Nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

NILAI SEJARAH
DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI
DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh

Dio Mohamad Nurdiansah
109013000120

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

NILAI SEJARAH
DALAN{ NOVEL PULANG

KARYA LEILA

S. CHUDORT

DAN IMPLIKASTNYA TBRHADAP PEMBELAJARAN

BAHASA DAN SASTRA TNDONESIA
SKR1PSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana pendidikan (S.pd.)

Oleh

Dio l\fohamad Nurdiansah
I09013000120

a
iBar.vah Bimbingan

embimbing

JURUSAN PENDIDIKAI\ BAHASA DAI\ SASTRA INDONESTA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IJI\TVERSITAS TSLAM NBGE,RI SYARIF HTDAYATULLAH

JAKARTA
201s

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul Nilai Sejarah dalam Novel Pulung karya Leila S. Chudori dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia disusun oleh DIO
MOHAMAD NURDIANSAH Nomor Induk Mahasisu,a 109013000120, diajukan kepada
Fakultas IImu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah
dinyatakan lulus dalam Ltjian Munaqasah pada tanggalT April2015 di hadapan dervan
penguji Karena itu. penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.pd) dalam bidang
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jakarta, 7 April 2015

Panitia Ujian Munaqasah

Ketua Sidang (Ketua Program Studi pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia)
Dra. Hindun, M.Pd
NIP. 19701215 20A9D 2 001

Tanggal

Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia
Dona Aji Karunia Putra, i\{A
NIP 1984040920t101 I 01s

Penguji

\Ll

,4yn

l/uli

I

Dr. Siti Nuri Nurhaidah,

NrtA

NlP.
Penguji Il
Ahmad Bahtiar, M. Hum
NIP 19760118 200912 I 002

tY/01 t5

Mengetahui,
Itas Tarbiyah dan Keguruan

Syarif Hidayatullah

ib Raya, M.A)
198203 1 007

LEMBAR PERNYATAAN PENULIS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
nama

:

Dio Mohamad Nurdiansah

tempat, tanggal lahir

:

Jakart4

}JIM

.109013000120

jurusan

: Pendidikan Bahasa dan Sastra Irrdonesia

judul skripsi

: Nilai Sejarah dalam Novel Pulang karya
Leila S. Chudori dan Implikasinya terhadap

15

Mei 1990

Pembela_iaran Bahasa dan Sastra Indonesia

dosen pernbimbing

:Drs. Jamal D. Rahman, M.Hum.

Dengan ini menyatakan bahwa:

l.
2.
3.

Skripsi ini merupakan karya saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu (Sl) di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlak-u di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku

di

universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.
Jaka

mtffimzu
m.EMPEIL

NIM 109013000120

ABSTRAK

Dio Mohamad Nurdiansah, 109013000120, “Nilai Sejarah dalam Novel Pulang
karya Leila S. Chudori dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia”, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dosen Pembimbing:
Drs. Jamal D. Rahman, M.Hum.
Penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana nilai
sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori? 2. Bagaimana implikasi nilai
sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori terhadap pembelajaran bahasa
dan sastra Indonesia? Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan nilai sejarah
dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Memaparkan implikasi nilai sejarah
dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori terhadap pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif untuk
mendeskripsikan data berupa unsur-unsur pembangun novel dan nilai sejarah
yang terkandung dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat karena
data-datanya berupa teks. Teknik penelitian yang digunakan adalah analisis
dokumen yaitu novel Pulang karya Leila S. Chudori dan studi pustaka untuk
mencari dan mengumpulkan literatur yang mendukung penelitian mengenai nilai
sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasinya terhadap
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Nilai Sejarah yang diperoleh berupa Tragedi 1965, Masa Pemerintahan Soeharto,
dan Tragedi 1998. Penelitian mengenai nilai sejarah dalam novel Pulang ini dapat
diimplikasikan terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMA kelas XI semester 2.
Standar Kompetensi yang sesuai yakni aspek mendengarkan dengan memahami
pembacaan novel. Kompetensi Dasar yang sesuai yakni menemukan nilai-nilai
dalam novel yang dibacakan.

Kata Kunci: Sejarah, Novel, Pulang, Leila S. Chudori

i

ABSTRACT

Dio Mohamad Nurdiansah, 109013000120, "The Value of History in Novel Pulang
by Leila S. Chudori and Implications of Learning Indonesian Language and
Literature", Language and Literature Education Majors of Indonesia, Faculty of
Science Education and Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Supervisor: Drs.
Jamal D. Rahman, M. Hum.
This study has a formulation of the problem as follows: 1. How the value of history in
the novel Pulang by Leila S. Chudori? 2. What are the implications of historical value
in the novel Pulang by Leila S. Chudori towards learning the language and literature
Indonesia? Purpose of this study is to explain the elements of the novel builder
Pulang by Leila S. Chudori. Explain the value of history in the novel Pulang by Leila
S. Chudori. Describe the implications of historical value in the novel Pulang by Leila
S. Chudori towards learning Indonesian language and literature.
Methods used in this study is a qualitative method for describing data in the form of
elements builders novel and historical value contained in the novel Pulang Leila S.
Chudori. Data collection techniques used in this study is the technique of note
because the data in the form of text. Engineering research is the analysis of a
document that is novel Pulang by Leila S. Chudori and literature to find and collect
the literature which supports research on the value of history in the novel Pulang by
Leila S. Chudori and its implications for learning Indonesian language and literature.
Historical value obtained in the form of Tragedy 1965, The Reign of Soeharto, and
Tragedy in May 1998. Research on the value of history in the novel can be implied to
learning Indonesian Language and Literature in the Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) in the eleventh grade high school semesters 2. Competency
Standards corresponding to listen to understand the aspects of reading novels. Basic
Competence corresponding if find the values in the novel read.

Keywords: History, Novel, Pulang, Leila S. Chudori

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., yang telah
memberikan rezeki dan karunia sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi
berjudul Nilai Sejarah dalam Novel “Pulang” karya Leila S. Chudori dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Salawat serta
salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., beserta kerabat,
keluarga, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari berbagai hambatan, namun
dapat dilalui berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A,. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Dra. Hindun, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. Dona Aji Kurnia, M.A., selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
4. Drs. Jamal D. Rahman, M.Hum., selaku dosen pembimbing skripsi
penulis;
5. Dr. Siti Nuri Nurhaidah, MA., selaku dosen penguji I skripsi penulis;
6. Ahmad Bahtiar, M.Hum., selaku dosen penguji II skripsi penulis;
7. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah
memberikan ilmu pengetahuan selama perkuliahan;

iii

8. Keluarga penulis yakni Bapak Bambang Eddy Usmanto, Ibu Nurochwati,
Geno Mohamad Nurdiansah, dan Amalia Rachmadanty yang senantiasa
mendukung dan memotivasi penulis dalam proses penulisan skripsi ini;
9. Mba Ivan dan Mas Hendi yang telah memotivasi dan meminjamkan
printernya demi mendukung penulis dalam proses penulisan skripsi ini;
10. Naila Mufidah, M. Ismar Jamal Akbar, Saepul Bahri, Shibgoh, Ahmad
Ridho, Maria Ulfah, dan Wiwien Winarti beserta kawan-kawan Permasi
yang telah meluangkan waktu untuk membelikan kertas A4, memberikan
motivasi, dan tidak berisik disaat penulis sedang mengerjakan skripsi ini;
11. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas
partisipasi dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga semua bantuan, bimbingan, ilmu, dan doa yang telah diberikan
mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat dan memberi sumbangsih bagi penelitian di bidang sastra serta bagi
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Penulis juga berharap adanya saran dan
kritik membangun terhadap karya tulis ini.
Wassalamualaikum wr.wb.
Jakarta, Februari 2015

Penulis

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ............................................................................................. i
ABSTRACT ............................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ........................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................... v

BAB I

PENDAHULUAN ................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................ 3
C. Pembatasan Masalah ....................................................... 3
D. Rumusan Masalah ........................................................... 4
E. Tujuan Penelitian ............................................................ 4
F. Manfaat Penelitian .......................................................... 4
G. Metodologi Penelitian ..................................................... 4

BAB II

LANDASAN TEORI........................................................... 8
A. Nilai Sejarah .................................................................... 8
B. Novel ............................................................................... 10
C. Unsur Intrinsik Prosa ...................................................... 11
D. Pendekatan Mimetik........................................................ 14
E. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia .................... 15
F. Penelitian yang Relevan .................................................. 17

BAB III

PENGARANG DAN KARYANYA ................................... 21
A. Biografi Leila S. Chudori ................................................ 21
B. Sinopsis Novel Pulang .................................................... 23

v

BAB IV

NILAI

SEJARAH

DALAM

NOVEL

PULANG

KARYA LEILA S. CHUDORI DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP

PEMBELAJARAN

BAHASA

DAN

SASTRA INDONESIA ....................................................... 25
A. Unsur Intrinsik Prosa ...................................................... 25
1. Tema.......................................................................... 25
2. Tokoh dan Penokohan ............................................... 26
3. Alur ........................................................................... 33
4. Latar .......................................................................... 36
5. Sudut Pandang........................................................... 38
6. Gaya Penceritaan ....................................................... 42
B. Nilai Sejarah dalam Novel Pulang karya Leila S.
Chudori............................................................................ 44
1. Indonesia Periode 1965-1966 ................................... 44
2. Indonesia Periode 1966-1998 ................................... 48
C. Implikasi terhadap Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia ........................................... 59
BAB V

PENUTUP ............................................................................ 63
A. Simpulan ......................................................................... 63
B. Saran ................................................................................ 64

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ vii
LAMPIRAN

vi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra dan kehidupan tidak dapat dipisahkan. Karya sastra menawarkan
berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan.
Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan kesungguhan dan
kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan
pandangannya. Sastra sebagai cermin dari kehidupan tersebut tentu saja
menawarkan bentuk penyampaian intuitif yang khas. Dengan bahasa yang
menjadi alat dalam sastra, aspek sastra tidak terlepas dari teks atau tulisan. Sastra
sendiri dibangun dari tiga unsur perwujudan bahasa yakni puisi, prosa, dan drama.
Sastra dan sejarah memiliki hubungan yang sangat dekat tapi jauh, jauh
tapi dekat. Paradoks ini tak terhindarkan, karena di satu sisi sejarah kerapkali
menjadi sumber sastra, dan sastra merupakan salah satu sumber sejarah, terutama
ketika sastra dahulu merupakan sumber tertulis utama karena minimnya sumbersumber lain dalam merekonstruksi sejarah. Dalam konteks itulah, hubungan sastra
dan sejarah amat dekat.
Namun di sisi lain, sejarah tetaplah sejarah dan sastra tetaplah sastra.
Sejarah berdasarkan faktualitas sedangkan sastra berdasarkan fiksionalitas yang
menjadikan hubungan sejarah dan sastra mengalami ketegangan abadi antara fakta
dan fiksi, membuat jarak antara sejarah dan satra amat jauh. Namun demikian, di
tengah ketegangan abadi itu, sejarah dan sastra tak pernah benar – benar terpisah.
Banyak karya sastra kita hingga sekarang bersumberkan sejarah, atau sejarah
ditulis dalam bentuk karya sastra.
Semua itu menunjukan bahwa sejarah dan sastra memiliki hubungan
penting. Sudah tentu sejarah merupakan salah satu sumber karya sastra dari waktu

1

2

ke waktu, dari satu peristiwa ke lain peristiwa. Jikalau karya satra tidak bisa
dijadikan sumber sejarah, ia toh merefleksikan suatu sikap terhadap sejarah.1
Novel dalam ilmu kesusastraan merupakan salah satu bentuk prosa. Novel
memiliki kekhasan yakni jalan cerita yang kompleks. Permasalahan yang
disampaikan seorang penulis novel dapat terdiri dari berbagai macam hal.
Berbagai hal tersebut tentu saja erat kaitannya dengan kehidupan para tokoh yang
dimunculkan oleh penulis. Cerita yang dihadirkan dalam novel tak ubahnya
sebagai sebuah catatan sejarah dari kehidupan tokoh. Lebih jauh dari itu, dapat
pula tokoh memasuki suatu peristiwa penting yang menjadi sejarah.
Beberapa karya prosa baik novel maupun cerpen banyak kita temui bukan
hanya bernilai hiburan dan estetika semata, melainkan juga berisi kandungan
sejarah. Sebut saja beberapa judul seperti novel-novel ‗Tetralogi Buru‘ karya
Pramoedya Ananta Toer, novel Kubah karya Ahmad Tohari, cerpen Clara karya
Seno Gumira Ajidarma. Karya-karya tersebut seolah membantu ingatan kita
kembali pada peristiwa-peristiwa penting yang hadir lewat pelataran dalam
penceritaan karya-karya tersebut.
Salah satu novel yang memuat nilai sejarah yakni karya Leila S. Chudori
yang berjudul Pulang. Pada umumnya, pengarang meleburkan fakta dan tema
dengan bantuan sarana-sarana sastra seperti konflik, sudut pandang, simbolisme,
ironi, dan sebagainya.2 Leila S. Chudori menulis cerita Pulang dengan bantuan
sarana-sarana sastra tersebut. Dia menjadikan sejarah sebagai peristiwa kehidupan
tokoh-tokohnya dengan penyusunan konflik yang terjadi, sudut pandang dari
berbagai tokoh yang seolah memosisikan mereka sebagai narasumber, simbolsimbol pewayangan yang menciptakan nuansa romantisme, dan masih banyak hal
lain yang mengesankan bahwa sejarah bukan hanya dapat dibaca dari buku-buku
sejarah atau film dokumentasi, melainkan juga mampu disampaikan lewat
kandungan nilai sejarah dalam jalinan cerita pada novel Pulangnya tersebut.

1

Jurnal kritik, teori dan kajian sastra. sejarah di hadapan sastra, nomer 3 tahun II, 2012, h. 4
2
Stanton, Robert. Teori Fiksi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 9.

3

Nilai sejarah dalam novel Pulang dapat dipahami dari latar sejarah yang
digunakan Leila S. Chudori untuk membangun kisah dalam novelnya. Itulah
sebabnya untuk memahami pengalaman yang digambarkan oleh cerita, hendaknya
dipahami terlebih dulu fakta-fakta dan tema yang menjadi elemen-elemennya.3
Nilai sejarah dalam novel Pulang menjadikan novel tersebut memiliki sisi lebih
dalam mencerminkan peristiwa di dalam masyarakat yang saat ini sudah banyak
mengenyampingkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang dialami oleh rakyat
Indonesia.
Oleh karena itulah, karya sastra sangatlah penting untuk membuka pikiran
para siswa di Indonesia agar dapat merasakan getirnya perjuangan bangsa yang
berliku dan diharapkan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme yang begitu besar
dan memperjuangkan hingga tetes darah penghabisan dengan terus belajar dan
berkembang memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang peneliti paparkan sebelumnya,
maka identifikasi masalah penelitian ini adalah:
1. Terdapat novel yang bisa dijadikan salah satu sumber sejarah.
2. Diperlukannya penelitian terhadap nilai sejarah dalam novel.
3. Kurangnya perhatian terhadap pembelajaran nilai sejarah dalam novel
beserta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah peneliti, maka pembatasan masalah yaitu
Nilai Sejarah dalam Novel Pulang karya Leila S. Chudori dan Implikasinya
terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

3

Ibid., h. 12.

4

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalahnya
adalah:
1. Bagaimana nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori?
2. Bagaimana implikasi nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.
2. Memaparkan implikasi nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
teoretis maupun praktis.
1.

Manfaat teoretis dimaksudkan bahwa hasil penelitian dapat dijadikan
sebagai pengembangan di bidang sastra terutama dalam mengkaji nilai
sejarah yang terkandung dalam novel. Selain itu juga diharapkan dapat
memberikan sumbangsih penelitian ilmiah terhadap karya prosa.

2.

Manfaat praktis dimaksudkan bahwa hasil penelitian dapat dijadikan
sebagai pengembangan di bidang pendidikan baik bagi para pendidik dan
mahasiswa kependidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari implikasi
penelitian ini terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

G. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, sedangkan methodos itu
sendiri berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui,
mengikuti, sesudah, sedangkan hodos berarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian

5

lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas,
langkah-langkah

sistematis

untuk

memecahkan

rangkaian

sebab

akibat

berikutnya. Sebagai alat, sama dengan teori, metode berfungsi untuk
menyederhanakan masalah sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan
dipahami.4
Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah metode kualitatif. Metode
kualitatif dilakukan dengan cara memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan
menyajikannya dalam bentuk deskripsi.5 Tujuan dari penelitian kualitatif ini
adalah untuk menyajikan penafsiran secara sistematis, faktual, dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselediki.
Lebih jauh, para ahli merumuskan penelitian kualitatif sebagai berikut:

Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka,
pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersbeut secara holistik
(utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau
organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya
sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
David Williams menulis bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan
data pada sutu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan
dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah. Jelas
definisi ini memberi gambaran bahwa peneltian kualitatif mengutamakan
latar alamiah, metode alamiah, dan dilakuikan oleh orang yang
mempunyai perhatian alamiah.
Penulis buku penelitian kualitatif lainnya (Denzin dan Lincoln 1987)
menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian uang
menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang
terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.
Dari segi pengertian ini, para penulis masih tetap mempersoalkan latar
alamiah dengan maksud agar hasilnya dapat digunakan untuk menafsirkan
fenomena dan yang dimanfaatkan untuk penelitian kualitatif adalah
berbagai macam metode penelitian. Dalam penelitian kualitatif metode

4

Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U., Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet-3 2007), h. 34.
5
Ibid., h. 46.

6

yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan
pemanfaatan dokumen.6
Dari kajian tentang definisi-definisi tersebut dapatlah disintesiskan bahwa
penelitian kaulitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.7
Metode penelitian kualitatif yang digunakan penulis yaitu content analysis
atau analisis isi. Penelitian ini berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi
dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Penelitian ini dengan
menggunakan analisis isi mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang
menjadi masalah, kemudian menganalisis dan menafsirkan data yang ada. Metode
analisis isi digunakan untuk menelaah isi dari suatu dokumen. Dalam penelitian
ini dokumen yang dimaksud adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumen,
yaitu berupa novel berjudul Pulang karya Leila S. Chudori. Data tersebut
merupakan novel yang diterbitkan pada cetakan kedua, Januari 2013 oleh
Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah:
1. Teknik inventarisasi
Dalam teknik ini peneliti melakukan inventarisasi terhadap novel yang
memiliki nilai sejarah yakni novel Pulang karya Leila S. Chudori.
2. Teknik baca simak
6

Dikutip dalam Prof. Dr. Lexy J. Moleong, M.A., Metodologi Penelitian Kualitatif,
(Bandung: Rosda Karya, 2011), Cet. 29, h. 4.
7
Prof. Dr. Lexy J. Moleong, M.A., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda
Karya, 2011), Cet. 29, h. 6.

7

Dalam teknik ini peneliti membaca, menelaah, memahami, dan
mengidentifikasikan nilai sejarah dalam novel tersebut.
3. Teknik pencatatan
Dalam teknik ini peneliti mencatat hal-hal penting yang mendukung
nilai sejarah dalam novel tersebut.

4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga
komponen, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
a. Reduksi data
Pada langkah ini data yang diperoleh dicatat dalam uraian yang terperinci.
Data-data yang dipilih hanya data yang berkaitan dengan masalah yang
akan dianalisis, yaitu nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori.
b. Penyajian data
Pada langkah ini, data-data yang sudah ditetapkan kemudian disusun
secara teratur dan terperinci agar mudah dipahami. Data-data tersebut
kemudian dianalisis sehingga diperoleh deskripsi mengenai nilai sejarah
yang terkandung dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.
c. Penarikan simpulan
Pada tahap ini dibuat kesimpulan mengenai hasil dari data yang diperoleh
sejak awal penelitian. Penarikan kesimpulan memuat hasil data berupa
nilai sejarah apa saja yang disampaikan penulis lewat novel Pulang karya
Leila S. Chudori.

BAB II
LANDASAN TEORI

Penelitian terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori tentu saja
memerlukan landasan teori. Penjelasan mengenai teori-teori yang berhubungan
dengan penelitian sangat penting dilakukan sebelum menyajikan hasil penelitian.
Teori-teori yang menjadi landasan dalam penelitian terhadap novel Pulang ini
dapat dipaparkan sebagai berikut.

A. Nilai Sejarah
Nilai atau value (Inggris) atau valere (Latin) berarti berguna, mampu akan,
berdaya, berlaku, dan kuat. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu
dapat disukai, diinginkan, berguna, dihargai, dan dapat menjadi objek
kepentingan.1 Filsuf Jerman-Amerika, Hans Jonas menyatakan, nilai adalah the
addressee of a yes, “sesuatu yang ditujukan dengan ‗ya‘”, karena nilai selalu
mempunyai konotasi positif sehingga nilai menjadi sesuatu yang kita benarkan
dan kita aminkan.2 Dalam Ensiklopedi Britanica yang dikutip oleh Noor Syam
menyebutkan bahwa nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas sesuatu
objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.3
Sejarah berasal dari kata syajarah yakni dari bahasa Arab yang berarti
pohon. Kata ini masuk ke Indonesia sesudah terjadi akulturasi antara kebudayaan
Indonesia dengan kebudayaan Islam. Dalam kaitan tersebut, hadir bermacammacam pengertian “sejarah” yaitu silsilah, riwayat, babad, tambo atau tarikh.4
Sejarah dalam arti sempit mempelajari manusia masa lampau, sepanjang
hal itu dapat diteliti dari keterangan-keterangan tertulis yang berasal dari
1

Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak ; Peran Moral Intelektual, Emosional, dan
Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), Cet. 2, h.
29.
2
Bertened, Etika, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), Cet. 11, h. 149.
3
Kosasih, Dasar-dasar Keterampilan Bersastra, (Bandung: Yrama Widya, 2012), h. 46.
4
Ibid., h. 27.

8

9

zamannya dan kemudian sampai kepada kita. Dalam arti luas sejarah berusaha
mengungkapkan manusia masa lalu dalam menjalani riwayatnya sejak dari mula,
tidak peduli apakah keterangan yang ditinggalkannya berupa keterangan tertulis
atau bukan.5
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sejarah mengandung
tiga pengertian yaitu: asal-usul (keturunan) silsilah; kejadian dan peristiwa yang
benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo, pengetahuan atau uraian
tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau; ilmu
sejarah.
Beberapa pengertian dari sejarah salah satunya dipaparkan oleh Louis
Gottschalk sebagaimana berikut ini.
Sejarah—dalam bahasa Inggris history—berasal dari kata benda Yunani
istoria yang berarti ilmu. Dalam penggunaannya oleh filsuf Yunani
Aristoteles, istoria berarti suatu penelaahan sistematis mengenai
seperangkat gejala alam, entah susunan kronologis merupakan faktor atau
tidak di dalam penelaahan; penggunaan itu meskipun jarang, masih tetap
hidup di dalam bahasa Inggris yang disebut natural history.6
Pengertian lain mengenai sejarah dapat dilihat dari pemaparan Jan Romein
berikut ini.
Kata history berarti “masa lampau umat manusia”. Bandingkan dengan
kata Jerman untuk sejarah, yakni geschichte, yang berasal dari kata
geschehen yang berarti terjadi. Geschichte adalah sesuatu yang telah
terjadi. Peristiwa dan kejadian itu benar-benar terjadi pada masa lampau.7.
Nilai sejarah yaitu pendekatan karya sastra yang melihat satu fenomena
atau gejala sejarah. Karya sastra dipahami selalu berkaitan dengan masa lalu
karena karya satra terlahir sebagai buah karya seorang pengarang, maka
keterkaitan masa lalu itu juga berlaku untuk pengarang, sejarah sastra dengan
implikasi para pengarang, karya sastra, dan periode-periode tertentu.
5

Dra. Sugihastuti, M.S., Teori Apresiasi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet ke-2.
2007), h. 161.
6
Dikutip dari Prof. Drs. H. Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat
Sejarah, Sejarah Filsafat, dan Iptek. Jakarta: Rineka Cipta. 2002, h. 27.
7
Ibid., h. 27.

10

Nilai sejarah adalah hal-hal yang erat kaitannya dengan sejarah. Waktu
yang telah lewat sudahlah lewat, tidak dapat diraih atau dikejar lagi. Begitu juga
dengan peristiwa-peristiwa yang hanya sekali terjadi. Oleh karena itu, semua
peristiwa yang telah lewat tidak dapat ditemui lagi dan tidak akan terulang
kembali. Peristiwa yang telah lewat itu dapat juga sampai kepada manusia karena
meninggalkan jejak. Jejak tersebut menjadi komponen penting yang tidak dapat
ditinggalkan dalam penulisan sejarah.

B. Novel
Dalam bidang sastra, prosa sering dihubungkan dengan kata fiksi. Kita
sering mendengar kata prosa fiksi. Kata fiksi berarti khayalan atau tidak
berdasarkan kenyataan. Padahal dalam kenyataan, karya sastra yang berwujud
prosa diciptakan dengan bahan gabungan antara kenyataan dan khayalan. Banyak
karya prosa yang justru idenya berangkat dari kenyataan.8
Istilah prosa fiksi atau cukup disebut karya fiksi, biasa juga diistilahkan
dengan prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi
tersebut adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu
dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak
dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.9
Karya fiksi lebih lanjut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam
bentuk, baik itu roman, novel, novelet, maupun cerpen. Perbedaan berbagai
macam bentuk dalam karya fiksi itu pada dasarnya hanya terletak pada kadar
panjang-pendeknya isi cerita, kompleksitas isi cerita, serta jumlah pelaku yang
mendukung cerita itu sendiri.10
Bentuk karya fiksi yang terkenal dewasa ini adalah novel dan cerita
pendek (cerpen). Dalam istilah novel tercakup pengertian roman; sebab roman
hanyalah istilah novel untuk zaman sebelum perang dunia kedua di Indonesia.
Digunakannya istilah roman waktu itu adalah wajar karena sastrawan di Indonesia
waktu itu umumnya berorientasi ke Negeri Belanda, yang lazim menamakan
bentuk ini dengan roman.
Di antara para ahli teori sastra kita memang ada yang membedakan antara
novel dan roman, dengan mengatakan bahwa novel mengungkapkan suatu
8

Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. (Jakarta: Grassindo. 2008), h. 127.
Aminuddin. Pengantar Apresiasi Sastra. (Yogyakarta: Sinar Baru. 1987), h. 66
10
Ibid., h. 66

9

11

konsentrasi kehidupan pada suatu saat yang tegang, dan pemusatan kehidupan
yang tegas: sedangkan roman dikatakan sebagai menggambarkan kronik
kehidupan yang lebih luas yang biasanya melukiskan peristiwa dari masa kanakkanak sampai dewasa dan meninggalkan dunia. Novel merupakan karya fiksi
yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan
disajikan dengan halus.11

C. Unsur Intrinsik Prosa
Berbicara mengenai anatomi fiksi berarti berbicara tentang struktur fiksi
atau unsur-unsur yang membangun fiksi itu. Struktur fiksi itu secara garis besar
dibagi atas dua bagian, yaitu : (1) Struktur luar (ekstrinsik) dan (2) struktur dalam
(intrinsik). Struktur luar (ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang berada di
luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut,
misalnya faktor sosial ekonomi, faktor kebudayaan, faktor sosio-politik,
keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat. Struktur dalam (intrinsik)
adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra tersebut seperti penokohan atau
perwatakan tema, alur, pusat pengisahan, latar, dan gaya bahasa.12
1. Penokohan dan perwatakan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan
sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita.13 Tokoh cerita biasanya mengemban
suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan
(karakteristik) dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindaktunduk, ucapan, atau sejalan tidaknya antara apa apa yang dikatakan dengan apa
yang dilakukan.14 Berdasarkan Kamus Istilah Sastra, tokoh adalah orang yang
memainkan peran dalam karya sastra. Penokohan adalah proses penampilah tokoh
dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita.15
Penokohan dapat dilakukan melalui teknik kisahan dan teknik ragaan. Watak dan
sifat tokoh terlihat dalam lakuan fisik (tindakan dan ujaran) dan lakuan rohani
(renungan atau pikiran).16

11

Semi, Atar. Anatomi Sastra. (Padang: Angkasa Raya. 1988), h. 32.
Atar Semi, op. cit., h. 35.
13
Atar Semi, op. cit., h. 79.
14
Atar Semi, op. cit., h. 37.
15
Atar Semi, op. cit., h. 206.
16
Zaidan, Abd., dkk. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka. 2007. op.cit., h. 206.

12

12

2. Tema
Menurut Aminuddin tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema
berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang
diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan
pemaparan oleh pengarangnya.17
Tema dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa, penokohan, dan latar.
Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang dalam
karyanya. Oleh sebab itu, tema merupakan hasil konklusi dari berbagai peristiwa
yang terkait dengan penokohan dan latar.18
Jadi tema tidak lain dari suatu gagasan sentral yang menjadi dasar tersebut.
Yang menjadi unsur gagasan sentral adalah topik atau pokok pembicaraan dan
tujuan yang akan dicapai oleh pengarang dengan topiknya. Jadi, secara praktis
dapat dikatakan pengertian tema itu tercakup persoalan dan tujuan atau amanat
pengarang.19
3. Alur (plot)
Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang
disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan
bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi.20 Berdasarkan Kamus Istilah Sastra alur
adalah unsur struktur yang berwujud jalinan peristiwa di dalam karya sastra yang
memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang diwujudkan antara lain oleh
hubungan sebab akibat, tokoh, tema, atau ketiganya.21
Menurut Abrams, alur ialah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapantahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para
pelaku dalam suatu cerita.22 Dengan demikian, alur itu merupakan perpaduan
unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita.

17

Siswanto, op. cit., h. 161.
Hasanuddin WS, op.cit., h. 103.
19
Atar Semi, op. cit., h. 43.
20
Atar Semi, op. cit., h. 43.
21
Zaidan, Abd., dkk. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka. 2007. h. 26.
22
Siswanto, op. cit., h. 159.
18

13

4. Latar
Latar dalam Kamus Istilah Sastra diartikan sebagai waktu dan tempat
terjadinya lakuan di dalam karya sastra atau drama.23 Aminuddin memberi
batasan latar dalam karya fiksi berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta
memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.24 Latar cerita adalah lingkungan
tempat peristiwa terjadi. Termasuk di dalam latar ini adalah, tempat atau ruang,
waktu.25
Latar merupakan identitas permasalahan drama sebagai fiksionalitas yang
secara samar diperlihatkan penokohan dan alur. Jika permasalahan drama sudah
diketahui melalui alur atau penokohan, maka latar dan ruang memperjelas
suasana, tempat, serta waktu peristiwa itu berlaku. Latar dan ruang di dalam
drama memperjelas pembaca untuk mengidentifikasikan permasalahan drama.26
5. Gaya Penceritaan
Menurut Aminuddin, gaya adalah cara seorang pengarang menyampaikan
gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta
mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual
dan emosi pembaca.27
6. Titik Pandang/ Sudut Pandang
Titik pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya. Dari tempat
itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa, temapt, waktu dengan gayanya
sendiri.28 Titik pandang oleh Aminuddin diartikan sebagai cara pengarang
menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya.29 Harry Shaw
menyatakan titik pandang terdiri atas (1) sudut pandang fisik, yaitu posisi dalam

23

Zaidan, op. cit., h. 118.
Aminudin, op. cit., h. 149.
25
Atar Semi, op. cit., h. 46.
26
Hasanuddin, op. cit., h. 94.
27
Siswanto, op. cit., h. 159.
28
Siswanto, op. cit. h. 151.
29
Siswanto, op. cit. h. 152.
24

14

waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita, (2)
sudut pandang mental, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah
dalam cerita, dan (3) sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih
pengarang dalam membawa cerita; sebagai orang pertama, kedua, atau ketiga.30

D. Pendekatan Mimetik
Pendekatan

mimetik

merupakan

suatu

pendekatan

yang

setelah

menyelidiki karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, masih merasa perlu
dihubung-hubungkan hasil temuan itu dengan realita objektif. Betapapun sebuah
karya sastra sebagai otonom tetap masih mempunyai hubungan dengan
sumbernya, dan sampai sejauh mana hubungan tersebut perlu diselidiki lebih
lanjut. Otonomi sastra tidak berarti menghambat pencaharian hubungan data
imajinatif dengan data normatif dan data praktis dalam masyarakat yang
menghidupkan dan menyuburkan karya satra tersebut.31
Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan
kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra.
Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dari realitas.32 Jadi,
pendekatan mimetik adalah kritik yang membahas dan menilai karya sastra
dihubungkan dengan realita atau kenyataan. Dalam kritik ini karya sastra
dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan. Karya sastra dianggap refleksi,
tiruan, ataupun cermin dari realitas.
Menurut Abrams, pendekatan mimetik atau mimesis merupakan
pendekatan estetis yang paling primitif. Akar sejarahnya terkandung dalam
pandangan Plato dan Aristoteles. Menurut Plato, dasar pertimbangannya adalah
dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri tidak bisa mewakili kenyataan
yang sesungguhnya, melainkan hanya sebagai peniruan. Secara hierarkis dengan
demikian karya seni berada dibawah kenyataan. Pandangan ini ditolak oleh
Aristoteles dengan argumentasi bahwa karya satra seni berusaha menyucikan jiwa
30

Siswanto, op. cit. h. 152.
Hasanuddin, op. cit., h. 108.
32
Siswanto, op. cit., h. 188.
31

15

manusia, sebagai katharsis. Di samping itu juga karya seni berusaha membangun
dunianya sendiri.33
Dalam pandangan Lowenthal sastra sebagai cermin nilai dan perasaan,
akan meurjuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang
berbeda dan juga cara individu menyosialisasikan diri melalui struktur sosial.
Perubahan dan cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sorotan
pengarang yang tercermin lewat teks. Cermin tersebut, menurut Stendal dapat
berupa pantulan langsung segala aktivitas kehidupan sosial. Maksudnya,
pengarang secara real memantulkan keadaan masyarakat lewat karyanya, tanpa
terlalu banyak diimajinasikan.
Karya sastra pada dasarnya merupakan karya ekspresif seorang pengarang,
tetapi di dalamnya juga kadang terungkap data yang menyangkut keadaan sosial
dari periode tertentu. Keadaan sosial seperti struktur sosial, kelas sosial, dan
lembaga-lembaga sosial, bahkan penggambaran keadaan sosial itu cenderung
lebih mendekati kenyataan dan tidak dilukiskan semata-mata menurut fantasi atau
imajinasi yang bebas.34

E. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Secara umum tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia bidang sastra adalah agar (1) peserta didik mampu menikmati dan
memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas
wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;
dan (2) peserta didik menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.35
Tujuan itu dijabarkan ke dalam kompetensi mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis sastra. Kemampuan mendengarkan sastra meliputi

33

Nyoman, op. cit., h. 70.
Dudung Abdurrahman, M.Hum, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1999), h. 35.
35
Siswanto, op. cit., h. 212.
34

16

kemampuan mendengarkan, memahami, dan mengapresiasi ragam karya sastra
(puisi, prosa, drama) baik karya asli maupun saduran/terjemahan sesuai dengan
tingkat kemampuan peserta didik. Kemampuan berbicara sastra meliputi
kemampuan membahas dan mendiskusikan ragam karya sastra di atas sesuai
dengan isi dan konteks lingkungan dan budaya. Kemampuan membaca sastra
meliputi kemampuan membaca dan memahami berbagai jenis dan ragam karya
satra, serta mampu melakukan apresiasi secara tepat. Kemampuan menulis sastra
meliputi kemampuan mengekspresikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa,
drama) dalam bentuk sastra tulis yang kreatif, serta dapat menulis kritik dan esai
sastra berdasarkan ragam sastra yang sudah dibaca.36
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial,
dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam
mempelajari semua bidang studi.37 Pembelajaran Bahasa Indonesia ini bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Berkomunikasi secara
efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun
tulis. 2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan

dan

bahasa

negara.

3.

Memahami

bahasa

Indonesia

dan

menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. 4.
Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual,
serta kematangan emosional dan sosial. 5. Menikmati dan memanfaatkan karya
sastra

untuk

memperluas

wawasan,

memperhalus

budi

pekerti,

serta

meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. 6. Menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual
manusia Indonesia kreativitas guru maupun peserta didik justru lebih menentukan
isi dan jalannya proses belajar. Materi yang tersaji lebih bersifat sebagai pemandu,
maka tetap diperlukan seorang fasilitator maupun motivator. Oleh karena itu,

36

Siswanto, op. cit., h. 212.
Euis Sulastri, Dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia 2, (Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. iv.
37

17

sangatlah diharapkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Proses
pembelajaran tetap berada pada aktivitas peserta didik sebagai subjek.38
Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa. Namun
demikian, pengajaran sastra tidaklah dapat disamakan dengan pengajaran bahasa.
Perbedaan hakiki keduanya terletak pada tujuan akhirnya. Pada pengajaran sastra
yang dasarnya mengemban misi afektif (memperkaya pengalaman siswa dan
menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya) yang
memiliki tujuan akhir menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan
terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap
tata nilai –baik dalam konteks individual maupun sosial. Sastra memang tidak bisa
dikelompokan ke dalam aspek keterampilan berbahasa karena bukan merupakan
bidang yang sejenis tetapi pembelajaran sastra dilaksanakan secara terintegrasi
dengan pembelajaran bahasa baik dengan keterampilan menulis, membaca,
menyimak, maupun berbicara. Dalam prakteknya, pembelajaran sastra berupa
pengembangan kemampuan menulis sastra, membaca sastra, menyimak sastra,
dan berbicara sastra.

F. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini yakni penelitian
berjudul Novel Pulang Karya Leila S. Chudori: Analisis Struktur Plot Robert
Stanton penulis Eko Sulistyo mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Gadjah Mada, 2014. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur plot novel
Pulang karya Leila S. Chudori. Pengetahuan mengenai struktur plot berguna
untuk meningkatkan apresiasi pembaca terhadap novel Pulang. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif. Metode ini digunakan untuk menganalisis
struktur plot novel Pulang dengan cara mendeskripsikan strukturnya terlebih
dahulu, kemudian mendeskripsikan aspek estetisnya. Teori yang digunakan adalah
teori struktural Robert Stanton. Robert Stanton menekankan pentingnya fungsi
dalam struktur sebuah karya sastra. Dalam plot Pulang, deskripsi identitas dan
38

Euis, op. cit., h. iv.

18

karakter tokoh, deskripsi latar, dan konflik-konflik ditampilkan dengan cara
sedikit demi sedikit. Penampilan yang sedikit demi sedikit berfungsi untuk
menciptakan suspense dan suprise. Plot Pulang bersifat rekat dan plausible. Rekat
dan plausible berfungsi untuk membuat Pulang seperti kenyataan. Untuk
menguatkan temanya, Pulang menggunakan ironi dramatis (ironi plot). Adapun
kesamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut adalah data yang digunakan,
sedangkan

perbedaan

penelitian

ini

dengan

penelitian

tersebut

adalah

penelitiannya.
Penelitian selanjutnya yang relevan dengan skripsi ini adalah Nilai
Historis Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan Karya Pramoedya Ananta Toer
dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah
karya Nizar Maulana Akbar Shidiq mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peristiwa sejarah
yang ditampakkan pada novel tersebut dan untuk mengetahui implikasi aspek
historis novel tersebut dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam meneliti nilai
historis novel tersebut penulis menggunakan pendekatan mimetik. Pendekatan
mimetik adalah kritik yang membahas dan menilai karya sastra dihubungkan
dengan realitas atau kenyataan. Dalam kritik ini karya sastra dianggap sebagai
tiruan alam atau kehidupan. Karya sastra dianggap sebagai refleksi, tiruan,
ataupun cermin dari realitas. Sehingga dalam pemahamannya karya sastra dilihat
dalam hubungannya dengan realitas. Peristiwa sejarah pada tahun 1940-1950-an
yang terdapat di Indonesia khususnya Banten, menjadi latar novel tersebut,
peristiwa tersebut ada empat, yaitu peristiwa tentang pembuatan jalan pelabuhan
Ratu dan tambang mas Cikotok, penjajahan Jepang, penjajahan Belanda, dan
Pemberontakan Darul Islam. Dari semua peristiwa tersebut, peristiwa tetang
pemberontakan Darul Islam paling banyak, hal ini mendominasi dari keseluruhan
novel. Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut adalah
penelitian terhadap sejarah dalam novel. Sedangkan perbedaan penelitian ini
dengan penelitian tersebut adalah data yang digunakan. Nizar Maulana Akbar

19

Shidiq menggunakan novel berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan,
sedangkan penelitian ini menggunakan novel Pulang karya Leila S. Chudori.
Penelitian selanjutnya yang relevan dengan skripsi ini adalah penelitian
yang dilakukan Annisa Rachmawati (NPM: 0702140022), Program Studi
Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok,
2016, Tinjauan Mengenai Aspek Realis dan Nilai Historis dalam Buku Afke’s
Tiental karya Nienke van Hichtum. Cerita fiksi yang mengangkat hal-hal yang
berangkat dari realitas kehidupan dikenal sebagai fiksi realistik, yaitu cerita yang
menampilkan model kehidupan sehari-hari. Buku Afke’s Tiental karya Nieken
Van Hichtum merupakan salah satu contohnya, sebuah buku yang menampilkan
gambaran nyata kehidupan keluarga pekerja di Belanda pada akhir abad ke-19.
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan aspek realis dan nilai historis yang ada
dalam buku Afke’s Tiental dari segi isi dan bentuk untuk mengetahui hal-hal yang
diungkapkan dalam buku tersebut dan bagaimana cara mengungkapkannya.
Penelitian lainnya yang relevan dengan penelitian ini adalah skripsi
berjudul Nasionalisme dan Refleksi Sejarah Indonesia Novel Burung-Burung
Manyar karya Y.B. Mangunwijaya yang ditulis oleh Mulyono (NIM:
2101506012),

Progam

Studi

Pendidikan

Bahasa

Indonesia,

Program

Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, 2008. Hasil penelitian adalah sebagai
berikut. Pertama, nasionalisme umumnya selalu dipahami sebagai sebuah ideologi
yang menyatakan kesetiaan dan pengabdian individu harus diserahkan kepada
bangsa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun, lain halnya
dengan Mangunwijaya yang melihat nasionalisme tidak terletak dalam
keikutsertaannya dalam suatu pihak yang disebut sebagai kebenaran tetapi, lebih
pada keberanian untuk memilih. Kedua, ternyata terdapat kaitan antara sastra dan
realitas sosial, termasuk di dalamnya sejarah. Di satu sisi penulis membuktikan
adanya kesejajaran antara nasionalisme dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia
dalam kurun waktu tahun 1934 – 1978 yang terbagi dalam peristiwa-peristiwa
selama penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, perang kemerdekaan, dan masa
Orde Baru dalam novel Burung-Burung Manyar dengan nasionalisme dan sejarah

20

perjuangan bangsa Indonesia dalam kurun waktu

tersebut, di sisi lain Y.B.

Mangunwijaya menyajikan beberapa fakta yang berbeda. Adapun kesamaan
penelitian ini dengan penelitian tersebut adalah penelitian terhadap

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3874 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1030 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23