Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis

INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS
TESIS
OLEH
ELVA YUSANTI 097009019/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
OLEH
ELVA YUSANTI 097009019
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS

Nama Mahasiswa

: ELVA YUSANTI

Nomor Induk Mahasiswa : 097009019

Program Studi

: Linguistik

Konsentrasi

: Analisis Wacana Kesusastraan

Menyetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si. Ketua

Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. Anggota

Ketua Program Studi,

Direktur,

Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph. D

Prof. Dr. Ir. Rahim Matondang, MSIE.

Tanggal Lulus : 22 September 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada Tanggal 22 September 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si

Anggota

: 1. Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A.

2. Dr. Asmyta Surbakti, M.Si

3. Dr. Rosmawaty, M.Pd

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN
Judul Tesis INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri.
Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksisanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 24 September 2011
Elva Yusanti
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Rumah
Alamat Kantor
Telepon/Ponsel

: Elva Yusanti : Medan, 31 Mei 1974 : Perempuan : Islam : PNS Kantor Bahasa Provinsi Jambi : Jalan Lawet Raya VI No. 11
Perumnas Jelutung, Jambi 36124 : Jalan Arief Rahman Hakim No. 101 Telanaipura, Jambi. : (0741) 669466/081366134248

II. Riwayat Pendidikan 1. SD Negeri No. 060924 Medan (Tamat 6 Juni 1987) 2. SMP Negeri 13 Medan (Tamat 4 Juni 1990) 3. SMA Negeri 12 Medan (Tamat 29 Mei 1993) 4. Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, Medan (Tamat 4 April 1998) 5. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (Sejak 2009)

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur bagi Allah yang telah memberi kemudahan dan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik.
Tesis ini berjudul ”Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis”. Tesis ini membicarakan tentang interaksi antara masyarakat Tionghoa dan Jambi dalam menyelamatkan warisan budaya serta melestarikan lingkungan dan hewan langka di Jambi. Fakta-fakta fiksional dalam trilogi Darah Emas, yang terdiri atas Mempelai Naga, Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus, dan Sembrani, merupakan media representasi masyarakat Tionghoa-Jambi secara faktual. Selain itu, dapat diketahui bahwa latar belakang sosiologis pengarang turut mempengaruhi proses kreatif trilogi ini.
Penyelesaian tesis ini telah diusahakan keilmiahannya oleh penulis dengan bantuan dari berbagai pihak. Kelemahan atau kesalahannya tetap menjadi tanggung jawab penulis. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran untuk penyempurnaan tesis ini.
Medan, September 2011 Penulis,
Elva Yusanti
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam menempuh perkuliahan dan penyelesaian tesis ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun material. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pihakpihak berikut ini. 1. Prof. Dr. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara, Medan. 2. Prof. Dr. Ir. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Pascasarjana USU beserta
Staf Akademik dan Administrasinya. 3. Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Dr. Nurlela, M. Hum., selaku Ketua dan
Sekretaris Program Studi Magister Linguistik, beserta para Dosen dan Staf Administrasinya. 4. Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Utama dan Pembimbing Akademik, yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian tesis ini, serta berkenan membagikan ilmu dan meminjamkan buku-bukunya. 5. Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A., selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis, memberikan dorongan dan motivasi, serta menjadi mitra berdiskusi selama perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. 6. Dr. Asmyta Surbakti, M.Si., selaku Dosen pada Program Studi Magister Linguistik Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan, yang telah menambah wawasan penulis mengenai teori-teori kritis.
Universitas Sumatera Utara

7. Dra. Yeyen Maryani, M.Hum., selaku Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang telah melegalisasi pemberian beasiswa selama penulis menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana USU Medan.
8. Drs. Yon Adlis, M.Pd., selaku Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, yang telah memberikan izin dan rekomendasi kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana USU Medan.
9. Sdr. Meiliana K. Tansri, selaku pengarang yang menulis novel bahan penelitian ini. 10. Orang tua penulis, Ayahanda M. Yusuf Hasibuan dan Ibunda Ida Yanti, yang
dengan tulus mengalirkan doa dan kasih sayangnya. 11. Keluarga penulis, yaitu suami tercinta, Rizal, yang selalu memberikan dukungan
dan motivasi kepada penulis untuk mencapai kesuksesan dalam karier dan pendidikan, serta kedua anak penulis, ananda Muhammad Farhan Aulia dan Sausan Nadhifah Humaira, yang selalu menjadi penyemangat penulis dalam menyelesaikan pendidikan. 12. Keluarga besar penulis yaitu, kakak, adik, ipar, beserta keponakan-keponakan yang selalu mendoakan penulis. 13. Sahabat-sahabat penulis: Ilsa Dewita Putri Soraya, S.S., M.A., Lukman, S.Pd., M.A., dan Maryani, S.Pd., yang tanpa pamrih telah membantu penulis, serta Hennilawati, M.Hum., yang menjadi sahabat penulis dalam suka dan duka. 14. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Linguistik, Sekolah Pascasarjana USU Angkatan 2009/2010. 15. Teman seprofesi penulis di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Balai Bahasa Medan, Balai Bahasa Kendari, dan Pusat Bahasa Jakarta.
Universitas Sumatera Utara

16. Semua pihak yang telah membantu penulis selama perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. Semoga Allah SWT memberikan kemurahan rezeki dan kemudahan jalan hidup
bagi kita. Amin. Medan, September 2011 Penulis, Elva Yusanti
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING PANITIA PENGUJI PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR....................................................................................... i UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ ii DAFTAR ISI...................................................................................................... v DAFTAR BAGAN............................................................................................. viii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix ABSTRAK ......................................................................................................... x ABSTRACT ........................................................................................................ xi

BAB I

PENDAHULUAN

.................................................................. 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1

1.2 Perumusan Masalah .................................................................. 7

1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 8

1.3.1 Tujuan Akademis

...................................................... 8

1.3.2 Tujuan Praktis .................................................................. 8

1.4 Batasan Masalah

.................................................................. 9

1.5 Manfaat Penelitian .................................................................. 10

1.5.1 Manfaat Teoretis

...................................................... 10

1.5.2 Manfaat Praktis .................................................................. 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL ........................................................................................... 12 2.1 Kajian Pustaka .................................................................. 12 2.2 Konsep .......................................................................................... 15

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Interaksi Sosial .................................................................. 15

2.2.2 Novel .............................................................................. 18

2.2.3 Representasi .................................................................. 20

2.2.4 Sosiologis Pengarang ...................................................... 21

2.3 Landasan Teori .............................................................................. 22

2.4 Model Penelitian

.................................................................. 29

BAB III METODE PENELITIAN

...................................................... 32

3.1 Metode Penelitian .................................................................. 32

3.2 Sumber Data .............................................................................. 34

3.3 Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 35

3.4 Teknik Analisis Data .................................................................. 37

BAB IV INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS ...... 40

4.1 Analisis ....................................................................................... 41

4.1.1 Fakta dan Makna Cerita Trilogi Darah Emas .................. 41

4.1.1.1 Alur .................................................................. 44

4.1.1.2 Karakter ...................................................... 66

4.1.1.3 Latar .................................................................. 71

4.1.1.4 Tema .................................................................. 74

4.1.2 Interaksi Sosial Asosiatif

.......................................... 76

4.1.2.1 Kooperasi (Kerja Sama)

.................. 76

4.1.2.2 Akomodasi ...................................................... 84

4.1.3 Interaksi Sosial Disosiatif .......................................... 85

4.1.3.1 Kompetisi ...................................................... 85

4.1.3.2 Konflik

...................................................... 87

4.1.3.3 Kontravensi ...................................................... 89

4.2 Temuan Penelitian .................................................................. 91

BAB V TRILOGI DARAH EMAS SEBAGAI MEDIA REPRESENTASI

MASYARAKAT TIONGHOA-JAMBI .......................................... 94

5.1 Fakta-Fakta Fiksional dalam Trilogi Darah Emas yang

Universitas Sumatera Utara

Merepresentasikan Masyarakat Tionghoa-Jambi .......................... 96 5.1.1 Nama-Nama Tokoh ...................................................... 96 5.1.2 Sikap Hidup Tokoh ...................................................... 97 5.1.3 Peristiwa-Peristiwa yang Diceritakan ..............................100 5.2 Temuan Penelitian ..................................................................105

BAB VI LATAR BELAKANG SOSIOLOGIS PENGARANG ................. 107

6.1 Hubungan Antara Trilogi Darah Emas dan Latar Belakang

Sosiologis Pengarang ................................................................... 109

6.1.1 Asal Sosial Pengarang ..................................................... 109

6.1.2 Kelas Sosial Pengarang ..................................................... 112

6.1.3 Jenis Kelamin Pengarang

......................................... 114

6.1.4 Umur Pengarang

..................................................... 117

6.1.5 Pendidikan Pengarang ..................................................... 119

6.1.6 Pekerjaan Pengarang ..................................................... 121

6.1 Temuan Penelitian ................................................................. 123

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 125

7.1 Simpulan

............................................................................. 125

7.2 Saran ......................................................................................... 127

DAFTAR PUSTAKA

............................................................................. 129

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR BAGAN

No Judul

Halaman

1. Model Aplikasi Pendekatan Sosiologis terhadap Trilogi Darah

Emas .........................................................................................

30

2. Tahap-Tahap Analisis Konten terhadap Trilogi Darah Emas ........ 39

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul

Halaman

1. Biografi dan Foto Meiliana K. Tansri ............................................. 137

2. Sampul Depan Trilogi Darah Emas ................................................ 140

3. Sampul Belakang Trilogi Darah Emas ........................................... 141

4. Sinopsis ............................................................................................ 142

5. Berita tentang Situs Kemingking ..................................................... 144

6. Foto-Foto Candi di Situs Kemingking ............................................. 147

7. Wawancara Elva Yusanti dengan Meiliana K. Tansri ..................... 150

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian yang mengungkapkan masalah interaksi sosial dan representasi realitas faktual ini dilakukan melalui dua pendekatan, intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, ditinjau berdasarkan pandangan Stanton, yakni meneliti fakta dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra Wellek dan Austin, yakni adanya tiga fakta sastra: pengarang, karya, dan pembaca.
Trilogi Darah Emas karya Meiliana K. Tansri yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik dokumenter dan analisis konten. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi sosial yang dilakukan para tokoh sebagai representasi masyarakat Tionghoa-Jambi. Temuan berikutnya adalah keterlibatan pengarang dalam proses kreatif trilogi tersebut. Keterlibatan itu ditemukan melalui pendeskripsian latar belakang sosiologis pengarang. Temuan-temuan ini tidak bisa dilepaskan dari fakta dan makna cerita karena semuanya saling melengkapi dalam pemaknaan teks sastra. Kata kunci: interaksi, representasi, dan sosiologis
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT This study which revealed problems of social interaction and factual representation of reality is done through two approaches, intrinsic and extrinsic. Intrinsic approach which used literary texts reviewed based on the views of Stanton, which is researching the facts and meaning of the story. Extrinsic approach that examines the context of literary works, reviewed literature on the theory of Wellek and Austin's sociology, namely the existence of three literary facts: the author, work, and readers. The trilogy of Darah Emas written by Meiliana K. Tansri which was used as the source of research data in this study was analyzed using documentary techniques and content analysis. Based on the analysis, findings obtained in the form of social interaction that made the characters as representations of the Chinese communityJambi. The following finding is the author's involvement in the creative process of the trilogy. The involvement was found through the description of the author sociological background. However, these findings cannot be separated from fact and meaning of the story for those both aspects are complementary in the interpretation of literary texts. Keywords: interaction, representation, and sociology.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penelitian yang mengungkapkan masalah interaksi sosial dan representasi realitas faktual ini dilakukan melalui dua pendekatan, intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, ditinjau berdasarkan pandangan Stanton, yakni meneliti fakta dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra Wellek dan Austin, yakni adanya tiga fakta sastra: pengarang, karya, dan pembaca.
Trilogi Darah Emas karya Meiliana K. Tansri yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik dokumenter dan analisis konten. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi sosial yang dilakukan para tokoh sebagai representasi masyarakat Tionghoa-Jambi. Temuan berikutnya adalah keterlibatan pengarang dalam proses kreatif trilogi tersebut. Keterlibatan itu ditemukan melalui pendeskripsian latar belakang sosiologis pengarang. Temuan-temuan ini tidak bisa dilepaskan dari fakta dan makna cerita karena semuanya saling melengkapi dalam pemaknaan teks sastra. Kata kunci: interaksi, representasi, dan sosiologis
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT This study which revealed problems of social interaction and factual representation of reality is done through two approaches, intrinsic and extrinsic. Intrinsic approach which used literary texts reviewed based on the views of Stanton, which is researching the facts and meaning of the story. Extrinsic approach that examines the context of literary works, reviewed literature on the theory of Wellek and Austin's sociology, namely the existence of three literary facts: the author, work, and readers. The trilogy of Darah Emas written by Meiliana K. Tansri which was used as the source of research data in this study was analyzed using documentary techniques and content analysis. Based on the analysis, findings obtained in the form of social interaction that made the characters as representations of the Chinese communityJambi. The following finding is the author's involvement in the creative process of the trilogy. The involvement was found through the description of the author sociological background. However, these findings cannot be separated from fact and meaning of the story for those both aspects are complementary in the interpretation of literary texts. Keywords: interaction, representation, and sociology.
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Trilogi novel Darah Emas (Tansri, 2010), menceritakan tentang usaha
penyelamatan situs Kemingking, sebuah daerah temuan benda purbakala berupa reruntuhan (puing-puing) kerajaan kuno. Dinamakan situs Kemingking karena bendabenda purbakala itu ditemukan di sekitar wilayah Kemingking, sebuah desa kecil yang terletak di sebelah barat Sungai Batanghari, Jambi. Lokasi situs ini diyakini berada persis di bawah bangunan pabrik kayu lapis milik seorang pengusaha lokal keturunan Tionghoa. Pembangunan pabrik tersebut menimbulkan pro dan kontra karena selain menyebabkan terkuburnya sebuah aset budaya, juga melatarbelakangi terjadinya pencemaran lingkungan, penebangan liar, dan perburuan ilegal. Keadaan ini membuat Naga, roh langit dan bumi, murka. Ia menumpahkan murkanya kepada orang-orang yang merusak keseimbangan alam itu melalui keturunannya yang disebut ”berdarah emas”. Selain klan darah emas, penyelamatan juga dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat yang peduli dengan pelestarian budaya dan lingkungan hidup. Mereka saling bekerja sama untuk satu tujuan, mengembalikan alam kepada keseimbangannya.
Trilogi Darah Emas (selanjutnya disingkat DE) ditulis oleh Meiliana K. Tansri, perempuan pengarang kelahiran Jambi dan berdarah Tionghoa. Meiliana adalah satu dari sedikit perempuan pengarang Jambi yang produktif sampai saat ini. Novel yang ditulis Meiliana kali ini berbeda dengan novel-novel yang terbit sebelumnya, yang lebih banyak mengangkat tema-tema percintaan. Novelnya kali ini dapat dikatakan sebagai
1 dokumen yang mencatat realitas yang terjadi pada masa lalu karena diangkat
Universitas Sumatera Utara

berdasarkan polemik sosial yang pernah terjadi di Jambi pada tahun 1980-an. Saat itu, Jambi dibelit pro-kontra pendirian sebuah pabrik kayu lapis yang diduga dibangun di atas situs purbakala di Kemingking. Keberadaan situs itu masih menjadi perdebatan karena belum pernah dilakukan ekskavasi arkeologis terhadapnya. Sebagian masyarakat meyakini bahwa situs itu benar-benar ada, tetapi sebagian lagi menganggapnya dongeng belaka.
Mengingat dunia dalam karya sastra merupakan tiruan atas peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (imitation of reality), karya sastra dapat dikatakan sebagai dokumen yang mencatat realitas masa lalu (Mahayana; 2005: 361). Namun demikian, pandangan yang menyatakan karya sastra sebagai dokumen realitas harus dimaknai sebagai realitas yang telah mengalami proses pengendapan di dalam pemikiran pengarang. Dalam hal ini, pengalaman pengarang yang telah melalui proses pengamatan, perenungan, penghayatan, dan penilaian itu, kemudian diolah sedemikian rupa dengan kekuatan imajinasi. Imajinasi, menurut Laclau (dalam Mc Robbie, 2011: 85), merupakan cakrawala yang merepresentasikan dunia sosial. Dengan menggunakan imajinasi, pengarang akan menghasilkan refleksi realitas imajinatif (Mahayana, 2005: 362) atau yang disebut Kleden (2004: 413) sebagai kenyataan imajiner (imagined reality) yang sering disamakan dengan khayalan.
Adanya keterlibatan imajinasi menunjukkan bahwa karya sastra hanya menyajikan kenyataan artistik, bukan kenyataan objektif sehingga realitas dalam karya sastra berbeda dengan realitas empiris yang ditampilkan ilmu sosial lain. Jassin (dalam Kleden, 2004: 413) mengatakan,
”Imajinasi ini berbeda dengan ilmu yang berisi gagasan. Imajinasi lebih daripada gagasan; ia adalah keseluruhan dari kombinasi dari gagasan-gagasan, perasaan-
Universitas Sumatera Utara

perasaan, kenangan pengalaman, dan intuisi manusia. Imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses, suatu kegiatan jiwa. Dengan demikian, imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidak identik sama dengan kenyataan sejarah, pengalaman, ataupun ilmu pengetahuan. Suatu karya seni mempunyai kenyataan artistik yang tidak identik sama dengan kenyatan objektif atau kenyataan sejarah atau kenyataan ilmu pengetahuan.” Pengolahan imajinasi tidak akan terlepas dari pengolahan bahasa sebagai sarana primer karya sastra. Karya sastra merupakan suatu teks, berisi ungkapan bahasa yang menurut pragmatik, sintaktik, dan semantik, merupakan suatu kesatuan (Pradotokusumo, 2002: 23). Bahasa dalam sastra memiliki ciri khas, yakni adanya unsur ambiguitas yang mengandung kepadatan arti. Bahasa sastra pun memproyeksikan pandangan dunia atau ideologi pengarang dalam menerjemahkan peristiwa di sekitarnya (Budiman, 1994: 41). Perpaduan antara bahasa dan imajinasi, menjadikan karya sastra sebagai media yang tepat bagi pengarang dalam berkomunikasi dengan pembaca. Berdasarkan hal itu, sebagai pengarang yang kreatif dan imajinatif, Meiliana mengolah polemik 1980-an yang terjadi di Jambi dengan menggunakan kreasi dan imajinasinya sendiri. Dengan memanfaatkan latar sosial masyarakat Tionghoa dan Jambi –dua komunitas yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya- Meiliana mendongengkan fakta dan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Jambi ke dalam karyanya. Oleh Meiliana, bahasa dijadikan alat untuk menyampaikan ide, pesan, tema, dan pandangan dunia yang berfungsi sebagai media catatan kritisnya mengenai peristiwa yang bersangkutan. Masalah warisan budaya, pencemaran lingkungan, perburuan ilegal, bahkan kedudukan anak perempuan dalam masyarakat Tionghoa, juga disinggung Meiliana dalam trilogi ini. Akan tetapi, dia menyamarkan kritikannya itu dengan mengedepankan interaksi yang terefleksi antara komunitas Tionghoa dan Jambi pada kurun waktu 1987—2000-an. Interaksi yang terjadi antara masyarakat Tionghoa,
Universitas Sumatera Utara

sebagai pendatang, dan masyarakat Jambi, sebagai penduduk lokal, menunjukkan hubungan timbal balik yang dinamis. Hubungan tersebut diwujudkan melalui kontak sosial dan komunikasi sosial yang terjalin antara kedua etnis yang menjadi subjek penceritaan dalam trilogi DE.
Kontak dan komunikasi sosial, menurut Abdulsyani (2007: 154-155), merupakan faktor-faktor (syarat) yang melatarbelakangi terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial adalah interaksi yang terjadi melalui percakapan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan saling mengerti maksud dan tujuan masing-masing. Kontak sosial langsung terjadi dalam bentuk tatap muka, berjabat tangan, atau berbicara secara langsung, sedangkan kontak sosial tidak langsung membutuhkan perantara, misalnya berbicara melalui telepon, surat, dan lain-lain. Komunikasi sosial mengandung pengertian persamaan pandangan antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu. Hal ini dibarengi dengan adanya tafsiran, yang diberikan seseorang pada sesuatu atau pada perilaku orang lain, sebagai aspek terpenting dari komunikasi sosial.
Berdasarkan kenyataan yang ada, masyarakat Jambi yang multietnis juga melakukan kontak dan komunikasi sosial dalam berinteraksi. Masyarakat pendatang yang berasal dari etnis yang berbeda tidak terlalu sulit melakukan kontak dan komunikasi sosial dengan masyarakat setempat, yakni etnis Melayu Jambi. Hal ini disebabkan oleh sifat masyarakat Melayu Jambi yang terbuka dan mudah berinteraksi dengan etnis apapun. Keterbukaan ini pula yang menyebabkan etnis pendatang bersedia berkomunikasi di depan umum dengan menggunakan bahasa Melayu Jambi, baik komunikasi yang terjalin dengan etnis yang berbeda maupun antarsesama etnis.
Universitas Sumatera Utara

Secara realitas fiksi, kontak sosial dan komunikasi sosial sebagai faktor terjadinya interaksi sosial juga terlihat dalam trilogi DE. Usaha penyelamatan ataupun pelenyapan situs Kemingking dalam trilogi DE dilatarbelakangi dengan pembauran, persepakatan, bahkan pertentangan antaretnis sehingga menunjukkan interaksi yang memiliki pola-pola pengulangan hubungan perilaku dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian, realitas dalam trilogi DE tidak sepenuhnya persis dengan kenyataan sehari-hari karena pada hakikatnya, realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan meyakinkan yang ditampilkan kepada pembaca (Wellek dan Austin, 1993: 278). Dalam trilogi DE, pembaca akan disuguhkan beberapa dialog langsung yang terjadi antara manusia dan roh langit dan bumi –sesuatu yang sangat tidak dimungkinkan terjadi dalam kenyataan yang sebenarnya- sebagai salah satu bentuk interaksi yang ada di dalam novel itu. Interaksi itu terjadi setelah adanya kontak dan komunikasi sosial di antara keduanya.
Salah satu yang menarik dari trilogi DE adalah penggambaran interaksi antaretnis dalam menyelamatkan budaya dan lingkungan Jambi. Dalam trilogi ini dideskripsikan bahwa bukan hanya orang Jambi asli yang memiliki tanggung jawab terhadap pelestarian budaya dan lingkungan di daerah Jambi, tetapi juga orang Tionghoa, sebagai masyarakat pendatang. Gambaran seperti ini mencerminkan kenyataan sehari-hari yang terjadi di daerah Jambi. Keharmonisan hubungan antara kedua etnis dapat terlihat dalam berbagai sektor, seperti perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan. Hal ini dapat dimaklumi karena orang Tionghoa dan Jambi telah memiliki keterikatan secara emosional sejak ratusan tahun yang lalu. Oleh karena itu,
Universitas Sumatera Utara

penggambaran interaksi antaretnis dalam trilogi DE dapat dikatakan merepresentasikan kenyataan yang ada.
Hal menarik lainnya adalah terdapat indikasi adanya hubungan antara trilogi DE dan latar belakang sosiologis pengarangnya. Meiliana yang berdarah Tionghoa dan telah lama menetap di Jambi ini, berpartisipasi kreatif dalam melestarikan warisan budaya dan lingkungan Jambi melalui tokoh dan peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam trilogi DE. Partisipasi kreatif ini merupakan bentuk eksistensi pengarang dalam berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.
Sehubungan dengan itu, interaksi sosial yang ditemukan dalam trilogi DE bukan hanya mengindikasikan adanya penyatuan (asosiatif), melainkan juga pertentangan (disosiatif). Bentuk-bentuk interaksi ini ditemukan melalui hubungan antartokoh, seperti interaksi antara Hartanto -pengusaha dari etnis Tionghoa- dan penasihat spiritualnya, Datuk Itam, dukun dari etnis Melayu Jambi (dalam MN dan GBTET) yang bersifat disosiatif. Di samping itu, terdapat pula interaksi yang terjadi antara tokoh manusia dan hewan, seperti interaksi antara Leng Cu dan tiga ekor tikus: Mnem, Noah, dan Akyg (dalam GBTET dan Sbr) yang bersifat asosiatif.
Interaksi sosial dalam trilogi DE, baik yang dilatarbelakangi oleh kontak sosial maupun komunikasi sosial, tidak hanya terjadi secara verbal, melainkan juga nonverbal, sebagaimana yang terlihat dalam contoh kutipan berikut.
Mata dukun tua itu merah seperti getah sirih yang baru diludahkan. Napasnya memburu dan berat. Hartanto takut melihatnya. Dia yakin saat itu Datuk Itam mampu membunuh siapa saja (MN: 147). Kutipan tersebut menyiratkan kontak sosial yang terjadi secara nonverbal antara Hartanto dan Datuk Itam. Perubahan kondisi Datuk Itam ketika mengalami trans dapat
Universitas Sumatera Utara

dipahami oleh Hartanto meskipun tidak diucapkan secara langsung. Timbulnya pemahaman dan penafsiran tersebut secara otomatis juga menyiratkan adanya komunikasi sosial di antara kedua tokoh dalam trilogi DE itu.
1.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang muncul dalam menganalisis trilogi novel Darah Emas (DE)
karya Meiliana K. Tansri dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Bagaimanakah interaksi sosial dalam trilogi DE? 2. Bagaimanakah trilogi DE sebagai media representasi masyarakat TionghoaJambi? 3. Bagaimanakah hubungan antara trilogi DE dan latar belakang sosiologis pengarang?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Akademis
Secara akademis, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis interaksi sosial dalam trilogi DE. 2. Mendeskripsikan trilogi DE sebagai media representasi masyarakat Tionghoa-
Jambi. 3. Mendeskripsikan hubungan antara trilogi DE dan latar belakang sosiologis
pengarang.
Universitas Sumatera Utara

1.3.2 Tujuan Praktis Secara praktis, penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan isi
trilogi novel Darah Emas yang menceritakan tentang usaha penyelamatan aset budaya di Provinsi Jambi. Usaha penyelamatan tersebut diejawantahkan melalui interaksi yang terjadi antara masyarakat Tionghoa, sebagai pendatang, dan masyarakat Melayu Jambi, sebagai penduduk lokal. Interaksi sosial, secara harfiah, dipahami sebagai suatu proses sosial yang dapat mempersatukan orang dari berbagai latar belakang sosial dan kultural yang berbeda. Berdasarkan pemahaman ini, gambaran tentang masyarakat TionghoaJambi dalam trilogi DE dianggap merepresentasikan masyarakat Tionghoa-Jambi secara faktual. Relevansi antara realitas fiksi dan faktual tersebut diinterpretasikan dengan menggunakan pendekatan sosiologis yang meliputi sosiologi karya dan sosiologi pengarang. Hasil analisis terhadap trilogi DE karya Meiliana K. Tansri ini dapat menjadi produk kepustakaan dan model penelitian sastra yang menampilkan kehidupan masyarakat Tionghoa-Jambi.
1.4 Batasan Masalah Karya sastra selalu membicarakan masalah kehidupan yang kompleks. Oleh
karena itu, sangat sulit meneliti sebuah karya sastra tanpa adanya ruang lingkup yang terbatas. Ruang lingkup tersebut harus berdasarkan kepada tujuan yang ingin diperoleh dari suatu penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dalam pengkajiannya. Pada dasarnya, sosiologi sastra tidak terlepas dari tiga fakta sastra, yakni karya, pengarang,
Universitas Sumatera Utara

dan pembaca. Ketiga fakta sastra tersebut dapat dikaji secara bersamaan ataupun terpisah, tergantung kepada fakta apa yang paling berpengaruh dalam karya tersebut.
Dalam trilogi DE, karya dan pengarang merupakan faktor yang paling penting dalam mengimplikasikan fakta sastra karena peristiwa yang diceritakan dalam trilogi novel ini diindikasikan memiliki kaitan yang erat dengan pengarangnya. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi pada sosiologi karya dan sosiologi pengarang. Sosiologi karya dalam penelitian ini dibatasi pada masalah sosial, yakni interaksi sosial antartokoh serta deskripsi realitas fiksi masyarakat Tionghoa-Jambi yang merepresentasikan realitas faktualnya. Sementara itu, sosiologi pengarang dalam penelitian ini dibatasi pada latar belakang sosiologis pengarang dalam menghasilkan karya-karyanya.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis yang diharapkan dari hasil penelitian terhadap trilogi DE karya Meiliana K. Tansri meliputi tiga hal berikut.
1. Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah penerapan pendekatan sosiologis terhadap karya sastra Indonesia, khususnya novel karya sastrawan yang berasal dari Provinsi Jambi.
2. Hasil penelitian ini dapat menjadi model penerapan teori sosiologi sastra untuk mengungkapkan interaksi sosial antara masyarakat Tionghoa dan Melayu Jambi, terutama berdasarkan novel karya sastrawan yang berasal dari Provinsi Jambi.
3. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian, baik penelitian ilmu sastra maupun penelitian ilmu-ilmu lain yang memerlukan
Universitas Sumatera Utara

realitas fiksi dalam memaparkan kehidupan faktual masyarakat, terutama masyarakat Tionghoa-Jambi. 1.5.2 Manfaat Praktis Secara praktis, hasil penelitian terhadap trilogi DE karya Meiliana K. Tansri diharapkan dapat bermanfaat dalam kehidupan masyarakat, antara lain, adalah: 1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang interaksi sosial masyarakat Tionghoa-Jambi, baik secara asosiatif maupun disosiatif. 2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang perlunya melestarikan warisan budaya dan lingkungan hidup untuk menjaga keseimbangan alam. 3. Memberikan informasi tentang keberagaman kultur yang ada di Provinsi Jambi yang dapat dijadikan aset yang potensial dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pariwisata, dan kesenian di Provinsi Jambi.
Universitas Sumatera Utara

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI,
DAN MODEL
2.1 Kajian Pustaka W.R. Sihombing (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Tiba-Tiba Malam
Karya Putu Wijaya: Analisis Sosiologi Sastra” mengkaji tentang interaksi sosial dalam kehidupan masyarakat Bali. Dalam kajiannya ini, Sihombing lebih menitikberatkan pada sosiologi karya, yakni meneliti interaksi antartokoh dalam novel tersebut. Jenisjenis interaksi yang ditemukan Sihombing dalam novel Tiba-Tiba Malam adalah kooperasi, akomodasi, dan konflik (pertikaian). Masalah kooperasi terdapat dalam tradisi nguopin, yakni tradisi gotong royong yang dilakukan para tokoh yang berlatar belakang sosiokultural Bali, di berbagai tempat dan kesempatan, misalnya, di sawah (menanam, menyiangi, atau memanen padi), di rumah (memperbaiki atap atau menggali sumur), atau dalam perhelatan ritual (pernikahan, keagamaan, atau kematian). Masalah akomodasi ditunjukkan melalui upaya damai yang dilakukan kepala desa untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara keluarga tokoh Subali dan penduduk desa. Yang terakhir, masalah konflik ditemukan dalam pertikaian antartokoh, yaitu antara tokoh Subali dan tokoh Utari.
Kajian yang dilakukan Sihombing sangat membantu penulis dalam menganalisis interaksi sosial dalam trilogi novel Darah Emas karena persamaan unsur yang diteliti, yaitu interaksi sosial antartokoh. Perbedaannya, Sihombing menggabungkan penganalisisan interaksi yang berorientasi positif dan negatif sekaligus, sedangkan penulis memilah interaksi yang bersifat asosiatif dan disosiatif ke dalam subbab yang
12 berbeda. Tujuannya adalah untuk menganalisis kedua jenis interaksi secara lebih detail.
Universitas Sumatera Utara

Dalam melakukan interaksi, setiap individu atau kelompok akan memiliki motifmotif yang melatarbelakangi terjadinya interaksi itu. Masalah ini tertuang dalam kajian Dedi Pramono (2007) yang berjudul “Menelaah Pola Interaksi Sosial dalam Sastra Melayu Tionghoa: Pembauran dan Pembentukan Budaya Indonesia”. Novel yang menjadi kajian Pramono adalah novel-novel Melayu Tionghoa yang diterbitkan pada masa kolonial, yakni novel Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang (1903) dan Bunga Roos dari Cikembang karya Kwee Tek Hoay (1927). Interaksi antaretnis yang ditemukan Pramono dalam kedua novel itu adalah interaksi antara etnis Tionghoa dan Tionghoa, Tionghoa dan Belanda, Tionghoa dan pribumi, serta Tionghoa dan Arab. Dalam kajiannya, Pramono lebih menitikberatkan pada motif-motif yang melatarbelakangi terjadinya interaksi sosial antaretnis tersebut. Motif-motif yang ditemukannya adalah motif ekonomis, biologis, dan psikologis. Motif ekonomis dan biologis terdapat pada novel Lo Fen Koei yang diwujudkan melalui tokoh Lo Fen Koei, seorang pakter opium yang mengandalkan kekayaannya dalam berinteraksi, termasuk memuaskan nafsu birahinya; sedangkan motif psikologis tercermin melalui tokoh Oh Ay Tjeng, seorang administratur perkebunan, dalam novel Bunga Roos dari Cikembang. Tokoh ini selalu mengandalkan hati nuraninya dalam berinteraksi, tanpa membedakan etnis dan kelas sosial.
Kajian Pramono ini sangat mendukung penelitian penulis dalam melihat motifmotif yang melatarbelakangi interaksi antartokoh dalam trilogi DE. Motif-motif dalam novel berlatar belakang penjajahan kolonial Belanda yang dikaji Pramono tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan trilogi DE yang berlatar belakang tahun 1987—2000-an.
Universitas Sumatera Utara

Masalah interaksi juga dapat ditemukan dalam penelitian Sainul Hermawan yang berjudul ”Novel Ca-bau-kan dan Ambivalensi Wacana Pembelaan Tionghoa”. Penelitian ini dilakukan Hermawan pada tahun 2005 dan ditemukan dalam bukunya yang berjudul Ragam Aplikasi Kritik Cerpen dan Novel (2009). Dalam penelitiannya, Hermawan mendapati bahwa pembauran orang Tionghoa dalam novel Ca-bau-kan tidak bersifat eksklusif dan monolitik. Ketidakeksklusifan itu ditunjukkan melalui kerja sama (kooperasi) antara tokoh Tionghoa dan non-Tionghoa dalam bidang ekonomi, seni, dan perjuangan melawan penjajahan. Tokoh Tionghoa juga tidak lagi menggunakan bahasa Cina dalam berkomunikasi, melainkan bahasa campuran sehingga adanya kecenderungan yang menunggalkan Tionghoa dalam wacana publik –dalam novel initerbantahkan. Selain kooperasi, Hermawan juga mendapati adanya kompetisi antartokoh dalam Ca-bau-kan, seperti yang diperlihatkan tokoh Tan Peng Liang Semarang dan pesaing bisnisnya, Thio Boen Hiap.
Kajian Hermawan turut membantu penulis dalam melihat kerja sama dan persaingan –sebagai bagian dari bentuk interaksi sosial- yang dilakukan oleh orang Tionghoa. Bentuk interaksi itu bukan hanya dilakukan dengan sesama etnis Tionghoa, melainkan juga dengan etnis yang berbeda.
2.2 Konsep 2.2.1 Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah proses sosial yang terjadi sebagai pengaruh timbal balik antara dua belah pihak, yakni antara individu dan individu, individu dan kelompok, atau kelompok dan kelompok (Abdulsyani, 2007: 151; Suyanto dan Septi, 2007: 16).
Universitas Sumatera Utara

Pengaruh timbal balik itu, menurut Roucek dan Roland (1963: 41), dilakukan melalui kontak sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kontak sosial secara langsung terjadi melalui organisme fisik, sedangkan tidak langsung terjadi melalui tulisan atau komunikasi jarak jauh. Kontak sosial tidak akan terjadi apabila tidak ada komunikasi sosial, yakni persamaan pandangan antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu (Abdulsyani, 2007: 155) karena dalam berkomunikasi, banyak sekali penafsiran terhadap perilaku dan sikap masing-masing orang yang saling berhubungan. Oleh karena itu, kontak dan komunikasi sosial merupakan syarat terjadinya interaksi.
Interaksi sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok bertujuan untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia di sekitarnya. Hal ini disebutkan Goldmann (1981: 40) sebagai human facts ’fakta kemanusiaan’, yakni fakta bahwa manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam proses strukturasi timbal balik yang bukan hanya saling bertentangan, melainkan juga saling mengisi.
Sebagai suatu proses sosial, interaksi sosial merupakan masalah yang pokok karena merupakan dasar dari segala proses sosial. Interaksi sosial dapat bersifat asosiatif dan disosiatif. Interaksi yang bersifat asosiatif mengindikasikan adanya gerak pendekatan atau penyatuan, sebaliknya interaksi sosial disosiatif mengindikasikan adanya pertentangan. Norma (2007: 57) menyebutkan bahwa interaksi sosial bersifat asosiatif dapat terdiri atas empat bentuk, yakni kooperasi, akomodasi, asimilasi, dan amalgamasi.
Kooperasi merupakan kerja sama atau usaha bersama yang dilakukan antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Roucek dan Roland (1963: 41)
Universitas Sumatera Utara

mengatakan ”cooperation is fostered by situations in which individuals stand to benefit more by pooling their efforts than by working individually” ’kooperasi lahir dengan adanya keadaan di mana individu dapat memperoleh manfaat optimal dengan bergotong royong daripada bekerja sendiri’.
Akomodasi merupakan persepakatan sementara yang dapat diterima kedua belah pihak yang tengah bersengketa (Roucek dan Roland, 1963: 41). Akomodasi bersifat temporer yang bertujuan untuk meredakan pertentangan yang terjadi antara kedua belah pihak.
Asimilasi adalah proses peleburan kebudayaan antara dua pihak yang memiliki kebudayaan yang berbeda (Roucek dan Roland, 1963: 44). Proses peleburan ini dapat menimbulkan kebudayaan yang baru. Sementara itu, amalgamasi, menurut Norma (2007: 57), merupakan proses peleburan kebudayaan, dari suatu kebudayaan tertentu yang menerima dan mengolah unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.
Selain asosiatif, interaksi sosial juga dapat berbentuk disosiatif. Bentuk interaksi ini dapat terdiri atas tiga bentuk, yakni kompetisi (persaingan), konflik, dan kontravensi (Norma, 2007: 65).
Kompetisi adalah usaha seseorang untuk memperebutkan tujuan tertentu yang dilakukan dalam keadaan damai (kondusif). Roucek dan Roland (1963: 42) mengatakan bahwa tujuan yang diperebutkan itu dapat berupa materi dan nonmateri.
Berbeda dengan kompetisi, konflik merupakan persaingan yang bersifat ekstrem dan dibarengi dengan kekerasan. Kekerasan yang terjadi, menurut Roucek dan Roland
Universitas Sumatera Utara

(1963: 42), ”is the attempt to eliminate a rival from the competitive process” ’merupakan suatu percobaan untuk menyingkirkan lawan dalam proses persaingan’.
Interaksi sosial disosiatif lainnya adalah kontravensi, yakni proses untuk menghalangi, merintangi, dan menggagalkan pihak lain dalam mencapai tujuan (Norma, 2007: 65).
Interaksi sosial dalam karya sastra –sebagai pengejawantahan dunia dalam imajinasi- akan sama dengan interaksi sosial pada hubungan kemanusiaan dalam kehidupan nyata, yakni adanya motif yang muncul ketika manusia berinteraksi. Dalam karya sastra, motif-motif tersebut akan tergambar melalui interaksi yang dilakukan para tokohnya. Menurut Pramono (dalam www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com), interaksi sosial dalam kehidupan manusia, bersifat natural (alamiah) sehingga motif yang terjadi dapat mencakup motif psikologis, ekonomis, biologis, status sosial, dan agamis.
2.2.2 Novel Novel adalah genre sastra dari Eropa yang muncul di lingkungan kaum borjuasi
di Inggris pada abad 18 (Sumardjo, 1999: 12). Di Indonesia, bentuk novel mulai diperkenalkan pada tahun 1880-an melalui terjemahan novel-novel Tionghoa (Salmon, 2010: 149). Berdasarkan data-data yang diperoleh Salmon (2010: 151), novel pertama yang diterbitkan ketika itu adalah novel Melayu-Tionghoa berjudul Thjit Liap Seng (Bintang Toedjoeh) karangan penulis peranakan, Lie Kim Hok, terbit tahun 1886. Novel ini merupakan campuran dari dua buah novel Eropa yang dijadikan Lie sebagai sumber ilham pembuatan novelnya.
Universitas Sumatera Utara

Menurut Nurgiyantoro (1995: 90), novel merupakan karya fiksi yang menceritakan tentang kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya serta mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan lebih kompleks. Novel mengandung nilai-nilai yang otentik, yakni nilai-nilai yang mengimplisitkan totalitas kehidupan (Faruk, 1994: 30). Novel juga lahir dan berkembang dalam dinamika sosiokultural yang khas karena mengejawantahkan keheterogenitasan manusia (Mahayana, 2007: 1). Kekhasan tersebut menjadikan novel sebagai produk yang unikum dan bernas sehingga dapat dijadikan sebagai acuan pola berpikir, sikap hidup, dan wawasan estetik.
Pada umumnya, novel terdiri atas sejumlah bab yang masing-masing berisi cerita yang berbeda tetapi saling berhubungan. Hubungan antarbab tersebut berupa hubungan kausalitas dan kronologis karena bab yang satu merupakan kelanjutan dari bab yang lain (Nurgiyantoro, 1995: 14). Menurut Stanton (2007: 91), setiap bab dalam novel mengandung berbagai episode yang terdiri pula atas berbagai macam topik. Oleh karena itu, jika hanya membaca satu bab novel secara acak, pembaca tidak akan mendapatkan cerita yang utuh.
Sebagai ragam fiksi naratif, novel lebih populer di kalangan masyarakat karena berisi gambaran kehidupan dan perilaku yang nyata dari zaman pada saat novel itu ditulis (Clara Reeve dalam Wellek dan Austin, 1993: 282). Kepopuleran tersebut ditandai dengan beberapa novel yang mengalami cetak ulang karena tingginya permintaan masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh Sumardjo (1999: 11), beberapa novel yang mengalami cetak ulang, antara lain, Salah Asuhan, karya Abdul Muis, selama 50 tahun telah dicetak ulang 11 kali, Siti Nurbaya, karya Marah Rusli,
Universitas Sumatera Utara

selama 57 tahun dicetak ulang 12 kali, atau Mawar Jingga karya Ike Soepomo, dalam setahun dicetak ulang 5 kali.
Beberapa tahun terakhir, pengarang lebih menyukai menulis novel-novel yang berseri tetapi masih saling berhubungan, terutama dalam pengembangan tema. Muncullah novel-novel berbentuk dwilogi, trilogi, bahkan tetralogi, yang mengindikasikan tingginya produktivitas pengarang dalam menulis, sekaligus keterlibatan penerbit, sebagai trik untuk menarik minat pembaca terhadap novel tersebut sehingga secara tidak langsung juga meningkatkan pendapatan mereka. Sebenarnya novel-novel jenis ini, terutama trilogi, sudah ada di Indonesia sejak tahun 1920-an, misalnya, novel trilogi yang ditulis oleh Tan Kim Sen, penulis keturunan Tionghoa (Salmon, 2010: 376). Akan tetapi, trilogi yang ditulis pada tahun 20-an jauh dari kesan komersial karena masih tunduk pada aturan yang diberlakukan pemerintah kolonial.
2.2.3 Representasi Kata representasi berasal dari bahasa Yunani, repraesentatio, yang berarti
mendahului atau sesuatu yang mendahului objek lain. Stuart Hall (dalam www.lontar.ui.ac.id) mengatakan bahwa representasi adalah bagian dari proses produksi dan pertukaran makna yang melibatkan penggunaan bahasa, tanda-tanda, dan imaji terhadap hal-hal yang diwakilkan. Dengan demikian, representasi dapat diartikan sebagai perwakilan, yakni sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain sebagai pengganti objek faktual (Ratna, 2008: 123). Makna representasi seperti ini, menurut Ratna, melekat dalam beberapa bentuk ciptaan manusia yang menampilkan konteks sosial tertentu, salah satunya adalah karya sastra.
Universitas Sumatera Utara

Karya sastra dapat dikatakan merepresentasikan kehidupan karena kejadian dalam karya sastra, menurut Ratna (2003: 35), merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam karya sastra, representasi dimediasi oleh bahasa melalui elemen-elemen yang membangun karya sastra, seperti narasi, alur, atau citra. Sebagai alat utama, bahasa tidak secara langsung menunjuk kepada sesuatu yang benar. Bahasa hanya menjelaskan, mewacanakan, dan menafsirkan kenyataan alamiah. Hasil penafsiran tentu tidak persis sama dengan kenyataan tersebut. Kenyataan dalam karya sastra sudah mengalami proses konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi sebagai wujud representasi realitas harfiah. Dengan demikian, representasi berbeda dengan imitasi karena representasi bukan semata-mata tiruan (imitasi) atas kenyataan, melainkan rekonstruksi dari situasi sesungguhnya. Mengenai hal ini, Collingwood (dalam Ratna, 2008: 128) mengatakan, ”Representasi berkaitan dengan alam semesta, imitasi berkaitan dengan karya seni yang lain”.
Sebuah karya sastra dikatakan representatif apabila mampu menafsirkan dan merefleksikan realitas tertentu secara menyeluruh. Dalam hal ini, pengarang memegang peranan penting karena merupakan subjek kreator yang menafsirkan realitas tersebut. Hasil penafsiran biasanya dibarengi dengan pesan