Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)

PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM
MEMBENTUK KONSEP DIRI
(Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap
Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu
Di SLB - B Karya Murni Kota Medan)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan
Sarjana (S-1) Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Ilmu Komunikasi

Disusun Oleh :
OLOAN HENDRA RICKI SILALAHI
090922058

090922058

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI EKSTENSI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri
(Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep
Diri Siswa/Siswi Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan). Penelitian ini bertujuan
untuk menggambarkan dan membahas peranan komunikasi antarpribadi dalam proses konseling
antara siswa/siswi dengan konselor dalam membentuk konsep diri siswa/siswi tunarungu di SLB
– B Karya Murni Jl. H.M. Jhoni No. 66 A Medan, berikut untuk mengetahui teknik-teknik
konseling yang digunakan, masalah yang menjadi fokus layanan konseling serta bentuk solusi
untuk mengatasi masalah siswa/siswi. Model komunikasi yang digunakan adalah model
komunikasi menurut Wilbur Schramm. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
analisa data secara kualitatif tanpa menjelaskan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis.
Penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan subjek penelitian atau
informan. Subjek penelitian dalam penelitian ini ada 4 orang yang dipilih menurut sejumlah
kriteria tertentu. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara mendalam
(indepth interview) dan observasi terhadap subjek penelitian tersebut. Analisis data dilakukan
secara kualitatif yaiut dengan mengaitkan komponen komunikasi antarpribadi konselor dalam
proses konseling dengan komponen pembentukan konsep diri.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa layanan konseling konselor dengan siswa/siswi
tunarungu berperan besar dalam membentuk konsep diri yang positif siswa/siswi tunarungu. Hal
ini terjadi karena adanya suasana konseling yang dekat dan akrab dalam berkomunikasi. Temuan
penelitian juga menemukan bahwa layanan konseling yang telah diberikan kepada siswa/siswi
tunarungu sudah cukup baik. Terlihat bahwa para siswa/siswi tersebut menunjukkan konsep diri
yang wajar. Mereka menyadari keadaan cacatnya, tetapi keadaan cacatnya tersebut tidak
melemahkan mereka. Komunikasi antarpribadi yang efektif telah memunculkan terbentuknya
konsep diri siswa/siswi tunarungu seperti terbuka pada pengalaman, tidak bersikap defensif,
kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa syarat dan dapat menjalin hubungan yang
harmonis dengan orang lain.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan anugerah dan kasih karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan skripsi yang berjudul “Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk
Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap
Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)” yang
merupakan salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan dan bantuan serta
dukungan semangat dari berbagai pihak yang sangat bermanfaat. Secara khusus penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua terkasih, ayahanda L. Parlindungan
Silalahi dan Ibunda T. Juliana Sinaga untuk setiap dukungan moril dan materil bahkan dukungan
doa yang tiada habisnya kepada penulis. Terima kasih juga kepada adinda Rina Adriani Silalahi,
Amd dan Shanty Khristifany Silalahi yang selalu memberikan semangat selama penyelesaian
skripsi ini.
Dengan segala kerendahan hati, tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Drs. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibunda Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Program Studi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dan juga
selaku Dosen Pembimbing yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis selama proses
pengerjaan skripsi ini. Terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya yang sangat
bermanfaat bagi penulis.

Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departement Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Iskandar Zulkarnain, M. Si selaku dosen wali penulis. Terima kasih untuk setiap
arahan dan bimbingan selama masa perkuliahan.
5. Seluruh Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi yang pernah membimbing penulis selama
masa perkuliahan.
6. Kak Icut, kak Ros dan kak Maya yang membantu penulis dalam menyelesaikan urusan
administrasi.
7. Ibu Florida Pardosi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SLB – B Karya Murni Medan, yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah ini.
8. Ibu F. Sitohang, Roma, Mona, Jonathan, Hizkia, Wylis dan Yohanes yang sudah menjadi
informan juga seluruh siswa/i SLB – B Karya Murni Medan, terima kasih untuk kerja
samanya. Bersyukur sempat mengenal kalian.
9. Ayahanda R. Silaen dan Ibunda P. Pangaribuan, terima kasih untuk setiap dukungan doa,
perhatian dan semangat yang boleh penulis terima selama ini.
10. Kepada temanku Tetti, Lamhot, Benget, Mila, Arief, Seppianta, Wahyu, Bang O.K. Harianda,
Hera, Fitri, Kak Vera, Ira, Nuke, Endah, Maya, Zaki dan semua teman-teman Ilmu
Komunikasi Ekstensi Angkatan 2009 yang telah membantu dan mendukung penulis.
11. Teman-teman Batch 90 Telkomsel Regional Medan Ancha, Desy, Rany, Dody, Fiqi dan Eka.
12. Ibunda dr. Ulfah Mahidin, SpPK Selaku Pimpinan di Laboratorium R.S. Martha Friska,
Medan. Bu Tety, Bu Verly, kak Dede, Ajeng, Hotni, Ari, Elfida dan seluruh rekan kerja
penulis di Laboratorium R.S. Martha Friska Medan.
13. Semua pihak yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian pendidikan dan skripsi ini,
yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa membalaskan
segala budi baik yang boleh penulis terima selama ini.

Universitas Sumatera Utara

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu dengan segala
kerendahan hati penulis mengaharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua
pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi
pembacanya.

Medan, Agustus 2011
Penulis

Oloan Hendra R. Silalahi
NIM: 090922058

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ........................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ v
DAFTAR TABEL................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... ix
BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Masalah....................................................................... 1

I.2

Perumusan Masalah ............................................................................. 7

I.3

Pembatasan Masalah............................................................................ 7

I.4

Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ............................................ 8
I.4.1 Tujuan Penelitian ....................................................................... 8
I.4.2 Manfaat Penelitian ..................................................................... 8

I.5

Kerangka Teori .................................................................................... 9
I.5.1 Komunikasi ............................................................................... 10
I.5.2 Komunikasi Antarpribadi ........................................................... 10
I.5.3 Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)................................. 13
I.5.4 Komunikasi Verbal dan Non Verbal........................................... 13
I.5.5 Teori Interaksi Simbolik ............................................................ 15
I.5.6 Konsep Diri ............................................................................... 16
I.5.7 Konseling Individual .................................................................. 18
I.5.8 Tunarungu ................................................................................. 20

I.6

Kerangka Konsep ................................................................................ 21

I.7

Operasionalisasi Konsep ...................................................................... 21

1.8
BAB II
II.1

Defenisi Operasional Variabel............................................

24

URAIAN TEORITIS
Komunikasi ......................................................................................27
II.1.1. Tujuan Komunikasi.................................................... 30
II.1.2. Fungsi Komunikasi.................................................... 30
II.1.3. Unsur-unsur Komunikasi........................................... 31

II.2

Komunikasi Antarpribadi ......... ........................................................... 32
II.2.1 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi...................... 33
II.3.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi.............................

37

Universitas Sumatera Utara

II.3

Teori Pengungkapan Diri (self disclosure)............................................ 39

II.4

Komunikasi Verbal dan Non Verbal..................................................... 45
II.4.1 Karakteristik Komunikasi Non Verbal....................... 46
II.4.2 Kategori Komunikasi Non Verbal………..................

47

II.5

Teori Interaksi Simbolik ...................................................................... 48

II.6

Konsep Diri ......................................................................................52
II.6.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri........ 54
II.6.2 Dimensi-Dimensi Dalam Konsep Diri.......................

56

II.6.3 Perkembangan Konsep Diri........................................ 58
II.7

Konseling Individual............................................................................ 59
II.7.1 Ciri-ciri Konseling Individual..................................... 61
II.7.2 Karakteristik Hubungan Konseling Individual .........

II.8

Tunarungu

61

......................................................................................63

II.8.1 Pengertian Tunarungu................................................

63

II.8.2 Faktor-Faktor Penyebab Ketunarunguan...................

64

II.8.3 Karakteristik Tunarungu............................................. 65

BAB III
III.1

METODOLOGI PENELITIAN
Deskripsi Lokasi Penelitian.................................................................. 67
III.1.1 Sejarah Singkat SLB – B Karya Murni ....................................... 67
III.1.2 Profil SLB – B Karya Murni ...................................................... 71
III.1.3 Program Kerja SLB – B Karya Murni ........................................ 74

III.2 Metode Penelitian.................................................................................... 75
III.3

Lokasi Penelitian ..............................................................................78

III.4

Subjek Penelitian ..............................................................................78

III.5

Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 79

III.6

1. Penelitian Lapangan (Field Research) .................................. 79
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research).......................... 80
Teknik Analisis Data ........................................................................... 80

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1

Pelaksanaan Pengumpulan Data di Lapangan ....................................... 83

IV.2

Teknik Pengolahan Data ...................................................................... 84

IV.3

Analisis Data Kualitatif........................................................................ 84
IV.3.1Informan I.................................................................................. 86
IV.3.2Informan II ................................................................................ 92
IV.3.3Informan III ............................................................................... 98

Universitas Sumatera Utara

IV.3.4Informan IV ............................................................................... 104
IV.4
BAB V

Pembahasan Hasil Penelitian................................................................ 84
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1

Kesimpulan

111

V.2

Saran

..............................................................................113

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel

Hal

1 Konsep Operasional ....................................................................................

22

2 Luas Tanah dan Bangunan SLB – B Karya Murni .......................................

72

3 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Jenis Kelamin .................................................

73

4 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Jenjang Pendidikan .........................................

73

5 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Agama ............................................................

74

6 Karakteristik Informan ................................................................................

74

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Hal

1 Jendela Johari .............................................................................................

40

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Transkrip Wawancara
Surat Izin Penelitian
Lembar Catatan Bimbingan Skripsi
Biodata

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri
(Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep
Diri Siswa/Siswi Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan). Penelitian ini bertujuan
untuk menggambarkan dan membahas peranan komunikasi antarpribadi dalam proses konseling
antara siswa/siswi dengan konselor dalam membentuk konsep diri siswa/siswi tunarungu di SLB
– B Karya Murni Jl. H.M. Jhoni No. 66 A Medan, berikut untuk mengetahui teknik-teknik
konseling yang digunakan, masalah yang menjadi fokus layanan konseling serta bentuk solusi
untuk mengatasi masalah siswa/siswi. Model komunikasi yang digunakan adalah model
komunikasi menurut Wilbur Schramm. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
analisa data secara kualitatif tanpa menjelaskan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis.
Penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan subjek penelitian atau
informan. Subjek penelitian dalam penelitian ini ada 4 orang yang dipilih menurut sejumlah
kriteria tertentu. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara mendalam
(indepth interview) dan observasi terhadap subjek penelitian tersebut. Analisis data dilakukan
secara kualitatif yaiut dengan mengaitkan komponen komunikasi antarpribadi konselor dalam
proses konseling dengan komponen pembentukan konsep diri.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa layanan konseling konselor dengan siswa/siswi
tunarungu berperan besar dalam membentuk konsep diri yang positif siswa/siswi tunarungu. Hal
ini terjadi karena adanya suasana konseling yang dekat dan akrab dalam berkomunikasi. Temuan
penelitian juga menemukan bahwa layanan konseling yang telah diberikan kepada siswa/siswi
tunarungu sudah cukup baik. Terlihat bahwa para siswa/siswi tersebut menunjukkan konsep diri
yang wajar. Mereka menyadari keadaan cacatnya, tetapi keadaan cacatnya tersebut tidak
melemahkan mereka. Komunikasi antarpribadi yang efektif telah memunculkan terbentuknya
konsep diri siswa/siswi tunarungu seperti terbuka pada pengalaman, tidak bersikap defensif,
kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa syarat dan dapat menjalin hubungan yang
harmonis dengan orang lain.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah
Komunikasi menjadi aktivitas yang tidak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari.
Komunikasi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap saat kita
bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi. Komunikasi merupakan medium
penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dan untuk kontak sosial. Melalui
komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan diri sendiri dan orang lain, bergaul,
bersahabat, mencintai atau mengasihi orang lain dan sebagainya. Komunikasi merupakan
penyampaian informasi dan pengertian dari seorang kepada orang lain. Komunikasi akan
berhasil jika adanya pengertian serta kedua belah pihak saling memahaminya. Dengan kata
lain, komunikasi sangat penting, seperti halnya dengan bernafas. Tanpa komunikasi tidak
akan ada hubungan dan kesepian dalam menjalani aktivitas. Ada beberapa bentuk komunikasi
yang kita kenal, yaitu:
a. Komunikasi Personal (personal communication)
b. Komunikasi Kelompok
c. Komunikasi Organisasi (organization communication)
d. Komunikasi Massa (mass communication)
a) Komunikasi Personal (personal communication)
Terdiri dari komunikasi intra personal (intrapersonal communication) dan komunikasi
antar personal (interpersonal communication)
b) Komunikasi Kelompok
1. Komunikasi kelompok kecil (small group communication) terdiri dari ceramah,
forum, diskusi dan seminar.
2. Komunikasi kelompok besar (large group communication) terdiri dari kampanye.
c) Komunikasi Organisasi (organization communication)
d) Komunikasi Massa (mass communication) (Effendy, 2005:7).
1

Universitas Sumatera Utara

Komunikasi personal (antarpribadi) bersifat transaksional, sebuah hubungan manusia
yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Biasanya komunikasi itu bertujuan untuk
mengelola hubungan bahkan sampai pada pembentukan konsep diri. Hubungan antar pribadi
yang berkelanjutan dan terus menerus akan memberikan semangat, saling merespon tanpa
adanya manipulasi, tidak hanya tentang menang atau kalah dalam berargumentasi melainkan
tentang pengertian dan penerimaan (Beebe, 2008:3-5).
Dalam komunikasi antarpribadi tidak hanya tertuju pada pengertian melainkan ada
fungsi dari komunikasi antarpribadi itu sendiri. Fungsi komunikasi adalah berusaha
meningkatkan hubungan insani, menghindari dan mengatasi konflik pribadi, mengurangi
ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain
(Cangara, 2006:56). Dalam kegiatan apapun komunikasi antarpribadi tidak hanya memiliki
ciri maupun karakter tertentu, tetapi juga memiliki tujuan agar komunikasi antarpribadi tetap
berjalan dengan baik. Adapun tujuan dari komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut:
a. Untuk memahami dan menemukan diri sendiri.
b. Menemukan dunia luar sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungan.
c. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang
lain,
d. Melalui komunikasi antarpribadi, individu dapat mengubah sikap dan perilaku sendiri
dan orang lain,
e. Komunikasi antarpribadi merupakan proses belajar
f. Mempengaruhi orang lain
g. Mengubah pendapat orang lain
h. Membantu orang lain (Sugiyo, 2005:9)
Dalam kaitannya untuk mengenali diri sendiri dan orang lain, komunikasi antarpribadi
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang. Terkait dengan
pembentuknya, konsep diri mulai berkembang sejak masa bayi dan akan terus berkembang
sejalan dengan perkembangan individu itu sendiri. Konsep diri individu terbentuk melalui
imajinasi individu tentang respon yang diberikan oleh orang lain melalui proses komunikasi.
Bila konsep diri seseorang positif, maka individu akan cenderung mengembangkan sikapsikap postitif mengenai dirinya sendiri, seperti rasa percaya diri yang baik serta kemampuan
untuk melihat dan menilai diri sendiri secara positif. Individu dengan konsep diri positif
cenderung akan menimbulkan tingkah laku yang baik terhadap lingkungan sosialnya.

Universitas Sumatera Utara

Sebaliknya bila seseorang memiliki konsep diri yang negatif, maka individu tersebut
cenderung akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri, merasa ragu, dan
kurang percaya diri. Individu dengan konsep diri yang negatif akan mengalami kesulitan
dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Konsep diri adalah keyakinan
yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri/sifat) yang dimilikinya (Dayakisni, 2003:65).
Hal ini termasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain
dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta
keinginannya. Di era yang modern ini sangatlah penting bagi setiap individu untuk
memahami maupun mengenal konsep diri. Namun bagaimana dengan mereka yang lahir
dengan keterbatasan fisik. Padahal hidup mestilah dihormati bagaimanapun wujud nya bagi
setiap orang, pada dasar nya tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan dirinya
dilahirkan dalam keadaan cacat. Keadaan cacat tersebut dapat menjadikan manusia merasa
rendah diri, bahkan merasa tidak berguna, dan selalu bergantung pada bantuan dan belas
kasihan orang lain. Manusia penyandang cacat pada umumnya memiliki keterbatasan tertentu
sesuai dengan jenis cacatnya. Begitu juga dengan penyandang tunarungu, stigma yang
diberikan masyarakat normal sering kali digambarkan sebagai seseorang yang tidak berdaya,
tidak mandiri dan menyedihkan, sehingga terbentuk persepsi dan prasangka bahwa
penyandang tunarungu itu patut dikasihani, selalu butuh perlindungan dan bantuan. Hal ini
juga sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (UUSPN) pada Pasal 5 Ayat (2) dan pasal 32 ayat (1) menyatakan bahwa:
warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau
sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi
peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena
kelainan fisik, emosional, mental, sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa. Secara yuridis formal anak luar biasa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan
pendidikan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikannya diselenggarakan secara demokratis
dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa [USPN Pasal 4 ayat (1)].

Universitas Sumatera Utara

Anak dengan gangguan pendengaran (tunarungu) sering kali menimbulkan masalah
tersendiri. Menurut Mangunsong, yang dimaksud dengan “anak tunarungu adalah mereka
yang pendengarannya tidak berfungsi sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan luar
biasa (1998:66)”. Menurut Moores, “tunarungu adalah kondisi dimana individu tidak mampu
mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, baik dengan derajat
frekuensi dan intensitas (dalam Mangunsong, 1987)”. Karena memiliki hambatan dalam
pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa
disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk
abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda
di setiap negara. Saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu
cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal dan non verbal. Menurut Purba,
komunikasi verbal (verbal communication) meliputi: komunikasi lisan (oral communication)
& komunikasi tulisan (written communication). Sementara yang termasuk dalam komunikasi
non verbal (non verbal communication) terdiri dari: komunikasi kial (gestural
communication) dan komunikasi gambar (pictorial communication) (Purba dkk, 2006:36).
Dalam Undang-undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran tahun 1954 No. 12 Bab V
pasal 7 ayat 5 dikatakan bahwa:
Pendidikan dan pengajaran luar biasa bermaksud memberikan pendidikan dan
pengajaran kepada orang-orang yang dalam keadaan kekurangan, baik jasmani maupun
rohaninya supaya mereka dapat memiliki kehidupan lahir batin yang layak.
Bertitik tolak dari alasan di atas, maka Yayasan Karya Murni menyediakan tenaga
konselor yang bertugas untuk membantu para siswa/i tunarungu. Adapun tugas dari konselor
tersebut adalah:
1. Membina hubungan baik antara konselor dengan siswa/i tunarungu

Universitas Sumatera Utara

2. Menolong siswa/i tunarungu untuk dapat menerima dirinya sendiri dan membantu
untuk membentuk konsep dirinya.
3. Membimbing siswa/i tunarungu dalam proses pendidikan nya.
Semua siswa yang ada di SLB-B Karya Murni ini adalah manusia yang berpotensi yang
layak dikembangkan untuk dapat mencapai kemandirian, kreativitas dan produktivitas.
Seorang siswa tunarungu yang dalam kesehariannya mengalami banyak kelemahan karena
keterbatasan pendengaran, membutuhkan layanan konseling untuk membantunya
memecahkan masalah dan membentuk konsep diri yang baik agar dia tumbuh menjadi
pribadi yang mandiri dan berperilaku positif.
Pembentukan konsep diri seorang siswa/i tunarungu akan dapat berjalan dengan efektif
apabila dalam prosesnya menggunakan komunikasi antarpribadi yang meliputi komunikasi
verbal dan non verbal. Komunikasi antarpribadi akan sangat mempengaruhi hubungan
antarpribadi antara konselor dengan siswa/i tunarungu. Apabila seorang konselor dapat
menjalin komunikasi antarpribadi yang baik terhadap siswa/i tunarungu dan terdapat
kesepahaman makna maka akan terdapat hubungan timbal balik diantara keduanya. Sehingga
siswa/i tunarungu dapat mengungkapkan isi hatinya yang dapat memudahkan konselor dalam
membantu pembentukan konsep diri siswa/i tunarungu tersebut.
Berangkat dari keprihatinan yang dialami siswa/i tunarungu ini, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang dilakukan di SLB-B Karya Murni Medan karena peneliti melihat
bahwa ada beberapa siswa/i tunarungu seperti kehilangan interaksi dikarenakan keterbatasan
fisik yang mereka miliki, kurangnya kasih sayang dari orang disekitarnya begitu juga dengan
kurangnya konsep diri.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti
tentang “Peranan Komunikasi Antarpribadi Yang Dilakukan Oleh Konselor Dalam
Membentuk Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB-B Karya Murni Medan”.

Universitas Sumatera Utara

I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dirumuskan permasalahan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Bagaimanakah Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri Siswa/i
Tunarungu di SLB-B Karya Murni Medan?”
I.3. Pembatasan Masalah
Agar ruang lingkup penelitian tidak terlalu luas, namun lebih jelas dan terarah maka
perlu dibuat pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Penelitian menggunakan metode Deskriptif dengan tipe studi kasus dimana peneliti
mendeskripsikan atau merekonstruksikan wawancara mendalam terhadap subjek
penelitian tanpa menjelaskan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis.
2. Subjek dalam penelitian ini adalah konselor dan siswa/i tunarungu di SLB-B Karya Murni
Jl. H.M. Jhoni No. 66 A Medan, yang duduk di tingkat SLTP.
3. Penelitian fokus untuk menggambarkan dan membahas bagaimana peranan komunikasi
antarpribadi khususnya mengenai layanan konseling individual konselor dalam
membentuk konsep diri siswa/i tunarungu di SLB-B Karya Murni Medan.
4. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2011 hingga selesai.

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1) Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan arah penelitian yang akan menguraikan apa yang akan
dicapai, dan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan pihak lain yang
berhubungan dengan penelitian tersebut.
Adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

a. Untuk menggambarkan dan membahas bagaimana peranan komunikasi antarpribadi yang
dilakukan oleh konselor dalam membentuk konsep diri siswa/i tunarungu di SLB-B Karya
Murni.
b. Untuk mengetahui metode komunikasi konseling yang dilakukan konselor terhadap
siswa/i tunarungu dalam membentuk konsep diri siswa/i tunarungu.
c. Untuk mengetahui bagaimana respon siswa/i tunarungu.
d. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh konselor ketika membimbing.
e. Untuk mengetahui solusi yang dipilih konselor guna mengatasi masalah yang dihadapinya

1.4.2) Manfaat Penelitian
Dalam hal ini manfaat penelitian yang dimaksud adalah:
a. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, khususnya komunikasi antarpribadi yang berkaitan dengan pembentukan
konsep diri siswa/i tunarungu.
b. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memperkaya
khasanah penelitian dan sumber bacaan di lingkungan FISIP USU, khususnya di bidang
ilmu komunikasi.
c. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pihak SLB-B
Karya Murni Medan, sehingga dapat meningkatkan perhatian dalam menangani kebutuhan
dan permasalahan siswa/i tunarungu.

Universitas Sumatera Utara

I.5. Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam
memecahkan atau menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang
memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian
akan disoroti (Nawawi, 1995:39). Kerlinger menyatakan teori merupakan himpunan konstruk
(konsep), defenisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala
dengan menggambarkan relasi diantara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala
tersebut (Rakhmat, 2004:6).
Adapun teori-teori yang relevan dengan penelitian ini adalah:
a. Komunikasi
b. Komunikasi Antarpribadi
c. Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)
d. Komunikasi Verbal dan Non Verbal
e. Teori Simbolik
f. Konsep Diri
g. Konseling Individual
h. Tunarungu
1.5.1) Komunikasi
Wilbur Schramm mengatakan bahwa kata communication itu berasal dari bahasa Latin:
Communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti common (sama). Dengan
demikian apabila kita akan mengadakan komunikasi, maka kita harus mewujudkan
persamaan antara kita dengan orang lain. Sama di sini maksudnya adalah sama makna
(Effendy, 2003:9). Menurut Cherrey, komunikasi adalah menekankan pada proses hubungan,
sedangkan Gode berpendapat bahwa komunikasi merupakan proses yang menekankan pada
sharing atau pemilikan (Liliweri, 1997:5). Jadi, jika mengadakan suatu komunikasi dengan

Universitas Sumatera Utara

satu pihak lain, maka kita menyatakan gagasan kita untuk mendapatkan komentar dari pihak
lain mengenai suatu objek tertentu. Theodorson (dalam Liliweri, 1997:11) mengatakan bahwa
komunikasi adalah pengalihan informasi dari satu kelompok kepada kelompok lain terutama
dengan menggunakan simbol. Sedangkan Panji Anogoro dan Ninik Widiyanti (dalam
Liliweri, 1997:104) memberi defenisi komunikasi sebagai berikut: komunikasi merupakan
kapasitas individu dan kelompok lain.
1.5.2) Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses sosial dimana orang-orang yang
terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh De Vito
(dalam Liliweri, 1997:12) bahwa, komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesanpesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain atau sekelompok orang dengan efek dan
umpan balik yang langsung.
Menurut Barnlund ada beberapa ciri yang bisa diberikan untuk mengenal komunikasi
antarpribadi (dalam Liliweri, 1997:14), yaitu:
1. Komunikasi antarpribadi terjadi secara spontan
2. Tidak mempunyai struktur yang teratur atau diatur
3. Terjadi secara kebetulan
4. Tidak mengejar tujuan yang telah direncanakan terlebih dahulu
5. Identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas
6. Bisa terjadi hanya sambil lalu saja
Menurut Evert M. Rogers (dalam Liliweri, 1997:13) ada beberapa ciri komunikasi
antarpribadi, yaitu:
1. Arus pesan dua arah
2. Konteks komunikasi adalah tatap muka.
3. Tingkat umpan balik yang tinggi.
4. Kemampuan untuk mengatasi tingkat selektivitas yang tinggi.
5. Kecepatan untuk menjangkau sasaran yang besar sangat lamban.
6. Efek yang terjadi antara lain perubahan sikap.

Universitas Sumatera Utara

Asumsi dasar komunikasi antarpribadi adalah bahwa setiap orang yang berkomunikasi
akan membuat prediksi pada data psikologis tentang efek atau perilaku komunikasinya, yaitu
bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan reaksinya. Jika menurut komunikator
reaksi komunikan menyenangkan, maka ia akan merasa bahwa komunikasinya telah berhasil.
Menurut Rakhmat bahwa, pola-pola komunikasi antarpribadi (interpersonal)
mempunyai efek yang berlainan pada hubungan antarpribadi. Tidak benar anggapan orang
bahwa makin sering orang melakukan komunikasi antarpribadi dengan orang lain, makin baik
hubungan mereka. Bila diantara komunikator dan komunikan berkembang sikap curiga,
maka makin sering mereka berkomunikasi makin jauh jarak yang timbul. Yang menjadi
persoalan adalah bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi
itu dilakukan. Ada beberapa faktor yang dapat menumbuhkan hubungan antarpribadi yang
baik, yaitu: sikap percaya, sikap suportif dan terbuka (Rakhmat, 2005:129).
Percaya (trust), menentukan efektivitas komunikasi. Secara ilmiah percaya
didefenisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko (Griffin,
dalam Rakhmat, 2005:130).
Sikap Suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang
bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Sudah jelas dengan
sikap defensif, komunikasi interpersonal akan gagal: karena orang defensif akan lebih banyak
melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang
memahami pesan orang lain. Perilaku yang menimbulkan iklim suportif adalah: deskripsi,
orientasi masalah, spontanitas, empati, persamaan dan provisionalisme.
Sikap terbuka (open-mindedness) sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan
komunikasi antarpribadi yang efektif. Menurut Brooks dan Emert karakteristik orang yang
sikap terbuka adalah sebagai berikut:
a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan logika
b. Membedakan dengan mudah, melihat suasana dan sebagainya
c. Berorientasi pada isi
d. Mencari informasi dari berbagai sumber
e. Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayaannya

Universitas Sumatera Utara

f. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan (Rakhmat,
2005: 136).
Bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong
timbulnya saling pengertian, saling menghargai dan yang paling penting dapat saling
mengembangkan kualitas hubungan interpersonal melalui komunikasi yang dilakukan.
Melalui komunikasi antarpribadi dengan orang lain kita belajar bukan saja mengenai siapa
kita, namun juga bagaimana kita merasakan siapa kita. Anda mencintai diri anda bila anda
telah dicintai, anda berpikir anda cerdas bila orang-orang sekitar anda menganggap anda
cerdas, anda merasa tampan atau cantik bila orang-orang sekitar anda juga mengatakan
demikian. Proses komunikasi antarpribadi seperti ini sangat berpengaruh terhadap
pembentukan konsep diri seseorang.
I.5.3) Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)
Self disclosure teori adalah proses sharing/berbagi informasi dengan orang lain.
Informasinya menyangkut pengalaman pribadi, perasaan, rencana masa depan, impian dan
sebagainya. Dalam melakukan proses self-disclosure seseorang harus memahami waktu,
tempat dan tingkat keakraban. Kunci dari suksesnya self-disclosure adalah kepercayaan
(http://jurusankomunikasi.blogspot.com).
Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat-tingkat kesadaran dan
penyingkapan diri dalam komunikasi adalah Jendela Johari (Johari Window). “Johari”
berasal dari nama depan dua orang psikolog yang mengembangkan konsep ini, Joseph Luft
dan Harry Ingham (Senjaya, 2007:2.44). Meskipun self disclosure yang mendorong adanya
keterbukaan, namun keterbukaan itu sendiri ada batasnya. Artinya kita perlu
mempertimbangkan kembali apakah menceritakan segala sesuatu tentang diri kita akan
menghasilkan efek positif bagi hubungan kita dengan orang tersebut (Senjaya, 2007:2.45).

Universitas Sumatera Utara

I.5.4) Komunikasi Verbal dan Non Verbal
Dalam penyampaian pesan, seorang komunikator dituntut untuk memiliki kemampuan
dan sarana agar mendapat umpan balik (feedback) dari komunikan sehingga maksud pesan
tersebut dapat dipenuhi dengan baik dan berjalan efektif. Komunikasi dengan tatap muka
(face-to-face) dilakukan. antara komunikator dan komunikan secara langsung, tanpa
menggunakan media apapun kecuali bahasa sebagai lambang atau simbol. Komunikator
dapat menyampaikan pesannya secara verbal dan non verbal.
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa lisan (oral
communication) dan bahasa tulisan (written communication). Ada tiga ciri utama komunikasi
verbal, yaitu:
1. Bahasa verbal adalah komunikasi yang kita pelajari setelah kita menggunakan komunikasi
non verbal. Jadi komunikasi verbal ini digunakan setelah pengetahuan dan kedewasaan
kita sebagai manusia tumbuh.
2. Komunikasi verbal dinilai kurang universal dibanding dengan komunikasi non verbal,
sebab bila kita ke luar negeri misalnya dan kita tidak mengerti bahasa yang digunakan
masyarakat setempat maka kita bisa menggunakan bahasa isyarat non verbal.
3. Komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual dibanding dengan bahasa
non verbal. Melalui komunikasi verbal kita mengkomunikasikan gagasan dan konsepkonsep yang abstrak (Sendjaja, 2005:6.3).
Sementara komunikasi non verbal dapat didefenisikan sebagai berikut: non berarti
tidak, verbal bermakna kata-kata (words). Sehingga komunikasi non verbal dimaknai sebagai
komunikasi tanpa kata-kata. Beberapa contoh komunikasi nonverbal adalah: gerakan atau
isyarat badaniah (gestural) seperti melambaikan tangan, mengedipkan mata dan sebagainya,
dan menggunakan gambar untuk mengemukakan ide atau gagasannya (Sendjaja, 2005:6.3).
Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter komunikasi non verbal mencakup
semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang
dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai
potensial bagi pengirim atau penerima; jadi defenisi ini mencakup perilaku yang disengaja
juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan (dalam
Mulyana, 2002:198).
Kategori komunikasi non verbal dalam Sendjaja Sasa Djuarsa antara lain vocalics atau
paralanguage, kinesic yang mencakup gerakan tubuh, lengan dan kaki, serta ekspresi wajah
(facial expression), perilaku mata (eye behaviour), lingkungan yang mencakup objek benda
dan artefak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan),
penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronomics (waktu) dan olfaction (bau)
(Sendjaja, 2005:6.17).
Ada tiga perbedaan antara komunikasi verbal dan non verbal, yaitu:
1. Komunikasi verbal dikirimkan oleh sumber secara sengaja dan diterima oleh penerima
secara sengaja pula.

Universitas Sumatera Utara

2. Perbedaan simbolik. Berarti bahwa makna dalam komunikasi verbal dipahami secara
subjektif oleh individu yang terlibat didalam suatu kondisi, sedangkan makna non verbal
lebih bersifat alami dan universal.
3. Mekanisme pemrosesan. Yaitu, komunikasi verbal mensyaratkan kaidah dan aturan
berbahasa secara indah dan terstruktur (Sendjaja, 1994:257).

I.5.5) Teori Interaksi Simbolik
Teori ini menyatakan bahwa interaksi sosial pada hakekatnya adalah interaksi simbolik.
Manusia berinteraksi dengan orang lain dengan cara menyampaikan simbol, yang lain
memberi makna atas simbol tersebut. Para ahli perfeksionisme simbolik melihat bahwa
individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya
dengan individu yang lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi
dengan menggunakan simbol-simbol, yang didalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan katakata. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya,
berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal),
perilaku non verbal dan obyek yang disepakati bersama (Mulyana, 2001:84).
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia
yaitu komunikasi dan petukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik
berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan
bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia
membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain
yang menjadi mitra interaksi mereka. Defenisi yang mereka berikan kepada orang lain,
situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Manusia
bertindak hanya berdasarkan defenisi atau penafsiran mereka atas objek-objek
disekelilingnya. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer,
proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan aturan-aturan, bukan
sebaliknya. Dalam konteks ini makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses

Universitas Sumatera Utara

tersebut bukanlah sesuatu medium yang netral yang memungkinkan kekuatan sosial
memainkan perannya melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial
dan kekuatan sosial (Mulyana, 2001:68)
Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi
manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara singkat interaksionalisme simbolik
didasarkan pada premis-premis berikut: pertama individu merespon sebuah situasi simbolik.
Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang
dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua makna adalah
produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan
melalui penggunaan bahasa. Ketiga makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari
waktu kewaktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

I.5.6) Konsep Diri
Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri/sifat)
yang dimilikinya (Dayakisni, 2003:65). Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki
seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh
dari interaksi dengan lingkungannya. Konsep diri seseorang umumnya dipengaruhi oleh
keluarga dan orang-orang dekat lain disekitarnya, termasuk kerabat akan tetapi yang paling
mempengaruhi adalah ketika kita berinteraksi dengan orang lain yakni pengharapan, kesan
dan citra orang lain tentang kita.
Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi, yaitu sebagai berikut:
a. Dimensi Internal
Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal (internal frame of reference)
adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia didalam
dirinya sendiri. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu:
1. Diri Identitas (Identity self)

Universitas Sumatera Utara

Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan
mengacu pada pertanyaan, “Siapakah saya?” dalam pertanyaan tersebut mencakup
label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri (self) oleh individu-individu
yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.
2. Diri Pelaku (Behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya yang berisikan
segala kesadaran mengenai “Apa yang dilakukan oleh diri”.
3. Diri Penerima/Penilai (Judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar dan elevator.
Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri dan identitas pelaku.
b. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya,
nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi eksternal terbagi atas
lima bentuk yaitu:
1. Diri Fisik (physical self)
Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik
(cantik, jelek, menarik, tidak menarik, tinggi, pendek, gemuk, kurus, dan sebagainya)
2. Diri Etik-moral (moral-ethical self)
Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari pertimbangan
nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungannya
dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan agamanya dan nilai-nilai moral
yang dipegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.
3. Diri Pribadi (personal self)
Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya.
Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi
dipengaruhi oleh sejauhmana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.
4. Diri Keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya
sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasa
dekat terhadap dirinya sebagai anggota dari suatu keluarga.
5. Diri Sosial (social self)
Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain
maupun lingkungan disekitarnya.
Seluruh bagian diri ini, baik internal maupun eksternal, saling berinteraksi dan
membentuk suatu kesatuan hati yang utuh.

I.5.7) Konseling Individual
Istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang secara etimologi berarti
“to give advice” atau memberi saran dan nasehat. Jones mendefenisikan konseling sebagai
kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada

Universitas Sumatera Utara

masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan
pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konseling harus ditujukan pada
perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri
(Lubis, 2006:7).
Selanjutnya menurut Jones, proses konseling akan terlaksana bila terlihat beberapa
aspek berikut ini:
a. Terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien.
b. Terjadi dalam suasana yang profesional.
c. Dilakukan dan dijaga sebagai alat yang memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah
laku klien.
Rogers mengemukakan sebagai berikut: counseling is a series of direct contacts with
the individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behaviour.
Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk
membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya (Hallen, 2005:9).
Sementara itu, Shertzer dan Stone mendefenisikan hubungan konseling yaitu interaksi
antara seseorang dengan orang lain yang dapat menunjang dan memudahkan secara positif
bagi perbaikan orang tersebut (Willis, 2004:36).
Karakteristik hubungan konseling adalah sebagai berikut:
1. Hubungan konseling itu sifatnya bermakna, terutama bagi klien, demikian pula bagi
konselor. Hubungan konseling terjadi dalam suasana keakraban (intimate)
2. Bersifat afek
Afek adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungan-kecenderungan
yang didorong oleh emosi. Afek hadir karena adanya keterbukaan diri (disclosure)
klien, keterpikatan, keasyikan diri (self absorbed) dan saling sensitif satu sama lain.
3. Integrasi pribadi
Terdapat ketulusan, kejujuran dan keutuhan antara konselor-klien.
4. Persetujuan bersama
Ada komitmen (keterikatan) antara kedua belah pihak.
5. Kebutuhan
Hubungan konseling akan berhasil bila klien datang atas dasar kebutuhan nya.

Universitas Sumatera Utara

6. Struktur
Proses konseling (bantuan) terdapat struktur karena adanya keterlibatan konselor dan
klien.
7. Kerjasama
Jika klien bertahan (resisten) maka ia menolak dan tertutup terhadap konselor.
Akibatnya, hubungan konseling akan macet. Begitu juga sebaliknya.
8. Konselor mudah didekati, klien merasa aman.
Faktor iman dan taqwa sangat mendukung terhadap kehidupan emosional konselor.
9. Perubahan
Tujuan akhir dari hubungan konseling adalah perubahan positif klien menjadi lebih
sadar dan memahami diri, mendapatkan cara-cara terbaik untuk
berbuat/merencanakan kehidupannya menjadi lebih dewasa dan pribadinya
terintegrasi. Perubahan internal dan eksternal terjadi didalam sikap dan tindakan, serta
persepsi terhadap diri, orang lain dan dunia (Willis, 2004:41-44)
Dari defenisi-defenisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa layanan konseling
individual merupakan kegiatan komunikasi antarpribadi konselor dengan kliennya, dimana
dalam prosesnya melibatkan keikutsertaan/keterlibatan dua orang individu yang terjadi dalam
suasana keakraban/kebersamaan dan terdapat interaksi, atau umpan balik antara kedua belah
pihak sehingga si klien dapat memahami pikiran ataupun pesan yang disampaikan konselor
yang tujuan akhirnya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah klien
sehingga klien mempunyai konsep diri yang jelas.

I.5.8) Tunarungu
Anak dengan gangguan pendengaran (tunarungu) sering kali menimbulkan masalah
baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun bagi lingkungan sekitarnya. Menurut
Mangunsong, yang dimaksud dengan anak tunarungu adalah mereka yang pendengarannya
tidak berfungsi sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan luar biasa (Mangunsong
1998:66). Menurut Moores, ketunarunguan adalah kondisi dimana individu tidak mampu
mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, baik dengan derajat
frekuensi dan intensitas (dalam Mangun

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)