Risiko Harga Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat

(1)

1

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hortikultura merupakan salah satu subsektor unggulan dalam sektor pertanian di Indonesia. Perkembangan hortikultura di Indonesia dapat dilihat dari perkembangan produksi dan luas panennya. Produksi hortikultura pada tahun 2007 hingga 2008 terlihat mengalami peningkatan secara keseluruhan sebesar 7,43 persen. Sedangkan, luas panen hortikultura sendiri juga mengalami peningkatan sebesar 7,86 persen1. Peningkatan produksi serta luas panen tersebut mengindikasikan bahwa subsektor hortikultura memiliki potensi untuk berkontribusi pada pendapatan nasional.

Subsektor hortikultura terbukti mampu memberikan kontribusinya pada pendapatan nasional. Kontribusi subsektor hortikultura tersebut terlihat pada nilai produk domestik bruto (PDB) hortikultura yang meningkat. Pada tahun 2007, PDB hortikultura sebesar Rp 76,79 trilliun, dan pada tahun 2008 PDB Hortikultura sebesar Rp 80,29 trilliun. Nilai tersebut menggambarkan adanya peningkatan PDB hortikultura sebesar 4,55 persen2. Dengan peningkatan nilai PDB hortikultura tersebut, subsektor hortikultura memiliki peranan penting dalam berkontribusi di perekonomian nasional.

Peningkatan nilai PDB hortikultura didukung oleh empat kelompok komoditas utama pada subsektor hortikultura, yaitu buah-buahan, sayuran, biofarmaka, dan tanaman hias. Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa buah-buahan memiliki rata-rata nilai kontribusi yang paling besar diantara ketiga kelompok komoditas lainnya. Sedangkan tanaman hias memiliki rata-rata nilai kontribusi yang paling kecil diantara kelompok komoditas yang lain. Namun demikian, sejak tahun 2005 hingga 2008, kontribusi nilai PDB tanaman hias terus mengalami peningkatan seperti ketiga kelompok komoditas lainnya.

1

Gambaran Kinerja Makro Hortikultura 2008. http://hortikultura.deptan.go.id/?q=node/218 [Diakses pada 1 November 2012]

2

Gambaran Kinerja Makro Hortikultura 2008. http://hortikultura.deptan.go.id/?q=node/218 [Diakses pada 1 November 2012]


(2)

2 Tabel 1. Kontribusi Kelompok Komoditas pada PDB Hortikultura Tahun

2005-2009

No Kelompok Komoditas

Nilai PDB (Milyar Rp) Rata-rata

2005 2006 2007 2008 2009*

1 Buah-buahan 31.649 35.448 42.362 47.060 50.595 41.432

2 Sayuran 22.630 24.694 25.587 28.205 29.005 26.024

3 Biofarmaka 2.806 3.762 4.105 3.853 5.348 4.889

4 Tanaman Hias 4.662 4.734 4.741 5.085 4.109 3.727

Total Hortikultura 61.792 68.639 76.795 84.203 89.057 76.072

Keterangan : *) Angka Sementara Sumber : Ditjen Hortikultura (2010)

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2010, hortikultura didefinisikan sebagai semua hal yang berkaitan dengan buah, sayuran, bahan obat nabati, dan florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati, dan/atau bahan estetika. Sedangkan, menurut Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo 2001), tanaman hias dan bunga potong digolongkan menjadi komoditas yang disebut florikultura. Pada komoditas bunga potong terdapat jenis-jenis bunga potong yang merupakan bunga potong unggulan untuk diusahakan. Jenis-jenis bunga potong tersebut adalah anggrek, mawar, krisan, anyelir, anthurium, gerbera, gladiol, sedap malam, bunga kecombrang, dan heliconia. Sedangkan untuk komoditas tanaman hias yang banyak diusahakan dan sudah diekspor adalah palm, paku-pakuan, dan tanaman dracaena.

Salah satu jenis bunga yang sudah dikenal dan banyak disukai oleh konsumen adalah bunga krisan. Saat ini, penggunaan bunga krisan tidak hanya untuk bunga potong. Selain sebagai bunga potong, bunga krisan juga digunakan untuk bahan dekorasi ruangan, vas bunga, serta rangkaian bunga. Bunga krisan sebagai tanaman pot krisan dapat digunakan untuk menghias meja kantor, ruangan hotel, restaurant dan rumah tempat tinggal. Selain digunakan sebagai tanaman hias, krisan juga berpotensi untuk digunakan sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga (hama).

Dengan semakin berkembangnya penggunaan bunga krisan oleh konsumen, maka dapat menyebabkan permintaan bunga krisan meningkat. Permintaan bunga krisan biasanya meningkat ketika hari-hari raya besar. Ketika itu pula harga bunga krisan cenderung tinggi. Harga bunga krisan juga akan


(3)

3 mengalami peningkatan ketika pasokan sedang rendah. Namun demikian, permintaan bunga krisan masih bersifat musiman, sehingga harga bunga krisan juga cenderung berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi permintaan musiman. Sedangkan, ketika bunga krisan sedang mengalami panen raya, harga bunga krisan mengalami penurunan. Hal tersebut karena pada saat panen raya terjadi penumpukan produksi bunga krisan, sehingga harga untuk bunga krisan menurun. Menurunnya harga bunga krisan tersebut akan mempengaruhi tingkat pendapatan para pedagang dimana pendapatan pedagang akan berkurang karena adanya kerugian yang harus dihadapi. Kondisi harga bunga krisan yang tidak pasti dan berfluktuatif tersebut menyebabkan bunga krisan termasuk dalam komoditi yang berisiko terhadap harga di pasaran.

Salah satu pasar yang menyediakan beragam bunga krisan adalah Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat. Pasar Bunga Rawabelong ini merupakan salah satu pasar yang menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) perdagangan tanaman hias yang menyediakan beragam bunga potong dan tanaman hias. Pasar ini merupakan pasar yang dijadikan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) oleh Dinas Pertanian DKI Jakarta. Umumnya, produsen tanaman hias dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur memasarkan produknya di Pasar Bunga Rawabelong. Banyak konsumen tanaman hias yang datang dari berbagai daerah untuk membeli tanaman hias di Pasar Bunga Rawabelong. Dengan semakin berkembangnya permintaan yang pesat, Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias berkembang menjadi pusat promosi dan pemasaran bunga potong terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, Pasar Bunga Rawabelong dapat dijadikan acuan dalam industri florikultur di Indonesia.

1.2. Perumusan Masalah

Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat merupakan pasar yang menyediakan beragam bunga dan merupakan pusat pemasaran dari beragam bunga dan tanaman hias. Di pasar ini beragam bunga dan tanaman hias dijual secara besar-besaran (grosir). Pada awalnya pasar ini merupakan pasar yang menyediakan bunga dan tanaman hias, namun seiring dengan waktu serta melihat adanya perkembangan permintaan akan bunga dan tanaman hias yang pesat di


(4)

4 pasar ini, maka pemerintah menjadikannya sebagai pusat pemasaran bunga dan tanaman hias. Dengan resminya pasar ini sebagai Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, maka pasar ini dijadikan acuan para petani dan pedagang dalam menentukan harga dari produk mereka.

Bunga Krisan (Chrysanthemum) merupakan salah satu bunga yang ditawarkan di Pasar Rawabelong. Terdapat dua jenis krisan yang ditawarkan, yaitu krisan cipanas dan krisan pt. Krisan cipanas merupakan bunga krisan yang dipasok dari petani bunga krisan. Sedangkan krisan pt merupakan bunga krisan yang pemasoknya berasal dari perusahaan penghasil bunga krisan. Secara umum, bunga krisan memiliki sumber pasokan yang cukup bagus. Hal tersebut terlihat dari adanya perkembangan dan peningkatan luas panen, hasil rata-rata, dan produksi bunga krisan yang meningkat setiap tahunnya (Tabel 2).

Tabel 2. Perkembangan dan Peningkatan Luas Panen, Rata-rata Hasil dan Produksi Krisan di Indonesia Tahun 2005-2010

Tahun

Krisan Peningkatan/ Penurunan terhadap Tahun Sebelumnya

Luas Panen (m2)

Rata-rata Hasil (tgk/ m2)

Produksi (m2)

Luas Panen Rata-rata

Hasil Produksi

Absolut

(m2) %

Abso lut (tgk/

m2)

% Absolut

(m2) %

2005 2.076.546 6,9 47.465.794 - - - -

2006

1.939.039 6,05 63.716.256 -137.507 -6,62 -0,85

-12,32 16.250.462 32,24 2007 4.279.390 6,35 66.979.260 2.340.351 120,7 0,3 4,96 3.263.004 5,12 2008 6.559.170 10,13 101.777.126 2.279.780 53,27 3,78 59,49 34.797.866 51,95 2009 9.742.677 9,92 107.847.072 3.183.507 48,54 -0,21 -2,05 6.069.946 5,96 2010 10.024.605 17,58 185.232.970 281.928 2,89 7,66 77,22 77.385.898 71,76 Sumber : Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2010

Bunga krisan tidak hanya memilki luas panen, rata-rata hasil, dan produksi yang bernilai positif. Akan tetapi, permintaan bunga krisan juga memiliki nilai yang positif. Hal tersebut dapat terlihat pada Gambar 1 yang menunjukkan volume penjualan bunga krisan cipanas dan pt di Pasar Bunga Rawabelong. Volume penjualan bunga krisan tersebut merupakan gambaran tentang jumlah permintaan bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong. Walaupun nilai permintaan bunga krisan cipanas dan pt bernilai positif, namun ternyata jumlah permintaan akan kedua bunga tersebut masih bersifat fluktuatif.


(5)

5 Gambar 1. Volume Penjualan Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar

Bunga Rawabelong Jakarta Bulan Januari-Desember 2010

Jumlah pasokan dan permintaan bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong tidak selalu dalam jumlah yang tinggi. Penawaran bunga krisan biasanya meningkat ketika terjadi panen raya. Terjadinya panen raya tersebut menyebabkan menumpuknya persediaan bunga krisan. Sehingga, dengan keadaan tersebut akan membuat harga bunga krisan, baik bunga krisan cipanas ataupun krisan pt menurun. Harga bunga krisan juga akan menurun ketika jumlah permintaan bunga krisan sedang menurun dipasaran.

Secara umum, permintaan bunga krisan masih bersifat musiman. Jumlah permintaan bunga krisan akan sangat tinggi ketika terjadi hari-hari besar. Hari-hari besar tersebut diantaranya adalah lebaran, tahun baru imlek, natalan, serta tahun baru masehi. Jumlah permintaan juga akan meningkat ketika terdapat kegiatan-kegiatan tertentu yang akan berlangsung, seperti pernikahan, seminar, dan lain-lain3. Namun, jumlah permintaan serta waktu untuk kegiatan-kegiatan tertentu tersebut tidak dapat diperkirakan oleh pedagang. Sehingga menyebabkan ketidakpastian harga pada bunga krisan cipanas dan pt setiap harinya, dan menyebabkan harga kedua bunga krisan tersebut berfluktuasi (Gambar 2).

3


(6)

6 Gambar 2. Harga Rata-rata Penjualan Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar

Bunga Rawabelong Jakarta Tahun 2010-2011

Adanya fluktuasi harga dari kedua bunga krisan tersebut menunjukkan adanya risiko yang harus ditanggung oleh pihak terkait yang mengusahakan kedua komoditas tersebut. Risiko harga merupakan salah satu risiko yang harus ditanggung. Harga dari suatu komoditas bisa meningkat secara drastis, namun bisa juga turun secara drastis dan dengan tiba-tiba. Kondisi harga yang bisa berubah secara tiba-tiba dan drastis tersebut menimbulkan kerugian yang besar bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan bunga krisan, salah satunya bagi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong.

Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis yang dapat membantu mengurangi kerugian-kerugian yang harus dihadapi oleh pedagang krisan di Pasar Bunga Rawabelong. Salah satu analisis yang dapat dilakukan adalah dengan menganalisis risiko harga bunga krisan cipanas dan krisan pt di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat. Dari permasalahan diatas, maka dapat dilakukan pengkajian dalam penelitian ini yaitu :

1. Bagaimana risiko harga dari bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong? 2. Bagaimana strategi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong dalam

mengahadapi risiko harga?


(7)

7 1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis risiko harga dari bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong 2. Mengidentifikasi strategi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga

Rawabelong dalam mengahadapi risiko harga

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang memerlukan informasi terutama yang berhubungan dengan agribisnis pertanian. Bagi pedagang, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait dengan risiko harga dan besarnya kerugian yang akan dihadapi pedagang bunga krisan serta memberikan informasi strategi dalam meminimalisir risiko bagi para pedagang lainnya; baik bagi pedagang didalam maupun diluar Pasar Bunga Rawabelong. Bagi pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk membuat kebijakan mulai dari produksi hingga pemasaran sehingga dapat mengurangi risiko harga dari komoditas bunga krisan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan akademik sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya, dan sumber informasi bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan. Dan bagi penulis, penelitian ini juga memberikan kesempatan belajar dan menambah pengalaman serta sebagai salah satu sarana penerapan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

1. Analisis risiko dilakukan melalui pengamatan terhadap fluktuasi harga masing-masing komoditi dengan menggunakan model ARCH-GARCH dan perhitungan nilai VaR (Value at Risk).

2. Identifikasi strategi pengurangan risiko dilakukan dengan pendekatan kualitatif.

3. Analisis risiko yang dilakukan didasarkan pada fluktuasi harga bunga krisan yang terdapat di pasar bunga Rawabelong, Jakarta Barat.


(8)

8

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Bunga Krisan

Krisan (Chrysanthemum) merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthemum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut: Divisi : Spermathophyta

Sub Divisi : Angiospermae Famili : Asteraceae Genus : Chrysanthemum

Species : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll

Bunga krisan digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu spray dan standard. Krisan jenis spray dalam satu tangkai bunga terdapat 10 – 20 kuntum bunga berukuran kecil. Sedangkan bunga krisan jenis standard pada satu tangkai bunga hanya terdapat satu kuntum bunga berukuran besar. Bentuk bunga yang krisan yang biasa dibudidayakan adalah bunga berukuran besar.

Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari luar negeri, terutama berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Jenis krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:

a) Krisan lokal (krisan kuno)

Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman.


(9)

9 Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur).

b) Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida)

Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink).

c) Krisan produk Indonesia

Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.

Bunga krisan pada umumnya banyak dijumpai pada daerah yang mempunyai ketinggian 700 – 1.200 meter, suhu udara antara 180C – 220C dengan kondisi kelembapan udara tinggi. Selain dari itu untuk memperoleh bunga krisan yang berkualitas baik, bunga krisan membutuhkan cahaya yang lebih lama untuk merangsang proses pembungaannya.

Bunga krisan sangat populer dikalangan masyarakat karena banyaknya jenis, bentuk, dan warna bunga. Selain bentuk mahkota dan jumlah bunga dalam tangkai, warna bunga juga menjadi pilihan konsumen. Pada umumnya, warna merah, putih, dan kuning merupakan warna dasar krisan. Namun, terdapat berbagai macam warna yang merupakan hasil persilangan ketiga warna tersebut. Bunga yang banyak diminati adalah bunga yang mekar sempurna, penampilan yang sehat dan segar serta mempunyai tangkai batang yang tegar dan kekar sehingga bunga menjadi awet dan tahan lama.

2.2.Penelitian Terdahulu

2.2.1. Penelitian Terdahulu Mengenai Risiko

Penelitian terdahulu mengenai risiko telah banyak dilakukan, seperti risiko produksi, risiko pernjualan, dan risiko harga. Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini adalah penelitian tentang risiko harga. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.


(10)

10 Penelitian tentang Risiko Harga Sayuran di Indonesia, merupakan penelitian yang dilakukan oleh Amri (2011). Pada penelitian ini peneliti ingin menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga sayuran, dan menganalisis alternatif strategi yang diperlukan untuk mengurangi risiko harga sayuran. Dalam melakukan penelitiannya, penulis menggunakan analisis kuantitatif model ARCH-GARCH dan Value at Risk (VAR) serta analisis kualitatif deskriptif sebagai metode penelitian. Berdasarkan analisis tersebut, model yang diajukan adalah model GARCH (1,1) yang berarti bahwa pola pergerakan harga komoditas dipengaruhi oleh volatilitas dan varian harga pada satu hari sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis nilai VaR, menunjukkan bahwa kenaikan penerimaan sebesar satu rupiah akan meningkatkan risiko harga kentang sebesar 6,42 persen, kubis sebesar 16,12 persen, dan tomat sebesar 15,46 persen. Nilai VaR semakin tinggi seiring dengan lamanya waktu berinvestasi. Dan hasil analisis untuk strategi yang diperoleh adalah melakukan pola tanam yang sesuai, melakukan hubungan kemitraan dengan perusahaan, mengolah produk untuk meningkatkan nilai tambah, dan pengaktifan koperasi.

Penelitian lain yang juga terkait dengan risiko harga adalah penelitian yang dilakukan oleh Sari (2009) dengan judul penelitian Risiko Harga Cabai Merah Keriting dan Cabai Merah Besar di Indonesia. Penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis risiko harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di Indonesia, serta menganalisis strategi terkait dengan adanya risiko harga komoditi cabai merah keriting dan cabai merah besar di Indonesia. Pada penelitian tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif yaitu Model ARCH-GARCH dan analisis VaR, serta analisis kuantitatif dengan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tersebut, maka diperoleh bahwa model terbaik untuk cabai merah keriting adalah ARCH 1 GARCH 2, sedangkan pada cabai merah besar adalah ARCH 1 GARCH 1. Berdasarkan perhitungan VaR diperoleh bahwa tingkat risiko yang diperoleh petani untuk komoditi cabai merah keriting adalah 14,68 persen, dan cabai merah besar adalah 4,85 persen. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif melalui analisis deskriptif diperoleh bahwa strategi mengatasi risiko dari sisi petani dapat dilakukan dengan diversifikasi tanaman, rotasi tanaman, pembuatan produk


(11)

11 olahan cabai, dan sistem kontrak. Sedangkan strategi dari sisi pedagang untuk mengurangi risiko adalah penjualan cabai pada industri makanan dan pengeringan cabai. Dan strategi pengurangan risiko harga oleh pemerintah dilakukan melalui pembentukan atau pengaktifan koperasi dan kelompok tani, pengaturan pola produksi, serta penyuluhan yang intensif.

Analisis Risiko Harga Day Old Chicken (DOC) Broiler dan Layer pada PT. Sierad Produce Tbk Parung, Bogor juga merupakan penelitian tentang risiko harga yang dilakukan oleh Siregar (2009). Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis risiko harga DOC pada PT. Sierad Produce Tbk, dan menganalisis alternatif strategi dalam mengatasi risiko harga DOC pada PT. Sierad Produce Tbk. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian tersebut yaitu analisis kuantitatif dengan model ARCH-GARCH dan perhitungan VaR, dan analisis kualitatif melalui analisis deskriptif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada penelitian tersebut, maka diperoleh bahwa model terbaik untuk DOC broiler adalah GARCH (1,1) yang berarti bahwa risiko harga DOC broiler dipengaruhi oleh volatilitas dan varian harga DOC broiler periode sebelumnya. Sedangkan pada DOC layer hanya terdapat pada ARCH (1) yang berarti bahwa risiko harga DOC layer hanya dipengaruhi oleh volatilitas harga DOC layer periode sebelumnya. Pada analisis perhitungan VaR, diperoleh bahwa tingkat risiko yang diterima PT. Sierad Produce Tbk dari DOC broiler adalah sebesar Rp 1.585.111.113 dari total penerimaan selama tahun 2007 sampai 2008 yaitu sebesar Rp 10.911.997.611 dan risiko harga DOC layer sebesar Rp 163.583.535 dari total penerimaan sebesar Rp 2.125.300.780. Dan berdasarkan hasil analisis kualitatif dengan analisis deskriptif diperoleh bahwa untuk meminimalkan risiko harga yang dihadapi maka PT. Sierad Produce Tbk dapat melakukan pencatatan data DOC dari peternak, melihat atau mempelajari perilaku harga jual DOC periode sebelumnya dan perubahan pergerakan data harga DOC sebelumnya dengan melakukan analisis harga secara rutin, serta meningkatkan kegiatan kemitraan dengan peternak.


(12)

12 2.2.2. Studi Terdahulu Mengenai Krisan

Beberapa penelitian terdahulu mengenai bunga krisan juga telah dilakukan. Strategi Pengembangan Usaha Bunga Potong Krisan, Mawar, dan Gerbera Kelompok Tani Rahayu di Kecamatan Cidahu, Sukabumi merupakan penelitian yang dilakukan Kartini (2009). Penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi Kelompok Tani Rahayu saat ini, mengembangkan alternatif strategi yang dapat diterapkan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usaha, dan memilih strategi berdasarkan alternatif strategi yang telah diterapkan yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi eksternal dan internal kelompok tani rahayu. Pada penelitian tersebut digunakan metode analisis tiga tahap formulasi strategi, yaitu identifikasi lingkungan eksternal-internal, pencocokan dengan melakukan analisis matriks IE, dan tahap keputusan menggunakan QSPM. Berdasarkan hasil analisis, maka diperoleh bahwa pada lingkungan eksternal diperoleh peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu dukungan pemerintah, perubahan gaya hidup, peningkatan pembangunan gedung, banyaknya pemasok, hubungan baik dengan pemasok sarana produksi. Selain itu, diperoleh pula kekuatan Lingkungan internal yaitu anggota kelompok tani masih keluarga, pupuk dan bibit kandang tersedia sendiri, budidaya greenhouse, dll. Tahap kedua, posisi perusahaan terdapat pada sel V yaitu strategi pertahankan dan pelihara. Strategi yang dapat digunakan dalam strategi ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Tahap ketiga, strategi pengembangan produk lebih menarik dilakukan dibandingkan penetrasi pasar.

Penelitian lainnya tentang bunga krisan adalah Analisis Kelayakan Usaha Bunga Potong Krisan pada Pri’s Farm, Cinagara, Cijeruk, Kab. Bogor. Penelitian tersebut dilakukan oleh Dharmika (2009). Penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam usaha bunga potong krisan dan kondisi internal perusahaan di Pri’s Farm, menganalisis kelayakan usaha finansial rencana pengembangan usaha bunga potong krisan yang diusahakan oleh Pri’s Farm, serta menganalisis dengan menggunakan switching value (nilai pengganti) pada kelayakan rencana pengembangan usaha bunga potong krisan Pri’s Farm terhadap faktor harga penjualan dan biaya


(13)

13 variabel. Alat analisis yang digunakan pada penelitian tersebut adalah kelayakan finansial dengan menggunakan kriteria finansial yaitu NPV, IRR, Net B/C, Payback Period, dan analisis sensitivitas dengan metode switching value. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, nilai NPV untuk skenario I, II, III adalah Rp. 1.117.985,71, Rp. 473.396.179,8, dan Rp. 318.640.378. Nilai IRR yang didapat dari skenario I, II, III adalh 39.17 persen, 22.52 persen, dan 36,69 persen. Nilai Net B/C yang didapat dr skenario I, II, dan III adalah 2.7, 1.7, dan 2.5. Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal pada skenario I, II, dan III adalah 3.06 tahun, 5.7 tahun, dan 3.3 tahun. Hasil analisis switching value menunjukkan bahwa rencana pengembangan usaha ini masih layak dijalankan saat terjadi penurunan harga penjualan sebesar 30.6171515 persen untuk skenario I, 17.0252197 persen untuk skenario II, dan 30.9858054 persen untuk skenario III. Selain itu, rencana pengembangan bisnis ini juga masih layak dilaksanakan saat terjadi kenaikan biaya variabel sebesar 90.25179222 persen untuk skenario I, 30.24456905 persen untuk skenario II, dan 80.55533169 persen untuk skenario III.

2.2.3. Studi Terdahulu di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta

Beberapa penelitian telah dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawabelong Jakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Aisah (2002) dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawabelong dengan judul Analisis Kelayakan Usaha Florist di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta. Penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan menganalisis aspek pasar, teknis, dan manajemen florist di Pasar Bunga Rawabelong, menganalisis kelayakan finansial usaha florist skala kecil dan usaha florist skala besar, dan menyarankan upaya pengembangan usaha florist yang layak. Metode penelitian yang digunakan oleh florist tersebut adalah metode Deskriptif untuk menganalisis aspek pasar, teknis, manajemen, dan finansial. Analisis finansial yang dilakukan menggunakan analisis NPV, Net B/C ratio, IRR, dan Payback Period. Hasil analisis aspek finansial usaha florist skala kecil pada tingkat suku bunga 17 persen diperoleh NPV sebesar Rp. 89.464.717.87, Nilai Net B/C ratio sebesar 0.87 dan IRR sebesar 3 persen. Modal


(14)

14 tidak dapat kembali selama umur usaha. Sedangkan untuk usaha florist skala besar NPV Rp. 3.138.700.644.07, Nilai Net B/C ratio sebesar 1.59, dan IRR sebesar 69 persen. Modal dapat kembali setelah bisnis berjalan selama 10 bulan 3 hari. Hasil perhitungan sensitivitas menunjukkan usaha florist skala besar sangat sensitif terhadap perubahan harga output dan input. Analisis aspek manajemen menunjukkan bahwa manajemen yang ada kurang layak. Aspek pemasaran, sistem pemasaran juga masih perlu diperbaiki, terutama pada sisi SDM, promosi, dan sedikit mutu produk.

Penelitian yang juga dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawabelong Jakarta adalah Peramalan Penjualan Bunga Potong pada Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias, Rawa Belong, Jakarta Barat. Penelitian tersebut dilakukan oleh Anwari (2006). Tujuan dilakukannya penelitian tersebut adalah mengidentifikasi pola atau perilaku penjualan bunga potong di PPBTH Rawabelong, membandingkan beberapa metode peramalan time series sehingga diperoleh metode peramalan yang terbaik dan sesuai untuk meramalkan penjualan bunga potong serta hasil peramalannya di PPBTH Rawabelong sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan bisnis untuk masa yang akan datang. Pada penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah metode Naïve, metode rata-rata sederhana, metode rata- rata bergerak ganda, metode pemulusan eksponensial tunggal, pemulusan eksponensial ganda-brown, pemulusan eksponensial-Holt, Winter Multiplikatif dan Aditif, Dekomposisi Multiplikatif dan Aditif serta metode ARIMA. Berdasarkan hasil analisis pada penelitian tersebut, maka diperoleh bahwa metode yang sesuai digunakan adalah metode Winter’s Multiplikatif. Hasil peramalan yang diperoleh bahwa penjualan aster dan krisan untuk 22 periode kedepan (minggu pertama Agustus 2006 hingga minggu keempat 2006) relatif menurun. Diduga sementara yang mempengaruhi hal tersebut adalah trend penggunaan daun pelengkap lebih banyak pada komposisi rangkaian dekorasi pernikahan (konsep hijauan), dan adanya pesaing diluar PPBTH.

Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian mengenai Risiko Harga pada Bunga Krisan Cipanas dan Krisan pt di Pasar Binga Rawabelong, Jakarta Barat.


(15)

15 Penelitian ini memiliki kesamaan terhadap penelitian-penelitian terdahulu, ada yang memiliki kesamaan dalam hal topik, komoditas, ataupun lokasi penelitian. Namun, terdapat perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terutama pada topik risiko harga, yaitu terdapat pada objek yang diteliti. Pada penelitian ini objek yang diteliti adalah bunga krisan yang merupakan komoditas unggulan florikultura. Sedangkan pada penelitian terdahulu, lebih banyak berfokus pada komoditas sayur-sayuran seperti cabai, kubis, bawang merah, dan lain-lain. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang mengenai bunga krisan adalah terdapat pada topik yang dibahas. Pada penelitian sebelumnya bunga krisan diteliti dari segi strategi pengembangan usaha dan kelayakan usaha dari bunga krisan. Dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang berlokasi di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta adalah pada topik yang diteliti. Di Rawabelong sebelumnya telah dibahas kelayakan usaha florist di Rawabelong dan peramalan penjualan bunga potong.


(16)

16

III.

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Risiko

Risiko memiliki beberapa pengertian, menurut Harwood (1999) risiko merupakan kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku bisnis yang mengalaminya. Menurut Kountur (2004), risiko berhubungan dengan ketidakpastian, ketidakpastian ini akibat dari kurangnya atau tidak tersedianya informasi yang menyangkut dengan apa yang akan terjadi. Sedangkan Robison dan Barry (1987) menyatakan bahwa risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman. Risiko juga menunjukkan peluang terjadinya peristiwa-peristiwa yang menghasilkan pendapatan diatas atau dibawah rata-rata dari pendapatan yang diharapkan. Secara umum, risiko dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : 1. Risiko Spekulatif (speculative risk)

Risiko spekulatif adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan, yaitu kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan. Risiko ini biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis. Beberapa jenis risiko yang tergolong dalam risiko spekulatif adalah risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

2. Risiko Murni (pure risk)

Risiko murni adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan, yaitu kemungkinan rugi saja. Beberapa jenis risiko dari risiko murni yaitu risiko aset fisik, risiko karyawan, dan risiko legal.

Analisis risiko berhubungan dengan teori pengambilan keputusan (decision theory) berdasarkan konsep expected utility model (Robison dan Barry 1987). Dalam menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko dapat menggunakan expected utility model. Model ini digunakan karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model, yaitu bahwa yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) tetapi kepuasan (utility). Hubungan fungsi kepuasan dengan pendapatan adalah berhubungan positif,


(17)

17 dimana jika tingkat kepuasan meningkat maka pendapatan yang akan diperoleh juga meningkat.

Risiko adalah konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan. Seluruh kegiatan yang dilakukan baik perorangan atau perusahaan juga mengandung risiko. Kegiatan bisnis sangat erat kaitannya dengan risiko. Risiko dalam kegiatan bisnis juga dikaitkan dengan besarnya return yang akan diterima oleh pengambil risiko. Semakin besar risiko yang dihadapi umumnya dapat diperhitungkan bahwa return yang diterima juga akan lebih besar. Pola pengambilan risiko menunjukkan sikap yang berbeda terhadap pengambilan risiko.

Perilaku pembuat keputusan dalam menghadapi risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori (Robison dan Barry 1987), yaitu :

1. Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk aversion). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menaikkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan ukuran tingkat kepuasan.

2. Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menurunkan keuntungan yang diharapkan.

3. Pembuat keputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menurunkan atau menaikkan keuntungan yang diharapkan

3.1.2. Risiko Pertanian

Risiko pertanian merupakan beragam risiko yang dihadapi dibidang pertanian yang muncul dari berbagai sumber-sumber penyebab munculnya risiko. Harwood (1986) menjelaskan bahwa terdapat lima sumber utama yang menyebabkan munculnya risiko pada pertanian, yaitu :


(18)

18 1. Risiko Produksi atau Hasil Panen

Risiko produksi dapat terjadi karena disebabkan oleh kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kejadian tersebut seperti cuaca yang sering berubah-ubah tidak menentu, suhu yang ekstrim, hama, dan penyakit. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan mempengaruhi masa panen dan dapat menyebabkan hasil produksi yang tidak menentu. Sehingga, hal tersebut secara langsung akan mempengaruhi pendapatan petani.

2. Risiko Harga atau Pasar

Harga atau risiko pasar mencerminkan risiko yang terkait dengan perubahan dalam harga output atau input yang mungkin terjadi setelah komitmen untuk produksi telah dimulai. Risiko pasar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kondisi permintaan dan penawaran di pasar. Kondisi permintaan atau penawaran yang tersebut akan mempengaruhi tingkat pendapatan yang akan diperoleh petani dan pedagang. Oleh karena itu, secara tidak langsung risiko pasar sangat mempengaruhi pendapatan yang akan diterima petani dan pedagang. 3. Risiko Kelembagaan

Risiko karena kelembagaan terjadi karena adanya hasil dari perubahan dalam kebijakan dan peraturan, sehingga berpengaruh pada pertanian. Contohnya adalah perubahan peraturan pemerintah tentang penggunaan pestisida pada tanaman atau obat-obatan pada ternak. Dengan adanya kebijakan tersebut dapat mengubah biaya produksi seperti meningkatkan harga komoditas, sehingga membuat permintaan menurun dan pendapatan berkurag. Risiko akibat kelembagaan lainnya yang mungkin timbul dari adanya perubahan kebijakan adalah pembatasan dalam praktek konservasi atau penggunaan lahan, perubahan pajak penghasilan kebijakan, kebijakan kredit, dan lain-lain.

4. Risiko Personal

Petani juga merupakan salah satu penyebab terjadinya risiko atau dapat disebut juga risiko yang diakibatkan oleh manusia. Kejadian-kejadian yang tidak terduga seperti kematian, kecelakaan, kesehatan dapat mempengaruhi perusahaan. Kejadian tersebut dapat berpengaruh pada sistem kinerja pada perusahaan, seperti menurunnya produktivitas. Selain itu, adanya kelalaian manusia seperti


(19)

19 kebakaran, kehilangan atau kerusakan, pencurian juga merupakan penyebab risiko yang dapat merugikan perusahaan.

5. Risiko Finansial

Risiko ini dapat terjadi karena adanya peminjaman yang dilakukan oleh petani. Adanya pinjaman tersebut, membuat petani harus menyisihkan pendapatannya untuk membayar hutang. Risiko ini terjadi ketika petani tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana perubahan suku bunga dimasa yang akan datang, atau ketidaktahuan tentang sistem peminjaman yang ditawarkan. Sehingga, dengan ketidaktahuan tersebut, petani tidak dapat melunasi hutang-hutangnya.

3.1.3. Konsep Permintaan dan Penawaran

Firdaus (2008) menyatakan bahwa permintaan merupakan keinginan konsumen untuk membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu. Ahli ekonomi mengatakan bahwa permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan dari hubungan antara harga dan jumlah permintaan. Sedangkan jumlah barang yang diminta dimaksudkan sebagai banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan antara lain harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, tingkat pendapatan per kapita, selera atau kebiasaan, jumlah penduduk, perkiraan harga di masa mendatang, distribusi pendapatan, dan usaha-usaha produsen meningkatkan pendapatan.

Permintaan yang dinyatakan dalam hubungan matematis dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya disebut sebagai fungsi permintaan. Dengan fungsi permintaan, dapat diketahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas. Persamaan fungsi permintaan dapat disusun sebagai berikut :

Dx = f (Px, Py, Y, T, N) dimana :

Dx = permintaan akan barang x Px = harga x

Py = harga y


(20)

20 T = selera

N = jumlah penduduk

Dx merupakan variabel tidak bebas, karena besar nilainya ditentukan oleh variabel lain. Px, Py, Y, T, N adalah variabel bebas karena besar nilainya tidak tergantung besarnya variabel lain. Tanda positif dan negatif menunjukkan pengaruh masing-masing variabel babas terhadap permintaan akan barang x. Pada hakikatnya, hukum permintaan menyatakan bahwa makin rendah harga suatu barang, maka semakin banyak permintaan atas barang tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika semakin tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit permintaan atas barang tersebut (Firdaus 2008).

Untuk menciptakan terjadinya suatu transaksi dalam sebuah pasar tidak hanya permintaan yang diperlukan, namun juga diperlukan penawaran. Menurut McConnel dan Brue (1990), penawaran adalah sebuah daftar yang menunjukkan jumlah suatu produk yang ingin dan dapat diproduksi oleh produsen dan tersedia di pasar pada harga dan waktu tertentu. Dalam analisis ekonomi, jumlah barang yang ditawarkan berarti jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu. Sedangkan penawaran berarti keseluruhan dari kurva penawaran. Faktor-faktor yang menentukan tingkat penawaran adalah harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, harga faktor produksi, biaya produksi, teknologi produksi, jumlah pedagang atau penjual, tujuan perusahaan, dan kebijakan pemerintah.

Penawaran yang dinyatakan dalam hubungan matematis dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya disebut sebagai fungsi penawaran. Penawaran secara matematis yang menjelaskan hubungan antara tingkat penawaran dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran adalah sebagai berikut :

Sx = f(Px, Py, Pi, C, tek, ped, tuj, kebij) dimana :

Sx = penawaran atas barang x Px = harga x

Py = harga y

Pi = harga input/ faktor produksi C = biaya produksi


(21)

21 tek = teknologi produksi

ped = jumlah pedagang/ penjual tuj = tujuan perusahaan

kebij = kebijakan pemerintah

Pada dasarnya, hukum penawaran manyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang maka semakin banyak jumlah barang tersebut yang akan ditawarkan oleh para penjual. Dan sebaliknya, jika senakin rendah harga suatu barang maka semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan oleh penjual (Firdaus 2008).

3.1.4. Ketidakstabilan Harga Barang Pertanian

Dalam jangka pendek harga hasil pertanian cenderung mangalami fluktuasi yang sangat besar. Harga mencapai tingkat yang tinggi sekali pada suatu saat dan mengalami kemerosotan yang tajam pada saat berikutnya. Ketidakstabilan harga tersebut dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran barang pertanian yang sifatnya tidak elastis. Sifat ini menyebabkan perubahan yang sangat besar atas tingkat harga apabila permintaan atau penawaran mengalami perubahan. Faktor yang menyebabkan ketidakstabilan harga pertanian dalam jangka pendek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) fluktuasi permintaan, dan (2) fluktuasi penawaran.

(1) Fluktuasi Permintaan

Dalam jangka panjang maupun jangka pendek, permintaan akan barang pertanian bersifakt tidak elastis. Dalam jangka panjang disebabkan elastisitas pendapatan dari permintaan barang-barang pertanian rendah, yaitu kenaikan pendapatan hanya menimbulkan kenaikan yang kecil atas permintaan. Dalam jangka pendek tidak elastis karena sebagian besar barang-barang hasil pertanian merupakan barang kebutuhan pokok yang harus digunakan setiap hari.

Setiap perekonomian tidak selalu mencapai tingkat kegiatan yang tinggi, adakalanya mengalami resesi dan kemunduran, atau mencapai tingkat ekonomi yang tinggi. Perubahan tersebut akan mempengaruhi permintaan barang atau jasa, termasuk hasil pertanian. Perubahan permintaan yang disebabkan oleh naik turunnya kegiatan ekonomi ini akan menimbulkan perubahan harga. Akan tetapi,


(22)

22 sifat perubahan harga ini berbeda untuk berbagai jenis barang. Barang-barang pertanian cenderung mengalami perubahan harga yang lebih besar daripada harga barang-barang industri. Sifat perubahan seperti itu disebabkan penawaran harga barang-barang pertanian, seperti juga dengan sifat permintaannya adalah tidak elastis. Ketidakstabilan penawaran barang pertanian yang diikuti dengan ketidakelastisan permintaannya menyebabkan perubahan harga yang sangat besar apabila terjadi perubahan permintaan.

a. Barang Pertanian b. Barang Industri Gambar 3. Akibat Perubahan Harga Terhadap Harga

Sumber : Firdaus (2008)

Dari Gambar 3 dapat dijelaskan bahwa pada tingkat perubahan permintaan yang sama (kurva D menjadi D1), tetapi perubahan tingkat penawaran yang berbada -dimana elastisitas barang industri lebih elastis daripada barang pertanian- menyebabkan harga barang di sektor pertanian mengalami penurunan yang jauh lebih basar daripada harga barang di sektor industri (Firdaus 2008). (2) Fluktuasi Penawaran

Penawaran dan permintaan barang-barang pertanian barsifat tidak elastis. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penawaran barang-barang pertanian bersifat tidak elastis, yaitu sebagai berikut :

a. Barang pertanian sangat tergantung oleh faktor alam dan dihasilkan secara musiman.

b. Kapasitas memproduksi sektor pertanian cenderung untuk mencapai tingkat yang tinggi dan tidak terpengaruh oleh perubahan permintaan

Ep1 P

p1

q q1

Dp1 Ep Dp S Q O p P Ei1 P

Q Q

Di1 Ei D S Q O P


(23)

23 Tingkat produksi sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh faktot-faktor yang berada di luar kemampuan para petani untuk mengendalikannya. Pada umumnya produksi hasil pertanian selalu berubah-ubah dari satu musim ke musim lainnya. Perubahan musim dipengaruhi oleh cuaca, iklim, dan faktor alamiah lainnya. Selain itu, serangan hama dan penyakit dapat mempengaruhi produksi hasil pertanian. Faktor-faktor tersebut menyebabkan perubahan yang relatif besar jika dibandingkan dengan perubahan produksi kegiatan industri.

Permintaan akan barang-barang pertanian yang tidak elastis menyebabkan harga mengalami perubahan yang sangat besar jika penawaran hasil pertanian mengalami perubahan.

a. Barang Pertanian b. Barang Industri Gambar 4. Akibat Perubahan Penawaran Terhadap Harga

Sumber : Firdaus (2008)

Dari Gambar 4, terlihat bahwa pada tingkat perubahan penawaran yang sama (kurva S menjadi S1), tetapi perubahan tingkat permintaan yang berbeda - dimana elastisitas barang industri lebih elastis daripada barang hasil pertanian - menyebabkan harga barang di sektor pertanian mengalami penurunan yang jauh lebih basar daripada harga barang di sektor industri (Firdaus 2008).

3.1.5. Strategi Mengatasi Risiko

Risiko atau ketidakpastian dalam agribisnis dapat terjadi kapanpun. Risiko tersebut diantaranya adalah bencana alam, gagal panen, kecelakaan, perubahan harga, perubahan selera konsumen, dan lain-lain. Adanya risiko-risiko tersebut memberikan ancaman bagi para pelaku agribisnis yang mengakibatkan pada

Dp

Ep1 P

p1

q q1

S

Ep

S1

Q O

p Ei

Ei1 P

P

q q

S S

Q O

P


(24)

24 menurunnya pendapatan petani atau pedagang. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya atau strategi untuk mengatasi risiko yang mungkin terjadi itu.

Harwood (1999) mangatakan bahwa pertanian memiliki empat risiko yang biasanya dihadapi yaitu risiko produksi, risiko pasar, risiko hukum, dan risiko personal. Menurut Gumbira el al. (2004), terdapat upaya yang dapat dilakukan oleh pelaku agribisnis untuk mentrasfer risiko dan mengurangi dampak suatu risiko terhadap kelangsungan usahanya. Gumbira et al. (2004) juga mengatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi risiko pasar atau risiko harga terdapat beberapa cara, yaitu :

1. Diversifikasi

Diversifikasi merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi dampak negatif atau risiko yang dihadapi oleh seorang pengusaha agribisnis. Bergerak pada lini usaha yang memiliki risiko yang berbeda memungkinkan kerugian yang diderita oleh pengusaha pada suatu lini produk tertentu dapat ditutupi dengan keuntungan pada lini produk lainnya.

2. Integrasi Vertikal

Integrasi vertikal dapat berarti mikro dan makro. Dalam arti mikro, integrasi vertikal berarti suatu perusahaan yang bergerak pada dua atau lebih level dalam suatu sistem komoditas. Sedangkan, dalam arti makro berarti dua atau lebih perusahaan memiliki keterkaitan bisnis yang kuat dalam suatu sistem komoditas tertentu. Integrasi vertikal tersebut dapat berupa diversifikasi usaha dalam suatu sistem komoditas atau melakukan kerjasama yang kuat dengan pelaku bisnis lainnya dalam komoditas tersebut. Dengan adanya integrasi vertikal tersebut dapat menjamin risiko kekurangan bahan baku, menjamin pemasaran produk, melindungi diri dari perilaku pesaing yang dapat membahayakan kelanjutan usaha, melindungi diri dari permainan yang tidak adil oleh pelaku bisnis dari level yang lain dalam suatu sistem komoditas, dan lain-lain.

3. Penerapan Teknologi

Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dapat dimanfaatkan para petani atau pengusaha agrinisnis sebagai suatu alat meminimalisir risiko dengan menerapkan sistem teknologi yang tepat. Hal tersebut dapat menyebabkan


(25)

25 produktivitas sumberdaya meningkat sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha yang dapat menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasaran.

4. Kontrak di Muka (forward contracting)

Kontrak dimuka adalah suatu proses persetujuan pengiriman produk pada masa mendatang dengan harga yang telah ditetapkan sekarang. Dengan sistem ini, produsen mempunyai kewajiban untuk mengirimkan produk pada waktu yang telah disepakati bersama dan pembeli harus menerima produk tersebut sesuai perjanjian. Dengan adanya sistem ini, maka kepastian harga akan lebih terjamin bagi produsen. Fluktuasi harga yang akan terjadi tidak akan mempengaruhi tingkat harga yang telah disepakati pada saat persetujuan kontrak dibuat. Sehingga, produsen bisa meminimalisir risiko harga yang akan mereka hadapi seperti fluktuasi harga di masa yang akan datang.

5. Pasar Masa Depan (future market)

Future Market adalah suatu sistem pasar yang menyediakan fasilitas untuk menanggapi perdagangan secara cepat dalam unit produk terstandarisasi dalam mutu dan jumlah yang akan dikirim pada masa yang akan datang. Pada pasar masa depan ini, para pedagang menjual barangnya namun melalui sistem perjanjian atau kontrak, dimana barang atau komoditas akan dikirim pada masa yang telah ditentukan. Future market ini memiliki manfaat dalam mengurangi risiko dimana para pedagang sudah memiliki kepastian tentang siapa, berapa, dan kapan komoditasnya akan terjual.

6. Usaha Perlindungan (Hedging)

Hedging adalah suatu upaya perlindungan risiko transaksi dalam cash market dengan forward contracting yang menggunakan future market dan mengambil posisi yang sama besar, tetapi berlawanan pada cash market dan future market secara simultan. Hedging adalah sarana untuk mentransfer risiko dan memupuk keuntungan. Dengan adanya hedging, risiko dapat diminimalisir dengan cara mentransfer risiko. Selain itu, hedging juga membantu dalam hal memperoleh keuntungan yang lebih.


(26)

26 7. Pasar Opsi (option market)

Pasar opsi merupakan tempat dimana terjadinya transaksi jual-beli yang memberikan hak kepada pembeli opsi untuk memilih posisi sebagai pembeli, penjual future contract, atau tidak memilih sama sekali. Pada pasar opsi, para pembeli opsi dapat membeli atau menjual future contract pada waktu tertentu, pada masa yang akan datang untuk suatu tingkat harga yang telah disepakati pada saat opsi dibeli. Pasar opsi ini bertujuan untuk menghindari risiko dan biaya yang besar karena kemungkinan terjadinya kesalahan proyeksi mengenaik arah pergerakan harga.

3.1.6. Analisis Risiko

3.1.6.1.Metode ARCH-GARCH

Vose (2008) menyatakan bahwa model ARCH dikembangkan untuk menghitung dengan memungkinkan pengelompokan periode volatilitas (heteroskedastisitas, atau data yang memiliki varians yang berbeda). Salah satu asumsi dalam model regresi yang sebelumnya digunakan untuk analisis frekuensi tinggi data keuangan adalah bahwa istilah kesalahan memiliki varians konstan. Engle seseorang yang memenangkan Nobel Memorial Prize for Economics ditahun 1982, memperkenalkan model ARCH dan menerapkan model ARCH kedalam data inflasi kuartalan Inggris. ARCH kemudian digeneralisasi ke GARCH oleh Bollerslev, yang telah terbukti lebih berhasil dalam menyesuaikan terhadap data keuangan. Bollerslev membiarkan residuals kembali, dan membuktikan bahwa rt = μ + σtzt , dimana zt adalah variabel independen, terdistribusi normal (0,1).

Dimana ω > 0, ai > 0, i = 1, …, q dan yang terakhir ai > 0. Kemudian, rt dikatakan mengikuti autoregressive conditional hateriskedastic, ARCH (q), yang di proses oleh μ. Model ini adalah ragam dari error yang memiliki fungsi varian dari error sebelumnya (rt-1 - μ). Nilai ai > 0, ini mempunyai efek dalam menentukan pengelompakan volatilitas yang rendah atau tinggi.


(27)

27 Jika ARMA (autoregressive moving average) diasumsikan untuk varian, maka rt dikategorikan dalam generalised autoregressive conditional heteroskedastic atau GARCH (p,q) dengan model :

dimana p menggambarkan nilai GARCH, dan q menggambarkan nilai dari ARCH, ω > 0, ai > 0, i = 1, …, q; bj > 0, j = 1, …, p dan nilai ai atau bi > 0.

Dalam penerapannya, model yang sering digunakan adalah GARCH (1,1):

3.1.6.2.Perhitungan VaR

Value At Risk adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu/periode tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Konsep VAR berdiri di atas dasar observasi statistik atas data-data historis dan relatif dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang bersifat obyektif. VaR dapat dikatakan merangkum seluruh substansi yang ingin ditangkap dari alat-alat atau metode-metode tersebut. VaR juga mengakomodasi kebutuhan untuk mengetahui potensi kerugian atas nilai tertentu. Perhitungan VaR dengan periode waktu yang berbeda-beda yaitu satu hari, tujuh hari dan 30 hari. Secara matematis VaR dapat didefinisikan sebagai berikut (Jorion 2002) :

dimana :

VaR = besarnya risiko B = Periode investasi

Zα = Titik kritik dalam tabel Z dengan selang kepercayaan 95 persen W = Besarnya investasi


(28)

28 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias Rawabelong merupakan instlasi Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta. Di instalasi ini merupakan pusat transaksi bunga potong baik bunga gunung, anggrek, bunga tabur, daun pelengkap rangkaian maupun aksessorisnya. Transaksi perdagangan bunga beserta aksessorisnya yang terjadi di Pasar Bunga Rawabelong mulai dari eceran sampai dengan jumlah besar.

Bunga krisan merupakan komoditas florikultura unggulan yang banyak ditanam dan dikembangkan oleh petani di Indonesia. Bunga krisan merupakan salah satu bunga yang ditawarkan di Pasar Bunga Rawabelong. Secara umum, harga bunga krisan cenderung berfluktuasi. Hal tersebut dikarenakan penawaran dan permintaan untuk bunga krisan sering berubah-ubah. Selain dipengaruhi oleh jumlah penawaran dan permintaannya, harga bunga krisan juga dipengaruhi oeh beberapa faktor yang lainnya. Kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan ketidakpastian pada petani dan pedagang, terutama ketidakpastian pendapatan.

Berdasarkan data harga bunga krisan rata-rata yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong, harga bunga krisan cenderung mengalami fluktuasi yang cukup tinggi, kondisi tersebut dapat terlihat dari harga bunga krisan yang berubah-ubah setiap minggunya. Selain itu, terlihat bahwa terdapat selisih harga yang besar antara harga bunga krisan yang tertinggi dan harga bunga krisan yang terendah. Adanya kondisi yang tidak menentu tersebut, menunjukkan bahwa terdapat risiko yang harus ditanggung oleh pihak-pihak terkait yang mengusahakan komoditas tersebut seperti para pedagang bunga krisan, yang berarti bahwa adanya kemungkinan kerugian yang harus ditanggung para pedagang dalam mengusahakan bisnisnya.

Oleh karena itu, diperlukan pengukuran risiko untuk mengukur tingkat risiko yang dihadapi para pedagang bunga krisan. Dengan pengukuran risiko, diharapkan dapat membantu para pedagang bunga krisan untuk mengetahui besarnya risiko yang akan dihadapi serta mengetahui bagaimana cara meminimalisir risiko tersebut.


(29)

29 Pengukuran tingkat risiko yang dihadapi para pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong dapat dilakukan dengan metode peramalan time series ARCH-GARCH. Dengan metode peramalan time series ARCH-GARCH akan terbentuk sebuah model yang dapat meramalkan kondisi harga pada bunga krisan. Metode ARCH-GARCH tersebut juga berhubungan dengan pengukuran tingkat risiko yang disebut Value at Risk (VaR). Dengan mengetahui tingkat risiko yang akan dihadapi tersebut, maka dapat diketahui besarnya kemungkinan kerugian yang dihadapi pedagang. Selain itu juga dapat diketahui bagaimana strategi yang dilakukan pedagang dalam menghadapi atau meminimalisir risiko yang akan dihadapi oleh para pedagang bunga krisan. Sehingga, hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi para pedagang bunga krisan serta UPT Pasar Bunga Rawabelong selaku pengelola. Secara sistematik kerangka pemikiran operasional penelitian risiko harga pada bunga krisan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional

Fluktuasi Harga, Pasokan, dan Permintaan Bunga Krisan

Cipanas dan Krisan Pt

Risiko Harga Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt

Kerugian yang Dihadapi Pedagang Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt

Strategi Pedagang Bunga Krisan dalam Menghadapi atau

Meminimalisir Risiko

Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta


(30)

30

IV.

METODE PENELITIAN

4.1.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura terbesar di Jakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive), hal tersebut dikarenakan pasar kembang Rawabelong merupakan salah satu sentra pemasaran bunga grosir di pulau Jawa yang membuat pasar bunga ini dijadikan sebagai acuan dalam menentukan harga bunga dan tanaman hias.

4.2.Data dan Instrumentasi

Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari Kantor Pasar Bunga Rawa Belong Jakarta Barat berupa data time series harga harian (Rp/ikat), pasokan harian (ikat), serta permintaan harian (ikat) bunga krisan. Data harga harian merupakan data harga jual bunga krisan setiap harinya yang ditentukan oleh pedagang bunga krisan. Data pasokan harian merupakan data jumlah pasokan atau persediaan bunga krisan yang dimiliki oleh pedagang bunga krisan setiap harinya. Sedangkan data permintaan bunga krisan merupakan data jumlah permintaan atau jumlah pembelian bunga krisan yang dilakukan oleh konsumen setiap harinya. Jumlah data historis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data dalam kurun waktu dua tahun, yaitu sejak Januari 2010 hingga Desember 2011 atau sebanyak 720 data. Data tersebut dijadikan input untuk meramalkan model dan mengukur besarnya tingkat risiko harga bunga krisan.

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, misalnya dari individu atau perseorangan. Data primer penelitian ini diperoleh melalui hasil wawancara dengan dengan 30 pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong yang dipilih secara acak sebagai responden, serta pihak-pihak dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rawabelong, Jakarta Barat. Data primer digunakan sebagai analisis tambahan menginterpretasikan output risiko bunga krisan serta menganalisis bagaimana mencari solusi dalam mengurangi risiko. Selain data primer dan data


(31)

31 sekunder informasi lain juga diperoleh dari berbagai sumber, seperti referensi buku, Dirjen Holtikultura, Badan Pusat Statistik, Unit Promosi dan Pemasaran Holtikultura Rawa Belong, Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), penelitian kepustakaan, dan internet.

4.3.Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Metode analisis kuantitatif yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis risiko dengan menggunakan model ARCH-GARCH. Model ARCH-GARCH digunakan untuk meramalkan volatilitas periode selanjutnya dan perhitungan VaR yang digunakan untuk menganalisis besarnya tingkat risiko. Analisis data diolah dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel dan Eviews 6.

Analisis kualitatif dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk menganalisis alternatif strategi yang dihadapi oleh pedagang dalam mengatasi risiko harga pada bunga krisan di UPT Rawabelong. Analisis kualitatif ini menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong, serta pihak-pihak dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rawabelong, Jakarta Barat.

4.4.Model ARCH-GARCH

Model ARCH-GARCH biasanya digunakan untuk melihat volatilitas atau fluktuasi dari data-data ekonomi. Pada penelitian ini, model ARCH-GARCH digunakan untuk mengukur tingkat risiko harga pada bunga krisan cipanas dan krisan pt. Pengaplikasian model ARCH-GARCH terdapat lima tahapan yang harus terpenuhi asumsi-asumsinya. Tahapan-tahapan tersebut, yaitu :

1. Identifikasi efek ARCH.

Dalam permodelan ARCH-GARCH didahului dengan identifikasi apakah suatu data atau model persaman rataan yang diamati mengandung heteroskedastisitas atau tidak. Ini dilakukan antara lain dengan mengamati beberapa ringkasan statistik dari persamaan rataan tersebut. Sebagai contoh bila data atau model persamaan rataan memiliki nilai kurtosis lebih dari tiga


(32)

32 menunjukkan gejala awal adanya heteroskedastisitas (Davidson dan MacKinnon, 2004 dalam Firdaus, 2008). Selain itu, pengujian adanya efek ARCH pada suatu model persamaan dapat dilakukan dengan mengamati nilai autokorelasi kuadrat residual dari model persamaan tersebut. Fungsi autokorelasi kuadrat residual digunakan untuk mendeteksi keberadaan efek ARCH. Jika nilai autokorelasi kuadrat residual dari suatu persaman signifikan, maka nilai tersebut mengindikasikan bahwa pada model persamaan tersebut terdapat efek ARCH. Keberadaan efek ARCH ditunjukkan dengan nilai autokorelasi kuadrat residual yang signifikan pada 15 beda kala pertama yang diperiksa dari perilaku ACF dan PACFnya. Selain itu, cara yang lebih terkuantifikasi dalam menguji ada tidaknya ARCH error adalah dengan menggunakan uji White Heteroscedasticity.

2. Estimasi model

Pada tahapan ini dilakukan simulasi beberapa model ragam dengan menggunakan model rataan yang telah didapatkan. Kemudian dilanjutkan dengan pendugaan parameter model. Pendugaan parameter dimaksudkan untuk mencari koefisien model yang paling sesuai dengan data. Penentuan dugaan parameter ARCH-GARCH dilakukan dengan menggunakan metode kemungkinan maksimum secara iteratif. Dengan menggunakan Software Eviews 6, estimasi nilai-nilai parameter dapat dilakukan. Selanjutnya dilakukan pemilihan model terbaik. Kriteria model terbaik adalah memiliki ukuran kebaikan model yang besar dan koefisien yang nyata. Terdapat dua bentuk pendekatan yang dapat digunakan sebagai ukuran kebaikan model yaitu:

a. Akaike Information Criterion (AIC) AIC = Ln (MSE) + 2*K/N

b. Schwarz Criterion (SC)

SC = Ln (MSE) + [K*log (N)]/N dimana,

MSE = Mean Square Error

K = Banyaknya parameter yaitu (p+q+1) N = Banyaknya data pengamatan


(33)

33 SC dan AIC merupakan dua standar informasi yang menyediakan ukuran informasi yang dapat menemukan keseimbangan antara ukuran kebaikan model dan spesifikasi model yang terlalu hemat. Nilai ini dapat membantu untuk mendapatkan seleksi model yang terbaik. Model yang baik dipilih berdasarkan nilai AIC dan SC yang terkecil dengan melihat juga signifikansi koefisien model.

3. Evaluasi model

Pemeriksaan kecukupan model dilakukan untuk menguji asumsi, sehingga model yang diperoleh cukup memadai. Jika model tidak memadai, maka harus kembali ke tahap identifikasi untuk mendapatkan model yang lebih baik. Evaluasi model dilakukan dengan memperhatikan beberapa indikator, yaitu apakah residual sudah terdistribusi normal; keacakan residual yang dilihat dari fungsi autokorelasi kuadrat residual dan pengujian efek ARCH-GARCH dari residual.

Langkah awal yang dilakukan adalah memeriksa kenormalan galat baku model dengan uji Jarque-Bera. Uji Jarque-Bera digunakan untuk mengukur perbedaan antara Skewness (kemenjuluran) dan Kurtosis (keruncingan) dari data sebaran normal, serta memasukkan ukuran keragaman. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut :

H0 : Sisaan baku menyebar normal H1 : Sisaan baku tidak menyebar normal

Statistik uji Jarque-Bera (JB) dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

dimana,

S : kemenjuluran K : keruncingan

k : banyaknya koefisien penduga N : banyaknya data pengamatan

Pada kondisi hipotesis nol, JB memiliki derajat bebas 2. Tolak H0 jika JB > χ22 (α) atau jika P (χ22> JB) kurang dari α = 0,05 yang berarti bahwa data sisaan terbakukan tidak menyebar normal.


(34)

34 Model ARCH/GARCH menunjukkan kinerja yang baik jika dapat menghilangkan autokorelasi dari data. Langkah selanjutnya adalah memeriksa koefisien autokorelasi sisaan baku, dengan uji Ljung Box. Uji Ljung Box (Q*) pada dasarnya adalah pengujian kebebasan sisaan baku. Untuk data deret waktu dengan N pengamatan, statistik Ljung Box diformulasikan sebagai :

Dimana r1 (εt) adalah autokorelasi contoh pada lag 1 dan k adalah maksimum lag yang diinginkan. Jika nilai Q* lebih besar dari nilai χ22 (α) dengan derajat bebas k-p-q atau jika P(χ2(k-p-q) >Q*) lebih kecil dari taraf nyata 0,05 maka model tidak layak.

4. Peramalan

Setelah memperoleh model yang memadai, model tersebut digunakan untuk memperkirakan nilai volatilitas masa yang akan datang. Peramalan dilakukan dengan memasukkan parameter ke dalam persamaan yang diperoleh. Hasil peramalan digunakan untuk pembahasan lebih lanjut seperti perhitungan VaR. Tingkat risiko memiliki hubungan yang erat dengan metode ARCH-GARH yang sering digunakan jika terjadi ketidakhomogenan ragam atau varians dari data return dan menduga nilai volatility yang akan datang. Hal tersebut merupakan kelebihan metode ARCH-GARCH dibandingkan dengan penduga ragam atau varians biasa yang tidak mampu melakukan pendugaan ragam (varians) jika terjadi ketidakhomogenan data tidak terpenuhi.

Model ARCH (Autoregressive Conditional Heteroscedasticity) dikembangkan terutama untuk menjawab persoalan adanya volatilitas atau fluktuasi pada data ekonomi dan bisnis, khususnya dalam bidang keuangan. Volatilitas ini tercermin dalam varians residual yang tidak memenuhi asumsi homoskedastisitas (varians residual konstan sepanjang waktu).

Langkah awal untuk mengidentifikasi model ARCH-GARCH adalah dengan melihat ada tidaknya ARCH error dari data persamaan bunga krisan. Model ARCH-GARCH pada bunga krisan ini dibangun oleh variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen pada model ini adalah variabel tetap, yaitu harga bunga krisan (Pt). Sedangkan, variabel independen adalah


(35)

35 variabel yang mempengaruhi variabel dependen atau yang mempengaruhi harga bunga krisan, yaitu harga bunga krisan pada satu hari sebelumnya (Pt-1), permintaan bunga krisan (Dt), dan pasokan bunga krisan (Qt). Sehingga model persamaan harga bunga krisan yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Peramalan ragam untuk periode yang akan datang diramalkan dengan menggunakan rumus GARCH (1,1) sebagai berikut:

dimana:

Pt : Harga bunga krisan periode ke t (Rupiah/ikat)

Pt-1 : Harga bunga krisan pada periode satu hari sebelumnya (ikat) Qt : Jumlah pasokan bunga krisan (ikat)

Dt : Jumlah permintaan bunga krisan (ikat) B0, b1, b2, b3, α, β : Besaran parameter dugaan ht : Ragam pada periode ke t

: Volatilitas periode sebelumnya ht-1 : Varian periode sebelumnya C : Konstanta

: Error

4.5.Value at Risk (VaR)

Setelah diperoleh model ARCH-GARCH yang sesuai, maka dilakukan perhitungan VaR. Perhitungan VaR dilakukan dengan tujuan untuk menghitung risiko pasar (market risk) dan menghitung besarnya tingkat kerugian yang mungkin terjadi dalam waktu tertentu yang telah ditentukan, dengan tingkat kepercayaan tertentu. Perhitungan VaR yang dilakukan dalam penelitian ini, menggunakan periode penjualan 1 hari, 3 hari, dan 7 hari. Pemilihan periode tersebut dikarenakan daya tahan bunga krisan maksimal hingga tujuh hari, sehingga periode penjualan maksimal selama tujuh hari. Namun, pada beberapa pedagang ada yang menjual bunga krisannya dengan periode waktu maksimum penjualan selama tiga hari. Sehingga, rumus yang digunakan dalam perhitungan


(36)

36 VaR pada bunga krisan cipanas dan krisan pt ini adalah sebagai berikut (Jorion 2002):

Dimana :

VaR = besarnya risiko yang diterima pedagang bunga krisan cipanas/ pt b = periode penjualan bunga krisan cipanas/ pt

Zα = titik kritik dalam tabel Z dengan alfa 5%

W = besarnya investasi pedagang bunga krisan cipanas/ pt σt+1 = volatilitas yang akan datang dimana σt = √ht

4.6.Definisi Operasional

Beberapa istilah yang digunakan dalam analisis risiko harga bunga krisan dan anggrek, yaitu :

1. Risiko adalah suatu keadaan yang tidak pasti yang dihadapi seseorang atau perusahaan yang dapat memberikan dampak yang merugikan.

2. Manajemen risiko adalah cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko. 3. Heteroskedastisitas adalah varian dari setiap unsur disturbance yang

tergantung pada nilai yang dipilih dari variabel yang menjelaskan kevariansan (volatilitas) yang tidak konstan disetiap titik waktu.

4. Homoskedastisitas adalah varian dari tiap unsur disturbance, tergantung (conditional) pada nilai yang dipilih dari variabel yang menjelaskan suatu angka konstan yang sama dengan σ2

atau dengan kata lain variannya sama. 5. Kurtosis adalah ukuran keruncingan distribusi data, derajat atau ukuran

tinggi rendahnya puncak suatu distribusi data terhadap distribusi normal data.

6. Volatilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar harga berfluktuasi dalam suatu periode waktu.

7. Varian merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individual terhadap rata-rata kelompok. Variasi harga yang terjadi pada kurun waktu tertentu.


(37)

37 8. Error adalah perubahan-perubahan pergerakan harga pada kurun waktu

tertentu. Error menunjukkan adanya risiko.

9. Value at Risk (VAR) merupakan ukuran besarnya risiko.

10. ACF : Autocorrelation Function yaitu kumpulan koefisien korelasi untuk berbagai tingkatan beda kala antar variabel.

11. PACF : Parcial Autocorrelation Function yaitu kumpulan koefisien korelasi untuk berbagai tingkatan beda kala antar dua variabel.

12. ARCH-GARCH : Autoregressive Conditional Heteroscedasticity General Autoregressive Conditional Heteroscedasticity yaitu untuk menjawab persoalan adanya volatilitas pada data dimana volatilitas tercermin dalam varian residual yang tidak memenuhi asumsi homoskedastisitas.


(38)

38

V.

GAMBARAN UMUM PASAR BUNGA RAWABELONG

5.1. Pasar Bunga Rawabelong

5.1.1. Sejarah Pasar Bunga Rawabelong

Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu pasar yang dijadikan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura. Pada awalnya, para pedagang di Pusat Promosi Hortikultura ini merupakan pedagang kaki lima bunga dan tanaman hias yang berusaha di sepanjang jalan Rawabelong, Palmerah Selatan. Namun kemudian, Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 25 Juli 1989 meresmikan keberadaan Pasar Bunga Rawabelong ini dengan nama Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong. Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ini merupakan instalasi teknis dari Dinas Pertanian DKI Jakarta.

Seiring dengan perkembangannya, instalasi Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong ditetapkan menjadi salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 113 Tahun 2002 dengan nama “Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura”.

Sebagai UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta maka Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai visi, yaitu Mempertahankan dan Meningkatkan Eksistensinya sebagai Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura yang Unggul dan Prima dalam Memberikan Pelayanan Agribisnis. Dalam upaya untuk mewujudkan dan mendukung visi tersebut, maka misi yang dilakukan oleh UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta adalah :

a. Meningkatkan penampilan secara menyeluruh agar layak sebagai daerah tujuan wisata agro yang dapat diandalkan

b. Memberikan pelayanan dalam hal sarana dan prasarana serta informasi kepada para pelaku agribisnis baik produsen, konsumen, maupun masyarakat umum dalam menjalankan usahanya

c. Menciptakan kondisi usaha bisnis dalam bidang pertanian dan kehutanan yang lebih baik serta dalam suasana yang kondusif dengan


(39)

39 mengembangkan dan meningkatkan pola kemitraan, permodalan, pemasaran, serta promosi

d. Meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang hortikultura dengan jalan memotivasi dalam berusaha serta berupaya menjembatani pola kemitraan sehingga mampu mengembangkan usahanya yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan taraf hidupnya

5.1.2. Fungsi dan Tugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rawabelong

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No.113 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Dinas Kelautan dan Propinsi DKI Jakarta, maka UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) mempunyai tugas pokok “Melaksanakan Usaha Promosi dan pemasaran Hortikultura, Menyediakan dan Memberikan Fasilitas Layanan serta Mengelola Prasarana dan Sarana Promosi dan Pemasaran”. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, UPT Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura berusaha menyediakan berbagai jenis komoditas hortikultura dan jasa terkait hal tersebut.

5.1.3. Fasilitas Pasar Bunga Rawabelong

Untuk melakukan kegiatan pemasaran tersebut, UPT P3H didukung oleh para pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong. Para pedagang tersebut menempati kios-kios yang telah disediakan UPT P3H. Sampai saat ini jumlah pedagang yang terdapat di Pasar Bunga Rawabelong tersebut terdapat 137 pedagang. Tidak semua pedagang menjual jenis komoditas, terdapat beberapa pedagang yang menjual jasa yang terkait dengan hortikultura.

Pasar Bunga Rawabelong memiliki berbagai macam fasilitas layanan umum yang mendukung semua aktivitas di Rawabelong. Pada awal berdirinya, fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa belong hanya diperuntukkan untuk bunga potong. Kemudian dalam perkembangannya, mulai tahun 2005 hingga 2008 telah dibangun sarana dan prasarana usaha dan perlengkapan pendukung. Sarana dan prasarana usaha serta perlengkapan pendukung itu sendiri terbagi menjadi dua


(40)

40 wilayah, yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Di wilayah selatan, luas lahan yang ada seluas 6.447 m2 yang terdiri atas bangunan kios dan los, bangunan kantor dan laboratorium kultur jaringan, bangunan workshop, dan bangunan jembatan penghubung kios-kios dengan laboratorium kultur jaringan. Sedangkan di wilayah utara, luas lahan yang dimiliki sebesar 5.970 m2 yang digunakan untuk bangunan kios dan los bunga, bangunan parkir, dan bangunan gardu listrik PLN.

Kios atau tempat usaha yang tersedia di Pasar Bunga Rawabelong merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Namun, kios-kios tersebut memiliki status kepemakaian. Status kios yang ada di Rawabelong terdiri dari dua status, yaitu hak pakai dan menyewa. Kios yang berstatus hak pakai merupakas fasilitas sarana dan prasarana yang diberikan oleh pemerintah dengan pengawasan dan bimbingan Dinas Pertanian DKI Jakarta. Sedangkan kios dengan status sewa adalah tempat usaha yang disewakan dengan biaya retribusi yang harus dibayarkan setiap bulannya. Walaupun demikian, kios-kios tersebut harus mengikuti persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah dengan memperpanjang izin dalam penggunaan lahan dan bangunan tempat usaha di UPT Rawabelong setiap dua tahun sekali pada Dinas Pertanian DKI Jakarta.

5.1.4. Kegiatan di Pasar Bunga Rawabelong

Kegiatan jual-beli di Pasar Bunga Rawabelong berlangsung setiap hari selama 24 jam, mulai Senin hingga Minggu. Kegiatan jual-beli secara grosir terjadi pada pukul 02.00 hingga pukul 06.00 pagi. Setiap pagi sejumlah pemasok bunga dan tanaman hias datang ke Pasar Bunga Rawabelong untuk memasok bunganya ke beberapa pedagang. Walaupun pemasok datang setiap hari, namun para pedagang tidak setiap hari membeli bunga dari para pemasok tersebut. Para pedagang memiliki hari-hari tertentu untuk memasok. Biasanya, para pedagang mengambil pasokan bunga setiap seminggu tiga kali, namun ada pula yang seminggu dua kali. Jumlah pasokan yang dipasok ke para pedagang memiliki jumlah yang tetap setiap saat sesuai dengan perjanjian dengan para pemasok masing-masing. Semua pasokan bunga dan tanaman hias yang diperoleh pedagang berasal dari berbagai macam daerah. Daerah yang banyak memasok ke Pasar


(1)

73 Lampiran 9. Perhitungan VaR untuk Bunga Krisan Cipanas

Indikator Bunga Krisan Cipanas Periode ke -

1 3 7

W Rp. 2.450.000 Rp. 2.450.000 Rp. 2.450.000

σt+1 0.0619 0.0619 0.0619

Z 1.645 1.645 1.645

VaR 249.472 432.099 660.042

Lampiran 10. Perhitungan VaR untuk Bunga Krisan Pt

Indikator Bunga Krisan Cipanas Periode ke -

1 3 7

W Rp. 2.450.000 Rp. 2.450.000 Rp. 2.450.000

σt+1 0.0857 0.0857 0.0857

Z 1.645 1.645 1.645


(2)

74 Lampiran 11. Kuisioner Penelitian

KUESIONER PENELITIAN

ANALISIS RISIKO HARGA BUNGA KRISAN NAMA/ NRP : PUTRI NURSAKINAH/ H34080070 DEPARTEMEN AGRIBISNIS, FAKULTAS EKONOMI DAN

MANAJEMEN, INSTITUT PERTANIAN BOGOR Nama :

Usia :

Nama Florist :

1. Jenis bunga krisan apa yang biasanya anda beli untuk anda jual? a. Krisan cipanas b. krisan Pt

2. Apakah anda melakukan kemitraan dalam membeli bunga krisan?

a. Ya, bagaimana? …

b. Tidak

3. Bagaimana sistem anda dalam mendapatkan pasokan bunga krisan ini? a. Membeli dari pedagang d. membeli dari petani langsung b. Membeli dari tengkulak e. melakukan sistem konsingasi c. Lainnya…

4. Seberapa sering anda membeli bunga krisan?

a. Setiap hari b. 3 hari sekali c. seminggu sekali d. lainnya …

5. Berapa banyak (ikat) anda biasanya membeli bunga krisan? a. 10 ikat b. 30 ikat c. 50 ikat d. lainnya…

6. Berapa biaya yang anda keluarkan untuk membeli bunga krisan tersebut? Rp. ………../ ikat/ hari

7. Berapa jumlah bunga krisan yang terjual per harinya? a. 10-50 ikat b. 50-100 ikat c. 100-150 ikat d. lainnya …


(3)

75 8. Berapa pendapatan sehari-hari yang anda peroleh dari menjual bunga

krisan?

Rp. ………/ hari

9. Berapa lama daya tahan bunga krisan yang anda akan jual? a. Sehari b. dua hari c. tiga hari d. lainnya …

10. Jika bunga krisan tidak terjual dalam jangka waktu tersebut, maka bunga krisan akan …

a. Tetap dijual b. dibuang c. diolah menjadi produk lain d. lainnya …

11. Apakah anda melakukan kemitraan dengan pihak konsumen (seperti perusahaan, florist lain)?

a. Ya, sebutkan …

b. Tidak

12. Apakah pasokan bunga krisan cukup sulit untuk didapatkan setiap harinya?

a. Ya b. Tidak

13. Apakah anda melakukan kemitraan dengan pihak pemasok untuk menghindari kesulitan pasokan?

a. Ya, sebutkan …

b. Tidak

13. Apakah harga bunga krisan cenderung berubah-ubah ? a. Ya

b. Tidak

14. Pada situasi apakah bunga krisan memiliki harga yang tinggi ? ……….

15. Pada situasi apakah bunga krisan memiliki harga yang rendah ? ……….

12. Apakah kendala yang anda hadapi dalam menjual bunga krisan? 1. …


(4)

76 3. …

4. … 5. …

13. Bagaimana upaya anda dalam menghadapi kendala tersebut? 1. …

2. … 3. … 4. … 5. …

14. Bagaimana upaya anda terhadap tidak menentunya pasokan bunga krisan? ……… ……… ……… ……… ……… 15. Bagaimana upaya anda dalam menghadapi masalah harga bunga krisan

yang sering berubah-ubah?

……… ……… ……… ……… ……… ……… 16. Apakah telah ada upaya dari UPT rawabelong terkait dengan risiko yang

anda hadapi?

a. Ya, ada. Sebutkan …

b. Tidak ada.

17. Apakah terdapat manfaat yang anda rasakan dengan adanya UPT rawabelong?

a. Ya, ada. Sebutkan b. Tidak ada.


(5)

B

RINGKASAN

PUTRI NURSAKINAH. Risiko Harga Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HENY K. DARYANTO)

Hortikultura merupakan salah satu subsektor unggulan dalam sektor pertanian di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari kontribusi hortikultura pada pendapatan nasional yang terlihat pada nilai produk domestik bruto (PDB) hortikultura yang meningkat. Pada tahun 2007, PDB hortikultura sebesar Rp 76,79 trilliun, dan pada tahun 2008 PDB Hortikultura sebesar Rp 80,29 trilliun. Florikultura merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura dimana ASBINDO mengklasifikasikannya menjadi tanaman hias dan bunga potong. Salah satu jenis bunga yang semakin banyak dikenal dan semakin banyak penggunaannya saat ini adalah bunga krisan.

Penggunaan bunga krisan yang semakin meningkat menyebabkan permintaan bunga krisan juga meningkat. Namun, permintaan bunga krisan tersebut masih bersifat musiman. Permintaan bunga krisan yang bersifat musiman tersebut berpengaruh pada berfluktuasi dan tidak pastinya permintaan bunga krisan. Hal tersebut menyebabkan timbulnya ketidakpastian harga dan berpengaruh pada ketidakpastian pendapatan pada pedagang di Pasar Bunga Rawabelong yang merupakan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko harga dari bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong serta menganalisis alternatif strategi dalam mengatasi risiko harga pada bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong.

Penelitian ini dilakukan di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat pada bulan Mei hingga Juli 2012. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder merupakan data time series harian selama dua tahun (2010-2011) sebanyak 720 data dan data yang digunakan adalah data harga harian, pasokan harian, serta permintaan harian. Data sekunder ini akan dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode ARCH-GARCH dan VAR yang bertujuan untuk mengetahui model peramalan ragam serta mengetahui tingkat risiko harga. Alat analisis yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Eviews 6. Sedangkan data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari wawancara dengan pedagang bunga krisan dan pihak UPT (Unit Pelaksana Teknis) di Pasar Bunga Rawabelong. Penggunaan data primer ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi yang dilakukan pedagang dalam meminimalisir risiko harga yang dihadapi. Identifikasi strategi tersebut dilakukan secara kualitatif dengan melakukan analisis deskriptif untuk mendeskripsikan strategi apa saja yang telah dilakukan pedagang dalam hal meminimalisir risiko harga.

Bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong terdiri dari dua jenis, yaitu krisan cipanas yang merupakan krisan yang bersumber dari petani dan krisan pt yang merupakan krisan yang bersumber dari perusahaan-perusahaan penghasil bunga potong dan tanaman hias. Berdasarkan hasil analisis dengan


(6)

ARCH-C GARCH, diperoleh bahwa model terbaik untuk bunga krisan cipanas dan krisan pt adalah GARCH 1 dimana pola pergerakan harga bunga krisan cipanas maupun krisan pt hanya dipengaruhi varian harga satu hari sebelumnya, dan tidak dipengaruhi oleh volatilitas harga satu hari sebelumnya.

Berdasarkan perhitungan Value at Risk (VAR) diperoleh bahwa risiko harga krisan cipanas oleh pedagang memiliki tingkat risiko yang lebih besar dibandingkan risiko harga krisan pt yang dihadapi pedagang. Ketika pedagang berinvestasi untuk krisan cipanas sebesar Rp. 2.450.000 maka risiko atau kerugian yang dihadapi dalam periode waktu satu hari sebesar Rp. 249.472, periode tiga hari sebesar Rp. 432.099, dan periode seminggu sebesar Rp. 660.042. Sedangkan, ketika pedagang krisan pt berinvestasi sebesar Rp. 2.450.000 maka risiko atau kerugian yang dihadapi dalam periode waktu satu hari sebesar Rp. 345.392, periode tiga hari sebesar Rp. 598.237, dan periode seminggu sebesar Rp. 913.822. Semakin meningkatnya investasi yang dilakukan para pedagang pada komoditas krisan cipanas maupun krisan pt, maka akan semakin meningkat pula risiko yang harus dihadapi. Periode penjualan yang semakin lama, akan membuat risiko yang dihadapi petani dan pedagang semakin besar.

Dalam menghadapi risiko tersebut maka terdapat beberapa alternatif strategi risiko yang dihadapi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong. Beberapa alternatif strategi tersebut diantaranya dengan menjalin kerjasama dengan banyak pemasok, memproduksi bunga krisan sendiri, menjalin kerjasama antar pedagang di rawabelong, menjalin kerjasama dengan konsumen besar dengan menerapkan sistem abodement, dan mengolah sendiri bunga krisan menjadi bunga rangkai. Pemerintah juga telah melakukan beberapa strategi untuk mengurangi risiko tersebut. Pihak UPT Rawabelong telah mengadakan pasar lelang bunga setiap tahunnya. Pasar lelang bunga dan tanaman hias ini bertujuan untuk mewujudkan pola pemasaran yang lebih efektif dan efisien dengan prinsip sehat, transparan, terbuka, dan perlakuan yang adil pada semua pihak para pelaku agribisnis khususnya florikultura. Dari kegiatan ini diharapkan banyak pihak yang datang serta tertarik untuk menjalin kerjasama dengan pedagang yang ada di pasar Rawabelong, dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan akan memberikan kepastian penjualan bagi para pedagang sehingga bisa mengurangi risiko yang dihadapi pedagang. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian juga melakukan pemberdayaan koperasi atau kelompok tani hortikultura. Selain itu, Dirjen Hortikultura juga memberikan kesempatan untuk dilakukannya penelitian terkait bunga krisan atau bunga potong lainnya. Acuan standar mutu serta standar operasional prosedur juga telah diberikan kepada para petani dan pedagang bunga potong.