Pengaruh metode pembelajaran inkuiri-discovery learning terhadap hasil belajar siswa pada materi termokimia

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN INKUIRI-DISCOVERY
LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
TERMOKIMIA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
KURNIA
106016200599

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

ABSTRAK
Kurnia, Pengaruh Metode Inkuiri –Discovery Learning Terhadap Hasil
Belajar Siswa Pada Materi Termokimia ” Skripsi, Program Studi Pendidikan
Kimia, Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode inkuiri-discovery
learning terhadap hasil belajar siswa pada meteri termokimia. Penelitian ini
dilakukan di MAN Rengasdengklok-Karawang. tahun ajaran 2010/2011.
Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dan pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 30
siswa kelas XI IPA A sebagai kelas eksperimen dan 30 siswa kelas XI IPA B
sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen hasil
belajar dan hasilnya diuji dengan menggunakan uji ―t‖. Dari hasil perhitungan uji t
diperoleh nilai thitung sebesar 6,6888 sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi α
= 0,05 sebesar 1,931 atau thitung > ttabel. Ini berarti Ho ditolak. Maka dapat
disimpulkan bahwa Ha yang menyatakan terdapat pengaruh dalam penggunaan
metode belajar inkuiri-discovery learning terhadap hasil belajar diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa penggunaan metode inkuiri-discovery learning dapat
mneningkatkan hasil belajar siswa.
Kata kunci: Metode inkuiri-discovery learning, Hasil Belajar Kimia.

i

ABSTRACS
Kurnia, Contribution of Inquiry-discovery learning Method Toward the Result of
students of Materials Thermochemical. Skripsi, Chemistry Education Program,
Natural Science Department, Faculty of Tarbiyah Teaching Syarif Hidayatullah
Jakarta Islamic State University.
This research aims to know comparison the result of students chemistry between
using cooperative learning model type NHT and TPS. The research has conducted
in SMAN 3 Kota Tangerang Selatan, academic year 2010/2011. The research
method used is a quasi experimental and sampling using a purposive sampling
technique. Study sample amounted to 34 students a class XI IPA 6 as the first
experimental class and 34 students a class XI IPA 7 as second experimental class.
The instrument of research is instrument of learning achievement test, and result
tested using t-test. The research shows the result from the calculation of “t” test
(α = 0,05), obtained that score (5,74) > ttable (1,99). It’s means Ho refused.
Finally, It can be concluded that Ha have a difference between the results of
students chemistry is taught with cooperative learning type NHT and TPS
acceptable. This suggests that the use of cooperative learning model type NHT
can improve student learning outcomes in comparison with the chemical using a
model of cooperative learning type TPS.

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, serta hidayah Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan karya ilmiah berupa skripsi dengan judul
“Pengaruh Metode Inkuiri-Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada
Materi Termokimia”. Skripsi ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh
gelar sarjana Strata I (S1) pada Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Dengan segala daya dan upaya, penulis berusaha menyelesaikan
penulisan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Namun, penulis tidak menutup diri untuk
menerima kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini mungkin tidak terlaksana tanpa adanya
bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
bapak/ibu:
1. Dra. Nurlena Rifa’i, M.A., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Baiq Hana Susanti, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Nengsih Juanengsih, M.Pd. selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dedi Irwandi, M.Si selaku dosen penasehat sekaligus pembimbing I yang senantiasa
membantu mahasiswanya.
5. Tonih Feronika, M.Pd, selaku pembimbing II

yang telah memberikan waktu,

tenaga, dan pikirannya dalam mengarahkan dan membimbing penulis dalam
menyusun skripsi ini.
6. Drs. Kusnawan, M.P.Mat, selaku kepala sekolah MAN Rengasdengklok.
7. Orang tua saya yang mendukung lahir dan batin serta tak henti mendoakan saya.
8. Suami ku yang senantiasa mendukung.
9. Anak-anak ku, semoga kalian jadi anak yang soleh dan solehah.

iv

10. Teman-teman seperjuangan yang telah mendahului saya lulus dari kampus tercinta,
semoga kesuksesan kalian mengikuti langkah saya.
11. Dan untuk semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu namun
tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya.
Besar harapan penulis agar penulisan laporan ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca umumnya dan untuk penulis khususnya.

Jakarta, Januari 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
ABSTRAK………………………………………………………………………………...

i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………

iii

DAFTAR TABEL…………………………………………………………………………

v

DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………

vi

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………

vii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………….

1

B. Identifikasi Masalah…………………………………………………...

6

C. Pembatasan Masalah…………………………………………………..

7

D. Perumusan Masalah……………………………………………………

7

E. Tujuan Masalah………………………………………………………..

7

F. Manfaat Masalah………………………………………………………

7

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS

BAB III

A. Landasan Teori………………………………………………………...

9

1. Metode Inkuiri-Discovery Learning………………………………..

9

2. Metode Ceramah dan Latihan (Drill) ……………………………...

16

3. Belajar dan Hasil Belajar…………………………………………...

21

B. Kerangka Berfikir……………………………………………………...

26

C. Hipotesis Penelitian……………………………………………………

28

D. Hasil Penelitian Yang Relevan………………………………………...

28

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………….....

31

B. Populasi, Sampel Dan Teknik Pengumpulan Sampel..............................

31

C. Metode Penelitian………………………………………………………

32

v

BAB IV

BAB V

D. Variabel Penelitian………………………………………………….......

32

E. Teknik Pengumpulan Data……………………………………………...

32

F. Instrumen Penelitian……………………………………………………

34

1. Tingkat Kesukaran………………………………………………....

35

2. Daya Beda………………………………………………………….

35

3. Validitas Instrumen………………………………………………....

36

4. RealibilitasInstrumen……………………………………………….

37

G. Teknik Analisis Data……………………………………………………

38

1. Uji Normalitas Data………………………………………………...

38

2. Uji Homogen………………………………………………………..

39

3. Pengujian Hipotesis………………………………………………...

40

H. Hipotesis Statistik ……………………………………………………...

40

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi dan Analisis Data…………………………………………….

42

1. Deskripsi Data………………………………………………………

42

2. Analisis Data………………………………………………………..

43

B. Pembahasan……………………………………………………………..

47

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ……………………………………………………………..

52

B. Saran…………………………………………………………………….

53

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...

54

LAMPIRAN

v

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen penelitian
Tabel 4.1 Hasil belajar kelas eksperimen
Tabel 4.2 Hasil belajar kelas kontrol
Tabel 4.3 Hasil uji normalitas data hasil belajar
kelas eksperimen
Tabel 4.4 Hasil uji normalitas data belajar
kelas kelas kontrol
Tabel 4.5 Hasil uji homogenitas data hasil belajar
kelas eksperimen dan kelas kontrol
Tabel 4.6 Hasil uji hipotesis data hasil belajar (pretest)
Tabel 4.7 Hasil uji hipotesis data hasil belajar (posttest)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2 …………………………………………………………………………...

27

Gambar 2.3 ……………………………………………………………………………

28

Gambar 2.4 ……………………………………………………………………………

30

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana pelaksanaan pembelajaran kontrol………………………………

61

Lampiran 2 Rencana pelaksanaan pembelajaran kelas eksperimen……………………

64

Lampiran 3 Kisi-kisi instrumen………………………………………………………...

78

Lampiran 4 Lembar kerja siswa………………………………………………………...

92

Lampiran 5 Nilai hasil ujian siswa……………………………………………………...

95

Lampiran 6 Distribusi frekuensi posttest ………………………………………………

96

Lampiran 7 Perhitungan uji normalitas posttest ……………………………………….

100

Lampiran 8 Perhitungan uji homogenitas ……………………………………………...

102

Lampiran 9 Perhitungan uji hipotesis uji-t……………………………………………...

103

Lampiran 10 Tabel nilai kritis uji liliefors……………………………………………....

104

Lampiran 11 Tabel nilai presentil distribusi F…………………………………………… 105
Lampiran 12 Tabel distribusi t…………………………………………………………… 108
Lampiran 13 Rekapitulasi instrument penelitian………………………………………...

v

109

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk membantu
perkembangan dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan
hidupnya sebagai individu dan sebagai warga negara.1 Pendidikan adalah
usaha manusia untuk membina keperibadian sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat, kebudayaan dan agama.2
Adapun tujuan pendidikan dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional menyatakan bahwa:
―Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggungjawab.‖3
Untuk mewujudkan

tujuan pendidikan tersebut tentunya harus di

tunjang dengan peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan
nasional dalam arti dan lingkup yang seluas-luasnya merupakan titik berat
pembangunan di bidang pendidikan. Dalam rangka upaya mewujudkan mutu
yang setinggi-tingginya, pemerintah dan masyarakat yang berasal dalam
jajaran pendayaguna sumber daya pendidikan tak henti-hentinya mengadakan
pembenahan terhadap dimensi-dimensi penentu kemajuan pendidikan.4
Upaya pendidikan diaplikasikan melalui kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran adalah upaya untuk mengubah siswa yang belum terdidik
1

Hermalina Abarua, Pengaruh Penggunaan Metode Inkuiri Terhadap Hasil Belajar
Biologi Pada Siswa SMUN III Ambon, (Jurnal Kependidikan, Vol. 1 No. 2, November, 2004), h. 1
2
Zulfikar Ali Buto, Implikasi Teori Pembelajaran Jerome Bruner DalamNuansa
Pendidikan Modern, Millah Edisi Khusus Desember 2010 STAIN Malikussaleh Lhokseumawe
Email: zaule_lsm@yahoo.com hal. 56
3
UU Republik Indonesia no. 20 tahun 2003, h. 3
4
Zulfa Amrina, Studi Tentang Hasil Belajar Matematika Siswa Yang Menggunakan
Metode Penemuan dan Metode Ekspositori Dalam Kaitannya Dengan Taraf Intelegensi Siswa,
Edukasi, h. 1

2

menjadi siswa yang terdidik, yang belum memiliki pengetahuan tentang
sesuatu menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.5 Untuk melaksanakan
proses pembelajaran perlu adanya persiapan dari seorang guru diantaranya
persiapan terhadap situasi, persiapan terhadap peserta didik yang akan
menerima pelajaran, persiapan metode mengajar, persiapan alat bantu dan
persiapan bahan pelajaran.
Dalam

pembelajaran

tersebut

terdapat

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi. Diantaranya yaitu faktor guru, siswa, sarana, prasarana dan
lingkungan. Guru adalah salah satu komponen yang sangat menentukan dalam
kegiatan pembelajaran. Guru disini berperan sebagai penyalur ilmu, motivator,
pembimbing dan banyak lagi peran guru dalam kegiatan pembelajaran. Guru
sebagai pendidik tidak hanya sebagai sumber informasi tetapi juga sebagai
fasilitator yang membelajarkan peserta didik. Sebagai fasilitator guru harus
menciptakan lingkungan belajar

yang menyenangkan dan membimbing

peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran, sehingga proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan perubahan dalam
diri peserta didik baik dalam pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan
keterampilan (psikomotor). Selain peran guru yang sudah disebutkan di atas,
peran penting guru lainnya yaitu menguasai dan memahami serta
mengaplikasikan jenis-jenis/variasi metode pembelajaran sebagai usaha guru
untuk menjadikan siswanya merasa nyaman untuk belajar, membuat siswa
tertarik untuk mempelajari materi yang terkadang dianggap rumit, dan
menciptakan suasana belajar yang tidak membosankan.
Faktor lain yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran adalah faktor
siswa yang perannya

tidak kalah penting dengan guru. Selain sebagai

penerima ilmu yang diberikan guru, siswa juga berperan dalam hal
pemahaman materi yang diterimanya dari guru. Untuk itu peran aktif siswa
haruslah diperhatikan. Jangan sampai siswa hanya duduk terdiam menerima
materi dari guru saja. Sangat dianjurkan siswa ikut serta dalam membangun
5

34

Dr. Aunurrahman, M. Pd, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal.

3

pemaham agar ilmu yang didapat tidak mudah dilupakan. Artinya materi yang
diberikan bertahan lama dalam ingatan siswa. Hal tersebut dapat terwujud jika
guru bisa mengexploitasi potensi siswa dan mengajak terjun langsung
menemukan masalah.
Faktor lain yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran adalah faktor
sarana dan prasarana. Dan dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor
yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran yaitu faktor organisasi kelas
dan faktor iklim sosial-psikologi. Adapun faktor organisasi kelas diantaranya
persiapan, pemeliharaan disiplin dan pemberian dorongan belajar, komunikasi
pengajar, peserta didik serta bangunan tempat atau kelas.6
Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam yang memberikan
jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana fenomena alam yang
berkaitan dengan komposisi, struktur, dinamika dan energetik zat yang
melibatkan keterampilan dan penalaran.7
Sudah menjadi rahasia umum, kimia merupakan salah satu mata pelajaran
yang sulit dimengerti karena bersifat abstrak walaupun manfaat nyatanya
banyak dan sangat berhubungan langsung dengan aplikasi kehidupan seharihari. Dengan karakteristik konsep kimia yang rumit dan abstrak seperti
disebutkan di atas maka dibutuhkan metode yang dapat memudahkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep tersebut.
Kualitas proses pembelajaran kimia dewasa ini dapat dilihat dari
kegiatan pembelajaran yang bersifat regular, artinya pemilihan pendekatan,
strategi, metode kurang bervariasi atau bisa dikatakan masih bersifat
konvensional. Proses belajar mengajar cenderung dimulai dengan orientasi
dan penyajian informasi yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari
siswa, pemberian contoh soal, dilanjutkan dengan memberikan tes. Proses
belajar yang demikian memungkinkan siswa tidak mengalami banyak hal yang
seharusnya menjadi pengalaman yang dapat menunjang pengetahuannya. Dan

6

Bohar Suharto, Pendekatan dan Teknik Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Tarsito,
1996), h. 55
7
Suyanto, dkk, Kimia Untuk SMA/MA Kelas X, (Jakarta: Grasindo, 2006), h. 1

4

siswa pun akan merasa bosan karena tidak ada hal yang menarik yang
disajikan guru. Apalagi materi kimia yang dianggap sulit.
Peningkatan mutu pembelajaran kimia secara khusus diperlukan
perubahan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Sebelumnya proses belajar
mengajar untuk mata pelajaran kimia kurang fokus pada siswa. Artinya bahwa
masih banyaknya pelaksanaan pembelajaran yang di dominasi oleh guru. Dari
mulai pemberian materi, pemecahan masalah dan hal lain yang sebenarnya
bisa dilakukan oleh siswa. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas siswa diperlukan
model, strategi maupun metode belajar yang efektif, terutama untuk materi
pelajaran atau pokok bahasan yang bersifat abstrak atau materi yang sifatnya
tidak cukup hanya melalui pemberian materi secara verbal. Salah satu jalan
keluarnya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk terjun langsung dalam menemukan masalah
dan memecahkannya baik secara mandiri maupun berkelompok.
Aunurrahman

menjelaskan

implikasi

prinsip

belajar

dalam

pembelajaran, salah satunya yakni prinsip keterlibatan langsung. Dimana
siswa di dalam proses pembelajara memiliki intensitas keaktifan yang lebih
tinggi. Siswa tidak hanya mendengar, mengamati dan mengikuti melainkan
terlibat

langsung

dalam

melaksanakan

percobaan,

peragaan

atau

mendemonstrasikan sesuatu.8
Jika dalam pembelajaran siswa merasa belum paham dan tidak mampu
menemukan konsep utama dalam

meteri yang diberikan mengenai kimia

khususnya, maka ada kemungkinan materi kurang tersampaikan dengan jelas
dan disinilah peran guru diperlukan. Dengan kata lain guru bertugas membuat
siswanya memahami materi dengan menggunakan metode maupun stratetgi
tertentu.
Ketuntasan

belajar

yang

belum

sepenuhnya

tercapai,

tujuan

pembelajaran yang belum benar-benar fokus secara maksimal, kurangnya
8

121

Dr. Aunurrahman, M. Pd, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal.

5

variasi

metode

belajar

yang

digunakan

guru

dalam

pembelajaran

mengakibatkan siswa tidak bisa merasakan sensasi belajar dengan
menggunakan metode lain selain ceramah. Hal tersebut adalah faktor yang
bmenjadikan kurangnya kemampuan siswa dalam berfikir kritis dan analis
ketika melakukan suatu percobaan dengan menggunakan konsep dan prinsip
kimia yang dipelajari. Disinilah peran guru dalam menerapkan metode
maupun strategi yang tepat untuk mensiasati permasalahan tersebut.
Metode

pembelajaran

adalah

cara

yang

digunakan

untuk

mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.9 Dengan metode yang
baik dan bersifat efisien terhadap bahan ajar maka besar kemungkinan materi
tersampaikan dengan baik dan dapat dipahami oleh siswa. Untuk itu guru
perlu memiliki keterampilan dalam memilah dan memilih metode mana yang
akan digunakan supaya mendapat ketuntasan dalam pembelajaran. Baik itu
ketuntasan pada pemahaman siswa, ketercapaian nilai yang bagus serta
kualitas kemampuan siswa menjadi lebih baik.
Terdapat banyak metode dalam dunia pembelajaran. Namun guru
harus

memperhatikan

metode,

strategi,

pendekatan

ataupun

model

pembelajaran mana yang sekiranya dapat menopang kemampuan siswa agar
mudah dalam memahami materi yang diberikan. Salah satu metode yang
berpusat pada siswa (student centre) yang mengajak siswa terjun langsung
dalam identifikasi masalah, mengumpulkan data secara mandiri dan
memprosesnya secara berkelompok dan membuktikan hasil identifikasi
melalui percobaan serta melatih siswa untuk membuat kesimpulan dari data
yang diperoleh adalah metode inkuiri-discovery learning.
Pengetahuan yang diperoleh melalui proses penemuan akan bertahan lama dan
mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan

9

Dra. Sutriari Astati, MM, Apa Perbedannya: Model, Metode, Strategi, Pendekatan Dan
Teknik Pembelajaran, (LMPD D.I Yogyakarta ―The services for better education‖, 2011), h.1,

6

penalaran dan kemmapuan berfikir secara bebasdan melatih keterampilanketerampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.10
Permasalahan dalam pembelajaran diharapkan dapat teratasi dengan
penggunaan metode inkuiri-discovery learning yang sebelumnya belum
pernah digunakan. Metode ini menekankan pada kemandirian, proses berfikir
secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu
masalah.

Jadi pada dasarnya tujuan inkuiri adalah melatih siswa belajar

menemukan sendiri pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Juga
memahami materi tersebut melalui pengalaman yang ditemukan melalui
proses inkuiri. Dan melalui metode inkuiri-discovery learning ini pula
diharapkan mampu mengasah kemampuan siswa dalam hal kognitif maupun
afektif.
Peneliti terdahulu telah banyak meneliti terkait metode pembelajaran
inkuiri. Nik Kar dan kawan-kawan dalam jurnalnya yang berjudul Kesan
Pendekatan Inkuiri Penemuan Terhadap Pencapaian Pelajar Dalam Mata
Pelakaran Kimia dan

Hermalina Abarua dalam jurnalnya yang berjudul

―Pengaruh Penggunaan Metode Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada
siswa SMUN III Ambon‖, keduanya menyatakan bahwa terdapat perubahan
hasil belajar yang signifikan sesudah menggunakan metode inukiri.
Berdasarkan latar belakang tersebutlah peneliti ingin mengetahui
sejauh mana pengaruh metode pembelajaran inkuiri-discovery learning
terhadap hasil belajar siswa pada materi termokimia.

B. Identifikasi Masalah
Dari hasil pembahsan latar belakang masalah, penulis menyimpulkan
permasalahan yang ada diantaranya:
1. Pelaksanaan proses belajar mengajar yang masih terpusat pada guru
2. Karakteristik materi kimia yang rumit dan bersifat abstrak sehingga
menghambat pemahaman siswa
10

Ato Illah, Penerapan Model Inkuiri Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa, Jurnal Tarbawi vol 1. No 2 Juni 2012, hal. 96

7

3. Aktifitas siswa dalam belajar kimia kurang menambah pengalaman siswa
mengenai suasana belajar
4. Kurangnya variasi metode belajar yang digunakan guru

C. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian yang akan penulis kaji kali ini dibatasi
dalam kajiannya yaitu:
1. Penelitain dilakukan pada siswa kelas XI MAN RengasdengklokKarawang.
2. Materi pelajaran yang diteliti peneliti adalah materi termokimia.
3. Adapun hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar kimia siswa
setelah proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaraan
inkuiri-discovery learning pada kelas eksperimen kedua dilihat dari aspek
kognitifnya.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah
dikemukakan di atas maka masalah yang akan dicari jawabannya dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: ―adakah pengaruh metode
pembelajaran inkuiri-discovery learning terhadap hasil belajar siswa pada
materi termokimia?.

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh metode pembelajaran inkuiri-discovery learning terhadap hasil
belajar kimia siswa.

F. Manfaat Penelitian
Dari penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memiliki manfaat
sebagai berikut:

8

1. Dapat memberikan informasi kepada guru kimia tentang metode inkuiridiscovery learning dan metode ceramah dan latihan (drill).
2. Dapat menjadi masukan bagi penulis dan calon guru kimia SMA/MA
maupun SMK mengenai hal-hal yang baik mengenai metode inkuiridiscovery learning dan metode ceramah dan latihan (drill).
3. Sebagai upaya meningkatkan kompetensi yang ada pada diri siswa dan
meningkatkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran di kelas.

9

BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
1. Metode Inkuiri-Discovery Learning
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris yaitu inqury yang dapat
diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap
pertanyaan ilmiah yang diajukan.1
Inkuiri memiliki tujuan membantu siswa mengembangkan disiplin dan
mengembangkan

keterampilan

intelektual

yang

diperlukan

untuk

mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa
ingin tahunya. 2
Inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.3
Metode iinkuiri menekankan pada permasalahan bagaimana siswa
menggunakan sumber belajar.4 Dimana sumber belajar ini dipakai untuk
mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah.
Dalam jurnal penyelidikan MPSAH 2003 oleh Thangaveli a/l
Marimuthu, dkk menyebutkan bahwa pendekatan inkuiri penemuan
menekankan pembelajaran melalui pengalaman.5

1

Prof. Dr. Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Inkuiri,
http://herfis.blogspot.com/2009/07/pembelajaran-inkuiri.html, h. 1
2
Dr. Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 161
3
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2008), h. 194
4
Aninomus, Karaktersistik Peserta Didik, Strategi dan Metode Pembelajaran, http:
//www.t125.co.cc/2010/10/karakteristik-peserta–didik-strategi-htm, hal 8
5
Thangavelo a/l Marimuthu, dkk, Masalah Pelaksanaan Strategi Inkuiri Penemuan di
Kalangan Guru Pelatih semasa Praktikum Satu Kajian Kes, 2003, hal. 36

10

Definisi lain dari inkuiri adalah suatu pembelajaran yang memberi
keleluasaan pada siswa untuk membuat perkiraan, mengadakan percobaan
dan mengajukan pendapat dalam memperoleh pengetahuan.6
Menurut Prof. Dr. Muslimin Ibrahim inkuiri memiliki siklus yang dimulai
dari

observasi,

mengajukan

pertanyaan,

mengajukan

dugaan,

mengumpulkan databerkait dan merumuskan kesimpulan berdasarkan
data. Pembelajaran dengan langkah demikian menekankan pada proses
keterlibatan dan keaktifan siswa secara optimal. Hal tersebut dapat
menciptakan kegiatan pembelajaran yang mengasah kemampuan siswa.
Menurut Aunurrahman dalam bukunya Belajar dan pembelajaran,
inkuiri termasuk dalam kelompok model pengolahan informasi. Dimana
model pembelajarn ini lebih menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang
terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk
meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran.7
Teknik inkuiri bertujuan agar siswa terangsang oleh tugas dan aktif
mencari dan meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber
sendiri dan mereka belajar bersama dalam kelompok serta dapat
mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan.8
Adapun arti dari discovery adalah proses mental dimana siswa atau
individu

mengasimilasikan

konsep

dan

prinsip-prinsip.9

Menurut

Ruseffendi dalam Widiyastuti Akhmadan menyebutkan bahwa metode
penemuan atau discovery adalah metode mengajar yang mengatur
pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh

pengetahuan

yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan
artinya sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.10 Discovery terjadi
6

Dianne Amor Kusuma, Meningkatkan Komunikasi Matematika Dengan Menggunakan
Metode Inkuiri, (Jurusan Matematika FMIPA UNPAD), h. 2-3
7
Dr. Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 157
8
Roestiyah, N. K, Strategi belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal 76
9
Roestiyah, N.K, Strategi belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 20
10
Widyastuti Akhmadan, Metode Pembelajaran Ekspositori, latihan Praktik (Drill and
practice), Penemuan dan Inkuiri, Universitas Sriwijaya, h. 4

11

bila siswa terlibat dalam menggunakan proses mentalnya untuk
menemukan beberapa konsep atau prinsip. Dalam pembelajaran penemuan
siswa didorong untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan
konsep-konsep

dan

prinsip-prinsip,

dan

guru

mendorong

siswa

mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen yang memungkinkan
mereka menemukan prinsip-prinsip bagi diri sendiri.
Pada discovery learning siswa didorong untuk belajar secara
mandiri dan terlibat langsung untuk mendapatkan pengetahuan yang
ditemukan melalui kegiatan tertentu.
Dari definisi-definisi di atas mengenai inkuiri-discovery learning
maka dapat disimpulkan bahawa metode inkuiri-discovery learning adalah
metode pembelajaran yang menekankan proses berfikir kritis untuk
memecahkan masalah melalui percobaan guna mengasah keterampilan
siswa untuk menemukan sendiri jawaban dari suatu konsep.
Adapun dalam pelaksanaan metode inkuiri-discovery learning
dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:11
1) Simulation,

guru

memberikan

masalah

kepada

siswa

atau

menginstruksikan siswa untuk menemukan masalah dari bahan materi.
Materi dapat berupa demonstrasi atau berupa materi bacaan. Pada
tahap ini disajikan permaslahan yang dapat memacu keingintahuan
peserta didik.12
Tahap ini bisa disebut juga sebagai tahap orientasi dimana guru
menyajikan topik melalui simulasi atau ilustrasi yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari agar lebih menarik siswa dalam mempelajari
materi tersebut. Pada tahap ini pula guru melakukan langkah untuk
membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang

11

19

Syaiful Bahri Djamarah, Startegi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h.

Ai Mahmudatussa’adah, Pendekatan Inkuiri-Kontekstual Berbasis Teknologi Informasi
Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis Mahasiswa, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga FPTK UPI (INVOTEC, Volume VII, No. 2, Agustus 2011: 115 – 130), hal. 118
12

12

dilakukan guru dalam tahap orientasi ini adalah:13 (a) Menjelaskan
topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh
siswa. (b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan
oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkahlangkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah
merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan. (c)
Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.

2) Problem statement, siswa mengidentifikasikan masalah yang hasilnya
akan dirumuskan menjadi hipotesis.
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu
persoalan yang mengandung teka-teki untuk memecahkan masalah.
Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa
untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya:14
(1) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
(2) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki
yang jawabannya pasti.
(3) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah
diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
Pada langkah ini pula siswa dilatih untuk mengembangkan potensinya
untuk berfikir dan membuat hipotesis. Potensi berpikir itu dimulai dari
kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira
(berhipotesis) dari suatu permasalahan. Guru dapat membantu melalui
memberikan pertanyaan yang mengarah pada jawaban sementara
(hipotesis).

13

I Putu Mudalara, Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar
Kimia Siswa Kelas XI IPA SMAN I Gianyar Ditinjau Dari Sikap Ilmiah, Undiksha, 2012, hal. 5
14
Rensus Silalahi, Kontribusi Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inkuiri Dalam
Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan
kewarganegaraan, Jurnal Edisi Khusus No. 2, Agustus 2011, hal 138

13

3) Data collection, siswa mengumpulkan data melalui referensi (studi
pustaka) atau melalui media lain yang mendukung.
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang
dibutukhan untuk menguji hipotesis yang diajukan.15
Pada langkah ini siswa dilatih untuk mengumpulkan data yang
merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan
intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
4) Data processing, pengolahan data yang dihasilkan dari langkah ke 3.
Pada langkah ini siswa melakukan eksperimen guna membuktikan atau
memproses data yang didapat dari langkah sebelumnya.
5) Verivication, siswa membuktikan hasil data terhadap hipotesis.
Langkah ini melatih siswa dalam hal keyakinan dalam menentukan
jawaban yang telah dibuktikan pada langkah sebelumnya. Dalam hal
ini siswa dilatih berfikir rasional. Artinya siswa harus mampu
membuktikan kebenaran jawaban dengan argumentasi dan bukti yang
dapat dipertanggungjawabkan.
6) Generalitation, membuat kesimpulan yang dihasilkan dari data yang
diperoleh.
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendiskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Agar kesimpulan
relevan dengan fokus permasalahan maka, guru hendaknya mampu
menunjukkan kepada siswa, data mana yang relevan dan mana yang
kurang relevan.16

15

I putu Mudalara, Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar
Kimia Siswa Kelas XI IPA SMAN Gianyar Ditinjau Dari Sikap Ilmiah, (UNDIKSHA 2012), hal.
5
16
Rensus Silalahi, Kontribusi Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inkuiri Dalam
Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan
kewarganegaraan, Jurnal Edisi Khusus No. 2, Agustus 2011, hal 139

14

Inkuiri memiliki tujuan atau kegunaan tertentu diantaranya adalah
(1)

mengembangkan

sikap,

keterampilan

siswa

untuk

mampu

memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara objektif dan
mandiri; (2) mengembangkan kemampuan berfikir para siswa yang terdiri
atas serentetan keterampilan-keterampilan yang memerlukan latihan dan
pembiasaan; (3) melatih kemampuan berfikir melalui proses dalam situasi
yang benar-benar dihayati; dan (4) mengembangkan sikap ingin tahu,
berfikir objektif, mandiri, kritis, analitis, baik secara individual maupun
kelompok.17
Untuk mendukung agar kegiatan siswa dalam pembelajaran
inkuiri-discovery learning dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:18
1) Membimbing kegiatan laboratorium
2) Modifikasi inkuiri
3) Kebebasan inkuiri
4) Taka-teki bergambar
Berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan
yang

menyertainya,

menghasilkan

pengetahuan

yang

benar-benar

bermakna. Namun jalannya metode pembelajaran inkuiri tak lepas dari
peranan guru di dalamnya. Terdapat peranan guru dalam pelaksanaan
metode pembelajaran inkuiri ini yakni sebagai motivator, fasilitator,
penanya, administrator, pengarah, manager, dan sebagai rewarder
(pemberi penghargaan). 19
Pengetahuan

yang

diperoleh

melalui

belajar

penemuan

menunjukkan beberapa kebaikan, diantaranya:

17

Niken Indraswati, Jurnal Pendidikan : Peningkatan Kemampuan Siswa dalam
Menentukan Pokok Pikiran Bacaan melalui Metode Inkuiri, 2011, hal 4
18
Roestiyah, N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 77
19
Niken Indraswati, Jurnal Pendidikan : Peningkatan Kemampuan Siswa dalam
Menentukan Pokok Pikiran Bacaan melalui Metode Inkuiri, 20011, hal 3-4

15

1) Pengetahuan itu bertahan lama atau lebih mudah diingat bila
dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara
lain.
2) Pengajaran menjadi berpusat pada pelajar20
3) Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara
bebas
4) Melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan
memcahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
5) Membangkitkan keingintahuan siswa.
6) Memberi motivasi untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban.
7) Mudah ditransfer 21
Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah memakan waktu
yang cukup banyak dan jika kurang terpimpin atau kurang terarah dapat
menjurus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari.22
Adapun mengenai kekurangan metode inkuiri-discovery learning
ini menurut Rensus Silalahi dalam jurnalnya adalah:23
1) Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2) Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan
kebiasaan siswa dalam belajar.
3) Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan
waktu yang telah ditentukan.

20

Sochibin, dkk, Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin Untuk Peningkatan
Pemahaman Dan Keterampilan Berfikir Kritis Siswa SD, Jurnal Pendidikan Fisika, Juli 2009, hal.
97
21
Drs. A Tabrani, dkk, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 1992), h. 178
22
Syaiful Bahri Djamarah, Startegi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h.
20
23
Rensus Silalahi, Kontribusi Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inkuiri Dalam
Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan, Jurnal Edisi Khusus no 2, Agustus 2011, hal. 139-140

16

4) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka akan sulit diimplementasikan oleh
setiap guru.

2. Ceramah Dan Latihan (Drill)
a. Metode Ceramah
Metode belajar yang sudah tidak asing bagi kita yaitu metode
ceramah. Metode ini sangat sering digunakan oleh para pengajar
karena dianggap siap pakai tanpa menyiapkan hal yang merepotkan
dan meyita waktu. Metode ini biasanya digunakan agar siswa
mendapat informasi tentang sustu informasi atau persoalan tertentu.
Teknik ini juga biasanya digunakan ketika jumlah siswa banyak
sehingga sulit untuk menggunakan teknik lain.
Metode ceramah menurut Tonih Feronika adalah metode
mengajar yang menyampaikan materi pelajaran dengan cara lisan.24
Pengertian lain dari ceramah adalah metode penyampaian informasi
oleh seseorang pembicara kepada sekelmpok pendengar.25
Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan.
Metode ini senatiasa bagus bila penggunaannya betul-betul disiapkan
dengan baik, didukung alat dan

media serta memperhatikan batas-

batas kemungkinan penggunaannya.26
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode
ceramah adalah metode penyampaian materi secara lisan kepada
sekelompok pendengar yang senantiasa bagus selam dipersiapkan
dengan matang.

24

Tonih feronika, Buku Ajar Strategi Pembelajaran Kimia, UIN Syarif Hidayatullah, h.

36
25

Mulyati Arifin, Pengembangan program pengajaran bidang studi kimia, h. 108
Direktorat Tenaga Kependidikan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan Departemen Nasional, Strategi Pembelajarn Dan Pemilihannya, 2008, h. 13
26

17

Metode utama dalam penyampaian materi pelajaran itu adalah
berbicara, yaitu guru menerangkan, sedangkan siswa mendengarkan
penjelasan guru serta mencatat materi pelajaran yang hanya bisa
diterima siswa. Metode ini hany abersifat ―transfer of knowledge‖ ,
yang penting proses belajar mengajar dapat berlangsung. Proses belajar
mengajar berpusat pada guru (teacher centered) belum berpusat pada
siswa (student centered), siswa hany sebagai pendengar yang siap
untuk menerima informasi yang disampaikan guru.
Metode ceramah ini baik digunakan ketikan bahan ajar yang
akan disampaikan banyak dan waktu tersedia relative singkat, bahan
ajar berupa instruksi, peserta didik yang akan diajar jumlahnya banyak
dan guru memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Tak beda
halnya dengan metode maupun strategi yang lainnya. Jika dipersiapkan
dengan baik dan matang maka kemungkinan sukses dapat diraih.
Dalam pelaksanaan metode ceramah ada hal-hal yang dapat
menunjang pelaksanaan teknik tersebut.

Pertama, sekolah telah

tersedia bahan bacaan atau buku-buku yang berisi bahan atau masalah
yang akan dipelajari. Kedua, bila jumlah siswa tidak terlalu banyak
sehingga memungkinkan guru dapat menggunakan teknik-teknik
penyajian yang lain yang lebih efektif. Ketiga, jika guru bukan seorang
pembicara yang baik, tidak mampu menarik perhatian siswa.27
Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam
pelaksanaan metode ceramah menurut Rista Linawati dalam Suciani
adalah sebagaiberikut:28
1) Tahap persiapan : yang artinya tahap guru untuk menciptakan
kondisi sebelum memulai mengajar.

27

Roestiyah, N.K, Strategi \Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 137-

138
28

Rista Linawati, Metode Ceramah dan Drill (latihan) Sebagai Pemilihan Pembelajaran
Kosakata Bahasa China Di SMP Warga Surakarta, Universitas Sebelas Maret, 2009, hal 44

18

2) Tahap penyajian : yang artinya saat guru menyampaikan bahan
ceramah.
3) Tahap asosiasi : yang artinya memberikan kesempatan pada siswa
untuk menghubungkan dan membandingkan bahan ceramah yang
telah diterimanya. Untuk itu pada tahap ini diberikan kesempatan
untuk Tanya jawab dan diskusi.
4) Tahap generalisasi dan kesimpulan : yang artinya menyimpulkan
hasil ceramah, umumnya siswa mencatat dari yang telah
diceramahkan.
5) Tahap aplikasi atau evaluasi : yang artinya penilaian terhadap hasil
siswa mengenai bahan yang telah diberikan guru, evalusi biasanya
dalam bentuk lisan, tertulis, dan lain – lain.
Seperti halnya metode lain, metode ceramah dalam pelaksanaannya
disini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah:
1) Guru mudah menguasai kelas
2) Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
3) Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar
4) Hemat biaya
5) Organisasi kelas lebih sederhana, tidak perlu mengadakan
pengelompokan murid-murid seperti pada metode yang lain.29
6) Susana kelas berjalan dengan tenang karena murid melakukan
aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid
sekaligus secara komprehensif.30
Sedangkan kekurangan dari metode ceramah adalah:
1) Guru tidak mampu mengontrol sejauh mana siswa telah memahami
uraiannya31

29

Rista Linawati, Metode Ceramah dan Drill (latihan) Sebagai Pemilihan Pembelajaran
Kosakata Bahasa China Di SMP Warga Surakarta, Universitas Sebelas Maret, 2009, hal 45
30
Dasuki, Perbandingan Penggunaan Metode Ceramah dan Diskusi Dalam Mamahami
Pelajaran Aqidah Akhlak, (UIN Syarif Hidayatullah, 2006), h. 9
31
Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h.138

19

2) Kurang menarik
3) Sulit dipakai untuk anak-anak
4) Membatasi daya ingat
5) Pembicara tidak terlalu menilai reaksi orang yang belajar

b. Metode Latihan (Drill)
Metode latihan atau drill adalah suatu teknik yang dapat
diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan
kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki keterampilan yang lebih
tinggi dari apa yang telah dipelajari.32 Definisi tersebut sejalan dengan
definisi menurut Direktorat Tenaga Kependidikan Peningkatan Mutu
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Nasional yang
meyebutkan bahwa metode latihan pada umumnya digunakan untuk
memperoleh ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah
dipelajari.33
Definisi lain dari metode latihan atau drill adalah suatu metode
mengajar dimana siswa langsung diajak menuju ke tempat latihan
keterampilan atau eksperimental, seperti untuk melihat bagaimana cara
membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat
dan apa manfaatnya. Dan menurut Ahmad Muradi dalam Zuhairini
metode drill atau latihan adalah suatu metode dalam pendidikan dan
pengajaran dengan jalan mealtih anak-anak terhadap bahan pelajaran
yang sudah diberikan.34 Metode drill atau latihan siap dimaksudkan
untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap
apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukan secara praktis

32

Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 125
Direktorat Tenaga Kependidikan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan Departemen Nasional, Strategi Pembelajaran Dan Pemilihannya, 2008, h. 29
34
Ahmad Muradi, Pelaksanaan Metode Drill (Latihan Siap) Dalam Pembelajaran
Bahasa Arab, Vol. 5 no. 1, januari-Juni 2006, h. 4
33

20

suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan dapat lebih dipahami oleh
siswa.
Dari beberapa pendapat di atas mengenai definisi metode drill
atau latihan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill atau
latihan adalah metode atau cara menyajikan bahan pelajaran dengan
cara melihat secara langsung suatu kejadian atau suatu kegiatan
eksperimen.
Teknik mengajar latihan ini biasanya digunakan untuk tujuan
agar siswa:35
1) Memiliki keterampilan motorik seperti, menghafal, menulis, dan
lain-lain.
2) Mengembangkan kecakapan intelek seperti, mengalikan, membagi,
menjumlahkan dan lain sebagainya.
3) Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan
dengan hal lain, seperti hubungan sebab akibat, penggunaan simbol
dan lainnya.
Agar pelaksanaan metode latihan atau drill ini ada beberapa
hal yang harus diperhatikan, diantaranya:36
1) Gunakan latihan ini hanya untuk pelajaran atau tindakan yang
dilakukan secara otomatis yakni dilakukan siswa tanpa pemikiran
dan pertimbangan yang mendalam.
2) Guru harus memilih latihan yang mempunyai arti luas yang dapat
menanamkan pengertian pemahaman akan makna dan tujuan
latihan sebelum mereka melakukan.
3) Guru memperhitungkan waktu latihan yang singkat saja agar tidak
meletihkan dan membosankan.
4) Guru dan siswa perlu memperhatikan dan mengutamakan proses
yang esensial.
35
36

Roestiyah, N. K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 125
Roestiyah, N. K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal.127-128

21

Adapun kekurangan dan kelebihan dari metode tersebut adalah
sebagai berikut. Kelebihan dari metode drill atau latihan menurut
ahmad Muradi dalam Yusuf dan Syaiful anwar:37
1) Dalam waktu yang lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan
2) Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan
lancar
3) Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinu dan disiplin diri,
melatih diri serta belajar mandiri
4) Menjadi terbiasa dan menumbuhkan semangat untuk beramal
kepada Allah
5) Dapat menambah kesiapan siswa dan meningkatkan kemampuan
respon yang cepat38
Sedangkan kekurangan dari metode ini adalah:39
1) Dapat membentuk kebiasaan yang kaku
2) Kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpikir40
3) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
4) Menimbulkan kebosanan dan kejengkelan

3. Belajar Dan Hasil Belajar
a. Belajar
Manusia dikatakan belajar ketika ia paham akan sesuatu hal
dan berdampak bagi dirinya baik positif maupun negatif. Belajar
adalah hal yang sadar ataupun tidak sadar dialalmi oleh setiap individu.
37

Ahmad Muradi, Pelaksanaan Metode Drill (Latihan Siap) Dalam Pembelajaran
Bahasa Arab, Vol. 5 no. 1, januari-Juni 2006, h. 5
38
Widyastuti Akhmadan, Metode Pembelajaran Ekspositori, LatihanPraktik (dril and
pracicel), Penemuan dan Inkuiri, Universitas Sriwijaya, h. 3
39
Widyastuti Akhmadan, Metode Pembelajaran Ekspositori, LatihanPraktik (dril and
pracicel), Penemuan dan Inkuiri, Universitas Sriwijaya, h. 3
40
Rosita, dkk, Peningkatan Aktivitas Belajar Melalui Metode Latihan Pelajaran
Matematika Kelas II SDN 42 Kubu Raya, PGSD, FKIP Universitas Tanjungpura, PontianakEmail
: rositaspd23@yahoo.com, hal. 3

22

Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan,
keterampilan dan sikap.41 Belajar adalah aktivitas yang dilakukan
secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah
dipelajari

sebagai

hasil

dari

interaksinya

dengan

lingkungan

sekitarnya.42 Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau
ilmu.43
Aunurrahman dalam Burton menyebutkan bahwa belajar
adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan
lingkungannya

sehingga

mereka

mampu

berintreaksi

dengan

lingkungannya.44
Keinginan belajar setiap individu berbeda tergantung ada
tidaknya dorongan dalam dirinya. Kemampuan belajar seseorang
adalah ciri yang membedakan jenisnya dari jenis makhluk lainnya.
Kemampuan tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi individu
dan juga masyarakat. Belajar terjadi dalam interaksi dengan
lingkungan dalam bergaul dengan orang dalam memegang benda dan
dalam mengahadapi peristiwa.
Dikatakan belajar jika dapat menghasilkan perubahan, namun
tidak semua perubahan merupakan akibat langsung dari usaha belajar.
Belajar dalam prakteknya dapat dilakukan di sekolah atau diluar
sekolah. Belajar di sekolah senantiasa diarahkan oleh guru kepada
perubahan perilaku yang baik dan positif, sedangkan belajar di luar
sekolah yang dilakukan sendiri oleh individu dapat menghasilkan
perubahan perilaku yang positif ataupun negatif.

41

Margaret E. Bell-Gredler, Belajar dan Membelajarkan, (Jakarta: PT Raja Grafindo,

1994), h. 1
42

Nadlir dkk, Psikologi Belajar, Pendidikan guru madrasah Ibtidaiyah, 2009
Rista Linawati, Metode Ceramah dan Drill (latihan) Sebagai Pemilihan Pembelajaran
Ko

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3024 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 664 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 434 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 589 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

50 984 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

50 904 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 549 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 803 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 971 23