Directions and Development Strategies for Pepper (Piper nigrum L) Plantation in Belitung Regency

ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
PERKEBUNAN LADA (Piper nigrum L)
DI KABUPATEN BELITUNG

RIYADI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Arahan dan Strategi
Pengembangan Perkebunan Lada (Piper nigrum L) Di Kabupaten Belitung adalah
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir tesis ini.
Bogor, November 2012
Riyadi
NRP A156110284

ABSTRACT
RIYADI. Directions and Development Strategies for Pepper (Piper nigrum L)
Plantation in Belitung Regency. Under direction of SANTUN R.P SITORUS and
WIDIATMAKA
Pepper (Piper nigrum L) is one of plantation commodities in the Belitung
Regency and has been well known in international market. However, in recent
years the total area and production has declined. Therefore it requires an effort to
determine potential areas in terms of comparative advantage and competitive
terms, also factors that influence the development of pepper plantation as well as
its development strategy. The analysis which are used consist of Location
Quotient (LQ), Shift Share Analysis (SSA), land suitability analysis, marketing
margins, Analytical Hierarchy Process (AHP) and combining AHP and SWOT
(A'WOT). The results showed that the Membalong sub district be prioritized in
the development of pepper plantations. The most
influential factor in
development of pepper is land. Other factors influencing development of pepper
based on degree of its influence are human resources, technology, market, and
capital, respectively. Some of the proposed strategies are optimizing and
maintaining natural resources potential, increasing the quality and quantity of
products, diversification of processed pepper products, and improve bargaining
position of the farmers.
Keywords : pepper, development strategy, land suitability, AHP and A’WOT

RINGKASAN
RIYADI. Arahan dan Strategi Pengembangan Perkebunan Lada (Piper nigrum L)
di Kabupaten Belitung. Dibimbing oleh SANTUN R.P SITORUS dan
WIDIATMAKA
Salah satu komoditas unggulan perkebunan di Kabupaten Belitung adalah
lada (Piper nigrum L). Lada masih menjadi tumpuan petani di Belitung di
samping komoditas perkebunan lainnya seperti karet, kelapa sawit, kelapa dan
aren. Areal penanaman lada pada akhir tahun 2011 seluas 7.423,74 ha (Badan
Pusat Statistik Kabupaten Belitung, 2011). Namun luas areal perkebunan lada
tersebut telah berkurang dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
Mengingat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu
sentra produksi lada di Indonesia, maka eksistensi lada perlu diperhatikan
terutama dalam pengembangan wilayah. Keberadaan lada perlu dipertahankan
mengingat komoditas perkebunan ini cukup menjanjikan untuk peningkatan
ekonomi petani. Berbagai fenomena yang muncul seperti maraknya penambangan
timah ilegal dan faktor-faktor lain yang merusak lahan potensial untuk
pengembangan pertanian khususnya perkebunan lada perlu dikendalikan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan
kejayaan lada di Kabupaten Belitung. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab
permasalahan dan memberikan solusi dalam pengembangan perkebunan lada di
Kabupaten Belitung. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) mengidentifikasi dan
menganalisis sentra perkebunan lada berdasarkan keunggulan komparatif dan
kompetitif wilayah ; (2) menganalisis dan memetakan wilayah yang berpotensi
untuk pengembangan areal perkebunan lada berdasarkan kesesuaian lahannya ; (3)
menganalisis rantai pemasaran dan persentase harga jual yang diterima petani lada
di Kabupaten Belitung; (4) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung menurut persepsi
stakeholders ; (5) merumuskan arahan dan strategi pengembangan perkebunan
lada di Kabupaten Belitung.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Belitung. Kegiatan persiapan,
penelitian lapang, analisis data dan penyusunan tesis dilaksanakan selama 6 bulan,
yaitu dari bulan April sampai dengan September 2012. Data yang digunakan
adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data pengamatan
lapang, wawancara dan pengisian kuesioner. Data sekunder berupa data dan peta
yang diperoleh dari berbagai instansi/ lembaga baik pemerintah maupun swasta.
Beberapa metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ;
analisis Location Quotient (LQ), Shift Share Analisis (SSA), analisis kesesuaian
lahan, analisis margin pemasaran, Analytical Hierarchy Process (AHP) dan
analisis AHP kombinasi SWOT (A’WOT).
Berdasarkan analisis LQ, kecamatan yang memiliki nilai LQ di atas 1
(LQ>1) adalah kecamatan Membalong. Menurut Rustiadi et al. (2011), wilayah
yang memiliki keunggulan komparatif memiliki nilai LQ>1. Hal ini berarti
kecamatan Membalong memiliki keunggulan komparatif dibandingkan kecamatan
lainnya. Hasil analisis Shift Share (SSA) menunjukkan bahwa
kecamatan
Membalong memiliki nilai differential Shift positif yang artinya kinerja sektor di

level lokal dalam hal ini perkebunan lada memiliki potensi yang masih bisa
dikembangkan.
Berdasarkan analisis kesesuaian lahan aktual untuk penanaman lada
diketahui bahwa lahan dengan kelas S2 paling dominan di Kabupaten Belitung
dibandingkan dengan kelas yang lain (S3 dan N). Lahan dengan kelas S2
memiliki luas 117.332 ha atau sekitar 52,18%, yang tersebar di semua kecamatan.
Kecamatan Membalong memiliki lahan dengan kelas S2 terluas yang mencapai
53.985 ha. Luas lahan S3 aktual untuk tanaman lada di Kabupaten Belitung adalah
85.107 ha atau 37,85 %. Lahan kelas S3 ini juga tersebar atau menempati masingmasing kecamatan yang ada di Kabupaten Belitung. Lokasi terluas dari lahan
kelas S3 berada di kecamatan Membalong.
Berdasarkan analisis margin pemasaran diketahui bahwa secara umum
rantai pemasaran lada di Kabupaten Belitung ada 2 (dua) rantai pemasaran. Rantai
pemasaran 1 dengan rantai pemasaran yang dimulai dari petani yang menjual ke
pedagang pengumpul I, kemudian pedagang pengumpul I menjual ke pedagang
pengumpul II untuk selanjutnya menjual ke eksportir. Rantai pemasaran 2 pada
dasarnya lebih pendek dari rantai pemasaran 1, karena di rantai pemasaran 2 ini
petani langsung menjual ke pedagang pengumpul II dan pedagang pengumpul II
menjual ke eksportir. Persentase harga yang diterima petani melalui rantai
pemasaran 1 sebesar 78,82 % atau lebih rendah dari persentase harga yang
diterima pada rantai pemasaran 2 yaitu 82,35 %.
Berdasarkan hasil Analytical Hierarchy Process (AHP) diketahui bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan perkebunan lada secara prioritas
berdasarkan urutan pengaruhnya yaitu lahan dengan nilai eigenvalue (0,4391),
sumberdaya manusia (SDM) (0,2297), teknologi (0,1453), pasar (0,1107) dan
modal (0,0751). Lahan menjadi faktor yang paling mempengaruhi pengembangan
perkebunan lada. Faktor lain yang berpengaruh secara berurutan berdasarkan
tingkat pengaruhnya adalah sumberdaya manusia (SDM), teknologi, pasar dan
modal.
Analisis arahan pengembangan perkebunan lada dilakukan dengan metode
Sistem Informasi Geografis yang bertujuan mengetahui lokasi yang berpotensi
untuk pengembangan perkebunan lada. Metode ini memadukan peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Belitung Tahun 2005-2015, Peta Penggunaan Lahan
Tahun 2009, peta kesesuaian lahan aktual dan hasil analisis LQ dan SSA. Hasil
analisis ini menunjukkan bahwa Kabupaten Belitung memiliki luas lahan arahan
pengembangan lada seluas 24.704 ha. Dari luas tersebut, 14.129 ha (57,19%)
berada di kecamatan Membalong. Dengan demikian, maka kecamatan
Membalong menjadi lokasi prioritas arahan untuk pengembangan lada.
Rumusan strategi pengembangan perkebunan lada dilakukan dengan
menggunakan metode A’WOT. Metode ini merupakan perpaduan AHP dan
SWOT. Berdasarkan analisis A’WOT, beberapa strategi yang dapat dirumuskan
adalah (1) mengoptimalkan dan menjaga potensi SDA untuk pengembangan
perkebunan lada; (2) peningkatan kualitas dan kuantitas produk dengan berbagai
penerapan teknologi; (3) diversifikasi produk olahan lada; (4) meningkatkan
posisi tawar petani dan peluang pasar dalam siklus pemasaran lada dengan
penguatan kelembagaan tani.
Kata kunci: lada, strategi pengembangan, kesesuaian lahan, AHP dan A’WOT

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

ARAHAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
PERKEBUNAN LADA (Piper nigrum L)
DI KABUPATEN BELITUNG

RIYADI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Tesis
Nama
NRP

: Arahan Dan Strategi Pengembangan Perkebunan Lada
(Piper nigrum L) Di Kabupaten Belitung
: Riyadi
: A156110284

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Widiatmaka, DAA
Anggota

Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus
Ketua

Diketahui

Ketua Program Studi
Ilmu Perencanaan Wilayah

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus

Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr

Tanggal Ujian : 23 November 2012

Tanggal Lulus :

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Ir. Atang Sutandi, M.Si, Ph.D

Kupersembahkan Karya ini
Kepada:
Kedua orang tua tercinta;
Ayahanda Rahman dan Ibunda Ani,
Istriku terkasih Yuniarty, S.Kep dan Kedua anakku tersayang:
Naurah Syakira & Rafif Al Ghifari,
serta keluarga besarku
yang telah memberikan dukungan selama ini

PRAKATA
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April sampai Oktober ini adalah Arahan
dan Strategi Pengembangan Perkebunan Lada (Piper nigrum L) di Kabupaten
Belitung.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Santun R.P. Sitorus selaku ketua komisi pembimbing dan
ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah atas segala motivasi, arahan
dan bimbingan yang diberikan dari tahap awal sampai penyelesaian tesis ini.
2. Bapak Dr. Ir. Widiatmaka, DAA selaku anggota komisi pembimbing atas
segala dukungan, motivasi, arahan dan bimbingan yang diberikan selama
penelitian sampai penyelesaian tesis ini.
3. Ibu Dr. Dra. Khursatul Munibah, M.Sc selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Perencanaan Wilayah IPB beserta seluruh staf pengajar dan staf manajemen
Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB
4. Kepala Pusbindiklatren Bappenas beserta jajarannya atas kesempatan
beasiswa yang diberikan kepada penulis
5. Dinas Pertanian dan Kehutanan, Badan Pendidikan dan Pelatihan, dan
Pemerintah Kabupaten Belitung yang telah memberikan izin dan bantuan
kepada penulis untuk mengikuti program tugas belajar ini
6. Rekan-rekan PWL Bappenas dan Reguler Angkatan 2011 atas dukungan dan
kerjasamanya selama ini, serta pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan
satu persatu dalam membantu penyelesaian tesis ini
Terima kasih yang istimewa disampaikan kepada istriku Yuniarty, S.Kep dan
anakku Naurah Syakira dan Rafif Al Ghifari beserta seluruh keluarga besar di
Belitung, atas segala do’a dan dukungan selama ini.
Akhirnya, semoga karya ilmiah ini memberikan manfaat. Amiin.

Bogor, November 2012

Riyadi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung pada tanggal
13 November 1982 sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak
Rahman dan Ibu Ani. Telah menikah dengan Yuniarty, S.Kep dan dikaruniai dua
orang anak ; Naurah Syakira dan Rafif Al Ghifari.
Tahun 2001 penulis lulus SMA Negeri I Tanjungpandan dan diterima di
IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Jurusan Teknologi
Pangan dan Gizi (sekarang Ilmu dan Teknologi Pangan), Fakultas Teknologi
Pertanian dan lulus tahun 2005.
Pada tahun 2006 Penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di
lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung dan ditempatkan pada Dinas
Pertanian dan Kehutanan. Penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan ke sekolah pascasarjana pada tahun 2011 dan diterima pada Program
Studi Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB dengan bantuan pembiayaan dari
Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Pusbindiklatren Bappenas).

VAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

v

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. vii
1

PENDAHULUAN .................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Perumusan Masalah.........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................
1.5 Kerangka Pemikiran ........................................................................

1
1
3
5
5
6

2

TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................
2.1 Konsep Pengembangan Wilayah .....................................................
2.2 Evaluasi Kesesuaian Lahan .............................................................
2.3 Komoditas Unggulan .......................................................................
2.4 Prospek Pengembangan Perkebunan Lada (Piper nigrum L) ...........
2.5 Tinjauan Studi Terdahulu ................................................................

9
9
11
13
14
17

3

METODE PENELITIAN .......................................................................
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................
3.2 Sumber Data dan Informasi Penelitian .............................................
3.3 Metode Pengumpulan Data..............................................................
3.4 Teknik Analisis Data .......................................................................
3.4.1 Analisis Sentra Perkebunan Lada ...........................................
3.4.1.1 Analisis Location Quotient (LQ) ................................
3.4.1.2 Shift Share Analysis (SSA) .........................................
3.4.2 Analisis Wilayah Yang Berpotensi Untuk Pengembangan
Perkebunan Lada ...................................................................
3.4.3 Analisis Margin Pemasaran ...................................................
3.4.4 Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan
Perkebunan Lada ...................................................................
3.4.5 Analisis Arahan dan Strategi Pengembangan
Perkebunan Lada ...................................................................
3.4.5.1 Analisis Lokasi Arahan Pengembangan
Perkebunan Lada .......................................................
3.4.5.2 Analisis A’WOT .......................................................

19
19
19
20
22
25
25
26

KONDISI UMUM KABUPATEN BELITUNG .....................................
4.1 Kondisi Fisik Daerah .......................................................................
4.1.1 Letak Geografi.......................................................................
4.1.2 Topografi...............................................................................

43
43
43
43

4

27
29
30
33
34
34

ii

4.1.3 Geologi..................................................................................
4.1.4 Fisiografi ...............................................................................
4.1.5 Tanah ....................................................................................
4.1.6 Hidrologi ...............................................................................
4.1.7 Iklim ......................................................................................
4.1.8 Alokasi Penggunaan Lahan ....................................................
4.2 Kependudukan dan Sosial Budaya ...................................................
4.2.1 Kependudukan .......................................................................
4.2.2 Sosial Budaya ........................................................................
4.3 Perekonomian Daerah ....................................................................
4.4 Potensi Pertanian di Kabupaten Belitung .........................................
4.4.1 Komoditas Pertanian Utama...................................................
4.4.2 Peranan Subsektor Perkebunan ..............................................
4.4.3 Perkembangan Perkebunan Lada ...........................................

44
45
47
47
48
49
50
50
51
51
53
53
55
56

5

HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 59
5.1 Analisis Sentra Perkebunan Lada ..................................................... 59
5.2 Analisis dan Pemetaan Wilayah Yang Berpotensi Untuk
Pengembangan Perkebunan Lada................................................... 65
5.3 Analisis Margin Pemasaran Lada di Kabupaten Belitung ................. 73
5.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Lada................ 77
5.4.1 Persepsi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ............. 78
5.4.2 Persepsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah .............. 80
5.4.3 Persepsi Dinas Pertanian dan Kehutanan ................................ 82
5.4.4 Persepsi Dinas Perindagkop dan Penanaman Modal............... 83
5.4.5 Persepsi Badan Pengelolaan, Pengembangan dan
Pemasaran Lada (BP3L) ........................................................ 85
5.4.6 Persepsi Balai Penyuluhan Pertanian...................................... 87
5.4.7 Persepsi Akademisi................................................................ 89
5.4.8 Persepsi Tokoh Masyarakat ................................................... 91
5.4.9 Persepsi Penyuluh Pertanian .................................................. 92
5.4.10 Persepsi Petani ..................................................................... 94
5.4.11 Persepsi Seluruh Stakeholders .............................................. 96
5.5 Arahan dan Strategi Pengembangan Perkebunan Lada
di Kabupaten Belitung ..................................................................... 98
5.5.1 Arahan Pengembangan Perkebunan Lada
di Kabupaten Belitung ........................................................... 98
5.5.2 Strategi Pengembangan Perkebunan Lada
di Kabupaten Belitung ........................................................... 104

6

KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 115
6.1 Kesimpulan ..................................................................................... 115
6.2 Saran ............................................................................................... 116
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 117
LAMPIRAN .......................................................................................... 121

iii

VAFTAR TABEL
Halaman
1 Jenis dan sumber data, teknik analisis data dan output penelitian ..........

22

2 Skala dasar ranking Analytical Hierarchy Process (AHP) ......................

31

3 Matriks Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS) .................

36

4 Matriks Eksternal Strategic Factor Analysis Summary (EFAS) ..............

37

5 Fluktuasi iklim di Kabupaten Belitung tahun 2011 .................................

48

6 Perkembangan penduduk per kecamatan di Kabupaten Belitung
tahun 2009-2011 ....................................................................................

50

7 Kepadatan penduduk dan sex ratio menurut kecamatan
di Kabupaten Belitung tahun 2011 ........................................................

51

8 Persentase distribusi PDRB Kabupaten Belitung atas dasar harga berlaku
menurut lapangan usaha tahun 2006-2010 .............................................. 52
9 Luas panen, produksi dan produktifitas tanaman pangan
Kabupaten Belitung tahun 2011 .............................................................

54

10 Luas areal dan produksi tanaman perkebunan Kabupaten Belitung
tahun 2011 .............................................................................................

54

11 Luas areal perkebunan lada tiap kecamatan di Kabupaten Belitung
tahun 2008-2011 ....................................................................................

56

12 Nilai ekspor lada dari beberapa negara produsen Lada ...........................

57

13 Nilai analisis LQ perkebunan lada tahun 2008-2011 ...............................

60

14 Nilai Shift Share Analysis komoditas perkebunan lada di Belitung .........

63

15 Nilai Shift Share Analysis komoditas perkebunan di kecamatan
Membalong ............................................................................................

64

16 Kelas kesesuaian lahan aktual pada setiap satuan lahan ..........................

67

17 Sebaran kelas kesesuaian lahan aktual di tiap kecamatan .......................

69

18 Luas wilayah yang berpotensi untuk perkebunan lada ............................

72

19 Margin pemasaran dan akumulasi biaya di tiap tingkatan pemasaran ......

75

20 Harga yang diterima petani dan margin pemasaran
terhadap harga jual eksportir ................................................................

76

21 Kriteria penentuan arahan pengembangan perkebunan lada
di Kabupaten Belitung ............................................................................

99

22 Pembagian prioritas arahan pengembangan perkebunan lada
di Kabupaten Belitung ............................................................................ 101
23 Arahan pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung ............. 102

iv

24 Faktor-faktor kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman .....................

105

25 Hasil analisis matriks Internal Strategic Factors Analysis Summary
(IFAS)....................................................................................................

106

26 Hasil analisis matriks External Strategic Factors Analysis Summary
(EFAS) ..................................................................................................

108

v

VAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Diagram alir kerangka pemikiran penelitian ...........................................

7

2

Peta lokasi penelitian .............................................................................

19

3

Kerangka operasional penelitian ............................................................

24

4

Struktur hierarki AHP dalam penilaian faktor-faktor pengembangan
perkebunan lada .....................................................................................

33

5

Model matriks internal eksternal ............................................................

38

6

Model matriks space ..............................................................................

40

7

Model matriks SWOT ............................................................................

41

8

Alokasi penggunaan lahan di Kabupaten Belitung ..................................

49

9

Nilai analisis LQ perkebunan lada tiap kecamatan
di Kabupaten Belitung tahun 2008-2011.................................................

61

10 Peta kelas kesesuaian lahan aktual tanaman lada ....................................

70

11 Peta wilayah yang berpotensi untuk perkebunan lada .............................

72

12 Rantai pemasaran lada ..........................................................................

74

13 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi anggota DPRD ......................................................

79

14 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi anggota DPRD ......................................................

79

15 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi Bappeda ................................................................

80

16 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi Bappeda ................................................................

81

17 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi Dinas Pertanian dan Kehutanan .............................

82

18 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi Dinas Pertanian dan Kehutanan .............................

83

19 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi Dinas Perindagkop dan Penanaman Modal ............

84

20 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi Dinas Perindagkop dan Penanaman Modal ............

85

21 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi BP3L ....................................................................

86

vi

22 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi BP3L ....................................................................

86

23 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi Balai Penyuluh Pertanian ......................................

87

24 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi Balai Penyuluh Pertanian ......................................

88

25 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi akademisi ..............................................................

89

26 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi akademisi ..............................................................

90

27 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi tokoh masyarakat ..................................................

91

28 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi tokoh masyarakat ..................................................

92

29 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi penyuluh pertanian ................................................

93

30 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi penyuluh pertanian ................................................

93

31 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi petani ....................................................................

94

32 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi petani ....................................................................

95

33 Hasil analisis AHP (faktor utama)
berdasarkan persepsi seluruh stakeholders ..............................................

96

34 Hasil analisis AHP (kriteria dari faktor utama)
berdasarkan persepsi seluruh stakeholders ..............................................

97

35 Peta arahan pengembangan lada .............................................................

103

36 Hasil analisis matriks internal eksternal ..................................................

109

37 Hasil analisis matriks space ....................................................................

111

38 Hasil analisis matriks SWOT .................................................................

113

vii

VAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Kriteria kesesuaian lahan tanaman lada (Piper nigrum L) .......................

121

2

Peta penggunaan lahan Kabupaten Belitung tahun 2009 .........................

123

3

Peta RTRW Kabupaten Belitung tahun 2005-2015 .................................

124

4

Peta satuan lahan Kabupaten Belitung ...................................................

125

5

Penilaian kelas kesesuaian lahan pada masing-masing satuan lahan........

126

6

Luasan areal komoditas perkebunan Kabupaten Belitung tahun 2008 .....

130

7

Luasan areal komoditas perkebunan Kabupaten Belitung tahun 2009 .....

131

8

Luasan areal komoditas perkebunan Kabupaten Belitung tahun 2010 .....

132

9

Luasan areal komoditas perkebunan Kabupaten Belitung tahun 2011 .....

133

10 Nilai analisis LQ semua komoditas perkebunan tahun 2008 ...................

134

11 Nilai analisis LQ semua komoditas perkebunan tahun 2009 ...................

135

12 Nilai analisis LQ semua komoditas perkebunan tahun 2010 ...................

136

13 Nilai analisis LQ semua komoditas perkebunan tahun 2011 ...................

137

14 Nilai analisis Shift Share tahun 2008/2011 .............................................

138

15 Kuesioner AHP untuk menjaring persepsi stakeholders .........................

139

16 Kuesioner untuk analisis A’WOT...........................................................

149

17 Pembobotan faktor strategi internal dan eksternal hasil AHP ..................

159

18 Perhitungan rating faktor strategi internal dan eksternal .........................

160

I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kabupaten Belitung merupakan salah satu kabupaten di Provinsi

Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten yang memiliki luas 2.293,69 km2 ini
dihuni 162.328 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung, 2012). Berbagai
sektor pendukung perekonomian masyarakat dikembangkan di kabupaten ini, baik
sektor pertanian, jasa, industri pengolahan dan sebagainya. Salah satu sektor yang
akhir-akhir ini banyak diusahakan masyarakat adalah sektor pertanian.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dominan dalam menopang
perekonomian disamping sektor pertambangan/penggalian. Sektor ini banyak
diusahakan masyarakat mengingat prospek ekonominya yang cukup baik. Dengan
demikian, pembangunan perekonomian yang pro rakyat perlu ditingkatkan guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani. Untuk mewujudkan
hal tersebut, diperlukan upaya penggalian, pengkajian dan pengembangan sektor
pertanian terutama subsektor perkebunan dalam mendukung pengembangan
wilayah di Kabupaten Belitung. Pengkajian sub sektor perkebunan sebagai salah
satu sub sektor di sektor pertanian diperlukan, karena sub sektor perkebunan
terutama perkebunan lada telah diusahakan turun temurun di Kabupaten Belitung,
bahkan lada menjadi icon dan ditetapkan sebagai komoditas unggulan Kabupaten
Belitung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung (2012),
diketahui bahwa persentase tertinggi penyumbang PDRB Kabupaten Belitung
tahun 2011 adalah sektor pertanian yaitu 23,25% diikuti sektor industri
pengolahan 21,67 % serta sektor jasa-jasa sebesar 15,26 %. Keberadaan sektor
pertanian dalam hal ini sub sektor perkebunan memang menjadi andalan
masyarakat Kabupaten Belitung karena keberadaan tambang timah rakyat yang
mulai menurun dengan keterbatasan lahan penambangan dan fluktuasi harga
timah di pasaran.
Salah satu komoditas perkebunan yang menjadi primadona di Kabupaten
Belitung adalah lada (Piper nigrum L). Tanaman lada masih menjadi tumpuan
sebagian besar petani di Kabupaten Belitung disamping komoditas perkebunan

2
lainnya seperti karet, kelapa sawit, kelapa dan aren. Areal penanaman lada pada
akhir tahun 2011 adalah seluas 7.423,74 ha (Badan Pusat Statistik Kabupaten
Belitung, 2012). Namun jumlah areal perkebunan lada tersebut telah menyusut
dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, sebagai gambaran luas areal
perkebunan lada pada akhir tahun 2001 mencapai 12.069 ha (Badan Pusat
Statistik Kabupaten Belitung, 2002)
Di pasar internasional, komoditas lada khususnya lada putih menjadi salah
satu komoditas perkebunan yang diperhitungkan. Berdasarkan data International
Pepper Community (2012), diketahui bahwa Indonesia merupakan negara
eksportir lada putih terbesar kedua setelah Vietnam. Data tahun 2010
menunjukkan total ekspor lada putih Indonesia mencapai 13.453 ton, dari angka
tersebut, Indonesia berkontribusi sekitar 32% dari total ekspor lada putih dunia
yang mencapai 41.990 ton. Vietnam tahun 2010 mampu mengekspor lada putih
sebanyak 20.000 ton.
Berdasarkan data International Pepper Community (2012), lada putih
Indonesia diimpor oleh negara-negara di kawasan Amerika, Asia, Eropa dan
Pasifik Oceania. Nilai permintaan lada putih Indonesia oleh beberapa negara
importir di kawasan tersebut menunjukkan peningkatan, dimana tahun 2010
negara-negara tersebut mengimpor lada putih sebanyak 13.453 ton atau naik
sekitar 17,34 % dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 11.465 ton.
Mengingat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah dikenal sebagai
salah satu sentra produksi lada di Indonesia khususnya lada putih, maka eksistensi
lada perlu diperhatikan terutama dalam pengembangan wilayah. Keberadaan lada
perlu dipertahankan mengingat komoditas perkebunan ini cukup menjanjikan
untuk peningkatan ekonomi petani. Berbagai fenomena yang muncul akhir-akhir
ini seperti maraknya penambangan timah ilegal dan faktor-faktor lain yang
merusak lahan potensial untuk pengembangan pertanian khususnya perkebunan
lada perlu dikendalikan. Konversi lahan yang tidak bertanggungjawab harus
diminimalisir oleh pemerintah. Hal ini penting guna memberikan alokasi ruang
yang lebih terbuka bagi pengembangan perkebunan lada ke depan.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan
kejayaan lada di Kabupaten Belitung. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka

3
Belitung telah mengambil langkah dengan melakukan revitalisasi perkebunan lada
yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas lada sebagai
andalan ekspor nasional, meningkatkan pendapatan petani lada sekaligus
mempercepat pengurangan tingkat kemiskinan khususnya di daerah sentra
produksi lada (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006). Langkah tersebut antara
lain peningkatan produktivitas, mutu hasil, efisiensi biaya produksi dan
pemasaran, serta manajemen stok melalui pengembangan inovasi teknologi dan
kelembagaan. Namun, langkah revitalisasi ini kurang berjalan optimal dan secara
umum belum semua petani menikmati dampak positif dari kebijakan pemerintah
tersebut (Pranoto, 2011)
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan dan memberikan
solusi dalam pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung. Dalam
penelitian ini dikaji upaya pengembangan areal perkebunan lada dengan
memetakan potensi lahan yang sesuai dengan persyaratan budidaya lada secara
spasial dan biofisik. Penelitian ini juga menganalisis margin pemasaran lada
untuk mengetahui dan menilai efisiensi pemasaran lada serta memberikan
masukan dalam upaya melindungi petani lada. Disamping itu, penelitian ini juga
menggali permasalahan dan harapan dari berbagai stakeholders terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi pengembangan perkebunan lada. Hasil analisis dan
olahan data dari penelitian ini diharapkan menjadi pertimbangan dalam
merumuskan strategi pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung.
1.2.

Perumusan Masalah
Sektor pertanian di Kabupaten Belitung merupakan sektor penyumbang

terbesar dari total PDRB kabupaten. Namun upaya menjaga keberadaan sektor
pertanian masih kurang diperhatikan. Hal ini tampak pada terjadinya konversi
lahan pertanian seiring dengan semakin banyaknya aktivitas penduduk yang
bergerak dalam sektor lain seperti pertambangan. Padahal jika dilihat sejarahnya,
sektor pertanian dalam hal ini komoditas lada sudah dikenal luas, baik lingkup
nasional maupun internasional. Penyusutan luas areal perkebunan lada semakin
memprihatinkan akibat konversi lahan perkebunan lada menjadi pertambangan
timah ilegal dan sebagainya.

4
Dalam perencanaan pengembangan wilayah di Kabupaten Belitung,
pengembangan sektor pertanian harus diperhatikan mengingat share sektor ini
terhadap PDRB Kabupaten Belitung cukup besar. Keberadaan sektor pertanian
terutama eksistensi komoditas lada yang sudah menjadi icon daerah

perlu

diperhatikan dan dikembangkan agar produksinya bisa meningkat lagi. Selain itu,
prospek usaha perkebunan ini cukup baik dengan harga lada yang semakin
menguat beberapa tahun terakhir. Hal penting lainnya, usaha perkebunan lada
mampu mempertahankan kelestarian lahan dari eksploitasi pertambangan timah
ilegal yang merusak lingkungan.
Untuk mewujudkan usaha pengembangan perkebunan lada di Kabupaten
Belitung, dibutuhkan strategi konkrit yang dapat menjadi arahan bagi pembuat
kebijakan dalam perencanaan dan pengembangan wilayah ke depan. Berbagai
permasalahan seperti belum teridentifikasinya sentra perkebunan lada berdasarkan
keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah serta belum terpetakannya wilayah
yang berpotensi untuk pengembangan lada, harus segera ditemukan jawabannya.
Disamping itu, permasalahan rantai pemasaran lada juga perlu dianalisis guna
mengetahui sejauh mana efisiensi rantai pemasaran dalam arti keuntungan yang
diperoleh petani dibandingkan dengan modal dan pengorbanannya. Permasalahan
lain yang perlu dikaji yaitu terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan perkebunan lada dan strategi pengembangan perkebunan lada di
Kabupaten Belitung.
Dengan memperhatikan beberapa permasalahan di atas, maka pertanyaan
penelitian yang dikaji adalah :
1.

Wilayah mana saja di Kabupaten Belitung yang saat ini merupakan sentra
perkebunan lada berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah?

2.

Wilayah mana saja yang berpotensi untuk pengembangan areal perkebunan
lada di Kabupaten Belitung ?

3.

Bagaimana kondisi rantai pemasaran lada di Kabupaten Belitung ?

4.

Bagaimana persepsi stakeholders terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung ?

5.

Bagaimana arahan dan strategi pengembangan perkebunan lada di Kabupaten
Belitung ?

5

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1.

Mengidentifikasi

dan

menganalisis

sentra

perkebunan

lada

berdasarkan keunggulan komparatif dan kompetitif wilayah.
2.

Menganalisis dan memetakan wilayah yang berpotensi untuk
pengembangan areal perkebunan lada berdasarkan kesesuaian
lahannya.

3.

Menganalisis rantai pemasaran dan persentase harga jual yang
diterima petani lada di Kabupaten Belitung.

4.

Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan
perkebunan lada di Kabupaten Belitung menurut persepsi stakeholders

5.

Merumuskan arahan dan strategi pengembangan perkebunan lada di
Kabupaten Belitung.

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.

Sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan
pertanian khususnya dalam mempertahankan dan mengembangkan
keberadaan perkebunan lada di Kabupaten Belitung.

2.

Sebagai bahan masukan dalam kebijakan penatagunaan lahan di
Kabupaten Belitung.

3.

Sebagai bahan pertimbangan dan acuan masyarakat khususnya yang
bergerak dalam usaha perkebunan lada.

6
1.5 Kerangka Pemikiran
Penelitian arahan dan strategi pengembangan perkebunan lada (Piper
nigrum L) di Kabupaten Belitung didasari kerangka berpikir dengan melihat
kondisi aktual dan faktual yang terjadi di Kabupaten Belitung. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung (2012) dapat diketahui bahwa PDRB
Kabupaten Belitung tahun 2011 masih didominasi oleh sektor pertanian yang
menjadi penyumbang terbesar dengan share sektor pertanian sebesar 23,25%. Sub
sektor perkebunan memegang peranan besar di sektor pertanian ini selain sub
sektor perikanan.
Salah satu komoditas perkebunan yang banyak diusahakan penduduk saat
ini adalah lada. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung
(2012) diketahui bahwa total luas areal perkebunan lada mencapai 7.423,74 ha,
diikuti kelapa sawit rakyat dan karet. Namun angka luas areal perkebunan lada
tersebut jauh lebih rendah dibandingkan luas perkebunan lada tahun 2001 yang
mencapai 12.069 ha. Dengan demikian telah terjadi penyusutan luas areal
perkebunan lada sebesar 38,5%. Kondisi ini tentu perlu diperhatikan dan
dilakukan upaya pencegahannya.
Mengingat lada di Kabupaten Belitung sudah menjadi icon perkebunan dan
dinilai cukup prospektif dalam mengangkat taraf hidup petani, maka perlu
dilakukan upaya dan strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan
perkebunan lada ke depan. Dengan memperhatikan kondisi faktual yang ada,
maka perlu dilakukan analisis mengenai potensi pengembangan perkebunan lada
di Kabupaten Belitung

yang

meliputi analisis dan pemetaan wilayah

pengembangan areal perkebunan lada, analisis rantai pemasaran serta penggalian
persepsi stakeholders mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan
perkebunan lada. Berbagai analisis tersebut sangat penting dan dibutuhkan untuk
merumuskan strategi pengembangan perkebunan lada di Kabupaten Belitung.
Secara ringkas, kerangka pikir dari penelitian ini dapat digambarkan dalam bentuk
diagram alir seperti disajikan pada Gambar 1.

7

Gambar 1. Diagram alir kerangka pemikiran penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Konsep Pengembangan Wilayah
Pengembangan suatu wilayah pada dasarnya bertujuan agar wilayah itu

berkembang menuju tingkat perkembangan yang diinginkan. Pengembangan
wilayah dilakukan melalui optimasi pemanfaatan sumberdaya yang dimilikinya
secara harmonis, serasi dan terpadu dengan pendekatan yang bersifat
komprehensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan
hidup untuk pembangunan berkelanjutan.
Pemahaman

konsep

mengenai

wilayah

sangat

penting

dalam

pengembangan suatu wilayah. Ada beberapa pengertian wilayah yang harus
dipahami terlebih dahulu. Konsep wilayah dalam proses penataan ruang harus
meliputi konsep ruang sebagai ruang wilayah ekonomi, ruang wilayah sosial
budaya, ruang wilayah ekologi dan ruang wilayah politik. Wilayah itu sendiri
adalah batasan geografis (deliniasi yang dibatasi oleh koordinat geografis ) yang
mempunyai

pengertian/maksud

tertentu

atau

sesuai

fungsi

tertentu

(Djakapermana, 2010)
Wilayah juga didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas
spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut (subwilayah) satu
sama lain saling berinteraksi secara fungsional (Rustiadi et al. 2011). Menurut
Undang-Undang Penataan Ruang No 26 tahun 2007, wilayah adalah ruang yang
merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional
(Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2007). Sementara itu, pengertian ruang
menurut Undang-Undang yang sama adalah wadah yang meliputi ruang darat,
ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan
wilayah, tempat manusia dan makhluk lain melakukan kegiatan dan memelihara
kelangsungan hidupnya. Dengan pengertian ruang tersebut, maka ada ruang untuk
kegiatan manusia melakukan kegiatannya (budidaya) dan ada ruang untuk
kelangsungan makhluk hidup lainnya yang harus dipelihara, dijaga dan bahkan
dilindungi agar kehidupannya bisa tetap berlangsung (Djakapermana, 2010)

10
Karakteristik dan potensi suatu wilayah sangat menentukan dalam
menerapkan strategi pengembangan suatu wilayah. Oleh karena itu, sebelum
melakukan perumusan kebijakan yang dilaksanakan akan lebih baik mengetahui
tipe/jenis wilayahnya. Menurut Tarigan (2004), salah satu aspek yang perlu
diperhatikan

dalam

kegiatan

pengembangan

wilayah

adalah

menyusun

perencanaan wilayah. Perencanaan wilayah adalah perencanaan penggunaan
ruang wilayah (termasuk perencanaan pergerakan dalam wilayah) dan
perencanaan kegiatan pada ruang wilayah tersebut (Tarigan, 2004). Perencanaan
pembangunan wilayah biasanya terkait dengan apa yang sudah ada di wilayah
tersebut.
Pengembangan suatu wilayah erat kaitannya dengan pembangunan
wilayah. Pembangunan wilayah adalah kegiatan yang dilakukan secara terencana
untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebagai proses
yang bersifat terpadu, pembangunan dilaksanakan berdasarkan potensi lokal yang
dimiliki, baik potensi sumberdaya alam, manusia, buatan, maupun sumberdaya
sosial. Pembangunan merupakan upaya yang sistematik dan berkesinambungan
untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah
bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik.

Tujuan akhir

pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bagi masyarakat (Rustiadi et al.
2011). Untuk menilai pembangunan dapat digunakan beberapa indikator sebagai
berikut:
a. Indikator berbasis tujuan pembangunan: (1) produktivitas, efisiensi dan
pertumbuhan (growth); (2) pemerataan, keadilan dan keberimbangan (equity);
dan (3) keberlanjutan (sustainability).
b. Indikator pembangunan berbasis sumberdaya, yaitu cara mengukur tingkat
kinerja pembangunan dengan mengembangkan berbagai ukuran operasional
berdasarkan pemanfaatan dan kondisi sumberdaya yang meliputi sumberdaya
manusia, alam, buatan, dan sumberdaya sosial.
c. Indikator pembangunan berbasis proses; merupakan suatu cara mengukur
kinerja pembangunan dengan mengedepankan proses pembangunan itu sendiri
dengan melihat input, proses atau implementasi, output, outcome, benefit, dan
impact.

11
Menurut Rustiadi et al. (2011), pembangunan regional yang berimbang
merupakan pembangunan yang merata dari wilayah yang berbeda untuk
meningkatkan pengembangan kapabilitas dan kebutuhan wilayah, yaitu adanya
pertumbuhan yang seoptimal mungkin dari potensi yang dimiliki oleh suatu
wilayah sesuai dengan kapasitasnya. Dengan demikian, diharapkan manfaat dari
pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang merupakan hasil interaksi yang
saling memperkuat diantara sesama wilayah yang terlibat, sehingga dapat
mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah (disparitas pembangunan
regional).
2.2

Evaluasi Kesesuaian Lahan
Pertumbuhan suatu wilayah akan berdampak pada peningkatan kebutuhan

dan persaingan dalam penggunaan lahan. Kondisi tersebut mengharuskan
perlunya pemikiran yang seksama dalam mengambil keputusan pemanfaatan yang
paling menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas dengan tetap
memperhatikan tindakan konservasinya untuk penggunaan di masa yang akan
datang (Sitorus, 2004)
Analisis potensi kesesuaian lahan tidak terlepas dari evaluasi lahan baik
secara fisik maupun daya dukung sosial ekonomi terhadap pengembangan suatu
kegiatan pada lahan atau lokasi tertentu. Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka
(2007) evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan
dan merupakan proses penilaian suatu lahan untuk penggunaan-penggunaan
tertentu.
Menurut Sitorus (2004), evaluasi sumber daya lahan pada hakekatnya
merupakan proses untuk menduga potensi sumberdaya lahan untuk berbagai
penggunaannya. Adapun kerangka dasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah
membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan
tertentu dengan sifat sumberdaya yang ada pada lahan tersebut. Dasar pemikiran
utama dalam prosedur evaluasi suatu lahan adalah kenyataan bahwa berbagai
penggunaan lahan membutuhkan persyaratan yang berbeda-beda. Oleh karena itu
dibutuhkan keterangan-keterangan tentang lahan tersebut yang menyangkut
berbagai aspek sesuai dengan rencana peruntukan yang dipertimbangkan.

12
Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang
hubungan-hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan
kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang
dapat diharapkan berhasil (Sitorus, 2004). Dengan demikian manfaat yang
mendasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan
bagi suatu penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari
perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan (Sitorus, 2004)
Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh
tipe penggunaan lahan yang akan diterapkan, dengan sifat-sifat atau kualitas lahan
yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan. Dengan cara ini, maka akan
diketahui potensi lahan atau kelas kesesuaian lahan untuk tipe penggunaan lahan
tersebut. Tujuan evaluasi lahan (Land evaluation atau Land Assesment) adalah
menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan tertentu. Menurut FAO (1976), dalam
evaluasi lahan perlu memperhatikan aspek ekonomi, sosial, serta lingkungan yang
berkaitan dengan perencanaan tataguna lahan.
Evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan.
Isu utama dalam evaluasi lahan adalah menjawab pertanyaan yaitu lahan manakah
yang terbaik untuk suatu jenis penggunaan lahan dan penggunaan lahan apa yang
terbaik untuk suatu lahan tertentu. Hasil evaluasi lahan dapat dijadikan dasar
untuk memilih berbagai komoditas pertanian alternatif yang akan dikembangkan
dalam suatu wilayah.
Hasil evaluasi suatu lahan digambarkan dalam bentuk peta sebagai dasar
untuk perencanaan tataguna lahan yang rasional, sehingga tanah dapat digunakan
secara optimal dan lestari (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007). Penggunaan
lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, disamping dapat menimbulkan
terjadinya kerusakan lahan, juga akan meningkatkan masalah kemiskinan dan
sosial lainnya bahkan dapat menghancurkan suatu kebudayaan yang sebelumnya
telah berkembang.
Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), logika dilakukannya
evaluasi lahan adalah :
1.

Sifat lahan beragam, sehingga perlu dikelompokkan ke dalam satuan-satuan
yang lebih seragam, yang memiliki potensi yang sama.

13
2.

Keragaman ini mempengaruhi jenis-jenis penggunaan lahan yang sesuai
untuk masing-masing satuan lahan

3.

Keragaman ini bersifat sistematik sehingga dapat dipetakan

4.

Kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu dapat dievaluasi dengan
ketepatan tinggi bila data yang diperlukan untuk evaluasi cukup tersedia dan
berkualitas baik.

5.

Pengambilan keputusan atau penggunaan lahan dapat mengguna

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Directions and Development Strategies for Pepper (Piper nigrum L) Plantation in Belitung Regency