ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

NASKAH PUBLIKASI
ANALISIS USAHA
AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU
DI KECAMATAN TAWANGMANGU
KABUPATEN KARANGANYAR
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Program Studi Agrobisnis

Oleh :
Rinda Saptianuri
H 1308508

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERNYATAAN

Dengan ini kami selaku Tim Pembimbing Skripsi Mahasiswa Program
Sarjana :

Nama

: Rinda Saptianuri

NIM

: H 1308508

Jurusan/Program Studi

: Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis

Menyetujui Naskah Publikasi Ilmiah yang disusun oleh yang bersangkutan
dan dipublikasikan dengan / tanpa*) mencantumkan nama tim pembimbing
sebagai

Co-Author.

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Prof. Dr. Ir. Darsono, Msi
NIP. 19660611 199103 1 002

Nuning Setyowati, SP. MSc
NIP. 19820325 200501 2 002

*) Coret yang tidak perlu

commit to user

1

2
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

ANALISIS USAHA
AGROINDUSTRI KERIPIK KETELA UNGU
DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR
RINDA SAPTIANURI
H 1308508
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya biaya,
penerimaan, keuntungan, profitabilitas, risiko usaha, dan efisiensi usaha agroindustri
keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.
Metode dasar penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis.
Penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di Desa Karanglo dan Desa
Bandardawung Kecamatan Tawangmangu, karena hanya wilayah tersebut yang
memproduksi keripik ketela ungu di Kabupaten Karanganyar. Pengambilan
responden dilakukan dengan teknik sensus dan diperoleh responden yang berjumlah
19 produsen. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan pencatatan. Analisis
data yang digunakan meliputi analisis biaya, penerimaan, keuntungan dan
profitabilitas, analisis risiko serta analisis efisiensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya rata-rata yang dikeluarkan
produsen keripik ketela ungu dalam satu bulan selama bulan Oktober 2010 sebesar
Rp 28.092.681,90. Penerimaan rata-rata yang diperoleh pengusaha adalah sebesar
Rp 36.340.580,36 dan keuntungan rata-rata yang diperoleh produsen keripik ketela
ungu adalah sebesar Rp 8.247.898,46 dengan profitabilitas sebesar 23,00%.
Nilai koefisien variasi usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan
Tawangmangu Kabupaten Karanganyar sebesar 0,93 atau lebih besar dari 0,5 dan
batas bawah keuntungan Rp -7.047.041,60 atau bernilai negatif (L < 0), maka dapat
dinyatakan bahwa usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan
Tawangmangu Kabupaten Karanganyar memiliki peluang mengalami kerugian.
Usaha industri keripik ketela ungu yang dijalankan selama ini sudah efisien yang
ditunjukkan dengan R/C rasio lebih dari satu yaitu sebesar 1,29.

Kata Kunci : Analisis Usaha, Keripik Ketela Ungu, Keuntungan, Risiko, Efisiensi

commit to user

3
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BUSSINESS ANALYSIS AT AGROINDUSTRY OF PURPLE CASSAVA
CHIP IN TAWANGMANGU DISTRICT
KARANGANYAR REGENCY
RINDA SAPTIANURI
H1308508
ABSTRACT
The aims of this research is to analyse how much the cost is, income,
profit, profitability, business risk, and business efficiency at agroindustry of purple
cassava chip in Tawangmangu district, Karanganyar regency.
Basic method of research used is analytic descriptive method. It was
performed purposively, that is in Karanglo and Bandardawung village of
Tawangmangu district, because only that village which produce of purple cassava
chip in Karanganyar regency. The taking of responds was performed with census
technic and it was gained respondents amounting 19 producers. Data used is
primary data and secondary data. Technique of data collecting used consist of
analyzis cost, income, profit and profitability, risk analyzis, and analyzis of
efficiency.
The result of the research showed that average total cost which is issued by
producers of purple cassava chip in a moth for October 2010 is 28.092.681,90
rupiah. Average income which gained by producers is 36.340 580,36 and average
profit gained by producer of purple cassava chip is 8.247.898,46 with profitability
amounting 23,00%.
Coeficient value of agrobusiness variation of purple cassava chip in
Tawangmangu of Karanganyar regency amounting 0,93 or greater from 0,5 and
ground limit of profit is – 7.047.041,60 or has negative value (L1), yang berarti bahwa usaha
pembuatan bakpau telo Lestari efisien. Nilai tambah yang tercipta pada
pengolahan ketela rambat menjadi bakapo telo adalah sebesar Rp 3.051,00
dengan imbalan tenaga kerja Rp 1.358,00 dan keuntungan sebesar Rp 1.693,00
commit to user
dalam tiap satu kali proses produksi. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha
11

perpustakaan.uns.ac.id

12
digilib.uns.ac.id

di home industri Lestari selama 23 triwulan menunjukkan bahwa usaha
pengolahan bakpao telo layak untuk dikembangkan, ini dibuktikan dengan nilai
NPV sebesar Rp 251.256.483,00 IRR 32,008%, dan Net B/C Ratio 5,6 pada suku
tingkat bunga 17% dan waktu pengembalian biaya investasi pada triwulan ke-2.
Berdasarkan dari penelitian Alhuda (2004) dan Ningrum (2006) di atas,
menunjukan bahwa agroindustri dengan bahan baku ketela rambat mempunyai
prospek yang baik untuk dikembangkan. Demikian pula dengan agroindustri
keripik ketela ungu yang ada di Kecamatan Tawangmangu, memiliki bahan baku
yang sama dengan kedua penelitian diatas, yaitu ketela rambat. Ketela rambat
dapat diolah dengan cara yang mudah dan sederhana. Dengan diolah menjadi
berbagai macam produk olahan makanan, akan memberikan nilai tambah pada
ketela rambat.
Dinarti (2009), dalam penelitian yang berjudul “Analisis Usaha
Agroindustri Keripik Pisang di Kabupaten Karanganyar” menyatakan bahwa
dalam produksi keripik pisang rata-rata per bulan mengeluarkan biaya total
sebesar Rp 4.107.934,90 dan dengan penerimaan sebesar Rp 5.613.252,80
sehingga diperoleh keuntungan Rp 1.505.317,82 tiap bulannya dengan
profitabilitas usaha sebesar 36,64%. Sehingga usaha agroindustri keripik
pisang ini menguntungkan. Nilai koefisien variasi sebesar 3,46>0 dengan
batas bawah keuntungan (-)Rp 8.923.829,98 setiap pengolahan buah pisang
sebanyak 330,31 kg. Ini berarti bahwa ada peluang kerugian yang akan
diterima oleh agroindustri keripik pisang sebesar Rp 8.923.829,98. Dengan
demikian usaha ini memiliki risiko yang tinggi. Tingkat efisiensi sebesar 1.37,
artinya usaha agroindustri ini sudah efisien untuk dijalankan meskipun
memiliki risiko yang tinggi. Dan setiap satu kg bahan baku pisang memiliki
nilai tambah produk senilai Rp 8.778,08.
Valentina (2009), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Nilai
Tambah Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Keripik Singkong di Kabupaten
Karanganyar (Kasus pada KUB Wanita Tani Makmur)”, menunjukkan bahwa
keuntungan yang diterima dari usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik
commit to user

13
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

singkong dalam satu kali proses produksi pada anggota KUB Wanita Tani
Makmur dari ubi kayu mentah sampai keripik singkong ½ jadi sebesar
Rp 10.375,61. Sedangkan pada KUB Wanita Tani Makmur keuntungan yang
diterima dari keripik singkong ½ jadi sampai matang (keripik singkong) sebesar
Rp 1.610.418,99. Efisiensi usaha pengolahan ubi kayu mentah sampai keripik
singkong ½ jadi di Kabupaten Karanganyar pada anggota KUB Wanita Tani
Makmur adalah sebesar 1,11. Sedangkan efisiensi usaha pengolahan keripik
singkong ½ jadi sampai matang pada KUB Wanita Tani Makmur sebesar 1,68.
Pengolahan ubi kayu mentah menjadi keripik singkong ½ jadi yang dilakukan
pada anggota KUB Wanita Tani Makmur memberikan nilai tambah bruto sebesar
Rp 52.043,74 nilai tambah netto sebesar Rp 50.558,25 nilai tambah per bahan
baku sebesar Rp 979,55/kg dan nilai tambah per tenaga kerja sebesar
Rp 3.097,84/JKO. Sedangkan pengolahan keripik singkong ½ jadi menjadi
matang pada KUB Wanita Tani Makmur memberikan nilai tambah bruto
sebesar Rp 1.690.750,00 nilai tambah netto sebesar Rp 1.686.461,45 nilai
tambah per bahan baku sebesar Rp 7.773,56/kg dan nilai tambah per tenaga
kerja sebesar Rp 37.572,22/JKO.
Berdasakan penelitian Dinarti (2009) dan Valentina (2009) tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa usaha agroindustri mampu memberikan
keuntungan dan efisien untuk dijalankan meskipun terdapat peluang kerugian.
Dan mengacu pada kedua penelitian diatas, usaha agroindusti keripik ketela
ungu di Kecamatan Tawangmangu juga menggunakan analisis usaha yang
sama. Analisis keuntungan dapat digunakan untuk mengetahui besarnya
keuntungan yang diperoleh. Dalam setiap usaha agroindustri terdapat resiko
usaha, oleh karena itu diperlukan analisis resiko untuk mengetahui tingkat
resiko yang dihadapi. Dan juga diperlukan analisis efisiensi untuk mengetahui
tingkat efisiensi usaha, sehingga dapat diketahui apakah usaha tersebut sudah
efisien atau belum untuk dijalankan.

commit to user

14
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

B. Tinjauan Pustaka
1. Ketela Rambat
Tumbuhan bergetah putih, umbi akarnya sangat bervariasi bentuk,
ukuran, warna kulit (putih, kuning, coklat, merah dan ungu) dan warna
didalamnya (putih, kuning, jingga, ungu). Batang menjalar, bercabangcabang. Daun tunggal tersusun spiral, helaian daun membundar telur, rata,
bersudut atau bercuping menjari. Bunga aksiler, tunggal atau perbungaan
terbatas, mahkota bunga bentuk corong, putih atau lembayung muda, ungu
dibagian dalam tabungnya. Buah kapsul dengan 1-4 biji.
Klasifikasi :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Convolvulales

Famili

: Convolvulaceae

Genus

: Ipomoea

Spesies

: I. batatas

Nama Inggris

: Sweet potato

Nama Indonesia : Ubi jalar
Nama Lokal

: ketela rambat (Jawa), huwi boled (Sunda)

Sinonim

: Convolvulus batatas L. (1753), Convolvulus edulis
Thunb. (1784), Batatas edulis (Thunb.) Choisy (1833)

Tanaman ketela rambat ada 3 varietas, yaitu ketela rambat kuning, merah
dan ungu. Dibanding ketela rambat putih, tekstur ketela rambat merah atau
ungu memang lebih berair dan kurang masir (sandy) tetapi lebih lembut.
Rasanya tidak semanis yang putih padahal kadar gulanya tidak berbeda.
Ketela rambat putih mengandung 260 mkg (869 SI) betakaroten per 100 gram,
ubi merah yang berwarna kuning emas tersimpan 2900 mkg (9675 SI)
betakaroten, ubi merah yang berwarna jingga 9900 mkg (32967 SI).
commit to user
Makin pekat warna jingganya, makin tinggi kadar betakarotennya yang

perpustakaan.uns.ac.id

15
digilib.uns.ac.id

merupakan bahan pembentuk vitamin A dalam tubuh. Namun dari ketiganya,
yang mengandung paling banyak antosian adalah varietas yang berwarna
ungu. Dua varietas ketela rambat ungu introduksi (Ayamurasaki dan
Yamagawa-murasaki) saat ini telah diusahakan secara komersial di beberapa
daerah di Jawa Timur dengan potensi hasil 15-20 ton/ha. Beberapa varietas
lokal sesungguhnya juga ada yang daging umbinya berwarna ungu, hanya
intensitasnya masih jauh dibanding kedua varietas tersebut (Riata, 2010).
Ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya.
Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan
kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ketela rambat menjadi
salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain
dimanfaatkan umbinya, daun muda ketela rambat juga dibuat sayuran.
Terdapat pula ketela rambat yang dijadikan tanaman hias karena keindahan
daun dan bunganya.
Ketela rambat (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu tanaman
yang mempunyai potensi besar di Indonesia. Areal panen ketela rambat di
Indonesia tiap tahun seluas 229.000 hektar, tersebar di seluruh propinsi, baik
di lahan sawah maupun tegalan dengan produksi rata-rata nasional 10 ton per
hektar. Penghasil utama ketela rambat di Indonesia adalah Jawa dan Irian
Jaya yang menempati porsi sekitar 59 persen. Peluang perluasan areal panen
masih sangat terbuka. Dengan perbaikan teknik budidaya dan penggunaan
varietas unggul nasional, produktivitas bisa dinaikkan menjadi 30 ton per
hektar. Ketela rambat bisa secara terus menerus, bergantian maupun secara
tumpang sari. Ketela rambat bisa ditanam sepanjang tahun di jenis tanah apa
saja dan di mana saja. Pada tanah Ultisol yang kurang subur di Kalimantan,
produksinya juga cukup tinggi, 20 ton per hektar. Teknik budidaya ketela
rambat mudah, tidak perlu penguasaan pengetahuan dan kultur teknis serta
teknologi yang rumit, serta hama dsan penyakitnya juga sedikit. Keunggulan
lain dari ketela rambat adalah umur panen ketela rambat yang singkat yaitu
hanya empat bulan, sementara ubi kayu delapan bulan (Anonim, 2010).
commit to user
2. Keripik Ketela Ungu

16
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Keripik ketela ungu adalah irisan ketela ungu yang telah digoreng
sampai garing. Keripik ketela ungu dapat dengan mudah dibuat, sehingga
keripik ketela ungu mulai cukup banyak diusahakan.
Berikut ini adalah tahapan pembuatan keripik ketela ungu :
a. Pengupasan dan pengirisan
Umbi dicuci, kemudian dikupas. Umbi yang telah dikupas, tapi tidak
langsung diproses lebih lanjut harus direndam di dalam air. Setelah itu
umbi diiris tipis-tipis.
b. Perendaman di dalam larutan natrium bisulfit dan kapur
Irisan umbi direndam di dalam larutan natrium bisulfit 500 ppm selama
60 menit. Kemudian irisan umbi diangkat, dan direndamkan ke larutan
kapur sirih 2% selama 30 menit. Setelah itu, irisan umbi ditiriskan.
c. Pemasakan ringan
Air dipanaskan sampai suhu 90°C. Ke dalam dimasukkan garam (10 gram
garam untuk 1 liter air). Kemudian iris umbi yang telah ditiriskan
dimasukkan ke dalam air tersebut, dan diaduk pelan-pelan. Tidak lama
kemudian (1-2 menit), irisan umbi segera diangkat dan ditiriskan.
d. Pengeringan
Irisan umbi dijemur, atau dikeringkan dengan alat pengering sampai
cukup kering dengan tanda mudahnya umbi patah jika diremas.
e. Penggorengan
Irisan umbi digoreng di dalam minyak panas (170°C) sampai garing.
f. Penggulaan
Untuk mendapatkan keripik manis, lakukan penggorengan diulang.
Kedalam minyak agak panas (suhu 110°C) dimasukkan gula halus
(50 gram gula untuk setiap 1 liter minyak), dan diaduk agar gula mencair.
Setelah itu, keripik yang telah garing dimasukkan ke dalam minyak,
diaduk dengan pelan, dan segera diangkat untuk ditiriskan dan
didinginkan.
commit to user

17
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

g. Pengemasan
Keripik matang harus disimpan pada wadah tertutup. Keripik dapat
dikemas di dalam kantong plastik, atau kotak kaleng. Kemasan harus
ditutup rapat sehingga tidak dapat dimasuki oleh uap air dan udara luar.
(Anonim, 2010).
3. Agroindustri
Menurut BPS (1999), industri dapat digolongkan berdasarkan
jumlah tenaga kerja dan jumlah investasi. Berdasarkan jumlah tenaga
kerja, industri dapat dikategorikan menjadi 4 kelompok, yaitu :
a. Jumlah tenaga kerja 1-4 orang untuk industri rumah tangga
b. Jumlah tenaga kerja 5-19 orang untuk industri kecil
c. Jumlah tenaga kerja 20-99 orang untuk industri menengah
d. Jumlah tenaga kerja lebih atau sama dengan 100 untuk industri besar
Agroindustri dapat diartikan dua hal, yang pertama, agroindustri
adalah industri yang berbahan baku utama dari produk pertanian. Arti
yang kedua adalah bahwa agroindustri itu diartikan sebagai suatu tahapan
pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian, tetapi
sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai tahapan pembangunan
industri. Permasalahan dalam pengembangan agribisnis (dan agroindustri)
adalah lemahnya keterkaitan antar subsistem di dalam agribisnis, yaitu
distribusi dan penyediaan faktor produksi, proses produksi pertanian,
pengolahan dan pemasaran (Soekartawi, 2001).
Kegiatan agroindustri dapat mempunyai peranan penting baik dalam
pembangunan

pertanian

maupun

pembangunan

ekonomi.

Dalam

pembangunan pertanian, agroindustri berperan dalam diversifikasi produk
hasil pertanian. Sedangkan dalam pembangunan ekonomi, agroindustri
berperan dalam pemerataan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan
penyumbang devisa negara (Wulandari, 2006).
4. Biaya
Pengertian biaya bagi perusahaan yang kegiatannya memproduksi
to user
barang adalah nilai daricommit
masukan
yang digunakan untuk penghasilan

18
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

keluarganya. Biaya atas penggunaan suatu barang dalam suatu usaha
tertentu

merupakan manfaat

yang dikorbankan

(atau

kehilangan

kesempatan) dengan tidak menggunakan barang itu pada alternatif
penggunaan yang sebaiknya (Lipsey, et al, 1990).
Dilihat dari segi biaya dalam hubungannya dengan tingkat output,
maka biaya produksi bisa dibagi menjadi :
a. Total fixed Cost (TFC) atau biaya tetap total, adalah jumlah biayabiaya yang tetap dibayar perusahaan (produsen) berapapun tingkat
outputnya. Jumlah TFC adalah tetap untuk setiap tingkat output.
Misalnya, penyusutan alat dan sewa gedung.
b. Total Variabel Cost (TVC) atau biaya variabel total, adalah jumlah
biaya-biaya yang berubah menurut tinggi rendahnya output yang
diproduksi. Misalnya, biaya untuk bahan mentah, upah, biaya,
angkutan.
c. Total Cost (TC) atau biaya total, adalah penjumlahan dari biaya tetap
dan biaya variabel. Secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut :
TC = TFC + TVC
(Boediono, 2002).
Menurut Djuwari (1994), biaya yang digunakan untuk produksi
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata dibayarkan selama
proses produksi oleh produsen untuk masukan (input) yang berasal dari
luar seperti penggunaan tenaga kerja dan sarana produksi dari luar.
b. Biaya implisit adalah biaya dari faktor produksi sendiri yang
diikutsertakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk
(output). Termasuk dalam biaya ini ntara lain adalah biaya penyusutan,
sewa tanah milik sendiri, upah tenaga kerja keluarga dan bunga modal
sendiri.
5. Penerimaan
Menurut Boediono (2002), yang dimaksud dengan penerimaan
commit
to user
(revenue) adalah penerimaan
produksi
dari hasil penjualan outputnya. Untuk

19
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

mengetahui penerimaan total diperoleh dari output atau hasil produksi
dikalikan dengan harga jual output. Secara matematis dapat ditulis sebagai
berikut :
TR = Q x P
Dimana :
TR = penerimaan total
Q

= jumlah output/produk yang dihasilkan

P

= harga jual
Semakin banyak jumlah produk yang dihasilkan semakin tinggi harga

per unit produk yang bersangkutan, maka penerimaan total yang diterima
produsen akan semakin besar. Sebaliknya jika produk yang dihasilkan sedikit
dan harganya rendah maka penerimaan total yang diterima produsen semakin
kecil. Penerimaan total yang diterima oleh produsen dikurangi biaya total
yang dikeluarkan akan memperoleh pendapatan bersih yang merupakn
keuntungan yang diperoleh produsen (Soekartawi, 1995).
Bentuk penerimaan dapat digolongkan atas dua bagian, yaitu
penerimaan yang berasal dari hasil penjualan barang-barang yang diproses
dan penerimaan yang berasal dari luar barang-barang yang diproses.
Penerimaan yang berasal dari luar kegiatan usaha tapi berhubungan
dengan adanya kegiatan usaha, seperti penerimaan dalam bentuk bonus
karena pembelian barang-barang kebutuhan kegiatan usaha, penerimaan
bunga bank, nilai sisa aset (scrap value), sewa gedung, sewa kendaraan,
dan lain sebagainya (Ibrahim, 2003).
6. Keuntungan
Menurut Suparmoko (1992), keuntungan adalah selisih antara
penerimaan total dengan biaya produksi sesuai dengan tingkat efisiensi
penggunaan faktor produksi pada penggunaannya yang terbaik. Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :
p = TR - TC
Dimana :
p

= keuntungan

commit to user

20
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

TR = penerimaan total
TC = biaya total
Keuntungan atau laba menunjukan niali tambah (hasil) yang
diperoleh dari modal yang dijalankan. Setiap kegiatan yang dijalankan
perusahaan tentu berdasar modal yang dijalankan. Dengan modal itulah
keuntungan atau laba diperoleh. Hal inilah yang menjadi tujuan utama
setiap perusahaan (Muhammad, 1995).
7. Profitabilitas
Menurut

Asri

(1987),

profitabilitas

merupakan

kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, istilah rasio
profitabilitas menggambarkan efisiensi usaha perusahaan. Sebuah
perusahaan dikatakan lebih efisien menggunakan modalnya daripada
perusahaan lain apabila mampu menunjukkan rasio profitabilitas yang
tinggi, dan sebaliknya. Profitabilitas menunjukkan porsi keuntungan dari
penjualan yang mampu dicapai perusahaan dalam suatu periode waktu
tertentu. Rasio ini dihitung dengan membandingkan keuntungan dengan
penerimaan. Secara sistematis dirumuskan sebagai berikut :

Profitabilitas =

Keuntungan
´ 100%
Penerimaan

8. Risiko Usaha
Setiap aktivitas usaha di sektor pertanian atau agribisnis selalu
dihadapkan dengan situasi ketidakpastian (uncertainly) dan risiko (risk).
Faktor ketidakpastian dan risiko usaha merupakan faktor eksternalitas
yaitu faktor yang sulit dikendalikan oleh produsen. Dikatakan risiko (risk)
apabila diketahui berapa besarnya peluang terjadi risiko tersebut.
Sebaliknya dikatakan ketidakpastian (uncertainly) apabila peluang
terjadinya risiko tidak diketahui (Soekartawi, et al, 1993).
Hakim (2009), menyatakan bahwa terdapat berbagai fungsi dalam
manajemen, yang meliputi fungsi pemasaran, keuangan, produksi dan
personalia. Adapun risiko tersebut antara lain :
commit to user

21
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1. Risiko Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran dikenal dengan rumus 4P yang dimaksud
sebagai singkatan dari product, price, place dan promotion. 4P ialah
variabel-variabel pemasaran yang dapat dimanfaatkan agar mampu
dicapai tingkat penjualan yang diinginkan, yaitu : produk (kualitas,
karakteristik, jenis, ukuran, pelayanan purna jual, pengembalian);
harga (daftar harga, jangka waktu pembayaran); tempat (saluran
distribusi, lokasi penjualan, transportasi); dan promosi (penjualan
langsung, promosi penjualan).
2. Risiko Fungsi Keuangan
Berbagai risiko keuangan yang terjadi meliputi : kas (penggunaan
kas yang tidak efisien atau boros, sebagai akibat tidak memiliki
anggaran kas yang baik dan benar); dan tingkat bunga (tingkat bunga
yang tinggi akan menyebabkan biaya produksi tinggi, pengaruhnya
terhadap harga jual produk yang tidak mampu bersaing).
3. Risiko Fungsi Produksi
Risiko fungsi produksi tersebut meliputi : persediaan (perubahan
harga persediaan, persediaan yang menumpuk sebagai akibat lesunya
penjualan, persediaan yang rusak); mutu (perubahan mutu akan
mempengaruhi tingkat penjualan); mesin (mesin rusak atau mogok);
dan karyawan (karyawan mogok, bertindak di luar rencana).
Kegagalan

dalam

mencapai

pendapatan

yang

diharapkan

diantaranya disebabkan karena adanya berbagai risiko yang tidak dapat
diselesaikan. Risiko-risiko tersebut dapat dibedakan antara risiko
perusahaan dan risiko keuangan. Risiko perusahaan terjadi karena adanya
berbagai alternatif penyaluran modal atau investasi yang mengakibatkan
perbedaan tingkat pendapatan yang diterima oleh setiap arus investasi.
Perbedaan tingkat pendapatan ini disebabkan karena setiap unit usaha
memiliki sifat dan kegiatan produksi sendiri-sendiri. Risiko dalam bidang
pertanian, misalnya, karena kegiatan di dalam unit usaha ini sangat
commit
user wabah penyakit dan perubahan
dipengaruhi oleh cuaca, sifat
alamtolainnya,

22
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

harga yang tidak dapat dikuasai petani. Risiko keuangan terjadi karena
hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan keputusan-keputusan
dibidang

keuangan

dan

pembiayaan.

Risiko

ini

menyangkut

ketidakmampuan perusahaan membayar utang dan membayar keuntungan
kepada pemilik saham (Kadarsan, 1995).
Risiko pasar (market risk) adalah suatu risiko yang timbul karena
menurunnya nilai suatu investasi karena pergerakan pada faktor-faktor pasar.
Empat faktor standar risiko pasar adalah risiko modal, risiko suku bunga,
risiko mata uang, dan risiko komoditas. Risiko suku bunga adalah risiko
yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau
obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Risiko nilai
tukar atau risiko mata uang adalah suatu bentuk risiko yang muncul karena
perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang yang lain.
Risiko nilai tukar yang terkait dengan instrumen mata uang asing penting
diperhatikan dalam investasi asing. Risiko ini muncul karena perbedaan
kebijakan moneter dan pertumbuhan produktivitas nyata, yang akan
mengakibatkan perbedaan laju inflasi (Wikipedia, 2010).
9. Efisiensi Usaha
Pengertian efisiensi tidak cukup hanya dikaitkan dengan jumlah
barang tanpa memperhatikan mutu atau nilai barang yang dihasilkan.
Seseorang dapat saja menghasilkan jumlah yang lebih banyak per satuan
waktu, atau tenaga, atau biaya, namun mungkin mutu dan nilai barang
yang dihasilkan relatif lebih rendah daripada yang dihasilkan orang lain
pada jumlah yang lebih sedikit. Pada akhirnya tingkat efisiensi dalam
suatu usaha umumnya diukur dengan nilai uang atau sesuatu yang dapat
memajukan usaha atau perusahaannya (Wijandi, 1988).
Pendapatan yang tinggi tidak selalu memajukan efisiensi yang
tinggi, karena kemungkinan pendapatan yang besar tersebut diperoleh dari
investasi yang besar. Efisiensi mempunyai tujuan memperkecil biaya
produksi per satuan produk yang dimaksudkan untuk memperoleh
userditempuh untuk mencapai tujuan
keuntungan yang optimal.commit
Cara to
yang

perpustakaan.uns.ac.id

23
digilib.uns.ac.id

tersebut adalah memperkecil biaya keseluruhan dengan mempertahankan
produksi yang telah dicapai untuk memperbesar produksi tanpa
meningkatkan biaya keseluruhan (Rahardi, 1999).
Menurut Soekartawi (1995), perhitungan efisiensi usaha yang sering
digunakan adalah Return Cost Ratio (R/C Ratio). R/C Ratio adalah
perbandingan nisbah antara penerimaan dan biaya.
R/C Ratio = R/C
Keterangan :
R = penerimaan total (Rupiah)
C = biaya total (Rupiah)
C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah
Agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu
merupakan industri yang mengolah ketela ungu menjadi produk olahan berupa
keripik ketela ungu beserta pemasarannya. Dari usaha tersebut akan dikaji
mengenai biaya, penerimaan, keuntungan, profitabilitas, efisiensi dan risiko
usaha agroindustri keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu
Kabupaten Karanganyar.
1. Biaya
Biaya adalah nilai korbanan yang dicurahkan dalam proses produksi.
Biaya pengeluaran usaha agroindustri keripik ketela ungu dapat dibagi
menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel). Biaya tetap
merupakan biaya yang tidak tergantung pada tingkat output. Biaya tetap
pada keseluruhan usaha agroindustri keripik ketela ungu skala rumah
tangga berupa biaya penyusutan alat dan biaya bunga modal investasi.
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh kuantitas
produksi. Biaya variabel pada keseluruhan usaha agroindustri keripik
ketela ungu berupa biaya bahan baku, biaya bahan penolong (minyak
goring, zat pemanis makanan, bahan bakar dan bahan pengemas), biaya
tenaga kerja, biaya transportasi dan pemasaran produk.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

24
digilib.uns.ac.id

Dari perhitungan biaya tetap dan biaya variabel maka dapat diketahui
besarnya biaya total. Biaya Total/Total Cost (TC) adalah penjumlahan
antara biaya variabel total/Total Variable Cost (TVC) dan biaya tetap
total/Total Fixed Cost (TFC).
2. Penerimaan
Proses produksi adalah suatu proses dimana beberapa barang atau
jasa yang disebut input diubah menjadi barang lain atau output. Proses
produksi pada usaha agroindustri keripik ketela ungu adalah mengolah
ketela ungu menjadi keripik beserta pemasarannya.
Dalam kegiatan produksi tersebut akan diperoleh penerimaan yaitu
dengan mengalikan total produksi keripik ketela ungu yang terjual (Q)
dengan harga produk (P).
3. Keuntungan
Dari perhitungan data akan diperoleh keuntungan dan profitabilitas.
Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya yang
dikeluarkan.
Semakin besar penerimaan total atau semakin kecil biaya maka
keuntungan yang diterima akan semakin besar, sebaliknya jika penerimaan
total semakin kecil atau biaya semakin besar maka keuntungan yang
diperoleh semakin kecil.
4. Profitabilitas
Profitabilitas adalah perbandingan antara keuntungan dari penjualan
dengan penerimaan yang dinyatakan dalam persen (%).
5. Efisiensi usaha
Perhitungan fisiensi usaha yang sering digunakan adalah Return Cost
Ratio (R/C Ratio). R/C Ratio adalah merupakan perbandingan antara
penerimaan dan biaya. Semakin besar nilai R/C Ratio maka semakin besar
pula keuntungan yang diperoleh.
Menurut Mubyarto (1989), apabila hasil bersih usaha besar maka ini
mencerminkan rasio yang lebih baik dari nilai hasil dan biaya. Makin
commit
to user
tinggi rasio ini berarti usaha
yang dijalankan
semakin efisien.

25
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

6. Risiko usaha
Dalam menjalankan usaha untuk mencapai keuntungan, pengusaha
akan menghadapi risiko atas kegiatan usaha tersebut. Misalkan risiko
harga, risiko selama proses produksi, dan risiko pasar.
Usaha

agroindustri

keripik

ketela

ungu

adalah

dengan

menggunakan perhitungan koefisien variasi dan batas bawah keuntungan.
Koefisien merupakan perbandingan antara risiko yang harus ditanggung
oleh pengusaha agroindustri keripik ketela ungu dengan jumlah keuntungan
yang akan diperoleh, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
CV = V
E
Dimana :
CV = koefisien variasi usaha agroindustri keripik ketela ungu
V = simpangan baku agroindustri keripik ketela ungu
E = keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
Sebelum mengukur koefisien variasi harus mencari pendapatan
rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu dan simpangan bakunya
dirumuskan :
n

å Ei
E=

i=1

k

n
Dimana :
E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
n = Jumlah agroindustri keripik ketela ungu (unit)
Setelah mengetahui keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik
ketela ungu selanjutnya mencari simpangan baku dengan menggunakan
metode analisis ragam, karena simpangan baku merupakan akar dari
ragam, yaitu :
V = ÖV2
commit to user

26
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Adapun dalam perhitungan analisis ragam dirumuskan sebagai
berikut :
n

å (Ei-E)2
V2 =

i=1

n–1
Dimana :
V2 = Ragam keuntungan
n = Jumlah agroindustri keripik ketela ungu (unit)
E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
Ei = Keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
Untuk mengetahui batas bawah pendapatan usaha agroindustri
keripik ketela ungu di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar
digunakan rumus :
L=E– 2V
Dimana :
L = Batas bawah keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
E = Keuntungan rata-rata usaha agroindustri keripik ketela ungu (Rp)
V = Simpangan baku keuntungan usaha agroindustri keripik ketela ungu
(Rp)
Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa risiko yang harus
ditanggung pengusaha semakin besar. Kriteria yang digunakan adalah
a

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1616 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 235 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 487 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 427 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 276 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 509 23