Analisis pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013 di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi bangun ruang sisi datar.

(1)

ABSTRAK

Giovannia Esya Nirmala Bestari. 2015. ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013 DI KELAS 8E SMP PANGUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sejauh mana kegiatan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dilaksanakan sesuai dengan Kurikulum 2013 yakni dengan menggunakan pendekatan saintifik, (2) mengetahui apakah Buku Teks Matematika SMP Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 dapat mendukung pelaksanan proses pembelajaran saintifik di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berupa studi kasus tentang pembelajaran yang berlangsung di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi Bangun Ruang Sisi Datar dan penggunaan Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013. Data dalam penelitian ini berupa dokumentasi hasil observasi kegiatan pembelajaran, hasil wawancara dengan guru mata pelajaran, dan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta materi Bangun Ruang Sisi Datar kurang sesuai dengan yang diidealkan dalam Kurikulum 2013 dengan persentasi 55,6% berdasarkan MPG Matematika SMP Tahun 2013. Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi 3 tahap yaitu, (a) tahap pendahuluan pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 55,6%, (b) tahap inti pembelajaran yang dilaksanakan cukup sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 61,1%, dan (c) tahap penutup pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 50,0%. (2) Rumusan masalah pada nomor 2 tidak dapat dijawab karena intensitas penggunaan Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 sangat minim pada saat proses pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar. Faktor-faktor penyebab penggunaan buku minim yaitu (a) peserta didik mengalami kesulitan memahami materi yang ada di dalam buku, (b) tingkat kesulitan soal dalam buku cukup tinggi, (c) terdapat banyak kesalahan cetak, (d) guru menggunakan sumber belajar lain, (e) waktu yang disediakan guru kurang mencukupi untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah yang ada di dalam buku, (f) keterlambatan pendistribusian buku ke sekolah-sekolah, dan (f) guru memilih menggunakan modul pribadi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Kata kunci: Analisis Kegiatan Pembelajaran. Pendekatan Saintifik. Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru.


(2)

ABSTRACT

Giovannia Esya Nirmala Bestari. 2015. ANALYZE OF IMPLEMENTATION LEARNING WITH SCIENTIFIC APPROACH CURRICULUM 2013 IN 8E CLASS OF PANGUDI LUHUR 1 JUNIOR HIGH SCHOOL IN GEOMETRY FLAT SIDE TOPIC. Skrips. Matehmatic Education Courses. Departement of Mathematic Education and Science. Faculty of Teacher Training and Education. Sanata Dharma University. Yogyakarta. The research aims to (1) determine the extent of learning activities in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School are carried out in accordance with Curriculum 2013 with scientific approach, (2) determine whether the Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013 can support the learning process of scientific approach in 8E claas of Pangudi Luhur 1 Junior High School. This research is qualitative resear in the foem of case stidies about the learning that takes place in 8E class of Pangudi Luhur 1 Junior High School in Geometry Flat Side Topic and use of Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013. Datas in this research are documentation of the observation of learning activities, interviews with teachers, and interviews with several students. This result of research indicate that (1) learning activities carried out in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School in Geometry Flat Side topic less according to the Curriculum 2013 with a percentage of 56,6% based MPG Matematika SMP 2013. Learning activities are devided into three phases, (1) the preliminary stage of learning that was carried out less accordanced with Curriculum 2013 with a percentage 55,6%, (2) the core stage of learning that was carried out sufficient accordanced with scientific approach Curriculum 2013 with a percentage 61,1%, and (3) the closing atge of learning that was carried out out less accordanced with Curriculum 2013 with a percentage 50,0%, (2) the problem number 2 can not be answered because of the intensity of the use of Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013 is very minimal during the learning process in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School in Geometry Flat Side topic. Factors causing the intensity of use is minimal are (a) students have difficult to understand material in the book, (b) the difficulty level of the questions in the book is quite high , (c) there are a lot of typographical errors, (d) teachers use the other books, (e) there is insufficient time to carry out the study in accordance with the scientific approach, (f) overdue books distributed to schools, and (f) theachers chose to use handouts for learning process.

Key word: Analyze of learning implementation. Scientific approach Curriculum 2013. Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013.


(3)

i

ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013

DI KELAS 8E SMP PANGUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR

skripsi

disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

oleh

Giovannia Esya Nirmala Bestari 101414065

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA


(4)

(5)

(6)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat serta

keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah

hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai

cinta”

Kahlil Gibran

Kupersembahkan karya ini untuk:

Allah Bapa di surga, Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Santo Giovanni yang telah memberikan berkat dan penyertaan-Nya kepada penulis.

Mama dan Papa tercinta yang dengan semangat membantu, tak pernah lupa mendoakan, dan senantiasa memberi dukungan moril dan materil.

Anak tercintaku yang menjadi semangat bagi penulis menyelesaikan skripsi ini. Adikku tersayang yang dengan setia mendukung dan memberikan banyak bantuan dan

doa bagi penulis.


(7)

(8)

(9)

vii ABSTRAK

Giovannia Esya Nirmala Bestari. 2015. ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013 DI KELAS 8E SMP PANGUDI LUHUR 1 YOGYAKARTA PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sejauh mana kegiatan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dilaksanakan sesuai dengan Kurikulum 2013 yakni dengan menggunakan pendekatan saintifik, (2) mengetahui apakah Buku Teks Matematika SMP Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 dapat mendukung pelaksanan proses pembelajaran saintifik di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berupa studi kasus tentang pembelajaran yang berlangsung di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi Bangun Ruang Sisi Datar dan penggunaan Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013. Data dalam penelitian ini berupa dokumentasi hasil observasi kegiatan pembelajaran, hasil wawancara dengan guru mata pelajaran, dan hasil wawancara dengan beberapa peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta materi Bangun Ruang Sisi Datar kurang sesuai dengan yang diidealkan dalam Kurikulum 2013 dengan persentasi 55,6% berdasarkan MPG Matematika SMP Tahun 2013. Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi 3 tahap yaitu, (a) tahap pendahuluan pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 55,6%, (b) tahap inti pembelajaran yang dilaksanakan cukup sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 61,1%, dan (c) tahap penutup pembelajaran yang dilaksanakan kurang sesuai dengan Kurikulum 2013 dengan persentase 50,0%. (2) Rumusan masalah pada nomor 2 tidak dapat dijawab karena intensitas penggunaan Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 sangat minim pada saat proses pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar. Faktor-faktor penyebab penggunaan buku minim yaitu (a) peserta didik mengalami kesulitan memahami materi yang ada di dalam buku, (b) tingkat kesulitan soal dalam buku cukup tinggi, (c) terdapat banyak kesalahan cetak, (d) guru menggunakan sumber belajar lain, (e) waktu yang disediakan guru kurang mencukupi untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah yang ada di dalam buku, (f) keterlambatan pendistribusian buku ke sekolah-sekolah, dan (f) guru memilih menggunakan modul pribadi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Kata kunci: Analisis Kegiatan Pembelajaran. Pendekatan Saintifik. Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru.


(10)

viii ABSTRACT

Giovannia Esya Nirmala Bestari. 2015. ANALYZE OF IMPLEMENTATION LEARNING WITH SCIENTIFIC APPROACH CURRICULUM 2013 IN 8E CLASS OF PANGUDI LUHUR 1 JUNIOR HIGH SCHOOL IN GEOMETRY FLAT SIDE TOPIC. Skrips. Matehmatic Education Courses. Departement of Mathematic Education and Science. Faculty of Teacher Training and Education. Sanata Dharma University. Yogyakarta. The research aims to (1) determine the extent of learning activities in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School are carried out in accordance with Curriculum 2013 with scientific approach, (2)

determine whether the Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013 can

support the learning process of scientific approach in 8E claas of Pangudi Luhur 1 Junior High School. This research is qualitative resear in the foem of case stidies about the learning that takes place in 8E class of Pangudi Luhur 1 Junior High School in Geometry Flat Side Topic and use of Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013. Datas in this research are documentation of the observation of learning activities, interviews with teachers, and interviews with several students. This result of research indicate that (1) learning activities carried out in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School in Geometry Flat Side topic less according to the Curriculum 2013 with a percentage of 56,6% based MPG Matematika SMP 2013. Learning activities are devided into three phases, (1) the preliminary stage of learning that was carried out less accordanced with Curriculum 2013 with a percentage 55,6%, (2) the core stage of learning that was carried out sufficient accordanced with scientific approach Curriculum 2013 with a percentage 61,1%, and (3) the closing atge of learning that was carried out out less accordanced with Curriculum 2013 with a percentage 50,0%, (2) the problem number 2 can not be answered because of the intensity of the

use of Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013 is very minimal

during the learning process in 8E class of Pangudi Luhur 1 Yogyakarta Junior High School in Geometry Flat Side topic. Factors causing the intensity of use is minimal are (a) students have difficult to understand material in the book, (b) the difficulty level of the questions in the book is quite high , (c) there are a lot of typographical errors, (d) teachers use the other books, (e) there is insufficient time to carry out the study in accordance with the scientific approach, (f) overdue books distributed to schools, and (f) theachers chose to use handouts for learning process.

Key word: Analyze of learning implementation. Scientific approach Curriculum 2013. Mathematic 8th Grade teacher’s textbook Curriculum 2013.


(11)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pelaksanaan Pembelajaran dan Penggunaan Buku Matematika Pegangan Guru kelas VIII Kurikulum 2013 Materi Bangun Ruang Sisi Datar Kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Robertus Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Hongki Julie, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Chatarina Enny Murwaningtyas, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama penulis menempuh pendidikan di Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta.


(12)

x

4. Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd., selaku Dosen Pembimbing yang telah berkenan menyediakan waktu, tenaga, pikiran, dan kesabaran untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik.. 5. Yosep Anton Utmiyadi, FIC, S.Pd., selaku Kepala SMP Pangudi Luhur 1

Yogyakarta yang berkenan memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

6. C. Peni Suryaningtyas, S.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang telah membantu penulis dalam mengurus izin penelitian.

7. Fransiska Anggar Cahyanti, S.Pd., selaku Guru Mata Pelajaran Matematika SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian.

8. Peserta didik kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian, terutama Ferdianus David Jevon, Guido Seno Danardanto, Glorika Hasiana, Marcel Ave Tetuko, dan Anja Harsanto yang telah bersedia diwawancarai penulis untuk kepentingan penelitian.

9. Segenap dosen JPMIPA, khususnya dosen-dosen Program Studi Pendidikan Matematika, yang telah mendidik dan membagi pengetahuan serta pengalaman yang sangat bermanfaat kepada penulis.

10.Segenap karyawan sekretariat JPMIPA, atas segala bantuan, keramahan, dan kerja sama yang baik selama penulis menempuh pendidikan hingga selesainya skripsi ini.

11.Mama dan Papa tersayang, Justinus Sakti Hernawan dan Vincentia Endah Tursilowati atas segala bantuan, doa, cinta, perhatian, nasihat, dan semangat


(13)

xi

yang diberikan selama ini. Semoga skripsi ini dapat menjadi hadiah kecil yang membanggakan.

12. Adik tersayang, Theodorus Cagar Binara Betananda dan sepupu tersayang, Yuliana Triwardhani, serta keluarga besar penulis, atas doa dan dukungan yang diberikan.

13.Anakku tercinta, Hillarius Rakabuming Arsenio Pratama, yang telah menjadi semangat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

14.Sahabat-sahabatku, Claudia Meta H., Desianty Natalia, Dewi Kartika S., Istri Candra W. yang selalu memberikan bantuan, dukungan, dan semangat selama penulis menempuh perkuliahan dan menyusun skripsi ini.

15.Semua teman Pendidikan Matematika angkatan 2010 dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini pada masa yang akan datang. Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi perkembangan serta kemajuan pendidikan.

Yogyakarta, 13 Agustus 2015 Penulis,


(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN LEMBAR PENGESAHAN...iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA…...v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT...viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

1.5. Batasan Istilah ... 8

1.5.1. Analisis. ... 8

1.5.2. Pendekatan Saintifik ... 8

1.5.3. Buku Teks Matematika Pegangan Guru ... 9

1.5.4. Materi Bangun Ruang Sisi Datar Kelas VIII Semester 2. ... 9

1.6. Sistematika Penulisan Skripsi ... 9


(15)

xiii

1.6.2. Bagian Isi ... 10

1.6.3. Bagian Penutup ... 10

BAB 2 LANDASAN TEORI ... 11

2.1. Analisis ... 11

2.2. Belajar dan Pembelajaran ... 11

2.3. Pendekatan Saintifik ... 13

2.4. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran ... 17

2.5. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran ... 20

2.4.1. Mengamati (Observing) ... 20

2.4.2. Menanya (Questioning) ... 22

2.4.3. Melakukan Eksperimen dan Mengumpulkan Informasi ... 25

2.4.4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi/Menalar(Associating) ... 27

2.4.5. Mengomunikasikan dan Membentuk Jejaring ... 29

2.6. Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 ... 30

2.5.1. Buku Teks Kurikulum 2013 ... 31

2.5.2. Identitas Buku Teks Matematika Pegangan Guru ... 33

2.7. Silabus Matematika Kelas VIII ... 35

2.8. Kerangka Berpikir ... 35

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 38

3.1. Pendekatan Penelitian ... 38

3.2. Subjek Penelitian ... 38

3.3. Data dan Sumber Data ... 39

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 40

3.5. Instrumen Penelitian ... 41


(16)

xiv

3.5.2. Pertanyaan Pedoman Wawancara Guru dan Siswa ... 44

3.5.2.1. Pedoman Wawancara Guru ... 44

3.5.2.2. Pedoman Wawancara Siswa... 46

3.6. Metode Analisis Data ... 46

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ... 50

4.1. Pelaksanaan Penelitian ... 50

4.2. Data Penelitian ... 55

4.2.1. Data Hasil Observasi ... 56

4.2.2. Data Hasil Wawancara ... 60

4.3.1. Kegiatan Pendahuluan Pembelajaran ... 65

4.3.2. Kegiatan Inti ... 68

4.3.3. Kegiatan Penutup ... 74

4.3.4. Analisis Penggunaan Buku Pegangan Guru Kurikulum 2013 ... 76

4.4. Pembahasan ... 78

4.4.1. Pembahasan Hasil Analisis Setiap Tahapan Pembelajaran ... 79

4.4.1.1. Tahap Pendahuluan Pembelajaran ... 79

4.4.1.2. Tahap Inti Pembelajaran... 81

4.4.1.3. Tahap Penutup Pembelajaran ... 95

4.4.2. Pembahasan Hasil Analisis Keseluruhan Tahapan Pembelajaran ... 96

4.4.3. Pembahasan Hasil Analisis Penggunaan Buku ... 102

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 105

5.1. Simpulan ... 105

5.2. Saran ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... 107


(17)

xv DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Pedoman Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Saintifik…………. 38

Tabel 3.2 Kriteria Hasil Persentase……….. 44

Tabel 4.1 Tahap Pembelajaran Pertemuan 1……… 51

Tabel 4.2 Aspek Apersepsi dan Motivasi………. 61

Tabel 4.3 Aspek Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan……… 61

Tabel 4.4 Perolehan Skor Kegiatan Pendahuluan……… 62

Tabel 4.5 Aspek Penguasaan Materi Pelajaran……… 63

Tabel 4.6 Tabel 4.7 Aspek Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik……… Aspek Penerapan Pendekatan Saintifik………... 63 64 Tabel 4.8 Aspek Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran……… 64

Tabel 4.9 Aspek Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran……… 65

Tabel 4.10 Aspek Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam Pembelajaran……… 65

Tabel 4.11 Perolehan Skor Kegiatan Inti Pembelajaran………. 66

Tabel 4.12 Aspek Kegiatan Penutup Pembelajaran……… 67

Tabel 4.13 Perolehan Skor Kegiatan Penutup Pembelajaran………. 67


(18)

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui terselenggaranya pendidikan bermutu yang diatur dalam sistem pendidikan nasional. Semua kegiatan pendidikan baik di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pemerintah dengan persetujuan DPR mulai melaksanakan Kurikulum 2013 pada bulan Juli tahun 2013. Pelaksanaan Kurikulum 2013 oleh pemerintah dipandang sebagai hal yang mendesak walaupun ditilik dari segi persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013 masih belum sempurna bahkan dapat dikatakan mengkhawatirkan. Kurikulum 2013 didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi, dan potensi daerah, satuan pendidikan, kompetensi lulusan pada satuan pendidikan dan peserta didik.

Perubahan yang diinginkan dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 adalah sekolah sebagai keluarga dan tempat pergaulan sosial, perubahan dari kebiasaan menghafal menjadi kebiasaan berfikir, dari pasif menjadi aktif, dari IQ Fixed Mindset menjadi Growth Mindset, dari pengaruh


(19)

2

wibawa guru menjadi fun and enjoyment, dari paper based menjadi

attitude and activity based, dari parsial sales menjadi integrated

convergence, dan dari “what we have” menjadi “what we develop” (MPG SMP Matematika, 2013). Bagaimana mencapai perubahan tersebut? Hal ini menjadi pertanyaan banyak pihak yang terkait dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 ini.

Kurikulum 2013 identik dengan pelaksanaan pendekatan ilmiah (pendekatan saintifik) dalam kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Oleh karena itu, Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning).

Disebutkan dalam Materi Pelatihan Guru (MPG) Matematika 2013, proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.


(20)

3

Pendekatan ilmiah (scientific approac) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.

Proses belajar mengajar dalam Kurikulum 2013 merupakan inti dari pendidikan. Komponennya adalah guru, siswa, media pembelajaran dan sumber belajar. Semua komponen tersebut memiliki kaitan yang erat karena suksesnya pendidikan tergantung dari perpaduan komponen-komponen tersebut. Salah satu komponen penunjang keberhasilan proses pembelajaran adalah sumber belajar atau buku teks yang digunakan oleh siswa dan guru. Keberadaan buku teks memberikan pengaruh yang besar karena Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah pada setiap proses pembelajarannya. Kesulitan yang dialami oleh guru adalah banyaknya materi pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa tidak bisa meyerap dengan baik materi yang disampaikan guru. Dalam proses pembelajaran guru memiliki keterbatasan waktu dalam menyampaikan materi. Salah satu strategi dalam mengatasi masalah tersebut adalah memilih dan memfasilitasi peserta didik dengan buku teks yang memadai agar hasil belajar menjadi optimal.


(21)

4

Buku teks yang benar adalah buku teks yang dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah yang sederhana maupun rumit, tidak menimbulkan persepsi yang salah, serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sesuai dengan kaidah keilmuan (Pusat Perbukuan, 2005). Saat ini buku teks yang dijadikan sebagai sumber belajar siswa dan buku pegangan guru adalah Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang diterbitkan oleh pemerintah yang dianggap telah menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran Kurikulum 2013.

Penulis melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Sekolah ini telah menerapkan Kurikulum 2013. Buku teks yang digunakan belum mencukupi bahkan buku-buku tersebut baru diterima pihak sekolah setelah 1 bulan proses pembelajaran berlangsung. Keterlambatan pengadaan buku teks siswa dan guru mengakibatkan persiapan pembelajaran guru mengalami kekacauan. Materi yang dirasa terlalu dipaksakan juga mengakibatkan guru terburu-buru dalam mengajar. Guru juga mengeluhkan sulit merancang proses pembelajaran Kurikulum 2013 yakni pembelajaran ilmiah atau pembelajaran saintifik.

Persiapan pembelajaran erat kaitannya dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan guru tentang Kurikulum 2013. Sebenarnya para guru telah diberi pelatihan Kurikulum 2013, namun pemahaman terhadap Kurikulum 2013 dianggap kurang memadai karena waktu pelaksanaan pelatihan juga agak terlambat. Para guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ). Guru juga mengalami kesulitan


(22)

5

dalam mencari sumber belajar lain di luar buku teks. Siswa juga sulit memahami alur pembelajaran yang terdapat dalam buku siswa maupun langkah-langkah yang diterapkan oleh guru. Kadang-kadang guru harus menafsirkan sendiri materi dan pendekatan ilmiah yang harus diberikan kepada siswa karena kurangnya pelatihan dan sosialisai yang diberikan oleh pemerintah.

Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat dan menentukan hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pembelajaran dan pelaksanaan pendekatan saintifik sesuai dengan Kurikulum 2013. Evalusi sebagai tujuan utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan menjadi dasar pelaksanaan penelitian ini. hasil evalusi menunjukkan ketercapaian tujuan pembelajaran dengan melihat efektivitas pelaksanaan kurikulum dan melihat efektivitas penggunaan sarana penunjang dalam penelitian ini buku sumber belajar dalam menunjang pelaksanaan Kurikulum 2013.

Materi yang menjadi dasar penelitian dalam skripsi ini adalah Bangun Ruang Sisi Datar. Materi Bangun Ruang Sisi Datar adalah materi Semester 2 bab keempat dengan 7 sub bab. Isi sub bab pertama sampai ketujuh adalah menentukan luas permukaan kubus dan balok, menentukan luas permukaan prisma, menentukan luas permukaan limas, menentukan volume kubus dan balok, menentukan volume prisma, menentukan volume limas, dan menafsir luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar tidak beraturan. Alasan utama penulis memillih materi ini adalah ketika


(23)

6

penulis melakukan penelitian, materi inilah yang sedang diajarkan di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta.

1.2. Rumusan Masalah

Menurut Kurikulum 2013 peran guru adalah sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih kolaborator, navigator pengetahuan, mitra belajar, dan pembimbing atau konselor. Guru dituntut memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses pembelajaran.

Hal yang mendukung agar peran guru tersebut dapat tercapai adalah adanya proses yang mendukung kreativitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah atau pendekatan saintifik yaitu adanya proses mengamati, menanya, menalar, mencoba, menarik kesimpulan, dan membentuk jejaring. Dalam hal ini guru berperan penting dalam perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, dan penilaian.

Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(1) Sejauh mana kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta sesuai dengan Kurikulum 2013 yakni dengan menggunakan pendekatan saintifik?

(2) Apakah Buku Teks Matematika SMP Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta agar sesuai dengan pendekatan saintifik?


(24)

7 1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan di atas, dapat diketahui tujuan dalam penelitian ini, yaitu :

(1) Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dilaksanakan sesuai dengan Kurikulum 2013 yakni dengan pendekatan saintifik.

(2) Untuk mengetahui apakah Buku Teks Matematika SMP Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 dapat mendukung pelaksanan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta sesuai dengan pendekatan saintifik.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak. Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(1) Bagi guru, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan evaluasi terhadap kesesuaian pelaksanaan pembelajaran dengan Kurikulum 2013. (2) Bagi guru, penelitian ini membantu dalam memahami peran Buku

Teks Matematika Kelas VIII Pegangan Guru terhadap pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

(3) Bagi sekolah, penelitian ini memberikan masukan dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan memberikan informasi tentang peran Buku Teks Matematika Kelas VIII Pegangan Guru dalam pembelajaran Kurikulum 2013.


(25)

8

(4) Bagi Dinas Pendidikan, penelitian ini memberikan masukan mengenai manfaat Buku Teks Matematika Kelas VIII Pegangan Guru dalam penyusunan pembelajaran yang sesuai dengan Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013.

(5) Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan dalam menggunakan Buku Teks Matematika Kelas VIII Pegangan Guru, khususnya pada saat penulis telah menjadi guru dan harus mengajar dengan menggunakan pendekatan saintifik.

1.5. Batasan Istilah

Penegasan istilah dilakukan untuk memperoleh pengertian yang sama tentang istilah dan membatasi ruang lingkup permasalahan sesuai dengan tujuan dalam penelitian. Istilah-istilah yang perlu diberi penegasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.5.1. Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

1.5.2. Pendekatan Saintifik adalah proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah yang lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning), diperlukan adanya penalaran dan sikap kritis siswa dalam rangka pencarian (penemuan), harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.


(26)

9

1.5.3. Buku Teks Matematika Pegangan Guru adalah buku yang dijadikan pegangan guru pada jenjang tertentu, berisi bahan yang telah terseleksi, dan berkaitan dengan bidang studi tertentu. Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasanya dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. Buku teks matematika pegangan guru tersebut harus memiliki kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafikan pada setiap jenjang pendidikan.

1.5.4. Materi Bangun Ruang Sisi Datar Kelas VIII Semester 2 meliputi tujuh sub bab yang akan dipelajari oleh siswa. Bagian pertama adalah menentukan luas permukaan kubus dan balok, kedua menentukan luas permukaan prisma, ketiga menentukan luas permukaan limas, keempat menentukan volume kubus dan balok, kelima menentukan volume prisma, keenam menentukan volume limas, dan terakhir menaksir luas permukaan dan volume bidang sisi datar tidak beraturan.

1.6. Sistematika Penulisan Skripsi

Secara garis besar penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.

1.6.1. Bagian Awal

Bagian awal memuat halaman judul, halaman pengesahan, pernyataan, motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.


(27)

10 1.6.2. Bagian Isi

Bagian isi terdiri dari 5 bab, yaitu:

BAB I : Pendahuluan, berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, penegasan istilah, dan sistematika penulisan skripsi.

BAB II : Landasan teori, berisi teori-teori yang mendukung pelaksanaan penelitian dan kerangka berfikir.

BAB III : Metode penelitian, berisi pendekatan penelitian, subjek penelitian, desain penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, dan analisis data.

BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, berisi deskripsi subjek penelitian dan data hasil penelitian serta pembahasannya. BAB V : Penutup, berisi simpulan hasil penelitian dan saran-saran peneliti.

1.6.3. Bagian Penutup

Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka yang digunakan sebagai acuan, lampiran-lampiran yang melengkapi uraian pada bagian isi dan tabel-tabel yang digunakan.


(28)

11 BAB 2

LANDASAN TEORI 2.1. Analisis

Pusat Bahasa Depdiknas (2008: 60) menyebutkan bahwa analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Sedangkan analisis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Analisis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan penelaahaan dan penilaian kegiatan pembelajaran di kelas 8E SMP Pangusi Luhur 1 Yogyakarta materi Bangun Ruang Sisi Datar dan Buku Teks

Matematika Pegangan Guru Kelas VIII implementasi Kurikulum 2013

terbitan Dinas Pendidikan Nasional. 2.2. Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan proses yang dilakukan manusia sepanjang hayatnya. Dengan potensi yang dimilikinya, manusia belajar untuk memperbaiki kualitas hidupnya supaya menjadi lebih baik. Hal ini senada dengan pendapat Darsono (2000 : 4) yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif


(29)

12

dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.

Perubahan perilaku tersebut merupakan hasil interaksi berbagai macam unsur dalam belajar. Dalam hal ini belajar dipandang sebagai suatu sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yaitu:

(1) pembelajar, yakni peserta didik, warga belajar, atau siswa;

(2) rangsangan (stimulus) indera pembelajar, dapat berupa warna atau suara, di mana pembelajar harus fokus pada stimulus tertentu agar dapat belajar dengan optimal;

(3) memori pembelajar, yakni berisi kemampuan seperti pengetahuan keterampilan, sikap, dan tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori.

Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik yang secara implisit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan (Uno, 2006 : 2). Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Proses pembelajaran adalah proses yang bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam


(30)

13

Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 juga disebutkan bahwa pembelajaran merupakan usaha sengaja, terarah, dan bertujuan oleh seseorang atau sekelompok orang (termasuk guru dan penulis buku pelajaran) agar orang lain (termasuk peserta didik), dapat memperoleh pengalaman yang bermakna. Usaha ini merupakan kegiatan yang berpusat pada kepentingan peserta didik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang mengandung serangkaian perbuatan antara guru, peserta didik, dan sumber belajar pada suatu lingkungan yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu dan memperoleh pengalaman yang bermakna.

2.3. Pendekatan Saintifik

Pada Materi Pelatihan Guru Matematika SMP Tahun 2013 (2013:185) disebutkan pendekatan saintifik adalah proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah yang lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk menarik kesimpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk menarik kesimpulan secara keseluruhan. Dengan kata lain, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam hubungan ide yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk merumuskan kesimpulan umum.

Untuk memperkuat pendekatan saintifik diperlukan adanya penalaran dan sikap kritis peserta didik dalam rangka pencarian (penemuan). Agar


(31)

14

dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Oleh karena itu, metode ilmiah atau saintifik pada umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan eksperimen, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Sebenarnya metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta, (2) sifat bebas prasangka, (3) sifat objektif, dan (4) adanya analisis. Dengan metode ilmiah ini diharapkan kita mempunyai sifat kecintaan pada kebenaran yang objektif, tidak mudah percaya pada hal-hal yang tidak rasional, ingin tahu, tidak mudah membuat prasangka, selalu optimis (Kemendikbud, 2013: 141).

Menurut Annas (2014), proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan kriteria ilmiah.

Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

1. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.


(32)

15

2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. 3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis,

analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.

4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi peserta didik agar mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.

6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya.


(33)

16

Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah yang meliputi intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis seperti dituliskan dalam MPG SMP Matematika 2013 (2013:185).

1. Intuisi

Istilah ini sering dipahami sebagai penilaian terhadap sikap pengetahuan, dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. Kemampuan intuitif biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari.

2. Akal sehat

Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran karena hal itu dapat menunjukkan ranah sikap keterampilan, dan pengetahuan yang benar.

3. Prasangka

Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) yang umumnya sangat kuat dan dipandu oleh kepentingan seseorang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya.

4. Penemuan coba-coba

Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan cara coba-coba selalu bersifat


(34)

17

tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku.

5. Berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis pada umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi.

2.4. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan daripada transfer pengetahuan. Peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam model ini peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah.

Menurut Hosnan (2014 : 34) pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hokum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi dan menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai


(35)

18

teknik, menarik kesimpulan, dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal dan memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah. Informasi dapat berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi dan bukan hanya diberi tahu.

Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memfasilitasi peserta didik agar memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses (Permen Nomor 65 Tahun 2013). Sehingga dari pendekatan saintifik tersebut diharapkan siswa dapat membangun kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.


(36)

19

Karakteristik pembelajaran dengan metode saintifik menurut Hosnan (2014 : 36) adalah sebagai berikut :

1. Berpusat pada siswa

2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep hukum, atau prinsip

3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir siswa.

4. Dapat mengembangkan karakter siswa

Berikut beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik menurut Hosnan (2014: 37).

1. Pembelajaran berpusat pada siswa.

2. Pembelajaran membentuk student self concept. 3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme.

4. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip. 5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan

berpikir siswa.

6. Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru.

7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi.


(37)

20

8. Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.

Langkah-langkah pendekatan ilmiah (saintific appoach) dalam proses pembelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu pendekatan ilmiah tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi ini proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya peserta didik atau semakin tingginya kelas.

2.5. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Langkah-langkah pendekatan saintifik menurut MPG SMP Matematika Tahun 2013, Permendikbud Nomor 81A tahun 2013, dan menurut Hosnan diuraikan sebagai berikut :

2.4.1. Mengamati (Observing)

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti : menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin


(38)

21

tahu peserta didik sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013, hendaklah guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar, dan membaca sehingga meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung.

Pengamatan dalam pendekatan saintifik, khususnya pembelajaran matematika menurut MPG SMP Matematika tahun 2013 (2013: 188) adalah mengamati fakta matematika. Mengamati dapat dibagi menjadi dua pengertian:

i. Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan. Pengamatan ini cocok untuk pemahaman konsep yang akan diturunkan dari suatu proses induktif.

ii. Pengamatan objek matematika. Pengamatan ini sangat cocok untuk peserta didik yang mulai menerima kebenaran logis sehingga mereka tidak mempermasalahkan suatu rangkaian kebenaran sebelumnya yang didapatkan dari penalaran yang benar walaupun objeknya tidak nyata.


(39)

22 2.4.2. Menanya (Questioning)

Langkah kedua dalam pendekatan ilmiah atau scientific

approach adalah questioning atau menanya. Menurut Hosnan (48:

2014), kegiatan pembelajarannya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari hal yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang hal yang diamati. Kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan menanya menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

Dalam kegiatan mengamati guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai hal yang sudah dilihat, disimak, dibaca, atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak (MPG SMP Matematika 2013, 2013: 189).

Fungsi bertanya dalam kegiatan pembelajaran menurut Hosnan (2014 : 50) adalah sebagai berikut :

1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.


(40)

23

2. Mendorong dan mengapreasi peserta didik untuk aktif belajar serta mengembangkan pertanyaaan dari dan untuk dirinya sendiri.

3. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan rancangan untuk mencari solusinya.

4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.

5. Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberikan jawaban yang logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. 6. Mendorong pertisipasi peserta didik dalam berdiskusi,

berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik kesimpulan.

7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosakata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok. 8. Membiasakan peserta didik berpikir spontan, cepat, dan sigap

dalam merespon pertanyaan yang tiba-tiba muncul.

9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.


(41)

24

Dalam kegiatan menanya, beberapa hal perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kriteria pertanyaan yang baik. Ada 9 kriteria pertanyaan yang baik seperti diungkapkan Hosnan (2014: 51-56) : singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat

probing atau divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberi

kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif, dan merangsang proses interaksi. Sedangkan tingkatan pertanyaan dapat dibagi menjadi dua yakni tingkat kognitif lebih rendah yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, dan penerapan serta tingkat kognitif lebih tinggi yang mengandung analisis, sintesis, dan evaluasi.

Kelebihan dan kekurangan pertanyaan dari peserta didik adalah dapat mengaktifkan peserta didik secara penuh, melatih rasa percaya diri, melatih peserta didik untuk berbicara jujur, meningkatkan kreativitas, memperdalam penguasaan materi pelajaran, dan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Kekurangannya adalah memakan waktu lama jika digunakan dalam kelas besar dan pertanyaan siswa sering tidak sesuai dengan topik yang dibahas.


(42)

25

2.4.3. Melakukan Eksperimen atau Percobaaan dan Mengumpulkan Informasi

Langkah ketiga dalam pendekatan ilmiah atau scientific

approach adalah mengumpulkan informasi atau melakukan eksperimen. MPG SMP Matematika Tahun 2103 (2013: 197) menyebutkan, kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 disebutkan aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek, kejadian, atau aktivitas wawancara dengan narasumber. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah peserta didik mempunyai sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar, dan belajar sepanjang hayat.

Terdapat beberapa karakteristik mengajar dalam menggunakan metode percobaan atau eksperimen serta hubungannya dengan pengalaman belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Winataputra dalam MPG SMP Matematika tahun 2013, berikut ini : ada alat bantu yang digunakan, peserta didik aktif melakukan percobaan, guru membimbing, tempat dikondisikan, ada pedoman


(43)

26

untuk siswa, ada topik yang dieksperimenkan, dan ada temuan-temuan. Pengalaman belajar siswa yang diharapkan dari percobaan atau eksperimen tersebut adalah mengamati suatu hal, menguji hipotesis, menemukan hasil percobaan, membuat kesimpulan, membangkitkan rasa ingin tahu, dan menerapkan konsep informasi dari eksperimen.

Penerapan kegiatan eksperimen dalam pembelajaran di sekolah memiliki kelebihan dan manfaat. Kelebihan tersebut berorientasi pada optimalnya kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen seperti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan beberapa materi Matematika. Kekurangan dari metode ini adalah tidak dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Penyesuaian yang mungkin dilakukan adalah dengan mengaplikasikannya pada kegiatan observasi yang melibatkan pengumpulan data dan wawancara.

Diungkapkan Hosnan (2014: 67), dengan melakukan eksperimen peserta didik menjadi lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari pendidik dan buku, dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sifat ilmiah, dan hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan peserta didik.


(44)

27

2.4.4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi/Menalar(Associating) Langkah keempat pendekatan saintifik yakni kegiatan

“mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar”. Sebagaimana

disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, kegiatan tersebut adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik informasi dari kegiatan eksperimen, mengamati, maupun dari kegiatan mengumpulkan informasi.

Menurut Mulyasa (2014: 66), kemampuan mengolah informasi melalui penalaran dan berpikir rasional merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh peserta didik. Informasi yang diperoleh dari pengamatan atau percobaan yang dilakukan harus diproses untuk menemukan katerkaitan suatu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi, dan mengambil kesimpulan dari pola yang ditemukan.

Pengolahan informasi yang dilakukan meliputi pengolahan informasi yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman pemahaman materi sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat berbeda dan bertentangan. Kompetensi yang diharapkan dari kegiatan pengolahan informasi adalah peserta didik memiliki sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur, dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.


(45)

28

Kemampuan berpikir deduktif berbeda dengan induktif. Menurut Hosnan (2014: 73) penalaran induktif adalah cara menalar dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan penalaran deduktif adalah penalaran yang dimulai dari menerapkan hal-hal yang umum untuk dihubungkan ke dalam bagian-bagian yang khusus.

Aktivitas mengumpulkan informasi menurut MPG SMP Matematika Tahun 2013 (2013: 199) juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif.

Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk dimasukkan menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.


(46)

29

2.4.5. Mengomunikasikan dan Membentuk Jejaring

Pada pendekatan saintifik guru diharapkan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengomunikasikan hal yang telah dipelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan hal yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan, dan menalar. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik secara individu maupun kelompok.

Membentuk jejaring atau networking menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 adalah kegiatan peserta didik untuk membentuk jejaring di kelas. Kegiatan belajarnya adalah menyampaikan hasil pengamatan atau menyampaikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetensi yang dikembangkan adalah sikap jujur, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, serta mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Pada tahap ini menurut Hosnan (2014: 77), peserta didik mempresentasikan kemampuan mereka mengenai hal yang telah dipelajari dan peserta didik yang lain menanggapi. Tanggapan peserta didik lain bisa berupa pertanyaan, sanggahan, atau dukungan tentang materi presentasi. Ada empat sifat kelas dalam metode networking atau pembelajaran kolaboratif, yaitu : guru dan peserta didik saling


(47)

30

berbagi informasi, guru dan peserta didik berbagi kewenangan, guru sebagai mediator, dan menumbuhkan kelompok peserta didik yang heterogen.

Pendekatan saintifik adalah proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah yang lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning). Dalam pendekatan saintifik diperlukan adanya penalaran dan sikap kritis siswa dalam rangka pencarian (penemuan). Agar dapat disebut ilmiah, metode pencarian

(method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat

diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu metode ilmiah atau saintifik umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan eksperimen, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.

2.6. Buku Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013 Jenis buku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran sangat beragam. Menurut Muslich (2010: 24), dilihat dari segi isi dan fungsinya buku pendidikan dapat dibedakan menjadi tujuh jenis. Salah satunya yaitu buku yang berisi uraian rinci dan teknis tentang bidang tertentu. Buku ini dipakai sebagai pegangan guru untuk memecahkan, menganalisis, dan menyikapi permasalahan yang diajarkan.


(48)

31 2.5.1.Buku Teks Kurikulum 2013

Salah satu kelebihan Kurikulum 2013 adalah adanya buku teks. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun buku pegangan untuk Kurikulum 2013. Buku tersebut disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kemendikbud. Kebijakan penyediaan buku pegangan guru dan siswa dilakukan untuk menanggulangi kesalahan penerbit-penerbit buku pelajaran. Menurut Bambang (2013), meskipun buku teks Kurikulum 2013 diterbitkan oleh pemerintah, tetap saja banyak dikeluhkan tentang isi, bahasa, dan penyajiannya. Keluhan tersebut antara lain dalam buku teks mata pelajaran Matematika SMP materinya terlalu tinggi, kurang sesuai dengan kemampuan anak-anak yang baru lulus sekolah dasar. Berdasarkan daftar pustaka yang disajikan, buku teks mata pelajaran Matematika menggunakan buku-buku referensi untuk konsumsi mahasiswa Jurusan Matematika. Contoh soal yang disajikan pun tidak berjenjang dari mudah ke sukar, namun langsung ke persoalan yang sukar dipahami oleh peserta didik. Bahkan, banyak soal latihan yang bobotnya setara dengan soal-soal untuk Olimpiade Sains Nasional (OSN). Penulis buku mestinya menyadari bahwa tidak semua siswa memiliki kemampuan matematika di atas rata-rata. Materi yang sangat sukar bisa membuat anak-anak frustasi sehingga tidak suka belajar Matematika. Jika dibandingkan dengan buku teks mata pelajaran lain, buku teks Matematika memiliki jumlah halaman paling banyak, yaitu sekitar 440 halaman. Jika materi ini mampu diselesaikan dalam waktu dua semester, ini sesuatu yang luar biasa. Dalam buku teks


(49)

32

Matematika juga dijumpai banyak salah ketik, khususnya dalam penulisan simbol-simbol Matematika. Buku teks pegangan guru memiliki kesamaan dengan buku teks pegangan siswa. Di buku pegangan guru terdapat tambahan berupa deskripsi mengenai kegiatan yang akan dilakukan pada suatu materi pembelajaran. Kesalahan yang terdapat pada buku teks siswa dan buku teks pegangan guru sama.

Menurut Kemendikbud, sedikitnya ada dua faktor besar dalam keberhasilan Kurikulum 2013. Pertama, faktor penentu, yaitu kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dengan kurikulum dan buku teks. Kedua, faktor pendukung yang terdiri dari tiga unsure, yaitu : (i) ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum; (ii) penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan; dan (iii) penguatan manajemen dan budaya sekolah.

Buku Teks Matematika Pegangan Guru adalah buku yang dijadikan pegangan guru pada jenjang tertentu, berisi bahan yang telah terseleksi, dan berkaitan dengan bidang studi tertentu. Buku teks merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya, biasanya dilengkapi sarana pembelajaran (seperti pita rekaman), dan digunakan sebagai penunjang program pembelajaran. Buku teks matematika pegangan guru tersebut harus memiliki kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafikan pada setiap jenjang pendidikan.


(50)

33

2.5.2. Identitas Buku Teks Matematika Pegangan Guru Kelas VIII Kurikulum 2013

Judul Buku : Buku Guru Matematika

Kontributor Naskah : Abdur Rahman As’ari, Mohammad Tohir, Erik Valentino, Zainul Imron, Ibnu Taufiq, Nuniek Slamet Hariarti, dan Dana Arief Lukmana.

Penelaah : Agung Lukito, Turmudi, dan Dadang Juandi.

Tahun Terbit : 2014

Penerbit : Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdikbud

Tebal Buku : vii, 415 halaman Ukuran Buku : 25 cm

Buku Matematika Kelas VIII SMP/MTs Kurikulum 2013 ini ditulis dengan berdasarkan pada materi dan kompetensi yang disesuaikan dengan standar internasonal. Terkait materi misalnya, sebagai tambahan, sejak kelas VII telah diajarkan tentang data dan peluang; pola dan barisan bilangan, aljabar, bangun; serta transformasi geometri. Keseimbangan antara matematika angka dan matematika pola dan bangun selalu dijaga. Kompetensi pengetahuan bukan hanya sampai memahami secara konseptual tetapi sampai kepada penerapan melalui pengetahuan prosedural dalam pemecahan masalah matematika.


(51)

34

Kompetensi keterampilan berpikir juga diasah untuk dapat memecahkan masalah yang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi seperti menalar, pemecahan masalah melalui permodelan, pembuktian, dan perkiraan/pendekatan. Walaupun demikian, pembahasan materi selalu didahului dengan pengetahuan konkret yang dijumpai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan konkret tersebut digunakan sebagai jembatan untuk menuju ke dunia matematika abstrak melalui pemanfaatan simbol-simbol matekatika yang sesuai melalui permodelan. Sesampainya pada ranah abstrak, metode-metode matematika diperkenalkan untuk menyelesaikan model permasalahan yang diperoleh dan mengembalikan hasilnya pada ranah konkret.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam Kurikulum 2013, peserta didik diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan ketersedian kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.


(52)

35

2.7. Silabus Matematika Kelas VIII Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015

Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan masing-masing sekolah (Abdul, 2008).

Silabus dalam Kurikulum 2013 menurut Permendikbud Nomor 58 merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran yang mencakup Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar. Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai siswa adalah (1) menunjukkan perilaku ingin tahu dalam melakukan aktivitas di rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai wujud implementasi penyelidikan sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya melalui alat peraga, (2) menentukan luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma, dan limas, dan (3) menaksir dan menghitung volume permukaan bangun ruang yang tidak beraturan dengan menerapkan geometri dasarnya.

2.8. Kerangka Berpikir

Pendekatan saintifik sebagai inti dari Kurikulum 2013 belum diterapkan dengan maksimal di sekolah. Peneliti melaksanakan observasi di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta yang merupakan sekolah yang masih melaksanakan Kurikulum 2013. Masalah yang timbul adalah guru kesulitan


(53)

36

menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran mengingat buku teks Kurikulum 2013 merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran agar sesuai dengan pendekatan saintifik. Guru melaksanakan pembelajaran di kelas tidak sesuai dengan Buku Matematika Pegangan Guru Kurikulum 2013. Buku tersebut merupakan buku yang diterbitkan dan didistribusikan oleh pemerintah, dan diharapkan menjadi pedoman pelaksanaan pembelajaran saintifik.

Pendekatan saintifik adalah proses kerja yang berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik, termasuk di dalamnya makna, tujuan, dan komponen pendukung, serta peran guru. Tujuan kurikulum 2013 dicerminkan dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran di kelas dan buku matematika Kurikulum 2013 menjabarkan usaha minimal yang harus dilaksanakan guru untuk mencapai pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

Pengamatan dan penelitian terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru melalui dokumentasi video yang telah dideskripsikan akan menghasilkan data untuk dianalisis berdasarkan Rubrik penilaian. Rubrik tersebut digunakan untuk melihat dan menghitung kesesuaian tahap pembelajaran dan sejauh mana pembelajaran yang dilaksnakan sesuai dengan Kurikulum 2013, dilihat dari nilai hasil penilaian dan kriteria hasilnya. Selain itu, analisis hasil wawancara dengan guru dan siswa membantu dalam melihat bagaimana kegiatan pembelajaran dan


(54)

37

penggunaan buku dalam pembelajaran dilakukan. Hasil pengamatan dirujukkkan pada tabel kriteria pelaksanaan pembelajaran apakan sudah sesuai dengan pendekaatan saintifik atau masih kurang sesuai. Dengan memperhatikan hasil wawancara, dapat diketahui faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor yang melemahkan dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil analisis yang telah didapat akan menunjukkan sejauh mana pembelajaran yang dilaksanakan di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta sesuai dengan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 dan menjadi evaluasi untuk perbaikan kedepan.


(55)

38 BAB 3

METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Arikunto, 2006: 10). Analisis terhadap buku teks Matematika Pegangan Guru SMP Kelas VIII Kurikulum 2013 di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta meliputi dua hal. Pertama, peran buku pegangan guru dalam mendukung perencanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan yang kedua, mengenai pelaksanaan pembelajaran di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dan kesesuaiannya dengan Kurikulum 2013.

Teknik kualitatif dipakai sebagai pendekatan dalam penelitian ini. Teknik ini digunakan untuk memahami realitas rasional sebagai realitas subjektif. Proses observasi dan wawancara mendalam diutamakan dalam pengumpulan data.

3.2. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini tidak dikenal istilah populasi dan sampel karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berupa studi kasus tentang pembelajaran yang berlangsung di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi Bangun Ruang Sisi Datar dan penggunaan Buku


(56)

39

Matematika Kelas VIII Pegangan Guru Kurikulum 2013. Dijelaskan oleh Sugiyono (2010: 298) bahwa dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaaan dengan situasi sosial pada kasus yang dipelajari.

Selain analisis terhadap penggunaan buku teks, penelitian ini juga menganalisis pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013 yakni pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pada penelitian kualitatif responden atau subjek disebut dengan istilah informan, yaitu orang yang memberi informasi tentang data yang diinginkan berkaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.

3.3. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer karena data-data yang ada diperoleh secara langsung melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data utama dalam penelitian ini berupa dokumentasi kegiatan pembelajaran dengan materi Bangun Ruang Sisi Datar di kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, hasil wawancara dengan guru mata pelajaran, dan hasil wawancara dengan beberapa siswa.

Sumber lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah contoh kerangka pembelajaran saintifik dari Materi Pelatihan Guru (MPG) tentang Implementasi Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu


(57)

40

Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2013. Materi pelatihan ini relevan dengan masalah yang sedang diteliti, lembaga yang menerbitkan merupakan lembaga yang terjamin keabsahannya dan materi pelatihan yang diterbitkan dapat dipertanggungjawabkan.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mendokumentasikan kegiatan pembelajaran kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta dan metode wawancara. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data di lapangan. Deskripsi data yang diperoleh dibandingkan dengan panduan kegiatan pembelajaran menurut MPG Matematika SMP Tahun 2013. Data yang diperoleh kemudian diberi persentase skor pada setiap tahap pembelajaran yang diamati.

Analisis dilakukan dengan memberikan skor pada setiap indikator untuk setiap tahapan pembelajaran yang dilaksanakan. Kriteria skor yang digunakan untuk memberikan penilaian disesuaikan dengan jumlah tahapan pembelajaran sehingga diperoleh persentase untuk melihat sejauh mana buku pegangan guru membantu persiapan dan kegiatan pembelajaran di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta.

Kegiatan wawancara dilakukan dengan guru mata pelajaran Matematika sebagai narasumber. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang pembelajaran yang berlangsung, tentang penggunaan buku Matematika pegangan guru, dan tentang kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik Kurikulum


(58)

41

2013 di Kelas 8E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta. Untuk melengkapi data yang diperoleh dilakukan pula wawancara dengan beberapa peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas 8E.

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan adalah rubrik penialaian tahapan pembelajaran yang diterbitkan MPG SMP Matematika Tahun 2013 dan panduan pertanyaan wawancara. Instrumen yang berupa rubrik penilaian digunakan untuk menilai tahapan pembelajaran yang dilaksanakan guru. Instrumen rubrik penilaian yang digunakan adalah panduan pelaksanaan kegiatan pembelajaran saintifik yang terdapat dalam Materi Pelatihan Guru (MPG) Implementasi Kurikulum 2013 SMP Matematika yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2013.


(59)

42

3.5.1. Instrumen Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Saintifik Tabel 3.1

Rubrik Penilaian Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Saintifik

Aspek yang Diamati Ya Tidak Catatan Kegiatan Pendahuluan

Apersepsi dan Motivasi

1 Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya.

2 Mengajukan pertanyaan menantang.

3 Menyampaikan manfaat materi pembelajaran. 4 Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait

dengan materi pembelajaran.

Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan 1 Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai

peserta didik.

2 Menyampaikan rencana kegiatan misalnya, individual, kerja kelompok, dan melakukan observasi.

Kegiatan Inti Penguasaan Materi Pelajaran

1 Kemampuan menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran.

2 Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, perkembangan Iptek , dan kehidupan nyata.

3 Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dengan tepat.

4 Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak)

Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik 1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan

kompetensi yang akan dicapai.

2 Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.

3 Melaksanakan pembelajaran secara runtut. 4 Menguasai kelas.


(1)

135

Peneliti : “Kapan pertama kali mengenal Kurikulum 2013 sebagai

Kurikulum yang diberlakukan mengganti KTSP? Bagaimana pendapatmu?”

S1 : “Kelas 7, Bu. Gimana ya? Susah-susah gampang. Kadang kalau pelajaran siswa suruh belajar kelompok terus, asik!”

Peneliti : “Taukah kamu mengenai pendekatan scientific dalam

pembelajaran khususnya matematika? Dan sejauh mana kamu tahu mengenai kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika?”

S1 : “Apa itu, Bu? Kayaknya pernah denger tapi nggak tau

maksudnya.”

Peneliti : “Apakah kamu menggunakan buku siswa kurikulum 2013

saat kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat belajar di rumah ? Apakah membantu?”

S1 : “Ada, Bu dipinjami dari sekolah. Tapi nggak enaknya beberapa

buku baru dibagi semester 2, kayak yang buku matematika. Aku nggak pake, tapi beberapa aja aku buka buat latihan soal. Abisnya banyak yang rumit penjelasannya.”

Peneliti : “Apakah kamu memahami materi bangun ruang sisi datar yang diajarkan oleh Bu Siska/Bu Eva? Apakah kesulitanmu dalam mengikuti pembelajaran?”

S1 : “Paham. Kalau matematika nggak ada kesulitan.”

Peneliti : “Berapa nilai ulangan materi bangun ruang sisi datar mulikmu?”


(2)

136

Peneliti : “Kapan pertama kali mengenal Kurikulum 2013 sebagai

Kurikulum yang diberlakukan mengganti KTSP? Bagaimana pendapatmu?”

S2 : “Kelas 7. K-13 itu sebenernya cukup nyaman buat anak-anak belajar. Kita juga dituntut untuk lebih aktif dalam pelajaran, kalau matematika ya mencari dan menemukan rumus misalnya. Namun karena ini adalah kurikulum yang masih baru, kurang dipahami oleh siswa dan guru. Masih sulit untuk langsung diterima.“

Peneliti : “Taukah kamu mengenai pendekatan scientific dalam pembelajaran khususnya matematika? Dan sejauh mana kamu tahu mengenai kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika?”

S2 : “Pernah tau, ya sedikit-sedikit memahami lah.”

Peneliti : “Apakah kamu menggunakan buku siswa kurikulum 2013

saat kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat belajar di rumah ? Apakah membantu?”

S2 : “Pakai, tapi sudah dikembalikan lagi. Cukup membantu kalau

ada soal dari guru.”

Peneliti : “Apakah kamu memahami materi bangun ruang sisi datar

yang diajarkan oleh Bu Siska/Bu Eva? Apakah kesulitanmu dalam mengikuti pembelajaran?”

S2 : “Karena gurunya jelasinnya bikin mudeng, ya jadi enak.

Paling kesulitannya kalau belajar dirumah dan nggak ngerti, bukunya nggak begitu bisa membantu.”

Peneliti : “Berapa nilai ulangan materi bangun ruang sisi datar mulikmu?”


(3)

137

Peneliti : “Kapan pertama kali mengenal Kurikulum 2013 sebagai Kurikulum yang diberlakukan mengganti KTSP? Bagaimana pendapatmu?”

S3 : “Kelas 7. Kalo menurutku dari persiapannya masih kurang,

misalnya waktu kelas 8 beberapa buku baru dikasih di semester 2 sebelumnya masih yang softcopy. Kalau kurikulumnya sendiri lumayan, nggak terlalu banyak pelajaran minus akuntansi dan TIK. Soal-soalnya aja kadang tingkat dewa, susah-susah, tugasnya juga ribet, sama pelajaran isisnya ppt aja. Hal-hal kayak gitu yang malah membebani murid. Tapi, dengan model yang seperti itu kita jadi lebih siap untuk jenjang selanjutnya.”

Peneliti : “Taukah kamu mengenai pendekatan scientific dalam

pembelajaran khususnya matematika? Dan sejauh mana kamu tahu mengenai kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika?”

S3 : “Nggak tau, Bu.”

Peneliti : “Apakah kamu menggunakan buku siswa kurikulum 2013

saat kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat belajar di rumah ? Apakah membantu?”

S3 : “Sebenernya membantu, kalau mau baca-baca penjelasannya walau rumit masih bisa dimengerti sedikit-sedikit.”

Peneliti : “Apakah kamu memahami materi bangun ruang sisi datar

yang diajarkan oleh Bu Siska/Bu Eva? Apakah kesulitanmu dalam mengikuti pembelajaran?”

S3 : “Gurunya enak kok, ngajarinnya jelas dan nggak ribet kayak

bukunya.”

Peneliti : “Berapa nilai ulangan materi bangun ruang sisi datar mulikmu?”


(4)

138

Peneliti : “Kapan pertama kali mengenal Kurikulum 2013 sebagai Kurikulum yang diberlakukan mengganti KTSP? Bagaimana pendapatmu?”

S4 : “Kayaknya sejak pertama masuk SMP udah pake K-13, Bu. Berarti kelas 7 ya ? Kalau menurutku ada enaknya ada enggaknya. Enaknya dari materi lebih ringkes ketimbang kurikulum sebelumnya, kalau nggak enaknya saking ringkesnya siswa bingung memahami materi.”

Peneliti : “Taukah kamu mengenai pendekatan scientific dalam

pembelajaran khususnya matematika? Dan sejauh mana kamu tahu mengenai kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika?”

S4 : “Tidak.”

Peneliti : “Apakah kamu menggunakan buku siswa kurikulum 2013

saat kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat belajar di rumah ? Apakah membantu?”

S4 : “Pakai si, tapi tidak terlalu membantu. Soalnya kadang melebihi

kemampuan dan cara atau penjelasan yang ditunjukkin bikin bingung.”

Peneliti : “Apakah kamu memahami materi bangun ruang sisi datar

yang diajarkan oleh Bu Siska/Bu Eva? Apakah kesulitanmu dalam mengikuti pembelajaran?”

S4 : “Bus Siska lebih membantu memahami pelajaran

ketimbang bukunya. Kalau buku caranya sulit dipahami kalo Bu Siska langsung.”

Peneliti : “Berapa nilai ulangan materi bangun ruang sisi datar mulikmu?”


(5)

139

Peneliti : “Kapan pertama kali mengenal Kurikulum 2013 sebagai

Kurikulum yang diberlakukan mengganti KTSP? Bagaimana pendapatmu?”

S5 : “Kelas 7, Bu. Ya, aku seneng aja soalnya kan kalau K-13 gak ada akuntansi, TIK, dll, jadi lebih sedikit. Cuma, terlalu banyak aktivitas jadi ngurangin waktu belajarnya gitu.”

Peneliti : “Taukah kamu mengenai pendekatan scientific dalam

pembelajaran khususnya matematika? Dan sejauh mana kamu tahu mengenai kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika?”

S5 : “Kayaknya si pernah dijelasin sama Bu Siska.”

Peneliti : “Apakah kamu menggunakan buku siswa kurikulum 2013

saat kegiatan pembelajaran di kelas maupun saat belajar di rumah ? Apakah membantu?”

S5 : “Pakai, Bu. Membantu sebenernya, hanya kurang

lengkap.”

Peneliti : “Apakah kamu memahami materi bangun ruang sisi datar

yang diajarkan oleh Bu Siska/Bu Eva? Apakah kesulitanmu dalam mengikuti pembelajaran?”

S5 : “Paham si sejauh ini. Soalnya Bu Siska perhatian kalo

bener-bener belum ngerti.”

Peneliti : “Berapa nilai ulangan materi bangun ruang sisi datar mulikmu?”


(6)

Dokumen yang terkait

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan mendiagnosis kesalahan dan pembelajaran remedial Kelas VIII E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi bangun ruang sisi datar.

0 0 2

Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mendiagnosis kesulitan belajar dan pembelajaran remediasi kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Moyudan pada materi bangun ruang sisi datar.

0 2 229

Pengembangan perangkat pembelajaran mengakomodasi teori van hiele materi bangun ruang sisi datar dengan pendekatan saintifik pada siswa kelas VIII B SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang.

0 9 258

Pemanfaatan metode pembelajaran Blended Learning yang dilengkapi dengan aplikasi edmodo pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar di kelas VIII C SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2016

2 31 349

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan mendiagnosis kesalahan dan pembelajaran remedial Kelas VIII E SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta pada materi bangun ruang sisi datar

0 1 260

Upaya membangun aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta melalui pendekatan pembelajaran berbasis masalah pokok bahasan volume bangun ruang sisi datar.

0 1 266

Penerapan model pembelajaran Mind Map (peta pikiran) dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan materi bangun ruang sisi datar di kelas VIII B SMP Pangudi Luhur Bayat Klaten.

0 4 322

Penggunaan media powerpoint dalam pembelajaran remedial pada materi bangun ruang sisi datar siswa kelas VIII D SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta.

0 37 237

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR KELAS VIII SMP/MTs.

0 15 453

ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKAMATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK KURIKULUM 2013 EDISI REVISI 2018 DI KELAS VIII TAHUN AJARAN 2017/2018

0 0 24