Analysis Efficiency Of Maize Marketing In West Nusa Tenggara Province

POSAL PENELITIAN

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JAGUNG
DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

IKA NOVITA SARI
H4511
00

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
i
 

ii
 

PERNYATAAN MENGENAI TESIS
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Analisis Efisiensi
Pemasaran Jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah benar merupakan hasil
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum dipublikasikan dalam
bentuk apapun. Sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2013
Ika Novita Sari
H45110061

iii
 

iv
 

ABSTRACT
IKA NOVITA SARI. Analysis efficiency of maize marketing in West Nusa
Tenggara Province. Under the direction of RATNA WINANDI and JUNIAR
ATMAKUSUMA.

The  establishment  of  the  selling  price  is  influenced  by  the  development  of  corn  prices 
prevailing  in  the  international  market,  and  marketing  agencies  are  involved.  Have  not  be 
transmitted  between  price  of  the  international  market  with  the  local  market  NTB, 
identifying  inefficient  marketing  system.  This  research  aims  to  analyze  the  efficiency  of 
marketing  through  the  marketing  channels,  market  structure,  market  conduct,  market 
performance,  and  identify  marketing  strategies  corn  in  NTB.  The  analysis  of  S‐C‐P  that 
includes marketing margin, price‐share, market integration, and marketing mix. The results 
indicate  inefficient  marketing  corn  in  NTB,  shown  by  48.66%  of  the  farmers  are  using  a 
second channel, which farmers sell immediately to big traders. The market structure leads 
to be oligopsoni, the dominant big traders determine the price of corn in NTB, and margins 
distribution  of  the  three  marketing  channels  is  not  evenly.  While  the  vertical  market 
integration  is  a  strong  in  the  long  term  and  short  term  only  to  big  traders.  Marketing 
strategy big traders have not been able to improve marketing efficiency, which is due to the 
variation of the product being marketed  is  pipil  the dry  corn,  determination of  sales  price 
depending  on  the  quality  of  feed  raw  materials,  and  the  cost  of  production.  While 
promotions are made from word of mouth, and most wholesalers choose a location on the 
main street the easy route of public transport, while 50 percent are in the township. 

Keywords : Zea mayz, efficiency, marketing
The analysis used of market structure, market conduct, and market performance, as well as marketing strategies. The results showed that 48.66% of the farmers directly to the large-traders on line two. Market behavior in large-traders is dominant in determining the price of corn in NTB. The marketing corn in NTB are not efficiently shown by the farmers share is low, distribution margins in the three marketing channels not equitable, as well as the integration of the local market with its reference market, but the linkage price of a market reference brokers and wholesaler weak effect on local farmers' markets. Marketing strategies on large-trader has not been able to improve marketing efficiency, because the product has not been varied, fixing the selling price depends on the quality of raw materials and the cost of production. Promotion only personal selling efforts, and business location 50% still hit on road conditions are not favorable.

v
 

RINGKASAN
IKA NOVITA SARI. Analisis efisiensi pemasaran jagung di Provinsi Nusa Tenggara
Barat. Dibimbing oleh RATNA WINANDI dan JUNIAR ATMAKUSUMA.
Jagung (Zea mays L) merupakan salah satu komoditas pertanian yang
digunakan sebagai kebutuhan pangan dan pakan. Kebutuhan jagung terus meningkat
sejalan dengan terus berkembangnya industri pangan dan pakan, mengindikasikan
besarnya peranan jagung dalam petumbuhan sub sektor tanaman pangan. Sehingga
untuk mencapai kebutuhan jagung, maka dilakukan pengembangan jagung di
Indonesia yang salah satunya adalah NTB dengan memanfaatkan potensi lahan
keringnya. Dukungan pemerintah daerah berupa program pengembangan komoditas
unggul daerah (program PIJAR) yang salah satunya adalah komoditas jagung.
Pemasaran hasil panen jagung merupakan salah satu kendala pengembangan jagung
di NTB. Pemasaran jagung yang melibatkan lembaga pemasaran pada akhirnya
mempengaruhi pembentukan harga jual jagung. Pembentukan harga seharusnya
didasarkan pada pertimbangan harga jagung yang berlaku di pasar internasional, yang
kenyataannya kondisi ini belum ditransmisikan dengan baik terhadap pasar lokal di
NTB. Kenyataan atau faktanya, harga jagung dominan yang ditunjukkan oleh harga
jagung pada pasar dunia yang cendrung berfluktuasi dibandingkan harga jagung di
pasar lokal NTB yang cenderung stagnan.
Besarnya harga yang terjadi di tingkat konsumen dibandingkan dengan harga
yang diterima oleh petani yang rendah berpengaruh pada minat petani dalam
memproduksi jagung. Terkait dengan beberapa permasalahan di atas, penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis struktur, perilaku dan kinerja pasar, serta
mengidentifikasi strategi pemasaran jagung pada lembaga pemasaran jagung di NTB.
Berdasarkan tujuan tersebut, analisis yang digunakan meliputi analisis struktur pasar,
perilaku pasar, dan kinerja pasar, serta strategi pemasaran atas berbagai informasi
pasar dan kondisi di lokasi penelitian.
Produksi jagung yang dipasarkan dari 30 orang petani responden hanya
sampai pada pedagang besar selaku pedagang antar pulau (PAP). Selanjutnya
pedagang besar memasarkannya pada konsumen (pabrik pakan) yang berada di luar
Provinsi NTB. Terdapat tiga pola saluran pemasaran jagung, yaitu (1) petani makelar - pedagang besar - konsumen pabrik pakan, (2) petani - pedagang besar –
konsumen pabrik pakan, dan (3) petani - tengkulak - pedagang besar – konsumen
pabrik pakan. Saluran pemasaran yang banyak dilakukan oleh petani adalah saluran
ke dua yaitu sebesar 78 ton (48,66 persen dari total produksi jagung petani
responden).
Struktur pasar jagung yang berlangsung di Provinsi NTB belum efisien yang
ditunjukkan oleh pasar jagung yang cenderung mengarah pada pasar persaingan tidak
sempurna (oligopsoni) yang menunjukkan bahwa pedagang memiliki tingkat
kekuasaan yang besar dalam mempengaruhi pasar. Hal ini juga terlihat dari perilaku
pasar yang menunjukkan bahwa pedagang besar merupakan lembaga pemasaran yang

vi
 

dominan dalam menentukan harga jagung di NTB. Di lain pihak, kelompok tani
dalam kegiatan pemasaran jagung kurang berfungsi. Hal ini dikarenakan adanya
kegiatan penjualan jagung oleh petani yang tidak dilakukan secara berkelompok
menyebabkan harga di tingkat petani lemah. Saluran ke dua merupakan saluran
pemasaran jagung yang lebih efisien dari tiga saluran yang ada.
Pemasaran jagung di NTB berdasarkan analisis kinerja pasar jagung belum
efisien. Hal ini dikarenakan distribusi marjinnya belum merata, dan share harga yang
diterima petani tidak terlalu tinggi. Integrasi pasar dalam jangka panjang
menunjukkan pasar lokal petani memiliki integrasi yang lebih bagus dibandingkan
jangka pendek. Dengan kata lain, bahwa terdapat keterpaduan yang kuat dalam
jangka panjang di semua pasar acuannya, sehingga pembentukan harga jagung di
pasar lokal dalam jangka panjang dipengaruhi oleh harga yang terjadi di pasar
acuannya. Integrasi pasar dalam jangka pendek adalah inefisiensi yang terjadi pada
pasar petani ke tengkulak dan pasar petani ke makelar, dengan ini diperkuat dengan
analisis IMC yang relatif besar (1,20 dan 2,38). Petani dalam hal ini dirugikan
(dieksploitasi). Oleh sebab itu, kelompok tani yang ada hendaknya membantu
anggota terutama pada pemasaran hasil produksi jagung, sehingga posisi tawar petani
dapat ditingkatkan.
Strategi pemasaran jagung pada lembaga pemasaran yang dominan yaitu
pedagang besar belum dapat meningkatkan efisiensi pemasaran. Fakta ini ditunjukkan
oleh adanya produk jagung yang dipasarkan, hanya dalam bentuk homogen yaitu
jagung kering pipil dengan kadar air 14 persen. Penetapan harga jual jagung pada
konsumen pabrik pakan tergantung pada kualitas jagung kering pipil sebagai bahan
baku pembuatan pakan ternak, dan besarnya biaya produksi. Kegiatan promosi
keberadaan usaha hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut (word of
mounth) yang melibatkan petani, makelar, serta petugas lapangan. Pemilihan lokasi
usaha sebagian menempatkan lokasi pada tempat yang strategis yaitu di depan jalan
utama yang mudah di jangkau atau dilalui oleh transportasi umum, sedangkan 50
persen lainnya masih terbentur pada kondisi jalan yang tidak mendukung.
Meningkatkan efisiensi dapat dilakukan dengan memilih saluran pemasaran
ke dua dari tiga saluran yang ada. Dengan demikian, share harga yang diterima petani
akan dapat meningkat dan biaya pemasaran dapat dikurangi. Adanya penguatan
kelompok tani terutama pada sistim pemasaran hasil akan membantu petani dalam
meningkatkan posisi tawar di tingkat petani. Hal ini berarti dapat membantu petani
dalam menentukan harga yang dilakukan oleh makelar dan tengkulak. Selain itu,
untuk memperoleh alternatif pola pemasaran jagung yang efisien maka perlunya
memperluas cakupan wilayah pengkajian pada penelitian selanjutnya.
Kata kunci : Jagung, efisiensi, pemasaran

vii
 

© Hak cipta milik IPB, tahun 2013
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar bagi IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

viii
 

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JAGUNG
DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

IKA NOVITA SARI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Agribisnis

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

ix
 

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Anna fariyanti, MSi
Penguji Program Studi
: Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS

x
 

Judul Tesis
Nama
NIM
Program Studi/Mayor

: Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung di Provinsi Nusa
Tenggara Barat
: Ika Novita Sari
: H451100261
: Agrib

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Ir. Juniar Atmakusuma, MS
Anggota

Dr. Ir. Ratna Winandi, MS
Ketua

Diketahui,

Ketua Program Studi/Mayor
Agribisnis, isnis

Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS

Tanggal Ujian : 30 November 2012

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Lulus : ………………

xi
 

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Tesis
yang berjudul “Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung di Provinsi Nusa Tenggara
Barat” disusun sebagai salah satu syarat kelulusan dalam Program Pascasarjana pada
Program Studi Agribisnis, Institut Pertanian Bogor.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis menyadari bahwa bimbingan dan bantuan
berbagai pihak telah memperlancar penyelesaian tesis ini. Sehubungan dengan hal
tersebut ucapan terimakasih yang tulus penulis haturkan kepada :
1. Dr. Ir Ratna Winandi, MS

selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Juniar

Atmakusuma, MS selaku anggota komisi pembimbing atas segala bimbingan,
arahan, motivasi dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis mulai dari
penyusunan proposal hingga penyelesaian tesis ini.
2. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku Ketua Departemen Agribisnis dan selaku
penguji dari program studi pada sidang tesis yang telah memberikan komentar
dan masukan dalam hasil kajian tesis ini.
3. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku penguji luar komisi pada sidang tesis yang
telah memberikan arahan dan masukan dalam hasil kajian tesis ini.
4. Seluruh dosen dan staf akademik Program Studi Agribisnis.
5. Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian Republik Indonesia selaku
Promotor yang mendanai studi dan penelitian ini.
6. Seluruh rekan-rekan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB
7. Rekan-rekan seperjuangan pada Program Studi Agribisnis angkatan 2010 (Yadi,
Muis, Jemmy, Asrul, Efri, Ali, Ridho, Arifayani, Nur Qomariah, Nia, Lila, Nuni,
Rzma, Anis, Cicin, Cila, Hepi, Ratna MS, Ratna SS, Fitri, Evita, Putri, Maria,
Husnul, Puspitasari, Sari, Desi, Ratih) atas masukan dan dukungan dalam
menyelesaikan tesis ini.
8. Teman-teman di Wisma Flora (Wanny, Agnes, Widy, Kiki, Septi, Indi, Diah,
Fina, Chika, Diza, Vanesa, Uthe, Bang Rudy, Eja, Yuli, Firman, Buyung,) atas
dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
xii
 

9. Penghargaan dan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta H. Damhudji
Karim dan Hj. Tendri Edja serta adik-adik dan ponakanku tercinta (Iman, Isrin,
Devi, Dzaky, Dzaka) atas do’a dan dorongannya hingga penyelesaian tesis ini.
(Mbak Nur, Bang Asrul, Jemmy,
10.

(Wanny, Agnees, Widi, Vanes, Epi, Diah, Uthe, Indi, mephi, Eja, Bang Rudi, Yuli, Buyung, Efan, ………….. atas do’a dan semangat yang diberikan.

Akhir kata, penulis berharap semoga penelitian ini dapat memberikan
manfaat. Terima kasih.

Bogor, Februari 2013
Ika Novita Sari

xiii
 

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Mataram pada tanggal 19 November 1976 dan
merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah bernama H. Damhudji Karim
dan Ibu bernama Hj. Tenri Edja.
Penulis lulus dari SMA Negeri 3 Mataram

pada Tahun 1995 dan

melanjutkan pendidikan sarjana pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas
Pertanian Universitas Mataram dan lulus pada Tahun 2001. Pada tahun 2010, penulis
mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan magister sains di Program Studi
Agribinis, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Master Sains, penulis melakukan penelitian yang berjudul
“Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat”
dibawah bimbingan dan arahan dari Dr. Ir Ratna Winandi, MS

dan Ir. Juniar

Atmakusuma, MS.
Penulis bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Pertanian, yaitu
peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, Badan Litbang
Pertanian sejak tahun 2005 hingga sekarang.
Selama mengikuti program S2, penulis beberapa kali mengikuti kegiatan ilmiah seminar maupun pelatihan yang berkaitan dengan studi penulis. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Master Sains, penulis melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung di Provinsi NTB” dibawah bimbingan dan arahan dari Ibu Dr. Ir Ratna Winandi, MS dan Ibu Ir. Juniar Atmakusuma, MS.
Riwayat pekerjaan dimulai dengan magang pada PPLH Universitas Mataram pada tahun 2001, kemudian awal tahun 2002 hingga tahun 2004 menjadi staf honorer pada dinas pertanian Kabupaten Sumbawa. Pada tahun 2005 penulis diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada salah satu UP T Badan Litbang Pertanian yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat, dan pada tahun yang sama pula penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai calon peneliti. Pada tahun …. menjadi peneliti pertama pada BPTP NTB hingga sekarang.

xiv
 

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI …….……………..……………………….…………………..…

xii

DAFTAR TABEL ………………....………..……………..……………..……

xiv

DAFTAR GAMBAR ………………………………..……….…….……..…....

xv

DAFTAR LAMPIRAN …………………………..…………….…….………..

xvi

I. PENDAHULUAN ………………………………………………..….…..
1.1.
Latar Belakang ……………………………………………..……
1.2.
Perumusan Masalah ….……………………………………..….
1.3.
Tujuan Penelitian ……………………………………………….
1.4.
Manfaat Penelitian ……………………………………………..
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian ………………………..…………….

1
1
4
8
8
8

II. TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………....…
2.1. Perkembangan Jagung ……….….....………………………..………
2.2. Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya ……….…………………………
2.2.1. Efisiensi Pemasaran Jagung ……….……………………………....
2.2.2. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Pemasaran ……...…………….…..
2.2.3. Strategi Pemasaran Jagung ……………………………….…..…...

9
9
10
10
12
14

III. KERANGKA PEMIKIRAN ………………………………….………….
3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual …………………………….……..
3.1.1. Saluran Pemasaran …………………………………………......…
3.1.2. Struktur Pasar ………………………………………………......….
3.1.3. Perilaku Pasar …………………………………………………..…
3.1.4. Marjin Pemasaran …..………………………………………..……
3.1.5. Efisiensi Pemasaran …….……..…………………………...……...
3.1.6. Strategi Pemasaran …………………………………...……....……
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional …………………….………….….

15
15
15
16
19
20
23
27
30

IV. METODE PENELITIAN ………………..……………….……………...
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ………………….………………….…
4.2. Jenis dan Sumber Data …………….………………………………...
4.3. Metode Penentuan Responden dan Pengumpulaan Data …………...
4.4. Metode Analisis Data …………………..………………………..…..
4.4.1. Analisis Struktur Pasar ………………..…………..………………

35
35
35
35
36
36

xv
 

4.3. Metode Penentuan Responden dan Pengumpulaan Data …………...
4.4. Metode Analisis Data …………………..………………………..…..
4.4.1. Analisis Struktur Pasar ………………..…………..………………
4.4.2. Analisis Perilaku Pasar ………………...…………………….……
4.4.3. Analisis Kinerja Pasar…………….……………….…………...…..
4.4.4. Strategi Pemasaran ……………………………………..……...…..
4.5. Definisi Variabel …………………………………...………………..

35
36
36
37
37
40
40

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN …………….….……..
5.1. Letak Geografis dan Wilayah ……………………………………….
5.2. Perkembangan Pertanian …………………………….………………
5.3. Karakteristik Responden …………………………………………….

43
43
44
46

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ..………..……………….……………...
6.1. Saluran Pemasaran dan Fungsi Pemasaran ..….………………….…
6.2. Struktur Pasar ……………………………………….……………….
6.3. Perilaku Pasar ……………………..……………………...…………
6.4. Kinerja pasar ……………………………………………...…………
6.5. Strategi Pemasaran Jagung ……………………………….…………
6.6. Implikasi Kebijakan ………………………………..………………..

55
55
61
64
69
82
87

KESIMPULAN DAN SARAN ………………..……………….……………..

91

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xvi
 

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Jagung di Provinsi NTB ....
Tabel 2 Lima Jenis Pasar pada Sistem Pangan dan Serat .…………………..
Tabel 3 Perbandingan Struktur Pasar Bersaing Sempurna, Persaingan
Monopolistik, Oligopoli, dan Monopoli ………………………..……
Tabel 4 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Lombok
Timur Tahun 2008 – 2010 …………………......................................
Tabel 5 Karakteristik Petani Responden di Kabupaten Lombok Timur
Tahun 2012 …………………………………………………….….…
Tabel 6 Karakteristik Responden Lembaga Pemasaran Jagung di
Kabupaten Lombok Timur Tahun 2012 …………………………...
Tabel 7 Pelaksanaan Fungsi-Fungi yang Dilakukan Lembaga Pemasaran
Jagung …………………………………………………………….…..
Tabel 8 Jumlah Penjual dan Pembeli, Diferensiasi Produk, Hambatan
Keluar Masuk Pasar, dan Struktur Pasar Dalam Pemasaran
Jagung …………………………………………………………..……
Tabel 9 Konsentrasi Rasio Empat Perusahaan Besar di Kabupaten
Lombok Timur Provinsi NTB Tahun 2011 ..……………………..…
Tabel 10 Biaya, dan Marjin Pemasaran di Kabupaten Lombok Timur
MT Januari - April Tahun 2012 …..……………………..…….…....
Tabel 11 Analisis Integrasi Pasar Jagung Dalam Jangka Pendek di
Kabupaten Lombok Timur Tahun 2012 ……………………….…....
Tabel 12 Analisis Integrasi Pasar Jagung Dalam Jangka Panjang di
Kabupaten Lombok Timur Tahun 2012 …………………………..…

3
17
18
45
46
48
58
61

63
77
79
81

xvii
 

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6

xviii
 

Proyeksi Kebutuhan Jagung Nasional 2010-2014 ……………….
Harga Jagung Dunia dan Provinsi NTB …………….……………
Kurva Marjin Pemasaran ……………………………………..….
Kerangka Operasional ………….…………………..…………….
Peta lokasi Penelitian di Kabupaten Lombok Timur ..………..….
Arus Komoditi Jagung di Kabupaten Lombok Timur …………

1
6
22
33
43
55

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5

Halaman
Daerah produksi jagung di Kabupaten Lombok Timur............
98
Karakteristik Petani responden ……………………………….
99
Marjin pemasaran jagung di Kabupaten Lombok Timur
MT Januari – April Tahun 2012 ……………………………..
100
Harga di tingkat petani dan lembaga pemasaran ……………..
102
Hasil Olahan Analisis Intgrassi Pasar Vertikal ….…………..
103

xix
 

 

I. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Jagung (Zea mays L) merupakan salah satu komoditas pertanian

yang memiliki peran penting yaitu sebagai makanan manusia dan ternak.
Indonesia merupakan salah satu penghasil jagung dengan jumlah yang terbatas.
Sejak tahun 1970, menurut Tangendjaja et al (2005) bahwa produksi jagung
Indonesia diutamakan sebagai makanan manusia. Akan tetapi ketika industri
unggas mulai berkembang yang disertai dengan meningkatnya produksi beras,
maka pemanfaatan jagung secara bertahap sedikit bergeser ke pakan (makanan
ternak).
Penggunaan jagung dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi pangan
sebesar 30 persen, kebutuhan pakan sebesar 55 persen, dan sisanya digunakan
untuk kebutuhan industri lainnya seperti benih (Kasryno et al, 2007). Dengan
demikian, kebutuhan jagung untuk pangan merupakan tingkat konsumsi terbesar
di dalam negeri.

Gambar 1 Proyeksi kebutuhan jagung nasional 2010-2014
(Sumber : Deptan 2009, diolah)
Gambar 1 di atas merupakan proyeksi kebutuhan jagung nasional yang
dilakukan oleh Departemen Pertanian sampai dengan tahun 2014. Kebutuhan

1
 

jagung nasional diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2014. Jika target
kebutuhan jagung dapat tercapai sebagaimana proyeksi tersebut, hal ini
mengindikasikan bahwa industri jagung terutama sebagai pangan dan pakan
berpotensi untuk dikembangkan (Purna dan Hamidi 2010).
Berdasarkan lima tahun terakhir, permintaan jagung untuk bahan baku
industri pakan, makanan, dan minuman meningkat hingga 10 - 15 persen per
tahun. Dengan demikian, produksi jagung selain mempengaruhi kinerja industri
pangan, juga berpengaruh terhadap industri peternakan. Dalam perekonomian
nasional yaitu di subsektor tanaman pangan, jagung sebagai penyumbang terbesar
kedua setelah padi. Sumbangan jagung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
terus meningkat setiap tahun, sekalipun pada saat krisis ekonomi. Pada tahun
2000, kontribusi jagung dalam perekonomian nasional mencapai Rp 9,4 trilyun
dan pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp 18,2 trilyun. Kondisi demikian
mengindikasikan besarnya peranan jagung dalam memacu laju pertumbuhan
subsektor

tanaman

pangan

dan

perekonomian

nasional

secara

umum

(Zubachtirodin et al 2007).
Pada tahun 2010 produksi jagung nasional sebesar 18.327 ribu ton dengan
luas panen sebesar 4,13 juta hektar dan produktivitas jagung mencapai 44,35
kuintal per hektar. Kemudian pada tahun 2011 produksi jagung sebesar 17.643
ribu ton pipilan kering serta luas panen mencapai 3,8 juta hektar dan
produktivitasnya mencapai 44,52 kuintal per hektar

(BPS, 2011). Adanya

penurunan produksi jagung sebesar 684.386 ton atau 3,7 persen dibandingkan
tahun 2010, dikarenakan terjadinya penurunan luas panen jagung sebesar
266.984 hektar (6,5 persen). Penurunan produksi jagung tersebut disebabkan oleh
adanya kemarau panjang di beberapa wilayah di Indonesia.
Pemenuhan target akan kebutuhan jagung nasional, harus diimbangi dengan
peningkatan produksi jagung nasional. Peningkatan produksi jagung dapat
dilakukan dengan perluasan areal tanam maupun peningkatan produktivitas
melalui perbaikan teknologi budidaya jagung. Penambahan luas tanam jagung
dilakukan di seluruh wilayah terutama pada daerah sentra produksi jagung
di Indonesia antara lain yaitu Provinsi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan daerah lainnya termasuk NTB.

2
 

Provinsi NTB memiliki peluang dalam pengembangan jagung yaitu
memanfaatkan lahan kering dengan luas mencapai + 1,8 juta hektar. Walaupun
tingkat produksi jagung NTB masih terbilang kecil jumlahnya yaitu sebesar
308.863 ton atau 1,75 persen dari jumlah produksi jagung nasional 17.629.748 ton
pipilan kering (BPS 2011). Untuk mencapai target peningkatan produksi jagung,
maka kegiatan ini juga didukung melalui suatu program kegiatan pemerintah
daerah guna mengembangkan komoditas unggul daerah yaitu melalui program
PIJAR. Program PIJAR merupakan singkatan dari tiga komoditi unggulan NTB
yaitu sapi, jagung, dan rumput laut yang pelaksanaannya dimulai sejak
tahun 2010.
Pengembangan jagung di NTB tersebar hampir di seluruh kabupaten dan
kota. Hal ini dikarenakan jagung merupakan komoditi pangan penting ke dua
setelah padi dilihat dari luas pertanaman dan jumlah produksi per tahun.
Berdasarkan data BPS (2011), total produksi jagung NTB terus meningkat tiap
tahunnya, yaitu sejak tahun 2006 sebesar 103.963 ton hingga tahun 2009 sebesar
308.863 ton. Walaupun terjadi penurunan produksi pada tahun 2010 namun
produktivitasnya sebesar 4,04 ton/ ha dari 3,79 ton/ ha pada tahun 2009.
Tabel 1 Luas panen, produktivitas, dan produksi jagung di Provinsi NTB
Tahun

Luas
(ha)

panen Produktivitas
(ton/ha)

Produksi
(ton)

Kebutuhan
(ton)

2005

39.380

2,45

96.458

620

2006

40.617

2,56

103.963

500

2007

42.955

2,81

120.612

600

2008

59.078

3,32

196.263

3300

2009

81.543

3,79

308.863

2100

2010

61.593

4,04

249.005

1500

Sumber : BPS 2011

Peningkatan produksi jagung di NTB dimaksudkan untuk menjadikan
NTB sebagai salah satu daerah produksi jagung nasional. Peningkatan produksi
jagung belum menjamin terjadinya peningkatan pendapatan petani yang

3
 

proporsional. Hal ini dikarenakan pendapatan usahatani jagung tidak hanya
di tentukan oleh produksi tetapi juga pada harga yang berlaku di pasar. Harga
yang responsif bagi pelaku pasar akan terealisasi jika sistim pemasarannya
efisien. Sifat jagung yang mudah rusak, serta letak sentra produksi yang jauh
dari sentra konsumsi mengakibatkan petani cendrung menjual dengan cepat.
Dilain pihak harga yang harus dibayar konsumen relatif mahal dibandingkan
harga yang diterima petani sebagai produsen yang dikarenakan produk yang
dibutuhkan konsumen sudah melalui suatu proses pemasaran dengan biaya yang
tidak kecil.
Usaha peningkatan produksi jagung perlu diimbangi dengan pemasaran
jagung yang saling menguntungkan pihak-pihak yang terlibat. Pasar jagung
melibatkan lembaga-lembaga perantara dalam upaya menjembatani pergerakan
jagung dari produsen ke konsumen. Lembaga-lembaga perantara ini melakukan
aktivitas bisnis melalui pelaksanaan fungi-fungsi pemasaran.
Adanya perilaku harga di berbagai tingkat pasar pada komoditi pertanian
relatif serupa (Adiyoga et al, 2001). Peningkatan harga jagung di tingkat produsen
dan pedagang besar cendrung meningkat secara simultan dengan jumlah yang
relatif kecil. Sebaliknya apabila terjadi penurunan harga, maka harga di tingkat
produsen (petani) cenderung menurun lebih cepat dibandingkan dengan harga di
tingkat pedagang besar. Perbedaan harga tersebut antara lain dapat dipengaruhi
oleh jenis produk yang dihasilkan dari masing-masing lembaga pemasaran yang
terlibat. Baik dalam bentuk bahan baku jagung pipilan maupun bahan jadi berupa
beras jagung dan tepung jagung yang pada akhirnya hal ini tentu saja berdampak
pada harga jual jagung. Adanya diferensiasi produk yang dihasilkan dari bahan
baku jagung menimbulkan banyak alternatif pilihan pemasaran jagung bagi
petani dan lembaga pemasaran jagung. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka
penelitian efisiensi pemasaran jagung perlu dilakukan.

1.2.

Perumusan Masalah
Jagung di pasar domestik maupun pasar dunia permintaannya terus

meningkat sejalan dengan adanya pemenuhan kebutuhan jagung sebagai pangan
dan bahan

4
 

baku industri pakan ternak, dengan demikian potensi permintaan

jagung cukup tinggi. Untuk memenui permintaan jagung tersebut, dilakukan
pengembangan pada sentra produksi jagung di seluruh Indonesia yang salah
satunya adalah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Luas panen jagung di
NTB pada tahun 2010 sebesar 61.593 ha dengan produksi sebesar 249.005 ton.
Produktivitas jagung yaitu sebesar 4,04 ton per ha masih kecil bila dibandingkan
dengan produktivitas jagung nasional sebesar 4,72 ton per ha. Selain
pengembangan jagung melalui program PIJAR, pemerintah juga berharap
program ini mampu mendukung pengembangan ternak di Provinsis NTB.
Pengembangan jagung di NTB sebagian besar diusahakan di lahan kering
dengan beberapa kendala (Cakra, 2006) antara lain teknis lapangan seperti
ketersdiaan air yang terbatas jumlahnya, dan struktur tanah. Kendala lainnya
adalah penerapan teknologi (rekomendasi teknologi), serta pemasaran hasil
jagung. Dalam sistim pemasaran jagung dari produsen ke konsumen, pelaku yang
menjembatani sistim pemasaran tersebut adalah lembaga pemasaran seperti
pedagang pengumpul hingga pengecer. Keterlibatan lembaga pemasaran ini pada
akhirnya mempengaruhi pembentukan harga jual jagung, yaitu pembentukan
harga jagung pada satu tingkat lembaga pemasaran dipengaruhi oleh harga
di tingkat lembaga pemasaran lainnya.
Pembentukan harga jagung di NTB juga didasari oleh pertimbangan harga
jagung yang berlaku di pasar internasional yang akhirnya berdampak pula pada
harga di pasar lokal. Pola pergerakan harga di pasar internasional pada
tahun 2011 (Gambar 2) terlihat belum dapat ditransmisikan dengan baik terhadap
pasar lokal di NTB. Dimana harga jagung pada pasar dunia cendrung
berfluktuasi jika dibandingkan dengan harga jagung di pasar lokal NTB
yang cendrung stabil. Belum ditransmisikannya harga dengan baik antara pasar
lokal NTB dengan pasar internasional, mengidentifikasikan sistim pemasaran
yang tidak efisien.
Efisiensi pemasaran menurut Sudiyono (2002) dapat dilakukan dengan
pendekatan SCP (Structure, Conduct, Performance). Dalam pemasaran ini, sistim
pengambilan keputusan oleh lembaga pemasaran diukur melalui jumlah penjual
dan pembeli, diferensiasi produk, hambatan masuk pasar, dan konsentrasi pasar.
Struktur pasar yang terbentuk akan berpengaruh pada perilaku pasar yaitu teradap

5
 

penjualan dan pembelian oleh lembaga pemasaran, penentuan dan pembentukan
harga, serta kerjasama antar lembaga pemasaran. Interaksi antara struktur dan
perilaku pasar tersebut pada akhirnya akan menentukan kinerja pasar. Indikator
yang digunakan adalah marjin pemasaran, farmer share, dan integrasi pasar.
Efisiensi sistim pemasaran dapat dikaji melalui efisiensi teknis (operasional) dan
efisiensi harga. Efisiensi teknis (operasional) dilakukan dengan mengukur
biaya pemasaran, marjin pemasaran, dan farmer share. Efisiensi harga dilakukan
dengan melihat integrasi pasar pada suatu lembaga pemasaran terhadap lembaga
pemasaran lainnya. Harga yang responsif bagi pelaku pasar akan terealisasi
jika sistim pemasarannya efisien. Penentuan dan pembentukan harga jagung
yang merupakan perilaku pasar akan dipengaruhi oleh struktur pasar yang
terbentuk. Perubahan harga tersebut pada akhirnya akan menentukan kinerja
pasar jagung di NTB.

Gambar 2 Harga Jagung dunia dan Provinsi NTB
(Sumber : Kemendagri 2012 dan Disperindag Provinsi NTB 2012)
Fluktuasi harga yang terjadi, akan berpengaruh pada keputusan dan
kemampuan dari lembaga pemasaran jagung yang terlibat dalam merespon
adanya perubahan harga. Penentuan dan pembentukan harga yang terjadi

6
 

berkaitan dengan perilaku pasar yang dipengaruhi oleh bagaimana struktur pasar
jagung yang terbentuk di Provinsi NTB. Perubahan harga pada masing-masing
lembaga pemasaran yang terbentuk tersebut pada akhirnya akan menentukan
kinerja pasar jagung di NTB. Selain itu, adanya penerapan suatu strategi dalam
pemasaran yang melihat kebutuhan pasar dari sisi bauran pemasaran dapat
berpengaruh pada penentuan dan pembentukan harga jagung. Namun, seberapa
besar bauran pemasaran tersebut dapat merespon pemasaran jagung yang efisien,
akan diketahui melalui analisis strategi pasar.
Jenis produk yang dominan dipasarkan berupa jagung kering pipil
sedangkan bentuk olahan lainnya berupa beras jagung dan tepung jagung
diproduksi dalam skala kecil tergantung pada permintaan. Adanya perbedaan
produk yang dihasilkan oleh lembaga pemasaran akan berpengaruh juga pada
pembentukan harga jual yang pada akhirnya membentuk margin pemasaran
yang berbeda pula di masing-masing lembaga pemasaran. Tingginya harga di
tingkat konsumen dengan harga yang diterima oleh petani yang lebih rendah
berpengaruh pada minat petani dalam memproduksi jagung, sehingga berpengaruh
pula pada produksi jagung di NTB. Oleh karena itu, pemasaran menurut
Sudiyono (2002); dan Asmarantaka (2009) akan efisien bila kegiatan tersebut
pada akhirnya dapat memberikan balas jasa yang sesuai pada semua pihak yang
terlibat hingga ke konsumen akhir. Dengan kata lain, jika terjadi efisiensi
pemasaran maka kepuasan akan tercipta dari sisi produsen, lembaga pemasaran
maupun konsumen.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan analisis efisiensi
pemasaran jagung di provinsi NTB. Adapun permasalahan yang ingin dikaji
dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana struktur dan perilaku pasar pada pemasaran jagung di NTB?
2. Bagaimana kinerja pasar pada pemasaran jagung di NTB ?
3. Strategi pemasaran bagaimanakah yang diterapkan pada lembaga pemasaran
jagung untuk meningkatkan efisiensi pemasaran?

7
 

1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Menganalisis struktur pasar dan perilaku pasar yang terbentuk pada pemasaran
jagung di NTB.
2. Menganalisis kinerja pasar yang ada pada pemasaran jagung di NTB ?
3. Mengidentifikasi strategi pemasaran jagung pada lembaga pemasaran jagung
di NTB.

1.4.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi kepada petani dan lembaga pemasaran mengenai
alternatif pola pemasaran jagung yang efisien dan mampu mengantisipasi
perubahan harga jagung yang terjadi di Provinsi NTB.
2. Memberikan informasi dalam menentukan kebijakan yang terkait dengan
pengembangan jagung dan sistim pemasarannya yang efisien guna
meningkatkan ketahanan pangan nasional.

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup :



Produk jagung yang diteliti yaitu produksi jagung dalam bentuk kering panen
hingga kering pipil.



Pada tingkat lembaga pemasaran, penelitian ini mengkaji seluruh lembaga
pemasaran jagung yang terlibat, berdasarkan alur pemasarannya.

8
 

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Perkembangan Jagung
Jagung merupakan salah satu komoditas pangan unggulan di Provinsi

NTB setelah padi. Sebagai salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki potensi
dan peluang dalam pengembangan jagung. Hal ini dikarenakan Provinsi NTB
memiliki keadaan iklim, jenis tanah dan topografi yang sangat mendukung untuk
pengembangan jagung.
Produksi jagung di Provinsi NTB pada tahun 2008 sebesar 196.263 ton
dengan luas panen sebesar 59,078 ha, meningkat pada tahun 2009 sebesar 308.863
ton dengan luas panen sebesar 81,543 ha. Akan tetapi terjadi penurunan produksi
pada tahun 2010 menjadi 249.005 ton (22 persen). Hal ini dikarenakan adanya
penurunan luas panen sebesar 24,47 persen yaitu menjadi 61.593 ha (Diperta
Provinsi NTB 2010). Penurunan luas panen tersebut dikarenakan oleh beberapa
sebab, antara lain adanya keterlambatan tanam serta gagal panen yang
dikarenakan puso pada beberapa daerah di NTB.
Pengembangan jagung di NTB sebagian besar diusahakan di lahan kering
dengan sistim tanam

monokultur, tumpang sari atau tumpang gilir dengan

tanaman cabe maupun tanaman palawija lainnya. Adapun varietas jagung yang
digunakan adalah jagung yang tahan akan kekeringan seperti lamuru, namun
banyak pula petani yang menanam jagung varietas unggulan lainnya yaitu varietas
hibrida. Untuk meningkatkan produktivitas jagung di NTB kaitannya dengan
pengembangan di lahan kering, menurut Cakra (2006) mengalami banyak kendala
antara lain secara teknis lapangan, maupun kurangnya penerapan teknologi.
Begitu pula pada pemasaran hasilnya dalam bentuk jagung kering pipil, dimana
petani selalu berada pada posisi tawar yang rendah karena harga sering kali
ditentukan oleh pedagang pengumpul. Sehingga untuk pengembangannya, perlu
di kemas dalam sistim usaha agribisnis salah satunya yaitu pemasaran.
Jagung selain diusahakan dalam bentuk jagung pipilan untuk menunjang
kebutuhan pakan ternak unggas, menurut Subandi dan Zubachtirodin (2004) juga
cukup prospektif untuk pemanfaatan hijauannya untuk pakan ternak ruminansia
(sapi). Hijauan pakan ternak jagung yaitu berupa daun, maupun batang

9
 

jagung dapat diawetkan untuk digunakan pada musim kemarau dimana
kondisi pakan terbatas. Adanya kondisi iklim NTB pada periode tertentu (musim
kemarau) maka bioma hijauan hasil sampingan tanaman jagung tersebut
mempunyai kualitas yang baik dibandingkan dengan jerami padi. Biomasa
yang dipanen pada umur 65-75 hari setelah tanam (hst) dapat menghasilkan
sebesar 70-100 ton per hektar.
Pengembangan jagung sebagai komoditas unggulan Provinsi NTB
memperoleh dukungan dari pemerintah daerah melalui program PIJAR. Program
pengembangan ini mendapat apresiasi dari masyarakat sebagai terobosan dalam
upaya meningkatkan taraf perekonomian NTB. Adapun capaian kinerja yang
diperoleh hingga tahun 2010 dibandingkan tahun 2009 menurut Munir (2010)
yaitu peningkatan luas tanam jagung mencapai hingga 60 persen dan peningkatan
produksi jagung mencapai 57,94 persen. Hal ini dikarenakan adanya perbaikan
teknologi budidaya, penggunaan benih ungggul bermutu (hibrida), serta
meningkatnya minat petani untuk menanam jagung.

2.2.

Hasil-Hasil Penelitian Sebelumnya

2.2.1. Efisiensi Pemasaran
Sistim pemasaran yang efisien menurut Mardianto et al (2005) sangat
dibutuhkan pada produk hasil pertanian guna peningkatan nilai tambah. Hal ini
terutama pada komoditas pangan yang merupakan salah satu sub sektor dalam
perekonomian pertanian.
Pemasaran jagung dalam negeri dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
akan konsumsi jagung sebagai bahan pangan selain beras maupun sebagai pakan
dan industri lainnya. Adanya ketidak efisienan dalam pemasaran menurut Ariani
(2000); dan Tobing (1989) ditentukan oleh panjang pendeknya rantai distribusi
dan besarnya biaya pemasaran yang harus dilalui oleh lembaga pemasaran
sebelumnya sampai ke konsumen. Selain itu, Effendi (1998) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa kesulitan yang dihadapi oleh petani maupun pedagang untuk
keluar masuk dalam sistim pemasaran juga merupakan suatu kendala belum
efisiennya sistim pemasaran.

10
 

Mushofa, Wahib dan Heru (2007); Siagian (1998) dalam penelitiannya
menjelaskan bahwa rendahnya harga di tingkat petani produsen yang
menyebabkan share harga yang diterima petani menjadi rendah mengindikasikan
belum tercapainya efisiensi operasional. Demikian pula dengan adanya
penyebaran marjin yang tidak merata dengan indikasi pada tingginya marjin
yang diperoleh pedagang pengecer di pasar. Hal ini juga mengindikasikan
bahwa terdapat pengeluaran biaya yang tinggi pula pada tingkat pedagang
pengecer di pasar.
Muhandoyo dan Susanto (2007) dalam penelitiannya menganalis efisiensi
pemasaran hanya melihat dari sisi marjin pemasaran. Dalam hal ini, masingmasing saluran tataniaga dianalisis secara realistis membandingkan saluran
mana yang lebih efisien secara operasional. Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa efisiensi operasional dalam sistim pemasaran dipengaruhi oleh besarnya
biaya transportasi. Dengan artian bahwa pemasaran dapat efisien apabila biaya
pemasarannya mampu ditekan, terutama biaya transportasi untuk pendistribusian
produk hingga ke konsumen.
Menurut Suherty (2009) bahwa inefisiensi pemasaran antara lain ditandai
dengan margin pemasaran yang tinggi yang disebabkan oleh panjangnya saluran
pemasaran. Dengan demikian harga yang diterima konsumen juga akan lebih
mahal. Selain itu, inefisiensi pemasaran menurut Fadhla (2008) juga di tandai
dengan integrasi pasar vertikal yang lemah, dan adanya faktor lain seperti kondisi
sarana dan prasarana transportasi, serta keadaan sosial politik yang tidak kondusif.
Akan tetapi berbeda dengan Marsiah (2009) yang mangatakan bahwa tinggginya
marjin pemasaran bukanlah suatu ukuran mutlak bahwa sistem pemasaran adalah
inefisiensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisien pemasaran menurut Ma’mun
(1985) dalam penelitiannya antara lain yaitu ukuran pasar, jumlah pedagang
borongan yang terlibat dan jumlah konsumen. Selain itu, fungsi informasi pasar
dalam sistim pemasaran merupakan faktor yang juga mempengaruhi efisiensi
pemasaran.

11
 

2.2.2. Struktur, Perilaku dan Kinerja Pemasaran
Hukama (2003) dalam penelitiannya yaitu menganalisis pemasaran
menggunakan pola pikir Structur-Conduct-Performance (SCP analysis). Belum
efisiennya pemasaran, dikarenakan saluran pemasaran yang masih panjang serta
banyaknya pelaku pasar yang terlibat. Adanya struktur pasar yang tidak sempurna
yaitu mengarah pada pasar oligopsoni dimana keluar masuk pasar masih
mengalami hambatan besar. Selain itu masih adanya kecurangan yang terjadi yaitu
dengan mencampur produk bermutu super dengan bukan super, serta adanya
pengurangan timbangan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan besar.
Disini petani ditempatkan sebagai penerima harga (price taker) berdasarkan
analisis keterpaduan pasarnya. Hal ini dikarenakan

pedagang besar masih

dominaan besar dalam menentukan harga, sehingga sebagian besar keuntungan
masih dinikmati oleh pedagang.
Nambiro et al (2001) dalam penelitiannya mengenai struktur pasar dan
perilaku industri benih jagung hibrida, menganalisis struktur pasar dari
konsentrasi pasar, diferensiasi produk, integrasi pasar, dan hambatan masuk dalam
bisnis benih jagung hibrida. Sedangkan perilaku pasar dianalisis dari perilaku para
pelaku pasar dalam penetapan harga dan kegiatan promosi. Pasar jagung di Keya
sebelum tahun 2001 adalah monopoli terhadap distribusi benih, namun setelah
tahun 2001 mulai berkurang yang dikarenakan munculnya beberapa pedagang
benih jagung (retail). Analisis struktur pasar menunjukkan bahwa distribusi harga
antara pedagang tidak merata, tidak adanya diferensiasi produk dan hambatan
masuk pasar. Berdasarkan hal tersebut, struktur pasar jagung yang terjadi
adalah oligopolistik yang ditujukkan dengan pangsa pasar sebesar 61,67 persen.
Selain itu, kurangnya kompetisi pasar yaitu adanya hambatan masuk pasar
seperti pembatasan kelembagaan dan modal awal yang tinggi. Walaupun tidak
terdapat adanya kolusi dalam penentuan harga antar pelaku pasar, namun terdapat
perilaku pasar yang kurang baik untuk memperoleh keuntungan yaitu adanya
ketidakmurnian benih pada beberapa benih jagung yang akhirnya akan
merugikan petani.
Hobbs (1997); Bailey dan Hunnicutt (2002) menjelaskan bahwa adanya
tingkat kepercayaan dan kenyamanan terhadap pasar merupakan faktor yang

12
 

mempengaruhi dalam pemilihan pasar. Dalam memasarkan produknya, produsen
mempertimbangkan biaya transaksi yang dikeluarkan. Biaya transaksi tersebut
antara lain adalah biaya informasi pada pembeli potensial, biaya negosiasi
(langsung atau lelang), monitoring, dan biaya resiko.
Hasil penelitian Natawidjaja (2001) menunjukkan bahwa pada saat terjadi
kenaikan harga di pasar konsumen, para pelaku tataniaga di sebagian besar
provinsi penghasil beras utama nasional ternyata mampu meningkatkan marjin
keuntungan yang diterimanya. Hal ini dilakukan dengan cara yaitu menangguhkan
kenaikan harga yang diterima konsumen pada harga yang seharusnya dibayarkan
kepada petani. Begitu pula sebaliknya, yaitu pada saat harga di tingkat konsumen
sedang turun, maka pelaku tataniaga juga mampu menjaga tingkat marjin
keuntungan yang sudah diterimanya. Hal ini dilakukan dengan cara mempercepat
penurunan harga beli pada petani sehingga risiko pasar dibebankan seluruhnya
pada petani.
Penelitian integrasi pasar komoditi pangan yang dilakukan oleh Fadhla et
al (2008) bertujuan menganalisis integrasi pasar dan efisiensi pemasaran pada
komoditi pangan dari aspek SCP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sisitim
pemasaran komoditi pangan tidak efisien, yang mana struktur pasarnya cenderung
mengarah pada pasar persaingan tidak sempurna. Begitu pula dengan integrasi
pasar yang terjadi masih sangat lemah. Hal ini dipengaruhi oleh panjangnya rantai
pemasaran yang ada dan adanya praktek kolusi dalam penentuan harga, serta
faktor sosial politik yang tidak kondusif.
Pengujian integrasi pasar yang dilakukan oleh Ravallion (1986) yaitu
untuk mengukur perbedaan harga produk pada suatu perdagangan. Model
keterpaduan pasar tersebut digunakan untuk mengukur bagaimana harga pasar
produksi mampu dipengaruhi oleh harga pasar konsumsi. Kemudian untuk
mengukur pengaruh harga pada suatu pasar terhadap harga pada pasar lainnya
digunakan model dari Ravallion (1986) yang kemudian dikembangkan oleh
Heytens (1986) yaitu :
Pit = (1+b1)Pit-1 + b2(Pt - Pt-1) + (b3 - b1)Pt-1 + b4X
Dimana Pit merupakan harga pada pasar i pada waktu t, dan Pt merupakan harga
pada pasar acuan pada waktu t, dan X merupakan faktor peubah lain (misalnya

13
 

musim). Jika musim diantara ke dua pasar tersebut adalah sama, maka tidak perlu
memasukkan dummy untuk musim setempat.

2.2.3. Strategi Pemasaran Jagung
Strategi

pemasaran

jagung

menurut

Muhaeming

(2011)

dalam

penelitiananya menjelaskan bahwa strategi pemasaran jagung di Kabupaten
Bantaeng didukung oleh kebijakan pemerintah berupa adanya jaminan harga
dasar pembelian, perbaikan prasarana jalan desa, pengadaan resi gudang,
penyediaan sarana teknologi pengolahan hasil, penyediaan kredit perbankan,
penerapan teknologi budidaya dan pascapanen, pencanangan sentra produksi
jagung. Hal ini antara lain dimaksudkan untuk mewujudkan Kabupaten Bantaeng
sebagai daerah sentra produksi dan terminal pemasaran jagungbertaraf dunia yang
berbasis desa mandiri.
Menurut Presetyo dan Mukson (2003) dalam penelitianya bahwa untuk
meningkatkan pemasaran khususnya produk pangan olahan, dilakukan strategi
pemasaran meliputi :
a) Strategi produk, yaitu kaitannya dengan kualitas produk yang dihasilkan baik
mutu bahan baku, proses produksi, syarat kesehatan, maupun pengemasannya.
b) Strategi harga, yaitu berdasarkan segmen pasar tujuan.
c) Strategi distribusi, yaitu menjaring kerjasama/link pemasaran sehingga
informasi dan pelayanan pada konsumen dapat terbina dengan baik.
d) Strategi promosi, yaitu memperkenalkan produknya pada konsumen. Pada
produk industri rumah tangga kegiatan ini belum banyak dilakukan
dibandingkan industri besar. Hal ini dikarenakan hambatan pada biaya
promosi yang relatif besar, dan adanya jangkauan pasar yang belum
luas/terbatas.
Berdasarkan beberapa referensi tersebut, efisiennya sistim pemasaran
dilihat

melalui

beberapa

indikator

dalam Structur-Conduct-Performance.

Penelitian efisiensi pemasaran jagung ini juga mencoba dengan menerapkan
beberapa indikator pada struktur, perilaku, dan kinerja pasar jagung serta adanya
strategi pemasaran jagung yang dimungkinkan mampu meningkatkan efisiensi
pemasaran.

14
 

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.

Kerangka Pemikiran Konseptual
Kerangka pemikiran konseptual berisi teori dan konsep kajian ilmu yang

digunakan dalam penelitian. Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian
ini antara lain adalah efisiensi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, marjin
pemasaran, dan integrasi pasar.

3.1.1. Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran menurut Kotler (2003) merupakan sekumpulan
organisasi yang saling terkait yang terlibat dalam proses menghasilkan produk
atau jasa untuk dikonsumsi atau digunakan. Menurut Levens (2010) saluran
pemasaran adalah jaringan dari semua pihak yang terlibat dalam mengalirkan
produk dari produsen kepada konsumen bisnis.
Saluran pemasaran menurut Soekartawi (2002), adalah aliran barang dari
produsen kepada konsumen. Saluran pemasaran ini dapat terbentuk secara
sederhana bahkan rumit sekali tergantung pada komoditi yang dipasarkan,
lembaga pemasarannya, serta sistim pasarnya. Sistim pemasaran yang dimaksud,
baik pada pasar

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3873 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1029 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1319 23