Berburu Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango

Dayak Kenyah, kemudian kebun 15 yang ditanami tanaman perkebunan, ladang dan jekkau 6 dengan tanaman keras dan selingan, serta sawah 1
yang hanya terdapat 1 spesies yaitu padi dengan bermacam varietas yang dimiliki Suku Dayak Kenyah Gambar 19.

5.3 Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango


5.3.1 Berburu


Masyarakat Dayak Kenyah memiliki kebiasaan berburu karena kegiatan berburu merupakan suatu kebutuhan bagi mereka. Tujuan utama berburu adalah
untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang berasal dari hasil buruan Billa 2005. Kegiatan berburu ini telah dilakukan secara turun temurun. Berburu
merupakan kegiatan penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup Hladik et al 1993. Berburu juga merupakan salah satu kegiatan yang penting dan
merupakan bentuk penyesuaian diri manusia terhadap sumberdaya alam Moran 1982.
Orang tua mulai mengajarkan teknik berburu kepada anaknya sejak anaknya berusia sekitar 15 tahun. Berburu ada dua macam, yaitu berburu yang dilakukan
secara tradisional dan berburu secara modern. Berburu secara tradisional adalah berburu yang dilakukan dengan teknik dan alat yang masih tradisional, yaitu
sumpit dan bujak. Teknik berburu tradisional ini dengan memanfatkan anjing peliharaannya untuk menemukan target buruan dengan cara membiarkan anjing
masuk hutan dan setelah anjing ini menemukan target buru maka anjing ini akan menggonggong, sehingga dapat dilakukan langkah berikutnya yaitu menembak
target dengan alat yang bernama sumpit. Sumpit adalah alat tradisional yang berbentuk seperti tombak tetapi terdapat lubang kecil di tongkatnya Gambar 20a,
20b. Lubang ini berfungsi sebagai tempat peluru tradisional yang dibuat dari bola-bola kecil tanah liat ataupun anak sumpit yang mengandung racun dan
apabila ditembakkan ke target, maka binatang ini akan pingsan bahkan mati. Racun yang digunakan berasal dari getah tumbuhan bernama
salo’ Antiaris toxicaria Gambar 20c. Cara menembakkan peluru ini yaitu dengan meniup
peluru yang ada di dalam lubang yang diarahkan pada sasarantarget.
a b
c
Gambar 20 Senjata berburu tradisional: a Badan tombak dan anak sumpit; b Ujung tombak; c Racun sumpit getah
salo’ Bujak adalah alat tradisional berburu yang berbentuk dan berfungsi seperti
tombak. Berbeda dengan sumpit, bujak ini tidak memiliki lubang untuk peluru karena penggunaannya pun seperti tombak dengan cara menancapkan mata pisau
ke tubuh target buruan. Berburu dengan bujak ini juga dapat dibantu dengan memanfaatkan anjing peliharaan untuk mencari dan menemukan target buruan.
Target buruan umumnya adalah babi berjenggotbabui Sus barbatus, akan tetapi apabila mereka tidak menemukan babi berjenggot, maka satwa apapun yang
ditemukan dalam hutan mereka tangkap seperti payau Cervus unicolor, pelanduk kancil Tragulus javanicus, dan spesies satwa lainnya Lampiran 6.
Berburu bukan merupakan kegiatan prioritas yang dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango karena kegiatan utama mereka adalah
berladang di gunung dan bertani di sawah. Warga desa memenuhi kebutuhan pangan mereka melalui hasil pertaniannya karena bagi mereka makan yang
penting terdapat nasi dan pelengkapnya, yaitu sayuran. Hasil dari buruan dimanfaatkan sebagai pelengkap makan, apabila makan tanpa lauk-pauk bagi
mereka tidak masalah. Hasil buruan ini biasanya dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri tetapi ada yang sebagian dijual baik dalam desa maupun di luar desa. Hasil
buruan dijual dengan harga Rp 15.000,00 per kilogram Gambar 21.
a b
Gambar 21 Penjualan hasil buruan: a Pengangkutan hasil buruan; b Penimbangan daging yang dijual
Kegiatan berburu biasanya dilakukan perorangan dan kelompok. Apabila perburuan ini dilakukan secara berkelompok maka hasil buruan yang didapat
dibagi rata. Kegiatan berburu ini ada yang dilakukan dari pagi hingga malam dalam satu hari dan ada juga yang menginap di dalam hutan. Apabila perburuan
dilakukan secara menginap maka pemburu biasanya membawa bekal dari rumah. Bekal ini berupa nasi bungkus dengan sayur yang dibuat dari rumah oleh ibu atau
istri pemburu karena pemburu kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. Apabila bekal yang dibawa tidak cukup, maka pemburu mencari bahan pangan dari dalam
hutan yang siap makan tanpa diolah. Apabila berburu dilakukan pada musim buah, maka bahan pangan hutan
yang dapat dimakan langsung adalah spesies buah-buahan seperti maritam Nephelium ramboutan-ake, langsat Lansium domesticum, durian Durio sp.,
manggis hutan Garcinia bancana, mejalin Xanthophyllum obscurum, mejalin batu Xanthophyllum exelsa, dan spesies lainnya. Akan tetapi, apabila kegiatan
berburu dilakukan tidak pada musim buah, maka bahan pangan hutan yang berasal dari tumbuhan yang dapat dimanfaatkan adalah umbut. Beberapa spesies
tumbuhan yang dapat dimakan umbutnya antara lain : iti’ Etlingera sp.,
nyandiang Etlin gera elatior, talang Arenga undulatifolia, nyi’bung
Oncosperma horridum, uwai tana’ Calamus sp. Lampiran 1.

5.3.2 Berladang


Dokumen yang terkait

Dokumen baru