Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

HARAPAN MENIKAH LAGI PADA WANITA BERCERAI

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi

Oleh:

DEBBY ISABELLA
071301026

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GENAP, 2011/2012

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN

Saya

yang

bertanda tangan di bawah

ini

menyatakan dengan

sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari
hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Agustus 2011

DEBBY ISABELLA
071301026

Universitas Sumatera Utara

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai
Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si
ABSTRAK

Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu
mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan
positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat
dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang
lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai
adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat
mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi
pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat
melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu
goal, pathway thinking, dan agency thinking.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden
sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini
menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan
di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara
mendalam dan observasi sebagai metode pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan
menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway
thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur
alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki
agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia
memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usahausaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden
menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat
memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak
yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah
untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang dimiliki
responden membantu mereka dalam mengembangkan harapan untuk menikah
lagi.
Kata Kunci: Harapan Menikah Lagi, Wanita Bercerai

Universitas Sumatera Utara

Hope of Remarriage for Divorced Women
Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si
ABSTRACT

In adjusting the changes in life after divorce, women need to develop hope
for getting changes to a meaningful and positive life. Snyder (2000) states that
hope can be builded and can be used as a way to better changes. One kind of hope
can be developed by divorced women are hope of remarriage which can direct
individual to get more positive and meaningful life.
The research aims to see the description of hope of remarriage for divorced
women. The description of hope of remarriage can be seen through components of
hope developed by Snyder, such as goal, pathway thinking, and agency thinking.
The research uses qualitative method and takes three participant. The
procedure of selecting the participant based on theory-based/operational construct
sampling. The research takes place in Medan. Data is yielded by using depth
interview and observation as additional method.
The result of research shows that the first participant and third participant
have high hope of remarriage because they can develop high both pathway
thinking and agency thinking even they can also develop another pathway when
they see impediment. But second participant only has high agency thinking but
low pathway thinking because she has only personal agency to reach the goal but
she could not think about pathways to reach the goal. All participant make a clear
goal such as get a new spouse for giving happiness. The second participant and
third participant who have child from previous marriage, also hope of remarriage
to give a new father for her child. The social support, religious belief, and control
perceived to participants help them in developing their hope of remarriage.
Keywords: Hope of Remarriage, Divorced women

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat rahmat-Nya maka penulis dapat menjalani tahap demi tahap
penyusunan skripsi yang berjudul Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai
hingga selesai tepat pada waktunya. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam
rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi
Fakultas Psikologi USU Medan.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak bantuan,
bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU,
beserta Pembantu Dekan I, II, dan III Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si., psikolog, selaku dosen pembimbing
penulis. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas kesabaran Ibu dalam
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih atas segala bimbingan, masukan, kritikan, dan dukungan moril
yang telah Ibu berikan kepada penulis.
3. Seluruh dosen di Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu, wawasan
dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis dan seluruh staf
administrasi yang bersedia membantu penulis dalam pengurusan administrasi
dan menyediakan segala keperluan selama perkuliahan, khususnya dalam
penelitian ini.

Universitas Sumatera Utara

4. Kedua orangtua penulis (papa Djohan dan mama Go Cin Yen) serta abang
penulis satu-satunya (Tomy), yang telah memberikan perhatian, semangat,
dorongan, dan dengan sabar menunggu hingga penulis menyelesaikan skripsi
ini. Terima kasih atas dukungan, motivasi, dan saran-saran yang telah
diberikan kepada penulis selama ini, khususnya pada masa-masa penyusunan
skripsi ini.
5. Teman terbaik penulis (Juanda Saturnus, Aggie Lawer, Satria, Silvia
Sumbogo, Reny, Daris, Effendi, Christina) yang telah setia menemani di saat
suka maupun duka, memberikan perhatian dan dukungan kepada penulis.
Terima kasih atas waktu berharga yang telah kita lewati bersama.
6. Ketiga responden dalam penelitian ini. Terima kasih karena telah bersedia
meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Terima kasih atas
keterbukaan diri kakak-kakak untuk bercerita mengenai salah satu bagian dari
pengalaman hidup anda. Tetaplah semangat menjalani hidup anda.
7. Teman-teman dalam organisasi buddhis KMB-USU yang tidak bisa penulis
sebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas pengalaman, kebersamaan,
dan waktu berharga yang penulis dapatkan selama di dalam organisasi.
8. Teman-teman psikologi (Fiyud, Dewi, Trisa, Liana, Vivilia), teman-teman
angkatan 2007, serta kakak-kakak senior angkatan 2006, terima kasih atas
segala perhatian, doa, dukungan dan motivasi dalam membantu penulis
menyelesaikan penulisan skripsi ini serta kebersamaan kita dalam suka dan
duka selama ini.

Universitas Sumatera Utara

9. Terima kasih kepada semua orang yang telah membantu penulis dalam
penyelesaian skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu
persatu. Bantuan yang telah diberikan sangat berharga bagi penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis terbuka untuk menerima semua saran dan kritik demi
tercapainya penulisan yang lebih baik lagi. Akhir kata, penulis berharap kiranya
skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Medan, Agustus 2011
Penulis,

Debby Isabella

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ........................................................................................................ i
ABSTRACT ...................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 9
E. Sistematika Penulisan .................................................................... 10

BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................... 12
A. Harapan ......................................................................................... 12
1. Definisi Harapan ........................................................................ 12
2. Komponen Harapan ................................................................... 14
a. Goal ...................................................................................... 14
b. Pathway Thinking ................................................................. 15
c. Agency Thinking .................................................................... 15
d. Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking ............. 16
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harapan ............................... 19

Universitas Sumatera Utara

B. Perceraian ...................................................................................... 21
1. Definisi Perceraian .................................................................... 21
2. Penyebab Perceraian .................................................................. 22
3. Dampak Perceraian .................................................................... 25
C. Pernikahan Lagi (Remarriage) ....................................................... 27
1. Keberhasilan dan Kepuasan Pernikahan Lagi ............................. 28
2. Dampak Pernikahan Lagi ........................................................... 29
D. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai ............... 30
E. Kerangka Berpikir ......................................................................... 32

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 32
A. Pendekatan Kualitatif .................................................................... 32
B. Responden Penelitian .................................................................... 33
1. Karakteristik Responden ............................................................ 33
2. Jumlah Responden ..................................................................... 33
3. Prosedur Pengambilan Responden ............................................. 34
4. Lokasi Penelitian ....................................................................... 34
C. Metode Pengambilan Data ............................................................. 34
D. Alat Bantu Pengumpulan Data ....................................................... 35
1. Alat Perekam (Tape Recorder) .................................................. 36
2. Pedoman Wawancara ................................................................. 36
E. Kredibilitas Penelitian ................................................................... 37
F. Prosedur Penelitian ........................................................................ 38
1. Tahap Persiapan Penelitian ........................................................ 38
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian .................................................... 39
3. Tahap Pencatatan Data ............................................................... 40
4. Prosedur Analisa Data ............................................................... 40

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ......................................... 43
A. Deskripsi Data I ............................................................................. 43

Universitas Sumatera Utara

1. Riwayat Responden ................................................................... 43
2. Hasil Observasi .......................................................................... 44
3. Analisa Data .............................................................................. 49
4. Pembahasan ............................................................................... 61
B. Deskripsi Data II ........................................................................... 63
1. Riwayat Responden ................................................................... 63
2. Hasil Observasi .......................................................................... 63
3. Analisa Data .............................................................................. 70
4. Pembahasan ............................................................................... 81
C. Deskripsi Data III .......................................................................... 83
1. Riwayat Responden ................................................................... 83
2. Hasil Observasi .......................................................................... 83
3. Analisa Data .............................................................................. 87
4. Pembahasan ............................................................................... 97
D. Analisa Antar Responden .............................................................. 98

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 104
A. Kesimpulan ................................................................................... 104
B. Saran ............................................................................................. 106

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 108
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Tempat dan Waktu Wawancara ......................................................... 43
Tabel 2. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 1 ........................ 61
Tabel 3. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 2 ........................ 80
Tabel 4. Gambaran Harapan Menikah Lagi Pada Responden 3 ........................ 96
Tabel 5. Analisa Identitas Diri Ketiga Responden ............................................ 99
Tabel 6. Analisa Komponen Harapan Menikah Lagi Pada Ketiga Responden 100

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Verbatim
Responden 1 Wawancara 1
Responden 1 Wawancara 2
Responden 1 Wawancara 3
Responden 2 Wawancara 1
Responden 2 Wawancara 2
Responden 2 Wawancara 3
Responden 3 Wawancara 1
Responden 3 Wawancara 2
Lampiran 2. INFORMED CONSENT
Lampiran 3. Pedoman Wawancara

Universitas Sumatera Utara

Harapan Menikah Lagi Pada Wanita Bercerai
Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si
ABSTRAK

Dalam menanggapi perubahan hidup setelah perceraian, wanita perlu
mengembangkan suatu harapan untuk perubahan hidup yang lebih bermakna dan
positif. Snyder (2000) mengemukakan harapan sebagai sesuatu yang dapat
dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan ke arah yang
lebih baik. Salah satu harapan yang dapat dikembangkan oleh wanita bercerai
adalah harapan untuk menikah lagi sehingga dengan menikah lagi dapat
mengarahkan wanita bercerai mendapatkan makna hidup yang lebih positif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi
pada wanita bercerai. Gambaran pembentukan harapan menikah lagi dapat dilihat
melalui komponen-komponen harapan yang dikemukakan oleh Snyder, yaitu
goal, pathway thinking, dan agency thinking.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan responden
sebanyak tiga orang. Prosedur pengambilan responden dalam penelitian ini
menggunakan theory-based/operational construct sampling. Penelitian dilakukan
di kota Medan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara
mendalam dan observasi sebagai metode pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden 1 dan 3 memiliki harapan
menikah lagi yang tinggi karena mereka mampu mengembangkan pathway
thinking dan agency thinking yang tinggi bahkan mampu memikirkan jalur
alternatif saat menjumpai hambatan. Sementara responden 2 hanya memiliki
agency thinking yang tinggi namun pathway thinking yang rendah karena dia
memiliki rasa keyakinan untuk bisa menikah lagi namun tidak memikirkan usahausaha yang harus dilakukan untuk bisa menikah lagi. Ketiga responden
menetapkan goal untuk mendapatkan pendamping hidup lagi yang dapat
memberikan kebahagiaan. Pada responden 2 dan responden 3 yang memiliki anak
yang masih kecil, berharap menikah lagi juga untuk memberikan sosok ayah
untuk anaknya. Dukungan sosial, kepercayaan religius, dan kontrol yang dimiliki
responden membantu mereka dalam mengembangkan harapan untuk menikah
lagi.
Kata Kunci: Harapan Menikah Lagi, Wanita Bercerai

Universitas Sumatera Utara

Hope of Remarriage for Divorced Women
Debby Isabella dan Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si
ABSTRACT

In adjusting the changes in life after divorce, women need to develop hope
for getting changes to a meaningful and positive life. Snyder (2000) states that
hope can be builded and can be used as a way to better changes. One kind of hope
can be developed by divorced women are hope of remarriage which can direct
individual to get more positive and meaningful life.
The research aims to see the description of hope of remarriage for divorced
women. The description of hope of remarriage can be seen through components of
hope developed by Snyder, such as goal, pathway thinking, and agency thinking.
The research uses qualitative method and takes three participant. The
procedure of selecting the participant based on theory-based/operational construct
sampling. The research takes place in Medan. Data is yielded by using depth
interview and observation as additional method.
The result of research shows that the first participant and third participant
have high hope of remarriage because they can develop high both pathway
thinking and agency thinking even they can also develop another pathway when
they see impediment. But second participant only has high agency thinking but
low pathway thinking because she has only personal agency to reach the goal but
she could not think about pathways to reach the goal. All participant make a clear
goal such as get a new spouse for giving happiness. The second participant and
third participant who have child from previous marriage, also hope of remarriage
to give a new father for her child. The social support, religious belief, and control
perceived to participants help them in developing their hope of remarriage.
Keywords: Hope of Remarriage, Divorced women

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
“Selama 10 tahun saya menjanda, tidak ada pikiran untuk menikah lagi,
karena pengalaman yang tidak menyenangkan dengan perkawinan saya.
Tapi anak sudah besar, saya memikirkan hidup tua nanti. Saya juga
berpikiran kalo nanti anak perempuan saya menikah, saya ingin ada bapak
yang menjadi walinya walaupun ayah kandungnya masih hidup ato sudah
mati, kami tak menganggapnya lagi.”
(Komunikasi Personal, 10 Mei 2011)

Dari kutipan cerita di atas, dapat dilihat bahwa seorang wanita yang telah
bercerai pada awalnya merasa takut untuk menikah lagi. Namun seiring dengan
waktu, wanita bercerai ini memiliki keinginan untuk menikah lagi dengan tujuan
untuk kebahagiaan dirinya dan memikirkan wali untuk anaknya jika kelak
anaknya menikah.
Saat ini, perceraian memang tidak lagi dipandang sebagi sesuatu hal yang
memalukan namun sudah menjadi hal yang biasa dalam masyarakat. Penelitian
pada masyarakat Minangkabau yang didukung dengan data BPS (2002) bahkan
menunjukkan bahwa kecenderungan gugatan cerai lebih banyak dilakukan oleh
wanita di Sumatera Barat. Hal ini dapat disebabkan karena pasangan atau wanita
yang melakukan gugatan cerai melihat perceraian sebagai solusi untuk mengatasi
masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan yang tidak dapat diatasi lagi oleh
kedua pasangan. Meskipun demikian, perceraian seringkali diartikan sebagai

Universitas Sumatera Utara

kegagalan yang dialami suatu keluarga (Holmes dan Rahe dalam DeGenova,
2008).
Suatu perceraian yang ditandai dengan adanya proses kehilangan secara
tiba-tiba tentu menimbulkan konsekuensi-konsekuensi bagi kedua belah pihak. Di
satu sisi, dengan bercerai individu dapat bebas dari tekanan, mengurangi konflik
batin yang dialami selama pernikahan serta membuka kesempatan untuk
membangun kehidupan baru yang lebih baik. Di sisi lain, perceraian juga
menimbulkan konsekuensi berupa timbulnya masalah-masalah pasca perceraian
seperti masalah ekonomi, masalah praktis kegiatan rumahtangga sehari-hari,
masalah psikologis, masalah emosional, masalah sosial, masalah kesepian,
masalah pembagian tanggung jawab pengasuhan anak, masalah seksual, dan
masalah perubahan konsep diri (DeGenova, 2008).
Melihat pada konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari perceraian, maka
masalah utama yang perlu dihadapi setelah perceraian dapat berupa penyesuaian
kembali (readjustment) dengan status hidup sendiri tanpa pasangan, atau yang
disebut dengan duda atau janda. Dengan status baru sebagai janda apalagi yang
memiliki anak, wanita harus berperan sebagai orangtua tunggal dan harus bisa
mengatur ekonomi keluarga secara mandiri. Sebagai orangtua tunggal, wanita
harus bisa berperan ganda yaitu sebagai ayah yang fungsinya mencari nafkah dan
sebagai ibu yang berperan membesarkan dan mendidik anak. Hal ini dikarenakan
bahwa kondisi keuangan wanita hampir selalu memburuk setelah perceraian,
terutama jika dia memiliki anak (Rice dalam Matlin, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Selain itu, setelah perceraian individu akan mulai menyadari bahwa kini
mereka hidup seorang diri dan kesepian (DeGenova, 2008). Hidup seorang diri,
dalam arti, dulu semua hal dikerjakan dan dibahas bersama pasangan, namun
setelah perceraian semua hal dikerjakan dan dipikirkan sendiri. Hal ini sesuai
dengan penuturan salah seorang wanita bercerai yang mengungkapkan
keinginannya untuk menikah lagi karena membutuhkan pasangan untuk menjalani
hidup.
“Gue pasti pengen nikah lagi tapi dengan alasan yang tepat, gue pengen
nikah lagi karena gue menyadari bahwa hidup ini terlalu berat untuk
dijalani sendirian, gue pengen nikah lagi karena gue menyadari gue
membutuhkan seseorang yang bisa saling mendukung dalam segi spiritual
dan material, gue pengen nikah lagi karena gue butuh menyayangi
seseorang dan butuh untuk disayangi, dan masih banyak lagi tapi yang
jelas gak bisa ditentuin kapan waktunya, bisa cepet bisa juga lama, kalo
soal waktu kan terserah sama Tuhan, yang penting gue tetap usaha kok.”
(dari
artikel
http://umum.kompasiana.com/2010/04/30/menikahlahdengan-ku-vie-mau-donkhmmaybe-aja-dehtapiga-ah-lain-kali-aja/)

Menikah lagi menjadi solusi yang dapat membantu individu untuk
menyesuaikan diri, tidak hanya untuk mendapatkan teman yang bisa dipercaya
dan diajak berbagi serta pasangan dalam hubungan seksual, tetapi menikah lagi
juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi (A.D. Shapiro dalam DeGenova,
2008). Menikah lagi dapat mengarahkan individu pada penyesuaian diri yang
lebih baik dan mendapatkan makna hidup yang lebih positif (Marks dan Lambert,
Wang dan Amato dalam DeGenova, 2008).
Beberapa alasan yang mendorong individu untuk menikah lagi antara lain
untuk mendapatkan cinta dan persahabatan, pemenuhan kebutuhan biologis,
faktor kebutuhan ekonomi/keuangan, etika, moral, dan norma sosial, faktor

Universitas Sumatera Utara

pemeliharaan atau pendidikan anak serta untuk memperoleh status sosial (Dariyo,
2002). Dari segi pemenuhan faktor biologis, menikah lagi dianggap sebagai jalan
terbaik untuk menyalurkan kebutuhan seksual secara sah dengan pasangan hidup
yang baru apalagi untuk individu yang masih berada dalam usia reproduktif.
Dengan menikah lagi, individu dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan
tetap memenuhi norma sosial. Seseorang juga memilih untuk menikah lagi untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi baik untuk diri sendiri maupun untuk anakanaknya. Selain itu, bagi individu yang memiliki anak dari pernikahan
sebelumnya akan mendapatkan bantuan dalam mengurus, memelihara ataupun
mendidik anak-anaknya dengan menikah lagi. Wanita bercerai yang memiliki
status baru sebagai janda dapat mengurangi tekanan sosial yang dialaminya
dengan menikah lagi dengan pasangan baru (Dariyo, 2002).
Menikah lagi sebagai solusi untuk menyesuaikan diri setelah perceraian
dan segala manfaat atau hal yang dirasakan dengan menikah lagi menumbuhkan
harapan individu untuk menikah lagi. Harapan muncul karena mereka
menginginkan suatu perubahan yang lebih baik. Individu yang bercerai, tanpa
melihat bagaimana perceraian yang dialaminya tentu memiliki harapan untuk bisa
membangun pernikahan yang lebih baik dari sebelumnya. Harapan untuk menikah
lagi juga dapat menjadi dasar untuk perubahan kehidupannya ke arah yang lebih
baik. Berdasarkan teori harapan Snyder (1994), harapan adalah sesuatu yang dapat
dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan. Perubahan yang
menguntungkan dapat mendorong individu mencapai hidup yang lebih baik.

Universitas Sumatera Utara

Perubahan tersebut membutuhkan pembentukan dan pemeliharaan kekuatan
pribadi dalam konteks hubungan yang suportif.
Snyder (2002) mengemukakan harapan sebagai sebuah pola pemikiran
yang dipelajari, seperangkat kepercayaan dan pemikiran mencakup agentic
thinking yaitu pemikiran mengenai tujuan: mengenai keberhasilan seseorang
mencapai tujuan (misalnya ‘saya mencapai tujuan yang saya buat sendiri’), dan
pathway thinking yaitu pemikiran mengenai kemampuan efektif seseorang untuk
mengusahakan berbagai cara untuk mencapai tujuan (misalnya ‘saya dapat
memikirkan banyak cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan’). Harapan
juga merupakan kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai
tujuan. Kepercayaan ini mengarah langsung pada perilaku hopeful, yang
kemudian memperkuat pemikiran hopeful (Shorey, Snyder, dkk, 2002).
Setiap individu memiliki kemampuan untuk membentuk harapan karena
mereka memiliki komponen dasar dalam kemampuan kognitif yang diperlukan
untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan harapan.
Parsons (dalam Hollander, 1981) menambahkan bahwa harapan berperan untuk
mengarahkan tingkah laku dan mencakup dua aspek, yaitu tindakan antisipasi atau
ramalan sederhana dan tuntutan seseorang terhadap orang lain untuk melakukan
suatu tindakan tertentu. Dalam hal ini, individu yang memiliki harapan menikah
lagi akan mengembangkan usahanya untuk mencapai tujuannya yaitu untuk
membangun pernikahan yang lebih baik daripada pernikahan sebelumnya. Usaha
yang dilakukan dapat berupa membangun jalinan hubungan dengan orang lain
atau melibatkan diri dalam jaringan sosial dengan orang lain.

Universitas Sumatera Utara

Harapan dapat meningkatkan timbulnya keinginan untuk bertahan
mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, individu yang memiliki harapan
menikah lagi dapat bertahan menghadapi masalah-masalah yang timbul pasca
perceraian. Selain itu, individu yang memiliki harapan menikah lagi akan lebih
merasakan emosi atau afek positif dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan
kehidupan setelah perceraian. Hal ini dikarenakan harapan selalu berkaitan
dengan afek positif dan perceived control (Curry, Snyder dkk, 1997). Harapan
juga berperan sebagai energi pada situasi yang penuh dengan tekanan dan
merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghadapai situasi tersebut.
Penelitian Guisinger, Cowan, & Schuldberg (dalam Santrock, 2003)
menunjukkan bahwa wanita yang lebih muda, menikah lagi lebih cepat daripada
wanita yang lebih tua, dan wanita tanpa anak yang bercerai sebelum usia 25
tahun, mempunyai tingkat pernikahan kembali yang lebih tinggi dibandingkan
wanita yang punya anak. Selain itu, semakin banyak uang yang dimiliki laki-laki
yang bercerai, semakin cenderung dia menikah lagi, tapi bagi wanita berlaku
kebalikannya. Paparan di atas menunjukkan bahwa tingkat harapan wanita untuk
menikah lagi dipengaruhi oleh faktor usia, anak, dan status ekonomi.
Walaupun harapan telah ada dalam diri individu, namun kadangkala
hambatan-hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan individu dapat
mempengaruhi harapan yang terbentuk dalam diri individu. Tantangan-tantangan
yang muncul dari pernikahan kedua dapat menjadi hambatan bagi harapan
menikah lagi pada individu. Snyder (dalam Carr, 2004) menyatakan bahwa orang
dewasa

yang

memiliki

harapan tinggi,

mampu

berpikir

optimis

dan

Universitas Sumatera Utara

mengembangkan kepercayaan bahwa mereka dapat beradaptasi terhadap
tantangan dan mengatasi masalah. Sebaliknya, orang dengan harapan rendah
ketika menghadapi hambatan, emosi mereka dapat diprediksikan berpindah dari
harapan menjadi rasa marah, dari rasa marah menjadi putus asa, dan dari putus asa
menjadi apathy.
Tantangan atau hambatan yang dapat mempengaruhi harapan individu
untuk menikah lagi antara lain adanya ketakutan akan kegagalan seperti pada
pernikahan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan kutipan cerita dari seorang wanita
bercerai

yang

ingin

menikah

lagi

yang

mengungkapkan

ketakutannya

membayangkan bila dia menikah lagi.
“Kadang-kadang saya masih takut untuk berpikir menikah lagi. Ketakutan
akan perceraian yang kedua mungkin saja membuat saya berpikir ulang
kembali. Saya takut nantinya pasangan saya tidak dapat menjadi ayah tiri
yang baik buat anak saya, atau apakah pernikahan saya nanti bahagia,
direstui oleh keluarga dan masyarakat, ato dapat membahagiakan anak
saya.”
(Komunikasi Personal 15 Mei 2011)

Individu yang berhasil mengatasi tantangan atau hambatan-hambatan ini
dapat diprediksikan memiliki harapan yang tinggi untuk menikah lagi. Harapan
mencerminkan kemampuan individu untuk merencanakan jalur untuk mencapai
tujuan terutama merencanakan jalur-jalur lain ketika menjumpai hambatan dan
untuk memotivasi individu tersebut untuk menggunakan jalur tersebut. Ketika
individu memiliki harapan untuk menikah lagi maka individu akan berusaha
memikirkan dan merencanakan usaha-usaha untuk mencapai tujuannya (dalam hal

Universitas Sumatera Utara

ini untuk menikah lagi) dan serta-merta akan memotivasi diri sendiri untuk
menjalankan usaha-usaha tersebut.
Selain itu, individu yang memiliki harapan menikah lagi lebih mungkin
memanfaatkan

dukungan

sosial

dari

lingkungan

dan

keluarga

untuk

kehidupannya. Snyder (2002) mengatakan bahwa individu dengan tingkat harapan
yang tinggi biasanya memiliki dukungan sosial ketika mereka mengalami
kegagalan, sehingga mereka bisa mendapatkan feedback positif atau alternatif cara
lain untuk mencapai tujuan mereka. Dukungan sosial juga memungkinkan untuk
membantu menemukan tujuan lain apabila tujuan yang diinginkan memang sudah
tidak mungkin tercapai.
Pemikiran hopeful mencerminkan keyakinan bahwa seseorang mampu
mencari atau mengembangkan jalur menuju tujuan yang diinginkannya dan
menjadi termotivasi untuk menggunakan jalur-jalur tersebut (dalam Snyder, Rand
& Sigmon, 2002). Harapan juga mempengaruhi emosi dan well-being seseorang.
Snyder menekankan konsep harapan sebagai proses pikiran atau kognitif, dan
pemikiran mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan menghasilkan emosi.
Persepsi mengenai keberhasilan mencapai tujuan akan menghasilkan emosi
positif, sebaliknya emosi negatif dihasilkan dari persepsi seseorang mengenai
ketidakberhasilan mencapai tujuan atau ketidakmampuannya melaksanakan jalurjalur yang dikembangkannya dan mengatasi hambatan yang timbul dalam proses
mencapai tujuan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana
gambaran harapan menikah lagi pada wanita bercerai.

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran harapan menikah lagi
pada wanita bercerai.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan
kita dalam ilmu psikologi, terutama dalam bidang psikologi klinis. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada kita mengenai gambaran
pembentukan harapan sebagai bagian dari positive psychology.

2. Manfaat Praktis








Memahami makna dari harapan menikah lagi untuk wanita bercerai.
Memahami pentingnya pembentukan harapan dalam diri individu.
Memahami dampak psikologis perceraian bagi wanita dewasa.
Bagi keluarga dan masyarakat, dapat memberikan dukungan sosial kepada
wanita bercerai untuk dapat menumbuhkan harapan menikah lagi dalam
kehidupannya.

Universitas Sumatera Utara

E. Sistematika Penulisan
BAB I

: Pendahuluan
Berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat peneltian dan sistematika penulisan.

Bab II

: Landasan Teori
Berisikan tinjauan teoritis yang menjadi landasan dalam penelitan,
yaitu teori mengenai harapan

termasuk di dalamnya definisi

harapan, komponen harapan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
harapan. Disertai teori mengenai perceraian dan pernikahan lagi
(remarriage).
Bab III

: Metode Penelitian
Berisikan mengenai metode penelitian yang digunakan yaitu metode
kualitatif, karakteristik responden, metode pengambilan responden,
metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data, kredibilitas
penelitian, prosedur penelitian dan prosedur analisa data.

Bab IV

: Analisa Data dan Pembahasan
Berisikan deskripsi data meliputi riwayat responden, rangkuman
hasil observasi, analisa data dan pembahasan masing-masing
responden berdasarkan teori yang berkaitan, serta analisa antar
responden.

Bab V

: Kesimpulan dan Saran
Berisikan kesimpulan penelitian serta saran metodologis dan saran
praktis untuk penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
LANDASAN TEORI

A. HARAPAN
1.

Definisi Harapan
Snyder (2000) menyatakan harapan adalah keseluruhan dari kemampuan

yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang
diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalurjalur tersebut. Harapan didasarkan pada harapan positif dalam pencapaian tujuan.
Snyder, Irving, & Anderson (dalam Snyder, 2000) menyatakan harapan
adalah keadaan termotivasi yang positif didasarkan pada hubungan interaktif
antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk
mencapai tujuan).
Snyder, Harris, dkk (dalam Snyder, 2000) menjelaskan harapan sebagai
sekumpulan kognitif yang didasarkan pada hubungan timbal-balik antara agency
(penentu perilaku yang berorientasi tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai
tujuan).
Snyder (dalam Carr, 2004) mengkonsepkan harapan ke dalam dua
komponen, yaitu kemampuan untuk merencanakan jalur untuk mencapai tujuan
yang diinginkan dan agency atau motivasi untuk menggunakan jalur tersebut.
Harapan merupakan keseluruhan dari kedua komponen tersebut. Berdasarkan
konsep ini, harapan akan menjadi lebih kuat jika harapan ini disertai dengan
adanya tujuan yang bernilai yang memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai,

Universitas Sumatera Utara

bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Pemikiran hopeful mencakup tiga
komponen, yaitu goal, pathway thinking, dan agency thinking. Namun jika
individu memiliki keyakinan untuk mencapai tujuannya, maka individu tidak
memerlukan harapan. Sebaliknya, jika individu yakin bahwa ia tidak akan bisa
maka ia akan menjadi hopeless. Berdasarkan konseptualisasi ini, emosi positif dan
negatif merupakan hasil dari pemikiran hopeful atau hopeless yang memiliki
tujuan.
Pada situasi adanya usaha untuk mencapai tujuan, perilaku hopeful akan
ditentukan oleh interaksi dari hal berikut:
a. Seberapa bernilainya tujuan atau hasil yang ingin dicapai.
b. Pemikiran mengenai jalur untuk mencapai tujuan dan harapan yang
berkaitan dengan seberapa efektif jalur/cara ini untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
c. Pemikiran mengenai pribadi dan seberapa efektif individu dalam
mengikuti jalur untuk mencapai tujuan tersebut.
Teori harapan juga menekankan peran dari hambatan, stressor, dan emosi.
Ketika menjumpai hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan, individu
menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres. Berdasarkan postulat teori harapan,
emosi positif dihasilkan dari persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan.
Sebaliknya emosi negatif mencerminkan kegagalan pencapaian tujuan, baik yang
mengalami hambatan ataupun tidak mengalami hambatan. Oleh karena itu,
persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan mendorong munculnya

Universitas Sumatera Utara

emosi positif dan negatif (Snyder & Sympson, dalam Snyder, 2000). Kemudian
emosi ini bertindak sebagai reinforcing feedback.

2.

Komponen Harapan
Menurut Snyder (2000), komponen-komponen yang terkandung dalam

teori harapan yaitu:
a. Goal
Perilaku manusia adalah berorientasi dan memiliki arah tujuan. Goal atau
tujuan adalah sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen
kognitif. Tujuan menyediakan titik akhir dari tahapan perilaku mental individu.
Tujuan harus cukup bernilai agar dapat mencapai pemikiran sadar.
Tujuan dapat berupa tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang, namun
tujuan harus cukup bernilai untuk mengaktifkan pemikiran yang disadari. Dengan
kata lain, tujuan harus memiliki kemungkinan untuk dicapai tetapi juga
mengandung beberapa ketidakpastian. Pada suatu akhir dari kontinum kepastian,
kepastian yang absolut adalah tujuan dengan tingkat kemungkinan pencapaian
100%, tujuan seperti ini tidak memerlukan harapan. Harapan berkembang dengan
baik pada kondisi tujuan yang memiliki tingkat kemungkinan pencapaian sedang
(Averill dkk., dalam Snyder, 2000).
Lopez, Snyder & Pedrotti (2003) menyatakan bahwa tujuan dapat berupa
approach-oriented in nature (misalnya sesuatu yang positif yang diharapkan
untuk terjadi) atau preventative in nature (misalnya sesuatu yang negatif yang
ingin dihentikan agar tidak terjadi lagi). Tujuan juga sangat beragam dilihat dari

Universitas Sumatera Utara

tingkat kemungkinan untuk mencapainya. Bahkan suatu tujuan yang tampaknya
tidak mungkin untuk dicapai pada waktunya akan dapat dicapai dengan
perencanaan dan usaha yang lebih keras.

b. Pathway Thinking
Untuk dapat mencapai tujuan maka individu harus memandang dirinya
sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan suatu jalur
untuk mencapai tujuan. Proses ini yang dinamakan pathway thinking, yang
menandakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan suatu jalur untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Pathway thinking ditandai dengan pernyataan
pesan internal seperti “Saya akan menemukan cara untuk menyelesaikannya!”
(Snyder, Lapointe, Crowson, & Early dalam Lopez, Snyder & Pedrotti, 2003).
Pathway thinking mencakup pemikiran mengenai kemampuan untuk
menghasilkan satu atau lebih cara yang berguna untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Beberapa jalur yang dihasilkan akan berguna ketika individu
menghadapi hambatan, dan orang yang memiliki harapan yang tinggi merasa
dirinya mampu menemukan beberapa jalur alternatif dan umumnya mereka sangat
efektif dalam menghasilkan jalur alternatif (Irving, Snyder, & Crowson; Snyder,
Harris, dkk., dalam Snyder, Rand & Sigmon, 2002).

c. Agency Thinking
Komponen motivasional pada teori harapan adalah agency, yaitu kapasitas
untuk menggunakan suatu jalur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Agency

Universitas Sumatera Utara

mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai tujuannya melalui
jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian
individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam
mencapai tujuannya. Orang yang memiliki harapan tinggi menggunakan self-talk
seperti “Saya dapat melakukan ini” dan “Saya tidak akan berhenti sampai disini”.
Agentic thinking penting dalam semua pemikiran yang berorientasi pada
tujuan, namun akan lebih berguna pada saat individu menghadapi hambatan.
Ketika individu menghadapi hambatan, agency membantu individu menerapkan
motivasi pada jalur alternatif terbaik (Irving, Snyder, & Crowson dalam Snyder,
Rand & Sigmon, 2002).
Komponen agency dan pathway saling memperkuat satu sama lain
sehingga satu sama lain saling mempengaruhi dan dipengaruhi secara
berkelanjutan dalam proses pencapaian tujuan.

d. Kombinasi Pathway Thinking dan Agency Thinking
Menurut teori harapan, komponen pathway thinking dan agency thinking
merupakan dua komponen yang diperlukan. Namun, jika salah satunya tidak
tercapai, maka kemampuan untuk mempertahankan pencapaian tujuan tidak akan
mencukupi. Komponen pathway thinking dan agency thinking merupakan
komponen yang saling melengkapi, bersifat timbal balik, dan berkorelasi positif,
tetapi bukan merupakan komponen yang sama.
Oleh sebab itu, teori harapan tersebut spesifik pada kemampuan untuk
menghasilkan rencana untuk mencapai tujuan dan kepercayaan pada kemampuan

Universitas Sumatera Utara

untuk mengimplementasikan tujuan tersebut. Individu yang memiliki kemampuan
dalam agency thinking seharusnya disertakan juga dengan pathway thinking.
Namun, beberapa individu tidak mengalami hal tersebut. Penelitian menunjukkan
bahwa tidak semua individu yang memiliki agency thinking akan memiliki
pathway thinking. Jika individu memiliki keduanya, dapat dikatakan bahwa kedua
individu tersebut memiliki harapan tinggi. Hal tersebut disebabkan karena salah
satunya tidak cukup untuk membentuk harapan yang tinggi (Snyder, 1994).
Snyder (1994) membuat empat kategori mengenai kombinasi pathway
thinking dan agency thinking. Kombinasi tersebut adalah pathway thinking dan
agency thinking rendah, pathway thinking rendah dan agency thinking tinggi,
pathway thinking tinggi dan agency thinking rendah, dan pathway thinking dan
agency thinking tinggi.
Individu yang memiliki pathway thinking dan agency thinking rendah
hanya memiliki sedikit keyakinan bahwa mereka akan meraih kesuksesan dalam
mewujudkan tujuannya. Individu dengan karakteristik seperti ini terkadang juga
memiliki masalah, yaitu tidak memiliki tujuan sama sekali. Harapan yang rendah
memiliki dampak bagi keseluruhan kehidupan individu. Tanpa keinginan untuk
bertindak dan perencanaan, individu dapat mengalami depresi. Perasaan depresi
tersebut muncul karena individu berpikir bahwa mereka tidak memiliki
kemampuan untuk mendapatkan tujuan mereka. Selain itu, emosi negatif dapat
semakin

meningkat

jika

individu

tidak

memiliki

kemampuan

untuk

mendefinisikan tujuan secara jelas.

Universitas Sumatera Utara

Individu dengan agency thinking tinggi dan pathway thinking rendah
memiliki keyakinan untuk meraih tujuan yang diinginkan. Namun, individu
dengan karakteristik seperti ini memiliki masalah dalam berpikir mengenai cara
yang paling berhasil untuk mencapai tujuannya. Jika individu berada terlalu lama
dalam keadaan ini, maka individu tersebut dapat mengalami kemarahan atau
frustasi. Selanjutnya individu tersebut akan kehilangan agency thinking-nya.
Individu dengan agency thinking rendah dan pathway thinking tinggi
merupakan individu yang tidak memiliki energi mental yang cukup untuk
mewujudkan rencana yang dimiliki. Individu yang berada dalam keadaan ini akan
mengalami burnout. Banyak individu yang memiliki agency thinking rendah
terlihat seperti mengerjakan sesuatu yang dapat membuat orang lain terkesan.
Namun, individu tersebut sebenarnya tetap berada dalam tahap yang sama.
Individu yang memiliki agency thinking dan pathway thinking tinggi
adalah individu yang menyimpan tujuan yang jelas dan memikirkan cara untuk
meraih tujuan tersebut di dalam pikiran mereka. Mereka mudah berinteraksi
dengan orang lain dan memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan hal-hal
yang mereka inginkan. Mereka merupakan individu yang fokus terhadap tujuan
serta bebas bergerak dari ide yang satu menuju yang lain untuk mewujudkan
tujuan mereka. Individu yang memiliki harapan tinggi memiliki pikiran yang
sangat aktif dan memiliki keyakinan bahwa terdapat berbagai pilihan yang
tersedia untuk mencapai tujuan mereka.
Individu yang memiliki keduanya merupakan contoh individu yang
memiliki harapan tinggi. Harapan yang tinggi menyebabkan individu memperoleh

Universitas Sumatera Utara

berbagai keuntungan ketika menghadapi hal yang sulit. Dalam beberapa situasi
kehidupan, langkah individu seringkali dirintangi oleh seseorang atau sesuatu.
Namun, individu yang memiliki harapan tinggi dapat memikirkan jalan alternatif
menuju tujuan dan langsung diterapkan pada jalan yang terlihat lebih efektif.
Kesimpulannya, harapan merupakan kombinasi antara mental agency
thinking dan pathway thinking yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Kedua
komponen tersebut disebut mental karena harapan merupakan proses yang terjadi
secara konstan dimana proses tersebut termasuk apa yang individu pikirkan
tentang diri mereka sendiri yang memiliki kaitan dengan tujuan. Apa yang
dipikirkan oleh individu tersebut dapat mempengaruhi perilaku yang nyata.

3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Harapan
Weil (2000) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa terdapat beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi harapan, yaitu dukungan sosial, kepercayaan
religius, dan kontrol.
a. Dukungan Sosial
Harapan

memiliki

kaitan

erat

dengan

dukungan

sosial.

Dalam

penelitiannya mengenai pasien yang menderita penyakit kronis (Raleigh dalam
Weil, 2000)

mengatakan

bahwa keluarga dan teman pada umumnya

diidentifikasikan sebagai sumber harapan untuk penderita penyakit kronis dalam
beberapa aktivitas seperti mengunjungi suatu tempat, mendengarkan, berbicara
dan

memberikan

bantuan

secara

fisik.

Herth

(dalam

Weil,

2000)

mengidentifikasikan pertahanan hubungan peran keluarga sebagai sesuatu yang

Universitas Sumatera Utara

penting bagi tingkat harapan dan coping. Sebaliknya, kurangnya ikatan sosial
diatribusikan sebagai hasil kesehatan yang lebih buruk seperti peningkatan
morbidity dan kematian awal. Individu mengekspresikan perasaan tidak berdaya
ketika mereka tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.

b. Kepercayaan Religius
Kepercayaan religius dan spiritual telah diidentifikasikan sebagai sumber
utama harapan dalam beberapa penelitian. Kepercayaan religius dijelaskan
sebagai kepercayaan dan keyakinan seseorang pada hal positif atau menyadarkan
individu pada kenyataan bahwa terdapat sesuatu atau tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya untuk situasi individu saat ini. Spiritual merupakan konsep yang lebih
luas dan terfokus pada tujuan dan makna hidup serta keterkaitan dengan orang
lain, alam, ataupun dengan Tuhan (Reed dalam Weil, 2000). Raleigh (dalam Weil,
2000) menyatakan bahwa kegiatan religius merupakan strategi kedua yang paling
umum untuk mempertahankan harapan dan juga sebagai sumber dalam
mendukung harapan pada pasien dengan penyakit kronis.

c. Kontrol
Mempertahankan kontrol merupakan salah satu bagian dari konsep
harapan. Mempertahankan kontrol dapat dilakukan dengan cara tetap mencari
informasi, menentukan nasib sendiri, dan kemandirian yang menimbulkan
perasaan kuat pada harapan individu. Kemampuan individu akan kontrol juga

Universitas Sumatera Utara

dipengaruhi self-efficacy (Venning, dkk dalam Weil, 2000) yang dapat
meningkatkan persepsi individu terhadap kemampuannya akan kontrol.
Harapan dapat dikorelasikan dengan keinginan dalam kontrol, kemampuan
untuk menentukan, menyiapkan diri untuk melakukan antisipasi terhadap stres,
kepemimpinan, dan menghindari ketergantungan. Penelitian menunjukkan bahwa
harapan memiliki hubungan yang positif dengan persepsi seseorang mengenai
kontrol. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa individu yang memiliki sumber
internal dalam kontrol memiliki harapan bahwa mereka dapat mengontrol nasib
mereka sendiri. Sebaliknya, individu yang memiliki sumber kontrol eksternal
berharap untuk dikontrol oleh kekuatan atau paksaan yang berasal dari luar
dirinya.

B. PERCERAIAN
1.

Definisi Perceraian
DeGenova (2008: 415) menyatakan perceraian adalah metode yang sah

secara hukum untuk mengakhiri suatu pernikahan. Secara hukum, setelah
perceraian, kedua individu dapat menikah lagi dengan orang lain, benda-benda
milik mereka dan harta akan dibagi rata dan jika anak dilibatkan dalam hal ini
maka akan diputuskan hak asuh atau perwalian anak. Hal ini dapat menjadi sangat
sulit dirundingkan walaupun jika kedua pihak menginginkan perceraian.
Amato & Emery (dalam Sigelman & Rider, 2003) menyatakan bahwa
perceraian bukan hanya merupakan sebuah peristiwa dalam hidup, melainkan
runtutan pengalaman yang menyebabkan stres bagi seluruh anggota keluarga,

Universitas Sumatera Utara

yang dimulai dengan adanya konflik pernikahan sebelum perceraian dan
melibatkan perubahan hidup yang kompleks ketika pernikahan tesebut berakhir
dan orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mengatur kembali hidup mereka.

2.

Penyebab Percerai