Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

RELOKASI PASAR TRADISIONAL MERANTI DAN
PEMBANGUNAN JALAN BARU
( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II
Kecamatan Medan Petisah)

Skripsi:

DIAJUKAN OLEH:

POPPY JUWITA SARI
(070901050)
Departemen Sosiologi

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Medan
2011

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN SOSIOLOGI

LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
NAMA

: POPPY JUWITA SARI

NIM

: 070901050

DEPARTEMEN

: SOSIOLOGI

JUDUL

: RELOKASI PASAR TRADISIONAL MERANTI DAN
PEMBANGUNAN JALAN BARU ( Studi Kasus di Pasar
Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan
Medan Petisah kotamadya Medan)

Dosen Pembimbing

Ketua Departemen

Dto.
Dto.

Dra.Lina Sudarwati, M.Si
NIP : 196603181989032001

Dra.Lina Sudarwati, M.Si
NIP : 196603181989032001
Dekan
Dto.
Prof.Dr.Badaruddin, M.Si
NIP : 19680525199203100

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pasar Tradisional merupakan pasar yang memiliki banyak keunggulan yang tidak dapat
terpisahkan dari kegiatan masyarakat. Dalam Kegiatan Pasar Tradisional Keberadaan pedagang
kaki lima sebagai pelaku kegiatan ekonomi marginal (marginal economic activities), biasanya
memberikan kesan yang kurang baik terhadap kondisi fisik kota. Keberadaan Pedagang Kaki
Lima (PKL) pada saat ini memiliki permasalahan yang sangat dilematis. Hal ini disebabkan
karena pada satu sisi PKL mampu mengatasi masalah pengangguran secara keseluruhan, namun
disisi lain PKL mengakibatkan terganggunya aspek ketertiban umum yang menjadi salah satu
syarat ideal suatu kota, Membangun dan menggusur menjadi dua hal yang tak terpisahkan dalam
perkembangan kota dewasa ini. Adapun penggusuran yang dilakukan dengan tujuan
meningkatkan nilai estetika kota. Dan untuk kota Medan pengggusuran Pasar Tradisional
didasarkan pada peraturan daerah (Perda) Kota Medan nomor 31 tahun 1993 mengenai larangan
berjualan diatas badan jalan, trotoar, dsb. Namun pada realitanya Di kota Medan penerapan
peraturan daerah No.31.Tahun 1993 belum dapat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Adapun
upaya penggusuran tersebut banyak menuai kegagalan karena mendapatkan penolakan yang
cukup keras dari para pedagang yang disebabkan oleh beberapa faktor. Banyak pedagang yang
telah direlokasikan kembali ke lokasi semula
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan
kualitatif Pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendeskripsikan masalah yang terjadi pada
proses relokasi pasar tradisional yang terjadi di Pasar Tradisional Meranti. Dalam pengambilan
data peneliti menggunakan teknik berupa observasi dimana peneliti mengamati secara langsung
kegiatan di Pasar Tradisional Meranti. Data yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam
dengan menggunakan panduan wawancara (interview guide). Cara ini digunakan guna
mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dianalisis untuk
diinterpretasikan. Informan dalam penelitian ini adalah para pedagang yang berdagang di Pasar
Tradisional Meranti. Baik para pedagang yang berada di lokasi Pasar Tradisional Meranti lama
dan Pasar Tradisional Meranti Baru. Dalam penelitian ini masyarakat yang berada di sekitar
lokasi Pembangunan Jalan Baru dan Pasar Tradisonal Meranti, serta Pengelola PD.Pasar Meranti
Baru juga menjadi informan.
Melalui data yang telah diperoleh diketahui bahwa Relokasi Pasar Meranti dilaksanakan
dikarenakan adanya pembangunan jalan baru yang berada di Gang,Warga dengan tujuan sebagai
alternatif kemacetan kota Medan. Dan relokasi tersebut berdasarkan (Perda) Kota Medan nomor
31 tahun 1993. adapun proses Relokasi dan Pembangunan Jalan Baru tersebut menuai banyak
protes dari para pedagang. Para pedagang direlokasikan ke lokasi Pasar Meranti yang baru namun
sebagian dari mereka kembali ke lokasi semula. Hal ini dikarenakan proses pembangunan jalan
yang tersendat, letak pasar baru tidak strategis dan ukuran kios yang tidak proporsional. Melalui
hasil analisis saya pembangunan jalan melalui penggusuran ini tidak sejalan dengan prisip
pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan. Karena dalam hal Relokasi Pasar Tradisional
Meranti ini pedagang banyak yang mendapatkan penurunan pendapatan baik yang berada di
lokasi lama maupun baru.lebih khusus untuk pedagang di lokasi baru mengalami penurunan yang
sangat drastic dikarenakan masih beroperasinya Pasar yang lama dan membuat Pasar Meranti
Baru menjadi sepi oleh pengunjung.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan perkuliahan dan
juga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “

RELOKASI PASAR

TRADISIONAL MERANTI DAN PEMBANGUNAN JALAN BARU ( Studi Kasus di
Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah
kotamadya Medan)

”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna memperoleh

gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara. Shalawat dan salam juga disampaikan kepada Nabi Besar
Muhammad SAW yang telah mengantarkan umat manusia dari alam kebodohan kealam
yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mengalami hambatan. Hal ini
disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan materi penulisan. Namun,
berkat pertolongan dan kehendak Allah SWT yang selalu memberi kekuatan, ketabahan
dan keyakinan kepada penulis dan juga seluruh teman dan saudara yang selalu
memberikan dukungan pada saat penulis mengalami kesulitan, hingga akhirnya skripsi
ini dapat selesai. Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan,
kritikan, saran, motivasi serta dukungan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan skripsi ini.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si selaku Ketua Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang sekaligus menjadi Dosen

Universitas Sumatera Utara

Pembimbing saya. Saya ucapkan terima kasih atas kesediaan waktu beliau dalam
membimbing saya mulai sari awal penulisan Proposal hingga kepada Sidang Meja
Hijau. Motivasi, nasehat dan ide-ide terbaik tidak bosan diberikannya kepada saya.
Walau Ditengah-tengah aktivitasnya yang padat ia selalu berikan bimbingan kepada
saya dengan sabar. Meskipun beberapa kali hanya bimbingan melalui tulisan, tetapi ia
selalu berikan bimbingan terbaik kepada saya yang beberapa kali tidak bisa
bimbingan secara tatap muka dengannya.
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik dan juga merupakan dosen pembimbing Akademik (dosen wali) saya yang
selalu memberikan nasehat dan dukungan setiap semesternya. Mulai dari awal
perkuliahan dalam kelas hingga pada penyelesaian penulisan skripsi.
3. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, M.Sp selaku sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai anggota
penguji (reader) dalam ujian komprehensif dan terima kasih juga kepada beliau yang
telah membantu saya dalam berbagai urusan akademik..
4. Bapak dan Ibu Dosen Departemen Sosiologi FISIP USU yang telah mendidik dan
membimbing penulis selaku mahasiswa sosiologi FISIP USU mulai dari awal
perkuliahan sampai penulis menyelesaikan perkuliahannya.
5. Seluruh staf administrasi FISIP USU khususnya Departemen Sosiologi, kepada Kak
Feny dan Kak Bety saya ucapkan terima kasih atas segala bantuannya di dalam
administrasi akademik saya mulai dari awal perkuliahan sampai dengan sidang Meja
Hijau..

Universitas Sumatera Utara

6. Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada orang tua saya, yaitu ayah saya
Syaifuddin Nst yang selalu memberikan motivasi setiap harinya kepada saya dalam
penyelesaian skripsi dan doa yang yang tak pernah henti kepada saya. Opy ucapkan
Terima kasih yang terdalam buat Mama (Momy) tersayang yaitu Hadijah Nst, yang
selalu memberikan bantuan waktu dalam penyelesaian skripsi saya. Memberikan
bantuan dalam segala bentuk yang tak terhingga dan tak ternilai. Dengan doa dan
senyum manisnya lah saya mampu untuk menyelesaikan perkuliahan ini sampai
dengan selesai.
7. Kepada adindaku tersayang Yuriko Putri Nst dan Bella Syafira Nst, Kak py ucapkan
Terima Kasih yang terdalam pada kalian berdua. Kalian yang selalu membantuku
dalam beberapa penulisan dan pengetikan mulai dari awal perkuliahan sampai dengan
selesai. Diatas senyum manis kalian berdualah diriku tetap mampu tegar untuk
menyelesaikan skripsiku,

meskipun segala rintangan dan hambatan selalu

menghadang. Dengan senyum dan tawa kalian berdualah yang membuat diriku
semakin semangat untuk meyelesaikan kuliah. Karena harapanku kalian harus mampu
untuk menjadi lebih dari pada diriku.dan terima kasih juga kepada keponakanku
Maya Lestari yang selalu menghiburku.
8. Kepada saudara-saudaraku t, Wak Mahmud, Wak Yus, Wak alan, Wo Emi, Bang
Mamad, Ade, Bang Ano, dan saudara-saudaraku yang lain yang tidak bisa disebutkan
satu persatu, terima kasih atas dukungan dan doanya.
9. Kepada Sahabat-Sahabat terbaikku.yang selalu memberikanku motivasi dan hiburan
kepada diriku. Selalu memberikan senyuman dan dukungan kepada Penulis dikala
penulis sedang merasa jenuh. Khususnya buat sahabatku Alumni SMP N 19 Medan

Universitas Sumatera Utara

yaitu Maya, Ayu, Wani, Chika, dan Ewin serta sahabat-sahabat lainnya yang tak bisa
disebutkan satu persatu terima kasih untu kalian semua atas dukungan dan doanya
nya.
10. Kepada sahabat-sahabat tersayang yaitu Fatma mutia.terima kasih sekali kepada ia
yang telah setia menjadi sahabat terbaikku mulai dari awal perkuliahan sampai
dengan sekarang. Ia telah memberikan banyak pertolongan dalam bentuk motivasi
dan arahan-arahan dalam penyelesaian skripsi. Dan terima kasih juga saya ucapkan
kepada Dini sahputri dan Zulhaijjah yang juga selalu membantu diriku dalam
permasalahan kuliah dan penyelesaian skripsi serta doa dan motivasi mereka .
11. Kepada teman-teman seperjuangan stambuk 2007, Aini, Mimi, Yaya, Rini, Niska,
Tina, Ayu, Ester, Evi, Harisan, Leo, Aspipin, Jefri, Andry, Adrian, Bonny, Dino,
Emby, Hadi, Martinus, Neko, Royan, Indra, Helen, Irna, Lona, Lena, Lia, Tari, Maya,
Marlina, Mutiara, Nanda, Novi, Nynda, Santi, Ridwan, Roma, Rozi, Yani, Desti dan
teman-teman lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu terima kasih atas
semuanya.
12. Kepada Seseorang yang selalu menyemangatkan hati dan memberikan nasehat dan
doa dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih kepada Nofriyanto yang tak hentinya
memberikan spirit. Terima kasih juga saya ucapkan kepada rekan-rekan kerja yang
telah membantu saya ketika saya izin bekerja untuk keperluan perkuliahan, yaitu Pak
Marwan, Pak Indra, Pak Hatta, Abah, Kak Tina, Kak Ratih, Kak Nur dan Kak Ely.
13. Kepada seluruh informan penelitian yang telah meluangkan waktunya serta
memberikan informasi yang sesuai dengan permasalahan penelitian sehingga penulis
bisa memperoleh data yang menjadi sumber informasi dan bahan penelitian.

Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari tidak akan mampu untuk membalas segala kebaikan yang telah
diberikan, karena tanpa peran kalian semua penulis tidak akan mampu menyelesaikan
skripsi ini. Semoga segala kebaikan dan ketulusan ini diberi Rahmat dan Hidayah dari
Allah SWT.
Penelitian ini juga jauh dari kata sempurna, namun penulis berharap penelitian ini
bermanfaat bagi seluruh pembaca. Semoga penelitian ini dapat menjadi pedoman untuk
penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Pasar Tradisional.

Medan, 07 Agusutus 2011

(Poppy Juwita Sari)

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Persetujuan
Lembar Pengesahan
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ………………………………………………………………….. 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………… 5
1.3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………….. 5
1.4. Manfaat Penelitian ……………………………………………………………… 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Keberadaan Pedagang Kaki Lima Sebagai Salah Satu Bentuk Sektor Informal …
2.2. Dilematis Pasar Tradisonal antara Pembangunan dan Penggusuran.
2.3. Kebijakan Pemerintah Kota Medan Terkait dengan Pedagang Kaki Lima
2.4 Dimensi Sosial Budaya Terkait dengan Permasalahan Pedagang Kaki Lima16
2.5. Pelibatan Masyarakat Marginal dalam Perencanaan Pembangunan yang
Pertisipatif dan Berkelanjutan
2.6 Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima
2.7. Pembangunan Jalan
2.8. Teori Fenomenolog
2.9. Definisi Konsep ……………………………………………………………….. 19

BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian ………………………………………………………………... 21
3.2. Lokasi Penelitian ……………………………………………………………… 21
3.3. Unit Analisis dan Informan …………………………………………………… 22
3.3.1. Unit Analisis …………………………………………………………… 22

Universitas Sumatera Utara

3.3.2. Informan ……………………………………………………………….. 22
3.4. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………. 23
3.4.1. Teknik Pengumpulan Data Primer ……………………………………... 23
3.4.2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder ………………………………….. 24
3.5. Interpretasi Data ……………………………………………………………….. 24
3.6. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………………... 25
BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN PROFIL INFORMAN
4.1. Nilai Historis Pasar Meranti
4.2. Deskripsi Wilayah Pasar Meranti
4.3. Keadaan Demografi
4.3.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
4.3.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
4.3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
4.3.5 Penduduk Berdasarkan Keturunan
4.4.2 Sarana Umum Kelurahan Sei Putih Timur II
4.4. Letak dan Kondisi Pasar Meranti
4.5 Profil Informan
BAB V TEMUAN INTERPRETASI DATA

5.1. Proses Pembangunan Jalan Baru
5.2. Proses relokasi Pasar Meranti
5.2.1. Para Pedagang yang telah direlokasikan kembali ke lokasi semula
5.2.2 Alasan Para Pedagang tidak mau direlokasikan
5.3. Pasar Meranti dan Pengelolanya
5.3.1 Kios dan Pedagang di Pasar Meranti
5.3.2 Kepemilikan kios oleh Pemerintah dan Swasta
5.3.4. Pengelola Pasar dan Wewenangnya

Universitas Sumatera Utara

5.4 Pendapat Walikota Medan mengenai Relokasi Pasar Meranti
5.5 Kondisi Sosial Ekonomi Pedagang
5.5.1. Hubungan Sosial Para Pedagang
5.5.2. Penurunan Tingkat Pendapatan Para Pedagang Paska Relokasi di Pasar Meranti
Lama dan Baru Pasca Relokasi
5.5.3. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pembangunan Jalan baru
5.5.4. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Baru
5.5.5. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Lama
5.6 Relokasi Pasar Meranti Dilema antara Pembangunan Penataan kota dan
kepentingan ekonomi Pedagang
1.5.1. Prinsip Pembangunan yang Partispatif pada Relokasi Pasar Meranti dan
Pembangunan Jalan baru
1.5.2. Prinsip Pembangunan yang Berkelanjutan pada Relokasi Pasar Meranti dan
Pembangunan Jalan baru
5.6.3. Kesadaran dan pengetahuan para pedagang dalam menciptakan lingkungan yang
tertib dan bersih
5.7. Keefektifan Pembangunan Jalan Baru
5.8. Harapan Masyarakat dan Para Pedagang dalam Hal Relokasi Pasar Meranti dan
Pembangunan Jalan Baru
BAB VI PENUTUP
6.
Kesimpulan
6.1. Saran

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pasar Tradisional merupakan pasar yang memiliki banyak keunggulan yang tidak dapat
terpisahkan dari kegiatan masyarakat. Dalam Kegiatan Pasar Tradisional Keberadaan pedagang
kaki lima sebagai pelaku kegiatan ekonomi marginal (marginal economic activities), biasanya
memberikan kesan yang kurang baik terhadap kondisi fisik kota. Keberadaan Pedagang Kaki
Lima (PKL) pada saat ini memiliki permasalahan yang sangat dilematis. Hal ini disebabkan
karena pada satu sisi PKL mampu mengatasi masalah pengangguran secara keseluruhan, namun
disisi lain PKL mengakibatkan terganggunya aspek ketertiban umum yang menjadi salah satu
syarat ideal suatu kota, Membangun dan menggusur menjadi dua hal yang tak terpisahkan dalam
perkembangan kota dewasa ini. Adapun penggusuran yang dilakukan dengan tujuan
meningkatkan nilai estetika kota. Dan untuk kota Medan pengggusuran Pasar Tradisional
didasarkan pada peraturan daerah (Perda) Kota Medan nomor 31 tahun 1993 mengenai larangan
berjualan diatas badan jalan, trotoar, dsb. Namun pada realitanya Di kota Medan penerapan
peraturan daerah No.31.Tahun 1993 belum dapat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Adapun
upaya penggusuran tersebut banyak menuai kegagalan karena mendapatkan penolakan yang
cukup keras dari para pedagang yang disebabkan oleh beberapa faktor. Banyak pedagang yang
telah direlokasikan kembali ke lokasi semula
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan
kualitatif Pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendeskripsikan masalah yang terjadi pada
proses relokasi pasar tradisional yang terjadi di Pasar Tradisional Meranti. Dalam pengambilan
data peneliti menggunakan teknik berupa observasi dimana peneliti mengamati secara langsung
kegiatan di Pasar Tradisional Meranti. Data yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam
dengan menggunakan panduan wawancara (interview guide). Cara ini digunakan guna
mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dianalisis untuk
diinterpretasikan. Informan dalam penelitian ini adalah para pedagang yang berdagang di Pasar
Tradisional Meranti. Baik para pedagang yang berada di lokasi Pasar Tradisional Meranti lama
dan Pasar Tradisional Meranti Baru. Dalam penelitian ini masyarakat yang berada di sekitar
lokasi Pembangunan Jalan Baru dan Pasar Tradisonal Meranti, serta Pengelola PD.Pasar Meranti
Baru juga menjadi informan.
Melalui data yang telah diperoleh diketahui bahwa Relokasi Pasar Meranti dilaksanakan
dikarenakan adanya pembangunan jalan baru yang berada di Gang,Warga dengan tujuan sebagai
alternatif kemacetan kota Medan. Dan relokasi tersebut berdasarkan (Perda) Kota Medan nomor
31 tahun 1993. adapun proses Relokasi dan Pembangunan Jalan Baru tersebut menuai banyak
protes dari para pedagang. Para pedagang direlokasikan ke lokasi Pasar Meranti yang baru namun
sebagian dari mereka kembali ke lokasi semula. Hal ini dikarenakan proses pembangunan jalan
yang tersendat, letak pasar baru tidak strategis dan ukuran kios yang tidak proporsional. Melalui
hasil analisis saya pembangunan jalan melalui penggusuran ini tidak sejalan dengan prisip
pembangunan yang partisipatif dan berkelanjutan. Karena dalam hal Relokasi Pasar Tradisional
Meranti ini pedagang banyak yang mendapatkan penurunan pendapatan baik yang berada di
lokasi lama maupun baru.lebih khusus untuk pedagang di lokasi baru mengalami penurunan yang
sangat drastic dikarenakan masih beroperasinya Pasar yang lama dan membuat Pasar Meranti
Baru menjadi sepi oleh pengunjung.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pasar Tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah
yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area
penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar
menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan
keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional. Selain keunggulan tersebut pasar
tradisional juga merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah ke
bawah, dan jelas memberikan efek yang baik bagi negara. Dimana negara ini hidup dari
perekonomian skala mikro dibanding skala makro.
Dibalik kelebihan yang dimiliki pasar tradisional ternyata tidak didukung oleh
pihak pemerintah, salah satunya terlihat dari sikap pemerintah yang lebih membanggakan
adanya pasar modern dari pada pasar tradisional, yaitu dengan melakukan
“penggusuran” satu per satu pasar tradisional dengan cara dipindahkan dari tempat yang
layak ke tempat yang jauh dan kurang refresentatif. Seperti Relokasi Pasar Tradisional
yang pernah terjadi di Pasar Tradisional Yuka Martubung yang mengalami kegagalan
yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tidak efektifnya sosialisasi oleh pemerintah,
lokasi yang jauh dan tidak strategis dan faktor lainnya yang masih menyisakan
permasalahan

yang

belum

selesai

hingga

saat

ini.

Universitas Sumatera Utara

(http://njiee.blogspot.com/2010/04/pasar-tradisional-pasar-tradisional.html diakses hari
Minggu 12-12-10 Pukul 14.10)
Dalam kegiatan Pasar Tradisional Keberadaan pedagang kaki lima sebagai pelaku
kegiatan ekonomi marginal (marginal economic activities), biasanya memberikan kesan
yang kurang baik terhadap kondisi fisik kota. Misalnya kesemrawutan, jalanan macet,
kumuh dan lain sebagainya. Kondisi ini menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk
melakukan penggusuran ruang publik kaum marginal. Pada akhirnya akan mematikan
sektor perekonomian, sosial, politik dan budaya mereka. Kaum marginal menjadi
kelompok yang dimarjinalkan dan teralienasi dari kahidupan, inilah gambaran dari
kebijakan yang tidak memihak pada masyarakat sipil.
Adapun sisi positif mengenai Pedagang kaki lima (Pedagang Kaki Lama) yang
menarik, yaitu aktivitas tawar menawar yang secara nyata bersifat komunikatif dengan
interelasi antara PKL dengan konsumennya yang tidak dapat ditemukan pada pelaku
ekonomi lainnya (Alisjahbana, 2005: 64-100). Selain sisi positif tersebut PKL selalu
menjadi isu strategis, dimana dalam Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) belum terdapat
wadah bagi PKL sehingga PKL ini memanfaatkan ruangruang publik (trotoar, taman,
pinggir badan jalan, kawasan tepi sungai dan diatas saluran drainase) yang
mengakibatkan ruang publik tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh pengunanya dengan
baik (Soetomo dalam Widjayanti, 2000).
Akibat kegiatan Pedagang Kaki Lima yang tidak teratur, ruang dan tempat
aktivitasnya dengan tampilan bentuk wadah fisik yang beragam sering dianggap merusak
kawasan dan wajah fisik suatu lingkungan kota yang sudah dibangun dengan rapi,

Universitas Sumatera Utara

penampilan kota menjadi tidak teratur dan kumuh sehingga menurunkan nilai estetika
kota. Terganggunya sendi-sendi kegiatan kota akibat berkembangnya kegiatan PKL yang
tidak tertata menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan kota dan juga dapat
mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi kawasan tersebut. Penggunaan ruang
aktivitas PKL yang tidak sebagaimana mestinya, seperti di trotoar mengakibatkan
terganggunya sirkulasi pejalan kaki, pemanfaatan badan jalan menimbulkan kemacetan
lalulintas, pemanfaatan di tepi sungai atau ruang di atas saluran drainase oleh PKL dapat
mengakibatkan terganggunya aliran air.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah sering melakukan penertiban dan
penggusuran, namun kembali beraktivitas di lokasi yang semula. Upaya penertiban dan
penggusuran juga telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Medan dengan menyediakan
lokasi tempat beraktivitas yang telah ditentukan (relokasi) namun upaya tersebut tidak
membuahkan hasil karena PKL tumbuh beraktivitas kembali di lokasi semula.

Hal

tersebut dikarenakan para PKL beranggapan bahwa relokasi selalu bersifat represif bukan
bersifat memfasilitasi ataupun melindungi keberadaan mereka. Dengan adanya relokasi
ini mereka berharap mendapatkan tempat usaha yang strategis dan membuat kehidupan
mereka lebih terjamin, namun pada kenyataannya dengan relokasi ini mereka lebih
sengsara dan dagangannya tidak laku karena keberadaannya di lokasi yang baru hanya
menjadi jauh dengan konsumennya (Alisyahbana, 2005: 8). Bagi PKL strategi yang tepat
digunakan untuk menata sektor informal adalah membuat konsep yang jelas, terarah, dan
terukur.
Dengan beberapa masalah yang telah dipaparkan diatas maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian di Pasar Tradisional Meranti yang telah direlokasikan

Universitas Sumatera Utara

pemerintah karena adanya pembangunan jalan baru. Pasar meranti ini telah berdiri sejak
tahun 1967 dan telah memberikan kontiribusi yang cukup banyak untuk masyarakat yang
berada di sekitar pasar tersebut, khususnya para pedagang di Pasar Meranti. Pasar ini
terletak tepat disamping Perumahan Merbau Mas dan Pusat Perbelanjaan Plaza Medan
Fair, dapat dikatakan keberadaan Pasar Tradisonal ini berada dalam lokasi yang cukup
strategis tepatnya berada di Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah.
Pemerintah Kota Medan

merencanakan pembangunan jalan Alternatif untuk

mengurangi kemacetan jalan Pada Tahun 2004 Arus Jalan Jend.Gatot Subroto berubah
menjadi satu arah. Gang Warga Merupakan objek Pembangunan jalan baru, dimana akan
dilaksanakan pembuatan jalan baru dan pelebaran jalan.
Pasar Meranti direlokasikan karena keberadaan Pasar Tradisonal ini berada di
Gang.Warga, yaitu lokasi yang menjadi objek pembangunan dan pelebaran jalan.
Relokasi Pasar Meranti yang berada di Gang.Warga juga sesuai dengan Peraturan Daerah
Kota Medan tahun 1993 mengenai larangan berjualan diatas badan jalan, parit, dan
fasilitas umum lainnnya seperti jembatan. Pasar Meranti Merupakan Pasar yang berada
diatas parit dan badan jalan Gang Warga, sehingga Pemerintah Kota melakukan Relokasi
demi Penertiban dan meningkatkan nilai estetika kota.
Relokasi Pasar Meranti menuai protes dari para pedagang yang berjualan di Pasar
Tradisional Meranti. Para Pedagang tidak mau direlokasikan ke Pasar yang baru yang
telah disediakan oleh Pemerintah. Pedagang yang telah direlokasikan ke Pasar Meranti
baru kembali ke lokasi semula. Saat ini Pasar Meranti baru telah beroperasi, namun tidak
semua pedagang dari Pasar Meranti pindah ke Pasar yang baru, karena sebagian

Universitas Sumatera Utara

Pedagang masih ada yang tetap bertahan berjualan di badan Jalan Meranti. Mereka
bertahan tidak mau pindah. Dalam hal relokasi ini, sikap Pemerintah juga tidak tegas
terhadap para pedagang yang kembali ke lokasi semula, ada dua pasar dalam satu daerah
yang sama. sehingga dagangan para pedagang di lokasi yang baru kurang laku dan
akibatnya, pedagang di Pasar M.Idris ( lokai pasar baru) Mengeluh karena banyak yang
mengalami penurunan pendapatan. Masyarakat sekitar lebih memilih untuk belanja ke
Pasar Meranti yang berada di pinggir Jalan Meranti yang didirikan dengan menggunakan
tenda-tenda darurat karena lokasinya yang strategis. adapun dampak lainnya adalah
kemacetan jalan diakibatkan oleh aktivitas para pedagang yang kembali berjualan ke
lokasi semula. Dan berangkat dari berbagai permasalahan yang telah dipaparkan diatas,
maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut lagi mengenai hal
Relokasi Pasar Meranti dan Pembangunan Jalan Baru.

1.2. Perumusan Masalah

Dalam suatu penelitian, yang sangat signifikan untuk dapat memulai penelitian
adalah adanya masalah yang akan diteliti. Menurut Arikunto, agar dapat dilaksanakan
penelitian dengan sebaik-baiknya maka peneliti haruslah merumuskan masalah dengan
jelas, sehingga akan jelas dimana harus dimulai, kemana harus pergi dan dengan apa (
Arikunto, 1996:19 )
Berdasarkan uraian tersebut dan berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan,
maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah
a) Bagaimana proses Relokasi Pasar Tradisonal Meranti dan Pembangunan Jalan
baru ?

Universitas Sumatera Utara

b) Apakah proses Relokasi Pasar Tradisonal Meranti dan Pembagunan Jalan baru
sudah sesuai dengan prinsip pembangunan yang Partisipatif dan Berkelanjutan?
c) Bagaimana Kondisi Sosial Ekonomi pedagang dan masyarakat akibat Relokasi
Pasar Tradisonal Meranti dan Pembangunan Jalan baru ?

1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan yang
diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui
bagaimana proses Relokasi Pasar Meranti dan Pembagunan Jalan baru, Pembangunan
yang Partisipatif dan Berkelanjutan serta dampak yang ditimbulkan oleh Relokasi Pasar
Tradisonal Meranti dan Pembangunan Jalan baru.

1.4 . Manfaat Penelitian
Setelah mengadakan penelitian ini, diharapkan manfaat penelitian ini berupa:
1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada peneliti
dan juga kepada pembaca mengenai proses Relokasi Pasar Meranti dan Pembangunan
Jalan Baru dan bermanfaat dalam pengembangan teori ilmu-ilmu sosial khususnya pada
mata kuliah Sosiologi Pembangunan . Selain itu diharapkan juga dapat memberikan
kontribusi kepada pihak yang memerlukannya.

Universitas Sumatera Utara

1.4.2. Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis melalui
penelitian ini, menambah referensi dari hasil penelitian dan juga dijadikan rujukan bagi
peneliti berikutnya yang ingin mengetahui lebih dalam lagi terkait dengan penelitian
sebelumnya. Dan juga dapat memberikan sumbangan kepada para pedagang yang berada
di Pasar Meranti Lama dan Pasar Meranti baru serta kepada Pemerintah sebagai
pengambil keputusan untuk bisa membuat peraturan yang lebih baik lagi kedepannya.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Keberadaan Pedagang Kaki Lima Sebagai Salah Satu Bentuk Sektor Informal

Sektor informal dianggap sebagai manifestasi dari situasi pertumbuhan
kesempatan kerja di wilayah perkotaan. Mereka yang memasuki kegiatan usaha berskala
kecil di kota, bertujuan mencari kesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh
keuntungan (Pramono, 2003:25). sektor informal merupakan pilihan yang paling rasional
dan mudah dimasuki bagi kaum marginal, untuk bertahan hidup di kota (economical
survive strategy) yang bukan hanya sekedar kompetitif, tetapi membutuhkan tingkat
pendidikan dan keterampilan tertentu.

Sektor ekonomi informal diperkotaan merupakan klaster masyarakat yang cukup
rentan terkena imbas dari berbagai kebijakan. Pada umumnya sektor ini merupakan ruang
terbuka bagi kelompok marjinal kota untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan
dalam batas subsistensi.

Sektor informal kerap dianggap tidak memiliki masa depan. Ketika sektor ini
didefinisikan dalam pengertian sektor yang kurang mendapat dukungan pemerintah, tidak
tercatat secara resmi, dan beroperasi diluar aturan pemerintah, secara otomatis dukungan
pemerintah akan diarahkan untuk mengformalisasi sektor ini. Pendekatan ini juga
berasumsi bahwa satu-satunya hambatan sektor informal untuk tumbuh adalah sikap

Universitas Sumatera Utara

negatif dari pemerintah terhadap sektor ini. Oleh karena itu, dukungan pemerintah
dianggap bisa menjadi jaminan sukses (Bromley,1979).

Salah satu sektor informal dalam sektor perdagangan adalah Pedagang Kaki Lima
(PKL), dimana dalam aktivitasnya dimungkinkan terjadinya mobilitas vertikal pada
peningkatan taraf hidup, sehingga kegiatan sektor informal bukan lagi sekedar aktivitas
untuk bertahan hidup. Keberadaan sektor ini mampu mengangkat stratifikasi sosial
pelaku (Mustofa dalam Alisjahbana,2005:13).

PKL merupakan korban dari langkanya kesempatan kerja yang produktif di kota.
PKL dipandang sebagai suatu jawaban terakhir yang berhadapan dengan proses
urbanisasi yang berangkai dengan migrasi desa-kota yang besar, perkembangan kota,
pertambahan penduduk yang pesat, pertumbuhan kesempatan kerja yang lambat dalam
sektor industri dan persiapan teknologi impor yang padat modal dalam keadaan kelebihan
tenaga kerja (Bromley dalam Alisjahbana, 2005:35).

Dalam melaksanakan aktivitasnya ini pada dasarnya PKL memiliki unsur
kreativitas yang terlihat pada pemilihan lokasi, penentuan waktu dagang serta penyediaan
entitas dan variasi barang dagangan yang dijajakan. Selain itu, mereka juga kreatif dalam
menciptakan jaringan usaha, menarik pembeli, mendekati pelanggan, dan memuaskan
pelanggan dengan harga yang murah serta kualitas barang yang tidak begitu
mengecewakan. Dengan demikian pada dasarnya PKL berjasa terutama bagi masyarakat
perkotaan menengah ke bawah, antara lain dalam mendistribusikan barang dan jasa
dengan harga terjangkau. Selain unsur kreativitas tersebut, dimensi kerakyatan juga
tercermin dalam aktivitas PKL ini.

Universitas Sumatera Utara

Adapun Permasalahan dalam PKL dibagi menjadi masalah eksternal dan internal.
Masalah eksternal: banyaknya pesaing usaha sejenis, sarana dan prasarana perekonomian
yang tidak memadai, belum adanya pembinaan yang memadai, keterbatasan mengakses
kredit. Masalah internal: kelemahan dalam struktur permodalan, organisasi dan
manajemen, keterbatasan komoditi yang dijual, minimnya kerjasama usaha, rendahnya
pendidikan usaha dan kualitas SDM (Firdausy,1995).
Ciri-ciri dan permasalahan yang dihadapi PKL di empat kota ini tidak banyak
berbeda dengan temuan di beberapa studi lainnya (Moir 1978; Sasono 1989; Sethuraman
1989; Ekasari 1993). Hal ini membuktikan bahwa dalam rentang waktu lebih dari 10
tahun, kebijakan dan program pemerintah masih belum mampu mengatasi berbagai
masalah yang dialami sektor informal PKL.
Ketidakberhasilan kebijakan dan program pemerintah dalam mengembangkan PKL
terkait dengan berbagai hal, seperti :
(1) pendekatan pemerintah yang masih bersifat “supplyside” oriented (pengaturan,
penataan, dan bantuan terhadap PKL dilakukan tanpa melakukan komunikasi dan
kerjasama dengan PKL sendiri),
(2) pelaksanaan kebijakan/program bagi PKL sarat dengan keterlibatan berbagai aparat
pembina.
(3) penertiban dan pengendalian PKL lebih didasari pada adanya keterlibatan pemerintah
dalam pelaksanaan proyek daripada semangat membangun sektor informal sebagai
salah satu basis perekonomian rakyat (Sethuraman 1989; Sasono 1989).

Universitas Sumatera Utara

(4) sedikitnya PKL yang pernah mengikuti pembinaan usaha karena kurangnya sosialisasi
pemerintah mengenai program ini, dan penolakan relokasi.
2.2. Dilematis Pasar Tradisonal antara Pembangunan dan Penggusuran

Pembangunan fisik biasanya menjadi prioritas utama dalam berbagai program
pembangunan yang dilakukan. Sehingga berimplikasi pada tidak humanisnya suatu
program pembangunan. Membangun dan menggusur menjadi dua hal yang tak
terpisahkan dalam perkembangan kota dewasa ini.

Pembangunan melalui penggusuran merupakan sebuah kebijakan yang tidak
memperhatikan kaum marginal sebagai warga Negara yang berhak dilindungi. Sepertinya
pembangunan dalam perspektif konvensional masih mendominasi berbagai kebijakan
yang menyangkut kaum marginal saat ini. Walaupun pembangunan tipe itu sudah tidak
relevan diterapkan dewasa ini.

Sektor informal kini menjadi kebijakan eksplisit dalam pembangunan Nasional,
yang mana sektor informal diharapkan dapat berperan sebagai katup penyelamat dalam
menghadapi masalah lapangan kerja bagi angkatan kerja yang tidak dapat terserap dalam
sektor modern/formal. Salah satu wujud dari sektor informal adalah kegiatan Pedagang
Kaki Lima, kegiatan ini timbul karena tidak terpenuhinya kebutuhan pelayanan oleh
kegiatan formal yang mana kegiatan mereka sering menimbulkan gangguan terhadap
lingkungannya

dan

sering

dipojokkan

sebagai

penyebab

timbulnya

berbagai

permasalahan.

(http://faozangea.blogspot.com/2009/09/deskripsi-masalah-implementasi

diakses pada hari Kamis 07-01-2011 15.45)

Universitas Sumatera Utara

Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) pada saat ini memiliki permasalahan
yang sangat dilematis. Hal ini disebabkan karena pada satu sisi PKL mampu mengatasi
masalah pengangguran secara keseluruhan, namun disisi lain PKL mengakibatkan
terganggunya aspek ketertiban umum yang menjadi salah satu syarat ideal suatu kota
(Kurniadi dan Tangkisilan, 2006:1). Fenomena PKL sebagai suatu pekerjaan penting dan
khas dalam sektor informal memberikan konsekuensi bagi Pemerintah Kota untuk dapat
melaksanakan ketentuan yang berlaku untuk menjamin tertibnya kota.
Saat ini sektor informal di daerah perkotaan menunjukkan pertumbuhan yang
pesat. Membengkaknya sektor informal memiliki kaitan dengan berkurangnya sektor
formal dalam menyerap pertambahan tenaga kerja di kota. Disisi lain pertambahan
angkatan kerja sebagai akibat migrasi ke kota lebih pesat daripada pertumbuhan
kesempatan kerja. Akibatnya terjadi pengangguran terutama di kalangan usia muda dan
terdidik, yang diikuti membengkaknya sektor informal (Effendi, 1988:2)
PKL sebagai sektor informal perkotaan tumbuh tanpa terencana dan memiliki
bentuk serta keragaman jasa pelayanannya, membuat karakter PKL menjadi beragam
pula masalah yang timbul di wilayah berdagangnya. Setiap PKL akan memiliki tingkat
gangguan berbeda terhadap kepentingan publik bilamana dia menetap ataupun bilamana
PKL berpindah-pindah tempat. Permasalahan umum yang terjadi di negara berkembang
seperti di Indonesia adalah bahwa sektor informal seperti PKL sering tidak
diperhitungkan atau terpinggirkan dalam penataan ruang, sehingga seringkali PKL tidak
memiliki alokasi ruang khusus yang mengakibatkan PKL sering berbenturan dengan
ruang publik.

Universitas Sumatera Utara

2.3. Kebijakan Pemerintah Kota Medan Terkait dengan Pedagang Kaki Lima

Pemko Medan melakukan penataan pedagang kaki lima (PKL) sesuai peraturan
daerah (Perda) Kota Medan nomor 31 tahun 1993 dan Undang-undang nomor 7 tahun
2004 tentang pemakaian badan jalan, trotoar dan diatas parit tidak boleh dibangun.
Ketentuan dalam beberapa pasal pada Perda No 31 Tahun 1993 terkesan kaku dan
berpihak hanya pada pemerintah kota seperti yang terlihat dalam pasal 3 yang berbunyi:
“Stand, kios atau bangunan Pemerintah Daerah baik yang pembangunannya
dibiayai oleh Pemerintah Daerah maupun swadaya masyarakat yang berada di
dalam

kompleks pasar milik Pemerintah Daerah yang digusur, ditertibkan,

dibongkar guna peremajaan Pasar atau Kota dan penertiban lainnya tidak akan
diberian ganti rugi dalam bentuk apapun kepada penyewa dengan ketentuan
kepada penyewa diberikan prioritas untuk memperoleh tempat berjualan di lokasi
atau tempat yang diremajakan atau tempat lain yang dihunjuk oleh pemerintah
daerah”.
Di kota Medan penerapan peraturan daerah No.31.Tahun 1993 tentang Pemakaian
Tempat Berjualan, belum dapat dilaksanakan dengan sepenuhnya. Dimana para pedagang
khususnya PKL sangat menentang keberadaan ketentuan peraturan peraturan tersebut,
sehingga sebagian besar para PKL minta ditinjau kembali. Ketidaktegasan pemerintahan
kota Medan dalam mengatur peruntukan ruang bagi para PKL menyebabkan para
pedagang yang berjualan di tempat yang strategis dan potensial akan mengganggu
ketertiban umum. Bilamana tim penertiban datang maka PKl tersebut melarikan diri,
tetapi bila mana penertiban telah berlalu maka para pedagang kembali lagi melakukan

Universitas Sumatera Utara

aktivitasnya. Usaha kecil merupakan bagian integral dunia usaha nasional yang
mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam
mewujudkan pembanguan nasional dan pembangunan ekonomi. Usaha kecil adalah usaha
yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi dalam
peningkatan masyarakat.serta mewujudkan stabilitas nasional pada umumnya dan
stabilitas ekonomi pada khususnya (Limbong, 2005).

2.4. Dimensi Sosial Budaya Terkait dengan Permasalahan Pedagang Kaki Lima
Para PKL adalah aset, sehingga sumberdaya manusia tersebut harus diberdayakan
sesuai dengan kemampuannya. Selama ini para PKL tumbuh dan berkembang sematmata hanya karena inisiatif dari pedagang sendiri. Hal tersebut dapat disebabkan karena
interaksi social antara para PKL denhgan Pemerintah Kota tiak berjalan dengan
baik.Suatu interaksi sosial terjadi apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:
a. adanya kontak sosial (social contact)
b. adanya komunikasi.
Kontak sosial dapat saja terjadi antara pihak Pemerintah Kota Medan dengan para
PKL dimana para pedagang yang melakukan aktivitasnya di pasar tetapi mendapat
tanggapan yang negatif dari pihak Pemko. Disamping itu, komunikasi diantara PKL dan
pihak Pemko juga tidak sesuai dengan yang diharapkan.Pemerintah Kota tidak mampu
membaca kehendak para PKL dan demikian juga dengan sebaliknya sehingga kedua
belah pihak hanya bersikukuh pada keinginan masing-masing.Hal ini menyebabkan tidak
berlangsung suatu interaksi sosial yang baik.

Universitas Sumatera Utara

Sebagaimana disadari bahwa para PKL umumnya banyak berasal dari kelompok
yang kurang mendapat pendidikan yang baik dan kurang terampil, tidak mempunyai
pengetahuan hukum dan kesadaran terhadap ketertiban lingkungan yang cukup, serta
miskin sehingga wajar bilamana interaksi sosial antara pihak Pemerintah Kota dengan
PKL tidak memberikan hasil yang memuaskan. Apalagi kondisi ekonomi pun belum
dapat memulihkan ekonomi masyarakat bahkan jumlah pengangguran cenderung
semakin meningkat. Hal ini merupakan potensi yang akan mengancam kerawanan sosial
misalnya pencurian dan perampokan. Oleh karena itu, penciptaan lapangan kerja melalui
sektor informal terutama PKL harus mendapat respon yang positif dari Pemerintah Kota.
Kebijakan pemerintah yang melarang keberadaan sektor informal justru berpotensi
menimbulkan kerawanan politik dan sosial. Hoebel dan Lywllyn menyatakan bahwa
hukum mempunyai fungsi yang penting demi keutuhan masyarakat,yaitu;
a. menetapkan hubungan antara para warga masyarakat dengan menetapkan perilaku
mana yang dipebolehkan dan mana yang dilarang;
b. membuat alokasi wewenang (authority) dan menentukan dengan seksama pihakpihak yang secara sah dapat melakukan paksaan dengan sekaligus memilih sankisanksi yang tepat dan efektif;
c. penyelesian perselisihan;
d. menyesuaikan pola-pola hubungan dengan perubahan kondisi kehidupan.

Universitas Sumatera Utara

2.5.

Pelibatan Masyarakat Marginal dalam Perencanaan Pembangunan yang

Pertisipatif dan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan
generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kebutuhan

mereka” (Fauzi,

2004

Menurut

Munasinghe 1993),

pembangunan

berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama, yaitu:
1. tujuan ekonomi (economic objective)
2. tujuan ekologi(ecological objective) dan
3. tujuan sosial (social objective).
Ketiga indikator dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu
kesatuan tujuan yang harus diperhatikan oleh pengambil kebijakan.

Dalam suatu pembangunan yang berkelanjutan, Setiap kebijakan memiliki efek
atau dampak bagi pedagang kaki lima itu sendiri dan juga bagi lingkungan. Dua kriteria
yang digunakan yaitu internal dan eksternal. Internal yaitu bagaimana dampak terhadap
PKL dalam hal peningkatan ekonomi, rasa keadilan dan eksternal yaitu bagaimana
keterkaitannya dengan lingkungan.

Adapun Dampak yang muncul pasca relokasi Pasar, yaitu terbagi menjadi tiga
sub dampak yaitu ; pertama dampak sosial ekonomi, kedua sosial budaya dan ketiga
dampak terhadap lingkungan.

Adapun dampak sosial ekonomi dan sosial budaya yang bersifat positif yaitu

1. meningkatnya kelayakan dan kenyamanan usaha

Universitas Sumatera Utara

2. terbukanya kesempatan kerja
3.

perubahan status PKL menjadi pedagang legal

4.

menurunnya budaya premanisme (keamanan pasar stabil).

Adapun dampak sosial ekonomi dan sosial budaya yang bersifat negatif yaitu :

1. menurunnya modal dan pendapatan
2. meningkatnya biaya operasional
3. menurunnya aktivitas pasar (produksi, distribusi dan konsumsi),
4. melemahnya jaringan sosial (pelanggan)
5. menurunnya kesempatan pedagang untuk ikut dalam kelompok kelompok sosial
nonformal.

Dampak terhadap lingkungan memberikan implikasi yang positif yaitu

1. tertatanya lingkungan dengan baik
2.

pengolahan limbah pasar

3. penghijauan sekitar pasar reloksi, sehingga lingkungan pasar menjadi asri dan tidak
terlihat kesan kumuh (ramah lingkungan).

Kebijakan mengenai relokasi pasar jika dikaitkan dengan tujuan pembangunan
berkelanjutan maka kebijakan tersebut tidak dapat digolong sebagai kebijakan
pembangunan berkelanjutan, karena dari tiga syarat hanya satu syarat yang terpenuhi
yaitu ramah lingkungan (environmental protection) atau tidak terjadinya degradasi
lingkungan. Sebaliknya peningkatan ekonomi (economic growth) dan keadilan (social
equity) tidak terpenuhi.

Universitas Sumatera Utara

Pentingnya proses pelibatan masyarakat marjinal dalam perencanaan dan
penganggaran partisipatif bagi pengembangan kapasitas masyarakat. Melalui proses ini
telah terjadi alih dan akumulasi pengetahuan serta meningkatnya perasaan memiliki atas
hasil yang diperoleh dan budaya berdiskusi. (Handayani, 2006) pada saat itu partisipasi
masyarakat lebih sebagai jargon pembangunan, dimana partisipasi lebih diartikan pada
bagimana upaya mendukung program pemerintah dan upaya-upaya yang pada awal dan
konsep pelaksanaanya berasal dari pemerintah. Berbagai keputusan umumnya sudah
diambil dari atas, dan sampai ke masyarakat dalam bentuk sosialisasi yang tidak bisa
ditolak. Sejalan dengan dikedepankannya prinsip tata pemerintahan yang baik terutama di
tingkat Kabupaten/Kota, maka konsep perencanaan pembangunan partisipatif mulai
digagas dan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia
Keterlibatan dalam sektor informal lebih akibat keterpaksaan daripada pilihan
(Hugo) karena tekanan dari sistem ekonomi yang tidak memberi tempat bagi mereka
yang kurang berpendidikan dan ketrampilan . Terkait dengan partisipasi politik, pelaku
sektor informal lebih dianggap sebagai obyek ketimbang partisipan. Padahal mereka
merupakan sumber daya politik dan ekonomi. Sebagai sumber daya politik, mereka kerap
dijadikan obyek yang dikendalikan oleh organisasi massa yang berafiliasi dengan partai
pemerintah. Melalui cara ini, pemerintah melakukan kontrol terhadap kelompokkelompok yang dianggap berpotensi menimbulkan konflik dan masalah keamanan. Oleh
karena itu, kaum informal hampir tidak pernah bisa memanfaatkan sumber daya
politiknya. Sedangkan sebagai sumber daya ekonomi terkait dengan ketersediaan tenaga
kerja yang murah. Hal ini dapat dilihat sebagai bentuk eksploitasi. Sebagai perbandingan,
(Rachbini dan Hamid, 1994)

Universitas Sumatera Utara

Dengan adanya pembangunan pertisipatif dan berkelanjutan memungkinkan bagi
pemerintah untuk mengambil kebijakan yang memperhatikan kaum marjinal, tanpa
mengabaikan aspek lingkungan. Dalam pembangunan partisipatif masyarakat tidak hanya
menjadi objek pembangunan dan penerima kebijakan, tetapi juga sebagai pengambil
keputusan. Diharapkan dengan pembangunan yang partisipatif dapat menciptakan
peraturan yang kondusif dan menghasilkan kebijakan yang tetap bertolak ukur pada
ketiga indikator pembangunan berkelanjutan. Dan pembangunan yang partisipatif dan
berkelanjutan juga dapat meminimalisir permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan
oleh PKL.
2.6 Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima
Meskipun pentingnya peranan Pedagang Kaki Lima dalam penyerapan tenaga
kerja, kenyataannya tindakan pemerintah kota tampaknya bertentangan dengan
pengakuan akan pentingnya peranan sektor ini. Demikian pula perencana kota masih
memandang secara ambigu terhadap sektor ini. Bagi kebanyakan perencana dan penentu
kebijakan kota, pelaku sektor informal, terutama PKL, dan kawasan kumuh perkotaan,
adalah gangguan terhadap keindahan dan keteraturan kota. Pandangan modernis ini justru
sering sejalan dengan pandangan golongan masyarakat atas dan menengah.
Perlu saatnya para perencana dan penentu kebijakan kota memikirkan alternatifalternatif lain dalam memandang persoalan PKL dan kawasan kumuh ini. Pandangan
alternatif ini antara lain seperti yang diungkapkan oleh Sandercock (1998) bahwa
perencanaan kota seharusnya dapat mengenali suara kelompok-kelompok yang berbeda
di dalam masyarakat. Kita dapat berspekulasi bahwa pemecahan akar persoalan

Universitas Sumatera Utara

tumbuhnya kawasan kumuh dan pedagang kaki lima terletak di pedesaan (dan dengan
demikian kebijakan tutup pintu diberlakukan supaya orang-orang tidak bermigrasi dari
desa ke kota), akan tetapi tetap penting untuk mengenali bahwa kota adalah milik
kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Pelaku sektor informal, termasuk PKL, adalah
bagian

yang

tak

terpisahkan

dari

sebuah

kota.

(http://www.akatiga.org/index.php/artikeldanopini/kemiskinan/110-kota-untuk-siapa
diakses pada hari kamis 06-01-2010 pukul 16.10 WIB)

Penggusuran ataupun lebih dikenal dengan relokasi bukanlah merupakan jalan
keluar yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan PKL. Munculnya penggangguran
adalah efek langsung penggusuran ini, karena pedagang eks PKL ini kehilangan
pekerjaannya untuk menghidupi keluarga. Dan ini menjadi permasalahan baru yang harus
difikirkan bagaimana solusinya, dan penggusuran ini hanya merupakan solusi sementara.
Karena meskipun para pedagang kaki lima tidak kembali berjualan ke lokasi semula,
karena masih dalam penjagaan Satpol PP, maka PKL tersebut membuka di tempat yang
baru lagi.

Keberadaan PKL merupakan kegagalan negara menyediakan lapangan pekerjaan
yang layak bagi warga negaranya. Padahal seperti yang tercantum dalam kovenan
ekosob, hak untuk mendapatkan pekerjaan adalah salah satu hak asasi manusia yang
wajib

dipenuhi

oleh

negara.

(http://analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=34043:pengg
usuran-pkl-antara-mengganggu-keindahan-kota-dan-hak-ekosob
&catid=78:umum&Itemid=131)

Universitas Sumatera Utara

2.7. Pembangunan Jalan

Sektor pembangunan mendasar adalah pembangunan infrastruktur jalan raya,
rencana pembangunan dan peningkatan ruas jalan yang ada. Pembangunan jalan secara
umum menjadi sangat penting, mengingat jalan raya bagian dari sistem transportasi darat
yang sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan di berbagai sektor kehidupan
masyarakat.

Pembangunan

jalan

sangat

diperlukan

untuk

menopang

pelaksanaan

pembangunan di bidang lain, yang ditujukan untuk keseimbangan dan pemerataan

Dokumen yang terkait

Dokumen baru