut merasa nyaman dan merasa dekat terhadap gurunya. Guru harus mampu membaca setiap perilaku anak didiknya. Terkadang ada anak autis yang susah mengucapakan sebuah kata, angka dan warna. Meskipun dengan lebih dari 10


(6)

pengulangan seorang anak terkadang tidak bisa mengucapkannya dengan jelas. Jika terjadi hal ini, seorang guru harus mampu mengalihkan dari yang tadinya belajar menjadi bercanda atau memerintahkan mengambil sesuatu. Karena setiap anak autis yang dipaksakan melakukan hal yang susah dan tidak bisa dilakukannya seorang anak autis bisa marah bahkan bisa memukul ataupun melempar gurunya. Jika hal ini terjadi butuh waktu yang lama untuk membujuknya kembali untuk belajar seperti biasanya.

Hal ini pernah terjadi saat proses pembelajaran terjadi, saat belajar menghitung seorang anak murid susah untuk mengucapkan dan menghafal setiap angka yang diberikan guru. Dengan perintah yang lebih dari lima belas kali tidak bisa juga, murid tersebut hampir memukul gurunya dengan cepat guru tersebut langsung mencairkan susana dengan bercanda dan memerintahkan anak tersebut mengambilkan tisu dan menyuruhnya untuk membersihkan meja yang ada didepannya.

3.1.1. Tanggung Jawab Guru dalam Pengajaran

Di yayasan ini setiap guru memiliki tanggung jawab sendiri terhadap anak didiknya. Karena jika muridnya si A maka yang diajarkan si A terus sampai anak tersebut berhasil diterapi atau berhasil berperilaku dan berkomunikasi hingga menjadi lebih baik. Guru diyayasaan ini memiliki beberapa point yang harus diperhatikan dalam perkembangan anak. Setiap harinya guru harus memperhatikan point-point tersebut. Hal ini bertujuan untuk melihat sejauh apa perkembangan si anak. Adapun beberapa point yang harus diperhatikan guru adalah:


(7)

1. Komunikasi anak autis

• Melihat komunikasi anak verbal maupun non verbal

• Kemampuan anak dalam mengeksperesikan perasaan maupun keinginan

• Memperhatikan kemampuannya dalam memahami bahasa orang lain

• Memperhatikan perkembangan berbicara anak apakah masi lambat dan monoton

• Memperhatikan si anak masih suka bergumam atau tidak 2. Pergaulan anak autis

• Memperhatikan kontak mata anak terhadap lawan bermainnya ataupun berbicaranya

• Masi menghindar ataupun menyendiri terhadap orang disekitarnya

• Memperhatikan sikap empatinya terhadap orang disekitarnya

• Memperhatikannya dalam bermain dengan teman-temannya 3. Kepekaan terhadap sensorik integrative anak autis

• Memperhatikan tingkat sensitifnya terhadap sentuhan

• Memperhatikan tingkat sensitifnya terhadap suara

• Memperhatikan sensitif penciuman dan indera perasa

• Memperhatikan tingkat sensitif anak terhadap rasa sakit dan sebaliknya


(8)

Point-point ini yang menjadi acuan seorang guru dalam memperhatikan proses perkembangan anak didiknya. Karena perubahaan perilaku ataupun sikap yang perlu dilakukan terhadap anak di sekolah ini. Hal ini menjelaskan mengapa jika seorang guru sudah mengajarkan anak si A sampai akhir diajarkan oleh guru tersebut. Setiap harinya guru membuat catatan kecil dari setiap peningkatan anak dengan meilhat point-point diatas.

Berdasarkan wawancara saya dengan kepala sekolah, berdasarkan pengalaman mereka selama mengajar diyayasan tersebut ada beberapa ciri-ciri anak autis yaitu sebagai berikut:

 Cara anak autis berkomunikasi

• Sebagaian tidak berkomunikasi baik verbal maupun non verbal

• Berbicara sanggat lambat, monoton atau tidak berbicara sama sekali

• Tidak mampu mengeksperikan keinginan maupun perasaan

• Sukar memahami bahasa orang lain dan sukar dipahami bahasa anak autis

 Cara anak autis bergaul

• Tidak tertarik untuk bersama teman

• Lebih suka menyendiri

• Tidak ada kontak mata

• Menyembunyikan wajah


(9)

• Hanya mau bersama dengan ibu/keluarga

• Acuh tak acuh(Iinteraksi satu arah)

• Kurang tanggap terhadap interaksi sosial  Cara anak autis membawakan diri

• Menarik diri

• Seolah-olah tidak mendengar

• Dapat melakukan perintah tanpa respon bicara

• Asik berbaring atau bermain sendiri selama berjam-jam

• Lebih senang menyendiri

• Sering berkhayal (bengong)

• Konsentrasi kosong

• Menggigit-gigit benda

• Menyakiti diri sendiri

• Menyenangi hanya satu benda mainan

• Sering menangis / tertawa tanpa alasan

• Suka memukul-mukul benda

• Melakukan sesuatu berulang-ulang (mengerak-gerakan tangan,mengangguk-angguk,dsb.

4. Bagaimana kepekaan sensorik anak autis


(10)

• Sensitif terhadap suara-suara tertentu

• Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda

• Sangat sensitif terhadap rasa sakit dan sebaliknya

Dari ciri-ciri inilah guru di sekolah tersebut memahami dan mampu mengatasi perlakuan yang harus dilakukan terhadap anak dan dari ciri-ciri inilah tercipta point-point penting dalam memperhatiakan perkembangan anak disekolah tersebut. Tujuan terbesar seorang guru adalah mampu mengubah perilaku anak autis dari yang tidak normal menjadi perilaku mengarah yang kelebih normal. Meskipun anak autis ini tidak bisa normal hingga 100% tetapi perubahan perilaku yang lebih baik lagi membuat seseorang anak mampu membenahi dirinya tanpa harus bergantung terhadap orang tua dan ataupun orang lain.

Pernah seorang guru berkata kepada saya mengajar anak autis ini kadang menjadi kebanggan guru-guru dsini dalam mengajarkannya. Diselah-selah guru mengajar saya sambil bercerita kepada guru ketepatan saya masuk kekelas ibu Roma saat itu jam akhir-akhir beliau mengajar, beliau mengatakan:

“ia dek terkadang mengajar mereka ini harus sabarlah liat ini dari tadi susah kali ngertinya harus dibimbing terus uda ada sepuluh kali tapi susah kali diajarkan. Tapi inilah terkadang kasihan melihat mereka seperti ini terlihat bodoh-bodoh gini kalau gak ada yang mengajarkan terus lah bodoh-bodoh seperti ini deg. Kadang merasa bangga juga saya disatu sisi saya seperti menolong,terkadang yang air liur merekalah yang jatuh-jatuh dan saya harus bersihkan lah. Kesannya selain saya mengajar saya seperti baby sisterlah disini. Tapi itu, jadi seperti berkat buat saya yang tuhan beri entah kenapa saya tetap semangat mengajar anak-anak seperti mereka”.


(11)

Seorang guru dituntut harus mampu menyesuaikan dirinya dilingkungan sekolah ini. Selain mengikuti metode pembelajarannya yang sekolah berikan kepada guru. Guru harus memiliki inisiatif tinggi terhadap anak yang diajarkan. Terkadang ada saja perbuatan ataupun perlakuan anak didik yang membuat guru harus menahan kesabarannya.

Proses belajar mengajar disekolah ini tidaklah gampang seperti biasanya mengajar anak normal. Menyesuaikan diri ketika anak melakukan perbuatan yang tidak semestinya membuat guru harus memikirkan cara untuk membuat anak tersebut tenang.

Gambar 3.1.1.1

Guru yang membujuk anak autis agar mau belajar

Gambar diatas tampak seorang guru yang sedang membujuk seorang anak untuk belajar. Anak tersebut tidak mau belajar karena ditinggal oleh orang tuanya


(12)

pada saat diantarkan ke sekolah. Sehingga guru harus menenangkan anak tersebut agar mau belajar seperti biasannya. Hal yang paling sulit buat guru ketika membujuk seorang anak yang sedang menangis untuk diajak belajar. Seorang guru harus memiliki cara tertentu terhadap anak untuk mau kembali belajar seperti biasanya. Jika terjadi seperti hal ini, cara yang dilakukan seorang guru adalah dengan menanyakan apa yang diinginkan anak tersebut pada saat itu. Jika anak tersebut menginginkan A maka sebisa mungkin kita berusaha untuk memenuhinya agar anak tersebut mau belajar. Jika keinginananya tidak bisa dipenuhi, diluar dari kemampuan guru maka sianak hanya akan diajak bermain dilingkungan sekolah. Jika anak tersebut sudah merasa senang sianak pasti mau diajak belajar, jika tidak atau tetap masi bersedih maka guru tetap mengalihkannya dalam bermain.

3.1.2. Pola Pengajaran dengan Metode Terapi

Di sekolah ini bermain termasuk juga salah satu terapi yang diberikan untuk anak. Tujuan dari bermain adalah untuk melatih motorik, panca indera anak, dan sebagainya. Salah satu teknik bermain yang menjadi terapi anak autis disekolah ini adalah dengan melempar dan menangkap bola. Teknik bermain ini bertujuan untuk melatih respon anak dalam menerima perintah seseorang. Seperti disuruh untuk melempar dan menangkap bola. Selain itu bermain melempar dan menangkap bola juga melatih fokus mata anak autis, karena kebanyakan anak autis arah pandangannya sering tidak terarah dan dengan terapi bermain bola ini menjadi salah satu teknik dalam penyembuhannya.


(13)

Seperti yang dikemukan Tardif, mengajar merupakan suatu perbuatan yang dilakukan sorang guru dengan tujuan membantu dan memudahkan murid dalam melakukan kegiatan belajar, mulai dari penyajian materi dan penyampaian materi sesuai dengan keadaan siswa.

Penyajian materi yang sudah dibentuk oleh sekolah juga harus didampingi oleh inisiatif seorang guru dalam menyampaikan materinya. Guru harus dituntut untuk mampu mengenali anak didiknya terdahulu sebelum melakukan proses belajar mengajar. seorang guru harus dapat membuat bahwa dirinya merupakan orang tua mereka atau sama baiknya dengan orang tua mereka dan membuatnya senyaman mungkin. Karena anak autis ini jika tidak merasa dekat dan nyaman terhadap guru maka anak tersebut susah untuk mengikuti setiap perintah guru. Sehingga point utama yang harus dilakukan guru adalah membuat anak tersebut merasa dekat dengan anak didiknya agar suasana nyaman dapat dirasakan anak tersebut. Untuk membuatnya merasa nyaman dan merasa dekat guru mengunakan bahasa yang baku dengan tekanan nada yang tegas. Selain itu juga guru harus sering membuat pujian terhadap anak seperti mengatakan bawa diri nya cantik kalau dia perempuan, mengatakan dirinya bersih, mengatakan dirinya hebat dan sebagainya sehingga anak tersebut merasa tersanjung dan menganggap gurunya itu adalah orang baik terhadapnya.

Seorang guru mengemukakan kepada saya bertepatan saya masuk keruang kelas tepat pada saat dia mengajar. diselah-selah sianak lagi merasa bosan dan hampir marah terhadap bosannya penyampaian pelajaran, sang guru berusaha menenangkannya dengan memberikan sebuah pujiaan sambil memerintahkan anak


(14)

tersebut mengambil air minum untuk anak tersebut. Guru tersebut sambil berkata kepada saya(Nurleli, 32 Tahun):

“ gini lah dek terkadang saya puji-pujilah dulu dia, saya bilanglah dia bersih saya bilang dia rapi supaya jagan marah dia, supaya teralihkan kebosananya ini padahal tengoklah ingus nya pun keluar-keluar inilah yang dibilang berbohong demi kebaikan sembari guru tersebut mengambil tisu untuk membersihkan lendir yang ada dihidung anak tersebut”.

Terlihat kadang seorang guru memiliki kejenuhan kecil dalam menghadapi perilaku-perilaku anak tersebut. Seorang guru terlihat harus mampu dengan cepat menyesuaikan diri sesuai keadaan yang diinginkan anak agar jangan sampai anak marah dan tidak mau belajar.

Guru tersebut juga mengemukakan kepada saya (Nurleli, 32 tahun):

“inilah yang harus kami jaga dek untuk guru-guru disini supaya murid-murid disini jagan sampai marah besar, karena kalau udah marah besar bisa-bisa dia benci kita dan gak mau lagi diajarkan sama kita. Maka dari itu jika anak ini sudah terlihat bosan dan marah maka kami para guru harus dengan cepat mengalihkannya, yang tadinya dari belajar yah menjadi memperintahkannya sesuatu sambil berusaha menenangkannya dengan cara kami masing-masing”.

Guru-guru disini juga dibantu oleh assisten terapi terutama anak yang dibawah umur 5 tahun dengan dengan sikap yang sangat pendiam. Tugas seorang terapis adalah membantu seorang guru dalam menyampaikan pelajaran dan juga melakukan terapi. Tugas seorang terapi adalah mengarahkan anak agar mau melakukan perintah yang diberikan dari guru. Seperti misalnya mengajari anak dalam meronce (memasukan benda kecil kedalam benang) seorang terapis membantu anak tersebut dari belakang tempat duduk anak sementara guru utamanya mengarahkan


(15)

alih mata anak terhadap benda yang dimasukan. Karena setiap kali anak diperintahkan untuk meronce seringkali seorang anak mengarahkan pandangnya kesegala arah sehingga guru terkadang mengarahkan wajah anak ke objek yang dikerjakannya. Hal ini yang membuat mengapa seorang guru utama harus dibantu dengan assistennya agar dapat mempermudah proses belajar dan terapi.

Selain itu juga tenaga terapis dibutuhkan terhadap anak yang hiperaktif atau sering disebut berlebihan bergerak. Fungsi tenaga terapis disini sangat dibutuhkan karena disaat guru menerangkan suatu model pembelajaran sering kali seorang anak melakukan kegiatan bergerak yang berlebihan seperti misalnya memukul-mukul meja dengan keras, memain-mainkan pensilnya bahkan hingga lari-lari disekitar kelas. Dengan adanya assisten terapis yang duduk dibelakang murid tersebut yang mengarahkan dan menjaganya untuk tetap tenang duduk membuat guru utama lebih mudah dalam menyampaikan model pembelajaranya.

Ada 2 Perilaku anak autis yang dapat digolongkan dalam 2 jenis dan ditemukan disekolah ini, yaitu:

1. Perilaku eksesif (berlebihan) seperti hiperaktif, tantrum berupa menjerit, menyepak, membenturkan kepala, menggit, mencakar, memukul, menyerang mencubit menyakiti diri sendiri

2. Perilaku defisit (berkekurangan) ditandai dengan ganguan berbicara, perilaku sosial yang kurang baik, deficit sensori sehingga dikira tuli, emosi yang tidak tepat, jatuh tidak nangis, bermain tidak benar, emosi tidak tepat,menangis tanpa sebab, tertawa tanpa sebab dan melamun.


(16)

Berdasarkan perilaku anak autis yang berbeda diatas metode ataupun model pembelajaranya tetap sama hanya saja anak yang memiliki perilaku hiperaktif harus diajarkan oleh satu guru dan satu assisten. Karena perilakunya yang memiliki gerak berlebihan seperti berlari kesana kesini, mengerakan tangan berlebihan, mengarahkan wajah kesegalah arah dan sebagainya sehingga membuat proses belajar terganggu. Maka dari itu diperlukannya tenaga assisten terapis untuk membantu menenangkan mereka.

3.2. Pemilihan Teknik Mengajar

Ada beberapa cara yang di lakukan guru untuk membuat proses belajar menjadi lebih menarik anak autis dan membuatnya agar lebih mau mengikuti pelajaran. Cara ini memang sudah dibentuk sekolah agar materi pembelajaran dapat diterima oleh anak murid di sekolah tersebut. Semua guru harus melakukan cara ini tanpa ada pengecualian. Adapun beberapa cara tersebut adalah sebagai berikut: memilih gaya belajar, menggunakan bahasa sederhana, menggunakan objek menarik ketika belajar, mengatasi masalah anak menulis, memahami bakat anak autis, tidak melakukan perubahan jadwal.

3.2.1. Memilih Gaya Belajar

Setiap anak memiliki gaya belajar tertentu dalam memahami setiap pelajaran yang akan diterima. Beberapa anak mungkin lebih cepat menyerap informasi atau pelajaran dengan cara mendengar dan melihat, sementara anak yang lain lebih


(17)

cendrung pada gaya belajar visual atau metode pembelajaran yang diberikan melalui gambar atau alat elektronik. Sehingga guru harus mampu mengetahui tentang anak didiknya terlebih dahulu sebelum melakukan proses belajar. Seperti salah satu anak yang bernama Jasmine, anak ini sangat susah memahami atau kurang tertarik dengan media pembelajaran melalui tulisan seperti yang ada dibuku. Sehingga guru harus mengalihkannya kedalam bentuk gambar ataupun benda-benda yang sudah disediakan disekolah tersebut. Contohnya seperti menerangkan angka atau jumlah, anak tersebut kurang mau belajar jika pengenalan seperti angka hanya dibuat dalam bentuk tulisan. Jadi seorang guru seperti mengenalkan angka lima, guru tersebut mengambil benda bola kecil berjumlah lima dan menyatakan jumlah bola tersebut ada lima. Memperkenalkan bentuk angka lima tersebut juga melalui gambar angka lima yang besar dan sudah diwarnai. Tujuan dari pada guru untuk membuat teknik ini adalah agar murid lebih memahami dan lebih tertarik dalam mengikuti proses belajar mengajar.

3.2.2. Menggunakan Bahasa Sederhana

Menggunakan kata-kata sederhana serta kalimat pendek ketika berkomunikasi dengan anak-anak autis sangat dianjurkan. Karena kalimat yang panjang dan kompleks akan membuat anak menjadi bingung dan kalimat yang pendek lebih mudah dibaca, ditulis ulang serta dipahami oleh anak autis tersebut. Jadi setiap menerangkan suatu objek guru harus mampu membuat kalimat sesederhana mungkin dalam menyampaikannya terhadap anak didik agar mudah dipahami anak tersebut


(18)

seperti contoh mengenalkan gambar lemari, guru menjelaskannya dengan cara kalimat yang tidak panjang. Seperti yang pernah saya lihat waktu proses belajar mengajar. Bertepatan pada saat itu guru menerangakan gambar dengan bahasa yang sederhana dengan kalimat yang singkat.

“ ini gambar lemari, gambar apa nak.. anak tersebut menjawab dengan kurang jelas dan menyebutkan amalai bu.. guru tersebut menjelaskan lagi sampai dia bisa mengucapkan lemari. Kemudian guru tersebut menjelaskan lagi, fungsinya untuk menyimpan baju. Untuk apa nak dengan bahasa yang kurang jelas lagi impa baju dan guru tersebut memperbaiki pengucapannya lagi dengan memerintahkan anak tersebut mengulangi hingga pengucapannya tepat.

Penggunaan bahasa yang tepat dan sederhana akan membuat dan membantu pemahaman anak autis dalam mengetahui setiap pelajaran yang dijelaskan. Selain itu juga seorang guru harus menggunakan bahasa yang baku karena proses penyerapan kata-kata tidak mengalami kesalahaan dan terbiasa menyebutkan bahasa yang baku.

3.2.3. Menggunakan Objek Menarik Ketika Belajar

Disini guru dituntut harus memiliki inspirasi dan kereatifitas dalam memanfaatkan objek ataupun mainan yang disukai anak. Anak-anak autis biasanya memiliki benda favorit ataupun mainan favorit. Sehingga ini menjadi suatu metode guru untuk membuat ketertarikan anak untuk mengikuti proses belajar. Apalagi ketika anak sedang tidak mau belajar, maka guru harus mampu mengunakan cara ini dan mengkombinasikannya dalam pelajaran. Seperti contoh ketika murid tidak mau belajar berhitung atau mengenal angka. Jika seorang anak tidak mau belajar maka guru harus mengeluarkan mainan sianak atau mengunakan mainan yang ada


(19)

disekolah tersebut. Misalnya anak tersebut menyukai mobil-mobilan, guru tersebut harus mampu mengkombinasiakannya dengan pelajaran yang sedang diajarkan. Sepertimengenalkan huruf B, guru meletakan empat gambar huruf yang didalamnya terdapat huruf B dan menyuruh anak mengarahkan mobil-mobilanya kearah huruf yang berbentuk B. Metode ini sering berjalan untuk memudahkan proses belajar mengajar apalagi pada saat anak autis tidak mau belajar.

Selain itu juga mengunakan mainan favoritnya dapat menenangkan anak yang sedang menangis. Karena jika sudah kesukaannya adalah mainan mobil-mobilan maka anak tersebut akan menyukai mainan mobil-mobilan. Dan metode ini harus mampu dikuasai guru karena terkadang sering anak autis berperilaku aneh sebelum proses belajar-mengejar hendak di mulai seperti menangis, tidak mau belajar,mau pulang kerumah dan sebagainya. Metode ini cukup membantu guru-guru yang ada disekolah tersebut.

3.2.4. Menanggani Masalah Anak Menulis

Sebagian besar anak autis menghadapi masalah dengan sistem motorik mereka, terkadang anak autis tidak dapat mengendalikan tangan sehingga kesulitan untuk menulis dengan baik. Hal ini bisa membuat anak merasa putus asa. Untuk mengatasi hal ini, guru-guru di sekolah ini terkadang menyuruh anak untuk mengetik huruf dikomputer yang ada disekolah tersebut. Mengetik dikomputer bisa membantu anak belajar lebih cepat tanpa merasa kecewa saat melihat hasil tulisannya dan melalui cara ini bisa memotivasi anak untuk menikmati proses menulis.


(20)

Tetapi secara manual juga guru tetap mengajarkan anak menulis dan memegang alat tulis. Setiap anak murid dalam menulis manual oleh guru ataupun assisten terapis tetap dilakukan agar mereka terbiasa melakukannya.

Penulisan melalui komputer tadi juga merupakan suatu proses persuasif terhadap anak agar tertarik dan mau belajar menulis. Karena anak autis kebanyakan sangat menyukai alat yang berbentuk digital seperti pengakuan salah seorang guru terhadap saya. Kebetulaan pada saat itu guru tersebut baru saja selesai mengajar dan sedikit bercerita kepada saya(Mintauli, 36 Tahun):

”mereka ini dek kalau melihat alat elektronik seperti komputer contohnya sangat tertarik sekali, sehinga terkadang menulis melalui mengetik juga kami ajarkan dan lucunya kalau memahami hal yang diajarkan menggunakan alat elektronik gini mereka cepat mengertinya. Inilah mereka terlihat aneh tapi nyata”.

Setiap anak autis memang memiliki kelebihan tersendiri disekolah ini dan setiap guru harus mampu memahami dan memanfaatkan sertiap kelebihan mereka dalam proses penyembuhan mereka mengarah yang lebih baik lagi.

3.2.5. Memahami Bakat Anak Autis

Guru harus mengetahui setiap bakat anak yang mereka ajarkan. Banyak diantara anak-anak tersebut yang memiliki bakat dan bakat ini harus mampu dikembangkan guru. Dalam proses belajar juga setiap guru harus mengasah setiap bakat yang dimiliki anak seperti mengoperasikan komputer, bermain musik, melukis, membuat kerajinan dan sebagainya. Rata-rata kelebihan mereka merupakan hal yang


(21)

disukai anak autis tersebut. Sehingga menjadi perhatian yang harus dikembangkan guru dari setiap kemampuan ataupun bakat yang dimiliki anak.

Anak-anak autis biasanya sedikit lebih lambat dalam berkomunikasi dan proses belajar dibandingkan dengan anak-anak lain seusia mereka. Akan tetapi kelebihan-kelebihan mereka seperti melukis,memainkan alat musik, mengoperasikan komputer, membuat kerajinan dan sebagainya harus dikembangkan guru dalam perose belajar mengejar dan selalu mengkombinasikannya dalam belajar, karena bakat yang dikembangkan ini dapat digunakan sebagai keterampilan anak untuk di kehidupan maupun karir mereka di masa depan.

Ibu Endang pernah menggemukakan tentang menggabungkan bakat anak saat belajar. Beliau mengatakan, setiap anak yang memiliki kelebihan seperti mengopersikan komputer, pada saat sianak malas belajar mengenal angka huruf atau membaca melalui media komputer ini guru akan melakukan proses belajar mengajar agar sianak tertarik belajar.

3.2.6. Tidak Melakukan Perubahan Jadwal Belajar

Disekolah ini setiap murid sudah ditentukan jadwal proses terapi dan belajarnya. Terhadap anak autis tidak diterapkan variasi waktu atau perubahan waktu dalam proses terapi dan belajar. Anak autis tidak suka variasi karena lebih menyukai rutinitas yang sama serta kebiasaan berulang.

Sehingga guru harus membuat jadwal pembelajaran yang berurutan agar anak tersebut menyukai proses rutinitas belajar mereka. Jika sudah waktunya mereka


(22)

menggambar maka mereka harus diajarkankan menggambarkan karena anak autis tersebut sangat peka terhadap rutinitas yang dijalaninya dan menjadi suatu hal yang menjadi kesenangannya.

Seorang guru berkata kepada saya tentang kebiasaan dari rutinitas anak autis dan mengatakan (Roma, 34 tahun) :

“mereka ini macam artis dek semua sudah terjadwal kalau rutinitasnya atau waktu belajarnya kalau diganti-ganti mereka ini nangis bahkan gak maupun belajar. Makanya dari awal belajar sampai akhir belajar, materi pembelajaran mereka tetap itu saja dan tidak akan berganti”

Begitu juga pada saat diantarkan oleh orang tua kesekolah. Mereka harus tepat jadwalnya diantarkan kesekolah kalau tidak mereka menangis dan marah-marah dirumah. Hal ini pun saya ketahui dari pengakuan seorang guru terhadap saya. Pergantian jadwal belajar dapat diganti jika hanya dalam keadaan terpaksa atau keadaan tertentu. Tetapi guru harus mengeluarkan tenaga yang ekstra untuk membujuknya agar mau belajar dan melakukan hal yang sudah ditentukan guru.

Point-point ini sangat membantu anak agar lebih mau mengikuti pelajaran dan hingga saat ini sesuai dengan pengakuan guru-guru, cara ini cukup efektif dalam proses mengajar anak autis disekolah. Jadi guru harus benar-benar memiliki potensi untuk mengolah cara mengajar tersebut. Seorang guru berkata pada saya (Elvi, 27 tahun):

“kalau tidak ada cara ini dek mungkin susah untuk guru-guru disini untuk membuat susuasan belajar lebih menarik bagi anak. Kebetulan cara ini dibentuk oleh kepala sekolah yang baru ini, inilah kepala sekola kami yang sekarang sangat sering mengikuti seminar dan mencari informasi tentang


(23)

seputar pendidikan anak autis hingga cara ini bisa dibentuk oleh beliau dan terbukti memiliki hasil yang baik dalam membentuk teknik mengajar”.

Dalam 1 hingga 2 bulan sekali sekolah ini mengadakaan rapat khusus terutama bagi guru-guru diyayasan untuk membicarakan metode mengajar yang baru. Serta melakukan musyawarah tentang kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam mengajar selama mendidik anak. Setiap ada kesulitan yang muncul maka guru-guru akan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan dalam mengajar anak.

Hal ini bertujuan untuk membuat sekolah ini tetap memiliki metode mengajar yang baik dan membuat nama sekolah ini menjadi lebih baik. Karena dengan metode belajar yang diciptakan dengan menganalisis permasalahan yang ada dalam mengajar akan membuat proses terapi dan mengajar anak menjadi lebih baik. Sehingga menjadi ketertariakan orang tua untuk mempercayakan anaknya untuk disekolahkan di yayasan ini.

Pola mengajar anak autis memerlukan kesabaran bagi guru yang mengajarkannya. Kebiasaan-kebiasan yang di perbuat guru seperti memegang pensil terhadap anak autis, sehingga yang tadinya tidak bisa memegang benda menjadi bisa memegang benda karena kebiasaan memegang pensil yang dilakukan selama di sekolah. Selain itu penyesuain guru terhadap murid sangat diperlukan.


(24)

BAB IV

Interaksi Yang Terjadi Di Yayasan Tali Kasih Medan Dalam

Pembentukan Pola Mengajar

4.1. Interaksi Antara Guru Dan Anak Autis

Interaksi antara guru dan murid sangat perlu dibangun untuk menciptakan adanya hubungan yang baik agar proses belajar mengajar dapat berjalan baik. Interaksi itu bisa dari komunikasi, perbuatan atau tindakan dan sebagainya yang dilakukan oleh guru dan murid. Berinteraksi dengan anak autis jauh berbeda halnya dengan berinteraksi dengan anak normal. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh anak autis membuat Interaksi sosial sangat sulit dibentuk. Pengakuan seorang Informanmengatakan(Roma, 34 tahun):

“susah kali dek ngajak orang-orang ini(anak autis) bermain, bercanda dan berbicara apalagi kalau dia anak baru yang disekolahkan disini butuh waktu kali biar hanya untuk dia mau dekat aja sama gurunya tapi inilah tugas kami harus bisa buat anak-anak ini dekat sama kami biar gampang diajak belajar nantinya”.

Keluhan guru atas kendalanya disekolah ini merupakan suatu tugas yang harus dijalankan bukan hal yang membuatnya tidak betah untuk mengajar karena konsekuensi untuk mengajar diyayasan ini adalah kesukaran untuk menyesuaikan diri maupun emosi dengan anak autis.

Seseorang informan yang pernah menggemukakan kepada saya(Kartini, 31 tahun):

“kalau mau latihan emosi disinilah dek, kalau kita guru gak bisa ngeluhlah apalagi sempat emosi karena kalau kami guru-guru marah sama anak autis


(25)

ini konsekuensinya dia langsung engak suka sama kita yang ada gak mau dia kita ajarkan ujung-ujungnya dipecat jugalah”.

Setelah proses belajar mengajar selesai maka guru akan melakukan pendekatan terhadap anak diruang tunggu. Guru harus mampu menciptakan suasana nyaman terhadap anak serta guru harus mampu membuat anak didiknya seperti orang tuanya.

Pada saat melakukan pendekataan terhadap anak autis, guru harus memanjakan anak serta berbicara halus kepadanya. Ini telihat pada saat proses jam belajar selesai. Seorang anak duduk dipangkuan gurunya sambil dipeluk oleh gurunya. Hal ini menunjukan interaksi yang dibangun terhadap anak harus memiliki kedekatan khusus yang berbeda dengan murid normal lainnya. Tidak hanya dengan bercanda dengan guru, guru juga melakukan pendekatan terhadap anak dengan cara bermain sebisanya di ruang sekolah. Seperti bermain memantulkan bola dan melempar bola terhadap anak autis.

Selain dari pada kegiataan diatas, guru juga melakukan pendekatan terhadap anak dengan cara bernyanyi bersama. Dengan memutarkan musik guru dan anak didik saling bernyanyi dan dan bertepuk tangan. Kekompakan dan rasa nyaman yang diciptakan ini membuat seorang anak autis merasa betah sehingga memberikan efek baik terhadap gurunya dalam memberikan suatu pengarahan. Karena apabila anak sudah merasa dekat terhadap gurunya maka anak mau untuk diarahkan atas setiap ucapan gurunya.

Hal yang paling dihindarkan oleh guru ketika anak autis menangis, susah sekali untuk membujuknya melakukan hal yang seharusnya diarahkan oleh guru.


(26)

Selain pendekatan untuk menenangkan anak autis denga cara memberikan hal yang disukainya, terkadang anak ini tetap saja diam meskipun tidak menangis lagi. Guru akan melakukan tindakan dengan cara membiarkan anak tersebut sendirian tanpa mengganggunya, setelah beberapa menit kemudian, maka guru akan membujuknya dengan bahasa yang sangat halus agar anak tersebut merasa lebih tenang.

Terlihat ketika saya ada disekolah ini, seorang murid yang menangis karena terlau bosan belajar. Murid tersebut menangis dan mau minta pulang dan bertemu dengan orang tuanya. Gurupun terpaksa mengalihkan proses belajar mengajar dengan mengajaknya keluar dari ruangan dan duduk diruang tunggu yang ada di luar ruang kelas. Guru dan murid duduk bersampingan sambil guru menenangkan murid tersebut. Guru tersebutpun berkata kepada muridnya:

“ibu minta maaf ya nak. Nanti kita belajar lagi ya sekarang kita duduk dulu disini, leo kenapa menangis dan gak mau belajar lagi..bosan yah nak,, kalau gak mau belajar lagi nanti jadi bodoh, leo gak mau jadi orang hebat,nanti kalau jadi orang hebat mamanya belikin mainan sama leo”.

Dengan cara ini murid hanya bisa tenang dan terlihat mulai mau mengikuti kata-kata gurunya. Disini guru bekerja keras untuk melakukan cara agar murid dapat tenang apalagi saat menangis saat proses belajar.

Untuk meningkatkan hubungan baik antara guru dengan murid, terkadang diselah menungu orang tua saat murid hendak dijemput pulang, guru akan melakukan kegiatan seperti bermain, bermain musik dan membuat kerajinan seperti dari kertas lipat ataupun manik-manik. Kekompakan yang di jalin antara guru dan murid yang terus menerus dilakukankan membuat anak akan terus merasa nyaman terhadap


(27)

gurunya. Kesempatan untuk melakukan pendekatan ini sering dilakukan hanya pada saat murid yang menunggu jemputan orang tuanya.

Salah seorang guru berkata kepada saya, bahwa mereka harus mampu memanfaatkan waktu untuk bisa melakukan pendekatan sedekat-dekatnya dan terlihat memang pada saat proses belajar selesai guru dan murid seperti orang tua dan anaknya.

Gambar 4.1.1 Guru mengajar murid

Gambar di atas adalah proses saat belajar mengajar yang terjadi didalam kelas. Sistem belajar yang dilakukan dengan satu guru dan satu murid ini selain untuk memfokuskan materi yang diberikan terhadap anak, cara ini juga untuk meningkatkan rasa kenyamaan anak terhadap guru yang ada di dalam kelas karena dengan fokus


(28)

perhatian yang khusus yang diberikan terhadap anak akan meningkatkan interaksi terhadap guru dan anak didiknya.

Disini juga guru dituntut melatih interaksi anak, mulai dari berbicara, bergaul, dan sebagainya. Karena interaksi pertama berawal dari guru untuk kemudian biasa terhadap orang lain dilakukan. Cara guru untuk melatih interaksi anak dengan orang lain adalah dengan mengajak bermain bersama dengan teman sebayanya yang ada di sekolah. Bermain bersama teman-teman anak autis disekolah tetap di dampingi oleh guru mereka. Karena selain untuk menjaga anak yang sedang bermain, guru juga melihat perkembangan interaksi yang dilakukan anak autis terhadap anak autis lainnya. Sekalipun mereka bermain didalam ruangan sekolah, tetap anak autis akan dipantau oleh guru. Sistem belajar satu guru satu murid memang sangat membantu interaksi anak autis yang sangat susah berinteraksi dengan orang lain. Karena dengan sistem ini murid mulai berani berbicara dibantu dengan cara guru yang mampu memberi rasa nyaman terhadap anak pada saat belajar didalam kelas.

Pada saat melakukan olahraga juga terlihat guru memberikan dukungan yang luar biasa terhadap anak. Kendala terdapat pada fisik anak autis seperti berlari, meloncat sebagainya. Seperti saat berlari guru tetap mengikutinya dari belakang dan terkadang juga memegangnya agar tidak terjatuh selain itu juga memberikan semangat kepadanya agar berlari lebih cepat. Rasa perhatian yang diberikan guru membuat anak-anak disekolah ini semakin dekat terhadap guru. Sehingga interaksi antara guru dan anak autis cukup berjalan dengan baik melalui usaha yang dibangun oleh guru-guru yang ada disekolah.


(29)

4.2. Interaksi Antara Guru dengan Guru

Hubungan yang kondusif juga harus mampu diciptakan oleh sesama guru disekolah ini. Kerja sama antara guru selalu yang diutamakan agar sistem dan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik. Sikap profesional harus ditunjukan oleh guru dalam arti tidak membawa urusan pribadi kedalam sekolah.

Disekolah ini sangat sering terlihat antara guru saling membantu dan saling memotivasi. Sikap anak autis yang bermacam-macam terkadang membuat guru harus saling membantu dalam mengatasinya. Rasa saling peduli yang selalu ditunjukan oleh guru diyayasan ini Karena mereka tau betapa sulitnya mengajar anak autis dan memahami setiap kemauan dan sikapnya yang harus di ikuti.


(30)

Gambar 4.2.1

Gambar diatas terlihat guru yang sedang membujuk seorang anak didik untuk mau belajar. Awalnya pak Herman berusaha dan membujuk anak tersebut untuk belajar tetapi anak tersebut menolak untuk belajar dan mau pulang. Ibu Endang yang awalnyanya sedang mengajar anak didiknya, harus meninggalkan sebentar anak didiknya karena melihat pak Herman sangat kesusahaan dalam mengatasi anak tersebut. Kedua guru inipun saling berusaha menenangkan anak didik tersebut hingga anak tersebut mau kembali masuk kedalam kelas dan belajar. Kerjasama yang diperlihatkan kedua guru ini menunjukan kepedulian yang sangat baik, karena ibu Endang baru masuk keruangannya sampai anak didik pak Herman mau masuk kelas dan belajar.


(31)

Kerjasama seorang guru juga pernah terdengar saya pada saat seorang guru mengeluh anak didiknya terhadap seorang guru lainnya. guru tersebutpun megeluh seperti ini (Agustini, 30 tahun):

“agak susah bu ngajar si riski ini selain dia lasaknya luar biasa, susah kali diajak belajar, jadi kebanyakaan saya ajak bermain biar dia merasa tertarik belajar sama saya”.

Guru yang mendengar keluhan tersebut langsung merespon tanggapan guru yang mengalami kesulitan tersebut dan memberikan arahan dan motivasi terhadapnya. Berbagai cara diterangkan terhadap guru yang mengalami kesulitan tersebut, bertepatan guru yang memberi solusi ini adalah guru yang lebih lama mengajar disekolah ini. Terlihat guru yang mengalami kesulitan tersebut merasa lebih semangat atas respon yang diberikan guru yang memberikan masukan.

Komunikasi yang baik juga diperlihatkan oleh sesama guru, selama masi didalam sekolah mereka selalu menggunakan bahasa yang sopan dan bahasa yang baku, kedisiplinan mereka dalam berbicara bertujuan juga untuk memberikan pengaruh baik terhadap anak autis yang melihat dan mendengar. Setiap waktu istirahat makan siang, guru selalu melakukannya secara bersama di ruang istrahat yang ada disekolah. Kebersamaan mereka makan juga disertai cerita-cerita bahkan bercanda kecil terhadap sesama guru.

Sering juga terlihat keakraban antara guru diselah-selah istirahat guru dengan membicarakan hal lain di luar dari masalah sekolah. Seperti terdengar oleh saya perbincang seorang guru yang membicarakan tentang model kebaya.


(32)

“bu, kemarin saya beli bahan kebaya disentral 400 ribu bahan nya bagus, tapi belum tau modelnya bikin seperti apa, tambah lagi biaya jahit 500 ribu lebih mahal dari bahannya”.

Respon yang baikpun langsung ditunjukan oleh guru yang lainnya. Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga menemukan solusi bagaimana model baju yang hendak dijahit serta dimana toko jahit yang yang murah. Sering sekali kegiatan para yang lain diluar sekolah menjadi topik pembicaraan mereka pada saat jam-jam istirahat. Mereka selalu menunjukan kebersaman dalam menyelesaikan masalah dan menanggapi setiap pembicaraan antara satu guru dengan guru lainnya.

Berbeda dengan sekolah lainnya, disekolah ini sangat sulit diberikan izin terhadap guru untuk keluar dari sekolah untuk melakukan kegiatan lain terkecuali sakit untuk berobat. Hal ini dikarenakan anak autis yang diajarkan tidak boleh sering-sering diajarkan oleh guru yang berbeda-beda karena dapat menggangu kenyamanan dari anak tersebut. Jadi seorang guru harus menyelesaikan proses belajar anak dahulu baru bisa di izinkan oleh pihak kepala sekolah untuk keluar itupun harus dengan alasan yang pasti dan urusan yang sangat penting.

Selama saya melakukan kegiatan penelitian disana tidak ada guru yang berani bolos keluar sekolah ataupun izin sesuka-sukanya untuk melakukan kegiatan diluar sekolah. Kedisiplin guru untuk menanggung jawab setiap anak didiknya harus memiliki target terhadap kesembuhan anak autis. Diberikan target 1 hingga 2 tahun untuk seorang guru dalam proses penyembuhan anak kearah yang lebih baik. Sehingga sesama guru disini selalu mencari metode baru dan bekerjasama terhadap anak autis terutama anak yang sangat sulit untuk diajarkan.


(33)

Setiap akhir bulan sekolah ini wajib melakukan kegiataan diluar sekolah selain meningkatkan wawasan anak tentang wawasan diluar sekolah, kegiatan ini juga membantu hubungan yang baik terhadap sesama guru dalam menjaga anak secara bersama-sama. Kesempatan ini juga dimanfaatkan guru juga sebagai kegiatan berlibur bersama antara guru dengan guru dan murid dengan murid juga.

Seorang guru pernah bercerita kepada saya tentang kegiatan mereka dalam mengikuti kegiatan diakhir bulan(Endang, 37 tahun).

“kalau udah akhir bulan dek kami semua guru kerja keraslah menjaga anak ini semua, apalagi anak autis ini kalau diajak jalan-jalan keluar ada saja permasalahan yang muncul seperti nangis terus lah mau minta pulang, harus mau yang itu dan ini, jadi harus ekstra kerjasamalah kami semua kalau ada murid yang bertingkah aneh”.

Kepedulian sesama guru tetap ditunjukan dan dilakukan terus dalam menciptakan Susana yang baik antara sesama guru. Setiap guru juga memiliki kekompakan dalam menggunakan pakaian setiap mereka melakukan kegiatan di luar sekolah atau jalan-jalan dengan anak autis. Pakaian mereka memang sudah ditentukan oleh sekolah sebagai wujud kerapian, keseragaman dan kebersamaan.

4.3. Interaksi Sesama Anak Autis dengan Anak Autis

Interaksi sesama anak autis sangat jarang terlihat disekolah ini, hal ini dikarenakan sifat mereka yang sangat menyendiri. Hanya pada saat diajak oleh guru bermain bersama mereka terkadang mau bermain dan menunjukan sedikit interaksi bermain. Kendala terbesar mereka adalah adalah pada komunikasi mereka. orang yang normal saja sangat sulit memahami perkataan mereka, apalagi anak


(34)

autis-sesama anak autis yang sangat sulit untuk berbicara serta memahami setiap pembicaraan.

Disini guru yang memiliki peran besar untuk membantu interaksi sesama anak autis. Guru sering mengalihkannya dalam sistem bermain, dengan bermain sebisanya diruang yang ada disekolah mereka dilatih untuk saling berbicara dan berinteraksi terhadap sesama teman sebayanya.

Selain dari bermain juga, guru melatih interaksi sesama anak autis dengan kegiatan-kegiatan kecil yang ada disekolah. Menggambar dan mewarnai bersama-sama juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk melatih interaksi sesama anak autis. Disini anak akan bersama-sama mengambar dan mewarnai dengan menggunakan peralatan tulis dan gambar yang sama, tidak milik sendiri-sendiri. Terkadang mereka terlihat saling membantu memberikan pensil warna, saling melihat gambar satu dengan yang lainnya dan sekali-sekali berbicara singkat seperti memberikan pensil warna dan sebagainya.

Seorang informan pernah mengatakan kepada saya tentang interaksi anak autis dengan anak autis lainnya(Endang, 37 tahun).

“sampai kapanpun sebelum mereka sembuh 80 persen, susahlah sesama anak autis disini saling berinteraksi jadi kita para guru yang membuat mereka untuk saling berinteraksi seperti bermain dan melakukan kegiatan-kegiatan yang ada disekolah ini.

Bermain bersama-sama antara anak autis disekolah ini merupakan salah satu bentuk terapi interaksi terhadap anak yang saling bermain.


(35)

Interaksi terhadap anak juga dapat dilihat pada saat anak melakukan kegiataan olah raga. Setiap pada mata pelajaran olahraga maka semua anak autis sesuai dengan jam gelombang belajarnya akan melakukan olahraga secara bersama-sama. Kegiatan yang sering dilakukan adalah lomba berlari dan juga melompat. Hal ini bertujuan untuk melatih fisik dan juga otot anak autis yang kaku dalam melakukan pergerakan. Setiap anak saling berteriak terhadap sesama temanya dan saling berlomba menjadi yang tercepat tanpa ada rasa malu dari setiap lari yang mereka lakukan. Jelas berbeda ketika anak autis berlari dengan anak normal, ketidak sempurnaan mereka berlari menjadi suatu kebersamaan terhadap sesama teman mereka dan membuat mereka tetap percaya diri dilingkungan sekolah.


(36)

Gambar diatas menjelaskan kegiataan olahraga anak yang dilakukan bersama dimana seorang guru tetap mendampingi anak saat belajar. Meskipun dengan keterbatasan fisik anak autis, mereka tetap bersemangat melakukan kegiatan ini dengan semangat bersama teman-teman sebaya mereka dengan rasa percaya diri terhadap sesama teman.

Susah untuk anak autis dapat melakukan interaksi dengan kemauan mereka sendiri. Dengan kegitan yang dibentuk oleh sekolah mereka dapat berinteraksi lebih baik. Melalui media musik juga mereka dapat berinteraksi bersama dengan bernyanyi bersama-sama dan bergembira bersama membuat kontak indera mereka terlatih seperti melatih fokus mata anak autis dalam berbicar ataupun menangggapi perintah orang lain dan melatih rangsangan pendengar anak dalam merespon suara yang ada disekitarnya.

Interaksi antara sesama anak autis di sekolah ini juga dapat dilihat dari membuat kerajinan dari kertas lipat. Setiap anak dibuat bekerjasama dalam membuat aneka bentuk dari kertas lipat dengan arahan dari guru. Jelas terlihat interaksi mereka dapat dilihat disini. Mereka sudah berani untuk meminjam alat seperti gunting ,lem dan sebaginya kepada sesama temanya dengan komunikasi yang singkat.

Seorang guru mengaku terhadap saya bahwa kegiatan seperti ini dapat membantu interaksi mereka. seperti pengakuan ibu Endang terhadap saya, bertepatan pada waktu anak membuat tikar mini dari kertas lipat.

“lihatlah itu dek sudah maukan ngomong sama kawanya untuk minjam pengaris meskipun dengan kata-kata yang singkat, buat kami para guru ini peningkatan yang perlu diperhatikan”.


(37)

Terlihat memang mereka mulai saling merespon orang yang ada disekitarnya melalui kegiatan ini. Kegiatan ini merupakan kegiatan diluar belajar yang sudah ditentukan untuk melatih interaksi anak. Kegiataan ini biasanya sering dilakukan pada saat sudah selesai belajar secara peribadi dan sambil menunggu orang tua menjemput anak, guru akan melakukan kegiatan ini.

4.4. Interaksi Kepala Sekolah dengan Guru

Kepala sekolah memiliki peran penting di dalam memberikan suatu kontribusi baik itu berupa metode pembelajaran, interaksi disekolah dan sistem yang berjalan disekolah tersebut. Kepala sekolah Tali Kasih memiliki potensi yang cukup baik dalam menjalankan semua kegiatan yang berlangsung di Sekolah tersebut. Seperti metode-metode pembelajaran yang dijelaskan di Bab tiga, hampir semua metode pembelajaran tersebut di bentuk oleh kepala sekolah dengan musyawarah yang dilakukan terhadap semua guru. Kepala sekolah memiliki hubungan yang baik terhadap guru yang ada disekolah tersebut. Semua itu dapat dilihat dari cara kepala sekolah berkomunikasi dengan guru dan berperilaku dengan guru. Kepala sekolah selalu menggunakan bahasa yang sopan terhadap guru, berdiskusi dan selalu menerima menanggapi guru-guru tersebut.

Ada seorang guru yang mengatakan kepada saya bahwa kepala sekolah sekarang lebih aktif dalam mencari metode-metode pembelajaran untuk memajukan sekolah ini, guru tersebutpun mengatakan(Roma, 34 tahun):


(38)

“Ia dek kepala sekolah kami yang sekarang ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kepala sekolah lain, bukan berarti kepala sekolah yang sebelumnya tidak baik, tapi kepala sekolah sekarang sangat-sangat lebih aktif dalam memajukan sekolah ini, keapala sekoalah kami ini rajin sekali mengikuti seminar anak autis, rajin sekali membeli buku tentang anak autis sebagai refrensi sekolah dan bahkan kepala sekolah kami sangat bergaul dengan dokter psikologi yang ada diluar”

Terlihat kontribusi yang besar sangat ditunjukan oleh kepala sekolah dalam memajukan sekolah ini . Hal ini yang membuat kepala sekolah sekarang tetap memimpin sekolah ini hingga sampai sekarang. Pembicaraan sayapun dilanjut oleh guru tersebut dengan mengatakan kepala sekolah sekarang selalu memberikan rasa nyaman terhadap guru-guru yang ada disekolah. Setiap guru yang mengalami kesulitan dalam mengajar selalu diberikan motivasi dan solusi dalam mengajari anak. Guru tersebut pun mengatakan kepada saya tentang kepala sekolah saat memberikan motivasi terhadap guru yang kesusahan mengajar anak didiknya yang hiperaktif:

“ pernah sekali dek, ada dulu guru yang kesusahaan mengajar anaknya, kebetulan anaknya didiknya ini hiperaktif sekali, bergerak sana-sinilah, lari sana sinilah hampir setreslah gurunya. Kepala sekolah kami inipun ngak tinggal diam melihat kejadian tersebut Beliau langsung masuk kedalam ruangan dan membantu guru tersebut dan memberilkan arahan yang tepat untuk mendiamkan anak yang hiperaktif tersebut”.

Kepala sekolah menunjukan interaksiyang baik terhadap guru-guru yang ada disekolah tersebut. Sikap peduli terhadap guru diluar dari kegiatan utamanya, kepala sekolah tetap memberikan contoh dan rasa peduli yang baik terhadap guru.Tidak hanya itu, kepala sekolah juga meluangkan waktunya pada saat jam istirahat terhadap guru-guru disekolah. Mereka makan bersama diruang istirahat sekolah sambil berbincang-bincang dengan para guru lainnya tanpa ada rasa perbedaaan jabatan


(39)

disekolah. Kepala sekolah berbicara layaknya terhadap teman tetapi tetap menggunakan bahasa yang sopan terhadap semua guru.

Kehebatan kepala sekolah ini juga selain tugas beliau sebagai kepala sekolah tetapi beliau juga mau mengajarkan anak autis di sekolah ini. Seorang guru mengatakan kepada saya tentang kepala sekolah yang mau mengajar juga(Elvi, 27 tahun):

“beda kepala sekolah kami ini dek, sebenarnya cukup banyak kegiataanya sebagai kepala sekolah kami ini, tapi disempatkannyalah untuk mau mengajar. memang sih uang tambah-tambah uang masuknya, tapi beliau tetap tidak teledor dalam menjalankan semua kegiatannya”.

Keakraban kepala sekolah dengan guru-guru disekolah tersebut tidak hanya sampai disitu. Guru tersebutpun melanjutkan cerita tentang kepala sekolah yang begitu baik terhadap guru-guru yang ada disekolah, guru tersebut mengatakan:

“Setiap kali keapala sekolah kami ini keluar dek, misalnya ada urusan kepentingan sekolah atau kepentingan yang lain, selalu ada saja buah tangan yang dibawakan beliau kepada guru-guru disini keseringan sih memang makanan tapi kami para guru cukup merasa senang atas perlakuan beliau terhadap kami”.

Memang seorang kepala sekolah harus mampu menciptakan suasana yang baik dilingkungan sekolah. Karena sekolah ini merupakan organisasi kecil yang didalamnya terdapat sistem dimana didalam sistem tersebut terdapat sub sistem dan guru merupakan sub sistem yang ada disekolah ini. Kepala sekolah sangat memahami konsep daripada sistem ini sehingga kepala sekolah mampu menguasai lingkungan yang ada di dalam sekolah.


(40)

Banyak ide yang diciptakan kepala sekolah untuk membuat sekolah ini tetap mengalami kemajuan baik itu dari segi pendididkannya maupun interaksi yang baik didalam sekolah. Pernah beberapa kali saya berbicara dengan kepala sekolah tentang membangun metode pembelajaran disekolah tersebut. Beliau pernah mengatakan bagaimana beliau selalu menanggapi setiap permasalahaan yang ada didalam sekolah tersebut baik itu masalah pendidikan maupun interaksinya, beliaupun mengatakan:

“setiap bulannya saya dek selalu membuat rapat khusus untuk semua para guru, kami rapat disalah satu ruang disekolah ini. saya mengumpulkan setiap masalah yang dihadapi guru dalam mengajar dan saya memberi semua kesempatan terhadap guru untuk berbicara. Saya tanggapin semua keluhan dan masukan dari guru dan kami semua mencari solusi bersama dalam mencari jalan keluarnya”.

Rapat yang dilakukan sekali sebulan inipun memiliki tanggapan yang baik bagi semua guru-guru yang ada disekolah tersebut . seorang guru pernah bercerita kepada saya tentang rapat yang dilakukan sekali sebulan ini, guru tersebut mengatakan(Roma, 34 tahun):

“Inilah bijaknya kepala sekolah kami ini dek. Rapat yang dilakukan sebulan sekali ini memiliki banyak fungsi sama kami guru-guru. Jadi kami rapat itu bukan hanya kalau ada permasalahan disekolah saja, jadi sebelum permasalahaan ada saja kami rapat. Jadi buat kami guru-guru disini tindakan ini sangat baik jadi kami bisa saling tukar pendapat terhadap kegiataan belajar yang kami lakukan selama sebulan penuh”.

Melalui rapat ini terlihat, kepala sekolah mampu menciptakan interaksi yang baik disekolah. Karena rapat yang bersifat musyawarah ini, selain menyelesaikan masalah pendidikan disekolah tersebut serta dapat juga meningkatkan hubungan yang baik terhadap para guru.


(41)

Keramahan dan kesopanan kepala sekolah dan sikap tegas yang yang memimpin menjadi teladan dan contoh terhadap para guru yang ada disekolah. Sikap yang dilakukan kepala sekolah mampu memberi pengaruh terhadap lingkungannya. Kepala sekolah pernah mengatakan kepada saya sedikit tentang cara beliau membangun interaksi yang ada disekolah:

“yah gini lah dek, saya kepala sekolah berarti saya yang memimpin guru-guru ini, saya harus mampu membuat Susana baik, terutama peduli terhadap permaslahan mereka dalam mengajar. semua pasti berawal dari saya kalau saya gak mampu buat sekolah ini nyaman gimana guru-guru disini bisa tetap bertahan mengajar apalagi yang dijarkan anaknya tidak seperti anak biasanya”.

Beliau bercerita tepat pada saat setelah membantu seorang guru yang susah membujuk anaknya untuk belajar. Semua metode-metode yang diciptakan kepala sekolah mulai dari metode pembelajaran dan interaksi yang dibangunnya mendapatkan respon yang baik dan hingga sekarang semua metode tersebut dijalankan di sekolah tersebut.

4.5. Interaksi Guru dengan Orang Tua Murid

Interaksi orang tua murid dengan sekolah sangat diperlukan oleh kedua belah pihak dalam membantu proses peningkatan perkembangan anak. Guru dan orang tua harus menjalin hubungan komunikasi yang baik selama proses penyembuhan anak disekolah berjalan. Guru memang membuat buku pengantar sebagai alat komunikasi tentang perkembangan anak selama disekolah.


(42)

Terlihat memang pada saat anak dijemput oleh kedua orang tuanya, guru dan orang tua menyempatkan waktu untuk berbicara mengenai perkembangan anaknya. Semua perkembangan-perkembangan anak disekolah selalu diceritakan kepada orang tua begitu juga dengan orang tua dari anak didik, semua keluhan-keluhan dan kekurangan anak selama di rumah selalu diceritakan orang tua anak autis. Semua cerita antara guru dan orang tua menjadi sebuah pembenahan terhadapa anak untuk dapat di proses perkembangannya.

Percakapan antara orang tua murid dan gurupun selalu tidak hanya mengarah kepada pendiddikan anak saja. Untuk meningkatkan rasa interaksi yang baik antara kedua belah pihak, guru dan orang tua juga terkadang membicarakan tentang hal-hal lain agar Suasana akrab tetap tercipta.

Pernah sekali ketika orang tua yang sedang menjemput anaknya, bertepatan orang tua dari murid ini baru saja belanja dari salah satu mall di Medan dan membawa barang yang belanjannya cukup banyak. Penyapaan guru terhadap orang tua murid tersebutpun terlihat begitu akrab dan terdengar percakapan mereka seperti berikut:

“Borong yah bu, belanja apa saja bu, ada gak dibawakan untuk saya (sambil guru tertawa kecil). Og belanja dari dari central tadi bu beli keperluan rumah tangga juga sekalian beberapa pakaian (kata orang tua murid tersebut). Og yah bu ini saya ada bawa makanan tadi saya beli dari central juga ada banyak ini bu sekalian dibagi sama guru-guru yang lain”.

Keakraban guru dengan orang tua disekolah ini seperti teman dekat yang tidak ada rasa malu antara kedua belah pihaknya. Sering juga orang tua didik memberikan sesuatu kepada guru yang mengajar anaknya. Pernah sekali terdengar percakapan


(43)

antara orang tua yang memberikan sesuatu terhadap guru yang mengajar anaknya. Sambil memberikan sesuatu orang tua tersebutpun mengatakan:

“oh iyah bu, ini ada kue juga ada sepatu saya belikan sama ibu kemarin habis belanja dari olimpia, beli beberapa baju juga sih sekalin terlihat saya sepatu ini kayaknya cocok sama ibu. Dipakai yah bu. ibu tetap semangat yah ngajar anak saya yang agak susah belajar ini”.

Respon baikpun diberikan guru tersebut terhadap orang tua yang memberikan hadiah kepada guru sambil mengucapkan:

“oalah bu terimakasi banyak lah bu, tanpa ibu beri juga sudah tanggung jawab saya untuk tetap semangat mengajar anak ibu. Terimakasi banyak lah bu buat semua ini”.

Orang tua memang terlihat di sekolah ini berusaha menciptakan hubungan yang baik terhadap guru. Sering sekali orang tua memberikan sesuatu terhadap guru disekolah ini agar anaknya lebih diperhatikan lagi dan tetap semangat dalam mengajarkannya. Orang tua selalu menunjukan sikap pedulinya juga terhadap guru-guru. Pada saat mengantar maupun menjemput anaknya, orang tua selalu menyempatakan untuk berbicara terhadap guru. Apalagi pada saat menjemput anak, orang tua dan guru selalu meluangkan waktu untuk berbicara. Terdengar juga percakapan antara guru dengan orang tua, guru tersebutpun mengatakan:

“Si Jasmin ini sudah mulai bisa menulisnya bu perkembangan cukup maju dalam menulis juga memegang sesuatu yang dipegangnya. Orang tua tersebutpun mengatakan, og iya bu makasilah atas usahanya, dirumah juga

saya akan tetap latih si Jasmin menulis biar makin cepat


(44)

Terkadang orang tua juga memberikan tawaran terhadap guru untuk datang kerumah mereka. Terlihat usaha orang tua yang selalu memberikan pendekatan baik terhadap guru agar anaknya bisa diutamakan disekolah dan lebih diperhatiakan. Sering juga percakapan bercanda ditunjukan antara guru dan orang tua murid terdengar disekolah sebagai wujud kedekatan antara kedua belah pihak.

4.6. Interaksi Antara Orang Tua Murid dengan Orang Tua Murid Lainnya. Interaksi antara orang tua murid dengan orang tua murid lainnya juga terlihat disekolah ini. terkadang orang tua murid kecepatan menjemput anaknya, sering juga orang-orang tua murid bertemu diruang tunggu sambil menunggu anaknya pulang. Mereka sering berbicara mengenai anak-anak mereka, sering juga mereka saling memberikan masukan terhadap satu dengan yang lainnya.

Pernah juga terdengar saya percakapan antara orang tua yang sedang menunggu anaknya pulang, mereka berbicara pelan dan terdengar:

“og iya bu, selain anak saya diajarkan disini saya juga mengobati anak saya melalui terapi dokter di daerah sei Rotan. Biar cepat bu penyembuhan anak saya ini kasihan lihatnya susah kali bermain dengan anak normal lainnya”. Mereka saling bertukar pikiran dan saling memberikan masukan terhadap anak mereka agar penyembuhan anak mereka dapat cepat teratasi.

Sering juga sesama orang tua murid bercerita tentang keluhan anak-anak mereka. Terkadang ada orang tua juga yang memberikan masukan sesuai dengan yang dialami oleh anakya. Bahkan sesama orang tua memberikan masukan untuk mengikuti pengobatan dokter ahli di luar selain mengikuti proses penyembuhan


(45)

disekolah ini. masukan demi masukan dan pengalaman juga sering menjadi topik pembicaraan kedua orang tua saat menunggu anaknya pulang.

Pecakapan terhadap sesama orang tua tidak hanya sekedar bercerita tentang keluhan-keluhan mereka terhadap anaknya. Sering juga mereka terlihat bercanda dan menunjukan kedekatan mereka disekolah tersebut. Terkadang sesama orang tua sering belanja bersama keluar sambil menuggu anaknya pulang sekolah jika tidak ada kegiatan lagi setelah mengantarkan anaknya sekolah.

4.7. Interaksi Guru dengan Pemerintah

Interaksi guru dengan pemerintah tidak terlihat di sekolah ini. Sekolah ini memang berbeda dengan sekolah lainnya. kurikulumnya saja dibentuk oleh sekolah ini sendiri. Kurikulum tidak pernah menjadi masalah terhadap sekolah, kemampuan sekolah dalam menciptakan metode pembelajaran membuat interaksi antara sekolah dan pemerintah semakin tidak terlihat disekolah ini.

Seperti sekolah pada umunya, terkadang 1 hingga 3 bulan antara sekolah akan mengadakan rapat antara sesama guru didinas pendidikan diMedan. Tapi disekolah ini tidak terlihat kegiatan itu dilakukan. Bantuan pemerintah dalam memberikan dana gaji terhadap guru dan juga sekolah tidak pernah didapatkan, hal ini dikareanakan sifat sekolah yang non formal. Tidak adanya campur tangan pemerintah terlihat tidak ada perkembangan yang diberikan terhadap guru terutama perkembangan dan bantuan dalam memperoleh gaji dalam mengajar.


(46)

Interaksi sangat perlu dibangun di dalam sekolah, karena hubungan yang baik antara satu dengan yang lainnya sangat membantu setiap sistem yang berjalan di dalam sekolah tersebut. Seperti di Yayasan Tali Kasih Medan, interaksi yang terjadi di dalam sekolah berjalan cukup baik. Hal ini dapat meningkatkan sistem pendidikan di sekolah tersebut.

Kurangnya interaksi antara pemerintah dengan Yayasan Tali Kasih membuat sekolah ini memiliki peningkatan yang lamban dalam mengembangkan pendidikan anak autis di kota Medan. Padahal setiap manusia berhak mendapat pendidikan yang tanpa ada pengecualian. Disini pemerintah tidak menunjukan perhatiannya terhadap pendidikan anak autis secara mendalam.

Setiap organisasi pendidikan membutuhkan interaksi yang baik terhadap semua bagian yang terkait di dalamnya agar pendidikan tersebut dapat berjalan lebih baik dan mengalami kemajuan.


(47)

BAB V

Pembentukan Karakter Anak Autis

5.1. Metode Pembelajaran yang di Bentuk Sekolah dalam Pembentukan Karakter Anak

Setiap sekolah memiliki materi pembelajaran yang sama terhadap pendidikan anak autis baik itu sekolah negeri maupun sekolah swasta. Karena materi pembelajaran dasar seperti membaca, menulis, menggambar, membedakan warna, mengenal gambar dan mengasah bakat anak autis adalah hal yang harus di lakukan sekolah agar menjadi sebuah kebiasaan di saat anak sudah memasuki sekolah normal biasanya. Karena melalui materi pembelajaran tersebut merupakan suatu terapi juga terhadap anak autis dari kebiasaan kegiatan sekolah-sekolah pada umumnya. Serta yang membedakannya metode penyampain materi terhadap anak dan juga alat-alat terapi yang digunakan dalam proses penyembuhan anak autis.

Sekolah memiliki metode-metode yang sudah dibentuk berdasarkan informasi tentang pendidikan anak autis serta musyawarah yang dilakukan antara semua guru. Metode pembelajaran ini bukan lain adalah sebagai materi pembelajaran yang harus dilakukan oleh murid yang ada disekolah. Setiap metode yang dibentuk sekolah harus dipahami guru dan diterapakan terhadap anak dalam setiap mengajar. metode pembelajaran dan kurikulum sekolah dibentuk oleh sekolah itu sendiri tanpa adanya arahan dari dinas pendidikan sebagai standarnisai pendidikan nasional. Disini sekolah harus mampu menciptakan kurikulum pembelajaran sesuai yang dibutuhkan oleh


(48)

kebutuhan anak yang diajarkan. Tidak adanya ikatan dinas dalam menentukan kurikulum sekolah bukan berarti sekolah nonformal ini tidak memiliki sistem pembelajaran yang terstruktur. Semua sistem yang dibentuk sekolah terstruktur dan sistematis.

Kurikulum yang digunakan oleh sekolah adalah Applied Behaviorial Analysis(ABA) atau secara ringkas dapat diartikan sebagai suatu teknik yang telah disusun secara sistematis untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan meningkat perilaku yang diharapkan.

Secara lebih jelas lagi pengertian Applied Behaviorial Analysis dibagi mejadi dua kata yaitu:

• Applied adalah meletakkan penugasaan pada kondisi yang nyata.

• Behaviorial Analysis

Observasi dan analisis yang dilakukan untuk obyek perilaku tertentu dengan tujuan untuk merubah atau menciptakan perilaku yang baru yang diinginkan.

Teknik yang menjadi kurikulum disekolah ini didapatkan pihak sekolah dari informasi seputar pendidikan anak autis di internet, seminar anak autis serta buku-buku tentang pendidikan anak autis. Teknik ini merupakan teknik yang dikemukan oleh Ivar Lovaas, seorang ahli psikologi asal amerika pada tahun 1960-an. Teknik ini memiliki tingkat keberhasilan yang sangat memuaskan bagi penderita anak autis sehingga teknik ini kebanyakan menjadi pedoman yang digunakan banyak sekolah


(49)

anak autis. Sekolah memilih kurikulum ini karena dianggap cukup efektif dalam proses penyembuhan anak autis melalu sistem belajar dan sistem terapainya. Sehingga kepandaian sekolah dalam memanfaatkan kurikulum ini membuat banyak anak didik disekolah ini menjadi lebih baik. Dari kurikulum inilah muncul metode-metode pembelajaran yang ada disekolah ini dan hingga sekarang metode-metode pembelajaran yang dijalankan berjalan baik dan tetap digunakan dalam proses pendidikan anak disekolah.

Di sekolah ini tidak ada pemisahan materi ataupun metode pembelajaran terhadap anak autis. Anak autis memiliki gangguan yang berbeda-beda dalam berperilaku, berinteraksi dan berpikir, akan tetapi sekolah tidak memberikan pembedaan ataupun pemisahaan metode pembelajaran dalam penyembuhan anak. Semua materi dan metode pembelajaran disamakan terhadap semua anak autis.

Seperti yang di kemukakan oleh salah seorang guru (Roma, 34 tahun):

Kalau kita tidak ada pemisahan ataupun pembedaan dalam mengajarkan anak autis dek. Gangguan anak autis memang berbeda-beda tapi kami tetap sama ratakan materi dan metode pembelajarannya. Hanya saja untuk anak autis yang hiper aktif dan di bawah lima tahun perlu bantuan 2 guru dalam mengajarkannya.

Mengajar anak autis yang hiper aktif membutuhkan 2 guru di karenakan agar guru dapat bekerja sama antara mengajar dan menjaga gerak anak yang berlebihan untuk tidak menganggu proses belajar. Sementara anak yang di bawah lima tahun membutuhkan 2 guru dalam menggajarkanya karena sifatnya yang masih perlu di arahkan atau di bimbing dan di bantu oleh guru dalam mengerjakan sesuatu. Seperti


(50)

saat menulis guru yang menerangkan huruf dari depan danada guru yang membantu anak dalam menulis dari belakang anak autis, seperti memegang pensil dan menggerakan tangan anak dalam menuliskan huruf.

Ada beberapa metode dalam sistem pembelajaran yang diberikan sekolah terhadap anak disekolah ini metode-metode ini dijalankan setiap harinya yang termasuk juga sebagai bentuk terapi anak dalam proses pembelajaran untuk membentuk karakter anak secara individu melalui media pembelajaran.

Adapun beberapa bentuk metode pembelajaran yang dibentuk sekolah adalah sebagai berikut:

1. Membentuk Kepribadian Anak untuk Mandiri.

Membentuk kepribadiaan anak untuk mandiri adalah salah satu hal yang dilakukan guru terhadap anak autis. Membuat anak autis menjadi mandiri merupakan pekerjaan berat guru-guru di sekolah ini. Karena butuh waktu yang cukup lama untuk melatih kemandiriaannya, bahkan bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Proses pembentukan kemandirian anak dilakukan dengan cara perlakuan atau tindakan yang setiap pertemuannya atau proses pembelajarannya akan terus dilakukan hingga anak dapat melakukannya lebih baik. Proses kemandirian yang dibentuk dilakukan berdasarkan keinginan orang tua atas tindakan seorang anak dalam kesehariannya dirumah. Misalnya orang tua yang memiliki anak autis melihat anaknya susah dalam menggunakan pakaian dan membuat orang tua harus memakaikannya setiap hari. Hal ini yang menjadi permintaan orang tua atas


(51)

kelemahan anaknya dalam melakukan kesehariaan dirumah. Setiap keluhan orang tua atas kurang mandirinya anak di rumah akan diberitahukan kepada guru yang mendidik anaknya dan meminta guru tersebut untuk melakukan terapi dan pembelajaran agar bisa mendiri.

Seperti cerita seorang guru terhadap saya tentang keluhaan orang tua anak didiknya yang tidak bisa makan menggunakan sendok dan harus di suapin setiap hari hanya untuk makan.

“Seperti Amelia ini dek.. orang tuanya minta kepada saya agar anaknya bisa makan sendiri tanpa harus disuapin setiap harinya, bahkan memegang sendok saja amelia tidak bisa melakukannya” Hal ini merupakan salah satu ciri dari anak autis karena adanya ganguan sensorik dan motorik pada anak sehingga susah untuk memegang benda seperti sendok dalam penggunaan yang sebenarnya.

Seorang guru harus melakukan tindakan terapi terhadap anak seperti ini. Setiap harinya orang tua dari Amelia ini membawakan makan beserta perlengkapan makan untuk terus diajarkan oleh guru disekolah tersebut. Cara yang dilakukan guru adalah hal biasa dengan menyuruh anak tersebut makan sendiri dengan sedikit bantuan dari guru. Hanya saja guru akan melakukan suara yang lebih tegas terhadap anak tersebut apabila anak tersebut tidak mau melakukan makan sendiri. Perlakuan yang tidak manja yang dilakukan oleh guru terhadap anak autis ini dapat membentuk kemandirian anak dengan melakukan secara berulang-ulang dan terus menerus setiap kali perjumpaan hingga akhirnya menjadi kebiasaan anak dalam melakukanya dan yang


(52)

tadinya tidak bisa makan sendiri, sekarang mampu makan sendiri. Perlakuan ini cukup membutuhkan waktu yang lama, untuk membuat anak ini bisa makan sendiri guru memberikan perlakuan selama 6 bulan dari 5 pertemuan dalam seminggu.

Perlakuan terhadap kemandirian anak dilakukan guru adalah dengan cara melakukan kegiatan yang menjadi kelemahan anak tersebut setiap kali perjumpaan dengan sikap yang tegas dan disiplin yang membuat anak tersebut tidak manja akan membantu proses pembentukaan kemandirian anak lebih baik.

2. Mengenal Angka dan Huruf

Mengenal angka dan huruf merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang diberikan sekolah terhadap anak autis. Terkadang proses pembelajaran angka dan huruf merupakan hal yang tidak sulit untuk sebagian anak autis disekolah ini. Sebagian anak autis berdasarkan penelitian memiliki daya tangkap yang luar biasa dalam bidang pembelajaran dan sebagian dari anak tersebut ada disekolah ini. Yang menjadi kesulitan dalam terapi anak autis adalah perilakunya yang tidak normal yang membuatnya tidak lebih terbuka untuk mengekspresikan kemampuanya.

Proses pengenalan angka dan huruf disekolah ini hampir sama halnya seperti mengajarkan orang normal tetapi memiliki perlakuan sedikit berbeda dalam mengajarkannya. Terutama terhadap anak autis yang mengalami


(53)

kekurang yang daya tangkap yang sangat lambat. Seorang guru akan mengajari pengenalan huruf dan angka dengan cara memisah-misahkan huruf-huruh dan angka-angka. Misalnya huruf A sampai Z, seorang guru akan membentuk huruf A sampai Z dalam selembaran kertas karton yang masing-masingnya dipisah dan di beri warna agak lebih menarik. Setiap pembelajaranya guru akan menyuruh anak untuk menghafal huruf-huruf tersebut. Setiap guru memerintahkan mengambil huruf A misalnya, maka murid akan mengambil huruf A dari tumpukan abjad yang sudah di acak tersebut.

Sedikit berbeda dalam proses penghitungan, seorang guru memerlukan bantuan benda dalam proses melakukan perhitungan. Misalnya seorang guru memberitahukan jumlah dari angka lima, maka cara guru memperkenalakan jumlah dari banyaknya angka lima dengan cara meletakan benda berbentuk seperti pensil ditangannya. Perlakuan inipun terus dilakukan hingga anak mampu mengenal angka dan target angka yang diajarkan kepada anak dalam sistem perhitungan adalah 1 sampai 20 saja.

Setelah anak mampu memahami angka tersebut maka seorang guru akan mengujinya setiap hari. Seperti yang pernah saya lihat, bertepatan saya masuk dalam proses mengajar anak.

“ guru memerintahkan terhadap anak didiknya, Amri berapa banyak angka lima, maka amripun mengambil benda pensil sebanyak 5 buah dan meletakanya diatas telapak tangan guru”.


(54)

Dari setiap keberhasilan yang dilakukan setiap anak autis, maka akan diberikan pujian seperti mengatakannya anak pintar. Hal ini bertujuan untuk memicu semangat anak dan membangkitkan kepercayaan diri anak.

Tekni mengenal angka dan huruh juga merupakan suatu wujud terapi terhadap anak untuk melatih meransang otaknya untuk mampu mengingat sesuatu yang dilihat dan di dengar.

3. Mengenal Gambar

Sebagian dari anak autis memiliki kesusahaan dalam menegenali gambar dan membedakan sesuatu. Mereka memiliki kelebihan dan kekurang tersendiri dalam keterbatasannya dalam berprilaku, belajar dan hal lainnya. Hanya saja perlu pengenalan karakter untuk membuat proses belajar menjadi lebih baik.

Salah satu metode pembelajaran yang diberikan sekolah ini terhadap anak autis adalah proses mengenal gambar. Selain mengetahui tentang gambar seperti benda-benda mati, mahkluk hidup dan sebagainya. Pembelajaran ini juga merupakan suatu wujud terapi anak untuk dapat membedakan suatu objek yang dilihatnya. Cara seorang guru mengenalkan gambar terhadap anak dengan sering memperlihatkan gambar tersebut dan menjelaskan fungsi gambar tersebut dengan kalimat singkat dan bahasa yang jelas. Terkadang seorang guru bisa memperlihatkan gambar berulang-ulang kali hingga lebih dari sepuluh kali agar murid tersebut dapat membedakan gambar. Tapi ada


(55)

kesulitan guru ketika memperlihatkan atau membandingkan gambar yang hampir mirip. Seperti gambar pensil dan pulpen yang merupakan benda yang terlihat sama apabila digambar. Maka seorang guru akan menjelaskan fungsi dan hasil yang diberikan terhadap benda tersebut serta menunjukan benda secara nyata agar bisa lebih dipahami anak.

Mengenal gambar merupakan suatu wujud terapi terhadap anak untuk dapat membuatnya tertarik terhadap lingkungan sekitar atas apa yang telah di perlihatkan dan di jelaskan fungsinya terhadap anak autis tersebut.

4. Meronce

Meronce merupakan salah satu metode pembelajaran yang diberikan sekolah terhadap anak autis. Meronce yang dilakukan disekolah adalah dengan memasukan benda-benda kecil seperti manik-manik kedalam benang. Tujuan dari pada metode ini adalah untuk melatih fokus mata seorang anak yang arah pandangnya sering kali tidak terarah. Anak autis memiliki arah pandang yang tidak terarah dan dengan metode pembelajaran ini, mampu mengatasi masalah terhadap arah pandang anak. Selain melatih arah pandang terhadap anak autis, meronce juga melatih kereatifitas seni anak dalam membuat suatu kreatifitas seperti gelang.

Seperti salah seorang guru yang berbicara pada saya kebutulan saya masuk dalam peroses belajar meronce(Mintauli, 36 tahun):


(56)

“fungsinya orang ini dilatih meronce untuk melatih fokus mata mereka dek terlihatnya kayak sepelekan padahal besar pengaruhnya untuk bentuk karakakter anak autis, melatih fokus mata mereka lagi, selain itu juga untuk melatih kreatifitas mereka dek mana tau mereka memiliki kreatifitas lebih disini kan bisa jadi modal masa depan mereka”.

5. Membedakan Warna

Melatih anak mengenali warna termasuk juga dalam materi pembelajaran anak disekolah ini. Selain mengetahui semua jenis warna, ternyata melatih anak mengenali warna mampu membantu tingkat konsentrasi anak dalam melakukan hal belajar. Pengenalan warna yang diberikan guru terhadap anak melalui kertas origami dan pensil warna.

Setiap anak disekolah ini hampir memiliki warna favoritnya, jika seorang guru sudah mengetahui warna favoritnya maka guru akan mampu lebih membuat Susana merasa lebih nyaman. Misalnya jika seorang anak suka warna biru, maka jika suatu saat anak tidak mau belajar guru akan mengeluarkan buku yang telah disampulkan berwarna biru agar anak tersebut mau belajar.

Hal ini pernah terlihat ketika saya masuk dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu seorang anak tidak mau belajar menulis ketika seorang guru memberikannya warna pensil yang disukai anak tersebut, maka dengan sedikit membujuknya anak tersebut mau belajar menulis. Tapi hal ini tidak dibiasakan hanya saat anak tidak mau belajar agar tidak terbiasa melakukan sesuatu harus dengan hal yang disukainnya. Wujud terapi dari mengenal


(57)

warna sebagai bentuk terapi terhadap anak untuk dapat membedakan sesuatu yang atas apa setiap hal yang diliahatnya serta merangsang otak anak anak agar dapat berpikir lebih baik lagi.

6. Menggambar dan Mewarni

Menggambar dan mewarni merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan terhadap anak autis. Mengambar yang dilakukan guru biasanya adalah dengan objek yang sangat gampang digambarkan oleh anak. Biasanya gambar yang tidak memiliki banyak garis dan liku. Hal ini agar tidak membuat anak merasa susah dan menjadi bosan hingga tidak menyukai proses pelajaran ini. Sama halnya dengan mewarnai, guru memberikan arahan yang tepat pada media yang hendak diwarnai. Dalam sistem mewarnai biasanya anak diberikan contoh gambar yang sudah diwarnai dan disuruh untuk menyesuaikan warna sesuai contoh. Beda halnya dengan gambar yang tidak memiliki keharusan warna, anak diberikan kebebasan mengesperisikan sesuai dengan warna yang di inginkannya.

Tujuan dari metode pembelajaran ini selain untuk melatih kreatifitas anak juga dapat melatih imajinasi. Karena sifat anak autis yang suka melamun tidak menentu dapat diatasi dan diterapi dengan melatihnya sering menggambar dan mewarnai.Hal ini merupakan wujud terapi terhadap karakter anak yang sering melamun menjadi tidak sering melamun.


(58)

Seperti pada saat menggambar dan mewarnai di kelas seorang anak yang biasanya pendiam, mulai mau bertanya kepada gurunya warna apa yang pantas untuk gambar yang ada di hadapanya selain dari warna yang di sukainya. Selain itu anak mulai mau berbicara kepada guru saat mengalamin kesulitan dalam menggambar. Hal ini wujud dari interaksi yang mulai berkembang terhadap anak autis dari sikapnya yang menyendiri dan tidak mau tau.

7. Menulis

Menulis salah satu kendala yang susah dilakukan anak autis. Karena memegang pensil saja anak autis sangat susah dan perlu bantuan tangan dari seorang guru dalam melakukannya. Butuh waktu berbulan-bulan agar anak terbiasa memegang pensil dan menuliskan sesuatu. Kesulitan anak dalam menulis huruf yang memiliki liku-liku garis yang beranekaragam, seorang guru harus melatih mereka didalam buku petak-petak yang besar.

Melatih anak menulis dengan bantuan tangan guru, harus perlu diperhatiakan guru. Sebagaian besar anak murid memiliki sensorik perasa yang sangat peka. Apabila tangan anak merasa ditekan maka anak bisa menangis dan merasa guru membencinya. Terkadang guru harus bisa menyesuaikan kondisi anak sesuai pelajaran yang diajarkannya meskipun guru harus dituntut bersikap tegas dan disiplin.


(1)

viii

KATA PENGANTAR

Skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Untuk memenuhi persyaratan tersebut saya telah menyusun sebuah skripsi dengan judul “Budaya Mengajar Dalam Pembentukan Karater Anak Autis di Yayasan Tali Kasih Medan”

Ketertarikan untuk menulis tentang Budaya Mengajar dalam Pembentukan Karakter Anak Autis di Yayasan Tali Kasih Medan, karena penulis melihat pendidikan anak autis memiliki perbedaaan yang sangat jauh dengan pendidikan anak normal lainnya. Memilih lokasi di Yayasan Tali Kasih Medan dikarenakan sekolah ini merupakan sekolah autis yang pertama berdiri di Medan.

Sistem pengajaran anak autis ini merupakan sistem pengajaran yang sangat sulit dilakukan, dimana seorang guru yang memiliki adaptasi ataupun penyesuain terhadap anak didik merupakan suatu hal yang harus dilakukan agar materi pembelajaran dapat tersampaikan. Disini sesorang guru memiliki perbedaan perlakuan di dalam sekolah dalam memberikan pengajaran. Penyampaian materi yang berbeda ini yang menjadi ketertarikan penulis dalam meneliti pendididkan anak autis. Keterbatasan anak autis dalam berbicara, bergerak, berpikir, berperilaku, lemah dalam bertindak dan kekurangan lainya yang membuat guru harus berusaha keras dalam menyampaikan materi dengan tepat sasaran. Bagaimana penyampaian materi dan bagaimana pola mengajar guru yang menjadi ketertarikan dalam meneliti pendidikan anak autis.

Dalam sekripsi ini penulis melihat bagaimana interaksi yang terjadi didalam lingkungan sekolah yang membantu meningkatkan pola mengajar di dalam sekolah. Butuhnya semua interaksi yang ada di dalam sekolah dan berkaitan dengan sekolah sangatlah diperlukan dalam pembentukan karakter anak autis mulai dari interaksi guru, kepala sekolah dan anak autis itu sendiri. Strategi pengajaran dan strategi pengembangan interaksi anak autis menjadi suatu hal kertariakan penulis dalam


(2)

melihat tindakan yang dilakukan oleh seorang guru untuk mengubah karakter seseorang. Proses perubahan karakter anak autis yang sulit ini merupakan suatu proses yang menjadi data penting bagi penulis.

Dengan demikian skripsi ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang pendidikan anak autis yang ada di Indonesia khusus di kota Medan, selain itu mengetahui pola mengajar dalam memebentuk karakter anak autis dan cara memperlakukan anak autis dalam memperoleh pendidikan.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan, materi dan pengalaman penulis. Oleh karena itu dengan rendah hati, penulis menerima segala saran, masukan dan keritik yang membangun dari berbagai pihak untuk menyempurnakan sekripsi ini.

Medan, April 2016 Penulis


(3)

x DAFTAR ISI

PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i

ABSTRAK ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang Masalah ... 1

1.2.Rumusan Masalah ... 9

1.3.Tinjauan Pustaka ... 10

1.4.Tujuana Dan Manfaat Penelitian ... 23

1.5.Metode Penelitian ... 24

1.6. Pengalaman Penelitian Lapangan ... 27

BAB II. GAMBARAN UMUM YAYASAN TALI KASIH MEDAN ... 35

2.1. Sejarah Perkembangan Pendidikan Anak Luar Biasa Di Indonesia ... 35

2.1.1. Awal Terbentuknya Yayasan Tali Kasih Medan ... 39

2.2. Visi Dan Misi ... 43

2.3. Sarana Dan Prasarana ... 47

2.4. Struktur Organisasi ... 53

2.5. Keadaan Guru dan Murid Di Yayasan Tali Kasih Medan ... 60

2.5.1. Guru di Yayasan Tali Kasih Medan ... 60

2.5.2. Murid di Yayasan Tali Kasih Medan ... 64

2.6. Sumber Dana ... 68

BAB III. POLA MENGGAJAR DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN ... 69

3.1. Pola Menggajar Guru Di Yayasan Tali Kasih Medan ... 69

3.1.1. Tanggung Jawab Guru Dalam Pengajaran ... 71

3.1.2. Pola Pengajaran Dengan Metode Terapi ... 77

3.2. Pemilihan Teknik Mengajar ... 81

3.2.1. Memilih Gaya Belajar ... 82

3.2.2. Menggunakan Bahas Sederhana ... 82

3.2.3. Menggunakan Objek Menarik Ketika Belajar ... 83

3.2.4. Menanggani Masalah Anak Menulis ... 84

3.2.5. Memahami Bakat Anak Autis ... 85

3.2.6. Tidak Melakukan Perubahan Jadwal ... 86


(4)

BAB IV. INTERAKSI YANG TERJADI DI YAYASAN TALI KASIH MEDAN

DALAM PEMBENTUKAN POLA MENGAJAR ... 89

4.1. Interaksi Antara Guru dan Anak Autis ... 89

4.2. Interaksi Antara Guru dengan Guru ... 94

4.3. Interaksi Sesama Anak Autis dengan Anak Autis ... 98

4.4. Interaksi Kepala Sekolah dengan Guru ... 102

4.5. Interaksi Guru dengan Orang Tua Murid ... 106

4.6. Interaksi Antara Orang Tua Murid dengan Orang Tua Murid Lainnya ... 109

4.7. Interaksi Guru dengan Pemerintah ... 110

BAB V. PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK AUTIS ... 112

5.1. Metode Pembelajaran yang Dibentuk Sekolah dalam Pembentukan Karakter Anak ... 112

5.2. Terapi Anak Autis Mengunakan Alat Terapi di Sekolah ... 125

5.2.1. Metode Penyembuhan Dengan Infrared ... 126

5.2.2. Metode Variabel ... 127

5.2.3. Metode Bola Besar ... 128

5.2.4. Metode Tangga ... 129

5.2.5. Metode Oral ... 129

5.3. Hasil Pembentukan Karakter Dari Peroses Ajar Mengajar Di Yayasan Tali Kasih Medan ... 130

5.3.1. Melalui Metode Pembelajaran ... 131

5.3.2. Melalui Alat Terapi Di Sekolah ... 132

5.4. Pengaruh Hasil Belajar Anak Autis Terhadap Kebudayaan ... 132

BAB VI. PENUTUP ... 135

6.1. Kesimpulan ... 135


(5)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.1.1 Identitas Yayasan Tali Kasih Medan ... 41

Tabel 2.1.1.2 Urutan Kepala Sekolah Yayasan Tali Kasih Medan ... 42

Tabel 2.2.1 Fasilitas-Fasilitas di Yayasan Tali Kasih Medan ... 48

Tabel 2.2.2 Fasilitas Terapi Anak Autis di Yayasan Tali Kasih Medan ... 49

Tabel 2.5.1.1 Guru-Guru di Yayasan Tali Kasih Medan ... 62

Tabel 2.5.1.2 Seragam Guru ... 63

Tabel 2.5.2.1 Murid-Murid di Yayasan Tali Kasih Medan ... 65


(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2.1 Denah Lokasih Yayasan Tlio Kasih Medan ... 45

Gambar 2.2.2 Lokasi Jalan di Depan Yayasan Tali Kasih ... 46

Gambar 2.2.3 Denah Bangunan Yayasan Tali Kasih Medan ... 51

Gambar 2.2.4 Foto Orang Tua Murid yang Menunggu Anaknya di Ruang Tunggu ... 52

Gambar 2.4.1 Struktur Organisasi ... 55

Gambar 3.1.1.1 Guru Membujuk Anak Autis Agar Mau Belajar ... 76

Gambar 4.1.1 Guru Mengajar Anak Autis ... 92

Gambar 4.2.1 Kerjasama Guru Membujuk Anak Autis Agar Mau Belajar ... 95

Gambar 4.3.1 Penjagaan Guru Pada Saat Anak Autis Berolah-Raga ... 100

Gambar 5.2.1.1 Alat Terapi Infrared ... 127

Gambar 5.2.2.1 Alat Terapi Variabel ... 128