Sikap dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembellian Daging Sapi Lokal dengan Daging Sapi Impor (Studi Kasus di Kecamatan Setiabudi, Kotamadya Jakarta Selatan, DKI Jakarta)

I.
1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Subsektor

peternakan

memegang

peranan

yang

strategis

dalam

perekonomian dan pembangunan sumberdaya manusia. Peranan strategis tersebut
dapat dilihat dalam beberapa hal berikut, seperti penyedia protein hewani bagi
masyarakat, peningkatan pendapatan peternak serta penyumbang pajak negara dan
berkontribusi dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena peranan strategis
itulah, produk-produk peternakan merupakan salah satu produk yang sangat
penting dalam kehidupan (Ditjennak Jambi 2009).
Produk utama asal ternak yang sangat penting dalam memenuhi gizi
masyarakat serta menjadi komoditas ekonomi yang strategis adalah daging, telur,
dan susu. Dari ketiga produk pangan tersebut, komoditas daging khususnya
daging sapi adalah salah satu dari lima komoditas strategis yang diharapkan akan
mencapai swasembada pada tahun 2014 mendatang. Hal ini dikarenakan
permintaan akan komoditas ini yang cenderung berfluktuasi setiap tahunnya
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa pertumbuhan konsumsi rata-rata
per kapita untuk daging cenderung tidak mengalami perubahan dari tahun 2009.
Dari tabel juga dapat dilihat bahwa pertumbuhan konsumsi rata-rata yang paling
besar ada di daging sapi. Peningkatan konsumsi daging yang cukup besar ini
membuktikan bahwa daging sapi merupakan salah satu produk yang memiliki
nilai perekonomian serta permintaan pasar yang tinggi.
Kebutuhan akan daging sangat erat kaitannya dengan suplai daging dari
dalam negeri. Sejauh ini, tingginya permintaan daging dalam negeri masih belum
diimbangi oleh suplai yang memadai. Menurut data yang dikeluarkan oleh
Direktorat Jenderal Peternakan produksi daging sapi nasional pada tahun 2010
mencapai 261.627 ton sementara menurut data dari Kamar Dagang dan Industri
(Kadin) menyebutkan bahwa setiap tahun masyarakat Indonesia membutuhkan
sekitar 350.000-400.000 ton daging sapi. Adanya kesenjangan antara permintaan
dan pasokan inilah yang kemudian membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan
impor daging sapi untuk memenuhi permintaan dalam negeri sehingga di pasaran
terdapat dua pilihan daging sapi, yaitu daging sapi lokal dan daging sapi impor.

Tabel 1. Konsumsi Rata-rata per Kapita Setahun Beberapa Jenis Daging Segar,
2006-2010 (kg/kapita/tahun)
Tahun
No

Komoditi

Pertumbuhan
2010 dengan
2009 (%)

2006

2007

2008

2009

2010

0,313
0,052
0,052
0,261

0,417
0,000
0,052
0,261

0,365
0,000
0,052
0,209

0,313
0,000
0,000
0,209

0,365
0,000
0,000
0,209

16,67
0,00

3,024
0,052
0,052

4,119
0,052
0,052

3,806
0,052
0,052

3,598
0,052
0,052

4,171
0,052
0,052

15,94
0,00
0,00

0,104
0,052

0,104
0,052

0,00
0,00

0,052
0,052
0,052
0,052
0,052

0,052
0,052
0,052
0,052
0,052

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

Daging segar
1
2
3
4

Sapi
Kerbau
Kambing
Babi
Ayam (ras dan
kampung)
Unggas lainnya
Daging lainnya

5
6
7

Daging diawetkan
1
2

Abon
Lainnya

0,010
0,000

0,021
0,052

0,016
0,000

Lainnya
1
2
3
4
5

Hati
Jeroan selain hati
Tetelan
Tulang
Lainnya

0,052
0,052
0,104
0,052
0,052

0,104
0,052
0,104
0,052
0,052

0,052
0,052
0,052
0,052
0,052

Sumber : Susenas Badan Pusat Statistik dalam Kementrian Pertanian (2011)

Ada dua pola impor daging sapi yang berlaku, yaitu pola impor daging
sapi berbasis zona (zone based) dan berbasis negara (country based)1. Zone based
memiliki arti pernyataan impor daging sapi bebas penyakit kuku dan mulut
(PMK) ditentukan per wilayah dalam satu negara, sedangkan untuk country based
berarti pernyataan impor daging sapi bebas PMK ditentukan berdasarkan seluruh
wilayah di negara pengimpor. Indonesia sendiri merupakan negara yang menganut
pola impor sapi berbasis negara (country based), artinya selama ini impor daging
yang dilakukan di Indonesia berasal dari negara-negara yang dinyatakan bebas
sapi gila, PMK, dan penyakit-penyakit lainnya yang dapat membahayakan
manusia. Oleh karena itu, negara yang selama ini menjadi negara pengimpor
daging sapi di Indonesia adalah Australia dan Selandia Baru.

                                                            
1

Anonim. Soal Rencana Mengubah Impor Daging Sapi Berbasis Negara Menjadi Zonasi.
http://www.sinartani.com/Nasional/SOAL-RENCANA-MENGUBAH-IMPOR-DAGINGSAPI-BERBASIS-NEGARA-MENJADI-ZONASI.html. [27 Februari 2012].


 

Tabel 2. Asal Daging Sapi Impor Negara Indonesia dan Tetangga Tahun 2007
Asal Daging
Negara
Indonesia
Malaysia
Filipina
Singapura
Thailand

Australia

US

NZ

India

Amerika
Selatan

58%
5%
17%
26%
67%

0%
0%
3%
1%
2%

41%
0%
6%
12%
21%

83%
52%
-

7%
30%
61%
4%

Sumber: MLA (Meat and Livestock Australia) dalam food review (2011)2

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis sapi lokal yang telah
beradaptasi baik dengan lingkungan setempat dan telah secara turun temurun
dipelihara oleh para peternak. Macam-macam sapi lokal tersebut adalah sapi Bali,
Peranakan Ongole (PO), Sumba Ongole (SO), sapi Madura dan Aceh (Ditjennak
2010). Masing-masing sapi lokal ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan
jenis sapi lain. Misalnya sapi Bali yang memiliki tulang yang terbilang kecil
dibandingkan sapi jenis lain namun memiliki persentase daging yang lebih tebal
atau sapi PO yang memiliki kualitas daging yang baik.
Ada beberapa perbedaan antara daging sapi lokal dengan daging sapi
impor. Dari segi tekstur, daging sapi impor memiliki tekstur yang lebih lembut
daripada daging sapi lokal. Perbedaan tekstur ini dikarenakan proses beternak
yang lebih terjamin sehingga otot sapi impor tidak sekeras sapi lokal3. Sementara
dari ketebalan dagingnya, daging sapi impor memiliki ketebalan daging yang
lebih daripada daging sapi lokal4. Namun dilihat dari segi kepastian kehalalan,
masyarakat jauh lebih mempercayai kehalalan daging sapi lokal dibandingkan
daging sapi impor. Hal ini dikarenakan cara pemotongannya yang sudah
disesuaikan dengan kaidah Islam dan terpantau oleh MUI setempat. Begitu juga
dari segi kesegaran daging. Daging sapi impor biasanya dijual dalam bentuk
daging beku, sementara daging sapi lokal banyak di jual dalam bentuk segar.
                                                            
2

3

4

Syarif, H. Maret 2011. Asal Daging Sapi Impor Negara Indonesia dan Tetangga. Food
Review 6 (3): hlm. 28
Puspitasari,
A.
2012.
Begini
Cara
Mengempukkan
Daging
Sapi.
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/kuliner/11/11/14/lun7rd-begini-caramengempukkan-daging-sapi. [27 Februari 2012].
Sompotan,
J.
2011.
Iga
Sapi
versus
Impor.
http://www.okefood.com/read/2011/10/05/304/511332/iga-sapi--vs-impor. [27 Februari
2012].


 

Semakin banyaknya pilihan jenis daging sapi serta keunggulan dari
masing-masing jenis daging tersebut kemudian mengantarkan konsumen untuk
dapat memilih daging mana yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka,
apakah daging sapi lokal ataukah daging sapi impor. Sikap konsumen terkait
kedua jenis daging ini menjadi penting untuk dipelajari lebih dalam lagi.
Diharapkan dari hasil studi tentang sikap daging sapi lokal dengan daging sapi
impor ini dapat memberikan pengetahuan kepada produsen akan jenis daging sapi
yang lebih disukai oleh masyarakat.
1.2.

Perumusan Masalah
Daging sapi merupakan salah satu kebutuhan strategis masyarakat yang

kebutuhannya saat ini banyak dipenuhi oleh pasokan dalam negeri dan impor. Hal
ini dikarenakan produksi daging sapi lokal yang belum mampu memenuhi
kebutuhan dalam negeri sebanyak 350.000-400.000 ton daging sapi setiap
tahunnya. Karena adanya kesenjangan antara permintaan dan suplai daging sapi
inilah yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan impor daging sapi. oleh
karena itu saat ini di pasaran terdapat dua pilihan daging sapi, yaitu daging sapi
lokal dan daging sapi impor.
DKI Jakarta merupakan salah satu daerah dengan konsumsi daging sapi
terbesar di Indonesia. Setiap tahunnya Jakarta membutuhkan daging sapi
sebanyak kurang lebih 50.000 ton. Sayangnya daerah ini merupakan daerah yang
ketersediaan daging sapinya tergantung dari luar Jakarta. Daerah pemasok daging
sapi ke Jakarta adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan NTT. Hal ini
disebabkan karena tidak ada peternakan sapi di daerah ini oleh sebab itu dari
seratus persen daging sapi yang dijual di Jakarta, sebanyak 70 persennya
merupakan daging sapi impor sementara sisanya merupakan daging sapi lokal.
Ketersediaan daging sapi lokal yang sedikit ini secara tidak langsung
menunjukkan bahwa masyarakat di daerah Jakarta lebih sering mengkonsumsi
daging sapi impor dibandingkan daging sapi lokal. Hal ini dikarenakan jumlah
daging sapi impor yang lebih banyak sehingga ada kekhawatiran masyarakat yang
sudah terbiasaa mengkonsumsi daging sapi impor enggan beralih mengkonsumsi
daging sapi lokal.


 

Seiring peningkatan pendapatan masyarakat jumlah masyarakat golongan
menengah pun juga semakin meningkat. Jika menggunakan indikator bank dunia
maka rata-rata warga DKI Jakarta menurut data susenas yang dikeluarkan BPS
merupakan masyarakat golongan menengah. Adanya peningkatan perekonomian
membuat permintaan akan daging sapi berkualitas pun semakin meningkat.
Kemudian jika masyarakat, khususnya warga Jakarta, dihadapkan pada dua jenis
daging sapi, daging sapi lokal dengan daging sapi impor, beserta keunggulankeunggulan dari masing-masing jenis daging sapi tersebut pilihan mana yang
kemudian akan diambil oleh warga dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi
mereka dalam memilih pilihan tersebut, itulah yang menjadi pembahasan utama
dari penelitian ini.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang dibahas dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimana karakteristik responden daging sapi lokal dan impor di daerah
penelitian?
2. Bagaimana sikap konsumen terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi
impor?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembelian konsumen terhadap
daging sapi yang mereka pilih?
1.3.

Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap konsumen

terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi impor. Secara khusus penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Mengidentifikasi karakteristik responden daging sapi lokal dan daging sapi
impor di daerah penelitian.
2. Mengidentifikasi sikap konsumen untuk daging sapi lokal dengan daging sapi
impor.
3. Mengidentifikasi pengaruh karakteristik konsumen dalam memilih daging sapi
tersebut.


 

1.4.

Manfaat Penelitian

A. Bagi pelaku usaha
Manfaat penelitian bagi pelaku usaha adalah memberikan informasi
mengenai karakteristik konsumen daging sapi serta sebagai masukan kepada
produsen daging sapi untuk mengembangkan produknya.
B. Bagi penulis
Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah sebagai bahan pembelajaran
mengenai konsep perilaku konsumen, khususnya mengenai sikap daging sapi.


 

II.
2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Pola Konsumsi Daging Sapi
Daging adalah salah satu hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan

dari kehidupan manusia (Pramono 2001). Salah satu daging ternak yang banyak
dikonsumsi oleh masyarakat adalah daging sapi. Beberapa penelitian telah
dilakukan untuk melihat sikap konsumen terhadap daging sapi yang ada di
pasaran (Pahar 2008, Purba 2006, Dano 2004, Maharany 2002, Pramono 2001,
Liyanah 2001, Curtis 2006, Umberger 2003 dan Tambunan 2001). Beberapa
diantara penelitian tersebut menggarisbawahi pola konsumsi daging yang ada di
masyarakat.
Dilihat dari pola konsumsi masyarakat, konsumen biasanya membeli
daging sapi seminggu sekali bahkan kadang mereka membeli hingga sebulan
sekali (Dano 2004 dan Maharany 2002). Alasan utama mereka membeli daging
sapi tersebut adalah pemenuhan gizi (Pahar 2008 dan Pramono 2001) dan karena
selera (Maharany 2002). Hal ini menandakan bahwa frekuensi pembelian daging
sapi sangat bervariasi dan biasanya sangat dipengaruhi oleh selera konsumen.
Potongan daging yang paling banyak dibeli adalah daging has karena
konsumen menilai daging ini lebih bersih, lebih padat dan tidak berlemak
(Pramono 2001). Selain itu potongan daging ini juga lebih mudah untuk diolah
menjadi berbagai masakan karena dagingnya yang lembut (Maharany 2002).
2.2

Atribut-atribut yang Diperhatikan Konsumen Ketika Membeli Daging
Sapi
Daging sapi merupakan produk pangan yang cenderung meningkat

permintaannya seiring dengan perkembangan ekonomi masyarakat. Selain
perkembangan ekonomi, faktor-faktor lain yang juga mendukung peningkatan
permintaan daging sapi adalah pertambahan penduduk, perbaikan tingkat
pendidikan serta perubahan gaya hidup di masyarakat. Perkembanganperkembangan di dalam masyarakat itulah yang kemudian membawa konsumen
daging sapi pada suatu kebutuhan akan daging sapi ideal (Tambunan 2001).
Setiap konsumen biasanya memperhatikan beberapa atribut yang dijadikan
pegangan untuk memilih produk yang akan mereka beli (Dano 2004). Hal ini pula
yang terjadi ketika konsumen dihadapkan pada pilihan daging sapi segar yang

 

akan dibeli, baik di pasar tradisional maupun daging sapi yang dibeli di pasar
modern. Setidaknya ada enam atribut yang paling diperhatikan konsumen dalam
membeli daging sapi, yaitu rasa, harga, kesegaran, keamanan, keempukan, dan
tidak berlemak (Curtis 2006).
Berdasarkan kualitas fisik daging sapi, biasanya konsumen tersebut akan
memilih daging sapi yang berwarna merah segar, kenyal dengan lemak yang
sedikit (Pahar 2008 dan Tambunan 2001). Selain itu konsumen juga cenderung
memilih daging sapi yang permukaannya mengkilap dan agak basah, serta
memiliki tekstur daging yang halus (Tambunan 2001). Sementara Purba (2006)
menambahkan bahwa kesesuaian harga dengan kualitas daging serta ada atau
tidaknya sertifikat daging merupakan atribut yang juga diperhatikan konsumen
dalam melakukan pembelian daging sapi.
Alasan utama konsumen memilih sifat-sifat fisik di atas sebagai daging
sapi yang ideal menurut mereka, seperti yang dijelaskan Tambunan (2001), karena
mereka yakin bahwa ciri-ciri fisik tersebut menandakan bahwa daging tersebut
masih segar. Hal ini dapat dilihat misalnya dari segi kekenyalan dan kilap dari
daging sapi tersebut. Daging sapi yang sudah tidak kenyal lagi dan permukaannya
sudah suram kemungkinan besar berasal dari daging sapi yang tidak habis terjual
hari sebelumnya.
Atribut harga, meskipun termasuk atribut yang sangat penting bagi
konsumen, namun memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan atribut fisik lain
yang juga memiliki tingkat kepentingan atribut sangat penting (Curtis dkk 2006).
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian konsumen menganggap atribut harga tidak
lebih penting dibandingkan atribut fisik daging sapi (Pahar 2008, Umberger 2003
dan Maharany 2002) sedangkan sebagian konsumen akan lebih menyoroti harga
dari daging sapi dibandingkan atribut fisiknya (Purba 2006 dan Dano 2004).
2.3

Alat Analisis untuk Mengukur Sikap Konsumen
Selama ini penelitian mengenai sikap cenderung melihat perilaku

konsumen secara eksplisit, padahal penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa
sebenarnya orang memiliki dua sikap yang berbeda terhadap satu objek yang
sama di waktu yang sama. Kedua sikap tersebut adalah sikap eksplisit dan sikap
implisit (Friese 2006). Greenwald & Banaji dalam Friese (2006) mendefinisikan


 

sikap implisit sebagai respon positif atau negatif terhadap suatu objek yang
muncul karena pengalaman masa lalu, dimana orang tersebut tidak menyadarinya.
Adanya respon evaluatif dari konsumen terhadap suatu barang tentunya akan
mempengaruhi konsumen ketika mereka akan melakukan proses pengambilan
keputusan.
Untuk menilai sikap implisit konsumen, Friese (2006) menggunakan IAT
(Implicit Association Test). IAT terbukti sebagai salah satu alat yang sangat
berguna dalam meneliti sikap konsumen, baik secara umum maupun implisit. hal
ini dapat dilihat dari banyaknya penelitian yang berhasil mengidentifikasi merek
tertentu dilihat dari sikap eksplisit dan implisit konsumen. Meskipun begitu,
Friese menambahkan IAT sendiri masih belum bisa menjelaskan interpretasi
absolut dari skor IAT. Oleh karena itu apabila didapat sikap implisit subjek lebih
positif untuk BMW daripada untuk Mercedez bukan berarti sikap implisit subjek
tersebut terhadap Mercedez adalah negatif.
Selain menggunakan IAT, salah satu alat analisis yang banyak digunakan
untuk mengukur sikap adalah analisis multiatribut Fishbein. Disebut model sikap
multiatribut karena difokuskan pada kepercayaan konsumen tentang multiatribut
suatu merek atau produk. Model multiatribut ini menerangkan proses integrasi
yang mengkombinasikan pengetahuan produk (evaluasi dan kepercayaan utama)
untuk membentuk sikap yang menyeluruh. Selain dapat memperkirakan sikap
terhadap suatu produk, model multiatribut juga sangat berguna untuk
mengidentifikasi ciri atau atribut mana yang paling penting (atau paling utama)
bagi konsumen sehingga biasanya para pemasar menggunakan model ini untuk
merumuskan strategi permasaran.
Calder (1975) menyatakan bahwa meskipun alasan dibaliknya seringnya
model ini digunakan dalam penelitian perilaku konsumen masih belum jelas,
alasan yang umum digunakan adalah karena model multiatribut ini memberikan
informasi mengenai struktur sikap yang menjadi dasar dalam memprediksi
perilaku. Pengetahuan tentang struktur sikap tentunya menambah pemahaman atas
pengambilan keputusan konsumen terhadap suatu objek. Oleh karena itu alat
analisis yang digunakan untuk menguji sikap dalam penelitian ini adalah analisis
multiatribut Fishbein.


 

III.
3.1.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Perilaku Konsumen
Pemahaman tentang perilaku konsumen berkaitan dengan segala cara yang
dilakukan orang untuk mendapatkan barang konsumsi terkait dengan peran
mereka sebagai konsumen. Solomon (1992) menjelaskan perilaku konsumen
adalah ilmu yang mempelajari tentang proses pada saat seorang individu baik
sendiri

maupun

berkelompok,

melakukan

pembelian,

penggunaan,

atau

pembuangan barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan
keinginannya. Tindakan membeli ini terwujud pada pilihan-pilihan konsumen
terhadap merek, atribut, jumlah produk, tempat, waktu dan frekuensi pembelian
Selain definisi yang diungkapkan di atas, beberapa ahli juga memiliki
definisi sendiri mengenai perilaku konsumen. Misalnya Schiffman dan Kanuk
(1994) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai perilaku yang memperlihatkan
konsumen

dalam

mencari,

membeli,

menggunakan,

mengevaluasi

dan

menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan dapat memuaskan
kebutuhan mereka. Sedangkan perilaku konsumen menurut Engel (1994) adalah
tindakan-tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi,
dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului
dan mengikuti tindakan tersebut.
Berdasarkan ketiga definisi perilaku konsumen di atas dapat disimpulkan
bahwa perilaku konsumen merupakan segala bentuk aktivitas orang-orang
maupun konsumen untuk mendapatkan, menghabiskan, mengkonsumsi barangbarang ekonomi dan jasa yang diharapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.
Perilaku konsumen dalam prakteknya cenderung mengarah pada perilaku yang
berhubungan dengan pencarian, pembelian, dan penggunaan produk atau jasa.
Menurut Setiadi (2010) dalam banyak hal, sikap terhadap produk tertentu akan
mempengaruhi apakah konsumen jadi membeli atau tidak. Sikap positif terhadap
produk tertentu akan memungkinkan konsumen melakukan pembelian terhadap
produk tersebut, tetapi sebaliknya sikap negative akan menghalangi konsumen
untuk melakukan pembelian.

10 
 

3.1.2. Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian
Keputusan konsumen yang dilaksanakan dalam bentuk tindakan membeli
muncul melalui tahapan-tahapan tertentu. Ada lima tahap-tahap proses proses
keputusan pembelian konsumen menurut Kotler (2002), yaitu: pengenalan
kebutuhan. pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan
perilaku setelah pembelian.
A. Pengenalan Kebutuhan
Awal mula proses pembelian adalah saat pembeli mengenal suatu
kebutuhan yang dipicu oleh suatu rangsangan, baik rangsangan internal maupun
rangsangan eksternal. Penganalisaan kebutuhan ini ditujukan untuk mengetahui
adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan. Sehingga
pada hakikatnya tahapan ini bergantung pada berapa banyak ketidaksesuaian
antara keadaan yang dihadapi konsumen sekarang dan keadaan yang dinginkan
konsumen.
B. Pencarian Informasi
Tahapan ini merupakan tahapan lanjutan setelah konsumen mengenali
kebutuhannya. Pada tahapan ini konsumen akan meninjau lingkungannya untuk
mendapatkan data yang sesuai untuk membuat keputusan pembelian. Solomon
(2006) menyatakan bahwa pencarian informasi dapat dilakukan konsumen dengan
dua cara, yaitu :
1. Pencarian internal dan pencarian eksternal
Pencarian internal didapat dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan
para konsumen atas berbagai produk. Sedangkan pencarian eksternal didapat
dari pengumpulan informasi dimana konsumen mendapatkan informasi yang
mereka butuhkan melalui iklan, teman, atau orang-orang disekitarnya.
2. Pencarian sengaja dan tidak sengaja (kebetulan)
Pencarian sengaja disebut sebagai pencarian aktif, sedangkan pencarian tidak
sengaja merupakan cara yang lebih pasif dalam mendapatkan informasi.
Pencarian sengaja merupakan hasil dari pembelajaran konsumen yang didapat
pada waktu sebelumnya dimana konsumen, pada saat itu, telah melakukan
pencarian informasi yang relevan atas suatu produk atau telah merasakan

11 
 

beberapa alternatif produk secara langsung. Sementara pencarian tidak
sengaja merupakan hasil dari stimuli iklan dan kegiatan promosi penjualan
dari suatu produk yang dilakukan secara terus menerus sehingga orang akan
terus mengingat produk tersebut. Dengan orang mengingat suatu produk
tertentu, diharapkan, mereka akan membeli produk tersebut jika suatu hari
nanti mereka membutuhkannya.
C. Evaluasi Alternatif
Setelah melalui tahap pencarian informasi, maka tahapan selanjutnya
adalah evaluasi alternatif dimana konsumen mengevaluasi berbagai alternatif serta
membuat pertimbangan nilai terbaik untuk memenuhi kebutuhan. Kriteria
alternatif yang sering digunakan konsumen antara lain harga, kepercayaan akan
merek, negara asal, dan kriteria yang bersifat hedonik (Kotler 1997).
Menurut Kotler konsumen melihat setiap produk sebagai satu set atribut
dengan kemampuan yang beragam untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pada
tahap evaluasi alternatif, konsumen membangun suatu brand beliefs untuk setiap
atribut yang ada pada masing-masing merek. Dari brand belief ini konsumen
kemudian membentuk brand image atas suatu produk berdasarkan pengalaman
konsumen yang telah menggunakan produk tersebut. Umumnya dari brand image
itulah konsumen akan mengumpulkan beberapa alternatif produk untuk
dipertimbangkan dalam proses keputusan pembelian.
D. Keputusan Pembelian
Menurut Solomon (2006) konsumen mempertimbangkan beberapa atribut
produk dengan menggunakan aturan yang berbeda, bergantung pada kompleksitas
dan kepentingan dari keputusan tersebut bagi mereka. Salah satu cara untuk
membedakan aturan tersebut adalah dengan mengelompokkannya ke dalam :
1. Non-compensatory decision rules
Konsumen akan mengeliminasi produk-produk yang tidak sesuai dengan
beberapa standar yang ditentukan. Semakin terkenal suatu merek maka akan
semakin besar kemungkinan konsumen ini memilih merek tersebut untuk
memenuhi kebutuhannya atas suatu kelompok barang.

12 
 

2. Compensatory decision rules
Konsumen akan lebih melihat suatu produk secara utuh. Ketika kemampuan
konsumen dalam mengolah informasi terbatas, biasanya konsumen ini akan
lebih memilih produk yang memiliki atribut yang bernilai positif lebih
banyak. Namun jika konsumen menghadapi situasi yang lebih rumit,
konsumen juga akan mempertimbangkan kepentingan relatif dari atribut
bernilai positif serta bobot kepentingan dari merek produk.
E. Perilaku Setelah Pembelian
Tahapan ini merupakan tahapan yang akan membentuk sikap dan
keyakinan konsumen akan produk yang dibeli karena konsumen akan
mengevaluasi hasil pembeliannya. Apabila konsumen puas, maka akan terbentuk
sikap dan kepercayaan yang positif atas pembelian selanjutnya, dan sebaliknya.
Solomon (2006) menyatakan bahwa kepuasan dari konsumen ini sangat
dipengaruhi oleh harapan mereka atas kualitas dari produk yang mereka gunakan.
Jika produk dapat memenuhi harapan konsumen, maka pengaruh positif akan
diberikan konsumen terhadap produk tersebut, sebaliknya jika produk gagal
memenuhi harapan konsumen maka pengaruh negatif akan diberikan konsumen
terhadap produk.
Ketika konsumen memberikan pengaruh negatif terhadap produk atau jasa
yang mereka konsumsi, itu artinya mereka tidak puas dengan apa yang mereka
dapatkan. Ketika hal ini terjadi ada kemungkinan tindakan yang akan diambil
konsumen, yaitu:
1. Voice response: Konsumen dapat meminta ganti rugi keoada penjual.
2. Private response: Menyatakan ketidakpuasan terhadap produk atau toko
kepada teman dan/atau keluarga.
3. Third-party response: Konsumen dapat menuliskan keluhan mereka di
Koran atau bahkan mengambil tindakan hukum terhadap penjual.
3.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian
Keputusan konsumen untuk membeli biasanya berbeda antara yang satu
dengan yang lain. Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi
proses keputusan pembelian tersebut. Setiadi (2010) mengemukakan ada empat
faktor utama yang mempengaruhi proses keputusan pembelian konsumen, yaitu
13 
 

kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologi dari pembeli. Sebagian besar adalah
faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pemasar tetapi harus benar-benar
diperhitungkan. oleh karena itu penting untuk membanhas pengaruh tiap faktor
terhadap perilaku pembelian.
Setiadi (2010) menjelaskan dengan lebih rinci keempat faktor yang
mempengaruhi konsumen dalam proses keputusan pembelian tersebut di bawah
ini.
1. Faktor-faktor Kebudayaan


Kebudayaan
Kebudaayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan
dan perilaku seseorang. Bila makhluk–makhluk lainnya bertindak
berdasarkan naluri, maka perilaku manusia umumnya dipelajari.



Subbudaya
Setiap kebudayaan terdiri dari subbudaya-subbudaya yang lebih kecil yang
memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para
anggotanya. Subbudaya dapat dibedakan menjadi empat jenis : kelompok
nasionalisme, kelomok ras, dan area geografis.



Kelas sosial
Kelas-kelas sosial adalah kelompok yang relatif homogen dan bertahan
lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan yang
keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa.

2. Faktor-faktor Sosial


Kelompok referensi
Kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang
mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap
atau perilaku seseorang. Kelompok referensi dibagi menjadi empat, yaitu :
(1) kelompok primer, (2) kelompok sekunder, (3) kelompok aspirasi, (4)
kelompok diasosiatif.



Keluarga
Keluarga dibedakan menjadi dua kelompok dalam kehidupan pembeli,
yaitu keluarga orientasi dan keluarga prokreasi. Keluarga orientasi
merupakan orang tua seseorang dimana dari orang tualah seseorang

14 
 

mendapatkan pandangan tentang agama, politik, ekonomi dan merasakan
ambisi pribadi nilai atau harga diri dan

cinta. Sedangkan keluarga

prokreasi merupakan pasangan hidup anak-anak seseorang keluarga yang
merupakan organisasi pembeli yang paling penting.


Peran dan status
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya.
Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasi dalam peran
dan status.

3. Faktor Pribadi


Umur dan tahapan dalam siklus hidup
Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga.
Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam
siklus hidup psikologis.



Pekerjaan
Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yan
gmemiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.



Keadaan ekonomi
Keadaaan ekonomi terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan,
tabungan dan hartanya, kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap
membelanjakan uang.



Gaya hidup
Adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat, dan
pendapat seseorang. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu di balik kelas
social seseorang.



Kepribadian dan konsep diri
Adalah karakteristik psikologis yang brbeda dari setiap orang yang
memandang responsnya terhadap lingkungan yang relative konsisten.
Kepribadian merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam
menganalisis perilaku konsumen. bila jenis-jenis kepribadian dapat
diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis
kepribadian tersebut dan berbagai pilihan produk atau merek.

15 
 

4. Faktor-faktor psikologis


Motivasi
Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu
keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak nyaman.
Adapun kebutuhan lain bersifat psikogenik, yaitu kebutuhan yang timbul
dari keadaan fisiologis tertentu seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan
harga diri dan kebutuhan untuk diterima.



Persepsi
Adalah

proses

dimana

seseorang

memilih,

mengorganisasikan,

mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang
berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda dari
objek yang sama oleh karena itu pemasar harus bekerja keras menyatukan
persepsi produk yang ditawarkan kepada konsumen.


Proses belajar
Menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari
pengalaman.



Kepercayaan dan sikap
Kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang dimiliki seseorang
terhadap sesuatu. Sedangkan sikap adalah evaluasi keseluruhan terhadap
objek.

3.1.4. Sikap dan Fungsi Sikap
Sikap disebut juga sebagai konsep yang paling khusus dan sangat
dibutuhkan dalam psikologis social kontemporer. Sikap juga merupakan salah
satu konsep yang paling penting yang digunakan pemasar untuk memahami
konsumen.
Peter (1999) mendefinisikan sikap (attitude) sebagai evaluasi konsep
secara menyeluruh yang dilakukan seseorang. Sementara evaluasi adalah
tanggapan pengaruh pada tingkat intensitas dan gerakan yang relatif rendah.
Evaluasi dapat diciptakan oleh sistem afektif maupun kognitif. Sistem pengaruh
secara otomatis memproduksi suatu tanggapan segera dan langsung pada
rangsangan tertentu. Tanggapan afektif yang menyenangkan atau tidak
menyenangkan tersebut muncul tanpa pemrosesan kognitif yang disadari terhadap

16 
 

informasi produk tertentu. Kemudian, melalui proses pengkondisian klasik,
evaluasi tersebut dapat dikaitkan dengan produk atau merek tertentu, sehingga
menciptakan suatu sikap.
Hal ini memiliki arti bahwa sikap mewakili perasaan senang atau tidak
senang konsumen terhadap objek yang dipertanyakan. Kepercayaan (kognisi) dan
keinginan untuk bertindak (conation) dipandang memiliki hubungan dengan sikap
tetapi merupakan konsep kognitif yang terpisah bukan bagian dari sikap itu
sendiri (Setiadi 2010).
Dilihat

dari

fungsinya,

Daniel

Kazt

dalam

Setiadi

(2010)

mengklasifikasikan empat sikap, yaitu :
1.

Fungsi Utilitarian
Adalah fungsi yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dasar imbalan
dan hukuman. Disini konsumen mengembangkan beberapa sikap terhadap
produk atas dasar apakah suatu produk memberikan kepuasan atau
kekecewaan.

2. Fungsi Ekspresi Nilai
Konsumen mengembangkan sikap terhadap suatu merek produk bukan
didasarkan atas mafaat produk itu, tetapi lebih didasarkan atas kemampuan
merek produk itu mengekspresikan nilai-nilai yang ada pada dirinya.
3. Fungsi Mempertahankan Ego
Sikap

yang

dikembangkan

oleh

konsumen

cenderung

untuk

melindunginya dari tantangan eksternal maupun perasaan internal,
sehingga membentuk fungsi mempertahankan ego.
4. Fungsi Pengetahuan
Sikap membantu konsumen mengorganisasikan informasi yang begitu
banyak yang setiap hari dipaparkan pada dirinya. Fungsi pengetahuan
dapat membantu konsumen mengurangi ketidakpastian dan kebingungan
dalam memilah-milah informasi yang relevandan tidak relevan dengan
kebutuhannya.
4.2.

Kerangka Pemikiran Operasional
Daging sapi merupakan salah satu kebutuhan strategis masyarakat yang

kebutuhannya saat ini banyak dipenuhi oleh pasokan dalam negeri dan impor. Hal

17 
 

ini dikarenakan setiap tahun permintaan akan daging sapi ini terus meningkat,
yaitu sebesar 5 persen per tahun, sementara kebutuhan daging dalam negeri masih
belum bisa terpenuhi secara mandiri sehingga untuk memenuhi pemintaan
tersebut pemerintah harus mengimpor5.
Fokus dari penelitian ini adalah konsumen daging sapi yang berada di DKI
Jakarta, tepatnya di Kecamatan Setiabudi. Daging sapi sendiri dipilih karena
selama ini 70 persen daging sapi yang dijual di Jakarta merupakan daging sapi
impor6. Sementara itu pemerintah mencanangkan program swasembada daging
2014 dengan harapan 90 persen kebutuhan daging sapi dalam negeri dipenuhi
oleh daging sapi lokal. Namun, jika melihat kondisi yang terjadi di Jakarta, secara
tidak langsung menyatakan bahwa masyarakat di daerah ini lebih terbiasa
mengkonsumsi daging sapi impor dibandingkan daging sapi, karena jumlahnya
yang lebih banyak tadi sehingga ada kekhawatiran masyarakat yang sudah
terbiasa memakan daging sapi impor enggan beralih ke daging sapi lokal. Oleh
karena itu penelitian ini berusaha melihat bagaimana sikap masyarakat di daerah
ini terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi impor.
Untuk melihat sikap konsumen terhadap daging sapi dengan daging sapi
impor, dilakukan penilaian terhadap tiga kategori, yaitu karakteristik konsumen
daging sapi, atribut daging sapi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian
konsumen terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi impor. Untuk
mendapatkan hasil tersebut, maka masing-masing kategori tersebut dinilai dengan
alat analisis yang sesuai.
Penilaian terhadap karakteristik konsumen daging sapi dilakukan dengan
analisis deskriptif yang dapat menduga seperti apa karakteristik konsumen daging
sapi di lokasi penelitian. Sementara untuk melihat atribut-atribut produk yang
menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli daging sapi digunakan alat
analisis multiatribut Fishbein. Adapun atribut-atribut daging sapi yang diteliti
dalam penelitian ini adalah harga, kesegaran, sertifikasi, rasa, keempukan, lemak,
kekenyalan, warna, dan tekstur daging. Sedangkan untuk melihat faktor-faktor
                                                            
5
   Setiadi A. Maret 2011. Pertaruhan Program Swasembada Daging Sapi 2014. Food Review
6

  

6 (3): hlm 22.
Anonim.
2012.
DKI
Butuh
Kuota
Khusus
Daging.
http://www.wartakotalive.com/detil/berita/74016/DKI-Butuh-Kuota-Khusus-Daging.[27
Februari 2012] 

18 
 

yang mempengaruhi pembelian konsumen terhadap daging sapi yang dibelinya
digunakan analisis regresi. Adapun variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian
ini umur, pendapatan, pengeluaran untuk kelompok daging, harga daging sapi,
tingkat pendidikan, frekuensi konsumsi daging sapi dan jumlah anggota keluarga.
Alur kerangka pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 1.

19 
 





Kebutuhan daging sapi nasional belum bisa terpenuhi secara
mandiri.
Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan impor
daging sapi.
Sehingga ada dua jenis daging sapi di pasaran, yaitu daging
sapi lokal dan impor

Sosial ekonomi
konsumen
daging sapi
lokal dan impor

Konsumen

Atribut daging
sapi lokal dan
impor

Proses pengambilan
keputusan

Analisis deskriptif

Multiatribut Fishbein

Karakteristik
konsumen daging
sapi lokal dan impor

Sikap konsumen
terhadap daging sapi
lokal dan impor

Analisis regresi

Faktor-faktor yang mempengaruhi
pembelian daging sapi tersebut

Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Sikap dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Pembelian Daging Sapi Lokal dengan Daging Sapi
Impor

20 
 

IV.
4.1.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai sikap konsumen terhadap daging sapi lokal dan impor

ini dilakukan di DKI Jakarta, tepatnya di Kecamatan Setiabudi, Kotamadya
Jakarta Selatan. DKI Jakarta dipilih secara purposive karena selama ini 70 persen
daging sapi yang ada di Jakarta merupakan daging impor7 dan Kecamatan
Setiabudi sendiri dipilih dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini merupakan
daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat karena merupakan
kawasan bisnis dan penduduk di wilayah ini merupakan orang-orang dengan
tingkat ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Pengambilan data
dilakukan dari bulan Maret sampai dengan April 2012
4.2.

Metode Penentuan Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri

dari dua tahap. Tahap pertama adalah menentukan secara acak sederhana dua
kelurahan yang akan dijadikan tempat pengambilan sampel. Kemudian
dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu memilih responden dari masing-masing
kelurahan tersebut. Setiap kelurahan terpilih akan diwakili oleh 25 responden
sehingga total responden dalam penelitian ini adalah 50 orang.
Jumlah Kelurahan, Kelurahan Terpilih dan Responden Terpilih
Kecamatan Setiabudi, Kotamadya Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
Kecamatan
Kelurahan
Kelurahan Terpilih
Responden Terpilih
Menteng Atas
25 orang
Setiabudi
8
Pasar Manggis
25 orang
Jumlah
50 orang

Tabel 3.

Responden dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling dimana
responden dipilih secara sengaja berdasarkan tempat tinggal mereka, apakah di
Kelurahan Pasar Manggis atau di Kelurahan Menteng Atas serta kesediaan
mereka untuk diwawancarai dan mengisi kuesioner yang telah disediakan. Syaratsyarat pemilihan responden dalam penelitian ini diantaranya, dapat berkomunikasi
dengan baik, dewasa dengan batasan umur minimal 17 tahun dan umur maksimal

                                                            
7

Loc.cit

21 
 

65 tahun serta memiliki wewenang sendiri dalam menentukan pengeluarannya
untuk berbelanja misalnya ayah/suami, ibu/istri, pelajar/mahasiswa.
4.3.

Data dan Instrumentasi
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan

data sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan
wawancara dengan responden rumah tangga sebagai konsumen daging sapi.
Sementara data sekunder yang digunakan merupakan data penunjang dan
pelengkap penelitian yang diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti Badan
Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,
Perpustakaan IPB dan sumber-sumber lain yang terkait dengan topik penelitian.
4.4.

Metode Pengolahan Data

4.4.1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisa karakteristik responden,
yaitu umur, jenis kelamin, status pernikahan, jumlah anggota keluarga, pekerjaan,
pendapatan serta pendidikan. Analisis ini disajikan dalam bentuk tabulasi
sederhana dengan mengelompokkan responden berdasarkan jawaban yang sama
dan kemudian dipersentasekan berdasarkan jumlah responden.
4.4.2. Model Sikap Multiatribut Fishbein
Model sikap Multiatribut Fishbein digunakan untuk memperoleh
konsistensi antara sikap dan perilaku konsumen. Berdasarkan model ini, sikap
terhadap objek tertentu didasarkan pada peringkat kepercayaan yang diringkas
mengenai atribut objek yang bersangkutan yang diberi bobot oleh evaluasi
terhadap atribut produk.
Tujuan dilakukannya analisis atribut untuk daging sapi lokal dan daging
sapi impor adalah untuk membandingkan sikap dari kedua jenis daging sapi
tersebut. Dalam hal ini yang digunakan sebagai pembanding antara kedua jenis
daging sapi adalah atribut produk. Secara simbolis, formulasi model Fishbein
dapat dirumuskan sebagai berikut :

bi. ei
22 
 

Keterangan :
Ao

: Sikap terhadap objek

bi

: Tingkat kepercayaan bahwa objek memiliki atribut i

ei

: Evaluasi kepentingan terhadap atribut i

n

: Jumlah atribut yang dimiliki oleh objek
Langkah pertama yang dilakukan dalam menghitung sikap adalah

menentukan atribut objek. Atribut yang digunakan dalam analisis ini berjumlah
sembilan atribut yang terdiri dari harga, kesegaran, sertifikasi, rasa, keempukan,
lemak, kekenyalan, warna, dan tekstur daging. Penentuan kesembilan atribut ini
didasarkan pada hasil pengamatan yang dilakukan di wilayah penelitian serta
berdasarkan artikel-artikel dan buku-buku yang terkait dengan penelitian.
Langkah kedua adalah menentukan pengukuran terhadap komponen
kepercayaan (bi) dan komponen evaluasi (ei). Komponen bi menggambarkan
seberapa kuat konsumen percaya bahwa objek memiliki atribut yang diberikan.
Kekuatan kepercayaan biasanya diukur pada skala dengan 5 (lima) angka dari
kemungkinan yang disadari yang berjajar dari sangat setuju (5), setuju (4), biasa
(3), tidak setuju (2), sampai sangat tidak setuju (1). Sebagai contoh :
Harga daging sapi lokal murah
Sangat setuju

5

4

3

2

1

Sangat tidak setuju

Konsumen akan menganggap atribut produk memiliki tingkat kepentingan
yang berbeda. Evaluasi atribut mengukur seberapa senang konsumen terhadap
atribut dari suatu produk. Adapun komponen ei yaitu menggambarkan evaluasi
(tingkat kepentingan) konsumen terhadap atribut daging sapi secara menyeluruh.
Evaluasi (tingkat kepentingan) ini dilakukan pada skala evaluasi 5 (lima)
angka, dimana hal tersebut menunjukkan nilai sangat penting (5), penting (4),
biasa (3), tidak penting (2) dan sangat tidak penting (1). Atribut yang digunakan
untuk komponen bi harus sama dengan atribut yang digunakan untuk komponen
ei. Sebagai contoh :
Apakah harga daging sapi penting bagi Anda
Sangat penting

5

4

3

2

1

Sangat tidak penting

23 
 

Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan keseluruhan respon untuk bi
dan ei. Setiap skor kepercayaan (bi) harus terlebih dahulu dikalikan dengan skor
evaluasi (ei) yang sesuai. Kemudian seluruh hasil perkalian harus dijumlahkan
sehingga dari hasil tabulasi dapat diketahui sikap konsumen (Ao) terhadap produk
dengan membandingkannya dengan skala interval dengan rumus sebagai berikut.
Skala Interval =
Keterangan :
m

: Skor tertinggi yang mungkin terjadi

n

: Skor terendah yang mungkin terjadi

b

: Jumlah skala penilaian yang terbentuk
Maka besarnya range untuk tingkat kepercayaan dan tingkat evaluasi

(kepentingan) adalah :
,8

Sehingga pembagian kelas berdasarkan tingkat kepercayaan dan tingkat
kepentingan adalah :
Skor

Interpretasi Tingkat
Kepercayaan

Interpretasi Tingkat
Kepentingan

1-1,8
1,8-2,6
2,6-3,4
3,4-4,2
4,2-5

Sangat tidak baik
Tidak baik
Biasa
Baik
Sangat baik

Sangat tidak penting
Tidak penting
Biasa
Penting
Sangat penting

Sementara besarnya range untuk kategori sikap adalah :
x

x

,8

Sehingga pembagian kelas berdasarkan nilai sikap (Ao) adalah :
Skor

Interpretasi Sikap (Ao)

1-5,8
5,8-10,6
10,6-15,4
15,5-20,2
20,3-25

Sangat negatif
Negatif
Netral
Positif
Sangat positif

24 
 

4.4.3. Analisis Regresi
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan analisis regresi
dengan menggunakan program komputer Minitab 14 untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pembelian konsumen daging sapi lokal dan impor.
Variabel untuk faktor-faktor tersebut bersumber dari penelitian terdahulu serta
hasil pendugaan di lapangan.
Analisis regresi adalah suatu teknik statistika yang berguna untuk
memeriksa dan memodelkan hubungan berbagai variabel yaitu bagaimana
pengaruh variabel tidak bebas terhadap variabel bebas. Bentuk umum rumusan
model regresi adalah :
β X

ε

Dimana : Yi = peubah tidak bebas, dengan i = 1,2,…,n (sampel)
= intersesp (konstantan)
β = parameter penduga bagi X (koefisien regresi dari variabel bebas)

X = variabel bebas ke-n dengan n= 1,2,…., n
ε = error (galat)

Pendugaan model tersebut dilakukan dengan menggunakan metode
kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square) yang didasarkan asumsi-asumsi
sebagai berikut (Nasution 2009) :
1. Nilai rata-rata untuk kesalahan pengganggu sama dengan nol, yaitu Eε = 0,
untuk i = 1,2,3,…,k.
2. Ragam ε

σ2 sama untuk semua kesalahan pengganggu (asumsi

homoscedasticity).

3. Tidak ada autikorelsi antara kesalahan pengganggu, berarti kovarian (ε ,
ε ) = 0, untuk i ≠ j. dengan demikian antara ε dan ε tidak saling

bergantung.

4. Peubah bebas X saling bebas atau tidak ada kolinearitas ganda diantara
peubah bebas X.
5. Peubah bebas X1,X2,X3,….,Xk konstan dalam pengambilan sampel
terulang dan bebas terhadap kesalahan pengganggu.

25 
 

6. Kesalahan pengganggu mengikuti distribusi normal dengan rata-rata nol
dan varian σ2.

Apabila asumsi-asumsi di atas dapat terpenuhi, maka koefisien regresi
(parameter) yang diperoleh merupakan penduga linear terbaik yang tidak bias
(BLUE = Best Linear Unbiased Estimator).
Beberapa asumsi yang mendasari model tersebut adalah terjadinya
multikolinearitas, memiliki ragam homogen atau disebut juga adanya masalah
heteroskedastisitas, tidak adanya hubungan antar peubah atau autokorelasi
(Nasution 2009). Oleh karena itu dilakukan uji normalitas, uji multikolinieritas,
dan uji homoskedastisitas untuk melihat apakah asumsi-asumsi tersebut terpenuhi.
Uji autokorelasi sendiri tidak dilakukan dalam penelitian ini karena menggunakan
data cross section, yaitu data yang diambil pada satu satuan waktu. Asumsi
tersebut jarang dilanggar untuk jenis data cross section.
1. Uji Normalitas
Asumsi normalitas mengharuskan nilai residual dalam model menyebar
atau terdistribusi secara normal. Untuk mengetahuinya dilakukan uji
Kolmogrov-Smirnov dengan memplotkan nilai standar residual dengan
probabilitasnya pada tes normal. Jika pada grafik Kolmogrov-Smirnov
titik-titik residual yang ada tergambar segaris dan nilai P value lebih besar
atau sama dengan 0,05 (α = 5 persen), maka dapat disimpulkan bahwa
model terdistribusi secara normal.
2. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas merupakan situasi adanya korelasi variabel-variabel
bebas diantara satu dengan yang lainnya. Multikolinearitas dalam model
dapat dilihat dari nilai Variance Factor (VIF) pada masing-masing
variabel bebasnnya. Jika nilai VIF kurang dari sepuluh (10), maka
menunjukkan bahwa persamaan tersebut tidak mengalami masalah
multikolinieritas yang serius. Sebaliknya jika nilai VIF peubah bebasnya
lebih besar dari sepuluh (10), maka menunjukkan persamaan tersebut
mengalami masalah multikolinieritas yang serius.

26 
 

3. Uji Homoskedastisitas
Uji homoskedastisitas ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai-nilai Y
bervariasi dalam satuan yang sama. Untuk menguji asumsi ini dibuat plot
antara standardized residual dengan faktor X. jika tidak terdapat suatu
pola dalam plot tersebut maka dikatakan bahwa data tersebut homogeny
(Nasution 2009). Untuk menguji ada tidaknya masalah heteroskedastisitas
dalam model dilakukan dengan metode Bartlett. Apabila Bhitung < X2tabel
maka terima H0, artinya data homogen. Sebaliknya apabila Bhitung > X2tabel
maka tolak H0, artinya data tidak homogen.
Setelah data diuji dan terbukti memenuhi asumsi-asumsi tersebut, maka
dilanjutkan dengan melakukan analisis regresi untuk melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan impor. Berikut ini adalah model
pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan
impor :

Dimana : Yi

= Permintaan daging sapi lokal dan impor

X1 = Umur (tahun)
D2 = Dummy Pendapatan
D2 = 1, untuk pendapatan lebih besar atau sama dengan Rp
2.500.000 per bulan
D2 = 0, untuk pendapatan kurang dari Rp 2.500.000 per bulan
X3 = Pengeluaran (rupiah/bulan)
X4 = Harga (rupiah/kg)
D5 = Dummy Pendidikan
D5 = 1, untuk responden yang telah atau sedang menempuh
pendidikan di perguruan tinggi.
D5 = 0, untuk responden yang tidak atau belum menempuh
pendidikan di perguruan tinggi.
D6 = Dummy frekuensi konsumsi
D6 = 1, untuk responden yang mengkonsumsi daging sapi lebih
dari atau sama dengan 3 kali sebulan.

27 
 

D6 = 0, untuk responden yang mengkonsumsi daging sapi
kurang dari 3 kali sebulan.
X7 = Jumlah anggota keluarga (orang).
= Intersep
= Koefisien regresi yang diduga (i=1,2,…,7)
= unsur galat/error
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini sebagai jawaban sementara
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan
impor adalah :
1. Umur
Umur mempunyai pengaruh negatif terhadap jumlah pembelian daging sapi,
dimana semakin lanjut usia orang akan mengurangi pembelian daging sapi
karena alasan kesehatan.
2. Pendapatan
Pendapatan rumah tangga berpengaruh positif terhadap pembelian daging
sapi, dimana semakin besar pendapatan rumah tangga, maka akan
meningkatkan jumlah pembelian daging sapi pada setiap tingkat harga yang
berlaku.
3. Pengeluaran untuk kelompok daging
Pengeluaran atau anggaran belanja untuk kelompok daging memiliki
pengaruh positif terhadap pembelian daging sapi, dimana semakin tinggi
pengeluaran untuk kelompok daging, maka jumlah pembelian daging sapi
akan meningkat.
4. Harga daging sapi
Semakin rendah harga daging sapi, maka akan semakin tinggi jumlah
pembelian daging sapi.
5. Pendidikan
Konsumen dengan tingkat pendidikan yang tinggi mengetahui manfaat dari
daging sapi untuk pemenuhan gizi seimbang sehingga jumlah pembelian
daging sapi juga akan semakin meningkat.

28 
 

6. Frekuensi konsumsi daging sapi
Frekuensi konsumsi daging sapi berpengaruh positif dengan jumlah
pembelian daging sapi, dimana semakin sering konsumen mengkonsumsi
daging sapi maka jumlah pembelian daging sapi pun meningkat.
7. Jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga berpengaruh positif terhadap pembelian daging sapi,
dimana semakin banyak jumlah anggota keluarga maka jumlah pembelian
daging sapi juga akan semakin meningkat.
Model yang dianalisis membutuhkan pengujian terhadap hipotesishipotesis yang dilakukan. Pengujian hipotesis secara statistic bertujjuan untuk
melihat nyata atau tidaknya oengaruh peubah-peubah bebas yang dipilih terhadap
peubah tidak bebas yang diteliti.
1. Koefisien Determinasi (Goodness of Fit)
Untuk menguji kemampuan (kebaikan) model untuk dugaan dilakukan
dengan menghitung nilai R2 dan F-hitung. Nilai koefisien determinasi
(nilai R2) digunakan untuk mengukur keragaman dari variabel tidak bebas
yang dapat dijelask

Dokumen yang terkait

Dokumen baru