Karakteristik Penderita Stroke Haemoragik Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2004-2008

(1)

KARAKTERISTIK PENDERITA STROKE HAEMORAGIK YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2004-2008

SKRIPSI

Oleh :

ROINDA NAPITUPULU NIM. 051000064

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2009


(2)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :

KARAKTERISTIK PENDERITA STROKE HAEMORAGIK YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2004-2008

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh : ROINDA NAPITUPULU

NIM. 051000064

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 15 Juli 2009 dan

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji :

Ketua Penguji Penguji I

Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH Drs. Jemadi, M.Kes NIP. 194904171979021001 NIP. 196404041992031005

Penguji II Penguji III

Prof. dr. Nerseri Barus, MPH drh. Rasmaliah, M.Kes NIP. 194508171973022001 NIP. 195908181985032002

Medan, Agustus 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara Dekan,

dr. Ria Masniari Lubis, M.Si NIP.195310181982032001


(3)

ABSTRAK

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan kanker di negara-negara maju dengan CFR 9,3% tahun 2004. Di RS St. Elisabeth Medan terdapat 408 (proporsi 23,75%) penderita stroke haemoragik selama tahun 2004-2008.

Untuk mengetahui karakteristik penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di RS St. Elisabeth Medan tahun 2004-2008, dilakukan penelitian bersifat deskriptif dengan desain case series. Populasi adalah seluruh data penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di RS St. Elisabeth Medan tahun 2004-2008 sebanyak 408 data. Sampel yang dibutuhkan 202 data yang diambil dengan Simple Random Sampling dilanjutkan dengan analisis statistik uji chi square, Anova, dan Kruskal-Wallis.

Kecenderungan kunjungan penderita stroke haemoragik berdasarkan data tahun 2004-2008 menunjukkan penurunan dengan persamaan garisy=−1,1x+84,9. Proporsi penderita stroke haemoragik tertinggi pada golongan umur 45-60 tahun 43,5%, pada laki-laki 25,2% dan perempuan 18,3%, suku Batak 77,3%, status kawin 97,5%, Kristen Protestan 51%, wiraswasta 22,8%, luar kota Medan 54%, hipertensi 94,2%, hipertensi dan pernah stroke 11,5%, PIS 80,7%, hemiparesis dextra 48,5%, basal ganglia 47,5%, lama rawatan rata-rata 8,7 hari, pulang berobat jalan 51,5%, tindakan konservatif 88,1%. Proporsi kematian tahun 2004 sebesar 37,5% (21 orang) dengan kecendrungan jumlah penderita dan jumlah kematian yang menunjukkan penurunan dengan persamaan garis masing-masing y=−1,3x+44,3dan y=−3,3x+21,1, umur 45-60 tahun 46,4%, laki-laki 55,4%, PIS 71,4%, serebrum 50%, tindakan konservatif 80,4%.

Tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan hasil CT-Scan (p=0,733). Lama rawatan rata-rata penderita yang PAPS secara signifikan lebih singkat dirawat dari meninggal dan PBJ. (F = 27,658; p = 0,000; 3,69 hari vs 4,41 hari; 3,69 hari vs 13,03 hari).

Bagi pihak Rumah Sakit agar meningkatkan pelayanan medis untuk lebih mencegah kematian penderita stroke haemoragik dan meningkatkan pemberian informasi kepada penderita yang pulang berobat jalan agar melakukan kontrol kesehatan dengan teratur dan menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya stroke ulang serta melengkapi pencatatan data pada kartu status khususnya pendidikan, pekerjaan dan faktor risiko.


(4)

ABSTRACT

Stroke is the third cause of death after cancer and cardiovascular disease in the developed country with CFR 9,3% in 2004. In Santa Elisabeth Hospital Medan was found 408 (proportion 23,75%) stroke haemorragic patients in 2004-2008.

To purpose the characteristic of stroke haemorragic patient in Santa Elisabeth Hospital Medan since 2004 until 2008, descriptive study has been done by using case series design. The population were 408 stroke haemorragic patient data which registered in Santa Elisabeth Hospital Medan since 2004 until 2008. The number of sample was 202 data, that taken with Simple Random Sampling continued with chi square test, Anova and Kruskal-wallis statistic analysis.

Based on 2004-2008 data, there is a decreasing tendency of stroke haemorragic cases as it show by the formula y=−1,1x+84,9. The highest proportion of the patient with stroke haaemorragic is in the age 45-60 years old 43,5%, male’s proportion 25,2% and female 18,3%, Batak ethnic 77,3%, marriage 97,5%, Cristian 51%, out Medan 54%, hypertention 94,2%, hypertention and ever stroke 11,5%, intracerebral haemorragic 80,7%, hemiparesis dextra 48,5%, basal ganglia 47,5%, average length of stay 8,7 days, clinical recovery out patient 51,5%, conservative 88,1%. Proportion of death 2004 (37,5% or 21 people’s) with a decreasing tendency of stroke haemorragic patient and stroke haemorragic mortality as it show by the formulay=−1,3x+44,3and

1 , 21 3 , 3 + − = x

y , age 45-60 years old 46,4%, male’s 55,4%, intracerebral haemorragic

71,4%, cerebrum 50% and conservative 80,4%.

There was no difference between average length of stay with CT-Scan out put (p=0,733) and Average length of stay of patients own request out are significantly difference from die and clinical recovery out patient. (F = 27,658; p = 0,000; 3,69 days vs 4,41 days; 3,69 days vs 13,03 days).

Santa Elisabeth Hospital Medan should improve medical service to more prevent stroke haemorragic mortality and improve the information to the patient with clinical recovery treatment to do healthy control regularly and healthy life style to prevent stroke haemorragic relaps. It was also suggested to the Santa Elisabeth Hospital Medan for completing data patient in card status especially the education, employment and risk factor.


(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : ROINDA NAPITUPULU

Tempat/Tanggal Lahir : Marjanjiasih/03 Mei 1987

Agama : Kristen Protestan

Status Perkawinan : Belum Kawin Jumlah Saudara : 8 (delapan) orang

Alamat Rumah : Marjanjiasih, Kec.Tanah Jawa

Kabupaten Simalungun

Riwayat Pendidikan : 1. 1993-1999 : SD Negeri 2 Hatonduhan 2. 1999-2002 : SMP Negeri 2 Tanah Jawa 3. 2002-2005 : SMA Negeri 1 P.Siantar

4. 2005-2009 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara


(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus karena kasih-Nya yang senantiasa berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Karakteristik Penderita Stroke Haemoragik yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2004-2008” yang merupakan salah satu prasyarat untuk meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terwujudnya skripsi ini, terutama kepada Bapak Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Drs. Jemadi, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II serta Ibu Prof. dr. Nerseri Barus, MPH selaku dosen pembanding I dan Ibu drh. Rasmaliah M.Kes selaku dosen pembanding II yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam mendidik, membimbing dan memberi banyak masukan, saran serta kritikan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Ibu dr. Ria Masniari Lubis, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH selaku Kepala Bagian Epidemiologi. 3. Ibu Eka Lestari Mahyuni, SKM, Mkes selaku Dosen Penasehat Akademik.

4. Bapak Direktur RS Santa Elisabeth Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian serta pegawai-pegawai di bagian Rekam Medis yang juga turut membantu dalam proses pengumpulan data.


(7)

5. Seluruh Dosen dan Pegawai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

6. Orang tua saya yang tercinta, CH. Napitupulu dan R. Siahaan yang telah membesarkan, membimbing dan mendidik penulis dengan kasih sayang serta memberikan motivasi dalam mengikuti pendidikan.

7. Abangku, kakak-kakakku, serta adik-adikku tersayang : J. Budiman Napitupulu, Ida Erita Napitupulu, Gustinar Napitupulu, Emmy E. Napitupulu, Nani R. Napitupulu, Kasiani A. Napitupulu, Tulus P. Napitupulu, terimakasih atas perhatian, doa dan semangat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan skripsi ini.

8. Keluarga Uda Maju Simanjuntak dan M. Siahaan terimakasih atas semua bantuan yang diberikan kepada penulis.

9. Kepada sahabat-sahabat baikku : Mery, Elis, Menty, Yenti, Kartika, Hotma, Cinta, Paulus, dan Sarman. Kepada teman-teman epidku : Tati, Mery P, Kak Mira, Eka, Rolina, Kak Rani, Kak Christin, Chicha, Melfa, Maria, Erna, Yuni, Ayu, Melinda, Siska, Icha dan masih banyak yang lain. Terimakasih atas bantuan, masukan, semangat dan dorongannya. Terimakasih juga atas kebersamaannya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhirnya penulis ucapkan sekian dan terimakasih. Tuhan Memberkati.

Medan , Juli 2009


(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... iia ABSTRACK ... iib DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL ...x

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Perumusan Masalah ...5

1.3. Tujuan Penelitian ...5

1.3.1. Tujuan Umum ...5

1.3.2. Tujuan Khusus ...5

1.4. Manfaat Penelitian ...7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stroke ...8

2.1.1. Defenisi Stroke...8

2.1.2. Anatomi Dasar Otak ...8

2.1.3. Klasifikasi Stroke ...9

2.2. Stroke Haemoragik ...10

2.2.1. Defenisi Stroke Haemoragik ...10

2.2.2. Klasifikasi Stroke Haemoragik ...11

2.3. Epidemiologi Stroke Haemoragik ...13

2.3.1. Distribusi Frekuensi Stroke Haemoragik ...13

2.3.2. Faktor Risiko Stroke Haemoragik ...14

2.4. Gejala Stroke Haemoragik ...19

2.4.1. Perdarahan Intraserebral ...19

2.4.2. Perdarahan Subarachnoid ...19

2.4.3. Perdarahan Subdural ...20

2.5. Diagnosis Stroke Haemoragik ...20

2.5.1. Anamnesis ...20

2.5.2. Pemeriksaan Fisik ...20

2.5.3. Pemeriksaan Penunjang ...21

2.6. Letak Kelumpuhan ...22

2.6.1. Kelumpuhan Sebelah Kanan (Hemiparesis Dextra) ...22

2.6.2. Kelumpuhan Sebelah Kiri (Hemiparesis Sinistra) ...22

2.6.3. Kelumpuhan Kedua Sisi (Paraparesis)...22

2.7. Lokasi Perdarahan Stroke Haemoragik ...22

2.8. Tindakan Medis Stroke Haemoragik ...24


(9)

2.9. Pencegahan Stroke Haemoragik ...25

2.9.1. Pencegahan Primer...25

2.9.2. Pencegahan Sekunder ...26

2.9.3. Pencegahan Tertier...27

BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka Konsep ...28

3.2. Definisi Operasional ...28

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian ...33

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...33

4.2.1. Lokasi Penelitian ...33

4.2.2. Waktu Penelitian ...33

4.3. Populasi dan Sampel ...33

4.3.1. Populasi ...33

4.3.2. Sampel...34

4.4. Metode Pengumpulan Data ...35

4.5. Teknik Analisa Data ...35

BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Profil Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ...36

5.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...36

5.1.2. Falsafah Rumah Sakit Santa Elisabeth ...36

5.1.3. Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth ...36

5.1.3. Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth ...36

5.1.4. Pelayanan Medis ...37

5.1.5. Pelayanan Penunjang Medis ...37

5.1.6. Penunjang Umum...37

5.1.7. Tenaga Kesehatan ...38

5.2. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tahun ...39

5.3. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Sosiodemografi ...40

5.4. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Faktor Risiko ...42

5.5. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...43

5.6. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Letak Kelumpuhan ...44

5.7. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Lokasi Perdarahan ...44

5.8. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik ...45

5.9. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang ...46

5.10. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tindakan Medis ...46


(10)

5.11. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik ...47

5.11.1. Pertahun ...47

5.11.2. Umur ...48

5.11.3. Jenis Kelamin ...48

5.11.4. Hasil CT-Scan ...49

5.11.5. Lokasi Perdarahan ...49

5.11.6. Tindakan Medis ...50

5.12. Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...51

5.13. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...52

5.14. Distribusi Proporsi Letak Kelumpuhan Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...53

5.15. Distribusi Proporsi Tindakan Medis Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...54

5.16. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang ...55

BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tahun...56

6.2. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Sosiodemografi ...57

6.2.1. Umur dan Jenis Kelamin ...57

6.2.2. Suku ...59

6.2.3. Status Perkawinan ...60

6.2.4. Agama ...61

6.2.5. Pekerjaan ...62

6.2.6. Asal Daerah ...63

6.3. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Faktor Risiko ...64

6.3.1. Faktor Risiko ...64

6.3.2. Faktor Risiko Kombinasi ...65

6.4. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan, Letak Kelumpuhan dan Lokasi Perdarahan ...66

6.5. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik ...69

6.6. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang ...70

6.7. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tindakan Medis ...72

6.8. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik ...74

6.8.1. Pertahun ...74

6.8.2. Umur ...75

6.8.3. Jenis Kelamin ...76

6.8.4. Hasil CT-Scan ...77


(11)

6.8.6. Tindakan Medis ...79 6.9. Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Stroke

Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan ...81 6.10. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Hasil CT-Scan ...82 6.11. Distribusi Proporsi Letak Kelumpuhan Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan ...83 6.12. Distribusi Proporsi Tindakan Medis Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan ...84 6.13. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Keadaan Sewaktu Pulang...85 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan...87 7.2. Saran...89

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Lampiran 1 : Analisa Kecenderungan dengan Metode Kuadrat Terkecil Lampiran 2 : Spin Dial Direction

Lampiran 3 : Random Number Table Lampiran 4 : Master Data

Lampiran 5 : Output Master Data

Lampiran 6 : Surat Penelitian dari FKM USU

Lampiran 7 : Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Lampiran 8 : Surat Selesai Penelitian dari Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan


(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1. Distribusi Tenaga Kesehatan Para Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2008 ... 38 Tabel 5.2. Distribusi Tenaga Kesehatan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth

Medan Tahun 2008 ... 38 Tabel 5.3. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan data

Tahun 2004-2008 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ... 39 Tabel 5.4. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Umur

dan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun

2004-2008... 40 Tabel 5.5. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Sosiodemografi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004 2008... 40 Tabel 5.6. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Faktor

Risiko di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 42 Tabel 5.7 Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Faktor

Risiko yang Tercatat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 42 Tabel 5. 8. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Kombinasi

Faktor Risiko yang Tercatat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun

2004-2008 ... 43 Tabel 5. 9. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil

CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 43 Tabel 5.10 Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Letak

Kelumpuhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 44 Tabel 5. 11. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Lokasi

Perdarahan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 44 Tabel 5. 12. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik di Rumah Sakit

Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 45 Tabel 5. 13. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004- 2008 ... 46


(13)

Tabel 5.14. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tindakan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun

2004-2008... 46 Tabel 5.15. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Pertahun di Rumah

Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 47 Tabel 5.16. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Umur di

Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 48 Tabel 5.17. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Jenis

Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 48 Tabel 5.18. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil

CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 49 Tabel 5.19. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Lokasi

perdarahan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 49 Tabel 5.20. Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Tindakan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun

2004-2008... 50 Tabel 5.21. Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Stroke

Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 51 Tabel 5.22. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun

2004-2008... 52 Tabel 5.23. Distribusi Proporsi Letak Kelumpuhan Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 53 Tabel 5.24. Distribusi Proporsi Tindakan Medis Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 54 Tabel 5.25. Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan

Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ... 55


(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.2. Anatomi Dasar Otak ...9 Gambar 6.1. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan data Tahun 2004-2008 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan...56 Gambar 6.2. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...57 Gambar 6.3. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Suku di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...59 Gambar 6.4. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Status Perkawinan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...60 Gambar 6.5. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Agama di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...61 Gambar 6.6. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Pekerjaan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...62 Gambar 6.7. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Asal Daerah di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2004-2008 ...63 Gambar 6.8. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Faktor Risiko di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...64 Gambar 6.9. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Faktor Risiko Kombinasi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...65 Gambar 6.10. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...67


(15)

Gambar 6.11. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Letak Kelumpuhan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...67 Gambar 6.12. Diagram Bar Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Lokasi Perdarahan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...68 Gambar 6.13. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...70 Gambar 6.14. Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Tindakan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...72 Gambar 6.15. Diagram Bar Jumlah Penderita dan Kematian Penderita Stroke

Haemoragik Pertahun di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...74 Gambar 6.16. Diagram Bar Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Umur di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...75 Gambar 6.17. Diagram Bar Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...76 Gambar 6.18. Diagram Bar Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...77 Gambar 6.19. Diagram Bar Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Lokasi Perdarahan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...78 Gambar 6.20. Diagram Bar Proporsi Kematian Penderita Stroke Haemoragik

Berdasarkan Tindakan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...79 Gambar 6.21. Diagram Bar Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang

Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...81


(16)

Gambar 6.22. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...82 Gambar 6.23. Diagram Bar Distribusi Proporsi Letak Kelumpuhan Penderita

Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...83 Gambar 6.24. Diagram Bar Distribusi Proporsi Tindakan Medis Penderita

Stroke Haemoragik Berdasarkan Hasil CT-Scan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...84 Gambar 6.25. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Penderita Stroke

Haemoragik Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 ...85


(17)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Sejalan dengan bergesernya pola kependudukan di Indonesia dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, terjadi juga pergeseran pola penyakit yang terjadi di masyarakat yaitu dari penyakit menular ke arah penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, kanker, stroke dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan ini antara lain adanya perubahan pola konsumsi makanan, gaya hidup (merokok, kurang berolah raga dan stress yang tinggi). Stroke adalah salah satu penyakit tidak menular yang banyak dijumpai.1

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga di negara maju, setelah penyakit jantung dan kanker. Disamping itu stroke merupakan penyebab cacat badan terbesar dari seluruh penyakit, dengan akibat penurunan produktivitas kerja/sumber daya manusia yang pada akhirnya dapat menjadi beban sosial baik bagi keluarganya maupun masyarakat dan negara pada umumnya.2,3

Stroke dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu stroke haemoragik dan non haemoragik. Proporsi stroke non haemoragik 80% sedangkan stroke haemoragik 20%. Dari seluruh stroke haemoragik, yang disebabkan oleh perdarahan intraserebral proporsi 75% dan perdarahan subarachnoid proporsi 25%.3,4

Stroke ditemukan pada semua golongan usia namun sebagian besar akan dijumpai pada orang tua terutama pada kelompok usia diatas 45 tahun. Insidens stroke meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Risiko relatif stroke pada orang yang berusia 80-90 tahun dibandingkan terhadap orang yang berusia 30-40 tahun adalah 100. Insidens stroke


(18)

di dunia tahun 1997 pada usia 80-90 tahun adalah 300 per 10.000 penduduk sedangkan pada usia 30-40 tahun, insidensnya hanya 3 per 10.000 penduduk.1

Berdasarkan laporan WHO tahun 2001 terdapat 20,5 juta jiwa di dunia yang menderita stroke, 5,5 juta jiwa diantaranya telah meninggal dunia.5 Di negara-negara maju tahun 2004 CFR stroke 9,3%. Menurut American Heart Association (2001), terdapat 700.000 penduduk AS yang mengalami stroke setiap tahunnya, 500.000 diantaranya kasus baru dan 200.000 kasus berulang dan yang meninggal mencapai 160.000 orang setiap tahunnya (CFR 22,9%). Sementara pada tahun 2002, sebanyak 4,8 juta penduduk AS sudah menderita stroke dengan prevalensi 2,4%.6

Di Eropa tahun 1999 Cause Specific Death Rate (CSDR) stroke mencapai 115 per 100.000 penduduk. Di Jerman tahun 2002 insidens stroke mencapai 182 per 100.000 penduduk dimana pada laki-laki sebesar 200 per 100.000 penduduk dan pada perempuan sebesar 170 per 100.000 penduduk, dengan CFR 37,3 %.7 Di Canada tahun 2004,

Proportional Mortality Ratio (PMR)stroke 7% dengan CFR mencapai 15%. 8

Di negara Asia tahun 1980 prevalensi stroke mencapai 900 per 100.000 penduduk. Di Cina tahun 2000 insidens stroke iskemik mencapai 124,5 per 100.000 penduduk dan perdarahan intraserebral 78,3 per 100.000.7 Di India tahun 2001, PMR stroke 1,2%, dengan prevalensi mencapai 250-350 per 100.000 penduduk.9 Menurut penelitian Kiyohara dalam Rizaldy Pinzon tahun 2003 di Jepang memperlihatkan bahwa CFR stroke mencapai 24,7%, dimana CFR pada perdarahan intrakranial sebesar 63,3% dan infark serebral sebesar 9,0%.10

Berdasarkan data dari South East Asian Medical Information Centre (SEAMIC) di ASEAN tahun 1998, PMR stroke di negara-negara berkembang 10-12% dan proporsi


(19)

stroke haemoragik 22-39% dari seluruh kasus stroke. Di Vietnam insidens stroke 161 per 100.000 penduduk, prevalensi 415 per 100.000 penduduk dan proporsi stroke haemoragik 30% dari seluruh kasus stroke. Di Thailand prevalensi stroke mencapai 690 per 100.000 penduduk. Di singapura tahun 1976 prevalensi stroke 99 per 100.000 penduduk menjadi 59 per 100.000 penduduk tahun 1994 dengan proporsi stroke haemoragik 26% dari seluruh kasus stroke.11 Di Malaysia tahun 2006, PMR stroke 8,6%, dengan CFR 17,8%.7

Menurut data Departemen Kesehatan Indonesia tahun 2007, jumlah penderita stroke yang dirawat di rumah sakit mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Dari survei di rumah sakit di 27 propinsi antara tahun 1984-1986, proporsi stroke mengalami peningkatan. Pada tahun 1984 proporsinya mencapai 7,2 per 1000 penderita, tahun 1985 menjadi 8,3 per 1000 penderita dan tahun 1986 meningkat menjadi 9,6 per 1000 penderita. Penderita stroke tersebut terdiri atas 79,9% stroke non haemoragik atau infark, 24,5% stroke perdarahan intraserebral dan 1,6% stroke perdarahan subarachnoid.12

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2008 prevalensi stroke tahun 2005 sebesar 2,2% menjadi 2,9% tahun 2006 dan 2,4% di tahun 2007.13 Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 1993 lebih dari 50% penderita yang masuk rumah sakit di bangsal saraf disebabkan oleh stroke diantaranya 60,7% disebabkan oleh stroke non haemoragik sedangkan 36,6% oleh karena stroke haemoragik.14

Laporan di RS dr. Saiful Anwar (RSSA) tahun 2006 di Malang menyatakan bahwa terdapat 462 kasus stroke dengan CFR 16,31%, dimana CFR haemoragik stroke intraserebral (ICH) mencapai lebih dari 40%.15 Penelitian Rizaldy Pinzon, dkk di SMF Saraf Rumah Sakit Betesda, bulan Agustus–Desember 2007 di Yogyakarta terdapat


(20)

399 pasien stroke, dimana 288 orang (proporsi 72%) merupakan pasien stroke non haemoragik dan 111 orang (proporsi 28%) pasien stroke haemoragik.10

Menurut penelitian B. Nurzakiah di RSUP H.Adam Malik Medan pada tahun 2000, jumlah penderita stroke yang dirawat inap dan dirawat jalan di bagian neurologi sebanyak 308 orang, 255 orang merupakan pasien stroke yang dirawat inap dengan proporsi stroke haemoragik sebesar 20,78% (53 orang).16 Penelitian W. Pramita di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi menemukan bahwa jumlah penderita stroke yang dirawat inap selama tahun 2005-2007 sebanyak 1.827 orang, dengan jumlah penderita stroke haemoragik sebanyak 325 orang (proporsi 17,79%).17

Berdasarkan survei awal yang dilakukan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, jumlah penderita stroke yang dirawat inap selama tahun 2004-2008 sebanyak 1.718 orang dengan jumlah penderita stroke haemoragik sebanyak 408 orang (proporsi 23,75%). Dimana pada tahun 2004 sebanyak 94 orang, tahun 2005 sebanyak 80 orang, tahun 2006 sebanyak 75 orang, tahun 2007 sebanyak 61 orang dan tahun 2008 sebanyak 98 orang.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008.


(21)

1.2.Perumusan Masalah

Belum diketahui karakteristik penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008.

1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kecenderungan penderita Stroke Haemoragik berdasarkan data dari tahun 2004-2008.

b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan sosiodemografi antara lain umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan dan asal daerah.

c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan faktor risiko (hipertensi, diabetes melitus, herediter, pernah stroke dan kombinasi dari faktor risiko).

d. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan hasil CT-Scan.

e. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan letak kelumpuhan.

f. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan lokasi perdarahan.


(22)

h. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan keadaan sewaktu pulang.

i. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke haemoragik berdasarkan tindakan medis.

j. Untuk mengetahui kecenderungan jumlah penderita dan kematian penderita stroke haemoragik pertahun.

k. Untuk mengetahui proporsi kematian penderita stroke haemoragik berdasarkan umur.

l. Untuk mengetahui proporsi kematian penderita stroke haemoragik berdasarkan jenis kelamin.

m. Untuk mengetahui proporsi kematian penderita stroke haemoragik berdasarkan hasil CT-Scan.

n. Untuk mengetahui proporsi kematian penderita stroke haemoragik berdasarkan lokasi perdarahan.

o. Untuk mengetahui proporsi kematian penderita stroke haemoragik berdasarkan tindakan medis.

p. Untuk mengetahui perbedaan proporsi hasil CT-Scan berdasarkan keadaan sewaktu pulang.

q. Untuk mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan hasil CT-Scan. r. Untuk mengetahui perbedaan proporsi hasil CT-Scan berdasarkan letak

kelumpuhan.

s. Untuk mengetahui perbedaan proporsi hasil CT-Scan berdasarkan tindakan medis.


(23)

t. Untuk mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang.

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Sebagai bahan masukan bagi pihak RS Santa Elisabeth Medan mengenai karakteristik penderita Stroke Haemoragik tahun 2004-2008 sehingga dapat membantu dalam merumuskan kebijakan mengenai penanggulangan stroke dan penyediaan fasilitas perawatan yang lebih memadai untuk penderita stroke.

1.4.2. Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan serta wawasan penulis tentang penyakit stroke khususnya stroke haemoragik.

1.4.3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian tentang penyakit stroke khususnya stroke haemoragik.


(24)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stroke

2.1.1. Defenisi Stroke

Stroke merupakan gangguan fungsi syaraf yang disebabkan adanya ketidakseimbangan aliran darah dalam otak, dan dapat timbul secara mendadak (bisa dalam waktu beberapa detik saja) atau secara cepat (dalam waktu beberapa jam), dengan gejala atau tanda-tanda yang sesuai dengan daerah otak yang mengalami gangguan pasokan darah.18

Menurut defenisi WHO, stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal atau global dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.19

2.1.2. Anatomi Dasar Otak20,21

Berat otak dewasa adalah kira-kira 1,4 kg atau sekitar 2% dari seluruh berat badan. Otak terbungkus secara berlapis-lapis oleh tiga selaput yang dikenal sebagai selaput otak (mening) dan terlindungi oleh bungkus luar yang kaku yaitu tengkorak. Dari otak ke arah luar mening ialah piameter, arachnoid dan durameter. Pembagian otak secara lebih spesifik menjadi cortex cerebri, ganglion basalis, thalamus serta hipothalamus, mesenchepalon, batang otak dan cerebelum.

Hemisfer serebri merupakan pembentuk bagian otak yang terbesar. Terdapat dua hemisfer serebri yaitu hemisfer serebri sinistra (kiri) dan hemisfer serebri dextra (kanan).


(25)

Hemisfer serebri dapat dibagi menjadi lobus frontalis, parietalis, occipitalis serta lobus temporalis.

Arachnoid durameter

Gambar 2.1.2. Anatomi dasar otak

2.1.3. Klasifikasi Stroke1

Secara umum stroke diklasifikasikan menjadi : a. Stroke non haemoragik (cerebral infarction)

a.1. Secara klinis terdiri dari :

a.1.1. TIA (Transient Ischemic Attack)


(26)

a.1.3. Progressing stroke = stroke in evolusi a.1.4. Complete stroke

a.2. Secara kausal :

a.2.1. Stroke trombotik

a.2.2. Stroke emboli/non trombotik b. Stroke haemoragik :

b.1. PSD (Perdarahan Sub Dural) b.2. PSA (Perdarahan Sub Arachnoid) b.3. PIS (Perdarahan Intra Cerebral)

2.2. Stroke Haemoragik

2.2.1. Defenisi Stroke Haemoragik

Stroke haemoragik adalah stroke yang terjadi oleh karena pecahnya pembuluh darah otak. Pecahnya pembuluh darah mengakibatkan darah mengalir ke rongga sekitar jaringan otak. Karena tidak menerima oksigen dan bahan makanan dari darah, sel-sel jaringan otak pun akan mati. Kematian jaringan otak akan terjadi dalam waktu 4 sampai 10 menit setelah suplai darah terhenti.12 Stroke haemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak (haemoragia intraserebral) dan ruang sekitar otak (haemoragia subaraknoid).22

Menurut Dr. Santosh Lal, seorang staf pengajar ilmu kedokteran dan asisten profesor pada Rehabilitation Center of Chicago, bahwa proporsi terjadinya stroke haemoragik sebesar 18% dengan CFR mencapai 50%-90%.


(27)

Stroke haemoragik sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan luas yang diakibatkan oleh darah yang mengalir keluar pembuluh darah masuk ke seluruh jaringan otak. Darah ini pun dapat menimbulkan tekanan pada jaringan otak yang dapat menyebabkan korban stroke mengalami sakit kepala yang hebat.23

2.2.2. Klasifikasi Stroke Haemoragik

Ada tiga tipe utama perdarahan otak yang dapat menimbulkan stroke, yaitu : a.Perdarahan intraserebral (PIS)

Perdarahan intraserebral meliputi 15% dari seluruh kasus stroke, terjadi di hemisfer serebri (80%) dan batang otak serta serebelum (20%). Case Fatality Rate (CFR) perdarahan intraserebral berkisar 60-90%.4,24 Bila penyebabnya adalah hipertensi CFR mencapai 82-90%.22

Perdarahan intraserebral atau perdarahan di dalam otak (serebrum) terjadi jika darah dari pembuluh darah yang pecah masuk ke jaringan otak dan menyerap ke dalamnya. Jumlah perdarahan dapat sedikit atau banyak (luas) menurut ukuran pembuluh darah yang pecah dan keberhasilan penyumbatan tempat bocor itu oleh bekuan darah.21 b.Perdarahan subarachnoid (PSA)

Perdarahan subarachnoid merupakan 5% dari seluruh kasus stroke dan 2% sebagai penyebab kematian mendadak.4,25 Pada perdarahan subarachnoid, darah mengalir keluar diantara kedua selaput otak (meningen). Darah tersebut secara cepat menyebar pada permukaan otak dan bukan menyerap ke dalamnya. Pada perdarahan subarachnoid, darah didorong ke dalam ruang subarachnoid yang mengelilingi otak. Jaringan otak pada awalnya tidak terpengaruh, tetapi pada tahap selanjutnya dapat terganggu.


(28)

Perdarahan subarachnoid akan menimbulkan gejala nyeri kepala yang hebat, terjadi tiba-tiba sekali, dan kadang-kadang dengan muntah dan penurunan kesadaran. Jika penderita dapat sadar kembali, akan ditemukan gejala kaku kuduk, keluhan silau terhadap cahaya dan pada kasus-kasus yang lebih ringan dapat ditemukan sedikit kelumpuhan.

Para penderita perdarahan subarachnoid seringkali sebelumnya sudah mempunyai benjolan atau kantong kecil (aneurisma) pada salah satu pembuluh darah otak. Kantung kecil ini terbentuk akibat kelemahan atau peregangan pada pembuluh darah. Keadaan ini dinamakan aneurisma berry. Darah yang masuk ke dalam otak pada perdarahan subarachnoid akan mulai terurai setelah beberapa jam dan zat-zat hasil penguraian ini bersifat iritatif serta dapat mengakibatkan spasme pembuluh darah sehingga kemungkinan kerusakan otak menjadi semakin besar.25

c.Perdarahan subdural (PSD)

Perdarahan ini disebabkan oleh cedera kepala, dan letaknya tepat di bawah tengkorak sehingga mudah diatasi dengan pembedahan. Perdarahan subdural biasanya terjadi bila otak bergerak maksimal yaitu benturan pada sumbu sepanjang kepala, lebih sering pada benturan di belakang kepala. Bila robekan pada permukaan otak luas, akan timbul perdarahan besar yang cepat menimbulkan gejala-gejala yang berat akibat penekanan, konstusio, dan edema serebri.22,25


(29)

2.3. Epidemiologi Stroke Haemoragik

2.3.1. Distribusi dan Frekuensi Stroke Haemoragik

Data WHO tahun 2004 menunjukkan setiap tahunnya stroke menyerang 15 juta orang di seluruh dunia. Di Amerika Serikat sebanyak 5 juta orang pernah mengalami stroke. Sementara di Inggris, terdapat 250 ribu orang hidup dengan kecacatan karena stroke. Di Asia, khususnya di Indonesia, berdasarkan survei tahun 2004 di rumah sakit pemerintah di seluruh Indonesia terdapat 500 ribu orang yang mengalami serangan stroke setiap tahun. Dari jumlah itu, 2,5% diantaranya meninggal dunia. Sementara sisanya mengalami cacat ringan maupun berat.12

Di negara berkembang kematian yang disebabkan karena stroke masih tinggi sedangkan di negara maju cenderung menurun. Tahun 2004, kematian yang disebabkan oleh sroke di negara maju mencapai 9,3% sedangkan di negara berkembang mencapai 14,2%.26 Penurunan ini disebabkan karena manajemen hipertensi, penyakit jantung dan penyakit metabolik di negara maju telah makin baik.27 Sementara di daerah urban insidens stroke lebih tinggi daripada di daerah rural. Di Indonesia stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di wilayah perkotaan dengan PMR sebesar 15,9% sedangkan di pedesaan PMR mencapai 11,5%.28

Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1984 dilaporkan prevalensi stroke pada golongan umur 25-34 tahun sebesar 6,7 per 100.000 penduduk, golongan umur 35-44 tahun sebesar 24,4 per 100.000 penduduk dan pada kelompok umur 55 tahun keatas mencapai 276,3 per 100.000 penduduk.1

Insidens stroke berbeda pada laki-laki dan wanita. Laki-laki cenderung untuk terkena stroke lebih tinggi dibandingkan wanita, dengan sex ratio 2 : 1, kecuali pada usia


(30)

lanjut laki-laki dan wanita hampir tidak berbeda.23 Laki-laki yang berumur 45 tahun bila bertahan hidup sampai 85 tahun kemungkinan terkena stroke 25%, sedangkan risiko bagi wanita hanya 20%. 29

Pengamatan yang dilakukan di Rumah Sakit Santo Vincentius A. Paulo Surabaya tahun 2002 menunjukkan bahwa jumlah penderita stroke hemoragik sebanyak 122 kasus. kelompok usia 60-69 tahun yaitu sebanyak 32,79% penderita. Proporsi penderita laki-laki sebesar 63,11% sedangkan pada penderita perempuan proporsi sebesar 36,89%. CFR pada penderita stroke hemoragik cukup tinggi, yaitu sebanyak 31,97% (yang terdiri dari 69,23% laki-laki dan 30,77% perempuan).30

2.3.2. Faktor Risiko Stroke Haemoragik a. Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol a.1. Usia

Pada umumnya risiko terjadinya stroke mulai usia 35 tahun dan akan meningkat dua kali dalam dekade berikutnya. Setelah mencapai usia 50 tahun, setiap penambahan usia tiga tahun meningkatkan resiko stroke sebesar 11-20%.3 Risiko untuk terkena stroke pada orang yang berusia lebih dari 65 tahun sebesar 40% dan pada orang yang berusia dibawah 45 tahun sebesar 13%. Hal disebabkan karena terjadinya akumulasi plak yang tertimbun di dalam pembuluh-pembuluh darah.23

Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menyebutkan, insidens stroke mencapai 63,52 per 100.000 penduduk pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Di Amerika Serikat diperkirakan prevalensi stroke 20 per 1000 pada tingkat umur 45-54 tahun, 60 per 1000 pada golongan umur 65-74 tahun dan 95 per 1000 pada golongan umur 75-85 tahun.22


(31)

a.2. Jenis Kelamin

Para pria memiliki kecendrungan lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan dengan para wanita, dengan sex ratio 2:1. Walaupun para pria lebih rawan daripada wanita pada usia yang lebih muda, tetapi para wanita akan menyusul setelah usia mereka mencapai menopause. Hasil-hasil penelitian menyatakan bahwa hormon berperan dalam hal ini, yang melindungi para wanita sampai mereka melewati masa-masa melahirkan anak. Pria berusia kurang dari 65 tahun memiliki risiko terkena stroke iskemik atau perdarahan intraserebral lebih tinggi sekitar 20% daripada wanita. Namun, wanita usia berapapun memiliki resiko perdarahan subarachnoid sekitar 50% lebih besar.23

Berdasarkan data dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di RSCM tahun 2003 menunjukkan bahwa dari 522 pasien stroke yang dirawat 64,6% diantaranya adalah laki-laki.31

a.3. Ras dan suku bangsa

Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada kulit putih. Faktor ini sangat penting bagi orang kulit hitam untuk melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap semua faktor risiko yang masih dapat diubah.3,23

a.4. Riwayat Keluarga dan herediter

Riwayat keluarga berperan penting dalam meningkatkan resiko terjadinya

stroke. Faktor keturunan yang biasanya terjadi adalah faktor penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, kadar kolesterol yang tinggi, yang semuanya bisa diwariskan dalam

keluarga penderita. Anggota keluarga dekat (anak) dari orang yang penah mengalami perdarahan subarachnoid memiliki peningkatan risiko 2-5% terkena perdarahan subarachnoid.23


(32)

a.5. Malformasi Arteri-Vena (AVM)

Malformasi arteriovenosa merupakan kelainan bawaan, tetapi baru diketahui keberadaannya jika telah menimbulkan gejala. Perdarahan dari malformasi arteriovenosa bisa secara tiba-tiba menyebabkan pingsan dan kematian.

Malformasi arteriovenosa merupakan kelainan anatomis di dalam arteri atau vena di dalam atau di sekitar otak, dimana tidak terbentuknya sistem kapiler sehingga aliran darah dari arteri masuk langsung ke vena. Karena adanya hubungan langsung arteri vena, aliran darah tersedot ke anomaly hingga daerah lain mengalami kekurangan (iskemik). Selain itu malformasi arteri vena bisa berkembang terus sehingga terjadi semacam gumpalan jaringan dengan efek penekanan langsung pada jaringan otak yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.32

b. Faktor yang dapat dikontrol b.1. Hipertensi

Faktor ini merupakan risiko utama terjadinya stroke perdarahan. Hampir 70% stroke haemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Hipertensi dapat meningkatkan risiko tejadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Yang dimaksud dengan tekanan darah tinggi apabila tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg. Tekanan darah yang meningkat dapat merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan mendorong terbentuknya bekuan darah dan aneurisma yang semuanya mengarah pada stroke, terutama pada orang yang berusia diatas 45 tahun.3,12

Tekanan darah tinggi melemahkan pembuluh darah dan juga merontokkan butir-butir plak dari tempatnya menempel pada dinding pembuluh darah, yang membuat plak-plak bebas melakukan kerusakan berikutnya. Stroke haemoragik terjadi karena


(33)

peningkatan tekanan darah yang mendadak sehingga pembuluh darah di otak pecah (karena tidak tahan menerima tekanan yang tinggi).12,23

b.2. Aneurisma intrakranium

Aneurisma adalah pelebaran setempat pada arteri. Biasanya aneurisma terdapat pada arteri-arteri di basis serebri pada percabangan-percabangan. Gejala-gejala aneurisma sebelum pecah menyerupai tumor serebri. Bila aneurisma pecah timbul gejala-gejala akut. Darah masuk ke dalam ruang subarachnoid bercampur dengan likuor serebrospinal, sehingga cairan otak menjadi hemoragik. Adanya darah di dalam cairan otak merangsang meninges sehingga tengkuk menjadi kaku, kepala terasa nyeri berdenyut. Gejala-gejala neurologis yang dijumpai tergantung pada bagian mana yang mengalami kerusakan. Lebih dari 45% penderita meninggal karena serangan ini.22

b.3. Merokok

Merokok meningkatkan risiko terjadinya stroke hampir 2 kali lipat. Adapun perokok pasif berisiko terkena stroke 1,2 kali lebih besar. Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen, peningkatan ini akan menyebabkan terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan viskositas darah sehingga mempermudah terjadinya proses penggumpalan darah.24

Pada pasien perokok, kerusakan yang diakibatkan stroke lebih parah karena dinding bagian dalam pada sistem pembuluh darah otak biasanya sudah menjadi lemah. Ini menyebabkan kerusakan yang lebih besar lagi pada otak sebagai akibat bila terjadi stroke tahap kedua.12


(34)

b.4. Diabetes Melitus

Diabetes melitus dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke 1,5-4 kali lipat. Diabetes melitus menimbulkan perubahan sistem vaskular (pembuluh darah dan jantung) serta mendorong terjadinya aterosklerosis. Disamping itu diabetes melitus juga mampu menebalkan dinding pembuluh darah otak. Menebalnya dinding pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah dan penyempitan ini kemudian akan mengganggu kelancaran aliran darah ke otak, yang pada akhirnya menyebabkan infark sel-sel otak.12,24

b.5. Serangan Iskemik Sesaat

Penderita yang pernah mengalami serangan iskemik sesaat (transient ischaemic attack atau TIA) akan menghadapi risiko untuk terjadinya serangan stroke berulang. Serangan iskemik sesaat memberikan gejala seperti serangan stroke yang ringan, karena ada gangguan penglihatan serta bicara dan perasaan lemas atau gangguan sensorik pada salah satu sisi tubuh. Gejala-gejala ini akan hilang dalam waktu kurang dari 24 jam. Serangan ini dapat terjadi beberapa kali dalam 24 jam, atau terjadi beberapa kali dalam satu minggu. Semakin sering seseorang mengalami serangan iskemik sesaat maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. Seseorang yang pernah mengalami serangan iskemik sesaat tanpa memperoleh pengobatan mempunyai kemungkinan sebesar 7% untuk mengalami gangguan peredaran darah yang serius setiap tahunnya.24,25


(35)

2.4. Gejala Stroke Haemoragik 2.4.1. Perdarahan Intraserebral

Gejala prodormal tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi. Serangan seringkali di siang hari, waktu bergiat, atau emosi/marah. Defisit neurologis timbul mendadak dan memburuk dengan cepat (dalam beberapa menit atau jam). Nyeri kepala yang hebat, mual, muntah, hemisphere/hemiplegi biasa terjadi sejak permulaan serangan. Kesadaran biasanya menurun dan terjadi koma (65% terjadi kurang dari setengah jam, 23% antara ½-2 jam, dan 12% terjadi setelah 2 jam, sampai 19 hari).

2.4.2. Perdarahan Subarachnoid

Gejala stroke pada perdarahan subarachnoid adalah :

a. Gejala prodormal : nyeri kepala hebat hanya 10%, dan 90% tanpa keluhan sakit kepala

b. Kesadaran sering terganggu, dan sangat bervariasi dari tak sadar sebentar, sampai koma

c. Gejala/tanda ransangan meningeal : kaku kuduk

d. Fundus okuli : 10% penderita mengalami edema- papil beberapa jam setelah perdarahan.

e. Sekitar 25% penderita memiliki kelainan neurologis, yang biasanya berupa kelumpuhan pada satu sisi badan

f. Demam setelah 24 jam, demam ringan karena ransangan meningitis, dan demam tinggi, muntah, berkeringat, menggigil dan takikardia bila dilihatkan hipothalamus. Bila berat, maka terjadi ulkus peptikum disertai hematemesis dan


(36)

melena (stress ulcer), dan seringkali disertai peninggian kadar gula darah, glukosuria, albuminuria, dan perubahan pada EKG.19,33,34

2.4.3. Perdarahan Subdural

Penderita mengeluh nyeri kepala yang lambat laun menghebat, biasanya di daerah dahi. Dapat disertai mual dan muntah, kemudian penglihatan mulai kabur akibat membengkaknya papil.22

2.5. Diagnosis Stroke Haemoragik 1,2,22,35 2.5.1. Anamnesis

Pengambilan anamnesis dilakukan melalui wawancara kepada penderita ataupun keluarga yang mengerti tentang penyakit yang diderita. Tujuan anamnesis adalah untuk mendapatkan riwayat perjalanan penyakit penderita. Dengan anamnesis yang teliti dan terarah dapat ditentukan proses alamiah serangan penyakit, misalnya tentang timbulnya serangan, penyebab, pencetus serta manifestasi klinis yang terjadi.

2.5.2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik ditelusuri adanya gangguan saraf, bentuk gangguan saraf serta semua penyakit yang dapat mempengaruhi perjalanan stroke. Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain : pemeriksaan fisik umum (yaitu penilaian tingkat kesadaran, pernapasan, suhu, tekanan darah, denyut nadi, gizi, anemi, paru dan jantung), pemeriksaan neurologi dan neurovaskular.


(37)

2.5.3. Pemeriksaan Penunjang

Dengan majunya teknologi kedokteran, maka pemeriksaan penunjang bertambah besar peranannya dalam menangani stroke. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain : pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit, trombosit, gula darah, ureum, kreatinin, urin lengkap), Elektrokardiografi (EKG), Elektro encephalografi (EEG), Computed Tomography Scanning (CT-Scan), Magnetic Resonansing Imaging (MRI).

Pemeriksaan CT-Scan dan MRI dapat membantu membedakan stroke iskemik dan stroke haemoragik. Dengan CT-Scan, dapat ditentukan lokasi infark, perdarahan dan menyingkirkan penyebab lain seperti tumor, hematoma subdural yang dapat menyerupai gejala infark atau perdarahan di otak. Pemeriksaan CT dengan kontras dapat mendeteksi malformasi vaskuler dan aneurisma. Sementara pemeriksaan MRI lebih sensitif mendeteksi infark, terutama yang di batang otak dan serebelum. MRI mempunyai keunggulan bagi pasien dengan iskemia vertebrobasiler atau infark yang kecil yang letaknya dalam.

Namun karena terbatasnya alat-alat tersebut di Rumah Sakit, untuk mendiagnosis stroke dilakukan dengan sistem skoring. Sistem skoring dapat membedakan stroke haemoragik dan non haemoragik dengan ketepatan yang cukup memadai. Cara penggunaan sistem skoring adalah dengan menentukan berbagai variabel yang berhubungan dengan kejadian stroke dan memberikannya bobot tertentu.


(38)

2.6. Letak Kelumpuhan24

2.6.1. Kelumpuhan Sebelah Kanan (Hemiparesis Dextra)

Hemisfer dextra mengendalikan gerakan sisi tubuh sebelah kiri. Apabila terjadi kelumpuhan sebelah kanan maka yang terpengaruh adalah gerakan dan sensasi di sisi kiri tubuh. Penderita biasanya mempunyai kekurangan dalam kemampuan komunikasi verbal. Tetapi persepsi dan memori visuomotornya sangat baik.

2.6.2. Kelumpuhan Sebelah Kiri (Hemiparesis Sinistra)

Hemisfer sinistra mengendalikan gerakan sisi tubuh sebelah kanan. Apabila terjadi kelumpuhan sebelah kiri maka yang terpengaruh adalah gerakan dan sensasi di sisi kanan tubuh. Penderita yang memiliki kelumpuhan sebelah kiri sering memperlihatkan ketidakmampuan persepsi visuomotor dan kehilangan memori visual.

2.6.3. Kelumpuhan Kedua Sisi (Paraparesis)

Merupakan kerusakan pada sisi tubuh sebelah kiri dan sebelah kanan. Pada keadaan ini, kedua kaki penderita sulit untuk digerakkan.

2.7. Lokasi Perdarahan Stroke Haemoragik20,21 a. Ganglion Basalis

Fungsional peranan umum ganglion basal adalah untuk bekerja sebagai stasiun-stasiun pemrosesan yang menghubungkan korteks serebrum dengan nukleus-nukleus thalamus tertentu dan akhirnya berprojeksi ke korteks serebrum. Kerusakan pada ganglion basalis akan mengakibatkan penderita mengalami kesukaran untuk memulai gerak yang diingini.


(39)

b. Serebrum

Serebrum atau korteks serebral membungkus seluruh otak dan posisinya berada di depan. Serebrum bertanggung jawab atas berbagai keterampilan termasuk ingatan, komunikasi, pembuatan keputusan dan kreativitas. Serebrum dibagi menjadi dua belahan, yaitu hemisfer serebri sinistra (kiri) dan hemisfer serebri dextra (kanan). Hemisfer serebri kiri mengendalikan kemampuan memahami dan mengendalikan bahasa serta berkaitan dengan berpikir ”matematis” atau ”logis”, sedangkan hemisfer serebri dextra berkaitan dengan keterampilan, perasaan dan kemampuan seni. Kerusakan pada serebrum dapat mengakibatkan hemiparesis sinistra dan dextra.

c. Batang otak

Batang otak adalah bagian otak yang masih tersisa setelah hemisfer serebri dan serebelum diangkat. Medula oblongata, pons dan otak tengah merupakan bagian bawah atau bagian infratentorium batang otak. Kerusakan pada batang otak akan mengakibatkan gangguan berupa nyeri, suhu, rasa kecap, pendengaran, rasa raba, raba diskriminatif, dan apresiasi bentuk, berat dan tekstur.

d. Serebelum

Serebelum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu archiserebelum berfungsi untuk mempertahankan agar seseorang berorientasi terhadap ruangan. Kerusakan pada daerah ini akan mengakibatkan ataxia tubuh, limbung dan terhuyung-huyung. Paleoserebelum, mengendalikan otot-otot antigravitas dari tubuh, apabila mengalami kerusakan akan menyebabkan peningkatan refleks regangan pada otot-otot penyokong. Neoserebelum, berfungsi sebagai pengerem pada gerakan di bawah kemauan, terutama yang memerlukan pengawasan dan penghentian, serta gerakan halus dari tangan. Kerusakan pada


(40)

neoserebelum akan mengakibatkan dysmetria, intenton tremor dan ketidakmampuan untuk melakukan gerakan mengubah-ubah yang cepat.

2.8. Tindakan Medis Stroke Haemoragik24

Tindakan medis pada penderita stroke haemoragik ditujukan agar penderita tetap hidup dengan harapan perdarahan dapat berhenti secara spontan. Sekali terjadi perdarahan maka terapi medikamentosa tidak dapat menghentikannya. Tindakan medis yang dilakukan pada penderita stroke haemoragik meliputi :

2.8.1. Tindakan Konservatif

a. Pencegahan peningkatan tekanan intrakranial lebih lanjut

Upaya pencegahan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) lebih lanjut adalah pengendalian hipertensi dan pengobatan kejang. Hipertensi yang menetap akan meningkatkan edema otak dan TIK. Pengendalian hipertensi harus hati-hati karena apabila terjadi hipotensi maka otak akan terancam iskemia dan kerusakan neuron. Obat yang dianjurkan dalam mencegah peningkatan TIK adalah beta bloker atau obat yang mempunyai aksi beta dan alpha bloking (misalnya labetolol), diberikan secara intravena dikombinasikan dengan diuretika.

Kejang biasanya terjadi pada perdarahan lobar, sehingga pemberian antikonvulsan secara rutin tidak dianjurkan. Pada hiperglikemia tidak dianjurkan untuk diberi difenilhidantoin karena glukosa darah akan meninggi dan kejang tidak terkontrol.

b. Pengendalian peningkatan tekanan intrakranial

Secara umum terapi untuk hipertensi intrakranial meliputi hiperventilasi, diuretika, dan kortikosteroid. Hiperventilasi paling efektif untuk menurunkan hipertensi


(41)

intrakranial secara cepat, biasanya dalam beberapa menit untuk mencapai tingkat hipokapnia antara 25-30 mmHg.

Urea intravena (0,30gr/Kg BB), atau lebih umum dipakai manitol (0,25-1,0gr/Kg BB) dapat menurunkan TIK secara cepat, sering diberikan bersama-sama dengan hiperventilasi pada kasus herniasi otak yang mengancam.

2.8.2. Tindakan Operatif

Pertimbangan untuk melakukan operasi biasanya bila perdarahan berada di daerah superfisial (lobar) hemisfer serebri atau perdarahan sereberal. Penentuan waktu untuk operasi masih bersifat kontroversial. Berdasarkan data mortalitas pasca operasi, disimpulkan bahwa waktu untuk operasi adalah antara 7-9 hari pasca perdarahan. Tindakan operasi segera setelah terjadi perdarahan merupakan tindakan berbahaya karena terjadinya retraksi otak yang dalam keadaan membengkak. Sementara itu tindakan operasi yang dini dapat menimbulkan komplikasi iskemi otak.

2.9. Pencegahan Stroke Haemoragik 1,3,36,37 2.9.1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer ditujukan pada orang-orang yang belum pernah menderita stroke agar tidak mendapat stroke. Upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan primer yaitu :

a. Memasyarakatkan gaya hidup bebas stroke dengan :

a.1. Menghindari merokok, stress mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam berlebihan, obat-obat golongan amfetamin, kokain, dan sejenisnya.


(42)

a.3. Mengendalikan penyakit yang merupakan faktor risiko stroke seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung.

b. Menganjurkan konsumsi gizi yang seimbang dan berolah raga secara teratur 2.9.2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat timbulnya komplikasi melalui tindakan deteksi dini dan memberikan pengobatan yang cepat dan tepat. Pencegahan sekunder ditujukan pada orang yang telah sakit agar tidak menjadi semakin parah dan tidak terjadi stroke berulang.

Deteksi dini ditentukan dengan cara mengenali gejala awal terjadinya stroke yaitu kepala pusing terasa berat, pegal atau sakit bagian tengkuk belakang kepala, kehilangan keseimbangan, penglihatan kabur serta kesulitan berbicara. Selain itu dilakukan juga pemeriksaan fisik (yaitu penilaian tingkat kesadaran, pernapasan, suhu, tekanan darah, denyut nadi, gizi, anemi, paru dan jantung) dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium, elektrokardiografi, elektro encephalografi, CT-Scan dan MRI).

Pengobatan yang cepat dan tepat dapat dilakukan dengan pemberian asetosal, ticlopidine, clopidogrel, dipiridamol, warfarin, obat obat antihipertensi dan obat obat antihiperlipidemia. Asetosal digunakan sebagai obat antiagregasi trombosit pilihan pertama dengan dosis berkisar antara 80-320 mg/hari. Warfarin diberikan kepada penderita yang memiliki risiko penyakit jantung (fibrilasi atrium, infark miokard akut, dan kelainan katup). Tiklopidin dan clopidogrel diberikan apabila penderita tidak tahan asetosal.


(43)

Disamping pemberian obat-obatan, penderita stroke juga tetap dianjurkan untuk menghentikan rokok, olah raga secara teratur, pengaturan makanan dan berat badan, mengurangi konsumsi garam dan minum alkohol secara berlebihan.

2.9.3. Pencegahan Tertier

Pencegahan tertier adalah semua upaya untuk mencegah atau membatasi kecacatan akibat komplikasi. Tindakan yang dilakukan dalam pencegahan tertier yaitu melalui program rehabilitasi. Tujuan rehabilitasi adalah meningkatkan kembali kemampuan fisik dan mental penderita stroke haemoragik agar dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa tergantung pada orang lain. Berbagai usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini, diantaranya : fisioterapi, terapi okupasional, terapi wicara, latihan mental/psikoterapi dan olah raga.


(44)

BAB 3

KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka Konsep

Karakteristik Penderita Stroke Haemoragik

1. Faktor sosio demografi Umur

Jenis kelamin Suku

Status perkawinan Agama

Tingkat pendidikan Pekerjaan

Asal daerah 2. Faktor risiko 3. Hasil CT-Scan 4. Letak kelumpuhan 5. Lokasi perdarahan 6. Lama rawatan rata-rata 7. Keadaan sewaktu pulang 8. Tindakan medis

9. Proporsi kematian

3.2. Definisi Operasional

3.2.1. Penderita Stroke Haemoragik adalah pasien yang berdasarkan diagnosa dokter dinyatakan menderita penyakit stroke haemoragik dan dirawat inap.

3.2.2. Umur adalah usia penderita stroke haemoragik yang dicatat sesuai yang ada dalam kartu status, yang digolongkan menjadi :

1. <45

2. 45-60 tahun 3. >60 tahun


(45)

3.2.3. Jenis kelamin adalah ciri khusus yang melekat pada diri penderita stroke haemoragik yang dibawa sejak lahir seperti yang tercatat di kartu status, dikategorikan atas :

1. Laki-laki 2. Perempuan

3.2.4. Suku adalah etnik yang melekat pada diri penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dikategorikan atas :

1. Batak 2. Jawa 3. Lain-lain

2.2.5. Status perkawinan adalah keterangan mengenai ada tidaknya pasangan hidup dari penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dikategorikan atas :

1. Kawin

2. Belum Kawin

2.2.6. Agama adalah kepercayaan yang dianut oleh penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dibedakan atas :

1. Islam 2. Katolik

3. Kristen Protestan 4. Budha

5. Hindu

2.2.7. Tingkat pendidikan adalah keterangan mengenai pendidikan formal tertinggi yang pernah dijalani oleh penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dikategorikan atas :


(46)

1. Tidak Sekolah 2. SD

3. SLTP 4. SLTA

5. Akademi/Perguruan Tinggi

2.2.8. Pekerjaan adalah kegiatan utama yang dilakukan penderita stroke haemoragik untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dibedakan atas :

1. Pegawai Negeri Sipil 2. Wiraswasta

3. Pensiunan Pegawai 4. Ibu Rumah Tangga 5. Petani

6. Lain-lain 7. Tidak bekerja

2.2.9. Asal daerah adalah tempat tinggal dimana penderita stroke haemoragik menetap sesuai dengan yang tercatat di kartu status, dikategorikan atas :

1. Kota Medan 2. Luar kota Medan

2.2.10.Faktor risiko adalah penyebab suatu penyakit yang dapat meningkatkan insidens stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat dalam kartu status, dikategorikan atas :

1. Hipertensi 2. Pernah stroke 3. Diabetes Melitus

4. Malformasi Arteri-Vena (MAV) 5. Aneurisma

2.2.11.Faktor risiko kombinasi, dikategorikan atas : 1. Hipertensi + Pernah Stroke

2. Hipertensi + Diabetes Melitus

3. Hipertensi + Diabetes Melitus + Pernah Stroke 4. Diabetes Melitus + Pernah Stroke


(47)

2.2.12.Hasil CT-Scan adalah hasil dari pemeriksaan CT-Scan yang menunjukkan jenis perdarahan pada penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat dalam kartu status, dikategorikan atas :

1. Perdarahan Intraserebral (PIS) 2. Perdarahan Subarachnoid (PSA) 3. Perdarahan Subdural (PSD) 4. PIS dan PSA

5. PIS dan PSD 6. PSA dan PSD

2.2.13.Letak kelumpuhan adalah lokasi dimana terdapat keluhan-keluhan yang dirasakan penderita stroke haemoragik dan didasarkan pada hasil pemeriksan dokter melalui anamnesis, dikategorikan atas :

1. Hemiparesis Dextra 2. Hemiparesis Sinistra 3. Paraparesis

4. Tidak ada kelumpuhan

2.2.14.Lokasi perdarahan adalah tempat atau lokasi terjadinya perdarahan yang terjadi pada penderita stroke haemoragik yang didasarkan pada hasil pemeriksaan CT-Scan dikategorikan atas :

1. Basal ganglia 2. Serebrum 3. Batang otak 4. Serebelum

2.2.15.Lama rawatan rata-rata adalah rata-rata lama hari rawatan penderita stroke haemoragik yang dihitung sejak tanggal mulai dirawat sampai keluar dari rumah sakit sesuai dengan yang tercatat di kartu status.

2.2.16.Keadaan sewaktu pulang adalah keadaan penderita stroke haemoragik ketika keluar dari rumah sakit yang dinyatakan dengan :


(48)

1. Pulang dengan Berobat Jalan

2. Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) 3. Meninggal.

2.2.17.Tindakan Medis adalah segala usaha medis yang dilakukan untuk menyelamatkan jiwa penderita stroke haemoragik sesuai dengan yang tercatat dalam kartu status, dikategorikan atas :

1. Tindakan Konservatif 2. Tindakan Operatif

2.2.18.Proporsi Kematian adalah angka kematian karena stroke haemoragik yang diperoleh dari hasil bagi kematian penderita stroke haemoragik dengan jumlah seluruh kematian penderita stroke haemoragik dikali 100%.


(49)

BAB 4

METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang bersifat deskriptif menggunakan desain case series.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Pemilihan lokasi ini atas pertimbangan bahwa di Rumah Sakit Santa Elisabeth terdapat kasus stroke haemoragik dan dilengkapi dengan sistem pencatatan rekam medik yang cukup baik, dan juga di Rumah Sakit ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai karakteristik penderita stroke haemoragik pada tahun 2004-2008.

4.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan sejak bulan Februari 2009 – Juli 2009. 4.3. Populasi dan Sampel

4.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua data penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008 dengan jumlah penderita sebanyak 408 orang.


(50)

4.3.2. Sampel a. Besar Sampel

Sampel adalah sebagian data dari penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008. Besar sampel yang dibutuhkan adalah berdasarkan perhitungan dengan rumus :38

2

) (

1 N d

N n

+ =

2

) 05 , 0 ( 408 1

408 + =

n = 201,9 ≈202

Keterangan : N = Besar populasi n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan

Jadi sampel yang dibutuhkan adalah 202 data penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2008.

b. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling dengan menggunakan tabel angka acak pada program C Survey. Sampel diambil dari populasi yang sudah diacak oleh komputer. Sebelumnya seluruh kartu status diberi nomor dari 1-408, dengan begitu list seluruh penderita stroke haemoragik sudah tersedia. Sampel yang pertama diambil dari baris atau kolom tertentu yang diperoleh dengan menggunakan


(51)

baris dan kolom keberapa akan diambil sampel pertama. Kemudian diambillah sampel sebanyak 202 data penderita stroke haemoragik.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2004-2008 kemudian dilakukan pencatatan dan tabulasi terhadap variabel yang diteliti.

4.5. Teknik Analisa Data

Data yang dikumpulkan dicatat, diolah dengan komputer yang menggunakan program SPSS , lalu data dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan uji statistik

Chi-square, Anova, dan Kruskall-Wallis kemudian disajikan dalam bentuk narasi, tabel, diagram batang dan diagram pie.


(52)

BAB 5

HASIL PENELITIAN 5.1. Profil Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 5.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan terletak di Jalan H. Misbah No.7 Medan. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit milik Kongregasi Fransisikanes Santa Elisabeth Medan.

5.1.2. Falsafah Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Dengan dilandasi semangat dasar Suster Fransiskanes Santa Elisabeth, dalam melaksanakan dan mengembangkan ”Cinta dan Nilai Kristiani”, karya pelayanan Rumah Sakit Santa Elisabeth menitikberatkan penyembuhan manusia seutuhnya, sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah dalam menuju masyarakat sehat.

Dalam pelayanan , Rumah Sakit Santa Elisabeth lebih mengutamakan orang yang paling membutuhkan, tanpa membedakan suku, bangsa, agama dan golongan sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

5.1.3. Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Menjadikan Rumah Sakit Santa Elisabeth mampu berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi atas dasar cinta kasih dan persaudaraan sejati pada era globalisasi.

5.1.4. Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Meningkatkan derajat kesehatan melalui sumber daya manusia yang profesional, sarana dan prasarana yang memadai dengan tetap memperhatikan masyarakat Indonesia.


(53)

5.1.5. Pelayanan Medis

Rumah sakit ini telah dilengkapi berbagai prasarana yang terdiri dari Poli Umum, Spesialis, Unit Gawat Darurat (UGD), Intensive Care Unit (ICU). Masing-masing unit dilengkapi dengan fasilitas sesuai dengan kebutuhan pelayanan.

UGD RS Santa Elisabeth buka 24 jam yang dilengkapi oleh tenaga dokter dan perawat yang profesional. UGD memberikan pertolongan secara cepat, tepat dan cermat serta dilengkapi dengan ruang tindakan, ruang resusitasi, ruang bedah, ruang one day care dan fasilitas yang memadai. Poli umum dilayani dokter umum yang melayani pasien rawat jalan non emergensi dan pemeriksaan kesehatan dari perusahaan.

Poli Spesialis rumah sakit melayani penyakit yang berkaitan dengan penyakit urologi, neurologi/saraf, THT, jantung, paru, anak, onkologi, kulit/kelamin, mata, gigi, bedah umum, dan bedah saraf. Kamar bedah yang tersedia adalah kamar bedah digestif, thorax, orthopedi, urologi, saraf, anak, THT, mata, mulut, kebidanan, dan onkologi. Rumah sakit ini memiliki 4 kamar operasi, 2 kamar tindakan untuk bedah minor, dan 1 kamar ruang pemulihan (recovery room).

5.1.6. Pelayanan Penunjang Medis

Rumah sakit ini memiliki pelayanan penunjang medis seperti laboratorium, rontgen, CT-Scan, Elektrokardiografi (EKG), Elektro encephalografi (EEG), farmasi, fisioterapi, ruang diagnostik, hemodialisa. Laboratorium buka selama 24 jam.

5.1.7. Penunjang Umum

Penunjang umum yang terdapat di rumah sakit ini terdiri dari administrasi, jaringan komputer, telepon, sumber air, sumber listrik, pengolahan air limbah, instalasi


(54)

gizi dan dapur umum, Central Steril Supply Department (CSSD), teknik pemeliharaan, kendaraan, dan fasilitas umum lainnya.

5.1.8. Tenaga Kesehatan a. Tenaga Para Medis

Tabel 5.1. Distribusi Tenaga Kesehatan Para Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2008

Tenaga Perawat Tenaga Para Medis

Profesi Jumlah (orang) Profesi Jumlah (orang)

S.Kep/SKM 4/2 Apoteker 1

Akper 154 A.Apoteker 13

Akbid 5 Analis 16

SPK 39 Gizi 13

Bidan 9 Fisioterapi 5

PKC/Pekarya 9 P.Rontgen 7

Sumber : Profil Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2008

b. Tenaga Medis

Tabel 5.2. Distribusi Tenaga Kesehatan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2008

Tenaga Medis

Profesi Jumlah

(orang) Profesi

Jumlah (orang)

Dokter Umum 9 Dokter Spesialis Paru-paru 2

Dokter Gigi 2 Dokter Spesialis Patologi Klinik 3

Dokter Spesialis Radiologi 2 Dokter Spesialis Jantung 3

Dokter Spesialis Obgyn 14 Dokter Spesialis Saraf 3

Dokter Spesialis Penyakit Dalam 8 Dokter Spesialis Mata 3 Dokter Spesialis Bedah Umum 5 Dokter Spesialis Patologi Anatomi 1 Dokter Spesialis Bedah Onkologi 2 Dokter Spesialis Akupuntur 1 Dokter Spesialis Bedah Urologi 4 Dokter Spesialis Kes. Jiwa 3 Dokter Spesialis Bedah Kecantikan 2 Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin 4

Dokter Spesialis Bedah Saraf 2 Dokter Spesialis THT 3

Dokter Spesialis Bedah Mulut 2 Dokter Spesialis Mikrobiologi 1 Dokter Spesialis Bedah Thorax 1

Dokter Spesialis Anak 8

Dokter Spesialis Ginjal dan Hati 4 Dokter Spesialis Anastesi 6


(55)

5.2. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan Tahun

Proporsi penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan berdasarkan tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.3. Distribusi Proporsi Penderita Stroke Haemoragik Berdasarkan data Tahun 2004-2008 di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

No. Tahun Jumlah

f %

1 2004 94 23,0

2 2005 80 19,6

3 2006 75 18,4

4 2007 61 15,0

5 2008 98 24,0

Total 408 100

Pada tabel 5.3. dapat diketahui bahwa proporsi penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tertinggi pada tahun 2008 sebesar 24,0%, dan terendah pada tahun 2007 sebesar 15%.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa frekuensi penderita stroke haemoragik tahun 2004-2008 mengalami peningkatan sebanyak 98-94 = 4 kasus, dengan simple ratio

peningkatan sebanyak 1,04 94

98

= kali, serta persentase peningkatan kasus sebesar

% 08 , 4 % 100 98

94 98

= −

x

Trend atau kecendrungan penderita stroke haemoragik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan berada pada persamaan garis y=−1,1x+84,9.


(1)

Hasil CT-Scan * Keadaan Sewaktu Pulang Crosstabulation

89 34 40 163

83.9 33.9 45.2 163.0

54.6% 20.9% 24.5% 100.0%

85.6% 81.0% 71.4% 80.7%

44.1% 16.8% 19.8% 80.7%

5 0 6 11

5.7 2.3 3.0 11.0

45.5% .0% 54.5% 100.0%

4.8% .0% 10.7% 5.4%

2.5% .0% 3.0% 5.4%

7 0 3 10

5.1 2.1 2.8 10.0

70.0% .0% 30.0% 100.0%

6.7% .0% 5.4% 5.0%

3.5% .0% 1.5% 5.0%

2 8 5 15

7.7 3.1 4.2 15.0

13.3% 53.3% 33.3% 100.0%

1.9% 19.0% 8.9% 7.4%

1.0% 4.0% 2.5% 7.4%

1 0 0 1

.5 .2 .3 1.0

100.0% .0% .0% 100.0%

1.0% .0% .0% .5%

.5% .0% .0% .5%

0 0 2 2

1.0 .4 .6 2.0

.0% .0% 100.0% 100.0%

.0% .0% 3.6% 1.0%

.0% .0% 1.0% 1.0%

104 42 56 202

104.0 42.0 56.0 202.0

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total PIS

PSA

PSD

PIS & PSA

PIS & PSD

PSA & PSD Hasil

CT-Scan

Total

PBJ PAPS Meninggal

Keadaan Sewaktu Pulang


(2)

Lokasi Perdarahan * Keadaan Sewaktu Pulang Crosstabulation

51 25 20 96

49.4 20.0 26.6 96.0

53.1% 26.0% 20.8% 100.0%

49.0% 59.5% 35.7% 47.5%

25.2% 12.4% 9.9% 47.5%

45 12 28 85

43.8 17.7 23.6 85.0

52.9% 14.1% 32.9% 100.0%

43.3% 28.6% 50.0% 42.1%

22.3% 5.9% 13.9% 42.1%

5 3 7 15

7.7 3.1 4.2 15.0

33.3% 20.0% 46.7% 100.0%

4.8% 7.1% 12.5% 7.4%

2.5% 1.5% 3.5% 7.4%

3 2 1 6

3.1 1.2 1.7 6.0

50.0% 33.3% 16.7% 100.0%

2.9% 4.8% 1.8% 3.0%

1.5% 1.0% .5% 3.0%

104 42 56 202

104.0 42.0 56.0 202.0

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

Count Expected Count % within Lokasi Perdarahan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Lokasi Perdarahan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Lokasi Perdarahan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Lokasi Perdarahan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Lokasi Perdarahan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Basal Ganglia

Serebrum

Batang Otak

Serebelum Lokasi

Perdarahan

Total

PBJ PAPS Meninggal

Keadaan Sewaktu Pulang

Total

Tindakan Medis * Keadaan Sewaktu Pulang Crosstabulation

94 39 45 178

91.6 37.0 49.3 178.0

52.8% 21.9% 25.3% 100.0%

90.4% 92.9% 80.4% 88.1%

46.5% 19.3% 22.3% 88.1%

10 3 11 24

12.4 5.0 6.7 24.0

41.7% 12.5% 45.8% 100.0%

9.6% 7.1% 19.6% 11.9%

5.0% 1.5% 5.4% 11.9%

104 42 56 202

104.0 42.0 56.0 202.0

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

Count Expected Count % within Tindakan Medis % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Tindakan Medis % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Tindakan Medis % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total T.konservatif

T.operatif Tindakan

Medis

Total

PBJ PAPS Meninggal

Keadaan Sewaktu Pulang


(3)

Crosstabs

Case Processing Summary

202 100.0% 0 .0% 202 100.0%

Hasil CT-Scan * Keadaan Sewaktu Pulang

N Percent N Percent N Percent

Valid Missing Total

Cases

Hasil CT-Scan * Keadaan Sewaktu Pulang Crosstabulation

89 34 40 163

83.9 33.9 45.2 163.0

54.6% 20.9% 24.5% 100.0%

85.6% 81.0% 71.4% 80.7%

44.1% 16.8% 19.8% 80.7%

5 0 6 11

5.7 2.3 3.0 11.0

45.5% .0% 54.5% 100.0%

4.8% .0% 10.7% 5.4%

2.5% .0% 3.0% 5.4%

7 0 3 10

5.1 2.1 2.8 10.0

70.0% .0% 30.0% 100.0%

6.7% .0% 5.4% 5.0%

3.5% .0% 1.5% 5.0%

3 8 7 18

9.3 3.7 5.0 18.0

16.7% 44.4% 38.9% 100.0%

2.9% 19.0% 12.5% 8.9%

1.5% 4.0% 3.5% 8.9%

104 42 56 202

104.0 42.0 56.0 202.0

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

51.5% 20.8% 27.7% 100.0%

Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Keadaan Sewaktu Pulang % of Total PIS

PSA

PSD

Kombinasi Hasil

CT-Scan

Total

PBJ PAPS Meninggal

Keadaan Sewaktu Pulang

Total

Chi-Square Tests

18.778a 6 .005

22.697 6 .001

4.846 1 .028

202 Pearson Chi-Square

Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

6 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.08.

a.

Oneway

Descriptives Lama Rawatan

163 9.19 10.094 .791 7.63 10.75 1 67

11 7.82 5.811 1.752 3.91 11.72 1 16

10 7.50 9.132 2.888 .97 14.03 1 31

15 5.53 6.917 1.786 1.70 9.36 1 24

1 7.00 . . . . 7 7

PIS PSA PSD PIS & PSA PIS & PSD

N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound 95% Confidence Interval for

Mean


(4)

Test of Homogeneity of Variances

Lama Rawatan

.557

a

4

196

.694

Levene

Statistic

df1

df2

Sig.

Groups with only one case are ignored in computing

the test of homogeneity of variance for Lama Rawatan.

a.

ANOVA

Lama Rawatan

259.605

5

51.921

.557

.733

18282.974

196

93.280

18542.579

201

Between Groups

Within Groups

Total

Sum of

Squares

df

Mean Square

F

Sig.

Crosstabs

Case Processing Summary

202

100.0%

0

.0%

202

100.0%

Hasil CT-Scan *

Letak Kelumpuhan

N

Percent

N

Percent

N

Percent

Valid

Missing

Total

Cases

Hasil CT-Scan * Letak Kelumpuhan Crosstabulation

4 136 23 163

5.6 125.1 32.3 163.0

2.5% 83.4% 14.1% 100.0%

57.1% 87.7% 57.5% 80.7%

2.0% 67.3% 11.4% 80.7%

0 3 8 11

.4 8.4 2.2 11.0

.0% 27.3% 72.7% 100.0%

.0% 1.9% 20.0% 5.4%

.0% 1.5% 4.0% 5.4%

1 7 2 10

.3 7.7 2.0 10.0

10.0% 70.0% 20.0% 100.0%

14.3% 4.5% 5.0% 5.0%

.5% 3.5% 1.0% 5.0%

2 9 7 18

.6 13.8 3.6 18.0

11.1% 50.0% 38.9% 100.0%

28.6% 5.8% 17.5% 8.9%

1.0% 4.5% 3.5% 8.9%

7 155 40 202

7.0 155.0 40.0 202.0

3.5% 76.7% 19.8% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

3.5% 76.7% 19.8% 100.0%

Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Letak Kelumpuhan % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Letak Kelumpuhan % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Letak Kelumpuhan % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Letak Kelumpuhan % of Total Count Expected Count % within Hasil CT-Scan % within Letak Kelumpuhan % of Total PIS

PSA

PSD

Kombinasi Hasil

CT-Scan

Total

Tidak ada Hemiparesis Paraparesis Letak Kelumpuhan


(5)

Chi-Square Tests

32.866

a

6

.000

26.313

6

.000

3.367

1

.067

202

Pearson Chi-Square

Likelihood Ratio

Linear-by-Linear

Association

N of Valid Cases

Value

df

Asymp. Sig.

(2-sided)

6 cells (50.0%) have expected count less than 5. The

minimum expected count is .35.

a.

Crosstabs

Case Processing Summary

202 100.0% 0 .0% 202 100.0%

Hasil CT-Scan * Tindakan Medis

N Percent N Percent N Percent

Valid Missing Total

Cases

Hasil CT-Scan * Tindakan Medis Crosstabulation

146

17

163

143.6

19.4

163.0

89.6%

10.4%

100.0%

82.0%

70.8%

80.7%

72.3%

8.4%

80.7%

11

0

11

9.7

1.3

11.0

100.0%

.0%

100.0%

6.2%

.0%

5.4%

5.4%

.0%

5.4%

5

5

10

8.8

1.2

10.0

50.0%

50.0%

100.0%

2.8%

20.8%

5.0%

2.5%

2.5%

5.0%

16

2

18

15.9

2.1

18.0

88.9%

11.1%

100.0%

9.0%

8.3%

8.9%

7.9%

1.0%

8.9%

178

24

202

178.0

24.0

202.0

88.1%

11.9%

100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

88.1%

11.9%

100.0%

Count

Expected Count

% within Hasil CT-Scan

% within Tindakan Medis

% of Total

Count

Expected Count

% within Hasil CT-Scan

% within Tindakan Medis

% of Total

Count

Expected Count

% within Hasil CT-Scan

% within Tindakan Medis

% of Total

Count

Expected Count

% within Hasil CT-Scan

% within Tindakan Medis

% of Total

Count

Expected Count

% within Hasil CT-Scan

% within Tindakan Medis

% of Total

PIS

PSA

PSD

Kombinasi

Hasil

CT-Scan

Total

T.konservatif

T.operatif

Tindakan Medis

Total

Chi-Square Tests

15.700

a

3

.001

11.838

3

.008

1.867

1

.172

202

Pearson Chi-Square

Likelihood Ratio

Linear-by-Linear

Association

N of Valid Cases

Value

df

Asymp. Sig.

(2-sided)


(6)

Oneway

Descriptives Lama Rawatan

104 13.03 11.061 1.085 10.88 15.18 1 67

42 3.69 2.841 .438 2.81 4.58 1 12

56 4.41 5.356 .716 2.98 5.84 1 24

202 8.70 9.605 .676 7.37 10.03 1 67

PBJ PAPS Meninggal Total

N Mean Std. Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound 95% Confidence Interval for

Mean

Minimum Maximum

Test of Homogeneity of Variances

Lama Rawatan

15.151

2

199

.000

Levene

Statistic

df1

df2

Sig.

ANOVA

Lama Rawatan

4033.136

2

2016.568

27.658

.000

14509.443

199

72.912

18542.579

201

Between Groups

Within Groups

Total

Sum of

Squares

df

Mean Square

F

Sig.

NPar Tests

Kruskal-Wallis Test

Ranks

104

136.22

42

64.86

56

64.51

202

Keadaan Sewaktu Pulang

PBJ

PAPS

Meninggal

Total

Lama Rawatan

N

Mean Rank

Test Statistics

a,b

76.164

2

.000

Chi-Square

df

Asymp. Sig.

Lama

Rawatan

Kruskal Wallis Test

a.

Grouping Variable: Keadaan Sewaktu Pulang

b.