Manfaat Penelitian Implementasi Program Bimbingan Dan Konseling Dalam Mengantisipasi Kenakalan Siswa Di SMK Putra Bangsa Depok

13 faktor hereditas keturunan yang langsung diwarisi anak dari orang tua, dan juga faktor konstitusi. 2 Faktor-faktor berasal dari luar individu meliputi faktor-faktor eksogen, yang terdiri dari faktor lingkungan, makanan, dan belajar. 9 Masa remaja merupakan salah satu diantara masa rentangan kehidupan individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat. Dalam jangka 3-4 tahun sosok remaja tumbuh sehingga tinggi badannya menyamai tinggi badan orang tuanya. Namun pertumbuhan fisik yang terjadi tidak stabil, semua pertumbuhan jasmani yang cepat itu dapat menimbulkan kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran. Bahkan kepercayaan kepada agama yang telah tumbuh pada masa sebelumnya mungkin pula mengalami kegoncangan karena merasa kecewa pada dirinya. Pada masa ini mulai timbul dorongan-dorongan dan keinginan- keinginan untuk memuaskan seksual. Seiring dengan norma yang berlaku dalam masyarakat maupun agama mereka tidak dapat secara langsung memuaskan dorongan serta keinginannya diluar perkawinan, oleh karena itu mereka mencari jalan lain seperti berkhayal, menonton film porno dan sebagainya. Pertumbuhan fisik yang cepat terjadi pada remaja awal lambat laun menurun ketika memasuki remaja akhir. Hurlock mengemukakan bahwa anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lambat daripada anak perempuan, pertumbuhan laki-laki berlangsung lebih lama, sehingga pada saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. 10 Diantara pertumbuhan-pertumbuhan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi, dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh, yakni mulai terlihatnya penonjolan pada otot-otot dada, tumbuhnya jakun, serta mulai tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan 9 Panuut Panuju Ida Umami, Psikologi Remaja, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1999, cet. Ke-1, h. 69-73. 10 Elizabet B. Hurlock, Psikologi Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga, 1980, h. 210. 14 dan ketiak. Sedangkan pada wanita mulai tumbuh payudara, pinggul serta tumbuh bulu di sekitar kemaluan dan ketiak. Secara kognitif, tingkat kecerdasan remaja berkembang pesat dan telah dapat berpikir abstrak dan membuat hipotesis. Ia sudah dapat memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan dapat mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan. Menurut Piaget, tahap perkembangan kognisi telah mencapai tahapan formal operational. Oleh sebab itu, remaja sudah dapat berpikir secara abstrak tentang keadaan dilingkungannya dan dapat juga memprediksikan kehidupannya di masa yang akan datang. Dalam tahapan perkembangan ini, kognisi remaja dipengarihi oleh faktor skema dan adaptif. Skema adalah pola yang teratur yang melatarbelakangi suatu tingkah laku. Sedangkan adaptif adalah penyesuaian terhadap lingkungan yang berhubungan dengan tujuan dan perjuangan hidup. 11 Perubahan fisik terutama organ-organ seksual dan pertumbuhan kelenjar yang terjadi pada usia remaja serta tekanan sosial yang tinggi menimbulkan intensitas emosi remaja meninggi, bahkan dapat dikatakan puncak emosional. Pada masa remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi. Emosinya bersifat negatif dan temperamental seperti mudah tersinggung dan marah serta mudah murung dan sedih. Walaupun demikian, pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi kematangan perilaku emosional. Dan pada masa remaja akhir dapat mengendalikan emosinya serta mencapai kematangan emosi. Ciri-ciri kematangan emosi yang terjadi pada remaja diantaranya adalah penilaian secara kritis terhadap situasi lebih didahulukan sebelum bereaksi secara emosional. Untuk itu, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. 11 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012, cet. Ke-15, h. 96.

Dokumen yang terkait

Pelaksanaan Bimbingan Konseling Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Di MAN Jakarta

1 12 105

Pandangan siswa terhadap peran bimbingan konseling dalam mengatasi tawuran pelajar di SMK Baskara Depok

0 3 136

PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI PERMASALAHAN KENAKALAN SISWA SMA NEGERI 8 GARUT

0 4 94

UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN SISWA DI SMA MUHAMMADIYAH I BANTUL YOGYAKARTA

0 3 78

IMPLEMENTASI LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DALAM Implementasi Layanan Bimbingan Konseling dalam Membentuk Karakter Peduli Sosial dan Percaya Diri Siswa di MIM PK Kartasura.

0 2 14

IMPLEMENTASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING (BK)DALAM BIMBINGAN BELAJAR SISWA DI SD NEGERI Implementasi Program Bimbingan Dan Konseling (BK) Dalam Bimbingan Belajar Siswa Di SD Negeri Gemolong 1 Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen Tahun 2014/2015.

0 2 15

LAYANAN BIMBINGAN KONSELING TERHADAP KENAKALAN SISWA (Studi Situs SMK 1 Blora).

0 2 12

PERAN GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI KENAKALAN SISWA PADA SMA FAVORIT Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Menangani Kenakalan Siswa pada SMA Favorit dan Bukan Favorit di KOta Yogyakarta DAN BUKAN FAVORIT DI KOTA YOGYAKARTA.

0 1 17

PRESTASI BELAJAR EKONOMI DITINJAU DARI KENAKALAN REMAJA DAN BIMBINGAN KONSELING Prestasi Belajar Ekonomi Ditinjau dari Kenakalan Remaja dan Bimbingan konseling pada Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK N 1 Banyudono Boyolali Tahun Pelajaran 2011/

0 0 17

Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Proses Problem Solving Perilaku Kenakalan Siswa di SMK Batik 1 Surakarta jurnal fix

0 1 17