Conservation Of The Asiatic Soft-Shell Turtle Amyda Cartilaginea (Boddaert, 1770) In The Belawa Village, Lemah Abang District, Cirebon, West Java

KONSERVASI LABI-LABI Amyda cartilaginea (Boddaert, 1770)
DI DESA BELAWA, KECAMATAN LEMAH ABANG,
KABUPATEN CIREBON, PROVINSI JAWA BARAT

SUNYOTO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TESIS
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Konservasi Labi-labi Amyda
cartilaginea (Boddaert, 1770) di Desa Belawa, Kecamatan Lemah Abang,
Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat adalah karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor,

2012

Sunyoto
E353100045

ABSTRACT
SUNYOTO. Conservation of The Asiatic Soft-Shell Turtle Amyda cartilaginea
(Boddaert, 1770) in The Belawa Village, Lemah Abang District, Cirebon, West
Java. Under direction of AGUS PRIYONO KARTONO and MIRZA DIKARI
KUSRINI.
Asian soft-shell turtle (Amyda cartilaginea Boddaert,1770) has been
considered as sacred turtle by the community of Belawa Village. In the village,
they are found in the irrigation channels and fish ponds, as well as in special
holding ponds in Cikuya recreation area built by the community. In 2010 a disease
outbreak caused by bacteria had caused mass deaths of turtles in the holding
ponds. Two years has passed since the outbreaks, and the number of the survived
A. cartilaginea is not known. This study aimed to obtain data on recent population
of A. cartilaginea, activity patterns and time allocation and management efforts
and public perception of the existence A. cartilaginea in the Belawa Village. The
study was conducted on March-May 2012, by inventory of turtles population
occuring in water bodies in the village. Management efforts and public perception
information was obtained by interview and questionnaires. Result of census found
177 A. cartilaginea in Belawa Village mostly concentrated at the holding pond at
Cikuya recreation area with a complete structure of the hatchlings, adolescents,
young adults and adults. Sex ratio of adults was 1:2,22 and young adults was
1:0,67. A. cartilaginea is usually stay inside mud in the mud and rest at night until
noon and will actively breathe and swim in the afternoon. They allocated more
time to stay in the mud as much as 54.196%. Missmanagement of A. cartilaginea
by holding almost all population in the community’s pond has threathened the
population of A. cartilaginea in Belawa Village. Fortunately, the people of
Belawa Village have positive perception that A. cartilaginea is a sacred animal
and know that is existence in an alarming situation.
Keyword: Asian soft-shell turtle, activity pattern, management, perception,
Belawa

RINGKASAN
SUNYOTO. Konservasi Labi-labi Amyda cartilaginea (Boddaert, 1770) di Desa
Belawa, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
Dibimbing oleh AGUS PRIYONO KARTONO dan MIRZA DIKARI KUSRINI.
Kerusakan habitat mendorong spesies dan bahkan seluruh komunitas
menuju ambang kepunahan. Kerusakan habitat dan fragmentasi habitat merupakan
faktor utama menurunnya keragaman amfibi dan reptil di Indonesia. Efek
urbanisasi terhadap populasi satwa sangat bervariasi diantara kelompok-kelompok
taksonomi. Pengaruh urbanisasi pada populasi kura-kura air tawar sedikit sekali
informasinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kura-kura dapat bertahan
dan lebih melimpah di daerah urban dibandingkan di kawasan yang terganggu.
Salah satu jenis kura-kura yang dapat bartahan hidup di daerah urban adalah labilabi (A. cartilaginea).
Salah satu lokasi yang menjadi tempat berkembangnya labi-labi adalah di
Desa Belawa Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat.
Labi-labi yang ada di desa ini berjumlah 226 individu yang hidup di kolam-kolam
dan parit milik masyarakat lokal. Tahun 2010, terjadi wabah penyakit yang
menyerang labi-labi Belawa dan menyebabkan penurunan populasi secara tajam.
Labi-labi yang ada di kolam-kolam masyarakat dikumpulkan dalam satu kolam
yang terletak di Kawasan Obyek Wisata Cikuya. Kawasan tersebut dikelola oleh
Kelompok Masyarakat Pengawas binaan Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Cirebon. Data populasi labi-labi pasca terjadinya wabah penyakit
hingga saat ini belum ada.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi tentang
populasi labi-labi, meliputi jumlah individu, nisbah kelamin, struktur umur, pola
aktivitas dan alokasi penggunaan waktu serta upaya pengelolaan yang telah
dilakukan dan persepsi masyarakat Desa Belawa terhadap keberadaan labi-labi.
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi para pemangku
kepentingan dalam pengelolaan labi-labi di Desa Belawa, Kecamatan Lemah
Abang, Kabupaten Cirebon serta penetapan kebijakan-kebijakan terkait Amyda
cartilaginea. Selain itu penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
bagaimana satwa liar dapat hidup bersama dengan kehidupan manusia di daerah
urban.
Pengumpulan data dilaksanakan di Desa Belawa pada bulan Maret sampai
dengan Mei 2012, diawali dengan observasi lapangan pada Februari 2012.
Keadaan populasi diketahui dengan melakukan inventarisasi secara sensus.
Inventarisasi dilakukan dengan menangkap labi-labi, mengukur panjang dan lebar
lengkung kerapas serta jenis kelaminnya. Analisis jumlah individu, sek rasio dan
struktur umur dilakukan terhadap seluruh individu yang tertangkap.
Data pola aktivitas dan alokasi penggunaan waktu dikumpulkan melalui
pengamatan dengan metode focal animal sampling yakni pengamatan empat
individu labi-labi yang mewakili setiap kelas umur (tukik, remaja, dewasa muda
dan dewasa). Pengamatan dilakukan selama 24 jam dari jam 05:00 pagi hingga
05:00 pagi hari berikutnya. Data yang terkumpul kemudian dilakukan perhitungan
persentase waktu untuk setiap jenis perilaku.

Informasi terkait upaya pengelolaan dilakukan dengan wawancara terhadap
pengelola, perangkat desa, dinas terkait serta tokoh masyarakat yang ada di Desa
Belawa. Data persepsi masyarakat terhadap keberadaan labi-labi dikumpulkan
melalui pengisian kuisioner yang dibagikan kepada 97 responden. Responden
dipilih secara acak yang menyebar di seluruh wilayah desa. Responden
merupakan kepala keluarga atau yang mewakili.
Pada penelitian ini ditemukan 177 individu labi-labi yang sebagian besar
terkonsentrasi di kolam-kolam obyek wisata Cikuya yaitu kolam penetasan, kolam
pembesaran 1-3 dan kolam Cikuya. Jumlah labi-labi di kawasan obyek wisata
Cikuya berjumlah 166 individu, sedangkan yang ditemukan di habitat alami yakni
kolam-kolam masyarakat dan parit sebanyak 11 individu yang tersebar dalam 6
lokasi. Keenam lokasi tersebut yaitu di kolam masyarakat, Sungai Cikuya 1,
Sungai Cikuya 2 (Curug/jumbleng), Sungai Cipinang, Sungai Legon Bulan dan
Sungai Kopo.
Nisbah kelamin labi-labi dewasa di Desa Belawa 1:2,22 dan dewasa muda
1:0,67. Nisbah kelamin dewasa menunjukkan bahwa jumlah labi-labi betina lebih
banyak dibandingkan dengan labi-labi jantan. Perbandingan ini menunjukkan
kondisi yang baik karena labi-labi jantan tidak perlu melakukan perkelahian untuk
mendapat pasangannya. Perkelahian dapat menyebabkan terjadinya luka dan
kematian pada labi-labi. Struktur umur labi-labi di Desa Belawa dibedakan atas
kelas umur tukik, remaja, dewasa muda dan dewasa dengan jumlah labi-labi di
setiap kelas umur tersebut secara berurutan 88, 54, 7 dan 28 individu.
Labi-labi tidak banyak melakukan aktivitas. Labi-labi lebih banyak berdiam
diri dalam lumpur dan istirahat pada waktu malam hingga siang hari dan akan
bernafas dan berenang pada sore hari. Labi-labi lebih banyak mengalokasikan
waktunya untuk berdiam diri dalam lumpur yaitu sebanyak 54,20%.
Pengelolaan labi-labi belum dilakukan secara optimal dan upaya
pengumpulan labi-labi dari berbagai habitat untuk dijadikan satu dalam kolam
Cikuya mengancam populasi labi-labi di Desa Belawa. Masyarakat Desa Belawa
memiliki persepsi bahwa labi-labi merupakan hewan yang dikeramatkan dan saat
ini dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Hal ini menjadi asset untuk konservasi
labi-labi di masa datang.
Kata kunci: labi-labi, pola aktivitas, pengelolaan, persepsi, Belawa

© Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB

KONSERVASI LABI-LABI Amyda cartilaginea (Boddaert, 1770)
DI DESA BELAWA, KECAMATAN LEMAH ABANG,
KABUPATEN CIREBON, PROVINSI JAWA BARAT

SUNYOTO

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Profesi
Program Studi Konservasi Keanekaragaman Hayati

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc.

Kupersembahkan karya ilmiah ini kepada:

Istriku (Samkhah Azizah) dan kedua anakku (Muhammad Kharis Wiro Khuseno
dan Humairoh Stylosa Sunyoto)

PRAKATA
Puji dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT
karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan
tesis yang berjudul ” Konservasi labi-labi Amyda cartilaginea (Boddaert, 1770) di Desa
Belawa, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat ”. Penulisan
tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi
Konservasi Keanekaragaman Hayati dari Institut Pertanian Bogor.
Tesis ini ditulis dengan susunan yang terdiri atas beberapa bab, yakni
Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metodologi, Hasil dan Pembahasan serta
Simpulan dan Saran. Penulis berharap dengan susunan tersebut keterkaitan antara
latar belakang, tujuan, metode, dan hasil yang diperoleh dapat lebih mudah
dipahami. Topik penelitian ini penting untuk dikaji karena hasilnya dapat
diaplikasikan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan labi-labi khususnya di
Desa Belawa guna mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati di
Indonesia.
Pada kesempatan ini izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Sekretariat Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
(PHKA) Kementerian Kehutanan, yang telah memberikan kesempatan dan
sekaligus sebagai sponsor penulis mengikuti pendidikan pada Program
Magister Profesi Konservasi Keanekaragaman Hayati di Institut Pertanian
Bogor.

2.

Dr. Ir. Agus Priyono Kartono, M.Si selaku ketua komisi dan Dr. Ir. Mirza
Dikari Kusrini, M.Si selaku Anggota Komisi atas curahan pemikiran, waktu,
kesabaran, saran dan arahan serta petunjuk yang diberikan selama
pembimbingan sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan.
Istri tercinta Samkhah Azizah dan sepasang anakku Muhammad Kharis Wiro
Khuseno dan Humairoh Stylosa Sunyoto atas dukungan, pengertian, dan
pengorbanan selama ini. Kepada kedua orang tua Bapak H. Giman
Wirodihardjo dan Hj. Ngadinah serta kedua mertua Bapak H. Dasimanudin
Harahap dan Ibu Hj. Marchamah diucapkan terima kasih atas motivasi,
dukungan dan do’a yang diberikan.
Ir. Mangaraja Gunung Nababan dan Ir. Kurung, MM, selaku kepala Balai
Taman Nasional Karimunjawa atas rekomendasi dan dukungan yang
diberikan kepada penulis untuk dapat mengikuti beasiswa program
pendidikan S2 yang disediakan oleh Kementerian Kehutanan.
Asosiasi Pengusaha Eksportir Kura-kura dan Labi-labi (APEKLI) atas
dukungan dana dalam penelitian yang penulis lakukan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon berserta stafnya
atas dukungan dan bantuan yang diberikan selama penelitian.
Ibu Yuli selaku Kepala Seksi pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
Cirebon atas bantuan dan arahannya.
Bapak Zuhud selaku kepala Desa Belawa beserta perangkatnya yang telah
memberikan ijin dan bantuan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
Pengurus Kelompok Masyarakat Pengawas Kuya Asih Mandiri khususnya
Mas Dadan beserta keluarga atas bantuan, kasih sayang serta kerjasamanya.

3.

4.

5.
6.
7.
8.
9.

10. Riki, Toto, Pak Kusna dan segenap masyarakat Turtle Bodast atas bantuannya
dalam pengambilan data di lapangan.
11. Seluruh teman-teman mahasiswa KKH-2010 atas suasana kekeluargaan,
kekompakan, kerjasama dan kebersamaan yang tak terlupakan.
12. Kepada Pak Sofwan, Bi Umi dan Pak Udin atas segala bantuan dan pelayanan
yang diberikan.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuannya demi
kelancaran penyusunan tesis ini.
Penulis menyadari, bahwa manusia tidak pernah luput dari kekhilafan,
begitu pula dalam tulisan ini. Oleh karena itu diharapkan adanya kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk perbaikan atas kekurangan, kekeliruan dan
kelemahan yang terdapat dalam tesis ini. Semoga hasil penelitian yang dituangkan
dalam tesis ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Kiranya hanya Allah SWT
yang mampu memberi balasan berkah kepada semua pihak yang telah banyak
membantu penulis. Amin.

Bogor,

Sunyoto

2012

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1974 di kota Cilacap, Provinsi Jawa
Tengah. Penulis merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Bapak H.
Giman Wirodihardjo dan Hj. Ngadinah.
Pada tahun 1987 penulis menamatkan pendidikan sekolah dasar di SD
Negeri Bajing VIII, Kroya, Cilacap. Penulis menamatkan pendidikan menengah
pertama di SMP Negeri 1 Kroya Cilacap pada tahun 1990 dan pada tahun 1993
penulis menamatkan sekolah menengah atas di SMA Negeri Banyumas dan pada
tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk
IPB. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor yang ditamatkan pada tahun 1998.
Pada saat ini penulis masih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada
Kementerian Kehutanan sejak tahun 2000 sebagai pejabat fungsional Pengendali
Ekosistem Hutan (PEH) Ahli di Balai Taman Nasional Karimunjawa.
Pada tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Sekolah Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Magister Profesi Konservasi
Keanekaragaman Hayati (KKH). Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Magister Profesi, penulis melakukan penelitian tentang Konservasi labi-labi
Amyda cartilaginea (Boddaert, 1770) di Desa Belawa, Kecamatan Lemah Abang,
Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat yang dibimbing oleh Dr. Ir. Agus
Priyono Kartono M.Si sebagai Ketua dan Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si
sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
I.

i
iii
iv
v

PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang ................................................................................
Tujuan Penelitian .............................................................................
Manfaat Penelitian ...........................................................................
Perumusan Masalah dan Kerangka Pemikiran Penelitian ................

1
2
2
3

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Habitat Labi-labi ........................................................
2.2. Strategi Perkembang-biakan Satwa .................................................
2.3. Manajemen Labi-labi di Daerah Urban ...........................................

5
6
7

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.
3.2.
3.3.
3.4.

Waktu dan Tempat ............................................................................
Alat dan Bahan ..................................................................................
Jenis Data ..........................................................................................
Metode Pengumpulan Data ...............................................................
3.4.1. Keadaan Populasi Labi-labi ....................................................
3.4.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian ......................
3.4.3. Pengelolaan Populasi Labi-labi .............................................
3.4.4. Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Labi-labi ...........
3.5. Metode Analisis Data ........................................................................
3.5.1. Populasi Labi-labi .................. ................................................
3.5.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian.......................
3.5.3. Pengelolaan Populasi Labi-labi ..............................................
3.5.4. Persepsi Masyarakat ..............................................................

9
10
10
11
11
13
15
15
16
16
17
18
18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil ..................................................................................................
4.1.1. Jumlah Individu, Nisbah kelamin dan Struktur Umur ............
4.1.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian ......................
4.1.3. Pengelolaan Populasi .............................................................
4.1.4. Persepsi Masyarakat ..............................................................
4.2. Pembahasan.......................................................................................
4.2.1. Jumlah Individu, Nisbah kelamin dan Struktur Umur ...........
4.2.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian ......................
4.2.3. Pengelolaan Populasi .............................................................
4.2.4. Persepsi Masyarakat ...............................................................
4.2.5. Strategi Pengelolaan Populasi dan Habitat Labi-labi.............

(i)

19
19
21
33
43
45
45
49
50
57
59

V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan ............................................................................................
5.2. Saran ..................................................................................................

63
63

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

65

LAMPIRAN ...................................................................................................

69

(ii)

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1. Karakteristik satwa strategi-r dan strategi-K .............................................

7

2. Ukuran labi-labi yang menjadi obyek penelitian perilaku ........................

13

3. Klasifikasi kelas ukuran labi-labi .............................................................

17

4. Komposisi labi-labi di Desa Belawa berdasarkan kelas umur .................

21

5. Penggunaan waktu aktivitas harian berdasarkan kelas umur ....................

22

6. Kematian labi-labi akibat wabah penyakit pada tahun 2010 ....................

36

(iii)

DAFTAR GAMBAR
No.

Halaman

1.

Skema Kerangka pemikiran yang melandasi penelitian ...........................

4

2.

Peta lokasi penelitian ................................................................................

9

3.

Mekanisme penandaan pada karapas labi-labi yang sekaligus
sebagai penomoran individu ....................................................................

12

Perbedaan bentuk dan panjang ekor labi-labi Belawa jantan dan
betina ........................................................................................................

12

5.

Penandaan obyek pengamatan perilaku labi-labi .....................................

14

6.

Sebaran populasi labi-labi pada setiap lokasi di Desa Belawa ................

19

7.

Penyebaran labi-labi di Desa Belawa .......................................................

20

8.

Persentase labi-labi di Desa Belawa berdasarkan kelas umur .................

21

9.

Pola aktivitas labi-labi di Desa Belawa ...................................................

22

10. Persentase waktu yang digunakan labi-labi untuk setiap perilaku ..........

23

11. Persentase waktu yang digunakan setiap kelas umur labi-labi
untuk setiap jenis perilaku .......................................................................

23

12. Beberapa posisi labi-labi beristirahat di tempat yang panas .....................

25

13. Tahapan labi-labi dewasa kawin ..............................................................

29

14. Rata-rata waktu bernafas labi-labi ............................................................

30

15. Posisi tukik bernafas .................................................................................

31

16. Tahapan kegiatan labi-labi membersihkan tubuhnya ..............................

32

17. Persentase sumber informasi keberadaan labi-labi di Desa Belawa.........

33

18. Struktur organisasi Kelompok Masyarakat Pengawas Kuya Asih
Mandiri ....................................................................................................

37

19. Rancangan kolam indukan labi-labi di Cikuya Desa Belawa ..................

39

20. Rancangan kolam penangkaran tukik umur 0-1 tahun ............................

40

21. Gejala kematian tukik ...............................................................................

41

22. Tempat penetasan telur labi-labi di Desa Belawa ....................................

42

23. Piramida umur labi-labi di Desa Belawa tahun 2007 dan 2012 ..............

48

24. Beberapa lokasi penumpukan sampah masyarakat ..................................

56

4.

(iv)

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Sebaran populasi labi-labi di Desa Belawa berdasarkan lokasi
pengamatan ...............................................................................................

69

2. Komposisi umur dan nisbah kelamin labi-labi dewasa muda dan
dewasa di setiap lokasi pengamatan ........................................................

70

3. Jumlah labi-labi berdasarkan kelas umur di setiap lokasi
pengamatan ................................................................................................

71

4. Persentase alokasi waktu pada setiap jenis perilaku..................................

72

5. Kebutuhan pakan labi-labi di kawasan Cikuya .........................................

73

6. Panjang lebar lengkung karapas (PLK) dan lebar lengkung
karapas (LLK) labi-labi .............................................................................

74

(v)

1

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kerusakan habitat mendorong spesies dan bahkan seluruh komunitas
hidupan liar menuju ambang kepunahan (Indrawan et al. 2007). Ancaman utama
keanekaragaman hayati akibat kegiatan manusia adalah kerusakan habitat,
fragmentasi habitat, degradasi habitat, perubahan iklim global, pemanfaatan
spesies berlebihan, invasi spesies-spesies asing dan meningkatnya penyebaran
penyakit (Indrawan et al. 2007). Hal tersebut mengakibatkan ekosistem alamiah
menjadi habitat yang lebih kecil dan terpecah-pecah. Daerah urban yang banyak
dihuni oleh manusia dilihat sebagai area buatan dan bukan area yang alami
(Collins et al. 2000). Kerusakan habitat dan fragmentasi habitat merupakan faktor
utama menurunnya keragaman amfibi dan reptil di Indonesia (Iskandar & Walter
2006).
Kelangsungan hidup spesies dalam berbagai lingkungan tergantung pada
kemampuan adaptasinya yang mencirikan sejarah hidupnya (Stearns 1977).
Adaptasi ini termasuk usia dan ukuran kedewasaan, fekunditas, ketahanan hidup
dan mortalitas (Williams 1966). Efek urbanisasi terhadap populasi satwa sangat
bervariasi diantara kelompok-kelompok taksonomi (Plummer & Nathan 2008).
Pengaruh urbanisasi pada populasi kura-kura air tawar sedikit sekali
informasinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kura-kura dapat bertahan
dan lebih melimpah di daerah urban dibandingkan di kawasan yang terganggu
(Plummer et al. 2008). Menurut Kusrini et al. (2007), salah satu jenis kura-kura
yang dapat hidup di daerah urban adalah labi-labi (Amyda cartilaginea).
Salah satu lokasi yang menjadi tempat berkembangnya labi-labi adalah di
Desa Belawa Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat
(Kusrini et al. 2007).

Hasil penelitian yang dilakukan Kusrini et al. (2007)

menemukan 226 individu labi-labi yang hidup di kolam-kolam dan parit milik
masyarakat lokal.

Keberadaan labi-labi semakin terancam dengan adanya

pengambilan telur oleh masyarakat dan pengurangan habitat labi-labi (Kusrini et
al. 2007).

2
Pada tahun 2010, terjadi wabah penyakit yang menyerang labi-labi dan
menyebabkan terjadinya penurunan populasi secara tajam (Antaranews 2010).
Labi-labi yang ada di kolam-kolam masyarakat dikumpulkan dalam satu kolam
yang berada di Kawasan Obyek Wisata Cikuya. Kawasan tersebut dikelola oleh
Kelompok Masyarakat Pengawas binaan Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Cirebon. Data populasi labi-labi pasca terjadinya wabah penyakit
hingga saat ini belum ada.
Keberadaan labi-labi di Desa Belawa yang ada di obyek wisata Cikuya dan
lahan masyarakat merupakan dua habitat labi-labi yang potensial untuk
pengembangan labi-labi. Berdasarkan latar belakang tersebut, diperlukan satu
kajian mengenai populasi labi-labi dan upaya pengelolaannya di Desa Belawa
sehingga dapat memprediksi kelestarian A. cartilaginea di tempat tersebut.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk:
a.

Mendapatkan data dan informasi tentang populasi labi-labi (Amida
cartilaginea) setelah kasus kematian masal tahun 2010 yang meliputi jumlah
individu, nisbah kelamin dan struktur umur.

b.

Memperoleh data dan informasi tentang pola aktivitas dan alokasi waktu
harian yang digunakan oleh labi-labi.

c.

Mengidentifikasi upaya pengelolaan yang telah dilakukan serta persepsi
masyarakat Desa Belawa terhadap keberadaan labi-labi.

1.3. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi sebagai
bahan masukan bagi stakeholders dalam pengelolaan labi-labi di Desa Belawa,
Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon serta penetapan kebijakankebijakan terkait Amyda cartilaginea. Selain itu penelitian ini dapat memberikan
informasi tentang bagaimana satwaliar dapat hidup bersama dengan kehidupan
manusia di daerah urban.

3
1.4. Perumusan Masalah dan Kerangka Pemikiran Penelitian
Ancaman utama keanekaragaman hayati akibat kegiatan manusia adalah
kerusakan habitat, fragmentasi habitat, degradasi habitat, perubahan iklim global,
pemanfaatan spesies berlebihan, invasi spesies asing dan meningkatnya
penyebaran penyakit (Indrawan et al. 2007). Fragmentasi habitat mengakibatkan
ekosistem alamiah terbagi menjadi habitat yang lebih kecil dan terpecah-pecah.
Salah satu penyebab fragmentasi adalah pembangunan perumahan dan perkotaan.
Daerah urban yang banyak dihuni oleh manusia dilihat sebagai area buatan dan
bukan area yang alami (Collins et al. 2000). Keberadaan daerah urban tidak selalu
bersifat negatif bagi satwa liar yang mampu hidup berdampingan dengan manusia,
salah satunya labi-labi di Desa Belawa (Kusrini et al. 2007).
Pada tahun 2010, terjadi wabah penyakit yang menyerang labi-labi Belawa
dan menyebabkan terjadinya penurunan populasi secara tajam. Data populasi
labi-labi di Desa Belawa pasca terjadinya wabah penyakit hingga saat ini belum
ada.
Perhatian dan pengelolaan labi-labi pasca terjadinya wabah penyakit
semakin intensif agar populasi labi-labi di Desa Belawa dapat pulih kembali.
Salah satu bentuk keseriusan tersebut adalah adanya pembangunan sarana
penetasan telur dan renovasi kolam obyek wisata Cikuya serta upaya
pengelolaannya. Kebijakan pengelolaan labi-labi di kawasan Cikuya dan Desa
Belawa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pemulihan.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan guna
menjawab hal-hal sebagai berikut :
a.

Bagaimanakah parameter populasi labi-labi yang meliputi jumlah individu,
nisbah kelamin dan struktur umur labi-labi di Desa Belawa, Kecamatan
Lemah Abang, Kabupaten Cirebon.

b.

Bagaimanakah pola aktivitas dan alokasi waktu harian yang digunakan labilabi

c.

Bagaimanakah upaya pengelolaan yang telah dilakukan serta persepsi
masyarakat Desa Belawa terhadap keberadaan labi-labi.
Tarumingkeng (1994) menyatakan bahwa sifat-sifat khas yang dimiliki oleh

suatu populasi adalah kerapatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian

4
(mortalitas), sebaran (distribusi) umur, potensi biotik, sifat genetik, perilaku dan
pemencaran (dispersi). Parameter populasi yang utama adalah struktur populasi,
yang terdiri dari nisbah kelamin, distribusi kelas umur, tingkat kepadatan dan
kondisi fisik. Kerangka pemikiran penelitan ini disajikan pada Gambar 1.
Daerah Urban
Desa Belawa

Habitat Labi-labi
Fragmentasi Habitat

Persepsi
Masyarakat

Populasi

Pengelolaan
Populasi Labi-labi

Ukuran Populasi,
Sex Rasio,
Struktur Umur

Pemanfaatan
Jasa Wisata

Perilaku

Pola Aktivitas
Harian

Kondisi
Habitat
Lingkungan
Fisik

Inventarisasi,
Observasi, dan
Wawancara
Analisis Kuantitatif
dan Deskriptif

Kelestarian Populasi Labi-labi
di Desa Belawa

Gambar 1 Skema kerangka pemikiran yang melandasi penelitian.

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Habitat Labi-labi
Kondisi kualitas dan kuantitas habitat akan menentukan komposisi,
penyebaran dan produktivitas satwa liar. Habitat yang mempunyai kualitas yang
tinggi nilainya akan menghasilkan kehidupan satwa liar yang berkualitas tinggi.
Sebaliknya, habitat yang rendah kualitasnya akan menghasilkan kondisi populasi
satwaliar yang rapuh dengan daya reproduksi rendah dan mudah terserang
penyakit (Alikodra 2010).
Menurut Iskandar (2000), labi-labi umumnya dijumpai di daerah yang
tenang dan berarus lambat. Selain itu hewan ini banyak ditemukan di kolam yang
berhubungan dengan sungai atau danau. Menurut Amri & Khairuman (2002),
labi-labi lebih menyukai perairan yang tergenang dengan dasar perairan berpasir
dan sedikit berlumpur. Sungai yang menjadi habitat labi-labi adalah sungi-sungai
kecil dan sungai-sungai besar. Labi-labi hidup di sungai yang memiliki lebar
hingga 25 meter dengan kedalaman hingga 10 meter (Kusrini et al. 2009).
Pada beberapa tempat di Jawa dijumpai labi-labi di kolam alami dengan
jumlah yang besar dan dianggap keramat. Labi-labi selalu bersembunyi di dalam
lumpur atau di dalam pasir di dasar kolam atau sungai sehingga sulit ditemukan
(Iskandar 2000). Di sisi lain, labi-labi kadang-kadang menampakkan diri di atas
batu-batuan atau bagian yang tidak terendam air untuk berjemur (Amri & Toguan
2007).
Menurut Liat & Das (1999), makanan labi-labi terdiri atas serangga air,
kepiting, udang, ikan, bangkai, serta buah dan biji. Selain itu ada pula yang
makan siput (Dijk 2000). Iskandar (2000) menambahkan bahwa makanan utama
labi-labi adalah ikan tetapi tidak menolak sisa makanan manusia.
Suhu merupakan faktor penting dalam kehidupan labi-labi karena dapat
mempengaruhi metabolisme dimana pada suhu air rendah maka derajat
metabolisme akan rendah, begitu pula sebaliknya. Perubahan suhu yang tiba-tiba
dapat menyebabkan stres pada labi-labi.

Suhu yang paling cocok untuk

kehidupan labi-labi adalah 22-32ºC (Amri & Khairuman 2002).

6
Derajat keasaman atau pH (puisanche of the Hidrogen) merupakan ukuran
konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu
perairan. Pada siang hari, pH air akan lebih tinggi dibandingkan dengan malam
hari karena adanya proses respirasi fitoplankton. Nilai pH air yang ideal untuk
kehidupan labi-labi adalah 7-8 (Amri & Khairuman 2002).
Kekeruhan merupakan suatu ukuran kisaran biasan cahaya dalam perairan.
Kekeruhan tidak langsung membahayakan kehidupan labi-labi tetapi dapat
menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam air. Kekeruhan yang baik untuk
labi-labi berkisar antara 20 cm hingga 40 cm (Amri & Khairuman 2002).
Kualitas habitat diduga akan mempengaruhi penyebaran kura-kura jenis
Graptemys geographica (Conner et al. 2005). Dalam penelitiannya dijumpai
perbedaan komposisi satwa tersebut di berbagai lokasi.

Hal tersebut

dimungkinkan karena adanya distribusi yang tidak merata dari moluska air yang
merupakan mangsa utama satwa tersebut.
2.2. Strategi Perkembangbiakan Satwa
Menurut Tarumingkeng (1994), pada dasarnya populasi dibatasi oleh dua
faktor.

Faktor tersebut adalah faktor fisik lingkungan yang bekerja tidak

tergantung kerapatan seperti adanya perubahan cuaca yang mematikan sebagian
populasi. Faktor lainnya adalah pengaturan oleh kerapatan populasi itu sendiri.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan populasi antara lain adalah
adanya kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), imigrasi dan emigrasi (Krebs
2005). Emigrasi dan kematian merupakan faktor yang menyebabkan penurunan
populasi, sedangkan imigrasi dan kelahiran berdampak pada peningkatan
populasi.
Strategi spesies dalam persaingan dengan spesies-spesies lain di habitatnya
dan untuk bertahan di lingkungannya menentukan keberhasilan spesies tersebut
mempertahankan populasinya. Secara umum spesies satwa dalam melangsungkan
hidupnya dapat dikelompokkan kedalam strategi-r dan strategi-K. Karakteristik
satwa dengan strategi-r dan strategi-K disajikan pada Tabel 1.

7
Tabel 1 Karakteristik satwa strategi-r dan strategi-K
Iklim
Kerapatan
populasi

Persaingan intra
dan antar populasi
Seleksi mengarah
ke

Lamanya hidup
Strategi

Seleksi-r
Beragam, tak menentu
Sangat berfluktuasi menurut
waktu,
tidak
dalam
keseimbangan, dibawah K, tiap
tahun berkolonisasi
Umumnya lamban

Seleksi-K
Konstan, dapat diramalkan
Konstan,
dalam
keadaan
keseimbangan, dekat K, tidak
berkolonisasi

a.
b.
c.
d.

a. perkembangan lambat
b. r rendah
c. reproduksi lambat
d. ukuran badan relatif lebih
besar
e. reproduksi berulang

perkembangan yang cepat
r tinggi
reproduksi lebih awal
ukuran badan relatif lebih
kecil
e. reproduksi per generasi satu
kali
Pendek, kurang dari satu tahun
Produktivitas

Umumnya gesit

Lebih dari satu tahun
Efisiensi

Sumber: Pianka (1970, diacu dalam Krebs 1978)
2.3. Manajemen Labi-labi di Daerah Urban
Pengelolaan kura-kura di beberapa wilayah telah dilakukan terutama di
daerah urban. Hal itu ditujukan untuk memperbaiki populasi kura-kura di habitat
yang dekat dengan kehidupan manusia. Salah satu strategi untuk meningkatkan
ukuran populasi adalah dengan introduksi satwa (Spink et al. 2002). Salah satu
contoh yang dilakukan Spink et al. (2002) adalah introduksi kura-kura muda jenis
Emys marmorata yang sebagian dapat bertahan dan telah berubah morfologisnya
menjadi individu dewasa yang siap bereproduksi. Hal ini dibuktikan dengan
membedah dua kura-kura yang mati dan menemukan folikel yang telah
berkembang pada indung telur mereka.
Menurut Spink et al. (2002), elemen kunci untuk mempertahankan populasi
yang sehat E. marmorata di saluran air perkotaan tampaknya mudah dan dapat
dicapai.

Elemen-elemen kunci tersebut yaitu habitat kura-kura harus

dipertahankan agar sesuai dengan persyaratan hidup kura-kura. Habitat bersarang
dan berjemur adalah dua elemen kunci yang sering hilang, dan kedua habitat
tersebut harus selalu ada dalam ekosistem yang dikelola. Kedua, adalah strategi
manajemen yang layak sehingga kematian dapat dihindari. Ketiga adalah kontrol

8
terhadap populasi kura-kura yang mungkin merupakan langkah penting dalam
melindungi E. marmorata.

Kontrol tersebut dapat berupa aturan pelarangan

penjualan kura-kura hidup untuk bahan makanan, penyadaran masyarakat dan
pelarangan pelepasan hewan peliharaan yang tidak diinginkan.
Plummer et al. (2008) menyarankan bahwa untuk mengkonservasi labi-labi
jenis Apalone spinifera adalah sebagai berikut: (a) memelihara kolam dan sungai
sealami mungkin, (b) memelihara koridor yang menjadi penyebaran satwa, (c)
mempertahankan proporsi daratan dan perairan, (d) menentukan langkah-langkah
untuk melindungi populasi labi-labi terutama untuk melindungi dan mengurangi
kematian labi-labi dewasa. Menurut Mitchell (1988), aktivitas manusia di daerah
urban tidak boleh mengakibatkan perbedaan stuktur dan perilaku kura-kura air
tawar dengan di daerah non urban. Tindakan sederhana seperti mempertahankan
koridor penyebaran labi-labi dari dan ke hilir sungai dapat mengurangi dampak
gangguan dari bahaya dan gangguan (Plummer et al. 2008).

9

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret 2012 sampai Juni 2012, diawali
dengan observasi lapangan pada bulan Februari 2012. Pengambilan data
dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2012 di sekitar wilayah Desa Belawa yang
terdiri dari perairan mengalir (parit/sungai) dan kolam-kolam milik masyarakat
serta kolam pengelolaan labi-labi di Desa Belawa, Cirebon, Jawa Barat. Analisis
data hasil penelitian dan penyusunan tesis dilaksanakan dari Mei sampai Juni
2012 di Kampus IPB Dramaga Bogor.

PETA LOKASI
PENELITIAN

Desa Belawa

Gambar 2 Peta lokasi penelitian.

10
3.2. Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Peta Desa
Belawa, peralatan inventarisasi populasi labi-labi dan peralatan pengukuran
morfometri (pita meter, benang bangunan, penggaris, seser, Global Positioning
System (GPS), kamera digital, tongkat bambu, lampu senter, stop watch dan kutek
untuk tagging). Peralatan wawancara berupa alat perekam dan alat tulis menulis.
Peralatan pengolahan dan analisis data terdiri atas note book, kalkulator, serta
perlengkapan alat tulis menulis.
3.3. Jenis Data
Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data
primer yang diambil antara lain:
a.

Parameter populasi yang meliputi jumlah individu, jenis kelamin, panjang dan
lebar karapas labi-labi.

b.

Jumlah waktu yang digunakan labi-labi dalam setiap aktivitasnya.

c.

Manajemen pengelolaan labi-labi meliputi sarana dan prasarana pengelolaan
labi-labi (meliputi luas dan bentuk kolam, luas dan kapasitas tempat
peneluran), pengelolaan pakan, penanganan telur, aturan-aturan yang terkait
pengelolaan labi-labi.

d.

Persepsi masyarakat terhadap keberadaan labi-labi.
Data sekunder yang diambil berupa:

a. Data dan informasi hasil penelitian sebelumnya
b. Peta kawasan dan kondisi umum lokasi
c. Informasi dari instansi terkait dan masyarakat yang ada di lokasi penelitian
mengenai pengelolaan yang meliputi sejarah adanya labi-labi di Desa Belawa,
perkembangan populasi dari sebelum terjadi wabah penyakit hingga saat ini,
jumlah dan struktur umur labi-labi yang mati akibat wabah penyakit.

11
3.4. Metode Pengumpulan Data
3.4.1. Keadaan Populasi Labi-labi
3.4.1.1. Jumlah Individu Labi-labi
Pengambilan data populasi dilakukan secara sensus pada seluruh habitat
labi-labi di Desa Belawa yakni: kolam milik masyarakat, kolam wisata Cikuya
dan parit atau sungai. Data yang diambil meliputi panjang dan lebar karapas serta
jenis kelamin labi-labi.
Inventarisasi dilakukan dengan cara menangkap labi-labi Belawa yang ada
di kolam dan parit. Penangkapan individu di kolam Cikuya dengan membuang air
kolam dan penangkap masuk ke kolam untuk mencari keberadaan labi-labi. Labilabi yang ditemukan ditangkap dengan menggunakan seser. Pencarian di kolam
masyarakat dilakukan dengan pengamatan dan menunggu munculnya labi-labi ke
permukaan air. Inventarisasi di parit dilakukan dengan cara menyisir parit dan
menggunakan batang bambu untuk menakut-nakuti sehingga labi-labi keluar dari
lumpur atau tempat persembunyiannya. Labi-labi yang terlihat diambil dengan
menggunakan seser, diukur karapasnya, ditandai dan dilepaskan kembali di
tempat ditemukan labi-labi tersebut.
Penandaan pada karapas menggunakan kutek dengan membuat garis tebal di
bagian-bagian karapas. Penandaan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya
penghintungan ganda (double counting) pada saat inventarisasi. Penandaan labilabi dikombinasikan berdasarkan jumlahnya (Kusrini et al. 2007). Penomoran
dimulai dari karapas bagian atas seperti pada penomoran jam. Tanda pada sudut
30° menyatakan nomor 1, sudut 60° menyatakan nomor 2. Tanda pada sudut 90°,
120, 150°, dan 180° secara berturut-turut menyatakan nomor 3,4,5 dan 10. Tanda
garis pada karapas sebelah kiri yakni sudut 210°, 240°, 270°, 300°, 330° dan 360°
secara berturut-turut untuk penandaan nomor 20, 30, 40, 50, 100 dan 200.
Mekanisme penomoran ini dapat digunakan untuk penomoran individu sampai
urutan ke-465 (Gambar 3).

12

200
100

1
2

50
3

40
30

4
20

10

5

Gambar 3 Mekanisme penandaan pada karapas labi-labi yang sekaligus sebagai
penomoran individu.
3.4.1.2. Nisbah Kelamin
Nisbah kelamin diperoleh dari perbandingan jenis kelamin jantan dan betina.
Penentuan jenis kelamin labi-labi didasarkan atas bentuk dan ukuran ekor (Kusrini
et al. 2007). Individu jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan ramping
sedangkan labi-labi betina memiliki ekor yang lebih pendek dan tebal. Menurut
Oktaviani (2007), perbedaan bentuk dan ukuran ekor antara jantan dan betina
lebih jelas pada individu dewasa yakni yang mempunyai Panjang Lingkar Karapas
(PLK) ≥ 25 cm. Penentuan jenis kelamin labi-labi seperti disajikan pada Gambar
4.

Gambar 4 Perbedaan bentuk dan panjang ekor labi-labi Belawa jantan dan betina
(Diambil dari Kusrini et al. 2007).

13
3.4.1.3. Struktur Umur
Panjang karapas merupakan indikator yang baik bagi pertumbuhan
dibandingkan dengan lebar karapas (Prey 1981, diacu dalam Alviola 2003).
Pengukuran panjang dan lebar karapas labi-labi dilakukan dengan metode
curveline (Nuitja 1992). Pada metode ini pengukuran dilakukan mengikuti lekung
karapas labi-labi. Untuk memudahkan dalam pengukuran karapas maka kepala
labi-labi dimasukkan kedalam karapasnya (theca) agar tidak menggigit.
Pengukuran karapas menggunakan benang yang kemudian dikonversi pada
penggaris.
3.4.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian
Pengambilan data aktivitas harian dan distribusi waktu labi-labi dengan
menggunakan metode focal animal sampling (Colgan 1978). Metode ini
merupakan metode pengamatan perilaku satwa dengan cara mengamati satu
individu untuk mewakili kelompoknya. Satwa yang menjadi obyek pengamatan
adalah empat individu labi-labi yang terdiri dari tukik, remaja, dewasa muda dan
dewasa yang mewakili setiap kelas umur labi-labi. Ukuran Panjang Lengkung
Karapas (PLK) dan Lebar Lengkung Karapas (LLK) untuk setiap obyek
pengamatan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Ukuran labi-labi yang menjadi obyek penelitian perilaku
Kelas Umur

PLK (cm)

LLK (cm)

Jenis Kelamin

Dewasa

37,3

28,8

Betina

Dewasa Muda

22,3

17,4

Jantan

Remaja

13,7

11,6

Belum diketahui

5,8

4,7

Belum diketahui

Tukik

Penandaan labi-labi dengan cara memberikan kutek pada karapas bagian
atas, hidung dan lehernya (Gambar 5).
pengamatan perilaku dilaksanakan.

Penandaan ini dilakukan sebelum

Hal ini dimaksudkan agar memudahkan

dalam mengenali obyek sehingga obyek dapat diamati dan berbeda dari individu
lainnya. Pengamatan dilaksanakan selama 24 jam mulai pukul 05:00 sampai
pukul 05:00 hari berikutnya. Aspek perilaku yang diamati adalah alokasi waktu

14
labi-labi untuk melakukan aktivitas makan, berendam di lumpur, berenang,
bernafas, membersihkan tubuh, kawin, berkelahi dan istirahat.
Aktivitas makan didasarkan pada aktivitas mengambil makanan pertama kali
hingga kegiatan mengambil makanan berhenti. Aktivitas berendam di lumpur
adalah aktivitas labi-labi di dasar kolam dimana labi-labi tidak berada di darat
maupun permukaan air. Aktivitas berenang adalah aktivitas di dalam air tanpa
mengeluarkan hidungnya ke udara untuk bernafas. Aktivitas bernafas adalah
aktivitas labi-labi di permukaan air atau di dalam lumpur dengan cara
mengeluarkan hidungnya ke luar air dimana perhitungan lama waktu bernafas
dimulai dari labi-labi mengeluarkan hidung hingga memasukakan hidungnya
kembali ke air.

Aktivitas istirahat didefinisikan sebagai aktivitas labi-labi di

dalam air tanpa mengeluarkan hidung atau berlumpur.
a)

b)

c)

d)

Gambar 5 Penandaan obyek pengamatan perilaku labi-labi a) tukik, b) remaja, c)
dewasa muda dan d) dewasa.
Aktivitas membersihkan tubuh adalah aktivitas labi-labi untuk membuang
lumpur di karapas dengan cara membalikan tubuhnya sehingga bagian karapas
atas berada di bawah. Aktivitas kawin yaitu aktivitas labi-labi jantan naik ke
karapas betina untuk melakukan perkawinan hingga keduanya terpisah. Aktivitas
berkelahi adalah aktivitas menggigit atau mengejar labi-labi lain untuk
menggigitnya.
Dalam pengamatan perilaku labi-labi, diamati pula lokasi dimana labi-labi
beraktivitas. Lokasi tersebut dikelompokkan menjadi empat tipe yaitu daratan
dekat taman kolam, pinggir tembok, permukaan air dan dasar kolam. Pengamatan
pola aktivitas harian dan distribusi penggunaan waktu dilakukan oleh satu tim
yang terdiri dari 5 orang. Hal ini dilakukan agar semua lokasi dapat teramati
sehingga tidak terjadi keadaan dimana labi-labi target tidak terpantau
keberadaannya.

15
3.4.3. Pengelolaan Populasi Labi-labi
Data dan informasi pengelolaan labi-labi di Desa Belawa dan obyek wisata
Cikuya diperoleh dari wawancara mendalam dengan para informan dan observasi
lapangan. Didalam pelaksanaan wawancara peneliti tidak terlampau terikat pada
aturan-aturan yang ketat seperti adanya kuisioner. Peneliti hanya menggunakan
alat berupa pedoman wawancara yang memuat pokok-pokok yang ditanyakan
(Ashshofa 2007).
Wawancara dimulai dari informan pangkal dengan pertimbangan bahwa
informan yang dipilih adalah pelaku baik individu maupun lembaga yang dinilai
mengerti permasalahan. Selain itu, wawancara juga dilakukan terhadap informan
dari orang-orang yang menurut informan sebelumnya merupakan orang yang
mengetahui informasi yang dibutuhkan (snowball sampling). Beberapa informan
yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi di Dinas Kelautan
dan Perikanan Kabupaten Cirebon, Kuwu/Kepala Desa Belawa, perangkat Desa
Belawa (5 orang), sesepuh desa (5 orang) dan pengelola obyek wisata Cikuya (5
orang).
Observasi di lapangan dilakukan terhadap sarana dan prasarana seperti
kolam pemeliharaan dan penetasan telur labi-labi di kawasan Cikuya. Pengamatan
bentuk kolam dilakukan dengan cara pengamatan bentuk luar dan dalam kolam.
Luas kolam dilakukan dengan mengukur sisi-sisi kolam yang berbentuk
heksagonal. Selain itu juga diukur luas daratan di dalam kolam tersebut. Data
sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumendokumen hasil penelitian, laporan serta data pendukung lainnya yang berkaitan
dengan populasi labi-labi Belawa.
3.4.4. Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan Labi-labi
Persepsi masyarakat Desa Belawa terkait keberadaan labi-labi diketahui
dengan membuat kuisioner yang dibagikan ke responden-responden. Wilayah
desa dibagi dalam 3 blok yaitu blok timur, tengah dan barat. Responden dipilih
secara acak yang menyebar di seluruh blok.

Metode yang digunakan untuk

menentukan jumlah responden yaitu (Slovin 1960, diacu dalam Sevilla et al.
1993).

16

n

=

N
1  Ne 2

Notasi n = Jumlah responden, N = ukuran populasi (kepala keluarga) dalam waktu
tertentu, e = nilai kritis (batas ketelitian 0,1).
Jumlah responden mengacu pada data Desa Belawa tahun 2010 yaitu
terdapat 1700 kepala keluarga (kk) yang dikompilasi dengan rumus di atas.
Berdasarkan rumus di atas sampel yang harus diambil minimal sebanyak:

n

=

1700
1  1700 x(0,1) 2

=

94,44



95

Jumlah responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah sebanyak 97 responden
dimana satu kuisioner diisi oleh kepala keluarga atau yang mewakilinya.
3.5. Metode Analisis Data
3.5.1. Populasi Labi-labi
3.5.1.1. Jumlah Populasi
Perhitungan jumlah populasi menggunakan persamaan:
k

N =  xi
i

Notasi � = jumlah populasi (individu), k =jumlah kolam yang terdapat labi-labi,
xi = jumlah labi-labi pada kolam ke- i (individu).

3.5.1.2. Perbandingan Jenis Kelamin (Nisbah kelamin)
Nisbah kelamin yang diperoleh kemudian dianalisis dari perbandingan jenis
kelamin jantan dan betina. Untuk memperoleh nisbah kelamin menggunakan
persamaan sebagai berikut (Kartono 2000):
( y i2  2 R xi y i  R 2  xi2 )
Rˆ  Z  / 2 .
x 2 .(n  1)n

Notasi R = jumlah jantan:jumlah betina, x = rata-rata jumlah betina, yi = jumlah
jantan pada ku ke-i, xi = jumlah betina pada ku ke-i, n = banyaknya kolam.

17
3.5.1.3. Struktur Umur
Struktur umur labi-labi diklasifikasikan berdasarkan kelas ukuran panjang
karapas labi-labi. Menurut Kusrini et al. (2007), labi-labi (Amyda cartilaginea)
dapat diklasifikasikan kedalam empat kelas umur yakni tukik, remaja, dewasa
muda dan dewasa seperti disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Klasifikasi kelas ukuran labi-labi
Kelasa Umur

Panjang Lengkung Karapas (cm)
≤ 5,9

Tukik
Remaja

6 -19,9

Dewasa Muda

20 - 24,9
≥ 25

Dewasa
3.5.2. Pola Aktivitas dan Penggunaan Waktu Harian

Analisis data dilakukan dengan cara menyusun tabulasi data hasil
pengamatan. Hal ini untuk menghitung persentase aktivitas harian dan alokasi
waktu yang digunakan untuk aktivitas harian labi-labi. Persentase masing-masing
aktivitas dihitung dengan rumus sebagai berikut (Walpole 1993, Johnson & Gouri
1987):

Fi =

 xi
x100%
k

Notasi Fi = persentase jenis aktivitas ke-i (%), xi = aktivitas jenis ke-i (menit), k =
jumlah waktu untuk seluruh aktivitas (menit). Persentase setiap aktivitas pada
setiap individu target, selanjutnya dihitung persentase waktu rata-rata aktivitas labilabi dengan menggunakan rumus:
n

F
Fi =

i 1

i

N

Notasi Fi = persentase aktivitas obyek pengamatan ke-i (%), n = jumlah obyek
pengamatan (ind.), N = jumlah total obyek pengamatan (ind.).

18
3.5.3. Pengelolaan Populasi Labi-labi
Analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan pengelolaan populasi
labi-labi di Desa Belawa dan Taman Wisata Cikuya.
wawancara dengan informan

Hasil observasi dan

dibandingkan dengan literatur

yang ada.

Perhitungan luas kolam dengan menggunakan rumus:
 AxT 
L=6

 2 

Notasi L = luas segi enam (m²), A = panjang alas / sisi heksagonal (m), t = jarak
sisi dari pusat heksagonal (m). Luas daratan di dalam kolam yang berbentuk
lingkaran diperoleh dengan menggunakan rumus :
� = �� 2

Notasi A = luas lingkara

Dokumen yang terkait

Dokumen baru