Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual yang Berpacaran

1

GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA INDIVIDU
BISEKSUAL YANG BERPACARAN
SKRIPSI
Guna Memenuhi Persyaratan
Sarjana Psikologi

Oleh :

ENNI HANAMI SIANTURI
051301118

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang berpacaran

Universitas Sumatera Utara

2
Enni Hanami Sianturi dan Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

ABSTRAK
Hubungan romantis ataupun pacaran pada individu biseksual dapat
mempengaruhi psychological well-being individu tersebut. Psychological well-being
merujuk pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari.
Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup,
kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi
atau aktualisasi diri (Bradburn, 1995). Ryff (1989) menyebutkan bahwa psychological
well-being terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki
hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi
(autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose
in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth). Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara
secara mendalam (in-depth interview). Responden penelitian adalah individu biseksual
yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sebanyak tiga orang dimana
responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak dua orang dan yang berjenis
kelamin laki-laki sebanyak satu orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan psychological wellbeing pada ketiga responden yang terlihat dari kualitas dimensi psychological wellbeing pada setiap responden. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya faktorfaktor yang mempengaruhi psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran seperti dukungan sosial, kepribadian, pola asuh dan budaya.

Kata kunci : psychological well-being, individu biseksual yang berpacaran

Universitas Sumatera Utara

3
A Description of Psychological Well-Being On The Dating Bisexual Individuals
Enni Hanami Sianturi and Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

ABSTRACT
Romantic relationship or dating on bisexual individuals may affect
psychological well-being that individual. Psychological well-being refers to the one’s
feelings about daily activity. These feeling can range from the negative mental
conditions, such as life dissatisfaction, anxiety, and more to the positive mental state,
such as realitation of potential or self actualization (Bradburn,1995). Ryff (1989) has
argued that psychological well-being has six dimension; self-acceptance, positive
relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal
growth. The purpose of this research is to describe psychological well-being on the
dating bisexual individuals. The research respondent are three bisexsual who are
dating with men and female, which is two female respondent and one men
respondent.
Results shown that there is the psychological well-being differences at the
three respondent from the psychological well-being dimension quality at each
respondent. The result also shown that there are factors which affect psychological
well-being on bisexuals who are dating, like social support, personality, parenting
and culture.
Keywords: psychological well-being, dating bisexsual individuals

Universitas Sumatera Utara

4

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan begitu
banyak kekuatan dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi untuk
memenuhi syarat dalam menempuh ujian akhir, guna memperoleh gelar sarjana
jenjang strata (S-1) di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dengan judul
”Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual yang Berpacaran”
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah
tercinta, Drs.Oloan P.Sianturi; dan Mama tersayang yang hebat, Elfina Purba atas
segala do’a, cinta, kasih sayang, pengertian serta dukungannya baik moril maupun
materil yang selalu menyertai langkah penulis. Semoga Tuhan selalu memberkati
keduanya dalam setiap keadaan. Tak lupa pula kepada kakak, Mona Elisa
Sianturi,Amd; kedua abangku, Juan Doli David Sianturi dan Zovai Hiskia Sianturi,
SKG; adikku, Kapita Nadya Sianturi yang selalu memberikan doa, perhatian, saran
dan dukungan.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Chairul Yoel, Sp.A.(K), selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si, selaku dosen Pembimbing Skripsi.
Terimakasih telah bersedia meluangkan waktu dan menjadi pembimbing bagi
penulis dengan penuh kesabaran dan semangat memberikan masukan, arahan,
saran dan kritikan yang sangat membantu penulis dalam memahami dan
menemukan esensi dari sebuah penelitian dan pada akhirnya dapat menyelesaikan
skripsi ini meskipun berada di tengah-tengah kesibukan yang sangat padat dan
rintangan yang sangat berat.

Universitas Sumatera Utara

5
3. Ibu Siti Amnah, M.Si selaku dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas
perhatian, bimbingan, masukan dan nasehat ibu dari awal saya kuliah sampai saat
ini.
4. Ibu Ridhoi Meilona Purba, M.Si. Terimakasih banyak atas dukungan, perhatian,
saran dan nasehatnya ya, kak. Tetap semangat dan semoga kakak bisa menjadi ibu
bagi anak-anak remaja kota Medan.
5. Ibu Josetta M.R.T, M.Si, terima kasih banyak atas perhatian dan semangatnya ya,
bu..
6. Seluruh staf pengajar dan staf pegawai Fakultas Psikologi USU atas segala ilmu
dan bantuan yang diberikan selama perkuliahan: Pak Iskandar, Pak Aswan, Pak
Wanto, Kak Ari, Kak Devi, Bang Ali, Bu Ila dan Bu Ida yang selama ini
membantu dalam urusan administrasi. Terima kasih ya.
7. Kak Ruslinda Desiana Ginting (kakak dan pengajar terbaik) yang selalu punya
waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Terimakasih atas perhatian, motivasi,
brainstorming, nasehat, do’a yang terus menerus mengalir dan juga marahmarahnya.
8. Para penghiburku yang luar biasa: Heni Juliartha, Edwina Tanya, Lindawaty
Simbolon dan Ernita Sari. Terimakasih atas perhatian, semangat, doa dan
penghiburan di saat-saat penuh tantangan.
9. Saudara-saudara se-pelayanan (YES Fellowship): Bang Hendra, Devi, Litha,
Arimbi, Renova, Alex, Amel, Monica, Yulifa, Weni, Ivan, Inoq, Kiki, Jupanri,
Priska, Iyus dan Sofie. Terimakasih atas doa, penghiburan dan semangatnya ya...!
Kalian membuatku kuat!

Universitas Sumatera Utara

6
10. Sahabat-sahabat terbaikku: Sevi, Acid, Mirna, Kinan, Raisa, Desti. Terimakasih
untuk brainstorming, dukungan, semangat, kritik, marah-marahnya

dan

semuanya.
11. Teman-teman seperjuangan 2005: Roro, Mitha, Eka, Eva Anggi. Terimakasih atas
bantuan, semangat dan dukungannya ya.. Retno dan Siti Masyitah, ayo lebih
bersemangat!!!
12. Andy, Cici dan Diftha. Terimakasih untuk semangat, motivasi dan bantuan yang
sangat berharga yang kalian berikan kepadaku. Tetap semangat dalam menjalani
hidup ini ya... Pasti bisa!
13. M.Fadlan “Veadl”, terimakasih banyak atas bantuan, saran, dukungan dan
penghiburannya. Jangan suka bolos kuliah lagi, dek.
14. Bang Tatar Jordan Panggabean, terimakasih banyak untuk nasehat, dorongan, doa
dan semangatnya.
15. Sahabat-sahabat “poeja”: Eda Beatrix dan Eda Yani. Terimakasih banyak untuk
penghiburan, motivasi dan doanya ya. Lanjutkan perjuangan!
16. Alexander, Benect, Gita, Angela “nenek” dan Nia. Terimakasih atas bantuan,
semangat dan penghiburan yang kalian berikan kepadaku. Alex, Benect, Gita, dan
nenek cepat nyusul ya.. semangat!
17. Adik-adik 2008: Septi Utami, Suri, Ririn, Annisa Hsb, Mayrinda, Della, Ester
Hotma. Terimakasih banyak atas bantuan, semangat, marah-marahnya terutama
kelucuan kalian. Jangan suka bolos kuliah, rajin-rajin belajar dan sering-sering
diskusi ya, dek. Jangan suka ngegosip juga.
18. Seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan
terimakasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

Universitas Sumatera Utara

7
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis
sangat mengharapkan masukan dan saran yang membangun dari

semua pihak.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.

Medan, Maret 2010

Penulis

Enni Hanami Sianturi

Universitas Sumatera Utara

8
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................v
BAB I. PENDAHULUAN .....................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Perumusan Masalah .............................................................................. 7
C. Tujuan Penelitian................................................................................... 7
D. Manfaat Penelitian................................................................................. 7
1. Manfaat Teorits ................................................................................ 7
2. Manfaat Praktis ................................................................................ 8
E. Sistematika Penulisan ............................................................................ 8
BAB II. LANDASAN TEORI ............................................................................. 10
A. Biseksual.............................................................................................. 10
1. Pengertian Biseksual........................................................................ 10
2. Perkembangan Identitas pada Biseksual...........................................11
B. Psychological Well-Being.....................................................................12
1. Definisi Psychological Well-Being.................................................. 12
2. Dimensi Psychological Well-Being..................................................14
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Psychological well-being…………………………………………...19
C. Gambaran Psycological Well-Being pada Individu Biseksual
yang Berpacaran.....................................................................................21
BAB III. METODE PENELITIAN ........................................................................24
A. Pendekatan Kualitatif............................................................................. 24

Universitas Sumatera Utara

9
B. Responden Penelitian .............................................................................. 26
1. Karakteristik Responden Penelitian ......................................................26
2. Jumlah Responden Penelitian ................................................................26
3. Teknik Pengambilan Sampel ................................................................. 27
4. Lokasi Penelitian ................................................................................... 27
C. Metode Pengumpulan Data........................................................................ 27
1. Wawancara ........................................................................................... 27
D. Alat Bantu Pengumpulan data ................................................................... 28
1. Alat Perekam (tape recorder)................................................................ 29
2. Pedoman Wawancara ........................................................................... 29
E. Lembar Observasi Respoden......................................................................29
F. Kredibilitas Penelitian................................................................................. 30
G. Prosedur Penelitian.................................................................................... 30
1. Tahap Persiapan Penelitian.................................................................... 30
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian................................................................ 33
3. Tahap Pencatatan Data........................................................................... 35
H. Teknik dan Proses Pengolahan Data............................................................ 35
BAB IV. ANALISA DATA DAN INTERPRETASI................................................. 38
A. Responden I................................................................................................. 38
1. Analisa Data.......................................................................................... 38
2. Interpretasi Intra Responden................................................................. 56
B. Responden II................................................................................................ 60
1. Analisa Data.......................................................................... ............... 60
2. Interpretasi Intra Responden .................................................... ............ 77
C. Responden III............................................................................................... 82

Universitas Sumatera Utara

10
1. Analisa Data......................................................................................... 82
2. Interpretasi Intra Responden ................................................................ 99
D. Pembahasan………………………………………………………………..108
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................113
A. Kesimpulan.................................................................................................113
B. Saran........................................................................................................... 114
1. Saran Praktis...................................................................... .................... 114
2. Saran Penelitian Selanjutnya.................................................................. 115
DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

2
Enni Hanami Sianturi dan Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

ABSTRAK
Hubungan romantis ataupun pacaran pada individu biseksual dapat
mempengaruhi psychological well-being individu tersebut. Psychological well-being
merujuk pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari.
Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup,
kecemasan dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi
atau aktualisasi diri (Bradburn, 1995). Ryff (1989) menyebutkan bahwa psychological
well-being terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan diri (self-acceptance), memiliki
hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi
(autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose
in life) dan pertumbuhan pribadi (personal growth). Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara
secara mendalam (in-depth interview). Responden penelitian adalah individu biseksual
yang berpacaran dengan laki-laki dan perempuan sebanyak tiga orang dimana
responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak dua orang dan yang berjenis
kelamin laki-laki sebanyak satu orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan psychological wellbeing pada ketiga responden yang terlihat dari kualitas dimensi psychological wellbeing pada setiap responden. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya faktorfaktor yang mempengaruhi psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran seperti dukungan sosial, kepribadian, pola asuh dan budaya.

Kata kunci : psychological well-being, individu biseksual yang berpacaran

Universitas Sumatera Utara

3
A Description of Psychological Well-Being On The Dating Bisexual Individuals
Enni Hanami Sianturi and Rohdiatul Hassanah Siregar, M.Si

ABSTRACT
Romantic relationship or dating on bisexual individuals may affect
psychological well-being that individual. Psychological well-being refers to the one’s
feelings about daily activity. These feeling can range from the negative mental
conditions, such as life dissatisfaction, anxiety, and more to the positive mental state,
such as realitation of potential or self actualization (Bradburn,1995). Ryff (1989) has
argued that psychological well-being has six dimension; self-acceptance, positive
relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal
growth. The purpose of this research is to describe psychological well-being on the
dating bisexual individuals. The research respondent are three bisexsual who are
dating with men and female, which is two female respondent and one men
respondent.
Results shown that there is the psychological well-being differences at the
three respondent from the psychological well-being dimension quality at each
respondent. The result also shown that there are factors which affect psychological
well-being on bisexuals who are dating, like social support, personality, parenting
and culture.
Keywords: psychological well-being, dating bisexsual individuals

Universitas Sumatera Utara

11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan manusia tidak pernah statis. Dimulai dari pembuahan sampai
kematian selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan fisik maupun kemampuan
psikologis. Perubahan inilah yang disebut sebagai perkembangan dalam rentang
kehidupan manusia. Manusia memiliki tahapan perkembangan dengan tugas-tugas
perkembangan yang penting untuk berbagai tahapan rentang kehidupan. Salah satu
tahapan dalam rentang kehidupan manusia adalah masa dewasa awal atau dewasa dini
(dalam Hurlock, 1999).
Masa dewasa awal atau dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri
terhadap pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Individu yang berada
pada masa dewasa awal atau dewasa dini diharapkan memainkan peran baru, seperti
peran suami/isteri, orangtua, dan pencari nafkah, dan mengembangkan sikap-sikap
baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini.
Masa dewasa awal atau dewasa dini memiliki beberapa tugas perkembangan, salah
satu diantaranya adalah memilih pasangan. (dalam Hurlock, 1999).
Berdasarkan teori perkembangan psikososial Erikson (dalam Papalia, Olds, &
Feldman,

1998),

masa

dewasa

awal

(young

adulthood)

ditandai

adanya

kecenderungan intimacy versus isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu
memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan
kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif dan membina hubungan
yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini

Universitas Sumatera Utara

12
timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang
tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang
lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan
adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah
pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang
lain. Genbeck dan Patherick (2006) menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai
dalam berpacaran yaitu keintiman dengan pasangan dan berbagi dengan orang lain
yang merefleksikan tugas perkembangan pada masa ini.
Individu dewasa awal atau dewasa dini mencari keintiman emosional dan fisik
kepada pasangan romantis. Hubungan ini mensyaratkan keterampilan seperti
kesadaran diri, empati, kemampuan mengkomunikasikan emosi, pembuatan keputusan
seksual,

penyelesaian

konflik

dan

kemampuan

mempertahankan

komitmen.

Keterampilan tersebut sangat penting ketika individu dewasa awal atau dewasa dini
memutuskan untuk menikah, membentuk pasangan yang tidak terikat pernikahan, atau
hidup seorang diri, atau memiliki atau tidak memiliki anak (Lambeth & Hallet dalam
Papalia, 2008). Hal ini jugalah yang terjadi pada individu biseksual.
Biseksual merupakan sebuah istilah yang merupakan salah satu dari tiga
klasifikasi utama orientasi seksual manusia disamping homoseksual dan heterogenitas.
Orientasi seksual dapat dilihat sebagai salah satu dari empat komponen yaitu identitas
seksual, jenis kelamin secara biologis, identitas gender, dan peran seks secara sosial
(Shively & De Cecco dalam Fox, 2000). Suatu literatur penelitian telah
mengemukakan secara jelas berbagai macam kriteria untuk mendefinisikan orientasi
seksual, termasuk di antaranya perilaku seksual, affectional attachment (close
relationships), fantasi-fantasi erotis, arousal, erotic preference, dan identifikasi diri

Universitas Sumatera Utara

13
sebagai biseksual, heteroseksual, atau homoseksual (Shively, Jones & De Cecco dalam
Fox, 2000).
Seksologis Jerman, Krafft-Ebing menyebut biseksual dengan sebutan
psychosexual hermaphroditism, yaitu merujuk pada eksistensi dua seks biologis dalam
satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita
dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Namun, penggunaan dari biseksual telah
mengalami perubahan. Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah
psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat
seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu. Menurut Freud (1905),
biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas sedangkan menurut
Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari
maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas dan homoseksualitas (dalam
Storr, 1999).
Masters (1992) mengatakan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang yang
tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga
didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional
dan seksual kepada pria dan wanita (Robin & Hammer dalam Matlin, 2004). Selain
itu, biseksual juga dapat didefinisikan sebagai orientasi seksual yang mempunyai ciriciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria dan
wanita. Orang-orang yang memiliki orientasi biseksual, dapat mengalami pengalaman
seksual, emosional dan ketertarikan afeksi kepada sesama jenis dan lawan jenis (dalam
wikipedia, 2008).
Kinsey dalam penelitian yang dilakukan di Amerika menyatakan sekitar 1%
individu mengatakan bahwa diri mereka adalah biseksual yaitu 1,2% pria dan 0,7%
wanita (dalam Santrock, 2003). Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang

Universitas Sumatera Utara

14
menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih
terbatas (Oetomo, 2006).
Individu gay, lesbi atau biseksual sering mengalami diskriminasi. Di
masyarakat Indonesia sering didengar larangan dan ancaman dari para pemimpin
agama, yang tanpa berpikir panjang dan membaca lebih cermat teks-teks keagamaan
dengan mudahnya menyatakan mereka sebagai orang berdosa. Hal ini sangat
menyakitkan bagi kaum gay, lesbi dan biseksual di Indonesia. Tidak adanya
pengakuan dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan perilaku diskriminatif.
Media massa jarang membahas isu-isu yang penting untuk kaum gay, lesbi dan
biseksual (Oetomo, 2006).
Secara khusus, kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari komunitas
heteroseksual dan homoseksual. Hal ini dikarenakan adanya prasangka seksual. Kaum
heteroseksual cenderung meyakini bahwa kaum biseksual seringkali tidak setia kepada
pasangannya (Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Bagi kaum lesbi dan gay,
mereka sering meyakini bahwa individu biseksual membingungkan dan kaum lesbi
dan gay kadang-kadang memunculkan prasangka seksual untuk mencegah kaum
biseksual dari munculnya pengakuan kaum biseksual yang menyatakan mereka adalah
kaum lesbi dan gay (Herdt, Rust, Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Hal ini
sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Beby (bukan nama sebenarnya):
“Iya... aku pure lesbi dan dari kecil emang udah lesbi... Menurut pandangan
aku, sebenarnya aku agak-agak sebel dengan yang namanya cewek biseksual.
Tapi aku masih bisa kok menghargai mereka karena orientasi seksual masingmasing orang emang berbeda. Kenapa aku agak-agak sebel? Di mata aku,
cewek biseksual itu kesannya munafik...sebenarnya mereka mau yang mana
nih? Kenapa harus dua-duanya? Terus kesannya gimana ya? Agak-agak jijik
juga ya sama biseksual, tapi kalo ini tentang melakukan hubungan seks ya.
Males kali lah kalo tau mereka udah pernah ngeseks sama laki-laki...
Ihhhh...gak banget deh... Jadi ya gitulah, bingung aja gitu aku sama biseks...
Aku ngeliat mereka kayak orang plin plan” (komunikasi personal, Medan, 15
Februari 2009)

Universitas Sumatera Utara

15
Pada umumnya, individu biseksual memiliki fluktuasi dalam ketertarikan yang
romantis. Mereka merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis lebih awal
dibandingkan merasakan ketertarikan terhadap sesama jenisnya (Fox & Weinberg et al
dalam Matlin, 2004). Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Ogy
(bukan nama sebenarnya):
“pertama kalinya tu suka ma ceweklah, nok.. kek mana ya..? kejadiannya tu
gak disengaja gitu. Awalnya ada gay yang sukak ma aku, terakhirnya aku pun
jadi suka juga ma dia. Dia pun baik kali samaku, terakhir jadi timbul
perasaanlah sama dia (komunikasi personal, Medan, 17 Mei 2009).
Hubungan romantis ataupun pacaran dapat berpengaruh terhadap psychological
well-being individu biseksual. Kepuasan hubungan romantisme, komitmen terhadap
pasangan dan coming out ataupun self-disclosure terhadap pasangan dan orang lain
dapat menimbulkan konflik intrapersonal maupun interpersonal seperti stress,
kecemasan dan ketakutan yang akan berpengaruh terhadap psychological well-being
individu biseksual tersebut (dalam Savin-William & Cohen, 1995). Hal ini sejalan
dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Jhoni (bukan nama sebenarnya):
“yang pasti stress lah membagi perasaan ini.. Itu dua, aku pun bingung, kalo
bisa di belah, di belahlah... tapi ini gak bisa dibelah pula..” (komunikasi
personal, Medan 21 Oktober 2009)
Hal serupa juga dialami oleh Ogy (bukan nama sebenarnya) dalam pernyataan berikut:
.”Iya, nok… aku pacaran ma cewek cowok. Kek mana lah ya?? Fifty-fifty gitu
dia yang ku rasakan. Di satu sisi aku ngerasa nyaman kali kalau berhubungan
sama cowok, di sisi lain kek merasa takut gitulah. Takutlah kalau orang-orang
tahu aku ni biseks. (komunikasi personal, Medan, 17 Mei 2009)”
Psychological well-being (yang selanjutnya disebut dengan PWB) merujuk
pada perasaan-perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini
dapat berkisar dari kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan
dan sebagainya sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau
aktualisasi diri (Bradburn dalam Ryff & Keyes,1995).

Universitas Sumatera Utara

16
Ryff mengajukan beberapa literatur untuk mendefinisikan kondisi mental yang
berfungsi positif yaitu Rogers menyebutnya dengan istilah fully functioning person,
Maslow

menyebutnya

dengan

konsep

self-actualized

person,

dan

Jung

mengistilahkannya dengan individuasi, serta Allport menyebutnya dengan konsep
Maturity (Ryff,1989). Ryff (dalam Keyes,1995) juga menyatakan bahwa PWB dapat
ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasaan hidup dan tidak adanya gejalagejala depresi.
Ryff (1989) menyebutkan bahwa PWB terdiri dari enam dimensi, yaitu
penerimaan diri (self-acceptance), memiliki hubungan positif dengan orang lain
(positive relations with others), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan
(environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life) dan pertumbuhan pribadi
(personal growth).
Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui
bagaimana gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, maka perumusan masalah
penelitian ini adalah:
“Bagaimana gambaran psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological
well-being pada individu biseksual yang berpacaran.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis

Universitas Sumatera Utara

17
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis, antara lain:
1. Dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi disiplin ilmu psikologi
terutama pada bidang klinis, mengenai gambaran psychological well-being
pada individu biseksual yang berpacaran.
2. Dapat menjadi masukan bagi para peneliti lain yang tertarik untuk meneliti
lebih jauh mengenai psychological well-being pada individu biseksual yang
berpacaran.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis, antara lain:
1. Memberi gambaran kepada individu biseksual mengenai psychological wellbeing.
2. Memberikan informasi kepada individu biseksual tentang pentingnya PWB
sehingga

individu

biseksual

dapat

mengurangi

faktor-faktor

yang

menyebabkan stress, kecemasan, depresi, sehingga mereka dapat lebih
sejahtera secara psikologis .
3. Menjadi sumbangan informasi bagi lingkungan sekitar individu biseksual agar
dapat memberikan dukungan positif sehingga kaum biseksual dapat memiliki
kesejahteraan psikologis yang tinggi.
E. Sistematika Penulisan
Proposal penelitian ini disajikan dalam beberapa bab dengan sistematika
penelitian sebagai berikut :
Bab I

:

Pendahuluan
Memuat latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II

:

Landasan Teori

Universitas Sumatera Utara

18
Memuat

tinjauan

teoritis

yang

menjadi

acuan

dalam

permasalahan. Teori-teori yang dimuat adalah teori biseksual,
definisi

psychological

well-being,

dimensi-dimensi

psychological well-being dan faktor-faktor yang mempengaruhi
psychological well-being.
Bab III

:

Metode Penelitian
Menjelaskan Karakteristik Subjek dan Jumlah Subjek, Metode
Pengambilan Data, Teknik Pengambilan Sampel, dan Alat
Bantu Pengambilan Data.

Universitas Sumatera Utara

19
BAB II
LANDASAN TEORI

A.

Biseksual

1.

Definisi Biseksual
Krafft-Ebing, salah seorang seksologis Jerman menyebut biseksual dengan

sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu
spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita
dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian
meninggalkan istilah psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari
biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu.
Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan
feminitas, sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah
merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas
dan homoseksualitas (dalam Storr, 1999).
Dalam pengertian umumnya, biseksual adalah orientasi seksual yang
mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual
kepada pria dan wanita. Menurut Masters (1992), biseksual adalah istilah untuk orang
yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual
juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis,
emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan (Robin & Hammer, 2000
dalam Matlin, 2004).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biseksual adalah
istilah untuk orang dengan orientasi seksual yang memiliki ketertarikan estetis,
psikologis, emosional dan seksual baik kepada laki-laki maupun perempuan.
2.

Perkembangan Identitas Pada Biseksual

Universitas Sumatera Utara

20
Terdapat empat tingkatan pada biseksual dalam menghadapi identitas mereka
(Weinberg dkk, 1994):
a. Initial Confusion
Merupakan periode yang sangat membingungkan, ragu dan berjuang dengan
identitas mereka sebelum mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai biseksual.
Biasanya merupakan langkah awal dalam proses menjadi biseksual. Bagi beberapa
biseksual, periode ini dilewati dengan perasaan seksual yang kuat terhadap kedua
jenis kelamin yang sangat mengganggu, tanpa orientasi, dan terkadang menakutkan.
b. Finding And Applying The Label
Pada beberapa orang yang awalnya belum mengenal istilah biseksual,
biasanya mereka mendapatkan istilah tersebut dengan mendengar, membacanya di
suatu sumber, atau mempelajarinya dari komunitas biseksual. Penemuan ini membuat
perasaan mereka menjadi lebih bermakna sehinga hal ini kemudian menjadi titik balik
dalam kehidupan mereka. Dilain pihak ada pula yang sudah memiliki pengetahuan
tentang biseksual namun belum dapat melabelnya pada diri mereka. Hal ini terjadi
pada mereka yang awalnya merasakan dirinya sebagai homoseksual. Selain itu ada
pula yang tidak menjalani titik balik yang spesifik dalam kehidupannya namun
perasaan seksual terhadap kedua jenis kelamin terlalu sulit untuk disangkal. Mereka
pada akhirnya menyimpulkan untuk tidak memilih. Faktor terakhir yang mengarahkan
seseorang untuk memakai label biseksual adalah dorongan yang datang dari temanteman yang telah mendefinisikan diri mereka sebagai biseksual.
c. Settling into the identity
Tingkatan ini dikarakteristikkan dengan transisi yang lebih rumit dalam selflabeling. Pada tingkat ini mereka lebih dapat menerima diri, tidak begitu
memperhatikan sikap negatif dari orang lain

Universitas Sumatera Utara

21
d. Continued uncertainity
Banyak pria dan wanita yang meragukan identitas biseksual mereka karena
hubungan seksual yang eksklusif. Setelah terlibat secara eklusif dengan pasangan
berbeda jenis dalam waktu tertentu, beberapa diantara mereka mempertanyakan sisi
homoseksual dari seksualitas mereka. Sebaliknya, setelah terlibat dengan pasangan
sejenis, mereka mulai mempertanyakan komponen heeroseksual dalam seksualitas
mereka.

B. Psychological Well-Being
1. Definisi Psychological Well-Being
Istilah Psychological Well-Being (PWB) berawal dari tulisan filsuf Aristoteles
mengenai eudaimonia (Ryff,1989). Istilah ini tidak hanya sekedar berarti kebahagiaan
atau menunjukkan antara kepuasaan terhadap keinginan yang benar dan salah
(Hedonistic), melainkan Eudaimonia lebih memberikan karakteristik yang tertinggi
dari keberadaan manusia, yaitu berjuan untuk mencapai kesempurnaan dengan jalan
merealisasikan potensi yang sebenarnya. Aristoteles (dalam Ryff,1989) berpendapat
bahwa pengertian bahagia bukanlah diperoleh dengan jalan mengejar kenikmatan dan
menghindari rasa sakit, atau terpenuhinya segala kebutuhan individu, melainkan
melalui tindakan nyata yang

mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki

individu. Hal inilah yang merupakan tugas dan tanggungjawab manusia sehingga
merekalah yang menentukan apakah menjadi individu yang merasa bahagia,
merasakan apakah hidupnya bermutu, berhasil atau gagal.

Universitas Sumatera Utara

22
Pada intinya psychological well-being merujuk pada perasaan-perasaan
seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari
kondisi mental negatif (misalnya ketidakpuasan hidup, kecemasan dan sebagainya)
sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi atau aktualisasi diri
(Bradburn dalam Ryff dan Keyes, 1995). Ryff mengajukan beberapa literatur untuk
mendefinisikan kondisi mental yang berfungsi positif yaitu Rogers menyebutnya
dengan istilah fully functioning person, Maslow menyebutnya dengan konsep selfactualized person, dan Jung mengistilahkannya dengan individuasi, serta Allport
menyebutnya dengan konsep Maturity (Ryff,1989).
PWB dapat ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasaan hidup dan tidak
adanya gejala-gejala depresi (Ryff, 1995). Menurut Bradburn, dkk (dalam Ryff, 1989)
kebahagiaan (hapiness) merupakan hasil dari kesejahteraan psikologis dan merupakan
tujuan tertinggi yang ingin dicapai oleh setiap manusia.
Ryff menyebutkan bahwa PWB terdiri dari enam dimensi, yaitu penerimaan
terhadap diri sendiri, memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, kemandirian,
penguasaan terhadap lingkungan, memiliki tujuan dan arti hidup serta pertumbuhan
dan perkembangan yang berkelanjutan (Ryff & Keyes, 1995).
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa psychological wellbeing (kesejahteraan psikologis) adalah kondisi individu yang ditandai dengan adanya
perasaan bahagia, mempunyai kepuasaan hidup dan tidak ada gejala-gejala depresi.
Kondisi tersebut dipengaruhi adanya fungsi psikologis yang positif seperti
penerimaan diri, relasi sosial yang positif, mempunyai tujuan hidup, perkembangan
pribadi, penguasaan lingkungan dan otonomi.
2. Dimensi Psychological Well-Being

Universitas Sumatera Utara

23
Menurut Ryff (dalam Keyes, 1995), pondasi untuk diperolehnya kesejahteraan
psikologis adalah individu yang secara psikologis dapat berfungsi secara positif
(positive psychological functioning). Komponen individu yang mempunyai fungsi
psikologis yang positif yaitu:
1. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

Self-acceptance dalam PWB ini berkaitan dengan penerimaan individu pada
masa kini dan masa lalunya. Selain itu juga berkaitan dengan adanya penilaian
positif atas kondisi diri sendiri.
Seseorang memiliki nilai yang tinggi dalam dimensi penerimaan diri adalah
mereka yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya
kualitas baik maupun buruk, dan bersikap positif terhadap kehidupan yang
dijalaninya. Sebaliknya, individu yang memiliki nilai yang rendah adalah mereka
yang menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap kondisi dirinya, mengalami
masalah dengan kualitas tertentu dari dirinya, merasa kecewa dengan apa yang
telah terjadi pada kehidupan masa lalu, dan ingin menjadi orang yang berbeda dari
diri sendiri.
2. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)
Komponen lain dari PWB adalah kemampuan individu untuk membina
hubungan yang hangat dengan orang lain. Individu yang matang digambarkan
sebagai individu yang mampu untuk mencintai dan membina hubungan
interpersonal yang dibangun atas dasar saling percaya. Individu juga memiliki
perasaan yang kuat dalam melakukan empati dan afeksi terhadap sesama manusia,

Universitas Sumatera Utara

24
memiliki persahabatan yang mendalam, dan mempunyai kemampuan identifikasi
yang baik dengan orang lain.
Individu yang memiliki hubungan positif dengan orang lain mampu membina
hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan orang lain. Selain itu,
individu memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat
menunjukkan empati, afeksi, dan mempunyai hubungan yang intim, serta
memahami prinsip memberi dan menerima dalam hubungan antar pribadi. Selain
itu, ia memiliki kedekatan (intimacy) dengan orang lain dan mampu memberikan
bimbingan serta pengarahan kepada orang lain (generativity). Sebaliknya, individu
yang kurang baik dalam dimensi hubungan positif menunjukkan tingkah laku
yang tertutup dalam berhubungan dengan orang lain, sulit untuk bersikap hangat,
terbuka dan peduli dengan orang, merasa terasing dan frustasi dalam hubungan
interpersonalnya, serta tidak bersedia untuk melakukan kompromi agar dapat
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
3. Otonomi (Autonomy)
Ciri utama seseorang yang memiliki otonomi yang baik antara lain
kemampuan untuk menentukan nasib sendiri, kemampuan untuk mengatur tingkah
laku, dan kemampuan untuk mandiri. Ia mampu mengambil keputusan tanpa
adanya campur tangan orang lain. Selain itu, orang tersebut memiliki ketahanan
dalam menghadapi tekanan sosial, dapat mengatur tingkah laku dalam diri, serta
dapat mengevaluasi diri dengan standar personal, bukan tergantung pada penilaian
orang lain terhadap dirinya.
Sebaliknya,

individu

yang

kurang

memiliki

otonomi

akan

sangat

memperhatikan dan mempertimbangkan harapan dan evaluasi dari orang lain,

Universitas Sumatera Utara

25
berpegangan pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, serta
mudah terpengaruh oleh tekanan sosial untuk berpikir dan bertingkah laku dengan
cara-cara tertentu.
4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)
Kemampuan untuk menguasai lingkungan didefinisikan sebagai kemampuan
individu untuk memilih, menciptakan, atau mengelola lingkungan agar berjalan
seiring dengan kondisi psikologis dirinya dalam rangka pengembangan diri.
Individu yang baik dalam dimensi penguasaan lingkungan memiliki keyakinan
dan kompetensi dalam mengatur lingkungan. Ia dapat mengendalikan aktivitas
eksternal yang berada di lingkungannya termasuk mengatur dan mengendalikan
situasi

kehidupan

sehari-hari,

memanfaatkan

kesempatan

yang

ada

di

lingkungannya, serta mampu memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai
dengan kebutuhan pribadi. Sebaliknya, individu yang memiliki penguasaan
lingkungan yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam mengatur situasi
sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan kualitas
lingkungan sekitarnya serta tidak mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan
diri lingkungan sekitarnya.
5. Tujuan Hidup (Purpose in Life)
Kondisi mental yang sehat memungkinkan individu untuk menyadari bahwa ia
memiliki tujuan tertentu dalam hidup yang ia jalani serta mampu memberikan
makna pada hidup yang ia jalani. Allport (1961) menjelaskan bahwa salah satu
ciri kematangan individu adalah memiliki tujuan hidup, yakni memiliki rasa
keterarahan (sense of directedness) dan tujuan (intentionality). Selain itu, Rogers
(1961) mengemukakan bahwa fully functioning person memiliki tujuan dan cita-

Universitas Sumatera Utara

26
cita serta rasa keterarahan yang membuat dirinya merasa bahwa hidup ini
bermakna (Ryff, 1989).
Individu yang memiliki nilai tinggi dalam dimensi tujuan hidup adalah
individu yang memiliki tujuan dan arah dalam hidup, merasakan arti dalam hidup
masa kini maupun yang telah dijalaninya, memiliki keyakinan yang memberikan
tujuan hidup, serta memiliki tujuan dan sasaran hidup yang ingin dicapai dalam
hidup. Sebaliknya, individu yang kurang memiliki tujuan hidup akan kehilangan
makna hidup, arah dan cita-cita yang tidak jelas, tidak melihat makna yang
terkandung untuk hidupnya dari kejadian di masa lalu, serta tidak mempunyai
harapan atau kepercayaan yang memberi arti pada kehidupan (Ryff, 1995).
6. Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)
Individu yang matang secara psikologis tidak hanya mampu mencapai
karakteristik-karakteristik pribadi dan pengalaman terdahulu., melainkan juga
mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan potensinya, tumbuh sebagai
individu yang fully functioning. Untuk dapat berfungsi sepenuhnya, individu harus
memiliki keterbukaan terhadap pengalaman. Individu yang terbuka pada
pengalaman akan lebih menyadari lingkungan sekitarnya dan tidak berhenti pada
pendapat-pendapat

sebelumnya

yang

kemungkinan

tidak

benar.

Rogers

menyebutnya sebagai “keinginan untuk menjadi”. Individu yang mencapai kondisi
tersebut tidak berhenti pada suatu keadaan statis dan berhenti mengembangkan
dirinya. Justru keterbukaan terhadap pengalaman, selalu menghadapi tantangan
dan tugas-tugas baru pada setiap fase kehidupannya. Individu yang matang selalu
berusaha mengaktualisasikan dirinya dan menyadari potensi-potensi yang
dimiliki.

Universitas Sumatera Utara

27
Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang baik ditandai dengan
adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya,
memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang, terbuka
terhadap pengalaman-pengalaman baru, memiliki kemampuan dalam menyadari
potensi diri yang dimiliki, dapat merasakan peningkatan yang terjadi pada diri dan
tingkah lakunya setiap waktu serta dapat berubah menjadi pribadi yang lebih
efektif dan memiliki pengetahuan yang bertambah. Sebaliknya, individu yang
memiliki pertumbuhan pribadi yang kurang baik akan merasa dirinya mengalami
stagnasi, tidak melihat peningkatan dan pengembangan diri, merasa bosan dan
kehilangan minat terhadap kehidupannya, serta merasa tidak mampu dalam
mengembangkan sikap dan tingkah laku yang lebih baik (Ryff, 1995).
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being
Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being seseorang antara
lain:
1. Usia.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ryff (1989), ditemukan adanya
perbedaan tingkat psychological well-being pada orang dari berbagai kelompok
usia. Dalam dimensi penguasaan lingkungan terlihat profil meningkat seiring
dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin
mengetahui kondisi yang terbaik bagi dirinya. Oleh karenanya, individu tersebut
semakin dapat pula mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai dengan
keadaan dirinya.
Individu yang berada dalam usia dewasa akhir memiliki skor psychological
well-being yang lebih rendah dalam dimensi tujuan hidup dan pertumbuhan diri;
individu yang berada dalam usia dewasa madya memiliki skor psychological well-

Universitas Sumatera Utara

28
being yang lebih tinggi dalam dimensi penguasaan lingkungan; individu yang
berada dalam usia dewasa awal memiliki skor yang lebih rendah dalam dimensi
otonomi dan penguasaan lingkungan dan memiliki skor psychological well-being
yang lebih tinggi dalam dimensi pertumbuhan diri. Dimensi penerimaan diri dan
dimensi hubungan positif dengan orang lain tidak memperlihatkan adanya
perbedaan seiring dengan pertambahan usia (Ryff dalam Ryan & Deci, 2001).
2. Jenis Kelamin
Menurut Ryff (1989), satu-satunya dimensi yang menunjukkan perbedaan
signifikan antara laki-laki dan perempuan adalah dimensi hubungan positif dengan
orang lain. Sejak kecil, stereotype gender telah tertanam dalam diri anak laki-laki
digambarkan sebagai sosok agresif dan mandiri, sementara itu perempuan
digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap
perasaan orang lain (Papalia & Feldman, 2001). Tidaklah mengherankan bahwa
sifat-sifat stereotype ini akhirnya terbawa oleh individu sampai individu tersebut
dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap
perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina keadaan
harmoni dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa
wanita memiliki skor yang lebih tinggi dalam dimensi hubungan positif dan dapat
mempertahankan hubungan yang baik dengan orang lain.
3. Status sosial ekonomi
Ryff dkk., (dalam Ryan & Decci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial
ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan
lingkungan dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki status sosial ekonomi
yang rendah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki
status ekonomi yang lebih baik darinya. Menurut Davis (dalam Robinson &

Universitas Sumatera Utara

29
Andrew, 1991), individu dengan tingkat penghasilan tinggi, status menikah, dan
mempunyai dukungan sosial tinggi akan memiliki psychological well-being yang
lebih tinggi.
4. Budaya
Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme-kolektivisme
memberi dampak terhadap psychological well-being yang dimiliki suatu
masyarakat. Budaya barat memiliki skor yang tinggi dalam dimensi penerimaan
diri dan dimensi otonomi, sedangkan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai
kolektivisme, memiliki skor yang tinggi pada dimensi hubungan positif dengan
orang lain.
D. Gambaran Psychological Well-Being Pada Individu Biseksual Yang
Berpacaran.
Masa dewasa awal atau dewasa dini memiliki beberapa tugas perkembangan,
salah satu diantaranya adalah memilih pasangan. (dalam Hurlock, 1999). Periode
diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya
disebut dengan istilah pacaran. Gembeck dan Patherick (2006) menyatakan bahwa
tujuan yang ingin dicapai dalam berpacaran yaitu keintiman dengan pasangan dan
berbagi dengan orang lain yang merefleksikan tugas perkembangan pada masa ini. Hal
ini jugalah yang terjadi pada individu biseksual.
Biseksual merupakan sebuah istilah yang merupakan salah satu dari tiga
klasifikasi utama orientasi seksual manusia disamping homoseksual dan heterogenitas.
Masters (1992) mengatakan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik
secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga
didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional
dan seksual kepada pria dan wanita (Robin & Hammer dalam Matlin, 2004). Selain

Universitas Sumatera Utara

30
itu, biseksual juga dapat didefinisikan sebagai orientasi seksual yang mempunyai ciriciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria dan
wanita. Orang-orang yang memiliki orientasi biseksual, dapat mengalami pengalaman
seksual, emosional dan ketertarikan afeksi kepada sesama jenis dan lawan jenis (dalam
wikipedia, 2008).
Kinsey dalam penelitian yang dilakukan di Amerika menyatakan sekitar 1%
individu mengatakan bahwa diri mereka adalah biseksual yaitu 1,2% pria dan 0,7%
wanita (dalam Santrock, 2003). Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang
menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih
terbatas (Oetomo, 2006). Individu gay, lesbi atau biseksual sering mengalami
diskriminasi. Secara khusus, kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari
komunitas heteroseksual dan homoseksual.
Pada umumnya, individu biseksual memiliki fluktuasi dalam ketertarikan yang
romantis. Mereka merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis lebih awal
dibandingkan merasakan ketertarikan terhadap sesama jenisnya (Fox & Weinberg et al
dalam Matlin, 2004). Bagi individu biseksual, hubungan romantis ataupun pacaran
dapat berpengaruh terhadap Psychological Well-Being mereka. Psychological WellBeing (yang selanjutnya disebut dengan PWB) merujuk pada perasaan-perasaan
seseorang mengenai aktivitas hidup sehari-hari. Perasaan ini dapat berkisar dari
kondisi mental negatif, misalnya ketidakpuasan