Organizing system of forest and land fire control organization in Indonesia

SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA

ERLY SUKRISMANTO

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Sistem Pengorganisasian
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia adalah karya saya dengan
arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk karya apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal dan dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
disertasi ini.
Bogor, Januari 2012
Erly Sukrismanto
NIM. E061060131

ABSTRACT
ERLY SUKRISMANTO. Organizing System of Forest and Land Fire Control
Organization in Indonesia. Under the direction of HADI S. ALIKODRA,
BAMBANG H. SAHARJO, and PRIYADI KARDONO
Forest/land fire control in Indonesia has still been managed under an unclear
organizing system connecting national, provincial and local level. This study aims
at designing a conceptual model of organizing system of forest and land fire
control. The model considers the fire situation, the positions and roles of currently
involved organizations, the relationships among those organizations, and the
effectiveness of key organizations. This study employes some methods of analysis
including: ISM for the position and role of organizations, descriptive for
analyzing the organizations’ profile, adaptation of Bolland and Wilson’s procedur
for organizational relationships, and AHP for the organizational effectiveness.
The research was held in Jakarta, Riau and West Kalimantan in mid 2009 until
mid 2010. The analysis of fire situation realizes that the use of hotspot as an
indicator of forest/land fire is supported. It also recognizes that in the last ten
years, the number of hotspots tends to incline by 39,36% per year for the whole
country, 47,15% for Riau and 111,71% for West Kalimantan. The study reveals
that among the organizations involved in forest/land fire control, those managing
forestry, agriculture, the environment and disaster take key position and roles in
either one or more fields of fire control including prevention, suppression, and
post-fire treatment. These organizations are then taken into consideration to play
the main roles in the proposed organizing system. Ineffectual coordination among
the observed organizations both within the same and between levels is also
exposed. Most of the key organizations at national and provincial levels are
categorized effective, although they are at low level effectiveness. While at
district level, almost all key organizations are still ineffective. The study proposes
a conceptual model of organizing system, integrating the forest/land fire control
responsibility under the forestry agency at national, provincial and district levels.
As the decentralization and autonomy policies require, the relationships among
these forest/land fire control organizations between levels are in the form of
coordination rather than commando. The implementation of proposed organizing
system requires some conditions including: proper understanding on the principles
of decentralization and autonomy and a strong legal foundation and commitment
for establishing and developing the system. Meanwhile, upon its establishment,
the system needs to determine clear visions and objectives, develop its capacities,
enhance its interorganizational relationships, and provide any appropriate funding
schemes in order to smoothly run in managing the forest/land fire control.
Keywords: hotspot, coordination, forestry, disaster, capacity.

RINGKASAN
ERLY SUKRISMANTO. Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan di Indonesia. Dibimbing oleh HADI S. ALIKODRA,
BAMBANG H. SAHARJO, dan PRIYADI KARDONO.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih dikelola dengan sistem
pengorganisasian yang belum jelas, baik pada satu tingkatan maupun antar
tingkatan nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Penelitian ini bertujuan pokok
untuk merancang sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan dan
lahan di Indonesia, melalui analisis terhadap situasi kebakaran, posisi dan peranan
organisasi, hubungan antar organisasi, dan efektivitas organisasi-organisasi di
tingkatan-tingkatan tersebut.
Penelitian ini menggunakan perangkat analisis yaitu interpretive structural
modeling (ISM) untuk posisi dan peranan organisasi, metode deskriptif untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap peranan dan hubungan antar organisasi,
coordination network analysis yang diadaptasi dari Bolland dan Wilson (1994)
untuk mengetahui pola hubungan antar organisasi, serta analytical hierarchy
process (AHP) untuk menentukan tingkat kepentingan dan bobot dari komponenkomponen pengukuran efektivitas organisasi. Data penelitian meliputi data
sekunder berupa profil organisasi dan berbagai dokumen yang menggambarkan
situasi dan kondisi organisasi dan lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan
angket penelitian yang disebarkan kepada responden yang diambil secara
purposive sampling dan simple random sampling. Lokasi penelitian dipilih Jakarta
dan sekitarnya untuk tingkat nasional, Riau dan Kalimantan Barat untuk tingkat
provinsi, dan empat lokasi untuk tingkat kabupaten/kota yaitu Kota Dumai,
Kabupaten Inderagiri Hulu, Kabupaten Kubu Raya, dan kabupaten Ketapang
Analisis terhadap situasi kebakaran hutan/lahan mendapati bahwa titik
panas (hotspot) dapat diterima sebagai indikator kebakaran hutan/lahan dengan
tingkat korelasi 53%. Jumlah hotspot dalam 10 tahun (2000 – 2009) berkisar
antara 11.583 dan 146.264 titik dengan rata-rata 50.689 titik per tahun dan masih
cenderung meningkat dengan rata-rata kenaikan 39,36% untuk seluruh Indonesia,
47,15% di Riau dan 111,71% di Kalimantan Barat.
Analisis terhadap posisi dan peranan organisasi mendapati bahwa organisasi
di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota belum semua berperan, hanya
organisasi yang menangani kehutanan, perkebunan, bencana atau lingkungan
hidup yang terbanyak berada pada posisi utama untuk peranan-peranan di bidang
pencegahan, pemadaman, penanganan pasca-kebakaran, dan sistem peringatan
dan deteksi kebakaran. Menurut profil organisasi, di tingkat nasional, Dit. PKH
dan Dit. Linbun memegang peranan terbanyak masing-masing sebesar 19,2% dan
15,4%; di tingkat provinsi, di Riau, BB-KSDA dan Disbun Provinsi memegang
25% dan 20,8%, sedangkan di Kalimantan Barat, Dishut Provinsi dan BLHD
Provinsi sama-sama memegang 27,3%. Di tingkat kabupaten/kota, Distanbunhut
Kota Dumai, Dishutbun Kab. Inhu, Dishut Kab. Ketapang, dan Dishutbun Kab.
Kubu Raya masing-masing sebesar 45,4%, 45,4%, 27,8 dan 38,5%.

Studi ini memperoleh bukti empiris tentang masih lemahnya koordinasi
antar organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan.
Kelemahan terjadi terutama di Kalimantan Barat di mana hubungan horizontal
pada satu tingkatan maupun vertikal antara tingkat kabupaten/kota dengan tingkat
provinsi tidak terjadi pada ketiga aspek baik bantuan layanan, administrasi,
maupun perencanaan. Sementara itu, di Riau, hubungan vertikal antara ketiga
tingkatan dan hubungan horizontal pada wilayah yang sama telah terjadi di ketiga
aspek. Kelemahan terjadi hanya pada hubungan horizontal antar kabupaten/kota.
Hal tersebut tampaknya berkaitan dengan departementasi yang diterapkan
pada pengorganisasian yang ada, yaitu di Kalimantan Barat berdasarkan pada
wilayah pemangkuan sedangkan di Riau berdasarkan pada bidang-bidang dari
pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan
belum optimalnya pengelolaan pengendalian kebakaran hutan/lahan karena masih
kurangnya keterpaduan dalam kebijakan (policy integration) dan perencanaan
serta lemahnya aliran bantuan secara horizontal maupun vertikal.
Organisasi-organisasi yang terlibat aktif dalam pengendalian kebakaran
hutan/lahan menurut pengukuran terhadap lima komponen efektivitas organisasi
yaitu: visi dan misi, struktur organisasi, SDM, sarana dan prasarana, dan
mekanisme kerja, di tingkat nasional dan tingkat provinsi pada umumnya sudah
termasuk dalam kategori efektif, kecuali Disbun Provinsi Riau yang tergolong
kurang efektif, sedangkan di tingkat kabupaten/kota masih tergolong kurang
efektif kecuali BLHD Kabupaten Ketapang yang tergolong efektif. Meskipun
sudah efektif, skornya masih berada di batas bawah level tersebut yaitu berkisar
dari 22,7 sampai dengan 26,3 dari skor pada kategori efektif yaitu 21,5 – 32,25.
Skor per komponennya berkisar antara 36,31% sampai dengan 74,49% atau ratarata 58,98% di tingkat nasional, 54,06% di tingkat provinsi dan 47,04% di tingkat
kabupaten/kota. Persentase tersebut menggambarkan level kapasitas yang dimiliki
organisasi dari kapasitas minimum untuk dapat mengelola pengendalian
kebakaran secara efektif.
Hasil dari analisis tersebut di atas dan kajian terhadap sistem serupa di
beberapa negara, serta prinsip-prinsip desentralisasi dan otonomi daerah telah
menjadi pertimbangan dalam penyusunan model konseptual sistem
pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Studi ini
mengusulkan tiga alternatif pengorganisasian, di mana ketiganya menghapus
sistem pengorganisasian yang berlaku saat ini yang melibatkan secara langsung
berbagai organisasi dan memberikan kewenangan dan tanggung jawab hanya pada
satu organisasi atau instansi pemerintah di setiap tingkatannya. Alternatif I
menunjuk instansi yang dimaksud yaitu Kementerian Kehutanan di tingkat
nasional untuk membentuk Pusdalkarhutlanas dan instansi kehutanan masingmasing di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota untuk membentuk UPTPKHL. Alternatif II meletakkan seluruh urusan kebakaran hutan dan lahan pada
organisasi yang menangani bencana yaitu BNPB dan BPBD, sedangkan alternatif
III, yang paling disarankan, merupakan perpaduan alternatif I dan II, di mana
pengorganisasian menggunakan alternatif I untuk status normal sampai dengan
adanya penetapan oleh Presiden RI mengenai status darurat nasional bencana
kebakaran hutan dan lahan.
Beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi agar rancangan sistem
pengorganisasian tersebut dapat berjalan dengan baik, yaitu: pemahaman dan

7
persepsi yang tepat tentang otonomi daerah dan desentralisasi, landasan yang kuat
untuk pembentukan sistem pengorganisasian, dan komitmen yang kuat untuk
pengembangan organisasi. Setelah organisasi terbentuk perlu dipenuhi pula
beberapa kebutuhan antara lain: penetapan tujuan dan sasaran organisasi, struktur
organisasi yang lengkap tetapi ramping, pembangunan kapasitas organisasi,
peningkatan hubungan antar organisasi, dan skema pendanaan yang menjamin
tersedianya anggaran secara memadai.
Kata kunci: titik panas, koordinasi, kehutanan, bencana, kapasitas

© Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1.

2.

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebut sumber
a.

Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah,penyusunan laporn, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah

b.

Penulisan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa ijin IPB

9

SISTEM PENGORGANISASIAN PENGENDALIAN
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA

ERLY SUKRISMANTO

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

Penguji pada Ujian Tertutup:
1. Prof. Dr.Ir. Hariadi Kartodihardjo, M.S.
Fakultas Kehutanan IPB
2. Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, M.S.
Fakultas Kehutanan IPB

Penguju pada Ujian Terbuka:
1. Dr. Asep Karsidi, M. Sc.
Kepala Badan Koordinasi Survei dan Perpetaan Nasional
2. Dr. Henry Bastaman
Deputy VII – Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan
Kapasitas – Kementerian Lingkungan Hidup RI

11

Judul Disertasi: Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan dan
Lahan di Indonesia
Nama:

Erly Sukrismanto

NIM:

E061060131

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, M.S.
Ketua

Prof. Dr. Ir. Bambang H. Saharjo, M. Agr.
Anggota

Dr. Drs. Priyadi Kardono, M. Sc.
Anggota

Diketahui
Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Nareswara Nugroho, M. S.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Agr.

Tanggal Lulus: 5 November 2011

Tanggal Lulus: 21 Desember 2011

13

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah
berupa disertasi berjudul Sistem Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan
dan Lahan di Indonesia. Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada Komisi Pembimbing yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Hadi
S. Alikodra, M.S., Prof. Dr. Ir. Bambang H. Saharjo, M. Agr., dan Dr. Drs.
Priyadi Kardono, M.Sc. atas komitmen, dedikasi, ketekunan dan kesabaran dalam
mengarahkan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan disertasi ini.
Rasa terima kasih dan penghargaan juga penulis sampaikan kepada para
penguji yaitu Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, M.S. dan Prof. Dr. Ir. Hariadi
Kartodihardjo, M.S. pada Ujian Tertutup serta Dr. Asep Karsidi, M.Sc. Kepala
Bakosurtanal dan Dr. Henry Bastaman, Deputi VII KLH pada Ujian Terbuka, atas
segala koreksi, kritik, saran, dan masukan bagi perbaikan disertasi ini.
Penyelesaian studi dan tugas akhir ini juga tidak lepas dari dukungan dan
bantuan berbagai pihak baik di lingkungan kerja penulis maupun di Kampus
Institut Pertanian Bogor dan di lokasi-lokasi penelitian. Untuk itu, penulis juga
menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, utamanya kepada:
1.

Kepala dan staf Pusdiklat Kehutanan atas pemberian kesempatan, bea siswa
dan pelayanan selama tugas belajar;

2.

Direktur dan staf Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan atas ijin dan
dukungan fasilitas bagi kelancaran tugas belajar;

3.

Para pimpinan dan staf instansi Pemerintah Provinsi Riau dan Provinsi
Kalimantan Barat atas perhatian dan dukungan selama pengumpulan data;

4.

Para pimpinan dan staf instansi Pemerintah Kabupaten Inderagiri Hulu,
Kota Dumai, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang atas
perhatian dan dukungan selama pengumpulan data;

5.

Pimpinan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau dan
Balai KSDA Kalimantan Barat beserta staf atas perhatian dan dukungan
fasilitasi;

6.

Keluarga besar penulis, khususnya istri Kompol Lily Sudarwati, SPd, MH.
Dan anak-anakku Anindya Sylva Lestari dan Nurfayyaza Sylva Foresta atas
cinta kasih, dorongan semangat dan segala bentuk dukungan yang tak
pernah putus;

7.

Rekan-rekan mahasiswa SPS-IPB yang se-angkatan, yang bersama-sama di
PS-IPK, dan adik-adik angkatan yang telah berbagi banyak hal.

8.

Semua pihak yang telah membantu dan memperlancar penulis dalam
menjalani proses-proses sejak sebelum memulai sampai dengan mengakhiri
tugas belajar ini.

15
Semoga Allah SWT memberi mereka kemudahan dalam kehidupan dan pahala
yang sebaik-baiknya sesuai dengan amal ibadah dan kebaikan yang telah mereka
berikan.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat, bangsa
dan negara.
Bogor, Januari 2012
Erly Sukrismanto

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah pada tanggal 10 November 1962
sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara dari keluarga guru yaitu Ayah H.
Darnawi Soekiswo (almarhum) dan Ibu Hj. Sri Sulastri (almarhumah). Penulis
memperoleh gelar sarjana pada tahun 1986 dari Jurusan Konservasi Sumber Daya
Hutan, Fakultas Kehutanan IPB dan gelar Master of Science pada tahun 1995 dari
Department of Forestry and Natural Resources, School of Agriculture, Purdue
University, Indiana, Amerika Serikat. Pada tahun 2006 penulis mendapat tugas
belajar dari Departemen Kehutanan untuk jenjang Strata III (S3) pada Program
Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (IPK), Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Penulis bekerja di Departemen Kehutanan mulai tahun 1988 sebagai staf
pada Seksi Pengamanan Fauna dan sejak tahun 1990 penulis bertugas di bidang
kebakaran hutan sampai sekarang dengan penempatan sebagai staf Seksi
Kebakaran Hutan (1990-1993), staf Seksi Pemadaman Kebakaran (1995-1998),
Kepala Seksi Pencegahan Kebakaran (1998), Kepala Seksi Pemadaman
Kebakaran (2001-2005), dan Kepala Seksi Pencegahan Kebakaran (2005-2006).
Di dalam masa kerja tersebut, penulis juga menjalani penugasan yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yaitu sebagai National Consultant
untuk Food and Agriculture Organization (FAO) dalam proyek kerjasama
Departemen Kehutanan dan FAO (1996), tenaga pendamping (counterpart) untuk
Forest Fire Prevention and Management Project (FFPMP) kerjasama Departemen
Kehutanan dengan Japan International Cooperation Agency/ JICA (1996–1997)
dan Integrated Forest Fire Management (IFFM) Project kerjasama Departemen
Kehutanan dengan GTZ/KfW Jerman (1997-1998), serta sebagai Regional
Consultant of the Asian Development Bank (ADB) pada Regional Technical
Assistance (RETA) Project for ASEAN Secretariate (1998-2001). Di samping itu,
penulis juga menjadi pengajar atau instruktur pada berbagai pelatihan mengenai
kebakaran hutan/lahan yang diadakan oleh Departemen Kehutanan, Perum
Perhutani, maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat sejak tahun 1991.
Beberapa pelatihan di bidang kebakaran hutan yang telah diikuti penulis
yaitu Pelatihan Penerapan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (Departemen
Kehutanan, 2004), Fire Pump Operational Training (Waterous Co. USA dan
Dinas Kebakaran DKI Jakarta, 2005), Forest Fire Pump Training (Waterous Co.
USA dan Pusat Pelatihan Kebakaran DKI Jakarta, 2005), dan Attestion de
Formation Aux Premiers Secours atau Pelatihan P3K (Departement Du Var, Rep.
Perancis dan Puslatkar DKI Jakarta, 2005).
Selama menempuh studi program doktor, penulis menjadi Program
Consultant for the First Program on MPAs Forest Fire Prevention Facilitation
(September-Desember 2008) dan Program Consultant for the Second Program on
MPAs Forest Fire Prevention Facilitation (Februari-Mei 2009), keduanya pada
PHKA/JICA Forest Fire Prevention Project by Initiative of People in Buffer Zone
(FFPP-JICA) dalam rangka menyusun panduan bagi Brigade Pengendalian
Kebakaran Hutan Indonesia (Manggala Agni) untuk fasilitasi kepada masyarakat.

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI …………………...…………………………………………

xv

DAFTAR TABEL …………………………………………………………

xix

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………...

xxi

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………

xxiv

I.

II.

PENDAHULUAN …………………………………………………...

1

1.1. Latar Belakang …………………………………………..…….

1

1.2. Pertanyaan Penelitian …………………………………………

5

1.3. Tujuan Penelitian ……………………………………………...

6

1.4. Manfaat Penelitian …………………………………………….

6

1.5. Kebaruan (Novelty) ………………………………….………..

6

1.6. Kerangka Pemikiran …………………………………………..

8

TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………..

11

2.1. Kebakaran Hutan/Lahan ………………………………….

11

2.1.1.

Pengertian dan Tren Kebakaran Hutan/Lahan ………

11

2.1.2.

Penyebab Kebakaran Hutan/Lahan ………………….

13

2.1.3.

Dampak Kebakaran Hutan/Lahan …………………...

15

2.1.4.

Pengendalian Kebakaran Hutan/Lahan ……………...

19

2.2. Organisasi dan Manajemen …………………………………...

22

2.2.1.

Pengertian ………………………………………….

22

2.2.2.

Pengorganisasian dan Peranan Organisasi ………….

27

2.2.3.

Hubungan Antar Organisasi ………………………...

29

2.2.4.

Pengembangan
Organisasi
dan
Efektivitas
Organisasi …………………………………………...

34

2.3. Pengorganisasian Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
di Indonesia dan Beberapa Negara …………………………...

39

2.4. Perangkat Analisis …………………………………………….

43

2.4.1.

Interpretive Structural Modeling …………………....

43

2.4.2.

Analytical Hierarchy Process ……………………….

45

Sistem dan Model Konseptual ………………………………..

45

III. METODE PENELITIAN ……………………………………………

49

2.5.

xvi
3.1.

Lingkup Penelitian ……………………………………………

49

3.2.

Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………….

49

3.3.

Bahan dan Alat ………………………………………………..

50

3.3.1.

Bahan ………………………………………………..

50

3.3.2.

Alat …………………………………………………..

51

3.4.

Jenis Data …………………………………………………….

51

3.5.

Populasi dan Sampel ………………………………………….

52

3.6.

Rancangan Penelitian …………………………………………

53

3.6.1.

Instrumen Penelitian ………………………………...

53

3.6.2.

Analisis Posisi dan Peranan Organisasi ……………..

54

3.6.3.

Analisis Hubungan Antar Organisasi ……………….

57

3.6.4.

Analisis Efektivitas Organisasi ……………………..

61

3.6.5.

Analisis Titik Panas (Hotspot) ………………………

63

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ……………………...

65

4.1. Tingkat Nasional ………………………………………………

65

4.2. Tingkat Provinsi ………………………………………………

65

V.

4.2.1.

Provinsi Riau ………………………………………..

65

4.2.2.

Provinsi Kalimantan Barat ………………………….

68

4.3. Tingkat Kabupaten/Kota ………………………………………

70

4.3.1.

Kota Dumai …………………………………………

70

4.3.2.

Kabupaten Inderagiri Hulu ………………………….

71

4.3.3.

Kabupaten Ketapang ………………………………..

73

4.3.4.

Kabupaten Kubu Raya ………………………………

74

HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………...

75

5.1

75

Situasi Kebakaran Hutan/Lahan ………………………………
5.1.1.

Korelasi antara jumlah hotpsot dengan luasan
kebakaran hutan/lahan ………………………………

76

Korelasi antara jumlah hotspot dengan curah hujan ...

78

Posisi dan Peranan Organisasi ………………………………...

84

5.2.1.

Posisi dan peranan menurut profil organisasi ……….

84

5.2.2.

Posisi dan peranan organisasi menurut pendapat
responden praktisi …………………………………...

100

Posisi dan peranan organisasi menurut pendapat
responden pakar ……………………………………..

109

5.1.2.
5.2

5.2.3.

xvii
5.3

Hubungan Antar Organisasi …………………………………..

132

5.3.1.

Pola hubungan antar organisasi …………………….

133

5.3.2.

Tingkat pengetahuan dan pemahaman terhadap
mekanisme hubungan antar organisasi ……………...

149

5.4

Kapasitas Organisasi ………………………………………….

159

5.5

Rancang Bangun Sistem Pengorganisasian …………………...

176

5.5.1.

Pertimbangan dalam perancangan …………………..

176

5.5.2.

Model konseptual sistem pengorganisasian
pengendalian kebakaran hutan/lahan ………………

185

5.5.3.

Integrasi dan koordinasi …………………………….

201

5.5.4

Prasyarat Bagi Sistem Pengorganisasian ……………

208

5.5.5

Kebutuhan Organisasi Setelah Terbentuk ………….

212

VI. SIMPULAN DAN SARAN ………………………………………..

221

6.1

Simpulan ………………………………………………………

221

6.2

Saran …………………………………………………………..

222

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..

225

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………...

239

xviii

xix

DAFTAR TABEL

Halaman
1

Curah hujan rata-rata di Kabupaten Inderagiri Hulu 2005 –
2009 …………………………………………………………….

72

Jumlah hotspot dan luas kebakaran hutan/lahan seluruh
Indonesia ……………………………………………………….

77

Jumlah hotspot menurut peruntukan hutan dan lahan seluruh
Indonesia ……………………………………………………….

81

4

Luas kebakaran di kawasan hutan dan lahan seluruh Indonesia .

83

5

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi di tingkat
nasional menurut profil organisasi ……………………………..

92

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi di tingkat
provinsi dan tingkat kabupaten/kota menurut profil organisasi ..

94

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi di tingkat
nasional menurut hasil pengisian angket penelitian ……………

110

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi di tingkat
provinsi menurut hasil pengisian angket penelitian ……………

110

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi di tingkat
kabupaten/kota menurut hasil pengisian angket penelitian …….

111

Hasil identifikasi organisasi pemeran utama dalam
pengendalian kebakaran hutan/lahan menurut pendapat pakar ..

129

Jumlah organisasi yang pimpinannya dikenali dan yang
mengenali pimpinan-pimpinan organisasi lain ………………...

147

12

Kisaran untuk penilaian efektivitas organisasi …………………

161

13

Hasil pengukuran efektivitas organisasi di tingkat nasional …...

161

14

Hasil pengukuran efektivitas organisasi di tingkat provinsi …...

162

15

Hasil pengukuran efektivitas organisasi di tingkat
kabupaten/kota …………………………………………………

162

Persentase skor perolehan terhadap skor maksimum per
komponen pada organisasi di tingkat nasional ………………...

163

2
3

6
7
8
9
10
11

16

xx
17
18

19

20

Persentase skor perolehan terhadap skor maksimum per
komponen pada organisasi di tingkat provinsi di Riau ………...

164

Persentase skor perolehan terhadap skor maksimum per
komponen pada organisasi di tingkat provinsi di Kalimantan
Barat ……………………………………………………………

165

Persentase skor peroleh terhadap skor maksimum per
komponen pada organisasi di tingkat kabupaten/kota di
Provinsi Riau …………………………………………………...

166

Persentase skor peroleh terhadap skor maksimum per
komponen pada organisasi di tingkat kabupaten/kota di
Provinsi Kalimantan Barat ……………………………………..

166

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1

Kerangka pemikiran untuk penelitian …………………………...

10

2

Segitiga api ………………………………………………………

21

3

Peta Provinsi Riau (Sumber: Website Resmi Pemerintah
Provinsi Riau (http://www.riau.go.id/) …………………………..

66

Peta Provinsi Kalimantan Barat (Sumber: Pusat Informasi
Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat 2010) …………………..

69

Grafik jumlah akumulasi hotspot dan luas kebakaran hutan/lahan
seluruh Indonesia (Sumber: Dit. PKH 2010) …………………....

77

Jumlah akumulasi titik panas (hot spot) tahunan di Provinsi Riau
dan Provinsi Kalimantan Barat (sumber: Dit. PKH 2010)……….

79

Grafik jumlah akumulasi hotspot di kawasan hutan dan lahan di
luar kawasan hutan seluruh Indonesia tahun 2006 – 2010
(Sumber: Dit. PKH 2011) ………………………………………..

82

Struktur organisasi Pusdalkarhutla Provinsi Riau (Sumber:
Peraturan Gubernur Riau nomor 6 tahun 2006) …………………

95

Struktur organisasi Pusdalkarhutla Provinsi Kalimantan Barat
(Sumber: Keputusan Gubernur Kalimantan Barat nomor 164
tahun 2002) ………………………………………………………

96

10

Keterlibatan organisasi di tingkat nasional dalam dalkarhutla …..

101

11

Keterlibatan responden dari organisasi di tingkat nasional dalam
kegiatan dalkarhutla ……………………………………………..

102

Pendapat responden tentang peranan organisasinya di tingkat
nasional dalam sistem peringatan dan deteksi dini kebakaran
hutan/lahan ………………………………………………………

104

Pendapat responden tentang peranan organisasinya di tingkat
nasional dalam pencegahan kebakaran ………………………….

106

Pendapat responden tentang peranan organisasinya di tingkat
nasional dalam pemadaman kebakaran ………………………….

107

Pendapat responden tentang peranan organisasinya di tingkat
nasional dalam pasca-kebakaran ………………………………...

109

Posisi organisasi di tingkat nasional dalam perumusan kebijakan.
(a) Matrik DP-D menunjukkan posisi relatif organisasi terhadap
organisasi lain; (b) Diagram ISM menunjukkan struktur hirarki
organisasi-organisasi yang terlibat dalam perumusan kebijakan
pengendalian kebakaran hutan/lahan …………………………….

113

4
5
6
7

8
9

12

13
14
15
16

xxii
17

18

19

20

21
22
23

24
25
26
27
28
29
30
31
32

33

Struktur hirarki organisasi-organisasi yang terlibat pada
perumusan kebijakan pengendalian kebakaran hutan/lahan di
tingkat provinsi ………………………………………………….

114

Struktur hirarki organisasi-organisasi yang terlibat pada
perumusan kebijakan pengendalian kebakaran hutan/lahan di
tingkat kabupaten/kota …………………………………………..

115

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi di tingkat
nasional dalam sistem peringatan dan deteksi kebakaran
hutan/lahan ………………………………………………………

116

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi di tingkat
provinsi dalam sistem peringatan dan deteksi kebakaran
hutan/lahan ………………………………………………………

118

Struktur hirarki organisasi di tingkat nasional dalam pencegahan
kebakaran hutan/lahan …………………………………………..

120

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi di tingkat
provinsi dalam pencegahan kebakaran hutan/lahan ……………..

122

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi yang terlibat
dalam pencegahan kebakaran hutan/lahan di tingkat
kabupaten/kota ………………………………………………….

122

Struktur hirarki organisasi di tingkat nasional dalam pemadaman
kebakaran hutan/lahan …………………………………………...

123

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi-organisasi
di tingkat provinsi dalam pemadaman kebakaran hutan/lahan ….

124

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi di tingkat
kabupaten/kota dalam pemadaman kebakaran hutan/lahan ……..

125

Struktur hirarki organisasi-organisasi di tingkat nasional dalam
rehabilitasi kawasan bekas kebakaran hutan/lahan ……………...

126

Struktur hirarki organisasi-organisasi di tingkat nasional dalam
yustisi kebakaran hutan/lahan …………………………………...

127

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi-organisasi
di tingkat provinsi dalam yustisi kebakaran hutan/lahan ………..

128

Matriks DP-D (a) dan struktur hirarki (b) organisasi-organisasi
di tingkat kabupaten/kota dalam yustisi kebakaran hutan/lahan ...

129

Diagram hubungan bantuan layanan antar organisasi pada
tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota di Provinsi Riau ..

134

Diagram hubungan bantuan layanan antar organisasi pada
tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota di Provinsi
Kalimantan Barat ………………………………………………..

135

Diagram hubungan administratif (pencapaian tujuan) antar
organisasi pada tingkat nasional …………………………………

139

xxiii
34

Diagram hubungan administratif antar organisasi pada tingkat
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, di Provinsi Riau ………

140

Diagram hubungan administratif antar organisasi pada tingkat
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, (a) di Provinsi Riau dan
(b) di Provinsi Kalbar ……………………………………………

141

Komposisi responden (dalam %) tentang pengetahuannya
terhadap visi dan misi organisasinya …………………………….

143

Diagram hubungan perencanaan antar organisasi pada tingkat
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, di Provinsi Riau ……….

145

Diagram hubungan perencanaan antar organisasi pada tingkat
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, di Provinsi Kalimantan
Barat ……………………………………………………………..

146

Pendapat responden di tingkat nasional tentang adanya
mekanisme hubungan antar organisasi dalam pengendalian
kebakaran hutan/lahan di tingkat nasional ………………………

151

Pendapat responden di Provinsi Riau tentang adanya mekanisme
hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran
hutan/lahan ………………………………………………………

152

Alasan keterlibatan organisasi di tingkat nasional dalam
pengendalian kebakaran hutan/lahan …………………………….

153

Alasan keterlibatan organisasi di tingkat provinsi dalam
pengendalian kebakaran hutan/lahan …………………………….

153

43

Hubungan bantuan layanan menurut pendapat responden ………

158

44

Pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di
Indonesia sekarang ………………………………………………

193

Model konseptual sistem pengorganisasian pengendalian
kebakaran hutan/lahan di Indonesia alternatif 1 …………………

195

Tahapan mobilisasi sumber daya pemadaman kebakaran
hutan/lahan alternatif 1…………………………………………..

196

Urutan langkah dalam proses pelaporan dan tindakan mobilisasi
sumber daya pemadaman kebakaran hutan/lahan ……………….

197

Model konseptual sistem pengirganisasian pengendalian
kebakaran hutan/lahan di Indonesia alternatf 2 ……………….

199

Model konseptual sistem pengirganisasian pengendalian
kebakaran hutan/lahan di Indonesia alternatf 3 …………….

202

35

36
37
38

39

40

41
42

45
46
47
48
49

xxiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1

Jumlah sebaran titik panas (hotspots) yang terpantau pada Stasiun
Bumi Satelit NOAA Kementerian Kehutanan dalam 10 tahun
terakhir ……………………………………………………………

241

2

Daftar organisasi/instansi yang diamati …………………………..

243

3

Angket penelitian untuk pendapat responden tentang peranan
organisasi dan hubungan antar organisasi ………………………...

247

Angket penelitian untuk pendapat responden pakar tentang posisi
dan peranan organisasi …………………………………………...

261

5

Angket penelitian untuk analisis efektivitas organisasi …………..

277

6

Angket penelitian untuk pembobotan komponen-komponen
efektivitas organisasi dengan responden pakar …………………...

283

7

Prosedur pengukuran efektivitas organisasi ………………………

285

8

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten/kota menurut profil organisasi …………..

291

Hasil pengolahan angket penelitian dari responden pakar dengan
ISM ………………………………………………………………..

293

Hasil identifikasi posisi dan peranan organisasi tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten/kota menurut pendapat pakar ……………

299

Kedudukan Pusdalkarhutlanas di dalam struktur organisasi
Kementerian Kehutanan …………………………………………..

301

12

Struktur organisasi Pusdalkathutlanas …………………………….

302

13

Kedudukan UPT-PKHL di dalam struktur organisasi Dinas
Kehutanan atau instansi yang ditunjuk di tingkat provinsi dan
tingkat kabupaten/kota ……………………………………………

303

4

9
10
11

xxv

xxvi

I. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kebakaran hutan/lahan merupakan masalah di hampir semua negara di

dunia. Levine et al. (1999, diacu dalam Doscemascolo 2004) memperkirakan
sekitar 20 – 40 juta hektar hutan tropis dunia terbakar setiap tahun. Wilayah
ASEAN juga merupakan kawasan yang rawan kebakaran hutan/lahan. Hal
tersebut masih akan menjadi ancaman serius sampai beberapa waktu ke depan,
sehingga ASEAN harus lebih serius untuk menangani masalah kebakaran di
tingkat regional (Qadri 2001).
Indonesia yang memiliki kawasan hutan dan lahan yang relatif paling luas di
wilayah tersebut tentunya sangat berkepentingan dengan masalah kebakaran
tersebut. Frekuensi kebakaran hutan/lahan di Indonesia masih relatif tinggi.
Indikatornya adalah masih relatif tingginya jumlah akumulasi titik-titik panas
(hotspots) dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, data dari Direktorat
Pengendalian Kebakaran Hutan (Dit. PKH) tahun 2009 menunjukkan bahwa
selama hampir satu dekade tahun terakhir (2000 – 2008) jumlah rata-rata hotspots
per tahun adalah 122.000 titik. Kecenderungan perkembangan jumlah hotspot ke
depan dan akurasi hotspots sebagai indikator adanya kebakaran hutan/lahan masih
memerlukan kajian lebih lanjut.
Kebakaran hutan/lahan di Indonesia menarik perhatian dunia bukan hanya
dari frekuensinya yang relatif tinggi melainkan juga dari skala kejadiannya.
Beberapa catatan menunjukkan bahwa dalam rentang waktu empat dekade
terdapat beberapa periode di mana kejadian kebakaran relatif banyak dan luas.
Qadri (2001) mencatat bahwa kebakaran besar pernah terjadi pada tahun 19821983 di Kalimantan seluas lebih dari lima juta hektar dan 3,5 juta hektar di
antaranya terjadi di Kalimantan Timur. Kebakaran besar berikutnya terjadi pada
tahun 1994 dengan luas total sekitar 4,87 juta hektar tersebar di 25 provinsi dan
tahun 1997-1998 dengan perkiraan luas total 9,76 juta hektar tersebar di hampir
seluruh provinsi. CRISP (Center for Remote Imaging, Sensing and Processing)

2
dari Singapura berdasarkan citra satelit SPOT (Sisteme Pour L’observation de la
Terre) mencatat luasan yang terbakar tahun 1997 sekitar 1,5 juta hektar di
Sumatera dan 3,0 juta hektar di Kalimantan, sedangkan kebakaran tahun 1998
tercatat 2,5 juta ha di Kalimantan Timur. WWF (World Wildlife Fund) Indonesia
menghitung antara 1,97 juta dan 2,3 juta hektar terbakar di Kalimantan antara
Agustus – Desember 1997 (Barber & Schwithelm 2000). FFPCP (Forest Fire
Prevention and Control Project), sebuah proyek kerja sama Dep. Kehutanan
dengan Uni Eropa di bidang kebakaran hutan di Sumatera Selatan menghitung
luas kebakaran tahun 1997 berdasarkan citra satelit seluas 2,3 juta hektar hanya
untuk Sumatera (Ramon & Wall 1998).

Data mengenai luasan kebakaran

hutan/lahan tersebut memang masih diperdebatkan karena pengukuran secara
akurat di lapangan belum dilakukan terhadap setiap kejadian kebakaran, namun
data tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya permasalahan kebakaran
hutan/lahan di negeri ini.
Perhatian terhadap kebakaran hutan/lahan berkaitan erat dengan dampaknya
terhadap banyak hal, terutama isu perubahan iklim global dan emisi gas rumah
kaca. Laporan DFID (Department for International Development) dan World
Bank (2007) mengenai Indonesia menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca
terbesar adalah dari deforestrasi dan konversi lahan. Kebakaran hutan/lahan
merupakan kontributor utama, yakni 57%, bagi deforestasi dan konversi lahan di
negara ini. Kebakaran hutan/lahan juga melepaskan sekitar 1400 metrik ton
karbon per tahun, jauh lebih tinggi daripada emisi dari sektor energi yang hanya
sekitar 275 metrik ton.
Kerugian akibat kebakaran hutan/lahan juga relatif besar. Kebakaran yang
terjadi di

Kalimantan Timur

pada

tahun 1982-1983,

misalnya,

telah

mengakibatkan kerugian total sekitar US$ 9,1 juta, dan jumlah kerugian
kebakaran tahun 1997-1998 secara keseluruhan sekitar US$ 6 milyar (Goldammer
et al. 1996, diacu dalam Qadri 2001). BAPPENAS (1999) menyatakan nilai-nilai
kerugian kebakaran tahun 1997-1998 berkisar antara US$ 8,7 milyar dan US$ 9,7
milyar atau rata-rata sebesar US$ 9,3 milyar. Jika dihitung dengan nilai tukar mata
uang pada saat itu kerugian tersebut mencapai kurang lebih Rp 5,96 trilyun yang

3
setara dengan sekitar 70,1% dari nilai PDB (produk domestik bruto) sektor
Kehutanan tahun 1997.
Selain Indonesia, negara-negara tetangga juga mengalami kerugian dari
dampak kebakaran hutan/lahan di Indonesia. Sebagai contoh, laporan Dit. PKH
tahun 2003 menyebutkan akibat kebakaran tahun 1997-1998 di Indonesia,
Singapura menderita kerugian sekitar US$ 60 juta di sektor pariwisata, dan
Malaysia dirugikan sedikitnya US$ 9 milyar. Klaim-klaim kerugian tersebut
membuat Indonesia secara politik merugi di mata masyarakat internasional.
Tekanan politik terhadap Pemerintah RI akan terus meningkat jika dikaitkan
dengan dampak kebakaran terhadap perubahan iklim global seperti telah
dikemukakan di atas. Apalagi dengan adanya pernyataan Bank Dunia bahwa
kebakaran hutan/lahan di Indonesia pada tahun 1997 telah menyumbangkan kirakira 30% dari seluruh emisi karbon global atau lebih dari seluruh emisi karbon
buatan manusia dari Amerika Utara (Barber & Schweithelm 2000).
Permasalahan kebakaran hutan/lahan di Indonesia akan tetap ada selama
penyebab-penyebabnya belum ditangani dengan benar. Penyebab utama
kebakaran hutan/lahan di negara ini adalah tersedianya unsur-unsur penyebab
kebakaran yakni bahan bakar, oksigen, dan panas, yang dikenal sebagai segitiga
api, yang tetap melimpah pada ruang dan waktu yang sama dan pada kondisi yang
memungkinkan terjadinya penyalaan. Iklim tropis menyediakan oksigen dan
panas yang melimpah, sedangkan fragmentasi lahan mengakibatkan banyak lahan
bera yang ditumbuhi semak belukar yang menyediakan bahan bakar yang
melimpah (Chandrasekharan 1999).
Penyebab utama lainnya adalah penggunaan api atau pembakaran pada
kegiatan penyiapan lahan untuk berbagai kepentingan. Bowen et al. (1999)
menyebut kebakaran hutan/lahan di Indonesia sebagai “anthropogenic fires” yaitu
bahwa sebagian besar kebakaran disebabkan oleh penggunaan api dalam
manajemen lahan. Beberapa contoh kegiatan terhadap lahan yang menyebabkan
kebakaran adalah pembalakan secara komersial (commercial logging), konversi
hutan dan penanaman baru, industri perminyakan (petroleum industries),
pertanian tebas-dan-bakar (slash and burn farming), skema transmigrasi, invasi

4
terhadap lahan basah (wetlands), kebakaran tak disengaja (accidental fires), dan
pembakaran sebagai senjata.
Kajian oleh antara lain Bompard dan Guizol (1999), Simorangkir (2001),
Dorcemascolo (2004), dan Kartodihardjo (2006) menyatakan bahwa penyebabpenyebab tersebut di atas terjadi karena masih lemahnya kelembagaan dalam
pengendalian kebakaran hutan/lahan. Kelembagaan mencakup aturan main dan
organisasi

(Kartodihardjo

2006).

Kajian-kajian

terhadap

kelembagaan

pengendalian kebakaran hutan/lahan seperti tersebut di atas lebih menyoroti sisi
aturan main. Berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur kebakaran
hutan/lahan telah cukup banyak diterbitkan antara lain: Undang-Undang (UU)
nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, UU nomor 18 tahun 2004 tentang
Perkebunan, UU nomor 24 tahun 2007 tentang Bencana Alam, Peraturan
Pemerintah (PP) nomor 41 tahun 1999 tentang Pencemaran Udara, PP nomor 4
tahun 2001 tentang pencemaran akibat kebakaran hutan dan/atau lahan, dan PP
nomor 45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan. Kesimpulannya adalah bahwa
berbagai aturan main di tingkat peraturan perundang-undangan yang ada sudah
memadai, tetapi tindak lanjut terhadap aturan-aturan tersebut, terutama
pelaksanaan atau penegakannya belum optimal.
Studi-studi tersebut di atas dan beberapa studi lain seperti Qadri (2001) dan
Barber dan Schweithelm (2001) menyatakan bahwa kelemahan pada tindak lanjut
dan penegakan aturan main berkaitan dengan kelemahan pada sisi lain dari
kelembagaan yakni organisasi. Penelitian mengenai organisasi pengendalian
kebakaran hutan/lahan masih sulit ditemukan sehingga masih sulit untuk menilai
pengaruh faktor organisasi tersebut terhadap efektivitas pengelolaan pengendalian
kebakaran hutan/lahan. Namun demikian, masih tingginya frekuensi kejadian
kebakaran hutan/lahan kemungkinan besar disebabkan juga oleh masih lemahnya
organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan. Oleh karena itu sangat perlu
untuk dilakukan penelitian terhadap sisi organisasi tersebut.
Organisasi yang mengelola pengendalian kebakaran hutan/lahan melibatkan
banyak organisasi atau instansi pemerintah baik di tingkat nasional, provinsi
maupun kabupaten/kota. Pelibatan organisasi-organisasi tersebut seperti halnya
orang-orang atau anggota-anggota di dalam sebuah organisasi memerlukan suatu

5
sistem pengorganisasian (Hasibuan 2008). Studi terhadap suatu sistem
pengorganisasian mencakup kajian terhadap berbagai aspek hubungan antar
anggota di dalam organisasi tersebut (Hasibuan 2008). Penelitian terhadap sistem
pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan dapat dilakukan dengan
menganalisis tiga aspek yaitu: (1) posisi dan peranan organisasi-organisasi yang
terlibat dalam pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan, (2)
koordinasi antar organisasi-organisasi tersebut, dan (3) kapasitas organisasiorganisasi untuk melaksanakan pengelolaan pengendalian kebakaran hutan/lahan.
Hingga saat ini belum ada kajian terhadap sistem pengorganisasian
pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia. Pembangunan sistem
pengorganisasian tersebut sejauh ini belum memiliki landasan ilmiah berdasarkan
bukti-bukti empiris hasil penelitian. Oleh sebab itu, penelitian-penelitian yang
dapat memberikan landasan tersebut sangat diperlukan, dan penelitian ini
diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pembangunan
sistem pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan ke depan yang lebih
efektif dan efisien.

1.2

Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan

penelitiannya

adalah

bagaimana

seharusnya

sistem

pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di Indonesia? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut diperlukan kajian terhadap:
1. Kebakaran hutan/lahan yang dilihat melalui perkembangan jumlah titik panas .
2. Posisi dan peranan organisasi-organisasi dalam pengendalian kebakaran
hutan/lahan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota.
3. Koordinasi di antara organisasi yang terlibat dalam pengendalian kebakaran
hutan/lahan.
4. Efektivitas organisasi yang secara langsung menangani pengendalian
kebakaran hutan/lahan.

6

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, tujuan pokok penelitian adalah
menemukan model pengorganisasian pengendalian kebakaran hutan/lahan di
Indonesia. Tujuan pokok tersebut dapat dicapai melalui analisis terhadap hal-hal
berikut:
1. Kondisi kebakaran hutan/lahan berdasarkan indikator titik panas (hotspots).
2. Posisi dan peranan organisasi-organisasi di tingkat nasional, provinsi dan
kabupaten/kota dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan.
3. Hubungan antar organisasi dalam pengendalian kebakaran hutan/lahan di
tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota.
4. Efektivitas organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan di tingkat nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Memberikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pembuat keputusan baik
di pemerintahan tingkat nasional, pemerintahan tingkat provinsi maupun
pemerintahan tingkat kabupaten/kota, dalam perumusan dan penetapan
berbagai kebijakan, khususnya di bidang pengendalian kebakaran hutan/lahan.
2. Mendorong dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pihak
tentang peranan dan tanggung jawabnya dalam penanganan kebakaran
hutan/lahan.
3. Pengembangan keilmuan khususnya di bidang organisasi dan pengendalian
kebakaran hutan/lahan.

1.5. Kebaruan (Novelty)

7
Penelitian ini menemukan beberapa hal baru dalam pengorganisasian
pengendalian kebakaran hutan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, antara lain:
1.

Metode untuk analisis hubungan antar organisasi yang masih relatif langka
terutama yang dapat menggambarkan interaksi antar organisasi dalam
perencanaan atau agenda setting, pertukaran sumber daya, dan membantu
pencapaian tujuan organisasi. Penelitian ini mengadaptasi metode yang
digunakan oleh Bolland dan Wilson (1994) dengan membuat analogi
prosedurnya untuk penelitian mengenai pengorganisasian di bidang
pengendalian kebakaran hutan/lahan. Hal yang sama mungkin dapat
dilakukan untuk penelitian-penelitian mengenai pengorganisasian di bidangbidang yang lain;

2.

Metode pengukuran efektivitas organisasi pemerintah yang masih relatif
terbatas. Metode yang tersedia pada umumnya adalah untuk mengukur
efektivitas organisasi yang berorientasi laba (profit organizations) atau
perusahaan-perusahaan komersial dan organisasi nirlaba (non-profit
organizations). Kedua kategori organisasi tersebut memiliki karakteristik
yang berbeda dari organisasi pemerintah, yang tidak berorientasi laba dan
tidak mengumpulkan dana dari sumbangan-sumbangan untuk membiayai
kegiatannya. Metode untuk pengukuran efektivitas organisasi yang
berkaitan dengan pemerintahan sudah ada, namun penerapannya bukan
untuk organisasi secara individual melainkan pemerintah secara keseluruhan
dalam kaitannya dengan perbandingan efektivitas pemerintahan antar
negara. Penelitian ini menyusun sebuah metode pengukuran efektivitas
organisasi pemerintah secara individual, namun penerapannya masih
terbatas pada bidang pengendalian kebakaran hutan/lahan. Penerapan untuk
bidang-bidang yang lain masih memerlukan pengkajian lebih lanjut.

3.

Pengorganisasian pen

Dokumen yang terkait

Organizing system of forest and land fire control organization in Indonesia