Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency

EKS
STERNA
ALITAS NEGATIF
N
F DAN LA
AJU EKS
STRAKSII
OPTIM
MAL PEN
NAMBAN
NGAN PA
ASIR BESI
DII KABUP
PATEN TASIKMA
T
ALAYA

ZUL
L IKMAR EDWARD
D

SEKOL
LAH PASC
CASARJAN
NA
INSTITU
UT PERTA
ANIAN BOG
GOR
BOGO
OR
2012
2


 

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Eksternalitas Negatif dan Laju
Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya adalah
karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.

Bogor, September 2012

Zul Ikmar Edward
NRP H351100051

iii 
 

ABSTRACT

EDWARD. Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at
Tasikmalaya Regency. Under direction of EKA INTAN KUMALA PUTRI and
ZUZY ANNA
Exhaustible resources get special attention in the economics literature. Rapid
demand is responsible for unsustainable extraction of iron sand mining at
Tasikmalaya Regengcy. Iron sand mining effects at the stream river mining
resulted in channel degradation and erosion increased turbidity, stream bank
erosion and sedimentation of riffle areas. All these changes adversely affect fish
and other aquatic organisms either directly by damage to organisms or through
habitat degradation or indirectly through disruption of food web. This situation
has implification to fisherman income because of decreasing fish production at
Tasikmalaya Regency. Further, effects on disturbing road function at overloaded
truck hauling which increase the travel time and fuel consumption. This study is
an attempt to estimate the negative externalities and also estimate Pigouvian tax
and path of optimal extraction iron sand mining along Tasikmalaya Regency. The
total of negative externality in area of sand mining per 5 years Rp
3.674.811.431,9. It is suggested to impose a Pigouvian tax of Rp 9.579 on each
sand tonnage truck load in order to compensate the fisherman and road user for
loss incurred due to iron sand mining. This paper also tests Hotelling’s prediction
that level of extraction period for a iron sand mining with and without negative
externalities was included at cost function. The result are, the optimality with
negative externalities period extraction 28 years and optimality without
externalities 27 years.
Keywords: negative externalities, tax, optimal extraction


 

RINGKASAN

ZUL IKMAR EDWARD. Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal
Penambangan Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya. Dibimbing oleh EKA
INTAN KUMALA PUTRI dan ZUZY ANNA
Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi
telah berlangsung sejak lama. Mekanisasi peralatan telah menyebabkan skala
penambangan semakin menjadi besar.Hal ini menyebabkan kegiatan
penambangan menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat
penting. Dalam industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan
seringkali belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya
kerusakan lingkungan. Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan
sumberdaya tambang pasir besi cukup besar di Indonesia. Potensi ini tentunya
akan menarik minat banyak investor untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang
akan sangat bermanfaat untuk kepentingan perusahaan dan meningkatkan
pendapatan asli daerah. Kegiatan eksploitasi ini ternyata juga berdampak pada
kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa Tengah
yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan mencapai
puluhan kilometer. Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan
jalan umum yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi
juga oleh masyarakat umum. Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir
besi ini juga telah menurunkan pendapatan nelayan tangkap dengan perubahan
jumlah tangkapan setiap tahunnya. Proses pencucian dan pemurnian pasir besi ini
menyebabkan peningkatan kadar bahan berbahaya diperairan pantai dan sungai.
Nilai kerugian ekonomi yang ditanggung oleh pihak diluar perusahaan
penambangan pasir besi tersebut belum terkuantifikasi dengan baik, sehingga
dibutuhkan penelitian berapa nilai kerugian (eksternalitas negatif) yang
ditimbulkan aktivitas penambangan pasir besi.
Valuasi ekonomi kerusakan lingkungan adalah salah satu metode paling
tepat untuk memperkirakan beban kerusakan yang ditanggung oleh pihak diluar
perusahaan penambangan pasir besi. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan
empat tujuan penelitian mengenai kondisi kerusakan lingkungan yang
menyebabkan perubahan produktivitas pada sektor perikanan dan gangguan
kinerja ruas jalan di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu: (1) Mengkaji pola ekstraksi
dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi, (2) Mengestimasi nilai
kerusakan jalan, pendapatan nelayan akibat penambangan pasir besi akibat
pengangkutan pasir besi, (3) Menentukan laju ekstraksi optimal tanpa dan dengan
eksternalitas, yang paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi, (4)
Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi
dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya.

vii 
 

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya
Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini disebabkan karena potensi cadangan
pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya telah dieksploitasi cukup besar, namun
proses penambangannya masih banyak menimbulkan masalah lingkungan
(eksternalitas negatif). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April
2012.Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara
dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner).
Responden yang diamati yaitu nelayan, masyarakat pengguna jalan dengan
kendaraan roda 2 dan 4. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan metode purposive sampling, yaitu metode pengambilan sampel
yang dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Kondisi perikanan tangkap di Kecamatan Cipatujah pada tahun 2007 2011
menunjukkan fluktuasi. Beberapa spesies yang ditangkap dengan alat tangkap
tertentu mengalami penurunan produktivitas. Hasil perhitungan nilai kerugian
ekonomi menggunakan pendekatan perubahan produktivitas didapatkan total
kerugian sebesar Rp. 305 juta. Eksternalitas negatif yang berhubungan gangguan
fungsi jalan ruas Cipatujah-Kalapagenep difokuskan terhadap kehilangan waktu
tempuh dan peningkatan konsumsi BBM kendaraan bermotor. Nilai kerusakan
jalan ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi pengguna jalan sebesar Rp.3,36
milyar. Total nilai kerusakan jalan ditambah dengan penurunan produktivitas
perikanan adalah Rp. 3,67 milyar.
Penggabungan nilai eksternalitas kedalam biaya produksi penambangan
pasir besi menghasilkan umur laju ekstraksi selama 28 tahun. Periode ini lebih
lama dibandingkan dengan umur laju ekstraksi tanpa mempertimbangkan biaya
eksternalitas yaitu selama 27 tahun. Jika dibandingkan dengan laju ekstraksi
aktual, menunjukkan hasil optimasi memiliki volume ekstraksi yang lebih
berlanjut (sustainable), serta lebih merata sepanjang periode dengan
kecenderungan volume ekstraksi menurun terhadap jumlah cadangan.
Hasil perhitungan kerugian terhadap dua aspek yaitu sarana dan prasarana
jalan dan kerugian disektor perikanan dijadikan sebagai proxy nilai pajak
lingkungan.Nilai besaran pajak lingkungan yang harus dibayarkan untuk setiap
tonase pasir besi sebesar Rp. 9.579. Selama ini, pajak tersebut tidak dihitung
sebagai biaya produksi perusahaan, sehingga menjadi bagian tanggungan yang
harus diterima oleh masyarakat pengguna jalan dan nelayan.
Kata Kunci : eksternalitas negatif, laju ekstraksi optimal, pajak lingkungan

©Hak Cipta milik IPB, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk
kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan
laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan
tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

ix 
 

EKSTERNALITAS NEGATIF DAN LAJU EKSTRAKSI
OPTIMAL PENAMBANGAN PASIR BESI
DI KABUPATEN TASIKMALAYA

ZUL IKMAR EDWARD

Tesis
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

xi 
 

Penguji Luar Komisi Pada Ujian Tesis: Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, M.Sc

Judul Tesis : Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi Optimal Penambangan
Pasir Besi di Kabupaten Tasikmalaya
Nama
: Zul Ikmar Edward
NRP
: H351100051

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS
Ketua

Dr. Dra. Zuzy Anna, M.Si
Anggota

Diketahui
Ketua Program Studi
Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan

Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc

Tanggal Ujian : 25 Juli 2012

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc, Agr

Tanggal Lulus :

xiii 
 

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul dalam penelitian yang
dilaksanakan sejak bulan Februari 2012 ini adalah Eksternalitas Negatif dan Laju
Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi Di Kabupaten Tasikmalaya.
Terimakasih penulis ucapkan kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS, ketua komisi pembimbing yang telah
banyak memberi saran dan arahan.
2. Dr. Dra. Zuzy Anna M.Si, anggota komisi pembimbing yang telah banyak
memberi saran dan arahan serta akses dalam penelitian ini.
3. Ibu, kakak, istri dan seluruh keluarga penulis yang telah membantu
penyelesaian tugas akhir ini atas semua doa dan bantuan lainnya.
4. Seluruh

Bapak-Bapak

Tasikmalaya,

UPTD

dan
Dinas

Ibu-Ibu

di

Dinas

Pertambangan

Perikanan

Kabupaten

Kabupaten

Tasikmalaya,

masyarakat Kecamatan Cipatujah dan lainnya yang tidak sempat disebutkan
disini.
5. Teman-teman ESL, ESK, EPN angkatan 2010.
6. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas akhir ini disadari atau
tidak disadari.
7. Teman-teman dan adik-adik di Perguruan Merpati Putih yang luar biasa
dengan selalu penuh kerendahatian, kesederhanaan dan keikhlasan, tapi penuh
nyali. Sungguh menginspirasi.
Terakhir, penulis juga mohon maaf jika ada pihak-pihak yang merasa
terbebani dan terganggu dengan proses pembuatan dan hasil tugas akhir ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kebaikan yang benar, amin.

Bogor, September 2012

ZiE..

xv 
 

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xix
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xxi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xxiii
I. PENDAHULUAN ....................................................................................
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ...................................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat .................................................................................
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ..........................................................................

1
1
4
7
7

II. TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................
2.1 Kegiatan Penambangan Pasir Besi .............................................................
2.2 Eksternalitas ...............................................................................................
2.3 Jenis-Jenis Eksternalitas .............................................................................
2.4 Solusi Eksternalitas ....................................................................................
2.5Teori Pemanfaatan Sumberdaya Secara Optimal ........................................
2.6 Pajak Sebagai Instrumen Ekonomi Pengelolaan ........................................
2.7 Tinjauan Penelitian Sejenis Terdahulu ......................................................

9
9
13
14
17
17
21
23

III. KERANGKA PEMIKIRAN ...................................................................

27

IV. METODE PENELITIAN........................................................................
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data ..............................................................................
4.3 Metode Pengumpulan Data .......................................................................
4.4 Analisis Data .............................................................................................
4.4.1 Pola Ekstraksi Aktual .............................................................................
4.4.2 Analisia Kerusakan Lingkungan ............................................................
4.4.3 Analisa Tingkat Ekstraksi Optimal Pasir Besi Dengan dan Tanpa
Adanya Eksternalits Negatif ..................................................................
4.4.4 Analisis Tingkat Pajak Lingkungan .......................................................
4.5 Batasan dan Pengukuran ...........................................................................
4.6 Asumsi Penelitian .....................................................................................

29
29
29
29
32
32
32

V. GAMBARAN UMUM .............................................................................
5.1 Kondisi Umum Wilayah Penelitian ..........................................................
5.2 Sosio Demografi Wilayah Penelitian ........................................................
5.3 Gambaran Umum Kegiatan Penambangan Kecamatan Cipatujah ...........
5.4 Karakteristik Responden ...........................................................................

39
39
41
42
47

34
35
36
36

xvii 
 

VI. POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI
PENAMBANGAN PASIR BESI ............................................................
6.1 Pola Ekstraksi Aktual Pasir Besi Kabupaten Tasikmalaya .......................
6.2 Analisis Ekonomi Penambangan Pasir Besi ...............................................

51
51
60

VII. EKSTERNALITAS, LAJU EKSTRAKSI OPTIMAL DAN PAJAK
LINGKUNGAN PENAMBANGAN PASIR BESI ...............................
7.1 Penurunan Produksi PerikananTangkap .....................................................
7.2 Kerugian Akibat Kerusakan Jalan ..............................................................
7.3 Laju Ekstraksi Optimal Penambangan Pasir Besi ......................................
7.4 Solusi Eksternalitas Dengan Nilai Pajak Lingkungan ................................
7.5 Implementasi Pajak Lingkungan ...............................................................

65
65
73
83
88
93

VIII. SIMPULAN DAN SARAN ...................................................................
8.1 Simpulan .....................................................................................................
8.2 Saran ...........................................................................................................

95
95
96

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 97
LAMPIRAN .................................................................................................... 100

DAFTAR TABEL

Halaman
1. Tabulasi perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu ...........
2. Rincian Sampel Informan ...................................................................
3. Matriks Rencana Penelitian..................................................................
4. Panjang Kerusakan Kondisi Jalan Ruas Cipatujah Kalapagenep 2011
5. Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Cipatujah ..........................
6. Jenis Kelamin, Pendidikan Responden ................................................
7. Tingkat Umur Responden ...................................................................
8. Jenis Pekerjaan Responden Pengguna Jalan ........................................
9. Klasifikasi Pendapatan Responden Dalam Rupiah ..............................
10. Karakteristik Responden Nelayan ......................................................
11. Hasil Pengukuran Beberapa Variabel Kualitas Air .............................
12. Volume Angkut Pasir Besi Per Ritase ...............................................
13. Rincian Biaya Penambangan Pasir Besi ..............................................
14. Perkembangan Harga & Penerimaan dari Penambangan Pasir Besi ...
15. Sumber Pertumbuhan PDRB Kabupaten Tasikmalaya Menurut
Lapangan Usaha ...................................................................................
16. Jenis Alat Tangkap Nelayan Kecamatan Cipatujah .............................
17. Jumlah Produksi Perikanan Tangkap TPI Pamayang Sari ...................
18. Kehilangan Produktivitas Perikanan Peralat Tangkap .........................
19. Kondisi Jalan Menurut Responden ......................................................
20. Penyebab Kerusakan Jalan Menurut Responden .................................
21. Statistik Kinerja Jalan dan Pendapatan Responden ................................
22. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Waktu Tempuh
Kendaraan Roda 2 ................................................................................
23. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Waktu Tempuh
Kendaraan Roda 4 ................................................................................
24. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Konsumsi BBM
Kendaraan Roda 2 ...............................................................................
25. Nilai Kerugian Akibat Peningkatan Konsumsi BBM
Kendaraan Roda 4 ................................................................................
26. Kerugian Kerusakan Jalan Akibat Penambangan Pasir Besi ...............
27. Jumlah Produksi Pasir Besi ..................................................................

26
30
31
41
42
48
49
49
50
50
57
59
61
62
65
67
69
73
74
75
76

78
80
81
82
82
84

xix 
 

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Eksternalitas Negatif Pada Penambangan Pasir Besi ..........................
2. Eksternalitas Negatif Dengan Pajak .....................................................
3. Kerangka Penelitian Eksternalitas Negatif Dan Laju Ekstraksi
Optimal Penambangan Pasir Besi ........................................................
4. Peta Lokasi Kabupaten Tasikmalaya ................................................
5. Proses Penambangan Pasir Besi Yang Menyebabkan Eksternalitas
6. Ilustrasi Kondisi Gumuk Pasir Penambangan Pasir Besi Kabupaten
Tasikmalaya .........................................................................................
7. Proses Pemurnian Pasir Besi ................................................................
8. Jalan Rusak di Cipatujah ...................................................................
9. Truk Pengangkut Pasir Besi .................................................................
10. Suasana Pelelangan di TPI Pamayangsari ...........................................
11. Alat Tangkap Gillnet ............................................................................
12. Perahu Ukuran 1 GT ............................................................................
13. Jumlah Produksi Perikanan Tangkap TPI Pamayangsari.....................
14. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Jaring .....................................
15. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Pancing ..................................
16. Perkembangan Produksi Alat Tangkap Gillnet ....................................
17. Laju Ekstraksi Optimal Pasir Besi Dengan dan Tanpa Eksternalitas ..
18. Kurva Eksternalitas penambangan terhadap jumlah produksi .............
19. Kurva Total Biaya Penambangan Besi Terhadap Jumlah Produksi.....
20. Kurva Total Penerimaan Terhadap Jumlah Produksi...........................
21. Kurva pergeseran produksi dengan adanya eksternalitas....................

14
22
28
40
54
55
58
59
59
67
68
68
69
70
71
72
87
88
89
90
92

xxi 
 

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perusahaan pasir besi yang beroperasi di Kecamatan Cipatujah .........
Harga ikan perjenis di TPI Pamayangsari ............................................
Jumlah produksi ikan dan alat tangkap yang digunakan ......................
Perubahan produktivitas alat tangkap ..................................................
Biaya produksi penambangan pasir besi ..............................................
Total penerimaan penjualan pasir besi .................................................
Hasil regresi biaya variabel penambangan dengan jumlah produksi
pasir besi .............................................................................................
8. Kerugian total akibat penambangan pasir besi.....................................
9. Regresi nilai eksternalitas dengan jumlah produksi pasir besi.............
10. Laju ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas ........................
11. Hasil olah data perhitungan tingkat pajak ............................................
12. Hasil interpolasi kehilangan kecepatan ................................................
13. Hasil interpolasi kehilangan waktu tempuh .........................................
14. Perbandingan UMK pertahun dengan pendapatan responden .............

103
103
104
104
105
105
106
106
106
107
108
109
109
109

xxiii 
 

BABI
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kegiatan penambangan untuk mengambil bahan galian dari lapisan bumi

telah

berlangsung

sejak lama. Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar

ekstraksi relatif tidak berubah, namun yang berubah adalah skala kegiatannya.
Mekanisasi peralatan penambangan telah menyebabkan skala penambangan
menjadisemakin besar. Perkembangan teknologi pertambangan menyebabkan
ekstraksi bahan tambang menjadi lebih ekonomis, sehingga semakin luas dan
dalam lapisan bumi yang harus di gali. Hal ini menyebabkan kegiatan tambang
menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar dan bersifat penting
(Bapedal2001). Penambangan selalu mempunyai dua sisi yang saling berlawanan,
yaitu sebagai sumber kemakmuran, sekaligus perusak lingkungan yang sangat
potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sudah tidak diragukan lagi bahwa sektor
ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak
lingkungan, terutama penambangan terbuka (open pit mining) dapat merubah pola
iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang
disingkirkan.
Pertumbuhan industri yang cukup tinggi di Indonesia disatu sisi memberikan
kontribusi positif terhadap ekonomi Indonesia melalui penerimaan negara berupa
pajak, royalti dan pungutan lainnya. Disisi lain indikasi terjadi peningkatan
kebutuhan bahan baku mineral logam dimasa mendatang sehingga mendorong
eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam. Kondisi ini diperparah oleh
sistem otonomi daerah yang berorientasi pada peningkatan pendapatan asli daerah
(PAD). Implikasinya kewenangan daerah dalam memberikan izin dalam
penambangan relatif lebih mudah dengan semangat peningkatan PAD, sehingga
ekstraksi sumberdaya tambang menjadi tidak terkendali. Hal ini justru
menimbulkan masalah yang sangat memprihatinkan
berlebihan

justru

menjadi

bumerang

yang

dimana eksploitasi yang

menyebabkan

peningkatan

kesejahteraan bersifat semu, artinya secara riil dengan semakin meningkatnya
ekstraksi sumberdaya alam namun tidak terjadi peningkatan kesejahteraan yang

1
 

nyata, bahkan lingkungan disekitar pemanfaatan sumberdaya alam menjadi rusak
dan tercemar.
Pada industri pertambangan, pengorbanan yang diperhitungkan seringkali
belum mencakup biaya oportunitas, termasuk di dalamnya biaya kerusakan
lingkungan. Beberapa dampak negatif akibat penambangan menyebabkan
kerusakan lahan perkebunan dan pertanian, dan terbukanya kawasan hutan. Dalam
jangka panjang, penambangan adalah penyumbang terbesar lahan sangat kritis
yang susah dikembalikan lagi sesuai fungsi awalnya, serta mencemari tanah, air
maupun udara. Pencemaran lainnya dapat berupa debu, gas beracun, bunyi,
kerusakan tambak dan terumbu karang di pesisir yang menyebabkan berkurang
dan lenyapnya sebagian keanekaragaman hayati sehingga mengganggu mata
pencaharian nelayan. Air tambang asam yang beracun jika dialirkan ke sungai
yang akhirnya ke laut akan merusak ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut,
serta menyebabkan berbagai penyakit dan mengganggu kesehatan, selain itu
sarana dan prasarana seperti jalan juga dapat rusak berat pada saat pengangkutan
bahan tambang (Noviana 2011).
Salah satu penambangan mineral yang sangat penting adalah penambangan
bahan dasar pembuatan besi, seperti pasir besi dan biji besi. Keberadaan pasir besi
di Indonesia cukup melimpah. Cadangan pasir besi dalam bentuk biji Indonesia
sekitar 1.014 milyar ton (Ishlah2009). Cadangan ini tersebar di beberapa provinsi
diantaranya Provinsi Jawa Barat sekitar 59 juta ton (BKPM 2010). Potensi ini
masih perlu dibuktikan agar cadangan yang tersedia terukur dengan jelas.
Umumnya semua lokasi penambangan pasir besi yang ada di Indonesia dilakukan
eksploitasi secara terbuka (open pit mining) dan berada pada wilayah pesisir
pantai (Miswanto et al.2008).
Jawa Barat merupakan provinsi dengan cadangan pasir besi cukup besar di
Indonesia, dengan cadangan terbukti sebesar hingga 59 juta ton yang tersebar di
beberapa kabupaten. Potensi ini tentunya akan menarik minat banyak investor
untuk melakukan eksploitasi pasir besi yang akan sangat bermanfaat untuk
meningkatkan pendapatan asli daerah. Disisi lain, eksploitasi pasir besi jika tidak
terkelola dengan baik dapat menjadi bumerang terhadap kerusakan lingkungan
dan penurunan kesejahteraan masyarakat. Dampak negatif yang banyak dirasakan


 

oleh masyarakat adalah meningkatnya kerusakan jalan akibat pengangkutan hasil
tambang melalui jalan umum.
Kerusakan jalan merupakan permasalahan serius yang dihadapi oleh hampir
seluruh negara di dunia. Kerusakan jalan ini disebabkan oleh banyak faktor, salah
satunya disebabkan oleh beban muatan kendaraan yang melintas overcapacity.
Kemampuan jalan sebesar (muatan sumbu terberat) MST 8 ton dan MST 10 ton,
dilalui oleh kendaraan dengan MST hingga 20 ton. Pada tahun 2010 Kerusakan
jalan di Indosesia terbesar berada pada jalan kabupaten/kota. Jumlah total panjang
jalan 288.185 km,sekitar 31,14% jalan rusak ringan, kondisi baik hanya 22,46%
nya dan sisanya rusak cukup berat. Jalan provinsi dengan panjang total 48.681 km
kondisinya baik hanya sekitar 5,85%, sedangkan dari 39.310 km jalan nasional
sebanyak 13,34% dalam kondisi rusak ringan, dan 49,67% dalam kondisi baik
serta sisanya rusak berat. 1 Ini termasuk jalan strategis seperti jalur Lintas Timur
Sumatera dan Pantai Utara Jawa. Diperkirakan ongkos sosial dan ekonomi yang
ditanggung masyarakat pengguna jalan sekitar 200 triliun

rupiah per tahun,

sangat besar apabila dibandingkan dengan investasi pemerintah yang 3-6 triliun
rupiah pertahun (Widjonarko 2007).
Kawasan pesisir merupakan daerah pengembangan perekonomian yang
dapat mengalami degradasi serta penurunan produktivitas. Degradasi dapat
disebabkan oleh adanya abrasi pantai, pencemaran dan perusakan hutan pantai.
Abrasi ini selain dipicu oleh naiknya muka air laut juga disebabkan penambangan
pasir didaerah pesisir. Indonesia dengan 17.508 pulau mempunyai panjang garis
pantai 95.000 km dan 20% garis pantai di Indonesia mengalami kerusakan akibat
abrasi yang mengalami peningkatan setiap tahun (pu.go.id 2010). Diantara banyak
kegiatan yang mengakibatkan penurunan kualitas pesisir adalah penambangan
bahan galian C (pasir pantai), penebangan liar hutan pantai, tekanan gelombang
pada saat pasang yang mengakibatkan abrasi pantai (Sumartin 2011).
Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah akibat berbagai
kegiatan yang dilakukan dipesisirnya. Kasus yang terjadi di daerah Balikpapan,
dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Contoh lain adalah kasus
                                                            
1

Seperti yang dinyatakan dalam judul “Sebagian Besar Jalan di Indonesia Kondisi Rusak”, 
www.poskota.co.id,  Desember 2011 
 

3
 

yang terjadi di sekitar Teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah
yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan pantai Taman
Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan
ekosistem Taman Nasional itu diperkirakan mencapai 75 km. Kerusakan itu salah
satunya berdampak terhadap hasil perikanan tangkap (Sumartin 2011). Hal serupa
juga dapat terjadi pada penambangan pasir besi didaerah pantai, proses
penambangan dan pencucian pasir besi akan mencemari perairan dan menurunkan
kualitas air bagi kehidupan hewan air serta rusaknya terumbu karang.
1.2

Perumusan Masalah
Permasalahan umum yang terjadi di pantai Selatan Jawa Barat adalah

terjadinya, abrasi, akresi, intrusi air laut, kerusakan mangrove dan terumbu
karang, serta alih fungsi lahan untuk kegiatan penambangan pasir besi.
Penambangan ini juga didorong oleh cadangan pasir besi yang cukup tinggi di
Jawa barat, dan posisi geografis lebih dekat dengan jalur pemasaran pelabuhan
Cilacap. Tercatat 25 perusahaan penambangan pasir besi, baik berskala menengah
maupun kecil yang memiliki izin. Keberadaan perusahaan tersebut menyebabkan
terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya pasir besi di Kabupaten
Tasikmalaya. Besarnya eksploitasi saat ini tentunya akan mengurangi ketersediaan
pasir besi pada masa mendatang.
Eksploitasi yang berlebihan juga menyebabkan kerusakan dan pencemaran
lingkungan. Proses pengangkutan pasir besi menuju pelabuhan Cilacap Jawa
Tengah yang melintasi jalanan umum menyebabkan rusaknya akses jalan hingga
puluhan kilometer. Berdasarkan data Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten
Tasikmalaya, panjang jalan kabupaten yang kondisinya rusak sepanjang 421,8
kilometer atau 32,3 persen dari total panjang jalan kabupaten sepanjang 1.303,3
kilometer yang beberapa ruas diantaranya dijadikan ruas jalan pengangkutan pasir
besi. 2 Kondisi ini menyebabkan terjadinya percepatan kerusakan jalan umum
yang tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan tetapi juga oleh
masyarakat umum. Kerugian bisa berupa semakin lamanya waktu tempuh dan
                                                            
2

Seperti yang dinyatakan dalam judul “32 Persen Jalan Tasikmalaya Rusak”, 
www.KOMPAS.com, Januari 2012  
 


 

peningkatan konsumsi bahan bakar minyak kendaraan. Pengangkutan menuju
Cilacap yang melewati jalur Tasik Selatan yaitu ruas Cipatujah - Cikalong Cimerak - Cilacap menempuh jarak sekitar 150 Km. Jarak tersebut harus
ditempuh 6 - 7 jam, padahal kondisi jalan pantura dengan jarak yang sama dapat
ditempuh dengan waktu 3 jam. Pada dasarnya pengangkutan melalui jalan umum
sangat sulit dihindari, namun kondisi berupa kerusakan jalan seperti berlubang,
retak akibat kegiatan pengangkutan seharusnya dapat dibebankan kepada
perusahaan penambangan pasir besi. Beban pemeliharaan jalan tidak harus
diserahkan pada pemerintah yang tidak selalu memiliki dana yang cukup untuk
melakukan pemeliharaan jalan.
Pada bagian hulu dengan adanya penambangan pasir besijuga telah
menurunkan pendapatan nelayan tangkap karena perubahan jumlah tangkapan
setiap tahunnya yang cenderung menurun. Proses pencucian dilakukan hanya
beberapa meter dari bibir pantai dan sempadan. Proses ini dilanjutkandengan
segregasi biji dari pasir melalui proses fisika dengan menggunakan magnetic
separator. Proses segregasi untuk pemurnian pasir besi ini menyebabkan
peningkatan kadar sulfur didaerah pantai dan sungai, ini terjadi karena air
buangan dalam proses pemisahan langsung dibuang tanpa perlakuan apapun.
Kadar sulfur tersebut membuat air laut dipantai menjadi asam sehingga dapat
merusak terumbu karang. Penggunaan pelumas dan bahan bakar untuk peralatan
mesin dan bengkel ditepi pantai juga menyebabkan pencemaran perairan disekitar
pesisir pantai Kabupaten Tasikmalaya. Pencemaran oleh limbah pencucian pasir
besi ini telah menuai protes berupa demonstrasi oleh masyarakat nelayan di
Kabupaten Tasikmalaya.
Aspek fisik lingkungan yang diabaikan membuat perusahaan pemegang izin
eksploitasi dapat menekan biaya produksi menjadi sangat rendah sehingga
mendorong eksploitasi berlebihan, ditambah lagi dengan relatif mudahnya izin
penambangan dari tangan bupati di era otonomi daerah ini. Merujuk pada
Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan dimana setiap kegiatan usaha harus melakukan pelestarian
lingkungan, maka Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat wajib melakukan
penilaian menggunakan instrumen ekonomi lingkungan, sehingga pemerintah

5
 

Kabupaten

Tasikmalaya

moratorium

untuk

sebagai

memberikan

pemangku
waktu

kepentingan

penelaahan

mengeluarkan

mendalam

mengenai

3

penambangan pasir besi . Berapa nilai kerugian ekonomi yang disebabkan oleh
kerusakan jalan (eksternalitas) dan turunnya produksi perikanan oleh kegiatan
penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya belum dikuantifikasi dengan
baik. Oleh sebab itu diperlukan perhitungan nilai eksternalitas negatif
menggunakan instrumen ekonomi lingkungan yang tepat dan nantinya dapat
diterapkan dalam bentuk kebijakan fiskal berupa penetapan jumlah pajak
terhadap setiap output pasir besi. Hal ini bertujuan agar rente dari penambangan
dapat menginternalkan eksternalitas negatif dalam bentuk pajak lingkungan.
Diharapkan dengan telah dihitungnya eksternalitas negatif tersebut dapat
ditentukan estimasi semua biaya yang harus dikeluarkan untuk kompensasi
gangguan fungsi jalan dan menurunnya pendapatan nelayan, agar masyarakat
yang terkena dampak negatif akibat penambangan pasir besi tidak merasa
dirugikan. Penghitungan nilai eksternalitas ini akan memperkecil nilai rente
penambangan pasir besi karena meningkatnya biaya produksi yang harus
ditanggung oleh perusahaan akibat internalisasi ekstenalitas negatif dalam bentuk
pajak.
Sebagaimana setiap produk mineral pada umumnya, pasir besi mempunyai
karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan mineral lain, yaitu ketersediaannya
terbatas dan akan habis (exhaustible resource) serta tidak dapat diperbaharui lagi
(non-renewable resource). Kabupaten Tasikmalaya dengan potensi pasir besi
cukup besar dapat kehilangan potensi penerimaan manfaat optimal untuk
kesejahteraan penduduknya. Kesejahteraan penduduk juga akan menurun akibat
kerusakan lingkungan. Memperhatikan kondisi ini maka dibutuhkan penilaian
yang tepat terhadap besaran nilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh
penambangan pasir besi, sehingga dapat ditentukan tingkat pajak yang harus
diberlakukan terhadap perusahaan penambangan pasir besi. Pada tahap
selanjutnya ditambahkan dengan biaya pengambilan yang merupakan opportunity
                                                            
3

Seperti yang dinyatakan dalam judul “Gubernur Keluarkan Surat Edaran Moratorium Pasir 
Besi”,www.antarajawabarat.com, Januari 2011 
 


 

costdari pengambilan pasir besi saat ini,agar dapat diperkirakan alokasi
penambangan pasir besi yang paling optimal.
Dari uraian diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaiman pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi?
2. Berapa nilai kerusakan jalan dan pendapatan nelayan akibat penambangan
pasir besi ?
3. Berapa tingkat ekstraksi optimal dengan dan tanpa mempertimbangkan
eksternalitas negatif pada penambangan pasir besi?
4. Berapa nilai pajak akibat eksternalitas negatif yang muncul dari usaha
penambangan pasir besi?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas dapat dirinci tujuan penelitian sebagai
berikut :
1. Mengkaji pola ekstraksi dan biaya produksi aktual penambangan pasir besi.
2. Mengestimasi

nilai kerusakan jalan

dan

pendapatan

nelayan

akibat

penambangan pasir besi akibat pengangkutan pasir besi.
3. Menentukan laju ekstraksi optimal dengan dan tanpa eksternalitas negatif, yang
paling menguntungkan dari usaha penambangan pasir besi.
4. Mengestimasi nilai pajak yang harus dibayarkan pada setiap output pasir besi
dengan mempertimbangkan eksternalitas negatifnya.
Adapun manfaat penelitian ini adalah memberikan

informasi mengenai

pengelolaan dan pemanfaatan bidang penambangan terutama pasir besi sehingga dapat
memaksimalkan pendapatan asli daerah dan meminimalkan kerugian. Untuk
penambang akan sangat bermanfaat dalam rangka mencegah tuntutan pidana karena
pengelolaan penambangan yang merugikan lingkungan hidup, sedangkan bagi
masyarakat

Tasikmalaya

implementasi

penelitian

ini

akan

meningkatkan

kesejahteraan dalam pemanfaatan pasir besi.
1.4

Ruang Lingkup Penelitian
Ruang penelitian adalah menganalisis eksploitasi penambangan pasir besi

di wilayah pesisir Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan untuk
mengkaji bagaimana pola eksploitasi pasir besi selama ini sehingga menimbulkan
7
 

dampak-dampak yang merugikan. Dalam penelitian ini diharapkan pembangunan
ekonomi berbasis lingkungan dapat berjalan dengan baik, sehingga pemanfaatan
sumberdaya tidak pulih dapat memberikan hasil optimal. Analisis sumberdaya
pasir besi dilakukan dengan valuasi ekonomi eksternalitas negatif untuk
mengetahui

hubungan interaksi antara perikanan, gangguan fungsi jalan dan

penambangan. Dalam penelitian ini dampak eksternalitas negatif difokuskan pada
tiga bagian dampak yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi
masyarakat, pertama dampak kerusakan jalan pada proses pengangkutan yang
melalui jalan umum terhadap kehilangan waktu kerja, kedua dampak peningkatan
konsumsi bahan bakar bagi pengguna kendaraan bermotor, ketiga terpengaruhnya
produksi perikanan disekitar pantai dekat penambangan pasir besi, ketiga dampak
ini dipilih karena merupakan dampak yang paling dominan pada penambangan
pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya dengan menganggap faktor lain bersifat
tetap.
Dasar hukum pajak lingkungan adalah undang – undang nomor 32 tahun
2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pajak disini
dimaksudkan beban tambahan yang harus dikeluarkan perusahaan penambangan
untuk setiap satu-satuan output yang dihasilkan. Pada penentuan laju ekstraksi
optimal, modelHotelling digunakan untuk mengetahui tingkat ekstraksi optimal
(Q*), tingkat keuntungan maksimal ( *) dan pada tahun berapa cadangan akan
habis (T*) yang kemudian dibandingkan dengan lama izin konsesi rata- rata
penambangan pasir besi pada pasar bersaing secara sempurna. Dalam model
sederhana ini diasumsikan tidak ditemukan cadangan baru.


 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kegiatan Penambangan Pasir Besi

2.1.1 Sumberdaya Pasir Besi
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari
endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali
ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat
sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai
ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite,
Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite,
Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite. Pasir besi sebagai salah satu bahan baku
utama dalam industri baja dan industri alat berat lainnya di Indonesia,
keberadaannya akhir-akhir ini memiliki peranan yang sangat penting. Permintaan
dari berbagai pihak meningkat cukup tajam. Berdasarkan kejadiannya endapan
besi dapat dikelompokan menjadi tiga jenis. Pertama endapan besi primer, terjadi
karena proses hidrotermal, kedua endapan besi laterit terbentuk akibat proses
pelapukan, dan ketiga endapan pasir besi terbentuk karena proses rombakan dan
sedimentasi secara kimia dan fisika. Beberapa jenis mineral-mineral biji besi,
magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam
jumlah kecil, sementara hematit merupakan mineral biji utama yang dibutuhkan
dalam industri besi(Bambang 2007).
2.1.2 Proses Penambangan Pasir Besi
Pasir besi merupakan mineral yang mengendap di sekitar pantai, rawa dan
muara sungai, endapannya terdapat pada permukaan sampai ke kedalaman 15
meter. Proses pengambilan pasir besi dilakukan dengan cara membongkar dan
mengangkut endapan ke alat pemisah yang bersifat magnet untuk memisahkan
pasir besi dari komponen ikutan non logam seperti pasir, tanah dan batuan. Proses
pemisahan ini biasa disebut pekerja tambang sebagai processing magnet
separator. Magnet separator berkerja memurnikan pasir besi berdasarkan sifat
logam yang dimiliki. Bahan galian yang di masukan ke dalam processing akan
terpisah menjadi 4 bagian, batu coral, air bersama pasir dan tanah ke 3 bagian ini
dibuang dalam bentuk limbah cair dan padat. Pasir besi akan menempel pada
9
 

magnet akan diambil dan selanjutnya dengan eskalator lalu ditimbun ke
penyimpanan atau gudang. Dari gudang pasir besi (stockpile) akan diangkut ke
loading area di pelabuhan untuk selanjut dibawa ke tempat pembeli.
2.1.3 DampakNegatif Penambangan Pasir Besi
Dalam pandangan fisik aktivitas ekstraksi mineral logam ini terlihat
sederhana, tapi tidak demikian dengan daya rusak sesungguhannya. Kerusakan
lingkungan yang diakibatkan ekstraksi pasir besi dapat dikelompokan menjadi 2
golongan, pertama kehancuran fisik, kerusakan pada fisik lingkungan yang dapat
langsung terlihat terbagi menjadi beberapa bentuk kehancuran berdasarkan
tahapan aktivitas ekstraksi 4 :
a.

Pengerukan Bahan Galian
Endapan pasir besi ini terdapat pada sekitar tepian pulau di sekitar muara

sungai, rawa dan sempadan pantai, proses pengerukan akan membuat kawasan
lindung sempadan pantai yang biasanya dalam bentuk hutan mangrove dan
cemara akan terbabat habis. Masyarakat yang melihat kondisi pantai ketika
tambang beroperasi atau pasca tambang tanpa melihat kondisi pulau sebelum
tambang beroperasi, tidak akan dapat melihat perubahan ekstrem yang terjadi
pada kawasan ini. Berbeda dengan pandangan mata kepala masyarakat di sekitar
tambang yang dapat membandingkan perubahan pantai sebelum dan sesudah
tambang beroperasi. Masyarakat yang melihat dengan dua kondisi berbeda ini
akan menyadari bahwa sebenarnya proses pengerukan kawasan terluar pulau ini
telah menyebabkan pengurangan yang luar biasa terhadap luas pulau tempat
tambang pasir besi beroperasi. Pengerukan pasir besi selain memangkas bagian
terluas pulau, secara fisik juga merubah bentang alam kawasan rawa dan hutan
mangrove serta habitat dan tempat pemijahan ikan, kepiting dan udang.
b.

Pemisahan Pasir Besi
Pemisahaan pasir besi yang menggunakan sistem magnetik yang boros air,

untuk memisahkan 50.000 m3 pasir besi dibutuhkan air sebanyak 20.000 m3.
Untuk memenuhi kebutuhan air ini, perusahaan akan membendung muara sungai
                                                            
4

 Seperti yang dinyatakan dalam judul “ Pencemaran Lingkungan Akibat Aktifitas Pertambangan
Dan UUD Tentang Pencemaran”. 2011. www.rahmatbkhant.blogspot.com 
 

10 
 

dan mengalihkan aliran sungai menuju lokasi proccesing melalui pipa besar atau
menggunakan pompa. Proses pembendungan sungai ini akan menyebabkan luapan
air menggenangi kawasan pertanian, pemukiman dan sentra aktivitas warga
lainnya.
Dampak lainnya akibat pembendungan ini adalah kerusakan ekosistem yang
tidak kasat mata tetapi akan terasa oleh nelayan sekitar. Pemusnahan masal
terhadap kekayaan biodiversity yang siklus sidupnya tergolong katadromus, yaitu
jenis ikan dan arthopoda yang siklus regenerasinya membutuhkan 2 ekosistem.
Ekosistem air tawar dan ekosistem air laut, seperti ikan sidat yang akan mati
setelah bertelur di gugusan terumbu karang dalam laut, dan setelah menetas
anakannya akan melanjutkan siklus hidup induknya untuk tumbuh dan hidup di
ekosistem sungai. Pembendungan sungai akan membuat jenis katadromus ini
tidak bisa kembali ke sungai untuk memijah.
Pada proses pemurnian pasir besi, bahan yang terambil adalah dalam bentuk
butiran pasir besi dan titanium, juga silicon dan magnesium. Jumlah limbah
sebagai buangan sisa-sisa pemurnian yang dibuang tergantung dari berapa kadar
pasir besi di wilayah endapan yang diambil. Misalnya wilayah Pesisir Barat
Bengkulu, dari setiap 50.000 meter persegi pasir besi, akan membuang limbah
padat dalam bentuk lumpur pasir dan koral sebanyak 126.000 m3.
Deposit pasir besi dan mineral lain yang digali merupakan sedimentasi dari
proses geomorfologi jutaan tahun yang lalu, pembongkaran endapan ini akan
mengakibatkan stabilitas ikatan komponen kimia yang mengendap terlepas.
Proses pengambilan pasir besi oleh magnet separator tidak sepenuhnya dapat
mengambil semua pasir besi dan mineral logam lain. Senyawa kimia yang
dibongkar dan terikut dalam prosesing dan bukan berunsur logam, akan terlepas
bebas ke air dan lingkungan tempat pembuangan limbah. Ikan yang hidup
disungai dan pantai sekitar pembuangan limbah ini biasanya akan mati serentak
dalam jumlah yang besar, kalaupun ada yang tersisa ikannya ditemukan dalam
kondisi kudisan yang memiliki benjolan disekitar badannya. Kementerian
lingkungan hidup RI sudah mencoba mengeleminir resiko dari proses ini dengan
mengeluarkan permen LH no 21 tahun 2010 tentang ambang batas mutu air
pertambangan biji besi. Sayangnya peraturan ini tidak cukup menjamin

11
 

keselamatan ekosistem sekitar kegiatan penambangan, karena tidak menjangkau
identifikasi berbagai jenis komponen kimia yang dilepas,selain itu peraturan ini
lebih bersifat pengaturan prosedural fisik.
c.

Pengangkutan Pasir Besi
Dalam pengangkutan hasil produksi menuju konsumen, pengangkutan pasir

besi biasanya pemanfaatan infrastruktur umum seperti jalan. Pengangkutan
dilakukan menggunakan truk – truk pasir berbobot tinggi dan cenderung melebihi
kapasitas angkut dan daya dukung jalan. Hal ini menyebabkan kerusakan jalan
tidak dapat dihindarkan, akibatnya berdampak pada terganggunya fungsi jalan
sebagai barang publik dalam melayani masyarakat pengguna jalan.
Jaringan jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang memegang
peranan sangatpenting dalam sektor perhubungan, terutama untuk kesinambungan
distribusi barang dan jasa. Keberadaan jalan raya sangat diperlukan untuk
menunjang laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya kebutuhan
sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Selain
pertumbuhan ekonomi, transportasi jalan juga sering menimbulkan permasalahan
dibidang pemeliharaannya. Kenaikan volume kendaraan (trailer, truk, bus, and
kendaraan lainnya) yang melebihi kapasitas daya angkutnya juga merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan jalan relatif cepat rusak sebelum mencapai umur
pelayanan jalan yang telah direncanakan. Peningkatan arus lalu lintas kendaraan
khususnya kendaraan berat, yang pada umumnya mengangkut bahan mentah
seperti kayu dan sawit (yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan industri)
sangat berpengaruh besar terjadinya kerusakan jalan. Terlepas dari mutu
komponen perkerasan dan pelaksanaan pekerjaan yang mungkin kurang baik,
faktor lain yang sangat berpengaruh dan menentukan umur perkerasan jalan
adalah perbedaan antara beban rencana as kendaraan dengan beban aktual yang
melewati jalan tersebut (Mudjiatko 2006).
UNESCAP (2005) menyoroti pentingnya infrastruktur jalan dalam
perekonomian wilayah, jalan sebagai salah satu komponen infrastruktur
berpengaruh secara signifikan terhadap iklim investasi. Jalan merupakan
penghubung antara kegiatan produksi dan distribusi, sehingga ketersediaan
jaringan jalan yang baik akan sangat menentukan proses produksi dan distribusi.

12 
 

2.2

Eksternalitas
Masalah lingkungan banyak disebabkan oleh kegagalan pasar dan tidak

adanya hak kepemilikan. Konsumsi terhadap barang publik sering menimbulkan
apa yang disebut eksternalitas. Eksternalitas diartikan sebagai setiap pengaruh
samping dari produksi atau konsumsi yang dirasakan oleh pihak ketiga di luar
pasar. Menurut teori ekonomi mikro harga merupakan mekanisme sinyal penting
dalam proses pasar. Harga keseimbangan menunjukkan nilai marjinal yang
diberikan oleh konsumen dari pemakaian barang dan biaya marjinal yang harus
ditanggung oleh perusahaan dalam memproduksikan barang dimaksud. Dalam
keadaan biasa, teori ini dapat memprediksi realitas pasar dengan baik. Namun
terdapat banyak keadaan di mana harga gagal merefleksikan semua manfaat dan
biaya yang terkait dengan transaksi pasar. Kegagalan pasar ini muncul ketika
pihak ketiga dipengaruhi oleh produksi atau konsumsi satu barang. Apabila
pengaruh kepada pihak ketiga ini mengakibatkan timbulnya biaya, maka pengaruh
ini disebut eksternalitas negatif, sedangkan pengaruh kepada pihak ketiga yang
bermanfaat disebut eksternalitas positif (Mangkoesoebroto 1993).
Kerusakan lingkungan akibat aktivitas orang lain merupakan suatu
eksternalitas. Eksternalitas terjadi jika suatu kegiatan menimbulkan manfaat
ataubiaya bagi kegiatan atau pihak di luar pelaksana kegiatan tersebut.
Eksternalitas ditambah dengan biaya swasta disebut sebagai biaya sosial. Biaya
social berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup yang dapat dianggap biaya
pembangunan ekonomi (Randal 1987). Masalah utamanya adalah siapa yang
harus menanggung biaya sosial tersebut, apakah biaya itu harus ditanggung oleh
pihak yang menimbulkan korban atau pihak yang dirugikan, atau pemerintah. Para
ekonom menyetujui agar

Dokumen yang terkait

Negative Externalities and Optimal Extraction of Iron Sand Mining at Tasikmalaya Regency