PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI FILM PENDEK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA ( PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
MELALUI FILM PENDEK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI
BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA
(:PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Skripsi

Skripsi
Oleh :
Triyono
K 2306041

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010

commit to user

i

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
MELALUI FILM PENDEK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI
BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA
(:PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

Oleh :
Triyono
K 2306041

Skripsi
Ditulis Dan Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Guna
Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Fisika Jurusan
Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
commit to user

ii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univesitas Sebelas Maret Surakarta.

Pada hari

:

Tanggal

:

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Rini Budiharti, M.Pd
NIP. 19582708 198403 2 003

Daru Wahyuningsih, S.Si, M.Pd
NIP. 197510032005012001

commit to user

iii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi sebagian dari persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan.

Pada hari

:

Tanggal

:

Tim Penguji Skripsi :

Ketua

: Drs. Supurwoko, M.Si

Sekretaris

: Drs. Yohanes Radiyono

Anggota I

: Dra. Rini Budiharti, M.Pd

........................
........................
........................

Anggota II : Daru Wahyuningsih, S.Si, M.Pd

Disahkan oleh
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dekan,

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd
commit to user
NIP. 19600727 198702 1 001

iv

........................

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRAK
Triyono. PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI FILM
PENDEK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN
KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA (:PENELITIAN TINDAKAN
KELAS). Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas
Sebelas Maret Surakarta, November 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) apakah penerapan
pembelajaran kontekstual melalui film pendek dapat meningkatkan motivasi belajar
fisika siswa dengan (2) apakah penerapan pembelajaran kontekstual melalui film
pendek dapat meningkatkan kemampuan kognitif fisika siswa.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus diawali tahap persiapan dan
tahap pelaksanaan siklus yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Subyek penelitian adalah siswa
kelas X.3 SMA Negeri I Wonogiri Tahun Pelajaran 2009/2010 yang dikhususkan
pada materi pokok Suhu dan Kalor sebanyak 33 siswa. Data diperoleh melalui
pengamatan, wawancara dengan guru, tes, angket dan dokumentasi. Teknik analisis
data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan
pembelajaran kontekstual melalui film pendek dapat meningkatkan motivasi belajar
fisika siswa Kelas X.3 SMA Negeri 1 Wonogiri Tahun Pelajaran 2009/2010 pada
materi pokok Suhu dan Kalor. Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan siklus I dan
siklus II. Pada siklus I pencapaian persentase indikator aspek motivasi belajar fisika
siswa sebesar 66,97% dan pada siklus II meningkat menjadi 68,95% dan telah
melampaui target yang ditetapkan yaitu pencapaian persentase indikator sebesar
60%. Untuk pencapaian aspek aktivitas belajar klasikal siswa pada siklus I sebesar
70,50% yang kemudian meningkat menjadi 78,50% pada siklus II dan telah
melampaui target yang ditetapkan yaitu pencapaian indikator sebesar 60%, (2)
penerapan pembelajaran kontekstual melalui film pendek dapat meningkatkan
kemampuan kognitif fisika siswa Kelas X.3 SMA Negeri 1 Wonogiri Tahun
Pelajaran 2009/2010 pada materi pokok Suhu dan Kalor. Hal ini dapat dilihat dalam
to user
pelaksanaan tes siklus I dan tes commit
siklus II.
Pada siklus I ketuntasan belajar siswa

v

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

sebesar 30,30% yang kemudian meningkat menjadi 66,67% pada siklus II. Untuk
target aspek kognitif yang ditetapkan adalah ketuntasan belajar siswa sebesar 60%
dengan nilai batas ketuntasan minimal 67.

commit to user

vi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRACT

Triyono. THE APPLICATION OF CONTEXTUAL TEACHING AND
LEARNING THROUGH SHORT FILMS TO IMPROVE LEARNING
MOTIVATION AND PHYSICS COGNITIVE STUDENT’S ABILITIES
(:CLASSROOM ACTION RESEARCH). Thesis, Surakarta: Teacher Training and
Education Faculty. Sebelas Maret University, November 2010

The aims of the research are to know : (1) whether the application of

contextual teaching and learning through short films can improve the students'

physics learning motivation (2) whether the application of contextual teaching and

learning through short films can improve the physics cognitive student’s abilities.
This research is a Classroom Action Research that is held in two cycles. The
cycles are started by preparation phase and execution phase that consist of action
planning, action, observation, evaluation, and reflection. The research subject is X.3
Wonogiri 1 Senior High School students in the school year of 2009/2010, which is
consist of 33 students in the subject matter Heat and Temperature. Techniques of
collecting data are observation, interview with teacher, test, questionnaire and
documentation. Descriptive qualitative technique was used to analyze the data.

Based on research results, it can be concluded that (1) the application of

contextual teaching and learning through short films can improve students' learning

motivation in the subject matter Heat and Temperature of X.3 Wonogiri 1 Senior

High School student in the school year of 2009/2010. It can be seen from execution
of cycle I and cycle II. At first cycle, the percentage attainment of student’s

learning motivation indicator aspect was 66.97% and increased became 68,95% at

second cycle. It has exceeded the target 60% which has been decided. The

attainment of student’s classical learning activities was 70,50% at first cycle and

then increased became 78,50% at second cycle. It has exceeded the target 60%

which has been decided. (2) the application of contextual teaching and learning

through short films can improve the physics cognitive student’s abilities in the
subject matter Heat and Temperature of X.3 Wonogiri 1 Senior High School

student in the school year of 2009/2010. It can be seen from execution of cycle I
commit tolearning
user
and cycle II. At first cycle, the student’s
completeness was 30,30% and

vii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

then increased became 66,67% at second cycle. It has exceeded the student’s

learning completeness target was 60% with minimum completeness limit value was

67.

commit to user

viii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

MOTTO

”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
( QS. Ar Ra’d : 11 )

”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
(QS. Al Insyirah : 5)

”Bekerja, berdoa kemudian tawakal, apapun hasilnya yakinlah itu adalah
yang terbaik dari-Nya ”. ( Penulis)

commit to user

ix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Bapak dan Ibuku tercinta, terima kasih atas doa,
pengorbanan dan perjuangannya untukku.
2. Mbak Nanik, Mas Muji, dan Mbak Tatik tersayang
3. Sahabat-sahabatku yang selalu menyemangatiku
4. Teman-teman Prodi P.Fisika angkatan 2006

commit to user

x

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan untuk memenuhi
sebagian dari persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penulisan Skripsi ini.
Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan tersebut dapat dapat
teratasi. Oleh karena itu, atas segala bentuk bantuannya, penulis mengucapkan
terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. Selaku Dekan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
memberikan izin penelitian.
2. Ibu Dra. Hj. Kus Sri Martini, M.Si. Selaku Ketua Jurusan P.MIPA Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
menyetujui permohonan penyusunan Skripsi ini.
3. Ibu Dra. Rini Budiharti, M.Pd. Selaku Ketua Program Fisika dan Dosen
Pembimbing I Program Fisika Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Ibu Daru Wahyuningsih, S.Si, M.Pd, Selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dalam penyusunan Skripsi ini.
5. Bapak Drs. H. Mulyadi, M.T selaku Kepala SMA Negeri I Wonogiri yang telah
memberikan izin untuk mengadakan penelitian.
6. Bapak Suparjo, M.Pd, selaku guru mata pelajaran Fisika SMA Negeri I
Wonogiri yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan selama penulis
melakukan penelitian.
7. Siswa-siswi kelas X.3. Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.
8.

Ibu dan Bapak yang telah memberikan do’a restu dan dorongan sehingga
penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.

9. Kakak-kakakku (Mbak Nanik dan Mbak Tatik) tercinta yang senantiasa menjadi
motivator.

commit to user

xi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

10. Sahabat-sahabatku di fisika 2006 untuk segala dukungan, persahabatan, dan
bantuannya.
11. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.
Semoga amal baik semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
Penulis menyadari sepenuhnya skripsi yang telah dikerjakan ini masih
jauh dari kesempurnaan maka penulis menerima kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penulisan di masa yang akan datang.
Akhirnya

penulis

berharap

semoga

karya

ini

bermanfaat

bagi

perkembangan ilmu pengetahuan.

Surakarta, November 2010

Penulis

commit to user

xii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL………………………………………………………......

I

HALAMAN PENGAJUAN

……………………………………………......

ii

HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………...

iii

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………..

iv

HALAMAN ABSTRAK………………………………………………………

v

HALAMAN ABSTRAC ..................................................................................

vii

HALAMAN MOTTO…………………………………………………………

ix

HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………….………………...

x

KATA PENGANTAR………………………………………….……………..

xi

DAFTAR ISI……………………………………………………….……….....

xiii

DAFTAR TABEL ............................................................................................

xvii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xix

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................

xxii

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………….….

1

A. Latar Belakang Masalah………………………………………...

1

B. Identifikasi Masalah ...………………………………………….

4

C. Pembatasan Masalah ...…………………………………………

4

D. Perumusan Masalah ...……………………………………….….

5

E. Tujuan Penelitian…………..………...…………………………

5

F. Manfaat Penelitian…….. …………... …………………………

5

BAB II. LANDASAN TEORI …................................................................

7

A. Kajian Teori………………………………………....................

7

1. Pembelajaran Fisika…………………………………………

7

2. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Fisika………………

8

a. Pendekatan Kontekstual…………………………………..

8

b. Metode Diskusi……………………………………………

13

3. Media Pembelajaran ………………………………………..

14

a. Film Pendek ……………………………………………….
commit to user
b. Microsoft Powerpoint………………………………………

15

xiii

16

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

4. Tinjauan Tentang Motivasi………………………………….

17

a. Pengertian Motivasi ………………………………………

17

b. Interaksi Antara Motivasi dan Aktivitas Belajar …………

18

c. Teknik Untuk Menimbulkan Motivasi Belajar …………..

19

5. Kemampuan Kognitif Fisika ………………………………

20

a. Pengetahuan/Ingatan ……………………………………

20

b. Pemahaman ………………………………………………

21

c. Penerapan/Aplikasi ………………………………………

21

d. Analisis……………………………………………………

21

e. Sintesis ……………………………………………………

21

f. Evaluasi …………………………………………………...

21

6. Konsep Suhu dan Kalor ……………………………………

22

a. Suhu dan Termometer ……………………………………

22

b. Pemuaian …………………………………………………

23

c. Kalor ……………………………………………………..

27

B. Penelitian yang Relevan…………………………………........

33

C. Kerangka Berpikir ...…………………………………………..

34

D. Hipotesis Tindakan ...………………………………………....

36

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…………………………………

37

A. Setting Penelitian …………………………………………….

37

1. Tempat Penelitian………………………………………….

37

2. Waktu Penelitian …………………………………………..

37

B. Subjek Penelitian ...……………………………………………

37

C. Data dan Sumber Data ...……………………………………..

37

D. Variabel Penelitian ……………………………………………

38

1. Variabel Bebas …………………………………………….

38

2. Variabel Terikat ……………………………………………

39

E. Teknik dan Instrumen Penelitian ……………………………..

39

1. Teknik Pengumpulan Data …………………………………

39

a. Nilai Tes ………………………………………………
commit to user
b. Observasi ……………………………………………..

xiv

39
39

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

c. Wawancara ……………………………………………

40

d. Kajian Dokumentasi …………………………………..

40

e. Angket …………………………………………………

40

2. Instrumen Penelitian ………………………………………

40

a. Instrumen Pembelajaran ………………………………

40

b. Instrumen Penilaian ……………………………………

40

1). Instrumen Kemampuan Kognitif …………………..

41

2). Instrumen Angket Motivasi ………………………..

45

3). Instrumen Observasi Aktivitas Siswa ………………

47

F. Teknik Pemeriksaan Validitas Data ………………………….

48

G. Teknik Analisis Data …………………………………………

49

H. Indikator Kinerja ……………………………………………..

50

I. Prosedur Penelitian ……………………………………………

51

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………………

55

A. Deskripsi Kondisi Awal ……………………………………...

55

B. Deskripsi Hasil Siklus I ………………………………………

59

1. Perencanaan Tindakan I ……………………………………

59

2. Pelaksanaan Tindakan I ……………………………………

60

3. Observasi Tindakan I ………………………………………

63

4. Refleksi Tindakan I ………………………………………..

68

C. Deskripsi Hasil Siklus II ...……………………………………

73

1. Perencanaan Tindakan II …………………………………..

73

2. Pelaksanaan Tindakan II …………………………………..

74

3. Observasi Tindakan II ……………………………………..

77

4. Refleksi Tindakan II ……………………………………….

81

D. Pembahasan …………………………………………………..

87

BAB V. Simpulan, Implikasi, dan Saran …………………………………..

90

A. Simpulan……………………………………………………..

90

B. Implikasi ...……………………………………………………..

90

C. Saran ...…………………………………………………………
commit to user
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

91

xv

92

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

LAMPIRAN.....................................................................................................

95

PERIZINAN ...................................................................................................

310

commit to user

xvi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 2.1

Perbandingan Antar Skala Pada Termometer

23

Tabel 3.1

Indikator Keberhasilan Siklus

50

Tabel 4.1

Persentase Ketercapaian Indikator Motivasi Belajar Fisika

56

Pada Kondisi Pra Siklus
Tabel 4.2

Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas Klasikal Siswa

57

Pada Observasi Pra Siklus
Tabel 4.3

Persentase Ketercapaian Indikator Angket Motivasi Belajar

64

Fisika Siswa Siklus I
Tabel 4.4

Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas Klasikal Siswa

65

Pada Observasi Siklus I
Tabel 4.5

Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas Siswa dalam

66

Diskusi Kelompok Pada Observasi Siklus I
Tabel 4.6

Aspek Ketuntasan Belajar Siswa Pada Siklus I

68

Tabel 4.7

Perbandingan Persentase Ketercapaian Indikator Motivasi

69

Belajar Fisika Siswa Pada Observasi Pra Siklus Dengan
Observasi Siklus I
Tabel 4.8

Perbandingan Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas

70

Klasikal Siswa Pada Observasi Pra Siklus Dengan
Observasi Siklus I
Tabel 4.9

Persentase Rata-rata Ketercapaian Tes Kognitif Siklus I

72

Tabel 4.10

Persentase Ketercapaian Indikator Angket Motivasi

77

Belajar Fisika Siswa Siklus II
Tabel 4.11

Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas Klasikal Siswa

78

Pada Observasi Siklus II
Tabel 4.12

Persentase Ketercapain Indikator Aktivitas Siswa Dalam

79

Diskusi Kelompok Pada Observasi Siklus II
Tabel 4.13

Aspek Ketuntasan Belajar Siswa Pada Siklus II

80

Tabel 4.14

Perbandingan Persentase Ketercapaian Indikator Motivasi
commit
to user
Belajar Fisika Siswa
Pada
Observasi Siklus I Dengan

81

xvii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Siklus II
Tabel 4.15

Perbandingan Persentase Ketercapaian Indikator Aktivita

83

Klasikal Siswa Pada Observasi Siklus I Dengan Observasi
Siklus II
Tabel 4.16

Perbandingan Persentase Ketercapaian Indikator Aktivitas

85

Siswa Dalam Diskusi Kelompok Pada Observasi Siklus I
Dengan Observasi Siklus II
Tabel 4.17

Persentase Rata-rata Ketercapaian Tes Kognitif Siklus II

86

Tabel 4.18

Persentase Ketercapaian Rata-rata Tiap Aspek Antar Siklus

88

commit to user

xviii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1

Termometer Raksa

22

Gambar 2.2

Grafik Penyusutan Volume Air saat Peristiwa Anomali

26

Gambar 2.3

Diagram Perubahan Wujud Zat

29

Gambar 2.4

Perubahan Wujud Yang Dialami Air Dalam Tiga Fase

29

Gambar 2.5

Grafik Hubungan Kalor Terhadap Perubahan Wujud Zat

31

Gambar 2.6

Rambatan Kalor Secara Konduksi

31

Gambar 2.7

Arus Konveksi Pada Air yang Dipanaskan

33

Gambar 2.8

Skema Kerangka Pemikiran

36

Gambar 3.1

Skema Pemeriksaan Validitas Data

48

Gambar 3.2

Skema Analisis Data

50

Gambar 3.3

Skema Prosedur Penelitian

54

Gambar 4.1

Tampilan Blog Bapak Sukarjo

56

Gambar 4.2

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

57

Motivasi Belajar Fisika Siswa Pada Observasi Pra Siklus
Gambar 4.3

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

58

Aktivitas Klasikal Siswa Pada Observasi Pra Siklus
Gambar 4.4

Termometer Yang Dimasukkan Dalam Gelas Beker

60

Gambar 4.5

Tampilan Slide Tentang Rel Kereta Api

61

Gambar 4.6

Tampilan Film Pendek Tentang Pemuaian Pada Bola Besi

61

Gambar 4.7

Tampilan Film Pendek Tentang Bimetal

62

Gambar 4.8

Tampilan Film Pendek Tentang Pemuaian Gas

63

Gambar 4.9

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

64

Angket Motivasi Belajar Fisika Siswa Siklus I
Gambar 4.10

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

65

Aktivitas Klasikal Siswa Pada Observasi Siklus I
Gambar 4.11

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator
Aktivitas Siswa Dalam Diskusi Kelompok Pada Observasi
commit to user

xix

67

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Siklus I
Gambar 4.12

Diagram Pie Aspek Ketuntasan Belajar Siswa Dalam

68

Pembelajaran Pada Siklus I
Gambar 4.13

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketercapaian

69

Indikator Angket Motivasi Belajar Fisika Siswa Pada
Observasi Pra Siklus Dengan Siklus I
Gambar 4.14

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketercapaian

71

Indikator Aktivitas Klasikal Siswa Pada Observasi Pra
Siklus Dengan Siklus I
Gambar 4.15

Tampilan Film Pendek Mengenai Peristiwa Mencair

75

Gambar 4.16

Tampilan Film Pendek Mengenai Peristiwa Konduksi

76

Gambar 4.17

Tampilan Film Pendek Mengenai Proses Terjadinya Angin

76

Laut
Gambar 4.18

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

78

Angket Motivasi Belajar Fisika Siswa Siklus II
Gambar 4.19

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

79

Aktivitas Klasikal Siswa pada Observasi Siklus II
Gambar 4.20

Diagram Batang Persentase Ketercapaian Indikator

80

Aktivitas Siswa Dalam Diskusi Kelompok Pada Observasi
Siklus II
Gambar 4.21

Diagram Pie Aspek Ketuntasan Belajar Siswa Dalam

81

Pembelajaran Pada Siklus II
Gambar 4.22

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketercapaian

82

Indikator Angket Motivasi Belajar Fisika Siswa Pada
Observasi Siklus I Dengan Siklus II
Gambar 4.23

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketercapaian

84

Indikator Aktivitas Klasikal Siswa Pada Observasi Siklus I
Dengan Siklus II
Gambar 4.24

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketercapaian
Indikator Aktivitas Diskusi Kelompok Pada Observasi
to user
Siklus I Dengancommit
Siklus II

xx

85

perpustakaan.uns.ac.id

Gambar 4.25

digilib.uns.ac.id

Diagram Batang Perbandingan Persentase Ketuntasan
Belajar Siswa Pada Observasi Siklus I Dengan Siklus II

commit to user

xxi

86

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN
Hal
Lampiran 1

Jadwal Penelitian

95

Lampiran 2

Satuan Pelajaran

96

Lampiran 3

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I

121

Lampiran 4

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II

127

Lampiran 5

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III

134

Lampiran 6

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IV

140

Lampiran 7

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran V

147

Lampiran 8

Lembar Kerja Siswa (LKS) I

153

Lampiran 9

Kunci LKS I

157

Lampiran 10

Lembar Kerja Siswa (LKS) II

160

Lampiran 11

Kunci LKS II

166

Lampiran 12

Lembar Kerja Siswa (LKS) III

170

Lampiran 13

Kunci LKS III

176

Lampiran 14

Lembar Kerja Siswa (LKS) IV

178

Lampiran 15

Kunci LKS IV

184

Lampiran 16

Lembar Kerja Siswa (LKS) V

186

Lampiran 17

Kunci LKS V

191

Lampiran 18

Kisi-Kisi Try Out Angket Motivasi Belajar Fisika

193

Lampiran 19

Soal Try Out Angket Motivasi Belajar Fisika

194

Lampiran 20

Kisi-Kisi Try Out Tes Kemampuan Kognitif Fisika

198

Lampiran 21

Soal Try Out Tes Kemampuan Kognitif Fisika

201

Lampiran 22

Lembar Jawab Try Out Tes Kemampuan Kognitif Fisika

215

Lampiran 23

Kunci Try Out Tes Kemampuan Kognitif Fisika

216

Lampiran 24

Kisi-Kisi Angket Motivasi Belajar Fisika

217

Lampiran 25

Soal Angket Motivasi Belajar Fisika

218

Lampiran 26

Analisis Try Out Angket Motivasi Belajar Fisika

220

Lampiran 27

Kisi-Kisi Tes Kemampuan Kognitif Siklus I

227

Lampiran 28

Soal Tes Kemampuan
commitKognitif
to user Siklus I

229

xxii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Lampiran 29

Lembar Jawab Tes Kemampuan Kognitif Siklus I

239

Lampiran 30

Kunci Tes Kemampuan Kognitif Siklus I

240

Lampiran 31

Kisi-Kisi Tes Kemampuan Kognitif Siklus II

241

Lampiran 32

Soal Tes Kemampuan Kognitif Siklus II

243

Lampiran 33

Lembar Jawab Tes Kemampuan Kognitif Siklus II

252

Lampiran 34

Kunci Tes Kemampuan Kognitif Siklus II

253

Lampiran 35

Ringkasan Hasil Wawancara Awal

254

Lampiran 36

Nilai Optik Siswa Kelas X3 (Pra Siklus)

256

Lampiran 37

Hasil Observasi Awal (Pra Siklus)

257

Lampiran 38

Daftar Kelompok Diskusi Siswa Kelas X3

258

Lampiran 39

Lembar Observasi Aktivitas Klasikal Siswa Pra Siklus,

260

Siklus I, dan Siklus II
Lampiran 40

Lembar Observasi Aktivitas Diskusi Kelompok Siklus I-II

263

Lampiran 41

Hasil Observasi Aktivitas Klasikal Siswa Siklus I & II

265

Lampiran 42

Hasil Observasi Aktivitas Diskusi Kelompok Siklus I & II

271

Lampiran 43

Analisis Angket Motivasi Belajar Pra Siklus

277

Lampiran 44

Analisis Angket Motivasi Belajar Siklus I

282

Lampiran 45

Analisis Angket Motivasi Belajar Siklus II

287

Lampiran 46

Analisis Try Out Tes Kemampuan Kognitif

292

Lampiran 47

Analisis Tes Kemampuan Kognitif Siklus I

298

Lampiran 48

Analisis Tes Kemampuan Kognitif Siklus II

303

Lampiran 49

Denah Tempat Duduk Siswa Kelas X3

308

Lampiran 50

Dokumentasi

309

commit to user

xxiii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sektor yang sangat menentukan kualitas hidup
suatu bangsa. Tinggi rendahnya kualitas suatu bangsa dapat diukur dari tingkat
pendidikan warga negaranya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kegagalan
pendidikan berimplikasi pada gagalnya suatu bangsa, dan keberhasilan pendidikan
secara otomatis membawa keberhasilan suatu bangsa. Oleh sebab itu, untuk
memperbaiki kehidupan suatu bangsa, harus dimulai dari penataan dalam segala
aspek dalam pendidikan, mulai dari aspek tujuan, sarana, pembelajaran,
manajerial, dan aspek lain yang secara langsung maupun tidak langsung
berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran.
Pembelajaran merupakan bagian atau elemen yang memiliki peran sangat
dominan

untuk

mewujudkan

pendidikan

yang

berkualitas.

Sebaliknya,

pembelajaran juga memiliki pengaruh yang menyebabkan kualitas pendidikan
menjadi rendah, artinya pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan guru
dalam melaksanakan atau mengemas proses pembelajaran. Pembelajaran yang
dilaksanakan secara baik dan tepat akan memberikan kontribusi sangat dominan
bagi siswa, sebaliknya pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara yang tidak
baik akan menyebabkan potensi siswa sulit dikembangkan atau diberdayakan.
Dewasa ini proses pembelajaran dituntut selalu menyesuaikan dengan
dinamika masyarakat, karena pembelajaran yang statis dan konvensional
cenderung membuat siswa bosan dan tidak memiliki motivasi untuk belajar. Suatu
pembelajaran akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya,
bukan mengetahuinya. Demikian sehingga diperlukan terobosan baru dalam
pembelajaran yang memungkinkan guru untuk mengajarkan suatu materi kepada
siswa dengan menarik.
Salah

satu

pembelajaran

yang

berorientasi

hal

tersebut

adalah

pembelajaran kontekstual. Wina Sanjaya (2008 : 255) berpendapat, “Contextual
to user
Teaching and Learning (CTL)commit
adalah
suatu strategi pembelajaran yang

1

perpustakaan.uns.ac.id

2
digilib.uns.ac.id

menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat
menekankan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan
mereka”.
Selain itu setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar.
Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter dalam Wina Sanjaya
(2008:262) dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe
gaya belajar siswa yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetis. Tipe visual adalah
gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan
cara menggunakan indra penglihatan. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan
cara menggunakan alat pendengarannya. Sedangkan tipe kinestetis adalah tipe
belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.
Sebagai fasilitator pembelajaran, guru hendaknya mampu berinovasi dan
berkreasi dalam rangka merancang suatu pembelajaran yang menarik dan
bermakna bagi siswa. Sesuai tuntutan perkembangan teknologi, guru hendaknya
mampu mengembangkan pembelajaran yang memanfaatkan media komputer
sebagai sarana untuk menampilkan konsep-konsep fisika yang abstrak menjadi
terlihat konkret. Guru dapat memanfaatkan
1 program Macromedia Flash 8 untuk
membuat animasi-animasi fisika. Guru juga dapat memanfaatkan program GOM
Player dan Windows Media Classic untuk menampilkan film pendek dalam
pembelajaran fisika. Sehingga dengan memanfaatkan dua program di atas
diharapkan siswa akan lebih tertarik dan mudah memahami konsep-konsep fisika.
Media film pendek merupakan media yang mampu mengkombinasikan
dua gaya belajar yaitu tipe visual dan auditorial. Dengan film pendek, siswa
mampu melihat dan mendengar suatu kejadian fisika yang tidak dapat ditampilkan
media lainnya. Melalui film pendek dapat ditampilkan ilustrasi yang konkret
tentang sebuah konsep dan aplikasi dari sebuah materi fisika yang sebelumnya
kelihatan abstrak sehingga dari situ kemampuan siswa dalam memahami sebuah
fenomena fisika dapat lebih baik
Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh banyak faktor,
commit(dalam
to userdiri) dan faktor ekstern ( luar diri/
secara garis besar adalah faktor intern

3
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

lingkungan). Faktor intern berasal dari dalam diri individu masing-masing, hal itu
berupa kemauan ataupun kemampuan yang lain dari individu tersebut yang dapat
mengendalikannya. Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar, hal
tersebut dapat berasal dari lingkungan sekitar, baik lingkungan keluarga,
masyarakat bahkan bisa berasal dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri.
Dalam kaitannya dengan faktor intern, contoh yang mudah dilihat adalah
adanya motivasi. Seperti yang dikemukakan Mc Donald dalam Sardiman
(2010:74) bahwa motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi
yang ada pada diri manusia untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Sehingga untuk belajar secara rutin, siswa memerlukan motivasi dari dalam
dirinya. Sedangkan untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, guru harus
pintar-pintar untuk memberikan rangsangan. Dan salah satu rangsangan yang
dapat diberikan adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang menarik, yang
menggugah rasa ingin tahu siswa dan menghadirkan suasana yang menyenangkan
dalam kegiatan belajar mengajar.
SMAN 1 Wonogiri adalah salah satu sekolah favorit di wilayah Kabupaten
Wonogiri sehingga sebagian besar siswanya merupakan siswa-siswa yang
memiliki nilai ujian nasional di atas rata-rata. Kendati demikian, dari hasil
wawancara dengan guru kelas X di SMAN 1 Wonogiri dan observasi di kelas X3
yang dilakukan peneliti, diperoleh suatu fakta tentang permasalahan yang terjadi
di kelas tersebut. Adapun permasalahan adalah sebagai berikut:
1. Kurang tertariknya siswa terhadap mata pelajaran fisika. Ini disebabkan
paradigma mereka bahwa fisika adalah pelajaran yang membosankan karena
identik dengan menghitung dan menghafal rumus.
2. Kurang optimalnya pemanfaatan media pembelajaran oleh guru fisika. Dalam
mengajar guru terbiasa menggunakan media powerpoint untuk menjelaskan
materi. Tetapi penggunaan media ini hanya bersifat informatif artinya hanya
berisi tulisan tentang materi tanpa disertai animasi yang menarik perhatian
siswa.

commit to user

4
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran Fisika. Hal ini
ditunjukkan oleh sikap siswa yang enggan bertanya maupun menjawab
pertanyaan guru
4. Metode guru dalam mengajar yang sering berceramah pasif membuat
pembelajaran kurang menarik.
5. Rendahnya kemampuan kognitif fisika siswa. Hal ini diperkuat dengan tingkat
ketuntasan siswa kelas X3 hanya sebesar 12,12% untuk materi alat-alat optik
dengan batas ketuntasan minimal 67.
Oleh karena itu, dari uraian permasalahan tersebut, peneliti mencoba untuk
mengatasinya dengan mengajukan judul penelitian ”Penerapan Pembelajaran
Kontekstual Melalui Film Pendek Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Dan Kemampuan Kognitif Fisika Siswa (:Penelitian Tindakan Kelas)”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
dapat diidentifikasi masalah-masalah yang timbul sebagai berikut:
1. Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan
warga negaranya.
2. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik dapat memberikan hasil belajar
yang baik bagi siswa.
3. Inovasi dan kreativitas guru dalam memanfaatkan media komputer diperlukan
agar pembelajaran menjadi lebih menarik.
4. Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern.
5. Salah satu faktor intern tersebut adalah motivasi

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan dapat mencapai sasaran, maka penulis
membatasi permasalahan penelitian ini pada :
1. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X3 SMAN 1 Wonogiri Tahun
Pelajaran 2009/2010.

commit to user

5
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2. Pembelajaran fisika yang diterapkan adalah pendekatan kontekstual dengan
metode diskusi.
3. Media pembelajaran yang dipakai adalah microsoft powerpoint dan film
pendek.
4. Faktor intern yang diteliti adalah motivasi siswa.
5. Indikator keberhasilan proses pembelajaran fisika diukur dengan peningkatan
motivasi belajar fisika dan kemampuan kognitif fisika siswa.
6. Materi pelajaran dibatasi pada pokok bahasan suhu dan kalor.

D. Rumusan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah
dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah penerapan pembelajaran kontekstual melalui film pendek dapat
meningkatkan motivasi belajar fisika siswa ?
2. Apakah penerapan pembelajaran kontekstual melalui film pendek dapat
meningkatkan kemampuan kognitif fisika siswa ?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan dan pembatasan masalah

yang telah

dikemukakan di depan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Meningkatan motivasi belajar fisika siswa melalui pembelajaran kontekstual
melalui film pendek.
2. Meningkatan kemampuan kognitif fisika siswa melalui pembelajaran
kontekstual melalui film pendek.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti :
Untuk memecahkan masalah yang diteliti.

commit to user

6
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2. Bagi Guru
Memberikan pengalaman dan wawasan baru dalam proses pembelajaran
konstektual melalui film pendek dan penelitian tindakan kelas.
3. Bagi Siswa
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi
belajar dan kemampuan kognitif fisika siswa yang terlibat dalam kegiatan
penelitian.
4. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi
pengembangan sekolah, utamanya untuk peningkatan kualitas proses
pembelajaran di sekolah.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Fisika

Fisika adalah bagian dari sains, di mana sains merupakan hasil
serangkaian proses ilmiah yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep dari
interaksi manusia dengan lingkungannya. Proses yang dimaksud meliputi
penyelidikan, penyusunan, dan pengajuan gagasan-gagasan. Pelajaran sains
(termasuk fisika) berkaitan dengan kegiatan mengumpulkan data, mengamati,
mengukur, menghitung, menganalisis, mencari hubungan antara dua kejadian, dan
menghubungkan konsep-konsep. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang
konseptual untuk mempelajarinya, sebab sains berkaitan langsung dengan faktafakta, konsep-konsep, teori, prinsip, dan hukum alam. Sehingga kemampuan
menalar sangat diperlukan untuk mempelajari sains (termasuk fisika).
Menurut Piaget, pengetahuan datang dari tindakan (Suparno, 2001).
Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa aktif anak
memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Perkembangan kognitif bukan
merupakan akumulasi dari kepingan informasi terpisah, namun lebih merupakan
pengkonstruksian oleh siswa untuk memahami lingkungan mereka. Sehingga
dalam pembelajaran fisika, guru seharusnya hadir sebagai fasilitator bagi siswa
dalam mengkonstruksi pemahaman dan pengetahuannya. Karena belajar fisika
akan menarik jika penyajiannya melibatkan siswa secara aktif baik dari segi
mental maupun fisik dan bersifat nyata (kontekstual).
Pembelajaran fisika memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kemampuan penyelidikan secara sistematis, memahami konsep
dan hubungan antar konsep berdasarkan fakta dalam kehidupan sehari-hari, serta
mampu berkomunikasi dengan menggunakan terminologi dan penyajian ilmiah.
Dengan demikian, pembelajaran fisika memberikan kesempatan seluas-luasnya
commit to user
kepada siswa untuk mencari, mempertanyakan, dan mengeksplorasi pengetahuan.

7

8
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Untuk membangkitkan ketakjuban, antusiasme, dan keingintahuan siswa
dalam belajar fisika, berbagai model pembelajaran dapat diterapkan. Adapun yang
dimaksud dengan model pembelajaran adalah sebuah rencana/pola yang
mengorganisasi pembelajaran dalam kelas dan menunjukkan cara penggunaan
materi pembelajaran (buku, video, komputer, bahan dan alat praktikum). Model
pembelajaran yang diterapkan dimaksudkan untuk membantu siswa menggali
informasi,

ide-ide,

keterampilan,

nilai-nilai,

serta

cara

berpikir

dan

mengekspresikan diri mereka sendiri. Dengan demikian, hasil akhir yang
terpenting dari pembelajaran adalah peningkatan kemampuan siswa untuk belajar
lebih mudah dan efektif di masa depan, baik karena pengetahuan dan
keterampilan yang telah mereka miliki maupun karena mereka telah menuntaskan
proses-proses belajar.

2. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Fisika

a. Pendekatan Kontekstual

1) Latar Belakang Penggunaan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching

and Learning atau CTL)
Suatu pembelajaran akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Salah satu pembelajaran yang berorientasi
hal tersebut adalah pembelajaran kontekstual. Di mana pengertian dari
pembelajaran kontekstual tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
Elaine Johnson (2002: 58) menyatakan CTL adalah sebuah sistem yang
merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL
adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan
makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari
kehidupan sehari-hari siwa.
Wina Sanjaya (2008: 255) berpendapat, “Contextual Teaching and
Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menekankan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi nyata sehingga mendorong
commit
to user
siswa untuk dapat menerapkannya
dalam
kehidupan mereka”.

9
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Ada tiga konsep dasar dalam pembelajaran kontekstual yaitu :
Pertama, CTL menekankan kepada proses peningkatan siswa untuk
menemukan materi, artinya proses belajar diorentasikan pada proses
pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak
mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses
mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong
agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan
situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan,
artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang
dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya
dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun strategi-strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pendekatan
kontekstual adalah CBSA, Pendekatan Proses, Life Skill Education, Authentic
Instruction, Inquary Based Learning, Problem Based Learning, Cooperative
Learning dan Service Learning". Dalam hal ini pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual akan dijabarkan dengan metode diskusi dan tanya
jawab. Diskusi merupakan penerapan pada komponen masyarakat belajar dan
tanya jawab merupakan penjabaran dari komponen bertanya (question) pada
pendekatan kontekstual.
Konsep kontekstual ditempatkan dari pemikiran abstrak ke konkret di
dalam pembelajaran untuk membantu guru-guru menghubungkan isi mata
pelajaran dengan situasi sebenarnya dan memotivasi siswa untuk membuat
hubungan-hubungan antara pengetahuan serta penerapannya dalam kehidupan
mereka.

Pembelajaran

kontekstual

diartikan

pembelajaran

penemuan,

pembelajaran berdasarkan pengalaman, pendidikan dunia nyata, pembelajaran
aktif, dan pembelajaran yang berdasarlkan instruksi untuk memepertunjukkan
ide-ide yang sama. Pembelajaran kontekstual adalah salah satu pendekatan
pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan
commit
userdan lebih bermakna karena siswa
dalam proses belajar agar kelas
lebih to
hidup

10
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Di sini diartikan bahwa proses
pembelajaran kontekstual diharapkan berjalan secara ilmiah dalam bentuk
kegiatan siswa dan mengalami sendiri, sedangkan guru hanya mengarahkan
dan layak mendengarkan apa yang disampaikan siswa-siswanya. Hasil
pembelajaran kontekstual diharapkan lebih bermakna bagi siswa untuk
memecahkan persoalan, berpikir kritis, sehingga dengan konteks itu siswa
diharapkan mampu menggali makna sendiri atas suatu konsep dalam materi,
sehingga apa yang terpikirkan lebih tahan lama di benak siswa dibandingkan
dengan siswa yang hanya sekedar menghafal.
2) Komponen-Komponen Dalam Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu :
a)

Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan
kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan
tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,
konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus
mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata.Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses
"mengkonstruksi"

bukan

"menerima"

pengetahuan.

Dalam

proses

pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui
keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat
kegiatan, bukan guru.
b)

Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Langkah – langkah kegiatan menemukan (inquiry),
yaitu (1) merumuskan masalah, (2) mengamati atau observasi, (3)
menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, laporan,
bagan, table, dan karya lain, (4) merumuskan masalah, (5) mengamati atau
observasi.
commit to user

11
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c)

Bertanya (Questining)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis
kontekstual. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari
bertanya. Manfaat kegiatan bertanya bermanfaat dalam pembelajaran
adalah: (1) mengecek pemahaman siswa, (2) membangkitkan respon pada
siswa, (3) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, (4) mengetahui
hal–hal yang sudah diketahui siswa, (5) menfokuskan perhatian siswa pada
sesuatu yang dikehendaki guru. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika
siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan,
ketika

mengamati,

dan

sebagainya.

Kegiatan-kegiatan

itu

akan

menumbuhkan dorongan untuk "bertanya".
d)

Masyarakat belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pemelajaran
diperoleh dari kerjasam dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari
‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang
belum tahu, sehingga dalam pembelajaran kontekstual guru disarankan
untuk melaksanakan dalam bentuk kelompok belajar. Masyarakat belajar
biasa terjadi apabila ada proses komunikasi pembelajaran saling belajar.
Seseorang yang terlibat dalam masyarakat belajar, informasi yang
diperoleh dari teman berbicaranya dan sekaligus juga meminta informasi
yang diperlukan dari teman belajarnya.

e)

Permodelan (Modelling )
Pada saat pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu
berlangsung, sebaiknya ada model yang dapat ditiru. Model itu biasa
berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi contoh cara
mengerjakan sesuatu, dengan demikian guru memberi “model” tentang
bagaimana cara belajar
Dalam pembelajaran kontekstual atau CTL, guru bukan satu-satunya
model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa
ditunjuk untuk memberikan contoh mendemonstrasikan keahliannya.
to user
Siswa "contoh" tersebut commit
dikatakan
sebagai model. Siswa lain dapat

perpustakaan.uns.ac.id

12
digilib.uns.ac.id

menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus
dicapainya, model juga dapat didatangkan dari luar.
f)

Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajarinya atau
berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu.
Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan
yang baru diterimanya, dengan demikian siswa merasa memperoleh
sesuatu yang berguna bagi dirinya. Realisasi dalam pembelajaran berupa:
(1) rangkuman tentang apa yang dipelajarinya; (2) catatan atau jurnal di
buku siswa; (3) kesan dan saran tentang pembelajaran hari itu; (4) diskusi;
(5) hasil karya.

g) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data

yang biasa

memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Kemajuan belajar
siswa dalam penilaian yang sebenarnya adalah diambil dari proses, dan
bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya.
Adapun karakteristik authentic assessment adalah: (1) dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; (2) bisa digunakan
untuk formatif dan sumatif; (3) mengukur keterampilan dan performansi
yang dimiliki siswa, dan bukan hanya mengingat faktanya saja; (4)
berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat digunakan sebagai umpan
balik (feed back).
3) Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran
kontekstual jika menerapkan ke-tujuh komponen pembelajaran kontekstual.
Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum
apa saja. Bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.
Penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar langkahnya adalah sebagai berikut: (1)
Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
commit
to user sendiri dan mengkonstruksikan
dengan cara bekerja sendiri,
menemukan

13
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; (2) Melaksanakan kegiatan
inkuiri sejauh mungkin untuk semua topik; (3) Mengembangkan sifat ingin
tahu siswa dengan bertanya; (4) Menciptakan "masyarakat belajar" (belajar
dalam

kelompok);

(5)

Menghadirkan

"model"

sebagai

contoh

pembelajaran; (6) Melakukan refleksi di akhir pembelajaran; (7)
Melakukan penilaian yang sebenarnya (Depdiknas, 2003: 10).

b. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah model pembelajaran dengan pembicaraan
kelompok yang bersifat edukatif, reflektif, terstruktur dengan dan bersama siswa
lain (Kindvatter, Wilen, Ishler, 1990: 278). Intinya adalah pembicaraan, di mana
siswa dengan siswa mengadakan pembicaraan, saling tukar gagasan dan ide
dengan yang lain; bahkan dapat juga saling bertukar perasaan.
Diskusi adalah pembicaraan yang bersifat edukatif, artinya demi tujuan
tertentu sesuai dengan arah yang ingin dicapai. Dalam diskusi bukan hanya
pembicaraan santai biasa tanpa tujuan, tapi ada persoalan yang akan dibicarakan
bersama atau ingin dipecahkan bersama. Diskusi bersifat reflektif, artinya
pembicaraan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif tentang persoalan
yang ada, sehingga akan keluar gagasan yang lebih mendalam dan rasional.
Diskusi juga bersifat terstruktur, artinya jalannya diskusi itu diatur,
diarahkan oleh seorang pemimpin yang dapat berasal dari guru atau siswa itu
sendiri. Sehingga diharapkan hasil diskusi akan mengarah pada topik atau tujuan
yang hendak dicapai.
Diskusi dengan siswa-siswa lain adalah cara yang baik untuk
mengungkapkan pengetahuan siswa (Farmer, 1985). Diskusi dengan teman lain
t

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23