Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung dari famili

Sturnidae yang hanya terdapat di Indonesia yaitu di Taman Nasional Bali Barat
(TNBB). Populasinya di alam dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan
sehingga telah dinyatakan langka dan terancam punah. Selain itu, jalak bali telah
mendapatkan perhatian serius bagi usaha pelestarian dalam peningkatan
populasinya. Penurunan populasi ini disebabkan adanya perburuan secara liar oleh
manusia dan gangguan pada habitat alaminya berupa penebangan pohon yang
menyebabkan rusak atau hilangnya sarang tempat tinggal burung ini. Penebangan
pohon ini juga menyebabkan berkurangnya pohon-pohon penghasil pakan bagi
burung (Damanik 1996). Berdasarkan data terakhir tahun 2006, jumlah populasi
jalak bali di alam yaitu sebanyak enam ekor (TNBB 2009).
Terancamnya kehidupan jalak bali telah mendapat perhatian dari dunia
internasional. Menurut Sukmantoro et al. (2007), nama jalak bali tercantum dalam
IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)
dengan kategori kritis (Critical endangered) serta memasukkan jalak bali ke
dalam Red Data Book yaitu buku yang memuat daftar jenis flora dan fauna yang
terancam punah. Dalam konvensi perdagangan internasional CITES (Convention
on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora) jalak bali
terdaftar dalam Appendix I yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan
dilarang untuk diperdagangkan.

Selain itu, Pemerintah Indonesia

juga

mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/70 tanggal
26 Agustus 1970 yang menerangkan bahwa burung jalak bali dilindungi oleh
Undang-Undang.
Terancamnya populasi jalak bali di alam menyebabkan perlu adanya upaya
konservasi agar keberadaan jalak bali di alam tetap lestari. Salah satu upaya
tersebut adalah dengan melakukan penangkaran atau konservasi ex-situ. Tujuan
usaha pelestarian (konservasi) jalak bali yang dikembangkan melalui program
penangkaran adalah untuk meningkatkan populasi jalak bali dengan tetap menjaga

2

kemurnian genetiknya (Masy’ud 1992). Penangkaran secara ex-situ dilakukan
dengan cara memanipulasi pakan, lingkungan, dan kebutuhan lain dari satwa yang
ditangkarkan sehingga satwa tersebut mampu berkembangbiak dengan baik.
Salah satu penangkaran jalak bali yang telah berhasil yaitu penangkaran
Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan hasil
wawancara pendahuluan dengan pihak pengelola penangkaran MBOF, jalak bali
di penangkaran tersebut pada awalnya hanya berjumlah tiga pasang dengan
jumlah telur yang dihasilkan 2 – 4 butir telur tiap satu kali reproduksi. Oleh sebab
itu, dibutuhkan pengetahuan mengenai teknik penangkaran yang merupakan salah
satu kunci yang memegang peranan penting dalam usaha pelestarian populasi
jalak bali.
Teknik

penangkaran

dan

analisis

mengenai

faktor-faktor

yang

mempengaruhi keberhasilan dari penangkaran jalak bali di Mega Bird and Orchid
Farm (MBOF) sangat diperlukan. Faktor penentu keberhasilan diperlukan
mengingat jumlah populasi jalak bali di alam sangat terbatas, maka keberhasilan
suatu penangkaran merupakan suatu keharusan. Dalam usaha penangkaran,
kualitas bibit akan mempengaruhi variasi genetik hal ini berkaitan erat dengan
kualitas keturunan yang akan dihasilkan untuk mempertahankan variasi genetik.
Hasil penangkaran jalak bali perlu dilakukan perhitungan “koefisisen
inbreeding” pada calon-calon pasangan. Koefisien silang dalam (inbreeding)
digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu individu akibat
silang dalam dan mengukur penurunan derajat heterozigositas suatu individu
relatif terhadap tetua bersamanya. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi
penangkaran untuk mengetahui perihal koefisisen inbreeding agar dapat dilakukan
pengaturan perkawinan dengan tepat sehingga dapat mengurangi tingkat
inbreeding di penangkaran. Selain itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya
tekanan inbreeding pada jalak bali di penangkaran MBOF dengan dilakukan
penelaahan karakteristik morfologi (genetik).

3

1.2

Tujuan
Tujuan penelitian adalah:

1.

Mengidentifikasi teknik penangkaran jalak bali yang ada di MBOF.

2.

Mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan dalam menangkarkan
jalak bali di MBOF.

3.

Menganalisis hubungan kekerabatan atau silsilah dengan menggunakan
diagram pohon pada jalak bali di MBOF.

4.

Menghitung koefisisen inbreeding dan mengukur karakteristik morfologi
jalak bali untuk mengidentifikasi keberadaan inbreeding depression pada
jalak bali di MBOF.

1.3

Manfaat
Hasil penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien

inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) diharapkan dapat dijadikan
suatu informasi bagi upaya pengembangan penangkaran jalak bali khususnya di
penangkaran Mega Bird and Orchid Farm, Bogor, Jawa Barat dan sebagai dasar
dalam penyusunan studbook (buku silsilah) jalak bali.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Klasifikasi dan Morfologi Jalak Bali
Jalak bali tergolong dalam jenis burung berkicau. Dalam bahasa Bali diberi

nama Curik putih atau Curik bali sedangkan dalam bahasa asing diberi nama
White starling, White minah, Bali minah, Bali starling, dan Rotschild’s minah
(Alikodra 1987). Klasifikasi jalak bali menurut Stersemann (1912) dalam
Alikodra (1987) adalah Phyllum: Chordata, Class: Aves, Ordo: Passeriformes,
Famili: Sturnidae, Genus: Leucopsar, Species: Leucopsar rothschildi Stresemann,
1912.
Berdasarkan laporan TNBB (2011), ciri-ciri morfologis jalak bali yang khas
adalah sebagai berikut:
1.

Bulunya 90% berwarna putih bersih hanya pada ujung bulu sayap dan bulu
ekornya ditemukan warna hitam dengan lebarnya lebih kurang 25 mm.

2.

Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing
dengan panjang 2 – 5 cm dengan bentuk yang khas pada bagian atasnya
terdapat peninggian yang memipih tegak, dan rahangnya berwarna abu-abu
kehitaman.

3.

Burung jantan bentuknya lebih indah mempunyai jambul di kepalanya
dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih.

4.

Jalak bali mempunyai kaki berwarna biru abu-abu dengan empat jari jemari
(1 ke belakang dan 3 ke depan).

5.

Ukuran jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan namun secara umum
jalak bali jantan lebih besar dan memiliki kuncir yang lebih panjang.
Jalak bali jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 1.

5

Gambar 1 Jalak bali (Leocopsar rotchildii) jantan dan betina
(Sumber: Isom 2011).
2.2

Habitat dan Penyebaran
Penyebaran populasi jalak bali pada masa lampau menurut IUCN (1966)

mencapai daerah Bubunan, sekitar 50 km sebelah timur kawasan Taman Nasional
Bali Barat. Menurut Hartojo dan Suwelo (1988), penyebaran perkiraan populasi
jalak bali pada akhir tahun 1984 hanya tinggal di kawasan Taman Nasional Bali
Barat yaitu di hutan-hutan Tegal Bunder, Prapat Agung, Batu Licin, Lampu
Merah, Teluk Kelor, Tanjung Gelap, Banyuwedang, dan Cekik. Habitat yang
disukai oleh jalak bali seperti hutan mangrove, hutan rawa, dan hutan musim
dataran rendah (Alikodra 1987). Hasil pengamatan yang dilakukan tim ICBP dan
Dirjen PHKA menunjukan bahwa penyebaran jalak bali hanya ada di Taman
Nasional Bali Barat dengan jumlah populasi yang sangat terbatas di sebelah Utara
jalan yang membelah kawasan Taman Nasional Bali Barat dari Gilimanuk sampai
ke Singaraja (Hartojo dan Suwelo 1988).
2.3

Populasi
Perkembangan populasi jalak bali di Taman Nasional Bali Barat dari tahun

ke tahun terus menurun bahkan mencapai kondisi kritis. Tahun 1977 diperkirakan
sejumlah 210 ekor (Alikodra 1978) kemudian menurun menjadi 104 ekor pada
tahun 1984 (Helvoort et al. 1985), dan tahun 1986 oleh Pujiati (1987)
memperkirakan sejumlah 54 ekor. Pada tahun 1989 Ballen dan Sutawidjaja (1990)
memperkirakan populasi tidak lebih dari 25 ekor dan dalam perkiraan yang

6

dilakukan oleh tim bali starling project bulan Oktober 1990 menunjukan keadaan
populasi yang sangat kritis yaitu sekitar 13 – 18 ekor (Taman Nasional Bali Barat
1991). Data pada bulan Desember 2006, populasi di alam liar tercatat hanya
tersisa sebanyak enam ekor (Taman Nasional Bali Barat 2009).
2.4

Sistem Penangkaran
Penangkaran merupakan kegiatan untuk mengembangbiakan jenis-jenis

satwaliar dan tumbuhan alam yang bertujuan untuk memperbanyak populasi
dengan mempertahankan kemurnian jenis sehingga kelestarian dan keberadaannya
di

alam

tetap

terjaga

yang

meliputi

kegiatan

pengumpulan

bibit,

pengembangbiakan, memelihara, membesarkan, dan restocking yang bertujuan
untuk melestarikan satwaliar dan tumbuhan alam maupun memperbanyak
populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Thohari 1987).
Suwelo (1988) membagi sistem penangkaran menjadi intensif dan
ekstensif. Intensif mengarah pada menternakan satwaliar (game farming)
sedangkan ekstensif mengarah pada pemeliharaan satwaliar (game ranching). Ciri
intensif yaitu semua sarana dan prasarana disediakan oleh pengelola seperti
kebun binatang. Sistem ini mengandalkan kerja manusia seperti memberi
makanan dan minuman. Ciri ekstensif yaitu hanya menyediakan atau menanam
hijauan. Sistem ekstensif ini dapat dilakukan pada habitat dimana jenis tersebut
berkembang misalnya pada taman buru atau dapat pula pada tempat yang berpagar
tetapi dalam tempat berpagar tersebut tidak ada bangunan atau dibuat sedikit
mungkin bangunan buatan manusia.
Berdasarkan

tujuannya,

penangkaran

dibagi

menjadi

dua

yaitu

penangkaran untuk budidaya dan penangkaran untuk konservasi (Helvoort et al.
1986). Perbedaan antara penangkaran untuk tujuan budidaya dengan untuk tujuan
konservasi dapat dilihat pada Tabel 1.

7

Tabel 1 Perbedaan antara penangkaran untuk budidaya dan konservasi
Aspek
Obyek

Sasaran

Manfaat

Jangka waktu

Metode

Budidaya
Beberapa individu dan ciri-cirinya
Ras (Varietas, forma)
Jumlah
Individu
total
yang
dimanipulasikan (N) terbatas
Domestikasi
Perubahan, dalam arti mencaiptakan
ras,forma
Komersial ( terutama segi kuantitas)
Terkurung untuk selama-lamanya.
Memenuhi
kebutuhan
material
(protein, kulit dan lain-lain)
(memenuhi kebutuhan batin dan
sosial (burung berkicau, anjing
kesayangan)
Pendek sampai sedang (1-250 tahun)

Konservasi
Suatu populasi dan ciri-cirinya
Jenis/anak jenis

Terapkan teknologi reproduksi (IB,
IVF, TE, dll)

Mempertahankan sex ratio

Jumlah mau kawin ditingkatkan

Jaga keturunan tidak didominasi

Penentuan pasangan diatur

Pasangan acak

Kembangkan galur
murni
inbreeding; lakukan mutasi gen
Sumber : Helvoort et al. 1986



Jumlah total individu (N) besar
Realease
Tidak merubah jenis
Non komersial
Pengembalian kepada alam asli
Memepertahankan
stabilitas
ekosistem
Meningkatkan nilai keindahan alam
Selama-lamanya

Hindari inbreeding & mutasi gen

Dalam melakukan usaha-usaha kegiatan penangkaran terdapat beberapa
hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu (Soedharma 1985):
1.

Mencari tempat penangkaran yang cocok untuk dapat dilakukan dengan
baik ditinjau dari lokasi untuk pelepasan kembali ke alam dan pemanfaatan
bibit untuk kepentingan usaha.

2.

Mengetahui dengan benar ketersediaan di alam dan status populasi di alam.

3.

Kesiapan teknologi yang sudah dikuasai untuk penangkaran agar bisa
berhasil.

4.

Kesiapan perangkat kebijaksanaan sistem pengendalian pengawasan.

5.

Faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat setempat yang akan terlibat di
dalamnya.

2.5

Penangkaran Jalak Bali
Penangkaran jalak bali merupakan upaya yang harus dilakukan untuk

menaggulangi punahnya jalak bali di alam. Pelepasan ke alam hasil penangkaran
jalak bali (restocking) akan berhasil menambah populasi di alam apabila sebab-

8

sebab yang pada awalnya telah mengakibatkan kemerosotan populasi jalak bali
sudah ditanggulangi dengan baik (Helvoort et al. 1986).
Beberapa penangkaran jalak bali yang sudah ada seperti di Kebun Binatang
Surabaya (KBS), Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah, penangkaran jalak
bali UD. Safari Bird Farm di kabupaten Jombang, dan penangkaran di Tegal
Bunder, Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Perkembangan penangkaran di
Tegal Bunder TNBB pada beberapa tahun terakhir terlihat mengalami penurunan
yang merupakan hasil sumbangan dari KBS dan TSI (Taman Safari Indonesia) I
Cisarua serta hasil sitaan maupun anak yang dihasilkan seluruhnya berjumlah 284
ekor dan pada tahun 2006 tersisa sekitar 70 ekor. Hal tersebut disebabkan antara
lain kurang gencarnya penelitian tentang pengembangan penangkaran dari pihak
terkait, sehingga para petugas hanya memiliki pengetahuan yang terbatas dalam
pengelolaan penangkaran tersebut dan kematian satwa dalam penangkaran di
TNBB tersebut cukup memprihatinkan (Aryanto 2010).
2.6

Aspek Teknik Penangkaran

2.6.1 Perkembangbiakan
Jalak bali termasuk burung yang terbang secara bergerombol pada saat
musim kawin (antara bulan November sampai dengan bulan April sedangkan di
penangkaran terjadi sepanjang tahun) dan dalam mencari makan (Helvoort et al.
1988). Hartojo dan Suwelo (1985) mengatakan musim kawin terjadi pada bulan
Januari sampai dengan April/Mei. Menurut Gepak (1986), masa breeding burung
jalak bali di habitatnya pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret. Perbedaan
musim kawin diduga berhubungan dengan tersedianya makanan dalam jumlah
cukup bagi jalak bali pada musim breeding tersebut. Musim breeding ini agak
berbeda dengan penangkaran burung jalak bali di Kebun Binatang Surabaya
(KBS). Jalak bali di KBS dapat bertelur setiap saat. Setiap bertelur dapat menelur
2 – 4 butir. Setiap pasang induk paling banyak hanya mampu membesarkan dua
ekor burung.

9

Jalak bali jantan dan betina sulit dibedakan kecuali melalui perilaku pada
saat birahi dan hal tersebut tidak pasti 100% (Helvoort et al. 1985). Sangat sulit
dilakukan pembakuan kriterianya hanya para pakar dan penggemar burung yang
telah lama menangani jalak bali yang dapat menentukan jenis kelamin. Kriteriakriteria alam yang dipakai para pakar yaitu melalui ciri-ciri khas yang dimiliki
tiap jenis kelamin tersaji dalam Tabel 2.
Tabel 2 Ciri-ciri morfologi yang membedakan jenis kelamin jalak bali
Ciri Morfologi
Kepala
Daerah sekitar mata
Ukuran tubuh
Jambul

Jenis Jantan
Lebih besar dan bentunya panjang
Warna lebih gelap dan
permukaannya lebih kasar
Lebih besar dan gagah
Lebih panjang dan hampir
merupakan kuncir

Jenis Betina
Lebih kecil dan bentuknya
cenderung bulat
Warna lebih terang dan
permukaannya lebih halus
Lebih ramping
Relatif lebih pendek dan datar

Sumber: Jaya 2006

Jalak bali memiliki sifat monogamus yaitu sex ratio jantan dan betina adalah
1:1. Selama melakukan perkawinan jalak bali tidak boleh merasa terganggu
karena akan mengakibatkan gagalnya perkawinan tersebut. Oleh karena itu, pada
saat melangsungkan perkawinan, kandang harus tertutup dan bebas gangguan
(Jaya 2006). Pada musim kawin, jalak bali jantan sering mengejar betina dan
mencoba mengusir jantan yang lain dan jika terjadi kecocokan maka antara
keduanya sering berdekatan. Pada saat bercumbu jambul yang panjang pada
jantan terlihat ditegakan dan diturunkan sambil berkicau (MacKinnon 1989).
Ciri-ciri jalak bali yang akan bertelur antara lain frekuensi masuk ke sarang
baik jantan maupun betina relatif tinggi dibanding biasanya dan sering membawa
ranting-ranting kering atau rumput masuk kedalam sarang sebagai alas sarang
(Nurana 1989). Jalak bali bertelur antara dua sampai tiga butir dalam satu kali
reproduksi (MacKinnon 1989). Telur jalak bali berwarna kebiru-biruan, berbentuk
bulat panjang (oval), rata-rata berukuran panjang 30,8 mm dan lebar 22,3 mm
dengan bobot 8,2 gram (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986).
Lama pengeraman telur berlangsung rata-rata 11 – 14 hari (Nurana 1989).
Di tempat penangkaran, pengeraman telur dimulai pada waktu telur pertama kali
dihasilkan (Sieber 1983 dalam Helvoort et al. 1986). Lama pengasuhan anak di
penangkaran kurang lebih selama satu bulan. Apabila lebih dari satu bulan anak
jalak bali belum dipisahkan dengan induknya maka anak jalak bali tersebut

10

dipatuki induknya terutama oleh jantannya bahkan dapat menyebabkan anak
burung tersebut mati. Naluri yang mendorong induk untuk menyapih anaknya
diduga

karena

induknya

mulai

birahi.

Dugaan

ini

berdasarkan

data

perkembangbiakan jalak bali. Jika anak sudah disapih, 1 – 2 minggu kemudian
induknya bertelur kembali (Nurana 1989). Anakan jalak bali dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2 Anakan jalak bali (sumber: berita burung 2010).
2.6.2 Pakan
Makanan jalak bali berupa buah-buahan, biji-bijian, dan serangga
(MacKinnon 1989). Makanan alaminya seperti tembelekan (Lantana camara) dan
macam-macam serangga (capung, belalang, dan ulat). Di tempat penangkaran,
pakan yang umum diberikan adalah pepaya, pisang, telur serangga (kroto), tulang
cumi-cumi, dan ulat hongkong (Nurana 1989).
2.6.3 Kandang
Kandang untuk penangkaran jalak bali dapat ditempatkan pada suatu areal
yang cukup luas, yang penting harus mempertimbangkan kondisi alami dari jenis
burung jalak bali tersebut. Untuk menjamin keamanan dan masa pakai yang lama,
maka kandang penangkaran dapat terbuat dari rangka besi atau tiang kayu yang
bagus. Dinding kandang dapat dibuat terbuka dengan kawat ram (berdiameter 1
cm) untuk seluruh dinding atau sebagian dinding dibuat tertutup dari tembok atau
ram yang ditutup dengan plastik gelap, sebagian ditutup oleh genteng atau asbes
dan sebagian lainnya dibiarkan terbuka yang ditutup dengan kawat ram. Kandang
penangkaran dibedakan atas beberapa jenis dengan ukuran yang berbeda-beda

11

(Masy’ud 2010). Untuk lebih jelasnya jenis dan ukuran kandang dapat dilihat
pada tabel 3.
Tabel 3 Jenis dan ukuran kandang penangkaran jalak bali
No
Jenis Kandang
1
Kandang pembiakan
2
Kandang sapihan
3
Kandang calon induk
4
Kandang karantina
5
Kandang angkut
6
Kandang kubah (pelepasliaran)
Sumber: Masy’ud (2010).

Ukuran Kandang
4m x 3m x 2.5m atau 3m x 2,5m x 2,25m
4m x 4m x 2,5m atau 3m x 3m x 2,5m
6m x 3m x 2m
4m x 1m x 2,25m
80cm x 30cm x 20cm
Tinggi 17,5m dan diameter 17,5m

2.6.4 Bibit
Syarat keberhasilan pengembangbiakan jalak bali di penangkaran diawali
dengan ketepatan dalam memilih bibit. Penangkaran harus benar-benar
memperhatikan kualitas bibit atau syarat bibit yang baik yaitu bibit harus sehat,
tidak cacat, bersuara lantang dan bagus serta jelas asal usulnya. Sebagai jenis
monomorfik yaitu jenis yang memilki ciri morfologi yang relatif sama antara
jantan dan betina, maka dalam memilih bibit harus dipastikan bahwa pasangan
bibit yang dipilih jelas terdiri dari jantan dan betina. Menurut Masy’ud (2010),
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit yang baik yaitu:
1.

Bentuk dan berat badan
Bibit jalak bali yang baik memilki bentuk badan bulat panjang dan relatif
lebih berat dari pada bibit jalak bali betina.

2.

Bulu
Bulu bibit yang baik tampak mengkilap, tidak kumal dan apabila
disemprotkan air maka air semprotan tidak menempel pada bulunya.

3.

Sikap
Sikap yang gagah, sorot mata yang tajam, kepala yang tegak tetapi tidak
tampak liar.

4.

Usia
Burung yang dipilih sebagai bibit harus memiliki usia yang muda karena
memungkinkan stress dan sifat liarnya masih relatif kecil.

12

2.6.5 Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan
pencegahan, perawatan, dan manajemen penyakit. Kesehatan merupakan salah
satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan penangkaran burung jalak
bali. Kunci dalam perawatan kesehatan burung adalah pada pemberian makanan
yang teratur dan bergizi serta sesuai kesukaan. Burung yang stress biasanya
disebabkan karena kelaparan dan akan menjadi liar sehingga dapat menggagu
kesehatan dan perkembangbiakannya. Selain itu, kebersihan dari makanan, tempat
makan, dan lingkungan kandang dapat mempengaruhi kesehatan jalak bali.
Ventilasi udara dan sirkulasi udara di dalam kandang juga harus optimal. Selain
itu, adanya gangguan lain seperti ular, tikus, dan kucing karena dapat menjadi
predator dan sebagai pembawa penyakit (Masy’ud 2010).
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh jalak bali di penangkaran, dapat
dilakukan dengan cara memberikan multivitamin secara teratur. Untuk mengobati
sekaligus untuk mencegah terjangkitnya penyakit cacing dapat juga diberikan
obat-obatan. Selain itu, untuk mempertinggi daya tahan tubuh terhadap serangan
penyakit maka salah satu cara yang terbaik adalah dengan memberikan makanan
yang bergizi. Makanan harus di selang-seling dengan pur kesehatan. Cahaya
matahari di pagi hari penting bagi kesehatan burung sebagai sumber provitamin
D. Oleh karena itu, diusahakan agar cahaya matahari pagi masuk dengan jumlah
yang cukup kedalam kandang (Masy’ud 2010).
2.7

Inbreeding
Silang dalam (Inbreeding) adalah persilangan antar satwa yang memiliki

hubungan keluarga yang lebih dekat jika dibanding dengan rataan hubungan
kekerabatan kelompok tempat satwa tersebut berada. Silang dalam ini
mengakibatkan meningkatnya derajat homozigisitas dan pada saat bersamaan
menurunkan derajat heterozigositas (Noor 2008).
Menurut Warwick et al. (1986), silang dalam adalah perkawinan antar
individu-individu yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata satwa
dalam bangsa atau populasi itu yaitu satwa yang mempunyai moyang bersama
dalam 4 sampai 6 generasi pertama silsilahnya. Pengaruh genetik dari silang
dalam yaitu meningkatkan proporsi lokus-lokus genetik yang homozigot bila

13

dibandingkan dengan proporsi yang diakibatkan dari persilangan satwa-satwa
bukan inbreeding dari populasi yang sama. Silang dalam merupakan proses yang
seimbang dan menyebabkan fiksasi gen-gen yang tak disukai sama cepatnya
dengan gen-gen yang disukai.
Menurut Helvoort (1988), penangkaran satwaliar dapat dinilai berhasil
apabila teknologi reproduksi jenis satwa tersebut telah dikuasai, artinya usaha
penangkaran tersebut telah berhasil mengembangbiakan jenis satwa yang
ditangkarkan dan satwa hasil penangkaran tersebut berhasil bereproduksi di alam
bebas. Di dalam populasi yang kecil, meningkatnya inbreeding lebih cepat
dibandingkan dalam populasi yang besar.
Helvoort (1988) mengatakan bahwa, burung-burung yang sudah kawin
dalam (inbreed) tidak patut di tangkarkan karena genetika populasi dan variasi
genetiknya rendah. Hal ini akan berpengaruh terhadap daya reproduksi, ketahanan
tubuh, dan penampilan bibit. Cara-cara mengurangi inbreeding menurut Thohari
(1987) adalah sebagai berikut:
1.

Pengambilan satwa dari populasi yang berbeda.

2.

Melakukan test heterozigositas pada satwa yang akan digunakan sebagai
bibit. Lebih tinggi tingkat heterozigositasnya nilai satwa sebagai bibit lebih
baik.

3.

Melakukan pencatatan silsilah yang teratur pada setiap individu yang
ditangkar.

4.

Memasukan individu baru secara berkala yang bukan satwa inbreed atau
tidak mempunyai hubungan keluarga dengan satwa yang telah ada.
Koefisien inbreeding merupakan peluang dua alel dalam satu lokus untuk

sama (homozigot) dalam satu keturunan. Menurut Noor (2008), koefisien
inbreeding dapat digunakan untuk mengukur peningkatan homozigositas suatu
individu akibat silang dalam. Koefisien ini dapat pula digunakan untuk mengukur
penurunan derajat heterozigositas suatu individu relatif terhadaap tetuanya pada
populasi yang sama. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui perihal
koefisisen inbreeding.

14

Menurut Masy’ud (1992), perhitungan koefisien silang dalam dilakukan
berdasarkan informasi silsilah jalak bali dengan menelaah buku silsilah
(studbook). Jika koefisien silang dalam bernilai nol, maka pasangan tersebut
dipindahkan dan ditempatkan dalam satu kandang untuk diamati perilaku
asosiasinya lebih lanjut dan penampilan reproduksinya. Sebaliknya, jika koefisien
silang dalam bernilai satu atau mendekati satu, maka pasangan tersebut dipisahkan
kembali untuk dicarikan pasangannya dengan jalak bali lain.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding

jalak bali dilakukan di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Desa
Ciujung Tengah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pengamatan dan pengumpulan data di MBOF dilakukan pada bulan Juni –
Oktober 2011.
3.2

Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain alat tulis,

penggaris, jangka sorong, kamera digital, timbangan, termometer dry-wet, dan
pita ukur. Bahan yang digunakan adalah jalak bali hasil penangkaran dan pakan
jalak bali yang terdapat di MBOF.
3.3

Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder sedangkan

metode pengumpulan data yaitu pengamatan langsung dan pengukuran, teknik
wawancara serta penelusuran dokumen. Jenis data dan metode pengumpulan data
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4
Tabel 4 Jenis data dan metode pengumpulan data.
Jenis data
Data yang diambil
I

II
III

Teknik penangkaran
Pakan
Perawatan kesehatan
Tenaga kerja
Kandang
Sejarah
Organisasi
Teknik reproduksi
Populasi
Faktor keberhasilan
Koefisisen inbreeding
Silsilah jalak bali
Karakteristik morfologi
Data kuantitatif
Data kualitatif

Primer

v
v
v
v

Sekunder

v

Metode pengumpulan data
Pengamtan
Dokumen/
dan
Wawan cara
literatur
pengukuran
v
v
v

v
v
v
v

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v

v
v
v

v

v
v
v
v

v

v
v

v

16

3.3.1 Teknik penangkaran
Pengelolaan penangkaran dilakukan dengan pengamatan langsung di
lapangan dan wawancara kepada pengelola. Untuk mengetahui faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi teknik keberhasilan penangkaran jalak bali, data yang
diambil meliputi:
1.

Teknik reproduksi jalak bali di penangkaran meliputi pemilihan bibit, seks
ratio, pembentukan pasangan, dan tingkat keberhasilan breeding.

2.

Pakan, palatabilitas, jumlah konsumsi, dan nilai gizi serta jadwal waktu
pemberiannya. Pakan yang diberikan kepada jalak bali dipenangkaran
dilakukan analisis proksimat dan diambil sampel makanan untuk
mengetahui kandungan zat makanan dalam makanan tersebut.

3.

Perkandangan yang meliputi jenis kandang, ukuran dan konstruksi kandang,
perlatan dan perlengkapan kandang serta suhu dan kelembaban dalam
kandang.

4.

Pemeliharaan kesehatan dan perawatan kesehatan, jenis penyakit yang
sering diderita serta cara pengobatannya.

5.

Faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF.
Selain itu, juga dilakukan wawancara mengenai teknik penangkaran di

MBOF yang digunakan untuk mendukung data meliputi:
1.

Asal muasal bibit jalak bali yang ditangkarkan beserta sistem karantinanya.

2.

Sejarah penangkaran jalak bali.

3.

Organisasi penangkaran dan tenaga kerja (SDM) .

4.

Populasi jalak bali yang meliputi jumlah, jenis kelamin, dan kelas umur.

3.3.2 Analisis koefisisen inbreeding
Penelaahan silsilah jalak bali di penangkaran dilakukan dengan teknik
wawancara dengan pihak pengelola ada di penangkaran tersebut. Data yang
diperoleh dibuat data catatan kelahiran atau silsilah (studbook) kemudian dibuat
diagram pohon untuk menentukan hubungan kekerabatan jalak bali di MBOF.

17

3.3.3 Penelaahan karakteristik morfologis
Penelaahan karakteristik morfologis dapat dilakukan dengan melihat
karakteristik morfologis baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat
kualitatif. Data karakteristik morfologis yang bersifat kuantitatif meliputi berbagai
ukuran tubuh yaitu, panjang badan, panjang sayap, panjang ekor, panjang kepala,
panjang kaki, panjang paruh, dan tinggi paruh. Data ukuran tubuh tersebut
dilakukan melalui pengukuran, sedangkan untuk data karakteristik kualitatif
meliputi warna dan pola bulu sayap dan bulu ekor, warna paruh, warna kaki,
warna mata, dan daerah sekitar mata. Peubah ukuran tubuh yang diukur meliputi:
1.

Panjang tubuh total yang diukur dari ujung paruh sampai dengan ujung bulu
ekor dengan menggunakan pita ukur.

2.

Panjang rentang sayap yang diukur dengan merentangkan sayap dari
pangkal sayap hingga ujung sayap dengan menggunakan pita ukur.

3.

Panjang ekor yang diukur dari pangkal ekor sampai ujung ekor dengan
menggunakan pita ukur.

4.

Panjang kaki yang diukur dari pangkal kaki hingga ujung kaki
menggunakan pita ukur.

5.

Panjang kepala yang diukur dari bagian tengkuk hingga ujung paruh dengan
menggunakan jangka sorong.

6.

Panjang paruh yang merupakan panjang maxilla (paruh atas) yang diukur
dengan menggunakan jangka sorong.

7.

Tinggi paruh pada bagian paruh tertinggi yang diukur dengan menggunakan
jangka sorong.

Gambar 3 Pengukuran panjang total tubuh.

18

Gambar 4 Pengukuran panjang sayap.

Gambar 5 Pengukuran panjang kepala.

Gambar 6 Pengukuran panjang ekor.

Gambar 7 Pengukuran panjang paruh.

19

Gambar 8 Pengukuran panjang kaki.

Gambar 9 Pengukuran tinggi paruh.
3.4

Analisis Data

3.4.1 Teknik penangkaran jalak bali
Data mengenai teknik penangkaran jalak bali dianalisis secara deskriptif
yang meliputi sejarah penangkaran, populasi, perkandangan, pakan, perawatan
kesehatan, dan teknik reproduksi. Selain dianalisis secara deskriptif, data
mengenai pakan jalak bali juga dilakukan analisis secara kuantitatif. Berikut
rumus yang digunakan:
3.4.1.1 Jumlah konsumsi
JK = B-b
Keterangan:
JK = jumlah konsumsi
B = berat pakan sebelum diberikan
b

= berat pakan sisa

20

3.4.1.2 Tingkat palatabilitas
%P = G0-G1 x 100%
G0
Keterangan:
%P

= tingkat palatabilitas

G0

= berat pakan semula

G1

= pakan sisa

3.4.1.3 Kandungan gizi pakan
Kandungan gizi pakan jalak bali di penangkaran diperoleh melalui studi
literatur untuk mengetahui analisis proksimat yaitu analisis kimia untuk
mengetahui kandungan zat makanan yang terdapay di dalam bahan makanan.
3.4.1.4 Jumlah kebutuhan pakan
Kebutuhan pakan yang perlu diketahui yaitu kebutuhan protein dan
kebutuhan kalori. Kebutuhan protein dapat diperoleh dengan rumus:
∑ konsumsi suatu pakan
x
∑ konsumsi pakan keseluruhan

%PK

Kebutuhan kalori dapat diperoleh dengan rumus:
∑ konsumsi suatu pakan
x Kalori(Kkal)
∑ konsumsi pakan keseluruhan
3.4.1.5 Faktor keberhasilan
Untuk mengetahui faktor penentu keberhasilan penangkaran burung jalak
bali di MBOF dapat dilakukan perhitungan presentase daya tetas telur yaitu:
a. Presentase daya tetas telur:

. β
Keterangan:
∂ = ∑ telur yang menetas
β = ∑ total telur ditetaskan

x 100 %

21

b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai
berikut:
t
Tt

x

100 %

Keterangan:
t = ∑ induk yang berkembangbiak
Tt =∑ induk keseluruhan
c.

Persentase angka kematian tiap kelas umur:
M
x
Mt

100 %

Keterangan:
M = ∑ anak yang hidup tiap kelas umur ke–i
Mt = ∑ total anak yang hidup tiap kelas umur ke–i
Kriteria

yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan

penangkaran di MBOF yaitu:

3.4.2

0 – 30 %

= rendah

30 – 60 %

= sedang

60 – 100%

= tinggi

Perhitungan Koefisisen Inbreeding
Rumus yang digunakan terdiri dari beberapa formula:

3.4.2.1 Perhitungan koefisien kekerabatan adalah :
R = ∑( 1/2 )n
Keterangan :
R = koefisien kekerabatan
n = Jumlah anak panah dari setiap jalur.
Salah satu cara untuk menghitung koefisien inbreeding yaitu dengan
menggunakan diagram panah. Pembuatan diagram panah setiap individu pada
kedua silsilah tersebut dimasukan sekali pada diagram panah walaupun pada
kenyataannya individu-individu tersebut muncul beberapa kali (Noor 1996).
Contoh perhitungan koefisien inbreeding:

22

Langkah- langkah untuk menghitung koefisien inbreeding suatu individu
X (Fx) sebagai berikut (Nurana 1989):
Langkah 1 : Merunut dan menggambarkan asal usul nenek moyangnya sampai
tidak diketahui atau sampai nenek moyangnya berasal dari alam. Jika
dalam salsilah tidak ada kawin dengan keluarga berarti koefisisen
inbreeding X (Fx) = 0.
Langkah 2 : Menentukan koefisien nenek moyang yang sama (Fc). Koefisien
inbreeding nenek moyang harus dihitung sebelum menghitung
koefisien inbreeding X (Fx). Cara perhitungan koefisien inbreeding
nenek moyang sama dengan perhitungan koefisien inbreeding
individu X (langkah 4 dan 5).
Langkah 3 : Memperhatikan aliran gen pada gambar silsilah
Langkah 4 : Menghitung koefisien inbreeding masing-masing. Aliran gen dengan
rumus:
F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc)
Langkah 5 : Koefisien individu X adalah jumlah koefisien masing-masing aliran
gen.
Contoh perhitungan koefisien inbreeding X pada silsilah seperi pada
gambar 10.
B

A

A

C

A

E

D
E

D

X

X
(a)

(b)

Gambar 10 (a) Silsilah suatu individu X; (b) aliran gen individu X.

23

Langkah 1 : Gambar 10 B memperlihatkan bahwa X mempunyai nenek moyang
yang sama yaitu A berati memilki koefisien inbreeding X (Fx) lebih
dari nol.
Langkah 2 : Karena nenek moyang A tidak diketahui diasumsikan nenek moyang
A tidak ada yang kawin dengan keluarga berarti koefisien inbreeding
A (Fc) = 0.
Langkah 3 : Berdasarkan silsilah ada satu jalur yang menghubungkan individu S
dan D melalui A yang memilki dua anak panah (gambar 1 B) yaitu
D-A-E dan n = 2. Nilai koefisien inbreeding individu X dapat dilihat
pada tabel 5.
Langkah 4 : Perhitungan koefisien inbreeding pada individu X
Tabel 5 Nilai perhitungan koefisien inbreeding pada individu X
Lintasan
X-D-A-E-X

Fc
0,00

Koefisien inbreeding
1/2∑ (1/2)2 (1+0,00) = 0.125

N
2

Langkah 5 : karena hanya terdapat satu lintasan gen maka koefisien inbreeding X
(fx) = 0,125.
3.4.2.2 Perhitungan koefisisen inbreeding
Perhitungan koefisien silang dalam (Inbreeding) pada dasarnya adalah
mengalikan koefisien kekerabatan dengan ½. Rumus untuk mengukur koefisien
silang dalam adalah (Noor 2008):
F= ½ ∑ (1/2)n
Keterangan :
F = koefisien silang dalam (inbreeding)
3.4.2.3 Koefisien inbreeding jika tetua bersama inbreed
Koefisien kekerabatan dan koefisien silang dalam yang dipengaruhi oleh
silang dalam dapat juga terjadi pada tetua bersama. Rumus dasar untuk
menghitung koefisien silang dalam dapat dimodifikasi jika tetua bersamanya juga
inbreed. Rumus yang telah dimodifikasi adalah (Noor 2008):
F = ½ ∑ (1/2)n (1+Fc)
Keterangan:
Fc = koefisien silang dalam tetua bersama.

24

3.4.2.4 Silang dalam pada satu atau dua individu yang berkerabat
Silang dalam pada satu atau kedua individu yang berkerabat cenderung
mengurangi kekerabatan antara kedua individu tersebut. Silang dalam
mengakibatkan individu-individu tersebut lebih homozigot yang berakibat
menurunkan genotip. Jadi pada dasarnya hal ini akan mengurangi peluang kedua
individu memilki gen-gen yang sama sebesar rataan kedua koefisien silang dalam.
Rumus untuk menghitung koefisisen kekerabatan pada kasus ini (Noor 2008)
adalah :
Rxy = ∑ (1/2)n(1+Fa)
√(1+Fx)(1+Fy)
Keterangan :
Rxy = koefisien kekerabatan antara individu X dan Y
n

= jumlah generasi dari individu X dan Y sampai pada moyang bersama

Fx = koefisien silang dalam individu X
Fy = koefisien silang dalam individu Y
3.4.3

Karakterisrik Morfologi
Penelaahan karakteristik morfologi (genetik) dilakukan tehadap lima

pasang jalak bali yang ada di penangkaran (generasi F1). Data karakteristik
morfologi yang dianalisis berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif
ditabulasikan ke dalam tabel dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data
kuantitatif yang terkumpul ditabulasi dan dihitung nilai rataan dan simpangan
bakunya selanjutnya dilakukan pengujian perbandingan nilai rataan dengan uji tstudent menggunakan software SPSS untuk menentukan adanya perbedaan antar
jenis kelamin (jantan dan betina). Selain itu, juga dilakukan perbandingan
terhadap pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan di MBOF dengan
pengukuran morfologi yang terdahulu secara deskriptif untuk menentukan ada
tidaknya inbreeding depression karena terjadinya penurunan dari sifat-sifat
morfologinya.
Kriteria uji menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian terhadap
hubungan antara parameter yang diukur dan diamati menggunakan hipotesis
sebagai berikut:

25

H0 = tidak ada perbedaan morfologi kuantitatif yang nyata antara jenis
kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF
H1 = ada perbedaan morfologi kuantitaif yang nyata antara jenis kelamin
jantan dan betina jalak bali di MBOF
Pengambilan

keputusan

atas

hipotesis

tersebut

menggunakan kriteria sebagai berikut:
Jika t hitung > dari t tabel, maka tolak H0
Jika t hitung < dari t tabel, maka terima H0

dilakukan

dengan

BAB IV
KONDISI UMUM
4.1

Sejarah Kawasan
Penangkaran Mega Bird Farm didirikan pada tahun 1996 berdasarkan hobi

pengelola dalam memelihara burung khususnya burung-burung berkicau dan
burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Pada tahun 2010, lokasi ini berganti
nama menjadi Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) yang kemudian disahkan
dan diakui oleh pemerintah berdasarkan pada Surat Keputusan Direktorat Jenderal
PHKA No. SK. 22/IV-SET/2010 tentang pemberian izin penangkaran jalak bali
(Leucopsar rothschildi) yang dilindungi oleh undang-undang dan Surat Keputusan
BBKSDA Jawa Barat No. SK. 164/BBKSDA-JABAR-1/2010 tentang pemberian
izin penangkaran burung yang tidak dilindungi oleh undang-undang serta pada
tahun 2011 pemerintah juga telah mengeluarkan surat keputusan melalui
Direktorat Jenderal PHKA dengan No. SK. 22/IV-SET/2011 tentang izin usaha
penangkaran burung (aves) yang dilindungi oleh undang-undang.
4.2

Tujuan dan Manfaat
Mega Bird and Orchid Farm memiliki tujuan untuk kegiatan konservasi

(pelepas-liaran ke alam) dan untuk tujuan ekonomi. Selain itu, penangkaran ini
juga memiliki manfaat antara lain:
a. Untuk kegiatan pendidikan dan penelitian
b. Menjaga jenis-jenis dilindungi dari ancaman kepunahan
c. Mengembangbiakkan jenis-jenis dilindungi di luar habitat aslinya
dengan tetap menjaga kemurnian genetiknya.
4.3

Letak dan Luas Kawasan
Secara administratif, MBOF terletak di Desa Cijujung Tengah, RT. 05/

RW. 04, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi
tersebut memiliki luas total sebesar 23.500 m 2 yang terdiri dari luas bangunan
sebesar 10.000 m2 dan luas pekarangan sebesar 13.500 m2. Berikut lokasi MBOF
pada Gambar 11.

27

Gambar 11 Lokasi Mega bird and Orchid Farm.
4.4

Kondisi Biologi
Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di penangkaran MBOF antara lain

pohon rambutan (Nephelium lappaceum), jambu air (Syzygium aqueum), mangga
(Mangifera indica), jambu biji (Psidium guajava), pisang (Musa sp.), dan pepaya
(Carica papaya). Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF dapat
dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Lokal
Jalak bali
Cucak rawa
Gelatik jawa
Beo nias
Cendrawasih merah
Cendrawasih kuning kecil
Rangkong badak
Kuau raja
Kakatua raja
Merak hijau
Merak biru
Mambruk victoria
Murai batu

Nama Ilmiah
Leucopsar rothschildi
Pycnonotus zeylanicus
Padda oryzivora
Gracula religiosa
Paradisaea rubra
Paradisaea minor
Buceros rhinoceros
Argusianus argus
Probosciger atterimus
Pavo muticus
Pavo cristatus
Goura victoria
Copsychus malabaricus

Daerah Asal
Endemik Bali Barat
Jawa, Sumatera, Kalimantan
Jawa, Bali, P. Kangean
Jawa, Bali, Sumatera
P. Bantana, Gemien, Saonek
Papua bag. Utara dan bag. Barat
Sumatera, Kalimantan, Jawa
Sumatera, Kalimantan
P. Misool, Kep. Aru
Jawa
Bangladesh, India, Nepal
P. Yapen, P. Biak
Jawa, Sumatera, Kalimantan

28

4.5

Struktur Organisasi dan Kepegawaian
Mega Bird and Orchid Farm secara keseluruhan dipimpin oleh seorang

direktur (Drs. Megananda Daryono, MBA) yang dibantu oleh seorang manajer
(Supriyanto Akdiatmojo) dan seorang asisten manajer (Hari Dimas Prayogo),
serta pegawai sebanyak 14 orang. Selain itu, untuk menjaga keamanan di lokasi
tersebut, pengelola menggunakan tenaga keamanan sebanyak enam orang.
4.6

Aksesibilitas
Mega Bird and Orchid Farm terletak tidak jauh dari pusat kota Bogor.

Lokasi ini dapat dicapai dari terminal Baranang Siang yang memiliki jarak + 12,5
km dengan waktu tempuh + 1,5 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 45
menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, lokasi ini juga dapat
dicapai dari arah Kampus IPB Darmaga yang memiliki jarak + 12 km dengan
waktu tempuh + 1 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 30 menit jika
menggunakan kendaraan pribadi.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Teknik Penangkaran
Secara umum beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa sangat

menentukan keberhasilan suatu jenis satwa. Aspek teknik penangkaran tersebut
diantaranya adalah sejarah penangkaran jalak bali, jumlah populasi jalak bali
dipenangkaran, jenis penyakit dan perawatan kesehatan, manajemen pakan, sistem
perkandangan, teknik reproduksi, dan faktor penentu keberhasilan penangkaran
jalak bali di MBOF. Penjelasan secara lengkap mengenai pengelolaan aspek
teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di penangkaran Mega Bird
and Orchid Farm berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak
pengelola disajikan berikut ini.
5.1.1 Sejarah penangkaran
Jalak bali di penangkaran MBOF dimulai pada tahun 1996. Pada awalnya
jalak bali yang ada di penangkaran MBOF hanya berjumlah tiga pasang yang
berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Setelah itu, populasi jalak
bali semakin bertambah dengan adanya sumbangan-sumbangan dari pencinta
burung dan membeli dari penangkar burung berkicau serta membeli jalak bali dari
penangkap burung di alam. Jalak bali hasil sumbangan dan perdagangan tersebut
dijadikan sebagai indukan (F0). Perbanyakan jalak bali juga dilakukan dengan
cara menjodohkan jalak bali yang ada sehingga dapat berkembang biak.
Pada awalnya pemilik penangkaran membuat penangkaran burung hanya
untuk dijadikan hiburan dan hobi, namun karena kecintaannya pada burungburung berkicau termaksuk jalak bali pemilik penangkaran menangkarkan
burung-burung berkicau tersebut. Hingga saat ini penangkaran MBOF yang
terletak di daerah Cijujung Bogor semakin berkembang dengan menambah
banyak jenis-jenis yang baru.
Penangkaran MBOF memilki tujuan konservasi dan ekonomi. Pada tahun
2009, penangkaran Mega Bird and Orchid Farm telah menyumbangkan dua
pasang jalak bali ke Nusa Penida (Bali) bekerjasama dengan APCB (Asosiasi
Pelestari Curik Bali) dan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Pelepasan ke alam

30

dilakukan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2009. Selain itu, jalak bali yang
ada di penangkaran hingga saat ini dilakukan transaksi perdagangan secara legal
yang telah mendapatkan persetujuan dari Kementrian Kehutanan.
Asal usul bibit jalak bali di MBOF pada dasarnya merupakan hasil breeding
dari Taman Safari I Cisarua, Bogor dan para pecinta burung. Kelebihan bibit jalak
bali yang berasal dari hasil penangkaran memiliki tubuh yang sehat karena pakan
yang dikonsumsi memilki kandungan gizi yang sesuai dan adanya pengaturan
dalam pemberian pakan, kebutuhan akan protein, lemak, karbohidarat, vitamin,
dan mineral terpenuhi. Silsilah bibit jalak bali di MBOF tidak diketahui secara
pasti karena tidak adanya buku silsilah (studbook) di penangkaran tersebut,
sehingga untuk mengetahui silsilah jalak bali hanya melalui wawancara kepada
pengelola.
5.1.2 Populasi jalak bali di penangkaran
Populasi jalak bali di MBOF sampai pada bulan Oktober tahun 2011
berjumlah 91 ekor yang meliputi jenis kelamin dan kelas umur sebagai berikut
(Tabel 7).
Tabel 7 Populasi jalak bali tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur
Kelas umur
0 – 2 bulan
2 – 5 bulan
5 – 12 bulan
1 – 2 tahun
2 – 3 tahun
3 – 4 tahun
4 – 5 tahun

Jenis kelamin
6 jantan,6 betina
7 jantan, 7 betina
5 jantan, 5 betina

Jumlah
15 ekor
30 ekor
10ekor
12 ekor
14 ekor
10 ekor

Keterangan
Anakan
Anakan
Anakan
Indukan (F1)
Indukan (F0)

Berdasarkan tabel 7 populasi jalak bali paling banyak berada pada usia
anakan (0 – 12 bulan) hal ini dikarenakan setiap bulan jalak bali di penangkaran
MBOF mampu berkembangbiak sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dengan
jumlah telur yang dihasilkan 2 – 3 telur. Namun, yang dapat tumbuh dengan baik
hanya sekitar 1 – 2 ekor. Jalak bali pada usia 1 – 2 tahun tidak terdapat di
penangkaran karena pada kelas umur tersebut jalak bali sudah siap untuk dijual
kepada para penghobi burung kecuali jalak bali yang dipersiapkan untuk menjadi
indukan. Tujuan pembuatan penangkaran MBOF ini adalah dengan tujuan
konservasi dan tujuan ekonomi sehingga sudah banyak jalak bali yang

31

diperjualbelikan dengan mendapatkan ijin dari Menteri Kehutanan. Berikut grafik
populasi jalak bali dalam lima bulan terakhir di MBOF (Gambar 12).

Gambar 12 Pertumbuhan populasi jalak bali di MBOF selama lima bulan terakhir
tahun 2011.
Pada tahun 2011, populasi dan tingkat keberhasilan jalak bali meningkat
ditandai dengan adanya peningkatan terhadap jumlah populasi jalak bali setiap
bulan. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa dalam satu bulan populasi jalak
bali bertambah 8 – 11 ekor. Pada tahun 2011 populasi jalak bali di MBOF lebih
meningkat. Hal ini dikarenakan pada tahun ini adanya indukan-indukan baru yang
merupakan generasi F1 atau hasil perkawinan indukan sebelumnya.
5.1.3 Sistem perkandangan
Salah satu aspek penting dari usaha penangkaran satwa adalah kandang
yang berfungsi sebagai habitat buatan (artificial habitat) atau tempat hidup satwa.
Kandang sebagai tempat hidup satwa harus memenuhi semua kebutuhan hidup
satwa seperti luas yang cukup untuk pertumbuhan hidup satwa, suhu, kelembaban
serta sirkulasi udara yang cukup dan tersedianya komponen penunjang lainnya
seperti tempat berlindung, bertengger, dan berkembangbiak serta terjaga
sanitasinya dari serangan penyakit.
Penyediaan habitat buatan sebagai tempat hidup di penangkaran jalak bali
menjadi salah satu prasyarat penting yang harus dipersiapkan sebelum
pengembangan penangkaran. Habitat tersebut yaitu berupa kandang dan
komponen pendukung dalam kandang. Kandang merupakan faktor utama dalam

32

faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di penangkaran Mega Bird
and Orchid Farm.
5.1.3.1 Jenis, ukuran, dan konstruksi kandang
Jenis kandang jalak bali yang ada di penangkaran MBOF terbagi kedalam
empat bagian yaitu kandang peraga, kandang kawin (indukan), kandang
pemeliharaan, dan kandang inkubator (anakan atau piyik jalak bali). Berikut
konstruksi dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF (Tabel 8).
Tabel 8 Jenis, konstruksi, dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF.
Jenis kandang
Kandang peraga
Kandang
pemeliharaan
Kandang
reproduksi
Inkubator

Kontruksi kandang
Batako, kawat ram,
kayu, pohon rambutan
untuk angkringan
Berbentuk sangkar
(triplek dan kayu)
Batako,kawat ram,
kayu, dan pohon palem
untuk angkringan)
Papan dan kayu

unit

Jumlah
(ekor)

1m x 1,5 x 2m

3

3–6

40cm x 60cm x
40cm

6 – 15

2–4

3 m x 1,5m x 3m

12

2

110cm x 47cm x
45cm

1

4–6

ukuran kandang

Kandang indukan (kandang reproduksi) jalak bali di penangkaran MBOF
dibagi kedalam dua blok yaitu blok A dan blok B. Jalak bali yang berada
dikandang blok A merupakan anak jalak bali generasi F1 yang sudah siap untuk
bereproduksi (dewasa) sehingga dijadikan indukan dan diletakan pada kandang
reproduksi, sedangkan kandang blok B merupakan jalak bali generasi F0 yang
berasal dari sumbangan atau membeli dari tukang burung. Kandang indukan
terletak pada bagian dalam, sedangkan kandang peraga dan kandang pemeliharaan
terletak di bagian luar. Kandang indukan jauh lebih tetutup bila dibandingkan
dengan kandang lainnya karena bertujuan untuk kelangsungan perkawinan
pasangan-pasangan jalak bali. Selain itu, agar tidak terganggu oleh aktivitas
manusia.
Jumlah unit kandang peraga sebanyak tiga buah yang terdiri dari tiga
sampai dengan enam ekor, sedangkan pada kandang pemeliharan terdapat 6 – 15
kandang tergantung kebutuhan dan kandang tersebut dapat menampung 2 – 4 ekor
jalak bali serta untuk inkubator tedapat satu buah unit. Kandang peraga terletak
pada bagian depan penangkaran. Jalak bali pada kandang peraga ini adalah jalak

33

bali yang sudah tidak bereproduksi. Usia jalak bali ini berkisar antara dua sampai
dengan tiga tahun. Berikut gambar kandang peraga di MBOF (Gambar 13).

A
B
C
D

Gambar 13 Kandang peraga jalak bali di MBOF, bagian kandang:
(A) angkringan, (B) papan interpretasi, (C) pintu kecil, dan (D) pintu besar.
Kandang peraga yang ada di MBOF memiliki pintu yang cukup besar di
bagian bawah yang berfungsi untuk memudahkan pengelola untuk mengganti air
minum dan air mandi. Selain itu, untuk memudahkan dalam membersihkan
kandang. Selain pintu yang besar, juga terdapat pintu yang sangat kecil terletak
pada bagian tengah untuk memudahkan dalam memberi pakan jalak bali. Berikut
gambar kandang reproduksi di MBOF (Gambar 14).

A
B

Gambar 14 Kandang reproduksi jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) pintu
kecil, (B) pintu besar.
Kandang reproduksi dibuat sangat tertutup dan memiliki dua buah pintu
yang terdiri dari satu pintu besar pada bagian bawah dan satu pintu kecil pada

34

bagian tengah. Fungsi pintu yang besar adalah untuk memudahkan pengelola
dalam membersihkan kandang dan mengganti air mandi dan air minum,
sedangkan fungsi pintu kecil adalah untuk mengganti pakan setiap harinya.
Kandang pemeliharaan terletak di bagian luar dan berbentuk sangkarsangkar kecil yang cukup banyak. Kandang pemeliharaan ini diletakkan dengan
cara digantungkan pada tiang besi dan pada malam hari dimasukan kedalam
kantor. Kandang pemeliharaan hanya memiliki satu buah pintu untuk memasukan
jalak bali kedalam kandang. Berikut gambar kandang pemeliharaan jalak bali di
MBOF (Gambar 15).

Gambar 15 Kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF.
Inkubator digunakan untuk piyik-piyik jalak bali mulai dari 0 bulan
sampai berusia 2 – 3 bulan. Terbuat dari papan dan kayu yang cukup kuat. Berikut
gambar kandang inkubator jalak bali di MBOF (Gambar 16).

A A

A

Gambar 16 Inkubator piyik jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) tiga buah
jendela inkubator.

35

5.1.4.2 Fasilitas kandang
Fasilitas yang harus ada didalam kandang yaitu tempat makan, tempat
minum, tempat mandi, tempat angkringan (bertengger), tempat tertelur, dan lainlain. Berikut fasilitas kandang sesuai dengan jenis kandang di penangkaran
MBOF (Tabel 9).
Tabel 9 Jenis dan fasilitas kandang jalak bali di penangkaran MBOF
Jenis kandang
Kandang peraga
Kandang pemeliharaan

Kandang reproduksi

Inkubator

Fasilitas
Tempat makan, minum dan mandi.
Pohon rambutan untuk angkringan
Tempat makan, minum, dan kayu
untuk bertengger,
Tempat makan, minum dan mandi.
Pohon palem untuk angkringan
(bertengger), kotak sarang untuk
piyik atau temapat bertelur jala

Dokumen yang terkait

Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat