Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut

SISTEM PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH (Capsicum
frutescens) DI DESA CIGEDUG KECAMATAN CIGEDUG
KABUPATEN GARUT

SKRIPSI

ASMAYANTI
H34080034

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

RINGKASAN
ASMAYANTI. Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens)
Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen
Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di
bawah bimbingan RITA NURMALINA).
Salah satu komoditas unggulan nasional hortikultura adalah cabai. Cabai
merupakan komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya terhadap dinamika
perekonomian nasional sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas
penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun, inflasi di tahun 2010 cabai rawit
merah menyumbang 0,22 persen. Cabai rawit merah memiliki harga yang sangat
fluktuasi bila dibandingkan dengan jenis cabai lainnya. Belum lama ini,
masyarakat Indonesia dikejutkan pada tingginya harga cabai rawit merah yang
mencapai Rp 120.000 per kg. Fluktuasi harga cabai rawit merah dipasaran
menyebabkan ketidakpastian penerimaan yang akan diperoleh sehingga petani
cabai rawit merah menanggung risiko usaha yang tinggi.
Desa Cigedug merupakan salah satu sentra produksi cabai rawit merah di
Jawa Barat. Jaringan pemasaran cabai rawit merah di desa ini menempatkan
pedagang pengumpul desa pada posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan
petani produsen cabai rawit merah pada penentuan harga jual. Selain itu,
terbatasnya akses informasi pasar yang diterima petani dimana informasi pasar
berasal dari pedagang pengumpul desa serta kurangnya jalinan kerjasama antar
petani atau antar kelompok. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada sistem
pemasaran cabai rawit merah.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis saluran pemasaran, fungsi
pemasaran cabai rawit merah, struktur pasar, dan perilaku pasar, (2) menganalisis
marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan
pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di tingkat petani di Desa Cigedug
sebagai pasar lokal dengan Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasar acuan.
Penelitian ini dilakukan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten
Garut. Pengambilan responden petani dilakukan dengan metode purposive
sebanyak 30 orang, sedangkan untuk pedagang dilakukan dengan mengikuti alur
distribusi cabai rawit merah yang dimulai dari petani. Responden pedagang terdiri
dari 7 pedagang pengumpul desa, 8 pedagang besar, dan 7 pedagang pengecer.
Terdapat lima saluran pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yang
melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul desa (PPD),
pedagang besar, dan pedagang pengecer. Saluran I : petani – pedagang pengumpul
desa (PPD) – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang
pengecer – konsumen Jakarta, saluran II : petani – PPD – pedagang besar Pasar
Induk Cikajang – konsumen Kecamatan Cikajang, saluran III: petani – PPD –
pedagang besar Pasar Induk Cikajang – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati
Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta, saluran IV: petani – PPD –
pedagang besar Pasar Induk Caringin Bandung – pedagang pengecer – konsumen
Bandung, dan saluran V: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Caringin
Bandung – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer
– konsumen Jakarta. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing

lembaga pemasaran sebagian besar melakukan ketiga fungsi utama yaitu fungsi
pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas, namun fungsi penyimpanan yang
termasukdalam fungsi fisik hanya dilakukan oleh pedagang pengecer. Struktur
pasar yang dihadapi oleh lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug
yaitu cenderung berada pada kondisi pasar oligopsoni. Hal ini dikarenakan jumlah
pembeli lebih sedikit dari jumlah penjual, penentuan harga dilakukan secara
tawar-menawar namun pihak pedagang besar memiliki kekuatan yang lebih tinggi
dalam penentuan harga. Perilaku pasar yang terjadi di tingkat petani jika dilihat
dari praktik penjualan langsung dengan menggunakan sistem pembayaran tunai.
Adapun di tingkat pedagang pengumpul desa dan pedagang pengecer adalah
sistem pembayaran tunai dan kemudian. Sedangkan di tingkat pedagang besar
menggunakan sistem pembayaran kemudian. Pembayaran kemudian dilakukan
satu hingga tiga hari ke depan.
Hasil analisis marjin bahwa marjin pemasaran terkecil terdapat pada
saluran II yaitu 55 persen. Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II
sebesar 45,00 persen dan rasio πi/Ci terbesar terdapat pada saluran IV sebesar
3,251. Walaupun saluran I memiliki perolehan marjin terkecil ketiga diantara lima
pola saluran yang terbentuk yaitu sebesar 75 persen dan farmer’s share tertinggi
ketiga sebesar 25 persen. Namun jika dilihat dari harga jual cabai rawit merah di
tingkat petani, saluran I memiliki harga jual yang paling tinggi dan volume
penjualan terbesar sebanyak 1.490 kilogram dengan tujuan pemasaran yaitu
wilayah Jakarta (Pasar Induk Kramat Jati Jakarta). Nilai rasio πi/Ci pada saluran I
lebih besar dari 1 yaitu 3,203. Tingginya volume penjualan cabai rawit merah
pada saluran I menunjukkan tingginya kontinuitas pemasaran pada saluran I ini
sehingga saluran I dinilai sebagai alternatif saluran yang efisien.
Analisis keterpaduan pasar menunjukkan nilai IMC > 1, yaitu sebesar 4,2
artinya tidak terdapat keterpaduan jangka pendek dan nilai koefisien b2 memiliki
nilai < 1, yaitu sebesar 0,493 menunjukkan tidak ada keterpaduan jangka panjang.
Hal ini mengindikasikan bahwa informasi mengenai perubahan harga di Pasar
Induk Kramat Jati, Jakarta tidak diteruskan atau diterima di pasar lokal (tingkat
petani) secara proporsional. Artinya perubahan harga cabai rawit merah di Pasar
Induk Kramat Jati pada kurun waktu sebelumnya tidak ditrasmisikan ke harga saat
ini di tingkat petani. Tidak adanya keterpaduan pasar ini menunjukkan tidak
lancarnya arus informasi dan komunikasi. Arus informasi tidak berjalan dengan
lancar dan seimbang, menyebabkan petani tidak mengetahui informasi yang
dihadapi oleh pedagang besar di Pasar Induk Kramat jati, sehingga petani di Desa
Cigedug tidak dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga.
Tidak lancarnya arus informasi harga ini sesuai dengan struktur pasar yang terjadi
dimana pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati memiliki kekuatan oligopsoni,
dapat mengendalikan harga beli dari petani. Komunikasi yang terjadi tidak
transparan dan sehingga menyulitkan terjadinya integrasi harga dengan baik.
Di Desa Cigedug, infrastruktur transportasi, sistem informasi harga, dan
fasilitas pasar desa dan pasar yang transparan relatif belum tersedia secara
memadai. Infrastruktur transportasi dari lahan petani cabai rawit merah ke pasar
induk relatif buruk dimana kondisi lahan di Desa Cigedug yang berbukit-bukit
sehingga aksesibilitas ke dan dari sentra produksi petani relatif sulit. Demikian
juga dengan fasilitas-fasilitas dasar seperti pasar desa belum tersedia. Sistem
informasi harga yang mestinya dibangun oleh pemerintah juga belum tersedia.

Struktur pasar yang oligopsoni pada lembaga pemasaran cabai rawit merah di
Desa Cigedug juga menjadi penyebab rendahnya integrasi harga di tingkat petani
dengan pedagang besar di pasar induk Kramat Jati.
Saran yang dapat diberikan a untuk petani yaitu sebaiknya memilih
saluran pemasaran I (petani – pedagang pengumpul desa – pedagang besar
Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta) yang
merupakan saluran pemasaran yang paling efisien dibandingkan saluran lainnya
dan saluran ini merupakan saluran yang paling banyak digunakan dalam
pendistribusian cabai rawit merah, dan diperlukan pengaktifan kembali kelompok
tani yang sudah ada di Desa Cigedug sehingga dapat meningkatkan posisi tawar
petani dalam penentuan harga serta pemasaran dapat dilakukan secara bersama
untuk mengurangi biaya pemasaran. Ketidakterpaduan pasar terjadi akibat
ketidaklancaran aliran informasi harga. Oleh karena itu, pemerintah daerah
sebaiknya menciptakan lembaga Sub Terminal Agribisnis (STA) yang membantu
untuk pembukaan akses pasar. Selain itu pemerintah perlu menyediakan fasilitas
dasar seperti pasar di Desa Cigedug, dengan tersedianya pasar di Desa ini
diharapkan para petani dapat memperoleh informasi harga yang lebih mudah.

SISTEM PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH (Capsicum
frutescens) DI DESA CIGEDUG KECAMATAN CIGEDUG
KABUPATEN GARUT

ASMAYANTI
H34080034

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi

:

Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum
frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug
Kabupaten Garut.

Nama

:

Asmayanti

NIM

:

H34080034

Disetujui,
Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina MS
NIP. 195507131987032001

Diketahui,
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Sistem
Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug
Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut adalah karya saya sendiri dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2012

Asmayanti
H34080034

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 26 Desember 1989. Penulis
adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Bapak Abdullah dan Ibunda
Djani Inaku.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Mangkura IV Makassar
pada tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama SMPN 5 Makassar pada
tahun 2005. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan lanjutan menengah atas di
SMAN 5 Makassar pada tahun 2008.
Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB
(USMI) pada tahun 2008.
Selama mengikuti pendidikan di IPB, penulis tercatat aktif pada
organisasi yaitu sebagai pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Pecinta
Agribisnis (HIPMA) Fakultas Ekonomi dan Manajemen (2010-2011) dan aktif di
berbagai kepanitian intra kampus baik di lingkungan Departemen maupun
Fakultas (2009-2011).

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat serta
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Sistem
Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug
Kecamatan

Cigedug

Kabupaten

Garut.

Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengidentifikasi dan menganalisis sistem pemasaran cabai rawit merah secara
kualitatif meliputi saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar dan
perilaku pasar cabai rawit merah maupun secara kuantitatif meliputi marjin
pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan pasar
secara vertikal antara petani dengan Pasar Induk Kramat Jati.

Bogor, Desember 2012
Asmayanti

UCAPAN TERIMA KASIH
Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan dan
nikmat yang diberikan-Nya, penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan
penghargaan kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. selaku dosen pembimbing skripsi dan juga
dosen pembimbing akademik atas arahan, motivasi, kesabaran, dan waktu
yang

diluangkan

kepada

penulis

selama

penulisan

skripsi

serta

mengikutsertakan dalam Penelitian Unggulan Departemen.
2. Dr. Ir. Heny K Daryanto, M. Ec. dan Ir. Narni Farmayanti, M Sc selaku dosen
penguji pada ujian siding penulis yang telah meluangkan waktunya serta
memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Orangtua, Ayahanda Abdullah, Ibunda Djani Inaku, kakanda Ahmad Yani dan
Ariyani serta adik satu-satunya Aryanto atas bantuan, motivasi, cinta kasih,
serta doa yang diberikan. Semoga skripsi ini menjadi hasil yang terbaik.
4. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.
5. Dr. M. Syukur selaku dosen dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB
atas waktu dan informasi yang telah diberikan.
6. Masyarakat Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut, khususnya
Bapak Jajang Soleh, Bapak Uus Bachtiar, dan Bapak Muhtar atas bantuan,
kemudahan, arahan, kesempatan yang telah diberikan serta waktu yang telah
diluangkan, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
7. Teman satu lokasi penelitian Tubagus, Syifa Maulia, dan Eka atas
kebersamaan dan kerja keras selama ini.
8. Teman-teman tercinta, Dila, Arin, Prisca, Gena, Stevi, Arifah, Frida, Hera,
Amelia, dan Hanny atas dorongan, motivasi, dan bantuan selama ini.
9. Semua teman-teman Agribisnis 45 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu,
atas kekeluargaan, kebersamaan, dan kekeluargaan selama tiga tahun ini.

Bogor, Desember 2012
Asmayanti

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................xv
I.

PENDAHULUAN ...........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah ...................................................................................6
1.3. Tujuan Penelitian.......................................................................................8
1.4 Manfaat Penelitian.....................................................................................9
1.5 Ruang Lingkup ..........................................................................................9

II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................10
2.1 Karakteristik Cabai Rawit .......................................................................10
2.2 Fluktuasi Harga Komoditas Sayuran .......................................................11
2.3 Penelitian Terdahulu ...............................................................................12
III. KERANGKA PEMIKIRAN ........................................................................15
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ..................................................................15
3.1.1 Sistem Pemasaran .........................................................................15
3.1.2 Saluran Pemasaran........................................................................16
3.1.3 Fungsi Pemasaran .........................................................................17
3.1.4 Struktur Pasar ...............................................................................17
3.1.5 Perilaku Pasar ...............................................................................21
3.1.6 Marjin Pemasaran .........................................................................22
3.1.7 Farmer’s Share .............................................................................23
3.1.8 Rasio Keuntungan dan Biaya .......................................................24
3.1.9 Keterpaduan Pasar ........................................................................24
3.1.10 Efisiensi Pemasaran ......................................................................28
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ............................................................29
IV. METODE PENELITIAN ............................................................................32
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................................32
4.2 Data dan Instrumentasi ............................................................................32
4.3 Metode Pengumpulan Data .....................................................................32
4.4 Pengolahan dan Analisis Data .................................................................33
4.4.1 Analisis Saluran Pemasaran .........................................................33
4.4.2 Analisis Fungsi Pemasaran ...........................................................33
4.4.3 Analisis Struktur Pasar .................................................................33
4.4.4 Analisis Perilaku Pasar .................................................................34
4.4.5 Analisis Marjin Pemasaran ...........................................................34
4.4.6 Analisis Farmer’s Share...............................................................35
4.4.7 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya .........................................35
4.4.8 Analisis Keterpaduan Pasar ..........................................................36
4.4.9 Pengujian Hipotesis ......................................................................36

xi

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN ........................................................40
5.1 Keadaan Pertanian di Kabupaten Garut ..................................................40
5.2 Keadaan Umum Wilayah Desa Cigedug .................................................44
5.3 Gambaran Umum Usahatani Cabai Rawit Merah ...................................45
5.4 Karakteristik Responden Petani ..............................................................51
5.5 Karakteristik Responden Pedagang .........................................................54
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN.....................................................................56
6.1 Saluran dan Lembaga Pemasaran Cabai Rawit Merah ...........................56
6.1.1. Saluran Pemasaran 1.....................................................................58
6.1.2. Saluran Pemasaran 2.....................................................................60
6.1.3. Saluran Pemasaran 3.....................................................................60
6.1.4. Saluran Pemasaran 4.....................................................................62
6.1.5. Saluran Pemasaran 5.....................................................................62
6.2 Fungsi Pemasaran ....................................................................................63
6.2.1 Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani ............................................63
6.2.2 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul Desa...........65
6.2.3 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar .............................67
6.2.4 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer .......................69
6.3 Struktur Pasar ..........................................................................................71
6.4 Perilaku Pasar ..........................................................................................73
6.4.1 Praktek Penjualan dan Pembelian ................................................73
6.4.2 Sistem Penentuan Harga ...............................................................75
6.4.3 Sistem Pembayaran ......................................................................76
6.4.4 Kerjasama Antar Lembaga Pemasaran .........................................77
6.5 Analisis Marjin Pemasaran......................................................................78
6.6 Analisis Farmer’s Share .........................................................................82
6.7 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Pemasaran ..................................84
6.8 Analisis Keterpaduan Pasar .....................................................................90
VII. KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................95
7.1 Kesimpulan..............................................................................................95
7.2 Saran ........................................................................................................96
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................98
LAMPIRAN ........................................................................................................101

xii

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1.

Perkembangan Konsumsi Cabai Rawit Dalam Rumah Tangga di
Indonesia, 2004-2010 Serta Prediksi Tahun 2011-2012 .......................2

2.

P erkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai
Rawit Menurut Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2010 ........................3

3.

Karakteristik dan Struktur Pasar ..........................................................20

4.

Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai di
Kabupaten Garut Tahun 2008-2010 ....................................................41

5.

Produksi, dan Produktivitas Kentang, Tomat, dan Cabai di
Kabupaten Garut Tahun 2009-2011 ...................................................42

6.

Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai Rawit di Tingkat
Kecamatan Kabupaten Garut tahun 2009-2011...................................44

7.

Karakteristik Responden Petani Berdasarkan Usia di Desa
Cigedug ................................................................................................52

8.

Tingkat Pendidikan Petani Responden ................................................53

9.

Luas Lahan Garapan Cabai Rawit Merah di Tingkat Petani
Responden ...........................................................................................53

10.

Pengalaman Berdagang dan Bentuk Usaha dari Masing-masing
Jenis Pedagang yang Terlibat Dalam Tataniaga Cabai Rawit
Merah Desa Cigedug ...........................................................................55

11.

Fungsi Lembaga Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa
Cigedug ................................................................................................70

12.

Struktur Pasar Yang Dihadapi Oleh Tiap Lembaga Pemasaran
Cabai Rawit Merah ..............................................................................71

13.

Perilaku Pasar Antara Tingkat Lembaga Pemasaran Cabai Rawit
Merah ...................................................................................................73

14.

Praktek Penjualan dan Pembelian........................................................74

15.

Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa
Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut ...............................79

16.

Farmer’s Share Pada Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di
Desa Cigedug .......................................................................................83

17.

Rasio Keuntungan dan Biaya Untuk Setiap Saluran Pemasaran
Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ..................................................85

18.

Nilai Efisiensi Pemasaran Pada Masing-masing Pola Saluran
Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ................................89

xiii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1.

Perkembangan Harga Cabai Tahun 2009-2011 .....................................4

2.

Marjin Pemasaran.................................................................................22

3.

Kerangka Pemikiran Operasional ........................................................31

4.

Perbandingan Luas Lahan Padi, Jagung, Kedelai, Kentang,
Tomat, Cabai Besar, dan Cabai Rawit di Kabupaten Garut
Tahun 2011 ..........................................................................................40

5.

Perbandingan Luas Tanam Kentang, Tomat dan Cabai di
Kabupaten Garut Tahun 2009-2011 ....................................................42

6.

Komoditas Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ................................45

7.

Kegiatan Pemasangan Mulsa di Desa Cigedug ....................................47

8.

Kegiatan Pembibitan Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ................48

9.

(a) Pemasangan Ajir, (b) Penggunaan Pupuk dan Obat-obatan ...........50

10.

Kegiatan Pemanenan dan Pengemasan Cabai Rawit Merah ................51

11.

Pola Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug
Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut ..................................................57

12.

Pola Saluran Pemasaran Petani Mitra Cabai Rawit Merah di
Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut ..........................57

13. Kegiatan Sortasi dan Pengemasan Cabai Rawit Merah di Tingkat
Pedagang Pengumpul Desa ...................................................................67
14. Kegiatan Bongkar Muat dan Penimbangan Cabai Rawit Merah di
Tingkat Pedagang Besar ........................................................................68
15.

Kegiatan Penjualan dan Pengemasan Cabai Rawit Merah di
Tingkat Pedagang Pengecer ..................................................................70

16. Farmer’s Share di Setiap Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah ......84

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Perkembangan Konsumsi Cabai Dalam Rumah Tangga di
Indonesia Tahun 2004-2010 ............................................................... 102

2.

Produksi Cabai Rawit Menurut Provinsi Tahun 2007-2010 ...............103

3.

Produktivitas Cabai Rawit Menurut Provinsi Tahun 2007-2010 ........104

4.

Luas Areal Tanam Cabai Rawit Tahun 2005-2010 Menurut
Kabupaten dan Kota Jawa Barat ......................................................... 105

5.

Peta Administratif Desa Cigedug Kecamatan Cigedug
Kabupaten Garut .................................................................................106

6.

Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas
Komoditas Unggulan Sayuran Kabupaten Garut ............................... 106

7.

Biaya Yang Dikeluarkan Lemabaga Pemasaran Pada Setiap
Saluran ............................................................................................... 107

8.

Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug,
Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut .............................................. 108

9.

Harga Rata-rata Mingguan Caai Rawit Merah di Tingkat Petani
dan Pasar Induk Kramat Jati ............................................................... 110

10. Hasil Estimasi Model Pasar Petani dengan Pasar Induk Kramat
Jati ...................................................................................................... 111
11. Pengujian Keterpaduan Pasar Jangka Pendek dan Jangka Panjang
antara Tingkat Petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk
Kramat Jati ......................................................................................... 112

xv

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hortikultura merupakan sektor penting untuk memenuhi kebutuhan pokok

manusia. Khususnya tanaman buah dan sayuran merupakan komoditas
hortikultura yang berkembang pesat di Indonesia. Kebanyakan sayuran
mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi disebabkan produk hortikultura ini
senantiasa dikonsumsi setiap saat. Komoditas unggulan nasional hortikultura
adalah pisang, mangga, manggis, jeruk, durian, anggrek, rimpang, kentang,
bawang merah, dan cabai (Direktorat Jenderal Hortikultura 2008)1.
Cabai merupakan komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya terhadap
dinamika perokonomian nasional sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas
penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun. Angka inflasi tahun 2010 sebesar
6,96 persen dan jenis bahan makanan yang memberikan andil besar dalam inflasi
antara lain beras sebesar 1,29 persen, cabai merah sebesar 0,32 persen, dan cabai
rawit sebesar 0,22 persen (BPS 2011)2. Hal ini karena produk cabai digunakan
dalam berbagai produk pangan baik olahan masakan tradisional maupun modern.
Hampir seluruh menu masakan di Indonesia menggunakan cabai. Selain itu, cabai
tidak dapat disubstitusi oleh komoditas lain.
Tanaman cabai dapat dikelompokkan menjadi dua jenis: (1) cabai besar
(C. annum) yang terdiri dari cabai merah dan cabai keriting, (2) cabai kecil
dikenal dengan nama cabai rawit (Capsicum frustescens, C. pendulum, C.
baccatum, dan

C. chinense).

Bila dibandingkan dengan cabai

besar,

pembudidayaan cabai rawit relatif lebih mudah karena cabai rawit memiliki
keunggulan lebih tahan terhadap serangan hama penyakit serta dapat ditanam di
lahan apapun (Setiadi 1999).
Cabai rawit digemari untuk dijadikan bahan bumbu masakan karena
memiliki rasa yang sangat pedas dibandingkan cabai besar. Selain itu, cabai rawit
dapat membuat tampilan masakan menjadi cerah dan mampu meningkatkan selera

1
2

http://hortikultura.go.id/download/6_Pilar.pdf [diakses tanggal 22 Januari 2012]
http://dds.bps.go.id/download_file/IP_Februari_2011.pdf [diakses tanggal 17 Februari 2012]

1

makan. Kebutuhan akan cabai rawit semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk dan variasi menu masakan.
Tabel 1. Perkembangan Konsumsi Cabai Rawit Dalam Rumah Tangga di
Indonesia, 2004-2010 Serta Prediksi 2011-2012
Tahun

Kilogram/kapita

Pertumbuhan (%)

2004

1,147

2005

1,272

10,91

2006

1,168

-8,20

2007

1,517

29,91

2008

1,444

-4,81

2009

1,288

-10,83

2010

1,298

0,81

Rata-rata

1,305

2,965

2011*)

1,307

0,66

2012*)

1,316

0,66

Sumber : Susenas, BPS (2012)
Keterangan : *) angka prediksi pusdatin, Kementrian Pertanian

Konsumsi cabai rawit selama periode tahun 2004-2010 relatif berfluktuasi
namun cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dapat dilihat pada
Tabel 2, konsumsi cabai rawit pada tahun 2004 mencapai 1,147 kilogram/kapita
kemudian berfluktuasi namun mengalami peningkatan menjadi 1,298 pada tahun
2010 atau meningkat sebesar 2,49 persen per tahun. Peningkatan konsumsi cabai
rawit diprediksi masih akan terjadi pada tahun 2011 sehingga menjadi sebesar
1,307 kilogram/kapita atau naik 2,49 persen dibandingkan tahun 2010, kemudian
diprediksikan kembali naik menjadi 1,316 kilogram/kapita pada tahun 2012.
Permintaan masyarakat Indonesia akan kebutuhan cabai rawit terus meningkat
terutama saat menjelang hari besar seperti hari raya.
Untuk menghadapi prediksi permintaan yang cenderung meningkat maka
harus didukung dengan peningkatan produksi cabai rawit. Sentra penghasil cabai
rawit yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang merupakan
kontributor utama produksi cabai rawit nasional. Namun provinsi yang memiliki
tingkat kesuburan tanah yang cocok dan mendukung untuk ditanami cabai rawit

2

yang menunjukkan nilai produktivitas terbesar berada di Provinsi Jawa Barat
(Lampiran 3).
Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Cabai Rawit
Menurut Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2010
Tahun
2007

Luas Panen
(Ha)
6.623

Produksi
(Ton)
79.713

Produktivitas
(Ton/Ha)
12,04

2008

6.773

73.261

10,82

2009

7.106

106.304

14,96

2010

8.466

78.906

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura (2010)

9,32
3

Berdasarkan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa luas panen di Provinsi
Jawa Barat mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sedangkan produksi dan
produktivitas cenderung mengalami fluktuasi. Fluktuasi ini diperkiraan karena
faktor perubahan cuaca yang mengganggu pola tanam dan kuantitas produksi
cabai rawit. Musim hujan yang berkepanjangan pada tahun 2010 membuat
produksi cabai rawit turun sebesar 25,77 persen. Selain itu, genangan air pada
daerah penanaman dapat mengakibatkan kerontokan daun dan terserang penyakit
akar. Pukulan air hujan dapat menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran.
Sementara itu, kelembaban udara yang tinggi meningkatkan penyebaran dan
perkembangan hama serta penyakit tanaman (Harpenas dan Dermawan 2011).
Apabila dicermati, hubungan antara produksi cabai rawit dan harga di tingkat
pasar adalah negatif atau produksi berpengaruh nyata terhadap harga cabai rawit,
artinya naik dan turunnya produksi selalu diikuti dengan turun dan naik harga
cabai rawit.
Cabai rawit memiliki beberapa jenis yaitu C. frutescens, C.baccatum,dan
C. chinense. Keberadaan jenis C.baccatum dan C. chinense masih belum
diketahui di Indonesia, sehingga yang teridentifikasi keberadaannya di Indonesia
hanya jenis C. frutescens (Setiadi 1999). Capsicum frutescens memiliki beberapa
varietas salah satunya cabai rawit cakra putih atau di pasaran dikenal dengan

3

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=55¬ab=19 [diakses tanggal 21 Januari 2012].

3

nama cabai rawit merah (Prajnanta 2004). Cabai rawit merah memiliki harga
yang sangat fluktuasi bila dibandingkan dengan jenis cabai lainnya termasuk
cabai rawit hijau dikarenakan pasokan cabai rawit merah di pasaran yang
fluktuatif disamping permintaan yang cenderung stabil (Lampiran 2).

Gambar 1. Perkembangan Harga Cabai Tahun 2009-2011 .
Sumber : Pasar Induk Kramat Jati (2012)

DKI Jakarta (melalui Pasar Induk Kramat Jati) merupakan daerah tujuan
pasar tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Jawa sehingga Pasar
Induk Kramat Jati sebagai pusat pasokan pasar cabai untuk wilayah Jabotabek dan
sekitarnya, dapat digunakan sebagai patokan harga cabai dari titik produksi. Harga
rata-rata tertinggi cabai rawit merah terjadi pada bulan Januari 2011 yang
mencapai Rp 75.964,00 per kilogram. Tetapi delapan bulan kemudian harga cabai
rawit merah jatuh hingga mencapai Rp 8.957,00 per kilogram. Ketidakmampuan
para petani cabai rawit merah untuk melaksanakan dengan peramalan produksi
dan pasar dapat menyebabkan banyak petani yang tidak mampu menjaga
kesinambungan produksinya. Hal ini yang membuat harga cabai rawit merah
cenderung mengalami fluktuasi disamping permintaannya yang cenderung stabil.

4

Kabupaten penghasil cabai rawit di wilayah Jawa Barat dengan luas areal
tanam terbesar berada di Kabupaten Garut (Lampiran 4). Sesuai dengan
karakteristik wilayah Kabupaten Garut, peran sektor pertanian masih merupakan
sektor andalan. Hal ini tercermin dari mata pencaharian masyarakat Kabupaten
Garut sampai tahun 2008 sebesar 32,57% bertumpu pada sektor pertanian,
meningkat dari sebesar 31,45% pada tahun 2007, serta dilihat dari kontribusi
sektor pertanian terhadap PDRB pada tahun 2008 sebesar 48,36% paling tinggi
bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Subsektor hortikultura telah
berperan besar dalam pembangunan Kabupaten Garut, baik peran langsung
terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan lapangan
kerja, sumber pendapatan masyarakat, dan penciptaan ketahanan pangan, maupun
peran tidak langsung melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan
pembangunan dan hubungan sinergis dengan subsektor dan sektor lain (LPPD
Kabupaten Garut 2010). Sayuran yang teridentifikasi sebagai komoditas unggulan
di Kabupaten Garut salah satunya yaitu cabai rawit merah, tepatnya berada di
Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug.
Pada umumnya, petani cabai tidak menjual langsung hasil produksinya ke
pasar-pasar di kota besar disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki petani,
seperti alat transportasi, pengepakan, dan kegiatan lainnya yang berhubungan
dengan pemasaran komoditi tersebut. Selain itu, adanya keterikatan petani kepada
pedagang pengumpul dalam permodalan untuk pembelian benih atau bibit, pupuk,
pestisida, dan lainnya, yang berjumlah cukup besar. Hal ini mendorong petani
untuk menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul. Sebaliknya, bagi
petani yang tidak terikat pinjaman, bebas dalam menentukan pilihan kepada siapa
ia akan jual hasil produksinya seperti menjual langsung kepada konsumen
pemakai melalui pasar-pasar di tingkat desa atau pasar tingkat kecamatan.
Biasanya petani yang demikian mencari pembeli dengan harga tertinggi (Setiadi
1995; Hutabarat dan Rahmanto 2004).
Sama halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Garut yaitu mekanisme
pemasaran untuk komoditas cabai rawit merah di Kabupaten Garut adalah
mekanisme yang menganut sistem pasar terbuka. Sistem pasar terbuka pada
komoditas cabai rawit merah menempatkan pedagang pengumpul pada posisi

5

tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan petani produsen cabai rawit merah
pada penentuan harga jual. Masa panen pada komoditas cabai rawit merah
seringkali hanya ditangani oleh satu orang pengumpul dari awal panen hingga
akhir panen. Kondisi ini telah membatasi kebebasan petani dalam menjual cabai
rawit merah kepada pengumpul lain pada saat panen berikutnya. Pemasaran cabai
rawit merah selalu melibatkan berbagai lembaga pemasaran pada berbagai tingkat
saluran distribusi. Banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat berarti pula sistem
pemasaran yang terjadi tidak efisien dan farmer’s share yang diperoleh tidak
sebanding atau tidak proporsional dengan harga di tingkat konsumen akhir (LPPD
Kabupaten Garut 2010).
1.2

Perumusan Masalah
Harga komoditas cabai rawit merah sulit diprediksi, mengingat fluktuasi

harga cabai rawit merah yang berubah-ubah. Pada dasarnya, fluktuasi harga cabai
ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah pasokan dengan
jumlah permintaan yang dibutuhkan konsumen. Kelebihan jumlah pasokan ini
akan berdampak pada turunya harga komoditas, dan sebaliknya jika terjadi
kekurangan jumlah pasokan. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya
ketidakseimbangan tersebut disebabkan karena pola produksi (adanya on season
dan off season) dan pola tanamnya.
Selama ini budidaya cabai rawit merah dilakukan secara musiman

(seasonal) dengan umur panen 4 hingga 8 bulan lamanya. Kebanyakan petani
cabai rawit merah di Desa Cigedug melakukan budidaya setelah musim hujan atau
pada bulan Desember - Januari sehingga saat panen pada bulan Mei sampai
dengan puncak panen raya pada bulan Juli dan Agustus harga cenderung
menurun. Sedangkan pada musim penghujan, produksinya akan menurun
sehingga membuat harga cabai rawit merah melambung tinggi. Oleh karena itu
dikatakan prospek pasarnya tidak stabil dan pola ini hampir terjadi setiap
tahunnya. Belum lama ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada kelangkaan
cabai rawit merah saat menjelang hari besar yang berakibat pada kenaikan harga
yaitu mencapai Rp 120.000,00 per kilogram. Kenaikan harga ini bahkan melebihi
harga cabai merah besar yang hanya mencapai Rp 90.000,00 per kilogram.

6

Kenaikan ini didorong permintaan yang tinggi menjelang Hari Raya dan musim
hujan sepanjang tahun (Lukman Ismail 2011)4.
Menurut Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut
(2009), kondisi ini disebabkan karena tidak adanya koordinasi dan kerjasama
antar kabupaten sentra produksi dalam hal jaringan informasi pasar,
perkembangan produksi, perkembangan luas tanam, penggunaan teknologi, dan
tidak ada informasi alur distribusi atau jaringan pemasaran baik di tingkat regional
maupun pasar lokal5. Selain itu, karena persebaran produksinya tidak merata
sepanjang tahun di seluruh daerah, maka menyebabkan harganya tidak merata dan
menjadi tidak stabil. Hal ini berdampak pada keputusan investasi petani cabai
rawit merah akibat ketidakpastian penerimaan yang akan diperoleh karena petani
menanggung risiko usaha yang tinggi.
Desa Cigedug Kecamatan Cigedug sebagai salah satu sentra produksi
cabai rawit merah dengan rata-rata nilai produktivitas sebesar 26 ton/ha6. Sistem
tanam yang dilakukan oleh petani di desa ini yaitu monokultur dan tumpang sari.
Jaringan pemasaran cabai rawit merah di Kecamatan Cigedug pada tahun 2011
dimana 97 persen hasil produksi disalurkan melalui pedagang pengumpul desa
dan pedagang pengecer (BP3K Kecamatan Cigedug 2011). Cabai rawit merah ini
kemudian disalurkan ke pasar induk serta industri makanan seperti Indofood.
Namun, dominan hasil panen disalurkan ke pasar induk dikarenakan pedagang
pengumpul desa lebih memilih menghadapi fluktuasi harga yang dapat
memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Dilihat dari sisi petani, para petani cabai rawit merah di Desa Cigedug
memiliki ketergantungan dengan pihak pedagang pengumpul desa. Hal ini terjadi
akibat adanya masalah keterbatasan ilmu dan pengalaman serta diperlukan modal
yang besar seperti menyewa alat transportasi dalam mendistribusikan cabai rawit
merah sehingga menjadikan petani di Desa Cigedug tidak berani untuk terjun
langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapat di tingkat petani relatif
kecil. Kondisi ini melemahkan posisi petani karena daya tawar petani yang lemah

4

http://m.politikana.com/baca/2011/01/08/kupipaste-rencana-pemerintah-terkait-kenaikan-harga-cabai [diakses tanggal 25
Januari 2012]
5
http://www.garutkab.go.id/galleries/pdf_link/sda/profil_cabe.pdf [diakses tanggal 25Januari 2012]
6

Monografi Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 (diolah).

7

khususnya dalam penetapan harga. Selain itu, terbatasnya akses informasi pasar
yang diterima petani dimana informasi pasar berasal dari pedagang pengumpul
desa serta kurangnya jalinan kerjasama antar petani atau antar kelompok.
Berdasarkan kondisi tersebut petani menjadi pihak yang sering kali
dirugikan akibat adanya fluktuasi harga dan para pedaganglah yang mendapatkan
akses lebih untuk memperoleh harga yang lebih tinggi. Sebagai produsen, petani
tidak memiliki posisi tawar yang tinggi dalam hal penentuan harga dipasar
sehingga petani hanya berperan sebagai price taker. Oleh karena itu, perlu adanya
perbaikan pada sistem pemasaran, sehingga para petani cabai rawit merah
diharapkan dapat memperoleh bagian harga yang memadai bagi peningkatan
usahataninya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar, dan
perilaku pasar cabai rawit merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug
Kabupaten Garut.
2. Bagaimana marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan
biaya serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di
tingkat petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati?
1.3.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui sistem pemasaran cabai rawit
merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut meliputi:
1. Menganalisis saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar, dan
perilaku pasar cabai rawit merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug
Kabupaten Garut.
2. Menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan
biaya, serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di
tingkat petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati.

8

1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberi manfaat bagi:

1.

Produsen cabai rawit merah, sebagai informasi untuk membantu dalam
perencanaan produksi dan pemasarannya sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan petani.

2.

Lembaga terkait, sebagai bahan masukan dalam membuat kebijakan.

3.

Pihak peneliti lainnya, sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.

4.

Mahasiswa, sebagai salah satu referensi mengenai sistem pemasaran cabai
rawit merah untuk menambah pengetahuan para pembaca.

1.5

Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten

Garut dengan berfokus pada komoditas cabai rawit merah segar. Responden
dalam penelitian ini adalah petani yang berada di Desa Cigedug sebagai produsen
dan lembaga pemasaran yang terkait. Wilayah ini dipilih secara sengaja
(purposive) karena Desa Cigedug merupakan salah satu sentra produksi cabai
rawit merah. Analisis penelitian difokuskan menganalisis sistem pemasaran cabai
rawit merah segar. Analisis sistem pemasaran mengkaji saluran pemasaran cabai
rawit merah segar, fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, marjin
pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan
pasar vertikal. Model yang digunakan untuk menganalisis keterpaduan pasar
vertikal cabai rawit merah di tingkat petani di Desa Cigedug Pasar Induk Kramat
Jati yaitu menggunakan model pendekatan Autoregressive Distributited Lag.

9

II.
2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Cabai Rawit
Cabai rawit (Capsicum frutescens)

memiliki ukuran buah yang kecil

dengan rasa yang pedas bila dibandingkan dengan cabai besar. Tanaman cabai
rawit dikenal sebagai tanaman cabai paling mudah beradaptasi dengan lingkungan
tempat tumbuhnya dan tanaman yang luwes dibudidayakan. Namun daerah
tumbuh yang paling cocok yaitu dataran dengan ketinggian 0-500 meter dari
permukaan laut. Kondisi tanah secara umum harus subur dengan derajat keasaman
(ph) tanah antara 6,0 ‐7,0. Kelembaban tanahnya harus cukup dengan ditandai

oleh kandungan air yang tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Tanah tersebut
juga mempunyai suhu yang sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu tinggi

yaitu berkisar antara 15° ‐ 28 ° C. Hanya saja, cabai rawit yang ditanam di tempat

yang berbeda akan menghasilkan produksi yang berbeda pula. Oleh karena itu,

cabai rawit lebih unggul dibandingkan dengan cabai besar. Keunggulan tersebut
yaitu cabai rawit lebih tahan terhadap hama penyakit khususnya penyakit layu
bakteri, busuk buah, dan bercak daun (Setiadi 1999).
Umumnya, para petani di Pulau Jawa mengenal tiga musim dalam
menanam cabai rawit, yaitu musim labuhan (saat hujan mulai turun), musim
marengan (saat hujan akan berakhir), dan musim kemarau. Namun petani cabai
rawit di Kabupaten Garut umumnya memiliki umur pemanenan yaitu berkisar
antara 7-12 bulan dan pada umumnya melakukan penanaman bibit pada musim
marengan. Pemanenan dilakukan tiap minggu atau dua minggu sekali. Pada situasi
lapang, kebanyakan petani melakukan pemanenan berdasarkan pada keadaan
pasar. Bila pasar cabai kurang menguntungkan, buah dipanen dalam keadaan yang
benar-benar tua. Sebaliknya bila keadaan pasar menguntungkan, petani menanam
cabai rawit dengan selang waktu pendek dengan warna yang belum merah merata.

10

Cabai rawit memiliki beberapa varietas, salah satunya yaitu cakra putih.
Cakra putih merupakan varietas cabai rawit merah yang berwarna putih
kekuningan saat muda dan akan berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan
tanaman varietas ini sangat kuat dan membentuk banyak percabangan. Posisi buah
tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasa sangat pedas. Optimal hasil
panen varietas ini mampu menghasilkan buah 12 ton per hektarnya dengan ratarata 300 buah per tanaman. Cakra putih dapat dipanen pada umur 85-90 hari
setelah tanam. Keunggulan dari varietas ini yaitu

tahan terhadap serangan

penyakit antraknose (Rukmana 2002).
2.2

Fluktuasi Harga Komoditas Sayuran
Fluktuasi harga yang tinggi merupakan salah satu isu sentral yang sering

muncul dalam pemasaran komoditas hortikultura. Harga yang sangat berfluktuatif
secara teoritis akan menyulitkan prediksi bisnis, baik dalam perhitungan rugi laba
maupun

manajemen

menguntungkan para

risiko.

Harga

yang

demikian

seringkali

hanya

spekulan yang umumya para pedagang tertentu yang

mampu mengelola pasokan secara baik dan benar.
Menurut Irawan (2007), fluktuasi harga komoditas pada dasarnya terjadi
akibat ketidakseimbangan antara jumlah pasokan dan permintaan yang dibutuhkan
konsumen. Jika pasokan berlebih maka harga komoditas akan turun, sebaliknya
jika terjadi kekurangan pasokan. Dalam proses pembentukan harga, perilaku
petani dan pedagang menjadi penting karena mereka dapat mengatur volume
penjualan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini mengindikasikan bahwa
pada dasarnya fluktuasi harga yang relatif tinggi pada komoditas sayuran terjadi
akibat kegagalan petani dan pedagang sayuran dalam mengatur volume
pasokannya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kondisi demikian dapat
disebabkan oleh:
1.

Adanya konsentrasi produksi sayuran pada daerah-daerah tertentu,
misalnya 82 persen produksi cabai dihasilkan di 7 provinsi. Kondisi ini
menjadi tidak kondusif bagi stabilitas harga karena jika terjadi anomali
produksi (misalnya gagal panen akibat hama atau lonjakan produksi akibat
pengaruh iklim) di salah satu daerah sentra produksi maka akan
berpengaruh besar terhadap keseimbangan pasar secara keseluruhan.
11

2.

Konsentrasi produksi secara regional diperparah pula oleh pola produksi
yang tidak sinkron antar daerah produsen sehingga total produksi sayuran
cenderung terkonsentrasi pada bulan-bulan tertentu. Konsentrasi produksi
secara temporer tersebut misalnya dapat dilihat pada pola produksi cabai
merah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan
sentra cabai merah. Di ketiga provinsi tersebut sekitar 60-65 persen
produksi cabai merah hanya dihasilkan pada bulan Juni hingga Agustus
sehingga pada bulan-bulan tersebut harga cabai merah cenderung
mengalami penurunan tajam.

3.

Umumnya permintaan komoditas sayuran sangat sensitif terhadap
perubahan kesegaran produk yang mana sifat komoditas sayuran
umumnya relatif cepat busuk sehingga petani dan pedagang tidak mampu
menahan penjualannya terlalu lama. Akibatnya adalah pengaturan volume
pasokan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen tidak mudah
dilakukan karena setelah dipanen petani cenderung segera menjual hasil
panennya agar sayuran yang dipasarkan masih dalam keadaan segar.

4.

Dibutuhkan sarana penyimpanan yang mampu mempertahankan kesegaran
produk secara efisien sehingga pengatur volume pasokan yang sesuai
dengan kebutuhan konsumen dapat dilakukan. Namun ketersediaan sarana
penyimpanan tersebut umumnya relatif terbatas akibat kebutuhan investasi
yang cukup besar sedangkan teknologi penyimpanan sederhana yang dapat
diterapkan oleh petani sangat terbatas.

2.3

Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang menjadi acuan tentang sistem pemasaran dalam

penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Agustian dan Anugrah (2008)
yang meneliti tentang perkembangan harga dan rantai pemasaran komoditas cabai
merah di Provinsi Jawa Barat, penelitian yang dilakukan Azir (2002) tentang
kajian sistem pemasaran dan integrasi pasar cabai merah keriting di DKI Jakarta
dan penelitian yang dilakukan Muslikh (2000) tentang analisis sistem tataniaga
cabai rawit merah di DKI Jakarta.
Sistem pemasaran yang dianalisis meliputi saluran pemasaran, struktur
pasar, perilaku pasar, dan keragaan pasar meliputi analisis marjin, farmer’s share,
12

dan keterpaduan pasar cabai (Muslikh 2000; Azir 2002; Agustian dan Anugrah
2008). Pemasaran cabai merah dimulai dari petani cabai menjual ke pedagang

Dokumen yang terkait

Dokumen baru