Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape

KAJIAN KARAKTERISTIK LANSKAP SUNDA
PARAHIYANGAN SEBAGAI MODEL LANSKAP PERTANIAN
BERKELANJUTAN

MOHAMMAD ZAINI DAHLAN

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang Maha mulia yang mengajarkan manusia dengan pena dan mengajarkan manusia
apa yang tidak diketahuinya.“
(Al-‘Alaq: 1-5)
“Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan pada kami.”
(Al-Baqarah: 32)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kajian Karakteristik
Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan
adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, September 2012
Mohammad Zaini Dahlan
NIM A451100061

ABSTRACT
MOHAMAD ZAINI DAHLAN. Study on The Characteristic of Sunda
Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape.
Supervised by NURHAYATI H. S. ARIFIN and WAHJU QAMARA
MUGNISJAH.
Agricultural landscape (agroecosystem) is a unified system of ecology and
socio-economic and also spiritual-culture that involved in production of foods,
shelters, clothes, fibers, biofuels, and other agricultural products. Sustainability
of agroecosystem is needed to support the continuity of life, especially for rural
communities that relied strongly on agricultural resources. Sundanese society as
a rural and mountain society has its own traditional ecological knowledges
(TEK). TEK of Sundanese society could be a filter for modernization that
negatively affects socio-cultural life of the society itself, as well as damages the
nature and environment. Regarding to the role of TEK, it is necessary to do an
explorative and descriptive-qualitative study of the various forms of TEK in the
context of sustainable agriculture. The qualitative method was used for collecting
relevant data to the characteristic of Sunda Parahiyangan landscape. The Data
were collected by using Rapid Participatory Rural Appraisal (rPRA) through
semi-structured interview, Focus Group Discussion (FGD), and field survey. Data
analysis used Landscape Characteristic Assessment (LCA) to analyze character
of Sunda Parahiyangan landscape, Knowledge-Based System Methodology to
analyze TEK, National Research Council (NRC) and Community Sustainability
Assessment (CSA) to analyze sustainable agricultural landscape. The
sustainability of agricultural landscape was proposed to achieve USDA’s
sustainable agricultural landscape criteria. The study results indicate that the
Sunda Parahiyangan agroecosystem has unique characteristics as a result of the
adaptation of society to nature and environment through a learning process from
generation to generation in a relatively long time period. The character at rural
landscape that has been created is a mountainous agricultural landscape type
with abundant water resource as a main element. Therefore, Sundanese society
called as mountain people (urang gunung) and water people (urang cai). In
general, this character is reflected in some Sundanese’s agroecosystems such as
kebun-talun (forest garden), sawah (paddy field), and pekarangan (home garden)
that located in the surrounding settlement area. Furthermore, kabuyutan concept
is one of the TEKs related to understanding and utilization of nature and
environment. Kabuyutan is focused on revitalizing the role of forest (mountain) as
a buffer of agroecosystem balance by calculating and deciding protected area
(leuweung larangan/protected forest and leuweung tutupan/conservation forest).
To support the sustainability, integrated between traditional and modern concept
by practicing agroforestry system with low external-input and sustainable
agriculture (LEISA) system and also applying Islamic management could be
applied in utilizing and managing agricultural resources.
Keywords: agroecosystem, mountainous agricultural landscape, mountain and
water society, traditional ecological knowledge/TEK, kabuyutan,
rural landscape management

RINGKASAN
MOHAMMAD ZAINI DAHLAN. Kajian Karakteristik Lanskap Sunda
Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan. Dibimbing oleh
NURHAYATI H. S. ARIFIN dan WAHJU QAMARA MUGNISJAH.
Kawasan Sunda Parahiyangan yang berada di bagian hulu DAS Citanduy
(Sub-DAS Cimuntur) merupakan bagian dari satuan kawasan lanskap pertanian.
Lanskap pertanian yang disusun oleh beragam agroeksosistem merupakan
perpaduan sistem ekologi dan sosial-ekonomi yang terdiri dari tumbuhan dan
hewan yang sudah didomestikasikan serta masyarakat yang mengelolanya untuk
menghasilkan pangan, papan, sandang, serat, biofuel, serta produk pertanian
lainnya. Keberadaan unsur-unsur penyusun agroekosistem di daerah perdesaan
menjadi bagian penting dalam menciptakan kawasan perdesaan yang
berkelanjutan. Masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan sebagai bagian integral
dari agroekosistem memiliki perananan penting dalam menunjang pembangunan
dan pengembangan kawasan perdesaan. Dengan sistem pengetahuan tradisional
yang dimilikinya, secara turun-temurun masyarakat memanfaatkan sumber daya
pertanian berdasarkan kearifannya sehingga terbukti mampu memberikan manfaat
secara lestari tidak hanya untuk generasi sekarang, melainkan juga untuk generasi
yang akan datang. Sistem usaha tani yang dilakukan masyarakat tidak hanya
berorientasi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga berperan aktif dalam
melestarikan sumber daya pertaniannya. Dengan demikian, kearifan masyarakat
lokal dapat menjadi pendorong dinamisasi dalam mencapai pembangunan
pertanian di perdesaan yang berkelanjutan.
Sistem pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan solusi tepat untuk
menciptakan kehidupan perdesaan berkelanjutan. Sistem tersebut harus mampu
mengkonservasi tanah, air, tanaman, dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta
secara teknis tepat guna, ekonomi layak, dan sosial-budaya dapat diterima.
Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian yang bersifat
eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian
berkelanjutan yang dapat menjadi referensi bagi penerapan model lanskap
pertanian berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji karakteristik
lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, mengkaji ragam manifestasi kearifan lokal
masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan,
dan menyusun model pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif.
Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yang mencakup kegiatan prapenelitian, penelitian, analisis dan sintesis, serta penyusunan rekomendasi
pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat
Sunda Parahiyangan. Data yang dibutuhkan berupa data fisik, kesejarahan, sistem
sosial-ekonomi, sistem pertanian masyarakat, sistem spiritual-budaya, traditional
ecological knowledge/TEK (selanjutnya digunakan pengetahuan ekologik
tradisional/PET), dan kebijakan pengelolaan diperoleh melalui pelibatan aktif
masyarakat lokal dengan pendekatan metode Rapid Partisipatory Rural Appraisal
(rPRA) berupa wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), dan
observasi lapang. Data penunjang diperoleh melalui penelusuran literatur terkait
topik penelitian.

Analisis karakteristik lanskap pertanian dilakukan berdasarkan acuan
karakterisasi lanskap Landscape Characteristic Assessment/LCA. Analisis ragam
pengetahuan ekologi tradisional menggunakan metode pengetahuan berbasis
sistem (The Knowledge-Based System Methodology). Keberlanjutan lanskap
dianalisis berdasarkan acuan keberlanjutan lanskap pertanian National Research
Council/NRC dan Community Sustainability Assessment/CSA untuk menyusun
strategi kebijakan pengelolaan yang mengarah pada pembangunan pertanian
berkelanjutan berdasarkan kriteria keberlanjutan USDA.
Kawasan studi berada dalam tatanan lanskap pegunungan Sunda
Parahiyangan dengan karakteristik agroekosistem yang khas sebagai cerminan
dari budaya Sunda. Sumber daya lanskap (elemen lanskap) Sunda Parahiyangan
secara umum dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan nonpertanian. Karakteristik
lahan disusun oleh jenis tanah litosol, latosol, dan regosol, topografi dari landai
hingga sangat curam, serta sumber daya air yang didukung kondisi iklim berupa
curah hujan rata-rata 4.000 mm/th, suhu harian rata-rata 25 0C, dan kelembaban
nisbi rata-rata 80% yang ideal untuk pertanian. Unsur-unsur pembentuk lahan
berkontribusi dalam memberikan media tumbuh serta habitat bagi beragam
vegetasi dan satwa yang sesuai dengan kondisi fisik alam dan lingkungannya.
Berbagai unsur pembentuk lahan dikelola oleh masyarakat dengan PET yang
dimilikinya untuk membentuk berbagai pola sistem ekologi pertanian
(agroekosistem). Agroekosistem yang terbentuk di daerah studi terdiri dari kebuntelun, sawah, dan pekarangan yang berada dalam kawasan permukiman.
Sistem sosial-ekonomi masyarakat pertanian terlihat dalam aktivitas
produktif dan reproduktif. Aktivitas tersebut merupakan kegiatan ekstraksi
sumber daya pertanian untuk dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan. Aktivitas
produktif dilakukan di lahan pertanian (on farm), sedangkan aktivitas reproduktif
dilakukan di luar lahan untuk pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih
layak (off farm). Pemanfaatan lahan dominan sebagai kawasan pertanian belum
mampu memberikan hasil optimal meskipun menjadi sumber pendapatan inti
keluarga petani. Kepemilikan lahan garapan yang relatif sempit (gurem) dengan
rata-rata 0,3 ha/petani, tingginya biaya produksi, kurangnya dukungan ilmu
pengetahuan dan teknologi pertanian, serta kurang efektifnya peran pemerintah
dalam mendukung usaha produksi pertanian masyarakat menjadi penyebab
rendahnya peran pertanian dalam meningkatkan taraf hidup keluarga petani.
Pengetahuan ekologik tradisional terkait pertanian dalam sistem spiritualbudaya diekspresikan masyarakat dengan mengenal istilah atau nama lokal dari
adat, aktivitas, dan obyek budaya pertanian. Salah satu PET dalam pengelolaan
agroekosistem adalah konsep kabuyutan. Kabuyutan dipercaya sebagai model
pengelolaan lanskap pertanian yang terbukti mampu memberikan manfaat berupa
ketersediaan sumber daya pertanian yang optimal dan lingkungan yang lestari. Hal
tersebut merupakan potensi yang dimiliki masyarakat untuk tetap bertahan dalam
menjalankan kehidupannya dari usaha pertanian. Peran masyarakat pertanian di
perdesaan diharapkan bukan sebagai konsumen eksploitatif, tetapi konsumen yang
mampu memanfaatkan sumber daya secara adil dan bijaksana. Adil berarti
memanfaatkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung sumber daya;
bijaksana berarti tetap mempertimbangkan pemanfaatan untuk generasi
selanjutnya.

Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi
memiliki potensi keberlanjutan cukup baik untuk mendukung usaha pertanian di
setiap agroekosistem. Secara fisik, kondisi sumber daya pertanian yang melimpah
dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk memanfaatkan sumber daya
pertanian tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan
datang. Di samping itu, ketersediaan sumber daya pertanian dapat memberikan
kualitas hidup yang layak bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan
untuk melakukan aktivitas produktif dan reproduktif, serta ketersediaan pangan
dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai.
Kondisi optimal dapat dicapai dengan menjaga kualitas dan kuantitas sumber daya
air dan tanah sebagai elemen utama pembentuk lanskap pertanian Sunda
Parahiyangan. Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat dengan
metode CSA, diperoleh hasil tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan
kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan dengan nilai rata-rata sebesar 1156.
Namun, upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek yang bernilai
kurang dari 50 perlu dilakukan untuk mencapai keberlanjutan yang optimal seperti
pada aspek infrastruktur berupa penyediaan lahan pertanian, sarana, dan prasarana
pertanian.
Konsep pengelolaan lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dapat
dilakukan dengan penerapan model tradisional dan modern. Pengetahuan ekologik
tradisional merupakan modal utama yang disempurnakan oleh pengetahuan
ekologik modern guna merespon dinamika lanskap yang terjadi. Keterpaduan
dapat dilakukan melalui penerapan konsep kabuyutan yang diintegrasikan dengan
sistem pertanian agroforestry dalam setiap agroekosistem disertai optimalisasi
asupan dari dalam dan efisiensi masukan dari luar (low-external-input and
sustainable agriculture/LEISA). Selain LEISA, pengaruh luar berupa inisiasi
program pemberdayaan masyarakat perdesaan baik dari pemerintah maupun
swasta perlu dilakukan dengan pelibatan aktif masyarakat lokal. Pemberdayaan
diarahkan untuk penguatan spiritual-buaya masyarakat yang dapat meningkatkan
produktivitas serta etos kerja untuk mencapai kesejahteraan sehingga berdampak
pada pemanfaatan sumber daya pertanian yang berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lanskap
pertanian Sunda Parahiyangan memiliki karakteristik yang khas berupa karakter
lanskap pertanian pegunungan dengan air sebagai elemen pembentuk lanskap
utama yang diaktualisasikan dalam ragam agroekosistem khas masyarakat Sunda
seperti kebun-talun, sawah, dan pekarangan dalam kawasan permukiman. Konsep
kabuyutan merupakan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat yang fokus
pada revitalisasi peran hutan (gunung) sebagai penyangga keseimbangan sistem
ekologi pertanian. Sistem pertanian agroforestry modern dengan ragam bentuk
pengembangannya berpotensi menjadi model pengelolaan lanskap pertanian
berkelanjutan dengan penerapan sistem LEISA yang ditunjang oleh kebijakan
pemerintah yang adil dan bijaksana bagi masyarakat perdesaan. Dengan demikian,
dapat terbentuk lanskap pertanian dengan kondisi fisik yang lestari serta
masyarakat yang kuat secara sosial-ekonomi dan sehat secara spiritual-budaya.
Kata kunci: lanskap pertanian/agroekosistem, Sunda Parahiyangan, pengetahuan
ekologik tradisional/PET, kabuyutan, pengelolaan lanskap perdesaan

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya dilakukan untuk kepentingan
pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan
kritik, atau tinjauan suatu masalah. Pengutipan tersebut tidak merugikan
kepentingan yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

KAJIAN KARAKTERISTIK LANSKAP SUNDA
PARAHIYANGAN SEBAGAI MODEL LANSKAP
PERTANIAN BERKELANJUTAN

MOHAMMAD ZAINI DAHLAN

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Arsitektur Lanskap

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS

Judul Tesis
Nama
NRP
Program Studi

: Kajian Karakteritik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai
Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan
: Mohammad Zaini Dahlan
: A451100061
: Arsitektur Lanskap

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Nurhayati H. S. Arifin, MSc
Ketua

Prof. Dr. Ir. Wahju Q. Mugnisjah, MAgr
Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi
Arsitektur Lanskap

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA

Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian:

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt atas segala nikmat dan
karunia ilmu-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tema penelitian yang
dilaksanakan mulai bulan November 2011 hingga bulan Juli 2012 adalah tentang
pengelolaan lanskap pertanian di kawasan perdesaan berdasarkan kajian budaya
masyarakat lokal, dengan judul “Kajian Karakteristik Lanskap Sunda
Parahiyangan sebagai Model Lanskap Berkelanjutan”.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan
kepada Dr. Ir. Nurhayati H. S. Arifin, MSc selaku ketua komisi pembimbing dan
Prof. Dr. Ir. Wahju Qamara Mugnisjah, MAgr selaku anggota komisi pembimbing
atas segala bimbingannya selama penyusunan tesis. Ucapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS dan Dr. Ir. Siti
Nurisyah, MSLA selaku dosen luar komisi pada ujian tesis atas masukan dan
saran dalam penyusunan tesis. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula untuk
Komunitas Adat Ciomas (KATCI) dan masyarakat Dusun Ciomas, Mandalare,
dan Kertabraya atas kerja samanya dalam perolehan data selama penelitian.
Penghargaan dan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, Adik-adik,
serta seluruh keluarga dan sahabat atas doa, dukungan, dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Bogor, September 2012
Mohammad Zaini Dahlan

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................................xv
I. PENDAHULUAN ............................................................................................1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian ...................................................................... 3
1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3
1.4. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 3
1.5. Kerangka Pikir Penelitian ........................................................................... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................5
2.1. Lanskap Pertanian ......................................................................................5
2.2. Sunda Parahiyangan...................................................................................6
2.3. Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal ....................................................... 9
2.4. Pertanian Berkelanjutan ........................................................................... 13
III. METODOLOGI ..............................................................................................17
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................................... 17
3.2. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian ................................................... 18
3.3. Alat dan Bahan Penelitian........................................................................ 19
3.4. Tahapan dan Metode Penelitian............................................................... 19
3.4.1. Metode Penentuan Sampel Kampung............................................ 19
3.4.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi ....................................22
3.4.3. Metode Inventarisasi Tanaman ...................................................... 24
3.4.4. Metode Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda
Parahiyangan..................................................................................24
3.4.5. Metode Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda
Parahiyangan ..................................................................................25
3.4.5.1. Analisis Keberlanjutan Fisik ............................................. 26
3.4.5.2. Analisis Keberlanjutan Masyarakat ..................................28
3.4.6. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ...... 29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 31
4.1. Analisis Situasional ................................................................................. 31
4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ... 31
4.1.1.1. Tanah dan Topografi ......................................................... 33
4.1.1.2. Hidrologi ........................................................................... 37
4.1.1.3. Iklim ..................................................................................40
4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa ........................................................... 42
4.1.1.4.1. Struktur Vegetasi dan Satwa di Talun-Kebun . 43
4.1.1.4.2. Struktur Vegetasi dan Satwa di Sawah ............48
4.1.1.4.3. Struktur Vegetasi dan Satwa di Pekarangan .... 56
4.1.1.5. Pola Lanskap Pertanian ..................................................... 68

4.1.2. Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian
Sunda Parahiyangan ....................................................................... 73
4.1.2.1. Demografi ......................................................................... 73
4.1.2.2. Kelembagaan Sosial .......................................................... 74
4.1.2.3. Mata Pencaharian .............................................................. 76
4.1.2.4. Infrastruktur....................................................................... 80
4.1.3. Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat
Pertanian Sunda Parahiyangan ....................................................... 85
4.1.3.1. Sejarah Masyarakat ........................................................... 85
4.1.3.2. Spiritual Masyarakat ......................................................... 85
4.1.3.3. Budaya Masyarakat ........................................................... 86
4.1.3.3.1. Tradisi Muludan dan Nyangku .........................86
4.1.3.3.2. Konsep Kabuyutan ........................................... 89
4.1.3.3.3. Pengetahuan Ekologik Tradisional ..................93
4.1.4. Intervensi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Pertanian
Sunda Parahiyangan ..................................................................... 106
4.2. Karakterisasi Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..........................108
4.3. Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..........111
4.4. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan
Berkelanjutan .........................................................................................127
4.4.1. Konsep Pengelolaan Alam........................................................... 128
4.4.2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian ......................................... 129
4.4.3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian ..............................131
V. SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 137
5.1. Simpulan ................................................................................................137
5.2. Saran ......................................................................................................138
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................139
LAMPIRAN ........................................................................................................143

DAFTAR TABEL
1. Jenis data dan sumber perolehannya................................................................. 23
2. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Kebun-Talun ...............................43
3. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Kebun-Talun ...............46
4. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Sawah.......................................... 51
5. Pola Tanam di Agroekosistem Sawah .............................................................. 54
6. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Sawah ..........................55
7. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Pekarangan..................................58
8. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Pekarangan ..................59
9. Pola Pemanfaatan Lahan (Land Use)................................................................ 69
10. Kondisi Kependudukan di Daerah Studi ........................................................ 73
11. Kondisi Pendidikan Masyarakat di Daerah Studi ........................................... 74
12. Kondisi Mata Pencaharian Masyarakat di Daerah Studi ................................76
13. Ragam Mata Pencaharian Masyarakat di Daerah Studi..................................77
14. Kondisi Infrastruktur di Daerah Studi ............................................................ 81
15. Elemen Penyusun Rumah Panggung Masyarakat Sunda ...............................82
16. Ragam Jenis Tempat Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ...........................80
17. Nama 40 Tangkal Adam Pengisi Kabuyutan .................................................. 95
18. Ragam Jenis Fungsi Satwa Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.................97
19. Ragam Instruksi Petani kepada Kerbau dalam Aktivitas Membajak .............98
20. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Talun-Kebun dan
Pekarangan Berdasarkan PET Masyarakat Sunda .......................................... 99
21. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Sawah Berdasarkan PET
Masyarakat Sunda.........................................................................................100
22. Ragam Sistem Ukur Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ..........................102
23. Ragam Sistem Hitung Obyek Pertanian Secara Umum Berdasarkan PET
Masyarakat Sunda.........................................................................................102
24. Ragam Sistem Hitung Obyek Pertanian Sawah Berdasarkan PET
Masyarakat Sunda.........................................................................................103
25. Ragam Ukuran Waktu Berdasarkan PET Masyarakat Sunda .......................103
26. Ragam Penciri Waktu (Mangsa) Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ....... 105
27. Hasil Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Berdasarkan Kriteria CSA........116
28. Matriks Hubungan PET-NRC Menuju Keberlanjutan USDA..................... 124
29. Matriks Hubungan PET-CSA Menuju Keberlanjutan USDA ......................126
30. Implementasi Konsep Ruang Sunda dalam Skala Lanskap ..........................129

DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka Pikir Penelitian ...................................................................................4
2. Perkembangan Lanskap Pertanian (Agroekosistem) Masyarakat Sunda
(Sumber: Iskandar dan Iskandar, 2011) ............................................................ 10
3. Lokasi Penelitian ..............................................................................................17
4. Tahapan dan Metode Penelitian........................................................................ 20
5. Metode Penentuan Sampel Kampung (Dusun)................................................. 21
6. Lokasi Dusun di Daerah Studi .......................................................................... 22
7. Bentuk dan Ukuran Plot dalam Pengamatan Tanaman ....................................24
8. Bentuk Umum Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..................................31
9. Sebaran Kawasan Agroekosistem di daerah Studi ........................................... 32
10. Peta Sebaran Tanah di Kabupaten Ciamis ...................................................... 33
11. Bentuk Lahan (Landform) Kawasan Sunda Parahiyangan .............................34
12. Peta Sebaran Topografi di Kabupaten Ciamis ................................................ 35
13. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai
Kawasan Sawah (Kiri) dan Pekarangan dalam Permukiman (Kanan) ...........36
14. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai
Kawasan Sawah Berteras (Kiri) dan Talun-Kebun (Kanan) ..........................36
15. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai
Kawasan Hutan Lindung (Kiri) dan Hutan Produksi (Kanan) .......................37
16. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy ................................................. 38
17. Peta Sebaran Ketersediaan Air di Kabupaten Ciamis.....................................39
18. Pemanfaatan Awi (Kiri) dan Susukan (Kanan) sebagai Saluran Air
Tradisional Masyarakat Sunda ....................................................................... 39
19. Peta Sebaran Curah Hujan di Kabupaten Ciamis ........................................... 41
20. Tumbuhan Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) dengan Bentuk Daun (Kiri)
dan Habitatnya (Kanan) ..................................................................................45
21. Kondisi Agroekosistem Kebun-Talun di Daerah Studi ..................................46
22. Kondisi Agroekosistem Sawah di Daerah Studi ............................................. 49
23. Agroekosistem Padi Gogo Rancah dengan Bentuk Lahan Penanaman
(Kiri) dan Penyemaian (Kanan) ...................................................................... 49
24. Kombinasi Tanaman di Agroekosistem Sawah .............................................. 51
25. Kondisi Agroekosistem Pekarangan di Daerah Studi .....................................57
26. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Luas (> 500 m2) ....................................60
27. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Sedang (200-500 m2)............................60
28. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Sedang (< 200 m2) ................................60
29. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Ekstensif ............................................... 62
30. Pemanfatan Kotoran Ternak (Kiri) dan Tanaman (kanan) sebagai Pakan
Ikan di Pekarangan .........................................................................................64
31. Kondisi Kawasan Hutan Gunung Sawal......................................................... 66
32. Struktur Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan di Daerah Studi .................70
33. Pola Permukiman Memusat dan Mengelompok di Daerah Studi ...................71
34. Model Rumah Panggung di Daerah Studi ...................................................... 82
35. Ilustrasi Konstruksi Imah Panggung Sunda Panjalu ......................................84
36. Konsep Ruang Kabuyutan Sunda (Sumber: Hasil Wawancara dengan
Sesepuh KATCI) ............................................................................................90
37. Leuweung Tutupan di Kabuyutan Kapunduhan (Hariang Kuning) ...............92

38. Pemanfaatan Suluh (Kiri) dan Hawu (Kanan) dalam Aktivitas Reproduksi
Masyarakat (Memasak) ................................................................................ 120
39. Alat Musik Karinding Buhun masyarakat Sunda di Panjalu ........................123
40. Konsep Pengelolaan Lanskap Pengelolaan Lanskap Pertanian
Berkelanjutan ................................................................................................128
41. Pemanfaatan Awi (Bambu) dalam Konservasi Tanah dan Air .....................132
42. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan
Berkelanjutan ................................................................................................133
43. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan . 134

DAFTAR LAMPIRAN
1. Aspek Kajian dalam Mencapai Sistem Pertanian Berkelanjutan (National
Research Council/NRC) ................................................................................. 145
2. Aspek Kajian dalam Menggali Pengetahuan Masyarakat Lokal
Berkelanjutan (Community Sustainablility Assessment/CSA) ........................151
3. Kriteria Penilaian dalam Community Sustainablility Assessment/CSA .........158
4. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Kebun-Talun ......................159
5. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Sawah .................................160
6. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Pekarangan .........................161

I. PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang
Model pertanian konvensional yang lebih berorientasi kepada percepatan
pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan telah mengakibatkan dampak
negatif pada ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan pertanian.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa sudah saatnya Indonesia sebagai negara
yang kaya akan sumber daya pertanian (negara agraris) mengubah paradigma ke
arah pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dalam hal
sistem, strategi, dan kebijakan. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai
pertanian yang memiliki daya saing tinggi, produktif, menguntungkan,
mengkonservasi sumber daya pertanian, meningkatkan kualitas pangan, serta
menjaga ketersediaan saat ini dan akan datang. Dengan demikian, pembangunan
pertanian harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan hewan, tidak
merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak, dan
secara sosial-budaya dapat diterima (FAO, 2010).
Indonesia, sebagai negara agraris dengan mayoritas penduduknya
merupakan masyarakat pertanian, memiliki keterkaitan yang erat dengan
pembangunan pertanian berkelanjutan. Masyarakat Indonesia dengan pekerjaan
utama di bidang pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan memiliki porsi
terbesar dengan jumlah pekerja 84.320.748 jiwa atau sekitar 35% dari total
penduduk

Indonesia

yang

berjumlah

237.641.000

jiwa

(BPS,

2011).

Melimpahnya potensi alam, kuatnya budaya masyarakat agraris serta beragamnya
kearifan masyarakat lokal, sangat berpotensi dalam merealisasikan Indonesia
sebagai negara agraris berkelanjutan yang mampu menciptakan kelestarian
sumber daya alam dan lingkungan, kesejahteraan sosial, serta pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan.
Kawasan perdesaan sebagai basis produksi pertanian dengan beragam
budaya masyarakatnya telah melahirkan berbagai macam kearifan lokal. Kearifan
lokal tersebut telah melalui perjalanan panjang sehingga menjadi intisari dan
kompilasi pengalaman hidup serta terus diwariskan secara turun-temurun (Sartini
2004). Kearifan lokal masyarakat pertanian sebagai cerminan dari pengetahuan

2

ekologi tradisional dapat menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak
negatif bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat, serta merusak alam dan
lingkungan. Kearifan lokal telah terintegrasi secara sadar dalam penataan lanskap
pertanian, tata cara bertani, dan pola kehidupan masyarakat pertanian.
Budaya bertani tercermin dalam kehidupan masyarakat pertanian Sunda
Parahiyangan di Kabupaten Ciamis sebagai bagian integral dari suatu lanskap
pertanian yang memanfaatkan sumber daya pertanian menjadi ragam bentuk
agroekosistem. Sunda Parahiyangan merupakan kawasan yang dibentuk oleh
dataran tinggi hingga pegunungan. Karakteristik lanskap yang khas tersebut telah
membentuk suatu tatanan budaya masyarakat dengan sektor pertanian sebagai
sumber usaha dan penghasilan utama bagi masyarakatnya (Rigg, 1862; Lubis,
Nugraha, Wildan, Dyanti, Sofianto, Falah, Dienaputra, dan Djubiantono, 2003).
Kabupaten Ciamis merupakan bagian dari kawasan Parahiyangan/Priangan dan
termasuk ke dalam Satuan Wilayah Sungai Citanduy (DAS Citanduy).
Selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat pertanian berperan aktif
dalam mengelola sumber daya pertanian agar tetap lestari. Kondisi aktual di
daerah studi sebagai dampak dari sistem pertanian konvensional, terjadi berbagai
masalah pertanian seperti kesuburan dan produktivitas lahan menurun, daya
dukung lingkungan berkurang, konversi lahan, jumlah penduduk miskin dan
pengangguran relatif meningkat, serta kesenjangan sosial semakin terlihat jelas.
Peran ganda inilah yang menjadi hal menarik bahwa di satu sisi masyarakat
memerlukan sumber daya pertanian untuk keberlangsungan hidupnya, di sisi lain
mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungan sistem
ekologi pertanian agar tetap lestari.
Dengan demikian, kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dapat
menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan
sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat, serta kelestarian alam dan
lingkungannya. Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian
eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian
berkelanjutan.

Kajian

terhadap

karakteristik

lanskap

pertanian

Sunda

Parahiyangan menjadi salah satu obyek kajian yang dapat menghasilkan informasi
sebagai referensi bagi penerapan model lanskap pertanian berkelanjutan

3

1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan?
2. Bagaimana kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks
pertanian berkelanjutan saat ini?
3. Bagaimana hubungan antara lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dengan
konsep pertanian berkelanjutan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. mengkaji karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan;
2. mengkaji ragam bentuk manifestasi kearifan lokal masyarakat Sunda
Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan;
3. menyusun model lanskap pertanian Sunda Parahiyangan sebagai referensi bagi
model lanskap pertanian berkelanjutan.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. sebagai informasi bagi penguatan eksistensi budaya Sunda pada umumnya dan
khususnya kebudayaan Sunda Parahiyangan;
2. sebagai model acuan pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan di
perdesaan yang berbasis kearifan masyarakat lokal;
3. sebagai dasar pertimbangan penentuan kebijakan dalam mengelola lanskap
pertanian yang berkelanjutan di perdesaan.
1.5. Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan masalah pertanian yang terjadi, diperlukan upaya pemecahan
masalah yang komprehensif dengan melihat setiap elemen masalah sebagai suatu
sistem yang saling terkait. Adanya isu pembangunan pertanian berkelanjutan
berpotensi untuk memaksimalkan sumber daya lanskap pertanian dengan
mempertimbangkan aspek kearifan lokal sehingga dapat dijadikan pendorong
dinamisasi dalam mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan (Gambar 1).

4

Lanskap Sunda Parahiyangan

Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan
di kawasan hulu DAS Citanduy

Sumber Daya Lanskap Pertanian

Sumber Daya Masyarakat Pertanian

Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda
Parahiyangan

Ancaman/Masalah

Potensi Keberlanjutan

Upaya/Strategi Kebijakan Pengelolaan Lanskap
Pertanian Berkelanjutan

Lanskap Pertanian Berkelanjutan Berbasis Kearifan
Lokal Masyarakat Sunda Parahiyangan

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Lanskap Pertanian
Lanskap dapat didefinisikan sebagai suatu bentang alam yang memiliki
elemen pembentuk, komposisi, dan karakteristik khas yang dapat dinikmati oleh
seluruh indera manusia yang terintegrasi secara harmoni dan alami untuk
memperkuat karakternya sehingga dapat dibedakan dengan bentuk lainnya
(Simonds, 1983). Lanskap didefinisikan pula sebagai proses polarisasi yang tidak
hanya menyebabkan perbedaan tata guna lahan, tetapi juga dalam aspek sosial,
budaya, ekonomi, dan ekologi. Berdasarkan pengaruh interaksi manusia di
dalamnya, lanskap dikategorikan menjadi lanskap alami (natural landscape) dan
lanskap buatan (man-made landscape). Salah satu bentuk dari lanskap buatan
adalah lanskap pertanian.
Pertanian didefinisikan sebagai upaya manusia dalam mengusahakan
sumber daya alam dan lingkungannya guna menghasilkan bahan pangan, bahan
baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997). Pertanian merupakan sistem yang
tumbuh, berproses, dan menyediakan pangan, pakan, serat, tanaman hias, dan
biofuel untuk suatu bangsa. Pertanian mencakup pengelolaan sumber daya alam
seperti air permukaan dan air tanah, hutan dan lahan lain untuk penggunaan
komersial atau rekreasi, pelestarian vegetasi langka dan satwa liar, lingkungan
sosial, fisik, dan biologis, serta isu-isu kebijakan yang berhubungan dengan
keseluruhan sistem (NRC, 2010).
Berdasarkan definisi tersebut, lanskap pertanian dapat didefinisikan sebagai
bentuk lahan yang memiliki komposisi dan karakteristik elemen pembentuk yang
mencerminkan aktivitas pertanian. Aktivitas pertanian tidak hanya dalam konteks
budidaya tanaman, tetapi mencakup kegiatan pembesaran hewan ternak,
pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim pada kegiatan pascapanen, serta
pemanfaatan langsung seperti penangkapan ikan dan pemanfaatan sumber daya
hutan (FAO, 2011). Lanskap pertanian merupakan kumpulan elemen pembentuk
karakter lahan yang merepresentasikan budaya bertani dan konservasi yang
dikelola oleh masyarakat untuk mencapai keberlanjutan produksi pangan,

6

kesejahteraan masyarakat lokal, dan kelestarian ekosistem. Lanskap pertanian
memiliki peranan penting dalam mengakomodasi kebutuhan sosial-ekonomi
masyarakat (Turpin dan Oueslati, 2008) dan sebagai habitat bagi keanekaragaman
hayati (Arifin, 2012; Billeter, 2008).

2.2. Sunda Parahiyangan
Istilah Parahiyangan memiliki arti yang beragam berdasarkan sudut pandang
yang mendefinisikannya. Dalam kepercayaan Sunda kuno, masyarakat percaya
bahwa roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat yang luhur dan tinggi
sehingga wilayah pengunungan dianggap sebagai tempat bersemayam. Dengan
kata lain, Parahiyangan dapat diartikan sebagai tempat para Hiyang bersemayam
(Para-hiyang berarti jamak dari Hiyang).
Secara etimologi, Parahiyangan merupakan kata serapan dari bahasa Jawa
kuno Parahyangan yang didefinisikan sebagai tempat tertinggi tempat para
Hyang bersemayam. Dalam naskah Nagarakartagama Pupuh 76: 1-12,
Parahyangan disebut sebagai tempat suci Dharma Ipas Pratista Siwa (Lubis et al.,
2003). Berdasarkan hal itu, masyarakat Sunda kuno menggangap jajaran
pegunungan di Jawa Barat sebagai Parahiyangan. Berdasarkan sejarah
perkembangan Kerajaan Sunda, jajaran pengunungan di kawasan tengah Jawa
Barat dianggap sebagai kawasan suci tempat Hyang bersemayam. Legenda Sunda
menceritakan bahwa tanah Parahiyangan tercipta ketika Tuhan tersenyum dan
mencurahkan berkah dan restu-Nya. Kisah ini menunjukkan keindahan dan
kemolekan alam Tatar Sunda yang subur dan makmur (Rosidi, 2000).
Lubis et al. (2003) mendefinisikan Parahiyangan atau lebih dikenal dengan
Priangan sebagai sebutan untuk Kerajaan Sunda (932-1579 M) yang meliputi
wilayah Tatar Sunda sebelah barat (Selat Sunda) hingga timur dan mencakup
sebagian wilayah Jawa Tengah bagian selatan (Sungai Cipamali dan Danau
Segara Anakan). Kerajaan Sunda merupakan gabungan dua kerajaan besar
(Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda) dengan pusat pemerintah yang tidak pernah
menetap. Pemerintahan bermula di Galuh Kawali dan berakhir di Pakuan
Pajajaran hingga berakhir pada tahun 1579 M dan terbagi menjadi empat pusat
kekuasaan (Banten, Cirebon, Sumedanglarang, dan Galuh).

7

Berdasarkan sejarah Kolonial (VOC), sebelum Priangan jatuh ke tangan
VOC, Priangan dibentuk sebagai wilayah politik setingkat kabupaten oleh Sultan
Mataram pada tahun 1641 M. Kekuasaan Mataram di Priangan berakhir
berdasarkan perjanjian dengan VOC pada tahun 1677 dan 1705 M. Dalam
perjanjian pertama disepakati penyerahan kekuasaan Priangan Timur, sedangkan
perjanjian kedua disepakati penyerahan Priangan Tengah dan Barat ke pihak VOC
sebagai balas jasa atas penyelesaian permasalahan dalam kekuasaan Mataram.
Sejarah berlanjut dengan penguasaan Parahiyangan (Priangan) oleh Jenderal
Daendels (1799 M) dengan membagi Pulau Jawa menjadi Sembilan prefecture, di
antaranya, adalah Prefecture Priangan yang terdiri dari Cianjur, Bandung,
Sumedang, dan Parakanmuncang. Pembagian dilakukan berdasarkan kebijakan
Preangerstelsel warisan kompeni yang tetap dipertahankan karena dinilai
menguntungkan. Priangan dalam masa itu dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah
surplus kopi (Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang) dan daerah
minus kopi (Limbangan, Sukapura, dan Galuh).
Pada tahun 1811 M, Priangan jatuh ke tangan Inggris dengan Gubernur
Raffles sebagai pemimpinnya. Priangan dibagi menjadi 16 keresidenan, di
antaranya, adalah Keresidenan Priangan yang meliputi delapan afdeeling (Cianjur,
Sukabumi, Bandung, Cicalengka, Sumedang, Limbangan, Tasikmalaya, dan
Sukapura Kolot). Setelah melalui perkembangan sejarah, wilayah Parahiyangan
saat ini termasuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat yang terdiri
dari Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
Berdasarkan sudut pandang lanskap, Parahiyangan didefiniskan oleh Rigg
(1862) sebagai sebutan bagi daerah di wilayah Tatar Sunda dengan karakteristik
elemen penyusun lanskap yang khas. Rigg (1862) menambahkan istilah Priangan
yang diserap dari bahasa Belanda (Prianger) merupakan nama lokal untuk
wilayah di Jawa Barat dengan karakter alam berupa daratan (dataran tinggi hingga
pegunungan) serta dikelilingi oleh pegunungan dan gunung berapi (ring of fire).
Batasan kawasan Sunda Parahiyangan berdasarkan ketinggian tempatnya, dapat
diidentifikasi melalui pendekatan definisi gunung.

8

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) mendifinisikan gunung sebagai
bagian dari muka bumi yang besar dan tinggi dengan ketinggian lebih dari 600
meter di atas permukaan laut (mdpl.). Miskinis (2011) menambahkan definisi
gunung sebagai bagian bumi (relief) yang memiliki ketinggian lebih dari 600
meter di atas permukaan laut, isi, bentuk, ketajaman, dan susunan yang saling
terhubung. Susunan gunung yang membentuk pegunungan merupakan bagian
bumi yang menutupi 24% permukaan bumi dan menjadi rumah bagi 12% populasi
di dunia (Sharma, Chettri, and Oli, 2010; FAO, 2007). Berdasarkan hal itu, daerah
gunung/pegunungan yang berada diketinggian lebih dari 600 mdpl. digolongkan
ke dalam kawasan Parahiyangan.
Masyarakat gunung (mountain people) secara sederhana didefinisikan
sebagai suatu masyarakat yang hidup di daerah gunung atau pegunungan (Rigg,
1862). Masyarakat Sunda Parahiyangan dikenal sebagai masyarakat gunung
(urang gunung) berdasarkan tempat mereka hidup dan hampir seluruh aktivitas
kehidupannya berada di daerah pegunungan. Dengan demikian, masyarakat Sunda
Parahiyangan sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
FAO (2007), disimpulkan bahwa masyarakat gunung termasuk ke dalam
masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, dan mengalami
ketidakcukupan pangan (food insecurity).
Kemiskinan yang terjadi pada masyarakat gunung sangat antagonis ketika
melihat fungsi vital dari gunung bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya. Gunung berfungsi sebagai penyedia air, udara, penjaga stabilitas
keanekaragaman hayati, dan penyedia komoditas yang bernilai ekologis, sosial,
budaya, dan ekonomi. Namun, kondisi saat ini menunjukkan ekosistem gunung
telah mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya. Degradasi lahan yang
terjadi, di antaranya, adalah semakin berkurang tanah subur, air, dan
keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan, papan, sandang, dan energi bagi
masyarakat. Beberapa faktor penyebab terjadinya degradasi lahan di pegunungan
yang berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan ketidacukupan pangan
masyarakat, di antaranya, adalah tingginya aktivitas perambahan hutan, konversi
lahan, dan pertumbuhan populasi.

9

2.3. Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal
Masyarakat gunung tidak terlepas dari aktivitas pertanian sebagai tempat
mereka menggantungkan hidupnya (FAO, 2007). Berdasarkan sejarah, budaya,
dan karakteristik alam serta lingkungannya, masyarakat gunung Sunda
Parahiyangan memiliki keunikan yang tercermin dalam aktivitas masyarakatnya
seperti dalam hal pertanian (Lubis et al., 2003). Secara umum masyarakat Sunda
memiliki mata pencaharian utama dalam perburuan, pertambangan, perikanan,
perniagaan, pelayaran, pertanian, dan peternakan. Aktivitas pertanian masyarakat
Sunda di pedalaman berdasarkan informasi dalam Sanghyang Siksakandang
Karesian (Danasasmita, 1987) adalah perladangan yang berkembang menjadi
sistem perkebunan. Sistem persawahan baru dikembangkan pada awal abad ke-17
ketika pengaruh Mataram masuk wilayah Tatar Sunda (Lubis et al., 2003).
Sistem pertanian yang berkembang di daerah Jawa Barat pada umumnya
adalah sistem agroforestri berupa kebun-talun dan pekarangan (Soemarwoto dan
Conway, 1992), serta sistem padi sawah (Christanty, Abdoelah, Marten, dan
Iskandar, 1986). Sistem pertanian tersebut merupakan modifikasi dari sistem
pertanian tradisional Jawa (Christanty et al., 1986). Iskandar dan Iskandar (2011)
menambahkan bahwa dalam perkembangan sejarah masyarakat Sunda, sistem
ekologi

pertanian

(agroekosistem)

yang

dijalankan

terdiri

dari

lima

agroekosistem, yaitu huma, kebun-talun, sawah, kebun sayuran, dan pekarangan
(Gambar 2). Perkembangan agroekosistem dipengaruhi oleh perkembangan
kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya pertanian yang tidak hanya untuk
pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi meningkat ke arah pemenuhan kebutuhan
sosial-ekonomi dan spiritual-budaya.
Soemarwoto (1984) mendefinisikan kebun-talun sebagai sistem rotasi antara
kebun campuran dan tanaman kayu yang merupakan sistem pertanian tradisional
untuk meningkatkan produksi dan menyediakan banyak fungsi serta manfaat.
Berdasarkan masa perkembangannya, Iskandar dan Iskandar (2011) menjelaskan
bahwa awal pembentukan sistem pertanian kebun-talun dimulai dengan
pembukaan talun tua menjadi kebun. Selanjutnya kebun berkembang dan
diberakan

hingga

menjadi

talun

kembali.

perkembangannya adalah talun-kebun-talun.

Dengan

demikian

rotasi

10

Huma

Dibuka
Dibuka
Dibera

Leuweung Kolot
Dibera

Sistem Huma

Dibera

Reuma Ngora

Reuma Kolot
Dikonversi
Irigasi

Non-Irigasi
Non-Irigasi

Tegalan

Sistem Sawah
Dibangun Rumah

Talun
Dibangun Rumah

Dibera

Dibuka
Sis

Dokumen yang terkait

Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape