Risiko Harga Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat

I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Hortikultura merupakan salah satu subsektor unggulan dalam sektor

pertanian di Indonesia. Perkembangan hortikultura di Indonesia dapat dilihat dari
perkembangan produksi dan luas panennya. Produksi hortikultura pada tahun
2007 hingga 2008 terlihat mengalami peningkatan secara keseluruhan sebesar
7,43 persen. Sedangkan, luas panen hortikultura sendiri juga mengalami
peningkatan sebesar 7,86 persen1. Peningkatan produksi serta luas panen tersebut
mengindikasikan

bahwa

subsektor

hortikultura

memiliki

potensi

untuk

berkontribusi pada pendapatan nasional.
Subsektor hortikultura terbukti mampu memberikan kontribusinya pada
pendapatan nasional. Kontribusi subsektor hortikultura tersebut terlihat pada nilai
produk domestik bruto (PDB) hortikultura yang meningkat. Pada tahun 2007,
PDB hortikultura sebesar Rp 76,79 trilliun, dan pada tahun 2008 PDB
Hortikultura sebesar Rp 80,29 trilliun. Nilai tersebut menggambarkan adanya
peningkatan PDB hortikultura sebesar 4,55 persen2. Dengan peningkatan nilai
PDB hortikultura tersebut, subsektor hortikultura memiliki peranan penting dalam
berkontribusi di perekonomian nasional.
Peningkatan nilai PDB hortikultura didukung oleh empat kelompok
komoditas utama pada subsektor hortikultura, yaitu buah-buahan, sayuran,
biofarmaka, dan tanaman hias. Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa buah-buahan
memiliki rata-rata nilai kontribusi yang paling besar diantara ketiga kelompok
komoditas lainnya. Sedangkan tanaman hias memiliki rata-rata nilai kontribusi
yang paling kecil diantara kelompok komoditas yang lain. Namun demikian, sejak
tahun 2005 hingga 2008, kontribusi nilai PDB tanaman hias terus mengalami
peningkatan seperti ketiga kelompok komoditas lainnya.

1

Gambaran Kinerja Makro Hortikultura 2008. http://hortikultura.deptan.go.id/?q=node/218
[Diakses pada 1 November 2012]

2

Gambaran Kinerja Makro Hortikultura 2008. http://hortikultura.deptan.go.id/?q=node/218
[Diakses pada 1 November 2012]

1

Tabel 1. Kontribusi Kelompok Komoditas pada PDB Hortikultura Tahun 20052009
No

Kelompok
Komoditas
1 Buah-buahan
2 Sayuran
3 Biofarmaka
4 Tanaman Hias
Total Hortikultura

2005
31.649
22.630
2.806
4.662
61.792

Nilai PDB (Milyar Rp)
2006
2007
2008
35.448 42.362 47.060
24.694 25.587 28.205
3.762
4.105
3.853
4.734
4.741
5.085
68.639 76.795 84.203

Rata-rata
2009*
50.595
29.005
5.348
4.109
89.057

41.432
26.024
4.889
3.727
76.072

Keterangan : *) Angka Sementara
Sumber : Ditjen Hortikultura (2010)

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2010,
hortikultura didefinisikan sebagai semua hal yang berkaitan dengan buah,
sayuran, bahan obat nabati, dan florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut,
dan tanaman air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati, dan/atau
bahan estetika. Sedangkan, menurut Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo 2001),
tanaman hias dan bunga potong digolongkan menjadi komoditas yang disebut
florikultura. Pada komoditas bunga potong terdapat jenis-jenis bunga potong yang
merupakan bunga potong unggulan untuk diusahakan. Jenis-jenis bunga potong
tersebut adalah anggrek, mawar, krisan, anyelir, anthurium, gerbera, gladiol,
sedap malam, bunga kecombrang, dan heliconia. Sedangkan untuk komoditas
tanaman hias yang banyak diusahakan dan sudah diekspor adalah palm, pakupakuan, dan tanaman dracaena.
Salah satu jenis bunga yang sudah dikenal dan banyak disukai oleh
konsumen adalah bunga krisan. Saat ini, penggunaan bunga krisan tidak hanya
untuk bunga potong. Selain sebagai bunga potong, bunga krisan juga digunakan
untuk bahan dekorasi ruangan, vas bunga, serta rangkaian bunga. Bunga krisan
sebagai tanaman pot krisan dapat digunakan untuk menghias meja kantor, ruangan
hotel, restaurant dan rumah tempat tinggal. Selain digunakan sebagai tanaman
hias, krisan juga berpotensi untuk digunakan sebagai tumbuhan obat tradisional
dan penghasil racun serangga (hama).
Dengan semakin berkembangnya penggunaan bunga krisan oleh
konsumen, maka dapat menyebabkan permintaan bunga krisan meningkat.
Permintaan bunga krisan biasanya meningkat ketika hari-hari raya besar. Ketika
itu pula harga bunga krisan cenderung tinggi. Harga bunga krisan juga akan
2

mengalami peningkatan ketika pasokan sedang rendah. Namun demikian,
permintaan bunga krisan masih bersifat musiman, sehingga harga bunga krisan
juga cenderung berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi permintaan musiman.
Sedangkan, ketika bunga krisan sedang mengalami panen raya, harga bunga
krisan mengalami penurunan. Hal tersebut karena pada saat panen raya terjadi
penumpukan produksi bunga krisan, sehingga harga untuk bunga krisan menurun.
Menurunnya harga bunga krisan tersebut akan mempengaruhi tingkat pendapatan
para pedagang dimana pendapatan pedagang akan berkurang karena adanya
kerugian yang harus dihadapi. Kondisi harga bunga krisan yang tidak pasti dan
berfluktuatif tersebut menyebabkan bunga krisan termasuk dalam komoditi yang
berisiko terhadap harga di pasaran.
Salah satu pasar yang menyediakan beragam bunga krisan adalah Pasar
Bunga Rawabelong, Jakarta Barat. Pasar Bunga Rawabelong ini merupakan salah
satu pasar yang menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) perdagangan tanaman hias
yang menyediakan beragam bunga potong dan tanaman hias. Pasar ini merupakan
pasar yang dijadikan Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) oleh Dinas
Pertanian DKI Jakarta. Umumnya, produsen tanaman hias dari Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur memasarkan produknya di Pasar Bunga Rawabelong.
Banyak konsumen tanaman hias yang datang dari berbagai daerah untuk membeli
tanaman hias di Pasar Bunga Rawabelong. Dengan semakin berkembangnya
permintaan yang pesat, Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias
berkembang menjadi pusat promosi dan pemasaran bunga potong terbesar di
Indonesia. Oleh karena itu, Pasar Bunga Rawabelong dapat dijadikan acuan dalam
industri florikultur di Indonesia.

1.2.

Perumusan Masalah
Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat merupakan pasar yang

menyediakan beragam bunga dan merupakan pusat pemasaran dari beragam
bunga dan tanaman hias. Di pasar ini beragam bunga dan tanaman hias dijual
secara besar-besaran (grosir). Pada awalnya pasar ini merupakan pasar yang
menyediakan bunga dan tanaman hias, namun seiring dengan waktu serta melihat
adanya perkembangan permintaan akan bunga dan tanaman hias yang pesat di
3

pasar ini, maka pemerintah menjadikannya sebagai pusat pemasaran bunga dan
tanaman hias. Dengan resminya pasar ini sebagai Pusat Promosi dan Pemasaran
Bunga/ Tanaman Hias, maka pasar ini dijadikan acuan para petani dan pedagang
dalam menentukan harga dari produk mereka.
Bunga Krisan (Chrysanthemum) merupakan salah satu bunga yang
ditawarkan di Pasar Rawabelong. Terdapat dua jenis krisan yang ditawarkan,
yaitu krisan cipanas dan krisan pt. Krisan cipanas merupakan bunga krisan yang
dipasok dari petani bunga krisan. Sedangkan krisan pt merupakan bunga krisan
yang pemasoknya berasal dari perusahaan penghasil bunga krisan. Secara umum,
bunga krisan memiliki sumber pasokan yang cukup bagus. Hal tersebut terlihat
dari adanya perkembangan dan peningkatan luas panen, hasil rata-rata, dan
produksi bunga krisan yang meningkat setiap tahunnya (Tabel 2).
Tabel 2.

Perkembangan dan Peningkatan Luas Panen, Rata-rata Hasil dan
Produksi Krisan di Indonesia Tahun 2005-2010
Krisan
Ratarata
Hasil
(tgk/
m2)

Tahun

Luas
Panen (m2)

Produksi
(m2)

2005
2006

2.076.546

6,9

47.465.794

1.939.039

6,05

63.716.256

2007
2008
2009
2010

4.279.390
6.559.170
9.742.677
10.024.605

6,35
10,13
9,92
17,58

66.979.260
101.777.126
107.847.072
185.232.970

Peningkatan/ Penurunan terhadap Tahun Sebelumnya
Rata-rata
Luas Panen
Produksi
Hasil
Abso
Absolut
lut
Absolut
%
%
%
(m2)
(tgk/
(m2)
2
m)
-137.507 -6,62 -0,85
16.250.462 32,24
12,32
2.340.351 120,7
0,3
4,96
3.263.004
5,12
2.279.780 53,27
3,78 59,49 34.797.866 51,95
3.183.507 48,54 -0,21 -2,05
6.069.946
5,96
281.928
2,89
7,66 77,22 77.385.898 71,76

Sumber : Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2010

Bunga krisan tidak hanya memilki luas panen, rata-rata hasil, dan produksi
yang bernilai positif. Akan tetapi, permintaan bunga krisan juga memiliki nilai
yang positif. Hal tersebut dapat terlihat pada Gambar 1 yang menunjukkan
volume penjualan bunga krisan cipanas dan pt di Pasar Bunga Rawabelong.
Volume penjualan bunga krisan tersebut merupakan gambaran tentang jumlah
permintaan bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong. Walaupun nilai permintaan
bunga krisan cipanas dan pt bernilai positif, namun ternyata jumlah permintaan
akan kedua bunga tersebut masih bersifat fluktuatif.

4

Gambar 1. Volume Penjualan Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar
Bunga Rawabelong Jakarta Bulan Januari-Desember 2010

Jumlah pasokan dan permintaan bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong
tidak selalu dalam jumlah yang tinggi. Penawaran bunga krisan biasanya
meningkat ketika terjadi panen raya. Terjadinya panen raya tersebut menyebabkan
menumpuknya persediaan bunga krisan. Sehingga, dengan keadaan tersebut akan
membuat harga bunga krisan, baik bunga krisan cipanas ataupun krisan pt
menurun. Harga bunga krisan juga akan menurun ketika jumlah permintaan bunga
krisan sedang menurun dipasaran.
Secara umum, permintaan bunga krisan masih bersifat musiman. Jumlah
permintaan bunga krisan akan sangat tinggi ketika terjadi hari-hari besar. Harihari besar tersebut diantaranya adalah lebaran, tahun baru imlek, natalan, serta
tahun baru masehi. Jumlah permintaan juga akan meningkat ketika terdapat
kegiatan-kegiatan tertentu yang akan berlangsung, seperti pernikahan, seminar,
dan lain-lain3. Namun, jumlah permintaan serta waktu untuk kegiatan-kegiatan
tertentu tersebut tidak dapat diperkirakan oleh pedagang. Sehingga menyebabkan
ketidakpastian harga pada bunga krisan cipanas dan pt setiap harinya, dan
menyebabkan harga kedua bunga krisan tersebut berfluktuasi (Gambar 2).

3

Katalog Bunga Potong dan Tanaman Hias. 2011. UPT Rawabelong Jakarta Barat.

5

2011

Gambar 2. Harga Rata-rata Penjualan Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar
Bunga Rawabelong Jakarta Tahun 2010-2011

Adanya fluktuasi harga dari kedua bunga krisan tersebut menunjukkan
adanya risiko yang harus ditanggung oleh pihak terkait yang mengusahakan kedua
komoditas tersebut. Risiko harga merupakan salah satu risiko yang harus
ditanggung. Harga dari suatu komoditas bisa meningkat secara drastis, namun bisa
juga turun secara drastis dan dengan tiba-tiba. Kondisi harga yang bisa berubah
secara tiba-tiba dan drastis tersebut menimbulkan kerugian yang besar bagi pihakpihak yang berkepentingan dengan bunga krisan, salah satunya bagi pedagang
bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong.
Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis yang dapat membantu
mengurangi kerugian-kerugian yang harus dihadapi oleh pedagang krisan di Pasar
Bunga Rawabelong. Salah satu analisis yang dapat dilakukan adalah dengan
menganalisis risiko harga bunga krisan cipanas dan krisan pt di Pasar Bunga
Rawabelong, Jakarta Barat. Dari permasalahan diatas, maka dapat dilakukan
pengkajian dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana risiko harga dari bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong?
2. Bagaimana strategi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong dalam
mengahadapi risiko harga?

6

1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis risiko harga dari bunga krisan di Pasar Bunga Rawabelong
2. Mengidentifikasi strategi pedagang bunga krisan di Pasar Bunga
Rawabelong dalam mengahadapi risiko harga

1.4.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang memerlukan

informasi terutama yang berhubungan dengan agribisnis pertanian. Bagi
pedagang, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait dengan
risiko harga dan besarnya kerugian yang akan dihadapi pedagang bunga krisan
serta memberikan informasi strategi dalam meminimalisir risiko bagi para
pedagang lainnya; baik bagi pedagang didalam maupun diluar Pasar Bunga
Rawabelong. Bagi pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi
DKI Jakarta, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi
untuk membuat kebijakan mulai dari produksi hingga pemasaran sehingga dapat
mengurangi risiko harga dari komoditas bunga krisan. Penelitian ini juga
diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan akademik sebagai
bahan untuk penelitian selanjutnya, dan sumber informasi bagi pihak-pihak lain
yang membutuhkan. Dan bagi penulis, penelitian ini juga memberikan
kesempatan belajar dan menambah pengalaman serta sebagai salah satu sarana
penerapan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian

1. Analisis risiko dilakukan melalui pengamatan terhadap fluktuasi harga
masing-masing komoditi dengan menggunakan model ARCH-GARCH
dan perhitungan nilai VaR (Value at Risk).
2. Identifikasi strategi pengurangan risiko dilakukan dengan pendekatan
kualitatif.
3. Analisis risiko yang dilakukan didasarkan pada fluktuasi harga bunga
krisan yang terdapat di pasar bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

7

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bunga Krisan
Krisan (Chrysanthemum) merupakan tanaman bunga hias berupa perdu
dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran
Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthemum
indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di
Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan
dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East.
Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis
tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan
di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad
ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan
dikembangkan secara komersial.
Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:
Divisi

: Spermathophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Famili

: Asteraceae

Genus

: Chrysanthemum

Species

: C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll

Bunga krisan digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu spray dan standard.
Krisan jenis spray dalam satu tangkai bunga terdapat 10 – 20 kuntum bunga
berukuran kecil. Sedangkan bunga krisan jenis standard pada satu tangkai bunga
hanya terdapat satu kuntum bunga berukuran besar. Bentuk bunga yang krisan
yang biasa dibudidayakan adalah bunga berukuran besar.
Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal
dari luar negeri, terutama berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Jenis
krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:
a)

Krisan lokal (krisan kuno)
Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia
maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di
hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman.
8

Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan
berbunga putih di Cipanas (Cianjur).
b)

Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida)
Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh
krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C.
i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga
putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong
(berbunga pink).

c)

Krisan produk Indonesia
Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan
buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan
30.13A.
Bunga krisan pada umumnya banyak dijumpai pada daerah yang

mempunyai ketinggian 700 – 1.200 meter, suhu udara antara 180C – 220C dengan
kondisi kelembapan udara tinggi. Selain dari itu untuk memperoleh bunga krisan
yang berkualitas baik, bunga krisan membutuhkan cahaya yang lebih lama untuk
merangsang proses pembungaannya.
Bunga krisan sangat populer dikalangan masyarakat karena banyaknya
jenis, bentuk, dan warna bunga. Selain bentuk mahkota dan jumlah bunga dalam
tangkai, warna bunga juga menjadi pilihan konsumen. Pada umumnya, warna
merah, putih, dan kuning merupakan warna dasar krisan. Namun, terdapat
berbagai macam warna yang merupakan hasil persilangan ketiga warna tersebut.
Bunga yang banyak diminati adalah bunga yang mekar sempurna, penampilan
yang sehat dan segar serta mempunyai tangkai batang yang tegar dan kekar
sehingga bunga menjadi awet dan tahan lama.
2.2. Penelitian Terdahulu
2.2.1. Penelitian Terdahulu Mengenai Risiko
Penelitian terdahulu mengenai risiko telah banyak dilakukan, seperti risiko
produksi, risiko pernjualan, dan risiko harga. Penelitian terdahulu yang terkait
dengan penelitian ini adalah penelitian tentang risiko harga. Terdapat beberapa
penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.
9

Penelitian tentang Risiko Harga Sayuran di Indonesia, merupakan
penelitian yang dilakukan oleh Amri (2011). Pada penelitian ini peneliti ingin
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga sayuran, dan
menganalisis alternatif strategi yang diperlukan untuk mengurangi risiko harga
sayuran. Dalam melakukan penelitiannya, penulis menggunakan analisis
kuantitatif model ARCH-GARCH dan Value at Risk (VAR) serta analisis
kualitatif deskriptif sebagai metode penelitian. Berdasarkan analisis tersebut,
model yang diajukan adalah model GARCH (1,1) yang berarti bahwa pola
pergerakan harga komoditas dipengaruhi oleh volatilitas dan varian harga pada
satu hari sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis nilai VaR, menunjukkan bahwa
kenaikan penerimaan sebesar satu rupiah akan meningkatkan risiko harga kentang
sebesar 6,42 persen, kubis sebesar 16,12 persen, dan tomat sebesar 15,46 persen.
Nilai VaR semakin tinggi seiring dengan lamanya waktu berinvestasi. Dan hasil
analisis untuk strategi yang diperoleh adalah melakukan pola tanam yang sesuai,
melakukan hubungan kemitraan dengan perusahaan, mengolah produk untuk
meningkatkan nilai tambah, dan pengaktifan koperasi.
Penelitian lain yang juga terkait dengan risiko harga adalah penelitian
yang dilakukan oleh Sari (2009) dengan judul penelitian Risiko Harga Cabai
Merah Keriting dan Cabai Merah Besar di Indonesia. Penelitian tersebut
dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis risiko harga cabai merah keriting dan
cabai merah besar di Indonesia, serta menganalisis strategi terkait dengan adanya
risiko harga komoditi cabai merah keriting dan cabai merah besar di Indonesia.
Pada penelitian tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah analisis
kuantitatif yaitu Model ARCH-GARCH dan analisis VaR, serta analisis
kuantitatif dengan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
tersebut, maka diperoleh bahwa model terbaik untuk cabai merah keriting adalah
ARCH 1 GARCH 2, sedangkan pada cabai merah besar adalah ARCH 1 GARCH
1. Berdasarkan perhitungan VaR diperoleh bahwa tingkat risiko yang diperoleh
petani untuk komoditi cabai merah keriting adalah 14,68 persen, dan cabai merah
besar adalah 4,85 persen. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif melalui analisis
deskriptif diperoleh bahwa strategi mengatasi risiko dari sisi petani dapat
dilakukan dengan diversifikasi tanaman, rotasi tanaman, pembuatan produk
10

olahan cabai, dan sistem kontrak. Sedangkan strategi dari sisi pedagang untuk
mengurangi risiko adalah penjualan cabai pada industri makanan dan pengeringan
cabai. Dan strategi pengurangan risiko harga oleh pemerintah dilakukan melalui
pembentukan atau pengaktifan koperasi dan kelompok tani, pengaturan pola
produksi, serta penyuluhan yang intensif.
Analisis Risiko Harga Day Old Chicken (DOC) Broiler dan Layer pada
PT. Sierad Produce Tbk Parung, Bogor juga merupakan penelitian tentang risiko
harga yang dilakukan oleh Siregar (2009). Penelitian tersebut bertujuan untuk
menganalisis risiko harga DOC pada PT. Sierad Produce Tbk, dan menganalisis
alternatif strategi dalam mengatasi risiko harga DOC pada PT. Sierad Produce
Tbk. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian tersebut yaitu analisis
kuantitatif dengan model ARCH-GARCH dan perhitungan VaR, dan analisis
kualitatif melalui analisis deskriptif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan
pada penelitian tersebut, maka diperoleh bahwa model terbaik untuk DOC broiler
adalah GARCH (1,1) yang berarti bahwa risiko harga DOC broiler dipengaruhi
oleh volatilitas dan varian harga DOC broiler periode sebelumnya. Sedangkan
pada DOC layer hanya terdapat pada ARCH (1) yang berarti bahwa risiko harga
DOC layer hanya dipengaruhi oleh volatilitas harga DOC layer periode
sebelumnya. Pada analisis perhitungan VaR, diperoleh bahwa tingkat risiko yang
diterima PT. Sierad Produce Tbk dari DOC broiler adalah sebesar Rp
1.585.111.113 dari total penerimaan selama tahun 2007 sampai 2008 yaitu sebesar
Rp 10.911.997.611 dan risiko harga DOC layer sebesar Rp 163.583.535 dari total
penerimaan sebesar Rp 2.125.300.780. Dan berdasarkan hasil analisis kualitatif
dengan analisis deskriptif diperoleh bahwa untuk meminimalkan risiko harga
yang dihadapi maka PT. Sierad Produce Tbk dapat melakukan pencatatan data
DOC dari peternak, melihat atau mempelajari perilaku harga jual DOC periode
sebelumnya dan perubahan pergerakan data harga DOC sebelumnya dengan
melakukan analisis harga secara rutin, serta meningkatkan kegiatan kemitraan
dengan peternak.

11

2.2.2. Studi Terdahulu Mengenai Krisan
Beberapa penelitian terdahulu mengenai bunga krisan juga telah
dilakukan. Strategi Pengembangan Usaha Bunga Potong Krisan, Mawar, dan
Gerbera Kelompok Tani Rahayu di Kecamatan Cidahu, Sukabumi merupakan
penelitian yang dilakukan Kartini (2009). Penelitian tersebut dilakukan dengan
tujuan untuk menganalisis faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal yang
mempengaruhi Kelompok Tani Rahayu saat ini, mengembangkan alternatif
strategi yang dapat diterapkan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi
kegiatan usaha, dan memilih strategi berdasarkan alternatif strategi yang telah
diterapkan yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi eksternal dan internal
kelompok tani rahayu. Pada penelitian tersebut digunakan metode analisis tiga
tahap formulasi strategi, yaitu identifikasi lingkungan eksternal-internal,
pencocokan dengan melakukan analisis matriks IE, dan tahap keputusan
menggunakan QSPM. Berdasarkan hasil analisis, maka diperoleh bahwa pada
lingkungan eksternal diperoleh peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu dukungan
pemerintah,

perubahan gaya

hidup,

peningkatan pembangunan gedung,

banyaknya pemasok, hubungan baik dengan pemasok sarana produksi. Selain itu,
diperoleh pula kekuatan Lingkungan internal yaitu anggota kelompok tani masih
keluarga, pupuk dan bibit kandang tersedia sendiri, budidaya greenhouse, dll.
Tahap kedua, posisi perusahaan terdapat pada sel V yaitu strategi pertahankan
dan pelihara. Strategi yang dapat digunakan dalam strategi ini adalah penetrasi
pasar dan pengembangan produk. Tahap ketiga, strategi pengembangan produk
lebih menarik dilakukan dibandingkan penetrasi pasar.
Penelitian lainnya tentang bunga krisan adalah Analisis Kelayakan Usaha
Bunga Potong Krisan pada Pri’s Farm, Cinagara, Cijeruk, Kab. Bogor. Penelitian
tersebut dilakukan oleh Dharmika (2009). Penelitian tersebut dilakukan dengan
tujuan mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam usaha bunga
potong krisan dan kondisi internal perusahaan di Pri’s Farm, menganalisis
kelayakan usaha finansial rencana pengembangan usaha bunga potong krisan
yang diusahakan oleh Pri’s Farm, serta menganalisis dengan menggunakan
switching value (nilai pengganti) pada kelayakan rencana pengembangan usaha
bunga potong krisan Pri’s Farm terhadap faktor harga penjualan dan biaya
12

variabel. Alat analisis yang digunakan pada penelitian tersebut adalah kelayakan
finansial dengan menggunakan kriteria finansial yaitu NPV, IRR, Net B/C,
Payback Period, dan analisis sensitivitas dengan metode switching value.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, nilai NPV untuk skenario I, II, III
adalah Rp. 1.117.985,71, Rp. 473.396.179,8, dan Rp. 318.640.378. Nilai IRR
yang didapat dari skenario I, II, III adalh 39.17 persen, 22.52 persen, dan 36,69
persen. Nilai Net B/C yang didapat dr skenario I, II, dan III adalah 2.7, 1.7, dan
2.5. Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal pada skenario I, II, dan
III adalah 3.06 tahun, 5.7 tahun, dan 3.3 tahun. Hasil analisis switching value
menunjukkan bahwa rencana pengembangan usaha ini masih layak dijalankan
saat terjadi penurunan harga penjualan sebesar 30.6171515 persen untuk skenario
I, 17.0252197 persen untuk skenario II, dan 30.9858054 persen untuk skenario III.
Selain itu, rencana pengembangan bisnis ini juga masih layak dilaksanakan saat
terjadi kenaikan biaya variabel sebesar 90.25179222 persen untuk skenario I,
30.24456905 persen untuk skenario II, dan 80.55533169 persen untuk skenario
III.

2.2.3. Studi Terdahulu di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman
Hias, Rawa Belong Jakarta
Beberapa penelitian telah dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran
Bunga/ Tanaman Hias, Rawabelong Jakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Aisah
(2002) dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias,
Rawabelong dengan judul Analisis Kelayakan Usaha Florist di Pusat Promosi dan
Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta. Penelitian tersebut
dilakukan dengan tujuan menganalisis aspek pasar, teknis, dan manajemen florist
di Pasar Bunga Rawabelong, menganalisis kelayakan finansial usaha florist skala
kecil dan usaha florist skala besar, dan menyarankan upaya pengembangan usaha
florist yang layak. Metode penelitian yang digunakan oleh florist tersebut adalah
metode Deskriptif untuk menganalisis aspek pasar, teknis, manajemen, dan
finansial. Analisis finansial yang dilakukan menggunakan analisis NPV, Net B/C
ratio, IRR, dan Payback Period. Hasil analisis aspek finansial usaha florist skala
kecil pada tingkat suku bunga 17 persen diperoleh NPV sebesar Rp.
89.464.717.87, Nilai Net B/C ratio sebesar 0.87 dan IRR sebesar 3 persen. Modal
13

tidak dapat kembali selama umur usaha. Sedangkan untuk usaha florist skala besar
NPV Rp. 3.138.700.644.07, Nilai Net B/C ratio sebesar 1.59, dan IRR sebesar 69
persen. Modal dapat kembali setelah bisnis berjalan selama 10 bulan 3 hari. Hasil
perhitungan sensitivitas menunjukkan usaha florist skala besar sangat sensitif
terhadap perubahan harga output dan input. Analisis aspek manajemen
menunjukkan bahwa manajemen yang ada kurang layak. Aspek pemasaran,
sistem pemasaran juga masih perlu diperbaiki, terutama pada sisi SDM, promosi,
dan sedikit mutu produk.
Penelitian yang juga dilakukan di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/
Tanaman Hias, Rawabelong Jakarta adalah Peramalan Penjualan Bunga Potong
pada Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias, Rawa Belong,
Jakarta Barat. Penelitian tersebut dilakukan oleh Anwari (2006). Tujuan
dilakukannya penelitian tersebut adalah mengidentifikasi pola atau perilaku
penjualan bunga potong di PPBTH Rawabelong, membandingkan beberapa
metode peramalan time series sehingga diperoleh metode peramalan yang terbaik
dan sesuai untuk meramalkan penjualan bunga potong serta hasil peramalannya di
PPBTH Rawabelong sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan bisnis untuk masa yang akan datang.
Pada penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah metode Naïve, metode
rata-rata sederhana, metode rata- rata bergerak ganda, metode pemulusan
eksponensial

tunggal,

pemulusan

eksponensial

ganda-brown,

pemulusan

eksponensial-Holt, Winter Multiplikatif dan Aditif, Dekomposisi Multiplikatif
dan Aditif serta metode ARIMA. Berdasarkan hasil analisis pada penelitian
tersebut, maka diperoleh bahwa metode yang sesuai digunakan adalah metode
Winter’s Multiplikatif. Hasil peramalan yang diperoleh bahwa penjualan aster dan
krisan untuk 22 periode kedepan (minggu pertama Agustus 2006 hingga minggu
keempat 2006) relatif menurun. Diduga sementara yang mempengaruhi hal
tersebut adalah trend penggunaan daun pelengkap lebih banyak pada komposisi
rangkaian dekorasi pernikahan (konsep hijauan), dan adanya pesaing diluar
PPBTH.
Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian mengenai Risiko Harga pada
Bunga Krisan Cipanas dan Krisan pt di Pasar Binga Rawabelong, Jakarta Barat.
14

Penelitian ini memiliki kesamaan terhadap penelitian-penelitian terdahulu, ada
yang memiliki kesamaan dalam hal topik, komoditas, ataupun lokasi penelitian.
Namun, terdapat perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terutama pada topik risiko
harga, yaitu terdapat pada objek yang diteliti. Pada penelitian ini objek yang
diteliti adalah bunga krisan yang merupakan komoditas unggulan florikultura.
Sedangkan pada penelitian terdahulu, lebih banyak berfokus pada komoditas
sayur-sayuran seperti cabai, kubis, bawang merah, dan lain-lain. Sedangkan
perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang mengenai bunga krisan
adalah terdapat pada topik yang dibahas. Pada penelitian sebelumnya bunga
krisan diteliti dari segi strategi pengembangan usaha dan kelayakan usaha dari
bunga krisan. Dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang berlokasi di
Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga/ Tanaman Hias, Rawa Belong Jakarta
adalah pada topik yang diteliti. Di Rawabelong sebelumnya telah dibahas
kelayakan usaha florist di Rawabelong dan peramalan penjualan bunga potong.

15

III.
3.1.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Konsep Risiko
Risiko memiliki beberapa pengertian, menurut Harwood (1999) risiko
merupakan kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku
bisnis yang mengalaminya. Menurut Kountur (2004), risiko berhubungan dengan
ketidakpastian, ketidakpastian ini akibat dari kurangnya atau tidak tersedianya
informasi yang menyangkut dengan apa yang akan terjadi. Sedangkan Robison
dan Barry (1987) menyatakan bahwa risiko menunjukkan peluang terhadap suatu
kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman.
Risiko

juga

menunjukkan

peluang

terjadinya

peristiwa-peristiwa

yang

menghasilkan pendapatan diatas atau dibawah rata-rata dari pendapatan yang
diharapkan. Secara umum, risiko dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1.

Risiko Spekulatif (speculative risk)
Risiko spekulatif adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan, yaitu
kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan.
Risiko ini biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis. Beberapa
jenis risiko yang tergolong dalam risiko spekulatif adalah risiko pasar,
risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

2.

Risiko Murni (pure risk)
Risiko murni adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan,
yaitu kemungkinan rugi saja. Beberapa jenis risiko dari risiko murni yaitu
risiko aset fisik, risiko karyawan, dan risiko legal.
Analisis risiko berhubungan dengan teori pengambilan keputusan

(decision theory) berdasarkan konsep expected utility model (Robison dan Barry
1987). Dalam menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan
dengan risiko dapat menggunakan expected utility model. Model ini digunakan
karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model, yaitu bahwa
yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) tetapi kepuasan (utility).
Hubungan fungsi kepuasan dengan pendapatan adalah berhubungan positif,

16

dimana jika tingkat kepuasan meningkat maka pendapatan yang akan diperoleh
juga meningkat.
Risiko adalah konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan. Seluruh
kegiatan yang dilakukan baik perorangan atau perusahaan juga mengandung
risiko. Kegiatan bisnis sangat erat kaitannya dengan risiko. Risiko dalam kegiatan
bisnis juga dikaitkan dengan besarnya return yang akan diterima oleh pengambil
risiko. Semakin besar risiko yang dihadapi umumnya dapat diperhitungkan bahwa
return yang diterima juga akan lebih besar. Pola pengambilan risiko menunjukkan
sikap yang berbeda terhadap pengambilan risiko.
Perilaku

pembuat

keputusan

dalam

menghadapi

risiko

dapat

diklasifikasikan menjadi tiga kategori (Robison dan Barry 1987), yaitu :
1.

Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk aversion). Sikap ini
menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari
keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan
menaikkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan ukuran tingkat
kepuasan.

2.

Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker). Sikap ini
menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari
keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan
menurunkan keuntungan yang diharapkan.

3.

Pembuat keputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral). Sikap ini
menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam (variance) dari
keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan
menurunkan atau menaikkan keuntungan yang diharapkan

3.1.2. Risiko Pertanian
Risiko pertanian merupakan beragam risiko yang dihadapi dibidang
pertanian yang muncul dari berbagai sumber-sumber penyebab munculnya risiko.
Harwood (1986) menjelaskan bahwa terdapat lima sumber utama yang
menyebabkan munculnya risiko pada pertanian, yaitu :

17

1.

Risiko Produksi atau Hasil Panen
Risiko produksi dapat terjadi karena disebabkan oleh kejadian-kejadian

yang tidak terduga. Kejadian tersebut seperti cuaca yang sering berubah-ubah
tidak menentu, suhu yang ekstrim, hama, dan penyakit. Hal-hal tersebut dapat
mengakibatkan mempengaruhi masa panen dan dapat menyebabkan hasil
produksi yang tidak menentu. Sehingga, hal tersebut secara langsung akan
mempengaruhi pendapatan petani.
2.

Risiko Harga atau Pasar
Harga atau risiko pasar mencerminkan risiko yang terkait dengan

perubahan dalam harga output atau input yang mungkin terjadi setelah komitmen
untuk produksi telah dimulai. Risiko pasar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain seperti kondisi permintaan dan penawaran di pasar. Kondisi permintaan atau
penawaran yang tersebut akan mempengaruhi tingkat pendapatan yang akan
diperoleh petani dan pedagang. Oleh karena itu, secara tidak langsung risiko pasar
sangat mempengaruhi pendapatan yang akan diterima petani dan pedagang.
3.

Risiko Kelembagaan
Risiko karena kelembagaan terjadi karena adanya hasil dari perubahan

dalam kebijakan dan peraturan, sehingga berpengaruh pada pertanian. Contohnya
adalah

perubahan peraturan pemerintah tentang penggunaan pestisida pada

tanaman atau obat-obatan pada ternak. Dengan adanya kebijakan tersebut dapat
mengubah biaya produksi seperti meningkatkan harga komoditas, sehingga
membuat permintaan menurun dan pendapatan berkurag. Risiko akibat
kelembagaan lainnya yang mungkin timbul dari adanya perubahan kebijakan
adalah pembatasan dalam praktek konservasi atau penggunaan lahan, perubahan
pajak penghasilan kebijakan, kebijakan kredit, dan lain-lain.
4.

Risiko Personal
Petani juga merupakan salah satu penyebab terjadinya risiko atau dapat

disebut juga risiko yang diakibatkan oleh manusia. Kejadian-kejadian yang tidak
terduga seperti kematian, kecelakaan, kesehatan dapat mempengaruhi perusahaan.
Kejadian tersebut dapat berpengaruh pada sistem kinerja pada perusahaan, seperti
menurunnya produktivitas. Selain itu, adanya kelalaian manusia seperti

18

kebakaran, kehilangan atau kerusakan, pencurian juga merupakan penyebab risiko
yang dapat merugikan perusahaan.
5.

Risiko Finansial
Risiko ini dapat terjadi karena adanya peminjaman yang dilakukan oleh

petani. Adanya pinjaman tersebut, membuat petani harus menyisihkan
pendapatannya untuk membayar hutang. Risiko ini terjadi ketika petani tidak
memiliki pengetahuan tentang bagaimana perubahan suku bunga dimasa yang
akan datang, atau ketidaktahuan tentang sistem peminjaman yang ditawarkan.
Sehingga, dengan ketidaktahuan tersebut, petani tidak dapat melunasi hutanghutangnya.

3.1.3. Konsep Permintaan dan Penawaran
Firdaus (2008) menyatakan bahwa permintaan merupakan keinginan
konsumen untuk membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama
periode

waktu tertentu.

Ahli

ekonomi

mengatakan

bahwa

permintaan

menggambarkan keadaan keseluruhan dari hubungan antara harga dan jumlah
permintaan. Sedangkan jumlah barang yang diminta dimaksudkan sebagai
banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu. Faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan antara lain harga barang itu sendiri, harga barang lain
yang terkait, tingkat pendapatan per kapita, selera atau kebiasaan, jumlah
penduduk, perkiraan harga di masa mendatang, distribusi pendapatan, dan usahausaha produsen meningkatkan pendapatan.
Permintaan yang dinyatakan dalam hubungan matematis dengan faktorfaktor yang mempengaruhinya disebut sebagai fungsi permintaan. Dengan fungsi
permintaan, dapat diketahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak
bebas. Persamaan fungsi permintaan dapat disusun sebagai berikut :
Dx = f (Px, Py, Y, T, N)
dimana :
Dx = permintaan akan barang x
Px = harga x
Py = harga y
Y = pendapatan per kapita
19

T = selera
N = jumlah penduduk
Dx merupakan variabel tidak bebas, karena besar nilainya ditentukan oleh
variabel lain. Px, Py, Y, T, N adalah variabel bebas karena besar nilainya tidak
tergantung besarnya variabel lain. Tanda positif dan negatif menunjukkan
pengaruh masing-masing variabel babas terhadap permintaan akan barang x. Pada
hakikatnya, hukum permintaan menyatakan bahwa makin rendah harga suatu
barang, maka semakin banyak permintaan atas barang tersebut. Begitu pula
sebaliknya, jika semakin tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit
permintaan atas barang tersebut (Firdaus 2008).
Untuk menciptakan terjadinya suatu transaksi dalam sebuah pasar tidak
hanya permintaan yang diperlukan, namun juga diperlukan penawaran. Menurut
McConnel dan Brue (1990), penawaran adalah sebuah daftar yang menunjukkan
jumlah suatu produk yang ingin dan dapat diproduksi oleh produsen dan tersedia
di pasar pada harga dan waktu tertentu. Dalam analisis ekonomi, jumlah barang
yang ditawarkan berarti jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga
tertentu. Sedangkan penawaran berarti keseluruhan dari kurva penawaran. Faktorfaktor yang menentukan tingkat penawaran adalah harga barang itu sendiri, harga
barang lain yang terkait, harga faktor produksi, biaya produksi, teknologi
produksi, jumlah pedagang atau penjual, tujuan perusahaan, dan kebijakan
pemerintah.
Penawaran yang dinyatakan dalam hubungan matematis dengan faktorfaktor yang mempengaruhinya disebut sebagai fungsi penawaran. Penawaran
secara matematis yang menjelaskan hubungan antara tingkat penawaran dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran adalah sebagai berikut :
Sx = f(Px, Py, Pi, C, tek, ped, tuj, kebij)
dimana :
Sx = penawaran atas barang x
Px = harga x
Py = harga y
Pi = harga input/ faktor produksi
C = biaya produksi
20

tek = teknologi produksi
ped = jumlah pedagang/ penjual
tuj = tujuan perusahaan
kebij = kebijakan pemerintah
Pada dasarnya, hukum penawaran manyatakan bahwa semakin tinggi
harga suatu barang maka semakin banyak jumlah barang tersebut yang akan
ditawarkan oleh para penjual. Dan sebaliknya, jika senakin rendah harga suatu
barang maka semakin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan oleh
penjual (Firdaus 2008).

3.1.4. Ketidakstabilan Harga Barang Pertanian
Dalam jangka pendek harga hasil pertanian cenderung mangalami
fluktuasi yang sangat besar. Harga mencapai tingkat yang tinggi sekali pada suatu
saat

dan

mengalami

kemerosotan

yang

tajam

pada

saat

berikutnya.

Ketidakstabilan harga tersebut dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran
barang pertanian yang sifatnya tidak elastis. Sifat ini menyebabkan perubahan
yang sangat besar atas tingkat harga apabila permintaan atau penawaran
mengalami perubahan. Faktor yang menyebabkan ketidakstabilan harga pertanian
dalam jangka pendek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) fluktuasi
permintaan, dan (2) fluktuasi penawaran.
(1)

Fluktuasi Permintaan
Dalam jangka panjang maupun jangka pendek, permintaan akan barang

pertanian bersifakt tidak elastis. Dalam jangka panjang disebabkan elastisitas
pendapatan dari permintaan barang-barang pertanian rendah, yaitu kenaikan
pendapatan hanya menimbulkan kenaikan yang kecil atas permintaan. Dalam
jangka pendek tidak elastis karena sebagian besar barang-barang hasil pertanian
merupakan barang kebutuhan pokok yang harus digunakan setiap hari.
Setiap perekonomian tidak selalu mencapai tingkat kegiatan yang tinggi,
adakalanya mengalami resesi dan kemunduran, atau mencapai tingkat ekonomi
yang tinggi. Perubahan tersebut akan mempengaruhi permintaan barang atau jasa,
termasuk hasil pertanian. Perubahan permintaan yang disebabkan oleh naik
turunnya kegiatan ekonomi ini akan menimbulkan perubahan harga. Akan tetapi,
21

sifat perubahan harga ini berbeda untuk berbagai jenis barang. Barang-barang
pertanian cenderung mengalami perubahan harga yang lebih besar daripada harga
barang-barang industri. Sifat perubahan seperti itu disebabkan penawaran harga
barang-barang pertanian, seperti juga dengan sifat permintaannya adalah tidak
elastis. Ketidakstabilan penawaran barang pertanian yang diikuti dengan
ketidakelastisan permintaannya menyebabkan perubahan harga yang sangat besar
apabila terjadi perubahan permintaan.
P

Dp1

Dp

p

S

P

Ep

P

Di1

D
S
Ei

P

Ei1

Ep1
p1
O

Q
q

q1

a. Barang Pertanian

O

Q
Q

Q

b. Barang Industri

Gambar 3. Akibat Perubahan Harga Terhadap Harga
Sumber : Firdaus (2008)

Dari Gambar 3 dapat dijelaskan bahwa pada tingkat perubahan permintaan
yang sama (kurva D menjadi D1), tetapi perubahan tingkat penawaran yang
berbada -dimana elastisitas barang industri lebih elastis daripada barang
pertanian- menyebabkan harga barang di sektor pertanian mengalami penurunan
yang jauh lebih basar daripada harga barang di sektor industri (Firdaus 2008).
(2)

Fluktuasi Penawaran
Penawaran dan permintaan barang-barang pertanian barsifat tidak elastis.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penawaran barang-barang pertanian
bersifat tidak elastis, yaitu sebagai berikut :
a.

Barang pertanian sangat tergantung oleh faktor alam dan dihasilkan secara
musiman.

b.

Kapasitas memproduksi sektor pertanian cenderung untuk mencapai
tingkat yang tinggi dan tidak terpengaruh oleh perubahan permintaan

22

Tingkat produksi sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh faktot-faktor
yang berada di luar kemampuan para petani untuk mengendalikannya. Pada
umumnya produksi hasil pertanian selalu berubah-ubah dari satu musim ke musim
lainnya. Perubahan musim dipengaruhi oleh cuaca, iklim, dan faktor alamiah
lainnya. Selain itu, serangan hama dan penyakit dapat mempengaruhi produksi
hasil pertanian. Faktor-faktor tersebut menyebabkan perubahan yang relatif besar
jika dibandingkan dengan perubahan produksi kegiatan industri.
Permintaan akan barang-barang pertanian yang tidak elastis menyebabkan
harga mengalami perubahan yang sangat besar jika penawaran hasil pertanian
mengalami perubahan.
S
P
Dp
Ep
p

S1

P

S

Di

P

S

Ei
Ei1

Ep1

p1
O

P
Q

q

q1

a. Barang Pertanian

O

Q
q

q

b. Barang Industri

Gambar 4. Akibat Perubahan Penawaran Terhadap Harga
Sumber : Firdaus (2008)

Dari Gambar 4, terlihat bahwa pada tingkat perubahan penawaran yang
sama (kurva S menjadi S1), tetapi perubahan tingkat permintaan yang berbeda dimana elastisitas barang industri lebih elastis daripada barang hasil pertanian menyebabkan harga barang di sektor pertanian mengalami penurunan yang jauh
lebih basar daripada harga barang di sektor industri (Firdaus 2008).

3.1.5. Strategi Mengatasi Risiko
Risiko atau ketidakpastian dalam agribisnis dapat terjadi kapanpun. Risiko
tersebut diantaranya adalah bencana alam, gagal panen, kecelakaan, perubahan
harga, perubahan selera konsumen, dan lain-lain. Adanya risiko-risiko tersebut
memberikan ancaman bagi para pelaku agribisnis yang mengakibatkan pada
23

menurunnya pendapatan petani atau pedagang. Oleh karena itu, diperlukan sebuah
upaya atau strategi untuk mengatasi risiko yang mungkin terjadi itu.
Harwood (1999) mangatakan bahwa pertanian memiliki empat risiko yang
biasanya dihadapi yaitu risiko produksi, risiko pasar, risiko hukum, dan risiko
personal. Menurut Gumbira el al. (2004), terdapat upaya yang dapat dilakukan
oleh pelaku agribisnis untuk mentrasfer risiko dan mengurangi dampak suatu
risiko terhadap kelangsungan usahanya. Gumbira et al. (2004) juga mengatakan
bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi risiko pasar atau risiko
harga terdapat beberapa cara, yaitu :
1.

Diversifikasi
Diversifikasi merupakan salah satu cara untuk mengeliminasi dampak

negatif atau risiko yang dihadapi oleh seorang pengusaha agribisnis. Bergerak
pada lini usaha yang memiliki risiko yang berbeda memungkinkan kerugian yang
diderita oleh pengusaha pada suatu lini produk tertentu dapat ditutupi dengan
keuntungan pada lini produk lainnya.
2.

Integrasi Vertikal
Integrasi vertikal dapat berarti mikro dan makro. Dalam arti mikro,

integrasi vertikal berarti suatu perusahaan yang bergerak pada dua atau lebih level
dalam suatu sistem komoditas. Sedangkan, dalam arti makro berarti dua atau lebih
perusahaan memiliki keterkaitan bisnis yang kuat dalam suatu sistem komoditas
tertentu. Integrasi vertikal tersebut dapat berupa diversifikasi usaha dalam suatu
sistem komoditas atau melakukan kerjasama yang kuat dengan pelaku bisnis
lainnya dalam komoditas tersebut. Dengan adanya integrasi vertikal tersebut dapat
menjamin risiko kekurangan bahan baku, menjamin pemasaran produk,
melindungi diri dari perilaku pesaing yang dapat membahayakan kelanjutan
usaha, melindungi diri dari permainan yang tidak adil oleh pelaku bisnis dari level
yang lain dalam suatu sistem komoditas, dan lain-lain.
3. Penerapan Teknologi
Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dapat dimanfaatkan para
petani atau pengusaha agrinisnis sebagai suatu alat meminimalisir risiko dengan
menerapkan sistem teknologi yang tepat. Hal tersebut dapat menyebabkan

24

produktivitas sumberdaya meningkat sehingga dapat meningkatkan efisiensi
usaha yang dapat menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasaran.
4. Kontrak di Muka (forward contracting)
Kontrak dimuka adalah suatu proses persetujuan pengiriman produk pada
masa mendatang dengan harga yang telah ditetapkan sekarang. Dengan sistem ini,
produsen mempunyai kewajiban untuk mengirimkan produk pada waktu yang
telah disepakati bersama dan pembeli harus menerima produk tersebut sesuai
perjanjian. Dengan adanya sistem ini, maka kepastian harga akan lebih terjamin
bagi produsen. Fluktuasi harga yang akan terjadi tidak akan mempengaruhi
tingkat harga yang telah disepakati pada saat persetujuan kontrak dibuat.
Sehingga, produsen bisa meminimalisir risiko harga yang akan mereka hadapi
seperti fluktuasi harga di masa yang akan datang.
5. Pasar Masa Depan (future market)
Future Market adalah suatu sistem pasar yang menyediakan fasilitas untuk
menanggapi perdagangan secara cepat dalam unit produk terstandarisasi dalam
mutu dan jumlah yang akan dikirim pada masa yang akan datang. Pada pasar
masa depan ini, para pedagang menjual barangnya namun melalui sistem
perjanjian atau kontrak, dimana barang atau komoditas akan dikirim pada masa
yang telah ditentukan. Future market ini memiliki manfaat dalam mengurangi
risiko dimana para pedagang sudah memiliki kepastian tentang siapa, berapa, dan
kapan komoditasnya akan terjual.
6. Usaha Perlindungan (Hedging)
Hedging adalah suatu upaya perlindungan risiko transaksi dalam cash
market dengan forward contracting yang menggunakan future market dan
mengambil posisi yang sama besar, tetapi berlawanan pada cash market dan
future market secara simultan. Hedging adalah sarana untuk mentransfer risiko
dan memupuk keuntungan. Dengan adanya hedging, risiko dapat diminimalisir
dengan cara mentransfer risiko. Selain itu, hedging juga membantu dalam hal
memperoleh keuntungan yang lebih.

25

7. Pasar Opsi (option market)
Pasar opsi merupakan tempat dimana terjadinya transaksi jual-beli yang
memberikan hak kepada pembeli opsi untuk memilih posisi sebagai pembeli,
penjual future contract, atau tidak memilih sama sekali. Pada pasar opsi, para
pembeli opsi dapat membeli atau menjual future contract pada waktu tertentu,
pada masa yang akan datang untuk suatu tingkat harga yang telah disepakati pada
saat opsi dibeli. Pasar opsi ini bertujuan untuk menghindari risiko dan biaya yang
besar karena kemungkinan terjadinya kesalahan proyeksi mengenaik arah
pergerakan harga.

3.1.6. Analisis Risiko
3.1.6.1. Metode ARCH-GARCH
Vose (2008) menyatakan bahwa model ARCH dikembangkan untuk
menghitung

dengan

memungkinkan

pengelompokan

periode

volatilitas

(heteroskedastisitas, atau data yang memiliki varians yang berbeda). Salah satu
asumsi dalam model regresi yang sebelumnya digunakan untuk analisis frekuensi
tinggi data keuangan adalah bahwa istilah kesalahan memiliki varians konstan.
Engle seseorang yang memenangkan Nobel Memorial Prize for Economics
ditahun 1982, memperkenalkan model ARCH dan menerapkan model ARCH
kedalam data inflasi kuartalan Inggris. ARCH kemudian digeneralisasi ke
GARCH oleh Bollerslev, yang telah terbukti lebih berhasil dalam menyesuaikan
terhadap data keuangan. Bollerslev membiarkan residuals kembali, dan
membuktikan bahwa rt = μ + σtzt , dimana zt adalah variabel independen,
terdistribusi normal (0,1).

Dimana ω > 0, ai > 0, i = 1, …, q dan yang terakhir ai > 0. Kemudian, rt dikatakan
mengikuti autoregressive conditional hateriskedastic, ARCH (q), yang di proses
oleh μ. Model ini adalah ragam dari error yang memiliki fungsi varian dari error
sebelumnya (rt-1 - μ). Nilai ai > 0, ini mempunyai efek dalam menentukan
pengelompakan volatilitas yang rendah atau tinggi.

26

Jika ARMA (autoregressive moving average) diasumsikan untuk varian,
maka

rt

dikategorikan

dalam

generalised

autoregressive

conditional

heteroskedastic atau GARCH (p,q) dengan model :

dimana p menggambarkan nilai GARCH, dan q menggambarkan nilai dari
ARCH, ω > 0, ai > 0, i = 1, …, q; bj > 0, j = 1, …, p dan nilai ai atau bi

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Risiko Harga Bunga Krisan Cipanas dan Krisan Pt di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat