Penerapan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SD Negeri Ciherang 01: penelitian tindakan kelas

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI
SISWA SD NEGERI CIHERANG 01
( Penelitian Tindakan Kelas )

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan Islam

oleh :
AMINAH
NIM : 1810011000008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI )
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PAI
SISWA SD NEGERI CIHERANG 01
( Penelitian Tindakan Kelas )

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan Islam

oleh :
AMINAH
NIM : 1810011000008
Di bawah Bimbingan

(Tanenji, MA)
NIP: 19720712 199803 1004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI )
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Aminah

NIM

: 1810011000008

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam (PAI)

Fakultas

: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa

skripsi

yang

berjudul

“Penerapan

Metode

Pembelajaran

Kontekstual Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri
Ciherang 01” adalah benar hasil karya saya sendiri di bawah bimbingan dosen:
Nama

: Tanenji, MA.

NIP

: 19720712 199803 1004

Jurusan/Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta,

Juli 2014

Yang Menyatakan

Materi 6000

Aminah
NIM: 1810011000008

LEMBAR PENGESAHAN BIMBINGAN SKRIPSI

Skripsi berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Kontekstual Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri Ciherang 01”, disusun
oleh Aminah, NIM : 1810011000008, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Setelah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang
berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang ditetapkan
oleh fakultas.

Jakarta, Juli 2014
Yang Mengesahkan
Dosen Pembimbing

(Tanenji, MA)
NIP: 19720712 199803 1004

UJI REFERENSI

Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul
“Penerapan Metode Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan
Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri Ciherang 01”, disusun oleh Aminah,
NIM : 1810011000008, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah diuji kebenarannya
oleh dosen pembimbing skripsi pada tanggal

Juli 2014.

Jakarta, Juli 2014
Disetujui, oleh:
Dosen Pembimbing

(Tanenji, MA)
NIP: 19720712 199803 1004

ABSTRAK

AMINAH, 1810011000008; Penerapan Metode Pembelajaran Kontekstual
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri Ciherang 01
(Penelitian Tindakan Kelas). PTK. Jakarta: Pendidikan Agana Islam (PAI),
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa
dengan menggunakan metode kontekstual di SD Negeri Ciherang 01 Desa
Ciherang Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode tindakan kelas atau action
research. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan atau
observasi, catatan lapangan, wawancara dan pelaksanaan tes hasil belajar di setiap
akhir pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus, yang terdiri dari dua
pertemuan. Satu siklus itu terdiri dari empat tahapan, yaitu: perencanaan tindakan
(planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting).
Penelitian dilakukan di SD Negeri Ciherang 01 Desa Ciherang Kecamatan
Dramaga Kabupaten Bogor, pada siswa kelas V (lima) yang berjumlah 36 siswa,
Semester Genap Tahun Ajaran 2013/2014.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang
signifikan dengan menerapkan strategi pengajaran kontekstual yang ditandai
dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu pra siklus
(41,66%), siklus I (66,66%), siklus II (86,11%) dan siklus III (97,22%) dengan
nilai rata-rata pada pra siklus adalah 6,19, sikus I adalah 6,69 pada siklus II adalah
7,31 sedangkan pada siklus III adalah 9,72. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa penggunaan strategi pengajaran kontekstual dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa SD Negeri Ciherang 01 pada mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam. Dengan kata lain hipotesis penelitian ini diterima.
Kata kunci: Metode Pengajaran Kontekstual. Motivasi Belajar Siswa

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadlirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan inayah-Nya kepada Penulis, sehingga Penulis dapat
menyusun proposal penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran
Kontekstual Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri
Ciherang 01 (Penelitian Tindakan Kelas)”. Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurah limpahkan kepada Baginda yang tercinta Nabi Muhammad SAW.
Tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang Penulis alami dalam menyusun
Penelitian ini, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak Penulis
dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Dan karena itu pada kesempatan ini
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada seluruh pihak yang telah membantu Penulis dalam menyusun
Penelitian ini baik bantuan dalam bentuk moril ataupun materil. Semoga bantuan
dan kebaikan yang telah diberikan mendapatkan pahala dan keridloan Allah SWT.
Khususnya kepada:
1.

Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.

Bapak Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag. Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam.

3.

Ibu Hj. Marhamah Shaleh, Lc. MA. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama
Islam

4.

Bapak Tanenji, MA., selaku Dosen Pembimbing, yang telah memberikan
pengarahan kepada penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan hingga
terselesaikan PTK ini.

5.

Dosen-dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, khususnya dosen-dosen
di Jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan ilmu
pengetahuan dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.

6.

Bapak Mirta, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN Ciherang 01, yang telah
memberikan izin dan kesempatan penulis untuk melaksanakan penelitian.

7.

Guru dan karyawan SDN Ciherang 01. Terima kasih atas doanya.

ii

8.

Untuk ayahanda tercinta: yang telah memberikan do’a dan restu tiada henti.

9.

Untuk ibunda tercinta: yang sangat menginginkan penulis melanjutkan studi
ketika masih hidupnya. Semoga Allah membalas amal ibadahnya. Amin.

10. Teristimewa untuk Suami dan Ananda tercinta. Semoga menjadi Suami dan
anak-anak yang sholih dan sholihah yang bisa mendo’akan kepada kedua
orang tuanya.
11. Terima kasih juga dihaturkan kepada pihak yang tidak tersebutkan namun
telah memberikan konstribusi yang berharga untuk penulis. Semoga Allah
SWT membalas kebaikan kalian.
Akhirnya Penulis berharap semoga PTK ini bermanfaat bagi semua pihak
yang membantu, meskipun PTK ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun tetap penulis harapkan untuk perbaikan di
masa yang akan datang.

Bogor,

Juli 2014

Penulis

iii

DAFTAR ISI
Halaman
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI............................................
LEMBAR PERSETUJUAN/PENGESAHAN .................................................
PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................................
PENGESAHAN PENGUJI ..............................................................................
ABSTRAK ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
DAFTAR BAGAN .......................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GRAFIK .......................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... x
BAB I

PENDAHULUAN ..........................................................................
A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1
B. Identifikasi Fokus Penelitian .................................................... 6
C. Pembatasan dan Fokus Penelitian ............................................ 6
D. Perumusan Masalah Penelitian ................................................ 6

BAB II

E.

Tujuan Penelitian ..................................................................... 6

F.

Manfaat Penelitian ................................................................... 7

KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL,
INTERVENSI TINDAKAN .........................................................
A. Pengajaran Kontekstual ............................................................ 8
1. Pengertian Pengajaran Kontekstual ..................................... 8
2. Komponen-Komponen Pengajaran Kontekstual.................. 9
3. Karakteristik Pengajaran Kontekstual ................................. 12
4. Strategi Pengajaran Kontekstual .......................................... 13
B. Motivasi Belajar PAI ................................................................ 14
1. Pengertian Motivasi Belajar ............................................... 14
2. Macam-macam Motivasi Belajar ....................................... 16
3. Fungsi Motivasi Dalam Belajar ......................................... 19
4. Upaya dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar.................. 20

iv

C. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................. 21
D. Kerangka Berpikir .................................................................... 22
E. Hipotesis Tindakan ................................................................... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...................................................
A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 24
1. Tempat Penelitian ................................................................ 24
2. Waktu Penelitian .................................................................. 24
B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian ............... 24
1. Metode Penelitian ................................................................ 24
2. Rancangan Siklus Penelitian................................................ 24
C. Subjek Penelitian...................................................................... 26
D. Peran dan Posisi Peneliti Dalam Penelitian ............................. 26
E.

Tahapan Intervensi Tindakan ................................................... 27

F.

Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan ............................ 28

G. Data dan Sumber Data ............................................................. 28
H. Instrumen Pengumpulan Data .................................................. 29
I.

Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 29

J.

Analisis Data dan Interpretasi Data.......................................... 30

K. Pengembangan Perencanaan Tindakan .................................... 31
BAB IV DESKRIPSI DATA, ANALISIS DATA, INTERPRETASI
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................. 35
A. Deskripsi Data Sekolah ............................................................ 35
1. Sejarah Singkat SDN Ciherang 01 ...................................... 35
2. Kepala Sekolah yang Pernah Memimpin ............................ 36
3. Profil Sekolah ...................................................................... 36
4. Visi dan Misi........................................................................ 37
5. Letak Geografis ................................................................... 37
6. Daftar Tenaga Pengajar SDN Ciherang 01 .......................... 38
7. Daftar Keadaan Siswa SDN Ciherang 01 ............................ 39
8. Sarana dan Prasarana SDN Ciherang 01 ............................. 39
9. Kegiatan Ekstra Kurikuler SDN Ciherang 01 ..................... 40
B.

Analisis Data ............................................................................ 40

v

C.

Interpretasi Hasil Analisis Data ............................................... 40
1. Prasiklus............................................................................... 40
2. Siklus I ................................................................................. 44
3. Siklus II (Perbaikan) ............................................................ 47
4. Siklus III (Peningkatan) ....................................................... 52

D. Pembahasan .............................................................................. 57
1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa ........................................... 57
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran ............ 59
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran.................. 59
BAB V

PENUTUP ......................................................................................
A. Kesimpulan .............................................................................. 60
B.

Saran-saran ............................................................................... 60

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 62
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

vi

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.3. Siklus Pelaksanaan PTK................................................................

vii

25

DAFTAR TABEL

Tabel 1.2. Komponen Pembelajaran Kontekstual ...................................

11

Tabel 1.3. Data dan Sumber Data...................................................................

29

Tabel 1.4 Daftar Kepala Sekolah ..................................................................

36

Tabel 2.4 Daftar Tenaga Pengajar SDN Ciherang 01 ...................................

38

Tabel 3.4 Daftar Keadaan Siswa SDN Ciherang 01 .....................................

39

Tabel 4.4. Daftar Sarana dan Prasarana SDN Ciherang 01 ............................

39

Tabel 5.4. Daftar Kegiatan Ekstra Kurikuler SDN Ciherang 01 ....................

40

Tabel 6.4 Hasil Tes Siswa Pada Prasiklus .....................................................

41

Tabel 7.4 Rekapitulasi Hasil Tes Prasiklus ...................................................

42

Tabel 8.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus I .......................................................

44

Tabel 9.4 Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I .....................................................

46

Tabel 10.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus II ......................................................

48

Tabel 11.4 Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II ....................................................

49

Tabel 12.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus III ....................................................

53

Tabel 13.4 Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III ...................................................

54

Tabel 14.4 Hasil Belajar Siswa .......................................................................

57

viii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.4. Hasil Tes Siswa Pada Prasiklus .....................................................

43

Grafik 2.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus 1 ......................................................

46

Grafik 3.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus 2 (Perbaikan) ..................................

51

Grafik 4.4 Hasil Tes Siswa Pada Siklus 3 (Peningkatan) ..............................

56

Grafik 5.4 Peningkatan Hasil Tes Siswa Dari Prasiklus ke Siklus III ...........

58

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Instrumen Penelitian .................................................................

Lampiran 2.` Hasil Validasi Instrumen .........................................................
Lampiran 3.

RPP Prasiklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III.......................

Lampiran 4.

Photo Kegiatan Belajar Siswa ..................................................

Lampiran 5.

Profil Sekolah ...........................................................................

Lampiran 6.

Surat Izin/Keterangan Telah Melakukan Penelitian .................

x

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
“Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Untuk itu, pendidikan nasional bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
(Undang-Undang No.20 tahun 2003)”.1
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar, dalam pelaksanaannya
masih menunjukkan berbagai permasahalan yang kurang menyenangkan.
Seperti halnya proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di
sekolah saat ini masih sebatas sebagai proses penyampaian “pengetahuan
tentang Agama Islam.” Hanya sedikit yang arahnya pada proses internalisasi
nilai-nilai Islam pada diri siswa. Hal ini dapat dilihat dari proses
pembelajaran yang dilakukan guru masih dominan ceramah. Proses
internalisasi tidak secara otomatis terjadi ketika nilai-nilai tertentu sudah
dipahami oleh siswa. Artinya, metode ceramah yang digunakan guru ketika
mengajar PAI berpeluang besar gagalnya proses internalisasi nilai-nilai
agama Islam pada diri siswa, hal ini disebabkan siswa kurang termotivasi
untuk belajar materi PAI.
“Motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang
anak didik. Apalah artinya anak didik pergi kesekolah tanpa motivasi untuk
belajar. Untuk bermain-main berlama-lama di sekolah adalah bukan
waktunya yang tepat. Anak didik dating kesekolah bukan untuk itu semua,
tetapi untuk belajar demi masa depannya kelak di kemudian hari”.2
1
2

H. E. Mulyana. Dibalik Kurikulum 2013. (Jakarta: Rosda Karya, 2013). hlm: 20
Syaiful Bahri Djamarah. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), hlm.

148

1

2

Motivasi yang kuat dalam diri siswa akan meningkatkan minat, kemauan
dan semangat yang tinggi dalam belajar, karena antara motivasi dan semangat
belajar mempunyai hubungan yang erat dalam kegiatan belajar mengajar.
“Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha atau kegiatan
seseorang. Motivasi berkaitan dengan tujuan atau maksud. Motivasi
mempengeruhi adanya suatu kegiatan dalam suatu pembelajaran”.3
Maka motivasi sangatlah besar peranannya terhadap prestasi belajar,
karena dengan adanya motivasi dapat menumbuhkan minat belajar. Bagi
siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai keinginan untuk
melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga boleh jadi siswa yang
memiliki intelegansi yang cukup tinggi menjadi gagal karena kekurangan
motivasi, sebab hasil belajar itu akan akan optimal bila terdapat motivasi
yang tepat . karenanya, bila siswa mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini
bukannlah semata-mata karena kesalahan siswa tetapi mungkin saja guru
tidak berhasil dalam membangkitkan motivasi siwa.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa
anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan
lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi
terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal
dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
Begitu juga selama ini banyak berbagai kritik terhadap pelaksanaan
pendidikan agama yang sedang berlangsung di sekolah, bahwa PAI di
sekolah lebih bersifat verbalistik dan formalis atau merupakan tempelan saja.
Metodologi pendidikan agama tidak kunjung berubah sejak dulu hingga
sekarang, padahal masyarakat yang dihadapi sudah banyak mengalami
perubahan. Pendekatan PAI cenderung normatif tanpa dibarengi ilustrasi

3

Zikri Neni Iska, Psikologi (Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan), (Jakarta : Kizi
Brother’s, 2008), hlm. 42

3

konteks sosial budaya, sehingga siswa kurang menghayati nilai-nilai agama
sebagai nilai yang hidup dalam keseharian.
Seperti halnya metode pembelajaran agama Islam yang selama ini lebih
ditekankan pada hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus
dipraktekkan dalam perilaku keseharian), akibatnya siswa kurang memahami
kegunaan dan manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam materi PAI yang
menyebabkan tidak adanya motivasi siswa untuk belajar materi PAI.
Dalam upaya untuk merealisasikan pelaksanaan pendidikan agama
Islam, guru dituntut untuk menguasai pengetahuan yang memadai dan teknikteknik mengajar yang baik agar ia mampu menciptakan suasana pengajaran
yang efektif dan efisien atau dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan
yang diharapkan.
Melihat kenyataan yang ada di lapangan, sebagian besar teknik dan
suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru kita
tampaknya lebih banyak menghambat untuk memotivasi potensi otak.
Sebagai contoh, seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak
yang harus mau mendengarkan, mau menerima seluruh informasi dan
mentaati segala perlakuan gurunya. Dan yang lebih parah lagi adalah fakta
bahwa semua yang dipelajari di bangku sekolah itu ternyata tidak integratif
dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang realitas sehari-hari yang
mereka saksikan bertolak belakang dengan pelajaran di sekolah. Budaya dan
mental semacam ini pada gilirannya membuat siswa tidak mampu
mengaktivasi kemampuan otaknya. Sehingga mereka tidak memiliki
keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran dan tergantung pada
orang lain.
Untuk memilih metode dan teknik yang digunakan memang memerlukan
keahlian tersendiri. Seorang pendidik harus pandai memilih metode dan
teknik yang akan dipergunakan, dan teknik tersebut harus dapat memotivasi
serta memberikan kepuasan bagi anak didiknya seperti hasil atau prestasi
belajar siswa yang semakin meningkat.

4

Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut perlu diterapkan suatu
cara alternatif guna mempelajari PAI yang kondusif dengan suasana yang
cenderung rekreatif sehingga memotivasi siswa untuk mengembangkan
potensi kreativitasnya. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah
dengan penerapan suatu paradigma baru dalam pembelajaran di kelas yaitu
dengan metode pembelajaran kontekstual, dikarenakan ada kecenderungan
dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan lebih baik jika
lingkungannya diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anakanak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahui-nya.
Salah satu alternatif yang bisa dilakukan dalam menumbuhkan motivasi
belajar siswa pada materi PAI yaitu dengan penerapan teknik Learning
Community. Teknik Learning Community adalah salah satu dari tujuh
komponen yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual. Teknik
Learning Community merupakan suatu teknik belajar dengan bekerja sama
dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik
dibanding dengan belajar sendiri.
Maka dengan penggunaan teknik Learning Community ini diharapkan
agar materi pelajaran PAI dapat mudah dipahami dan dapat meningkatkan
motivasi serta prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI. Hal ini
sejalan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa salah satu cara
menggerakkan motivasi belajar adalah dengan pelaksanaan kelompok belajar.
Dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, “pendekatan kontekstual
(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang
tepat untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa dan meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar”.4
4

Sudirman A,M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: C.V. Rajawali, 2011),
Cet. Ke-19, hlm. 222

5

Oleh karena itu, sudah saatnya paradigma pendidikan yang selama
ini ada untuk diubah sehingga diperlukan suatu strategi pembelajaran yang
dapat dijadikan jalan keluar agar proses pembelajaran lebih efektif dan
efisien. Untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI yaitu adanya internalisasi
pada diri siswa tentang nilai-nilai ajaran Islam yang diajarkan secara
mudah

serta adanya keterlibatan

siswa dalam proses pembelajaran

sehingga siswa tidak merasa jenuh, menjadikan belajar lebih bermakna
dan mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan CTL proses pembelajaran diharapkan berlangsung
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti
apa makna belajar, apa manfaatnya, mereka dalam status apa dan bagaimana
mencapainya. Mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari
berguna bagi hidupnya. Dengan demikian mereka belajar yang berguna bagi
hidupnya.
Mata pelajaran pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata
pelajaran pokok dari sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh
oleh siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik serta memiliki akhlak mulia dalam kehidupannya sehari-hari.
Sejauh ini para guru berpandangan bahwa pengetahuan adalah sesuatu
yang harus dihafal, sehingga pelajaran pendidikan agama Islam cukup
disampaikan dengan ceramah sehingga pembelajaran di kelas selalu
berpusat pada guru.
Dengan pendekatan kontekstual diharapkan siswa bukan sekedar objek
akan tetapi mampu berperan sebagai subjek, dengan dorongan dari
guru mereka diharapkan mampu mengkonstruksi pelajaran dalam benak
mereka sendiri. Jadi, siswa tidak hanya sekedar menghafalkan fakta-fakta,
akan tetapi mereka dituntut untuk mengalami dan akhirnya menjadi tertarik
untuk menerapkannya.

6

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk
melakukan penelitian yang berjudul : “Penerapan Metode Pembelajaran
Kontekstual Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PAI Siswa SD Negeri
Ciherang 01”.
B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian
Sebagaimana yang terurai pada latar belakang, bahwa dalam penelitian
ini terdapat beberapa hal yang teridentifikasi dan dapat dijadikan masalah,
antara lain :
1.

Guru kurang menguasai metode pengajaran dalam proses belajar
mengajar.

2.

Belum adanya usaha guru untuk menggunakan metode pengajaran dalam
proses pembelajaran.

3.

Masih rendahnya hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama
Islam.

4.

Kurangnya motivasi siswa dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam.

C. Pembatasan Fokus Penelitian
Bertitik tolak dari latar belakang dan identifikasi masalah sebagaimana
terurai di atas, maka batasan permasalahan dalam penelitian ini adalah:
a.

Penelitian ini dibatasi hanya siswa-siswi SD Negeri Ciherang 01 kelas V
yang menjadi responden (yang diteliti).

b.

Motivasi belajar, yaitu nilai Pendidikan Agama Islam yang diperoleh
siswa.

D. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat
merumuskan

masalah

sebagai

berikut:

“Apakah

penerapan

metode

kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ?”
E. Tujuan Penelitian
Mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa

7

dengan menggunakan metode kontekstual di SD Negeri Ciherang 01 Desa
Ciherang Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor.
F.

Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian, maka peneliti mengharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
1.

Secara praktis hasil penelitian ini dapat di jadikan bahan masukan bagi
para guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pengajaran
Pendidikan Agama Islam.

2.

Secara teoritas hasil penelitian ini di harapkan dapat memperkaya kajian
Pendidikan Agama Islam mengenai profesionalisme keguruan.

3.

Dapat Meningkatkan motivasi belajar siswa.

BAB II
KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL,
INTERVENSI TINDAKAN

A. Pengajaran Kontekstual
1.

Pengertian Pengajaran Kontekstual
Strategi pengajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan

yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta didik untuk memahami
makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi
tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi,
sosial dan kultural) sehingga peserta didik
keterampilan

yang

secara

fleksibel

memiliki pengetahuan dan

dapat

diterapkan

dari

satu

5

permasalahan kepermasalahan lainnya.

Pengajaran kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik
membuat

hubungan antara pengetahuan

yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang
bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang
mereka pelajarai dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan
mereka sendiri dalam lingkungan sosial budaya masyarakat.6
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana menjelaskan “pengajaran kontekstual
merupakan suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk
membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna
(meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata. 7

5

Agus Supriyono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:
Pustaka pelajar, 2010), hlm. 79.
6
Ibid, hlm. 80.
7
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran. (Bandung: Refika
Adipratama, 2012). hlm. 67

8

9

2.

Komponen-Komponen Pengajaran Kontekstual
a. Konstruktivisme (Constructivism)
Belajar

berdasarkan

konstruktivisme

adalah

mengkonstruksi

pengetahuan. Pengetahuan dibangun melalui proses asimilasi dan
akomodasi (pengintegrasian

pengetahuan

baru terhadap struktur

kognitif yang sudah ada dan penyesuaian struktur kognitif dengan
informasi baru) maupun dialektika berfikir thesa-antithesa-sinthesa.
Proses kontruksi pengetahuan melibatkan pengembangan logika
deduktif-induktif-hipotesis-verifikasi. Belajar konteks ini berangkat
dari kenyataan bahwa pengetahuan itu terstruktur. Pengetahuan
merupakan jalinan secara integratif dan fungsional dari konsep-konsep
pendukungnya. Pemahaman arti dan makna struktur merupakan tesis
penting dari pembelajaran berbasis kontruktivisme.8
b. Menemukan (Inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pengajaran berbasis
kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta- fakta, tetapi hasil
menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang
merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang Diajarkan.9
Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama yang berbasisi kontekstual.
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir peserta
didik, bagi peserta didik bertanya merupakan bagian

penting dalam

melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali
informasi,

mengkonfirmasikan

apa

yang

sudah

diketahui

dan

mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. 10

8

Ibid, hlm. 85.
Trianto, Mendesain Model Pembelajarn Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana Prenada
Media, 2010), hlm. 114.
10
Ibid, hlm. 115.
9

10

c. Masyarakat Belajar ( learning Community)
Pengajaran kontekstual menekankan arti penting pengajaran sebagai
proses sosial. Melalui interaksi dalam komunitas belajar proses dan hasil
belajar

menjadi lebih bermakna. Hasil belajar diperoleh dari

berkolaborasi dan kooperasi. Dalam praktiknya “masyarakat belajar”
terwujud dalam kelompok kecil, pembentukan kelompok besar,
medatangkan ahli dalam kelas, bekerja sama dengan kelas paralel,
bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, bekerja sama dengan
masyarakat.11
d. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan modeling adalah proses pengajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap
peserta didik. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara
mengoprasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan kalimat
asing.
Proses modeling tidak terbatas dari guru saja akan tetapi dapat juga
guru memanfaatkan peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan
misalkan peserta didik yang pernah menjadi juara dalam membawa
puisi dapat

disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan

teman-temannya.12
e. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah bagian penting dalam pengajaran kontekstual.
Refleksi merupakan upaya untuk melihat kembali, mengorganisir
kembali,

menganalisis

kembali,

mengevaluasi hal yang telah dipelajari.

mengklarifiksi

kembali,

dan

13

f. Penilaian yang sebenarnya (Authentic assessment)
Penilaian autentik adalah proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan
11

Supriyono, Op. Cit, hlm. 87
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2008), hlm. 267
13
Supriyono, Loc. Cit, hlm. 88
12

11

siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benarbenar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki
pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun
mental siswa.14
Dalam pembelajaran kontekstual hal-hal yang bisa digunakan
sebagai dasar menilai prestasi peserta didik antara lain kegiatan dan
laporannya, pekerjaan rumah, kuis, hasil karya, presentasi atau
penampilan peserta didik, demontrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis
dan karya tulis.15
Berikut ini adalah table komponen pembelajaran kontekstual
yang dijelaskan oleh Martinis Yamin 16 :
Tabel 1.2
Komponen Pengajaran Kontekstual
No
1

2

3

4
5
14

Komponen
Kontruktivisme (landasan berfikir filosofi kontekstual
pengetahuan itu dibangun oleh diri sendiri, dimulai
pengetahuan yang sedikit yang diperluaskan berdasarkan
pengalaman dan interaksi social serta lingkungan)
Questioning (guru bertanya menggali informasi tentang apa
yang sudah diketahui dan mengarah pada aspek yang belum
diketahui. Bertanya merupakan analisis dan mengeksplorasi
gagasan-gagasan.
Inquiry (pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta
didik diharapkan bukan merupakan hasil mengingat
seperangkat fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri dengan
cara (1) merumuskan masalah (2) mengumpulkan data melalui
observasi (3) menganalisis dan menyajikan hasil tulisan,
gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya, (4)
mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada
pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.
Learning Community (belajar merupakan sharing dengan
teman atau bekerjasama dengan orang lain, saling member
informasi)
Modeling (guru menciptakan peserta didik untuk meniru
dengan mendemonstrasi dan mencontoh suatu pengetahuan

Sanjaya, Op. Cit, hlm. 269
Trianto, Loc. Cit, hlm. 120.
16
Martinis Yamin, Strategi & Metode Dalam Model Pembelajaran. (Jakarta: Referensi (GP
Pres Grup), 2013), hlm. 56
15

12

No

6

7

Komponen
dan keterampilan sehingga peserta didik dapat melakukannya)
Reflection (gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang
baru saja diterima, peserta didik dapat merasakan ide baru
tersebut dalam pikirannya)
Authentic Assessement (guru mempergunakan assessement
sebagai gambaran perkembangan belajar peserta didik melalui
proses)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hakekat pengajaran
kontekstual itu dibangun melalui pengalaman diri, interaksi soaial, dan
dengan

lingkungan

nyata.

Peserta

didik

dibimbing

untuk

mempergunakan penalaran dan pemahaman yang mendalam melalui
berpikir kritis dan kreatif. Dengan beberapa prinsip yang diurai di atas,
maka pengajaran kontekstual merupakan strategi yang aktivitas
pengajarannya berpusat pada peserta didik dan mengembangkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi , kerjasama, saling membantu sesame
peserta didik, menggali, menemukan, mencontoh suatu pengetahuan dan
keterampilan, menemukan ide-ide, dan perkembangan belajar yang
dinilai melalui proses.
3.

Karakteristik Pengajaran Kontekstual
Menurut

Wina

Sanjaya

dalam

proses

pengajaran

Kontekstual

terdapat lima karakteristik penting yaitu :
a. Activiting knowledge artinya apa yang akan dipelajari tidak
terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
b. Understanding knowledge artinya pengetahuan yang diperoleh
bukan untuk dihafal tapi untuk pahami dan diyakini.
c. Acquiring knowledge memperoleh pengetahuan baru dengan
cara deduktif artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari
secara sederhana kemudian memperhatikan detailnya.
d. Applying knowledge artinya pengetahuan dan pengalaman
yang diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan peserta
didik.
e. Reflecting knowledge artinya melakukan refleksi
terhadap
strategi pengembangan pengetahuan sebagai umpan balik untuk
proses perbaikan dan penyempurnaan strategi. 17
17

Sanjaya, Loc. Cit, hlm. 256

13

Sedangkan menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana bahwa
pengajaran kontekstual mempunyai sepuluh karakteristik, diantaranya adalah
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative)
Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist)
Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning)
Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual
Menggunakan multimedia dan sumber belajar
Cara belajar siswa aktif (student active learning)
Sharing bersama teman (take and give)
Siswa kritis dan guru kreatif
Didinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa
Lapran siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa,
laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.18

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
pengajaran kontekstual adalah mempelajari pengetahuan yang sudah
dipelajari, memahami dan meyakini pengetahuan yang sudah diperoleh,
mempelajari

yang

sederhana

dan

memperhatikan

secara

detail,

mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta melakukan refleksi
terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
4.

Strategi Pengajaran Kontekstual
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development

(CORD)

penerapan

strategi

pembelajaran

kontekstual

digambarkan

sebagai berikut :
a. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman
kehidupan nyata.
b. Experiencing, belajar adalah kegiatan “ mengalami”, peserta didik
berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan
berupaya melakukan ekspolasi terhadap hal yang dikaji, berusaha
menemukan dan menciptkan hal baru dari apa yang dipelajarinya.
c. Applying, belajar menekankan pada proses mendemontrasikan
pengetahuan yang dimiliki dalam konteks dan pemanfaatannya.
d. Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif
melalui belajar berkelompok.
e. Transferring, belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan
memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.19
18
19

Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Op. Cit, hlm. 69
Supriyono, Loc. Cit, hlm. 84.

14

Penjelasan tersebut di atas menyimpulkan bahwa gambaran strategi
pengajaran kontekstual adalah memaknai pengajaran bagi peserta didik dalam
kehidupan nyata dengan berusaha untuk menemukan dan menciptakan halhal yang baru, serta dapat mendemontrasikan pengetahuan yang dimiliki
dalam

konteks

dan

pemanfaatannya,

supaya

terwujud

kemampuan

pengetahuan yang dimiliki meski dalam kondisi apapun.
B. Motivasi Belajar PAI
1.

Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku

yang menuntut atau mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan. Dan
sesuatu yang dijadikan motivasi itu merupakan suatu keputusan yang telah
ditetapkan individu sebagai suatu kebutuhan atau tujuan yang nyata yang
ingin dicapai..20 Adapun pengertian motivasi dalam kamus besar bahasa
Indonesia adalah “dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara
sadar atau tidak sadar untuk melakuakan suatu tindakan dengan tujuan
tertentu.21
Pendapat-pendapat

para ahli tentang definisi motivasi diantaranya

adalah : M. Alisuf Sabri, motivasi adalah segala sesuatu yang menjadi
pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong orang untuk
memenuhi suatu kebutuhan.22 Menurut WS Winkel, motivasi adalah daya
penggerak yang telah menjadi aktif,motif menjadi aktif pada saat tertentu,
bahkan kebutuhan untuk mencapaitujuan sangat dirasakan atau dihayati.23
Selanjutnya, M. Ngalim Purwanto mengemukakan bahwa motivasi adalah
pendorong suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang

agar

ia

menjadi

tergerak

hatinya

untuk

bertindak

melakukansesuatu sehingga mecapai hasil atau tujuan tertentu.24
Sedangkan Menurut MC. Donald, yang dikutip oleh Sardiman A.M,
20

Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1996), hlm. 129
Qonita Alya, Kamus Bahasa Indonesia. Untuk Pendidikan dasar, (Jakarta: Indahjaya
Adipratama, 2009). hlm.472
22
Sabri, Op. Cit, hlm. 90
23
Sardiman A.M, Op.Cit, hlm. 87
24
M. Ngalim Purwanto,MP.Op,Cit, hlm. 71
21

15

motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan adanya
tujuan.25
Motivasi belajar sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik yang
hendak belajar baik di sekolah ataupun di lembaga mana saja, karena
“motivasi belajar merupakan kekuatan (power motivation), daya pendorong
(driving force), atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat
dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif,
dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek
kognitif, afektif maupun psikomotor”. 26
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli bahwa
motivasi adalah suatu perubahan yang terdapat pada diri seseorang untuk
melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Dapat disimpulkan bahwa
motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan, maka
dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu :
a.

Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri
setiap individu manusia, perkembangan motivasi akan membawa
beberapa perubahan energi di dalam system "neurophysiological" yang
ada pada organisme manusia.

b.

Motivasi ditandai dengan munculnya rasa "feeling", afeksi seseorang.
Dalam

hal

kejiwaan,afeksi

ini

motivasi

relevan

dengan

persoalan-persoalan

dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku

manusia.
c.

Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal
ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan.27
Dengan demikian yang di maksud dengan motivasi belajar adalah

keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar untuk menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang
25

Sardiman A.M, Op.Cit, hlm. 73
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Loc. Cit, hlm. 26
27
Sardiman A.M. Op.Cit., h. 74

26

16

memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki
oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Allah SWT berfirman dalam al-Quran al-Karim untuk memberikan
motivasi belajar kepada hamba-Nya, tersebut dalam surat al-Mujadalah : 11
              
              
  

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. AlMujaadalah: 11)
Ayat tersebut memberikan motivasi kepada manusia bahwa Allah SWT
akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan
jika ilmu tersebut dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat, tetapi jika
pengetahuan yang dimiliki tersebut hanya digunakan untuk mencelakakan
atau membahayakan orang lain maka hal tersebut tidak dibenarkan.
Begitupun Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah haditsnya sebagai
bentuk motivasi belajar kepada ummatnya. Sabda Rasulullah s.a.w.:
‫عن أبي ه ي قال قال س ل الله صل الله عليه سلم من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهل الله له‬
‫أحمد ال ي ق‬
‫طريقًا إلى الجنة اه مسلم الت م‬
Artinya: “Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan
Allah jalan untuknya ke sorga”.(HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad
dan Baihaqi)
2.

Macam-macam Motivasi Belajar
Dilihat dari berbagai sudut pandang, para ahli psikologi berusaha untuk

menggolongkan motif-motif yang ada pada manusia atau suatu organisme
kedalam

beberapa

golongan

menurut

pendapatnya

masing-masing.

17

Diantaranya menurut woodwort dan marquis sebagaimana di kutif oleh
Ngalim Purwanto, motif itu ada tiga golongan yaitu :
a. Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan
dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam diri tubuh seperti : lapar,
haus, kebutuhan-kebutuhan bergerak, beristirahat atau tidur, dan
sebagainya.
b. Motif-motif yang timbul sekoyong-konyong ( emergency motives )
inilah yang timbul bukan karna kemauan individu tetapi karena ada
rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya, motif
berusha mengatasi suatu rintangan.
c. Motif obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditunjukan kesuatu
Obyek atau tujuan tertentu disekitar kita, motif ini timbul karena
adanya dorongan didalam diri kita.28
Anden N. Frandsen yang dikutif oleh Sardiman,A.M, mengemukakan
jenis motivasi di lihat dari dasar pembentukannya, yaitu motif bawaan,
(motive psychological driver) dan motif yang dipelajari (affiliative needs),
misalnya : dorongan untuk belajar

suatu cabang ilmu pengetahuan dan

sebagainya.29 Selanjutnya sartain menbagi motif-motif itu menjadi dua
golongan sebagai berikut :
a.

Psychological drive adalah dorongan-dorongan yang bersifat psikologis
atau jasmaniah seperti lapar,haus dan sebagainya.

b.

Social motives adalah dorongan-dorongan yang ada hubungannya
dengan manusia lain dalam masyarakat seperti : dorongan selalu ingin
berbuat baik (etika) dan sebagainya.30
Adapun bentuk motivasi belajar disekolah dibedakan menjadi dua

macam, yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
1)

Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam
diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar.31
Dalam buku ini motivasi intrinsic adalah motivasi yang timbul dari

28

Ngalim purwanto, Ibid, h.64
Sardiman A.M, Loc. Cit
30
Ngalim Purwanto, Op.Cit., hlm. 62
31
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung :
RemajaRosdakarya, 2002, Cet. Ke-7, hlm. 136
29

18

dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan
tujuan belajar.32
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intristik adalah:

2)

a)

Adanya kebutuhan

b)

Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri

c)

Adanya cita-cita atau aspirasi

Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang dating dari luar
individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.33
Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak
secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin
belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang
tuanya,pujian dan hadiah, praturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan
orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh kongkrit dari motivasi
ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi
siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada
dorongan atau pengaruh orang lain.
Perlu ditegaskan, bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan
tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena
kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga
mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar ada
yang kurang menarik bagi siswa sehingga siswa tidak bersemangat
dalam melakukan proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di
rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya, maka
motivasi ekstrinsik sangat diperlukan dan dapat diberikan secara tepat.
Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsic
maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, siswa dapat

32
33

Sabri, Loc.Cit, hlm. 85
Muhibbin Syah, Op. Cit. hlm. 82

19

mengembangkan aktifitas dan inisiatif seh

Dokumen yang terkait

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN ACTIVE KNOWLEDGE SHARING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IVB SD NEGERI 1 NUNGGALREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 9 67

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Tematik Terpadu Siswa Kelas I B SD Negeri 11 Metro Pusat

1 16 85

Penerapan Model Pembelajaran Treffinger untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematis siswa

2 22 286

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI FILM PENDEK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOGNITIF FISIKA SISWA ( PENELITIAN TINDAKAN KELAS)

0 4 114

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas V SD Negeri 03 Pulokul

0 1 19

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas V SD Negeri 03 Pulokul

0 1 13

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA DALAM Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas V SDN Sentul 02 Tahun Pelajaran 2012/

0 0 18

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA DALAM Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas V SDN Sentul 02 Tahun Pelajaran 2012/2

0 2 9

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA : Penelitian Tindakan Kelas IV SD Negeri Rancabolang 03 Kecamatan Rancasari Kotamadya Bandung.

0 3 43

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA

0 0 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23