Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN

5 pengaruhnya terhadap rentang hidup anak. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang membuktikan bahwa perceraian dan perpisahan orangtua memiliki pengaruh lebih besar terhadap masalah-masalah kejiwaan anak di kemudian hari daripada pengaruh kematian orangtua dalam Gottman DeClaire, 2008. Banyaknya kasus perceraian yang terjadi menyebabkan meningkatnya jumlah keluarga dengan orangtua tunggal. Demikian halnya dengan perceraian yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan Data Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Ditjen Badilag MA pada tahun 2010 terdapat 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian dan diajukan ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir berdasarkan data tersebut, peningkatan perkara yang masuk dapat mencapai 81 “Tingkat Perceraian di Indonesia Meningkat”, 2011. Berdasarkan berbagai sumber di atas, jumlah wanita yang menjadi orangtua tunggal lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria yang menjadi orangtua tunggal. Menurut Kimmel 1980, hal ini terjadi karena wanita memiliki usia rata-rata yang lebih panjang dan pada umumnya wanita menikah dengan pria yang lebih tua usianya. Di samping itu, lebih banyak duda yang menikah kembali sehingga lebih banyak jumlah janda dibandingkan duda dalam Hetherington Parke, 1999. Oleh karena itu, jumlah keluarga dengan orangtua tunggal wanita di Indonesia semakin meningkat DeGenova, 2008. Pada tahun 2004, berdasarkan data Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga Pekka, terdapat sedikitnya 40 6 juta jiwa di Indonesia yang kepala keluarganya berstatus janda dalam Zakiah 2007. Terdapat beberapa permasalahan terkait dengan ibu sebagai orangtua tunggal. Sebagai seorang janda, ibu cenderung memiliki perasan khawatir terhadap anak sehingga ibu memberikan perlindungan yang berlebihan. Perasaan khawatir yang muncul tersebut merupakan akibat dari dua peran yang dipegang sekaligus oleh ibu. Di sisi lain, ibu juga cenderung tidak memiliki waktu yang cukup lagi untuk anak-anak karena harus bekerja demi memenuhi kebutuhan finansial. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bird dalam Gass-Sternas, 1995 bahwa orangtua tunggal wanita mempunyai beban dan tanggung jawab yang berat karena harus memegang dua peran sekaligus, yaitu sebagai ibu yang harus mengasuh dan mendidik anak, juga menggantikan figur ayah yang harus mencari nafkah. Beban dan tanggung jawab berat yang harus dipikul oleh seorang wanita yang menjadi orangtua tunggal tersebut memiliki beberapa dampak terhadap anak, yaitu anak menjadi kurang percaya diri, memiliki rasa ketergantungan yang besar bahkan takut sendirian. Hal tersebut merupakan dampak dari peran ganda yang dipegang oleh ibu sehingga ibu cenderung memiliki perasaan khawatir terhadap anak dan memberikan perlindungan yang berlebihan. Dampak yang muncul karena ibu terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan finansial adalah anak menjadi kurang perhatian dan kurang kasih sayang. 7 Ketidakutuhan dalam keluarga memiliki dampak besar yang akan dirasakan oleh anak. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Seltzer dalam Papalia, 2004 menunjukkan bahwa anak dari orangtua tunggal atau single parent cenderung dinilai kurang, baik secara sosial maupun edukasional jika dibandingkan anak dari orangtua utuh, yaitu orangtua yang terdiri dari ayah dan ibu. Hal ini sebagian dikarenakan orangtua tunggal lebih cenderung menjadi miskin partly because one-parent families are more likely to be poor. Selain itu, hasil dalam penelitian yang dilakukan oleh Bamlet dan Mosher dalam Papalia, 2004 menunjukkan bahwa anak dengan orangtua utuh cenderung dinilai lebih baik daripada anak yang berasal dari keluarga yang bercerai atau keluarga tiri. Kecenderungan lain yang dimiliki oleh anak yang tinggal dengan ibu sebagai orangtua tunggal adalah kurangnya kohesi dalam keluarga, dukungan, kontrol serta disiplin dari ayah, karena ayah absen dari kehidupan rumah tangga Amato, 1987; Coley, 1998; Walker Hennig, 1997 dalam Papalia, 2004.

B. Rumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang gambaran kecerdasan emosi anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian. 8

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecerdasan emosi yang dimiliki oleh anak-anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, di bidang psikologi anak khususnya terkait dengan kecerdasan emosi anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian.

2. Secara Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan secara luas bagi orangtua dalam menambah informasi mengenai dampak pengasuhan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian terhadap emosi anak, sehingga ibu sebagai orangtua tunggal, khususnya dapat mendampingi anak dengan lebih baik lagi. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecerdasan Emosi 1. Pengertian Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Goleman 2005, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologis terlihat tertawa, dan emosi sedih mendorong seseorang untuk berperilaku menangis. Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman 2005 pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam The Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosi kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan 10 hidup kita. Akan tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya Goleman, 2005. Menurut Mayer dalam Goleman, 2005, orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu: sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosi agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang dijalani menjadi sia-sia. Senada dengan pendapat ahli lainnya di atas, Seamon dan Kenrick dalam Priyanti, 2003 juga mengungkapkan bahwa emosi memiliki tiga komponen yang saling terkait satu sama lain, yakni aspek fisiologis sistem syaraf, aspek perilaku gerak dan ekspresi wajah, dan aspek pengalaman fenomenologis. Pengalaman fenomenologis yang dimaksudkan oleh kedua tokoh tersebut adalah pengalaman yang diperoleh dengan melibatkan perasaan atau kognitif. Dari berbagai pendapat tokoh-tokoh tersebut, maka emosi dapat disimpulkan sebagai perasaan yang dialami oleh manusia yang melibatkan aspek biologis, psikologis, fisiologis, perilaku dan pengalaman. Selain itu, emosi adalah suatu perasaan afek yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya. 11

2. Pengertian Kecerdasan Emosi

Istilah “kecerdasan emosi” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosi yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Keterampilan EQ bukanlah lawan dari keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan Shapiro, 1997. Menurut Goleman 2005, kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi to manage our emotional life with intelligence atau mengenali emosi diri; menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya the appropriateness of emotion and its expression atau mengelola emosi melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial membina hubungan atau kerjasama dengan orang lain. Menurut Patton 2002, kecerdasan emosi itu mencakup beberapa keterampilan yaitu menunda kepuasan dan mengendalikan impuls dalam diri, tetap optimis jika menghadapi ketidakpastian atau kemalangan, menyalurkan emosi secara efektif, mampu memotivasi dan menjaga semangat disiplin diri dalam usaha mencapai tujuan, menangani