Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKTIVITAS KENTANG DI DESA CIGEDUG,
KECAMATAN CIGEDUG, KABUPATEN GARUT

SKRIPSI

SYIFA MAULIA
H34080024

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

RINGKASAN
SYIFA MAULIA. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan
Cigedug, Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi
dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Di bawah bimbingan HARMINI)
Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang menjadi prioritas
pengembangan oleh pemerintah. Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.)
memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan dan bahan baku
industri. Pada perkembangannya, mulai tahun 2006 hingga 2011 produktivitas
kentang di Indonesia menunjukkan tren menurun (Ditjenhorti 2012). Hal tersebut
juga terjadi di Desa Cigedug yang menjadi salah satu daerah penghasil kentang di
Kabupaten Garut. Desa Cigedug juga merupakan salah satu desa yang telah
menjalin kemitraan dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract farming)
dengan PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM). Varietas yang digunakan dalam
usaha pertanian kontrak adalah varietas Atlantic, sedangkan varietas Granola
digunakan oleh petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak.
Perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas dimana harga ratarata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan kentang
varietas Atlantic menjadi salah satu permasalahan usahatani kentang di Desa
Cigedug. Selain itu, harga jual kentang varietas Granola cenderung berfluktuatif
dikarenakan mengikuti harga pasar, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual
tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Permasalahan
lainnya adalah produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug hingga
saat ini belum mencapai produktivitas potensialnya. Produktivitas aktual pada
tahun 2011 sebesr 18 ton/ha (BP3K Cigedug 2012), padahal produktivitas
potensial kentang yang dapat dicapai varietas Granola maupun Atlantic sebesar
30 ton/ha (Samadi 2007). Hal ini erat kaitannya dengan penggunaan faktor
produksi yang mempengaruhi jumlah produksi dalam suatu kegiatan usahatani.
Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar
penggunaannya tidak berlebihan dan sesuai dengan kaidah standar operasional
prosedur (SOP). Penggunaan faktor produksi yang berlebihan tentunya akan
membuat petani mengeluarkan biaya yang besar pula, sedangkan kurangnya
penggunaan faktor produksi diduga dapat menurunkan hasil.
Harga jual dan produktivitas kentang yang dihasilkan pada akhirnya
mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas Granola maupun
varietas Atlantic. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis pendapatan
usahatani kentang varietas Granola (noncontract farming) maupun varietas
Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten
Garut dan (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug,
Kabupaten Garut pada bulan Mei 2012. Data yang digunakan terdiri dari data
primer dan data sekunder. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 60
orang yang terdiri dari 30 responden varietas Granola dan 30 responden varietas
Atlantic. Metode yang digunakan adalah metode Snowball Sampling. Penelitian
ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif
i

kualitatif meliputi keragaan usahatani dan faktor-faktor produksi yang digunakan
dalam usahatani kentang. Analisis data secara kuantitatif antara lain analisis
pendapatan usahatani, R/C rasio, dan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk
menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh secara nyata dan tidak nyata
terhadap produktivitas kentang. Data yang dianalisis secara kuantitatif akan diolah
dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007 dan MINITAB 14.
Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani kentang antara varietas
Granola dan varietas Atlantic yang dilakukan petani respnden di Desa Cigedug
secara umum dinyatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Hal ini
dapat ditunjukkan dari pendapatan rata-rata atas biaya total yang dicapai petani
responden varietas Granola adalah Rp 33.256.875,51 per hektar dan varietas
Atlantic Rp 42.206.449,23 per hektar. Hal tersebut menunjukkan bahwa
penerimaan yang diperoleh petani responden dalam mengusahakan kentang dapat
menutupi biaya usahatani yang dikeluarkan sehingga usahatani kentang ini
menguntungkan untuk diusahakan
Berdasarkan model fungsi Cobb-Douglas diperoleh nilai R-sq sebesar 53,7
persen yang berarti bahwa variabel bebas seperti jumlah benih, penggunaan
dummy varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Nitrogen, unsur Fosfat, unsur
Kalium, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja dapat menjelaskan
sebesar 53,7 persen variabel tidak bebas (produktivitas), dan sisanya sebesar 46,3
persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model (komponen
error). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas
kentang yaitu penggunaan varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Fosfat, unsur
Kalium, perekat, dan tenaga kerja. Sementara itu, jumlah benih, unsur Nitrogen,
fungisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang
sehingga penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan tidak membawa
perubahan terhadap produktivitas kentang.
Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi, disarankan (1) Ketika harga jual kentang varietas
Granola turun, petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada kentang varietas
Granola dengan mengolahnya menjadi produk lain seperti tepung, kerupuk, dan
pati sehingga petani mendapat tambahan pendapatan, (2) Petani dapat mengurangi
penggunaan faktor produksi yang secara nyata tidak mempengaruhi produktivitas
kentang sehingga petani dapat menghemat biaya yang dikeluarkan dalam
usahatani kentang, (3) PT Indofood Fritolay Makmur sebaiknya mengembangkan
pembibitan lokal seperti yang telah dilakukan di daerah Malang, agar dapat
mengurangi pasokan impor bibit kentang varietas Atlantic dan meminimalisasi
keterlambatan benih di tingkat petani akibat adanya proses karantina, dan (4)
Untuk menegaskan perjanjian kontrak, ada baiknya pihak vendor PT Indofood
Fritolay Makmur membuat kontrak dengan petani mitra menggunakan materai
agar dapat meningkatkan komitmen di kedua belah pihak.

ii

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKTIVITAS KENTANG DI DESA CIGEDUG,
KECAMATAN CIGEDUG, KABUPATEN GARUT

SKRIPSI

SYIFA MAULIA
H34080024

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
iii

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi :

Analisis Pendapatan Usahatani dan
Mempengaruhi Produktivitas Kentang
Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut

Nama

: Syifa Maulia

NIM

: H34080024

Faktor-Faktor yang
di Desa Cigedug,

Menyetujui,
Pembimbing

Ir. Harmini, M.Si
NIP. 19600921 198703 2 002

Mengetahui,
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus`:

iv

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis
Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas
Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut” adalah karya
saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, November 2012

Syifa Maulia
H34080024

v

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Juni 1990. Penulis adalah
anak tunggal dari pasangan Ayahanda Imdad Tamam (Alm) dan Ibunda Halimah.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Pondok Betung V pada
tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2005 di
SMP Negeri 177 Jakarta. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMA Negeri 47
Jakarta diselesaikan pada tahun 2008.
Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB
(USMI) pada tahun 2008. Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai
fotografer UKM Koran Kampus periode tahun 2009 – 2010, pengurus UKM
Century periode tahun 2009 – 2011, BEM FEM pada Departemen Komunikasi
dan Informasi periode tahun 2009 – 2010, dan HIPMA pada Biro Hubungan
Eksternal periode tahun 2010 – 2011.

vi

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan
Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa
Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut”. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pendapatan dan faktor-faktor produktivitas pada usahatani kentang
di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.
Tak ada gading yang tak retak, begitu pula karya tulis ini masih memiliki
beberapa kekurangan dan keterbatasan. Namun demikian penulis mengharapkan
penulisan penelitian ini tetap memberi manfaat bagi para pembaca.

Bogor, November 2012
Syifa Maulia

vii

UCAPAN TERIMA KASIH
Proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan syukur yang tidak
terhingga kepada Allah SWT dan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1.

Ir. Harmini, M.Si dan Ir. Anita Ristianingrum, M.Si sebagai dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan, motivasi, saran, kesabaran,
waktu, dan perhatian yang sangat berarti bagi penulis hingga penyusunan
skripsi ini selesai.

2.

Ir. Burhanuddin, MM dan Ir. Narni Farmayanti, M.Sc sebagai dosen penguji
utama dan penguji komisi pendidikan Departemen Agribisnis yang telah
memberikan saran dan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.

3.

Dr.Ir. Netti Tinaprilla, MMA sebagai dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan motivasi dan saran menghadapi dunia perkuliahan.

4.

Orang tua, Bapak Imdad Tamam dan Ibu Halimah yang selalu mendoakan,
memberikan motivasi, dan kasih sayang kepada penulis. Semoga ini dapat
menjadi persembahan terbaik.

5.

Keluarga besar Tamam dan Abu Railah yang selalu memotivasi penulis
dalam penyelesaian skripsi ini.

6.

Bapak Amin, Bapak Uus, Teteh Santi, Teteh Lilis, dan seluruh staf kantor
Desa Cigedug yang telah membantu penulis selama pengumpulan data dan
memberikan informasi yang sangat berguna selama penelitian ini.

7.

Bu Ida, Mba Dian, Bu Yoyoh, Pak Yusuf, dan seluruh staf sekretariat serta
Komisi Pendidikan Departemen Agribisnis yang telah membantu penulis.

8.

Teman-teman terbaik penulis, Herawati, Syajaroh Duri, Farisah Firas, Akbar
Zaenal, Haris Fatori, Diki More, Arini Prihatin, Andi Facino, dan Nuniek
Sudiningsih, yang telah mengajari banyak hal tentang arti persahabatan.

9.

Ridiawati Sumarna, Anggarini Dianing S, Annisa Kusumawardhani, Sistiana
Kurnia W, Anisa Roseriza, Shafiyyatul Ghina, Mizani Adlina, Layra Nichi S,
Aklima Dhiska S, Junita Elizabeth, Asmayanti, Tubagus Fadzlurrahman, Eka
Yanti, dan teman-teman agribisinis 45 yang tidak bisa saya sebutkan satu per
satu, atas masukan, kebersamaan, semangat, dan persaudaraannya selama ini.

viii

10. Teman satu organisasi, BEM FEM IPB dan HIPMA IPB, yang telah
mengajari banyak hal tentang persahabatan dan team work.
11. PIP Kemlu, KP Kemlu, dan PPA yang telah memberikan beasiswa kepada
penulis selama studi di IPB.
12. Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi dan dukungan selama
penulis menyelesaikan studi di IPB yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Bogor, November 2012
Syifa Maulia

ix

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................

xv

I.

II.

III.

IV.

V.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ......................................................................
1.2. Perumusan Masalah ...............................................................
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Kentang ...........................................................
2.2. Budidaya Kentang .................................................................
2.3. Kajian Penelitian Pendapatan Usahatani ...............................
2.4. Kajian Penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produktivitas ..........................................................................
2.5. Kajian Penelitian Usaha Pertanian Kontrak
(Contract Farming) ...............................................................
2.6. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu .............................
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................
3.1.1. Konsep Usahatani .........................................................
3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani ....................................
3.1.3. Konsep Usaha Pertanian Kontrak
(Contract Farming) .....................................................
3.1.4. Konsep Fungsi Produksi .............................................
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional .........................................

1
6
8
8
9
10
12
16
17
18
20
21
21
23
24
27
32

METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................
4.2. Jenis dan Sumber Data ..........................................................
4.3. Jumlah Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ................
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ..................................
4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani ...................................
4.4.2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produktivitas Kentang .................................................
4.4.3. Pengujian Hipotesis .....................................................
4.5. Definisi Operasional ..............................................................

38
41
44

HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Wilayah dan Sosial Ekonomi
Kemasyarakatan ....................................................................
5.1.1. Letak dan Kondisi Geografis Lokasi Penelitian .........
5.1.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ..........................

47
47
48

34
34
35
36
36

x

5.2. Karakteristik Petani Varietas Granola dan Atlantic ..............
5.3. Keragaan Usahatani Kentang ................................................
5.3.1. Kegiatan Budidaya Kentang ........................................
5.3.2. Kegiatan Pemasaran Kentang ......................................
5.3.3. Penggunaan Sarana Produksi Kentang .......................
5.3.4. Keragaan Usaha Pertanian Kontrak
(Contract Farming) .....................................................
5.3.5. Keragaan Usaha Nonpertanian Kontrak
(Noncontract Farming) .............................................
5.4. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang ...............................
5.4.1. Analisis Penerimaan Usahatani Kentang ....................
5.4.2. Analisis Biaya Usahatani Kentang .............................
5.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang ....................
5.5. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produktivitas Kentang ...........................................................
5.5.1. Uji Penyimpangan Asumsi .........................................
5.5.2. Analisis Fungsi Produksi ............................................
VI.

50
53
53
63
67
78
80
81
82
84
94
96
96
97

KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan ...........................................................................
6.2. Saran ......................................................................................

107
107

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

108

LAMPIRAN ............................................................................................

114

xi

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Perkembangan Nilai PDB Hortikultura Tahun 2006 – 2010 .......

2

2. Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas
Kentang di Indonesia Tahun 2006 – 2011 ....................................

3

3. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas
Kentang di Kecamatan Cigedug pada Tahun 2007 – 2011 ..........

4

4. Ringkasan Perhitungan Penerimaan, Biaya, dan
Pendapatan Usahatani ..................................................................

37

5. Distribusi Pemanfaatan Lahan Desa Cigedug Tahun 2011 ..........

47

6. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Tahun 2012 .........................

48

7. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan
Pendidikan Tahun 2011 ................................................................

49

8. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan
Pekerjaan Tahun 2011 ..................................................................

49

9. Distribusi Petani Responden Varietas Granola
Menurut Usia di Desa Cigedug ....................................................

51

10. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic
Menurut Usia di Desa Cigedug ....................................................

51

11. Distribusi Petani Responden Varietas Granola
Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug ............................

52

12. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic
Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug ............................

52

13. Distribusi Petani Responden Varietas Granola
Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug ...........................

53

14. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic
Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug ...........................

53

15. Penggunaan Rata-rata Pupuk Dasar Petani Kentang
Varietas Granola dan Atlantic per Hektar ...................................

55

16. Sebaran Penggunaan Generasi Kentang Varietas Granola
di Tingkat Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 .....................

56

17. Sebaran Perlakuan Benih Kentang Berdasarkan
Jumlah Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 ...................

57

18. Dosis Pemupukan Susulan Rata-rata yang Digunakan Petani
pada Musim Hujan 2011 – 2012 ..................................................

61

xii

19. Zat Aktif yang Digunakan Petani Responden untuk
Mengatasi Serangan Hama dan Penyakit pada
Musim Hujan 2011 – 2012 ...........................................................

63

20. Sebaran Ukuran Rata-rata yang Dihasilkan Kentang Varietas
Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 per Hektar ..................

64

21. Penggunaan Rata-rata Obat Berdasarkan Kandungan Aktif
yang Digunakan Petani Responden Varietas Granola
dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan
2011 – 2012 ..................................................................................

72

22. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani
Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011–2012 .........

76

23. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani
Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011–2012 ..........

76

24. Rekapitulasi Rata-rata Penggunaan Input Produksi dalam
Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per
Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...........

77

25. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Granola per
Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...........

82

26. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Atlantic per
Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...........

83

27. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Granola per
Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...........

85

28. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Atlantic per
Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...........

86

29. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Petani Usahatani
Kentang per Hektar per Periode Tanam pada Musim Hujan
2011 – 2012 di Desa Cigedug ......................................................

94

30. Perbandingan Pendapatan Usahatani Kentang
Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar
pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ......................

95

31. Pendugaan dan Pengujian Parameter Model Fungsi Produksi
Cobb-Douglas pada Usahatani Kentang per Hektar
pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ......................

99

32. Rata-rata Produktivitas Berdasarkan Generasi yang
Digunakan Petani Responden pada Musim Hujan
2011 – 2012 di Desa Cigedug ......................................................

100

33. Perbandingan Produktivitas Rata-rata Berdasarkan
Varietas yang Digunakan pada Musim Hujan
2011 – 2012 di Desa Cigedug ......................................................

101

xiii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Hubungan antara TP, PM, dan PR ...............................................

31

2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ...............................

33

3. Daerah Stastistik d Durbin-Watson ..............................................

41

4. Pemberian Pupuk Dasar Berupa Pupuk Kandang di
Lahan yang Telah Dibuat Bedengan ............................................

55

5. Benih Varietas (a) Granola dan (b) Atlantic yang Disimpan
di Tempat Terbuka .......................................................................

56

6. Penyulaman Bibit yang Mati ........................................................

58

7. Penancapan Ajir pada Umur 15 HST ...........................................

59

8. Penalian Tanaman Kentang pada Umur 60 HST .........................

59

9. Penyemprotan Obat-obatan ..........................................................

62

10. Umbi Kentang Greening ..............................................................

66

11. Umbi Kentang Siap Dijual ...........................................................

66

12. Distribusi Harga Jual Kentang Varietas Granola (Rp/kg)
Berdasarkan Ukuran yang Dihasilkan Sesuai
Tempat Tujuan Penjualan pada Musim Hujan 2011 – 2012 ........

67

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1. Rata-rata Pertumbuhan Luas, Produksi dan Produktivitas
Kentang pada Tahun 2007 – 2011 di Lima Daerah
Penghasil Kentang Terbesar di Kabupaten Garut .........................
114
2. Hasil Output MINITAB 14 Fungsi Produksi ...............................

115

3. Hasil Output MINITAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan .....

116

4. Hasil Output Grafik MINITAB 14 Fungis Produksi
per Luas Lahan .............................................................................

117

5. Output dan Input yang Digunakan Petani Kentang
Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012
di Desa Cigedug ...........................................................................

118

6. Output dan Input yang Digunakan Petani Kentang
Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012
di Desa Cigedug ...........................................................................

119

7. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada
Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) .................

120

8. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada
Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) .................

121

9. Penerimaan Diperhitungkan dan Tunai Petani Kentang
Varietas Granola dan Varietas Atlantic pada
musim Hujan 2011 – 2012 (Rp/Ha) .............................................

122

xv

I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya
dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan
pendapatan negara. Saat ini pertanian tidak hanya terfokus pada aspek budidaya,
namun aspek pemanfaatan pengolahan dan pemasaran sudah diperhatikan dalam
menunjang sektor pertanian. Hal ini yang disebut agribisnis, adanya integrasi dari
subsistem hulu hingga hilir yang didukung dengan subsistem penunjang.
Pembangunan agribisnis memiliki peran strategis dalam pembangunan
ekonomi Indonesia. Selain merupakan sektor utama dalam pembangunan
ekonomi, pembangunan agribisnis juga merupakan cara memaksimalkan
keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris. Persaingan
yang tinggi saat ini, mendorong pertanian harus memiliki daya saing dan inovasi
yang baik, terutama pada produk-produk pertanian yang memiliki potensi dan
nilai yang tinggi, serta dijadikan kebutuhan pokok oleh sebagian besar
masyarakat.
Sektor pertanian menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar
15,3 persen dari total nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2010, dimana
sektor pertanian menjadi penyumbang PDB kedua terbesar setelah sektor industri
pengolahan (BPS 2011a). Salah satu subsektor pertanian yang memiliki potensi
untuk dikembangkan yaitu hortikultura yang terdiri atas sayuran, buah-buahan,
florikultura, dan biofarmaka. Hortikultura berperan sebagai sumber pangan,
sumber pendapatan masyarakat, penyedia lapangan kerja, dan penghasil devisa.
Hal tersebut menjadi alasan bahwa subsektor ini perlu menjadi prioritas
pengembangan.
Hortikultura turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional
yang dapat dilihat dari nilai PDB. Pada tahun 2006 hingga 2009 nilai PDB
subsektor hortikultura terus meningkat, namun pada tahun 2009 ke 2010 terjadi
penurunan sebesar 2,67 persen. Penurunan ini disebabkan karena produksi
hortikultura yang menurun di berbagai wilayah penanaman (Ditjenhorti 2011).
Walaupun demikian, nilai PDB Hortikultura mengalami rata-rata pertumbuhan
dari tahun 2006 hingga 2010 sebesar 5,94 persen (Tabel 1).

Tabel 1. Perkembangan Nilai PDB Hortikultura Tahun 2006 – 2010
Nilai PDB (Rp Miliar)
Komoditas
2006
2007
2008
2009
Buah-buahan
35.448
25.587
28.205
30.506
Sayuran
24.694
42.362
47.060
48.437
Florikultura
3.762
4.741
5.085
5.494
Biofarmaka
4.734
4.105
3.853
3.897
Total
68.639
76.795
84.202
88.334

2010
31.244
45.482
6.172
3.665
85.985

Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011)

Sayuran merupakan salah satu produk hortikultura yang memiliki potensi
besar untuk dikembangkan baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai sarana
meningkatkan pendapatan petani. Selain sebagai komoditas yang penting dalam
memenuhi kebutuhan gizi, sayuran telah memberikan kontribusi PDB sebesar
36,35 persen terhadap subsektor hortikultura pada tahun 2010. Produksi sayuran
nasional tercatat mengalami peningkatan rata-rata dari tahun 2006 hingga 2010
sebesar 3,01 persen (Ditjenhorti 2011a).
Menurut Ditjenhorti (2012), salah satu komoditas sayuran unggulan
nasional yang mendapat prioritas pengembangan oleh pemerintah adalah kentang
(Solanum tuberosum L). Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78
persen. Selain itu, setiap 100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein
0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg,
zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Melihat kandungan gizinya, kentang
merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk
meningkatkan energi di dalam tubuh (Samadi 2007).
Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun
tidak semua dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur,
banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki pH
tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal bagi pertumbuhan kentang
adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara sekitar 80 – 90 persen. Selain
itu, curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan kentang adalah 1.500 mm
per tahun (Samadi 2007).
Kentang merupakan tanaman sayuran semusim yang berbentuk semak

2

atau perdu dan berumur pendek. Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran
tinggi atau pegunungan dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas
permukaan laut (mdpl) (Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di
bawah 500 mdpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk,
umbinya akan berukuran sangat kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu
malam hari dingin (20 oC). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m
dpl, tanaman akan lambat membentuk umbi.1
Kentang memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan
dan bahan baku industri. Kebutuhan kentang cenderung mengalami peningkatan
seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya gizi bagi kesehatan. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat konsumsi
kentang per kapita yang mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2002 hingga
2008 sebesar 7,10 persen (BPS 2011b). Namun pada perkembangannya, mulai
tahun 2006 hingga 2010 produktivitas kentang menunjukkan trend menurun
(Tabel 2). Penurunan produktivitas tersebut dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, seperti pengelolaan usahatani kentang di Indonesia belum optimal dalam
mengkombinasikan faktor produksinya, konversi lahan-lahan pertanian menjadi
perumahan, dan kondisi iklim yang tidak menentu sehingga menyebabkan jadwal
penanaman petani terganggu (Erika 1999).
Tabel 2. Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kentang di
Indonesia Tahun 2006 – 2010
Tahun
Produksi (ton)
Luas Panen (ha)
Produktivitas (ton/ha)
2006
1.011.911
59.748
16,94
2007
1.003.732
62.375
16,09
2008
1.071.543
64.151
16,70
2009
1.176.304
71.238
16,51
2010
1.060.805
66.531
15,94
Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura 2011

Sentra penanaman kentang di Indonesia berada di wilayah Jawa Barat,
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Pada tahun 2010, sebesar 23,04
persen dari total produksi nasional berasal dari Jawa Barat (Ditjenhorti 2011a).
Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki produktivitas tertinggi di Jawa

1

Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http://
cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012]

3

Barat. Salah satu daerah penghasil kentang di Kabupaten Garut yang memiliki
rata-rata pertumbuhan luas panen terbesar dari tahun 2007 hingga 2011 sebesar
16,62 persen adalah Kecamatan Cigedug (Lampiran 1) (Dinas Tanaman Pangan
dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012a).
Dalam perkembangannya dari tahun 2007 hingga 2011, produksi dan luas
panen kentang di Kecamatan Cigedug cenderung meningkat, namun hal tersebut
tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas (Tabel 3). Peningkatan produksi
tersebut diakibatkan adanya pertambahan luas panen, sehingga produktivitas yang
cenderung menurun tersebut disebabkan oleh penggunaan faktor produksi yang
belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) (Dinas Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2011).
Tabel 3. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di
Kecamatan Cigedug pada Tahun 2007 - 2011
Tahun
Luas Panen (ha)
Produksi (ton)
Produktivitas (ton/ha)
2007
342
8.224
24,05
2008
416
9.652
23,20
2009
526
12.361
23,50
2010
563
12.525
22,25
2011
627
13.998
22,33
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut (2012)

Desa Cigedug merupakan penghasil utama kentang di Kecamatan Cigedug
(BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Hal tersebut didukung dengan kondisi alam
yang subur dan topografi yang sesuai dengan kondisi untuk budidaya kentang.
Varietas yang digunakan dalam usahatani kentang di Desa Cigedug adalah
varietas Granola dan Atlantic.
Kentang varietas Granola merupakan kentang introduksi dari Jerman
Barat, sedangkan varietas Atlantic merupakan kentang introduksi dari Amerika.
Kentang varietas Granola dan varietas Atlantic memiliki beberapa keunggulan.
Pada sisi konsumen, varietas Granola memiliki rasa gurih, kadar gula tinggi, dan
kandungan air tinggi, sehingga cocok dikonsumsi sebagai kentang sayur2.
Sementara itu, kentang varietas Atlantic memiliki kandungan karbohidrat yang

2

Iskandar T, Basri AB. 2011. Arden Hasugian: Penggerak Agrobisnis Kentang Aceh Tengah.
http://nad.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=254&Itemi
d=5 [diakses pada 14 Agustus 2012]

4

tinggi dan kadar gula yang lebih rendah sehingga baik untuk dikonsumsi oleh
penderita diabetes. Kentang varietas Atlantic juga memiliki umbi berwarna putih
yang menarik untuk dikonsumsi sebagai kentang olahan berupa keripik kentang
maupun kentang goreng (Setiadi 2009).
Pada sisi produsen, varietas Granola dapat menggunakan bibit hasil
seleksi panen sebelumnya, tahan terhadap hama-penyakit yang menyerang, dan
memiliki potensi produksi hingga mencapai 30 – 35 ton/ha (Samadi 2007).
Sementara itu, pada kentang varietas Atlantic harga jual relatif tinggi, mampu
menghasilkan lebih banyak (48 persen) umbi yang berukuran lebih dari 100 gram,
dan memiliki potensi produksi mencapai 30 ton/ha (Ashari 2009). Namun,
kentang varietas Atlantic lebih rentan terhadap hama dan penyakit sehingga
frekuensi penyemprotan menjadi lebih sering3.
Varietas Atlantic di Desa Cigedug pertama kali diperkenalkan oleh PT
Indofood Fritolay Makmur (PT IFM) melalui usaha pertanian kontrak (contract
farming) pada tahun 1995, sedangkan varietas Granola merupakan varietas yang
telah lama dibudidayakan di Desa Cigedug tanpa tergabung dalam usaha pertanian
kontrak (noncontract farming). Dalam menjalankan usaha pertanian kontrak,
Kelompok Tani Silih Riksa menjadi wadah penghubung antara petani kentang
Desa Cigedug dengan pihak PT IFM yang dikoordinatorkan oleh seorang vendor.
Adanya usaha pertanian kontrak yang telah dijalankan tidak serta merta
dapat meningkatkan produktivitas kentang di Desa Cigedug. Begitu pula yang
terjadi pada petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Hal
tersebut salah satunya disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang
belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) sehingga
produktivitas kentang di Desa Cigedug cenderung menurun dan belum dapat
mencapai produktivitas potensialnya (BP3K Kecamatan Cigedug 2012).
Produktivitas tersebut pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pendapatan
usahatani kentang. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pendapatan
usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang agar upaya

3

Rukmana H. Rakhmat. Usaha Tani Kentang Sistem Mulsa Plastik. http://books.google
.co.id/books?id=Nh3D2sH97HIC&pg=PA18&dq=kentang+Atlantic&hl=id&sa=X&ei=IJTqT4_
uJsnrrQf4u4DLBQ&ved=0CDYQ6AEwAQ#v=onepage&q=kentang%20Atlantic&f=true
[diakses pada 27 Juni 2012]

5

yang

ditempuh

dapat

berpengaruh

secara

nyata

terhadap

peningkatan

produktivitas.
1.2. Perumusan Masalah
Desa Cigedug merupakan daerah yang berpotensi untuk mengembangkan
berbagai macam usaha agribisnis, salah satunya adalah agribisnis kentang. Hal ini
didukung dengan kondisi alam yang sangat mendukung usahatani kentang. Desa
Cigedug ini memiliki ketinggian 1.285 meter di atas permukaan laut, tipe iklim C
(agak basah), dimana setiap tahunnya antara tujuh sampai delapan bulan basah
dan tiga sampai empat bulan kering (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Oleh
karena itu, desa ini cocok ditanami oleh kentang. Varietas kentang yang
dibudidayakan di Desa Cigedug adalah varietas Granola dan Atlantic. Kentang
varietas Granola sudah lama dibudidayakan sebelum munculnya varietas Atlantic
di Desa Cigedug. Umumnya usahatani kentang varietas Granola di desa ini
dilakukan secara turun temurun bagi petani yang tidak tergabung dalam usaha
pertanian kontrak (noncontract farming).
Kentang varietas Atlantic pertama kali dibudidayakan di Desa Cigedug
pada tahun 1995 atas kerjasama dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract
farming). Usaha pertanian kontrak yang terjalin antara petani dengan pihak PT
Indofood Fritolay Makmur (IFM) dalam bentuk penyediaan benih varietas
Atlantic dan penjualan hasil panen petani ke PT IFM dengan harga yang sudah
ditentukan. Namun, kerjasama ini sempat gagal karena kentang yang dihasilkan
berwarna hitam dan pecah-pecah, kemudian terhenti pada tahun 1998 karena tidak
tersedianya benih kentang varietas Atlantic. Penanaman varietas Atlantic mulai
banyak dibudidayakan kembali pada tahun 2003 karena ketersediaan benih
kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug relatif banyak, sehingga petani
memiliki banyak kesempatan untuk memulai budidaya kentang varietas Atlantic.
Penanaman kentang di Desa Cigedug, baik varietas Granola maupun
varietas Atlantic umumnya dua kali setahun, karena waktu yang dibutuhkan untuk
usahatani kentang dari pengolahan lahan hingga pemanenan mencapai kurang
lebih empat bulan. Setelah itu, lahan diselingi dengan komoditas hortikultura lain
yang berbeda keluarga dengan kentang (Solanaceae). Berdasarkan pengalaman
petani Desa Cigedug, lahan bekas tanaman kentang tidak dapat ditanami kentang

6

kembali maupun tanaman yang satu keluarga dengan kentang (Solanaceae). Hal
tersebut dikarenakan serangan hama dan penyakit yang sama sehingga petani
dapat mengalami gagal produksi.
Permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug salah satunya yaitu
adanya perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas tersebut dimana
harga rata-rata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan
kentang varietas Atlantic. Selain itu, pada varietas Granola harga jual mengikuti
harga pasar yang cenderung berfluktuatif, sedangkan pada varietas Atlantic harga
jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Hal tersebut
tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang di Desa Cigedug.
Permasalahan lain yang dihadapi dalam usahatani kentang di Desa
Cigedug yaitu, peningkatan produksi yang terjadi pun belum didukung dengan
peningkatan produktivitas. Produktivitas kentang di Desa Cigedug sendiri
mengalami penurunan dari tahun 2010 ke 2011 sebesar 10 persen (BP3K
Kecamatan Cigedug 2012). Produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa
Cigedug belum mencapai produktivitas potensial. Produktivitas kentang aktual
pada tahun 2011 sebesar 18 ton/ha (BP3K Kecamatan Cigedug 2012), padahal
produktivitas potensial yang dapat dicapai kentang varietas Granola maupun
varietas Atlantic, yaitu kurang lebih 30 ton/ha (Samadi 2007 dan Ashari 2009).
Produktivitas

kentang

di

Desa

Cigedug

yang

belum

mencapai

produktivitas potensial dikarenakan penerapan teknologi maupun penggunaan
sarana produksi diduga belum memenuhi kaidah standar operasional prosedur
yang dianjurkan. Misalnya saja pada penggunaan pestisida, dimana berdasarkan
data BP3K Kecamatan Cigedug (2012) penggunaan obat-obatan secara terpadu
oleh petani baru mencapai 28 persen. Penggunaan fakor produksi seperti ini erat
kaitannya dengan jumlah produktivitas (output) dalam suatu kegiatan usahatani.
Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar
penggunaannya sesuai dengan kaidah standar operasional prosedur. Penggunaan
input yang berlebihan tentunya membuat petani mengeluarkan biaya yang besar
pula, sedangkan kurangnya penggunaan input diduga dapat menurunkan hasil. Hal
tersebut pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas
Granola maupun varietas Atlantic.

7

Selain berkaitan dengan pendapatan, adanya penggunaan faktor produksi
juga berpengaruh pada keputusan petani dalam melakukan penanaman kentang
varietas Granola maupun varietas Atlantic, khususnya dalam memperhitungkan
kebutuhan dan biaya usahatani. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan
masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah:
1) Apakah usahatani kentang baik varietas Granola (noncontract farming)
maupun varietas Atlantic (contract farming) menguntungkan di Desa
Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut?
2) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa
Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan
dari penelitian ini adalah:
1) Menganalisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola (noncontract
farming) dan varietas Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug,
Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.
2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di
Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang
berkepentingan, yaitu:
1) Petani kentang, penelitian ini bermanfaat sebagai informasi mengenai
pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
usahatani kentang. Hal tersebut bertujuan agar petani dapat mengambil
langkah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari usahatani
kentang.
2) Pengambil keputusan, penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk
mengambilan kebijakan agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
3) Kalangan akademis, penelitian ini dapat menjadi bahan literatur untuk
penelitian selanjutnya.

8

4) Masyarakat umum, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana informasi dan
bahan referensi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
kentang.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada petani kentang varietas Granola yang tidak
tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming) dan varietas
Atlantic yang tergabung dalam dalam usaha pertanian kontrak (contract farming)
di Desa Cigedug. Periode tanam yang digunakan penelitian ini adalah musim
hujan (Oktober 2011 – Januari 2012). Analisis usahatani menggunakan analisis
pendapatan dan R/C rasio yang dianalisis secara kuantitatif, sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas kentang dianalisis dengan menggunakan
fungsi produksi Cobb-Douglas.

9

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum Kentang
Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk jenis sayuran semusim,
berumur pendek, dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman
semusim karena hanya satu kali berproduksi dan setelah itu mati. Umur tanaman
relatif pendek, hanya 90 – 180 hari. Spesies Solanum tuberosum L. Mempunyai
banyak varietas. Umur tanaman kentang bervariasi menurut varietasnya. Kentang
varietas genjah berumur 90 – 120 hari, varietas medium berumur 120 – 150 hari,
dan varietas dalam berumur 150 – 180 hari. Berikut ini merupakan klasifikasi
ilmiah kentang (Setiadi 2009).
Kerajaan/Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta/Spermatophyta

Kelas

: Magnoliopsida/Dicotyledonae (berkeping dua)

Subkelas

: Asteridae

Ordo

: Solanales/Tubiflorae (berumbi)

Famili

: Solanaceae (berbunga terompet)

Genus

: Solanum (daun mahkota berletakan satu sama lain)

Seksi

: Petota

Spesies

: Solanum tuberosum
Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78 persen. Setiap

100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram,
karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin
B 0,04 mg. Berdasarkan nilai kandungan gizi tersebut, kentang merupakan sumber
utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi di
dalam tubuh (Samadi 2007).
Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran tinggi atau pegunungan
dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl)
(Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di bawah 500 m dpl), tanaman
kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk, umbinya akan berukuran sangat
kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam hari dingin (20 oC).

Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl, tanaman akan lambat
membentuk umbi4.
Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun
tidak semuanya dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur,
banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki
solum tanah dalam dengan pH tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal
bagi pertumbuhan kentang adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara
sekitar 80 – 90 persen. Selain itu curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan
kentang adalah 1.500 mm per tahun (Samadi 2007).
Kondisi topografi yang mendukung usahatani kentang, tidak serta merta
dapat meningkatkan produktivitas kentang yang dihasilkan. Beberapa kendala
yang menyebabkan kurang berhasilnya usahatani kentang adalah rendahnya
kualitas bibit yang digunakan, produktivitas rendah, teknik bercocok tanam yang
kurang baik khususnya pemupukan kurang tepat, baik dosis maupun waktunya,
dan keadaan lingkungan yang memang berbeda dengan daerah asal kentang (Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta 2004).
Menurut Samadi (2007), kentang dibedakan menjadi tiga golongan
berdasarkan warna umbinya, yaitu:
1) Kentang putih, yaitu jenis kentang dengan warna kulit dan daging umbi putih,
misalnya varietas Atlantic, Marita, Donata, dan lainnya.
2) Kentang kuning, yaitu jenis kentang yang umbi dan kulitnya berwarna
kuning, misalnya varietas Granola, Cipanas, Cosima, dan lainnya.
3) Kentang merah, yaitu kentang dengan warna kulit dan daging umbi merah,
misalnya varietas Desiree dan Arka.
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor:

81/Kpts/SR.120/3/20055, kentang varietas Granola merupakan varietas unggul
dengan karakteristik produktivitas tinggi, yaitu dapat mencapai 38–50 ton/ha,
memiliki bentuk umbi bulat lonjong, warna daging umbi kuning, dan mata umbi
4

5

Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http://
cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012]
Peraturan Perundang-undangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2005.
Pelepasan
Kentang
Granola
Kembang
Sebagai
Varietas
Unggul
http://
perundangan.deptan.go.id/k_menteri.php?awal=600&page=31 [diakses pada 15 Juli 2012]

11

dangkal. Selain keunggulan tersebut, varietas Granola juga tahan terhadap
penyakit kentang. Apabila daya serang suatu penyakit terhadap varietas kentang
lain 30%, pada varietas Granola hanya 10%. Umur panen normal 90 hari,
meskipun umur 80 hari sudah bisa dipanen.
Kentang varietas Atlantic merupakan varietas yang diintroduksi oleh
Amerika Serikat dan dirilis di Victoria tahun 1986. Kentang varietas ini
dikembangkan di Florida dari persilangan antara varietas Wauseon dan Lenape6.
Karakteristik kentang ini yaitu memiliki umur 100 hari, tinggi tanaman dapat
mencapai 50 cm, tahan terhadap nematoda, kualitas umbi baik, dan memiliki
kadar pati tinggi (Kholis 2011). Selain itu, kentang varietas Atlantic memiliki
produktivitas yang tinggi, kulit umbi putih kekuningan, daging umbi putih, mata
umbi dangkal, bentuk umbi bulat, kadar air rendah, dan tidak mengalami
perubahan setelah diproses (Khumaida 1994, diacu dalam Widyastuti 1996).
Teknologi budidaya kentang industri (processing) seperti varietas Atlantic
sedikit berbeda dengan kentang sayur seperti varietas Granola. Hal tersebut
dikarenakan tanaman kentang industri seperti varietas Atlantic lebih tinggi, kanopi
daun lebih besar, stolon lebih panjang dan tertanam di bawah tanah, umur panen
lebih lama, serta rentan terhadap bakteri layu dan busuk daun. Perbedaan tersebut
menuntut teknologi budidaya yang berbeda, yaitu jarak tanam lebih lebar,
penanaman lebih dalam, dosis pupuk lebih tinggi, dan pengendalian busuk daun
dan bakteri lebih intensif (Effendie 2002).
2.2. Budidaya Kentang
Teknik budidaya kentang baik kentang industri (varietas Atlantic) maupun
kentang sayur (varietas Granola) dimulai dari pembibitan hingga pemanenan.
Pada proses pembibitan kentang perlu diperhatikan cara mempersiapkan dan
memperhitungkan kebutuhan benih yang baik. Persiapan benih dilakukan
berdasarkan kriteria tertentu agar diperoleh benih yang berkualitas baik. Benih
yang berkualitas baik akan dapat berproduksi tinggi dan memberikan keuntungan
yang besar. Kebutuhan benih kentang per hektar adalah 1.300 kg – 1.700 kg
(Samadi 2007).
6

Departement of Primary Industries. 2010. Potato Varieties. http://www.dpi.vic.gov.au
/agriculture/horticulture/vegetables/potatoes/potato-varieties [diakses pada 29 Juni 2012]

12

Tahap selanjutnya adalah persiapan lahan dengan mengolah tanah sampai
gembur dengan kedalaman 30 – 40 cm. Kondisi tanah yang gembur sangat
membantu perkembangan akar tanaman dan pembesaran umbi. Kemudian,
dibiarkan selama dua minggu agar terkena sinar matahari. Tanah yang sudah
diolah dibuat bedengan dan saluran irigasi. Bedengan merupakan tanah yang
dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan berguna untuk pertumbuhan umbi
kentang. Setelah bedengan siap, mulai dilakukan pemupukan dasar yang dapat
menyediakan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman secara optimal oleh
benih kentang yang baru ditanam.
Pada pemupukan dasar harus mengacu pada empat tepat, yaitu tepat dosis,
cara, waktu, dan jenis. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik dan
pupuk anorganik (kimia). Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang
yang sudah jadi (matang) karena jika pupuk kandang belum jadi hal tersebut akan
menghambat pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk kandang yang digunakan
sebanyak 15 – 20 ton/ha kotoran ayam atau 20 – 30 ton/ha kotoran sapi. Pupuk
kandang sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik
tanah, dan mengikat tanah (Samadi 2007). Cara pemberian pupuk kandang adalah
dengan menaburkan pupuk kandang dalam larikan pada bedengan yang kemudian
ditutup dengan tanah pada setiap bedengan.
Selang beberapa hari setelah pemberian pupuk organik, perlu diberikan
pupuk anorganik (kimia), seperti pupuk ZA (mengandung 21 persen unsur
Nitrogen), Urea (mengandung 46 persen Nitrogen), TSP (mengandung 36 persen
unsur Fosfat), KCl (mengandung 60 persen unsur Kalium). Dosis yang digunakan
yaitu, 200 k

Dokumen yang terkait

Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut