Analisis pendapatan usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KANGKUNG ORGANIK
PETANI BINAAN AGRIBUSINESS DEVELOPMENT CENTER (ADC)
DI KABUPATEN BOGOR

Nur Ikhsan Ramdhani Yusuf
109092000007

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis

Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR
HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI
SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU
LEMBAGA MANA PUN.

Jakarta, Mei 2015

Nur Ikhsan Ramdhani Yusuf
NIM. 109092000007

Data Diri
Nama
Jenis Kelamin
Tempat/ Tanggal Lahir
Status
Agama
Berat Badan
Tinggi Badan
Alamat
Handphone
Email
IPK

:
:
:
:
:
:
:
:

Nur Ikhsan Ramdhani Yusuf
Laki-laki
Tangerang, 17 April 1989
Belum menikah
Islam
65 kg
170 cm
Griya Merpati Mas blok C34 No.8 RT/RW 08/09, Kelurahan
Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang- Banten 15133
: 081297360144/ 085715611378
: ikhsanramdhani170489@gmail.com
: 3, 15

Pendidikan Formal
2009- 2015
2005- 2008
2001- 2004
1995- 2001

: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian/ Agribisnis
: SMK Angkasa 1 Tangerang
: SMP Negeri 1 Pasar Kamis Tangerang
: SD Negeri Doyong 1 Tangerang

Pengalaman Orgnanisasi
2010
2011- 2013
2012
2012- 2013
2013- 2014

: Staff Departemen Kerohanian, Olahraga dan Seni Badan Eksekutif
Mahasiswa Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
: Ketua
Legislatif
Ikatan
Senat
Mahasiswa
Pertanian
Indonesia (ISMPI)
: Ketua Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
: Kepala Divisi Kemahasiswaan Dewan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
: Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

CURRICULUM VITAE
NUR IKHSAN RAMDHANI YUSUF

Pengalaman Kegiatan
2010
2010
2011
2011
2012
2012
2013
2013

2013

2013
2013
2014

: Pelatihan Advokasi Mahasiswa Pertanian Ikatan Senat Mahasiswa
Pertanian Indonesia (ISMPI) di UPN Veteran -Yogyakarta
: Musyawarah Kerja Wilayah IX Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian
Indonesia (ISMPI) di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Banten
: Kemah Bhakti Tani Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian
Indonesia (ISMPI) di Universitas Pekalongan - Jawa Tengah
: Musyawarah Nasional IX Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian
Indonesia (ISMPI) di Universitas Medan Area - Sumatera Utara
: Pelatihan Kewirausahaan Kementerian Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
: Musyawarah Kerja Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian
Indonesia (ISMPI) di Universitas Gadjah Mada - Yogyakarta
: Kemah Bhakti Tani Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian
Indonesia (ISMPI) di Institut Pertanian Yogyakarta - Yogyakarta
: Musyawarah Nasional Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa
Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) di Universitas
Muhammadiyah Malang - Jawa Timur
: Simposium Internasional Mahasiswa Pertanian Ikatan Senat
Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) di Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa - Banten
: Workshop Jurnalistik dan Kehumasan di UIN Syarif HidayatullahJakarta
: Seminar Ecology, Sanitation, and Water Resources Management di
Denpasar
: Musyawarah
Nasional
X
Ikatan
Senat
Mahasiswa
Pertanian Indonesia (ISMPI) di Universitas Syah Kuala - Aceh

Pengalaman Kerja
2010
2011
2012
2013
2014

: Panitia Pusat Deklarasi Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia
(PISPI)
: Event Organization Sirih Besar Jakarta
: Praktek Kerja Lapang di PT. Japfa Comfeed Indonesia
: Surveyor Lembaga Survey Indonesia (LSI)
: Jokowi Advance Social Media Volunteer

RINGKASAN

Nur Ikhsan Ramdhani Yusuf. 109092000007. Analisis Pendapatan Usahatani
Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor. (Dibawah bimbingan Siti Rochaeni dan Junaidi)

Peranan usahatani bagi masyarakat pedesaan sangat penting untuk dikelola
oleh petani yang memiliki keterbatasan modal dan lahan antara lain subsektor
hortikulutra. Subsektor hortikultura terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran,
tanaman hias, dan tanaman obat. Salah satu produk hortikultura yang sangat
prospektif dikembangkan adalah sayuran. Sayuran secara ekonomis memiliki nilai
tambah dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan apabila mampu dikelola dengan baik. Selain itu,
sayuran termasuk bahan yang dibutuhkan oleh tubuh dan banyak dikonsumsi oleh
masyarakat serta cukup potensial untuk dijadikan peluang usaha. Oleh sebab itu,
adanya keberadaan Agribusiness Development Center (ADC) sebagai lembaga
yang membina petani sayuran, salah satunya kangkung organik mencoba
berupaya untuk mengembangkan produk-produk hortikultura di antara kangkung
organik agar mampu memiliki harga jual tinggi, menjadi sarana pembelajaran
teknis budidaya, sekaligus menjadi pusat pengembangan pasar, sehingga petani
tidak selalu didikte oleh pasar dan mampu meningkatkan pendapatan, sekaligus
memberikan jawaban atas usahatani yang dilakukan petani layak atau tidak untuk
dilanjutkan.
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Menganalisis biaya usahatani
kangkung organik petani binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor, 2) Menganalisis pendapatan usahatani kangkung organik
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor, 3) Menganalisis
tingkat pendapatan usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness
Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor dengan menggunakan R/C
Ratio, B/C Ratio, Break Event Point dan Payback Period.
Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan cara sengaja (purposive), di
mana lokasi tersebut adalah Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor yang beralamat di desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh secara langsung dari responden dengan menggunakan
kuisioner dan wawancara dengan pihak terkait. Sedangkan data sekunder meliputi
gambaran umum wilayah penelitian, data penduduk, jurnal, buku dan instansi
terkait. Metode penentuan sampel dilakukan dengan cara sensus, artinya seluruh
petani responden binaan Agribusiness Development Center (ADC) sebanyak 16
petani meliputi 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Ciampea, Kecamatan
Cibungbulang, Kecamatan Dramaga dan Kecamatan Leuwiliang melalui
perhitungan menggunakan R/C Ratio, B/C Ratio, Break Event Point dan Payback
Period. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel dan kalkukator.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Biaya usahatani kangkung
organik petani binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten

Bogor sebesar Rp17.985.220,-/tahun dengan nilai rata-rata lahan seluas 575 M2.
2) Pendapatan usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness
Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor sebesar Rp45.801.580,M2/tahun dengan nilai rata-rata lahan seluas 575 M2. 3) Analisis pendapatan
usahatani sayuran kangkung organik petani binaan Agribusiness Development
Center (ADC) di Kabupaten Bogor dari hasil rasio penerimaan atas biaya (R/C
rasio) sebesar 3,55 (layak), rasio keuntungan atas biaya (B/C Rasio) sebesar 2,55
(layak), BEP produksi/volume mendapatkan nilai sebesar 2.569 Kg/tahun/M2,
sedangkan BEP harga mendapatkan nilai Rp1.973,-/Kg/tahun/M2 dan payback
period (PP) sebesar 1,48.

Kata kunci: Pendapatan, Usahatani, Sayuran Kangkung Organik, Agribusiness
Development Center (ADC), Kabupaten Bogor.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan penelitian ini dengan judul “Analisis Pendapatan Usahatani
Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor”. Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk
menyelesaikan program studi Strata-1 di Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penulisan ini, penulis banyak mendapatkan bantuan baik berupa
materil dan moral yang sangat berarti dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya
kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, bapak Mad Yusuf dan mama Nurhayati yang
tidak pernah letih memberikan kasih sayang, doa, nasihat, motivasi, saran
dan dorongan moril maupun materil. Sesungguhnya ananda tidak akan
pernah dapat membalas semua itu, semoga Allah S.W.T selalu
memberikan pahala, berkah, kasih sayang, ridho dan perlindungan kepada
bapak dan mama atas perjuangannya. Aamiin.
2. Kakak dan adik tersayang, Yusmiati dan Yunita yang turut memberikan
do’a, semangat dan keceriaan. Semoga Allah S.W.T selalu memberikan
karunia-Nya. Aamiin.
3. Bapak Dr. Agus Salim, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Dr. Elpawati. MP selaku Ketua Program Studi Sosial Ekonomi
Pertanian/ Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
5. Ir. Siti Rochaeni, M.Si selaku Dosen Pembimbing 1 dan Ir. Junaidi, M.Si
selaku Dosen Pembimbing 2 yang telah membimbing, memberikan saran,
motivasi nasihat dan arahan sekaligus meluangkan waktu, tenaga dan
pemikiran dalam penyusunan skripsi kepada penulis.
6. Dr. Yon Girie Mulyono, M.Si selaku Dosen Penguji 1 dan Achmad Tjahja
Nugraha, MP selaku Dosen Penguji 2 dalam sidang munaqosah skripsi
yang telah memberikan saran, motivasi, nasihat dan arahan untuk
kesempurnaan skripsi kepada penulis.
7. Seluruh dosen pengajar Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian/
Agribisnis yang tidak dapat disebutkan satu per satu tanpa mengurangi
rasa hormat atas segala ilmu dan pelajaran dalam perkuliahan maupun di
luar perkuliahan.
8. Bapak

Tisna

Prasetyo

dan

seluruh

petani

binaan

Agribusiness

Development Center (ADC) untuk bimbingannya dan kebersamaannya.
9. Teman-teman Agribisnis 2009 atas kebersamaan, kekeluargaan dan
keceriaan yang telah kita ukir bersama semoga menjadi sejarah yang tidak
pernah dilupakan.
10. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Jurusan Agribisnis atas proses yang
turut mengantarkan penulis ke dalam realita perjuangan dan kebersamaan
untuk bermanfaat.

11. Keluarga besar Dewan Eksekutif Mahasiswa yang telah hadir bersama
untuk membawa energi cemerlang, gemilang dan terbilang. Semoga apa
yang telah dilakukan bisa menjadi lentera untuk perjalan hidup kita.
Aamiin. Hidup Mahasiswa..!!!
12. Keluarga besar Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) dan
Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian
Indonesia (POPMASEPI) atas segala pertanyaan dan jawaban untuk
pertanian Indonesia. Hidup Mahasiswa Pertanian Indonesia..!!!
13. Sahabat bermimpi untuk Ito Hadiansyah, Rino Mardani, Gita Ramadhan,
Prasetyo, Dian Friyana dan yang lain-lain yang tidak bisa penulis tuliskan
semuanya atas semua pelajaran kehidupan. Semoga tetap 5 cm semua
mimpi di depan kening kalian. Keep Fighting Bro.
14. Senior sekaligus kakak-kakak bagi penulis untuk bang Husnul, bang Ano,
bang Fadlik, bang Aang, kak Jeje, bang Angger, bang Heru, bang Tatag,
bang Lisan, bang Iki, bang Evan, Imay dan Hatem atas bimbingannya
mengarungi lika-liku perkuliahan dan organisasi.
15. Kawan-kawan perjuangan, satu tujuan, satu penanggungan dan satu
gagasan kepada Jazil, Ade, Jamal, Slamet, Endang, Rahman, Azzam,
Hariry, Latipeh, Benita, Zahid, Agung, Esa, Kudel, Koi, Dwina, Bella dan
semuanya yang telah mampu hadir di antara indahnya kehidupan penulis.
16. Salwati Syarifah, SP atas semua keputusannya untuk bersedia mengarungi
sebagian langkah penulis dalam melewati dinamika kehidupannya. Kisah
ini telah menjadi energi yang mudah-mudahan merengkuh semua mimpi. I
Love You.

17. Semua pihak yang telah membantu namun tidak dapat penulis tuliskan
satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat. Terimakasih banyak.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan penelitian ini.
Penulis berharap semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Semoga Allah S.W.T memberkahi kita semua. Aamiin Ya Robbal A’lamin.

Jakarta, Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI

i

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vii

BAB I. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Rumusan Masalah

7

1.3. Tujuan Penelitian

8

1.4. Manfaat Penelitian

8

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

9

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendapatan
2.1.1. Pendapatan Usahatani
2.1.2. Analisis Pendapatan Usahatani
2.1.3. Biaya Produksi Usahatani
2.1.4. Harga Jual
2.1.5. Penerimaan Usahatani

10
10
10
12
15
16
18

2.2. Usahatani

18

2.3. Pertanian Organik

21

2.3.1. Pupuk

23

2.4. Hortikultura

24

2.5. Kangkung

26

2.5.1. Syarat Tumbuh Kangkung
2.5.2. Penanaman Kangkung
2.5.3. Manfaat Kangkung
2.3.4. Hama dan Penyakit

26
27
27
28

2.6. Kerangka Pemikiran

29

2.7. Penelitian Terdahulu

30
i

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

33

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

33

3.2. Jenis Dan Sumber Data

33

3.3. Metode Pengambilan Sampel

34

3.4. Metode Pengumpulan Data

34

3.5. Metode Analisis Data

36

3.5.1. Analisis Pendapatan Usahatani Kangkung Organik Petani
Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor
36
3.5.2. Analisis Rasio Penerimaan atas Biaya (R/C Rasio)
37
3.5.3. Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio)
38
3.5.4. Analisis Break Event Point (BEP)
38
3.5.5. Payback Period (PP)
39
3.6. Definisi Operasional

39

BAB IV. GAMBARAN UMUM

41

4.1. Agribusiness Development Center (ADC)

41

4.2. Lokasi Penelitian

43

4.2.1. Kecamatan Dramaga
4.2.2. Kecamatan Ciampea
4.2.3. Kecamatan Cibungbulang
4.2.4. Kecamatan Leuwiliang

44
44
45
45

4.3. Aktivitas Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten
Bogor

46

4.4. Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC)

48

4.5. Karakteristik Responden Usahatani Kangkung Organik Petani
Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
50
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

55

5.1. Hasil
55
5.1.1. Hasil Analisis Biaya Usahatani Kangkung Organik
Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor
55
5.1.2. Hasil Analisis Pendapatan Usahatani Kangkung Organik
Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor
56

ii

5.1.3. Hasil Analisis Tingkat Pendapatan dengan Menggunakan
R/C Rasio, B/C Rasio, Break Even Point (BEP)
dan Payback Period (PP) Usahatani Kangkung Organik
Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor
57
5.2. Pembahasan
5.2.1. Pembahasan Biaya Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center
(ADC) di Kabupaten Bogor
5.2.2. Pembahasan Pendapatan Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center
(ADC) di Kabupaten Bogor
5.1.3. Pembahasan Analisis Tingkat Pendapatan dengan
Menggunakan R/C Rasio, B/C Rasio, Break Even
Point (BEP) dan Payback Period (PP) Usahatani
Kangkung Organik Binaan Agribusiness Development
Center (ADC) di Kabupaten Bogor
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

59

59

63

63
69

6.1 Kesimpulan

69

6.2 Saran

70

DAFTAR PUSTAKA

71

LAMPIRAN

76

iii

DAFTAR TABEL
Halaman

1.

Produksi Tanaman Sayuran Kangkung di Indonesia dan Jawa Barat
Tahun 2009-2013

5

2.

Kandungan Gizi dalam Tiap gram Kangkung

28

3.

Sebaran Responden Menurut Umur dan Tingkat Pendidikan
Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness
Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

50

Sebaran Jumlah Tanggungan Keluarga Responden Usahatani
Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness Development
Center (ADC) di Kabupaten Bogor

52

Sebaran Responden Menurut Status dan Pengalaman Usahatani
Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness Development
Center (ADC) di Kabupaten Bogor

53

Sebaran Responden Menurut Luas Lahan Usahatani Kangkung
Organik Petani Binaan Agribusiness Development
Center (ADC) di Kabupaten Bogor

54

Rata-rata Biaya Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten
Bogor dengan Luas Lahan 575 M2/tahun

56

Rata-rata Produksi, Biaya Total, Harga Jual, Penerimaan dan
Pendapatan Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten
Bogor dengan Luas Lahan 575 M2/tahun

57

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Hasil Analisis Tingkat Pendapatan dengan Menggunakan R/C Rasio,
B/C Rasio, Break Even Point (BEP), dan Payback Period (PP)
Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness
57
Development Center (ADC) dengan Luas Lahan 575 M2/tahun

10. Hasil Analisis Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor
dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

58

11. Analisis Rasio Penerimaan atas Biaya (R/C Rasio) yang
Diperoleh Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

iv

dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

64

12. Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio) yang
Diperoleh Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor
dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

65

13. BEP Produksi yang Diperoleh Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

66

14. BEP Harga yang Diperoleh Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

67

15. Analisis Payback Period (PP) Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor dengan rata-rata Luas Lahan 575 M2/tahun

68

v

DAFTAR GAMBAR
Halaman

1.

Kerangka Pemikiran

29

2.

Agribusiness Development Center (ADC)

41

3.

Peta Kabupaten Bogor

43

vi

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

1.

Kuisioner

33

2.

Lokasi Agribusiness Development Center (ADC)

42

3.

Responden Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

50

Biaya Responden Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten
Bogor per Musim Tanam dengan Luas Lahan 575 M2

55

Pajak Lahan Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

59

Rata-rata Total Benih dan Pupuk Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor dengan Luas Lahan 575 M2

60

Penyusutan Alat dan Mesin Produksi Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor

62

Rata-rata Penerimaan Usahatani Kangkung Organik
Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di
Kabupaten Bogor dengan Luas Lahan 575 M2

63

Biaya Investasi Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor

68

4.

5.

6.

7.

8.

9.

vii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pertanian memegang peranan penting dalam ekonomi Indonesia.

Secara konvensional, peran tersebut terkait fungsi menjaga gawang ketahan
pangan (food security), penyerap tenaga kerja, penghasil devisa, penyedia bahan
baku industri, dan penjaga kelestarian lingkungan. Meskipun industri dalam
jangka panjang akan menjadi engine of growth, tetapi besarnya jumlah penduduk
yang hidup di sektor semi tradisional membuat pertanian sebagai medan juang
yang tak akan pernah berakhir. Transformasi struktural dari ekonomi berbasis
pertanian dan sumber daya alam (resource based) ke arah urban-industrial
tampaknya masih akan tergantung pada tingkat kesiapan sektor pertanian. Dengan
kata lain, kegagalan meletakan landasan di sektor pertanian dapat membuka
peluang tidak mulusnya tahapan ekonomi babak berikutnya (Hanafie, 2010).
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor
pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya.
Artinya, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor
pertanian. Di mana, penggunaan lahan di wilayah Indonesia sebagian besar
diperuntukkan sebagai lahan pertanian (Husodo, 2004, dalam Pohan, 2008).
Penggunaan lahan dan jumlah sumber daya yang mempuni sementara belum
mampu merubah keterbelakangan sektor pertanian bagi pelaku usahanya.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa petani pada hakekatnya menjalankan
sebuah perusahaan, karena tujuan petani bersifat ekonomis: memproduksi hasil-

hasil, apakah untuk dijual ataupun digunakan oleh keluarganya sendiri.
Memang tidak sedikit orang beranggapan bahwa “bertani itu bukanlah merupakan
perusahaan, melainkan suatu cara hidup” (farming is not business; its way of life)
(Mosher, 1991).
Salah satu masalah yang dihadapi oleh para petani di negara-negara yang
sedang berkembang adalah usahatani mereka semakin tergantung pada teknologi
pertanian modern yang tidak ramah lingkungan. Teknologi pertanian modern
memang telah mampu menaikan produksi, akan tetapi kenaikan produksi tersebut
membuka masalah baru, yakni rentannya sektor pertanian terhadap penyakit
tanaman, yang seringkali telah kebal terhadap obat-obatan pemberantas hama,
sehingga kelanjutan usahatani terancam. Di samping itu, terdapat masalah lain
yang sangat perlu diperhatikan, dalam kaitannya dengan ketergantungan petani
pada teknologi pertanian kimiawi, yakni kemungkinan tidak lakunya produkproduk pertanian kita baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini
disebabkan oleh semakin tingginya kesadaran akan kesehatan makanan
(Soetrisno, 2002).
Kebutuhan suatu langkah untuk permasalahan tersebut dapat diatasi
melalui sistem pertanian berkelanjutan dalam suatu cara dengan pertanian
organik. Pertanian organik didefinisikan sebagai sistem produksi pertanian yang
terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem
secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas
dan berkelanjutan. Pertanian organik dalam pengelolaannya tidak menggunakan
pupuk dan pestisida terbuat dari bahan kimia, melainkan dengan menggunakan
bahan organik. Pupuk organik dapat dibuat sendiri oleh petani dengan biaya

2

rendah. Begitu pula dengan sarana produksi organik lainnya (Widodo, 2004
dalam Poetryani, 2011).
Modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya
menjadi salah satu acuan bagi seluruh petani dalam kegiatan usahataninya yang
disebutkan pada prinsip ekonomi dasar. Oleh sebab itu, penyelenggaraan
usahatani selalu berusaha agar hasil panennya berlimpah dengan pembiayaan yang
rendah. Kebahagiaan akan menyelimuti mereka manakala panenan tersebut cukup
besar sehingga selain untuk memberi makan seluruh keluarganya, masih ada sisa
untuk dijual ke pasar dan hasil penjualannya dapat dipakai untuk membeli
kebutuhan lain non-pangan, seperti pakaian, alat-alat rumah tangga, alat-alat
pertanian, dan lain-lain yang pada intinya hasil tersebut dapat ditingkatkan agar
kehidupan seluruh keluarganya menjadi lebih baik (Hanafie, 2010).
Perilaku tersebut menjelaskan bahwa petani pun mengadakan perhitunganperhitungan

ekonomi

dan

keuangan,

hanya

saja

tidak

tertulis.

Pilihan menggunakan faktor produksi yang tidak sebagaimana biasanya selalu
akan

diperhitungkan

untung-ruginya.

Penjelasan

dalam

Ilmu

Ekonomi,

secara tidak langsung petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan
diterima pada waktu panen (penerimaan atau revenue) dengan seluruh biaya yang
harus dikeluarkan (pengorbanan atau cost). Hasil yang akan diperoleh petani pada
saat panen disebut “produksi” dan biaya yang telah dikeluarkannya disebut “biaya
produksi” (Hanafie, 2010). Artinya, bagaimana pun suatu sistem yang dibangun
dalam metode usahatani yang dilakukan para petani sangat membutuhkan
keuntungan sebagai bahan bakar berlangsungnya usahatani. Selain itu, petani juga
memperhitungkan biaya tunai untuk peralatan, bahan yang digunakan, dana-dana

3

untuk menghadapi berbagai resiko gagal panen, kemungkinan jatuhnya harga
pasar pada waktu panen dan ketidakpastian tentang efektifnya metode-metode
baru yang sedang dipertimbangkan. Petani mungkin juga memperhitungkan
ketidak senangan keluarga, teman atau tetangganya terhadap penyimpangan dari
pola bercocok tanam yang sudah lazim atau dari tradisi masyarakat mengenai apa
yang “pantas” dan ”tidak pantas” dilakukannya (Mosher, 1991).
Melihat pentingnya usahatani bagi masyarakat pedesaan maka sektor
pertanian yang sangat memungkinkan untuk dikelola oleh petani yang memiliki
keterbatasan modal adalah subsektor hortikulutra. Idani, (2012) menyebutkan
bahwa pertanian terdiri dari beberapa subsektor, yaitu subsektor pangan,
hortikultura, dan perkebunan. Salah satu subsektor yang memiliki peranan yang
cukup penting adalah subsektor hortikultura. Subsektor hortikultura tersebut
terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat.
Salah satu produk hortikultura yang sangat prospektif dikembangkan adalah
sayuran. Sayuran secara ekonomis memiliki nilai tambah dan memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
apabila mampu dikelola dengan baik. Selain itu, sayuran termasuk bahan yang
dibutuhkan oleh tubuh dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat serta cukup
potensial untuk dijadikan peluang usaha. Berdasarkan data 2009 sampai 2013
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 presentase rata-rata pengeluaran perkapita
sebulan menurut kelompok barang di kota dan desa secara keseluruhan dalam 5
tahun terakhir terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Data menunjukan pada
tahun 2009 sejumlah 3,91% dan pada 2010 sejumlah 3,84%, dari data tersebut
mengalami penurunan. Sementara tahun 2011 sejumlah 4,31% meningkat kembali

4

dan tidak bertahan lama kemudian tahun 2012 sejumlah 3,78% mengalami
penurunan kembali. Sementara pada tahun 2013 pengeluaran masyarakat pada
sayuran terjadi peningkatan sebesar 4,43%. Artinya, kebutuhan sayuran bagi
kalangan masyarakat kota dan desa memiliki jumlah yang cukup besar. Tantangan
yang besar juga dimiliki oleh petani dalam memenuhi kebutuhan pasar tersebut.
Faktanya, di sisi lain perkembangan produksi kangkung di Indonesia
dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terjadi penurunan. Begitupun dengan Jawa
Barat yang merupakan salah satu wilayah penghasil kangkung terbesar di
Indonesia. Ancaman penurunan produksi kangkung akan terus menurun dari
waktu ke waktu apabila masalah-masalah sektor pertanian tidak mampu teratasi
oleh pemerintah pusat ataupun daerah. Tabel 1, menjelaskan produksi tanaman
kangkung mulai tahun 2009, 2010, 2011, 2012 dan 2013 di Jawa Barat dan
Indonesia.
Tabel 1. Produksi Tanaman Kangkung di Indonesia dan Jawa Barat Tahun 20092013
Produksi Tanaman Kangkung (Ton)
Wilayah
2009
2010
2011
2012
2013
Jawa Barat
90.528
74.428
86.949
68.592
65.419
Indonesia
360.547
350.879
355.466
320.144
308.477
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014 (diolah)

Berdasarkan Tabel 1, wilayah Jawa Barat mengalami penurunan produksi
tanaman kangkung pada tahun 2010 dan mampu mengalami peningkatan di tahun
berikutnya. Peningkatan yang terjadi tidak bertahan lama karena pada tahun 2012
hingga 2013 angka produksi tanaman kangkung menurun. Keadaan wilayah Jawa
Barat juga berdampak pada produksi di Indonesia dalam kenaikan dan penurunan
produksi tanaman kangkung di waktu yang bersamaan. Penyebab prospek bisnis
di sektor hortikultura khususnya tanaman kangkung di kalangan petani kurang

5

optimal antara lain adalah penurunan jumlah lahan, jaminan harga dan ketersedian
pasar sehingga mengurangi minat petani dalam mengelola lahan.
Potensi sayur di Kabupaten Bogor cukup menjanjikan untuk memproduksi
komoditas seperti bayam dan kangkung. Kabupaten Bogor merupakan salah satu
wilayah yang menjadi sentra produksi kangkung menurut data Badan Pusat
Statistik tahun 2008 sampai dengan 2012 sebesar 103.571 ton. Pengaruh iklim
yang baik telah menjadikan Kabupaten Bogor sebagai penghasil kangkung
terbanyak di antara wilayah lainnya di Jawa Barat. Kangkung sangat mudah
ditanami dan memiliki kandungan gizi yang cukup baik sehingga menjadi
primadona bagi kalangan masyarakat pada umumnya. Menurut Rukmana, (1994),
kelebihan dari kangkung adalah tanaman ini memiliki daya penyesuaian
(adaptasi) yang luas terhadap berbagai keadaan lingkungan tumbuh, mudah dalam
pemeliharaannya dan modal terjangkau dalam penyediaan biaya usahataninya. Di
samping itu, hasil panen kangkung dapat dilakukan secara rutin (periodik) setiap
19-25 hari sekali, sehingga dengan pemasukan uang dari hasil panen yang kontinu
ini dapat memperkuat posisi petani memenuhi finansialnya sehari-hari.
Peluang pemasaran kangkung semakin luas karena tidak hanya dijual
dipasar-pasar lokal di daerah, tetapi juga telah banyak dipesan oleh pasar-pasar
elit di kota-kota besar seperti pasar Swalayan, Hero, Carefour, Hypermart atau
Kem Chick. Pada keadaan pasar tradisional, harga tiap ikat kangkung (150-250
gram) berkisar antara Rp1.000,- hingga Rp1.500,-, dan paling rendah Rp500,-.
Khusus harga kangkung yang kualitasnya prima di pasar-pasar swalayan seperti
Hero, Gelael dan Kem Chick dapat mencapai antara Rp2.000,- hingga Rp3.000,atau lebih per ikat. Harga tersebut merupakan harga yang dimiliki oleh komoditi

6

kangkung yang menggunakan cara tanam tanpa bahan kimia (organik). Sedangkan
harga kangkung di pasar tradisional yang menggunakan bahan kimia (anorganik)
berkisar antara Rp500,- hingga Rp1.000,- per ikat (150-250 gram).
Dilema para petani dalam mengembangkan sayuran organik yang
memiliki daya tarik tersendiri masih memerlukan suatu lembaga yang mampu
memasarkan hasilnya, hal ini karena para petani belum mampu bermitra dengan
retail modern. Suatu hal yang sangat rugi bagi para petani jikalau produk sayuran
organik tersebut sama harganya dengan sayuran non-organik. Oleh sebab itu,
adanya keberadaan Agribusiness Development Center (ADC) sebagai lembaga
yang membina petani sayuran, salah satunya kangkung organik berupaya untuk
mengembangkan produk-produk hortikultura seperti kangkung organik antara lain
agar mampu memiliki harga jual tinggi, menjadi sarana pembelajaran teknis
budidaya, sekaligus menjadi pusat pengembangan pasar, sehingga petani binaan
tidak selalu di dikte oleh pasar dan mampu meningkatkan pendapatan usahatani
binaannya. Berdasarakan masalah di atas, maka perlu dilakukan penelitian dengan
judul “Analisis Pendapatan Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan
Agribusiness Development Center (ADC) Di Kabupaten Bogor”.

1.2.

Rumusan Masalah
Berkaitan dengan yang diuraikan di atas, maka yang menjadi perumusan

masalah dalam peneliian ini adalah :
1.

Berapa biaya usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness
Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor?

7

2.

Berapa

pendapatan

usahatani

kangkung

organik

petani

binaan

Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor?
3.

Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kangkung organik petani binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor dengan
menggunakan R/C Rasio, B/C Rasio, Break Even Point (BEP) dan
Payback Period (PP)?

1.3.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka secara

umum penelitian ini bertujuan :
1.

Untuk menganalisis biaya usahatani kangkung organik petani binaan
Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor.

2.

Untuk menganalsis pendapatan usahatani kangkung organik Agribusiness
Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor.

3.

Untuk menganalisis tingkat pendapatan usahatani kangkung organik petani
binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor
dengan menggunakan R/C Rasio, B/C Rasio, Break Even Point (BEP) dan
Payback Period (PP).

1.4.

Manfaat Penelitian

1.

Sebagai sumber informasi dan pertimbangan petani dalam berusahatani
kangkung organik.

2.

Sebagai bahan referensi dan penelitian lebih lanjut bagi penyusun lain
yang mengambil masalah yang sama.

8

3.

Sebagai informasi untuk Agribusiness Development Center (ADC) dalam
upaya meningkatkan taraf hidup petani.

4.

Sebagai informasi serta masukan dalam menyusun strategi dan kebijakan
pertanian bagi Dinas Pertanian Kabupaten Bogor sehingga dapat
meningkatkan tingkat pendapatan petani.

5.

Sebagai bahan pembelajaran bagi penulis dalam melakukan penulisan
ilmiah dan penelitian.

1.5.

Ruang Lingkup Penelitian

1.

Penelitian ini dilakukan hanya pada wilayah Kecamatan Ciampea,
Kecamatan

Cibungbulang,

Kecamatan

Dramaga

dan

Kecamatan

Leuwiliang di Kabupaten Bogor.
2.

Objek yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendapatan usahatani
kangkung organik petani binaan Agribusiness Development Center (ADC)
di Kabupaten Bogor.

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pendapatan
Menurut Fuad, dkk (2000) menyebutkan bahwa pendapatan adalah

peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban yang timbul dari
penyerahan barang atau jasa aktivitas usaha lainnya dalam suatu periode.
Menurut Fess, (2005) menyebutkan bahwa pendapatan adalah kenaikan ekuitas
pemilik sebagai hasil dari penjualan produk atau jasa kepada pelanggan.
Menurut Niswonger (1992) pendapatan dari penjualan adalah seluruh total
tagihan kepada pelanggan atas barang yang dijual, baik secara tunai maupun
kredit. Pendapatan yaitu pertambahan harta di luar tambahan investasi yang
mengakibatkan modal bertambah. Pendapatan usaha merupakan pendapatan yang
diperoleh dari hasil usaha pokok perusahaan, sedangkan pendapatan di luar usaha
yaitu pendapatan yang diperoleh dari bukan usaha pokok perusahaan.

2.1.1. Pendapatan Usahatani
Menurut Suratiyah (2009) menyebutkan bahwa pendapatan usahatani
adalah pendekatan nominal tanpa memperhitungkan nilai uang menurut waktu
(time value money) tetapi yang dipakai adalah harga yang berlaku, sehingga dapat
langsung dihitung jumlah pengeluaran dan jumlah peneriman dalam suatu periode
proses produksi. Perhitungan biaya dan pendapatan dalam suatu usahatani dapat
dilakukan melalui pendekatan (nominal approach). Menurut Soekartawi (2003)
total pendapatan diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya

dalam suatu proses produksi. Sedangkan total penerimaan diperoleh dari produksi
fisik dikalikan dengan harga produksi.
Menurut Hernanto (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
usahatani meliputi luas usaha di mana ukuran-ukuran untuk usaha yang penting
adalah pendapatan total usahatani yang menunjukan volume usaha dan
menunjukan ukuran ekonomi usahatani. Tingkat produksi di mana ukuran tingkat
produksi dapat berupa produktivitas per hektar dan indeks pertanaman.
Pilihan dan kombinasi cabang usaha dan intensitas pengusahaan pertanaman yang
ditunjukan oleh jumlah tenaga kerja dan total biaya usahatani.
Menurut Soekartawi (1994) dalam proses produksi pertanian, luas lahan
pertanian, tenaga kerja, produksi dan sarana produksi berperan dalam
mempengaruhi tingkat pendapatan. Adapun faktor-faktor sosial ekonomi lainnya
seperti tingkat pendidikan, umur, jumlah tanggungan dan pengalaman bertani
berperan dalam mempengaruhi tingkat pendapatan petani. Sedangkan menurut
Suratiyah (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani meliputi
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari segi umur,
pendidikan dan modal. Faktor eksternal terdiri dari segi faktor produksi (input)
dan segi produksi (output). Rumus pendapatan adalah sebagai berikut:
π = TR – TC
Dimana :
π

= Pendapatan

TR

= Penerimaan

TC

= Biaya total produksi

11

2.1.2. Analisis Pendapatan Usahatani
Menurut Soekartawi (2003) untuk menganalisis pendapatan usaha
diperlukan dua keterangan pokok, yaitu keadaan permintaan dan pengeluaran
selama jangka waktu yang ditetapkan. Sedangkan menurut Soeharjo dan Patong
(1973) analisis pendapatan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
pendapatan yang sesungguhnya diperoleh pengusaha dan untuk membantu
perbaikan pengelolaan usaha.
1.

Analisis Rasio Penerimaan atas Biaya (R/C Rasio)
Menurut

Harmoko

dan

Andoko

(2005,

dalam

Marissa,

2010)

menyebutkan bahwa rasio penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah
yang dikeluarkan dalam produksi usaha. Dengan kata lain, analisis rasio atas
biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relative
kegiatan usaha. Artinya, dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut dapat
diketahui apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak. Tingkat pendapatan
dapat diukur menggunakan analisis penerimaan dan biaya (R/C ratio analysis)
yang didasarkan pada perhitungan finansial. Analisis ini menunjukan besar
penerimaan usaha yang diperoleh pengusaha untuk setiap rupiah biaya yang
dikeluarkan untuk kegiatan usaha. Usaha patut dikatakan layak, jika R/C ratio
bernilai lebih besar dari (R/C > 1). Rumus Analisis Rasio Penerimaan atas Biaya
(R/C Rasio) secara sistematis seperti berikut:
/

=

Total penerimaan penjualan
Total biaya produksi

12

2.`

Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Rasio)
Menurut Soeharto (1997, dalam Nasihah, 2014) B/C rasio merupakan

metode yang dilakukan untuk melihat beberapa manfaat yang diterima oleh
proyek untuk satu satuan mata uang (dalam hal ini rupiah) yang dikeluarkan. B/C
rasio adalah suatu rasio yang membandingkan antara benefit atau pendapatan dari
suatu usaha dengan biaya yang dikeluarkan.
Menurut Rahardi dan Hartono (1997, dalam Nasihah, 2014), analisis B/C
ratio adalah perbandingan antara tingkat keuntungan atau pendapatan yang
diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan layak dan
memberikan manfaat apabila nilai B/C lebih besar dari nol (0), semakin besar
nilai B/C maka semakin besar pula manfaat yang akan diperoleh dari usaha
tersebut. Rumus B/C rasio secara sistematis sebagai berikut:
/
3.

=

Total keuntungan
Total biaya

Break Even Point (BEP)
Kuswadi (2006, dalam Nasihah, 2014) menyatakan bahwa break even

tidak lain adalah kembali pokok, pulang pokok, impas, yang maksudnya adalah
tidak untung dan tidak rugi. Titik pulang pokok atau Break Even Point (BEP) atau
titik impas adalah suatu titik atau kondisi saat tingkat volume penjualan (produksi)
tertentu dengan harga penjualan tertentu, perusahaan tidak mengalami laba atau
rugi atau impas. Dengan kata lain, kembali pokok artinya seluruh penghasilan
sama besar dengan seluruh biaya yang telah dikeluarkan.
Menurut Wiryanta (2002, dalam Marissa, 2010), BEP (Break Even Point)
merupakan titik impas usaha. Dari nilai BEP diketahui pada tingkat produksi dan
harga berapa suatu usaha tidak memberikan keuntungan dan tidak pula mengalami

13

kerugian. Ada dua jenis perhitungan BEP, yaitu BEP volume produksi dan BEP
harga. Rumus BEP volume/produksi dan BEP harga secara sistematis sebagai
berikut:
(

/

=
4.

)=

Total biaya
Harga jual

Total biaya
Total produksi

Payback Periode (PP)
Menurut Sofyan (2002, dalam Nasihah, 2014), payback periode adalah

masa pengembalian modal, artinya lama periode waktu untuk mengembalikan
modal investasi. Cepat atau lambatnya sangat tergantung pada sifat aliran kas
masuknya, jika aliran kas masuknya besar atau lancer maka proses pengembalian
modal akan lebih cepat dengan amunisi modal yang digunakan tetap atau tidak
ada penambahan modal selama umur proyek.
Menurut Choliq dkk (2004, dalam Nasihah, 2014) period dapat diartikan
sebagai jangka waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui
keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek yang telah direncanakan. Semakin
cepat waktu pengembalian, semakin baik untuk diusahakan resiko yang mungkin
terjadi. Akan tetapi, payback period ini telah mengabaikan nilai uang pada saat
sekarang ini (present value). Kelemahan-kelemahan lain dari payback period ini
sebagai berikut: (1) Payback period digunakan untuk mengukur kecepatan
kembalinya dana dan tidak mengukur keuntungan proyek pembangunan yang
telah direncanakan, (2) Payback period mengabaikan benefit yang diperoleh
sesudah dana investasi itu kembali. Rumus Payback period secara sistematis
sebagai berikut:

14

=

x 1 Tahun

2.1.3. Biaya Produksi Usahatani
Fuad, dkk (2000) mendefinisikan tentang biaya bahwa biaya adalah satuan
nilai yang dikorbankan dalam suatu proses produksi untuk mencapai suatu hasil
produksi. Beban arus barang dan jasa yang dibebankan kepada pendapatan
(benefit) untuk menentukan laba (income), atau harga perolehan yang dikorbankan
dalam rangka memperoleh penghasilan dan dipakai sebagai pengurang
penghasilan yang disebut beban (expense), sedangkan nilai uang dari alat-alat
produksi yang dikorbankan disebut harga pokok.
Menurut Mulyadi (2000, dalam Nasihah, 2014) biaya produksi adalah
biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang
siap untuk dijual. Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2004, dalam Nasihah
2014) menjelaskan bahwa biaya produksi adalah biaya yang berkaitan dengan
pembuatan barang dan penyediaan jasa.
Menurut Mubyarto (1898, dalam Nasihah, 2014) biaya produksi dapat
dibagi menjadi dua yaitu biaya-biaya berupa uang tunai misalnya upah kerja
untuk biaya persiapan atau penggarapan tanah, termasuk upah ternak, biaya untuk
membeli pupuk, pestisida dan lain-lain. Biaya panen, bagi hasil, sumbangan dan
mungkin juga pajak-pajak dibayarkan dalam bentuk in-natura. Besar kecilnya
bagian biaya produksi yang berupa uang tunai ini sangat mempengaruhi
pengembangan usahatani.
Menurut Blocher (2007) biaya variabel (variable cost) adalah perubahan
pada biaya total yang dihubungkan dengan tiap perubahan pada jumlah (volume)

15

output. Contoh yang lazim dari biaya variabel adalah biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Sebaliknya, biaya tetap (fixed cost) adalah bagian dari
biaya total yang tidak berubah meskipun jumlah penggerak biaya berubah dalam
rentan yang relevan. Penentuan apakah suatu biaya merupakan biaya variabel
tergantung pada sifat dari objek biaya. Dalam perusahaan manufaktur, objek biaya
biasanya berupa produk. Tetapi dalam perusahaan jasa, objek biaya sering kali
sulit untuk didefinisikan karena jasa bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Kadang-kadang, dikatakan bahwa semua biaya adalah variabel pada jangka waktu
tertentu semua dapat berubah. Meski biaya tetap berubah dengan berubahnya
waktu (contoh biaya sewa mungkin meningkat dari tahun ke tahun) tetapi, hal
tersebut tidak berarti bahwa biaya ini merupakan biaya variabel. Biaya variabel
adalah biaya dimana biaya total berubah seiring dengan perubahan jumlah output.
Biaya tetap dihubungkan dengan suatu periode waktu dan bukan jumlah output,
dan diasumsikan bahwa biaya tetap tidak akan berubah selama periode waktu
yang pada umumnya 1 tahun. Rumus biaya produksi adalah sebagai berikut:
TC = FC + VC
Dimana :
TC

= Total cost/biaya total

FC

= Fix cost/biaya tetap

VC

= Variable cost/biaya variabel

2.1.4. Harga Jual
Menurut Kotler (1998, dalam Nasihah, 2014) harga jual dalam arti sempit
merupakan jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa. Dalam arti

16

luas, harga jual adalah jumlah dari nilai yang dipertukarkan konsumen untuk
manfaat memiliki atau menggunakan produk atau jasa.
Titik berat dari proses penetapan harga adalah harga pada berbagai pasar.
Untuk ini, harga suatu barang mungkin merupakan struktur yang kompleks dari
pada syarat-syarat penjualan yang saling berhubungan. Setiap perubahan dari
struktur tersebut merupakan keputusan harga dan akan mengubah pendapatan
yang diperoleh. Peranan perusahaan dalam proses penetapan harga jual barangnya
sangat berbeda-beda, tergantung pada bentuk pasar yang dihadapinya. Menurut
Fuad, dkk (2000) ada tiga bentuk penetapan harga jual, yakni: (1) Penetapan harga
jual oleh pasar (market pricing). Dalam bentuk penetapan harga jual ini, penjual
tidak dapat mengontrol sama sekali harga yang dilempar di pasaran. Harga di sini
betul-betul ditetapkan oleh mekanisme penawaran dan permintaan. Dalam
keadaan seperti ini, penjual tidak bisa menetapkan harga jual, (2) Penetapan harga
jual oleh pemerintah (Government Controlled Pricing). Dalam beberapa hal,
pemerintah berwenang untuk menetapkan harga barang atau jasa, terutama untuk
barang atau jasa yang menyangkut kepentingan umum. Perusahaan atau penjualan
yang bergerak dalam eksploitasi barang atau jasa terdebut di atas tidak dapat
menetapkan harga jual barang atau jasa, (3) Penetapan harga jual yang dapat
dikontrol oleh perusahaan (Administered or Business controlled pricing). Pada
situasi ini, harga ditetapkan sendiri oleh perusahaan. Penjual menetapkan harga
dan pembeli boleh memilih “membeli atau tidak”. Harga ditetapkan oleh
keputusan dan kebijaksanaan yang terdapat dalam perusahaan, walaupun faktorfaktor mekanisme penawaran dan permintaan, serta peraturan-peraturan
pemerintah tetap diperhatikan. Sampai seberapa jauh perusahaan dapat

17

menetapkan harga, tergantung pada tingkat diferensiasi produk, besar perusahaan
dan persaingan.

2.1.5. Penerimaan Usahatani
Menurut Soekartawi (1995, dalam Nasihah, 2014) penerimaan usahatani
adalah perkalian antara produksi dengan harga jual. Biaya usahatani adalah semua
pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani dan pendapatan usahatani
adalah

selisih

antara

penerimaan

dengan

pengeluaran

usahatani.

Menurut Hadisapoetro (1973, dalam Amalia, 2013) penerimaan adalah jumlah
produksi dikalikan harga per satuan. Produksi adalah setiap usaha atau kegiatan
manusia untuk menghasilkan atau menambah daya guna sesuatu benda atau jasa
bagi pemenuhan kebutuhan manusia (Sukwiaty, dkk, 2005). Rumus Penerimaan
adalah sebagai berikut:
Y = Qy . Py
Dimana :

2.2.

Y

= Penerimaan

Qy

= Jumlah produk

Py

= Harga jual produk

Usahatani
Hernanto (1995) menjelaskan bahwa usahatani sebagai organisasi-

organisasi dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di
lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja
diusahakan

oleh

seorang

atau

sekumpulan

orang,

segolongan

sosial,

18

baik yang terikat genologis, politis maupun territorial sebagai pengelolanya.
Istilah usahatani dituliskan dalam satu kata bukan dalam dua kata Usaha Tani.
Kata usahatani dipakai dan diusulkan untuk pengganti (bukan lawan dari) kata
“farm” (Inggris) atau bandbouw bedrijf (Belanda). Menurut Hernanto (1995) ada
empat unsur pokok dalam usahatani atau dikenal dengan faktor-faktor produksi
dalam usahatani, yaitu:
1.

Lahan
Lahan merupakan faktor produksi yang mewakili unsur alam dan lahan

merupakan faktor yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lain serta
distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Lahan usahatani dapat
berupa pekarangan, sawah, tegalan dan sebagainya. Lahan memiliki beberapa
sifat, yaitu luasnya relatif atau dianggap tetap, tidak dapat dipindah-pindahkan dan
dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Lahan usahatani dapat diperoleh
dengan membeli, menyewa, pemberian negara dan wakaf. Ukuran lahan pertanian
sering dinyatakan dengan hektar.
2.

Tenaga Kerja
Tenaga kerja menjadi pelaku usahatani diperlukan dalam menyelesaikan

berbagai macam kegiatan produksi. Tenaga kerja dalam usahatani dibedakan ke
dalam tiga jenis yaitu, tenaga kerja manusia, tenaga kerja ternak, dan tenaga kerja
mekanik. Tenaga kerja manusia dibedakan menjadi tenaga kerja pria, wanita dan
anak-anak yang dipengaruhi umur, pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat
kesehatan dan kondisi lainnya. Oleh karena itu, dalam praktiknya, digunakan
satuan ukuran yang umum untuk mengatur tenaga kerja yaitu jumlah jam dan hari
kerja total. Besar kecilnya upah tenaga kerja dapat ditentukan oleh mekanisme

19

pasar, jenis kelamin, kualitas dan umur. Tenaga kerja ternak digunakan untuk
pengolahan tanah. Begitu pula dengan tenaga kerja mekanik yang digunakan
untuk pengolahan lahan, penanaman, pengendalian hama dan pemanenan.
3.

Modal
Modal adalah faktor produksi dalam usahatani setelah lahan dan tenaga

kerja. Modal merupakan barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor
produksi lain dan tenaga kerja serta manajemen menghasilkan barang-barang baru
yaitu produk pertanian. Penggunaan modal untuk membantu meningkatkan
produktivitas baik lahan maupun tenaga kerja guna meningkatkan pendapatan dan
kekayaan petani. Modal dalam suatu usahatani untuk membeli sarana produksi
serta pengeluaran selama kegiatan usahatani berlangsung. Sumber modal
diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit (kredit formal, non-formal dan
lain-lain), warisan, usaha lain atau kontrak sewa.
4.

Pengelolaan usahatani
Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani untuk menentukan,

mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi dengan sebaikbaiknya sehingga mampu memberikan produksi pertanian sedemikian rupa
sebagaimana yang diharapkan. Untuk dapat menjadi pengelola yang berhasil,
maka pemahaman mengenai prinsip teknik maupun ekonomis harus dikuasai oleh
pengelola. Kemampuan dalam mengelola usahatani yang baik akan menjadikan
setiap keputusan baik teknis maupun ekonomis akan memberikan resiko sekecil
mungkin bagi usahanya dan memberikan keuntungan yang maksimum.

0

2.3.

Pertanian Organik
Menurut Sutanto (2002) istilah pertanian organik menghimpun seluruh

imajinasi petani dan konsumen yang secara serius dan bertanggung jawab
menghindarkan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan
dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga
berusaha untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara
memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumber daya alami seperti mendaur
ulang limbah pertanian. Dengan demikian pertanian organik merupakan suatu
gerakan ‘kembali ke alam”.
Menurut Sutanto (2002), seringkali terdapat pemahaman yang keliru
tentang “pertanian alami” dan “pertanian organik”. Kedua istilah tersebut dalam
praktek sering dianggap sama. Namun, Fukuoka (1985, dalam Sutanto, 2002)
mengemukakan empat langkah menuju pertanian alami dan menjelaskan prinsip
pertanian alami, yakni :
1.

Tanpa olah tanah. Tanpa olah tanah diolah atau dibalik. Pada prinsipnya
tanah mengolah sendiri, baik menyangkut masuknya perakaran tanaman
maupun kegiatan mikroba tanah, mikro fauna dan cacing tanah.

2.

Tidak

digunakan

sama

sekali

pupuk

kimia

maupun

kompos.

Tanah dibiarkan begitu saja dan tanah dengan se

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2181 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 560 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 484 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 313 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 433 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 690 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 598 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 386 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 567 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 686 23