Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut

(1)

SISTEM PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH (

Capsicum

frutescens

) DI DESA CIGEDUG KECAMATAN CIGEDUG

KABUPATEN GARUT

SKRIPSI

ASMAYANTI H34080034

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012


(2)

RINGKASAN

ASMAYANTI. Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan RITA NURMALINA).

Salah satu komoditas unggulan nasional hortikultura adalah cabai. Cabai merupakan komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya terhadap dinamika perekonomian nasional sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun, inflasi di tahun 2010 cabai rawit merah menyumbang 0,22 persen. Cabai rawit merah memiliki harga yang sangat fluktuasi bila dibandingkan dengan jenis cabai lainnya. Belum lama ini, masyarakat Indonesia dikejutkan pada tingginya harga cabai rawit merah yang mencapai Rp 120.000 per kg. Fluktuasi harga cabai rawit merah dipasaran menyebabkan ketidakpastian penerimaan yang akan diperoleh sehingga petani cabai rawit merah menanggung risiko usaha yang tinggi.

Desa Cigedug merupakan salah satu sentra produksi cabai rawit merah di Jawa Barat. Jaringan pemasaran cabai rawit merah di desa ini menempatkan pedagang pengumpul desa pada posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan petani produsen cabai rawit merah pada penentuan harga jual. Selain itu, terbatasnya akses informasi pasar yang diterima petani dimana informasi pasar berasal dari pedagang pengumpul desa serta kurangnya jalinan kerjasama antar petani atau antar kelompok. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada sistem pemasaran cabai rawit merah.

Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis saluran pemasaran, fungsi pemasaran cabai rawit merah, struktur pasar, dan perilaku pasar, (2) menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di tingkat petani di Desa Cigedug sebagai pasar lokal dengan Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasar acuan.

Penelitian ini dilakukan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Pengambilan responden petani dilakukan dengan metode purposive sebanyak 30 orang, sedangkan untuk pedagang dilakukan dengan mengikuti alur distribusi cabai rawit merah yang dimulai dari petani. Responden pedagang terdiri dari 7 pedagang pengumpul desa, 8 pedagang besar, dan 7 pedagang pengecer.

Terdapat lima saluran pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yang melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul desa (PPD), pedagang besar, dan pedagang pengecer. Saluran I : petani – pedagang pengumpul desa (PPD) – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta, saluran II : petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Cikajang – konsumen Kecamatan Cikajang, saluran III: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Cikajang – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta, saluran IV: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Caringin Bandung – pedagang pengecer – konsumen Bandung, dan saluran V: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Caringin Bandung – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing


(3)

lembaga pemasaran sebagian besar melakukan ketiga fungsi utama yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas, namun fungsi penyimpanan yang termasukdalam fungsi fisik hanya dilakukan oleh pedagang pengecer. Struktur pasar yang dihadapi oleh lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yaitu cenderung berada pada kondisi pasar oligopsoni. Hal ini dikarenakan jumlah pembeli lebih sedikit dari jumlah penjual, penentuan harga dilakukan secara tawar-menawar namun pihak pedagang besar memiliki kekuatan yang lebih tinggi dalam penentuan harga. Perilaku pasar yang terjadi di tingkat petani jika dilihat dari praktik penjualan langsung dengan menggunakan sistem pembayaran tunai. Adapun di tingkat pedagang pengumpul desa dan pedagang pengecer adalah sistem pembayaran tunai dan kemudian. Sedangkan di tingkat pedagang besar menggunakan sistem pembayaran kemudian. Pembayaran kemudian dilakukan satu hingga tiga hari ke depan.

Hasil analisis marjin bahwa marjin pemasaran terkecil terdapat pada saluran II yaitu 55 persen. Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II sebesar 45,00 persen dan rasio πi/Ci terbesar terdapat pada saluran IV sebesar

3,251. Walaupun saluran I memiliki perolehan marjin terkecil ketiga diantara lima pola saluran yang terbentuk yaitu sebesar 75 persen dan farmer’s share tertinggi ketiga sebesar 25 persen. Namun jika dilihat dari harga jual cabai rawit merah di tingkat petani, saluran I memiliki harga jual yang paling tinggi dan volume penjualan terbesar sebanyak 1.490 kilogram dengan tujuan pemasaran yaitu wilayah Jakarta (Pasar Induk Kramat Jati Jakarta). Nilai rasio πi/Ci pada saluran I lebih besar dari 1 yaitu 3,203. Tingginya volume penjualan cabai rawit merah pada saluran I menunjukkan tingginya kontinuitas pemasaran pada saluran I ini sehingga saluran I dinilai sebagai alternatif saluran yang efisien.

Analisis keterpaduan pasar menunjukkan nilai IMC > 1, yaitu sebesar 4,2 artinya tidak terdapat keterpaduan jangka pendek dan nilai koefisien b2 memiliki nilai < 1, yaitu sebesar 0,493 menunjukkan tidak ada keterpaduan jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi mengenai perubahan harga di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta tidak diteruskan atau diterima di pasar lokal (tingkat petani) secara proporsional. Artinya perubahan harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada kurun waktu sebelumnya tidak ditrasmisikan ke harga saat ini di tingkat petani. Tidak adanya keterpaduan pasar ini menunjukkan tidak lancarnya arus informasi dan komunikasi. Arus informasi tidak berjalan dengan lancar dan seimbang, menyebabkan petani tidak mengetahui informasi yang dihadapi oleh pedagang besar di Pasar Induk Kramat jati, sehingga petani di Desa Cigedug tidak dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga. Tidak lancarnya arus informasi harga ini sesuai dengan struktur pasar yang terjadi dimana pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati memiliki kekuatan oligopsoni, dapat mengendalikan harga beli dari petani. Komunikasi yang terjadi tidak transparan dan sehingga menyulitkan terjadinya integrasi harga dengan baik.

Di Desa Cigedug, infrastruktur transportasi, sistem informasi harga, dan fasilitas pasar desa dan pasar yang transparan relatif belum tersedia secara memadai. Infrastruktur transportasi dari lahan petani cabai rawit merah ke pasar induk relatif buruk dimana kondisi lahan di Desa Cigedug yang berbukit-bukit sehingga aksesibilitas ke dan dari sentra produksi petani relatif sulit. Demikian juga dengan fasilitas-fasilitas dasar seperti pasar desa belum tersedia. Sistem informasi harga yang mestinya dibangun oleh pemerintah juga belum tersedia.


(4)

Struktur pasar yang oligopsoni pada lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug juga menjadi penyebab rendahnya integrasi harga di tingkat petani dengan pedagang besar di pasar induk Kramat Jati.

Saran yang dapat diberikan a untuk petani yaitu sebaiknya memilih saluran pemasaran I (petani – pedagang pengumpul desa – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta) yang merupakan saluran pemasaran yang paling efisien dibandingkan saluran lainnya dan saluran ini merupakan saluran yang paling banyak digunakan dalam pendistribusian cabai rawit merah, dan diperlukan pengaktifan kembali kelompok tani yang sudah ada di Desa Cigedug sehingga dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam penentuan harga serta pemasaran dapat dilakukan secara bersama untuk mengurangi biaya pemasaran. Ketidakterpaduan pasar terjadi akibat ketidaklancaran aliran informasi harga. Oleh karena itu, pemerintah daerah sebaiknya menciptakan lembaga Sub Terminal Agribisnis (STA) yang membantu untuk pembukaan akses pasar. Selain itu pemerintah perlu menyediakan fasilitas dasar seperti pasar di Desa Cigedug, dengan tersedianya pasar di Desa ini diharapkan para petani dapat memperoleh informasi harga yang lebih mudah.


(5)

SISTEM PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH (

Capsicum

frutescens

) DI DESA CIGEDUG KECAMATAN CIGEDUG

KABUPATEN GARUT

ASMAYANTI H34080034

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012


(6)

Judul Skripsi : Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut.

Nama : Asmayanti

NIM : H34080034

Tanggal Lulus :

Disetujui, Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina MS NIP. 195507131987032001

Diketahui,

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002


(7)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2012

Asmayanti H34080034


(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 26 Desember 1989. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Bapak Abdullah dan Ibunda Djani Inaku.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Mangkura IV Makassar pada tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama SMPN 5 Makassar pada tahun 2005. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan lanjutan menengah atas di SMAN 5 Makassar pada tahun 2008.

Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008.

Selama mengikuti pendidikan di IPB, penulis tercatat aktif pada organisasi yaitu sebagai pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Pecinta Agribisnis (HIPMA) Fakultas Ekonomi dan Manajemen (2010-2011) dan aktif di berbagai kepanitian intra kampus baik di lingkungan Departemen maupun Fakultas (2009-2011).


(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis sistem pemasaran cabai rawit merah secara kualitatif meliputi saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar dan perilaku pasar cabai rawit merah maupun secara kuantitatif meliputi marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan pasar

secara vertikal antara petani dengan Pasar Induk Kramat Jati.

Bogor, Desember 2012 Asmayanti


(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan dan nikmat yang diberikan-Nya, penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. selaku dosen pembimbing skripsi dan juga dosen pembimbing akademik atas arahan, motivasi, kesabaran, dan waktu yang diluangkan kepada penulis selama penulisan skripsi serta mengikutsertakan dalam Penelitian Unggulan Departemen.

2. Dr. Ir. Heny K Daryanto, M. Ec. dan Ir. Narni Farmayanti, M Sc selaku dosen penguji pada ujian siding penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Orangtua, Ayahanda Abdullah, Ibunda Djani Inaku, kakanda Ahmad Yani dan Ariyani serta adik satu-satunya Aryanto atas bantuan, motivasi, cinta kasih, serta doa yang diberikan. Semoga skripsi ini menjadi hasil yang terbaik. 4. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.

5. Dr. M. Syukur selaku dosen dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB atas waktu dan informasi yang telah diberikan.

6. Masyarakat Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut, khususnya Bapak Jajang Soleh, Bapak Uus Bachtiar, dan Bapak Muhtar atas bantuan, kemudahan, arahan, kesempatan yang telah diberikan serta waktu yang telah diluangkan, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

7. Teman satu lokasi penelitian Tubagus, Syifa Maulia, dan Eka atas kebersamaan dan kerja keras selama ini.

8. Teman-teman tercinta, Dila, Arin, Prisca, Gena, Stevi, Arifah, Frida, Hera, Amelia, dan Hanny atas dorongan, motivasi, dan bantuan selama ini.

9. Semua teman-teman Agribisnis 45 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, atas kekeluargaan, kebersamaan, dan kekeluargaan selama tiga tahun ini.

Bogor, Desember 2012 Asmayanti


(11)

xi

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

1.5 Ruang Lingkup ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Karakteristik Cabai Rawit ... 10

2.2 Fluktuasi Harga Komoditas Sayuran ... 11

2.3 Penelitian Terdahulu ... 12

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 15

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 15

3.1.1 Sistem Pemasaran ... 15

3.1.2 Saluran Pemasaran... 16

3.1.3 Fungsi Pemasaran ... 17

3.1.4 Struktur Pasar ... 17

3.1.5 Perilaku Pasar ... 21

3.1.6 Marjin Pemasaran ... 22

3.1.7 Farmer’s Share ... 23

3.1.8 Rasio Keuntungan dan Biaya ... 24

3.1.9 Keterpaduan Pasar ... 24

3.1.10 Efisiensi Pemasaran ... 28

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 29

IV. METODE PENELITIAN ... 32

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 32

4.2 Data dan Instrumentasi ... 32

4.3 Metode Pengumpulan Data ... 32

4.4 Pengolahan dan Analisis Data ... 33

4.4.1 Analisis Saluran Pemasaran ... 33

4.4.2 Analisis Fungsi Pemasaran ... 33

4.4.3 Analisis Struktur Pasar ... 33

4.4.4 Analisis Perilaku Pasar ... 34

4.4.5 Analisis Marjin Pemasaran ... 34

4.4.6 Analisis Farmer’s Share... 35

4.4.7 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya ... 35

4.4.8 Analisis Keterpaduan Pasar ... 36


(12)

xii

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN ... 40

5.1 Keadaan Pertanian di Kabupaten Garut ... 40

5.2 Keadaan Umum Wilayah Desa Cigedug ... 44

5.3 Gambaran Umum Usahatani Cabai Rawit Merah ... 45

5.4 Karakteristik Responden Petani ... 51

5.5 Karakteristik Responden Pedagang ... 54

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN... 56

6.1 Saluran dan Lembaga Pemasaran Cabai Rawit Merah ... 56

6.1.1. Saluran Pemasaran 1... 58

6.1.2. Saluran Pemasaran 2... 60

6.1.3. Saluran Pemasaran 3... 60

6.1.4. Saluran Pemasaran 4... 62

6.1.5. Saluran Pemasaran 5... 62

6.2 Fungsi Pemasaran ... 63

6.2.1 Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani ... 63

6.2.2 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul Desa... 65

6.2.3 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar ... 67

6.2.4 Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer ... 69

6.3 Struktur Pasar ... 71

6.4 Perilaku Pasar ... 73

6.4.1 Praktek Penjualan dan Pembelian ... 73

6.4.2 Sistem Penentuan Harga ... 75

6.4.3 Sistem Pembayaran ... 76

6.4.4 Kerjasama Antar Lembaga Pemasaran ... 77

6.5 Analisis Marjin Pemasaran ... 78

6.6 Analisis Farmer’s Share ... 82

6.7 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Pemasaran ... 84

6.8 Analisis Keterpaduan Pasar ... 90

VII.KESIMPULAN DAN SARAN... 95

7.1 Kesimpulan ... 95

7.2 Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 98


(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Perkembangan Konsumsi Cabai Rawit Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2004-2010 Serta Prediksi Tahun 2011-2012 ...2 2. P erkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai

Rawit Menurut Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2010 ...3 3. Karakteristik dan Struktur Pasar ...20 4. Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai di

Kabupaten Garut Tahun 2008-2010 ...41 5. Produksi, dan Produktivitas Kentang, Tomat, dan Cabai di

Kabupaten Garut Tahun 2009-2011 ...42 6. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Cabai Rawit di Tingkat

Kecamatan Kabupaten Garut tahun 2009-2011 ...44 7. Karakteristik Responden Petani Berdasarkan Usia di Desa

Cigedug ...52 8. Tingkat Pendidikan Petani Responden ...53 9. Luas Lahan Garapan Cabai Rawit Merah di Tingkat Petani

Responden ...53 10. Pengalaman Berdagang dan Bentuk Usaha dari Masing-masing

Jenis Pedagang yang Terlibat Dalam Tataniaga Cabai Rawit Merah Desa Cigedug ...55 11. Fungsi Lembaga Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa

Cigedug ...70 12. Struktur Pasar Yang Dihadapi Oleh Tiap Lembaga Pemasaran

Cabai Rawit Merah ...71 13. Perilaku Pasar Antara Tingkat Lembaga Pemasaran Cabai Rawit

Merah ...73 14. Praktek Penjualan dan Pembelian ...74 15. Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa

Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut ...79 16. Farmer’s Share Pada Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di

Desa Cigedug ...83 17. Rasio Keuntungan dan Biaya Untuk Setiap Saluran Pemasaran

Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ...85 18. Nilai Efisiensi Pemasaran Pada Masing-masing Pola Saluran


(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Perkembangan Harga Cabai Tahun 2009-2011 ...4

2. Marjin Pemasaran...22

3. Kerangka Pemikiran Operasional ...31

4. Perbandingan Luas Lahan Padi, Jagung, Kedelai, Kentang, Tomat, Cabai Besar, dan Cabai Rawit di Kabupaten Garut Tahun 2011 ...40

5. Perbandingan Luas Tanam Kentang, Tomat dan Cabai di Kabupaten Garut Tahun 2009-2011 ...42

6. Komoditas Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ...45

7. Kegiatan Pemasangan Mulsa di Desa Cigedug ...47

8. Kegiatan Pembibitan Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug ...48

9. (a) Pemasangan Ajir, (b) Penggunaan Pupuk dan Obat-obatan ...50

10. Kegiatan Pemanenan dan Pengemasan Cabai Rawit Merah ...51

11. Pola Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut ...57

12. Pola Saluran Pemasaran Petani Mitra Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut ...57

13. Kegiatan Sortasi dan Pengemasan Cabai Rawit Merah di Tingkat Pedagang Pengumpul Desa ...67

14. Kegiatan Bongkar Muat dan Penimbangan Cabai Rawit Merah di Tingkat Pedagang Besar ...68

15. Kegiatan Penjualan dan Pengemasan Cabai Rawit Merah di Tingkat Pedagang Pengecer ...70


(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Perkembangan Konsumsi Cabai Dalam Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2004-2010 ... 102 2. Produksi Cabai Rawit Menurut Provinsi Tahun 2007-2010 ... 103 3. Produktivitas Cabai Rawit Menurut Provinsi Tahun 2007-2010 ... 104 4. Luas Areal Tanam Cabai Rawit Tahun 2005-2010 Menurut

Kabupaten dan Kota Jawa Barat ... 105 5. Peta Administratif Desa Cigedug Kecamatan Cigedug

Kabupaten Garut ... 106 6. Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas

Komoditas Unggulan Sayuran Kabupaten Garut ... 106 7. Biaya Yang Dikeluarkan Lemabaga Pemasaran Pada Setiap

Saluran ... 107 8. Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug,

Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut ... 108 9. Harga Rata-rata Mingguan Caai Rawit Merah di Tingkat Petani

dan Pasar Induk Kramat Jati ... 110 10. Hasil Estimasi Model Pasar Petani dengan Pasar Induk Kramat

Jati ... 111 11. Pengujian Keterpaduan Pasar Jangka Pendek dan Jangka Panjang

antara Tingkat Petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati ... 112


(16)

1

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hortikultura merupakan sektor penting untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Khususnya tanaman buah dan sayuran merupakan komoditas hortikultura yang berkembang pesat di Indonesia. Kebanyakan sayuran mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi disebabkan produk hortikultura ini senantiasa dikonsumsi setiap saat. Komoditas unggulan nasional hortikultura adalah pisang, mangga, manggis, jeruk, durian, anggrek, rimpang, kentang, bawang merah, dan cabai (Direktorat Jenderal Hortikultura 2008)1.

Cabai merupakan komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya terhadap dinamika perokonomian nasional sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun. Angka inflasi tahun 2010 sebesar 6,96 persen dan jenis bahan makanan yang memberikan andil besar dalam inflasi antara lain beras sebesar 1,29 persen, cabai merah sebesar 0,32 persen, dan cabai rawit sebesar 0,22 persen (BPS 2011)2. Hal ini karena produk cabai digunakan dalam berbagai produk pangan baik olahan masakan tradisional maupun modern. Hampir seluruh menu masakan di Indonesia menggunakan cabai. Selain itu, cabai tidak dapat disubstitusi oleh komoditas lain.

Tanaman cabai dapat dikelompokkan menjadi dua jenis: (1) cabai besar (C. annum) yang terdiri dari cabai merah dan cabai keriting, (2) cabai kecil dikenal dengan nama cabai rawit (Capsicum frustescens, C. pendulum, C. baccatum, dan C. chinense). Bila dibandingkan dengan cabai besar, pembudidayaan cabai rawit relatif lebih mudah karena cabai rawit memiliki keunggulan lebih tahan terhadap serangan hama penyakit serta dapat ditanam di lahan apapun (Setiadi 1999).

Cabai rawit digemari untuk dijadikan bahan bumbu masakan karena memiliki rasa yang sangat pedas dibandingkan cabai besar. Selain itu, cabai rawit dapat membuat tampilan masakan menjadi cerah dan mampu meningkatkan selera

1

http://hortikultura.go.id/download/6_Pilar.pdf [diakses tanggal 22 Januari 2012]


(17)

2 makan. Kebutuhan akan cabai rawit semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan variasi menu masakan.

Tabel 1. Perkembangan Konsumsi Cabai Rawit Dalam Rumah Tangga di Indonesia, 2004-2010 Serta Prediksi 2011-2012

Tahun Kilogram/kapita Pertumbuhan (%)

2004 1,147

2005 1,272 10,91

2006 1,168 -8,20

2007 1,517 29,91

2008 1,444 -4,81

2009 1,288 -10,83

2010 1,298 0,81

Rata-rata 1,305 2,965

2011*) 1,307 0,66

2012*) 1,316 0,66

Sumber : Susenas, BPS (2012)

Keterangan : *) angka prediksi pusdatin, Kementrian Pertanian

Konsumsi cabai rawit selama periode tahun 2004-2010 relatif berfluktuasi namun cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dapat dilihat pada Tabel 2, konsumsi cabai rawit pada tahun 2004 mencapai 1,147 kilogram/kapita kemudian berfluktuasi namun mengalami peningkatan menjadi 1,298 pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 2,49 persen per tahun. Peningkatan konsumsi cabai rawit diprediksi masih akan terjadi pada tahun 2011 sehingga menjadi sebesar 1,307 kilogram/kapita atau naik 2,49 persen dibandingkan tahun 2010, kemudian diprediksikan kembali naik menjadi 1,316 kilogram/kapita pada tahun 2012. Permintaan masyarakat Indonesia akan kebutuhan cabai rawit terus meningkat terutama saat menjelang hari besar seperti hari raya.

Untuk menghadapi prediksi permintaan yang cenderung meningkat maka harus didukung dengan peningkatan produksi cabai rawit. Sentra penghasil cabai rawit yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang merupakan kontributor utama produksi cabai rawit nasional. Namun provinsi yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang cocok dan mendukung untuk ditanami cabai rawit


(18)

3 yang menunjukkan nilai produktivitas terbesar berada di Provinsi Jawa Barat (Lampiran 3).

Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Cabai Rawit Menurut Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2010

Tahun Luas Panen

(Ha)

Produksi (Ton)

Produktivitas (Ton/Ha)

2007 6.623 79.713 12,04

2008 6.773 73.261 10,82

2009 7.106 106.304 14,96

2010 8.466 78.906 9,32

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura (2010)3

Berdasarkan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa luas panen di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sedangkan produksi dan produktivitas cenderung mengalami fluktuasi. Fluktuasi ini diperkiraan karena faktor perubahan cuaca yang mengganggu pola tanam dan kuantitas produksi cabai rawit. Musim hujan yang berkepanjangan pada tahun 2010 membuat produksi cabai rawit turun sebesar 25,77 persen. Selain itu, genangan air pada daerah penanaman dapat mengakibatkan kerontokan daun dan terserang penyakit akar. Pukulan air hujan dapat menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran. Sementara itu, kelembaban udara yang tinggi meningkatkan penyebaran dan perkembangan hama serta penyakit tanaman (Harpenas dan Dermawan 2011). Apabila dicermati, hubungan antara produksi cabai rawit dan harga di tingkat pasar adalah negatif atau produksi berpengaruh nyata terhadap harga cabai rawit, artinya naik dan turunnya produksi selalu diikuti dengan turun dan naik harga cabai rawit.

Cabai rawit memiliki beberapa jenis yaitu C. frutescens, C.baccatum,dan C. chinense. Keberadaan jenis C.baccatum dan C. chinense masih belum diketahui di Indonesia, sehingga yang teridentifikasi keberadaannya di Indonesia hanya jenis C. frutescens (Setiadi 1999). Capsicum frutescens memiliki beberapa varietas salah satunya cabai rawit cakra putih atau di pasaran dikenal dengan

3


(19)

4 nama cabai rawit merah (Prajnanta 2004). Cabai rawit merah memiliki harga yang sangat fluktuasi bila dibandingkan dengan jenis cabai lainnya termasuk cabai rawit hijau dikarenakan pasokan cabai rawit merah di pasaran yang fluktuatif disamping permintaan yang cenderung stabil (Lampiran 2).

Gambar 1.Perkembangan Harga Cabai Tahun 2009-2011 .

Sumber : Pasar Induk Kramat Jati (2012)

DKI Jakarta (melalui Pasar Induk Kramat Jati) merupakan daerah tujuan pasar tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Jawa sehingga Pasar Induk Kramat Jati sebagai pusat pasokan pasar cabai untuk wilayah Jabotabek dan sekitarnya, dapat digunakan sebagai patokan harga cabai dari titik produksi. Harga rata-rata tertinggi cabai rawit merah terjadi pada bulan Januari 2011 yang mencapai Rp 75.964,00 per kilogram. Tetapi delapan bulan kemudian harga cabai rawit merah jatuh hingga mencapai Rp 8.957,00 per kilogram. Ketidakmampuan para petani cabai rawit merah untuk melaksanakan dengan peramalan produksi dan pasar dapat menyebabkan banyak petani yang tidak mampu menjaga kesinambungan produksinya. Hal ini yang membuat harga cabai rawit merah cenderung mengalami fluktuasi disamping permintaannya yang cenderung stabil.


(20)

5 Kabupaten penghasil cabai rawit di wilayah Jawa Barat dengan luas areal tanam terbesar berada di Kabupaten Garut (Lampiran 4). Sesuai dengan karakteristik wilayah Kabupaten Garut, peran sektor pertanian masih merupakan sektor andalan. Hal ini tercermin dari mata pencaharian masyarakat Kabupaten Garut sampai tahun 2008 sebesar 32,57% bertumpu pada sektor pertanian, meningkat dari sebesar 31,45% pada tahun 2007, serta dilihat dari kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB pada tahun 2008 sebesar 48,36% paling tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Subsektor hortikultura telah berperan besar dalam pembangunan Kabupaten Garut, baik peran langsung terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat, dan penciptaan ketahanan pangan, maupun peran tidak langsung melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan subsektor dan sektor lain (LPPD Kabupaten Garut 2010). Sayuran yang teridentifikasi sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Garut salah satunya yaitu cabai rawit merah, tepatnya berada di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug.

Pada umumnya, petani cabai tidak menjual langsung hasil produksinya ke pasar-pasar di kota besar disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki petani, seperti alat transportasi, pengepakan, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pemasaran komoditi tersebut. Selain itu, adanya keterikatan petani kepada pedagang pengumpul dalam permodalan untuk pembelian benih atau bibit, pupuk, pestisida, dan lainnya, yang berjumlah cukup besar. Hal ini mendorong petani untuk menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul. Sebaliknya, bagi petani yang tidak terikat pinjaman, bebas dalam menentukan pilihan kepada siapa ia akan jual hasil produksinya seperti menjual langsung kepada konsumen pemakai melalui pasar-pasar di tingkat desa atau pasar tingkat kecamatan. Biasanya petani yang demikian mencari pembeli dengan harga tertinggi (Setiadi 1995; Hutabarat dan Rahmanto 2004).

Sama halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Garut yaitu mekanisme pemasaran untuk komoditas cabai rawit merah di Kabupaten Garut adalah mekanisme yang menganut sistem pasar terbuka. Sistem pasar terbuka pada komoditas cabai rawit merah menempatkan pedagang pengumpul pada posisi


(21)

6 tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan petani produsen cabai rawit merah pada penentuan harga jual. Masa panen pada komoditas cabai rawit merah seringkali hanya ditangani oleh satu orang pengumpul dari awal panen hingga akhir panen. Kondisi ini telah membatasi kebebasan petani dalam menjual cabai rawit merah kepada pengumpul lain pada saat panen berikutnya. Pemasaran cabai rawit merah selalu melibatkan berbagai lembaga pemasaran pada berbagai tingkat saluran distribusi. Banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat berarti pula sistem pemasaran yang terjadi tidak efisien dan farmer’s share yang diperoleh tidak sebanding atau tidak proporsional dengan harga di tingkat konsumen akhir (LPPD Kabupaten Garut 2010).

1.2 Perumusan Masalah

Harga komoditas cabai rawit merah sulit diprediksi, mengingat fluktuasi harga cabai rawit merah yang berubah-ubah. Pada dasarnya, fluktuasi harga cabai ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah pasokan dengan jumlah permintaan yang dibutuhkan konsumen. Kelebihan jumlah pasokan ini akan berdampak pada turunya harga komoditas, dan sebaliknya jika terjadi kekurangan jumlah pasokan. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya ketidakseimbangan tersebut disebabkan karena pola produksi (adanya on season dan off season) dan pola tanamnya.

Selama ini budidaya cabai rawit merah dilakukan secara musiman (seasonal) dengan umur panen 4 hingga 8 bulan lamanya. Kebanyakan petani cabai rawit merah di Desa Cigedug melakukan budidaya setelah musim hujan atau pada bulan Desember - Januari sehingga saat panen pada bulan Mei sampai dengan puncak panen raya pada bulan Juli dan Agustus harga cenderung menurun. Sedangkan pada musim penghujan, produksinya akan menurun sehingga membuat harga cabai rawit merah melambung tinggi. Oleh karena itu dikatakan prospek pasarnya tidak stabil dan pola ini hampir terjadi setiap tahunnya. Belum lama ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada kelangkaan cabai rawit merah saat menjelang hari besar yang berakibat pada kenaikan harga yaitu mencapai Rp 120.000,00 per kilogram. Kenaikan harga ini bahkan melebihi harga cabai merah besar yang hanya mencapai Rp 90.000,00 per kilogram.


(22)

7 Kenaikan ini didorong permintaan yang tinggi menjelang Hari Raya dan musim hujan sepanjang tahun (Lukman Ismail 2011)4.

Menurut Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut (2009), kondisi ini disebabkan karena tidak adanya koordinasi dan kerjasama antar kabupaten sentra produksi dalam hal jaringan informasi pasar, perkembangan produksi, perkembangan luas tanam, penggunaan teknologi, dan tidak ada informasi alur distribusi atau jaringan pemasaran baik di tingkat regional maupun pasar lokal5. Selain itu, karena persebaran produksinya tidak merata sepanjang tahun di seluruh daerah, maka menyebabkan harganya tidak merata dan menjadi tidak stabil. Hal ini berdampak pada keputusan investasi petani cabai rawit merah akibat ketidakpastian penerimaan yang akan diperoleh karena petani menanggung risiko usaha yang tinggi.

Desa Cigedug Kecamatan Cigedug sebagai salah satu sentra produksi cabai rawit merah dengan rata-rata nilai produktivitas sebesar 26 ton/ha6. Sistem tanam yang dilakukan oleh petani di desa ini yaitu monokultur dan tumpang sari. Jaringan pemasaran cabai rawit merah di Kecamatan Cigedug pada tahun 2011 dimana 97 persen hasil produksi disalurkan melalui pedagang pengumpul desa dan pedagang pengecer (BP3K Kecamatan Cigedug 2011). Cabai rawit merah ini kemudian disalurkan ke pasar induk serta industri makanan seperti Indofood. Namun, dominan hasil panen disalurkan ke pasar induk dikarenakan pedagang pengumpul desa lebih memilih menghadapi fluktuasi harga yang dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Dilihat dari sisi petani, para petani cabai rawit merah di Desa Cigedug memiliki ketergantungan dengan pihak pedagang pengumpul desa. Hal ini terjadi akibat adanya masalah keterbatasan ilmu dan pengalaman serta diperlukan modal yang besar seperti menyewa alat transportasi dalam mendistribusikan cabai rawit merah sehingga menjadikan petani di Desa Cigedug tidak berani untuk terjun langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapat di tingkat petani relatif kecil. Kondisi ini melemahkan posisi petani karena daya tawar petani yang lemah

4

http://m.politikana.com/baca/2011/01/08/kupipaste-rencana-pemerintah-terkait-kenaikan-harga-cabai [diakses tanggal 25 Januari 2012]

5

http://www.garutkab.go.id/galleries/pdf_link/sda/profil_cabe.pdf [diakses tanggal 25Januari 2012]

6


(23)

8 khususnya dalam penetapan harga. Selain itu, terbatasnya akses informasi pasar yang diterima petani dimana informasi pasar berasal dari pedagang pengumpul desa serta kurangnya jalinan kerjasama antar petani atau antar kelompok.

Berdasarkan kondisi tersebut petani menjadi pihak yang sering kali dirugikan akibat adanya fluktuasi harga dan para pedaganglah yang mendapatkan akses lebih untuk memperoleh harga yang lebih tinggi. Sebagai produsen, petani tidak memiliki posisi tawar yang tinggi dalam hal penentuan harga dipasar sehingga petani hanya berperan sebagai price taker. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada sistem pemasaran, sehingga para petani cabai rawit merah diharapkan dapat memperoleh bagian harga yang memadai bagi peningkatan usahataninya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar, dan perilaku pasar cabai rawit merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut.

2. Bagaimana marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di tingkat petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui sistem pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut meliputi: 1. Menganalisis saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar, dan

perilaku pasar cabai rawit merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut.

2. Menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di tingkat petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati.


(24)

9 1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberi manfaat bagi: 1. Produsen cabai rawit merah, sebagai informasi untuk membantu dalam

perencanaan produksi dan pemasarannya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

2. Lembaga terkait, sebagai bahan masukan dalam membuat kebijakan. 3. Pihak peneliti lainnya, sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya. 4. Mahasiswa, sebagai salah satu referensi mengenai sistem pemasaran cabai

rawit merah untuk menambah pengetahuan para pembaca. 1.5 Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut dengan berfokus pada komoditas cabai rawit merah segar. Responden dalam penelitian ini adalah petani yang berada di Desa Cigedug sebagai produsen dan lembaga pemasaran yang terkait. Wilayah ini dipilih secara sengaja (purposive) karena Desa Cigedug merupakan salah satu sentra produksi cabai rawit merah. Analisis penelitian difokuskan menganalisis sistem pemasaran cabai rawit merah segar. Analisis sistem pemasaran mengkaji saluran pemasaran cabai rawit merah segar, fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya serta keterpaduan pasar vertikal. Model yang digunakan untuk menganalisis keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah di tingkat petani di Desa Cigedug Pasar Induk Kramat Jati yaitu menggunakan model pendekatan AutoregressiveDistributited Lag.


(25)

10

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Cabai Rawit

Cabai rawit (Capsicum frutescens) memiliki ukuran buah yang kecil dengan rasa yang pedas bila dibandingkan dengan cabai besar. Tanaman cabai rawit dikenal sebagai tanaman cabai paling mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya dan tanaman yang luwes dibudidayakan. Namun daerah tumbuh yang paling cocok yaitu dataran dengan ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut. Kondisi tanah secara umum harus subur dengan derajat keasaman (ph) tanah antara 6,0 ‐7,0. Kelembaban tanahnya harus cukup dengan ditandai oleh kandungan air yang tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Tanah tersebut juga mempunyai suhu yang sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu tinggi yaitu berkisar antara 15° ‐ 28 ° C. Hanya saja, cabai rawit yang ditanam di tempat yang berbeda akan menghasilkan produksi yang berbeda pula. Oleh karena itu, cabai rawit lebih unggul dibandingkan dengan cabai besar. Keunggulan tersebut yaitu cabai rawit lebih tahan terhadap hama penyakit khususnya penyakit layu bakteri, busuk buah, dan bercak daun (Setiadi 1999).

Umumnya, para petani di Pulau Jawa mengenal tiga musim dalam menanam cabai rawit, yaitu musim labuhan (saat hujan mulai turun), musim marengan (saat hujan akan berakhir), dan musim kemarau. Namun petani cabai rawit di Kabupaten Garut umumnya memiliki umur pemanenan yaitu berkisar antara 7-12 bulan dan pada umumnya melakukan penanaman bibit pada musim marengan. Pemanenan dilakukan tiap minggu atau dua minggu sekali. Pada situasi lapang, kebanyakan petani melakukan pemanenan berdasarkan pada keadaan pasar. Bila pasar cabai kurang menguntungkan, buah dipanen dalam keadaan yang benar-benar tua. Sebaliknya bila keadaan pasar menguntungkan, petani menanam cabai rawit dengan selang waktu pendek dengan warna yang belum merah merata.


(26)

11 Cabai rawit memiliki beberapa varietas, salah satunya yaitu cakra putih. Cakra putih merupakan varietas cabai rawit merah yang berwarna putih kekuningan saat muda dan akan berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan tanaman varietas ini sangat kuat dan membentuk banyak percabangan. Posisi buah tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasa sangat pedas. Optimal hasil panen varietas ini mampu menghasilkan buah 12 ton per hektarnya dengan rata-rata 300 buah per tanaman. Cakra putih dapat dipanen pada umur 85-90 hari setelah tanam. Keunggulan dari varietas ini yaitu tahan terhadap serangan penyakit antraknose (Rukmana 2002).

2.2 Fluktuasi Harga Komoditas Sayuran

Fluktuasi harga yang tinggi merupakan salah satu isu sentral yang sering muncul dalam pemasaran komoditas hortikultura. Harga yang sangat berfluktuatif secara teoritis akan menyulitkan prediksi bisnis, baik dalam perhitungan rugi laba maupun manajemen risiko. Harga yang demikian seringkali hanya menguntungkan para spekulan yang umumya para pedagang tertentu yang mampu mengelola pasokan secara baik dan benar.

Menurut Irawan (2007), fluktuasi harga komoditas pada dasarnya terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah pasokan dan permintaan yang dibutuhkan konsumen. Jika pasokan berlebih maka harga komoditas akan turun, sebaliknya jika terjadi kekurangan pasokan. Dalam proses pembentukan harga, perilaku petani dan pedagang menjadi penting karena mereka dapat mengatur volume penjualan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya fluktuasi harga yang relatif tinggi pada komoditas sayuran terjadi akibat kegagalan petani dan pedagang sayuran dalam mengatur volume pasokannya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh:

1. Adanya konsentrasi produksi sayuran pada daerah-daerah tertentu, misalnya 82 persen produksi cabai dihasilkan di 7 provinsi. Kondisi ini menjadi tidak kondusif bagi stabilitas harga karena jika terjadi anomali produksi (misalnya gagal panen akibat hama atau lonjakan produksi akibat pengaruh iklim) di salah satu daerah sentra produksi maka akan berpengaruh besar terhadap keseimbangan pasar secara keseluruhan.


(27)

12 2. Konsentrasi produksi secara regional diperparah pula oleh pola produksi yang tidak sinkron antar daerah produsen sehingga total produksi sayuran cenderung terkonsentrasi pada bulan-bulan tertentu. Konsentrasi produksi secara temporer tersebut misalnya dapat dilihat pada pola produksi cabai merah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan sentra cabai merah. Di ketiga provinsi tersebut sekitar 60-65 persen produksi cabai merah hanya dihasilkan pada bulan Juni hingga Agustus sehingga pada bulan-bulan tersebut harga cabai merah cenderung mengalami penurunan tajam.

3. Umumnya permintaan komoditas sayuran sangat sensitif terhadap perubahan kesegaran produk yang mana sifat komoditas sayuran umumnya relatif cepat busuk sehingga petani dan pedagang tidak mampu menahan penjualannya terlalu lama. Akibatnya adalah pengaturan volume pasokan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen tidak mudah dilakukan karena setelah dipanen petani cenderung segera menjual hasil panennya agar sayuran yang dipasarkan masih dalam keadaan segar. 4. Dibutuhkan sarana penyimpanan yang mampu mempertahankan kesegaran

produk secara efisien sehingga pengatur volume pasokan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dapat dilakukan. Namun ketersediaan sarana penyimpanan tersebut umumnya relatif terbatas akibat kebutuhan investasi yang cukup besar sedangkan teknologi penyimpanan sederhana yang dapat diterapkan oleh petani sangat terbatas.

2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menjadi acuan tentang sistem pemasaran dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Agustian dan Anugrah (2008) yang meneliti tentang perkembangan harga dan rantai pemasaran komoditas cabai merah di Provinsi Jawa Barat, penelitian yang dilakukan Azir (2002) tentang kajian sistem pemasaran dan integrasi pasar cabai merah keriting di DKI Jakarta dan penelitian yang dilakukan Muslikh (2000) tentang analisis sistem tataniaga cabai rawit merah di DKI Jakarta.

Sistem pemasaran yang dianalisis meliputi saluran pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, dan keragaan pasar meliputi analisis marjin, farmer’s share,


(28)

13 dan keterpaduan pasar cabai (Muslikh 2000; Azir 2002; Agustian dan Anugrah 2008). Pemasaran cabai merah dimulai dari petani cabai menjual ke pedagang pengumpul desa atau ke pedagang besar sekitar petani, dan selanjutnya dijual ke pedagang besar, dan pedagang besar menjual cabai merah yang diperolehnya ke berbagai tujuan seperti ke pasar-pasar yang ada di Kabupaten Garut dan ke Pasar Induk Cibitung, ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, ke Pasar Induk Kramat Jati dan Ke Pasar Kemang di Bogor (Agustian dan Anugrah, 2008). Sedangkan saluran pemasaran cabai merah keriting di DKI Jakarta dimulai dari pedagang besar, pedagang eceran, selanjutnya diteruskan kepada konsumen (Azir 2002).

Struktur pasar cabai rawit merah di tingkat pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati cenderung tidak bersaing sempurna (oligopoli). Hal ini dapat ditunjukkan dalam perilaku pasar, penentuan harga ditentukan oleh pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati yang kekuatan tawar-menawar yang lebih tinggi dibanding pedagang pengecer. Berbeda dengan cabai merah keriting, struktur pasar di tingkat pedagang besar cenderung bersifat bersaing monopolistik dikarenakan tidak adanya kebebasan dalam memasuki maupun keluar dari pasar serta cabai merah keriting telah terdiferensiasi dari segi harga maupun kualitas (Muslikh 2000; Azir 2002). Perilaku pasar cabai yang dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran diamati melalui praktek pembelian dan penjualan, penentuan harga, sistem pembayaran, serta kerjasama yang terjadi antar lembaga pemasaran (Muslikh 2000; Azir 2002).

Pendekatan efisiensi secara operasional dapat diukur melalui marjin pemasaran, farmer’s share dan biaya pemasaran. Jika penyebaran marjin pemasaran, farmer’s share dan biaya pemasaran tersebar merata maka dari segi operasional sistem pemasaran akan semakin efisien.

Analisis marjin pemasaran menunjukkan bahwa sebaran marjin kurang merata atau besarnya perbedaan marjin yang diperoleh antar satu lembaga dengan lembaga lainnya yang disebabkan oleh adanya perbedaan fungsi yang dilakukan, dan dapat pula disebabkan adanya ketidakefisienan dalam menjalankan fungsi yang sama. Rendahnya farmer’s share disebabkan oleh dua hal yaitu tingginya biaya pemasaran atau dapat pula disebabkan keuntungan yang diambil oleh lembaga pemasaran tinggi. Dengan kata lain farmer’s share mempunyai


(29)

14 hubungan negatif dengan marjin pemasaran artinya semakin tinggi marjin pemasaran, maka bagian yang diterima oleh petani semakin rendah. Rasio keuntungan dan biaya adalah persentase keuntungan yang diterima lembaga pemasaran terhadap biaya pemasaran yang secara teknis untuk mengetahui tingkat efisiensinya.

Analisis keterpaduan pasar dalam jangka panjang dapat dilihat dari nilai b2 =1, dimana koefisien ini menunjukan pengaruh perubahan harga di pasar acuan terhadap harga di tingkat pasar yang dipengaruhi (pasar lokal) pada waktu t. Semakin dekat nilai parameter dugaan b2 dengan satu maka keterpaduan jangka panjang akan semakin baik. Diperoleh nilai b2 sebesar 0,453 dan 0,522, keadaan ini menunjukkan bahwa tidak terdapat keterpaduan pasar jangka panjang di tingkat pedagang pengecer dengan pedagang besar atau perubahan harga yang terjadi di pedagang besar tidak dapat diteruskan sepenuhnya ke pedagang pengecer. Hal ini disebabkan karena posisi pedagang pengecer berada pada pihak yang lemah (kekuatan tawar lemah). Sedangkan keterpaduan pasar dalam jangka pendek dapat dilihat dari nilai IMC = 0. Apabila IMC<1 maka dapat disimpulkan pasar acuan ada hubungan yang kuat, sebaliknya apabila IMC>1 maka pasar acuan tidak ada hubungan dengan pasar lokal. Diperoleh nilai IMC pedagang pengecer dengan pedagang besar sebesar 0,286 (nilai IMC lebih mendekati 0) dibandingkan dengan nilai IMC sebesar 0,645. Hal ini menunjukkan telah terjadi keterpaduan pasar dalam jangka pendek artinya perubahan harga yang terjadi di pedagang besar diteruskan sepenuhnya ke pedagang pengecer. Hal ini disebabkan informasi akan permintaan dan penawaran di kedua pasar telah terhubung dengan baik (Muslikh 2000; Azir 2002).

Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, diperoleh persamaan yaitu menggunakan alat analisis yang sama, sedangkan perbedaannya terletak pada waktu dan lokasi penelitian yang dilakukan serta analisis keterpaduan pasar secara vertikal dengan mengambil titik yang berbeda yaitu pasar lokal (di tingkat petani) dengan pasar acuan (Pasar Induk Kramat Jati).


(30)

15

III.

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

Penelitian ini menggunakan teori sistem pemasaran dengan mengkaji saluran pemasaran, fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya cabai rawit merah. Adapun analisis keterpaduan pasar dilihat antara tingkat petani cabai rawit merah dengan pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ). Keterpaduan pasar ini diukur dengan menggunakan pendekatan model Autoregressive Distributed Lag. 3.1.1 Sistem Pemasaran

Kotler (2002) berpendapat pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan prosuk yang bernilai kepada pihak lain. Menurut Purcell (1979), pemasaran adalah suatu proses atau sistem yang menjembatani gap antara apa yang diproduksi dan apa yang diinginkan konsumen. Pemasaran juga dapat diartikan sebagai salah satu kegiatan dalam perekonomian yang membantu dalam menciptakan nilai ekonomi. Nilai ekonomi itu sendiri menentukan harga barang dan jasa. Faktor penting dalam menciptakan nilai tersebut adalah produksi, pemasaran dan konsumsi. Pemasaran menjadi penghubung antara kegiatan produksi dan konsumsi sehingga sistem pemasaran merupakan suatu kesatuan konseptual yang secara fisik terdiri dari bagian-bagian yang bekerja bersama dalam suatu kesatuan yang terorganisasi (Purcell 1979).

Dalam kegiatan pemasaran ini, aktivitas pertukaran merupakan hal sentral. Pertukaran merupakan kegiatan pemasaran dimana seseorang berusaha menawarkan sejumlah barang atau jasa dengan sejumlah nilai keberbagai macam kelompok sosial untuk memenuhi kebutuhannya. Pemasaran sebagai kegiatan manusia diarahkan untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran.

Menurut Limbong dan Sitorus (1985), sistem pemasaran mencakup segala kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik


(31)

16 dari barang-barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari produsen ke tangan konsumen termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari barang yang dimaksud untuk lebih memudahkan penyalurannya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumennya. Bila ditinjau dari segi ekonomi, kegiatan pemasaran merupakan kegiatan produktif karena memberikan kegunaan benda, waktu, tempat dan hak milik.

3.1.2 Saluran Pemasaran

Menurut Limbong dan Sitorus (1985), saluran pemasaran adalah rangkaian lembaga-lembaga niaga yang dilalui barang dalam penyalurannya dari produsen ke konsumen dimana di dalamnya terlibat beberapa lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran menurut fungsi yang dilakukan dibedakan atas: (1) lembaga fisik pemasaran yaitu lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi fisik, misalnya badan pengangkut atau transportasi, (2) lembaga perantara pemasaran adalah suatu lembaga yang khusus mengadakan fungsi pertukaran, (3) lembaga fasilitas pemasaran adalah lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi-fungsi fasilitas seperti Bank Desa, Kredit Desa, KUD. Adapun lembaga pemasaran menurut penguasaan terhadap barang terdiri atas: (1) lembaga yang tidak memiliki tetapi menguasai barang misalnya agen, perantara dan broker, (2) lembaga pemasaran yang memiliki dan menguasai barang misalnya pedagang pengumpul, pedagang pengecer, grosir, eksportir dan importir, (3) lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan tidak menguasai adalah fasilitas pengangkut, pergudangan, asuransi, dan lain-lain.

Ada beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan saluran pemasaran yaitu sebagai berikut:

1. Pertimbangan pasar, meliputi konsumen akhir dengan melihat potensi pembeli, geografi pasar, kebiasaan pembeli, dan volume tataniaga.

2. Pertimbangan barang, meliputi nilai barang per unit, besar, berat, harga, tingkat kerusakan, dan jenis barang.

3. Pertimbangan intern perusahaan, meliputi sumber permodalan, pengalaman manajemen, pengawasan, penyaluran dan pelayanan.


(32)

17 4. Pertimbangan terhadap lembaga dalam rantai tataniaga, meliputi segi kemampuan lembaga perantara dan kesesuaian lembaga perantara dengan kebijakan perusahaan.

Banyaknya jumlah lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran dipengaruhi oleh jarak dari podusen ke konsumen, semakin jauh jarak antara produsen ke konsumen akan mengakibatkan panjangnya rantai pemasaran serta banyaknya aktivitas bisnis yang dilakukan perlu melibatkan sejumlah pelaku-pelaku pemasaran. Selain itu banyaknya lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran juga dipengaruhi oleh sifat komoditinya apakah cepat rusak atau tidak. Komoditi yang cepat rusak membutuhkan rantai pemasaran yang pendek dan harus dengan cepat diolah atau langsung diterima oleh konsumen. Kemudian saluran pemasaran tergantung pula pada skala produksi. Bila produksi berlangsung dalam ukuran-ukuran kecil, maka jumlah produk yang dihasilkan berukuran kecil pula, dan akan tidak menguntungkan bila produsen menjual langsung ke pasar. Dalam keadaan yang demikian kehadiran pedagang perantara diharapkan, dan saluran yang akan dilalui produk cenderung panjang. Kekuatan modal dan sumberdaya yang dimiliki juga berpengaruh bagi keterlibatan lembaga-lembaga tersebut dalam saluran pemasaran karena produsen atau pedagang yang posisi modalnya kuat akan dapat melakukan lebih banyak fungsi pemasaran sehingga pemasaran dapat diperpendek.

3.1.3 Fungsi Pemasaran

Lembaga pemasaran di setiap saluran melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi dari pemasaran tersebut dinyatakan sebagai kegiatan, tindakan ataupun jasa dalam proses pengalirannya dari produsen sampai konsumen. Menurut Limbong dan Sitorus (1985), secara garis besar fungsi pemasaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Fungsi pertukaran merupakan fungsi yang mencakup perpindahan hak milik barang atau jasa dari penjual kepada pembeli. Fungsi ini terdiri atas fungsi pembelian dan penjualan.

a. Fungsi pembelian diperlukan untuk menentukan jenis barang yang akan dibeli yang sesuai dengan kebutuhannya baik untuk dikonsumsi langsung maupun untuk kebutuhan produksi . Kegiatan utama dari


(33)

18 fungsi ini adalah menentukan jenis, jumlah, kualitass, tempat pembelian, serta cara pembelian barang dan jasa yang akan dibeli b. Fungsi penjualan diperlukan untuk mencari tempat dan waktu yang

tepat untuk melakukan penjualan barang sesuai dengan yang diinginkan konsumen baik dilihat dari jumlah, mutu bentuk, dan mutunya.

2. Fungsi fisik merupakan fungsi yang mencakup aktivitas penanganan, pergerakan, dan perubahan fisik dari komoditas pemasaran. Fungsi ini mencakup fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan, dan fungsi pengolahan.

a) Fungsi penyimpanan diperlukan untuk menyimpan barang selama belum dikonsumsi atau menunggu diangkut ke daerah pemasaran atau menunggu sebelum diolah. Fungsi penyimpanan ini terutama sangat penting bagi hasil-hasil pertanian yang biasanya dihasilkan secara musiman tetapi dikonsumsi sepanjang tahun. Pelaksanaan penyimpanan akan memberikan kegunaan waktu dan selama pelaksanaan penyimpanan dilakukan beberapa tindakan untuk menjaga mutu, hal ini terutama bagi hasil-hasil pertanian yang mempunyai sifat mudah busuk.

b) Fungsi pengangkutan bertujuan untuk menyediakan barang dan jasa di daerah konsumen sesuai dengan kebutuhan konsumen baik menurut waktu, jumlah dan mutunya. Fungsi pengangkutan mempunyai kegiatan perencanaan jenis alat angkutan yang digunakan, volume yang diangkut, waktu pengangkutan, dan jenis barang yang akan diangkut.

c) Fungsi pengolahan bertujuan untuk meningkatkan kualitas barang bersangkutan baik dalam rangka memperkuat daya tahan barang maupun meningkatkan nilainya serta untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

3. Fungsi fasilitas merupakan fungsi yang mencakup aktivitas yang memperlancar atau sebagai perantara antara fungsi pertukaran dan fungsi fisik yang terjadi antara produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas


(34)

19 mencakup fungsi standardisasi dan grading, fungsi keuangan, fungsi penanggungan risiko, dan fungsi informasi pasar, dan fungsi pembiayaan. a) Fungsi standarisasi adalah suatu ukuran atau penentuan mutu suatu

barang seperti warna, susunan kimia, ukuran bentuk, kekuatan dan ketahanan, kadar air, tingkat kematangan, rasa, dan kriteria lainnya. Sedangkan grading merupakan tindakan menggolongkan atau mengklasifikasikan hasil-hasil pertanian menurut standarisasi yang diinginkan sehingga kelompok-kelompok barang yang terkumpul sudah menurut satu ukuran standar. Fungsi standarisasi dan grading akan mempermudah memberikan nilai terhadap barang bersangkutan, mudah pelaksanaan jual beli, mengurangi biaya pemasaran terutama biaya pengangkutan dan dapat memperluas pasaran.

b) Fungsi penanggungan risiko, risiko yang mungkin terjadi di dalam proses pemasaran dapat dibedakan atas dua macam yaitu risiko fisik berupa kebakaran, kehilangan, susut dan lainnya serta risiko ekonomi atau risiko penurunan harga akibat kebijakan moneter dan adanya perubahan harga.

c) Fungsi informasi pasar merliputi kegiatan pengumpulan informasi pasar serta menafsirkan data informasi pasar tersebut. Dengan mendapat informasi pasar yang lengkap, maka akan dapat lebih terarah pelaksanaan proses produksi baik dilihat dari jumlah yang diinginkan, kapan dibutuhkan, barang apa yang diinginkan dan dimana diinginkan.

d) Fungsi pembiayaan adalah penyediaan biaya untuk keperluan selama proses pemasaran dan juga kegiatan pengelolaan biaya tersebut. Biaya ini dapat berupa kontan maupun kredit. Dengan sistem pemberian kredit bagi para pembeli akan dapat memperluas pasar dari suatu barang maupun jasa yang dipasarkan.


(35)

20 3.1.4 Struktur Pasar

Struktur pasar merupakan tipe atau jenis pasar yang didefinisikan sebagai hubungan antara pembeli dan penjual yang secara strategi mempengaruhi penentuan harga dan pengorganisasian pasar (Asmarantaka 2009). Struktur pasar mempengaruhi efektivitas pasar dalam realitas sehari-hari yang diukur dengan variabel-variabel seperti harga, biaya dan jumlah produksi. Empat faktor penentu dari karakteristik struktur pasar yaitu jumlah atau ukuran perusahaan, kondisi atau keadaan produk, kondisi keluar masuk pasar, dan tingkat pengetahuan yang dimiliki partisipan dalam pemasaran. Berikut lima jenis struktur pasar dengan berbagai karakteristiknya.

Tabel 3. Karakteristik dan Struktur Pasar

Karakteristik Struktur pasar dan produk

Jumlah

perusahaan Sifat produk

Kemudahan Masuk Pasar Pengaruh perusahaan terhadap harga Sudut

pembeli Sudut penjual

Banyak Homogen Mudah,

tidak ada

hambatan Tidak berpengaruh Persaingan sempurna Persaingan sempurna

Banyak Diferensiasi Relatif

mudah

Sedikit berpengaruh,

dibatasi oleh

subtitusi

Persaingan monopilistik

Persaingan monopolistik

Sedikit Homogen Sulit dengan

beberapa hambatan

Berpengaruh,

dibatasi oleh

pesaing

Oligopsoni murni

Oligopoli murni

Sedikit Diferensiasi Sulit dengan

beberapa hambatan

Berpengaruh,

dibatasi oleh

pesaing

Oligopsoni diferensiasi

Oligopoli diferensiasi

Satu Unik Tertutup Berpengaruh Monopsoni Monopoli

Sumber: Hammond dan Dahl (1977), Kolhs dan Uhl (1985)

Menurut Kirana (2003), berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dibedakan menjadi dua macam struktur pasar yaitu: (1) pasar persaingan sempurna, (2) pasar tidak bersaing sempurna. Pasar dapat digolongkan ke dalam struktur pasar bersaing sempurna jika memenuh ciri-ciri antara lain: terdapat banyak penjual maupun pembeli, pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang dan jasa yang dipasarkan sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar sehingga penjual dan pembeli berperan sebagai penerima harga (price taker), barang dan jasa yang dipasarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli bebas


(36)

21 keluar masuk pasar. Namun pada umumnya, karakteristik jumlah penjual dan keadaan komoditi yang diperjualbelikan merupakan karakteristik utama dalam menentukan struktur pasar.

3.1.5 Perilaku Pasar

Menurut Asmarantaka (2009), perilaku pasar adalah seperangkat strategi dalam pemilihan yang ditempuh baik oleh penjual maupun pembeli untuk mencapai tujuannya masing-masing. Perilaku pasar adalah strategi produksi dan konsumsi dari lembaga pemasaran dalam struktur pasar tertentu yang meliputi kegiatan pembelian dan penjualan, penentuan harga, dan kerjasama antara lembaga-lembaga pemasaran yang ada. Perilaku pasar sering juga disebut sebagai saluran tingkah laku dari lembaga pemasaran yang menyesuaikan dengan struktur pasar tempat lembaga tersebut melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. Perilaku suatu pemasaran akan sangat jelas terlihat pada saat beroperasi, misalnya pada saat penentuan harga, lokasi, promosi, penjualan, pembelian dan strategi pemasaran.

Sedangkan menurut Kohl dan Uhl (2002), ada empat hal yang harus diperhatikan untuk mengetahui perilaku pasar yaitu: (1) Input-output system, sistem input-output ini menerangkan bagaimana tingkah laku perusahaan dalam mengelola sejumlah input menjadi satu set output, (2) Power system, menjelaskan bagaimana suatu perusahaan dalam suatu sistem pemasaran, misalnya kedudukan perusahaan dalam suatu sistem pemasaran sebagai perusahaan yang memonopoli suatu produk sehingga perusahaan tersebut dapat sebagai penentu harga, (3) Communications system, mempelajari tentang perilaku perusahaan mengenai mudah tidaknya mendapatkan informasi dan, (4) System for adapting to internal and external change, menerangkan bagaimana perilaku perusahaan dalam beradaptasi pada suatu sistem pemasaran agar dapat bertahan di pasar.

Perilaku pasar dapat diketahui dengan mengamati praktik penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran, sistem penentuan harga, kemampuan pasar menerima jumlah produk yang dijual, stabilitas pasar dan pembayaran serta kerjasama diantara berbagai lembaga pemasaran.


(37)

22

M

3.1.6 Marjin Pemasaran

Marjin pemasaran adalah perbedaan antara harga di tingkat lembaga pemasaran di dalam sistem pemasaran. Pengertian marjin sering digunakan untuk menjelaskan fenomena yang menjebatani gap antara pasar di tingkat petani dengan pasar di tingkat eceran (Asmarantaka 2009).

Tomek dan Robinson (1990), memberikan dua alternatif dari definisi marjin pemasaran yaitu: (1) perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen (petani) yang secara matematis dapat dirumuskan yaitu M=Pr-Pf, (2) harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitas-aktivitas bisnis yang terjadi dalam sistem pemasaran tersebut. Secara grafis, marjin pemasaran dapat digambarkan sebagai jarak vertikal antara kurva permintaan primer dengan kurva permintaan turunan, atau antara kurva penawaran primer dengan kurva penawaran turunan.

Harga (P) Dr Sr

Pr Df Sf

Pf

Qr, f Gambar 2. Marjin Pemasaran

Keterangan :

Sr –Penawaran tingkat pengecer, Sf – Penawaran tingkat petani, Dr–Permintaan tingkat pengecer, Df –Permintaan tingkat petani, Q – Jumlah keseimbangan di tingkat M – Marjin pemasaran

petani dan pengecer,

Perbedaan harga jual dari lembaga yang satu dengan lembaga lain sampai ke tingkat konsumen akhir disebabkan karena adanya perbedaan kegiatan dari etiap lembaga. Semakin banyak lembaga tataniaga yang terlibat dalam


(38)

23 penyaluran suatu komoditas dari titik produsen sampai ke titik konsumen, maka akan semakin besar perbedaan harga komoditas tersebut di titik produsen dibandingkan harga yang akan dibayarkan oleh konsumen. Perbedaan harga yang terjadi antara lembaga pemaasaran satu dengan lembaga pemasaran lainnya dalam saluran pemasaran suatu komoditas yang sama disebut sebagai marjin pemasaran. Pada umumnya besarnya marjin pemasaran merupakan indikator yang paling sering digunakan untuk mendeteksi terjadinya efisiensi pemasaran. Marjin pemasaran yang rendah belum tentu dapat mencerminkan pasar itu sudah efisien. Namun, marjin yang tinggi juga tidak selalu ditunjukkan oleh adanya keuntungan pedagang yang berlebihan. Hal ini karena besarnya marjin pemasaran tersebut pada dasarnya merupakan total biaya pemasaran yang meliputi biaya operasional pemasaran yang dikeluarkan pedagang (biaya pengangkutan, penyimpanan, sortasi, grading) dan keuntungan pedagang (Irawan 2007).

Ketika nilai margin pemasaran tinggi sebagai akibat adanya pengolahan dan penanganan produk lebih lanjut dan berdampak pada peningkatan kepuasan konsumen maka tingginya marjin pemasaran mengindikasikan sistem pemasaran tersebut berlangsung secara efisien.

Nilai marjin pemasaran dipengaruhi oleh sifat barang yang diperdagangkan, tingkat pengolahan, biaya pemasaran, keuntungan lembaga pemasaran, harga eceran dan harga produsen. Sifat komoditas atau barang juga mempengaruhi marjin pemasaran dan jarak antar daerah produsen dengan konsumen, serta biaya-biaya tidak resmi (Azzaino 1982 : Mubyarto 1979). 3.1.7 Farmer’s Share

Salah satu indikator untuk melihat efisiensi pemasaran yaitu dapat dilihat dengan membandingkan bagian yang diterima petani (farmer’s share) terhadap harga yang dibayarkan konsumen akhir (Limbong dan Sitorus 1985). Farmer’s share mempunyai hubungan negatif dengan marjin pemasaran artinya semakin tinggi marjin pemasaran, maka bagian yang diterima oleh petani semakin rendah yang secara matematis farmer’s sharedapat dirumuskan sebagai berikut:


(39)

24 Keterangan :

Fs = Persentase yang diterima petani, Pf = Harga di tingkat petani,

Pr = Harga di tingkat konsumen 3.1.8 Rasio Keuntungan dan Biaya

Asmarantaka (2009), efisiensi operasional lebih tepat menggunakan rasio antara keuntungan (π) dengan biaya (C) karena pembanding oppurtunity cost dari biaya adalah keuntungan, sehingga indikatornya adalah π/C dan nilainya harus positif ( > 0). Menurut Limbong dan Sitorus (1985), tingkat efisiensi suatu sistem pemasaran dapat dilihat dari penyebaran rasio keuntungan dan biaya. Meratanya penyebaran rasio keuntungan dan biaya serta marjin pemasaran terhadap biaya pemasaran, maka secara teknis sistem pemasaran tersebut semakin efisien. Untuk mengetahui penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada masing-masing lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut :

Rasio keuntungan biaya (π/C)

Keterangan :

πi = keuntungan lembaga pemasaran, Ci = biaya pemasaran.

3.1.9 Keterpaduan Pasar

Keterpaduan pasar penting dilakukan untuk melihat sejauh mana kelancaran informasi dan efisiensi pemasaran pada pasar. Menurut Asmarantaka (2009), keterpaduan pasar merupakan indikator dari efisiensi pemasaran, khususnya efisiensi harga yaitu suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh perubahan harga yang terjadi pada pasar acuan akan menyebabkan terjadi perubahan pada pasar pengikutnya. Keterpaduan pasar dapat terjadi jika terdapat informasi pasar yang memadai dan informasi ini disalurkan dengan cepat dari satu pasar ke pasar lainnya misalnya perubahan harga dari salah satu pasar disalurkan atau ditransfer secara cepat ke pasar lain sehingga fluktuasi perubahan harga terjadi pada suatu pasar dapat segera tertangkap oleh pasar lain dengan ukuran


(40)

25 perubahan yang sama. Hal tersebut pada gilirannya merupakan faktor yang dapat digunakan sebagai sinyal dalam pengambilan keputusan bagi produsen (Heytens 1986).

Analisis keterpaduan pasar erat kaitannya dengan analisis struktur pasar. Menurut Comforti (2004), integrasi harga yang simetris terjadi pada pasar yang menganut prinsip law of one price artinya jika harga pada suatu pasar mengalami peningkatan maka pasar yang menjual produk yang sama akan merespon perubahan harga tersebut mengikuti harga yang terjadi di pasar. Hal ini menandakan bahwa pasar sudah terintegrasi dengan baik dan sudah efisien karena persebaran informasinya merata yang dapat dilihat melalui respon yang ditimbulkan terhadap perubahan harga tersebut. Keterpaduan pasar digunakan untuk melihat tingkat keeratan hubungan antar pasar produsen (petani) dan pasar acuan (Pasar Induk Kramat Jati). Suatu pasar dikatakan terpadu dengan baik apabila harga pada suatu lembaga pemasaran diteruskan kepada lembaga pemasaran lainnya dalam satu rantai pemasaran.

Adanya keterpaduan pasar juga menunjukkan transmisi harga yang baik antara pelaku. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan dan pola komunikasi yang baik antar pelaku. Tingkat keterpaduan pasar yang tinggi menunjukkan telah lancarnya arus informasi diantara lembaga pemasaran sehingga harga yang terjadi pada pasar yang dihadapi oleh lembaga pemasaran yang lebih rendah dipengaruhi oleh lembaga pemasaran yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan apabila arus informasi berjalan dengan lancar dan seimbang, tingkat lembaga pemasaran yang lebih rendah mengetahui informasi yang dihadapi oleh lembaga pemasaran di atasnya, sehingga dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga (Sianturi 2005).

Keterpaduan pasar dapat diukur dengan menggunakan pendekatan, yaitu 1) metode korelasi (r), 2) metode regresi sederhana, 3) hubungan lag bersebaran autoregresif (Autoregressive Distribute Lag) antara harga di tingkat pasar acuan dan pasar pengikut. Menurut Ravallion (1986) model keterpaduan pasar autoregresif dapat digunakan untuk mengukur bagaimana harga di pasar lokal dipengaruhi oleh harga di pasar acuan dengan mempertimbangkan harga pada waktu yang lalu (t-1) dan harga pada saat ini (t). Aktivitas pasar-pasar tersebut


(41)

26 dihubungkan oleh adanya arus komoditi, sehingga harga dan jumlah komoditi yang dipasarkan akan berubah jika terjadi perubahan harga di pasar lain. Hubungan antara kedua pasar dapat dibedakan ke dalam hubungan jangka pendek dan jangka panjang. Model statistik yang mampu menjelaskan perubahan harga pada pasar lokal sebagai fungsi dari beberapa variabel bebas menurut Heytens (1986) adalah sebagai berikut :

Pit - Pit-1 = ß0 + (1+ ß1)Pit-1 + ß 2 (Pjt - Pjt-1) + (ß 3- ß1) Pjt-1 + ß 4Xt + et……..(1) Keterangan:

Pit = Harga di tingkat pasar lokal pada waktu ke-t (rupiah/kilogram) P it-1 = Harga di tingkat pasar lokal pada waktu ke t-1 (rupiah/kilogram)

Pjt = Harga di tingkat pasar rujukan/acuan pada waktu ke-t (rupiah/kilogram)

Pjt-1 =Harga di tingkat pasar rujukan/acuan pada waktu ke t-1

(rupiah/kilogram)

X t = Peubah exogenus (musim panen atau regional)

ßi = Parameter estimasi dengan i = 1,2,3,....n et = Random error

Jika diasumsikan bahwa deret waktu di pasar lokal dan pasar acuanmempunyai pola musim yang sama, maka tidak perlu memasukkan peubah boneka (Xt) untuk musim setempat, persamaan dapat disederhanakan lagi

menjadi:

Pit = b0 + b1Pit-1 + b2 (Pjt - Pjt-1) + b3Pjt-1 + et………..(2) Dimana: b1 = 1+ ß1, b2 = ß 2, b3 = ß 3- ß1

b1 = Koefisien perubahan harga di tingkat pasar lokal

b2 = Koefisien perubahan margin harga di tingkat pasar acuan b3 =Koefisien perubahan harga di tingkat pasar acuan

Berdasarkan persamaan (2) dapat diketahui bahwa koefisien b2 mengukur bagaimana perubahan harga di pasar acuan diteruskan ke pasar lokal. Keterpaduan pasar dalam jangka panjang dicapai jika b2 = 1, maka perubahan harga yang terjadi bersifat netral dan proposional dengan persentase yang


(1)

110 Lampiran 9. Harga Rata-rata Mingguan Cabai Rawit Merah di Tingkat Petani dan

Pasar Induk Kramat Jati. Tahun

Bulan Harga di Tingkat Petani di Desa Cigedug* Harga di Pasar Induk Kramat Jati**

2011 Juni 10000 18.857

9200 16.286

9850 18.571

9900 20.429

Juli 9100 14.571

8600 12.000

8000 10.857

7300 9.643

Agustus 7800 10.071

7500 13.800

7425 9.143

8000 12.800

September 8200 10.400

8400 8.929

7400 8.714

5500 6.786

Oktober 5600 8.857

5500 10.043

7000 10.214

7200 10.571

November 7100 11.429

7325 12.429

7300 14.286

8125 15.714

Desember 8000 18.429

8500 22.714

8500 22.857

8100 23.286

2012 Januari 7500 19.714

10300 11.429

11800 12.429

11900 9.143

Februari 9700 14.429

10125 15.143

11000 12.571

11400 13.286

Maret 16725 22.000

21300 22.714

23200 29.429

29800 33.714

April 29000 35.857

29100 34.571

18300 21.429

7000 13.429

Mei 5500 11.714

5000 8.214

5000 8.571

5000 10.429

Sumber : * Data Primer, 2012


(2)

111 Lampiran 10. Hasil Estimasi Model Pasar Petani dengan Pasar Induk Kramat Jati

Regression Analysis: Pit versus Pit-1; Pjt-Pjt-1; Pjt-1 Pasar Petani dengan Pasar Induk Kramat Jati

The regression equation is

Pit = - 383 + 0,765 Pit-1 + 0,493 Pjt-Pjt-1 + 0,182 Pjt-1 47 cases used, 1 cases contain missing values

Predictor Coef SE Coef T P VIF Constant -383,4 796,4 -0,48 0,633 Pit-1 0,76534 0,09831 7,79 0,000 3,6 Pjt-Pjt-1 0,49338 0,08774 5,62 0,000 1,1 Pjt-1 0,18174 0,08773 2,07 0,044 3,8 S = 2178,81 R-Sq = 88,7% R-Sq(adj) = 87,9% PRESS = 287648449 R-Sq(pred) = 84,12%

Analysis of Variance

Source DF SS MS F P Regression 3 1606724589 535574863 112,82 0,000 Residual Error 43 204129427 4747196

Total 46 1810854016

No replicates.

Cannot do pure error test.

Source DF Seq SS Pit-1 1 1455797973 Pjt-Pjt-1 1 130556662 Pjt-1 1 20369954

Unusual Observations

Obs Pit-1 Pit Fit SE Fit Residual St Resid 30 7500 10300 4852 880 5448 2,73R 38 16725 21300 16767 471 4533 2,13R 40 23200 29800 24835 902 4965 2,50R 43 29100 18300 21687 1415 -3387 -2,04RX 44 18300 7000 13570 863 -6570 -3,28R

R denotes an observation with a large standardized residual. X denotes an observation whose X value gives it large influence.


(3)

112 Lampiran 11. Pengujian Keterpaduan Pasar Jangka Pendek dan Jangka Panjang

antara Tingkat Petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati

1. Keterpaduan Jangka Pendek H0 : b1 = 0

H0 : b1≠ 0

b1– 0

t hitung = Se (b1 )

0,765-0

=

0,09831

= 7,782

t-tabel (lima persen) = 1,645

Karena t-hitung > t-tabel, pengujian nyata dalam taraf nyata lima persen. Hipotesis nol ditolak secara statistik yang berarti kedua pasar tidak terpadu dalam jangka pendek.

2. Keterpaduan Jangka Panjang H0 : b2 = 1

H0 : b2≠ 1

b2– 1

t hitung =

Se (b2 )

0,493 - 1 =

0,08774 |t|-hitung = 5,778

t-tabel (lima persen) = 1,645

Karena t-hitung > t-tabel, pengujian nyata dalam taraf nyata lima persen. Hipotesis nol ditolak secara statistik yang berarti kedua pasar tidak terpadu dalam jangka panjang.


(4)

RINGKASAN

ASMAYANTI. Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan RITA NURMALINA).

Salah satu komoditas unggulan nasional hortikultura adalah cabai. Cabai merupakan komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya terhadap dinamika perekonomian nasional sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun, inflasi di tahun 2010 cabai rawit

merah menyumbang 0,22 persen. Cabai rawit merah memiliki harga yang sangat

fluktuasi bila dibandingkan dengan jenis cabai lainnya. Belum lama ini, masyarakat Indonesia dikejutkan pada tingginya harga cabai rawit merah yang

mencapai Rp 120.000 per kg. Fluktuasi harga cabai rawit merah dipasaran

menyebabkan ketidakpastian penerimaan yang akan diperoleh sehingga petani cabai rawit merah menanggung risiko usaha yang tinggi.

Desa Cigedug merupakan salah satu sentra produksi cabai rawit merah di Jawa Barat. Jaringan pemasaran cabai rawit merah di desa ini menempatkan pedagang pengumpul desa pada posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan petani produsen cabai rawit merah pada penentuan harga jual. Selain itu, terbatasnya akses informasi pasar yang diterima petani dimana informasi pasar berasal dari pedagang pengumpul desa serta kurangnya jalinan kerjasama antar petani atau antar kelompok. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan pada sistem pemasaran cabai rawit merah.

Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis saluran pemasaran, fungsi pemasaran cabai rawit merah, struktur pasar, dan perilaku pasar, (2) menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya, serta keterpaduan pasar vertikal cabai rawit merah antara pasar di tingkat petani di Desa Cigedug sebagai pasar lokal dengan Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasar acuan.

Penelitian ini dilakukan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Pengambilan responden petani dilakukan dengan metode purposive sebanyak 30 orang, sedangkan untuk pedagang dilakukan dengan mengikuti alur distribusi cabai rawit merah yang dimulai dari petani. Responden pedagang terdiri dari 7 pedagang pengumpul desa, 8 pedagang besar, dan 7 pedagang pengecer.

Terdapat lima saluran pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yang melibatkan beberapa lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul desa (PPD), pedagang besar, dan pedagang pengecer. Saluran I : petani – pedagang pengumpul desa (PPD) – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta, saluran II : petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Cikajang – konsumen Kecamatan Cikajang, saluran III: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Cikajang – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta, saluran IV: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Caringin Bandung – pedagang pengecer – konsumen Bandung, dan saluran V: petani – PPD – pedagang besar Pasar Induk Caringin Bandung – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing


(5)

lembaga pemasaran sebagian besar melakukan ketiga fungsi utama yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas, namun fungsi penyimpanan yang termasukdalam fungsi fisik hanya dilakukan oleh pedagang pengecer. Struktur pasar yang dihadapi oleh lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yaitu cenderung berada pada kondisi pasar oligopsoni. Hal ini dikarenakan jumlah pembeli lebih sedikit dari jumlah penjual, penentuan harga dilakukan secara tawar-menawar namun pihak pedagang besar memiliki kekuatan yang lebih tinggi dalam penentuan harga. Perilaku pasar yang terjadi di tingkat petani jika dilihat dari praktik penjualan langsung dengan menggunakan sistem pembayaran tunai. Adapun di tingkat pedagang pengumpul desa dan pedagang pengecer adalah sistem pembayaran tunai dan kemudian. Sedangkan di tingkat pedagang besar menggunakan sistem pembayaran kemudian. Pembayaran kemudian dilakukan satu hingga tiga hari ke depan.

Hasil analisis marjin bahwa marjin pemasaran terkecil terdapat pada saluran II yaitu 55 persen. Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II sebesar 45,00 persen dan rasio πi/Ci terbesar terdapat pada saluran IV sebesar 3,251. Walaupun saluran I memiliki perolehan marjin terkecil ketiga diantara lima pola saluran yang terbentuk yaitu sebesar 75 persen dan farmer’s share tertinggi ketiga sebesar 25 persen. Namun jika dilihat dari harga jual cabai rawit merah di tingkat petani, saluran I memiliki harga jual yang paling tinggi dan volume penjualan terbesar sebanyak 1.490 kilogram dengan tujuan pemasaran yaitu wilayah Jakarta (Pasar Induk Kramat Jati Jakarta). Nilai rasio πi/Ci pada saluran I lebih besar dari 1 yaitu 3,203. Tingginya volume penjualan cabai rawit merah pada saluran I menunjukkan tingginya kontinuitas pemasaran pada saluran I ini sehingga saluran I dinilai sebagai alternatif saluran yang efisien.

Analisis keterpaduan pasar menunjukkan nilai IMC > 1, yaitu sebesar 4,2 artinya tidak terdapat keterpaduan jangka pendek dan nilai koefisien b2 memiliki nilai < 1, yaitu sebesar 0,493 menunjukkan tidak ada keterpaduan jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi mengenai perubahan harga di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta tidak diteruskan atau diterima di pasar lokal (tingkat petani) secara proporsional. Artinya perubahan harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada kurun waktu sebelumnya tidak ditrasmisikan ke harga saat ini di tingkat petani. Tidak adanya keterpaduan pasar ini menunjukkan tidak lancarnya arus informasi dan komunikasi. Arus informasi tidak berjalan dengan lancar dan seimbang, menyebabkan petani tidak mengetahui informasi yang dihadapi oleh pedagang besar di Pasar Induk Kramat jati, sehingga petani di Desa Cigedug tidak dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga. Tidak lancarnya arus informasi harga ini sesuai dengan struktur pasar yang terjadi dimana pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati memiliki kekuatan oligopsoni, dapat mengendalikan harga beli dari petani. Komunikasi yang terjadi tidak transparan dan sehingga menyulitkan terjadinya integrasi harga dengan baik.

Di Desa Cigedug, infrastruktur transportasi, sistem informasi harga, dan fasilitas pasar desa dan pasar yang transparan relatif belum tersedia secara memadai. Infrastruktur transportasi dari lahan petani cabai rawit merah ke pasar induk relatif buruk dimana kondisi lahan di Desa Cigedug yang berbukit-bukit sehingga aksesibilitas ke dan dari sentra produksi petani relatif sulit. Demikian juga dengan fasilitas-fasilitas dasar seperti pasar desa belum tersedia. Sistem informasi harga yang mestinya dibangun oleh pemerintah juga belum tersedia.


(6)

Struktur pasar yang oligopsoni pada lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug juga menjadi penyebab rendahnya integrasi harga di tingkat petani dengan pedagang besar di pasar induk Kramat Jati.

Saran yang dapat diberikan a untuk petani yaitu sebaiknya memilih saluran pemasaran I (petani – pedagang pengumpul desa – pedagang besar Pasar Induk Kramat Jati Jakarta – pedagang pengecer – konsumen Jakarta) yang merupakan saluran pemasaran yang paling efisien dibandingkan saluran lainnya dan saluran ini merupakan saluran yang paling banyak digunakan dalam pendistribusian cabai rawit merah, dan diperlukan pengaktifan kembali kelompok tani yang sudah ada di Desa Cigedug sehingga dapat meningkatkan posisi tawar petani dalam penentuan harga serta pemasaran dapat dilakukan secara bersama untuk mengurangi biaya pemasaran. Ketidakterpaduan pasar terjadi akibat ketidaklancaran aliran informasi harga. Oleh karena itu, pemerintah daerah sebaiknya menciptakan lembaga Sub Terminal Agribisnis (STA) yang membantu untuk pembukaan akses pasar. Selain itu pemerintah perlu menyediakan fasilitas dasar seperti pasar di Desa Cigedug, dengan tersedianya pasar di Desa ini diharapkan para petani dapat memperoleh informasi harga yang lebih mudah.


Dokumen yang terkait

Pengaruh Sistem Pengelolaan Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum L.) terhadap Jumlah Produksi dan Tingkat Pendapatan (Studi Kasus: Desa Ajijulu, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo)

7 79 91

Respon Pertumbuhan Tiga Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L. ) Pada Beberapa Tingkat Salinitas

8 72 64

Respons Ketahanan Lima Varietas Cabai merah (Capsicum Annum l.) Terhadap Berbagai Konsentrasi Garam NaCl Melalui Uji Perkecambahan

5 96 40

Penghambatan Layu Fusarium Pada Benih Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Yang Dienkapsulasi Alginat-Kitosan Dan Tapioka Dengan Bakteri Kitinolitik

2 54 54

Efektifitas Ekstrak Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L) Terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes Spp.Pada Ovitrap

10 100 96

Respon Pertumbuhan Beberapa Varietas Cabai Merah (Capsicum annum L.) Terhadap Beberapa Aplikasi Pupuk Dengan Sistem Hidroponik Vertikultur

3 45 96

Analisis Perbandingan Kelayakan Usahatani Cabai Merah (Capsiccum Annum L.) dengan Cabai Rawit (Capsiccum Frutescens L.) (Studi Kasus : Desa Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun)

17 140 134

Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum l.) ( Studi Kasus : Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo)

10 71 134

Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) Petani Mitra PT. Indofood Fritolay Makmur dan Petani Nonmitra Di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut

1 39 232

Pendapatan Usahatani dan Sistem Pemasaran Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut

1 6 28