Pelanggaran HAM terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga Puluh September 1965

PELANGGARAN HAM TERHADAP PARTAI KOMUNIS INDONESIA
(PKI)
DALAM GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER 1965

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

OLEH

PINCE SISKA ANALIA
060200238

DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

PELANGGARAN HAM TERHADAP PARTAI KOMUNIS INDONESIA
(PKI)
DALAM GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER 1965
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

OLEH

PINCE SISKA ANALIA
060200238

DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

Disetujui oleh:
Ketua Departemen Hukum Internasional

H. Sutiarnoto, S.H., M.Hum
NIP. 195610101986031003

Dosen Pembimbing I,

Dosen Pembimbing II,

Abdul Rahman S.H., M.H.
NIP. 195710301984031002

Arif, S.H., M.H.
NIP. 196403301993031002

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur pada akhirnya Skripsi yang berjudul: “Pelanggaran
HAM terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga Puluh
September 1965” ini telah selesai. Adapun penulisan skripsi sesuai judul tersebut,
selain guna memenuhi syarat kelulusan kegiatan akademik, juga dilatarbelakangi
pelanggaran HAM terhadap orang-orang yang diduga anggota dan simpatisan PKI
yang merupakan pelanggaran HAM berat dan telah berlangsung selama puluhan
tahun di Indonesia tidak pernah mendapat penyelesaian hukum yang jelas dari
pemerintah Indonesia sejak masa rezim orde baru hingga kini, masa yang diklaim
sebagai pascareformasi. Keadaan ini menjadi sebuah kontradiksi dengan fakta
bahwa Indonesia telah meratifikasi berbagai instrumen internasional terkait
perlindungan HAM.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan baik dari segi teknis
maupun dari segi substantif, karena itu penulis mengundang kritik dan saran
konstruktif positif dari berbagai pihak demi kelayakan skripsi ini sebagai sebuah
karya ilmiah yang baik dan berguna. Penulis berterima kasih kepada:
1. Bapak Sutiarnoto, S.H., M.Hum, Ketua Departemen Hukum Internasional
Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memperhatikan dan memberi
semangat bagi para mahasiswa departemen hukum internasional, termasuk
penulis
2. Bapak Abdul Rahman, S.H., M.H., Dosen Pembimbing I penulis, yang telah
meluangkan waktunya bagi penulis dalam mendiskusikan skripsi ini
3. Bapak Arif, S.H., M.H., Sekretaris Departemen Hukum Internasional
Universitas Sumatera Utara yang juga merupakan dosen pembimbing II
penulis yang telah banyak membagikan ilmu-ilmu dan berbagai pengalaman
yang berharga yang inspiratif pada tiap kuliah serta memberikan berbagai
masukan dalam penulisan skripsi ini
4. Bapak Hermansyah, S.H., M.Hum, Dosen Penasehat Akademik Penulis
5. Para pihak yang membantu penulis dalam penulisan skripsi ini: Bapak Edy
Ikhsan, S.H., M.A., yang dalam berbagai kesempatan bersedia meluangkan
waktunya untuk berdiskusi dengan penulis, dan dalam penulisan skripsi ini,
dengan penuh kepercayaan, bersedia meminjamkan berbagai referensi bukubuku kiri koleksinya bagi penulis. As the most egalitarian “guru”, you deserve
the dean position at the faculty, hopefully someday you would be there, Sir! ;
Para Abang dan Kakak (yang sepantasnya saya sebut oom dan tante, ha ha)
dari BAKUMSU: Juni Arios yang banyak menghubungkan penulis dengan
para informan dan referensi terkait serta selalu ‘mencambuk’ penulis untuk

Universitas Sumatera Utara

cepat-cepat menyelesaikan skripsi ini, Mimi Priscilia yang selalu
memperhatikan dan memotivasi penulis dengan cara yang anggun (ha ha),
Ressi Dwiyana yang menjadi Nande yang gemar ‘merepeti’ penulis di selasela kebaikan hatinya mengajak penulis berkelana dari satu tempat dan
informasi aneh ke tempat dan informasi (lebih) aneh lainnya, ketiga ladies ini
sangat berjasa dalam menekan biaya-pengeluaran-makan-sampai-puas penulis
(ha ha), Anto, Manambus Pasaribu, Sahat Hutagalung, Saurlin Siagian, dan
Randy Hutagaol yang banyak memotivasi dan menyediakan waktu untuk
membagi pengetahuan mereka terhadap keingintahuan penulis, dan Niar
Sijabat yang membantu penulis meminjam referensi dari perpustakaan
BAKUMSU; Bapak Jiman Karo-karo dari KPP HAM 1965, Bapak
Khairuman dari KPP HAM Nusantara, serta Bapak Sjahriar Sandan, S.H. yang
banyak memberikan informasi bagi penulis terkait skripsi ini; Zainal Abidin
dari Kedai Buku Titik Koma yang banyak membantu penulis dalam
memberikan referensi buku-buku kiri yang tidak diterbitkan lagi serta banyak
meluangkan waktu untuk membagikan berbagai informasi dan
pengetahuannya yang luas bagi penulis
6. Keluarga penulis: Alce Mogendo, Ibu penulis; N Keliat dan Wallia Liman,
Bapak Tengah dan Mama Tengah penulis; Deni Tancanguru Keliat dan Lilis
Suryani, Abdiel Keliat dan Nomi Sinulingga, Pera Keliat, dan Peni Keliat,
saudara-saudara penulis, yang telah banyak memberikan dukungan, semangat,
dan nasehat bagi penulis dalam menyelesaikan studi
7. Sahabat-sahabat penulis sejak masa kecil yang tetap memperhatikan dan
mendukung penulis hingga saat ini: Randi Kandera, Ivoni Sembiring, dan
Selvia Laura, yang bersama mereka penulis senantiasa melakukan
‘petualangan-petualangan’ yang agak tidak normal; Liliana dan Hardi
Tuwuntjaki, Jii Libranto dan Eva Munthe, para tetangga yang terkena sindrom
mangaholic bersama-sama dengan penulis; Febrina Meliala, sahabat
perempuan penulis yang paling gentleman (ha ha) yang obrolan-obrolanringan-bijaknya banyak menginspirasi penulis untuk memandang segala
sesuatu dengan berbagai perspektif, dan Lorensia Brahmana yang banyak
memotivasi penulis untuk menjadi perempuan hebat yang menguasai peta
politik global (ha ha); Hardi Ade Wahyudi, yang kebaikan hatinya
mengikutsertakan penulis dalam ‘perburuan-perburuan’ kulinernya berandil
besar dalam menambah kuantitas lemak penulis, Rudi Tanaka, yang selalu
berbaik hati bersedia membantu penulis ‘beramah tamah’ pada komputer dan
para peranti lunaknya, dan Yudha Hesty yang selalu menyempatkan diri untuk
berbincang-bincang jarak jauh dengan penulis; Yennika Zebua dan Rina
Adriyani, tempat penulis menyeduh berkilo kopi dan teh sambil
mendiskusikan berbagai isu tanpa simpulan yang jelas (ha ha), yang juga

Universitas Sumatera Utara

dengan berbaik hati telah menemani penulis dalam melakukan wawancara
dengan informan terkait skripsi ini
8. Friska Sitanggang, Kakak Kelompok penulis yang sangat relijius sekaligus fun
dan sahabat-sahabat di KK “Putri Sion” yang berperan penting dalam
pengolahan dan pertumbuhan spiritual penulis: Corry Aruan, Devi
Matondang, Imelda Situmorang, Meilina Marbun, dan Verawaty Aruan
9. Sahabat-sahabat primat penulis semasa kuliah: PEMAKE: Devi, sahabat
sepenanggungan penulis yang sama-sama ‘terpaksa’ menyelesaikan skripsi
dalam kurun waktu 1 bulan, yang sering menyemangati penulis dengan
kiriman pesan-pesan singkat romantisnya yang sama sekali tidak romantis dan
selama bertahun-tahun selalu berusaha menanamkan doktrin shopaholic ke
dalam diri penulis, yang ia tidak ketahui ialah paham tersebut tidak akan
pernah bersemi di hati seseorang yang berpegang teguh pada mazhab-hemateksploitatif (ha ha), Maria, yang senantiasa (berusaha) menjadi konsultan
mode dan gaya hidup dan hampir selalu bersedia menjadi ‘abang ojek’ tanpa
tanda jasa, juga sebagai pemasok catatan kuliah bagi penulis, Meilina yang
bertahun-tahun menjadi ATM pribadi terdekat bagi penulis (ha ha) dan selalu
menjadi sosok yang lemah lembut di PEMAKE, Paulina yang mengajarkan
penulis bahwa penguasa totaliter sadis seperti Joseph Stalin pun tidak ada apaapanya jika ditandingkan dengan perempuan penganut aliran ‘agmon-histerisbagai-banteng-badak-ngamuk-attack’ seperti dia, bravo, Paul!, dan Randi yang
selalu mengerti segala hal yang kompatibel dengan penulis (No words can say,
Ran, ha ha), termasuk selalu menjadikan penulis sebagai (korban) pembaca
awal draft sajak-sajak aneh buatannya (ha ha),
10. Sahabat-sahabat penulis, partners in science sekaligus partners in crime:
Ismed Tampubolon dan Suhardi Fonger, para lelaki brilian yang lucu dan baik
hati yang sangat berperan penting sebagai ‘pengintai’ bagi penulis dalam
kuliah-kuliah di mana penulis harus mengulang (ha ha), senang rasanya selalu
menertawakan hal-hal konyol di sela-sela pengerjaan berbagai karya tulis
ilmiah bersama kalian
11. Sahabat-sahabat penulis di Tim Perpustakaan KMK FH: Liza Sitanggang,
Anita Sagala, Iche Trisnawaty, Nova, Andryanto Pasaribu, Mey Oncy, dan
Obbie Afri yang sangat kooperatif dan bersahabat. Hampir tidak ada beban
yang berarti dalam pelaksanaan program-program yang terpaksa berkejarkejaran dengan kala selama bekerja sama dengan orang-orang gila seperti
kalian (ha ha)
12. Kawan-kawan angkatan 2006 penulis: Maria Afriyanti, yang sering
berbincang-bincang tentang ‘makna kehidupan’ (ha ha) dengan penulis, Ingrid
Zega dan Rentha Pardede, dua SARJANA (title by request ha ha) yang
memotivasi penulis dan berkontribusi dalam memberikan ide-ide seputar

Universitas Sumatera Utara

skripsi ini, Siska Siagian yang ‘ke-Jeng Kelin-an’ dan lengkingan Mezzo
Sopran-nya sering menghebohkan suasana penulisan skripsi ini, Yanta Ginting
dan Randi Saputra yang selalu memberi jasa setir di saat-saat genting, Siska
Nora, Jaswinder Jit yang selalu bersedia meminjamkan catatan kuliahnya,
Verawaty Aruan yang selalu penulis ganggu jam tidurnya dengan pertanyaanpertanyaan darurat nan genting, Dumaria Manalu,Witra Sinaga; kawan-kawan
dari departemen Hukum Internasional yang ramah dan bersahabat: Vera, Ruth
Yenni, Dendi, Leslie, Rendie, Grath, Meici, Riko, Samuel, Debora, Rentha
dan kawan-kawan 2006 lainnya yang tidak dapat disebut satu-persatu; kawankawan dari angkatan 2007, 2008, hingga 2009
13. Kawan-kawan penulis di UKM KMK FH USU; USU Inkubator Sains, tempat
penulis belajar menulis dan bekerja tim: Suwanto Ong, Nurbetty Aisha, Ami,
Howard, dan Renatha; kawan-kawan penulis di USU Society for Debate, a
comfortable place for debating about thinking and thinking about debating;
dan kawan-kawan penulis di GMKI

Medan, Maret 2010
Hormat Penulis,

PINCE SISKA ANALIA
NIM: 060200238

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ……………………………….……………..

ii

Kata Pengantar ……………………………………..…………….

iii

Daftar Isi ……………………………………………………...…...

v

Daftar Singkatan .............................................................................

xi

Abstrak ………………………………………………………..…..

xii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
I.1.

Latar Belakang ………………………………

13

I.2.

Perumusan Masalah …………………………

20

I.3.

Tujuan dan Manfaat Penulisan ……………..

20

I.4.

Keaslian Penulisan …………………………

21

I.5.

Tinjauan Kepustakaan ……………………...

22

I.6.

Metode Penulisan ……………………..……

26

I.7.

Sistematika Penulisan ……………………...

28

TINJAUAN UMUM TENTANG PELANGGARAN HAM
II.1.

Hubungan Antara Hukum Internasional dan
Hukum Nasional …………..…………………

II.2.

30

Sejarah Perkembangan Hukum HAM
Internasional dan Nasional …………………..

34

Universitas Sumatera Utara

II.3.

Konvensi Anti Penyiksaan …………………..

II.4.

Pelanggaran HAM Berat dalam Hukum
Internasional dan Hukum Nasional ……….…

41

42

II.4.1. Genosida dalam Hukum Internasional
dan Hukum Nasional ……………….

42

II.4.2. Kejahatan Terhadap Kemanusiaan
dalam Hukum Internasional
dan Hukum Nasional ………………..
II.5.

45

Peran Negara dan Aktor Non-Negara sebagai
Pelanggar HAM ………………………..…….

52

II.6.

Tanggung Jawab Individu ……………………

55

II.7.

Penyelesaian Pelanggaran HAM dalam

II.8.

Taraf Nasional ……………………………...…

56

II.7.1. Pengadilan HAM Ad Hoc …………....

56

II.7.2. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ….

58

Penyelesaian Pelanggaran HAM dalam
Taraf Internasional …………………………….

60

II.8.1. The International Bill of
Human Rights …………………………

61

II.8.2. Pengadilan Internasional ……………....

67

II.8.2.1. Pengadilan Permanen …….….

67

II.8.2.2. Pengadilan Ad Hoc ……….…

68

II.8.2.3. Pengadilan Campuran ………..

70

Universitas Sumatera Utara

BAB III

GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER
III.1. Sejarah Singkat PKI ………………………..…

76

III.2. Latar Belakang Gerakan
Tiga Puluh September ………………………....

BAB IV

78

PELANGGARAN HAM TERHADAP PKI
DALAM GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER
IV.1. Bentuk-bentuk Pelanggaran HAM Terhadap
Para Anggota dan Simpatisan PKI ………...….

87

IV.1.1. Pendiskreditan Secara Politik,
Sosial, Ekonomi, dan Budaya ………....

88

IV.1.2. Pembunuhan Massal ……………………

94

IV.1.3. Penahanan Paksa dan Penyiksaan
Para Tahanan …………………..………

101

IV.1.4. Pelecehan Seksual Terhadap
Perempuan ………………………….….

105

IV.2. Hubungan Antara Hukum Nasional dan
Hukum Internasional dengan Pelanggaran HAM
Terhadap Para Anggota dan Simpatisan PKI ……

107

IV.3. Implementasi Hukum Nasional dan Hukum
Internasional Atas Pelanggaran HAM Terhadap
Para Anggota dan Simpatisan PKI Dalam
Gerakan Tiga Puluh September …………………. 115

Universitas Sumatera Utara

IV.3.1. Penyelesaian dalam Taraf Nasional …….

BAB V

115

IV.3.1.1. Pengadilan HAM Ad Hoc ….

116

IV.3.1.2. KKR ……………………...…

118

IV.3.2. Penyelesaian dala Taraf Internasional ….

119

KESIMPULAN
V.1.

Kesimpulan …………………………………...…

121

V.2.

Saran ……………………………………...……..

124

Daftar Pustaka …………………………………………………………

126

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

AD

Angkatan Darat

CAT

Convention Against Torture atau Convention Against
Torture and Other Cruel Inhuman or Degrading Treatment
or Punishment

CC

Comite Central

DUHAM

Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia

G30S

Gerakan Tiga Puluh September

Gerwani

Gerakan Wanita Indonesia

HAM

Hak Asasi Manusia

ICC

International Criminal Court

ICTR

International Criminal Tribunal for Rwanda

ICTY

International Criminal Tribunal of Yugoslavia

ISDV

Indische Sociaal-Democratische Vereniging

KKR

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi

Konvensi Ekosob

Konvensi Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya

Konvensi Sipol

Konvensi Internasional Hak-hak Sipil dan Politik

Kopkamtib

Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban

KUHP

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa

PKI

Partai Komunis Indonesia

RPKAD

Resimen Para Komando Angkatan Darat

SCSL

Special Court for Sierra Leone

SI

Sarekat Islam

UNMIK

United Nation Mission in Kosovo

Universitas Sumatera Utara

UNTAET

United Nation Transitional Administration in East Timor

PELANGGARAN HAM TERHADAP PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI)
DALAM GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER 1965
ABSTRAKSI
*) Abdul Rahman S.H., M.H.
**) Arif S.H., M.H.
***) Pince Siska Analia

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai instrumen internasional dalam
bidang HAM ternyata tidak menjamin penegakan hukum dan perlindungan HAM
Negara terhadap warganya, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kasus
pelanggaran HAM berat oleh Negara di masa lalu yang tidak diproses melalui hukum.
Salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang korbannya sangat massif adalah
pelanggaran HAM terhadap para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia
(PKI) pasca Gerakan Tiga puluh September 1965.
Skripsi ini mengemukakan permasalahan mengenai apa saja bentuk-bentuk
pelanggaran HAM yang diterima oleh para anggota dan simpatisan PKI, bagaimana
relativitas antara hukum nasional dan hukum internasional dengan pelanggaran HAM
terhadap para anggota dan simpatisan PKI, serta bagaimana implementasi hukum
nasional dan hukum internasional terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM
terhadap para anggota dan simpatisan PKI.
Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian
yuridis normatif yang data-datanya bersumber dari bahan hukum primer, sekunder,
dan tersier dengan teknik studi pustaka dan studi lapangan.
Kesimpulan dalam skripsi ini adalah bahwa bentuk-bentuk pelanggaran HAM
yang dilakukan Negara terhadap para anggota dan simpatisan PKI antara lain berupa
pendiskreditan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya, pembunuhan massal,
penahanan paksa dan penyiksaan para tahanan politik, serta pelecehan seksual, Hal itu
menyalahi ketentuan dalam hukum nasional dan internasional, sedangkan
implementasi dari hukum nasional untuk penyelesaian kasus tersebut adalah dengan
menuntut individu yang bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM tersebut ke
pengadilan HAM ad hoc, sedangkan dalam hukum internasional, adalah dengan
mengusulkan kepada Dewan Keamanan PBB untuk membentuk pengadilan campuran
di Indonesia. Adapun saran yang diperoleh dari skripsi ini adalah hendaknya
pemerintah Indonesia secara serius mengungkap pelanggaran HAM yang terjadi di
masa lalu secara serius.
Kata Kunci: Pelanggaran HAM, PKI, Hukum Internasional
*) Dosen Pembimbing I
**) Dosen Pembimbing II
***) Mahasiswa Fakultas Hukum USU

Universitas Sumatera Utara

UNTAET

United Nation Transitional Administration in East Timor

PELANGGARAN HAM TERHADAP PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI)
DALAM GERAKAN TIGA PULUH SEPTEMBER 1965
ABSTRAKSI
*) Abdul Rahman S.H., M.H.
**) Arif S.H., M.H.
***) Pince Siska Analia

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai instrumen internasional dalam
bidang HAM ternyata tidak menjamin penegakan hukum dan perlindungan HAM
Negara terhadap warganya, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kasus
pelanggaran HAM berat oleh Negara di masa lalu yang tidak diproses melalui hukum.
Salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang korbannya sangat massif adalah
pelanggaran HAM terhadap para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia
(PKI) pasca Gerakan Tiga puluh September 1965.
Skripsi ini mengemukakan permasalahan mengenai apa saja bentuk-bentuk
pelanggaran HAM yang diterima oleh para anggota dan simpatisan PKI, bagaimana
relativitas antara hukum nasional dan hukum internasional dengan pelanggaran HAM
terhadap para anggota dan simpatisan PKI, serta bagaimana implementasi hukum
nasional dan hukum internasional terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM
terhadap para anggota dan simpatisan PKI.
Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian
yuridis normatif yang data-datanya bersumber dari bahan hukum primer, sekunder,
dan tersier dengan teknik studi pustaka dan studi lapangan.
Kesimpulan dalam skripsi ini adalah bahwa bentuk-bentuk pelanggaran HAM
yang dilakukan Negara terhadap para anggota dan simpatisan PKI antara lain berupa
pendiskreditan secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya, pembunuhan massal,
penahanan paksa dan penyiksaan para tahanan politik, serta pelecehan seksual, Hal itu
menyalahi ketentuan dalam hukum nasional dan internasional, sedangkan
implementasi dari hukum nasional untuk penyelesaian kasus tersebut adalah dengan
menuntut individu yang bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM tersebut ke
pengadilan HAM ad hoc, sedangkan dalam hukum internasional, adalah dengan
mengusulkan kepada Dewan Keamanan PBB untuk membentuk pengadilan campuran
di Indonesia. Adapun saran yang diperoleh dari skripsi ini adalah hendaknya
pemerintah Indonesia secara serius mengungkap pelanggaran HAM yang terjadi di
masa lalu secara serius.
Kata Kunci: Pelanggaran HAM, PKI, Hukum Internasional
*) Dosen Pembimbing I
**) Dosen Pembimbing II
***) Mahasiswa Fakultas Hukum USU

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang
Dalam berbagai konferensi hukum internasional yang berkenaan dengan

hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Indonesia selalu memposisikan dirinya
sebagai Negara yang mendukung perlindungan Hak Asasi Manusia secara utuh.
Ini terlihat dari fakta bahwa sejak reformasi 1998, Indonesia, yang walaupun
produk peraturan perundang-undangan di bidang HAM relatif sedikit, 1 selain
telah mempunyai peraturan perundang-undangan tersendiri di bidang Hak Asasi
Manusia (HAM), yaitu UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan
UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, terhitung telah
lebih intensif untuk turut serta sebagai pihak pada berbagai perjanjian
internasional yang bersifat multilateral, khususnya perjanjian internasional di
bidang HAM seperti International Convention on the Elimination of All Forms of
Racial Discrimination, International Covenant on Civil and Political Rights
1

Menurut data assessment dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM),
ditemukan hanya terdapat 35 Undang-undang atau sekitar 25% dari keseluruhan prosuk legislasi
2005-2008, yang tegas memiliki relasi dengan HAM. Lebih lengkap lihat: Wahyudi Djafar. “HAM
Masih Menjadi Anak Tiri”. Asasi edisi Maret-April 2009. Halaman 8

Universitas Sumatera Utara

(ICCPR), International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights,
Convention on the Elimination of All Discrimanation against Women, Convention
against Torture and other Cruel Inhuman or Degrading Treatment or Punishment
dan Convention on the Rights of the Child.2
Namun, fakta keikutsertaan Indonesia pada perjanjian-perjanjian tersebut
tidak berbanding lurus dengan implementasi perlindungan Hak Asasi Manusia di
Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kemajuan di bidang perlindungan Hak Asasi
Manusia di Indonesia yang tidak mengalami kemajuan yang signifikan sejak
pascareformasi 1998. Dalam laporan HAM yang dikeluarkan oleh Human Rights
Watch bahkan ditemukan bahwa untuk tahun 2008 Indonesia malah menunjukkan
kemajuan yang sangat sedikit di bidang perlindungan Hak Asasi Manusia yang
ditandai

dengan

pengukungan

kebebasan

memilih

kepercayaan

(kasus

Ahmadiyah), dan kebebasan pers yang masih terpasung. 3

2

Instrumen-instrumen internasional tersebut telah diratifikasi sebagai berikut:
a.
International Convention on the Elimination of All Forms of Racial
Discrimination telah diratifikasi dengan UU No. 29 Tahun 1999 tentang
Pengesahan Konvensi Internasional menganai Penghapusan Semua Bentuk
Diskriminasi Rasial
b. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) telah diratifikasi
dengan UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hakhak Sipil dan Politik
c.
International Covenant on Economic Social and Cultural Rights telah diratifikasi
dengan UU No. 11 Tahun 2005, tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hakhak Ekonomi, Sosial, dan Budaya
d. Convention on the Elimination of All Discrimanation against Women telah
diratifikasi dengan UU No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi
Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan
e.
Convention against Torture and other Cruel Inhuman or Degrading Treatment or
Punishment telah diratifikasi dengan UU No. 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan
Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau hukuman yang
merendahkan Martabat, tidak manusiawi dan kejam lainnya
f.
Convention on the Rights of the Child telah diratifikasi dengan Keppres 36/1990
tentang pengesahan Konvensi Hak-hak Anak

3

Human Right Watch World Report 2009. Halaman 259

Universitas Sumatera Utara

Berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia sejak masa orde lama juga
masih belum mendapat kepastian hukum,

mulai dari peristiwa pembunuhan

massal sebanyak lebih dari setengah juta orang yang dituduh sebagai anggota dan
simpatisan Partai Komunis Indonesia pada Tahun 1965-1966, Pelanggaran HAM
di Papua terhadap orang-orang yang diduga bersimpati pada gerakan Operasi
Papua Merdeka (OPM) pada 1962-1998, Pembantaian terhadap rakyat sipil di
Santa Crus, Dili, Timor Timur Pada 1973-1998, peristiwa Tanjungpriok pada
1984, Kasus Pembunuhan di Trisakti dan Semanggi pada 1998-1999, pelanggaran
HAM terhadap rakyat sipil Aceh sejak 1989. Justru pelaku pelanggar HAM pada
kasus-kasus tersebut kebanyakan dikomandoi oleh Negara, dalam hal ini Tentara
Nasional Indonesia (TNI).
Kasus Aceh sendiri telah berakhir damai sejak penandatangan MoU
(Memorandum of Understanding) di Helsinski, Finlandia pada tahun 2005 antara
Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM yang mana salah satu poin dalam
MoU tersebut adalah Pemerintah Republik Indonesia memberikan amnesti kepada
semua orang yang terlibat dalam kegiatan GAM dan pembebasan tanpa syarat
bagi narapidana dan tahanan politik yang ditahan akibat konflik tersebut. Namun,
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk konflik tersebut belum terbentuk
hingga sekarang.
Sedangkan untuk kasus Timor Timur, telah mendapat putusan yang in
kracht dari Pengadilan Ad hoc HAM pada tahun 2005. Putusan itu sendiri tidak

Universitas Sumatera Utara

dapat dikatakan sebagai putusan yang mencerminkan rasa keadilan karena dari 18
terdakwa, kesemuanya akhirnya diputus bebas. 4
Kasus Trisakti dan Semanggi sendiri Pada 31 Maret 2008, Kejagung
mengembalikan berkas hasil penyelidikan pelanggaran HAM penembakan
mahasiswa Universitas Trisakti dan kasus Semanggi 1 dan Semanggi 2, serta
kasus kerusuhan Mei 1998 dan penghilangan orang secara paksa ke Komnas
HAM. Berkas penyelidikan itu dikembalikan, antara lain, karena menunggu
Pengadilan HAM Ad Hoc terbentuk. 5
Sedangkan kasus-kasus lainnya seperti kasus Tanjung Priuk dan
Pembantaian massal 1965-1966 justru belum mendapat penanganan sama sekali
secara hukum. Kasus pembantaian massal 1965-1966 serta pelanggaran HAM lain
yang menyertainya hingga kurun waktu puluhan tahun sesudahnya adalah salah
satu yang perlu mendapat perhatian karena dilihat dari segi kuantitas,
pembantaian ini adalah yang memakan korban paling banyak sepanjang sejarah
pembunuhan massal di Indonesia yaitu sekitar satu setengah juta penduduk sipil
yang terbunuh dalam peristiwa tersebut,6 serta pendiskreditan kolektif terhadap
pengikut partai politik yang pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia.
Pembunuhan massal ini diawali dengan sebuah anggapan bahwa
penggerak tragedi pembunuhan 7 Jenderal pada 30 September 1965 (yang juga
4

http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=AlpWB1NSVAED. Diakses tanggal 3

Maret 2010
5

http://komnasham.go.id/portal/id/content/talangsari-tidak-bisa-disidik. Diakses tanggal
11 Februari 2010
6

Robert Cribb dalam Pengantar buku “Indonesian Killings”, Halaman 42, seperti dikutip
oleh John Roosa, 2008. Dalih Pembunuhan Massal dan Kudeta Suharto. Jakarta: Hasta Mitra.
Halaman 5

Universitas Sumatera Utara

disebut sebagai Gerakan Tiga puluh September) adalah Partai Komunis Indonesia
(PKI) dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua orang baik yang secara
terang-terangan mengaku sebagai anggota dan simpatisan PKI maupun yang
orang-orang yang masih diduga sebagai bagian dari Partai tersebut harus dibasmi
hingga ke akar-akarnya, bahkan tindakan ini tak terkecuali hingga petani buta
huruf di dusun-dusun terpencil yang ditampilkan sebagai gerombolan pembunuh
yang secara kolektif bertanggung jawab atas Gerakan Tiga puluh September. 7
Dan sejak Gerakan Tiga puluh September pulalah terjadi pembunuhan besarbesaran di berbagai daerah di Indonesia, baik yang dilakukan oleh militer maupun
yang dilakukan oleh sipil dengan koordinasi dari militer, serta berbagai bentuk
pendiskreditan secara ekonomi, sosial, dan politik yang membuat para angggota
dan simpatisan PKI menjadi teralienasi sebagai warga Negara terlebih-lebih
sebagai manusia merdeka.
Peristiwa Gerakan Tiga puluh September dan siapa dalang di baliknya
memang sangat kompleks sehingga kajian sejarah terhadap peristiwa ini memang
tidak henti-henti terus dilakukan, ini terbukti dari berbagai versi tentang kejadian
itu sendiri yang dihasilkan dari berbagai penelitian sejarah. Tidak ada hasil
penelitian yang seragam di antara para ahli sejarah bahwa PKI memang dalang
dari peristiwa Gerakan Tiga puluh September seperti juga tidak ada bukti yang
sangat valid bahwa PKI bukan dalang dari peristiwa tersebut. Namun, terlepas
dari konspiratif peristiwa tersebut, hal yang pasti adalah peristiwa yang terjadi
sesudahnya, Pasca 30 September 1965, yaitu terjadinya pelanggaran-pelanggaran

7

Ibid. Halaman 26

Universitas Sumatera Utara

HAM terhadap sebagian besar anggota-anggota dan simpatisan PKI berupa
penyiksaan-penyiksaan baik secara fisik maupun secara psikis tanpa terlebih
dahulu melewati prosedur hukum.
Oleh karena itu, secara khusus penelitian ini tidak sedang berusaha
membahas tentang konspirasi tentang siapa aktor intelektual atau kelompok mana
yang paling bertanggung jawab di balik Gerakan Tiga puluh September, pula
tidak sedang menempatkan PKI dalam posisi benar atau salah dalam peristiwa
tersebut. Dalam keadaan bersalah atau benar, seseorang atau sekelompok orang
tetap harus dihormati martabatnya

sebagai manusia, sehingga, dalam kasus

tersebut, andaikata pun PKI adalah dalang peristiwa Gerakan Tiga puluh
September 1965, anggota-anggota dan simpatisan PKI tidak selayaknya mendapat
perlakuan-perlakuan yang menafikan hak-hak dasar mereka sebagai manusia,
selain karena pembunuhan para jenderal yang (jika memang benar) dilakukan oleh
segelintir orang-orang dari PKI tidak sebanding dengan hukuman kolektif yaitu
ditumpasnya seluruh anggota dan simpatisan PKI yang tidak tahu menahu tentang
peristiwa tersebut, hal ini juga menyalahi hak-hak dasar umat manusia yang
tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM).
Begitu pula, bagi setiap warga Negara, Hak setiap orang untuk mendapat
perlindungan adalah hal yang urgen dan Negara wajib menjamin setiap warga
negaranya untuk mendapatkannya tanpa terkecuali, termasuk dalam hal ini para
anggota dan simpatisan PKI sebagai warga Negara Indonesia yang telah terlanjur
dicap sebagai penghianat Negara. Apa yang dialami oleh anggota-anggota dan
simpatisan PKI yang menjadi korban stigma pelaku Gerakan Tiga puluh

Universitas Sumatera Utara

September sejak tahun 1965, yaitu bentuk-bentuk pelanggaran-pelanggaran HAM
yang serius sebenarnya dalam hukum internasional dapat pula dikategorikan
sebagai Kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) atau bahkan
menurut pendapat Robert Cribb yang dengan ekstrim mengemukakan bahwa hal
ini juga dapat disebut sebagai genosida (genocide) dikarenakan menurut beliau
bahwa, terkait dengan defenisi konvensi genosida 1948 bahwa korban genosida
meliputi kelompok nasional, etnik, ras, atau agama, identitas nasional di Indonesia
lebih diartikan kepada pandangan politik daripada kepada etnik atau ras.
Bagaimanapun, dalam hukum internasional, pemerintah Indonesia yang
telah mengabaikan hak-hak dasar warganya dalam peristiwa pembersihan unsur
PKI pasca Gerakan Tiga puluh September, telah banyak menyalahi kaidah-kaidah
hukum HAM internasional. Tindakan pemerintah Indonesia yang telah
meratifikasi berbagai instrumen internasional tentang HAM akan tetapi banyak
melanggar HAM warganya adalah tindakan yang mendapat kecaman dari
masyarakat internasional dan sudah selayaknya pelanggaran HAM berat yang
dilakukan Negara terhadap warganya bisa diadili dalam forum pengadilan
internasional. Namun pun demikian, pengadilan-pengadilan nasional pertamatama harus memperhatikan hukum nasional dalam hal terjadi konflik dengan
hukum internasional. Negara menurut hukum internasional memiliki kebebasan
penuh untuk bertindak, dan hukum nasionalnya merupakan persoalan domestik di
mana Negara lain tidak berhak untuk mencampurinya. 8

8

J.G. Starke. 2004. Pengantar Hukum Internasional 1 Edisi Kesepuluh. Jakarta: Sinar
Grafika. Halaman 114

Universitas Sumatera Utara

Akan tetapi, dalam hal pelanggaran HAM berat, seperti Genosida,
kejahatan terhadap kemanusaan, penyiksaan dan penghilangan paksa, hukum
kebiasaan

internasional

dan

dan

prinsip-prinsip

hukum

umum

boleh

memberlakukan yurisdiksi universal terhadap orang-orang yang dicurigai
melakukan kejahatan tersebut di atas. 9 Artinya masyarakat internasional berhak
memberlakukan yurisdiksinya juga terhadap pelaku tersebut tanpa memandang
nasionalitasnya. Statuta Roma sendiri dalam Pasal 17 menyiratkan bahwa
Mahkamah Pidana Internasional dapat mengadili suatu perkara apabila Negara
yang bersangkutan tidak mampu atau tidak bersedia untuk melakukan penuntutan
terhada perkara aquo.
Fakta bahwa banyaknya pelanggaran HAM terhadap anggota dan
simpatisan PKI pasca Gerakan Tiga puluh September tidak berbanding lurus
dengan usaha-usaha perlindungan HAM yang dilakukan Negara baik semasa
terjadinya peristiwa tersebut maupun hingga kurun waktu 30 tahun setelahnya
membuat pentingnya dilakukan kajian hukum terhadap peristiwa ini, dalam hal ini
dikhususkan pada kajian hukum internasional, yaitu tentang apa-apa saja bentukbentuk pelanggaran HAM yang terjadi pasca Gerakan Tiga puluh September 1965
dan bagaimana hukum internasional mengatur perlindungannya, hal-hal
tersebutlah yang melatarbelakangi studi “Pelanggaran HAM terhadap Partai
Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga puluh September 1965” ini.

9

Amnesty International. “Universal Jurisdiction: 14 Principles on the Effective Exercise
of Universal Jurisdiction”.http://www.amnesty.org/en/library/asset/IOR53/001/1999/en/dd42b888e130-11dd-b6eb-9175286ccde2/ior530011999en.pdf . Halaman 2. Diakses tanggal 18 Februari
2010

Universitas Sumatera Utara

I.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan

Perumusan masalah sebagai berikut:
1.

Apa sajakah bentuk-bentuk pelanggaran HAM terhadap para anggota dan
simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga puluh
September 1965?

2.

Bagaimanakah hubungan antara hukum nasional dan Hukum internasional
tentang

pelanggaran-pelanggaran HAM

terhadap

para anggota dan

simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga puluh
September 1965?
3.

Sejauh manakah hukum nasional dan dan hukum internasional dapat
diimplementasikan atas pelanggaran HAM terhadap PKI dalam Gerakan Tiga
puluh September terhadap alternatif hukum untuk penyelesaiannya?

I.3.

Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun yang menjadi Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:

1.

Untuk mengetahui bentuk-bentuk pelanggaran HAM terhadap Partai
Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga puluh September 1965

2.

Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara hukum nasional dan hukum
internasional tentang pelanggaran-pelanggaran HAM terhadap Partai
Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga puluh September 1965

Universitas Sumatera Utara

3.

Untuk mengetahui sejauh mana hukum nasional dan hukum internasional
dapat diimplementasikan untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM
terhadap PKI dalam Gerakan Tiga puluh September
Sedangkan yang menjadi manfaat penulisan skripsi ini adalah:

1.

Manfaat Teoritis: Sebagai kontribusi di bidang ilmu pengetahuan, khususnya
disiplin ilmu hukum internasional, tentang perlindungan Hak Asasi Manusia
(HAM) terhadap para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia
(PKI) sebagai manusia yang sama martabatnya dan hak alamiahnya dengan
manusia lainnya serta sebagai warga Negara yang berhak mendapat
perlindungan dari Negara terkait stigma keterlibatan mereka dalam Gerakan
Tiga puluh September 1965

2.

Manfaat Praktis: Agar masyarakat mengetahui arti pentingnya perlindungan
HAM bagi setiap orang tanpa terkecuali, termasuk para anggota dan
simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang terlepas dari stigma
sebagai dalang Gerakan Tiga puluh September dilekatkan kepada mereka,
telah dilanggar hak-haknya sebagai manusia dan sebagai warga negara serta
untuk menemukan langkah-langkah konkrit apa yang dapat dilakukan sesuai
jalur hukum nasional dan internasional untuk memulihkan hak-hak korban
yang telah dilanggar

I.4.

Keaslian Penulisan
Adapun Skripsi yang berjudul “Pelanggaran HAM terhadap Partai

Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan Tiga Puluh September 1965” ini adalah

Universitas Sumatera Utara

tulisan yang masih baru dan belum ada tulisan lain dalam bentuk skripsi yang
membahas tentang hal ini sebelumnya. Khusus untuk perbandingan dengan
Skripsi yang ada di lingkup Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Hal ini
dapat dibuktikan dengan adanya pengesahan dari pihak administrator Departemen
Hukum Internasional yang menyatakan bahwa tidak ada judul yang sama dengan
Judul Skripsi ini.

I.5.

Tinjauan Kepustakaan
Hukum Internasional secara umum dapat diartikan sebagai himpunan dari

peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur
hubungan antara Negara-negara-negara dan subjek-subjek hukum lainnya dalam
kehidupan masyarakat internasional. 10 Hukum Internasional yang pada awalnya
hanya memasukkan Negara sebagai satu-satunya subjek hukum internasional 11,
dalam perkembangannya mulai memasukkan unsur lain sebagai subjeknya, yaitu:
1.

Negara yang berdaulat dan merdeka (sebagai subjek hukum internasional
yang utama)

2.

Palang Merah Internasional

3.

Tahta Suci Vatikan di Roma yang dikepalai oleh Paus

4.

Organisasi Internasional

10

Dr. Boer Mauna. 2008. Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi dalam
Era Dinamika Global. Bandung: PT. Alumni. Halaman 1
11

Pendapat dari Hackworth, Emmerich de Vattel, dan Ian Brierly yang hampir senada
mengatakan bahwa hukum internasional adalah sekumpulan aturan-aturan yang mengatur
hubungan antara Negara-negara

Universitas Sumatera Utara

5.

Individu yang dengan syarat-syarat tertentu diakui oleh masyarakat
internasional sebagai subjek hukum internasional
Hukum Internasional sendiri, berdasarkan Statuta Mahkamah Internasioanl

dalam pasal 38, bersumber pada:
1.

Perjanjian Internasional

2.

Kebiasaan Internasional

3.

Asas-asas umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab

4.

Keputusan-keputusan Hakim dan ajaran-ajaran para ahli hukum internasional
dari berbagai Negara sebagai alat tambahan untuk menemukan hukum
Menurut Black’s Law Dictionary, Hak asasi Manusia ialah kebebasan,

kekebalan, serta keuntungan-keuntungan yang mana menurut nilai-nilai modern
(terutama dalam tataran internasional), memungkinkan semua umat manusia
untuk mengakuinya sebagai hak dalam masyarakat di mana mereka tinggal. 12
Sedangkan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam pasal 1
angka 1 dan UU No. 26 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia dalam pasal 1
angka 1 menyatakan bahwa Hak Asasi Manusia adalah: “Seperangkat hak yang
melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang
Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi
dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. Secara sederhana
Hak Asasi Manusia dipahami sebagai hak dasar (asasi) yang dimiliki oleh
manusia, hak asasi manusia keberadaannya tidak tergantung dan bukan berasal
12

Bryan A. Garner (Editor in Chief). 1999. Black’s Law Dictionary Seventh Edition.
USA: West Group. Halaman 745

Universitas Sumatera Utara

dari manusia, melainkan dari zat yang lebih tinggi daripada manusia. Oleh karena
itu, hak asasi tidak bisa direndahkan dan dicabut oleh hukum positif manapun,
bahkan dengan prinsip demikian hak asasi wajib diadopsi oleh hukum positif. 13
Hak Asasi Manusia sendiri secara historis dimulai ketika lahirnya Magna
Charta (Piagam Agung 1215), Glorious Revolution 1688, Pemikiran Trias
Politika yang dikemukakan oleh Montesquieu, Deklarasi Kemerdekaan Amerika,
hingga ke Kontrak Sosial. Sebelum lahirnya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),
yang akhirnya mengesahkan Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia), gagasan tentang Hak Asasi Manusia telah mulai
dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat ke-32 Franklin Delano Roosevelt
dalam gagasannya yang terkenal yaitu The Four Freedoms yang berisi tentang
Kebebasan Berbicara dan Berekspresi (freedom of speech). Kebebasan beragam
(Freedom of Worship), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan
kebebasan dari rasa rakut (freedom from fear). 14 Keempat gagasan ini
mempengaruhi pembentukan The International Bill of Human Rights yang terdiri
atas Universal Declaration of Human Rights pada tahun 1948, Kovenan
Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (The International Covenant on
Economic, Social, and Cultural Rights), dan Kovenan Internasional Hak sipil dan
politik (International Covenant on Civil and Political Rights).

13

Pendapat Dadang Juliantara seperti dikutip M. Afif Hasbullah dalam bukunya. 2005.
Politik Hukum Ratifikasi Konvensi HAM Indonesia Upaya Mewujudkan Masyarakat Yang
Demokratis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 17
14

Bambang Sunggono dan Aries Hariyanto. 2001. Bantuan Hukum dan Hak Asasi
Manusia. Bandung: Mandar Maju. Halaman 76. Seperti dikutip Ibid. Halaman 22

Universitas Sumatera Utara

Hak Asasi Manusia itu sendiri sangat berhubungan erat dengan Hukum
internasional. Ini dibuktikan dari perlindungan HAM yang lahir dari Instrumen
internasional, demikian pula sebaliknya banyak fenomena HAM yang pada
akhirnya melahirkan berbagai instrumen internasional di bidang perlindungan
HAM, seperti The International Bill of Rights dan Convention on the elimination
of all forms of discrimination against women (CEDAW) yang lahir dari keadaan
terkukungnya dan tertindasnya hak-hak dasar manusia. Sebaliknya, lahirnya
DUHAM juga membuat Negara-negara di dunia sebagai subjek hukum
internasional menyadari pentingnya penghargaan terhadap hakikat dan martabat
manusia sebagai sesama pemegang hak dasar tersebut sehingga hal ini juga
membuat Negara-negara mentransformasikan berbagai instrumen ini ke dalam
hukum nasional masing-masing. Di Indonesia sendiri ketentuan-ketentuan tentang
perlindungan HAM muncul dalam berbagai peraturan perundang-undangan
seperti dalam UUD RI 1945, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Pelanggaran HAM diartikan dalam pasal 1 angka 6 UU No. 39 Tahun
1999 sebagai:
“….setiap perbuatan seseorang atau sekelompok orang termasuk
aparat Negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang
secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau
mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin
oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak
akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan
mekanisme hukum yang berlaku”.
Dalam pasal 1 angka 2 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia menyebutkan bahwa pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat

Universitas Sumatera Utara

adalah pelanggaran hak asasi manusia yang termasuk dalam undang-undang
tersebut, yaitu yang termasuk dalam pasal 7 yaitu kejahatan genosida dan
kejahatan terhadap kemanusiaan.

I.6.

Metode Penulisan
Dalam rangka merumuskan isi penulisan ini guna menjadi lebih terarah,

maka digunakan metode penulisan yang diuraikan sebagai berikut:
1.

Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan

dalam penulisan skripsi ini adalah

Penelitian Yuridis Normatif yaitu jenis penelitian yang dilakukan dengan cara
menganalisa norma-norma hukum yang berlaku. Dalam hal ini, penelitian
dilakukan dengan cara menganalisa norma-norma hukum internasional dan norma
hukum nasional yang berkenaan dengan penelitian
2.

Data Penelitian
Penelitian ini bersumber dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier,

yaitu sebagai berikut:
a.

Bahan Hukum Primer: yaitu peraturan perundang-undangan yang relevan
dengan penelitian ini seperti:
1. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
2. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia

Universitas Sumatera Utara

3. The International Bill of Human Rights yang terdiri dari:
a. Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Umum tentang
Hak Asasi Manusia)
b. The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights
(Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya)
c. International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan
Internasional Hak-hak Sipil dan Politik)
4. Convention Against Torture and other Cruel, Inhuman or Degrading
Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau Penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, dan
merendahkan Martabat Manusia)
5. Rome Statute of International Criminal Court (Statuta Roma Mahkamah
Pidana Internasional) 1998
b.

Bahan Hukum Sekunder: yaitu tulisan-tulisan atau karya-karya para ahli
hukum dalam buku-buku teks, makalah, jurnal, surat kabar, internet, dan
media lainnya yang relevan dengan penelitian ini

c.

Bahan Hukum Tersier: yaitu bahan-bahan yang digunakan guna menunjang
bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan kamus bahasa

3.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Tinjauan kepustakaan

(Library Research) dan Tinjauan Lapangan (Field Research):
a. Tinjauan Kepustakaan (Library Research)

Universitas Sumatera Utara

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara penelitian kepustakaan
atau data sekunder. Adapun data sekunder yang dimaksud adalah data-data
yang berasal dari sumber-sumber atau bahan-bahan tertulis yang ditulis oleh
para sarjana dan ahli sehingga kevalidan datanya dapat diakui.
b. Tinjauan Lapangan (Field Research)
Yaitu dengan cara melakukan tinjauan langsung terhadap korban
pelanggaran HAM pasca Gerakan Tiga Puluh September yang berasal dari
kalangan para anggota dan simpatisan PKI yang berada di Sumatera Utara.
di samping itu, Tinjauan lapangan juga dilakukan dengan melakukan
wawancara terhadap para korban.
4.

Analisa Data
Pengolahan data yang dilakukan dalam menyelesaikan skripsi ini adalah

dengan menganalisa permasalahan yang dibahas. Adapun analisis data dilakukan
dengan cara:
a.

Mengumpulkan data-data dan bahan-bahan hukum yang relevan dengan
objek penelitian

b.

Memilih kaidah-kaidah hukum ataupun doktrin-doktrin yang sesuai dengan
objek penelitian

c.

Mensistemasikan kaidah-kaidah hukum dan doktrin-doktrin tersebut

d.

Menjelaskan korelasi antara kaidah-kaidah hukum dan atau doktrin-doktrin
tersebut

e.

Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif

Universitas Sumatera Utara

I.7.

Sistematika Penulisan
Untuk dapat mempermudah pemahaman skripsi ini, maka pembahasan

dalam skripsi ini akan diuraikan secara sistematis. Adapun penulisan skripsi ini
dibagi ke dalam 5 Bab yang berhubungan satu sama lainnya, yaitu:
Bab I :

Bab ini berisi pendahuluan yang terdiri atas latar belakang penulisan,
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian
penulisan,

tinjauan

kepustakaan,

metode

penulisan,

hingga

sistematika penulisan
Bab II :

Bab ini membahas tentang Tinjauan umum tentang Pelanggaran
HAM, termasuk membahas tentang bentuk-bentuk pelanggaran HAM
berat, dan mekanisme hukum nasional serta internasional yang dapat
ditempuh dalam kasus-kasus pelanggaran HAM

Bab III :

Bab ini merupakan bab yang khusus membahas tentang Gerakan Tiga
Puluh September 1965

Bab IV :

Bab ini membahas tentang bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang
dilakukan terhadap PKI, Hubungan pelanggaran HAM tersebut
dengan hukum nasional dan hukum internasional, serta bagaimana
implementasi hukum nasional dan hukum internasional dalam
menyelesaikan kasus tersebut.

Bab V :

Bab terakhir dalam skripsi ini yang berisi penutup berupa kesimpulan
dari keseluruhan penelitian yang dilakukan serta juga saran-saran

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PELANGGARAN HAM

II.1.

Hubungan Antara Hukum Internasional dengan Hukum
Nasional
Dalam hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional, ada

dua teori yang terkemuka, yaitu: 15
1. Dualisme
Teori ini dikemukakan oleh para penulis positivis seperti Triepel dan
Anzilotti. Bagi mereka, dengan konsepsi teori kehendak mereka tentang hukum
internasional, merupakan hal yang wajar apabila menganggap hukum nasional
sebagai suatu sistem yang terpisah. Menurut Triepel, terdapat dua perbedaan
fundamental di antara kedua sistem hukum tersebut yaitu:
a.

Subjek-subjek hukum nasional adalah individu-individu, sedangkan subjeksubjek hukum internasional adalah semata-mata dan secara eksklusif hanya
Negara-negara

b.

Sumber-sumber hukum keduanya berbeda: sumber hukum nasional adalah
kehendak Negara itu sendiri, sumber hukum internasional adalah kehendak
bersama dari Negara-negara
15

J.G. Starke. Op. cit. Halaman 96-99

Universitas Sumatera Utara

Adapun butir (a) di atas tidak dapat dikatakan benar karena hukum
internasional juga mengikat individu-individu, sedangkan butir (b) agak
menyesatkan karena di atas kehendak bersama tersebut terdapat prinsip-prinsip
fundamental hukum internasional yang lebih tinggi darinya dan yang mengatur
pelaksanaan atau pernyataannya.
Sedangkan Anzilotti menganut suatu pendekatan yang berbeda, ia
membedakan hukum internasional dan hukum nasional menurut prinsip-prinsip
fundamental dengan mana masing-masing sitem itu ditentukan. Dalam
pendapatnya, hukum nasional ditentukan oleh prinsip atau norma fundamental
bahwa perundang-undangan Negara harus ditaati, sedangkan sistem hukum
internasional ditentukan oleh prinsip pacta sunt servanda. Yaitu perjanjian antar
Negara-negara harus dijunjung tinggi, sehingga kedua sistem itu memang terpisah
sehingga tidak mungkin terjadi pertentangan antara keduanya, yang mungkin
terjadi adalah penunjukan-penunjukan (renvois) dari sistem yang satu ke sistem
yang lain, selain daripada itu tidak ada hubungan apa-apa. Mengenai teori
Anzilotti

ini,

cukuplah

mengatakan

bahwa

karena

alasan-alasan

yang

dikemukakan, tidak benar bahwa pacta sunt servanda harus dianggap sebagai
norma yang melandasi hukum internasional; prinsip ini hanya merupakan
sebagian contoh dari prinsip yang sangat luas yang menjadi akar hukum
internasional.
2. Monisme
Berbeda dengan para penulis yang menganut teori dualism, pengikutpengikut teori monism menganggap semua hukum sebagai suatu ketentuan

Universitas Sumatera Utara

tunggal yang tersusun

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23