Design strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the economic empowerment of local communities and coastal resources management in Bontang (case study of PT Pupuk Kaltim)

DESAIN STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DAN
SUMBERDAYA PESISIR KOTA BONTANG
(Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim)

TAUFIK HASBULLAH

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Desain Strategi Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan
Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) adalah karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
disertasi ini.
Bogor, Februari 2012

Taufik Hasbullah
P 31600029

ABSTRACT

TAUFIK HASBULLAH. Design Strategy of Corporate Social Responsibility (CSR)
in the Economic Empowerment of Local Communities and Coastal Resources
Management in Bontang (Case Study of PT Pupuk Kaltim). Under supervision of
TRIDOYO
KUSUMASTANTO,
LUKY
ADRIANTO
and
SUGENG
BUDIHARSONO.
The purpose of this study is to analyze the impact of PT Pupuk Kaltim and
the presence of its industrial activity on the economic growth of Bontang. To
analyze the role of company’s CSR activities towards the economic
empowerment on local communities and management of coastal resources in
Bontang. and to develop a design strategy to economically empower local
communities and coastal resources management in Bontang. Location Quotient
(LQ) methods and Shift Share to observe the influence of company’s industrial
activity and its economic impact on Bontang. Importance Performance Analysis
(IPA) to observe the effectiveness of company’s CSR activities. To assess the
sustainability of coastal areas, a modified method by measuring dimensional
aspects of sustainability which are ecological, economic, socio-cultural,
infrastructure and technology, as well as legal and institutional. The results of LQ
analysis indicates that Bontang economic growth is highly correlated with the
presence of manufacturing sector. Based on the analysis, which covers oil and
gas industry, this study exceptionally concludes the presence of gas industry
does have a strong role with a value greater than 1 and, coefficient of
determination of 1.582 to the regional economy. Meanwhile, the shift share
analysis shows that the role of regional economic structures is large enough to
reach 92%. The ratio is mainly contributed by the potential of regional economic
which is 46%. The results of IPA analysis show the significance of company’s
CSR activities is sufficient to meet the expectations of coastal communities.
Overall, the analysis concludes that the level of sustainability of coastal area in
multi-dimensional value is 53.73, which lays in category of fairly continuous.
Based on the analysis the sustainability of individual criterion are fairly
sustainability for ecology (50.43), infrastucture and technological (60.83), and
legal and institutional (55.33). Furthermore, the dimension of economic and
socio-cultural are weak sustainability. The design of coastal development
strategy is intended to encourage the Bontang City development sectors based
on renewable coastal resources so that it can be a driving force for coastal
economic activity in the future. Whereas, in particular for the CSR design strategy
is to build economic self-reliance of local communities, community capacity
building in integrated coastal management and resource conservation in coastal
of Bontang City.
.
Keywords: CSR, Empowerment, Coastal, LQ, Shift Share, IPA, Rapfish.

RINGKASAN
TAUFIK HASBULLAH. Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir di Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim). Dibimbing oleh
TRIDOYO
KUSUMASTANTO,
LUKY
ADRIANTO
dan
SUGENG
BUDIHARSONO.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota
Bontang sangat menentukan keberlanjutan pembangunan Kota Bontang yang
berada di wilayah pesisir, dimana di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi
berskala besar yakni PT Pupuk Kaltim (PKT) dan PT Badak NGL (BADAK) yang
perlu ditingkatkan perannya dalam pembangunan ekonomi maupun tanggung
jawab sosial perusahaan, sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat
dan sumberdaya pesisir di Kota Bontang.
Penelitian ini dilakukan di seluruh kelurahan yang berbatasan langsung
dengan pesisir Kota Bontang yaitu, Bontang Kuala, Bontang Baru, Lhok Tuan,
Guntung, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Tanjung Laut Indah, Tanjung Laut dan
Kelurahan Belimbing.
Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis keberadaan perusahaan
industri pengolahan (PKT) terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Bontang,
serta secara khusus menganalisis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)
terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya
pesisir Kota Bontang, dengan mengambil studi kasus peran CSR di PKT, dimana
selanjutnya menjadi acuan dalam menyusun desain strategi dalam
pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir di
Kota Bontang.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Location
Quotient (LQ) dan Shift Share untuk melihat pengaruh keberadaan perusahaan
industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah. Peran dan
efektifitas program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan
pengelolaan pesisir dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis
(IPA). Selanjutnya dalam mengkaji keberlanjutan wilayah pesisir digunakan
metode Rapfish dengan mengukur lima dimensi keberlanjutan yakni, dimensi
ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi infrastruktur dan
teknologi, serta dimensi hukum dan kelembagaan. Hasil analisis tersebut diatas
dirumuskan menjadi desain dan strategi pemberdayaan masyarakat dan
pengelolaan sumberdaya pesisir.
Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota
Bontang sangat dipengaruhi oleh keberadaan sektor industri pengolahan. Dari
hasil perhitungan LQ sektor industri pengolahan baik dengan migas maupun
tanpa migas memiliki peranan kuat dengan nilai lebih besar dari 1, dengan
koefisien determinasi sebesar 1,582 terhadap perekonomian daerah. Sedangkan
analisis shift share menunjukkan bahwa peran struktur ekonomi daerah cukup
besar yakni mencapai 92 %, rasio tersebut ditopang oleh kontribusi kekhususan
potensi ekonomi daerah yakni 46 %.

Hasil analisis efektifitas dengan metode IPA menunjukkan signifikansi
CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, dimana secara umum
menegaskan bahwa aktifitas CSR telah cukup memenuhi ekspektasi dari
masyarakat pesisir.
Hasil analisis keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang
menunjukkan tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang secara multi
dimensi sebesar sebesar 53,73 dan termasuk dalam kategori cukup
berkelanjutan, dimana diperoleh dari nilai dimensi ekologi sebesar 50,43, dimensi
ekonomi 49,90, dimensi sosial budaya 48,18, dimensi infrastruktur dan tekhnologi
sebesar 64,83 dan dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 55,33.
Strategi pengembangan kawasan pesisir Kota Bontang secara umum
yaitu dengan mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis
sumberdaya pesisir terbaharui sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan
ekonomi pesisir. Sedangan secara khusus adalah dengan membangun
kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat
dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah
pesisir Kota Bontang.

Kata Kunci :

CSR, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, LQ, Shift Share, IPA,
Rapfish

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencatumkan atau
menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

DESAIN STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DAN
SUMBERDAYA PESISIR KOTA BONTANG
(Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim)

TAUFIK HASBULLAH

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji pada Ujian Tertutup

:

1. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo
2. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc.

Penguji pada Ujian Terbuka

:

1. Dr. Ir. Sigid Hariyadi, M.Sc.
2. Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc.

Judul Disertasi

:

Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan
Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT.
Pupuk Kaltim)

Nama

:

Taufik Hasbullah

NIM

:

P31600029

Program Studi

:

Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Disetujui :
Komisi Pembimbing,

Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS
Ketua

Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc
Anggota

Dr. Ir. Sugeng Budiharsono
Anggota

Diketahui,
Ketua Program Studi,

Dekan Sekolah Pascasarjana,

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian : 26 Januari 2012

Tanggal Lulus :

PRAKATA
Alhamdulillah dengan segala karuniaNya disertasi berjudul “Desain
Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk
Kaltim)”, dapat diselesaikan.
Disertasi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Sekolah
Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Seiring dengan selesainya disertasi ini,
penulis mengucapkan terimakasih yang sangat dalam kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS., sebagai Ketua Komisi Pembimbing,
Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc., Dr. Ir. Sugeng Budiharsono dan Prof. Dr. Ir.
Sarwono Hardjowigeno, M.Sc. (alm), sebagai anggota komisi pembimbing
yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi sejak awal
penulisan proposal hingga penyelesaian disertasi ini. Ucapan terima kasih
atas waktu dan masukan perbaikan disertasi disampaikan kepada Dr. Ir.
Agus Heri Purnomo dan Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. sebagai penguji pada ujian
tertutup serta Dr. Ir. Sigid Hariyadi, M.Sc. dan Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal,
M.Sc. sebagai penguji pada ujian terbuka.
2. Rektor dan Dekan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan S3 di
Institut Pertanian Bogor.
3. Para Dosen Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
yang telah memberikan ilmu selama penulis menjadi mahasiswa.
4. Direksi dan mantan Direksi PT Pupuk Kaltim khususnya Bapak Ir. Bowo
Kuntohadi, MM., yang telah memberikan izin sehingga penulis dapat
mengikuti studi ini tanpa meninggalkan tugas dan tanggung jawab penulis
selama masih aktif menjadi karyawan, demikian pula teman-teman para
manajer di lingkungan PT Pupuk Kaltim yang telah banyak memberikan
support kepada penulis selama penyelesaian studi S3 di IPB ini.
5. Teman-teman di Bappeda, BPS, DKP dan instansi pemerintah lainnya serta
teman-teman LSM di Kota Bontang. Pak Dani Indrianto, Dosen dan Peneliti
Universitas Trisakti dan Universitas Jayabaya Jakarta.

6. Rekan-rekan mahasiswa angkatan tahun 2000/ 2001 khususnya Dr. Ir. Abdul
Rauf, M.Si., yang sejak awal memberikan support yang tidak sedikit kepada
penulis. Demikian pula saudara saya Gigih Widya W Socria dan keluarganya
di Bontang dan Samarinda, yang telah memberikan support tidak pernah
lelah sampai selesainya disertasi ini.
7. Kedua orang tua tercinta H. Hasbullah (Alm) dan Hj. Khuzaimah (Alm) yang
telah membesarkan, mendoakan, mendidik, tiada henti sampai akhir
hayatnya. Demikian pula kepada Uni Hj. Mardiah, Uni Hj. Rasyidah (alm), Uni
Hj. Fauziah dan Uda H. Lukman, Uda H. Mukhlis (alm) dan Uda H. Muslim
yang amat besar jasanya.
8. Dukungan dan doa keluarga tercinta: Istri Hj. Siti Adansiana (alm) beserta
ananda tercinta M. Naser serta Ocha dan cucuku Zoe dan Raj, M. Yasser
dan Annisa, serta istri tercinta Hj. Sandyana Samantha dan anak-anak:
Echa, Alghifari dan Alfarabi.
9. Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., yang sejak awal penulis masuk IPB sampai
saat ini jika berjumpa senantiasa menyapa hangat dan memberikan wawasan
dan motivasi yang sangat berharga.
10. Sahabatku Wakil Walikota Bontang, Bapak Isro Umargani, Ustadz. Harun Al
Rasyid, SH serta Ustadz Nadif Ridwan, sahabatku Drs. Gunawan Ja’far yang
senantiasa memberikan nasehat dan pencerahan. Demikian pula kepada
sahabat dan teman-teman di lingkungan PT Daun Buah yaitu; Bapak Ir.
Surya Madya, MM, Bapak Ir. Ezrinal Aziz, M.Sc., dan Bapak Ir. Rusli Burhan,
M.Si., serta teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
11. Guru kehidupan dan inspiratorku Ir. H. Jamil Azzaini, M.Sc. dan Ustadz KH.
Arifin Ilham yang telah berkontribusi tak ternilai dalam kehidupan kami.
Semoga disertasi ini dapat bermanfaat dalam pengembangan masyarakat
pesisir dan kelestarian sumberdaya pesisir Kota Bontang.
Bogor, Februari 2012
Taufik Hasbullah

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bukittinggi Sumatera Barat, pada tanggal 15 Februari
1953, merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari keluarga H. Hasbullah
(alm) dan Hj. Khuzaimah (alm). Penulis menyelesaikan pendidikan sampai SMP
di Bukittinggi dan di SMA Negeri 10 Jakarta, kemudian melanjutkan studi di
Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya selesai S1 pada tahun 1981.
Selanjutnya menyelesaikan program Magister Manajemen (S2) di Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta tahun 1991. Pada tahun 2001 memasuki program
studi (S3) Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Institut Pertanian
Bogor sampai saat ini.
Tahun 1973 hingga 1979 penulis bekerja di PT Pupuk Sriwidjaja di bagian
Import dan Shipping. Selanjutnya tahun 1979 sampai 2009 bekerja di PT Pupuk
Kalimantan Timur dengan jabatan terakhir Direktur Utama Rumah Sakit Pupuk
Kaltim di Bontang. Saat ini masih aktif (diperbantukan) mengelola unit usaha
Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT Pupuk Kaltim selaku Direktur PT Daun
Buah yang bergerak dalam bidang Distributor Pupuk dan Jasa Konstruksi. Dan
selaku pribadi memberikan jasa konsultasi manajamen Rumah Sakit, Kesehatan
dan Lingkungan.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xxi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xxiii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xxv
1. PENDAHULUAN...........................................................................................
1.1. Latar Belakang .......................................................................................
1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah ....................................................
1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................................
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................
1.5. Kerangka Pemikiran...............................................................................

1
1
4
7
7
7

2. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................
2.1. Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir .............................................
2.1.1. Pengertian Wilayah Pesisir .......................................................
2.1.2. Batasan Wilayah Pesisir ...........................................................
2.1.3. Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir ......................................
2.2. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu (PWPT)............................
2.2.1. Prinsip Keterpaduan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir ..........
2.2.2. Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir......................
2.3. Strategi Pembangunan Berkelanjutan (Strategy of Development
Sustainability) dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya Pesisir .......
2.4. Konsep Pembangunan Wilayah Pesisir ...............................................
2.4.1. Efek Dualisme Ekonomi............................................................
2.4.2. Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory) ....................
2.4.3. Kajian-kajian Terkait Tentang Pemberdayaan Masyarakat
Pesisir........................................................................................
2.4.4. Konsep Pedesaan Wilayah Pesisir...........................................
2.5. Pembiayaan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu........
2.5.1. Anggaran Formal....................... ...............................................
2.5.2. Sektor Publik dan Kemitraan Swasta .......................................
2.6. Konsep dan Teori CSR............................. ...........................................
2.6.1. Sejarah dan Evolusi Pemikiran CSR ........................................
2.6.2. Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perusahaan (CSR) ...................................................................
2.7. Efek Dualisme Ekonomi Terhadap Pengembangan Wilayah Pesisir
Terpadu ............................. ..................................................................

11
11
11
11
12
13
14
16

42

3. METODOLOGI PENELITIAN .......................................................................
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ...............................................................
3.2. Metode Penelitian .................................................................................
3.3. Tahapan Penelitian ...............................................................................
3.4. Jenis dan Sumber Data ........................................................................
3.4.1. Data Lingkungan dan Sumber Daya Pesisir Kota Bontang .....
3.4.2. Data Sosial Ekonomi.................................................................
3.5. Metode Pengumpulan Data ..................................................................

45
45
46
46
47
48
49
49

xix

19
23
23
25
25
27
28
29
30
31
34
36

xx

3.6. Metode Analisis Data ...........................................................................
3.6.1. Analisis Kewilayahan Pesisir....................................................
1) Analisis Biogeofisik Wilayah...............................................
2) Analisis Ekonomi Wilayah .................................................
3.6.2. Analisis Keberlanjutan Pengelolaan Wilayah Pesisir ..............
3.6.3. Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR Pesisir...............

50
50
50
50
54
57

4. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................
4.1. Keadaan Wilayah Pesisir Kota Bontang ..............................................
4.1.1. Sistem Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang...
4.1.2. Sistem Sosial Ekonomi Pesisir Kota Bontang .........................
4.1.3. Gambaran Umum PKT.............................................................
4.2. Analisis Ekonomi WilayahKota Bontang ..............................................
4.2.1. Analisis Location Quotient........................................................
4.2.2. Analisis Pendapatan Jangka Pendek ......................................
4.2.3. Analisis Shift Share ..................................................................
4.2.4. Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota
Bontang ....................................................................................
4.3. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir................................................
4.3.1. Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi.....................................
4.3.2. Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi...................................
4.3.3. Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Budaya .........................
4.3.4. Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi .....
4.3.5. Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan ......
4.3.6. Status Keberlanjutan Multidimensi...........................................
4.4. Analisis Desain Strategi CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir ..................................................
4.4.1. Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR...........................
1) Analisis Kesenjangan (Gap Analysis)................................
2) Importance Performance Analysis (IPA)............................
4.4.2. Model Pelaksanaan CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi
dan Pengelolaan Wilayah Pesisir ............................................
1) Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir .........
2) Model Program Pengelolaan Wilayah Pesisir....................
4.4.3. Desain Strategi CSR Wilayah Pesisir ......................................
4.4.4. Desain Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir ....................
4.4.5. Desain Kebijakan CSR PKT.....................................................

59
59
59
77
88
99
99
101
101
102
104
104
106
108
110
112
114
117
117
117
122
124
124
127
129
130
132

5. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 133
5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 133
5.2. Saran ................................................................................................... 134
DAFT AR PUSTAKA........................................................................................... 135
LAMPIRAN ........................................................................................................ 139

DAFTAR TABEL
Halaman
1.

Perbedaan -Persamaan CSR dan PKBL..................................................

37

2.

Lokasi Penelitian berdasarkan Jenis Wilayah ..........................................

46

3.

Jenis dan Sumber Data Sekunder ............................................................

48

4.

Jenis dan Sumber Data Primer.................................................................

49

5.

Jenis dan Sumber Data Sekunder ............................................................

49

6.

Matriks Ringkasan Konsep Pusat Pembangunan dan Pusat
Pertumbuhan………………………………………………… .......................

54

Kategori Status Keberlanjutan wilayah pesisir berdasarkan Nilai
Indeks Hasil Analisis MDS ........................................................................

55

Kondisi Perikanan Berdasarkan Gross Tonage (GT) perahu, alat
tangkap dan hasil tangkapan nelayan Kota Bontang ...............................

61

Asumsi dan Prediksi Hasil Tangkapan dengan Peningkatan
UpayaTangkap (Fishing Effort) .................................................................

62

Presentase Penutupan dan Jenis Seagrass di perairan sekitar
Bontang Kuala dan Tanjung Limau ..........................................................

64

11.

Potensi Lahan Budidaya Rumput Laut .....................................................

65

12.

Jenis dan Kondisi Mangrove di Sungai Guntung .....................................

66

13.

Jenis dan Kondisi Mangrove di Sungai Bontang Kuala ...........................

67

14.

Percent Coverage Komponen Biotik dan Abiotik di Setiap Stasiun
Terumbu Karang .......................................................................................

69

15.

Nilai r-k-s Berdasarkan Morfologi Karang.................................................

71

16.

Kegiatan Pariwisata di Pesisir Kota Bontang ...........................................

74

17.

Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan 2010 ........................

78

18.

Luas wilayah dan kepadatan penduduk Kecamatan 2010 ......................

78

19.

Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan
Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (%) 2006-2009 ...............

81

Kontribusi Sub Sektor Perikanan dan Industri Migas Bagi PDRB atas
Dasar Harga Konstan Kota Bontang Tahun 2006-2009 ..........................

81

Keadaan Prasarana dan Sarana Pendidikan tiap Kecamatan di
Wilayah Kota Bontang...............................................................................

85

7.
8.
9.
10.

20.
21.

xxi

xxii

22.

Keadaan Prasarana dan Sarana Kesehatan tiap Kecamatan di
Wilayah Kota Bontang ............................................................................... 85

23.

Keadaan Prasarana dan Sarana Peribadatan tiap Kecamatan di
Wilayah Kota Bontang ............................................................................... 85

24.

Keadaan Prasarana dan Sarana Transportasi di Wilayah Kota
Bontang...................................................................................................... 86

25.

Perkembangan Industri Pengolahan dan PDRB Bontang Periode
2005-2009 dengan Harga Konstan Tahun 2000 (dalam juta)................... 99

26.

Perbandingan Hasil Perhitungan LQ Pada Industri Pengolahan
Dengan Migas dan Tanpa Migas di Bontang Periode 2005-2009 ............ 100

27.

Hasil Perhitungan Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Sektor
Industri Pengolahan di Bontang Periode 2005-2009 (dalam juta)........... 101

28.

Hasil Perhitungan Analisis Shift Share Bontang 2005-2009 (dalam
juta) ............................................................................................................ 102

29.

Nilai Stress dan Squared Correlation (RSQ) dari hasil analisis MDS ...... 116

DAFTAR GAMBAR

1.

Halaman
Kerangka Pemikiran Penelitian ..................................................................
9

2.

Batasan Wilayah Pesisir (Pernetta dan Milliman, 1995) ............................

12

3.

Kerangka Kerja Strategi Pembangunan Berkelanjutan (PEMSEA,
2003) ...........................................................................................................

20

4.

AcuanPelaksanaan CSR berdasarkan ISO 26000 ....................................

38

5.

Scematic overview of ISO 26000 ...............................................................

39

6.

Peta Lokasi Penelitian ................................................................................

45

7.

Tahapan Penelitian .....................................................................................

47

8.

Importance Performance Analysis..............................................................

58

9.

Peta StasiunTerumbu Karang ....................................................................

70

10. Bagan Struktur Organisasi PKT .................................................................

91

11. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Ekologis Bontang .......................... 105
12. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Ekologis Bontang ................... 106
13. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Ekonomi Bontang .......................... 107
14. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Ekonomi Bontang................... 108
15. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Sosial Budaya Bontang................. 109
16. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Sosial Budaya Bontang.......... 109
17. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi
wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 111
18. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi
wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 111
19. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan
wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 113
20. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan
wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 113
21. Diagram Layang Perbandingan Hasil Analisis MDS terhadap tingkat
keberlanjutan wilayah pesisir Bontang ....................................................... 115
22. Penilaian Masyarakat terhadap Kinerja Indikator CSR.............................. 120
23. Penilaian Masyarakat terhadap Indikator Kepentingan CSR..................... 121
24. Perbandingan indikator kinerja CSR terhadap harapan masyarakat ........ 122
25. Diagram Performance dan Importance indikator CSR............................... 123

xxiii

xxiv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1.

Bagan Struktur Organisasi PKT ................................................................. 141

2.

Hasil Tabulasi Score Indikator Keberlanjutan Sumberdaya Wilayah
Pesisir.......................................................................................................... 142

3.

Hasil Tabulasi Responden tentang Persepsi Pelaksanaan CSR PKT ...... 144

4.

Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Kinerja CSR PKT.............. 157

5.

Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Tingkat
Kepentingan CSR PKT ............................................................................... 158

6.

Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja
CSR PKT..................................................................................................... 159

7.

Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Kinerja Program
160
CSR PKT.....................................................................................................

8.

Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Tingkat
Kepentingan Program CSR PKT ................................................................ 161

9.

Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja Program
CSR PKT..................................................................................................... 162

10. Tabulasi Keterkaitan Mitra Binaan (Program Kemitraan) .......................... 163
11. Daftar Mitra Binaan PKT di sektor Perikanan dan Kelautan ...................... 164

xxv

xxvi

1. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Mengembangkan ekonomi masyarakat pesisir memiliki tingkat kesulitan

yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan pedalaman. Hal ini disebabkan
karena kawasan pesisir memiliki karakteristik sumberdaya alam yang berbeda
yang selanjutnya mempengaruhi tindakan dan aksi pelaku ekonominya. Jadi
kondisi alam membuat perbedaan masyarakat dalam pandangan, sikap, dan
tindakan mereka dalam hal mengembangkan wilayah pesisir. Perbedaan cara
pandang inilah yang seharusnya dipahami pengambil keputusan yang terkait
dengan pembangunan kawasan pesisir. Pemahaman ini sangat diperlukan
supaya pembangunan ekonomi di kawasan pesisir tepat arah, sasaran, guna dan
manfaat.
Chua dan Pauly (1989) mengelompokkan degradasi dan marjinalisasi
kawasan yang terjadi di Indonesia disebabkan (1) Sebagian besar sumberdaya
hayati pesisir mengalami eksploitasi lebih dan ekosistem pesisir mengalami
tekanan berat; (2) Terjadi degradasi lingkungan karena kerusakan dan polusi dari
laut dan darat; (3) Sebagian besar penduduk hidup dalam kondisi miskin,
sementara proses pemiskinan berlangsung terus dan di pihak lain makin terjadi
ketimpangan pendapatan; (4) Instansi yang ada tidak dapat menjawab masalahmasalah yang muncul; (5) Penegakan hukum tidak berjalan dengan baik; (6)
Sangat kurang apresiasi publik terhadap pengelolaan yang berkelanjutan; (7)
Sangat kurang pelaksanaan pembangunan secara terintegrasi; (8) Sangat
rendah kapasitas masyarakat, meskipun potensi yang ada cukup besar.
Kota Bontang di Propinsi Kalimantan Timur memiliki luas wilayah 49.757
Ha, dimana sekitar 34.977 Ha (70,29%) diantaranya merupakan wilayah pesisir
atau laut, sehingga karakteristik masyarakat Kota Bontang tentunya sangat
dipengaruhi oleh kehidupan pesisir dan laut. Masyarakat Kota Bontang
merupakan

masyarakat

heterogen

yang

terbentuk

secara

genekologis

(perkawinan) dan teritorial (bersama menempati suatu wilayah dalam mencari

2

penghidupan) dari berbagai etnis. Tercatat hampir 60-70% penduduknya adalah
pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan (etnis Bugis).
Dengan dibukanya Kota Bontang sebagai kawasan industri yang
digerakan oleh industri pengolahan gas alam cair PT. Badak NGL (BADAK) dan
PT. Pupuk Kaltim (PKT) menjadi faktor pendorong bagi para pendatang untuk
masuk wilayah ini dengan tujuan utama untuk mendapatkan pekerjaan. Pada
umumnya para pendatang yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang cukup
akan direspon pasar kerja dengan hasil yang lebihbaik.
Kebutuhan tenaga kerja dengan spesifikasi keterampilan tertentu telah
menjadi persoalan tersendiri di Kota Bontang. Kondisi ini dapat dilihat dari
penyerapan tenaga kerja untuk industri pengilangan gas alam cair dan industri
pupuk banyak menggunakan tenaga kerja dari luar Kota Bontang, dimana
BADAK dan PKT mensyaratkan kualitas yang tinggi dalam penyerapan tenaga
kerja yang belum dapat dipenuhi tenaga kerja lokal. Dalam lima tahun terakhir
yakni tahun 2006 sampai 2010, tercatat hanya 427 orang yang diterima sebagai
karyawan tetap PKT, terdiri dari 46% tenaga kerja lokal dan 54% berasal dari luar
Kota Bontang, sementara rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per
tahun atau 3.120 jiwa per tahun. Dengan keberadaan dua perusahaan besar ini
adalah wajar jika jumlah penduduk Kota Bontang senantiasa bertambah.
Pembangunan kawasan industri dan kegiatan operasionalnya di wilayah
pesisir Kota Bontang juga menyebabkan perubahan ekologis yang memberikan
tekanan signifikan terhadap ekosistem wilayah pesisir, dimana pada akhirnya
dapat mengubah struktur pemanfaatan ruang pesisir Kota Bontang. Tekanan
terhadap sumberdaya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan
di wilayah tersebut serta rendahnya pemahaman akan upaya konservasi.
Kemiskinan sering pula menjadi lingkaran setan (vicious circle) dimana penduduk
yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir. Namun
penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan
lingkungan. Salah satu aspek pengelolaan wilayah pesisir yang baik adalah
dengan mencarikan alternatif pendapatan sehingga mengurangi tekanan
penduduk terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir.

3

Kondisi ini menuntut agar Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau
Corporate Social Responsibility (CSR) wajib lebih berperan dalam pembangunan
di Kota Bontang, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat serta
pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara terpadu di Kota Bontang.
CSR adalah upaya yang wajib dilakukan oleh suatu perusahaan untuk
mempertanggungjawabkan dampak operasionalnya terhadap pembangunan
yang berkelanjutan (sustainable development), dimana konsep pembangunan
berkelanjutan tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi (economic growth),
kelestarian terhadap lingkungan (environmental protection), dan kesetaraan
sosial (social equity). Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan
ekonomi semata (profit), melainkan juga memiliki kepedulian terhadap
kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people).
Pelaksanaan CSR di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang No. 40
tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Didalam Undang-Undang ini pada pasal
74 dinyatakan bahwa semua Perseroan Terbatas wajib hukumnya melaksanakan
tanggung jawab sosial (CSR), sehingga CSR menjadi bagian dari rencana
penganggaran perusahaan.
Sementara itu perusahaan negara berbentuk Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) memiliki acuan pelaksanaan tanggung jawab sosial berdasarkan
Undang-Undang BUMN Pasal 2 ayat (1) huruf e dan Pasal 88 ayat (1) UU No. 19
Tahun 2003 jo. Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-05/MBU/2007.
Didalam ketentuan tersebut semua BUMN yang berada dibawah pengelolaan
pemerintahan Indonesia wajib melaksanakan Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan (PKBL), dimana dananya adalah alokasi dari sisa keuntungan
perusahaan sebesar maksimal 2% untuk masing-masing kegiatan.
Dengan dasar pemikiran seperti yang telah diterangkan diatas, maka
perlu dilakukan suatu kajian tentang ”Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya
Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim)”.

4

1.2.

Identifikasi dan Perumusan Masalah
Potensi yang begitu besar dimiliki Kota Bontang, baik sumberdaya alam

yang dapat pulih maupun yang tidak dapat pulih, merupakan tumpuan
pembangunan Kota Bontang dimasa yang akan datang, dimana segenap aktifitas
serta permukimannya dengan derap pembangunan yang sangat intensif berada
di kawasan pesisir. Kenyataan menunjukkan bahwa besarnya tekanan penduduk
dengan dinamika sosial ekonomi dan tuntutan pemerintah daerah untuk
memperoleh sumber dana bagi peningkatan akselerasi pembangunan telah
memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan hidup dan
sumberdaya alam yang menjadi modal pembangunan masa kini dan masa yang
akan datang.
Isu dan permasalahan di pesisir Kota Bontang tidak jauh beda dengan
permasalahan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia. Permasalahan yang ada
berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir oleh manusia. Pemanfaatan
sumberdaya ini selalu menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi fisik pesisir
Kota Bontang. Kerusakan fisik lingkungan antara lain disebabkan oleh adanya
aktivitas di darat dan aktivitas di laut. Kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas
di darat adalah pencemaran akibat limbah buangan industri dan rumahtangga,
sedangkan aktivitas di laut adalah adanya abrasi pantai, sedimentasi di dasar
perairan pantai, dan kerusakan ekosistem terumbu karang serta ekosistem
pesisir lainnya.
Kerusakan fisik lingkungan ini tidak terlepas dari adanya konflik
pemanfaatan ruang dari berbagai kegiatan yang ada di pesisir Kota Bontang. Di
kawasan pesisir Kota Bontang, intensitas penggunaan atau pemanfaatan ruang
cukup tinggi sehingga berpeluang timbulnya masalah yang berakibat negatif bagi
keberlanjutan keberadaan sumberdaya alam pesisir Kota Bontang.
Hasil penelitian UGM (2001), Sucofindo (2001), UNDIP (2002) dan IPB
(2010) menunjukkan adanya pencemaran, erosi, degradasi fisik habitat potensial
seperti mangrove dan terumbu karang, serta konflik penggunaan ruang dan
sumberdaya di kawasan pesisir dan laut kota Bontang, yang pada akhirnya
mengancam kelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.

5

Diperkirakan sekitar 100 Ha lahan mangrove telah beralih fungsi menjadi
kawasan pabrik industri PKT sejak tahun 1979, disamping itu dari pengamatan
transect line terumbu karang sepanjang 32 km di areal pesisir PKT, hanya sekitar
5 km (15%) saja yang berada dalam kondisi normal, selebihnya 21 km (66%)
dalam keadaan rusak dan 6 km (19%) dalam kondisi transisi, hal ini terjadi akibat
aktivitas dredging dan dumping sekitar 247.000 m 3 pasir laut pada saat
pembangunan dermaga dan pabrik PKT.
Permasalahan yang berkembang di kawasanpesisirkotaBontang, antara
lain (Sucofindo, 2001; UGM, 2001; UNDIP, 2002; IPB, 2010) :


Kawasan pesisir dan laut Kota Bontang saat ini dimanfaatkan untuk berbagai
kegiatan yaitu industri (PKT, BADAK, PT. Indominco), kawasan lindung
(Taman Nasional Kutai), permukiman, pertambakan, budidaya laut, alur
pelayaran, pelabuhan, daerah penangkapan ikan dan pariwisata. Kaitannya
dengan penggunaan ruang oleh industri besar yang ada diwilayah ini, belum
ada kajian yang membahas tentang kontribusi industri terhadap masyarakat
dan sumberdaya pesisir, baik secara langsung maupun tidak langsung.



Terjadinya degradasi lingkungan di beberapa lokasi di Kota Bontang antara
lain : kerusakan terumbu karang, abrasi laut yang menyebabkan pulau-pulau
kecil menjadi berkurang luasannya, misalnya Pulau Beras Basah yang
menjadi andalan pariwisata Kota Bontang, hutan mangrove yang dialihkan
penggunaannya untuk pertambakan dan pemanfaatan lainnya.



Intensitas aktivitas industri yang terus meningkat di Kota Bontang terutama
industri pengolahan berskala besar seperti PKTdanBADAK yang membuang
residu/limbah pabrik ke laut, mengakibatkan terjadinya pencemaran di
wilayah pesisir dan lautan.



Masih dominannya sektor industri migas yang mengandalkan eksploitasi
sumberdaya tak terbaharui (non-renewable resources) sementara sektorsektor yang berkaitan dengan kawasan pesisir dan laut masih tertinggal.



Adanya rencana pengembangan Kota Bontang yaitu perluasan kawasan
pesisir yang mencakup Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara,
rencana penggunaan lahan di wilayah perluasan Kota Bontang, rencana
pemanfaatan kawasan pesisir kota Bontang sampai tahun 2027 yang meliputi

6

kawasan lindung, kawasan budidaya, pariwisata, perikanan tangkap, industri,
pemukiman. Rencana tersebut selama ini belum didukung dengan kajian
ilmiah penetapan kawasan. Untuk itulah pemerintah Kota Bontang melalui
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) bekerjasama dengan
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB telah menerbitkan
Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah
(RTRW) yang mengatur hal tersebut.


Masih tingginya tuntutan dan harapan masyarakat terhadap PKTterutama di
wilayah bufferzone. Hal tersebut perlu direspon secara proporsional oleh
perusahaan sehingga tercipta suasana kondusif. Suasana yang kondusif
sangat diperlukan perusahaan untuk bisa melakukan kegiatan produksi yang
berkelanjutan.



Adanya pergerseran kepemilikan dunia usaha, dari kepemilikan pribadi
menjadi kepemilikan publik. Secara tidak langsung hal ini bermakna
perusahaan tidak lagi hanya sebatas institusi bisnis, tetapi telah bergeser
menjadi institusi sosial. Dunia usaha tidak hanya bertugas mencari
keuntungan, tetapi juga harus berperan menjadi institusi yang memiliki
tanggungjawab sosial.



Kesadaran akan pentingnya CSR menjadi trend global seiring dengan
semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk
yang ramah lingkungan dan produksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah
sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).



Trend global lainnya di bidang pasar modal adalah penerapan indeks yang
memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang telah mempraktikkan
program CSR.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas,

maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1) Bagaimanaperan PKTterhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan
pengelolaan sumberdaya pesisir di Kota Bontang ?
2) Bagaimana tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah
pesisir di Kota Bontang ?

7

3) Bagaimana efektifitas dan keberlangsungan program CSR PKT di Kota
Bontang ?
4) Bagaimana strategi CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan
pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang
1.3.

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan permasalahan yang ada, maka tujuan

penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Menganalisis peran PKT terhadap peningkatan perekonomian Kota Bontang
2) Menganalisis tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah
pesisir di Kota Bontang.
3) Merumuskan strategi CSR PKT dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat
dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang
1.4.

Manfaat Penelitian

1) Masukan bagi pemerintah Kota Bontang, bagi proses perencanaan dan
pengambil kebijakan dalam kaitannya kontribusi industri-industri besar yang
ada di Kota Bontang terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan
sumberdaya pesisir.
2) Masukan bagi pengambil kebijakan di lingkungan PKT, khususnya dalam
implementasi program CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan
sumberdaya pesisir Kota Bontang.
1.5.

Kerangka Pemikiran
Kebijakan pemerintah Kota Bontang berdasarkan arahan pemanfaatan

ruang khususnya di wilayah pesisir lebih diarahkan pada pengembangan industri
khususnya pengembangan industri PKT.Karena perusahaan besar tersebut
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap terlaksananya pengelolaan
wilayah pesisir terpadu, dan peningkatan perekonomian Kota Bontang.
Saat ini dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Kota
Bontang, persaingan pemanfaatan ruang semakin ketat terutama masyarakat

8

yang bermukim di wilayah pesisir termasuk yang mempunyai mata pencaharian
nelayan maupun petani ikan. Disatu sisi, perusahaan besar semakin berkembang
dan disisi lain masyarakat disekitarnya semakin termarginalkan. Hal ini
disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat pesisir dan semakin
langkanya sumberdaya pesisir yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Oleh
karena itu perlu upaya yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kota Bontang.
Kegiatan

usaha

PKT

banyak

bersinggungan

dengan

beragam

stakeholders, khususnya masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi pabrik yaitu
wilayah pesisir Kota Bontang. Terkait hal tersebut, perusahaan memandang dan
sudah berkomitmen bahwa program CSR sebagai kegiatan yang sangat penting
baik bagi kepentingan perusahaan, lingkungan maupun masyarakat itu sendiri.
Untuk merealisasikan upaya tersebut perlu dilakukan analisis seberapa
besar kontribusi ekonomi dan tehnis dari PKT terhadap pengelolaan wilayah
pesisir terpadu, sehingga kedepan dapat dibuat suatu perencanaan CSR yang
terpadu sehingga baik bantuan yang diberikan berupa hibah, modal kerja,
pelatihan maupun fasilitas yang dibutuhkan dalam pemberdayaan ekonomi
masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang dapat dilakukan
secara terpadu dan berkelanjutan.
Program-program tersebut semuanya didasarkan pada potensi daerah
serta kebijakan pemerintah Kota Bontang. Adapun kerangka pemikiran penelitian
mengenai tanggung jawa bsosial (CSR) PKT dalam pemberdayaan ekonomi
masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang.
Dalam kerangka pikir penelitian ini, diawali dengan mengidentifikasi
kondisi potensi sumberdaya wilayah pesisir Kota Bontang, kemudian dilanjutkan
melihat kondis iperusahaan yang ada (khususnya PKT). Dalam proses kegiatan
perusahaan (PKT) kaitannya dengan sumberdaya wilayah pesisir akan dikaji baik
dari aspek sumberdaya pesisirnya maupun dari aspek ekonominya sehingga
diharapkan dari aspek ekonomi dapat memberikan kontribusi terhadap PAD,
keuntungan bagi perusahaan dan secara sosial dapat mensejahterakan

9

masyarakat di sekitarnya serta dari aspek sumberdaya pesisir

dapat

dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Kajian dalam penelitian ini difokuskan pada bagaimana penerapan
tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan (PKT) terhadap pemberdayaan
ekonomi masyarakat pesisir, sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat
kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat disekitarnya dan sumberdaya
pesisir tetap terjaga kelestariannya. Untuk itu perlu merumuskan suatu desain
strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir
khususnya di Kota Bontang. Secara lengkap kerangka fikir penelitian ini disajikan
pada Gambar 1.

P OTE N SI
S U MB E R D AY A
WI L AY A H PE SI SI R
K OTA B ON TA N G

PE R U S A HA A N
IN D U S TR I (P K T)

A NA LI SI S
BI OGE OFI S IK

AS PE K
S U MB E R D AY A
PE SI SI R

A NA LI SI S EK ON OM I
R E GI ON AL

AS PE K E K ON OM I
WI L AY A H

C OR P OR A TE S OC I AL
R ES P ON SI BI LI TY (C S R )

EK ON OM I
M AS YA R A KA T

A NA LI SI S PE R S EP SI
K ON D IS I LI N GK U N GA N DA N
S U MB E R D A YA P ES IS I R K OTA
B ON TA N G
AI N TA
S TR
A NA LI SI S E D
FEES
K TIVI
S A TE GI
C S R D AL A M P E MB E R DA Y AA N
EK ON OM I M AS YA R A KA T DA N
S U MB E R D AY A PE SI SI R

A NA LI SI S
S US TAI N A BI LI TY
PE N GE L OL AA N WI LA Y A H PE SI SI R
SE C A R A TE RP A D U D A N
BE R KE L A N JU TA N (P WP T)

Gambar 1.Kerangka Pemikiran

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir
2.1.1

Pengertian Wilayah Pesisir
Definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah

pertemuan antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian
daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut
seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin; sedangkan kearah laut
wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh prosesproses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan
hutan dan perencanaan (Soegiarto, 1976; Dahuri, 1996).
2.1.2

Batasan Wilayah Pesisir
Dahuri (1996), mengemukakan bahwa pertanyaan yang seringkali muncul

dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas
dari suatu wilayah pesisir (coastal zone). Sampai sekarang belum ada definisi
wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di
dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara wilayah
daratan dan laut. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu
wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu : batas yang
sejajar dengan garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap
garis pantai (cross-shore).
Berdasarkan kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat dari suatu
wilayah pesisir dapat ditetapkan sebanyak dua macam, yaitu batas untuk wilayah
perencanaan (planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation
zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day

management). Wilayah

perencanaan sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat
kegiatan manusia (pembangunan) yang dapat menimbulkan dampak secara
nyata (significant) terhadap lingkungan dan sumberdaya di pesisir. Oleh karena
itu, batas wilayah pesisir kearah darat untuk kepentingan perencanaan (Planning
zone) dapat sangat jauh ke arah hulu, misalnya kota Bandung untuk kawasan

12

pesisir dari DAS Citarum. Jika suatu program pengelolaan wilayah pesisir
menetapkan dua batasan pengelolaannya (wilayah perencanaan dan wilayah
pengaturan), maka wilayah perencanaan selalu lebih luas dari pada wilayah
pengaturan (Dahuri, 1996). Batas wilayah pesisir menurut Pernetta dan Milliman
(1995) disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Batasan Wilayah Pesisir (Pernetta dan Milliman, 1995)

2.1.3

Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir
Dengan garis pantai terpanjang kedua didunia setelah Kanada, yaitu

81.000 km serta wilayah laut yang luas

Dokumen yang terkait

Design strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the economic empowerment of local communities and coastal resources management in Bontang (case study of PT Pupuk Kaltim)