ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK KELAS X SEMESTER II SMA N 2 BANGUNTAPAN TAHUN AJARAN 2016/ 2017 PADA PEMBELAJARAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN REDOKS DENGAN PENDEKATAN SOMATIS, AUDITORI, VISUAL, INTELEKTUAL (SAVI).

(1)

i

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK KELAS X SEMESTER II SMA N 2 BANGUNTAPAN TAHUN AJARAN 2016/ 2017

PADA PEMBELAJARAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN REDOKS DENGAN PENDEKATAN SOMATIS, AUDITORI, VISUAL,

INTELEKTUAL (SAVI) SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

AJENG PRATIWI NOORJANAH NIM. 13303244017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

v MOTTO

Jadilah seperti bunga yang tetap memberikan keharuman pada tangan yang telah menghancurkan

(Ali bin Abi Thalib)

Jadilah orang yang berilmu yang penuh akhlak serta jadilah hamba yang bening hatinya merespon setiap kebaikan

Islam mengajarkan manusia untuk sabar. Karena kesabaran akan menghantarkan setiap insan menjadi manusia sejati, tangguh, elegan dan bermartabat

Mendoakan adalah cara mencintai yang paling Rahasia

Tersenyumlah bukan karena kita sudah paling bahagia sedunia, tapi karena kita mensyukuri hidup ini

(Tere Liye)

Usaha takkan pernah mengkhianati hasil. Teruslah berusaha karena Allah menilai proses bukan sekedar hasil


(6)

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Teriring rasa syukur, Tugas Akhir Skripsi ini kepursembahkan kepada mereka yang telah memberikan dorongan kasih sayang dan pengorbanan baik moril maupun materiil serta doa diantaranya:

 Bapak dan Ibuku tersayang, terimakasih atas dorongan, dukungan, pengorbanan, doa dan kasih sayang yang Ayah dan Ibu berikan selama ini.  Adik-adiku yang aku sayangi.

 Sahabat-sahabatku yang luar biasa, yang aku sayangi terimakasih selalu memberikan semangat.

 Teman-teman D’Chlorine yang solidaritasnya paling banget, terimakasih atas kebersamaannya selama ini “we are one together as family forever”.

 Teman-teman Pendidikan Kimia 2013.

 Teman-teman KKN 185D dan PPL di SMA Negeri 2 Bantul.

 Terimakasih semua yang telah hadir dalam hidupku yang telah memberiku banyak cerita.


(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur berkah dan rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini. Laporan penelitian ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia yang akan menyelesaikan studi. Penelitian dan penulisan laporan yang telah diselesaikan tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M. Pd, selaku Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Dr. Hartono selaku Dekan Fakultas MIPA UNY yang telah memberikan kelancaran bagi penulis dalam penyelesaian laporan penelitian.

3. Jaslin Ikhsan, Ph.D selaku Ketua Jurusan Pendidikan Kimia yang telah memberikan kelancaran bagi penulis dalam penelitian dan penyelesaian laporan.

4. Sukisman Purtadi, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia yang telah memberikan kelancaran bagi penulis dalam penelitian dan penyelesaian laporan.

5. Prof. Dr. Sri Atun selaku Pembimbing Utama yang telah sabar membimbing dan memotivasi penulis selama penelitian dan penyelesaian laporan.

6. Ngadiya, S.Pd selaku Kepala SMA Negeri 2 Banguntapan yang telah memberikan ijin penelitian.

7. Masiyati, S.Pd selaku Guru Kimia SMA Negeri 2 Banguntapan yang telah membimbing dan membantu penulis selama proses penelitian di sekolah. 8. Peserta didik kelas X SMA Negeri 2 Banguntapan Tahun Ajaran 2016/ 2017

terutama kelas X IPA 4 yang telah meluangkan waktu belajar kimia bersama selama penelitian.

9. Semua rekan penelitian dari Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY (Asti, Nia, Isna, Safira, Cahya, Rahma) yang telah meluangkan waktu untuk membantu menjadi observer penelitian yang telah meluangkan waktu menjadi


(8)

(9)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Identifikasi Masalah...5

C. Pembatasan Masalah ...6

D. Perumusan Masalah ...7

E. Tujuan Penelitian ...7

F. Manfaat Penelitian ...8

BAB II. KAJIAN TEORI ... 9

A. Deskripsi Teori ...9

B. Kajian Penelitian yang Relevan ...33

C. Kerangka Berpikir ...35

BAB III. METODE PENELITIAN ... 37

A. Desain Penelitian ...37

B. Prosedur Penelitian ...37

C. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling ...39

D. Instrumen Penelitian ...40

E Teknik Pengumpulan Data ...42

F. Teknik Analisis Data ... 43

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Deskripsi Hasil Penelitian ...45

B. Pembahasan ...52

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 79

A. Kesimpulan ...79

B. Saran ...80

DAFTAR PUSTAKA ... 81


(10)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Keterampilan Proses Sains dan Indikator KPS ...24

Tabel 2. Desain One-Shot Case Study ...37

Tabel 3. Skala Kategori Keterampilan ...43

Tabel 4. Skala Sebaran Keterampilan Proses Sains ...44

Tabel 5. Rerata Nilai Persentase Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4 ... 48

Tabel 6. Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Indikator Keterampilan Mengamati, Memprediksi dan Berkomunikasi ... 50

Tabel 7. Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Indikator Keterampilan Menerapkan Konsep, Menggunakan Alat Bahan, Menafsirkan dan Mengelompokkan ... 50


(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Grafik Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit ... 46 Gambar 2. Grafik Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Reaksi Redoks ... 47 Gambar 3. Grafik Rerata Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4 ... 47 Gambar 4. Grafik Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Semua Kegiatan Pembelajaran... 49 Gambar 5. Grafik Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4 untuk Setiap Indikator Ketarampilan pada Setiap Kegiatan Pembelajaran ... 51


(12)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Silabus Mata Pelajaran Kimia ... 84

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 88

Lampiran 3. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 130

Lampiran 4. Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains Larutan Elektrolit .. 153

Lampiran 5. Rubrik Penilaian KPS Larutan Elektrolit ... 156

Lampiran 6. Lembar Observasi Keterampilan Proses Sains Redoks ... 165

Lampiran 7. Rubrik Penilaian KPS Redoks ... 168

Lampiran 8. Pedoman Wawancara ... 176

Lampiran 11.Lembar Observasi SAVI ... 181

Lampiran 12. Hasil Observasi Keterampilan Proses Sains ... 185

Lampiran 13. Persentase KPS Setiap Kegiatan Pembelajaran ... 190

Lampiran 14. Persentase KPS Setiap Indikator Keterampilan... 195

Lampiran 15. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran ... 197

Lampiran 16. Contoh Hasil Penilaian Observasi dan Pedoman Wawancara... 202


(13)

xiii

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS PESERTA DIDIK KELAS X SEMESTER II SMA N 2 BANGUNTAPAN TAHUN AJARAN 2016/ 2017

PADA PEMBELAJARAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN REDOKS DENGAN PENDEKATAN SOMATIS, AUDITORI, VISUAL,

INTELEKTUAL (SAVI) Oleh:

Ajeng Pratiwi Noorjanah 13303244017

Pembimbing Utama: Prof. Dr. Sri Atun ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis profil keterampilan proses sains peserta didik pada pembelajaran kimia dan menganalisis sebaran keterampilan proses sains peserta didik pada pembelajaran kimia kelas X semester II tahun ajaran 2016/ 2017 di SMA Negeri 2 Banguntapan dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

Penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental dengan desain one-shot case study. Populasi pada penelitian adalah seluruh peserta didik kelas X semester II SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/2017 yang terbagi menjadi empat kelas. Sampel yang digunakan yaitu kelas X IPA 4 yang berjumlah 32 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive cluster sampling. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan SAVI yaitu: somatis, auditori, visual dan intelektual.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains peserta didik secara keseluruhan dikategorikan sangat baik dengan persentase pencapaian sebesar 82,20%. Keterampilan proses sains peserta didik untuk indikator keterampilan mengamati, keterampilan memprediksi, keterampilan berkomunikasi, keterampilan menerapkan konsep, keterampilan menggunakan alat dan bahan, keterampilan menafsirkan, dan keterampilan mengelompokkan dikategorikan sangat baik berturut-turut dengan persentase sebesar 85,06%; 79,69%; 86,45%; 84,02%; 77,99%; 85,15% ; dan 77,08%. Hampir seluruh peserta didik menguasai keterampilan mengamati, keterampilan memprediksi, keterampilan berkomunikasi, keterampilan menerapkan konsep, keterampilan menggunakan alat dan bahan, keterampilan menafsirkan, dan keterampilan mengelompokkan.

Kata kunci: pendekatan, SAVI, pre-experimental design, one-shot case study, keterampilan proses sains


(14)

xiv

AN ANALYSIS ON THE SCIENCE PROCESS SKILLS DONE BY THE STUDENTS OF GRADE X IN THE SECOND SEMESTER OF SMA 2

BANGUNTAPAN ACADEMIC YEAR 2016/ 2017 ON THE LEARNING OF ELECTROLYTE AND REDOX

SOLUTION BY SAVI APPROACH By:

Ajeng Pratiwi Noorjanah 13303244017

Supervisor: Prof. Dr. Sri Atun ABSTRACT

The purpose of this research is to analyze the profile of students science process skills in learning chemistry and to analyze the science process skills distribution for each indicator skills learners in learning chemistry in class grade X semester II academic year of 2016/ 2017 at SMA N 2 Banguntapan with a somatis, auditory, visual, intellectual approach (SAVI).

The research is pre-experimental with design one shot case study.The population of the research is the entire students of class X semester II SMA N 2 Banguntapan academic year of 2016/ 2017 who are divided into four classes. The sample used are 32 people from class X 4 IPA. The sampling technique used was purposive cluster sampling. The learning approach is implemented with SAVI, namely: somatis, auditory, visual and intellectual.

The results showed that the science process skills of students a whole are very well by category of 82,20%. Science process skills of learners on observation skills indicators, predicting skills, communicatin skills, skills to apply the concepts, the skills on using tools and materials, and grouping skills is categorized very well with a percentage of 85,06%; 79,69%; 86,45%; 84,02%; 77,99%; 85,15%; and 77,08%. Almost all the students master the skills of observing, predicting skills, communicating skills, skills to apply the concepts, of the skills using tools and materials, interpreting skills, and grouping.

Keywords: approach, SAVI, pre-experimental design, one-shot case study, science process skills


(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berlangsung dengan bersamaan (Hamalik, 2008: 1).

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia suatu bangsa. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan hidupnya. Secara faktual, kegiatan pendidikan merupakan kegiatan antar manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Pendidikan diselenggarakan untuk mengembangkan seluruh potensi manusia ke arah yang positif dan lebih baik.

Pendidikan merupakan proses interaksi yang mendorong terjadinya proses belajar. Belajar merupakan kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Dalam belajar tersebut individu menggunakan ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Akibat belajar tersebut maka kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik semakin bertambah baik (Dimyati & Mudjiono, 2006: 295).


(16)

2

Salah satu upaya untuk menghasilkan perubahan perilaku peserta didik pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik adalah dengan pembelajaran kimia di sekolah. Kimia sebagai cabang dari sains, yang berkenaan dengan kajian-kajian tentang struktur dan komposisi materi, perubahan yang dapat dialami materi dan fenomena-fenomena yang menyertai perubahan materi. Belajar ilmu kimia tidak hanya bertujuan menemukan zat – zat kimia yang langsung bermanfaat bagi kesejahteraan manusia belaka, akan tetapi ilmu kimia dapat pula memenuhi keinginan peserta didik untuk memahami alam, menanamkan metode ilmiah, mengembangkan kemampuan dalam mengajukan gagasan-gagasan, memupuk ketekunan dan ketelitian kerja.

Ilmu kimia dapat dipandang sebagai proses dan produk. Oleh karena itu, pembelajaran kimia tidak boleh mengesampingkan proses ditemukannya konsep. Kimia sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip kimia sehingga dalam mengajarkan kimia perlu melakukan suatu percobaan.

Pembelajaran kimia di sekolah pada umumnya belum sepenuhnya dapat membuat peserta didik aktif terlibat di dalam kegiatan pembelajaran. Padatnya materi dan terbatasnya waktu dalam pembelajaran kimia membuat guru harus cepat dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, sehingga pembelajaran cenderung bersifat teoritis dan kurang menekankan pada aktivitas belajar peserta didik dalam memahami konsep kimia.

Kimia sebagai proses meliputi keterampilan – keterampilan dan sikap – sikap untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Pendidikan kimia


(17)

3

lebih menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung (learning by doing) dengan kegiatan belajar peserta didik yang aktif (active learning). Peserta didik akan memahami materi pembelajaran bila peserta didik aktif membentuk atau menghasilkan pengertian dari hal-hal yang diinderanya. Pengertian yang dimiliki peserta didik merupakan hasil sendiri bukan hasil dari guru. Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan akan dibentuk oleh peserta didik jika terjadi interaksi aktif antara peserta didik dengan objek atau orang, dan peserta didik selalu mencoba membentuk pengertian dari interaksi tersebut. Pemberian pengalaman secara langsung sangat ditekankan melalui pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan memecahkan masalah.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat melatih keterampilan proses sains peserta didik adalah pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

a. Somatic : belajar dengan bergerak dan berbuat

b. Auditory : belajar dengan berbicara dan mendengar

c. Visualization : belajar dengan mengamati

d. Intellectually : belajar dengan memecahkan masalah

Pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar harus memanfaatkan semua alat indra. Penerapan pendekatan SAVI dapat meningkatakan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran kimia dengan pendekatan SAVI dapat optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam suatu pembelajaran kimia. Peserta didik dapat


(18)

4

menerapkan semua aspek yang ada dalam pembelajaran SAVI sehingga membuat peserta didik belajar secara menyeluruh, peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran serta menentukan dan mengolah informasi yang peserta didik miliki secara mandiri sedangkan fungsi guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Pendekatan SAVI adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan proses sains. Pendekatan SAVI dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat menjadi salah satu usaha yang dilakukan agar peserta didik dapat memperoleh pengetahuan secara mandiri dengan melibatkan semua alat indera yang dimiliki sehingga keterampilan proses sains semakin baik.

Keterampilan proses sains dalam pembelajaran kimia melibatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif (minds on) karena dalam pembelajaran peserta didik berpikir, kemampuan psikomotor (hands on) karena peserta didik terlibat dalam menggunakan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat, dan kemampuan afektif (hearts on) karena peserta didik berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Menurut Suderajat (2004: 68) jenis-jenis keterampilan proses meliputi: observasi (mengamati), pengukuran, klasifikasi (mengelompokkan), inferensi (penarikan kesimpulan), perkiraan (prediksi), komunikasi, membuat hipotesis, merancang penelitian, pengontrolan variabel, interpretasi data dan pemodelan. Pembelajaran kimia berupaya untuk membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan cara mengerjakan, yang dapat


(19)

5

membantu peserta didik memahami alam sekitar secara mendalam. Dengan mengembangkan keterampilan proses, peserta didik akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep, serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.

Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 2 Banguntapan, diperoleh bahwa pelaksanaan pembelajaran kimia di SMA Negeri 2 Banguntapan masih cenderung dilakukan dengan cara konvensional. Guru lebih banyak menerangkan pada saat menyampaikan materi, yang disertai dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Sebagian besar waktu belajar peserta didik dihabiskan untuk mendengarkan ceramah guru, menghafalkan materi dan mencatat materi.

Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, peneliti bermaksud

melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X Semester II SMA Negeri 2 Banguntapan Tahun Ajaran 2016/ 2017 pada Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI)”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Pembelajaran kimia di sekolah belum sepenuhnya dapat membuat peserta didik aktif terlibat di dalam kegiatan pembelajaran sehingga dibutuhkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.


(20)

6

2. Padatnya materi dan terbatasnya waktu dalam pembelajaran kimia membuat guru harus cepat dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, sehingga pembelajaran cenderung bersifat teoritis dan kurang menekankan pada aktivitas belajar peserta didik dalam memahami konsep kimia.

3. Pendekatan pembelajaran yang digunakan belum bervariasi sehingga digunakan pendekatan SAVI.

4. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran belum dapat meningkatkan keterampilan proses sains, sehingga dengan pendekatan SAVI dapat mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik dalam pembelajaran kimia.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini tidak meluas dan menyimpang, maka diberikan batasan masalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran kimia disekolah harus yang berpusat pada peserta didik. 2. Materi pelajaran kimia yang digunakan dalam penelitian adalah larutan

elektrolit, non-elektrolit dan reaksi reduksi-oksidasi (redoks) untuk peserta didik kelas X semester II yang sesuai dengan kurikulum 2013.

3. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan SAVI yaitu Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual.

4. Pengukuran keterampilan proses sains peserta didik dilakukan dengan metode prakrtikum dan diskusi.


(21)

7 D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana profil keterampilan proses sains peserta didik kelas X semester II di SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017 pada pembelajaran larutan elektrolit dan redoks dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI)?

2. Bagaimana sebaran keterampilan proses sains peserta didik kelas X semester II di SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017 pada pembelajaran larutan elektrolit dan redoks dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI)?

E. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menganalisis profil keterampilan proses sains peserta didik kelas X semester II di SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017 pada pembelajaran larutan elektrolit dan redoks dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

2. Menganalisis sebaran keterampilan proses sains peserta didik kelas X semester II di SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017 pada pembelajaran larutan elektrolit dan redoks dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).


(22)

8 F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, yaitu:

1. Bagi sekolah

Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah menggunakan pendekatanpembelajaran yang tepat.

2. Bagi guru

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif metode yang dapat digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

3. Bagi peserta didik

Melalui pembelajaran menggunakan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam memahami konsep-konsep kimia, meningkatkan keterampilan proses sains, serta meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

4. Bagi pembaca

Sebagai masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang analisis variasi keterampilan proses sains lain.


(23)

9 BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Belajar dan Pembelajaran

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan akan menimbulkan perubahan sikap dan tingkah laku dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat (Hamalik, 2009: 79).

Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam proses pendidikan. Proses pendidikan yang terencana itu di arahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, hal ini berarti pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses belajar (Suyanti, 2010: 71). Belajar lebih menekankan pada peserta didik dan proses yang menyertai perubahan tingkah lakunya, sedangkan pembelajaran lebih menekankan pada guru dalam upayanya untuk membuat peserta didik belajar.

Belajar sebagai karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain, merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Dengan demikian, belajar dapat membawa perubahan pada seseorang baik perubahan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.


(24)

10

Dengan perubahan-perubahan tersebut, akan terbantu dalam memcahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 12).

Belajar adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa sepanjang kehiduoannya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah atau tujuan yang ingin dicapainya.dalam proses mencapai tujuan itu, manusia akan dihadapkan pada berbagai rintangan. Melalui kemampuan bagaimana cara belajar, peserta didik akan dapat belajar memecahkan setiap rintangan yang dihadapi sampai akhir hayatnya.

Prinsip belajar sepanjang hayat seperti yang telah dikemukakan di atas sejalan dengan empat pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO (1996), yaitu: (1) learning to know yang berarti juga learning to learn mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi pada produk atau hasil belajar tetapi juga harus berorientasi pada proses belajar. Dengan proses belajar, peserta didik bukan hanya sadar akan apa yang harus dipelajari tetapi juga memiliki kesadara dan kemampuan bagaimna cara mempelajari yang harus dipelajari itu. (2) learning to do mengandung pengertian bahwa belajar bukan hanya sekedar melihat dan mendengar dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global sehingga proses pembelajaran berorientasi pada pengalaman (learning by experience). 3) learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah


(25)

11

membentuk manusia yang “menjadi diri sendiri” atau belajar untuk

mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia. (4) learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individu maupun kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersana kelompoknya (Sanjaya, 2010: 110 – 111).

Menurut Budiningsih (2012: 58), belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh peserta didik. Peserta didik harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal- hal yang sedang dipelajari. Menurut Suyanti (2010, 71), belajar itu diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, sehingga harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning).

Pembelajaran aktif adalah proses pembelajaran terpusat pada peserta didik yang memungkinkan peserta didik untuk berpartisipasi secara efektif di kelas (Mulongo, 2013: 157). Keberhasilan belajar peserta didik berhubungan dengan efektivitas pembelajaran. Pembelajaran yang efektif adalah salah satu strategi pembelajaran yang diterapkan guru dengan maksud untuk menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran yang efektif ini menghendaki agar peserta didik yang belajar telah membawa sejumlah potensi lalu dikembangkan melalui kompetensi yang telah ditetapkan, dan dalam waktu tertentu kompetensi belajar dapat dicapai peserta didik dengan baik atau tuntas. Keefektifan lebih


(26)

12

mengarah pada besarnya persentase penguasaan yang dicapai peserta didik setelah proses pembelajaran dalam limit waktu tertentu sehingga dapat ditingkatkan efektivitasnya melalui upaya kerjasama sinergis guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran (Uno dan Mohamad, 2013: 13-15).

Pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang melibatkan informasi dan lingkungan yang disusun secara terencana untuk memudahkan peserta didik dalam belajar. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya berupa tempat ketika pembelajaran itu berlangsung, tetapi juga metode, media, dan peralatan yang diperlukan untuk menyampaikan informasi. Proses pembelajaran di kelas yang dirancang oleh guru tidak terlepas dari jenis kurikulum yang digunakan. Oleh karena itu, pendidik mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan (Suprihatiningrum, 2013: 75).

Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu mendorong ke arah perubahan, pengembangan, meningkatkan hasrat peserta didik untuk aktif dalam belajar serta menghantarkan ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Pembelajaran tidak hanya menghasilkan atau membuat sesuatu, tetapi juga menyesuaikan, memperluas, dan memperdalam pengetahuan (Suprihatiningrum, 2013: 76).

2. Pendekatan Somatis, Auditori, Visual dan Intelektual (SAVI)

Pendekatan pembelajaran merupakan suatu himpunan asumsi yang saling berhubungan dan terkait dengan sifat pembelajaran. Suatu pendekatan bersifat aksiomatik dan menggambarkan sifat-sifat dan ciri khas suatu pokok bahasan


(27)

13

yang diajarkan. Pendekatan pembelajaran tergambarkan latar psikologis dan latar pedagogis dari pilihan metode pembelajaran yang akan digunakan dan diterapkan guru bersama peserta didik (Suyono & Hariyanto, 2012: 18).

Pergeseran paradigma pendidikan dari behaviorisme menuju konstruktivisme melahirkan model, metode, pendekatan dan strategi-strategi baru dalam sistem pembelajaran. Prinsip pembelajaran dengan teori konstruktivisme melahirkan beberapa model pembelajaran, dimana model tersebut memiliki pandangan yang sama, yaitu peserta didik akan belajar dengan cara terlibat aktif dalam kegiatan belajar, sehingga pengetahuannya akan dibangun berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada konstruktivisme adalah accelerated learning (Mayliana & Sofyan, 2013: 23).

Menurut Meier (2004: 37), accelerated learning memiliki tujuan yaitu mengunggah sepenuhnya kemampuan belajar peserta didik, membuat belajar menjadi menyenangkan dan memuaskan bagi peserta didik , dam memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan peserta didik .

Accelerated learning merupakan pembelajaran yang dipercepat. Yang menjadikan belajar terasa manusiawi karena menempatkan peserta didik sebagai pusat sasaran. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah pembelajaran berlangsung secara cepat, menyenangkan, dan memuaskan (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 134). Accelerated Learning merupakan pembelajaran yang dapat meningkatkan kinerja peserta didik dalam proses pembelajaran (Tomas, 2013: 27).


(28)

14

Menurut Mayliana & Sofyan (2013: 23), mengungkapkan bahwa accelerated learning menawarkan jembatan yang diperlukan untuk mencapai dan mempertahankan prestasi aksdemis yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar. Selain itu, juga tepat diterapkan pada pendidikan tinggi karena menggunakan seluruh otak dalam proses pembelajaran. Hal tersebut ditunjukkan bahwa belajar melibatkan tubuh dan pikiran secara bersama-sama.

Pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual) atau belajar dengan memanfaatkan alat indra merupakan inti dari accelerated learning. Menurut Meier (2004: 54-55), beberapa prinsip pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

a. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh. Belajar tidak hanya melibatkan otak tetapi juga melibatkan seluruh tubuh atau pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya.

b. Belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar, melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar.

c. Kerjasama membantu proses belajar. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Peserta didik biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan teman-teman daripada yang peserta didik pelajari dengan cara lain manapun.

d. Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu linear melainkan menyerap hal banyak sekaligus.


(29)

15

e. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik). Belajar paling baik adalah belajar dengan konteks.

f. Emosi positif sangat membantu pelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan kuantitas seseorang.

g. Otak citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra daripada prosesor kata.

Pendekatan SAVI menekankan belajar berdasarkan aktivitas, yaitu bergerak aktif secara fisik ketika sedang belajar dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar (Meier, 2004: 90). Oleh karena itu, pendekatan tersebut akan membuat peserta didik akan lebih mudah menerima materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru (Gikakjani, 2012: 104).

Pendekatan SAVI melibatkan kelima indra dan emosi dalam proses belajar. Istilah SAVI kependekan dari Somatik (S) yang bermakna gerakan tubuh (hands-on), aktivitas fisik), yaitu belajar dengan mengalami dan melakukan. Auditori (A) bermakna bahwa belajar dengan mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Visual (V) bermakna belajar menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga. Intelektual (I) bermakna bahwa belajar menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.


(30)

16

Menurut Meier (2004: 100), belajar dapat optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Seorang peserta didik dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi, tetapi ia dapat belajar jauh lebih banyak jika dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung, membicarakan apa yang peserta didik pelajari, dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Ada tiga modalitas belajar yang dimiliki seseorang. Ketiga modalitas tersebut adalah modalitas visual, modalitas auditori, dan modalitas kinestetik (somatis). Pelajar visual belajar melalui apa yang peserta didik lihat, pelajar auditori belajar melalui apa yang peserta didik dengar dan pelajar kinestetik belajar melalui aktivitas yang peserta didik lakukan (Russel, 2011: 41-44). Menurut Rose (2012: 130-131),adalah sebagai berikut:

a. Pelajar visual senang melihat diagram, gambar, dan grafik, serta menonton film. Peserta didik juga suka membaca kata tertulis, buku, poster berslogan, dan bahan belajar berupa teks tertulis yang jelas.

b. Pelajar auditori dengan mendengar informasi baru melalui penjelasan lisan, diskusi, debat, instruksi (perintah) verbal, komentar, dan kaset audio. Peserta didik senang mendengar radio, musik, anak- anak auditori menyukai cerita yang dibacakan dengan berbagai ekspresi.

c. Pelajar fisik (kinestetik) senang pembelajaran praktik supaya dapat langsung mencoba sendiri. Peserta didik suka berbuat saat belajar, misalnya: menggaris bawahi, mencorat-coret, dan menggambarkan.


(31)

17

Menurut Meier (2004: 99), menambahkan satu lagi gaya belajar intelektual. Gaya belajar intelektual bercirikan sebagai pemikir. Pembelajar menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut.

“Intelektual” adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah,

dan membangun makna. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi kearifan.

a. Belajar Somatis

”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma. Belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetik, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar. Namun, dalam pembelajaran di sekolah pada umumnya terdapat pemisahan antara

tubuh dan pikiran, sehingga yang berlaku adalah ”duduk manis, jangan

bergerak, dan tutup mulut”, karena beberapa guru di sekolah masih menggunakan paradigma lama yaitu belajar hanya melibatkan otak saja. Kini, pemisahan tubuh dan pikiran dalam belajar mengalami tantangan serius, karena penelitian neurologi menemukan bahwa

”Pikiran tersebar di seluruh tubuh” atau pada intinya, tubuh adalah pikiran,

dan pikiran adalah tubuh (Meier, 2004: 92-93). Jadi, dengan menghalangi pembelajar somatis menggunakan tubuh peserta didik sepenuhnya dalam belajar, berarti menghalangi fungsi pikiran peserta didik sepenuhnya.


(32)

18 b. Belajar Auditori

Menurut Meier (2004: 95), pikiran auditori lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa disadari. Ketika membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak menjadi aktif. Perancangan pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam pikiran pembelajar dapat dilakukan dengan cara mengajak peserta didik membicarakan apa yang sedang peserta didik pelajari. Guru dapat menyuruh peserta didik menterjemahkan pengalaman peserta didik dengan suara, membaca dengan keras atau secara dramatis, ajak peserta didik berbicara saat peserta didik memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai ketrampilan, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna- makna pribadi bagi diri peserta didik sendiri. c. Belajar Visual

Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain (Meier, 2004: 97). Setiap orang (terutama pembelajar visual) lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan. Pembelajar visual belajar paling baik jika peserta didik dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar, dan gambaran dari segala macam hal ketika sedang belajar. Kadang-kadang peserta didik dapat belajar lebih baik lagi jika peserta didik menciptakan peta gagasan, diagram, ikon, dan


(33)

19

citra peserta didik sendiri dari hal yang sedang dipelajari. Teknik lain yang bisa dilakukansemua orang, terutama orang-orang dengan keterampilan visual yang kuat, adalah meminta peserta didik mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang dicontohkan.

d. Belajar Intelektual

Intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran peserta didik secara internal ketika peserta didik menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah bagian dari yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna. Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar (Meier, 2004: 99).

Pembelajaran SAVI akan tercapai dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan baik jika empat tahap berikut dilaksanakan dengan baik (Meier, 2004: 106-108). Empat tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Tahap Persiapan (Kegiatan Pendahuluan)

Pada tahap ini guru membangkitkan minat peserta didik, memberikan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan peserta didik dalam situasi optimal untuk belajar. Secara spesifik meliputi hal sebagai berikut:


(34)

20

2) Memberikan pernyataan yang memberi manfaat kepadaserta didik 3) Memberikan tujuan yang jelas dan bermakna

4) Membangkitkan rasa ingin tahu

5) Menciptakan lingkungan fisik yang positif 6) Menciptakan lingkungan emosional yang positif 7) Menciptakan lingkungan sosial yang positif 8) Menenangkan rasa takut

9) Menyingkirkan hambatan-hambatan belajar

10) Banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah 11) Merangsang rasa ingin tahu peserta didik

12) Mengajak pembelajar terlibat penuh sejak awal. b. Tahap Penyampaian (Kegiatan Inti)

Pada tahap ini guru membantu peserta didik menemukan materi belajar yang dengan cara menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindra, dan cocok untuk semua gaya belajar. Hal yang dapat dilakukan guru adalah berikut:

1) Uji coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan 2) Pengamatan fenomena dunia nyata

3) Pelibatan seluruh otak dan seluruh tubuh 4) Presentasi interaktif

5) Grafik dan sarana yang presentasi berwarna-warni

6) Aneka macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar 7) Proyek belajar berdasar kemitraan dan berdasar tim


(35)

21

8) Latihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok) 9) Pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual 10) Pelatihan memecahkan masalah

c. Tahap Pelatihan (Kegiatan Inti)

Pada tahap ini guru membantu peserta didik mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Secara spesifik, yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:

1) Aktivitas pemrosesan peserta didik

2) Usaha aktif atau umpan balik atau renungan atau usaha kembali 3) Simulasi dunia-nyata

4) Permainan dalam belajar 5) Pelatihan aksi pembelajaran 6) Aktivitas pemecahan masalah 7) Refleksi dan artikulasi individu

8) Dialog berpasangan atau berkelompok 9) Pengajaran dan tinjauan kolaboratif

10) Aktivitas praktis membangun keterampilan 11) Mengajar balik.

d. Tahap Penampilan Hasil (Kegiatan Penutup)

Pada tahap ini guru membantu peserta didik menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru peserta didik pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat. Hal yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:


(36)

22

1) Penerapan dunia nyata dalam waktu yang segera 2) Penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi

3) Aktivitas penguatan penerapan 4) Materi penguatan pascasesi 5) Pelatihan terus menerus

6) Umpan balik dan evaluasi kinerja 7) Aktivitas dukungan kawan

3. Keterampilan Proses Sains

Pada hakikatnya, pembelajaran sains yang dilakukan guru akan melatihkan banyak keterampilan kepada peserta didik yaitu berupa keterampilan proses sains (KPS). Menurut Suprihatiningrum (2013: 168), keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang dapat membuat peserta didik mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap serta nilai yang dituntut. Keterampilan proses melibatkan keterampilan intelektual yang membekali peserta didik dengan suatu kemampuan berpikir logis, dan sistematis dalam menghadapi sesuatu masalah di bidang mana pun dan tingkat lapisan masyarakat apa pun juga.

Keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains menurut Semiawan (1985: 14-15) adalah:

1) perkembangan IPTEK yang semakin cepat sehingga tidak memungkinkan guru mengajarkan semua konsep dan fakta pada peserta didik;


(37)

23

2) peserta didik lebih memahami konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh yang konkret;

3) penemuan dan perkembangan IPTEK yang bersifat relatif;

4) pengembangan proses belajar-mengajar yang tidak terlepas dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri peserta didik

Keterampilan proses akan berjalan sebagaimana diharapkan apabila dalam praktiknya mampu mengembangkan keterampilan memproses perolehan. Tanpa keterampilan memproses keterampilan, pasti tidak akan bergerak. Keterampilan-keterampilan itu merupakan roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan sikap nilai pada diri peserta didik (Uno & Mohamad, 2013: 38).

Keterampilan proses sains merupakan cara memandang peserta didik serta kegiatannya sebagai manusia seutuhnya, yang di terjemahkan dalam kegiatan pembelajaran yang memerhatikan perkembangan pengetahuan, nilai hidup serta sikap, perasaan, dan keterampilan sebagai kesatuan, baik sebagai tujuan maupun sekaligus bentuk pelatihannya. Akhirnya dari pendekatan tersebut, semua kegiatan belaja dan hasil tampak dalam bentuk kreativitas (Suprihatiningrum, 2013: 167).

Keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan/ flasifikasi (Trianto, 2010:144).


(38)

24

Penjabaran keterampilan proses dalam bentuk kemampuan menurut Usman (2008: 43 – 44) dijabarkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Keterampilan Proses Sains dan Indikator KPS

No Kemampuan Keterampilan

1 Mengamati (observasi)

 Melihat

 Mendengarkan  Merasa

 Meraba  Membaur  Mecicipi  Mengecap  Menyimak  Mengukur  Membaca 2 Menggolongkan

(klasifikasi)

 Mencari persamaan  Menyamakan  Membedakan  Membandingkan  Mengontraskan

 Mencari dasar penggolongan 3 Menafsirkan

(interpretasi)

 Menafsirkan  Memberi arti  Mengartikan  Memposisikan

 Mencari hubungan ruang – waktu  Menemukan pola

 Menarik kesimpulan  Menggeneralisasikan


(39)

25 4 Meramalkan

(prediksi)

 Mengantisipasi berdasarkan kecenderungan, pola, atau hubungan antardata atau informasi

5 Menerapkan  Menggunakan (informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori, sikap, nilai, atau keterampilan dalam situasi)

 Menghitung

 Menentukan variabel  Mengendalikan variabel  Menghubungkan konsep  Merumuskan

 Menyusun hipotesis  Membuat model 6 Merencanakan

penelitian

 Menentukan masalah/ objek yang akan diteliti

 Menentukan tujuan penelitian

 Menentukan ruang lingkup penelitian  Menentukan sumber data/ informasi  Menentukan cara analisis

 Menentukan langkah pengumpulan data  Menentukan alat, bahanm dan sumber

kepustakaan

 Menentukan cara penelitian 7 Mengkomunikasikan  Berdiskusi

 Mendeklamasikan  Mendramakan  Bertanya  Merenungkan  Mengarang


(40)

26  Meragakan  Mengungkapkan

 Melaporkan (dalam bentuk lisan, tulisan, gerak, atau penampilan)

Menurut Subali, Paidi, & Maryam (2016: 1) bahwa keterampilan proses sains terdiri dari keterampilan dasar (basic skill) dan keterampilan terintegrasi (integrated skill). Keterampilan dasar meliputi keterampilan observasi, klasifikasi, prediksi, pengukuran, inferensi dan komunikasi. Keterampilan terintegrasi meliputi keterampilan menentukan variabel, membuat tabulasi data, membuat grafik, memberi hubungan antar variabel, memproses data, menganalisis penelitian, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen.

Menurut Suprihatiningrum (2013: 171), keterampilan proses memungkinkan peserta didik memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Dengan keterampilan proses yang dilatihkan, peserta didik akan lebih mudah menguasi dan memahami pelajaran karena peserta didik belajar dengan berbuat (learning by doing). Selain itu, keterampilan proses juga bertujuan untuk:

a. Memotivasi belajar karena peserta didik dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif;

b. Memperjelas konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari peserta didik karena peserta didik sendirilah yang mencari dan menemukan konsep; c. Mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan di dalam kehidupan


(41)

27

d. Mempersiapkan dan melatih peserta didik dalam menghadapi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari;

e. Melatih peserta didik untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah; serta

f. Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab, dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai masalah.

4. Praktikum

Mempelajari kimia kurang dapat berhasil bila tidak ditunjang dengan kegiatan laboraturium. Laboraturium idealnya memang suatu ruangan khusus dimana orang dapat melakukan praktikum. Tetapi dalam pengertiannya, laboraturium dapat di kelas dan dapat di lingkungan. Fungsi dari praktikum merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan. Fungsi laboraturium tidak diartikan sebagai tempat untuk kegiatan belajar mengajar yang sekedar untuk mengecek atau mencocokkan kebenaran teori yang telah diajarkan di kelas. Laboraturium kimia bukanlah sekedar untuk mempraktekkan apakah reaksinya cocok dengan teori tetapi juga harus mengembangkan konsep (Arifin, 2005: 109).

Kegiatan praktikum di laboraturium telah lama dianggap sebagai komponen penting di bidang pendidikan sains. Laboraturium khusus dirancang untuk percobaan sains, demonstrasi dan penyelidikan. Praktikum efektif untuk mengembangkan pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir serta


(42)

28

menumbuhkan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan. Praktikum tidak hanya untuk menunjukkan fenomena yang dijelaskan dalam buku pelajaran tetapi memeberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan proses penyelidikan ilmiah (Kwok, 2015: 2).

Praktikum membuat peserta didik lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran karena peserta didik menikmati pembelajaran di laboraturium dan peserta didik memiliki kesempatan secara langsung dalam menciptakan pengalaman baru. Kegiatan praktikum dapat memungkinkan peserta didik belajar konsep secara langsung melalui pengamatan dan bereksperimen, sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep peserta didik (Haluk., dkk, 2012: 3).

Pembelajaran melalui praktikum akan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar mengalami sendiri tentang proses tertentu sebagai cara untuk memperkenalkan fenomena dalam kehidupan nyata. Kegiatan praktikum yang telah diatur sebelumnya akan membuat peserta didik mengadakan kontak langsung dengan objek permasalahan, karena secara total dilibatkan dalam melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu obyek atau keadaan tertentu.

Menurut Arifin (2005: 110), mengungkapkan bahwa ada persiapan dan kegiatan yang perlu dan harus dilakukan peserta didik sebagai berikut:

a. Mempelajari tujuan dan prosedur percobaan b. Menggunakan alat dan bahan dalam percobaan


(43)

29

c. Mencari persamaan reaksi dari percobaan yang dilakukan d. Mengamati percobaan

e. Mengumpulkan, menyajikan dan menganalisis data f. Menyimpulkan hasil percobaan

g. Mengkomunikasikan hasil percobaan

Menurut Dimyati & Mudjiono (1992: 77-78) ada beberapa tujuan dilakukannya praktikum dalam kegiatan pembelajaran:

1) Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari berbagai fakta, informasi, atau data yang berhasil dikumpulkan melalui pengamatan terhadap proses praktikum.

2) Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari fakta yang terdapat pada hasil praktikum melalui praktikum yang sama.

3) Melatih peserta didik merancang, mempersiapakan, melaksanakan dan melaporkan percobaan.

4) Melatih peserta didik menggunakan logika induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang terkumpul melalui percobaan. Penggunaan kegiatan praktikum memiliki kelebihan dan kekurangan yang menurut Dimyati & Mudjiono (1992: 78) yaitu:

1. Kelebihan

a. Peserta secara aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi atau data yang diperlukannya melalui percobaan yang dilakukan.


(44)

30

b. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk membuktikan kebenaran teoritis secara empiris melalui praktikum, sehingga terlatih membuktikan ilmu secara ilmiah.

c. Peserta didik berkesempatan untuk melaksanakan prosedur metode ilmiah, dalam rangka menguji kebenaran-kebenaran hipotesis.

2. Kekurangan

a. Memerlukan peralatan, bahan dan sarana praktikum bagi setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik, hal ini perlu dipenuhi karena akan mengurangi kesempatan peserta didik jika tidak tersedia.

b. Kegiatan praktikum memerlukan waktu yang lama, akan mengakibatkan berkurangnya kecepatan laju pembelajaran.

c. Kurangnya pengalaman peserta didik maupun guru dalam melaksanakan praktikum akan menimbulkan kesulitan tersendiri dalam melaksanakan praktikum.

d. Kegagalan atau kesalahan dalam praktikum akan mengakibatkan perolehan hasil belajar (berupa informasi, fakta atau data) yang salah atau menyimpang.

5. Pembelajaran Kimia di SMA

Ilmu kimia adalah ilmu yang berlandaskan percobaan. Oleh karena itu pengajaran kimia di sekolah harus disertai dengan pekerjaan laboraturium (Achmad, 2015: 9). Ilmu kimia merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan


(45)

31

selanjutnya kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Ilmu kimia bisa sebagai proses dan sebagai produk. Ilmu kimia sebagai proses diartikan sebagai pengetahuan kerja ilmiah. Ilmu kimia sebagai produk diartikan sebagai pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan meta kognitif. Proses pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai proses dan produk.

Pembelajaran kimia memiliki arti yang sama dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya. Kimia adalah salah satu cabang yang paling penting dari ilmu pengetahuan yang memungkinkan peserta didik untuk memahami apa yang terjadi di sekitar peserta didik . Topik kimia umumnya berdasarkan struktur materi, dan merupakan pelajaran yang sulit bagi sebagian besar peserta didik. Kurikulum kimia umumnya menggabungkan banyak konsep-konsep abstrak, yang menjadi pusat pembelajaran lebih lanjut untuk pelajaran kimia maupun ilmu alam lainnya. Konsep-konsep abstrak tersebut sangat penting karena teori-teori dalam pelajaran kimia tidak dapat dengan mudah dipahami, jika konsep-konsep yang mendasari tidak cukup dipahami oleh peserta didik. Kimia sifatnya sangat konseptual, jika dengan pemahaman yang benar akan menuntun peserta didik memahami secara keseluruhan keterkaitan konsep-konsep tersebut. Namun, banyak konsep yang bisa diperoleh dengan hafalan hal ini sering terlihat pada soal ujian untuk me-recall suatu konsep. Sehingga masih banyak ditemukan bukti kesalahpahaman dari belajar menghafal (Sirhan, 2007). Sehingga pelajaran kimia perlu di ajari untuk menghantarkan peserta didik


(46)

32

menguasai konsep-konsep kimia dan memecahkan masalah terkait dengan kehidupan sehari-hari (Suyanti, 2010: 175).

Mata pelajaran kimia di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

a. Membentuk sikap positif terhadap kimia dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. b. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat

bekerjasama dengan orang lain.

c. Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana peserta didik melakukan pengujian hipotesis dengan merancang percobaan melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan penafsiran data, serta menyampaikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.

d. Meningkatkan kesadaran tentang terapan kimia yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.

e. Memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.

Dalam pembelajarn kimia, ada syarat agar pembelajaran kimia menjadi manarik dan bermanfaat bagi peserta didik, yaitu:


(47)

33

a. Pembelajaran kimia harus mampu mengembangkan pemahaman peserta didik.

b. Pembelajaran kimia harus mampu mengembangkan kemampuan peserta didik.

c. Pembelajaran kimia harus mampu memperluas wawasan peserta didik mengenai penerapan produk kimia di masyarakat.

d. Pembelajaran kimia harus mampu memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis peserta didik.

e. Pembelajaran kimia harus mampu mencerahkan peserta didik tentang karir masa depan yang terkait dengan kimia

B. Kajian Penelitian yang Relevan

Penelitian Kustri Wildasari (2012) tentang analisis keterampilan proses sains peserta didik pada pembelajaran kimia kelas XI di SMA N 2 Banguntapan menghasilkan profil keterampilan peserta didik dalam kegaiatan praktikum untuk setiap aspek keterampilan, yaitu keterampilan observasi dikategorikan baik (72,69%); keterampilan berkomunikasi baik (62,25%); keterampilan menggunakan alat dan bahan dikategorikan baik (68,36%); keterampilan menggolongkan dikategorikan cukup (54,90%); keterampilan menafsirkan dikategorikan cukup (46,70%); keterampilan menganalisis dikategorikan cukup (56,02%); keterampilan meramalkan dikategorikan cukup (46,08%); dan keterampilan menerapkan dikategorikan cukup (44,10%).


(48)

34

Penelitian Uli Nur Mila Astuti (2014) tentang peningkatan keterampilan proses sains menggunakan pendekatan somatis, auditori, visual, intelektual (SAVI) di SMA N 1 Banguntapan kelas XI semester 2 untuk meningkatkan keterampilam proses sains dengan 18 peserta didik. Keterampilan proses sains yang diteliti meliputi keterampilan mengamati, mengklasifikasi, mengukur, melaksanakan eksperimen, menerapkan konsep dan mengintepretasi data. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan SAVI yang diterapkan dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan persentase jumlah peserta didik untuk masing-masing keterampilan proses pada kategori tinggi dan sangat tinggi untuk keterampilan mengamati sebanyak 17 peserta didik, keterampilan mengklasifikasi sebanyak 16 peserta didik, keterampilan mengukur, keterampilan melaksanakan eksperimen dan keterampilan menerapkan konsep sebanyak 18 peserta didik, keterampilan menginpretasikan data sebanyak 16 peserta didik.

Penelitian Witri Hariyati (2013) tentang analisis keterampilan proses sains peserta didik pada pembelajaran kimia kelas XI semester II di SMA N 1 Jetis tahun ajaran 2012/ 2013 dengan pendekatanlearning cycle 5e menghasilkan profil keterampilan proses sains yang diperoleh adalah keterampilan proses sains peserta didik secara keseluruhan dikategorikan baik dengan persentase sebesar 75,47%; keterampilan proses sains peserta didik untuk indikator keterampilan berkomunikasi, meramalkan, mengamati, menafsirkan, dan mengelompokkan dikategorikan baik dengan presentase berturut-turut sebesar 78,25%; 63,40%; 77,14%; 74,05%; dan 74,43%, sedangkan untuk indikator keterampilan


(49)

35

menggunakan alat dan bahan dikategorikan sangat baik, dengan presentase sebesar 80,00%.

C. Kerangka Berpikir

Dalam pembelajaran kimia disekolah pada umumnya belum sepenuhnya dapat membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kimia cenderung bersifat teoritis dan kurang menekankan pada aktivitas belajar peserta didik dalam memahami konsep kimia. Kegiatan di laboraturium pun jarang dilakukan. Dalam pembelajaran kimia, kegiatan praktikum ini sangat penting karena membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman konsep kimia secara konkret, serta dapat melatih keterampilan proses sains peserta didik. Kegiatan praktikum belum memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk membuat hipotesis atau prediksi, membuktikan kebenaran prediksinya, dan menganalisis data. Padahal, sudah banyak dikembangkan model, startegi, metode, atau teknik pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik, serta dapat meningkatkan keterampilan proses sains. Salah satunya adalam pendekatan pembelajaran Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

Melalui penerapan pendekatan SAVI peserta didik diberi kesempatan untuk mengkontruksi pengetahuan peserta didik sendiri, bekerja sama dengan peserta didik lain untuk menemukan konsep, menjelaskan konsep dengan kata-kata sendiri, serta mengaplikasikan konsep yang telah diperoleh dalam situasi baru. Peserta didik akan diajak berinteraksi aktif secara langsung yang akan


(50)

36

membutuhkan keterampilan-keterampilan yang ada dalam diri peserta didik, seperti mengamati, berkomunikasi dan menggunakan alat/ bahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Oleh karena itu, melalui pendekatan SAVI diharapkan pembelajaran kimia menjadi lebih bermakna dan meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik apabila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Penerapan pendekatan pembelajaran Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) dalam pembelajaran kimia tersebut juga didukung oleh hasil-hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) berpengaruh signifikan dan efektif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep sains dan melatih keterampilan proses sains peserta didik. Dengan demikian, pendekatan pembelajaran Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) sangat tepat untuk diterapkan guru sebagai alternatif variasi di dalam pembelajaran kimia.


(51)

37 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan pre-experimental dengan menggunakan desain one-shot case study. Dalam penelitian ini, tidak ada kelompok kontrol dan tidak ada tes awal maupun tes akhir. Peserta didik diberi perlakuan khusus atau pengajaran selama beberapa waktu. Subjek dalam penelitian ini akan mendapatkan perlakuan (treatment) kemudian dilakukan observasi. Hasil observasi ini hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif.

Tabel 2. Desain One-Shot Case Study X O

Keterangan:

X : Treatment yang diberikan O : Observasi

B. Prosedur Penelitian

Prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap Persiapan

Langkah pertama, dilakukan analisis konsep materi kimia pada buku kimia kelas X semester 2 untuk menentukan materi yang akan diguanakan, studi literature mengenai keterampilan proses sains untuk menentukan ketarampilan


(52)

38

proses yang akan diteliti, serta stidi lteratur pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

Langkah kedua, menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), lembar observasi keterampilan proses sains beserta rubrik penilaiannya, serta pedoman wawancara.

Langkah ketiga, kelengkapan mengajar yang telah disiapkan selanjutnya divalidasi oleh pihak ahli untuk mendapatkan pertimbangan, sehingga diperoleh instrumen yang baik dan benar.

2. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran dikelas dilakukan dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) dimana peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil, yang masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. Peserta didik melakukan percobaan, menjawab pertanyaan di LKPD, dan melakukan diskusi dengan peserta didik lain maupun guru, serta dilakukan wawancara di akhir pembelajaran.

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung dilakukan pengambilan data keterampilan proses sains peserta didik dengan cara observsi menggunakan lembar observasi dan rubrik penilaian yang telah disiapkan. Oleh karena itu dalam penelitian ini membutuhkan observer sejumlah kelompok yang ada di dalam kelas yang mendapat tugas mengobservasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Sebelum memulai observasi, observer diminta memahami lembar penilaian observasi yang telah diberikan, sehingga diperoleh persepsi penialaian yang sama dan penilaian dapat dilakukan seobjektif mungkin.


(53)

39

Untuk menunjang data yang diperoleh dari observasi maka dilakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara. Peserta didik yang diwawancarai adalah satu orang perwakilan dari setiap kelompok dan dipilih secara acak. Wawancara dilakukan pada setiap kegaiatan pembelajaran.

3. Tahap Penyelesaian

Pada tahap penyelesaian dilakukan pengolahan data dari hasil observasi yang selanjutnya dianalisis sehingga diperoleh kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Selain itu, hasil wawancara peserta didik untuk memperkuat hasil keterampilan proses sains sehingga dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI).

C. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling a. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah peserta didik kelas X Semester Genap SMA Negeri 2 Banguntapan Tahun Ajaran 2016/ 2017 sebanyak 128 peserta didik.

b. Sampel Penelitian dan Teknik Sampling

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono, 2008: 81). Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X Semester II SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2016/ 2017 kelas yaitu X IPA 4 dengan jumlah peserta didik 32 orang. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive cluster sampling artinya


(54)

40

berdasarkan pertimbangan dari kelas X IPA 1, X IPA 2, X IPA 3, dan X IPA 4 yang diijinkan oleh sekolah untuk penelitian ini yaitu kelas X IPA 4.

D. Instrumen Penelitian a. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema yang mencakup kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar,.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. RPP dapat menjadi panduan langkah-langkah yang akan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat untuk setiap kegiatan pembelajaran. RPP dibuat untuk 4 kali pertemuan dengan menggunakan pendekatan SAVI serta metode yang digunakan yaitu praktikum dan diskusi. RPP yang dibuat juga untuk mengembangkan keterampilan proses sains (KPS) peserta didik sehingga dapat teramati selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

c. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar kerja peserta didik (LKPD) dalam penelitian ini berisi soal-soal latihan sebagai bahan diskusi dan evaluasi pada proses pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar serta indikator


(55)

41

pembelajaran dalam RPP, serta mencakup kegiatan pembelajaran dengan metode demonstrasi dan percobaan di laboratorium.

d. Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mencatat perilaku peserta didik yang mucul selama proses pembelajaran. Format lembar observasi yang digunakan berisi item-item tentang kejadian atau perilaku yang digambarkan akan terjadi. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi terstruktur, yaitu observasi yang telah dirancang secara sistematis dimana semua aktivitas observer dan materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas.

Pada penelitian ini dilakukan observasi secara langsung terhadap peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pedoman observasi, yang dilengkapi dengan format penilaian dan kriteria-kriteria keterampilan proses sains peserta didik yang diamati. Selanjutnya data pada lembar observsai tersebut digunakan sebagai data yang dianalisis.

Pedoman observasi yang digunakan mengadaptasi dari skripsi Witri Hariyati karena indikator keterampilan proses yang digunakan berbeda. Pedoman observasi dari skripsi Witri Hariyati menggunakan 6 keterampilan proses yaitu berkomunikasi, meramalkan, mengamati, menafsirkan, menggunakan alat dan bahan, serta mengelompokkan, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan 7 keterampilan proses berkomunikasi, meramalkan, menggunakan alat dan bahan, mengamati, menafsirkan, mengelompokkan, dan menerapkan konsep. Penelitian ini menambahkan satu keterampilan proses sains yaitu keterampilan menerapkan konsep.


(56)

42 e. Pedoman Wawancara

Wawancara adalah salah satu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya-jawab baik secara langsung maupun tidak langsung. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dengan bentuk pertanyaan tak terstruktur, yaitu yang bersifat terbuka dimana responden secara bebas menjawab pertanyaan tersebut.

Pedoman wawancara dibuat sebagai panduan dalam melakukan wawancara berdasarkan keterampailan proses sains. Hasil wawancara digunakan untuk menunjang data yang diperoleh dari observasi.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan pedoman observsi keterampilan proses sains peserta didik dan pedoman wawancara. Observer melakukan pengamatan pada peserta didik secara langsung menggunakan lembar observasi dengan skala 1-3 selama kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) berlangsung.

Wawancara dilakukan untuk peserta didik perwakilan dari kelas setelah kegiatan pembelajaran berakhir menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan. Data wawancara ini berupa deskripsi dengan masalah penerapan pendekatan Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI) dan keterampilan proses sains yang muncul dari kegiatan pembelajaran tersebut. Wawancara dilakukan dengan menggunakan pertanyaan yang sudah tersedia di pedoman wawancara.


(57)

43 F. Teknik Analisis Data

1. Pengolahan Pedoman Observasi

a. Mengubah akumulasi nilai hasil pengamatan keterampilan proses sains masing-masing peserta didik ke dalam persentase berdasarkan rumus:

% � � � =∑ � � �� � � � %

b. Menentukan kategori keterampilan proses sains peserta didik berdasarkan skala kategori keterampilan (Suharsimi, 2006: 241).

Tabel 3. Skala Kategori Keterampilan Nilai (%) Kategori Keterampilan

<20,00 Sangat kurang 20,00 – 39,99 Kurang 40,00 – 59,99 Cukup 60,00 – 79,99 Baik 80,00 -100,00 Sangat baik

c. Menentukan persentase keterampilan proses sains pada setiap indikator keterampilan dalam satu kegiatan pembelajaran berdasarkan rumus:

� =∑∑ � % Keterangan:

a = Persentase keterampilan proses sains setiap indikator keterampilan

∑ X = jumlah persentase keterampilan proses sains peserta didik untuk kegaiatan pembelajaran


(58)

44

d. Menafisirkan sebaran keterampilan proses sains peserta didik pada setiap indikator keterampilan berdasarkan skala yang dekemukakan oleh Koenjaraningrat dalam Kustri Wildasari (2012: 35), sebagai berikut:

Tabel 4. Skala Sebaran Keterampilan Proses Sains

Persentase Sebaran

0,00 Tidak ada

0,01 – 25,00 Sebagian kecil 25,01 – 49,99 Hampir separuhnya

50,00 Separuhnya

50,01 – 75,00 Sebagian besar 75,01 – 99,99 Hampir seluruhnya

100,00 Seluruhnya

2. Pengolahan Hasil Wawancara

a. Mengubah hasil wawancara menjadi uraian kalimat. b. Menganalisis hasil wawancara.

c. Menggabungkan analisis hasil wawancara dengan hasil observasi keterampilan proses sains peserta didik.


(59)

45 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual) dengan metode eksperimen dan diskusi. Pendekatan SAVI merupakan pendekatan pembelajaran yang terpusat pada peserta didik dan melibatkan semua indera peserta didik. Dengan pendekatan SAVI kegiatan pembelajaran dilakukan dengan guru membangkitkan minat peserta didik, peserta didik melakukan eksperimen untuk menemukan konsep, peserta didik menjelaskan konsep yang diperoleh dan dilakukan diskusi kelas, peserta didik menerapkan konsep dalam permasalahan yang baru, dan peserta didik melakukan evaluasi dengan mengerjakan lembar kerja peserta didik untuk mengukur pemahaman yang telah diperoleh. Selama kegiatan pembelajaran dilakukan pengambilan data keterampilan proses sains peserta didik dengan lembar observasi yang diisi oleh masing-masing observer dan juga dilakukan wawancara untuk menunjang data observasi yang dilakukan setelah kegiatan pembelajaran berakhir.

Keterampilan proses sains merupakan keterampilan terarah yang dapat digunakan untuk menemukan konsep tertentu dan mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya serta digunakan untuk menyangkal sebuah penemuan. Keterampilan proses sains melibatkan keterampilan intelektual, manual dan sosial. Indikator keterampilan proses sains yang diamati dalam penelitian ada 7


(60)

46

indikator yaitu 1) keterampilan mengamati 2) keterampilan memprediksi 3) keterampian berkomunikasi 4) keterampilan menerapkan konsep 5) keterampilan menggunakan alat dan bahan 6) keterampilan menfsirkan dan 7) keterampilan mengelompokkan.

1. Persentase Keterampilan Proses Sains pada Setiap Kegiatan Pembelajaran

Dalam penelitian ini dilakukan materi yang digunakan adalah larutan elektrolit dan non elektrolit serta reaksi reduksi oksidasi (redoks) dengan menggunakan pendekatan SAVI.

Data yang diperoleh berupa skor hasil observasi yang selanjutnya diubah menjadi nilai persentase dengan rumus yang ada, selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 13. Sebaran keterampilan prose sains peserta didik pada kegiatan pembelajaran kelas X IPA 4 dapat dilihat pada Gambar 1 – Gambar 3. a. Pada kegiatan pembelajaran materi “Larutan Elektrolit dan Non

Elektrolit”

Gambar 1. Grafik Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

29%

71%

Baik Sangat Baik


(61)

47

Pada pembelajaran dengan materi “Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit”, hampir seluruh peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori sangat baik dengan persentase 71%. Sedangkan sebagian kecil peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori baik dengan persentase 29%.

b. Pada kegiatan pembelajaran materi “Reaksi Redoks”

Gambar 2. Grafik Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Reaksi Redoks

Pada pembelajaran dengan materi “Reaksi Redoks”, hampir seluruh peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori sangat baik dengan persentase 86%. Sedangkan sebagian kecil peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori baik dengan persentase 14%.

c. Rerata seluruh kegiatan pembelajaran 14%

86%

Baik Sangat Baik

43%

57% Baik


(62)

48

Gambar 3. Grafik Rerata Sebaran Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4

Secara keseluruhan untuk semua kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, hampir separuh peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori sangat baik dengan persentase 57%. Sebagian besar peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori baik dengan persentase 43%. Dalam semua kegiatan pembelajaran ini tidak ada peserta didik memiliki keterampilan proses sains dengan kategori, cukup, kurang ataupun sangat kurang.

Berdasarkan data tersebut, maka diperoleh rerata nilai persentase keterampilan proses sains peserta didik pada setiap materi pembelajaran yang disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Rerata Nilai Persentase Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4

Materi Pembelajaran Rerata Nilai (%)

Kategori Keterampilan Proses Sains Larutan Elektrolit dan Non

Elektrolit

83,90

Sangat Baik

Reaksi Redoks 80,51 Sangat Baik

Rerata seluruh kegiatan

pembelajaran 82,20 Sangat Baik

Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bahwa peserta didik kelas X IPA 4 di SMA Negeri Banguntapan memliki rerata keterampilan proses sains dengan kategori Sangat baik dengan persentase 82,20%. Grafik rerata ketarampilan proses sains peserta didik dapat dilihat pada Gambar 5.


(63)

49

Gambar 4. Grafik Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Semua Kegiatan Pembelajaran

2. Persentase Keterampilan Proses Sains pada setiap Indikator Keterampilan

Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan 7 indikator keterampilan proses sains yaitu keterampilan mengamati, keterampilan memprediksi, keterampian berkomunikasi, keterampilan menerapkan konsep, keterampilan menggunakan alat dan bahan, keterampilan menafsirkan, dan keterampilan mengelompokkan. Indikator keterampilan proses sains tersebut diamati pada setiap peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh kemudian diubah menjadi persentase dengan menggunakan rumus yang ada. Rerata keterampilan proses sains pada peserta didik kelas X IPA 4 untuk setiap indikator keterampilan proses sains dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

78.00% 79.00% 80.00% 81.00% 82.00% 83.00% 84.00% 85.00%


(64)

50

Tabel 6. Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Indikator Keterampilan Mengamati, Memprediksi dan Berkomunikasi

M ate ri Pe m b elajar

an Indikator Keterampilan Proses Sains Keterampilan Mengamati Keterampilan Memprediksi Keterampilan Berkomunikasi

% Sebaran % Sebaran % Sebaran

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

82,98 Hampir

Seluruhnya 91,67

Hampir

Seluruhnya 89,58

Hampir Seluruhnya

Redoks 87,15 Hampir

Seluruhnya 67,71

Sebagian

besar 83,33

Hampir Seluruhnya Rerata 85,06 Hampir

Seluruhnya 79,69

Hampir

Seluruhnya 86,45

Hampir Seluruhnya

Tabel 7. Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik pada Indikator Keterampilan Menerapkan Konsep, Menggunakan Alat Bahan, Menafsirkan dan

Mengelompokkan Mat eri Pem be laj aran

Indikator Keterampilan Proses Sains Keterampilan Menerapkan Konsep Keterampilan Menggunakan Alat dan Bahan Keterampilan Menafsirkan Keterampilan mengelompokkan

% Sebaran % Sebaran % Sebaran % Sebaran

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

86,11 Hampir

Seluruhnya 75,52

Hampir

Seluruhnya 88,54

Hampir

Seluruhnya 72,91

Sebagian besar

Redoks 81,94 Hampir

Seluruhnya 80,46

Hampir

Seluruhnya 81,77

Hampir

Seluruhnya 81,25

Hampir Seluruhnya

Rerata 84,02 Hampir

Seluruhnya 77,99

Hampir

Seluruhnya 85,15

Hampir

Seluruhnya 77,08

Hampir Seluruhnya


(65)

51

Berdasarkan rerata keterampilan proses sains untuk setiap indikator keterampilan dari materi pembelajaran larutan elektrolit dan non elektrolit serta redoks yang disajikan dalam tabel tersebut, diperoleh bahwa hampir seluruh peserta didik menguasai keterampilan mengamati, keterampilan memprediksi, keterampilan berkomunikasi, keterampilan menerapkan konsep, keterampilan menggunakan alat dan bahan, keterampilan menafsirkan, dan keterampilan mengelompokkan.

Gambar 5. Grafik Rerata Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X IPA 4 untuk Setiap Indikator Ketarampilan pada Setiap Kegiatan Pembelajaran

Dari grafik tersebut terlihat bahwa keterampilan proses sains peserta didik untuk setiap indikator mengalami naik turun pada setiap kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan materi

82.98 87.15 91.67 67.71 89.58 83.33 86.11 81.94 75.52 80.46 88.54 81.77 72.91 81.25 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Redoks keterampilan Mengamati Keterampilan Memprediksi Keterampilan Berkomunikasi Keterampilan Menerapkan Konsep Keterampilan Menggunakan Alat dan Bahan Keterampilan Menafsirkan Keterampilan Mengelompokkan


(66)

52

yang berbeda-beda dengan tingkat kesulitan yang berbeda juga sehingga keterampilan proses sains peserta didik juga akan berubah. Di dalam grafik, keterampilan untuk posisi tertinggi dan terendah selalu berubah pada setiap materi pembelajaran yang berbeda.

B. Pembahasan

Penelitian yang digunakan adalah penelitian menggunakan desain one-shot case study. Objek penelitian ini adalah keterampilan proses sains peserta didik dengan 7 indikator keterampilan yang diamati, yaitu: yaitu keterampilan mengamati, keterampilan memprediksi, keterampilan berkomunikasi, keterampilan menerapkan konsep, keterampilan menggunakan alat dan bahan, keterampilan menafsirkan, dan keterampilan mengelompokkan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 2 Banguntapan yang berjumlah 32 orang dari kelas X IPA 4. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan SAVI.

Langkah pertama dalam penelitian adalah melakukan observasi di SMA Negeri 2 Banguntapan. Hasil yang diperoleh adalah pelaksanaan pembelajaran kimia di SMA Negeri 2 Banguntapan masih cenderung dilakukan sebagai transfer ilmu dari guru kepada peserta didik dengan cara konvensional, dimana guru lebih banyak menerangkan pada saat menyampaikan materi yang disertai dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Praktikum masih jarang dilakukan padahal aktivitas peserta didik di dalam laboratorium lebih efektif melatih keterampilan proses sains, mengembangkan sikap ilmiah dan meningkatkan


(67)

53

pemahaman materi. Pembelajaran yang konvensional tersebut membuat peserta didik kurang aktif dan kurang mengembangkan keterampilan proses sains. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan pendekatan SAVI dengan metode praktikum dan diskusi dalam kegiatan pembelajarannya, sehingga peserta didik dapat aktif dan dilatih untuk menemukan konsep.

Pendekatan SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan Intelektual) merupakan salah satu pendekatan yang menekankan pada keaktifan indra. Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk aktif dalam pembelajaran kimia. Komponen-komponen SAVI yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik adalah sebagai berikut:

1. Somatis

Belajar somatis berarti belajar dengan menggunakan indra peraba, kinestis, serta melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar. Jadi untuk merangsang hubungan pikiran-tubuh, dengan menciptakan suasana belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu. Aktivitas peserta didik yang dapat meningkatkan aspek somatis yaitu: Peserta didik dapat membuat rangkaian alat sesuai prosedur, secara fisik menggerakkan berbagai komponen dalam suatu proses dan peserta didik dikelompokkan dalam tim menciptakan pembelajaran yang aktif bagi seluruh kelas. Aktivitas tersebut akan menarik perhatian peserta didik sehingga peserta didik merasa senang dalam pembelajaran kimia. Pembelajaran kimia menjadi tidak membosankan. Peserta didik yang senang dalam


(1)

(2)

(3)

212


(4)

(5)

(6)

Dokumen yang terkait

FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)

27 310 2

MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)

29 282 2

ANALISIS ISI LIRIK LAGU-LAGU BIP DALAM ALBUM TURUN DARI LANGIT

22 212 2

PENYESUAIAN SOSIAL SISWA REGULER DENGAN ADANYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD INKLUSI GUGUS 4 SUMBERSARI MALANG

64 523 26

ANALISIS PROSPEKTIF SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT MUSTIKA RATU Tbk

273 1263 22

PENERIMAAN ATLET SILAT TENTANG ADEGAN PENCAK SILAT INDONESIA PADA FILM THE RAID REDEMPTION (STUDI RESEPSI PADA IKATAN PENCAK SILAT INDONESIA MALANG)

43 322 21

PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA

97 602 2

KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )

64 565 20

PEMAKNAAN BERITA PERKEMBANGAN KOMODITI BERJANGKA PADA PROGRAM ACARA KABAR PASAR DI TV ONE (Analisis Resepsi Pada Karyawan PT Victory International Futures Malang)

18 209 45

STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2012 DI KOTA BATU (Studi Kasus Tim Pemenangan Pemilu Eddy Rumpoko-Punjul Santoso)

119 459 25