Kesadaran yang cermat Penghargaan diri tanpa syarat Tidak bersikap defensif Kesadaran yang cermat Penghargaan diri tanpa syarat

2. Tidak bersikap defensif


Setelah beberapa kali mengikuti konseling, Yonathan tidak lagi menutup diri, menyalahkan dirinya sendiri atau bahkan menyalahkan orang tua. Berikut ungkapan
nya: “aku pernah menyalahkan diri ku dan merasa tidak puas karena dilahirkan sebagai
anak tunarungu. Tapi kalo dilihat lagi teman-teman ku yang normal, ternyata aku harus bersyukur karena mereka kadang gak menghargai diri mereka. Saat lagi ada
masalah kadang aku lemah tapi orang tua, guru, teman-teman dan konselor membantu ku untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Dengan semangat dari
mereka, aku jadi semangat dan merasa mampu menyelesaikan masalah tersebut. Saat konseling, aku sering bercerita sama ibu itu. Jadi selalu dibantu juga untuk menjadi
sosok yang lebih baik. Kata Yonathan sambil memicingkan matanya.”

3. Kesadaran yang cermat


Saat ini, Yonathan sudah dapat menerima dirinya apa adanya, seperti yang diungkapkannya berikut ini:
“...Sekalipun aku tunarungu, teman-teman gak pernah memandang rendah aku. Bahkan kedua saudara ku juga gak pernah mengejek ku. Mereka sangat baik sama
ku. Aku menerima keadaan ku saat ini. meskipun aku tunarungu, aku tau Tuhan sayang sama ku. Buktinya aku ganteng loh. Hehehehe....”

4. Penghargaan diri tanpa syarat


Mengenai keinginan untuk berkarya dan berprestasi, Yonathan ingin melakukan yang terbaik sesuai dengan bakatnya. Ia juga percaya selama ia mau berusaha dan tetap
tekun, dia pasti berhasil mewujudkan impiannya. Hal tersebut dapat kita ketahui lewat ungkapannya berikut ini:
Universitas Sumatera Utara
“.... aku pengen jadi atlet renang atau atlet bulu tangkis. Biar bisa terkenal kayak artis-artis itu. Jadi aku bisa membuat orang tua ku bangga, meskipun aku
tunarungu...”

5. Menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain


Yonathan dalam setiap hari nya selalu berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan semua orang. Baik di sekolah, dilingkungan rumah bahkan dilingkungan
keluarganya. Perlakuan dari orang tuanya tidak pernah membuatnya merasa tersisih, hal ini karena Yonathan dan kedua saudaranya mendapatkan perlakuan yang sama.
Tidak ada perbedaan, sekalipun Yonathan memiliki kekurangan. Begitu juga saat bermain dengan teman-teman dilingkungan tempat tinggalnya. Dengan sangat
antusias, Yonathan menjawab: “... aku berteman baik dengan semua orang, termasuk orang tua, teman di sekolah, di
rumah, bahkan dengan guru dan konselor di sekolah ini. Sekalipun aku tunarungu, teman-teman gak pernah memandang rendah aku. Bahkan mereka memperlakukan
aku setara dengan anak normal lainnya. Begitu juga dengan orang tua yang memperlakukan kami dengan cara yang sama, sekalipun aku memiliki kekurangan.
Karena itu, aku gak pernah merasa malu dengan kondisi yang ku alami saat ini. hehehhee.... Demikian sahut Yonathan dengan senyum tersimpul di bibirnya. ”
Pembahasan
Yonathan adalah sosok pemuda periang dan suka bercanda. Bahkan ketika konseling, tercipta suasana akrab dan kekeluargaan, sehingga hal ini memudahkan konselor untuk lebih
banyak menggali tentang nya. “Ibu itu tidak pernah memaksa kami untuk melakukan apa yang ada dipikirannya. Kami dibiarkan menjadi apa yang kami mau, tapi tetap dipantau dan
diawasinya. Sehingga kalau ingin bertemu ataupun konseling dengannya, kami dapat
Universitas Sumatera Utara
menjumpainya. Yonathan merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang sedang dialaminya dengan konselor. Selain itu konselor juga sering memotivasi kami untuk menjadi
yang terbaik. Motivasi itu sangat berarti dan menjadi semangat bagi Yonathan untuk lebih tekun lagi mengasah kemampuannya. Sehingga impiannya untuk menjadi atlit di masa depan,
bisa tercapai. Adapun masalah yang paling sering menjadi fokus layanan konseling Yonathan adalah
tentang pendidkannya. Bukan hanya itu saja, tapi juga masalah pertemanan, bahkan masalah keluarga.
Mengenai konselor Yonathan berkata: “... ibu itu ramah, baik dan pengertian, jadi waktu konseling rasanya seperti bicara dengan orang tua sendiri”. Mengenai keaktifan dalam
proses konseling, Yonathan menuturkan bahwa seperti biasa diawali oleh konselor. Selanjutnya sebagaimana teman yang lain Yonathan yang mendatangi konselor jika ingin
berbagi mengenai apa yang dia rasakan. Jika mengalami masalah, bentuk solusi yang
diberikan oleh konselor adalah dengan menasehatinya. Selain itu konselor juga merupakan sosok yang juga mengerti trend pergaulan anak muda, sehingga saat berkonseling tidak
menjadi bosan. Yonathan mengatakan kalau ia senang untuk berkonseling karena ia
mendapatkan banyak manfaat dari layanan ini. Menurutnya, banyak sikapnya yang dulunya menyalahkan diri dan orang tua, akhirnya berubah. Sekarang dia mampu untuk menerima
keadaannya. Pemuda periang ini merasa sangat mandiri dan lebih percaya diri untuk
mengaktualisasikan dirinya. Hal ini semakin dibuktikan dengan semangatnya yang sangat gigih berlatih bulu tangkis dan renang. Yonathan berharap apa yang ia lakukan sekarang
benar-benar bermanfaat untuk masa depannya nanti.
Universitas Sumatera Utara
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan konseling antara Yonathan dan konselor memiliki peran yang sangat besar dalam proses membentuk konsep
diri Yonathan.

IV.3.1.3 Informan III


Nama : Johannes Adventus Ginting
Nama panggilan : Johannes
Usia : 15 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
TempatTanggal Lahir : Bandung 03 Desember 1995
Agama : Katolik
Anak ke : 2 dari 4 bersaudara

A. Interpretasi Data


Pemuda berperawakan tinggi ini menderita cacat rungu pada usia 5 tahun. Pada waktu itu, anak ke 2 dari 4 bersaudara pasangan Eduskan Ginting dan Evelin Silalahi ini terjatuh
saat bermain dengan teman-temannya. Jenis kecacatan Johannes adalah hilangnya pendengaran marginal. Dimana ia masih bisa berkomunikasi dan mendengar orang lain
dengan telinganya, tapi harus sering berlatih. Sejak awal memasuki dunia pendidikan, Johannes yang adalah kelahiran Bandung ini
mengikuti pendidikan di sebuah SLB – B di kota Bandung. Kemudian, berhubung orang tuanya pindah tugas, maka Johannes pun ikut pindah bersama orang tua nya dan melanjutkan
pendidikannya di sekolah ini. Ada sedikit kendala yang dialami Johannes ketika pertama kali bergabung disekolah ini. Hal ini disebabkan karena Johannes adalah sosok pendiam dan
pemalu. Namun, berkat kesigapan para guru dan konselor juga kerjasama yang baik dengan
Universitas Sumatera Utara
teman-teman di sekolah ini, maka segala kendala itu mulai teratasi. Dia mulai bisa beradaptasi dan bergaul dengan teman-temannya.
Bagi Johannes, banyak sekali manfaat yang dia dapatkan dari layanan konseling. Dia juga memiliki keinginan yang tinggi untuk terlibat dalam kegiatan itu. Tak hanya saat
konseling, saat sedang memiliki waktu luang, Johannes juga sering bertemu dengan konselor. Saat itu dia pergunakan untuk menyampaikan segala keluhan yang ada dihati dan pikiran nya.
Bukan hanya itu saja, saat itu juga dipergunakannya untuk mendapatkan bimbingan dan pengarahan yang sebanyak-banyaknya. Menurutnya, ia nyaman bercerita dengan konselor
karena konselor di sekolah ini selain ramah dan baik juga dapat menyimpan rahasia pribadi dan segala hal yang disampaikan nya pada saat konseling.

B. Analisis Komponen Pembentukan Konsep Diri 1. Terbuka pada pengalaman


Setiap kali selesai mengikuti proses konseling mengenai masalah yang sedang dihadapinya sedikit demi sedikit mulai dapat diatasi oleh nya. Menurutnya hal itu
terjadi karena ia sangat senang untuk berkonseling, selain itu konselor juga membimbing mereka untuk mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Ia
juga mulai mampu untuk bersikap realistis akan masa depannya. Ketika berbicara tentang masa depannya Johannes berkata:
“... meskipun aku tunarungu, kalo di tanya tentang masa depan, pengennya punya masa depan yang cerah.. aku pengen jadi dokter. Jadi bisa bantu banyak orang.. jadi
biar ada contoh bahwa orang yang tunarungu juga bisa berhasil dan membantu banyak orang.”
Universitas Sumatera Utara

2. Tidak bersikap defensif


Setelah beberapa kali mengikuti program konseling, Johannes merasa dirinya sudah tidak lagi menutup diri dan pemalu seperti dulu. Berikut ungkapan nya:
“... aku memang memiliki kekurangan sebagai anak tunarungu. Tapi aku gak malu, aku menerima kekurangan ku ini. Karena Tuhan sangat mengasihi aku, sekalipun aku
lahir dengan keadaan seperti ini.”

3. Kesadaran yang cermat


Saat penulis bertanya mengenai keadaan dirinya, Johannes mengatakan bahwa ia dapat menerima segala apa yang ada pada dirinya baik itu kekurangan atau pun
kelebihannya, seperti yang diungkapkannya berikut ini: “... saya menerima keadaan diri saya, sekali pun saya memiliki kekurangan, tapi saya
punya kelebihan yang orang lain gak punya... Seperti selama ini yang diajarkan oleh pastor, bahwa hidup ku berharga bagi Allah. Oleh karena itu, aku harus mampu
berjuang untuk hidup yang lebih baik.”

4. Penghargaan diri tanpa syarat


Mengenai keinginan untuk berprestasi, menurut Johannes ia selalu ingin melakukan yang terbaik sesuai dengan bakat yang dimilikinya yaitu, tenis meja, basket dan
renang. Ia juga yakin selama ia mau berusaha dan tetap rajin berlatih dia pasti berhasil mewujudkan impiannya. Hal tersebut dapat kita ketahui lewat ungkapannya berikut
ini: “... aku senang olah raga renang, basket dan tenis meja. Kalau di rumah, aku sering
bermain bersama ayah, ibu dan saudara yang lain. Tapi kalau disekolah, aku bermain dengan teman atau pun guru ku. Aku yakin kalau aku rajin berlatih, aku
pasti bisa jadi olahragawan terkenal. Hehehe... sahutnya dengan tertawa.”
Universitas Sumatera Utara

5. Menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain


Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)