KOMPETENSI LULUSAN MATERI PEMBELAJARAN PROSES PEMBELAJARAN PENILAIAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Penelitian yang Relevan

kurikulum. Menurut Mulyasa, 2013 kesenjangan kurikulum dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini: Tabel. 1 Identifikasi Kesenjangan Kurikulum KONDISI SAAT INI KONSEP IDEAL

A. KOMPETENSI LULUSAN

1 Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter 1 Berkarakter mulia 2 Belum menghasilkan keterampilan sesuai kebutuhan 2 Keterampilan yang relevan 3 Pengetahuan-pengetahuan lepas 3 Pengetahuan-pengetahuan terkait

B. MATERI PEMBELAJARAN

1 Belum relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan 1 Relevan dengan materi yang dibutuhkan 2 Beban belajar terlalu berat 2 Materi esensial 3 Terlalu luas, kurang mendalam 3 Sesuai dengan tingkat perkembangan anak

C. PROSES PEMBELAJARAN

1 Berpusat pada guru 1 Berpusat pada peserta didik 2 Proses pembelajaran berorientasi pada pada buku teks 2 Sifat pembelajaran yang kontekstual 3 Buku teks hanya memuat materi bahasan 3 Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan

D. PENILAIAN

1 Menekankan aspek kognitif 1 Menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proposional 2 Tes menjadi cara penilaian yang dominan 2 Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi

E. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

1 Memenuhi kompetensi profesi saja 1 Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal 2 Fokus pada ukuran kinerja PTK 2 Motivasi mengajar

F. PENGELOLAAN KURIKULUM

1 Satuan pendidikan mempunyai pembebasan dalam pengelolaan 1 Pemerintah pusat dan daerah memiliki kendali kualitas kurikulum dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan 2 Masih terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah. 2 Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 3 Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran 3 Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman Berdasarkan tantangan internal, tantangan eksternal dan kesenjangan kurikulum tersebut, maka salah satu langkah yang perlu diperhatikan adalah penyempurnaan pola pikir. Penyempurnaan pola pikir sangat mempengaruhi pendidikan. Beberapa contoh pola pikir dalam pembelajaran adalah adanya transformasi pendidikan yaitu dari pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa dan dari pembelajaran satu arah interaksi antara guru dan siswa menjadi pembelajaran interaktif interaksi antara guru, siswa dan lingkungan, oleh karena itu penyempurnaan pola pikir sangat diperlukan dalam dunia pendidikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik dan benar. Penyempurnaan pola pikir perumusan Kurikulum 2004, KTSP dan Kurikulum 2013 dapat dilihat di Tabel 2, Mulyasa, 2013. Tabel 2. Penyempurnaan Pola Pikir No. KBK 2004 KTSP 2006 Kurikulum 2013 1. Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar Isi Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan 2. Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan Mata Pelajaran Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran 3. Pemisahan antara mata pelajaran pembentukan sikap, pembentukan keterampilan, dan pembentukan pengetahuan Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan 4. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai 5. Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran Semua mata pelajaran diikat oleh Kompetensi Inti tiap kelas terpisah Mulyasa 2013 menyatakan bahwa terdapat empat elemen penting yang menjadi dasar perubahan Kurikulum 2013 yaitu, Standar Kompetensi Lulusan SKL, Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian. Elemen perubahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini: Tabel 3. Elemen Perubahan Kurikulum 2013 ELEMEN DESKRIPSI SD Kompetensi Lulusan Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan Kedudukan mata pelajaran ISI Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi Pendekatan ISI Kompetensi dikembangkan melalui: Tematik terpadu dalam semua mata pelajaran Struktur Kurikulum Mata Pelajaran dan alokasi waktu ISI - Holistik dan integratif berfokus kepada alam, sosial dan budaya - Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan sains - Jumlah mata pelajaran dari 10 menjadi 6 - Jumlah jam bertambah 4 JPminggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran Proses pembelajaran - Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. - Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat - Guru bukan satu-satunya sumber belajar. - Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan Tematik dan terpadu Penilaian - Penilaian berbasis kompetensi - Pergeseran dari penilaian melalui tes mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja, menuju penilaian otentik mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil - Memperkuat PAP Penilaian Acuan Patokan yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal maksimal - Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga pada kompetensi inti dan SKL - Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian Ekstrakurikuler - Pramuka wajib - UKS - PMR - Bahasa Inggris

b. Pendidikan karakter

Narwanti 2011, mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Rutland dalam Hidayatullah 2010, mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah kualitas dan kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penegak, serta yang membedakan dengan individu lain. Menurut Maksudin 2013, karakter adalah ciri khas setiap individu berkenaan dengan jati dirinya daya qalbu, yang merupakan saripati kualitas batiniahrohaniah, cara berpikir, cara berperilaku sikap dan perbuatan lahiriah hidup seseorang dan bekerjasama baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun negara. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana berdasarkan potensi alami given serta melalui proses yang dikehendaki willed untuk mencapai kepribadian yang utuh melalui pendidikan. Karakter merupakan dasar terbentuknya hubungan manusia. Menurut Maksudin 2013, terdapat empat karakter yang dimiliki manusia di antaranya adalah 1 hubungan manusia dengan sang pencipta, 2 hubungan manusia dengan alam 3 hubungan manusia dengan manusia, dan 4 hubungan manusia dengan kehidupan dirinya di dunia-akhirat. Menurut Maksudin 2013, secara umum kebebasan dibagi menjadi dua bagian yaitu kebebasan individualitas dan kebebasan memilih. Kedua kebebasan ini dituntut untuk bertanggungjawab saat berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, oleh karena itu karakter yang dibangun harus seimbang agar karakter yang dimiliki harus baik, terkontrol dan seimbang antara satu dengan yang lain. Maksudin 2013, mengemukakan empat karakter yang seimbang adalah: 1 Hikmah adalah kondisi jiwa seseorang dapat mengetahui yang benar dan yang salah terhadap semua perbuatan yang dilakukan secara iklas. 2 Keberanian adalah kondisi kekuatan kemarahan yang dapat ditaklukan oleh akal akan melakukan atau sebaliknya. 3 Kesucian diri adalah melatih kekuatan syahwat dengan kendali akal dan syariat agama. 4 Keadilan adalah kondisi jiwa dan kekuatannya yang memimpin kemarahan dan syahwat, dan membimbingnya untuk berjalan sesuai dengan tuntunan hikmah, berpegang teguh pada kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Jika keempat karakter ini terwujud dengan seimbang maka terwujudlah karakter yang mulia. Dengan penerapan pendidikan karakter dapat diafirmasikan sesuatu yang positif terkait dengan pendidikan. Dalam Kurikulum 2013, pendidikan karakter merupakan hal yang paling diutamakan untuk semua jenjang pendidikan. Pendidikan karakter terbentuk melalui pendidikan agama, karena di dalam pendidikan agama tersirat nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

c. Pendekatan Tematik Integratif

1 Pengertian Pendekatan Tematik Integratif Kurikulum 2013 ini memiliki ciri khas tertentu dengan pendekatan tematik integratif, melihat dengan penyempurnaan pola pikir penyempurnan pendidikan, perlunya model pembelajaran yang kontekstual yang memberikan dorongan terhadap pembelajaran peserta didik. Menurut Ahmadi dan Amri 2014, dalam rencana penerapan Kurikulum 2013 disajikan model pendekatan tematik integratif, yang berbeda dari kurikulum sebelumnya. Pada pola tematik intergratif bahan ajar yang disediakan berdasarkan tema yang merupakan gabungan dari mata pelajaran yang relevan, sistem pembelajaran tematik integratif ini upaya penyederhanaan mata pelajaran yang bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda yang siap dalam menghadapi masa depan. Siswa diharapkan mampu mengembangkan nalar dibandingkan hafalan, melalui proses pembelajaran dalam melakukan observasi, bertanya, dan mengkomunikasikan apa yang mereka peroleh dan menerima materi pembelajaran. Menurut Ahmadi dan Amri 2014, metode pendekatan tematik integratif adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata materi ajar sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada peserta didik. Tema adalah pokok pemikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Tema inilah yang akan menjadi penggerak mata pelajaran lainnya dalam keutuhan proses pembelajaran. Melalui pendekatan tematik integratif siswa diarahkan untuk dapat mengahadapi fenomena alam, sosial, seni, dan budaya, untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik. Guru juga diharapkan mampu menggali dan memancing potensi yang ada pada siswa. 2 Prinsip-prinsip pendekatan integratif Pembelajaran tematik integratif memiliki prinsip-prinsip yang berkenaan yaitu 1 memiliki suatu tema yang aktual, dekat dengan peserta didik dan ada dalam kehidupan sehari-hari, 2 pemilihan materi pada beberapa muatan pelajaran yang saling terkait, 3 tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku tetapi harus mendukung pencapaian tujuan yang telah ditentukan pada kurikulum, 4 materi pelajaran dapat dikaitkan dalam tema dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik sebagai minat, kemampuan, kebutuhan dan pengetahuan awal, dan 5 tidak memaksakan materi pelajaran yang dipadukan Majid, 2014. 3 Ciri-ciri pendekatan tematik integratif Pendekatan Integratif memiliki cirri-ciri sebagai berikut, a Pembelajaran berpusat pada siswa untuk menempatkan siswa sebagai subjek belajar, b memberikan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata, c pemisahan pembelajaran tidak begitu jelas, fokus kepada pembahasan tema-tema, dan d bersifat fleksibel, mengaikan dengan kehidupan siswa dan lingkungan sekolah Majid, 2014:89. 4 Manfaat pendekatan tematik integratif Tematik integratif memiliki kelebihan berkenaan yaitu a pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relavan dengan tingkat perkembangan anak, b kegiatan dapat disesuikan dengan kebutuhan dan minat siswa, c pembelajaran yang menumbuhkembangkan keterampilan berfikir, dan sosial peserta didik, dan d pembelajaran dirancang bersama dapat meningkatkan kerjasama anatara guru bidang kajian terkait guru dengan peserta didik Majid, 2014. Abdul Majid 2014, mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu konsep atau pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi, sehingga memberikan pengalaman langsung bagi siswa secara bermakna, yaitu dengan cara merumuskan model keterhubungan connected, model laba-laba webbed, dan model keterpaduan integrated. Model keterhubungan adalah sebuah model penyajian pembelajaran yang menghubungkan materi satu dengan materi yang lain secara terpadu. Menghubungkan tugasketerampilan yang satu dengan tugasketrampilan yang lain. Keunggulan model ini, peserta didik memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok dikembangkan secara terus menerus tematik Kurikulum 2013. Menurut tematik Kurikulum 2013 model keterhubungan tersebut dapat digambarkan pada gambar 1 di bawah ini: Gambar 1. Model Pembelajaran Keterhubungan 1. 3. 2. 4. Keterangan: : Matematika : IPA : IPS Penjelasan: Pada kolom ke-4, ketiga mata pelajaran tersebut saling berhubungan dan ditandai dengan garis lurus yang menghubungkan ketiga mata pelajaran tersebut. Menurut tematik Kurikulum 2013 model pembelajaran laba-laba ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan berdasarkan sub-sub tema yang sudah ditentukan. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda: Model pembelajaran ini dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini: Gambar 2. Model Pembelajaran Laba-Laba Keterangan: Penjelasan: Dari keenam mata pelajaran di atas, akan dipadukan dengan satu tema yang terkait. Jadi setiap mata pelajaran saling berhubungan dengan mata pelajaran lainnya dengan satu tema. Model pembelajaran terpadu menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan. Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan yang tumpang tindih dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai dan keterampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai mata pelajaran. Keuntungan model pembelajaran ini bagi peserta didik adalah lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran. Model inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di Kurikulum 2013. Rusman 2013, memaparkan bahwa model pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajran terpadu integrated instruction yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep sehingga siswa dapat belajar secara holistik menyeluruh, bermakna tahan lama, dan autentik. Matematika IPS B. Indonesia SBdP PJOK IPA TEMA Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan tematik integratif merupakan pendekatan yang mengitegrasikan atau mengaitkan atau memadukan beberapa muatan mata pelajaran yang akan diajarkan secara bersama-sama melalui satu tema. Jadi, dengan pendekatan tematik integrative, satu tema terdiri dari beberapa mata pelajaran yang saling berkaitan.

d. Pendekatan saintifik

1. Pengertian Pendekatan Saintifik Menurut Kemendikbud 2013, pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah suatu pendekatan ilmiah yang dirancang dengan memperhatikan tahapan-tahapan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Tujuan dari metode ilmiah ini adalah agar terciptanya peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. 2. Langkah-langkah pendekatan saintifik a Mengamati Dalam mengamati siswa diminta menentukan obyek apa yang akan diobservasi sesuai dengan lingkup obyek yang akan diobservasi, membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup obyek yang akan diobservasi baik primer maupun sekunder, serta menentukan letak obyek yang akan diobservasi dan media-media yang akan digunakan dalam observasi. b Bertanya Selain bertanya kepada siswa, pendidik juga harus membimbing atau memandu peserta didiknya dengan baik serta mendorong peserta didik untuk menjadi penyimak yang baik. Ketika peserta didik salah dalam menjawab, maka peranan pendidik adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir ulang, tetapi peserta didik sama sekali tidak bisa menjawab maka pendidik merubah pertanyaan tersebut. Proses ini akan merangsang aspek kognitif anak dalam memecahkan masalah serta membuat peserta didik berpikir divergen bukan konvergen. c Menalar Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. d Mencoba Dimasudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan dan pengetahuan. e Membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran Dimaksudkan agar siswa mampu mengkomunikasikan hasil dari pembelajaran yang didapatnya. Dalam pendekatan saintifik, proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah yaitu, sikap attitude, keterampilan skill, dan pengetahuan knowledge Ranah sikap mengajarkan kepada siswa untuk “tahu mengapa”, ranah mengajarkan kepada siswa agar “tahu bagai mana” dan ranah sikap mengajarkan kepada siswa tentang “tahu apa”. Selain lima langkah tersebut, dalam pembelajaran juga harus menyentuh tujuh kriteria pembelajaran. Kriteria-kriteria tersebut adalah: a Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu bukan hanya sebatas kira-kira, khayalan, atau dongeng semata. b Adanya komunikasi yang interaktif antara guru dengan siswa dan lingkungan sekitar, bukan hanya komunikasi antara guru dengan siswa atau komunikasi satu arah. c Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan pembelajaran. d Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan sama lain dari materi pembalajaran. e Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola pikir, yang rasional dan obyektif dalam merespon materi pembelajaran. Berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya. Pencapaian kriteria inilah yang disebut sebagai metode ilmiah Modul guru, 2013.

e. Penilaian Otentik

Gronlund 1985 dengan jelas membedakan antara tes, pengukuran dan evaluasi. Tes merupakan sebuah instrument atau prosedur yang sistematis untuk mengukur suatu sampel tingkah laku, misalnya untuk menjawab pertanyaan “seberapa baik tinggi kinerja seseorang” yang jawabnya berupa angka. Pengukuran merupakan proses untuk memperoleh deskripsi angka skor yang menunjukkan tingkat pencapaian seseorang dalam suatu bidang tertentu, misalnya jawaban pertanyaan “seberapa banyak”. Penilaian merupakan proses sistematis dalam pengumpulan, analisis, dan penafsiran informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Penilaian otentik sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia pendidikan walau di Indonesia hal itu terkesan baru. Penilaian otentik baru ramai-ramai dibicarakan setelah pelaksanaan KTSP menyarankan penggunaan pembelajaran kontekstual, dan di pihak lain, penggunaan strategi pembelajaran itu menunjuk penggunaan penilaian otentik dalam hal pengukuran hasil pembelajaran peserta didik. Penilaian otentik merupakan penilaian terhadap tugas-tugas yang menyerupai kegiatan membaca dan menulis sebagaimana halnya di dunia nyata dan di sekolah. Tujuan dari penilaian otentik adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, sehingga keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada peserta didik untuk membaca berbagai teks aktual-realistik, menulis topik- topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, mengedit tulisan sampai siap cetak. Dalam kegiatan itu baik materi pembelajaran maupun penilaiannya terlihat atau bahkan alamiah. Jadi, penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoritis. Penilaian otentik menuntut pembelajaran mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengreasikan jawaban atau produk. Penilaian otentik mementingkan penilaian proses dan penilaian hasil sekaligus. Dengan demikian, seluruh tampilan peserta didik dalam rangkaian kegiatan pembelajaran dapat dinilai secara objektif, apa adanya, dan tidak semata-mata hanya berdasarkan hasil akhir produk saja. Otentik dapat berarti dan sekaligus menjamin objektivitas, nyata, benar-benar hasil tampilan peserta didik, akurat, dan bermakna. Jadi, dengan menggunakan model penilaian otentik dalam kerja pengukuran hasil pembelajaran, hal itu sekaligus menjamin keadaan dan informasi yang sebenarnya tentang peserta didik. Jika seorang peserta didik mendapat nilai tinggi dalam tugas berbicara dan menulis, maka skor yang diperoleh peserta didik tersebut menunjukkan nilai hasil kompetensi yang sebenarnya. Kunandar 2014, menjelaskan bahwa Penilaian otentik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1 bisa mengukur semua aspek pembelajaran sikap, pengetahuan dan keterampilan, 2 dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar, 3 memanfaatkan berbagai sumber dan cara untuk mendukung proses pembelajaran agar terlihat menarik dan mengaktifkan siswa, 4 menggunakan tes sebagai salah satu alat pengumpul data, 5 tugas-tugas yang dberikan oleh guru harus mencerminkan kehidupan nyata siswa bersifat contextual, dan 6 menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa bersifat kualitas, Sedangkan karakteristik penilaian otentik adalah 1 bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, 2 mengukur keterampilan dan performansi, 3 berkesinambungan dan dilaksanakan secara terintegrasi, dan 4 digunakan sebagai feed back umpan balik. Menurut Mulyasa, 2013 prinsip-prinsip penilaian otentik adalah: 1 Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. 2 Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan. 3 Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. 4 Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak. 5 Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya. 6 Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru. Mueller 2008, mengemukakan sejumlah langka-langkah yang perlu ditempuh dalam pengembangan asesmen otentik, yakni meliputi i penentuan standar, ii penentuan tugas otentik, iii pembuatan criteria, dan iv pembuatan rubrik. 1 Penentuan standar Standar dimaksudkan sebagai sebuah pernyataan tentang apa yang harus diketahui dan dilakukan pembelajar. Standar dapat diobservasi dan diukur ketercapaiannya. Istilah umum yang dipakai di dunia pendidikan di Indonesia untuk standar adalah kompetensi sebagaiman terlihat pada KBK dan KTSP. Dalam kurikulum tersebut dikenal adanya istilah standar kompetensi lulusan dan kompetensi dasar. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan PP No. 19 Tahun 2005, sedangkan kompetensi dasar adalah kompetensi atau standar minimal yang harus dicapai atau dikuasai oleh pembelajar. Kompetensi menjadi acuan dan tujuan yang ingin dicapai dalam keseluruhan proses pembelajaran. Oleh karena itu, kompetensi apa yang akan dicapai haruslah yang pertama-tama ditetapkan. Standar kompetensi dan kompetensi dasar masih abstrak, maka kompetensi dasar kemudian dijabarkan menjadi sebuah indikator yang lebih operasional sehingga jelas kemampuan, keterampilan, atau kinerja apa yang menjadi sasaran pengukuran. Jadi, penentuan standar di sini tidak lain adalah penentuan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang menjadi acuan bersama kegiatan pembelajaran dan penilaian. 2 Penentuan tugas otentik Tugas otentik adalah tugas-tugas yang secara nyata dibebankan atau harus dilakukan oleh pembelajar untuk mengukur pencapaian kompetensi yang dibelajarkan, baik ketikan kegiatan pembelajaran sedang berlangsung maupun ketika sudah berakhir. Tugas otentik sering disinonimkan dengan penilaian otentik walau sebenarnya cakupan makna yang kedua lebih luas. Pemilihan tugas otentik haruslah merujuk pada kompetensi mana yang akan diukur. Inilah yang khas dari penilaian otentik, pemilihan tugas-tugas itu haruslah mencerminkan keadaan atau kebutuhan yang sesungguhnya di dunia nyata. Jadi, dalam sebuah penilaian otentik mesti terkandung dua hal sekaligus sesuai dengan standar kompetensi dan relevan bermakna dengan kehidupan nyata. Dua hal tersebut haruslah menjadi acuan kita ketika membuat tugas-tugas otentik untuk mengeukur pencapaian kompetensi pembelajaran kepada peserta didik. 3 Pembuatan kriteria Kriteria merupakan pernyataan yang menggambarkan tingat capaian dan bukti-bukti nyata capaian belajar seubjek belajar dengan kualitas tertentu yang diinginkan. Kriteria lazimnya juga telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, kriteria lebih dikenal dengan sebutan indikator. Dalam lingkup penilaian otentik, sebuah kriteria penilaian hasil belajar harus cocok dengan kompetensi yang dibelajarkan dan sekaligus bermakna atau relevan dengan kehidupan nyata. Jumlah kriteria yang dibuat bersifat relatif, tetapi sebaiknya dibatasi, dan yang pastinya kriteria harus mengungkap capaian hal-hal yang esensial dalam sebuah standar kompetensi karena hal itu yang menjadi inti penguasaan terhadap kompetensi pembelajaran. Selain itu, pembuatan kriteria haruslah mengacu pada ketentuan- ketentuan yang selama ini dinyatakan baik, baik dalam arti efektif untuk keperluan penilaian hasil belajar. Ketentuan-ketentuan itu antara lain i tugas harus dirumuskan secara jelas, ii singkat padat, iii, dapat diukur, dan karenanya haruslah dipergunakan kata-kata kerja operasional, iv menunjuk pada tingkah laku hasil belajar, apa yang mesti dilakukan dan bagaimana kualitas yang dituntut, dan v sebaiknya ditulis dalam bahasa yang dipahami oleh peserta didik. 4 Pembuatan rubrik Rubrik dapat dipahami sebagai sebuah skala penyekoran yang dipergunakan untuk menilai kinerja peserta didik untuk tiap kriteria terhadap tugas-tugas tertentu Mueller, 2008. Rubrik dipergunakan untuk menentukan tinggi rendahnya pencapaian kinerja peserta didik. Dalam sebuah rubrik terdapa dua hal pokok yang harus dibuat, yaitu kriteria dan tingkat capaian kinerja tiap kriteria. Kriteria berisi hal-hal esensial yang ingin diukur tingkat capaian kinerjanya yang secara esensial dan konkrit mewakili kompetensi yang diukur capaiannya. Kriteria haruslah dirumuskan atau dinyatakan singkat padat, komunikatif dengan bahasa yang gramatikal, dan benar-benar mencerminkan kompetensi yang diukur. Dalam sebuah rubrik, kriteria mungkin saja dilabeli dengan kata-kata tertentu yang lebih mencerminkan isi, misalnya denga kata “unsur yang dinilai”. Tingkat capaian kinerja umumnya ditunjukkan berupa angka-angka, dan yang lazim adalah 1-4 atau 1-5, besar kecilnya angka sekaligus menunjukkan tinggi rendahnya capaian. Tiap angka tersebut biasanya mempunyai deskripsi verbal yang diwakili. Skor 5 menunjukkan kinerja sangat meyakinkan dan bermakna, sedangkan skor 2,3 dan 4 secara berturut- turut menunjukkan semakin baiknya kinerja dan kebermaknaannya. Bunyu deskripsi verbal haruslah sesuai dengan rubrik yang akan diukur. Penilaian tingkat pencapaian kinerja seorang peserta didik dilakukan dengan menandai angka-angka yang sesuai. Rubrik lazimnya ditampilkan dalam bentuk tabel, kriteria ditampilkan di sebelah kiri dan capaian di sebelah kanan tiap kriteria. Rubrik dapat juga dibuat secara analitis dan holistik. Rubrik analitis menunjuk pada rubrik yang memberikan penilaian tersendiri untuk tiap kriteria. Jadi, tiap kriteria mempunya nilai tersendiri. Pada umumnya rubrik bersifat analisis. Rubrik holistik di pihak lain adalah yang tidak memberikan penilaian capaian untuk tiap kriteria. Penilaian capaian kinerja diberikan secara menyeluruh untuk seluruh kriteria sekaligus. Misalnya, penilaian diberikan dalam pernyataan verbal seperti: sedang, cukup, baik, amat baik; atau kurang memuaskan, memuaskan, amat memuaskan. Ada beberapa jenis penilaian otentik, antara lain: 1 Penilaian kinerja Kemampuan kinerja dimaksudkan untuk menguji kemampuan peserta didik dalam mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, mengeujia apa yang mereka ketahui dan dapat dilakukan, sebagaimana ditemukan dalam situasi nyata dan dalam konteks tertentu. 2 Wawancara lisan Wawancara lisan sebenarnya dapat juga disebut sebagai penilaian kinerja kebahasaan. Sesuai dengan namanya, dalam aktivitas ini terjadi tanya jawab antara pihak yang diwawancarai peserta didik dan wawancara guru, penguji tentang apa saja yang diinginkan terkait informasi oleh pewawancara. Namun, dalam konteks penilaian hasil pembelajaran bahasa tujuan utam kegiatan itu adalah untuk menialai kompetensi peserta didik membahasakan secara lisan informasi yang ditanyakan pewawancara dengan benar. Dalam konteks asesmen otentik benar atau kurang benarnya bahasa peserta didik tidak semata-mata dinilai dari ketepatan struktur kosa kata, melainkan ketepatan atau kejelasan informasi yang disampaikan sebagaimana halnya fungsi bahasa yang sebagai sarana komunikasi. 3 Pertanyaan terbuka Penilaian dilakukan dengan memberikan penilaian stimulus atau tugas yang harus dijawab atau dilakukan oleh peserta didik secara tertulis atau lisan. Pertanyaan bukan sekadar pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban singkat dengan satu atau beberapa kata atau ya atau tidak. Pertanyaan haruslah yang memaksa peserta didik untuk mengreasikan jawaban yang sekaligus mencerminkan penguasaannya terhadap pengetahuan tertentu. Jadi, jawaban yang diberikan peserta didik meski berupa uraian yang menunjukan kualitas berpikir, mengembangkan argumentasi, menjelaskan sebab akibat sesuatu, dan akhirnya sampai pada kesimpulan. Namun, pertanyaan haruslah dibatasi pada persoalan tertentu tertentu yang bermakna sehingga jawabannya relatif terbatas. Kemampuan peserta didik memilih atau mengreasikan pesan dan bahasa secara akurat dan tepat mencerminkan kualitas berpikir tingkat tinggi. 4 Menceritakan kembali teks atau cerita Pemberian tugas menceritakan kembali biasanya dilakukan untuk mengukur pemahaman wacana yang didengar atau dibaca secara lisan atau tertulis. Pada prinsipnya terjadi integrasi antara beberapa kemampuan berbahasa. Misalnya, wacana yang dibaca teks bacaan dapat diceritakan kembali secara lisan dan tertulis. Kompetensi yang demikian dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, maka tugas ini cukup bermakna. Penilaian terhadap kinerja peserta didik, selain memperhitungkan ketepatan unsur kebahasaan, juga harus melibatkan ketepatan dan keakuratan isi atau informasi yang terkandung dalam wacana. Seain itu wacana yang dipilih untuk diperdengarkan atau dibaca haruslah kontekstual, relevan, dan yang sesuai dengan perkembangan pengalaman peserta didik. 5 Portofolio Guru tentu sudah akrab dengan metode model ini, namun permasalahannya adalah bagaimana membuat, mendapatkan, dan mempergunakan portofolio peserta didik untuk menilai capaian pembelajarannya. Portofolio merupakan kumpulan karya peserta didik yang dikumpulkan secara sengaja, terencana, dan sistemik yang kemudian di analisis secara cermat untuk menunjukan perkembangan kemajuan mereka setiap waktu. Maka, seperti dikemukakan oleh Callison 2009, portofolio sebagai salah satu asesmen otentik tepat dipakai dalam penilaian proses. Jika ada banyak karya yang dihasilkan peserta didik lewat berbagai tugas, mungkin berbagai macam karya tulis, CD harian, atau hal-hal lain yang diberikan pihak lain seperti catatan harian, rekomendasi, dan piagam, perlu dipilih secara selektif karya-karya mana saja yang dapat dijadikan bahan untuk portofolio dengan mempergunakan kriteria tertentu. Misalnya, tugas-tugas yang relevan, bermakna, dan mengambarkan kemajuan serta capaian belajar. 6 Proyek Proyek merupakan bentuk penugasan untuk menghasilkan karya tertentu yang dilakukan secara berkelompok misalnya tiga orang dalam kaitannya dengan penilaian hasil pembelajaran. Hasil kerja akhir proyek dapat berbentuk laporan tertulis, rekaman video, gabungan keduanya atau yang lain. Jadi, ia dapat berwujud tulisan, gambar, suara, aksi, atau perpaduan semuanya. Tugas proyek dapat berupa tugas melakukan penelitian kecil-kecilan tetapi besar buat peserta didik. Misalnya, menganalisis unsur-unsur fiksi, menganalisis kandungan makna puisi anak-anak di koran minggu, menganalisis tajuk rencana bermuatan pendidikan di koran, mementaskan drama, dan lain-lain. Pemilihan toppik proyek sebaiknya didiskusikan dengan peserta didik dan dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Tugas proyek merupakan kegiatan investigasi sejak perencanaan, pengumplan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data Depdiknas, 2006, sampai pembuatan laporan. Untuk melakukan tugas ini, peserta didik diharapkan mampu bekerja bersama, pembagian tugas, berdiskusi, dan pemecahan masalah yang semuanya merupakan usaha kolaboratif. Maka, tugas proyek dapat menunjukan kemampuan peserta didik dalam hal penguasaan pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis informasidata, sampai dengan pemaknaan dan penyimpulan. tugas proyek ini baik untuk dilaksanakan disekolah, namun cukup banyak menyita waktu, dilaksanakan sekali dalam satu semester tampaknya sudah cukup memadai. Penilaian otentik merupakan suatu bentuk tugas yang menghendaki pembelajaran untuk menunjukan kinerja secara bermakna yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Penilaian otentik meski berupa penilaian kinerja dan mesti bermakna, dalam arti tugas-tugas kinerja itu mencerminkan kebutuhan hidup di dunia nyata seperti dunia pekerjaan. Dalam penialaian kompetensi berbahasa, penilaian kinerja mesti berupa kinerja berbahasa secara aktif-produktif yang berupa berbagai aktivitas berbicara dan menulis yang membutuhkan konteks jelas. Penilaian otentik dipergunakan untuk penilaian proses dan memoergunakan rubrik untuk penyekoran. Penilaian otentik berfungsi saling melengkapi dengan penilaian tradisional yang berbentuk objektif. Bentuk penilaian otentik antara lain berupa penialaian kinerja berbagai bentuk berbicara dan menulis, wawancara, menceritakan kembali teks atau cerita, membuat rangkuman, pertanyaan terbuka, portofolio, proyek, penilaian pribadi, dan jurnal. Prioritas Pembelajaran Bahasa BI adalah capaian kompetensi berbahasa. Maka, masalahnya adalah bagaimana mengreasikan berbagai pengujian kompetensi bahasa, berbahasa, dan bersastra itu ke dalam model penilaian otentik.

2. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Ada beberapa model perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan dalam Kurikulum 2013, antara lain mencakup RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, LKS Lembar Kerja Siswa, dan instrumen pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran ini dimaksudkan agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik. a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP Menurut Sanjaya dan Wina 2008, RPP merupakan program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. Menurut Kemendikbud 2013, RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP merupakan sebuah program perencanaan tatap muka yang disusun sebagai pedoman untuk mengetahui aktivitas dan kemampuan peserta didik selama proses pembelajaran dalam setiap pertemuan. Dalam penyusunan RPP seorang pendidik harus mengetahui dan mengerti setiap komponen-komponen yang terdapat dalam RPP agar rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat benar-benar saling berkaitan dan tidak terlepas dari kemampuan dan kebutuhan peserta didik, agar tujuan yang ingin dicapai setelah melakukan proses pembelajaran bisa tercapai dengn baik. Komponen-komponen yang perlu diperhatikan oleh pendidik adalah identitas sekolah, identitas mata pelajaran, kelas, semester, alokasi waktu, Kompetensi Inti KI, Kompetensi Dasar KD, indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok, pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, alat dan bahan pembelajaran, sumber belajar, langkah-langkah pembelajaran, penilaian, evaluasi, dan refleksi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif. Dalam pembelajaran tematik integratif ini, pendidik diharapkan mampu kreatif dalam mendesain proses pembelajaran agar peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran, oleh karena itu persiapan diri sebagai seorang pendidik sangat penting. Proses pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Tujuannya, agar pendidik lebih aktif mempersiapkan diri dalam proses belajar mengajar. Menurut Kemendikbud 2013, RPP tematik adalah rencana pembelajaran tematik terpadu yang dikembangkan secara rinci dari suatu tema. RPP tematik dikembangkan oleh seorang pendidik dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Mengkaji Silabus Tematik Menurut Kemendikbud 2013, silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu dalam pelaksanaan kurikulum sekolah dasar. Komponen silabus mencakup: kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Dalam Kurikulum 2013, memang silabus sudah disiapkan oleh pemerintah, tetapi peranan seorang pendidik sangat dibutuhkan dalam mengkaji silabus tersebut agar temasub tema serta langkah-langkah pembelajaran yang dipersiapkan bersentuhan langsung dengan kebutuhan peserta didik. 2.Mengkaji Buku Guru Dalam Kemendikbud 2013 hal-hal yang perlu dikaji dalam buku guru adalah: a Standar Kompetensi Lulusan SKL dan Kompetensi Inti KI b Pemetaan Kompetensi Dasar KD 1 dan 2 serta KD 3 dan 4 c Ruang lingkup pembelajaran untuk satu sub tema yang terdiri dari 6 pembelajaran dalam 1 minggu untuk kelas I d Pemetaan indikator pembelajaran untuk setiap pembelajaran e Setiap pembelajaran berisi tentang uraian kegiatan pembelajaran yang mencakup: 1 Nama kegiatan 2 Tujuan pembelajaran 3 Media dan alat pembelajaran 4 Langkah-langkah kegiatan 5 Penilaian f Setiap akhir pembelajaran, guru hendaknya melakukan kegiatan refleksi untuk melakukan kegiatan remedial dan pengayaan. 3. Mengkaji Buku Siswa Dalam mengkaji hal-hal tersebut bukan hanya berpatokan pada buku guru maupun buku siswa, tetapi seorang pendidik harus memperhatikan kebutuhan peserta didik serta hal-hal seperti media pembelajaran yang dialami dan nyata serta bisa diindrakan oleh peserta didik, agar pembelajarannya benar-benar menarik perhatian peserta didik dan tidak menimbulkan kejenuhan peserta didik selama mengikuti pembelajaran. a. Prinsip Penyusunan RPP Menurut Permendikbud 2013 dalam menyusun RPP, seorang pendidik harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1 Perbedaan individual peserta didikantara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, danatau lingkungan peserta didik. 2 Partisipasi aktif peserta didik. 3 Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian. 4 Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 5 Pemberian umpan balik dan tindak lanjutRPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. 6 Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. 7 Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. 8 Penerapan teknologi informasi dan komunikasisecara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. b. Lembar Kerja Siswa LKS Lembar kerja siswa adalah seperangkat alat pembelajaran yang telah disusun berdasarkan materi pembelajaran yang berisi tentang sola- soal yang bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Penyusunan lembar kerja siswa yang dibuat oleh peneliti mencakup ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan. Komponen dari lembar kerja siswa yang akan disusun oleh peneliti berisi nama siswa atau kelompok dan soal-soal pilihan ganda dan uraian. c. Instrumen Pembelajaran Insrumen pembelajaran adalah seperangkat pembelajaran yang berisi tentang pencapaian siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Instrumen pembelajaran yang disusun oleh peneliti berupa penilaian yang mencakup penilaian produk, penilaian hasil dan penilaian tes tertulis.

C. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Vitus Winda Ari Wismantaka yang berjudul pengembangan bahan ajar mengacu Kurikulum 2013 subtema meneladani sikap pahlawan bangsaku untuk siswa kelas IV sekolah dasar. Berdasarkan penelitian tersebut, maka keterkaitan dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama memfokuskan pada pendidikan karakter. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti akan diperluas dengan tuntutan pengembangan Kurikulum 2013. Khususnya perangkat pembelajaran yang akan dipakai oleh pendidik dalam memfasilitasi siswa selama proses pembelajaran berbasis pada pendekatan saintifik dan pendekatan tematik integratif. Selain itu peneliti juga akan menggunakan penilaian otentik penilaian menyeluruh yang dapat mengintegrasikan seluruh aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan sehingga memudahkan pendidik dalam menilai peserta didik. Berikut ini ada tiga penelitian yang relevan sesuai dengan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang mengacu Kurikulum 2013 terkait bahan ajar diantaranya : Pertama, penelitian yang berjudul “Pengembangan Bahan Ajar yang Terintegrasi dengan Pendidikan Karakter untuk Keterampilan Membaca pada Pelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas IV Semester Gasal” yang dilakukan oleh Intan Reni Wulandari 2013. Penelitian ini menghasilkan produk bahan ajar yang terintergrasi yang memodifikasi langkah-langkah model Kemp. Tahap selanjutnya adalah peneliti merencanakan tahap awal dengan membuat bahan penelitian pengembangan Borg and Gall. Penelitian tersebut memperoleh hasil rerata skor 4,26 dan termasuk kategori yang “Sangat Baik”. Setelah melakukan tahap uji dilapangan oleh sepuluh siswa kelas IV SDN II Prambanan Klaten. Dengan demikian, kualitas bahan ajar yang dikembangkan sudah layak untuk digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia keterampilan mendengarkan kelas IV semester gasal. Kedua, penelitian yan g berjudul “Pengembangan Bahan Ajar yang Terintegrasi dengan Pendidikan Karakter untuk Keterampilan Membaca pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas IV Semeseter Gasal” yang dilakukan oleh Yohana Prisca Apriyani. Penelitian menghasilkan produk modifikas dari model pengembangan Borg and Gall dan model pengembangan Kemp. Penelitian pada subjek dalam uji coba lapangan penelitian ini adalah 10 siswa kelas IV SDN Pakem 4. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap pada tahun ajaran 20122013 pada bulan Mei. Instrumen dalam penelitian ini adalah wawancara dan kuisoner. Hasil penelitian ini adalah bahan ajar yang terintegrasi dengan pendidikan karakter untuk keterampilan membaca pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV SDN Pakem 4, sehingga memperoleh hasil rerata skor produk 4,33 dan term asuk dalam kategori “Sangat Baik”. Ketiga, penelitian yan g berjudul “Pengembangan Bahan Ajar yang Terintegrasi dengan Pendidikan Karakter untuk Keterampilan Menulis pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas IV Semeseter Gasal” yang dilakukan oleh Domingos. Penelitian menghasilkan produk modifikas dari model pengembangan Borg and Gall dan model pengembangan Kemp. Penelitian ini dilakukan di SD N Langen Sari Yogyakarta semester gasal tahun ajaran 20122013, dengan sepuluh siswa dan memperoleh rerata skor 4,01 penelitian ini termasuk dalam kategori “Baik”. Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia keterampilan menulis kelas IV semester gasal. Dari ketiga point di atas, menunjukkan bahwa penelitian pada point pertama memperoleh hasil “sangat baik” dengan skor 4,26, dan pada point kedua memperoleh hasil “sangat baik” dengan skor 4,33, sedangkan hasil penelitian pada point ketiga memperoleh hasil “baik” dengan skor 4,01. Point pertama dan po int kedua memperoleh kategori “sangat baik”, sedangkan point ketiga menghasilkan nilai berbeda dengan kategori “baik”. Jadi, hasil penelitian pertama, kedua, dan ketiga memiliki perbedaan dilihat dari hasil skornya masing-masing.

D. Kerangka Pikir


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

91 2521 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 649 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 557 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 356 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 482 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 816 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 724 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 452 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 656 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 803 23