Analisis tokoh lintang dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA

ANALISIS TOKOH LINTANG DALAM NOVEL PULANG
KARYA LEILA S. CHUDORI DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh
Holida Hoirunisa
NIM. 1110013000100

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015

ABSTRAK
Holida Hoirunisa. NIM : 1110013000100. “Analisis Tokoh Lintang dalam
Novel Pulang karya Leila S. Chudori dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Sastra di SMA”. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dosen Pembimbing : Novi Diah Haryanti, M. Hum
Penelitian ini meneliti tokoh Lintang yang digambarkan sebagai sosok
Indo dalam novel Pulang karya Leila S.Chudori. Lintang lahir dari percampuran
dua kebudayaan Indonesia dan Prancis sebabnya dia disebut sebagai sosok Indo,
sosok yang memiliki kebudayaan terbelah. Lintang merupakan sosok yang
merasakan kegelisahan-kegelisahan mendalam mengenai ras dan identitas.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tokoh Lintang dalam novel Pulang
Leilla S. Chudori dan implikasinya pada pembelajaran Sastra Indonesia.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan
metode analisis isi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan
penyimakan novel Pulang karya Leila S. Chudori secara cermat, terarah, dan
teliti. Penulis menggunakan teknik pelukisan tokoh secara tidak langsung dalam
teknik analisis data yang diuraikan menjadi delapan teknik, yaitu: teknik
cakapan, tingkahlaku, pikiran dan perasaan, arus kesadaran, reaksi tokoh, reaksi
tokoh lain, pelukisan latar dan teknik pelukisan fisik. Melalui teknik ini
ditemukan sifat Lintang mengalami krisis identitas, pintar, berani, peduli
terhadap politik, idealis dan tidak putus asa, yakni keinginan selalu menjadi yang
paling superior, sebagai perempuan Barat pada umumnya. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa beberapa sifat Lintang ini dapat
diimplikasikan terhadap pembelajaran Sastra di SMA. Dalam pembelajaran ini,
kompetensi yang harus dicapai peserta didik ialah menganalisis teks novel baik
secara lisan maupun tulisan, dengan menjelaskan unsur-unsur intrinsik dalam
novel serta menemukan karakter tokoh yang positif maupun negatif yang
terkandung dalam novel.
Kata kunci : tokoh dan penokohan, novel Pulang, Leila S. Chudori.

i

ABSTACK
Holida Hoirunisa. NIM : 1110013000100. “ The Analysis of Lintang Character
in Pulang Novel written by Leila S. Chudori and Its Implication towards The
Studying of Literature in Senior High School. Department of Indonesian
Language and Literature Education, Faculty of Tarbiyah and Teachers’ Training
“Syarif Hidayatullah” State Islamic University Jakarta.
Advisor: Novi Diah Haryanti, M.Hum.
This research examines of Lintang figures who is described as the figure of
indo in a Pulang novels by Leila S. Chudori. She was born of two culture between
france and indonesia it causes he called indo figure, the figure who have divided
culture. Lintang is the person who felt a deep anxiety about racially and identity.
The purpose this research is to analyzed of Lintang figure from Pulang Novels by
Leilla S. Chudori and implications in Senior high School literary learning. This
study used qualitative description methode with the subtance analyze methode.
The taking of engineering data from Pulang Novel by Leila S. Chudori was
undertaken by the reading and listening process with Carefully, directedly and
conscientiously. The author using an delineation figures technique undirectedly
in the Data analysis techniques which is describe to be eight technique, ther are:
the conversation technique, behaviour, thoughts and feelings, stream of
consciousness, figures reaction, another figures reaction, a delineation the
background and delineation physical technique. Through this technique found that
lintang figures suffered crisis of identity, smart, brave, and care about politicians,
have a big idealism and not surrender with her desirement about to be the
superrior person as western woman generally. Based on the results of this research
we can get the conclusion that some of lintang characters could we implicated to
literary in high school learning program. In this learning, the Competence which
must be achieved school tuition is to analyze the novel text either verbally or in
writing, By explaining intrinsic elements in a novel and Discovering the character
a figure which positive or negative contained in a novel
Key Words : The figure and Characterizing, novel Pulang, Leila S. Chudori

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah swt yang telah memberikan rahmat, karunia,
syafaat, dan kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul “Analisis Tokoh Lintang dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
di SMA”. Selawat teriring salam tidak lupa penulis sampaikan kepada junjungan
Nabi Muhammad saw yang telah membawa kita ke zaman yang lebih baik.
Skripsi ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Dalam penulisan skripsi ini, penulis
dihinggapi kebimbangan, kurang percaya diri dalam menganalisis novel ini.
namun, berkat dukungan dan doa dari berbagai pihak akhirnya skripsi ini dapat
terselesaikan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dra. Hindun, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
3. Dona Aji Karunia, M.A., Sekertaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Makyun Subuki, M.Hum., Penasihat Akademik yang selalu memberikan
bimbingan serta kemudahan kepada penulis.
5. Novi Diah Haryanti, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing skripsi yang
dengan tulus ikhlas, sabar, meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk
memberikan bimbingan serta pengarahan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Terima kasih penulis
ucapkan karena telah membekali penulis dengan berbagai ilmu yang
bermanfaat.

iii

7. Bapak tercinta, Muhammad Holis, dan Mamah tersayang, Rosyanti, yang
selalu memberikan dukungan dan doa terbaiknya. Adik-adik yang baik:
Dwi Kurnia Khoiria dan Rosy Kurniawan.
8. Fahmi Abdul Hakim yang selalu memberi semangat serta membantu
penulis mencari bahan dan juga referensi dalam penulisan skripsi.
9. Guru-guru TK Dimurti yang selalu memberikan kemudahan dan
semangat selama penulis menyelesaikan skripsi ini.
10. Desi dan Ratna yang selalu meluangkan waktu membantu penulis
menyelesaikan skripsi ini.
11. Teman-teman uyee; Upin, Ipin, Ival, Sigit, Tebe, Mbe, Bang Jek, Dede,
Aki dan teman-teman Majelis Kantiniah yang telah memberikan
semangat, serta warna dalam hidup penulis.
12. Teman-teman PBSI angkatan 2010 khususnya kelas C yang memberikan
semangat suka duka, canda tawa, dan kenangan indah selama ini.
13. Guru-guru SMP PGRI 336 Pondok Betung.

Urutan nama di atas bukanlah merupakan peringkat prioritas. Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini, karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam penelitian ini. Semoga
penelitian ini bermanfaat untuk penulis dan untuk yang memerlukannya.

Jakarta, 09 April 2015

Penulis

iv

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG MUNAQOSAH
ABSTRAK ……………………………………………….......................

i

ABSTRACT ………………………………………………....................

ii

KATA PENGANTAR …………………………………………… …....

iii

DAFTAR ISI …………………………………………………………...

v

BAB I PENDAHULUAN …...……………………….............................

1

A. Latar Belakang Masalah ......……..………………………….. 1
B. Identifikasi Masalah ………………………………………...

5

C. Batasan Masalah …………………..………………………...

6

D. Rumusan Masalah ………..………………………………....

6

E. Tujuan Penelitian ………..……………………………….....

6

F. Manfaat Penelitian ………..………………………………...

7

G. Metodologi Penelitian ………..………………………….....

7

BAB II KAJIAN TEORI …...……………………….............................
A. Hakikat Novel …...……………………….............................

10

1. Pengertian Novel …...………………………...................

10

2. Jenis-jenis Novel …...………………………...................

11

3. Unsur-unsur Novel …...………………………................

14

a. Tema…...……………………...................................... 14
b. Latar …...……………………...................................... 15
c. Tokoh dan Penokohan…...……………………............ 16

v

vi

d. Alur.………………………......................................... 18
e. Sudut Pandang …...……………………...................... 20
f. Gaya Bahasa ….……………………….......................... 22
g. Amanat …..………………………................................. 23
B. Teknik Pelukisan Tokoh …...……………………….............

24

C. Hakikat Pembelajaran Sastra …...……………………….......

27

D. Penelitian Relevan …...……………………….......................

30

BAB III BIOGRAFI PENGARANG, SINOPSIS, DAN PEMIKIRAN
A. Biografi Pengarang ………….....………………………..

32

B. Sinopsis Novel …...……………………….......................

34

C. Pemikiran Leila S. Chudori...............................................

36

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN …..................
A. Unsur Intrinsik Novel Pulang …...……………………...
1. Tema …...………………………...............................

39

2. Tokoh dan Penokohan ..……………………….........

41

3. Alur ........…...……..............…………………...........

53

4. Latar ..........................…...………………………....

57

5. Sudut Pandang …...………………………...............

64

6. Gaya Bahasa …...………………………...................

64

B. Analisis Tokoh Lintang dalam Novel
Pulang Karya Leila S. Chudori …...................................

67

C. Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pembelajaran
Sastra di SMA ….......…...………………………...........

85

BAB V PENUTUP …...………………………....................................
A. Simpulan ………………………………………...............

88

B. Saran …...…………………….........….............................

88

vii

DAFTAR PUSTAKA …...………………………..................................
LAMPIRAN
PROFIL PENULIS

90

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra adalah sebuah tulisan yang dapat diapresiasi dan bernilai
seni. Sastra juga dapat memberikan hiburan serta memberikan manfaat
bagi pembacanya. Sebuah karya sastra yang dapat disampaikan dengan
bahasa yang unik dan indah mempunyai bentuk yang bervariasi, seperti
prosa, puisi, dan drama. Prosa rekaan (fiksi) memiliki beragam bentuk,
seperti cerpen dan novel. Cerpen dan novel dibangun oleh dua unsur, yaitu
unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik yang merupakan unsur
pembangun cerita dari dalam meliputi plot (alur), tokoh dan penokohan,
tema, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Unsur ekstrinsik
membangun karya sastra dari segi biografi pengarang, sosial, budaya,
agama, politik, dan ekonomi.
Pada penelitian ini, penulis akan menganalisis novel. Novel
merupakan cerita yang di dalamnya memiliki alur yang kompleks serta
suasana dan latar cerita yang beragam. Unsur yang terdapat dalam novel
salah satunya adalah tokoh dan penokohan. Melalui pemahaman tokohtokoh yang ada dalam sebuah novel, pembaca dapat memahami nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya, seperti nilai agama, sosial, budaya, dan
pendidikan. Nilai-nilai seperti inilah yang terkandung dalam unsur
ekstrinsik.
Berbicara mengenai pendidikan, nilai-nilai yang terkandung dalam
novel, seperti nilai sosial, budaya, agama dan pendidikan merupakan
media penting untuk kehidupan manusia yang lebih maju dan berperan
dalam pembentukan karakter dan mental anak bangsa. Sebagai guru yang
berkualitas, pendidikan yang diberikan kepada siswa tidak hanya
bertumpu pada teori pembelajaran saja, tetapi juga harus mengajarkan
bagaimana sikap dan perilaku yang baik. Pengajaran tersebut dapat
ditempuh salah satunya dengan cara memahami sebuah teks sastra. Untuk

1

2

dapat memahami sebuah karya sastra, perlu dilakukan analisis struktur
teks. Salah satu contoh yang dapat dilakukan di kelas adalah analisis tokoh
dan penokohan. Dengan menganalisis tokoh, akan terlihat sikap, sifat,
tingkah laku, dan watak-watak tertentu. Melalui cara ini akan terlihat
bagaimana sifat dan sikap tokoh yang mengandung aspek kejiwaan, seperti
konflik, kelainan perilaku, dan kondisi psikologis akibat kejadian yang
dialami tokoh.
Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila
cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan
berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan
rasa, serta menunjang pembentukan watak.1 Kegiatan pembelajaran sastra
dengan cara itu tentunya akan memberikan pengalaman, pengetahuan,
serta kesan yang lebih mendalam kepada peserta didik. Lebih dari itu,
dalam menganalisis tokoh tentunya dapat diambil sisi positif yang berguna
untuk diajarkan kepada siswa dan dapat dicontohkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan begitu, karya sastra dapat bermanfaat untuk
menunjang pembentukan watak peserta didik.
Berkaitan dengan pengajaran sastra, novel terbagi menjadi
beberapa jenis, salah satunya novel sejarah. Novel sejarah tidak hanya
menceritakan kronologis suatu cerita saja, tetapi juga memberikan
pengetahuan kepada pembaca mengenai peristiwa yang terjadi pada zaman
tersebut. Hubungan intertekstual antara sastra dan sejarah saling berkaitan
satu sama lain. Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa, mempunyai
hubungan sejarah antara karya sezaman atau yang mendahuluinya.
Hubungan sejarah ini digambarkan baik berupa persamaan maupun
pertentangan. Dengan demikian, sebaiknya membicarakan karya sastra itu
dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum, atau sesudahnya.2
Karya sastra merupakan pengungkapan dari apa yang disaksikan
pengarang dalam kehidupan, apa yang dialami, dan dirasakan dari segi1

B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), h. 16.
Rachmat Djoko Pradopo, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan
Penerapannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), h. 167.
2

3

segi kehidupan yang paling menarik untuk diangkat menjadi sebuah karya
sastra yang dapat bernilai estetis dan memiliki arti. Hal ini dikarenakan
setiap pengarang adalah warga masyarakat dan ia dapat dipelajari sebagai
makhluk sosial.3
Dalam

kesusastraan

Indonesia,

dapat

dijumpai

hubungan

intertekstualitas antarkarya sastra dalam bentuk prosa. Pengarang
mengungkapkan suatu kejadian atau peristiwa lewat karyanya secara
tertulis. Selain itu, lewat karyanya pengarang mengungkapkan suatu
aspirasi kehidupan, seperti emansipasi wanita, kekejaman, maupun
ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa. Contohnya dalam novel
Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer, tokoh Minke
bercerita tentang masyarakat kolonial Hindia Belanda di tahun 1898 yang
penuh dengan perbedaan rasial yang kuat dan perbedaan status sosial yang
mengiringinya. Demikian pula dengan novel Salah Asoehan (1928) karya
Abdoel Moeis, juga mengisahkan perbedaan rasial antara Timur dan Barat
yang mempunyai garis pemisah yang hampir tak dapat diseberangi.
Jelaslah sejak dahulu pengarang menyuarakan aspirasinya melalui karya
sastra. Begitu pun sekarang, tidak sedikit novel yang berlatar sejarah
dibuat untuk menceritakan kebenaran yang terjadi pada suatu zaman. Akan
tetapi, minat baca terhadap novel yang berlatar sejarah masih kurang,
khususnya peserta didik yang lebih menyukai novel-novel populer yang
bertemakan kisah percintaan, seperti Marmut Merah Jambu (2010) karya
Raditya Dika. Sebaliknya, karya para sastrawan kurang diminati dan
dikenal oleh peserta didik, terlebih kurangnya minat membaca siswa
terhadap novel-novel yang berlatar sejarah.
Pembelajaran sastra di sekolah hanya sampai pada proses
mengidentifikasi saja. Keterbatasan waktu dalam proses belajar mengajar
membuat siswa sulit memahami novel secara keseluruhan, sehingga sulit
menciptakan proses belajar mengajar timbal balik antara guru dan siswa.
3

Rene Wellek & Autin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama,1993), h. 109.

4

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Novel Pulang karya
Leila S. Chudori yang banyak mengisahkan sejarah kekerasan Indonesia,
khususnya yang terjadi pada 1965. Novel ini berkisah tentang nasib dan
perjuangan hidup para tapol pada masa Gerakan 30 September 1965 dan
berlatarbelakangkan tiga peristiwa bersejarah Indonesia, yakni 30
September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998 dan jatuhnya
Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
Novel ini banyak menggunakan latar di Prancis dan Indonesia
sebagai latar novelnya. Warga Negara Indonesia yang berada di luar negri
saat peristiwa politik tahun 1965 diberi julukan sebagai eksil politik.
Mereka tidak diperbolehkan menginjak tanah air sampai batas waktu yang
tak jelas hanya karena tuduhan sepihak terlibat baik langsung sebagai
anggota dan simpatisan maupun sekedar keluarga dari anggota Partai
Komunis Indonesia (PKI). Kebanyakan dari mereka sekarang menetap di
beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan lain
sebagainya. Itulah sebabnya Leila memilih Prancis sebagai latarnya.
Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti tokoh Lintang Utara
dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Dalam novel ini, Lintang
digambarkan sebagai seorang gadis Indo yang lahir dari hasil perkawinan
campur Indonesia dan Prancis. Mangunwijaya dalam Sastra Indonesia
Modern Kritik Poskolonial mengatakan, Indo adalah masyarakat yang
dalam penghayatan realita hidup dan kebudayaan terbelah, setengah asing
terhadap diri sendiri, apalagi situasi dan keadaan sekelilingnya.4 Sebagai
Indo, Lintang merupakan sosok yang merasakan kegelisahan-kegelisahan
mendalam mengenai ras dan identitas. Lintang menjadi berbeda dari
lingkungan

sekitarnya

lantaran

status

indonya.

Lebih

dari

itu,

keambiguitasan dan kegelisahan mengenai posisinya terus menghantui
kehidupan Lintang. Novel-novel yang menampilkan tokoh Indo dalam
4

Keith Foulcher dan Tony Day, Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial
Edisi Revisi “Clearing a Space”, (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta,
2008), h. 136

5

penokohannya tidak begitu banyak. Namun baru dalam Keberangkatan
Karya Nh. Dini tahun 1977, Bumi Manusia (1981) karya Pramoedya, dan
Burung-burung Manyar (1981) karya Mangunwijaya.5
Pemilihan novel Pulang sebagai objek penelitian berdasarkan
beberapa alasan. Pertama, novel ini mengambil latar belakang sejarah.
Dengan latar belakang ini, pembaca akan mengetahui keadaan Indonesia,
terutama pascakemerdekaan, ketika PKI melakukan pemberontakan pada
tahun 1965, dan Indonesia pada Mei 1998. Kedua, pengalamanpengalaman yang disajikan pada setiap tokohnya. Ketiga, Novel Pulang
yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini dari awal
penerbitan pada tahun 2012-2013 sudah mengalami empat kali cetak.
Cetakan pertama pada Desember 2012, cetakan kedua pada Januari 2013,
cetakan ketiga pada Februari 2013, dan cetakan keempat pada Desember
2013. Novel ini juga dinobatkan sebagai pemenang Khatulistiwa Literary
Award 2013. Selain itu, novel Pulang karya Leila S. Chudori ini membuat
pembaca ingin mencari tahu dan menggali pengetahuan yang tidak
diketahui sebelumnya, seperti kisah Ekalaya yang merupakan salah satu
tokoh dalam kisah pewayangan Jawa yang juga tertulis dalam kitab
Mahabarata. Dengan berbagai alasan tersebut, penulis tertarik untuk
menganalisis novel Pulang karya Leisa S. Chudori dengan judul penelitian
“Analisis Tokoh Lintang dalam Novel Pulang karya Leila S. Chudori dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMA”.
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi
masalah yang ada yaitu:
1. Kurangnya minat membaca seseorang terhadap karya sastra berupa
novel, terlebih kurangnya minat membaca siswa terhadap novel-novel
yang berlatar sejarah.

5

Keith Foulcher dan Tony Day, op. cit., h. 136.

6

2. Tidak banyak novel-novel yang melibatkan tokoh Indo sebagai tokoh
sentral dalam novel Indonesia.
3. Siswa sulit memahami unsur intrinsik, karena proses pembelajaran
hanya sebatas mengidentifikasi.
4. Kurangnya waktu dalam pembelajaran yang dapat dipergunakan siswa
untuk membaca dan memahami novel.
5. Siswa kurang mengetahui cerita seperti Ekalaya seperti yang terdapat
dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori.

C. Batasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini lebih terarah, maka penulis membatasi
permasalahan pada hal-hal berikut:
Objek kajian yang akan diteliti adalah analisis tokoh Lintang dalam
Novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasinya terhadap
pembelajaran sastra di SMA.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan batasan masalah,
perumusan permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis tokoh Lintang dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori?
2. Bagaimana implikasi penelitian tokoh Lintang terhadap pembelajaran
sastra di SMA Kelas XII?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan. Maka tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis tokoh Lintang dalam novel Pulang karya Leila S.
Chudori.
2. Mengetahui implikasi penelitian tokoh Lintang terhadap pembelajaran
sastra di SMA.

7

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoretis
dan praktis.
1. Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan tentang
Sastra Indonesia, khususnya dalam pembelajaran sastra di sekolah
mengenai tokoh dalam novel.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian secara praktis diharapkan bermanfaat bagi peserta
didik mengenai tokoh dalam novel. Selain itu penelitian ini
diharapkan dapat memberi masukan bagi pendidik untuk bahan
pengembangan studi sastra yang berkaitan dengan unsur intrinsik
dalam suatu karya sastra.

G. Metodologi Penelitian
1. Bentuk Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
dengan pendekatan deskriptif. Dengan metode ini, hasil penelitian yang
akan dihasilkan akan berupa deskripsi, bukan berupa angka-angka atau
koefisian tentang variabel. Metode analisis isi digunakan untuk
menganalisis isi suatu dokumen. Dokumen yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori.

2. Sumber Data
Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat
menggunakan sumber data primer dan sumber data skunder.
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer yaitu sumber utama penelitian yang diproses
langsung dari sumbernya tanpa lewat perantara. Sumber data primer
dalam penelitian ini adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori
terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Jakarta tahun 2012.

8

b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh secara
tidak langsung atau lewat perantara, tetapi masih berdasar pada
kategori konsep yang akan dibahas. Sumber data skunder yang
digunakan dalam penelitian ini adalah artikel-artikel dari internet serta
buku-buku yang berhubungan dengan novel.

3. Teknik Pengumpulan Data
Pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan
pembacaan dan penyimakan novel Pulang karya Leila S. Chudori
secara cermat, terarah, dan teliti. Pada saat melakukan pembacaan
tersebut, penulis mencatat data-data masalah yang terkait dengan
tokoh Lintang, dan mencatat kutipan-kutipan yang menggambarkan
tentang karakter tokoh. Pembacaan dilakukan secara berulang-ulang
sehingga data yang didapat lebih maksimal.

4. Teknik Analisis Data
Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk menganalisis data
antara lain:
a. Menganalisis novel Pulang karya Leila S. Chudori dengan
menggunakan analisis sruktural. Analisis struktural dilakukan dengan
membaca dan memahami kembali data yang sudah diperoleh.
Berikutnya mengelompokkan teks-teks yang terdapat dalam novel
Pulang karya Leila S. Chudori yang mengandung unsur intrinsik
novel berupa tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang,
gaya bahasa, dan amanat.
b. Analisis dengan menggunakan teknik pelukisan tokoh dilakukan
dengan membaca serta memahami kembali data yang diperoleh.
Selanjutnya mengelompokkan teks-teks yang mengandung bahasan
tentang tokoh Lintang yang terdapat dalam novel Pulang karya Leila
S. Chudori.

9

c. Mengimplikasikan novel Pulang karya Leila S. Chudori pada
pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA dilakukan dengan
cara menghubungkan materi sastra di sekolah.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakikat Novel
1. Pengertian Novel
Novel ( Inggris: novel) sebutan novel dalam bahasa Inggris inilah
yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Italia Novella (yang
dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti sebuah barang
baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk
prosa. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang
sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris novelette), yang berarti
sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang,
namun juga tidak terlalu pendek.1
Beberapa pandangan yang berupaya menjabarkan hakikat novel
sebagai berikut
Badudu dan Zain berpendapat, novel adalah karangan dalam bentuk
prosa tentang peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia seperti yang
dialami orang dalam kehidupan sehari-hari, tentang suka duka, kasih dan
benci, tentang watak dan jiwanya, dan sebagainya.2
Aminuddin berpendapat, prosa rekaan (novel) adalah kisahan atau
cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu, dengan peranan, latar serta
tahapan dan rangkaiaan cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi
pengarangnya( dan kenyataannya) sehingga menjalin suatu cerita.3
Clara Reeve dalam Wellek Warren, novel adalah gambaran dari
kehidupan dan prilaku yang nyata, dari zaman pada saat novel itu ditulis.4

1

Burhan Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 2010), h. 9-10.
2
Furqonul Aziez dan Abdul Hasim, Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2010), h. 9-10.
3
Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakart : Grasindo, 2008), h. 127-128.
4
Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 1993), h.282.

10

11

Berdasarkan tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengertian novel adalah sebuah cerita fiksi dalam bentuk prosa yang
panjang dengan tokoh dan pelakunya merupakan cerminan kehidupan nyata
dalam satu plot, dalam istilah novel tercakup pengertian roman; sebab
roman hanyalah istilah novel untuk zaman sebelum perang dunia kedua di
Indonesia. Digunakannya istilah roman pada waktu itu umumnya
berorientasi ke Negeri Belanda, Perancis, dan Rusia, serta sebagian negaranegara Eropa. Istilah novel dikenal di Indonesia setelah kemerdekaan, yakni
setelah sastrawan Indonesia banyak beralih kepada bacaan-bacaan yang
berbahasa Inggris.5
Novel merupakan bentuk prosa rekaan yang lebih pendek daripada
roman. Biasanya novel menceritakan peristiwa pada masa tertentu. Bahasa
yang digunakan lebih mirip bahasa sehari-hari. Meskipun demikian,
penggarapan unsur-unsur intrinsiknya masih lengkap, seperti tema, plot,
latar, gaya bahasa, nilai, tokoh dan penokohan. 6

2. Jenis-jenis Novel
Novel dikelompokan menjadi beberapa jenis di antaranya :
a) Novel Populer
Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak
penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Ia menampilkan
masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman, namun hanya sampai
pada tingkat permukaan. Novel populer tidak menampilkan permasalahan
kehidupan secara lebih intens, tidak berusaha meresapi hakikat kehidupan7.
Sebab, jika demikian halnya, novel populer akan menjadi berat dan berubah
menjadi novel serius, dan boleh jadi akan ditinggal oleh pembacanya. oleh
karena itu, novel populer pada umumnya bersifat artifisial, hanya bersifat
sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk
membacanya sekali lagi. Novel semacam itu biasanya cepat dilupakan
5

Atar Semi, Anatomi Sastra, (Bandung: Angkasa Raya, 2011), h. 32.
Siswanto, op. cit., h. 141.
7
Nurgiantoro, op. cit., h. 21.
6

12

orang, apalagi dengan munculnya novel-novel yang lebih populer pada
masa sesudahnya.
Novel populer lebih mudah dibaca dan dinikmati. Masalah yang
diceritakan pun yang ringan-ringan, tetapi aktual dan menarik. Kisah
percintaan antara pria tampan dan wanita cantik secara umum menarik,
mampu membuai pembaca remaja yang memang sedang mengalami masa
peka, dan barang kali, dapat untuk sejenak melupakan kepahitan hidup yang
dialaminya secara nyata. Oleh karena novel populer lebih mengejar selera
pembaca, komersil, ia tidak akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius
sebab hal itu dapat berarti akan berkurangnya jumlah penggemarnya. Oleh
karena itu, plot sengaja dibuat lancar dan sederhana. Perwatakan tokoh tidak
berkembang, tunduk begitu saja pada kemauan pengarang yang bertujuan
memuaskan pembaca. Sebagaimana dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono,
tokoh-tokoh yang diciptakan adalah tokoh yang tidak berkembang
kejiwaannya dari awal hingga akhir cerita. berbagai unsur cerita seperti plot,
tema, karakter, latar, dan lai-lain biasanya bersifat stereotip, tidak
mengutamakan adanya unsur-unsur pembaharuan. Hal yang demikian,
memang, mempermudah pembaca yang semata-mata mencari cerita dan
hiburan belaka.8 Contoh novel jenis ini adalah Marmut Merah Jambu
(Raditya Dika), Laskar Pelangi (Andrea Hirata).
b) Novel Serius
Novel serius, novel yang selain memberikan hiburan, dalam novel ini
juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman yang berharga pada
pembaca, atau paling tidak, mengajaknya untuk meresapi dan merenungkan
secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang diangkat. Novel
serius biasanya berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru. Singkatnya
unsur kebaharuan diutamakan. Oleh karena itu, dalam novel serius tidak
akan terjadi sesuatu yang bersifat stereotip, atau paling tidak pengarang
berusaha menghindarinya. Novel serius mengambil realitas kehidupan
sebagai model, kemudian menciptakan sebuah “dunia baru”, dunia dalam
8

Nurgiantoro, op. cit., h.18-20.

13

kemungkinan, lewat pengembangan cerita dan penampilan tokoh-tokoh
dalam situasi yang khusus.
Novel serius tidak bersifat mengabdi kepada selera pembaca, dan
memang, pembaca novel jenis ini tidak (mungkin) banyak. Jumlah novel
dan pembaca serius, walau tidak banyak, akan mempunyai gaung dan
bertahan dari waktu ke waktu. Misalnya, polemik Takdir Alisyahbana,
Armin Pane, Sanusi Pane, dan Tatengkeng pada dekade 30-an yang hingga
kini masih cukup relevan untuk disimak karena terasa belum juga
ketinggalan zaman.9 Contoh novel serius adalah Pada Sebuah Kapal (N.H
Dini), Burung-burung Manyar (YB. Mangunwijaya).
c) Novel Teenlit
Istilah teenlit terbentuk dari kata teenager dan literature. Kata
teenager sendiri terbentuk dari kata teens,age, dan akhiran –er, yang secara
istilah berarti menunjuk pada anak usia belasan tahun. Kelompok teenager
tampaknya dimulai dari usia remaja awal (masa adolesen) sampai akhir
belasan, yaitu sekitar usia 13-19 tahun. Kata literature berarti kesastraan,
bacaan. Jadi, istilah teenlit tampaknya menunjuk pada pengertian bacaan
cerita yang ditulis untuk konsumsi remaja usia belasan tahun.
Salah satu karakteristik novel teenlit adalah bahwa mereka selalu
berkisah tentang remaja. Tokoh utama cerita yang pada umumnya
perempuan adalah tokoh yang dapat diidolakan, tokoh yang berkarakter
khas remaja, tokoh yang dapat dijadikan ajang pencarian identitas diri dan
kelompok. Maka, tidak mengherankan jika pembaca remaja menjadi
gandrung dan hanyut secara emosional seolah-olah dirinya adalah bagian
dari cerita itu, seolah-olah sudah kenal dan bagian dari kelompok
pertemanan itu, bahkan seolah-olah dirinyalah tokoh-tokoh cerita itu.
Teenlit tidak berkisah sesuatu yang berat. Mereka lebih suka berbicara apa
yang menjadi persoalan remaja yang menurut ukuran dewasa mungkin
sebagai sesuatu yang ringan. Contoh novel teenlit adalah Dealova (Dylan
Nuraninda), Me vs High Heels! Aku vs Sepatu Hak Tinggi! (Maria
9

Nurgiantoro, op. cit., h. 23-24.

14

Ardelia).10 Dari beberapa jenis novel yang telah dipaparkan di atas Pulang
masuk ke dalam kategori novel serius.

3. Unsur-unsur Novel
Prosa rekaan bisa dibedakan atas prosa lama dan prosa modern. Prosa
lama sering berwujud cerita rakyat (folktale) bersifat anonim, seperti cerita
binatang, dongeng, legenda, mitos, dan sage.
Bentuk prosa rekaan modern dibedakan atas roman, novel, novelet,
dan cerpen, karena tidak ada penelitian yang mendukung, pembedaan atas
beberapa bentuk tersebut lebih banyak didasarkan pada panjang-pendeknya
dan luas-tidaknya masalah yang dipaparkan dalam prosa rekaan. Walaupun
tidak selalu benar, ada juga yang dasar pembedaannya ditambah dengan
bahasa dan lukisannya.11
Berdasarkan bentuk novel di atas, terdapat unsur-unsur penting yang
membangun karya sastra, unsur tersebut terbagi atas unsur intrinsik dan
unsur ekstrinsik, pembagian tersebut bertujuan dalam mengkaji novel dalam
suatu karya sastra pada umumnya.
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu
sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks
sastra, unsur-unsur inilah yang secara faktual akan dijumpai jika orang
membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur
yang (secara langsung)

turut

serta membangun cerita, kepaduan

antarberbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel terwujud.
Unsur-unsur ini misalnya, tema, latar, tokoh dan penokohan, alur, sudut
pandang, dan amanat.12
1) Tema
Tema adalah gagasan sentral dalam suatu karya sastra dalam novel,
tema merupakan gagasan utama yang dikembangkan dalam plot. Hampir
10

Nurgiantoro, op. cit ., h. 26.
Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 140.
12
Nurgiantoro, op. cit., h. 30.

11

15

semua gagasan yang ada dalam hidup ini bisa dijadikan tema, sekalipun
dalam praktiknya tema-tema yang sering diambil adalah beberapa aspek
atau karakter dalam kehidupan, seperti ambisi, kesetiaan, kecemburuan,
frustrasi, kemunafikan, ketabahan, dan sebagainya.13
Scharbach berpendapat, tema berasal dari bahasa Latin yang berarti
“tempat meletakan suatu perangkat”. Disebut demikian karena tema adalah
ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal
tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.14
Aminuddin mengungkapkan, seorang pengarang memahami tema
cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif
penciptaan, sementara pembaca baru dapat memahami tema bila mereka
telah selesai memahami unsur-unsur yang menjadi media pemaparan tema
tersebut,

menyimpulkan

makna

yang

dikandungnya

menghubungkan dengan tujuan penciptaan pengarangnya.

serta

mampu

15

Jadi tema tidak lain adalah suatu gagasan sentral yang menjadi dasar
suatu cerita. tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan
berdampak. Pengarang adalah pencerita, tetapi agar tidak menjadi sekedar
anekdot, cerita rekaannya harus mempunyai maksud. Maksud inilah yang
dinamakan tema.16
2) Latar
Setting diterjemahkan sebagai latar cerita. Aminuddin memberi batasan
setting sebagai latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tepat, waktu,
maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Abrams mengemukakan latar cerita adalah tempat umum (general
locale), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan masyarakat
(social circumtances) dalam setiap episode atau bagian-bagian tempat.17

13

Furqonul Aziez & Abdul Hasim, Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar, (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2010), h. 75.
14
Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra, ( Bandung: Sinar Baru, 1987), h.91.
15
Siswanto, op. cit., h.161.
16
Robert Stanton, Teori Fiksi Robet Stanton, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),
h.38.
17
Siswanto, loc. cit., h.149.

16

Brooks berpendapat, secara singkat, latar adalah latar belakang fisik,
unsur tempat dan ruang, dalam suatu cerita.18Latar memberikan pijakan
cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan
realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah
sungguh-sungguh ada dan terjadi.19
Biasanya latar muncul pada semua bagian atau penggalan cerita dan
kebanyakan pembaca tidak terlalu menghiraukan latar ini; karena lebih
terpusat pada jalannya cerita; namun bila pembaca membaca untuk kedua
kalinya barulah latar ini ikut menjadi bahan simakkan, dan mulai
dipertanyakan mengapa latar ini menjadi perhatian pengarang.20
3) Tokoh dan Penokohan
Tokoh cerita (character), sebagaimana dikemukakan Abrams, adalah
orang-orang yang ditampilkan dalam sesuatu karya naratif, atau drama, yang
oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan
tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan
dalam tindakan. Tidak berbeda halnya dengan Abrams, Baldic menjelaskan
bahwa tokoh adalah orang yang menjadikan pelaku dalam cerita fiksi atau
drama, sedang penokohan (characterization) adalah penghadiran tokoh
dalam cerita dengan cara langsung atau tidak langsung dan mengundang
pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakannya.21
Aminuddin mengatakan, tokoh adalah pelaku yang mengemban
peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita,
sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.22
Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan penting
yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam
suatu cerita disebut tokoh inti atau tokoh utama. Sedangkan tokoh yang
memiliki peranan tidak penting karena pemunculannyahanya melengkapi,
18

Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa, 1984), h.

136.
19

Nurgiantoro, op. cit., h.303.
Atar Semi, op. cit., h. 46.
21
Nurgiantoro, loc. cit., h.247.
22
Siswanto, op. cit., h. 142.
20

17

melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh
pembantu,23 dalam menyajikan dan menentukan karakter (watak) para
tokoh, pada umumnya pengarang menggunakan dua cara atau metode dalam
karyanya. Pertama, metode langsung (telling) dan kedua, metode tidak
langsung (showing).24
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam
beberapa jenis, seperti:
a. Jika dilihat dari peran tokoh-tokoh dalam perkembangan plot dapat
dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah
tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia
merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku
kejadian maupun yang dikenai kejadian. Dipihak lain, pemunculan tokohtokoh tambahan biasanya diabaikan, atau paling tidak, kurang mendapat
perhatian. 25
b. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh
protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita
kagumi yang salah satu jenisnya secara populer disebut hero tokoh yang
merupakan pengejawantahan norma-norma nilai-nilai yang ideal bagi kita.
Sedangkan, tokoh antagonis adalah tokoh yang beroposisi dengan tokoh
protagonis, secara langsung maupun tidak langsung, bersifat fisik ataupun
batin.26
c. Dilihat dari perwatakannya dibedakan menjadi tokoh sederhana dan tokoh
bulat. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas
pribadi tertentu, satu sifat watak tertentu saja. Ia tidak memiliki sifat dan
tingkah laku yang dapat memberikan efek kejutan bagi pembaca. Dipihak
lain, tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkapkan berbagai
kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Ia dapat

23

Aminuddin, op. cit., h.79-80.
Albertine Minderop, Metode Karakterisasi Telaah Fiksi, (Jakarta: Yayasan Pustaka
Obor Indonesia, 2011), h. 6.
25
Nurgiantoro, op. cit., h. 258-259.
26
Ibid., h.260-261.
24

18

saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia pun dapat
pula menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan
mungkin tampak bertentangan dan sulit diduga. Oleh karena itu,
perwatakannya pun pada umumnya sulit dideskripsikan secara tepat.27

4) Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan
peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku
dalam suatu cerita.28
Stanton mengemukakan bahwa alur (plot) adalah cerita yang berisi
urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab
akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya
peristiwa yang lain.29
Brooks mengungkapkan alur atau plot adalah struktur gerak yang
terdapat dalam fiksi atau drama.30
Sudjiman mengartikan alur sebagai jalinan peristiwa di dalam karya
sastra untuk mencapai efek tertentu. Jalinannya dapat diwujudkan oleh
hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab akibat).
Aminudin membedakan tahapan-tahapan peristiwa atas pengenalan, konflik,
komplikasi, klimaks, peleraiaan, dan penyelesaian.31
Berdasarkan pemaparan di atas, alur adalah rangkaiaan peristiwa yang
direka dan dijalin oleh pengarang yang menggerakan jalannya cerita.
Secara teoretis-kronologis tahap-tahap pengembangan struktur plot
dijelaskan di bawah ini.
a) Tahap Awal
Tahap awal sebuah cerita biasanya disebut sebagai tahap perkenalan.
Tahap perkenalan pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang

27

Nurgiantoro, op. cit., h. 265-266.
Aminuddin, op. cit., h.83.
29
Nurgiantoro, loc. cit., h.167.
30
Tarigan, op. cit., h.126.
31
Siswanto, op. cit., h. 159.

28

19

berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap
berikutnya. Misalnya, berupa penunjukan dan pengenalan latar, seperti
nama-nama tempat, suasana alam, waktu kejadian (misalnya ada kaitannya
dengan waktu sejarah), dan lain-lain yang pada garis besarnya berupa
deskripsi fisik, bahkan mungkin juga telah disinggung (walau secara
implisit) perwatakannya.32
b) Tahap Tengah
Tahap tengah cerita dapat juga disebut sebagai tahap pertikaian
menampilkan pertentangan dan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan
pada

tahap

sebelumnya,

menjadi

semakin

meningkat,

semakin

menegangkan. Bagian tengah cerita merupakan bagian terpanjang dan
terpenting dari sebuah cerita. konflik berkembang semakin meruncing,
menegangkan dan mencapai klimaks, dan pada umumnya tema pokok,
makna pokok cerita diungkapkan. Pada bagian ini pembaca memperoleh
cerita, memperoleh sesuatu dari kegiatan pembacaannya.33
c) Tahap Akhir
Tahap akhir sebuah cerita atau dapat juga disebut tahap pelarian,
menampilkan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Jadi, bagian ini
misalnya (antara lain)

berisi

bagaimana kesudahan cerita, atau

menyarankan pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita. bagaimana
bentuk penyelesaian sebuah cerita, dalam banyak hal ditentukan (atau
dipengaruhi) oleh hubungan antartokoh dan konflik (termasuk klimaks)
yang dimunculkan. Dalam teori klasik yang berasal dari Aristoteles,
penyelesaian cerita dibedakan ke dalam dua macam kemungkinan :
kebahagiaan (happy end) dan kesedihan (sad end).
Namun, novel-novel seperti Belenggu, Pada Sebuah Kapal, Supernova,
dan lain-lain adalah novel-novel yang memiliki penyelesaiaan yang masih
menggantung,

masih

menimbulkan

tanda

tanya,

tidak

jarang

menimbulkan, atau bahkan rasa ketidakpuasan pembaca. Sebenarnya,
32
33

Nurgiantoro, op. cit., h. 201-202.
Ibid., h.204-205.

20

adanya novel-novel yang sudah selesai, tetapi tidak diselesaikan ceritanya,
boleh jadi disebabkan pengarang memberikan kesempatan pada pembaca
untuk ikut memikirkannya. Dengan melihat model-model tahap akhir
berbagai cerita fiksi yang ada sampai dewasa ini, penyelesaian cerita dapat
dikategorikan ke dalam dua golongan: penyelesaian tertutup dan
penyelesaian terbuka. Penyelesaian tertutup menunjuk pada jeadaan akhir
sebuah cerita fiksi yang memang sudah selesai, cerita sudah habis sesuai
dengan tuntunan logika cerita yang dikembangkan. Dipihak lain
penyelesaian terbuka, menunjuk pada keadaan akhir sebuah cerita yang
masih belum berakhir. Berdasarkan tuntutan logika dan cerita, masih
potensial

untuk

dilanjutkan

secara

konflik

belum

sepenuhnya

diselesaikan.34
Loban dkk. Menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya
gelombang. Gelombang itu berawal dari (1) eksposisi, (2) komlikasi atau
intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik hingga menjadi
konflik, (3) klimaks, (4) revelasi atau penyingkatan tabir suatu problema,
dan (5) denouement atau penyelesaian yang membahagiakan, yang
dibedakan dengan catastrophe, yakni penyelesaian yang menyedihkan;
dan solution, yakni penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena
pembaca

sendiri

yang

dipersilahkan

menyelesaikan

lewat

daya

imajinasinya.35

5) Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku
dalam cerita yang dipaparkannya.36
Abrams mengungkapkan, sudut pandang

(Point Of View),

menunjukan cara sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan cara dan atau
pandangan

34

yang

dipergunakan

Nurgiantoro, op. cit., h. 205-208.
Aminuddin, op. cit., h.84.
36
Ibid., h. 90.
35

pengarang

sebagai

sarana

untuk

21

menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.37 Dalam
Wahyudi Siswanto, sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang
ceritanya. Dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa,
tempat, waktu dengan gayanya sendiri.38
Pengarang menampilkan tokoh dalam cerita yang dipaparkannya
melalui sudut pandang. Dengan demikian, segala sesuatu yang
dikemukakan oleh pengarang disalurkan melalui sudut pandang tokoh.
Selain itu, dalam sudut pandang posisi pengarang juga ditentukan. Unsur
terpenting dalam karya sastra adalah pengarang sebab tanpa pengarang
tidak ada karya sastra. keberhasilan suatu karya sastra tidak tergantung
pada pentingnya suatu kejadian atau tokoh-tokoh yang diceritakan, tetapi
bagaimana sudut pandang, gaya bahasa dan plot dioprasikan. Peristiwa
besar, tokoh terkenal, bukan jaminan bahwa sebuah karya sastra akan
berhasil. Sebaliknya, kompleksitas sudut pandang, kekayaan gaya bahasa,
dan koherensi pemplotan, jelas merupakan jaminan keberhasilan suatu
karya sastra.39
Ada berbagai macam sudut pandang dalam karya sastra. dalam
penelitian ini sudut pandang yang peneliti ambil adalah berdasarkan
pemaparan Burhan Nurgiantoro. Berikut ini adalah macam-macamnya:
a) Sudut Pandang Persona Ketiga : “Dia”
Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona
ketiga, gaya “Dia”, narator adalah seseorang yang berada di luar cerita
yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata
gantinya; ia, dia, mereka. Sudut pandang “dia” dapat dibedakan ke dalam
dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang
terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak pengarang, narator, dapat bebas
menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “dia”, jadi
bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, memunyai keterbatasan
37

Nurgiantoro, loc. cit., h. 338.
Siswanto, op. cit., h. 151.
39
Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007), h. 315.
38

22

“pengertian” terhadap tokoh “dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat
terbatas, hanya sebatas pengamat saja.
b) Sudut Pandang Persona Pertama: “Aku”
Pengisahan cerita yang menggunakan sudut pandang ini terletak pada
seorang narator yang ikut terlibat dalam cerita. dalam sudut pandang
persona pertama “Aku” dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu “Aku”
(tokoh utama) dan “aku” (tokoh tambahan).
c) Sudut Pandang Campuran
Penggunaan sudut pandang ini lebih dari satu teknik. Pengarang dapat
berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain. Semua itu
tergantung pada kemauan pengarang untuk menciptakan sebuah kreativitas
dalam karya.40

6) Gaya Bahasa
Istilah gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin
stilus dan mengandung arti lesikal alat untuk menulis. Dalam karya sastra
istilah

gaya

mengandung

pengertian

cara

seorang

pengarang

menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang
indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang
dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.41
Keraf dalam Tarigan mengungkapkan secara singkat gaya bahasa
adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah
gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran,
sopan-santun, dan menarik.42
Gaya bahasa, seperti yang diungkapkan Slamet Muljana adalah
susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup
dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati
40

Nurgiantoro, op. cit., h. 347-359.
Aminuddin, op. cit., h. 72.
42
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Gaya Bahasa, (Bandung: Angkasa, 2009), h.
41

5.

23

pembaca. Gaya bahasa disebut pula maja

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3874 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1030 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23