Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang (Studi Kasus: Perusahaan Parakbada, Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sektor perikanan pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu perikanan
tangkap dan perikanan budidaya. Potensi sektor perikanan tangkap Indonesia
diperkirakan mencapai 6,4 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan saat ini
sebesar 4,4 juta ton per tahun atau sebesar 70 persen. Sementara itu, potensi
Indonesia di sektor perikanan budidaya sebesar 15,95 juta hektar. Potensi
budidaya ini terdiri atas potensi budidaya air tawar sebesar 2,23 juta hektar,
budidaya air payau 1,22 juta hektar, dan potensi budidaya laut sebesar 12,44 juta
hektar. Pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan budidaya, saat ini baru sekitar
10,1 persen untuk budidaya air tawar, 40 persen untuk budidaya air payau, dan
0,01 persen untuk budidaya laut. Total produksi perikanan budidaya nasional saat
ini baru mencapai 1,6 juta ton per tahun. Padahal kegiatan budidaya ikan di
Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun dikarenakan kondisi perairan di
Indonesia beriklim tropis. Oleh karena itu, masih terdapat peluang untuk
melakukan pemanfaatan sektor perikanan budidaya di Indonesia1.
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memasok
sekitar 30 persen produksi ikan yang ada di Indonesia. Produksi ikan di Jawa barat
masih didominasi oleh sektor budidaya air tawar yang mencapai 620.000 ton,
sedangkan sisanya dari ikan tangkapan perairan umum maupun laut. Sentra
produksi budidaya ikan air tawar di Jawa barat diantaranya adalah kota Sukabumi,
Garut, Cianjur dan Bogor. Produksi yang dihasilkan kota Sukabumi untuk sektor
budidaya mencapai 3.094 ton, kota Garut mencapai 26.170 ton, kota Cianjur
mencapai 68.746 ton, dan kota Bogor mencapai 24.558 ton (Dinas Perikanan
Provinsi Jawa Barat, 2008).
Beberapa jenis ikan air tawar yang dibudidayakan di Provinsi Jawa Barat
diantaranya adalah ikan nila, mas, lele, patin, dan gurame. Pada Tabel 1
memperlihatkan produksi budidaya air tawar berdasarkan kota dan kabupaten di
Provinsi Jawa Barat pada tahun 2009.
                                                            
1

Departemen Kelautan dan Perikanan. http://www.dkp.go.id. Indonesia dan Negara Asia, Up
dateData Perikanan. Diakses pada tanggal 17 April 2012.

 

1

Tabel 1. Produksi Perikanan Budidaya Air Tawar Berdasarkan Kota dan
Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Tahun 2009
Produksi (ton)
No
Kabupaten/Kota
Nila
Mas
Lele
Patin Gurame
1
Kab. Cianjur
20.600 34.362
248
1.319
2.884
2
Kota Tasikmalaya
1.771
1.540
566
0
691
3
Kab. Tasikmalaya
4.460
9.215
583
0
509
4
Kota Bogor
559
470
480
485
390
5
Kab. Bogor
1.826
3.857 18.313
581
1.946
6
Kota Cirebon
14
8
34
7
2
7
Kab. Cirebon
245
199
448
45
283
8
Kota Bandung
468
1.260
891
0
0
9
Kab. Bandung Barat
10.635 12.412
394
3.611
189
10 Kab. Purwakarta
23.831 39.745
250
6.617
1
11 Lainnya
22.714 26.230 25.834
247
6.126
Sumber: Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, 2010 (diolah)

Tabel 1 dapat dilihat bahwa setiap kota dan kabupaten di Jawa Barat
menghasilkan produksi ikan yang berbeda-beda. Kota Tasikmaya, Kabupaten
Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Purwakarta yang merupakan
sentra produksi ikan nila yang mencapai 1.771 ton sampai 23.831 ton per
tahunnya. Komoditi ikan mas dihasilkan oleh Kabupaten Cianjur dan Kabupaten
Purwakarta, untuk sentra produksi ikan lele yang mencapai 18.313 ton
pertahunnya dihasilkan oleh Kabupaten Bogor. Untuk ikan patin mayoritas
dihasilkan oleh Kabupaten Bandung, Kabupaten Purwakarta. Sedangkan untuk
sentra gurame di Jawa Barat adalah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor.
Kota Bogor dan Kabupaten Bogor mempunyai produksi yang cukup merata untuk
setiap komoditi yang dihasilkan.
Kota Bogor merupakan salah satu daerah penghasil ikan air tawar yang
terdapat di Provinsi Jawa Barat. Hasil perikanan budidaya air tawar yang banyak
diusahakan oleh masyarakat Kota Bogor adalah ikan lele. Menurut data dari Dinas
Kelautan dan Perikanan Perikanan Jawa Barat (2009), produksi ikan lele Kota
Bogor mencapai 470,37 ton untuk ikan lele ukuran konsumsi, sedangkan untuk
benih ikan lele mencapai 100.000.000 ekor. Hal ini mengindikasikan bahwa Kota
Bogor memiliki potensi untuk mengembangkan usaha budidaya ikan lele.

2

Menurut Prasetya (2011), permintaan akan ikan lele di wilayah Bogor
mencapai 30 ton per hari. Hal tersebut membuat pengusaha budidaya ikan lele
dapat memiliki pasar yang prospektif.
Salah satu jenis ikan lele yang banyak dibudidayakan pembudidaya ikan
lele adalah ikan lele Sangkuriang (Clarias sp). Ikan lele ini adalah salah satu
komoditas perikanan budidaya unggulan yang dikembangkan. Oleh karena itu,
ikan lele jenis Sangkuriang memiliki prospek pasar yang cukup baik dilihat dari
kelebihan ikan lele, yaitu dapat bertahan hidup dalam kondisi air yang minimum,
sehingga masyarakat banyak membudidayakannya. Selain itu ikan ini juga dapat
dipijahkan sepanjang tahun, tumbuh lebih cepat, dapat hidup pada lingkungan
yang kotor dan sedikit oksigen, dan dapat mencapai ukuran yang lebih besar, dan
dapat diberikan pakan tambahan bermacam-macam.
Tabel 2. Karakteristik Pertumbuhan Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo
Lele
Deskripsi
Lele Dumbo
Sangkuriang
Pendederan I (Benih berumur 5-26 hari)
29,26
20,38
Pertumbuhan harian (%)
3-5
2-3
Panjang standar (cm)
>80
>80
Kelangsungan hidup (%)
Pendederan II (Benih berumur 26-40 hari)
13,96
12,18
Pertumbuhan harian (%)
5-8
3-5
Panjang standar (cm)
>90
>90
Kelangsungan hidup (%)
Pembesaran
3,53
2,73
Pertumbuhan harian selama 3 bulan (%)
0,85
0,62
Pertumbuhan harian ikan indukan
0,8-1
>1
Konversi pakan (ton)
Sumber: Warta budidaya ikan dalam Rahmatun (2007)

Tabel 2 menunjukkan bahwa, terdapat banyak keunggulan yang dimiliki
oleh ikan lele Sangkuriang dibanding ikan lele lainnya (ikan lele Dumbo).
Keunggulan ikan lele sangkuriang, panjang standar benih berumur 5-26 hari
mencapai 3-5 cm lebih panjang dibanding dengan benih lele dumbo pada umur
yang sama yakni 2-3 cm. selain itu, konversi pakan ikan lele sangkuriang
(pembesaran) mencapai 0,8-1 ton lebih sedikit dibanding dengan konversi pakan
lele dumbo yang mencapai lebih dari satu ton. Keunggulan ini menunjukkan

3

bahwa lele sangkuriang memiliki perspektif yang lebih bagus daripada lele
dumbo.
Salah satu perusahaan yang mengusahakan komoditi ikan lele
Sangkuriang adalah perusahaan Parakbada. Perusahaan ini terletak di Katulampa,
Bogor, Jawa Barat. Perusahaan ini berdiri pada awal bulan Mei 2011, sehingga
tergolong perusahaan baru yang bergerak dibudidaya ikan lele.
Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang tersebut
membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai investasi dalam jangka
panjang. Risiko usaha pada kegiatan budidaya juga cukup besar. Untuk
mengurangi risiko tersebut perlu perencanaan yang tepat agar dana yang
diinvestasikan dapat memberikan keuntungan. Selain itu, biaya variabel seperti
harga input (pakan) yang cenderung meningkat menyebabkan perubahan pada
biaya produksi.
Dengan demikian, penting melakukan analisis kelayakan usaha
pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang yaitu dapat membantu para
pelakunya menyusun perencanaan yang baik sehingga dapat memajukan usaha
tersebut sesuai dengan aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum,
aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta memastikan bahwa akan memberikan
hasil yang optimal. Dengan adanya analisis tersebut juga dapat melakukan
keputusan dengan baik mengenai upaya dalam pemasaran produk yang dihasilkan,
agar kegiatan usaha tersebut dapat memberikan keuntungan bagi pihak yang
terlibat. Hal tersebut dapat diketahui dengan melakukan analisis finansial dengan
menggunakan beberapa kriteria kelayakan usaha, yaitu Net Present Value (NPV),
Net B/C, Internal rate of Return (IRR), dan Discounted Payback Period (DPP).
Selain itu juga dilakukan analisis sensitivitas agar jika terjadi perubahan yang
berkaitan dengan perubahan manfaat dan biaya bisa menjadi pedoman bagi pihak
yang berkaitan. Analisis kelayakan usaha ini berguna untuk mengetahui apakah
usaha tersebut memiliki prospek yang baik di masa mendatang.
1.2. Perumusan Masalah
Ikan lele Sangkuriang merupakan komoditas perikanan budidaya. Ikan
lele ini memiliki keunggulan antara lain dapat dibudidayakan di lahan dan sumber
air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, serta dapat dipijahkan sepanjang
4

tahun. Dengan adanya keunggulan yang dimiliki oleh ikan lele ini, membuat
banyak orang yang tertarik untuk berinvestasi pada usaha budidaya (pembenihan
dan pembesaran) ikan lele Sangkuriang.
Salah satu perusahaan yang melakukan Usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele Sangkuriang di Bogor adalah Perusahaan Parakbada.
Perusahaan ini didirikan secara “founder – mendirikan usaha secara bersama”
oleh Ibu Susi, Bapak Iyos, Bapak Fauzi, Bapak Amruh Kumandang, dan Bapak
Faisal.
Perusahaan Parakbada merupakan perusahaan yang baru berdiri. Awal
pembangunan tempat produksi (usaha) dilakukan pada bulan Mei 2011. Sekarang,
perusahaan ini memiliki 65 buah kolam yang terdiri atas lima kolam pemijahan,
tiga kolam pemeliharaan indukan, 10 kolam pembesaran, delapan kolam
penyortiran, satu kolam pemeliharaan calon induk, dan sisanya sebanyak 38
kolam penetasan. Perusahaan mulai melakukan budidaya pada pertengahan bulan
Juli 2011 dimana sampai sekarang baru melakukan produksi sebanyak satu kali,
dimana hasilnya mencapai enam kuintal. Namun untuk pemijahan sudah bisa
dilakukan hampir setiap minggu, tergantung dari kondisi indukan yang dimiliki.
Pada proses pemijahan, didapatkan benih sebanyak 20-30 ribu ekor benih per satu
kali pemijahan, tergantung dari kombinasi indukan yang dipakai. Perusahaan ini
menjual benih ikan lele seharga Rp 200,00 per ekor dan untuk ikan lele konsumsi
antara Rp 11.000,00 sampai dengan Rp 14.000,00 per kg.
Pengelola perusahaan ini berpendapat bahwa Usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele Sangkuriang memiliki prospek yang baik, mengingat
tingginya permintaan benih lele dan lele konsumsi yang tidak diimbangi dengan
pasokan (penawaran). Hasil wawancara dengan Ibu Susy, permintaan terhadap
ikan lele konsumsi di wilayah JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi) mencapai 150 ton per hari. Namun pasokan yang ada di pasar
hanya sekitar 70-80 ton per hari, sehingga terdapat kekurangan pasokan sekitar
setengah dari jumlah permintaan tersebut. Hal ini menjadi peluang tersendiri yang
ingin dimanfaatkan oleh pengelola Perusahaan Parakbada.
Berdasarkan hasil wawancara, pihak pengelola Perusahaan Parakbada
memberikan pernyataan bahwa usaha pembenihan ikan lele lebih menguntungkan

5

dibandingkan dengan usaha pembesaran ikan lele. Hal ini menimbulkan rasa ingin
tahu apa benar usaha pembenihan ikan lele lebih menguntungkan dibandingkan
dengan usaha pembesaran ikan lele. Hal ini lah yang menjadi alasan mengapa
penulis melakukan penelitian ini, yakni menggunakan Skenario I (Usaha
Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele dengan Modal Sendiri), Skenario II (usaha
pembenihan ikan lele), Skenario III (Usaha Pembesaran Ikan Lele) dan Skenario
IV (Usaha Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele dengan Modal Pinjaman).
Hasil dari wawancara dengan Ibu Susi, pada awal melakukan Usaha ini
(pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang) sebenarnya perusahaan
membutuhkan investasi yang besar, yakni sekitar Rp. 80 juta. Namun, modal yang
didapat dari founder terkumpul sekitar Rp. 60 juta saja. Hal ini mengakibatkan
Usaha tersebut kurang berjalan optimal, seperti dalam hal penyediaan pakan dan
proses produksi. Walaupun dalam Usaha ikan lele ini memiliki tingkat
keberhasilan yang tinggi karena ikan lele Sangkuriang merupakan ikan yang
mudah untuk dibudidayakan, namun besaran biaya yang dikeluarkan harus
diperhitungkan dengan hasil yang diperoleh. Besarnya investasi yang dikeluarkan
harus disesuaikan dengan skala usaha yang dilakukan dan tingkat keuntungan
yang diperoleh.
Permasalahan selanjutnya yang dihadapi pada Usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele ini yaitu biaya pakan (input) yang mengalami kenaikan
harga. Hasil wawancara dengan ibu Susy (saat penelitian), terjadi kenaikan pakan,
misal pakan lele konsumsi jenis L1 (pakan untuk ikan lele berukuran 5-7 cm)
yang awalnya seharga Rp 5.500,00 per kg, sekarang mencapai Rp 7.500,00 per
kg. Selain itu, harga cacing sutera yang awalnya seharga Rp 5.000,00 per takar
naik menjadi Rp 7.000,00 per takar. Peningkatan biaya variabel seperti harga
pakan masuk dalam permasalahan karena biaya variabel (pakan) merupakan biaya
utama yang dikeluarkan dalam Usaha lele ini. Kenaikan harga pakan membuat
Usaha ikan lele ini mengalami kenaikan biaya produksi, sehingga harga jual
output akan mengalami kenaikan. Ketika harga jual output meningkat maka akan
berdampak pada penurunan penjualan output tersebut. Hal ini akan berpengaruh
terhadap penurunan keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.

6

Dari permasalahan-permsalahan tersebut, maka diperlukan analisis
kelayakan Usaha budidaya ikan lele Sangkuriang untuk mengetahui kelayakan
dari Usaha tersebut, sehingga investasi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha
ini dapat mendatangkan keuntungan sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu
juga pentingnya melakukan analisis kelayakan ini adalah untuk mengembangkan
usaha yang dijalankan di masa mendatang. Agar perusahaan tersebut menjadi
skala yang lebih besar serta mampu memenuhi permintaan ikan lele sangkuriang
ukuran konsumsi di wilayah JABODETABEK, khususnya di wilayah Bogor.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka perumusan masalah yang akan
dibahas adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana kelayakan aspek non finansial Usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele Sangkuriang yang dilakukan oleh Perusahaan
Parakbada dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek
hukum, aspek sosial ekonomi dan lingkungan?
2) Bagaimana kelayakan aspek finansial Usaha pembenihan dan pembesaran
ikan lele Sangkuriang dilihat dari kriteria investasi Net Present Value (NPV),
Net B/C, Internal rate of Return (IRR), dan Discounted Payback Period
(DPP) pada empat skenario?
3) Bagaimana pengaruhnya jika terjadi penurunan harga jual output (benih dan
ikan lele Sangkuriang ukuran konsumsi), penurunan produksi (benih dan ikan
lele Sangkuriang ukuran konsumsi) dan peningkatan biaya produksi (pakan)
dan pada Usaha lele Sangkuriang?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian
ini adalah sebagai berikut.
1)

Menganalisis kelayakan Usaha ikan lele Sangkuriang ditinjau dari aspek
non finansial (aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum,
aspek lingkungan dan sosial) dan aspek finansial dilihat dari kriteria
investasi yakni Net Present Value (NPV), Net B/C, Internal rate of Return
(IRR), dan Discounted Payback Period (DPP).

2)

Menganalisis sensitivitas dari Usaha ikan lele Sangkuriang apabila terjadi
penurunan harga jual output (benih lele dan ikan lele Sangkuriang ukuran
7

konsumsi), penurunan produksi (benih lele dan ikan lele Sangkuriang
ukuran konsumsi) dan

peningkatan biaya pakan pada Usaha lele

Sangkuriang.

1.4. Manfaat Penelitian
Dengan melihat permasalahan-permasalahan yang ada pada penelitian,
penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak yang
berkepentingan, seperti bagi peneliti yakni penelitian ini merupakan salah satu
sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah, bagi
pemilik usaha yakni penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang
bermanfaat dalam mengembangkan keberlanjutan usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele sangkuriang, dan bagi calon investor yakni memberikan
gambaran mengenai kondisi Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele
sangkuriang, khususnya di tempat penelitian ini dilakukan, serta bagi pembaca
yakni sebagai bahan informasi, pengetahuan dan literatur untuk penelitian
selanjutnya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji aspek-aspek non finansial
yang terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, aspek
sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek finansial. Hal ini dilakukan untuk
meneliti kelayakan usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang pada
Perusahaan Parakbada, Katulampa, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

8

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Ikan Lele Sangkuriang
Ikan lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetika lele Dumbo
melalui silang balik (backcross), sehingga klasifikasinya sama dengan lele
Dumbo. Meskipun induk awal lele Sangkuriang berasal dari ikan lele Dumbo,
antara keduanya tetap memiliki perbedaan.
Secara umum morfologi ikan lele Sangkuriang tidak memiliki banyak
perbedaan dengan ikan lele Dumbo. Hal tersebut terjadi karena ikan lele
Sangkuriang sendiri merupakan hasil silang dari induk lele Dumbo. Tubuh ikan
lele Sangkuriang mempunyai bentuk tubuh memanjang, berkulit licin, berlendir,
dan tidak bersisik. Bentuk kepala menggepeng (depress), dengan mulut yang
relatif lebar, mempunyai empat pasang sungut. Ikan lele Sangkuriang memiliki
tiga sirip tunggal yaitu sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur. Sementara itu
sirip yang berpasangan ada dua yaitu sirip dada dan sirip perut. Pada sirip dada
terdapat sepasang patil atau duri keras yang dapat digunakaan untuk
mempertahankan diri dan kadang-kadang dapat dipakai untuk berjalan
dipermukaan tanah. Pada bagian atas ruangan rongga insang terdapat alat
pernapasan tambahan yang berbentuk seperti batang pohon yang penuh dengan
kapiler-kapiler darah.
Lukito (2002) menyatakan ikan lele Sangkuriang dapat hidup di
lingkungan yang kualitas airnya sangat jelek. Kualitas air yang baik untuk
pertumbuhan yaitu kandungan oksigen sekitar 6 ppm, karbondioksida kurang dari
12 ppm, suhu antara 24°C-26°C, NH3 kurang dari 1 ppm dan cahaya tembus
matahari ke dalam air maksimum 30 cm.
Ikan lele dikenal aktif pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele lebih
suka berdiam di dalam lubang atau tempat yang tenang dan aliran air tidak terlalu
keras. Ikan lele memiliki kebiasaan mengaduk-aduk lumpur dasar untuk mencari
binatang-binatang kecil yang terletak di dasar perairan (Simanjuntak 1989).

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu
Pada kajian penelitian terdahulu, peneliti mengambil tinjauan beberapa
penelitian yang terkait dengan topik penelitian yaitu kelayakan usaha, baik pada
9

sektor budidaya komoditas maupun pada perusahaan. Terdapat tinjauan penelitian
terdahulu dalam kajian ini yang membahas mengenai kelayakan usaha
pembenihan dan pembesaran ikan lele.
Penelitian Anggraini (2008), Kemala (2010), Rohmawati (2010),
Rubiana (2010), Sari Sulaiman (2010), dan Surahmat (2009) memiliki tujuan yang
sama, yakni menganalisis kelayakan usaha dilihat dari aspek finansial dan non
finansial aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek lingkungan dan
sosial ekonomi serta menganalisis sensitivitas kelayakan usaha. Namun dalam
Rubiana (2010) menambahkan aspek hukum pada analisis non finansial.
Perbedaan ini dipicu akibat sudah atau belum adanya perijinan resmi legalitas
(seperti SIUP) yang ada dalam perusahaan tempat penelitian terkait.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian Anggraini (2008),
Kemala (2010), Rohmawati (2010), Rubiana (2010), Sari Sulaiman (2010), dan
Surahmat (2009) adalah metode analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif untuk mengkaji aspek non finansial yakni aspek pasar, aspek teknis,
aspek manajemen, aspek hukum, aspek lingkungan dan sosial ekonomi. Analisis
kuantitatif untuk mengkaji aspek finansial berdasarkan kriteria kelayakan
investasi yakni Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit
Cost (Net B/C Ratio), Payback Period, dan analisis sensitivitas switching value.
Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan program
komputer Microsoft Excel.
Hal yang membedakan penelitian Anggraini (2008), Kemala (2010),
Rohmawati (2010), Rubiana (2010), Sari Sulaiman (2010), dan Surahmat (2009)
adalah pada komoditi yang diteliti. Pada Anggaraini (2008) )

melakukan

penelitian kelayakan pada komoditi ikan mas, Kemala (2010) dan Sari Sulaiman
(2010) melakukan penelitian kelayakan pada komoditi ikan bawal air tawar,
Rohmawati (2010) melakukan penelitian kelayakan pada komoditi ikan hias air
tawar, Rubiana (2010) melakukan penelitian kelayakan pada komoditi ikan
bandeng.
Rubiana (2010) melakukan analisis sensitivitas switching value
menunjukkan usaha pembesaran ikan bandeng dengan KJA yang menggunakan
dua skenario yakni Skenario I menggunakan modal sendiri dan Skenario II

10

menggunakan modal pinjaman dimana kedua Skenario memiliki kepekaan tinggi
jika dilihat dari parameter penurunan harga jual ikan bandeng, sedangkan
parameter pengingkatan harga pakan dan penurunan produksi dinilai tidak
sensitif. Namun dalam penelitian Kemala (2010) kenaikan harga (10 persen) tidak
menunjukkan perubahan yang signifikan pada Skenario I (Usaha pembenihan ikan
bawal air tawar), Skenario II (Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air
tawar), dan III (Usaha pembenihan, pendederan, pembesaran ikan bawal air
tawar). Namun kenaikan harga pakan tersebut berpengaruh sangat sensitif pada
Skenario IV (Usaha pembesaran ikan bawal air tawar).
Nur (2012) dalam penelitiannya menyatakan kriteria kelayakan dari
aspek non finansial yakni aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan
hukum, aspek sosial ekonomi dan budaya. Pada aspek pasar yakni permintaan
akan produk melebihi penawaran yang ada di pasar dan strategi pemasaran yang
diterapkan baik dari harga, produk, promosi, dan distribusi menjadikan produk
dapat diterima dan bersaing di pasar. Pada aspek teknis yakni secara keseluruhan
tidak terdapat kendala atau permasalahan yang menghambat jalannya usaha.
Pemilihan lokasi usaha, skala usaha, proses produksi, tata letak, dan pemilihan
teknologi mampu menghasilkan produk secara optimal dan mendukung untuk
dilakukan pengembangan usaha. Pada aspek manajemen dan hukum yakni
pelaksanaan fungsi manjemen terlaksana dengan baik dan benar tidak menentang
hukum dan izin usaha dari pihak RT dan Desa sudah dimiliki oleh Cahya Mandiri.
Usaha ini juga telah memiliki izin usaha resmi berupa SIUP dan TDP. Pada aspek
sosial ekonomi budaya yakni tidak menghasilkan limbah, dapat meningkatkan
pendapatan keluarga pekerja, dan tidak bertentangan dengan kebiasaan
masyarakat sekitar baik dari segi agama, nilai sosial, dan norma sosial
masyarakat.
Lestari (2011) melakukan penelitian kelayakan usaha pembenihan pada
komoditi ikan lele Sangkuriang di Usaha Bapak Endang, Desa Gadog Kecamatan
Megamendung Kabupaten Bogor Jawa Barat. Dari hasil analisis finansial
didapatkan bahwa usaha Bapak ending menghasilkan nilai NPV sebesar Rp
364.446.022,00, IRR sebesar 32,25 persen, Net B/C sebesar 2,20 dan payback
period selama 3,97 tahun. Kemudian dilakukan analisis pengembangan dengan

11

menggunakan lahan sewa dan modal sendiri menghasilkan nilai NPV sebesar rp
861.543.234,00, IRR sebesar 78,78 persen, Net B/C sebesar 4,20 dan payback
period

selama

1,89

tahun.

Penelitian

tersebut

menitikberatkan

pada

pengembangan usaha. Hal inilah yang membedakan penelitian sekarang dengan
penelitian terdahulu, Lestari (2011). Ini terjadi karena adanya perbedaan umur
usaha dan skala ekonomis antara penelitian Lestari (2011) dengan penelitian
sekaran di Perusahaan Parakbada, Kelurahan Katulampa, Bogor.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, persamaan penelitian yang
dilakukan dengan penelitian terdahulu yaitu terletak pada kriteria analisis
kelayakan usaha yaitu menggunakan alat analsis data seperti Net Present Value
(NPV), Net B/C, Internal Rate of Return (IRR), dan analisis Switching value.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah mengambil topik
dan komoditi yang berbeda yaitu analisis kelayakan usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele dan tempat yang berbeda dengan sebelumnya. Dalam
menentukan periode pengembalian, penelitian ini tidak menggunakan Payback
Period namun menggunakan Discounted Payback Period (DPP).

12

III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Pada bagian ini dijelaskan tentang konsep yang berhubungan dengan
penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang di
Perusahaan Parakbada yang terletak di Katulampa, Kota Bogor.

3.1.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis
Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang
tidak hanya mengalisis layak atau tidak layak suatu bisnis dibangun, tetapi juga
saat dioperasikan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang
maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan (Umar 2007). Untuk melakukan
kelayakan, terlebih dahulu harus ditentukan aspek-aspek yang akan dipelajari.
Banyak dan sedikit aspek yang akan dinilai serta kedalaman analisis tergantung
pada besar kecilnya proyek yang akan dilakukan. Masing-masing aspek bisa
dinilai dengan metode analisis yang berbeda-beda (Husnan dan Suwarsono 2000).
Kriteria keberhasilan suatu proyek dapat dilihat dari manfaat investasi yang terdiri
dari :
1. Manfaat ekonomis proyek terhadap proyek itu sendiri (sering juga disebut
sebagai manfaat finansial).
2. Manfaat proyek bagi negara tempat proyek itu dilaksanakan (disebut juga
manfaat ekonomi nasional).
3. Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat di sekitar proyek.

3.1.2. Aspek-Aspek Studi Kelayakan
Untuk melakukan studi kelayakan bisnis, terlebih dahulu harus ditentukan
aspek yang akan dianalisis. Banyak dan sidikitnya aspek yang akan dinilai serta
kedalaman analisis tergantung pada besar kecilnya proyek yang akan dilakukan
(Husnan dan Suwarsono 2000).
1) Aspek Pasar
Aspek pasar menempati kedudukan pertama dalam pertimbangan investor
dan pendekatan yang digunakan oleh investor dalam memperebutkan konsumen.

13

Kadariah, Lien K, Clive G (1999) menyatakan bahwa aspek komersial
berhubungan dengan penawaran input yang diperlukan proyek, baik saat
membangun proyek maupun saat proyek sudah berproduksi dan menganalisis
pemasaran output yang akan diproduksi proyek. Untuk mendapatkan tanggapan
dari pasar yang diinginkan, maka para pemasar membentuk bauran pemasaran
yang terdiri dari produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi
(promotion) atau disebut dengan 4P. Bauran pemasaran ini merupakan bauran
yang paling sering digunakan.
Menurut Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A (2009) aspek pasar dan
pemasaran mempelajari tentang :
1. Permintaan, baik secara total maupun terperinci menurut daerah, jenis
konsumen, perusahaan besar pemakai dan perlu diperkirakan tentang proyeksi
permintaan tersebut.
2. Penawaran, baik yang berasal dari dalam negeri maupun juga yang berasal
dari impor. Bagaimana perkembangan dimasa lalu dan bagaimana perkiraan
dimasa yang akan datang.
3. Harga, dilakukan dengan perbandingan barang-barang impor, produksi dalam
negeri lainnya.
4. Program pemasaran, mencakup strategi pemasaran yang akan dipergunakan.
5. Perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan, market share yang bisa
dikuasai.
2) Aspek Teknis
Aspek teknis merupakan aspek yang berkaitan dengan proses
pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis
tersebut selesai dibangun.
Umar (2007) menyatakan bahwa terdapat tiga hal pokok yang dihadapi
suatu proyek terkait dengan aspek teknis yakni penentuan lokasi usaha atau
posisi perusahaan (strategi produksi, kualitas produk), desain usaha
(pemilihan teknologi, layout), dan operasional usaha (rencana produksi,
penjadwalan kerja pegawai).

14

3) Aspek Manajemen
Aspek manajemen berhubungan dengan bagaimana merencanakan
pengelolaan proyek dalam pelaksanaannya. Hal ini berkaitan dengan
pertimbangan mengenai sesuai atau tidaknya proyek tersebut dengan susunan
organisasi proyek. Hal yang diperlukan dalam aspek manajemen adalah
bentuk badan usaha yang digunakan, jenis pekerjaan yang diperlukan,
persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan usaha, struktur organisasi
yang digunakan, dan penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan (Husnan dan
Suwarsono 1994).
4) Aspek Hukum
Menurut Kasmir dan Jakfar (2009), tujuan dari aspek hukum adalah
untuk meneliti keabsahan, kesempurnaan, dan keaslian dari dokumendokumen yang dimiliki.
Aspek hukum mempelajari bentuk badan usaha yng akan digunakan,
jaminan dalam mengajukan pinjaman.selain itu aspek hukum dalam kegiatan
bisnis dipelukan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis
pada saat bekerjasama dengan pihak lain.
5) Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Dalam aspek sosial ekonomi dan lingkungan yang akan dinilai adalah
seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial dan lingkungan terhadap
masyarakat keseluruhan. Pada aspek sosial akan memperhatikan manfaat dan
pengorbanan sosial yang mungkin dialami oleh masyarakat di sekitar lokasi
bisnis. Pada analisis aspek lingkungan mempelajari bagaimana pengaruh
bisnis tersebut terhadap lingkungan, apakah dengan adanya bisnis
menciptakan lingkungan semakin baik atau semakin rusak.
6) Aspek Finansial
Dalam pengkajian aspek finansial diperhitungkan jumlah dana yang
dibutuhkan untuk membangun dan atau mengoperasikan kegiatan bisnis.
Gittinger (1986) menyatakan bahwa analisis aspek finansial merupakan
proyeksi anggaran penerimaan dan pengeluaran bruto pada masa yang akan
datang pada setiap tahunnya. Pada perusahaan yang telah berjalan, analisis
finansial atau keuangan didasarkan pada data historis perusahaan sejak

15

perusahaan tersebut dimulai, sedangkan untuk perusahaan yang baru berjalan,
laporan tersebut akan digunakan untuk memproyeksikan perusahaan sampai
umur proyek.
Tujuan dari dilakukannya analisis finansial ini adalah untuk
menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang
diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan
dalam kurun waktu yang telah ditentukan dan menilai suatu proyek akan
dapat berkembang sehingga secara finansial dapat beridiri sendiri.

3.1.3. Teori Biaya dan Manfaat
Pada analisis proyek, tujuan-tujuan analisis harus disertai dengan definisi
biaya-biaya dan manfaat-manfaat. Biaya dapat diartikan sebagai segala sesuatu
yang mengurangi suatu tujuan (Gittinger 1986). Biaya dapat juga didefinisikan
sebagai pengeluaran atau korbanan yang dapat menimbulkan pengurangan
terhadap manafaat yang diterima. Biaya yang diperlukan suatu proyek
dikategorikan sebagai berikut.
1. Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaannya bersifat
jangka panjang seperti: tanah, bangunan, pabrik, mesin.
2. Biaya operasional atau modal kerja merupakan kebutuhan dana yang
diperlukan pada saat proyek mulai dilaksanakan, seperti: biaya bahan baku,
biaya tenaga kerja.
3. Biaya lainnya, seperti: pajak, bunga,dan pinjaman.
Manfaat juga dapat diartikan sebagi sesuatu yang dapat menimbulkan
kontribusi terhadap suatu proyek. Manfaat proyek dapat dibedakan menjadi:
1. Manfaat langsung yaitu manfaat yang secara langsung dapat diukur dan
dilaksanakan sebagai akibat dari investasi, seperti peningkatan pendapatan dan
kesempatan kerja
2. Manfaat yang tidak langsung yaitu manfaat yang secara nyata diperoleh
dengan tidak langsung dari proyek dan bukan merupakan tujuan utama
proyek, seperti rekreasi.
Kriteria yang biasa digunakan sebagai dasar persetujuan atau penolakan
suatu proyek yang dilaksanakan adalah kriteria investasi. Dasar penilaian investasi

16

adalah perbandingan antara jumlah nilai yang diterima sebagai manfaat dari
investasi tersebut dengan manfaat-manfaat dalam situasi tanpa proyek. Nilai
perbedaannya adalah berupa tambahan manfaat bersih yang akan muncul dari
investasi dengan adanya proyek (Gittinger 1986).

3.1.4. Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)
Konsep nilai waktu uang (time value of money) menyatakan bahwa nilai
sekarang (present value) adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa
yang akan datang (future value). Terdapat dua hal yang menyebabkan hal ini
terjadi yaitu (time preference) sejumlah sumber yang tersedia untuk dinikmati
pada saat ini lebih disenangi daripada jumlah yang sama namun tersedia di masa
yang akan datang dan produktivitas atau efisiensi modal (modal yang dimiliki saat
sekarang memilki peluang untuk mendapatkan keuntungan di masa datang melalui
kegiatan produktif) yang berlaku baik secara perorangan maupun bagi masyarakat
secara keseluruhan (Kadariah et al. 1999)

3.1.5. Kriteria Kelayakan Investasi
Menurut Kadariah et al. (1978), umumnya terdapat empat kriteria investasi
yang dapat digunakan untuk penilaian kelayakan dari investasi suatu proyek,
yakni sebagai berikut.
1) Net Present Value (NPV)
NPV merupakan nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh
pada masa mendatang, yang merupakan selisih kini dari benefit dengan nilai kini
dan biaya. NPV ini menunjukkan manfaat bersih yang diterima usaha selama
umur usaha pada tingkat suku bunga tertentu.
• NPV > 0, artinya usaha tersebut sudah dinyatakan menguntungkan dan
dapat dilaksanakan atau diteruskan.
• NPV < 0, artinya usaha merugikan dan tidak dapat dilaksanakan.
• NPV = 0, artinya usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi.
2) Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan tingkat suku bunga dimana nilai kini dari biaya total sama
dengan nilai kini dari penerimaan total. Gittinger (1986) menyebutkan bahwa IRR

17

adalah tingkat rata-rata keuntungan interen tahunan bagi perusahaan yang
melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR
mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh bisnis untuk
sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR
lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka bisnis tidak layak untuk
dilaksanakan.
3) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C merupakan perbandingan antara jumlah nilai kini dari keuntungan
bersih pada tahun dimana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan
bersih yang bernilai negatif. Metode ini digunakan untuk menghitung antara nilai
sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang dengan nilai
sekarang investasi. Nilai Net B/C lebih besar dari satu (Net B/C > 1) artinya usaha
dianggap layak untuk dilaksanakan secara finansial. Net B/C kurang dari satu (Net
B/C < 1) artinya usaha tidak layak untuk dilaksanakan secara finansial. Net B/C
sama dengan satu (Net B/C = 1) maka biaya yang dikeluarkan sama dengan
keuntungan yang didapatkan.
4) Payback Period (PP)
Payback Period merupakan suatu periode yang diperlukan untuk menutup
kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan manfaat bersih setelah pajak.
Discounted Payback Period (DPP) merupakan salah satu metode yang digunakan
untuk mengukur periode pengembalian investasi dengan menggunakan manfaat
bersih yang telah dikalikan dengan tingkat suku bunga (Discount Rate).

3.1.6. Analisis Laba Rugi Usaha
Analisi laba rugi digunakan untuk mengetahui perkembangan usaha dalam
kurun waktu tertentu. Menurut Umar (2007), proyeksi laba rugi disusun oleh datadata pendapatan dan biaya. Laporan laba rugi menggambarkan kinerja perusahaan
dalam upaya mencapai tujuannya selama periode tertentu. Laporan laba rugi akan
memudahkan untuk menentukan besarnya aliran kas tahunan yang diperoleh suatu
perusahaan dan juga digunakan untuk menghitung jumlah penjualan minimum
baik dari kuantitas atau pun nilai uang dari suatu aktivitas bisnis, nilai produksi

18

atau penjualan tersebut merupakan titik impas. Selain itu, laporan laba rugi dapat
dipakai untuk menaksir pajak yang akan dimasukkan ke dalam cashflow studi
kelayakan bisnis (Nurmalina et al. 2009).

3.1.7. Analisis Sensitivitas
Menurut Kadariah et al (1999), analisis sensitivitas bertujuan untuk
melihat apa yang akan terjadi terhadap hasil analisis proyek jika terjadi suatu
perubahan dalam dasar-dasar perhitungan benefit, sedangkan Nurmalina et al.
(2009) menyatakan bahwa analisis sensitivitas digunakan untuk melihat dampak
dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis kelayakan..
Suatu variasi dari analisis sensitivitas adalah analisis nilai pengganti
(switching value). Perhitungan switching value mengacu pada berapa besar
perubahan yang terjadi yang menyebabkan nilai NPV = 0 atau merupakan titik
impas selama umur usaha. NPV = 0 akan membuat nilai IRR sama dengan tingkat
suku bunga dan nilai Net B/C = 1. Dengan melakukan analisis switching value,
dapat dicari besar perubahan yang mengakibatkan usaha tetap layak dijalankan,
yaitu yang mengakibatkan nilai NPV > 0, IRR > tingkat suku bunga, dan Net B/C
> 1.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Analisis kelayakan pada Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele
Sangkuriang ini diawali dengan jumlah permintaan (benih ikan lele dan lele
konsumsi) khususnya di daerah Bogor. keterbatasan modal menjadi sebab utama
dalam melakukan usaha ini, karena dalam menjalankan usaha pembenihan dan
pembesaran ikan lele sangkuriang ini membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Selain itu, adanya kecenderungan kenaikan biaya variabel (biaya input) yang
menyebabkan terganggunya kegiatan produksi yang berakibat pada keuntungan
yang akan diperoleh oleh perusahaan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pentingnya melakukan analisis
kelayakan Usaha ikan lele. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah Usaha ikan
lele ini layak atau tidak untuk dilaksanakan. Dalam analisis kelayakan ini perlu
memperhatikan beberapa aspek penting seperti aspek pasar, aspek teknis, aspek

19

manajemen, aspek hukum, dan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, serta aspek
finansial.
Setelah data terkumpul, maka melakukan identifikasi dan analisis data
yang diperoleh, baik berupa data primer maupun data sekunder. Melakukan
Identifikasi mengenai aspek non finansial dianalisis secara kualitatif dan disajikan
dalam bentuk deskriptif. Kemudian mengidentifikasi aspek finansial secara
kuantitatif serta mengintrepetasikan hasilnya.
Hasil dari seluruh analisis tersebut yang meliputi analisis non finansial dan
finansial, akan digunakan untuk menentukan apakah usaha tersebut layak untuk
dijalankan atau tidak. Jika layak, maka usaha tersebut dapat terus dijalankan dan
dapat dilakukan upaya pengembangan. Namun jika tidak layak, maka dapat
dilakukan evaluasi terhadap usaha tersebut. Kemudian dapats ditarik kesimpulan
dan saran bagi usaha pengembangan tersebut. Skema kerangka pemikiran
operasional secara terstruktur dapat dilihat pada Gambar 1.

20

Ikan lele sangkuriang memiliki nilai ekonomis tinggi dan potensial untuk
dikembangkan, serta memiliki keunggulan dibanding dengan ikan lele jenis lain.

Bogor merupakan sentra penghasil ikan Lele

Perusahaan Parakbada merupakan perusahaan tergolong baru
bergerak di bidang pembenihan dan pembesaran ikan lele
Sangkuriang.

Permasalahan:
• Permintaan yang tinggi, tetapi hasil produksi belum dapat
mencukupi
• Kurangnya modal untuk investasi
• Kenaikan total biaya pakan

Analisis Finansial

Analisis Aspek Non
Finansial
1. Aspek Pasar
2. Aspek Teknis
3. Aspek Manajemen
4. Aspek Hukum
5. Aspek Sosial Ekonomi
dan Lingkungan

Skenario I
(Pembenihan
dan
Pembesaran)
(Modal
sendiri)

Skenario II
(Pembeniha
n ikan lele –
modal
pinjam)

Skenario III
(Pembesara
n ikan lele
– modal
pinjam)

Skenario IV
(Pembenihan
dan
Pembesaran)
(Modal
pinjaman)

Kriteria kelayakan
investasi
1. NPV
2. IRR
3. Net B/C
4. Discounted Payback
Period (DPP)

Tidak Layak

Layak

Analisis
Sensitivitas
dan Switching
value

REKOMENDASI

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional

21

IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian kelayakan Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele
Sangkuriang dilakukan di Perusahaan Parakbada, Katulampa, Kota Bogor,
Provinsi Jawa Barat). Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)
dengan pertimbangan bahwa usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele pada
perusahaan Parakbada ini merupakan usaha yang baru berdiri. Pelaksanaan
penelitian ini dilakukan pada awal bulan November sampai pertengahan
Desember 2011.

4.2. Metode Penentuan Responden
Metode penentuan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah
secara purposive. Purposive merupakan metode penentuan responden yakni
subyek dipilih berdasarkan tujuan peneliti yang disesuaikan dengan keahliannya
dalam bidang yang diteliti. Responden yang dipilih dari pihak internal perusahaan
yaitu pemilik sekaligus pengelola Parakbada dan pekerja perusahaan. Sedangkan
untuk pihak eksternal yaitu aparat desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum
yang ada di sekitar perusahaan.

4.3. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan rancangan dan pelaksanaan penelitian.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kasus, yakni prosedur dan
teknik penelitian tentang subjek yang diteliti berupa individu, suatu kelompok,
lembaga, maupun masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara
terperinci mengenai karakter-karakter khas dari kasus yang kemudian akan
dijadikan suatu hal yang bersifat umum (Sekaran 2006). Analisis deskriptif
menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif dengan wawancara dan
kuisioner. Pada penelitian ini, analisis deskriptif kualitatif untuk mendekripsikan
hal-hal yang berkaitan dengan aspek non finansial. Sementara itu analisis
deskriptif kuantitatif digunakan untuk mendiskripsikan hal-hal yang berkaitan
dengan aspek finansial.

22

4.4. Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden
yakni Ibu Susy, Mang Lim, Mang Andri, serta dengan pengamatan langsung di
lapangan dan kuisioner. Data primer tersebut meliputi data-data mengenai kondisi
geografis setempat, data aspek non finansial dan finansial dari usaha yang diteliti.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka hasil riset terdahulu dan
berbagai literatur seperti buku, internet yang berkaitan, dan instansi-instansi yag
terkait seperti Kelurahan Katulampa, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Bogor, Perpustakaan LSI IPB, Perpustakan FEM IPB, Balai Riset Penelitian
Budidaya Ikan Air Tawar, artikel, hasil riset, dan bahan pustaka yang lain.

4.5. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan 1 November 2011 sampai pertengahan
Desember 2011 di Perusahaan Parakbada, Katulampa, Kota Bogor dan instansi
pemerintah yakni Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor serta kantor
Kelurahan Katulampa, Kota Bogor. Teknik pengumpulan data (data kualitatif dan
kuantitatif) dengan metode wawancara dan pengisian kuisioner oleh pengelola
Perusahaan Parakbada. Wawancara yakni pengumpulan data dengan langsung
mengadakan tanya jawab kepada objek yang diteliti. Pengisian kuesioner yakni
teknik pengumpulan data dengan menyusun pertanyaan yang terstruktur kemudian
dilakukan pengisian oleh pihak-pihak yang terkait yakni Ibu Susy dan tenaga kerja
Perusahaan Parakbada.

4.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data primer dan sekunder yang telah didapatkan dalam penelitian ini
merupakan data kualitatif dan kuantitatif sehingga pengolahan data dilakuan
secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data dan informasi secara kualitatif
digunakan untuk keperluan analisis aspek non finansial yang mencakup aspek
pasar, teknis, manajemen, sosial dan lingkungan, sedangkan pengolahan data
secara kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan aspek finansial dari
usaha. Data kuantitatif yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputer,

23

yakni menggunakan software Microsoft Excel 2007 dimana data disajikan dalam
bentuk tabulasi untuk mempermudah dalam melakukan analisis.

4.6.1.

Aspek Pasar
Analisis aspek pasar bertujuan untuk mengetahui besar potensi pasar

yang tersedia, mengetahui luas pasar, jumlah permintaan terhadap produk dan
kondisi persaingan.
1.

Potensi Pasar
Permintaan dapat diamati secara total maupun diperinci berdasarkan daerah,
jenis konsumen, dan perkiraan proyeksi permintaan. Usaha dikatakan layak
apabila memiliki potensi pasar yang yang tinggi, yakni adanya permintaan
pasar lebih tinggi dari penawaram sehingga perusahaan memiliki peluang
untuk memasok kekurangan tersebut..

2.

Strategi pemasaran
Mencakup strategi pemasaran yang terkait dengan bauran pemasaran yakni
produk, harga promosi, dan distribusi. Usaha layak apabila memiliki strategi
pemasaran yang meliputi produk, harga promosi dan distribusi) yang jelas,
sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan yang ingin dicapainya.

3.

Pangsa Pasar (Market Share)
Market share yang bisa dikuasai perusahaan dapat dihitung dengan cara:
%

Usaha layak apabila memiliki pangsa pasar nilai market share lebih dari nol atau
bernilai

positif,

karena

perusahaan

masih

memiliki

kesempatan

untuk

mengembangkan usahanya.

4.6.2.

Aspek Teknis
Aspek teknis yang dianalisis dalam penelitian ini adalah mencakup

kegiatan pembenihan dan pembesaran serta penangangan pascapanen ikan lele
Sangkuriang, yakni persiapan produksi, faktor-faktor input, kegiatan produksi,
penanganan permasalahan hama dan penyakit dan sistem penanganan pascapanen
dari ikan lele. Usaha dikatakan layak apabila lokasi usaha, proses produksi, skala
usaha, dan layout yang digunakan dapat menghasilkan produk secara optimal .

24

4.6.3.

Aspek Manajemen
Aspek manajemen yang dianalisis dalam penelitian ini adalah mengenai

pengetahuan, pengalaman, dan keahlian pengusaha dan pekerja dalam melakukan
Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele, kemampuan manajerial dan
manajemen pengusaha dalam kaitannya dengan hubungan kepada para tengkulak
atau pengecer dan peran lembaga pendukung. analisis dikatakan layak apabila
kegiatan usaha yang dilakukan telah terkoordinasi dengan baik dalam hal
pembagian tanggung jawab pekerjaan.

4.6.4.

Aspek Hukum
Aspek Hukum yang dianalisis dalam penelitian ini mengenai

kelegalitasan dari perusahaan. Tujuan dari analisis aspek hukum adalah untuk
meneliti keabsahan, kesempurnaan, dan keaslian dari dokumen-dokumen yang
dimiliki. Pada aspek hukum ini akan dilihat legalitas perusahaan seperti badan
hukum perusahaan yang dipilih seperti apakah Perseroan Terbatas (PT), Firma,
Koperasi, atau Yayasan. Analisis layak apabila memiliki legalitas yakni pemiliki
memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk), mendapat izin usaha dari RT/RT atau
pemerintah setempat.

4.6.5.

Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Apsek sosial ekonomi dan lingkungan yang dianalisis yakni mencakup

kontribusi Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele yang dilakukan oleh
pengusaha terhadap masyarakat sekitar seperti dalam penyerapan tenaga kerja,
kontribusi terhadap pembangunan dan pendapatan daerah, serta dampak dari
adanya Usaha usaha tersebut terhadap lingkungan sekitar desa tempat penelitian.
Analisis dikatakan layak apabila usaha yang bersangkutan tidak menghasilkan
limbah yang dapat merugikan lingkungan atau masyarakat sekitar, dan tidak
bertentangan dengan aspek sosial ekonomi sekitar.

4.6.6.

Aspek Finansial
Salah satu metode untuk melihat kelayakan dari analisis finansial adalah

menggunakan metode cash flow analisis (Kadariah et al. 1999). Beberapa kriteria

25

yang dipakai dalam penilaian kelayakan adalah Nilai Bersih Sekarang (Net
Present Value),

Rasio Manfaat Biaya Bersih (Net Benefit and Cost Rasio),

Tingkat Pengembalian Investasi (Internal Rate of Return) dan Masa Pengembalian
Investasi (Discounted Payback).
1)

Net Present Value (NPV)
Suatu bisnis dikatakan layak jika jumlah seluruh manfaat yang

diterimanya melebihi biaya yang dikeluarkan. Selisih antara manfaat dan biaya
disebut dengan manfaat bersih. Suatu bisnis dikatakan layak jika NPV lebih besar
dari 0 yang artinya bisnis menguntungkan atau memberikan manfaat. NPV adalah
selisih antara total present value manfaat dengan total present value biaya. Secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.

Dimana:

/

/

/

Bt

= Manfaat pada tahun t

Ct

= Biaya pada tahun t

t

= Tahun kegiatan bisnis, tahun awal bisa tahun 0 atau tahun 1

i

= Tingkat DR (Dicount Rate) (1,625% untuk Skenario I; 1,840%
untuk Skenario II, III, IV)

2)

Internal Rate of Return (IRR)
Kelayakan bisnis juga dinilai seberapa besar pengembalian bisnis

terhadap investasi yang ditanamkan. IRR adalah tingkat discount rate (DR) yang
menghasilkan NPV sama dengan 0. Perhitungan IRR umumnya dilakukan dengan
menggunakan metode interpolasi di antara tingkat discount rate yang lebih rendah
(yang menghasilkan NPV positif) dengan tingkat discount rate yang lebih tinggi
(yang menghasilkan NPV negatif). Berikut rumus IRR:

Dimana:
i1

= Discount rate yang menghasilkan NPV positif

i2

= Discount rate yang menghasilkan NPV negatif

NPV1 = NPV positif
26

NPV2 = NPV negatif
3)

Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Net B/C adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan

manfaat bersih yang bernilai negatif. Manfaat bersih yang menguntungkan bisnis
dihasilkan terhadap setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut. Secara
matematis dapat dinyatakan sebagai:

Dimana:
Bt

= Manfaat pada tahun t

Ct

= Biaya pada tahun t

i

= Discount rate (1,625% untuk Skenario I; 1,840% untuk
Skenario II, III, IV)

t
4)

= 9 Periode (1 Periode = 3 bulan)

Discounted Payback Period (DPP)
Metode ini mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Bisnis yang

PP-nya singkat atau cepat pengembaliannya termasuk kemungkinan besar akan
dipilih. Discounted Payback Period menggunakan manfaat bersih yang telah
dikalikan dengan Discount Rate (DR).

Dimana:
I

= Besarnya biaya investasi yang diperlukan

Abdiscounted

= Manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap
tahunnya yang telah dikalikan dengan DR.

5)

Analisis Sensitivitas
Analisis ini digunakan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang

berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis kelayakan. Tujuan dari analisis ini
adalah untuk menilai apa yang akan terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu
kegiatan investasi atau bisnis apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan
biaya atau manfaat.

27

Analisis ini perlu dilakukan karena dalam analisis kelayakan suatu usaha
ataupun bisnis perhitungan umumnya didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang
mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan
dating (Kadariah, Lien K, Clive G 1999).
Nilai pengganti atau switching value merupakan suatu variasi pada

Dokumen yang terkait

Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang (Studi Kasus: Perusahaan Parakbada, Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)