Analisis Pendapatan Usahatani dan Optimalisasi Pola Tanam Sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

(1)

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sumber pendapatan yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia hidupnya tergantung pada sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2011 sebesar 41,49 juta penduduk Indonesia memiliki pekerjaan dalam sektor pertanian. Jumlah tersebut merupakan jumlah paling tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2010, sektor pertanian menyediakan lapangan pekerjaan hampir 40 persen dari total lapangan pekerjaan yang tersedia, seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2008-2010 (Juta Orang)

No. Lapangan Pekerjaan Utama

2008 2009 2010

Agustus Februari Agustus Februari Agustus 1. Pertanian 41,33 43,03 41,61 42,83 41,49 2. Industri 12,55 12,62 12,84 13,05 13,82

3. Konstruksi 5,44 4,61 5,49 4,84 5,59

4. Perdagangan 21,22 21,84 21,95 22,21 22,49 5. Transportasi,

pergudangan, dan komunikasi

6,18 5,95 6,12 5,82 5,62

6. Keuangan 1,46 1,48 1,49 1,64 1,74

7. Jasa

kemasyarakatan 13,10 13,61 14,00 15.62 15,96

8. Lainnya * 1,27 1,35 1,39 1,40 1,50

Jumlah 102,55 104,49 104,87 107,41 108,21 Keterangan : *) Lapangan pekerjaan utama/ sektor lainnya, yaitu sektor pertambangan, listrik,

gas, dan air.

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011

Sektor pertanian terdiri dari beberapa subsektor, yaitu subsektor pangan, hortikultura, dan perkebunan. Salah satu subsektor yang memiliki peranan yang cukup penting adalah subsektor hortikultura. Subsektor hortikultura terdiri dari buah-buahan, sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat.

Dalam Pedoman Umum Pelaksanaan Pengembangan Hortikultura Tahun 2012, Direktorat Jenderal Hortikultura menyebutkan bahwa Pembangunan


(2)

2 hortikultura bertujuan untuk mendorong berkembangnya agribisnis hortikultura yang mampu menghasilkan produk hortikultura yang berdaya saing, mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani dan pelaku, memperkuat perekonomian wilayah, serta mendukung pertumbuhan pendapatan nasional.

Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008, subsektor hortikultura sebagian besar mengalami peningkatan, baik dari segi produksi, luas panen, maupun produktivitasnya. Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa pertumbuhan produksi, luas panen, dan produktivitas sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman biofarmaka mengalami peningkatan kecuali pada luas panen tanaman hias dan produktivitas tanaman biofarmaka. Kelompok komoditi sayuran menunjukkan pertumbuhan produktivitas yang stabil setiap tahunnya, yakni pada angka sembilan persen.

Tabel 2. Pertumbuhan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Hortikultura di Indonesia Tahun 2005-2008

Uraian Tahun Pertumbuhan*

(%)

2005 2006 2007 2008

Sayuran

Produksi (Ton) 9,101,986 9,527,463 9,455,463 10,035,093 10.25 Luas Panen (Ha) 944,695 1,007,839 1,001,606 1,026,990 8.71 Produktivitas

(Ton/ Ha) 9.63 9.45 9.44 9.77 1.42

Buah-buahan

Produksi (Ton) 14,786,599 16,171,130 17,116,622 18,027,889 21.92 Luas Panen (Ha) 717,428 728,218 756,766 781,333 8.91 Produktivitas

(Ton/ Ha) 20.61 22.21 22.62 23.07 11.95

Tanaman Hias Produksi

(Tangkai) 173,240,364 166,645,684 179,374,218 205,564,659 18.66 Luas Panen (m) 14,791,004 6,205,093 9,189,976 10,877,307 -26.46 Produktivitas

(Tangkai/ m) 11.71 26.86 19.52 18.90 61.35

Tanaman

Biofarmaka

Produksi (Kg) 321,889,429 416,870,624 444,201,067 398,808,803 23.90 Luas Panen (m) 182,917,951 222,662,711 245,253,798 227,952,040 24.62 Produktivitas

(Kg/ m) 1.76 1.87 1.81 1.75 -0.58

Keterangan : *) Pertumbuhan tahun 2008 atas tahun 2005


(3)

3 Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peranan penting bagi masyarakat. Sayuran berperan dalam rangka pemenuhan kecukupan pangan dan gizi masyarakat di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan karena sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat yang diperlukan untuk kesehatan tubuh dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pendapatan, dan pendidikan, tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tubuh juga meningkat. Minat masyarakat terhadap sayuran terus meningkat karena pola hidup sehat yang telah menjadi gaya hidup masyarakat. Hal ini menyebabkan permintaan sayur terus meningkat. Pada tahun 2005, tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia adalah sebesar 35,30 kilogram per kapita per tahun, tahun 2006 sebesar 34,06 kilogram per kapita per tahun, tahun 2007 sebesar 40,90 kilogram per kapita per tahun, dan 51,31 kilogram per kapita per tahun pada tahun 2008. Sedangkan konsumsi sayuran saat ini adalah sebesar 41,9 kilogram per kapita per tahun (Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian). Nilai tersebut masih jauh dari standar konsumsi yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), yaitu 73 kilogram per kapita per tahun.

Oleh sebab itu, produksi tanaman sayuran Indonesia diharapkan dapat memenuhi konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, hingga saat ini para petani masih sering menghadapi berbagai kendala dalam mengembangkan pertaniannya. Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani adalah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, seperti penguasaan lahan, modal, tenaga kerja, dan input produksi pertanian lainnya. Kendala tersebut berpengaruh pada tingkat produksi sayuran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2011), luas panen, produksi, dan produktivitas sayuran Indonesia selama lima tahun terakhir (2006-2011) cenderung meningkat seperti digambarkan pada Tabel 3.


(4)

4 Tabel 3. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Sayuran di Indonesia Tahun

2006-2010

No Tahun Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)

1 2006 1,007,839 9,527,463 9.45

2 2007 1,001,606 9,455,464 9.44

3 2008 1,026,991 10,035,094 9.77

4 2009 1,078,159 10,628,285 9.86

5 2010 1,110,586 10,706,386 9.64

Total 5,225,181 50,352,692 9.64

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2011 (diolah)

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa produksi sayuran di Indonesia tahun 2006-2011 relatif mengalami peningkatan. Peningkatan produksi tersebut disebabkan oleh peningkatan luas panen yang berpengaruh pada peningkatan produktivitas juga. Namun, pada tahun 2007, penurunan luas panen sayuran menyebabkan penurunan pada produksi dan produktivitas sayuran. Penurunan luas panen diduga karena adanya konversi lahan pertanian menjadi lahan industri dan pemukiman yang semakin meningkat, terutama di daerah perkotaan. Hal ini terjadi karena pertumbuhan jumlah penduduk yang relatif tinggi, sehingga membutuhkan lahan yang lebih luas untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman.

Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2006 hingga 2010, Jawa Barat telah memproduksi sayuran sebesar 47.330.951 ton atau dengan rata-rata produksi sebesar 9.466.190,2 kilogram setiap tahunnya. Bogor merupakan sentra produksi sayuran terbesar ke enam di Jawa Barat setelah Karawang, Bandung, Subang, Cianjur, dan Garut. Total produksi sayuran Bogor sejak tahun 2006 hingga 2010 adalah 2.170.747 ton atau 434.149,4 kg per tahun, yaitu sebesar 4,59 persen dari total produksi sayuran Jawa Barat.


(5)

5 Tabel 4. Produksi Sayuran Tahun 2006-2010 menurut Kabupaten dan Kota di

Jawa Barat No Kabupaten/

Kota

Tahun Jumlah

(Kg) 2006 2007 2008 2009 2010

1 Karawang 109,852 106,765 3,856,287 1,923,602 7,351,864 13,348,370 2 Bandung 999,402 1,037,057 1,296,036 2,092,598 5,568,161 10,993,254 3 Subang 45,642 28,973 385,605 736,431 4,708,205 5,904,856 4 Cianjur 431,445 476,821 342,857 3,353,943 1,093,124 5,698,190 5 Garut 560,679 602,476 650,464 807,675 701,571 3,322,865 6 Bogor 166,989 162,407 761,950 255,995 823,406 2,170,747 7 Sukabumi 133,741 128,312 143,829 123,724 628,850 1,158,456 8 Majalengka 173,408 160,710 242,918 157,547 203,002 937,585 9 Tasikmalaya 113,511 98,166 144,707 233,573 276,527 866,484 10 Bekasi 72,849 120,403 85,156 241,948 169,187 689,543 11 Indramayu 38,810 76,008 93,121 126,078 89,566 423,583 12 Sumedang 52,140 70,960 66,717 129,501 76,707 396,025 13 Cirebon 54,514 53,598 54,223 64,561 144,457 371,353 14 Kuningan 53,493 51,435 65,109 76,190 114,131 360,358 15 Purwakarta 37,004 34,665 36,035 50,146 121,595 279,445 16 Ciamis 26,915 18,234 20,782 27,766 65,398 159,095 17 Kota Cimahi 1,054 2,489 3,673 7,260 116,968 131,444 18 Kota Banjar 3,359 5,626 4,567 32,837 39,741 86,130 19 Kota Depok 6,501 8,967 5,255 6,411 6,034 33,168 Jumlah 3,081,308 3,244,072 8,259,291 10,447,786 22,298,494 47,330,951 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2011 (diolah)

Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan, dimana salah satu kecamatan yang memproduksi komoditi sayuran adalah Kecamatan Ciawi. Karakteristik tanah dan iklim yang dimiliki Kecamatan Ciawi sangat mendukung untuk pertumbuhan berbagai jenis sayuran. Kemiringan tanah antara 5-40 persen dengan curah hujan yang tinggi menjadikan Kecamatan Ciawi cocok dijadikan sebagai sentra produksi sayuran.

Kelompok Tani Pondok Menteng yang terletak di Desa Citapen Kecamatan Ciawi merupakan kelompok tani yang menghasilkan sayuran. Pondok Menteng memberi kontribusi produksi sayuran sebesar 534.404 kilogram pada tahun 2010 dan 289.856 kilogram pada tahun 2011. Selama dua tahun tersebut,


(6)

6 produksi sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng mengalami fluktusi. Hal ini terjadi karena masih terdapat kendala yang dihadapi oleh petani dalam kegiatan usahataninya, seperti hama dan penyakit tanaman, modal pertanian, maupun ketersediaan input pertanian lainnya. Hasil produksi sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Produksi Sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010-2011

No Jenis Komoditi

Tahun Jumlah

(Kg)

2010 2011

1 Caesin 49,674 65,208 114,882

2 Timun 134,418 86,235 220,653

3 Kacang Panjang 132,034 15,156 147,190

4 Buncis 129,887 37,968 167,855

5 Jagung Manis 64,334 34,151 98,485

6 Cabe Keriting 22,039 21,582 43,621

7 Tomat 2,018 29,556 31,574

Total 534,404 289,856 824,260

Sumber: Gapoktan Rukun Tani Desa Citapen, 2012 (diolah)

Kendala yang dihadapi oleh petani berpengaruh terhadap hasil pertanian yang kurang maksimal, termasuk pada pertanian sayuran. Oleh sebab itu, usaha-usaha dalam peningkatan hasil pertanian sangat dibutuhkan dalam pengembangan sektor pertanian. Salah satu usaha yang dilakukan adalah melalui diversifikasi pertanian.

Diversifikasi pertanian merupakan bagian dari program yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan hasil pertanian, peningkatan pendapatan, perluasan kesempatan kerja, dan penanggulangan kemiskinan. Program lainnya antara lain intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, mekanisasi pertanian, dan rehabilitasi pertanian. Diversifikasi pertanian merupakan usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan memperbanyak jenis kegiatan pertanian, seperti bertani dan beternak, atau bertani dan memelihara ikan. Cara kedua adalah dengan memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, seperti menanam jagung dan padi pada suatu lahan tertentu.

Diversifikasi pertanian dilakukan dengan mengatur pola tanam, yakni memilih kombinasi jenis komoditi yang akan diusahakan pada lahan tertentu dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Hal ini dilakukan dengan tujuan


(7)

7 untuk meminimalkan risiko kegagalan pertanian. Jika salah satu komoditas mengalami gagal panen, maka komoditas lain akan menutupi atau mengurangi kerugian yang dialami oleh petani.

Dalam pengaturan pola tanam, pemilihan jenis komoditi yang diusahakan mempengaruhi pendapatan pertanian yang akan diperoleh. Jenis tanaman yang semakin beragam tidak menjamin pendapatan petani yang semakin tinggi. Oleh sebab itu, dibutuhkan optimalisasi pola tanam sayuran dalam memaksimalkan pendapatan usahatani karena pada akhirnya suatu kegiatan usahatani akan dinilai dari pendapatan atau keuntungan yang dinikmati oleh petani.

1.2 Perumusan Masalah

Pondok Menteng merupakan kelompok tani yang terletak di Desa Citapen Kecamatan Ciawi yang bergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani. Anggota kelompok tani ini terdiri dari 104 orang anggota yang memiliki mata pencahariaan utama sebagai petani. Kegiatan pertanian yang diusahakan oleh Kelompok Tani Pondok Menteng adalah usahatani sayuran. Adapun jenis sayuran yang diusahakan antara lain cabai keriting, buncis, kacang panjang, tomat, timun, jagung manis, dan caisin. Selain komoditi sayuran, Kelompok Tani Pondok Menteng juga mengusahakan komoditi padi sawah.

Sayuran merupakan salah satu komoditas komersial yang permintaannya dipengaruhi oleh pasar. Usahatani sayuran dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani, melainkan untuk memenuhi permintaan pasar (market oriented). Oleh sebab itu, pada umumnya petani memanfaatkan informasi pasar dalam menentukan jenis sayuran yang akan diusahakan. Salah satunya adalah harga jual sayuran. Berdasarkan informasi tersebut, petani cenderung melakukan usahatani dengan sistem spesialisasi dengan mengusahakan jenis sayuran yang memiliki harga lebih tinggi. Namun, kenyataannya petani sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng masih menerapkan sistem usahatani diversifikasi. Sistem usahatani diversifikasi dilakukan melalui pengaturan pola tanam, yaitu kombinasi jenis sayuran yang akan diusahakan.

Usahatani sayuran merupakan usahatani yang memiliki banyak kendala dan risiko. Kendala dan risiko yang mungkin terjadi antara lain kendala musim,


(8)

8 sifatnya yang mudah rusak, dan harga yang fluktuatif. Salah satu risiko yang dihadapi oleh petani di Pondok Menteng adalah harga jual yang berfluktuasi. Fluktuasi harga yang terjadi akan berpengaruh terhadap keputusan petani dalam menentukan jenis tanaman yang diusahakan. Adapun harga rata-rata sayuran yang berlaku di Kecamatan Ciawi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Perkembangan Rata-rata Harga Sayuran di Kecamatan Ciawi Tahun 2010-2011

No Nama Komoditi

Rata-Rata Per Tahun (Rp)

2010 2011 2012

1 Caesin 2,617 1,054 1,186

2 Timun 1,550 1,617 1,457

3 Cabe Kriting 18,413 14,917 11,143

4 Tomat 3,000 1,600 1,857

5 Buncis 2,867 3,917 3,500

6 Kacang Panjang 2,242 3,208 3,214

7 Jagung Manis 1,692 1,867 1,171

Sumber: Gapoktan Rukun Tani Desa Citapen, 2012 (diolah)

Berdasarkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa tingkat harga yang berlaku di Kecamatan Ciawi sangat berfluktuasi. Harga komoditi caesin pada tahun 2010 adalah Rp 2,617, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2011 menjadi Rp 1.054, dan Rp 1.186 pada tahun 2012. Hal tersebut juga terjadi pada komoditi lainnya.

Berdasarkan uraian tersebut, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana pola tanam dan pendapatan usahatani sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng?

2. Bagaimana pengaruh perubahan harga output terhadap pola tanam, pendapatan, dan indeks diversifikasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pendapatan usahatani sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng.


(9)

9 2. Mengidentifikasi pola tanam dan tingkat diversifikasi usahatani sayuran di

Kelompok Tani Pondok Menteng.

3. Menentukan pola tanam optimal serta menganalisis pengaruh perubahan harga dan lahan terhadap pola tanam, pendapatan usahatani, dan indeks diversifikasi.

1.4 Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi semua pihak, baik bagi petani sayuran, penulis, maupun masyarakat.

1. Bagi Kelompok Tani Pondok Menteng, penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam mengambil keputusan sebagai pertimbangan dalam pemilihan pola tanam yang akan dilakukan.

2. Sebagai bahan informasi dan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

3. Sebagai sarana bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dari bangku kuliah.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengkaji tanaman sayuran yang dibudidayakan oleh Kelompok Tani Pondok Menteng di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Bogor, Jawa Barat. Lingkup kajian masalah yang diteliti adalah analisis pendapatan usahatani dan optimalisasi pola tanam sayuran. Pada analisis pendapatan usahatani, nilai yang dihitung adalah penerimaan, biaya, dan pendapatan usahatani tunai (cash).


(10)

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pola Tanam Diversifikasi

Secara umum diversifikasi dapat diartikan sebagai upaya penganekaragaman produksi dengan cara pengembangan jenis atau bentuk. Diversifikasi aktivitas ekonomi memberi dampak pada pendapatan dan mampu mempengaruhi alokasi sumberdaya (Sumaryanto, 2006). Diversifikasi berpeluang dalam meningkatkan kesempatan kerja, penggunaan modal, dan sumberdaya lainnya. Dalam kegiatan pertanian, diversifikasi usahatani dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil risiko akibat terjadinya fluktuasi harga, perubahan cuaca, dan serangan hama dan penyakit.

Diversifikasi usahatani sudah dikembangkan sejak Pelita II (1974-1978) dalam rangka menuju swasembada pangan. Program ini dikembangkan untuk mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman palawija dan hortikultura. Pada awalnya, alasan petani melakukan diversifikasi usahatani adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang beragam. Namun, seiring dengan perkembangannya, diversifikasi usahatani dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar dan untuk meningkatkan pendapatan petani (Rusastra, et al, 2004).

Dalam melakukan diversifikasi usahatani petani memiliki pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan pola tanam yang akan dilakukan. Selain untuk meningkatkan pendapatan usahatani, hal tersebut juga dilakukan untuk memperkecil risiko usahatani yang sedang dilakukan. Oleh sebab itu, pengelolaan sumberdaya dilakukan seoptimal mungkin untuk memaksimalkan pendapatan.

Terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan pola tanam (Rusastra, et al, 2004, Sumaryanto, 2006, Saliem, dan Supriyati, 2006). Faktor pertama yang harus dipertimbangkan adalah kondisi fisik tanah yang meliputi ketersediaan air, keadaan tanah, serta kondisi iklim dan cuaca. Komoditas yang akan diusahakan disesuaikan dengan kondisi fisik tanah yang tersedia. Hal ini dilakukan dengan harapan agar kegiatan usahatani dapat berjalan dengan baik.

Keadaan rumah tangga petani juga menjadi salah satu pertimbangan bagi petani dalam pemilihan pola tanam usahataninya. Keadaan rumah tangga petani terkait dengan kemampuan permodalan, ketersediaan tenaga kerja, kontribusi


(11)

11 pendapatan dari usahatani, pemilikan peralatan (pompa irigasi), serta luas dan status garapan. Ketersediaan modal, peralatan, dan kepemilikan lahan pertanian berkaitan dengan keberhasilan dan keberlanjutan usahatani yang dijalankan. Sedangkan kontribusi pendapatan usahatani terkait dengan bagaimana hasil kegiatan usahatani yang telah dijalankan mampu meningkatkan pendapatan petani.

Hama dan penyakit merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan pola tanam. Hama merupakan binatang pengganggu tanaman, seperti serangga, ulat, dan kutu tanaman. Sedangkan penyakit adalah gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh mikroorganise yang tidak terlihat oleh mata, seperti cendawan dan bakteri. Untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal, pengendalian hama dan penyakit dalam kegiatan budidaya sayuran harus dilakukan dengan baik. Hal ini karena hama dan penyakit tanaman berpotensi menyebabkan kegagalan panen dan berdampak pada pendapatan petani.

Selain itu, faktor lain yang menjadi pertimbangan petani dalam memilih pola tanam adalah ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman, aksesibilitas dan kelancaran pemasaran, karakteristik sosial budaya masyarakat terkait dengan adopsi teknologi. Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanam terkait dengan ketersediaan input-input pertanian yang akan digunakan. Sedangkan aksesibilitas dan kelancaran pemasaran terkait dengan pemasaran/ penjualan hasil (output) pertanian.

2.2 Analisis Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani merupakan besarnya balas jasa yang diterima oleh petani sebagai hasil dari usaha yang telah dilakukan dalam pengelolaan maupun keikutsertaannya dalam menyediakan modal. Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk melihat keadaan usahatani sekarang dan sebagai dasar dalam perencanaan usahatani yang akan datang. Selain itu, pendapatan usahatani dapat digunakan untuk melihat berhasil atau tidaknya suatu kegiatan usahatani (Sunarno, 2004). Penelitian-penelitian tentang analisis pendapatan usahatani


(12)

12 sudah banyak dilakukan. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Yuningsih (1999), Wicaksono (2006), dan Sitanggang (2008).

Yuningsih (1999) melakukan analisis optimalisasi pendapatan usahatani pada keragaman jenis usaha petani nenas di Desa Buni Bayu, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. Dalam penelitiannya, Yuningsih menghitung pendapatan bersih dengan mengurangkan total penerimaan dengan total biaya usahatani tanaman nenas. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pendapatan bersih petani lahan sempit golongan pemilik-penyewa penggarap sebesar Rp 22.318.120 per hektar, Rp 14.324.883 per hektar untuk petani lahan sempit golongan pemilik penggarap, dan Rp 11.753.807 per hektar untuk petani lahan sempit golongan penyewa penggarap. Sedangkan petani lahan luas golongan pemilik-penyewa penggarap memperoleh pendapatan Rp 46.014.514 per hektar dan Rp 30.997.250 per hektar untuk petani luas golongan pemilik penggarap. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa petani lahan luas golongan pemilik-penyewa penggarap memperoleh pendapatan paling besar.

Setelah melakukan analisis terhadap pendapatan usahatani, Yuningsih kemudian melakukan analisis terhadap nilai R/C ratio dan B/C ratio untuk melihat efisiensi usahatani nenas. Nilai R/C ratio dan B/C ratio berturut-turut untuk petani berlahan sempit adalah 2,02 dan 1,02 untuk petani pemiliki-penyewa penggarap, 1,64 dan 0,64 untuk petani pemilik penggarap, 1,40 dan 0,40 untuk petani penyewa penggarap. Sedangkan untuk petani berlahan luas, nilai R/C ratio dan B/C ratio masing-masing adalah 4,22 dan 3,22 untuk petani pemiliki-penyewa penggarap, 4,04 dan 3,05 untuk petani pemilik penggarap. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa usahatani nenas yang dilakukan oleh petani lahan luas golongan pemilik-penyewa penggarap adalah yang paling efisien.

Wicaksono (2006) melakukan analisis pendapatan usahatani dan optimalisasi pola tanam sayuran di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Analisis pendapatan usahatani dilakukan dengan menghitung selisih antara penerimaan dengan total biaya. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, pendapatan usahatani sayuran yang diperoleh petani luas adalah Rp 2.747.675 untuk MT I, Rp 2.318.932 untuk MT II, dan Rp


(13)

13 2.831.588 untuk musim tanam III. Sedangkan petani berlahan sempit memperoleh pendapatan sebesar Rp 1.254.366 untuk MT I, Rp 1.800.632 untuk MT II, dan Rp 1.964.352 untuk musim tanam III.

Wicaksono (2006) kemudian melakukan analisis R/C ratio untuk melihat efisiensi usahatani sayuran di Desa Cipendawa. Nilai R/C ratio yang diperoleh untuk petani berlahan luas luas adalah adalah 2,03 untuk MT I, 1,89 untuk MT II, dan 2,14 untuk musim tanam III. Sedangkan petani berlahan sempit memperoleh nilai 1,26 untuk MT I, 1,49 untuk MT II, dan 1,54 untuk musim tanam III. Sehingga, rata-rata nilai R/C ratio untuk petani berlahan luas adalah 2,02 dan 1,41 untuk petani berlahan sempit. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa petani berlahan luas lebih efisien dibandingkan dengan petani berlahan sempit.

Sitanggang (2008) melakukan analisis usahatani dan tataniaga lada hitam di Desa Lau Simere, Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi. Dalam menganalisis tingkat pendapatan petani, Sitanggang menggunakan metode penghitungan pendapatan usahatani terhadap 44 kepala keluarga petani, yakni selisih antara total penerimaan dengan total biaya usahatani lada hitam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerimaan rata-rata yang diterima oleh setiap petani per ha per tahun adalah Rp 15.367.666 dengan total biaya sebesar Rp 8.412.999, sehingga diperoleh pendapatan usahatani sebesar Rp 6.954.667.

2.3 Optimalisasi Pola Tanam

Penelitian tentang optimalisasi pola tanam sudah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Namun, tidak semua penelitian melakukan kajian terhadap komoditas sayuran. Penelitian-penelitian terdahulu antara lain dilakukan oleh Nasution (2000), Purba (2000), Asmara (2002), Sunarno (2004), Kastaman, et al (2005), Lestari (2006), Wicaksono (2006), dan Chaerunnisa (2007).

Nasution (2000) melakukan analisis optimalisasi pola tanam dan efisiensi pemasaran pada usahatani pisang barangan (Musa paradisiacal) di Desa Namo Tualang, Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Secara aktual, pola tanam pisang barangan terdiri dari tiga tipe, yaitu pola tanam A, pola tanam B, dan pola tanam C. Pola tanam A merupakan pola tanam yang menanam pisang barangan dengan cara monokultur. Pola tanam B menanam


(14)

14 pisang barangan dengan pola tanam polikultur, yaitu pisang barangan ditumpangsarikan dengan pepaya. Sedangkan pola tanam C menanam pisang barangan dengan tanaman sela, yakni jagung.

Analisis optimalisasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Linear Programming. Fungsi tujuan yang ingin dicapai adalah memaksimalkan pendapatan petani pisang barangan. Sedangkan fungsi kendala terdiri dari kendala lahan, kendala tenaga kerja, kendala modal, dan kendala ketersediaan sarana produksi.

Hasil analisis menunjukkan pola tanam yang paling optimal dari ketiga pola tanam tersebut adalah pola tanam A dan pola tanam B. Agar pola tanam C optimal, maka pola tanam C harus diubah menjadi pola tanam monokultur jagung. Total pendapatan yang diperoleh pada kondisi optimal adalah Rp 1.284.734 per hektar untuk pola tanam A, Rp 989.735 per hektar untuk pola tanam B, dan Rp 2.754.148 per hektar untuk pola tanam C. Maka, total pendapatan dengan pola tanam optimal adalah sebesar Rp 1.334.604 per hektar atau meningkat sebesar 28,39 persen dari pendapatan aktual.

Purba (2000) melakukan analisis optimalisasi pola tanam jahe dengan berbagai jenis kombinasi tanaman di Desa Tajinan, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Purba melakukan analisis pola tanam terhadap 30 orang petani jahe. Usahatani jahe pada penelitian ini pada umumnya dilakukan secara tumpang sari. Tanaman yang biasanya ditumpangsarikan dengan jahe adalah cabai rawit, talas, ketela pohon, jagung, dan buncis. Petani pada umumnya mengusahakan jahe dengan dua atau tiga tanaman sela. Pola tanam yang paling dominan adalah tanaman jahe yang ditumpangsarikan dengan cabai rawit, talas, dan ketela pohon.

Analisis optimalisasi dilakukan dengan menggunakan Linear Programming. Fungsi tujuan dalam penelitian ini adalah memaksimalkan pendapatan bersih petani jahe dengan kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya yang optimal. Pendapatan bersih diperoleh dengan mengurangkan penerimaan total dengan pengeluaran total.

Aktivitas-aktivitas ekonomi dalam penelitian ini adalah aktivitas produksi, aktivitas pembelian bibit tanaman, aktivitas pembelian pupuk, aktivitas


(15)

15 penyewaan tenaga kerja luar keluarga, aktivitas penjualan hasil produksi, dan aktivitas pengambilan modal kredit. Sedangkan yang menjadi kendala adalah kendala luas lahan, kendala tenaga kerja keluarga, kendala modal kredit, dan kendala modal sendiri.

Berdasarkan analisis optimalisasi yang dilakukan, pola tanam yang paling optimal adalah jahe ditumpangsarikan dengan tanaman cabai rawit pada petani berlahan sempit dan jahe ditumpangsarikan dengan tanaman buncis pada petani berlahan luas. Dalam keadaan optimal, petani berlahan sempit memperoleh pendapatan sebesar Rp 2.824.557.973 per hektar per tahun atau meningkat sebesar 37,77 persen dari pendapatan sebelum optimal. Sedangkan petani berlahan luas memperoleh pendapatan sebesar Rp 11.746.726.682 per hektar per tahun atau meningkat sebesar 7.08 persen dari pendapatan sebelum optimal.

Asmara (2002) menganalisis optimalisasi pola usahatani tanaman pangan pada lahan sawah dan ternak domba di Kecamatan Sukahaji, Majalengka. Dalam penelitiannya dipaparkan bahwa berdasarkan kemampuan lahan sawah untuk ditanami dalam satu tahun, sumberdaya lahan yang dikuasai oleh petani dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu lahan sawah satu kali tanam per tahun, lahan sawah dua kali tanam per tahun, dan lahan sawah tiga kali tanam per tahun.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Linear Programming. Fungsi tujuan dalam model analisis ini adalah memaksimumkan tingkat pendapatan rumah tangga petani dari usahatani yang dijalankannya. Aktivitas yang dipertimbangkan dalam model Linear Programming tingkat petani meliputi aktivitas pola tanam, aktivitas memelihara ternak, aktivitas menyewa tenaga kerja, dan aktivitas meminjam kredit. Sedangkan kendala yang dipertimbangkan dalam model ini adalah kendala lahan, kendala tenaga kerja keluarga, kendala hijauan, kendala bibit tanaman, kendala pupuk anorganik, kendala modal sendiri, dan kendala kredit usahatani.

Hasil penelitian juga menunjukkan berbagai jenis tanaman yang diusahakan oleh petani pada setiap musim tanam. Untuk musim tanam I (MT I) dan musim tanam II (MT II), padi merupakan komoditas utama yang dibudidayakan oleh petani. Hal ini berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat


(16)

16 Indonesia yang menempatkan padi sebagai sumber makanan pokok. Sedangkan untuk musim tanam III (MT III), padi bukan merupakan tanaman yang dominan diusahakan oleh petani. Ketersediaan air merupakan salah satu faktor dalam penentuan komoditas ini.

Usahatani optimal pada tingkat petani meliputi aktivitas pola tanam padi-bera untuk lahan satu kali tanam/ tahun, pola tanam padi-padi dan padi-bawang merah untuk lahan dua kali tanam/ tahun, serta pola tanam padi-bawang merah-bawang merah, padi-merah-bawang merah-ubi jalar, dan padi-(padi+merah-bawang merah)-(padi+bawang merah) untuk lahan tiga kali tanam/ tahun. Usahatani optimal tingkat wilayah meliputi aktivitas pola tanam padi-bera pada lahan satu kali tanam/ tahun, pola tanam padi-ubi jalar dan padi-bawang merah pada lahan dua kali tanam/ tahun, pola tanam padi, bawang merah, padi-bawang merah-padi-bawang merah, dan padi-padi-bawang merah-ubi jalar pada lahan tiga kali tanam/ tahun. Pola tanam optimal pada skenario I meliputi pola tanam padi-bera, padi-padi, padi-bawang merah, padi-padi-bawang merah, dan padi-padi-ubi jalar. Pada skenario II meliputi pola tanam padi-bera, padi-bawang merah, dan padi-bawang merah-bawang merah.

Pendapatan petani pada kondisi optimal untuk kategori lahan satu kali tanam per tahun adalah Rp 1.904.199 atau meningkat sebesar 36,64 persen dari Rp 1.393.605 pendapatan sebelum optimal. Untuk kategori lahan dua kali tanam per tahun, pendapatan petani adalah Rp 3.305.674 atau meningkat sebesar 36,14 persen dari Rp 2.428.160 pendapatan sebelum optimal. Sedangkan pendapatan optimal untuk kategori lahan dua kali tanam per tahun adalah Rp 3.829.634 atau meningkat sebesar 37,84 persen dari Rp 2.778.233 pendapatan sebelum optimal.

Aktivitas memelihara domba merupakan aktivitas optimal yang dapat dilakukan petani bersamaan dengan aktivitas pola tanam baik pada solusi tingkat usahatani maupun solusi wilayah. Pada solusi optimal, terjadi peningkatan jumlah pemeliharaan ternak domba. Untuk tingkat petani terjadi peningkatan dari lima unit ternak menjadi tujuh sampai delapan unit ternak.

Sunarno (2004) melakukan analisis pendapatan dan optimalisasi pola tanam komoditi sayuran di Desa Sukatani, Kemacatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Sunarno membagi petani berdasarkan


(17)

17 luas lahan yang diolah, yakni petani berlahan luas dan petani berlahan sempit. Rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani adalah 3.056 m2. Petani berlahan luas memiliki lahan di atas luas lahan rata-rata petani. Sedangkan petani berlahan sempit memiliki lahan di bawah luas lahan rata-rata petani.

Sama seperti penelitian sebelumnya, penelitian ini juga menggunakan alat analisis Linear Programming dengan fungsi tujuan memaksimalkan pendapatan bersih dengan kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya yang optimal. Aktivitas-aktivitas yang terjadi adalah aktivitas produksi, aktivitas pembelian pupuk, aktivitas menyewa tenaga kerja luar keluarga, dan aktivitas penjualan. Sedangkan kendala yang dihadapi adalah kendala lahan, kendala transfer pembelian pupuk, kendala tenaga kerja keluarga, kendala transfer penjualan, dan kendala modal sendiri.

Hasil analisis optimalisasi pola tanam untuk petani berlahan luas menunjukkan bahwa pola tanam yang memberikan pendapatan maksimal adalah horinso, brokoli, dan wortel+bawang daun. Sedangkan untuk petani berlahan sempit adalah horinso, brokoli, dan horinso. Hasil optimal petani berlahan luas lebih kecil dibandingkan petani berlahan sempit. Tetapi, tambahan pendapatan per hektar yang diperoleh petani berlahan luas lebih besar dibandingkan petani berlahan sempit. Hal ini disebabkan oleh petani berlahan luas kebih berdiversifikasi.

Kastaman (2005) melakukan penelitian tentang model optimalisasi pola tanam pada lahan kering di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Dalam penelitiannya diuraikan bahwa rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani adalah kurang dari 0,5 Ha. Pola tanam dilakukan secara bergilir, sehingga satu tanaman umumnya ditanam hanya satu kali dalam setahun, yaitu kentang – kol/ kubis – tomat. Dari pola tanam tersebut, diperoleh keuntungan sebesar Rp 63.000.000 per ha setiap tahunnya. Komoditi andalan petani Kabupaten Garut adalah kentang, kol/ kubis, tomat, wortel, cabai, kacang merah, sawi, buncis, kembang kol, dan bawang daun.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola tanam optimal dalam memaksimalkan pendapatan petani. Alat analisis yang digunakan adalah Linear Programming dengan fungsi tujuan memaksimalkan pendapatan dan


(18)

18 meminimalkan biaya. Sedangkan fungsi kendala yang digunakan adalah kendala luas lahan dan kendala tenaga kerja. Pola tanam optimal dalam penelitian ini terdiri dari tiga alternatif, yaitu alternatif satu dengan urutan pola tanam MT I, MT II, MT III, alternatif dua dengan pola tanam MT II, MT III, MT I, dan alternatif dua dengan pola tanam MT II, MT III, MT I.

Pada alternatif I, komoditi yang diusahakan adalah kembang kol dan kol/ kubis pada MT I, kembang kol, kol/ kubis, dan sawi pada MT II, kembang kol, kentang, sawi, dan buncis pada MT III. Pada alternatif II, komoditi yang diusahakan adalah kembang kol, kentang, sawi, kacang merah, cabai, dan buncis pada MT I, kembang kol, kol/ kubis pada MT II, dan kembang kol, kol/ kubis, dan sawi pada MT III. Sedangkan pada alternatif III, komoditi yang diusahakan adalah dan kembang kol, kol/ kubis, dan sawi pada MT I, kembang kol, kentang, sawi, kacang merah, cabai, dan buncis pada MT II, dan kembang kol, kol/ kubis pada MT III. Hasil optimalisasi merekomendasikan alternatif III sebagai pola tanam terbaik yang memberikan keuntungan paling besar, yaitu sebesar Rp 82.304.000 atau meningkat sebesar Rp 30.340.700 dari Rp Rp 51.963.300 sebelum dilakukan optimalisasi.

Lestari (2006) melakukan analisis optimalisasi pola tanam sayuran organik di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Lestari melakukan analisis dengan menggunakan dua alternatif, yaitu alternatif I dan alternatif II. Kedua alternatif tersebut dibatasi oleh pergiliran tanaman yang telah dilakukan, yaitu kacang-kacangan pada musim tanam I, sayuran buah pada musim tanam II, sayuran daun pada musim tanam III, dan umbi pada musim tanam IV. Alternatif I menganalisis permasalahan pola tanam sayuran organik berdasarkan pergiliran tanaman selama setahun. Sedangkan alternatif II menganalisa permasalahan pola tanam sayuaran organik dengan cara menganalisa setiap jenis sayuran pada setiap musim tanam dan tetap memperhatikan pergiliran pola tanam yang telah ditentukan.

Lahan yang diolah oleh petani dalam penelitian ini adalah berupa lahan garapan. Rata-rata luas lahan yang digarap oleh petani adalah 0,8-1,6 ha. Sebagian besar petani membudidayakan tanaman sayuran secara monokultur dan hanya sedikit yang membudidayakan secara tumpang sari.


(19)

19 Alat analisis yang digunakan oleh Lestari adalah Linear Programming. Fungsi tujuan pada permasalahan pola tanam alternatif I adalah memaksimumkan tingkat pendapatan bersih petani dari pola tanam sayuran organik selam setahun yang telah ditentukan. Sedangkan pola tanam alternatif II bertujuan untuk memaksimumkan tingkat pendapatan petani dari usahatani sayuran organik yang akan dilakukan. Aktivitas-aktivitas yang diamati dalam permasalahan pola tanam alternatif I dan II tidak memiliki perbedaan. Adapun aktivitas-aktivitas tersebut meliputi aktivitas penjualan hasil, aktivitas pembelian bibit/ benih, aktivitas pembelian pupuk organik, dan aktivitas menyewa tenaga kerja luar keluarga. Begitu juga dengan kendala yang terdapat pada pola tanam alternatif I sama dengan kendala yang terdapat pada pola tanam alternatif II, yaitu kendala lahan, kendala ketersediaan tenaga kerja luar keluarga, kendala benih, dan kendala pupuk organik.

Berdasarkan kedua alternatif yang digunakan, pola tanam yang disarankan tidak jauh berbeda. Alternatif I dan alternatif II masing-masing menyarankan buncis (0,238 ha dan 0,236 ha)-kacang merah (0,498 ha dan 0,5 ha)-tomat (0,763 ha)-bit (0,736 ha)-wortel (0,736 ha). Sumberdaya pembatas utama pada alternatif I adalah lahan, pada alternatif II adalah lahan pama musim tanam III. Pola tanam optimal alternatif I lebih peka terhadap perubahan pendapatan dan ketersediaan sumberdaya dari pada pola tanam optimal alternatif II.

Aktivitas pola tanam yang disarankan setelah ketersediaan bibit/ benih diturunkan adalah buncis (0,236 ha dan 0,361 ha)-kacang merah (0,5 ha dan 0,375 ha)-tomat (0,736 ha)-bit (0,736 ha)-wortel (0,736 ha)-wortel (0,736 ha). Pendapatan pola tanam optimal alternatif I dan II mengalami penurunan setelah terjadi perubahan ketersediaan bibit/ benih dimana penurunan pendapatan alternatif II lebih besar.

Pada skenario II, aktivitas pola tanam yang disarankan untuk masing-masing alternatif adalah (buncis 0,2736 ha dan 0,236 ha)-kacang merah (0,499 ha dan 0,5 ha)-tomat (0,736 ha)-bit (0,736 ha)-wortel (0,736 ha). Pendapatan pola tanam optimal alternatif I dan II mengalami penurunan dari pendapatan sebelum ketersediaan pupuk organik disesuaikan dengan kebutuhan dan pendapatan alternatif II mengalami penurunan terbesar. Sumberdaya pembatas utama pada


(20)

20 alternatif I adalah pupuk organik musim tanam III dan pada alternatif II adalah sumberdaya lahan musim tanam III.

Wicaksono (2006) menganalisis pendapatan usahatani dan optimalisasi pola tanam sayuran di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Wicaksono membagi petani menjadi dua kelompok berdasarkan luas lahan yang diolah, yaitu petani berlahan sempit dan petani berlahan luas. Usahatani sayuran dilakukan secara monokultur dan tumpang sari.

Untuk mengetahui pola tanam optimal, Wicaksono menggunakan alat analisis Linear Programming dengan fungsi tujuan untuk memaksimalkan pendapatan bersih dengan kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya yang optimal. Aktivitas-aktivitas yang terjadi adalah aktivitas pembelian pupuk, aktivitas menyewa tenaga kerja, aktivitas produksi, dan aktivitas penjualan. Sedangkan kendala yang dihadapi adalah kendala lahan, kendala transfer pembelian pupuk, kendala tenaga kerja keluarga, kendala transfer penjualan, dan transfer modal sendiri.

Pola tanam optimal untuk petani berlahan luas adalah wortel pada musin tanam I. bawang daun pada musim tanam II, dan wortel tumpang sari dengan bawang daun pada musim tanam III. Sedangkan pola tanam optimal untuk petani berlahan sempit adalah bawang daun pada musim tanam I wortel tumpangsari dengan bawang daun pada musim tanam II, dan bawang daun pada musim tanam III. Petani berlahan luas dan berlahan sempit dihadapkan pada pilihan komoditas dan input yang ada sehingga untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, petani harus merencanakan kombinasi tanaman dan input secara optimal. Petani berlahan luas dan petani berlahan sempit masih dapat dipotimalkan pendapatnnya.

Pada petani berlahan luas, kenaikan dan penurunan harga jual output berpengaruh pada perubahan pola tanam. Sedangkan kenaikan dan penurunan luas lahan, modal, harga input (pupuk urea) tidak menyebabkan perubahan pola tanam. Namun, pendapatan, R/C ratio, indeks diversifikasi mengalami kenaikan dan penurunan. Pada petani berlahan sempit, kenaikan harga jual output tidak berpengaruh pada perubahan pola tanam. Kenaikan dan penurunan luas lahan, modal, harga input (pupuk urea) tidak menyebabkan perubahan pola tanam. Namun, pendapatan, R/C ratio, indeks diversifikasi mengalami kenaikan dan


(21)

21 penurunan. Secara umum, pengaruh harga jual lebih mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam memilih pola tanam.

Chaerunnisa (2007) melakukan optimalisasi pola tanam sayuran di Kawasan Agropolitan Babelan, Jawa Barat. Pada penelitian ini diuraikan bahwa lahan yang dimiliki petani relatif kecil, yaitu kurang dari 0,2 ha untuk petani yang tinggal di daerah atas (dataran tinggi) dan lebih dari 0,2 ha untuk petani yang tinggal di daerah bawah (pesisir). Hal tersebut mengaibatkan terjadinya perubahan pola tanam yang dilakukan. Petani daerah atas memilih jenis tanaman yang memiliki umur yang relatif singkat agar dapat dipanen lebih cepat juga akibat keterbatasan lahan yang dimiliki. Sedangkan petani daerah bawah memilih jenis tanaman yang memiliki umur relatif lebih lama karena lahan yang dimiliki dapat dibagi-bagi untuk berbagai jenis tanaman. Hal ini memungkinkan petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan mengatur pola tanam secara bergilir.

Alat analisis yang digunakan oleh Chaerunnisa adalah Linear Programming dengan fungsi tujuan untuk memaksimumkan pendapatan bersih dengan kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya yang optimal. Penelitian ini menguraikan bahwa kendala yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah kendala luas lahan, kendala jumlah benih/ bibit, kendala jumlah pupuk, kendala jumlah obat-obatan, kendala jumlah tenaga kerja keluarga, dan kendala permintaan pasar.

Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa pada kondisi aktual, alokasi lahan untuk caisin adalah 178 ha, kacang panjang 25 ha, cabai merah 4 ha, paria 20 ha, ketimun 7 ha, labu air 32 ha, kangkung 280 ha, bayam 276 ha, dan blewah 6 ha. Sedangkan analisis pendapatan usahatani petani menunjukkan bahwa pendapatan per hektar paling tinggi adalah sebesar Rp 11.930.536,00 untuk komoditas mentimun dan pendapatan terendah adalah Rp 369.835,00 untuk komoditas labu air. Pendapatan per hektar untuk komoditas lainnya adalah Rp Rp 7.217.500,00 untuk caisin, Rp 803.000,00 untuk kacang panjang, Rp 8.821.750,00 untuk cabai merah, Rp 664.000,00 untuk terong, Rp 1.031.000,00 untuk paria, Rp 5.300.400,00 untuk kangkung, Rp 4.460.100,00 untuk bayam, dan Rp 3.142.000,00 untuk blewah.


(22)

22 Pengalokasian lahan pada kondisi optimal berbeda dengan alokasi lahan pada kondisi aktual. Pada kondisi optimal, alokasi lahan untuk tanaman caisin, kangkung, bayam, paria, dan ketimun lebih besar daripada kondisi aktual. Pada tanaman lainnya, alokasi lahan pada kondisi optimal lebih rendah dari kondisi aktual. Pada kondisi optimal, alokasi lahan untuk caisin seluas 198 ha, kacang panjang 16 ha, cabai merah 3,5 ha, paria 20,94 ha, ketimun 8,4 ha, labu air 8 ha, kangkung 330 ha, bayam 308 ha, dan blewah 4 ha.

Pendapatan yang diperoleh pada kondisi tersebut mencapai Rp 4.732.964.247,40 dalam satu tahun. Pendapatan yang diperoleh pada kondisi optimal lebih tinggi Rp 521.719.175,40 atau sekitas 12,39 persen dibandingkan dengan pendapatan aktualnya. Pada kondisi optimal tersebut, input produksi merupakan sumberdaya yang berlebih. Input yang habis terpakai adalah bibit ketimun dan pestisida alami. Kedua input tersebut merupakan input yang digunakan untuk menanam ketimun. Penambahan pendapatan akan diperoleh jika dilakukan penambahan jumlah bibit ketimun dan pestisida alami. Penambahan pestisida alami sebesar satu liter akan menambah pendapatan sebesar Rp 10.889.536,00.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang telah dikemukakan, dapat diketahui bahwa tujuan yang ingin diperoleh dari suatu kegiatan usahatani, baik usahatani sayuran maupun usahatani bukan sayuran adalah untuk memaksimalkan pendapatan usahatani dengan kombinasi komoditi yang optimal. Penelitian ini juga akan mengkaji kombinasi optimal jenis sayuran yang diusahakan dalam memaksimalkan pendapatan petani.

Terdapat perbedaan dan persamaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Adapun perbedaan penelitian yang dilakukan adalah dari jenis komoditi dan lokasi penelitian. Komoditi yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah komoditi sayuran yang terdapat di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Sebagian besar penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak mengkaji komoditi sayuran, kecuali yang dilakukan oleh Wicaksono (2006), Sunarno (2004), Lestari (2006), dan Chaerunnisa (2007). Sedangkan persamaan yang terdapat antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah alat analisis yang


(23)

23 digunakan. Untuk menghitung pendapatan usahatani, penelitian ini menggunakan analisis pendapatan dan R/C ratio. Sedangkan untuk melihat kombinasi jenis sayuran optimal, penelitian ini menggunakan Linear Programming. Kendala-kendala yang terdapat dalam penelitian ini adalah Kendala-kendala lahan, Kendala-kendala transfer pembelian pupuk, kendala tenaga kerja, kendala transfer penjualan, dan kendala modal.


(24)

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Kombinasi Produk Optimum

Penentuan kombinasi produksi dilakukan untuk memperoleh lebih dari satu output dengan menggunakan satu input. Hal ini terjadi karena terbatasnya jumlah input (sumberdaya produksi). Keterbatasan sumberdaya produksi yang dimiliki untuk menghasilkan suatu barang atau jasa ditunjukkan oleh batas kemungkinan produksi (Production Possibility Frontier). Sedangkan kombinasi produksi yang optimum untuk memperoleh keuntungan maksimum dapat diperoleh dengan menggunakan Kurva Kemungkinan Produksi (KKP) dan garis isorevenue. KKP (production possibility curve) memperlihatkan seluruh kombinasi dari dua barang (output) yang dapat diproduksi dengan sejumlah sumberdaya yang tersedia dalam perekonomian (Nicholson, 2002). Sedangkan garis isorevenue menunjukkan kombinasi produk yang dapat dijual yang akan memberikan penerimaan tertentu.

Kombinasi output yang optimal akan memberikan keuntungan maksimal. Penentuan kombinasi output optimal tercapai pada saat satu titik pada kurva kemungkinan produksi tepat bersinggungan dengan garis isorevenue. Garis isorevenue merupakan garis yang menunjukkan kombinasi produk yang akan memberikan penerimaan tertentu. Kombinasi produk optimal dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

X1

a1 A

a2 B

isorevenue

X2

0 b1 b2 Gambar 1. Kurva Kemungkinan Produksi


(25)

25 Berdasarkan Gambar 1, petani diasumsikan menghasilkan dua jenis sayuran, yaitu X1 dan X2. Jika harga X1 lebih tinggi daripada harga X2, maka petani akan

mengusahakan sayuran pada titik A dengan jumlah X1 sebesar a1 dan X2 sebesar

b1. Sebaliknya, jika harga X2 lebih besar daripada X1, petani akan mengusahakan

sayuran pada titik B dengan jumlah X1 sebesar a2 dan X2 sebesar b2. Apabila

petani memproduksi pada titik A, maka jumlah X1 yang diproduksi lebih besar

dibandingkan dengan X2. Sebaliknya, jika produksi dilakukan pada titik B, jumlah

produk X1 yang diproduksi lebih kecil dibandingkan dengan X2. Hal ini

menunjukkan bahwa setiap kenaikan X1 akan mengurangi X2 dan setiap kenaikan

X2 akan mengurangi X1. Oleh sebab itu, agar diperoleh produksi yang optimal,

jumlah output X1 yang dikurangi harus sama dengan jumlah X2 yang ditambah.

3.1.2 Penerimaan Usahatani, Biaya Usahatani, Pendapatan Usahatani, dan Efisiensi Usahatani

1. Penerimaan Usahatani

Penerimaan usahatani adalah hasil perkalian dari jumlah produksi dengan harga satuan produksi. Menurut Soekartawi, et al (1986), penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Penerimaan mencakup produk yang dijual, dikonsumsi sendiri, baik yang digunakan kembali untuk bibit atau yang disimpan di gudang. Menurut Hernanto (1991), penerimaan usahatani merupakan penerimaan dari semua sumber usahatani. Penerimaan ini terdiri dari jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil, dan produk yang dikonsumsi rumah tangga.

2. Biaya Usahatani

Soekartawi, et al (1986) mengatakan bahwa biaya atau pengeluaran usahatani adalah semua nilai masuk yang habis dipakai atau dikeluarkan di dalam produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani. Menurut Hernanto (1991), biaya atau pengeluaran usahatani adalah semua biaya operasional dengan tanpa memperhitungkan bunga dari modal usahatani dan nilai kerja pengelola usahatani.

Biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap diartikan sebagai pengeluaran


(26)

26 usahatani yang tidak bergantung kepada besarnya produksi. Sedangkan biaya tidak tetap (biaya variabel) didefinisikan sebagai pengeluaran yang digunakan untuk tanaman atau ternak tertentu dan jumlahnya berubah kira-kira sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau ternak tersebut (Soekartawi, et al, 2011).

Biaya usahatani mencakup pengeluaran tunai dan tidak tunai. Biaya tunai usahatani didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani, seperti biaya pembelian sarana produksi, biaya pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan serta biaya upah tenaga kerja. Sedangkan biaya tidak tunai terdiri dari biaya penyusutan alat-alat pertanian dan biaya sewa lahan (Soekartawi, et al, 2011).

3. Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani merupakan balas jasa terhadap penggunaan faktor produksi. Menurut Soeharjo dan Patong (1973), pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan usahatani yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan usahatani akan berbeda untuk setiap petani, dimana perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan faktor produksi, tingkat produksi yang dihasilkan, dan harga jual yang tidak sama nilainya.

Analisis pendapatan usahatani bermanfaat bagi petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya. Tujuan utama dari analisis pendapatan adalah (Soeharjo dan Patong, 1987; Soekartawi, et. al, 1986):

a. Menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha

b. Menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani, analisis pendapatan bermanfaat dalam membantu mengukur apakah usahataninya berhasil atau tidak. Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila pendapatannya memenuhi syarat sebagai berikut (Soeharjo dan Patong, 1973).

a. Cukup untuk membayar semua pembelian sarana produksi termasuk biaya angkutan dan biaya administrasi yang mungkin melekat pada pembelian tersebut.

b. Cukup untuk membayar bunga modal yang ditanamkan (termasuk pembayaran sewa tanah atau pembayaran dana depresiasi modal).


(27)

27 c. Cukup untuk membayar tenaga kerja yang dibayar atau bentuk-bentuk upah

lainnya untuk tenaga kerja yang tidak diupah.

Bentuk dan jumlah pendapatan yang diperoleh oleh petani memiliki manfaat yang sama, yakni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta sebagai pembentukan modal usahatani yang akan digunakan untuk mengembangkan usahatani. Dengan demikian, jumlah pendapatan yang diperoleh petani dapat menentukan tingkat hidup petani.

Selain itu, perhitungan imbalan terhadap tenaga kerja (return to labor) dan imbalan terhadap modal (return to capital) juga dilakukan. Perhitungan ini dilakukan untuk menilai keuntungan investasi terhadap penggunaan tenaga kerja dan modal usahatani (Soekartawi, et. al, 2011). Imbalan terhadap tenaga kerja (return to labor) dihitung dengan mengurangkan modal dari penerimaan bersih usahatani. Sedangkan imbalan terhadap modal (return to capital) dihitung dengan mengurangkan nilai tenaga kerja dari penerimaan bersih usahatani.

4. Efisiensi Usahatani

Nilai R/C ratio dapat menunjukan ukuran efisiensi suatu usahatani. Semakin besar nilai R/C maka semakin efisien usaha yang dilakukan. Rasio antara besar penerimaan dengan total biaya (R/C) dalam usahatani bisa digunakan untuk melihat apakah kegiatan usahatani menguntungkan (profitable) atau tidak. Besar atau nilai R/C menunjukan besaran penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani. Jika nilai R/C meningkat maka menunjukan adanya peningkatan penerimaan dan semakin efisien biaya yang digunakan. Nilai R/C > 1, menujukan bahwa penerimaan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan sehingga usaha menguntungkan atau profitable untuk dijalankan. Nilai R/C = 0, menunjukkan bahwa penerimaan sama dengan biaya yang dikeluarkan atau usaha berada pada posisi impas. Sedangkan nilai R/C < 1, menunjukkan bahwa penerimaan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan sehingga usaha yang dijalankan tidak menguntungkan.

3.1.3 Pola Tanam Usahatani

Pola tanam adalah usaha untuk mengatur penanaman komoditas tertentu pada sebidang tanah/ lahan selama periode tertentu. Pengaturan yang dilakukan adalah pengaturan tata letak, urutan tanaman, serta masa pengolahan tanah, yakni


(28)

28 kapan akan dilakukan pengolahan dan kapan akan dilakukan bera. Dalam menjalankan usahanya, sebagian petani tidak hanya mengusahakan satu cabang usahatani melainkan terdiri dari berbagai cabang usahatani, seperti cabang usahatani tanaman pangan dan ternak. Hal ini dilakukan oleh petani atas dasar berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah dengan harapan agar memperoleh pendapatan yang lebih tinggi karena mampu mengurangi risiko kerugian akibat gagal panen pada salah satu cabang usahatani. Usahatani pada satu cabang usahatani memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan usahatani pada lebih dari satu cabang usahatani.

Tujuan dari pola tanam adalah untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, modal, dan manajemen yang dimiliki oleh petani sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal yang harus diperhatikan oleh petani dalam mengatur pola tanammnya adalah bahwa semua kombinasi tanaman yang dipilih harus memenuhi persyaratan teknis, lingkungan, ekonomi, dan sosial, seperti pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim (Sunarno, 2004).

Soeharjo dan Patong (1973) membagi usahatani berdasarkan polanya menjadi usahatani khusus, usahatani tidak khusus, dan usahatani campuran. Usahatani khusus adalah usahatani yang memiliki satu cabang usaha. Sedangkan usahatani tidak khusus adalah usahatani yang dilakukan terdiri dari berbagai cabang usaha pada sebidang tanah. Usahatani campuran adalah usaha yang dilakukan secara bercampur antara tanaman dengan ternak.

Optimalisasi adalah suatu persoalan untuk membuat nilai suatu fungsi beberapa variabel menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada. Pembatasan tersebut meliputi lahan bagi suatu usahatani, tenaga kerja (man) yang merupakan jumlah ketersediaan tenaga kerja keluarga dalam kegiatan usahatani, modal (money) merupakan ketersediaan modal (uang) yang dimiiki petani untuk kegiatan usahatani (Lestari, 2006).

Tujuan akhir dari suatu usaha adalah untuk memaksimalkan pendapatan dengan menggunakan input seoptimal mungkin. Demikian juga dalam kegiatan usahatani. Tujuan yang ingin dicapai adalah produksi maksimal suatu komoditi pertanian dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi seoptimal mungkin. Oleh


(29)

29 karena itu, optimalisasi pola tanam membantu petani dalam membuat suatu pola tanam menjadi optimal dengan menggunakan sumberdaya yang terbatas sehingga menghasilkan pendapatan yang maksimal.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Menurut Taha (1996), tahap-tahap yang harus dilalui dalam melakukan suatu studi riset operasi adalah:

a. Identifikasi Persoalan

Aspek utama yang berkaitan dengan definisi masalah adalah: (a) deskripsi tentang sasaran dan tujuan sistem model yang dihadapi, (b) identifikasi alternatif keputusan dari sistem tersebut, (c) pengenalan tentang keterbatasan, batasan, dan persyaratan sistem tersebut.

b. Pengembangan Model

Kegiatan yang dilakukan adalah: (a) memilih model yang cocok dan sesuai dengan permasalahannya, (b) merumuskan segala macam faktor yang terkait di dalam model yang bersangkutan secara simbolik ke dalam rumusan model matematik, (c) menentukan peubah-peubah beserta kaitan satu sama lain, (d) menetapkan fungsi tujuan dan kendala-kendalanya dengan nilai-nilai dan parameter yang jelas.

c. Pemecahan Model/ Analisis Model

Hal penting dari kegiatan ini adalah: (a) melakukan analisis terhadap model yang telah disusun dan dipilih tersebut, (b) memilih hasil-hasil yang terbaik/ optimum, dan (c) melakukan uji kepekaan dan analisis pasca optimal terhadap hasil-hasil analisis model tersebut.

d. Pengesahan Model

Kegiatan ini menyangkut penilaian terhadap model tersebut dengan cara mencocokkannya dengan keadaan dan data nyata, serta menguji dan mengesahkan asumsi-asumsi yang membentuk model tersebut secara struktural, yaitu peubahnya, hubungan-hubungan fungsionalnya, dan lain-lain.


(30)

30 e. Implementasi Hasil Akhir

Hasil-hasil yang diperoleh berupa nilai-nilai yang akan dipakai dalam kriteria pengambilan keputusan yang dapat dipakai dalam perumusan strategi-strategi, target-target, dan langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh pengambil keputusan dalam bentuk alternatif-alternatif.

Pengaturan pola tanam merupakan suatu cara yang dilakukan oleh petani dalam kegiatan usahataninya. Pengaturan pola tanam dilakukan dengan menentukan jenis tanaman apa yang akan diusahakan, berapa jumlahnya, kapan akan diusahakan, baik dengan cara monokultur atau dengan tumpangsari. Tujuan yang ingin diperoleh petani dalam menentukan pola tanam adalah untuk memperoleh pendapatan maksimum dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dengan optimal.

Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu kelompok tani yang terletak di Desa Citapen Kecamatan Ciawi yang melakukan kegiatan usahatani sayuran. Jenis sayuran yang paling sering diusahakan oleh Kelompok Tani Pondok Menteng adalah cabai keriting, buncis, kacang panjang, tomat, timun, jagung manis, dan caisin. Kelompok tani ini melakukan kegiatan usahatani sayuran secara diversifikasi dengan pola tanam tertentu.

Penentuan jenis sayuran yang akan diusahakan dalam satu musim tanam dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu. Berdasarkan penelitian terdahulu, penentuan pola tanam diperkirakan dipengaruhi oleh kondisi fisik lahan, keadaan rumah tangga petani, hama dan penyakit tanaman, ketersediaan dan aksesibilitas input pertanian, dan aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil pertanian, serta harga jual sayuran. Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengkaji optimalisasi pola tanam sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng untuk melihat pola tanam optimal dalam memberikan pendapatan maksimal bagi petani.

Dalam penelitian ini, Linear Programming digunakan untuk mengetahui kombinasi tanaman sayuran optimal yang memberikan pendapatan maksimal bagi petani. Kombinasi pola tanam sayuran yang akan dikaji adalah kombinasi jenis sayuran yang diusahakan dalam satu tahun, yang terdiri dari tiga musim tanam. Petani Kelompok Tani Pondok Menteng akan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu petani luas dan petani sempit. Petani berlahan luas merupakan petani yang


(31)

31 memiliki luas lahan di atas luas rata-rata lahan yang dimiliki oleh petani di Kelompok Tani Pondok Menteng. Sedangkan petani sempit merupakan petani dengan luas lahan lebih kecil dari luas rata-rata lahan.

Tingkat pendapatan petani akan dianalisis dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani. Analisis pendapatan dilakukan untuk melihat tingkat pendapatan Kelompok Tani Pondok Menteng dari kombinasi pola tanam yang diterapkan saat ini untuk setiap musim tanam. Selain itu, analisis R/C ratio juga dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani antara petani luas dan petani sempit. Berdasarkan uraian tersebut, kerangka pemikiran operasional dalam penelitian ini dapat dilihat gambar kerangka pemikiran operasional berikut.


(32)

32 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Pendapatan Usahatani dan Pola Tanam Sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Usahatani sayuran

Pola Tanam Diversifikasi - Cabai keriting

- Buncis - Caisin

- Kacang panjang - Tomat

- Mentimun - Jagung manis

Tujuan Pondok Menteng Memaksimalkan Pendapatan

- Kombinasi jenis tanaman optimal - Alokasi sumberdaya

optimal

Evaluasi

Kelompok Tani Pondok Menteng

Kondisi Aktual Analisis Optimalisasi Pola

Tanam dengan Linear Programming - Analisis Primal-Dual - Analisis Sensitivitas - Analisis Post Optimal

Rekomendasi Analisis Pendapatan

Usahatani dan R/C ratio


(33)

IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu kelompok tani yang melakukan usahatani sayuran. Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi penelitian yang dilakukan adalah ketersediaan data dan ketersediaan pihak Kelompok Tani Pondok Menteng untuk dijadikan sebagai lokasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni sampai bulan Juli 2012.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani responden. Data ini digunakan untuk mengetahui karakteristik petani dan menganalisa pendapatan usahatani, serta pola tanam yang diterapkan oleh petani. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya dalam bentuk kuesioner, antara lain mengenai nama, umur, tingkat pendidikan, pengalaman bertani, dan luas lahan yang diolah. Pertanyaan tentang jenis tanaman yang diusahakan, produksi yang dihasilkan, kebutuhan tenaga kerja, benih, pupuk, dan pestisida yang digunakan untuk satu jenis tanaman sayuran digunakan untuk menganalisa pendapatan usahatani dan pola tanam.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dan dikumpulkan dari sumber-sumber yang telah ada. Data sekunder digunakan sebagai data pelengkap dan penunjang yang diperoleh dari penelitian-penelitian terdahulu, buku, artikel, skripsi, disertasi, jurnal, Departemen Pertanian, Badan Pusat Statistik, perpustakaan, serta situs-situs yang terkait dengan penelitian. Sifat data yang diperoleh dari kegiatan pengumpulan data tersebut adalah data berbentuk kualitatif dan kuantitatif.


(34)

34 4.3 Metode Penentuan Sampel

Teknik penentuan sampel dilakukan melalui metode Probability Sampling (Random Sampling) dengan Simple Random Sampling, dimana setiap petani yang menjadi anggota Kelompok Tani Pondok Menteng memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Hal ini dilakukan karena semua anggota Kelompok Tani Pondok Menteng melakukan kegiatan usahatani sayuran.

Kelompok Tani Pondok Menteng memiliki anggota sebanyak 104 petani (populasi). Sampel yang dipilih dalam penelitian ini adalah sesuai dengan kriteria sebaran normal, yakni sebanyak 30 orang petani. Petani sampel dipilih dengan sistem arisan, dimana ke-30 sampel tersebut kemudian akan digolongkan menjadi petani luas dan petani sempit.

4.4 Metode Pengolahan Data

Metode pengolahan data yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Pengolahan data kualitatif dilakukan secara deskriptif dengan memberikan gambaran tentang pendapatan usahatani petani. Data yang dianalisa dalam penelitian ini adalah data usahatani sayuran. Analisis yang digunakan adalah analisis terhadap biaya, penerimaan, pendapatan, dan efisiensi usahatani dengan menggunakan rasio penerimaan atas biaya (R/C). Data kuantitatif diperoleh setelah dilakukan proses pengolahan untuk menemukan variabel dan koefisien yang ditabulasikan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada dan akan dianalisis dengan menggunakan Linear Programming.

4.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan usahatani dan pengeluaran total usahatani (Soekartawi. et al, 1986). Pendapatan usahatani menjadi ukuran yang digunakan untuk melihat penggunaan faktor-faktor produksi, pengelolaan, dan penggunaan modal petani. Penerimaan merupakan hasil kali jumlah fisik output dengan harga yang diterima oleh petani. Sedangkan pengeluaran adalah pengeluaran usahatani untuk benih/ bibit, tenaga kerja, pupuk, obat-obatan, penyusutan alat, serta sewa lahan.

Menurut Sokartawi. et al (1986), pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya yang dirumuskan dengan:


(35)

35 Pd = TR – TC

Dimana:

Pd = Pendapatan usahatani

TR = Total penerimaan TC = Total biaya

Metode perhitungan pendapatan usahatani yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada uraian berikut ini. Pendapatan usahatani diperoleh dengan menghitung selisih total penerimaan dengan total biaya pada setiap musim tanam.

1. Penerimaan:

a. Hasil penjualan cabai keriting xxx b. Hasil penjualan caisin xxx c. Hasil penjualan kacang panjang xxx d. Hasil penjualan tomat xxx e. Hasil penjualan timun xxx f. Hasil penjualan bawang daun xxx g. Hasil penjualan buncis

Total penerimaan xxx

2. Biaya variabel a. Sarana produksi

- Bibit xxx

- Pupuk kandang xxx

- Pupuk kimia xxx

- Pestisida xxx

b. Tenaga kerja luar xxx c. Tenaga kerja keluarga xxx

Total Biaya Variabel xxx

3. Biaya tetap

a. Sewa lahan xxx

b. Penyusutan xxx

Total biaya tetap xxx

Total biaya (2 + 3) xxx

Pendapatan usahatani (1-2-3) xxx

Selain analisis pendapatan, analisis efisiensi pendapatan juga dilakukan, yaitu analisis rasio penerimaan dan biaya total (R/C Ratio atas total biaya). Rasio penerimaan dan biaya merupakan perbandingan antara penerimaan kotor yang diterima petani dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam proses produksi. Suatu


(36)

36 usahatani dapat dikatakan efisien jika R/C > 1. Semakin besar nilai R/C, maka usahatani tersebut semakin efisien. R/C ratio atas total biaya dirumuskan sebagai berikut.

R/C ratio atas biaya total =

Dimana,

TR : Total penerimaan, merupakan hasil kali jumlah produk dengan harga TC : Total biaya, merupakan penjumlahan total biaya variabel dengan total

biaya

P : Harga produk Q : Total produksi TVC : Total biaya variabel TFC : Total biaya tetap

4.4.2 Indeks Diversifikasi

Indeks diversifikasi merupakan indeks untuk mengukur keragaan diversifikasi dalam konteks perusahaan atau usahatani. Indeks diversifikasi pertanian dapat diukur dengan menggunakan rumus Indeks Diversifikasi Simpson. Semakin besar nilai diversifikasi Simpson, maka semakin banyak jenis komoditi yang ditanam, artinya semakin kegiatan usahatani yang dilakukan semakin terdiversifikasi. Indeks diversifikasi pertanian dituliskan dalam bentuk persamaan berikut.

Dimana,

q1 = penerimaan masing-masing komoditi

q = penerimaan total usahatani 4.4.3 Analisis Optimalisasi Pola Tanam

Tujuan utama yang diinginkan oleh petani dari kegiatan usahataninya adalah memperoleh keuntungan maksimum guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan untuk mengembangkan kegiatan usahanya. Upaya yang dapat dilakukan oleh petani dalam memaksimalkan pendapatannya adalah dengan memilih kombinasi jenis tanaman serta alokasi sumberdaya yang optimal. Kombinasi jenis tanaman dan sumberdaya yang optimal dapat diperoleh dengan melakukan analisis optimalisasi dengan menggunakan Linear Programming.


(37)

37 Hasil analisis yang dilakukan dapat digunakan oleh petani dalam mempertimbangkan komoditas apa yang akan diusahakan.

Menurut Soekartawi (1995), Linear Programming adalah metode perhitungan untuk perencanaan terbaik di antara kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan. Linear Programming akan menghasilkan berbagai alternatif pemecahan masalah dalam pengambilan keputusan. Namun, hanya akan ada satu pemecahan masalah yang optimum (maksimum atau minimum). Umumnya, penerapan model ini menggunakan asumsi bahwa alokasi sumberdaya sebelum penerapan perencanaan belum optimal atau belum efisien dan sesudah penerapan pola alokasi sumberdaya menjadi optimal.

Linear programming pada hakekatnya merupakan suatu teknik perencanaan yang bersifat analitis dengan menggunakan model matematik dengan tujuan menemukan beberapa kombinasi alternatif pemecahan masalah. Dari alternatif tersebut kemudian dipilih mana yang terbaik dalam rangka menyusun strategi dan langkah-langkah kebijakan lebih lanjut tentang alokasi sumberdaya optimal. Pilihan alternatif tersebut berkaitan dengan alokasi sumberdaya yang terbatas guna mencapai tujuan dan sasaran perusahaan secara optimal (Nasendi dan Anwar, 1985).

Pendekatan dengan metode Linear Programming memiliki lima asumsi (Nasendi dan Anwar, 1985), yaitu:

1. Linearitas, fungsi tujuan dan faktor-faktor pembatas harus dinyatakan sebagai faktor linear.

2. Proporsionalitas, naik turunnya nilai tujuan (Z) dan penggunaan sumberdaya atau fasilitas yang tersedia akan berubah secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatan.

3. Aktivitas, nilai tujuan setiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dapat ditambah tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lain.

4. Divisiblitas, keluaran (output) yang dihasilkan setiap kegiatan dapat berupa bilangan pecahan, demikian pula dengan nilai Z yang dihasilkan.

5. Deterministik, semua parameter dalam program linear adalah tetap, diketahui, dan tidak dapat diperkirakan secara pasti.


(1)

123

Lampiran 14. Kebutuhan Rata-rata Pupuk Per Hektar Golongan Petani Sempit Kelompok Tani Pondok Menteng

No Jenis

Pupuk

MT I MT II MT III

KP + C B + C JM + C To + C To + C B + C JM + C Ti + C KP + C Ti + C B + To JM + C B + C

1 Kandang 4,779.41 11,764.71 698.53 2,941.18 15,000.00 3,529.41 1,931.37 1,176.47 3,602.94 3,529.41 1,176.47 3,415.20 5.10

2 NPK 32.91 66.74 13.24 13.24 64.71 16.67 15.97 7.35 83.33 23.04 29.41 55.88 5.10

3 Urea 145.52 338.87 76.47 71.08 375.84 112.75 97.76 35.29 114.22 97.48 46.22 342.02 36.27

4 SP 36 38.24 118.00 13.24 58.82 294.12 35.29 15.97 11.76 44.12 33.33 96.64 55.88 11.76

5 KCL 52.94 118.00 23.53 24.51 125.49 35.29 36.13 11.76 44.12 33.33 46.22 108.82 11.76

6 TSP 28.01 66.74 - - - 16.67 - - 19.61 - 8.40 - 4.90

7 ZA - - - 24.51 125.49 - - 7.35 - 23.04 33.61 - -


(2)

124 Lampiran 15. Penggunaan Input Usahatani Sayuran per Hektar Golongan Petani

Luas dan Petani Sempit di Kelompok Tani Pondok Menteng

Uraian Total

Petani Luas Petani Sempit

Pembelian Pupuk (Kg)

Kandang MT I 2,497,706.45 3,294,118.84 NPK MT I 127,700.00 166,850.00 Urea MT I 422,141.39 589,633.81 SP 36 MT I 141,705.00 177,000.00 KCL MT I 160,599.00 200,600.00 TSP MT I 61,296.00 80,088.00 ZA MT I - - Dolomit MT I - - Kandang MT II 1,615,384.42 4,200,000.00 NPK MT II 57,700.00 161,775.00 Urea MT II 240,920.39 653,961.63 SP 36 MT II 173,070.00 441,180.01 KCL MT II 78,455.00 213,333.00 TSP MT II - - ZA MT II 78,472.00 213,333.00 Dolomit MT II 136,155.00 352,940.99 Kandang MT III 2,714,980.84 329,411.59 NPK MT III 90,300.00 73,525.00 Urea MT III 388,020.02 80,422.80 SP 36 MT III 286,439.98 144,960.00 KCL MT III 122,808.00 78,574.00 TSP MT III - - ZA MT III 96,645.00 - Dolomit MT III 174,753.00 - Total Biaya Pupuk 9,665,251.50 11,451,707.67

Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Pria MT I 1,128,816.23 - Tenaga Kerja Pria MT II 356,862.59 - Tenaga Kerja Pria MT III - - Tenaga Kerja Wanita MT I - - Tenaga Kerja Wanita MT II 3,729,936.31 - Tenaga Kerja Wanita MT III 1,588,422.57 - Total Biaya Tenaga Kerja 6,804,037.69 -

Saprodi Lain

Tomat+Kacang Panjang 12,603,693.94 - Tomat+Jagung Manis 8,207,972.22 - Cabai Keriting+Buncis 22,712,391.67 - Kacang Panjang+Caisin - 10,615,812.50 Tomat+Caisin - 8,527,374.21 Buncis+Tomat - 14,445,996.03 Total Biaya Saprodi Lain 43,524,057.83 33,589,182.74 Total Biaya 59,993,347.03 45,040,890.41


(3)

125

Lampiran 16. Selang Kepekaan Nilai Fungsi Tujuan Golongan Petani Luas

No Variabel Koefisien Batas

Maksimum

Batas Minimum

Kenaikan yang Diizinkan

(%)

Penurunan yang Diizinkan

(%) 1 Biaya lain KPC1 3,908 Infinity 3,883,035.25 Infinity 99,361.19 2 Biaya lain ToC2 2,377 4,629,961 2,538,521.50 194,781.70 106,795.18 3 Biaya lain CKC3 8,046 Infinity 9,215,722 Infinity 114,537.93

4 P11 280 280 1,053.38 100 376.21

5 P21 2,500 2,500 183,956.98 100 7,358.28

6 P31 1,740 1,740 38,730.98 100 2,225.92

7 P41 1,500 1,500 99,465.68 100 6,631.05

8 P51 1,700 1,700 99,465.68 100 5,850.92

9 P61 1,200 1,200 183,956.98 100 15,329.75

10 P71 1,700 1,700 Infinity 100 Infinity

11 P81 300 300 Infinity 100 Infinity

12 P12 280 280 567.05 100 202.52

13 P22 2,500 2,500 62,301.76 100 2,492.07

14 P32 1,740 1,740 47,400.44 100 2,724.16

15 P42 1,500 1,500 22,001.40 100 1,466.76

16 P52 1,700 1,700 31,124.36 100 1,830.84

17 P62 1,200 1,200 Infinity 100 Infinity

18 P72 1,700 1,700 34,746.38 100 2,043.90

19 P82 300 300 5,593.31 100 1,864.44

20 P13 280 280 688.54 100 245.91

21 P23 2,500 2,500 141,421.31 100 5,656.85

22 P33 1,740 1,740 57,077.43 100 3,280.31

23 P43 1,500 1,500 25,910.73 100 1,727.38

24 P53 1,700 1,700 70,679.23 100 4,157.60

25 P63 1,200 1,200 Infinity 100 Infinity

26 P73 1,700 1,700 70,714.58 100 4,159.68

27 P83 300 300 7,015.26 100 2,338.42

28 TKP MT I 24,000 24,000 48,120.67 100 200.50

29 TKP MT II 12,000 12,000 67,874.34 100 565.62

30 TKP MT III 24,000 24,000 Infinity 100 Infinity

31 TKW MT I 12,000 12,000 Infinity 100 Infinity

32 TKW MT II 24,000 24,000 10,570.11 100 44.04

33 TKW MT III 12,000 12,000 27,951.96 100 232.93

34 Penjualan C1 988 3,166.41 988 320.49 100.00

35 Penjualan KP1 4,500 Infinity 1,220.11 Infinity 27.11

36 Penjulan To2 1,750 1,605.29 473.10 91.73 27.03

37 Penjulan C2 825 349.81 825.00 42.40 100.00

38 Penjulan CK3 12,000 Infinity 2,559.39 Infinity 21.33


(4)

126

Lampiran 17. Selang Kepekaan Nilai Fungsi Tujuan Golongan Petani Sempit

No Variabel Koefisien Batas

Maksimum

Batas Minimum

Kenaikan yang Diizinkan

Penurunan yang Diizinkan 1 Biaya lain BC1 4,167 Infinity 4,640,691.50 Infinity 111,367.69 2 Biaya lain ToC2 5,016 Infinity 25,984,628.00 Infinity 26,600,208 3 Biaya lain JMC3 3,627 Infinity 5,619,622.00 Infinity 154,938.57

4 P11 280 280 394.46 100 140.88

5 P21 2,500 2,500 69,533.88 100 2,781.36

6 P31 1,740 1,740 13,694.61 100 787.05

7 P41 1,500 1,500 39,327.89 100 2,621.86

8 P51 1,700 1,700 39,327.89 100 2,313.41

9 P61 1,200 1,200 69,533.88 100 5,794.49

10 P71 1,700 1,700 Infinity 100 Infinity

11 P81 300 300 Infinity 100 Infinity

12 P12 280 280 2,121.54 100 757.69

13 P22 2,500 2,500 514,276.09 100 20,571.04

14 P32 1,740 1,740 88,545.14 100 5,088.80

15 P42 1,500 1,500 100,392.64 100 6,692.84

16 P52 1,700 1,700 265,190.91 100 15,599.47

17 P62 1,200 1,200 Infinity 100 Infinity

18 P72 1,700 1,700 207,065.33 100 12,180.31

19 P82 300 300 22,086.95 100 7,362.32

20 P13 280 280 10,726.87 100 3,831.03

21 P23 2,500 2,500 516,871.09 100 20,674.84

22 P33 1,740 1,740 354,077.50 100 20,349.28

23 P43 1,500 1,500 106,999.66 100 7,133.31

24 P53 1,700 1,700 354,077.50 100 20,828.09

25 P63 1,200 1,200 Infinity 100 Infinity

26 P73 1,700 1,700 Infinity 100 Infinity

27 P83 300 300 Infinity 100 Infinity

28 TKP1 24,000 24,000 Infinity 100 Infinity

29 TKP2 12,000 12,000 Infinity 100 Infinity

30 TKP3 24,000 24,000 Infinity 100 Infinity

31 TKW1 12,000 12,000 Infinity 100 Infinity

32 TKW2 24,000 24,000 Infinity 100 Infinity

33 TKW3 12,000 12,000 Infinity 100 Infinity

34 Penjualan B1 4,500 1,085 1,091.03 24 24.25

35 Penjualan C1 988 Infinity 988.00 Infinity 100.00

36 Penjulan To2 1,750 Infinity 1,750.00 Infinity 100.00

37 Penjulan C2 825 Infinity 825.00 Infinity 100.00

38 Penjulan JM3 1,250 Infinity 1,087.67 Infinity 87.01


(5)

RINGKASAN

FLORENT ROSTRINA IDANI. Analisis Pendapatan Usahatani dan Optimalisasi Pola Tanam Sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa

Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skripsi.

Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NUNUNG KUSNADI).

Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian bangsa. Pada tahun 2011 sebesar 41,49 juta penduduk Indonesia memiliki pekerjaan dalam sektor pertanian. Oleh sebab itu, usaha-usaha dalam meningkatkan perkembangan sektor pertanian sangat dibutuhkan guna menjamin kesejahteraan penduduk.

Diversifikasi pertanian merupakan salah satu program yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan hasil pertanian, peningkatan pendapatan, perluasan kesempatan kerja, dan penanggulangan kemiskinan. Diversifikasi pertanian dilakukan dengan mengatur pola tanam, yakni memilih kombinasi jenis komoditi yang akan diusahakan pada lahan tertentu dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Dalam pengaturan pola tanam, pemilihan jenis komoditi yang diusahakan mempengaruhi pendapatan pertanian yang akan diperoleh, dimana tingkat pendapatan petani merupakan salah satu gambaran keberhasilan kegiatan pertanian yang dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis pendapatan usahatani sayuran Kelompok Tani Pondok Menteng, 2) mengidentifikasi pola tanam dan tingkat diversifikasi usahatani sayuran di Kelompok Tani Pondok Menteng, dan 3) menentukan pola tanam optimal dan menganalisis pengaruh perubahan harga dan lahan terhadap pola tanam, pendapatan usahatani, dan indeks diversifikasi.

Penelitian dilaksanakan di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu kelompok tani yang melakukan usahatani sayuran. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai bulan Juli 2012. Teknik penentuan responden dilakukan melalui metode probability sampling (random sampling) dengan simple random sampling. Jumlah responden adalah sebanyak 30 petani dari 104 anggota Kelompok Tani Pondok Menteng. Petani responden tersebut dibagi menjadi dua golongan berdasarkan luas lahan yang diolah, yaitu golongan petani luas dan golongan petani sempit. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2012.

Tujuan utama petani melakukan kegiatan usahatani adalah untuk memperoleh pendapatan yang maksimal. Berdasarkan hasil analisis, pendapatan usahatani golongan petani luas lebih besar dibandingkan dengan golongan petani sempit. Petani luas memiliki pendapatan sebesar Rp 11.922.199,80 per hektar per tahun, sedangkan golongan petani sempit sebesar Rp 8.153.092,09. Nilai R/C

ratio petani luas juga lebih besar daripada petani sempit, yakni 1,10 untuk golongan petani luas dan 1.06 untuk golongan petani sempit. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan usahatani sayuran yang dilakukan oleh petani luas lebih efisien daripada petani sempit.


(6)

Berdasarkan hasil analisis optimal, pola tanam optimal yang dianjurkan untuk diterapkan oleh petani luas adalah kacang panjang+caisin pada MT I, tomat+caisin pada MT II, dan cabai keriting+caisin pada MT III dengan pendapatan sebesar Rp 42.828.061,07 per hektar per tahun. Sedangkan pola tanam petani sempit adalah buncis+caisin pada MT I, tomat+caisin pada MT II, dan jagung masin+caisin pada MT III dengan pendapatan sebesar Rp 20.000.608,06 per hektar per tahun. Hasil perhitungan indeks diversifikasi menunjukkan bahwa nilai diversifikasi petani luas lebih kecil daripada petani sempit. Petani sempit memiliki nilai indeks diversifikasi sebesar 0,800 dan petani luas sebesar 0,769. Hal ini menunjukkan bahwa petani sempit lebih berdiversifikasi daripada petani luas. Namun, tambahan pendapatan yang diperoleh petani luas (259,23%) lebih besar daripada petani sempit (145,31%).

Hasil analisis post optimal perubahan harga jual pada skenario pertama menghasilkan pola tanam yang sama dengan pola tanam optimal pada petani luas maupun petani sempit. Tingkat pendapatan usahatani golongan petani luas maupun golongan petani sempit bertambah masing-masing sebesar 79,08 persen dan 361,16 persen. Skenario kedua, yaitu menurunkan harga sebesar harga jual sayuran menunjukkan bahwa pola tanam pada petani luas dan petani sempit tidak mengalami perubahan. Pada skenario ini, tingkat pendapatan usahatani petani luas dan petani sempit berkurang masing-masing sebesar 40,08 persen dan 75,63 persen. Skenario ketiga adalah menambah luas lahan sebesar luas lahan tertinggi yang diolah oleh petani. Berdasarkan hasil analisis, kondisi ini tidak mengubah pola tanam optimal untuk golongan petani luas dan petani sempit. Selain itu, tingkat pendapatan usahatani mengalami penurunan untuk petani luas sebesar 21,92 persen dan petani sempit memperoleh peningkatan pendapatan sebesar 167,18 persen. Skenario ke-empat adalah dengan menurunkan luas lahan sebesar luas terendah pada masing-masing golongan petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola tanam golongan petani luas dan sempit tidak mengalami perubahan. Namun, pendapatan usahataninya berkurang sebesar 77,75 persen untuk golongan petani luas dan 73,27 persen untuk petani sempit.